• Tidak ada hasil yang ditemukan

Universitas Pendidikan Ganesha Singaraja, Indonesia. 1, 2,

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Universitas Pendidikan Ganesha Singaraja, Indonesia. 1, 2,"

Copied!
10
0
0

Teks penuh

(1)

PENGARUH PENDEKATAN SAINTIFIK TERHADAP HASIL BELAJAR

PENGETAHUAN PKn DITINJAU DARI JENIS PERTANYAAN

GURU PADA SISWA KELAS IV DI SD GUGUS

RADEN AJENG KARTINI DENPASAR BARAT

I Dw Ayu Putri Nopiyanti

1

, Md Putra

2

, I Ngh Suadnyana

3

1,2,3

Jurusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar, FIP

Universitas Pendidikan Ganesha

Singaraja, Indonesia

e-mail: [email protected]

1

, [email protected]

2

,

[email protected]

3

Abstrak

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan yang signifikan hasil belajar pengetahuan PKn antara kelompok siswa yang dibelajarkan melalui pendekatan saintifik menggunakan pertanyaan terbuka dan pertanyaan tertutup pada siswa kelas IV di SD Gugus R.A. Kartini Denpasar Barat. Penelitian ini adalah penelitian pra eksperimen dengan The Static Group Pretest-Postest Design. Populasi yaitu seluruh siswa kelas IV SD Gugus R.A. Kartini Denpasar Barat sebanyak 805 siswa. Sampel diambil menggunakan teknik random sampling dengan jumlah 64 siswa dari siswa kelas IVB SD Negeri 19 Pemecutan sebagai kelompok A dan siswa kelas IVA SD Negeri 15 Pemecutan sebagai kelompok B. Data hasil belajar pengetahuan PKn kelompok A dan kelompok B dikumpulkan dengan tes hasil belajar pengetahuan PKn untuk selanjutnya dianalisis menggunakan statistik uji-t. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak terdapat perbedaan yang signifikan hasil belajar pengetahuan PKn antara kelompok siswa yang dibelajarkan melalui pendekatan saintifik menggunakan pertanyaan terbuka dan pertanyaan tertutup. Berdasarkan hasil uji-t, diperoleh thitung = 0.71 dan pada taraf signifikansi 5% diperoleh ttabel = 1.99.

Berdasarkan kriteria pengujian thitung < ttabel (0.71<1.99) maka H0 diterima. Dengan

demikian, dapat disimpulkan bahwa pendekatan saintifik ditinjau dari jenis pertanyaan guru tidak berpengaruh terhadap hasil belajar pengetahuan PKn siswa kelas IV di SD Gugus R.A. Kartini Denpasar Barat.

Kata-kata kunci: pendekatan saintifik, pertanyaan terbuka, pertanyaan tertutup, hasil belajar pengetahuan PKn

Abstract

The purpose of this research was to know significant differences the result of civic education knowledge between student group who were learned by scientific approach using open question and ended question for students in the fourth grade SD Gugus R.A. Kartini West of Denpasar. This research was pre experiment with The Static Group Pretest- Postest Design. The population were all students in the fourth grade SD Gugus R.A. Kartini West of Denpasar as many as 805 students. Sample was taken to use random sampling technique with total students were 64 from grade IVB student of SD Negeri 19 Pemecutan as group A and grade IVA student of SD Negeri 15 Pemecutan as group B. The result of civic education knowledge data group A and group B were collected by the result of civic education knowledge test next to be analized by t-test. This research shows that not found significant differences the result of civic education knowledge between student group who were learned by scientific approach using open question and

(2)

ended question. Based on t-test result is gotten thitung = 0.71 and while significant

level 5% is gotten ttabel = 1.99. Based on trial criteria thitung < ttabel (0.71<1.99) so H0

is accepted. Then, it can be concluded that scientific approach is consderated by kind of teacher question do not have effect to the result of civic education knowledge in the fourth grade SD Gugus R.A. Kartini West of Denpasar.

Keywords: scientific approach, open question, ended question, the result of civic education knowledge

PENDAHULUAN

Kurikulum merupakan suatu komponen pokok dalam proses pendidikan. Kurikulum adalah syarat mutlak dan bagian yang tidak terpisahkan dari pendidikan itu sendiri. Apabila dirinci secara lebih mendetail peranan kurikulum sangat penting dalam mencapai tujuan pendidikan. Pandangan atau anggapan yang sampai saat ini masih lazim digunakan dalam dunia pendidikan atau persekolahan di negara Indonesia, yaitu kurikulum sebagai suatu rencana tertulis yang disusun guna memperlancar proses belajar mengajar. Hal ini sesuai dengan rumusan pengertian kurikulum yang tertera dalam UU No. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional yang menyatakan bahwa kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi, dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu.

Di Indonesia telah mengalami beberapa kali perubahan kurikulum. Ini membuktikan bahwa sampai saat ini Indonesia belum mampu mencapai tujuan pendidikan nasional secara optimal melalui penerapan kurikulum-kurikulum tersebut. Perkembangan masyarakat yang dipengaruhi oleh kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi juga menuntut kurikulum menjawab tantangan dan tuntutan masyarakat, tentunya bukan hanya dari segi isi programnya tetapi juga dari segi pendekatan dan strategi pelaksanaannya.

Ketercapaian kurikulum yang selama ini hanya menitikberatkan pada aspek kognitif saja membuat siswa melakukan berbagai perilaku yang tidak berkarakter

untuk mendapatkan nilai bagus misalnya saja dengan menyontek. Tentu saja hal ini bukanlah perilaku yang diharapkan dimiliki oleh siswa. Perilaku yang tidak berkarakter tersebut bertentangan pula dengan tujuan muatan materi PKn. Dalam kurikulum 2013, PKn merupakan salah satu muatan materi yang dibelajarkan kepada siswa sekolah dasar dan terangkum dengan muatan materi yang lain dalam satu tema pembelajaran. Depdiknas (2006:49) memberikan penjelasan bahwa pendidikan kewarganegaraan adalah mata pelajaran yang memfokuskan pada pembentukan warga negara yang memahami dan mampu melaksanakan hak-hak dan kewajibannya untuk menjadi warga negara Indonesia yang cerdas, terampil, berkarakter yang diamanatkan oleh Pancasila dan UUD 1945. Pembelajaran PKn di sekolah dasar dimaksudkan untuk membantu peserta didik agar dapat belajar dengan baik dan membentuk manusia Indonesia seutuhnya dalam pembentukan karakter bangsa yang diharapkan mengarah pada penciptaan suatu masyarakat yang menempatkan demokrasi dalam kehidupan berbangsa dan bernegara yang berlandaskan pada Pancasila, UUD, dan norma-norma yang

berlaku di masyarakat

(Susanto,2013:227).

Dalam kenyataannya saat ini materi PKn kurang diminati oleh siswa. Dari beberapa penelitian diketahui bahwa daya tarik tersebut semakin lemah karena membosankan serta materi dan metodenya tidak menantang siswa secara intelektual (Wahab dalam Susanto,2013:231). Kurangnya daya tarik siswa terhadap materi PKn yang berlarut-larut tentu saja akan menyebabkan siswa

(3)

malas belajar PKn dan pada akhirnya bermuara pada hasil belajar yang dicapainya. Hal ini menunjukkan proses pembelajaran yang dilaksanakan guru saat ini belum mampu menarik perhatian dan minat siswa dalam belajar PKn sehingga hasil belajar yang dicapai siswa pun menjadi tidak optimal.

Hasil belajar adalah tingkat penguasaan yang dicapai siswa dalam mengikuti program belajar mengajar sesuai dengan tujuan pendidikan yang ditetapkan yang meliputi aspek kognitif, afektif, dan psikomotor Bundu (2006: 17). Hasil belajar yang dicapai oleh siswa merupakan hasil interaksi antara berbagai faktor internal maupun eksternal (Susanto,2013:12). Faktor internal merupakan faktor yang bersumber dari dalam diri siswa, yang memengaruhi kemampuan belajarnya. Faktor internal ini meliputi: kecerdasan, minat dan perhatian, motivasi belajar, ketekunan, sikap, kebiasaan belajar, serta kondisi fisik dan kesehatan. Faktor eksternal adalah faktor yang berasal dari luar diri siswa yang memengaruhi hasil belajar siswa. Menurut Slameto (2010:54) terdapat tiga faktor yang mempengaruhi, tiga faktor tersebut adalah: (1) faktor keluarga yang meliputi cara orang tua mendidik, relasi antar anggota keluarga, suasana rumah, dan keadaan ekonomi keluarga; (2) faktor sekolah yang meliputi metode mengajar, kurikulum, relasi guru dengan siswa, relasi siswa dengan siswa, disiplin sekolah, alat pelajaran, waktu sekolah, keadaan gedung, metode belajar, dan tugas rumah; (3) faktor masyarakat yang meliputi kesiapan siswa dalam masyarakat, mass media, teman bergaul dan bentuk kehidupan masyarakat.

Guru adalah salah satu faktor eksternal yang mempengaruhi hasil belajar siswa karena guru yang akan mengaplikasikan strategi atau metode pembelajaran sesuai dengan rencana pembelajaran yang telah dirancang. Guru harus mampu menarik perhatian dan minat siswa untuk belajar khususnya dalam belajar PKn. Salah satu upaya yang dapat dilakukan guru untuk mengoptimalkan proses pembelajaran adalah dengan menerapkan pendekatan

saintifik atau pendekatan ilmiah dalam pembelajaran saat ini. Pendekatan saintifik sering disebut-sebut sebagai ciri khas dan menjadi kekuatan tersendiri dari keberadaan kurikulum 2013. Pola pembelajaran pasif menjadi pembelajaran aktif mencari merupakan ciri khas pembelajaran dengan menggunakan pendekatan saintifik. Sebelumnya guru cenderung lebih banyak menggunakan pendekatan deduktif. Siswa langsung diceramahi dengan sejumlah teori, baik dari guru itu sendiri ataupun dari buku-buku pelajaran. Teori-teori itu diterima siswa begitu adanya, tanpa disertai sikap kritis, lebih-lebih berupa dorongan untuk munculnya pemikiran-pemikiran baru. Pendekatan deduktif dipandang tidak memunculkan kreativitas siswa. Mereka cenderung dijadikan sebagai objek pembelajaran. Berbeda halnya pembelajaran dengan pendekatan ilmiah (saintifik) yang memadukan kedua pendekatan induktif dan deduktif. Dalam pembelajarannya, siswa memanfaatkan sejumlah teori yang telah didapatkan sebelumnya untuk dikorelasikan dengan pengamatan yang dilakukannya sendiri di lapangan. Antara teori dengan fakta-fakta lapangan itu diharapkan menjadi pengetahuan baru bagi siswa. Dengan demikian siswa tidak terjebak pada sikap verbalisme; tidak selalu menerima terhadap suatu pendapat dan teori. Akan tetapi, mereka pun berusaha untuk membuktikan pendapat ataupun teori tersebut (Kosasih,2014:70-71).

Daryanto (2014:1) menyatakan bahwa pembelajaran dengan pendekatan saintifik adalah proses pembelajaran yang dirancang sedemikian rupa agar peserta didik secara aktif mengonstruksi konsep, hukum atau prinsip melalui tahapan-tahapan mengamati (untuk mengidentifikasi atau menentukan masalah), merumuskan masalah, mengajukan dan merumuskan hipotesis, mengumpulkan data dengan berbagai teknik, menganalisis data, menarik kesimpulan dan mengomunikasikan konsep, hukum atau prinsip yang ditemukan. Pendekatan saintifik berkaitan erat dengan metode saintifik (Sani,2014:50). Metode saintifik (ilmiah) pada umumnya melibatkan kegiatan

(4)

pengamatan atau observasi yang dibutuhkan untuk perumusan hipotesis atau mengumpulkan data. Metode ilmiah pada umumnya dilandasi dengan pemaparan data yang diperoleh melalui pengamatan atau percobaan. Oleh sebab itu, kegiatan percobaan dapat diganti dengan kegiatan memperoleh informasi dari berbagai sumber. Pada intinya, pendekatan saintifik merupakan pendekatan di dalam kegiatan pembelajaran yang mengutamakan kreativitas dan temuan-temuan siswa. Pengalaman belajar yang mereka peroleh tidak bersifat indoktrinasi, hafalan, dan sejenisnya. Materi siswa pelajari berbasis fakta atau fenomena tertentu, sesuai dengan KD yang sedang dikembangkan guru. Fakta atau fenomena itu siswa amati, pertanyakan, cari jawabannya sendiri dari berbagai sumber yang relevan, dan bermuara pada sebuah

jawaban yang dapat

dipertanggungjawabkan secara keilmuan. Kurniasih dan Sani (2014:33) menyebutkan beberapa karakteristik pembelajaran dengan pendekatan saintifik, yaitu: (1) berpusat pada siswa; (2) melibatkan keterampilan proses sains dalam mengonstruksi konsep, hukum, atau prinsip; (3) melibatkan proses-proses kognitif yang potensial dalam merangsang perkembangan intelek, khususnya keterampilan berpikir tingkat tinggi siswa; (4) dapat mengembangkan karakter siswa.

Menurut Permendikbud No. 81A tahun 2013 lampiran IV proses pembelajaran saintifik terdiri atas lima pengalaman belajar pokok yaitu: mengamati, menanya, mengumpulkan informasi, mengasosiasi, dan mengomunikasikan. Kelima tahapan tersebut merupakan proses yang berkesinambungan yang diharapkan pula selalu bersinggungan dengan ranah sikap, pengetahuan, dan keterampilan. Selama proses pembelajaran berlangsung, ketiga ranah itu dapat berkembang pula dengan baik. Siswa tidak sekadar tahu (apa), tetapi juga bisa (bagaimana), dan memperoleh perubahan sikap (mengapa) atas proses pembelajaran yang dilakoninya. Dalam ranah pengetahuan, siswa memperoleh

kompetensi tentang “apa” dari materi pembelajarannya. Ranah tersebut terkait dengan aspek pengetahuan yang ada di dalam kurikulum dinyatakan dengan KI-3. Dalam ranah keterampilan, siswa memperoleh kompetensi tentang “bagaimana” dari materi pembelajarannya. Ranah tersebut di dalam kurikulum dinyatakan dengan KI-4. Dalam ranah sikap, siswa memperoleh kompetensi berupa efek penyerta dari pengetahuan dan keterampilan yang dilakoninya, baik berupa sikap jujur, tanggung jawab, disiplin, percaya diri, dan sikap-sikap lainnya. Dalam kurikulum 2013, ranah tersebut dinyatakan dengan KI-1 dan KI-2.

Untuk mengoptimalkan pembelajaran, pendekatan saintifik tersebut harus didukung pula dengan kemampuan atau keterampilan guru. Salah satu kemampuan penting tersebut adalah kemampuan guru dalam bertanya. Bertanya dalam pembelajaran dipandang sebagai kegiatan guru untuk mendorong, membimbing, dan menilai kemampuan berpikir siswa. Bagi siswa, kegiatan bertanya merupakan bagian penting dalam pelaksanaan pembelajaran. Terlebih lagi, dalam lima langkah pembelajaran pokok dengan pendekatan saintifik yang mana salah satu langkahnya yaitu menanya mengharapkan keaktifan siswa dalam bertanya. Dalam hal ini guru harus mampu membangkitkan rasa ingin tahu dan minat siswa bertanya serta mampu merespon setiap pertanyaan siswa dengan baik. Sebelum guru melontarkan pertanyaan kepada siswa, hendaknya guru memahami jenis-jenis pertanyaan dan mampu merumuskannya, sehingga guru mampu mengembangkan pembelajaran sesuai dengan tujuan yang hendak dicapai.

Pertanyaan adalah stimulus yang mendorong anak untuk berpikir dan belajar (Nasution,2010:161). Menurut Majid (2014: 216-217) ada beberapa fungsi pertanyaan, yaitu: (1) membangkitkan rasa ingin tahu, minat, dan perhatian peserta didik tentang suatu tema atau topik pembelajaran; (2) mendorong dan menginspirasi peserta didik untuk aktif belajar, serta

(5)

mengembangkan pertanyaan dari dan untuk dirinya sendiri; (3) mendiagnosis kesulitan belajar peserta didik sekaligus menyampaikan rancangan untuk mencari solusinya; (4) menstrukturkan tugas-tugas dan memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk menunjukkan sikap, keterampilan, dan pemahamannya atas substansi pembelajaran yang diberikan; (5) mengembangkan keterampilan peserta didik dalam berbicara, mengajukan pertanyaan, dan memberi jawaban secara logis, sistematis, dan menggunakan bahasa yang baik dan benar; (6) mendorong partisipasi peserta didik dalam berdiskusi, berargumen, mengembangkan kemampuan berpikir, dan menarik kesimpulan; (7) membangun sikap keterbukaan untuk saling memberi dan menerima pendapat atau gagasan, memperkaya kosakata, serta mengembangkan toleransi sosial dalam hidup berkelompok; (8) membiasakan peserta didik berpikir spontan dan cepat, serta sigap dalam merespon persoalan yang tiba-tiba muncul; (9) melatih kesantunan dalam berbicara dan membangkitkan kemampuan berempati satu sama lain.

Jenis pertanyaan guru yang dimaksud dalam penelitian ini adalah jenis pertanyaan terbuka dan pertanyaan tertutup. Kosasih (2014:77) menyatakan bahwa pertanyaan terbuka adalah pertanyaan yang memiliki lebih dari satu jawaban yang benar. Pendapat senada juga dikemukakan oleh Sujarweni (2014:92) yang menyatakan bahwa pertanyaan terbuka adalah suatu pertanyaan yang dapat dijawab responden dengan cara yang hampir tidak terbatas. Siswa diberikan kesempatan untuk mencari alternatif jawaban dari pertanyaan menurut cara dan gaya siswa masing-masing. Rentangan kemungkinan jawaban yang diberikan oleh siswa lebih luas sehingga jika jenis pertanyaan ini digunakan dalam pembelajaran dengan pendekatan saintifik maka sangat membantu siswa dalam mengembangkan dan mendalami suatu konsep materi pembelajaran. Pertanyaan terbuka menuntut siswa berpikir lebih kritis dan kreatif dan hal ini

sejalan dengan harapan dari penerapan kurikulum 2013. Berbeda dengan jenis pertanyaan terbuka, pertanyaan tertutup adalah pertanyaan dengan dua kemungkinan jawaban yaitu: Ya atau Tidak (Sujarweni,2014:91). Kosasih (2014:77) juga menegaskan bahwa pertanyaan tertutup adalah pertanyaan yang memiliki hanya satu jawaban benar. Secara singkat dapat disimpulkan penggunaan pertanyaan tertutup dalam pendekatan saintifik bertujuan untuk memperoleh informasi dari siswa dan hanya menghendaki jawaban yang terbatas dan biasanya langsung menuju satu kesimpulan. Dengan didukung penerapan jenis pertanyaan terbuka dan tertutup maka pembelajaran menjadi lebih aktif dan dinamis. Semakin baik proses pembelajaran dan keaktifan siswa dalam mengikuti proses pembelajaran, maka seharusnya hasil belajar yang diperoleh siswa akan semakin tinggi sesuai dengan tujuan yang dirumuskan sebelumnya (Jihad dan Haris,2012:20). Sehingga, penerapan jenis pertanyaan terbuka dan tertutup dalam pembelajaran saintifik mampu memberikan kontribusi positif terhadap hasil belajar pengetahuan PKn siswa.

Berdasarkan teori dan kenyataan yang telah dipaparkan tersebut, maka diujicobakan penerapan jenis pertanyaan terbuka dan tertutup dalam pendekatan saintifik. Melalui penerapan kedua jenis pertanyaan tersebut, pembelajaran dengan pendekatan saintifik diharapkan menjadi lebih optimal sehingga berdampak positif terhadap ketercapaian hasil belajar pengetahuan PKn siswa. Berdasarkan realita belajar dan uji coba tersebut, maka diteliti mengenai pengaruh pendekatan saintifik terhadap hasil belajar pengetahuan PKn ditinjau dari jenis pertanyaan guru pada siswa kelas IV di SD Gugus R.A. Kartini Denpasar Barat.

METODE

Penelitian ini dilaksanakan di SD Gugus R.A. Kartini Kecamatan Denpasar Barat pada siswa kelas IV semester genap tahun ajaran 2014/2015. Adapun tujuan dari penelitian adalah untuk mengetahui perbedaan yang signifikan

(6)

hasil belajar pengetahuan PKn antara kelompok siswa yang dibelajarkan melalui pendekatan saintifik menggunakan pertanyaan terbuka dan kelompok siswa yang dibelajarkan melalui pendekatan saintifik menggunakan pertanyaan tertutup pada siswa kelas IV di SD Gugus R.A. Kartini Denpasar Barat. Adapun rancangan penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah rancangan pra eksperimen. Rancangan ini banyak digunakan dalam penelitian pendidikan karena sulit untuk menciptakan variabel termanipulasi (Anggoro,2009:3.28). Menurut Setyosari (2012:173) rancangan penelitian pra eksperimen tidak memerlukan persyaratan-persyaratan tertentu yang harus diikuti peneliti. Persyaratan tertentu yang dimaksud misalnya adalah prosedur penentuan subjek atau partisipan penelitian, penetapan homogenitas varian, dan persyaratan-persyaratan lainnya. Rancangan ini tidak memerlukan rancangan yang cermat.

Desain yang digunakan dalam penelitian ini adalah The Static Group

Pretest-Postest Design. Dalam desain

penelitian ini, ada dua kelompok yang diberikan perlakuan yang berbeda dalam

rumpun yang sejenis

(Sukmadinata,2012:208). Dalam penelitian ini, nilai tes awal (pretest) berguna untuk menyetarakan kedua kelompok sampel yang telah diperoleh melalui teknik random sampling. Populasi adalah keseluruhan objek penelitian. Populasi dalam penelitian ini adalah siswa kelas IV yang ada di seluruh sekolah dasar Gugus R.A. Kartini Denpasar Barat, yang terdiri dari 8 SD dengan banyak kelas yaitu 21 dan siswa sebanyak 805 orang.

Setelah ditentukan populasi dalam penelitian ini, selanjutnya adalah menentukan sampel penelitian. Sampel penelitian mencerminkan dan menentukan seberapa jauh sampel tersebut bermanfaat dalam membuat kesimpulan penelitian. Pengambilan kedua sampel dalam penelitian ini dilakukan dengan teknik random sampling dengan mengundi kelas IV yang

ada di SD Gugus R.A. Kartini Denpasar

Barat, sehingga diperoleh dua kelompok sampel yaitu kelas IVA SD Negeri 15 Pemecutan dan kelas IVB SD Negeri 19 Pemecutan. Peneliti tidak melakukan pengacakan individu. Kelas dipilih sebagaimana telah terbentuk tanpa campur tangan peneliti sehingga kemungkinan pengaruh-pengaruh dari keadaan subjek mengetahui dirinya dilibatkan dalam eksperimen dapat dikurangi. Hal tersebut bertujuan agar penelitian ini benar-benar menunjukkan pengaruh perlakuan yang diberikan. Pemetaan nilai pretest siswa pada kedua kelompok dilakukan untuk menyetarakan kedua kelompok. Pemetaan dilakukan dengan memasangkan nilai pretest yang sama antara siswa yang ada pada kelompok A dengan siswa kelompok B. Teknik memasangkan nilai pretest

kelompok A dan kelompok B ini disebut teknik matching. Menurut Darmadi (2011:173) teknik matching digunakan apabila peneliti telah mengidentifikasi suatu variabel yang dipercaya ada hubungannya dengan penampilan pada variabel tidak bebas. Dengan menggunakan teknik matching, nilai masing-masing siswa pada kelompok A dipasangkan dengan nilai yang sama yang diperoleh siswa pada kelompok B. Jika terdapat siswa dalam kelompok tidak mendapat skor pasangan maka siswa tersebut tidak diikutkan dalam penelitian. Hasil dari pemetaan (matching) nilai masing-masing siswa pada kelompok A dan kelompok B menunjukkan bahwa kedua kelompok tersebut setara. Berdasarkan hasil matching tersebut diperoleh 32 pasang siswa yang memperoleh nilai sama. Setelah kedua kelompok setara, maka dilanjutkan dengan merandom kedua kelompok tersebut. Berdasarkan hasil random, diperoleh kelas IVB SD Negeri 19 Pemecutan sebagai kelompok A dan kelas IVA SD Negeri 15 Pemecutan sebagai kelompok B.

Dalam persiapan metodologis untuk menguji hipotesis penelitian, harus dipastikan variabel-variabel yang akan dilibatkan dalam penelitian. Terdapat dua variabel yang dilibatkan dalam penelitian ini, yaitu variabel bebas dan variabel terikat. Variabel bebas dalam penelitian

(7)

ini adalah pendekatan saintifik ditinjau dari jenis pertanyaan guru. Variabel terikat dalam penelitian ini adalah hasil belajar pengetahuan PKn siswa kelas IV, sehingga data yang dikumpulkan adalah data tentang hasil belajar pengetahuan PKn. Metode yang digunakan untuk mengumpulkan data hasil belajar pengetahuan PKn adalah metode tes. Instrumen yang digunakan untuk mengumpulkan data tentang hasil belajar pengetahuan PKn adalah tes hasil belajar bentuk objektif dengan tipe pilihan ganda biasa. Tes ini menunjukkan penguasaan siswa terhadap muatan materi PKn yang ada dalam tema tempat tinggalku dan siswa peroleh di kelas IV.

Sebelum digunakan untuk mengumpulkan data penelitian, instrumen yang telah disusun terlebih dahulu divalidasi baik secara teoretis maupun secara empirik. Secara teoretis yaitu dengan menyusun kisi-kisi soal kemudian dikonsultasikan dengan ahli (expert) yaitu dosen yang memiliki keahlian dalam pembelajaran PKn dan guru di sekolah dasar. Secara empirik yaitu dengan mengujicobakan instrumen tersebut pada responden sebanyak 44 siswa. Dalam penelitian ini, butir soal yang diujicobakan sebanyak 50 soal. Setelah dilakukan uji instrumen yang meliputi uji validitas, indeks daya beda, taraf kesukaran tes, dan reliabilitas tes diperoleh 33 butir soal yang layak digunakan dalam penelitian. Setelah data hasil belajar pengetahuan PKn terkumpul, maka selanjutnya dilakukan analisis data. Analisis yang digunakan adalah analisis statistik Uji-t. Namun, sebelum dilakukan uji hipotesis dengan menggunakan analisis Uji-t, terlebih dahulu dilakukan uji prasyarat analisis, yang meliputi uji normalitas dan uji homogenitas.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Hipotesis yang diuji dalam penelitian ini adalah H0 yang berbunyi tidak terdapat

perbedaan yang signifikan hasil belajar pengetahuan PKn antara kelompok siswa yang dibelajarkan melalui pendekatan saintifik menggunakan pertanyaan terbuka dan kelompok siswa yang dibelajarkan melalui pendekatan saintifik menggunakan pertanyaan tertutup pada

siswa kelas IV di SD Gugus R.A. Kartini Denpasar Barat. Hasil penghitungan menunjukkan nilai rata-rata hasil belajar pengetahuan PKn siswa kelompok A yang dibelajarkan melalui pendekatan saintifik menggunakan pertanyaan terbuka adalah 82.53 dengan varian 142.58 dan standar deviasi 11.94. Sedangkan, nilai rata-rata yang diperoleh kelompok B yang dibelajarkan melalui pendekatan saintifik menggunakan pertanyaan tertutup adalah 80.47 dengan varian 130.58 dan standar deviasi 11.43.

Sebelum dilakukan analisis data menggunakan statistik uji-t terlebih dahulu dilakukan uji prasyarat yang meliputi normalitas sebaran data kelompok A dan kelompok B. Berdasarkan atas kurva normal, kelas interval, frekuensi observasi (fo) dan frekuensi empirik (fe) dari data hasil belajar pengetahuan PKn siswa kelompok A diperoleh χ2

hitung = 5.91,

pada taraf signifikansi 5% dan derajat kebebasan (dk)=5 diperoleh χ2

tabel = 11.07

sehingga χ2

hitung < χ2tabel maka H0 diterima.

Hal ini berarti sebaran data hasil belajar pengetahuan PKn siswa kelompok A berdistribusi normal. Hasil belajar pengetahuan PKn kelompok B yang dibelajarkan melalui pendekatan saintifik menggunakan pertanyaan tertutup diperoleh diperoleh χ2

hitung = 5.91, pada

taraf signifikansi 5% dan derajat kebebasan (dk)=5 diperoleh χ2

tabel = 11.07

sehingga χ2

hitung < χ2tabel maka H0 diterima.

Hal ini berarti sebaran data hasil belajar pengetahuan PKn siswa kelompok B berdistribusi normal.

Uji prasyarat selanjutnya adalah uji homogenitas varians. Berdasarkan penghitungan menggunakan uji F diperoleh Fhitung = 1.09 dan pada taraf

signifikansi 5% dengan db pembilang = 31 dan db penyebut = 31 diperoleh Ftabel =

1.84 sehingga Fhitung < Ftabel. Ini berarti

bahwa varians antara kelompok A dan kelompok B homogen. Berdasarkan hasil uji normalitas dan uji homogenitas varians diperoleh data kedua kelompok yaitu kelompok A dan kelompok B berdistribusi normal dan varians kedua kelompok homogen. Sehingga, uji hipotesis dengan menggunakan uji-t dapat dilakukan. Rekapitulasi hasil

(8)

analisis data dengan menggunakan uji-t disajikan pada tabel sebagai berikut.

Tabel 1. Rekapitulasi Analisis Uji-t

Sampel Mean Varians n thitung ttabel Kesimpulan Kelompok A Kelompok B 82.53 80.47 142.58 130.58 32 32 0.71 1.99 H0 diterima

Berdasarkan hasil post-test dari kelompok A dan kelompok B, diperoleh nilai rata-rata kelompok A adalah 82.53, sedangkan nilai rata-rata kelompok B adalah 80.47. Dengan demikian, nilai rata-rata post-test hasil belajar pengetahuan PKn siswa kelompok A lebih dari nilai rata-rata siswa kelompok B yaitu 82.53 > 80.47. Setelah dikategorikan dengan PAP skala lima, nilai rata-rata hasil belajar pengetahuan PKn kelompok A dan kelompok B termasuk dalam kategori baik. Hasil analisis menunjukkan thitung = 0.71, untuk dk = 62 dengan taraf signifikansi 5% diperoleh ttabel = 1.99. Berdasarkan kriteria pengujian, thitung < ttabel (0.71 < 1.99) maka H0 diterima. Hasil analisis

tersebut menunjukkan bahwa tidak terdapat perbedaan yang signifikan hasil belajar pengetahuan PKn antara kelompok siswa yang dibelajarkan melalui pendekatan saintifik menggunakan pertanyaan terbuka dan kelompok siswa yang dibelajarkan melalui pendekatan saintifik menggunakan pertanyaan tertutup pada siswa kelas IV di SD Gugus R.A. Kartini Denpasar Barat.

Perbedaan yang tidak signifikan tersebut terjadi karena kedua jenis pertanyaan baik pertanyaan terbuka maupun pertanyaan tertutup tidak bisa diterapkan secara sendiri-sendiri dalam pembelajaran. Kedua jenis pertanyaan tersebut sama-sama diperlukan dan digunakan oleh guru dalam setiap pembelajaran dalam arti kedua jenis pertanyaan tersebut tidak dapat diterapkan secara terpisah. Baik pertanyaan terbuka maupun pertanyaan tertutup memiliki kelebihan dan kekurangan sehingga dalam penerapannya pun simultan. Penerapan pertanyaan terbuka maupun tertutup

dalam pendekatan saintifik sama-sama membuat siswa aktif dan memperoleh hasil belajar pengetahuan PKn yang baik. Namun, kelebihan dari pertanyaan terbuka adalah siswa lebih memiliki banyak kesempatan untuk mengetahui atau mendalami suatu materi. Berbeda halnya dengan pertanyaan tertutup yang hanya memiliki jawaban terbatas. Hal ini didukung oleh pendapat Kosasih (2014:77) yang menyatakan bahwa “pertanyaan tertutup adalah pertanyaan yang memiliki hanya satu jawaban benar”. Tidak mungkin guru dalam pembelajaran hanya menggunakan jenis pertanyaan terbuka saja. Guru juga harus memahami sampai sejauh mana siswa di sekolah dasar mengetahui dan mendalami suatu materi atau informasi. Guru juga tidak mungkin hanya menggunakan jenis pertanyaan tertutup kepada siswa dalam pembelajaran karena pada dasarnya pembelajaran merupakan proses penambahan informasi dan kemampuan baru (Sanjaya,2006:129). Terlebih lagi dalam pembelajaran menggunakan pendekatan saintifik yang menghendaki siswa mengonstruksi sendiri pengetahuan baru tersebut sehingga guru harus mampu membimbing siswa melalui pertanyaan-pertanyaan yang sifatnya lebih mendalam.

Hal ini mendukung hipotesis yang menyatakan bahwa tidak terdapat perbedaan yang signifikan hasil belajar pengetahuan PKn antara kelompok siswa yang dibelajarkan melalui pendekatan saintifik menggunakan pertanyaan terbuka dan kelompok siswa yang dibelajarkan melalui pendekatan saintifik menggunakan pertanyaan tertutup pada siswa kelas IV di SD Gugus R.A. Kartini Denpasar Barat. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa pendekatan saintifik ditinjau dari jenis pertanyaan guru tidak

(9)

berpengaruh terhadap hasil belajar pengetahuan PKn siswa kelas IV di SD Gugus R.A. Kartini Denpasar Barat. PENUTUP

Berdasarkan penelitian dan pembahasan yang telah dipaparkan pada bab sebelumnya, maka diperoleh simpulan sebagai berikut. Rerata hasil belajar pengetahuan PKn kelompok siswa yang dibelajarkan melalui pendekatan saintifik menggunakan pertanyaan terbuka pada siswa kelas IVB SD Negeri 19 Pemecutan sebagai kelompok A adalah 82.53 dengan persentase di sekitar rata-rata 31.25%, di bawah rata 25%, dan di atas rata-rata 43,76%. Berdasarkan kategori hasil belajar yang mengacu pada PAP skala lima, maka nilai rata-rata hasil belajar pengetahuan PKn siswa kelompok A yang dibelajarkan melalui pendekatan saintifik menggunakan pertanyaan terbuka termasuk dalam kategori baik. Rerata hasil belajar pengetahuan PKn kelompok siswa yang dibelajarkan melalui pendekatan saintifik menggunakan pertanyaan tertutup pada siswa kelas IVA SD Negeri 15 Pemecutan sebagai kelompok B adalah 80.47 dengan persentase di sekitar rata-rata 31.25%, di bawah rata-rata-rata-rata 28.12%, dan di atas rata-rata 40.63%. Berdasarkan kategori hasil belajar yang mengacu pada PAP skala lima, maka nilai rata-rata hasil belajar pengetahuan PKn siswa kelompok B yang dibelajarkan melalui pendekatan saintifik menggunakan pertanyaan tertutup termasuk dalam kategori baik. Berdasarkan perhitungan uji-t pada bab sebelumnya, diperoleh thitung = 0,71 dan

ttabel = 1.99. Kedua nilai tersebut

dibandingkan sehingga diperoleh thitung < ttabel (0,71 < 1.99), maka H0 diterima,

yang artinya tidak terdapat perbedaan yang signifikan hasil belajar pengetahuan PKn antara kelompok siswa yang dibelajarkan melalui pendekatan saintifik menggunakan pertanyaan terbuka dan kelompok siswa yang dibelajarkan melalui pendekatan saintifik menggunakan pertanyaan tertutup pada siswa kelas IV di SD Gugus R.A. Kartini Denpasar Barat. Dengan demikian, dapat

disimpulkan bahwa pendekatan saintifik ditinjau dari jenis pertanyaan guru tidak berpengaruh terhadap hasil belajar pengetahuan PKn siswa kelas IV di SD Gugus R.A. Kartini Denpasar Barat.

Berdasarkan hasil penelitian, pembahasan dan simpulan yang telah dipaparkan, maka dapat diajukan beberapa saran kepada pihak-pihak sebagai berikut. Dengan diadakannya penelitian ini, disarankan kepada sekolah agar menerapkan kedua jenis pertanyaan, baik pertanyaan terbuka maupun pertanyaan tertutup secara bersamaan dalam kegiatan pembelajaran karena kedua jenis pertanyaan tersebut sama-sama memiliki kekurangan dan kelebihan, sehingga akan lebih efektif jika diterapkan secara bersamaan atau simultan dalam pembelajaran. Kepada guru disarankan agar lebih memahami tentang jenis-jenis pertanyaan sehingga dalam pembelajaran guru mampu menerapkannya secara optimal mengingat dari kelebihan dan kelemahan yang dimiliki oleh masing-masing jenis pertanyaan. Sehingga, baik pertanyaan terbuka maupun tertutup tidak bisa dipisahkan dalam penerapannya. Siswa disarankan agar memberikan respon yang sesuai dengan jenis pertanyaan yang disampaikan oleh guru agar apa yang menjadi tujuan disampaikannya suatu pertanyaan bisa tercapai. Hal ini tentu saja demi optimalnya interaksi dalam pembelajaran sehingga berdampak positif pula terhadap hasil belajar siswa. Peneliti lain diharapkan agar lebih mengembangkan kreativitas serta inovasi-inovasi baru dalam pembelajaran agar siswa merasa senang belajar dan tidak menjadikan belajar itu sebagai beban. Jika siswa sudah merasa senang belajar, maka tidak akan sulit membelajarkan siswa untuk mencapai kompetensi-kompetensi sesuai harapan kurikulum. DAFTAR PUSTAKA Anggoro,Toha, dkk.2009.Metode Penelitian.Jakarta: Universitas Terbuka. Bundu,Patta.2006.Penilaian Keterampilan

(10)

Pembelajaran Sains Sekolah

Dasar.Jakarta: Departemen

Pendidikan Nasional.

Darmadi, Hamid.2011.Metode Penelitian

Pendidikan.Bandung: Alfabeta.

Daryanto.2014.PendekatanPembelajaran

Saintifik Kurikulum

2013.Yogyakarta: Gava Media.

Jihad, Asep dan Abdul

Haris.2012.Evaluasi

Pembelajaran.Yogyakarta: Multi Pressindo.

Kosasih, E.2014.Strategi Belajar dan

Pembelajaran Implementasi

Kurikulum 2013.Bandung: Yrama

Widya.

Kurniasih, Imas dan Berlin Sani.2014.Sukses

Mengimplementasikan Kurikulum 2013 Memahami Berbagai Aspek dalam Kurikulum 2013.Jakarta:

Kata Pena.

Majid, Abdul.2014.Pembelajaran Tematik

Terpadu.Bandung: PT Remaja

Rosdakarya.

Nasution,S.2010.Didaktik Asas-Asas Mengajar.Jakarta:Bumi Aksara. Peraturan Menteri Pendidikan dan

Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 81A Tahun 2013 tentang Implementasi

Kurikulum.2013.Jakarta:

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 22 Tahun 2006 tentang

Standar Isi.2006.Jakarta:

Departemen Pendidikan Nasional. Sani,RidwanAbdullah.2014.Pembelajaran

Saintifik untuk Implementasi Kurikulum 2013.Jakarta: PT Bumi

Aksara.

Sanjaya, Wina.2006.Strategi

Pembelajaran Berorientasi Standar

Proses Pendidikan.Jakarta:

Kencana.

Setyosari, Punaji.2010.Metode Penelitian

Pendidikan dan

Pengembangan.Jakarta: Kencana.

Slameto.2010.Belajar dan Faktor-faktor

yang Mempengaruhinya. Jakarta:

Rineka Cipta. Sujarweni, Wiratna.2014.Metodologi Penelitian.Yogyakarta: Pustaka Baru Press. Sukmadinata, Nana Syaodih.2012.Metodologi Penelitian Pendidikan.Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

Susanto, Ahmad.2013.Teori Belajar dan

Pembelajaran di Sekolah

Dasar.Jakarta: Kencana.

Undang-undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang

Sistem Pendidikan

Nasional.2003.Jakarta:Kementerian

Referensi

Dokumen terkait

Pak Chenris : Pada laporan EITI tahun sebelumnya IA mendapatkan data pembayaran dari perusahaan selengkap-lengkapnya sampai dengan NTPN, karena untuk rekonsliasi

Dan bukti dari apa yang telah kami sebutkan adalah bahwa seseorang apabila mengikuti orang yang bukan Utusan Tuhan dalam berpendapat (dan) menggunakan pendapatnya

(2) Usulan Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal dalam rangka pemberian fasilitas Pajak Penghasilan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), disampaikan kepada Menteri Keuangan

Bechtel Indonesia, atau calon karyawan tidak dibebankan biaya transportasi dan akomodasi akan tetapi dalam pelaksanaannya menggunakan metode sistem

dipergunakan, disamping database yang lama sudah baik. 2) SIA yang baru ini Web Based, sehingga dibutuhkan server dan client yang baik dan up to date dalam

1) Proses Komunikasi Sekolah Lapangan Pembelajaran Ekologi Tanah (SL-PET) telah mampu menggugah para petani untuk menerapkan SRI organik, maka dari itu dalam

Perusahaan telah memfasilitasi SMKN 2 Bekasi untuk berkunjung ke ICON+ Gandul dalam rangka membagi ilmu dan pengetahuan kepada siswa/I tentang dunia telekomunikasi terutama

Menurut Loh analisis radiografi tangan dapat digunakan untuk menentukan usia pertumbuhan skeletal pasien pada saat itu, menentukan status pertumbuhan pasien, mengetahui saat