Sesuai dengan ketentuan hukum pada masing-masing Pihak; Para Pihak telah menyepakati hal-hal sebagai berikut; Pasal 1 - PARA PIHAK

Teks penuh

(1)

MEMORANDUM SALING PENGERTIAN ANT ARA

DIREKTORAT JENDERAL INDUSTRI KECIL DAN MENENGAH, KEMENTERIAN PERINDUSTRIAN ,REPUBLIK INDONESIA

DAN

SADAN PENGEMBANGAN USAHA KECIL DAN MENENGAH, REPUBLIK FEDERAL NIGERIA

MENGENAI

KERJA SAMA DALAM RANGKA PENINGKATAN KAPASITAS EKONOMI USAHA KECIL DAN MENEGAH DI SEKTOR INDUSTRI

Para Pihak berkeinginan untuk meningkatkan kerja sama diantara para Pihak dalam memajukan kapasitas Usaha Kecil dan Menengah di sektor industri di kedua negara untuk keberlanjutan pengembangan ekonomi di kedua negara.

Sesuai dengan ketentuan hukum pada masing-masing Pihak;

Para Pihak telah menyepakati hal-hal sebagai berikut;

Pasal 1 - PARA PIHAK

Dalam keseluruhan Memorandum Saling Pengertian ini, kata-kata di bawah ini akan merujuk pada keterangan sebagai berikut :

DJIKM : Direktorat Jenderal lndustri Kecil dan Menengah, Kementerian Perindustrian Republik Indonesia.

SMEDAN : Sadan Pengembangan Usaha Kecil dan Menengah Nigeria Para Pihak : DJIKM dan SMEDAN

UKM : Usaha Kecil dan Menengah di sektor industri di Indonesia dan Nigeria

(2)

Pasal 2 - TUJUAN MEMORANDUM SALING PENGERTIAN

2.1 Meningkatkan kerjasama ekonomi antara UKM Indonesia dan Nigeria.

2.2 Menyumbang peningkatan daya saing UKM di bidang industri Indonesia dan Nigeria di pasar global.

2.3 Penyelenggaraan Forum-Forum Pertemuan Bisnis

Pasal 3 - DASAR HUKUM

D1rektorat Jenderal lndustri Kecil dan Menengah (DJIKM), adalah sebuah lembaga di bawah Kementerian Perindustrian Republik Indonesia yang bertanggungjawab untuk memajukan dan memfasilitasi pengembangan usaha kecil dan menengah di sektor industri di Indonesia dan mempunyai kapasitas untuk membuat Memorandum Saling Pengertian ini.

SMEDAN dibentuk dengan Undang-Undang mengenai Sadan Pengembangan lndustri Skala Kecil dan Menengah tahun 2003 (beserta perubahannya) dan bertanggungjawab untuk memajukan dan memfasilitasi pengembangan usaha mikro, kecil dan menengah dan berdasarkan Undang-Undang yang sama mempunyai kapasitas untuk membuat Memorandum Saling pengertian ini.

Pasal 4 - AKTIVIT AS YANG AKAN DIREALISASIKAN

Masing-masing Pihak dapat, sesuai dengan undang-undang, hukum, peraturan dan kebijakan nasional yang berlaku dari waktu ke waktu, yang mengatur permasalahan ini di negara masing-masing, berusaha untuk melakukan langkah-langkah yang diperlukan untuk mendorong dan memajukan kerjasama teknik sebagai berikut:

(3)

4.1 Para Pihak dapat berbagi pengetahuan dan pengalaman yang mereka miliki untuk meningkatkan infrastruktur institusional dan mekanisme pendukung mereka yang bertujuan untuk meningkatkan UKM dan melakukan, antara lain, aktifitas-aktifitas bersama sebagai berikut :

i. pertukaran informasi mengenai kebijakan, langkah-langkah dan penerapan yang dimaksudkan untuk mendukung UKM,

ii. pertukaran pengalaman atas kegiatan-kegiatan yang terkait dengan UKM,

iii. pertukaran data dan publikasi terkait UKM (kecuali informasi yang berhubungan dengan badan hukum dari suatu perusahaan),

iv. penyediaan informasi mengenai penyelenggaraan pekan raya dan pameran, dan

v. penyediaan kerjasama teknis di bidang-bidang yang menjadi minat bersama dalam rangka untuk meningkatkan interaksi, daya saing dan peningkatan kapasitas dalam pembangunan sub sektor UKM di kedua negara.

4.2 Para Pihak dapat melakukan aktifitas-aktifitas untuk menyesuaikan UKM sesuai dengan kebutuhan dan mendorong dan mendukung penyelenggaraan Forum-Forum Pertemuan Bisnis untuk memajukan volume perdagangan kedua negara.

4.3 Para Pihak dapat mengatur kunjungan bisnis yang saling menguntungkan atau pertukaran program untuk memajukan hubungan kegiatan kewirausahaan dan untuk mendorong usaha bersama.

4.4 Para Pihak dapat saling menginformasikan mengenai peluang kegiatan berusaha terkait dengan UKM di Negara mereka.

4.5 Para Pihak dapat menyelenggarakan program pelatihan/ program pendidikan yang ditujukan guna pembangunan SME di kedua Negara.

(4)

Pasal 5 - PELAKSANAAN DAN PEMBERLAKUAN

5.1 Memorandum Saling Pengertian ini dibuat dengan maksud untuk meningkatkan dan mengembangkan kerjasama diantara para Pihak dan tidak merupakan perjanjian yang mengikat Negara para Pihak berdasarkan hukum internasional. Tidak ada ketentuan dalam Memorandum Saling Pengertian ini yang dapat diterjemahkan atau diimplementasikan untuk menciptakan hak-hak hukum atau kewajiban hokum untuk atau melawan Para Pihak yang terlibat.

5.2. Para Pihak bertanggungjawab atas pelaksanaan dari Memorandum Saling Pengertian ini berdasarkan kesetaraan dan keuntungan bersama. Para Pihak dapat menunjuk pejabat coordinator di dalam lembaga masing-masing yang akan mengkoordinasikan hal-hal yang terkait dengan Memorandum Saling Pengertian ini. Para Pihak dapat mengembangkan detail-detail kerjasama yang praktis antara kedua belah Pihak dengan saling berkonsultasi melalui kontak yang telah ditunjuk untuk menjamin implementasi yang tepat dan efektif dari bidang-bidang kerjasama dalam Memorandum Saling Pengertian ini.

5.3. Masing-masing Pihak akan menanggung biaya masing-masing yang muncul dari setiap kegiatan yang dilakukan berdasarkan Memorandum Saling Pengertian ini termasuk untuk penyelenggaraan "Forum-Forum Pertemuan Bisnis" di negara mereka.

5.4. Memorandum Saling Pengertian ini tidak menciptakan kewajiban financial pada para Pihak. Pengeluaran dari kunjungan delegasi dalam kerangka kerja Memorandum Saling pengertian ini ditanggung oleh Negara pengirim.

5.5. Semua bahan, data, dokumen dan informasi yang diperoleh dalam kerangka Memorandum Saling pengertian ini wajib dilindungi, digunakan dan dijakankan hanya oleh para Pihak.

(5)

5.6. Para Pihak dapat meminta untuk melakukan peninjauan atau perubahan dari Memorandum Saling Pengertian ini. Peninjauan atau perubahan tersebut akan berlaku jika dilakukan secara tertulis dan disepakati oleh para Pihak.

5. 7. Memorandum Saling pengertian ini tidak menghalangi masing-masing Pihak untuk membuat pengaturan yang sama dengan pihak lain.

5.8. Memorandum Saling pengertian ini mulai berlaku pada tanggal penandatanganan oleh para Pihak dan wajib tetap berlaku untuk periode tiga (3) tahun dan dapat diperpanjang untuk jangka waktu tertentu sesuai kesepakatan para Pihak.

5.9. Tanpa mengesampingkan hal-hal yang terdapat di dalamnya, masing-masing Pihak dapat mengakhiri Memorandum Saling Pengertian ini setiap saat dengan memberikan pemberitahuan tertulis kepada Pihak lainnya mengenai niatnya untuk mengakhirinya dua (2) bulan sebelumnya dan Memorandum Saling Pengertian berakhir pada saat berakhirnya pemberitahuan tersebut, tanpa ada penerusan atau kelanjutan dari kewajiban dan tanggung jawab yang terdapat di dalamnya, namun demikian tidak ada pengakhiran yang akan menghilangkan manfaat yang diperoleh masing-masing Pihak atau kewajiban-kewajiban yang muncul sebelum pengakhiran.

5.10. Setiap ketidaksesuaian terkait dengan penafsiran dan aplikasi dari Memorandum Saling Pengertian ini dapat diselesaikan melalui konsultasi antara para Pihak. Jika terjadi ketidakpatuhan atas pasal-pasal dalam Memorandum Saling Pengertian ini, masing-masing Pihak dapat mengakhiri Memorandum Saling pengertian ini dengan memberitahukan kepada Pihak lainnya mengenai keinginannya untuk mengakhiri Memorandum Saling Pengertian ini dengan memberikan pemberitahuan tertulis dua bulan sebelumnya.

(6)

5.11. Memorandum Saling Pengertian yang terdiri dari lima pasal ini telah ditandatangani pada tanggal 2 Februari 2013 di Abuja, dalam dua salinan asli, masing-masing dalam bahasa Indonesia dan lnggris dan wajib tetap berlaku hingga 2 Februari 2016. Keseluruhan teks mempunyai keabsahan yang sama. Dalam hal terjadi perbedaan penafsiran teks, maka teks bahasa lnggris yang akan digunakan sebagai rujukan.

Untuk Direktorat Jenderal lndustri Kecil dan Menengah, Kementerian

Perindustrian, Republik Indonesia

Signed

Euis Saedah Direktur Jenderal

,.,

Untuk Badan Pengembangan Usaha Kecil dan Menengah,

Republik Federal Nigeria

Signed

Muhammad Nadada UMAR Direktur Jenderal I CEO

(7)

MEMORANDUM OF UNDERSTANDING BETWEEN

THE DIRECTORATE GENERAL OF SMALL AND MEDIUM INDUSTRY OF THE MINISTRY OF INDUSTRY OF THE REPUBLIC OF INDONESIA

AND

THE SMALL AND MEDIUM ENTERPRISES DEVELOPMENT AGENCY OF THE FEDERAL REPUBLIC OF NIGERIA

ON

COOPERATION IN THE FIELD OF ECONOMIC CAPACITY ENHANCEMENT

OF SMALL AND MEDIUM ENTERPRISES IN THE INDUSTRIAL SECTOR

The Parties desire to enhance cooperation between them in developing the

capacity of Small and Medium Enterprises in the industrial sector of both

countries for sustainable economic development.

Pursuant to the prevailing Laws and Regulations in force in the two countries;

The Parties have agreed as follows:

Article 1 - PARTIES

Throughout this Memorandum of Understanding the following phrases where mention shall mean:

DGSMI: Directorate General of Small and Medium Industry, Ministry of

Industry of the Republic of Indonesia.

SMEDAN: Small and Medium Enterprises Development Agency of Nigeria

Parties: DGSMI and SMEDAN

SMEs: Small and Medium Sized Enterprises in industrial sectors of

Indonesia and Nigeria

Article 2 - AIM OF THE MEMORANDUM OF UNDERSTANDING

2.1 Improving economic cooperation between Indonesian and Nigerian

(8)

2.2 Contributing to the Indonesian and Nigerian SMEs in the manufacturing industry for improving their competitive power in global markets.

2.3 Establishing a Business Fora

Article 3 - LEGAL BASIS

3. 1. Directorate General of Small and Medium Industry (DGSMI) is an organization under the Ministry of Industry of the Republic of Indonesia with the responsibility of promoting and facilitating the development of small and medium enterprises in industrial sectors in Indonesia and it is authorized to enter this Memorandum of Understanding.

3.2. SMEDAN was established by the Small and Medium Scale Industries Development Agency Act of 2003 (as amended) and charged with the responsibility for coordinating and facilitating development programmes in the Micro, Small and Medium Enterprises sub sector in Nigeria and it is authorized to enter this Memorandum of Understanding;

Article 4 - ACTIVITIES WHICH WILL BE REALISED

Parties may, subject to the Laws, Rules, Regulations and National Policies from time to time in force, governing the subject matter in their respective countries, endeavor to take necessary steps to encourage and promote technical co-operation as follows:

4.1 The Parties may share the knowledge and experience they possess to improve their institutional infrastructure and support mechanisms with the aim of improving SMEs in the manufacturing industry and carrying out, inter alia, the following common activities:

I. exchange of information about policies, measures and applications which aim to support SMEs,

II. exchange of experience in the development of SMEs,

Ill. exchange of data and publications for SMEs (excluding corporate information about companies)

(9)

V. providing technical cooperation in the areas of mutual interest in order

to enhance interaction, competitiveness and capacity aimed at

developing the SME sub-sectors in both countries.

4.2 Parties may carry out activities for enabling matching of SMEs according to their demands and encourage and support establishment of "Business Matching Fora" in order to improve the trade volume of both countries.

4.3 Parties may arrange mutual business trips/exchange programmes to improve SMEs' entrepreneurial activities and to encourage joint ventures.

4.4 Parties may inform each other about the busine~s opportunities related to SMEs in their countries.

4.5 Parties may organize training/educative programs geared towards SME development in both Countries.

4.6 And any other activities incidental to attainment the objectives of this understanding.

Article 5 - EFFECT AND ENFORCEMENT

5.1 This Memorandum of Understanding is concluded with a view to

enhancing and developing cooperation between the Parties and does not

constitute an agreement binding upon the States of the Parties under international law. No provision of this Memorandum of Understanding may be interpreted and implemented as creating legal rights or obligations for or against either Party.

5.2 Parties are responsible for the execution of this Memorandum of Understanding on the basis of equality and mutual benefit. The Parties

may appoint a coordinating officer each within their respective

organizations who may be coordinating matters relating to this Memorandum of Understanding. The Parties may work out the practical details of co-operation between both Parties by consulting each other

(10)

through the coordinating officers to ensure the proper and effective implementation of this Memorandum of Understanding.

5.3 Each Party will bear its own expenses on any activity conducted under this Memorandum of Understanding. In the case of the establishment of "Business Matching Fora" the beneficiary Party shall be responsible.

5.4 This Memorandum of Understanding does not create any financial obligation on any of the Parties. Parties shall sponsor their staff for visits to each other's country.

5.5 All the materials, data, documents and information obtained within this Memorandum of Understanding shall be protected, used and operated only by the Parties.

5.6 Either Party may request for a review or amend this Memorandum of Understanding. Such review or amendment shall become effective if made in writing and executed by both Parties.

5.7 This Memorandum of Understanding does not preclude either Party from entering into any similar arrangement with any other party.

5.8 The effective date of this Memorandum of Understanding shall be the date

..

of its execution by the Parties and it shall endure for a period of three (3) years and maybe extended for such a period as the parties may deem fit.

5.9 Notwithstanding anything contained herein, either Party may terminate this understanding by giving the other Party two (2) months written notice of its intention to do so and this Memorandum of Understanding shall thereafter terminate at the expiration of this notice, without any further or continuing obligation or liability stated in it PROVIDED that no such termination shall relieve either Party of accrued benefits or obligations incurred prior to termination.

(11)

5.10 Any inconsistency regarding the interpretation and application of this Memorandum of Understanding shall be solved by consultations between the Parties. In case of non-compliance with the Articles of this Memorandum of Understanding, either Party may terminate this Memorandum of Understanding by notifying the other Party of its intention to terminate this Memorandum of Understanding by giving two months prior notice in writing.

5.11 This Memorandum of Understanding which consists of five articles is signed on the 2nd day of February, 2013 in Abuja, in two originals each in Indonesian and English languages and shall remain in force until the 2nd day of February 2016, all texts having equal validity. In case of divergence of interpretation of the texts, the English text will be used as reference.

For the Directorate General of Small and Medium Industry of the Ministry of Industry of the Republic of Indonesia

Signed

Euis Saedah Director General

For the Small and Medium Enterprises Development Agency of the Federal Republic of Nigeria

Signed

Muhammad Nadada Umar Director General I CEO

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :