• Tidak ada hasil yang ditemukan

IMPLEMENTASI GAYA KEPEMIMPINAN TERHADAP KEDISPLINAN APARATUR SIPIL NEGARA DI KOTA MALANG

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "IMPLEMENTASI GAYA KEPEMIMPINAN TERHADAP KEDISPLINAN APARATUR SIPIL NEGARA DI KOTA MALANG"

Copied!
7
0
0

Teks penuh

(1)

Azizah Faizatul Munawaroh/AP FIA UB / 2019

1

IMPLEMENTASI GAYA KEPEMIMPINAN TERHADAP KEDISPLINAN APARATUR

SIPIL NEGARA DI KOTA MALANG

*Azizah Faizatul Munawaroh a , Farida Nurani b

a.b Program Studi Ilmu Administrasi Publik, Fakultas Ilmu Administrasi, Universitas Brawijaya, Malang, JawaTimur,

Indonesia

A B S T R A C T

Keywords: Implementasi, Gaya Kepemimpinan, Kedisplinan ASN Malang.

Implementation of Leadership Style Against Discipline of State Civil Apparatus in Malang City. In this method using a method based on library study methods (library research). Namely, the method of literature study by collecting data and studying various literatures in the form of books, one of which explains the description of the discussion about the Implementation of Leadership Style Against Discipline of State Civil Apparatus in Malang City. Moreover, with its substantial and complex organizational structure, by using an effective leadership style, policymakers can motivate and direct their employees better, which in turn can improve organizational performance. Through this, the research was carried out to recommend the importance of the Implementation of Leadership Style in the Discipline of the State Civil Apparatus in Malang City, to advance and develop the vision and mission of the organization, particularly in the public sector in nation-building in Indonesia.

INTISARI

Implementasi Gaya Kepemimpinan Terhadap Kedisplinan Aparatur Sipil Negara di Kota Malang. Pada metode ini menggunakan metode berdasarkan metode studi pustaka (library reserch). Yakni, metode studi pustaka dengan cara mengumpulkan data dan mempelajari berbagai literatur berupa buku-buku salah satunya menjelaskan tentang gambaran pembahasan mengenai Implementasi Gaya Kepemimpinan Terhadap Kedisplinan Aparatur Sipil Negara di Kota Malang. Terlebih dengan struktur organisasinya yang sangat besar dan kompleks, dengan menggunakan gaya kepemimpinan yang efektif, para pemangku kebijakan dapat memotivasi dan mengarahkan pegawainya lebih baik, yang selanjutnya dapat meningkatkan performa kinerja organisasi. Melalui hal ini, penelitian dilakukan dalam rangka merekomendasikan akan pentingnya Implementasi Gaya Kepemimpinan Terhadap Kedisplinan Aparatur Sipil Negara di Kota Malang, dengan tujuan untuk memajukan serta mengembangkan visi dan misi dari organisasi tersebut, khususnya pada sektor publik dalam pembangunan bangsa di Indonesia.

*Corresponding author: e-mail: [email protected]

(2)

2 1. Pendahuluan

Pada era reformasi ini, masyarakat umum dan organisasi-organisasi di kemasyarakatan, memerlukan adanya sebuah karakter pemimpin-pemimpin yang dapat menghayati peran dan fungsinya sebagai sosok pemimpin. Apabila, masyarakat dan organisasi dipimpin oleh pemimpin yang demokratis, maka dapat memberikan jawaban atas harapan bahwasanya bangsa kita akan berhasil dalam menjalani proses demokratisasi dan kemudian dapat mencapai cita-cita kehidupan yang adil dan makmur sesuai yang dicita-citakan. Kepemimpinan (leadership) dapat dikatakan sebagai suatu proses yang kompleks dimana seseorang mempengaruhi orang-orang lain untuk menunaikan suatu misi, tugas, atau tujuan dan mengarahkan organisasi. Sebagaimana menurut ahli bernama Bernard Bass dalam bukunya yang berjudul Kepemimpinan B.R. Wirjana (2005:3) menjelaskan bahwa ada tiga cara dasar untuk menjadi pemimpin, yaitu beberapa pembawaan kepribadian yang memungkinkan seseorang secara alami mencapai peran kepemimpinan (Trait Theory), adanya krisis atau kejadian yang penting menyebabkan seseorang muncul untuk menghadapinya sehingga menampilkan kualitas-kualitas kepemimpinan yang luar biasa pada seseorang (The Great Events Theory), dan yang memilih untuk menjadi pemimpin.

Kepemimpinan dapat digambarkan sebagai adanya hubungan antara pemimpin dengan yang dipimpin dan bagaimana seorang pemimpin dapat mengarahkan yang dipimpin. Pemimpin dapat mempengaruhi perilaku para bawahan melalui pendekatan dalam mengelola manusia. Untuk itu organisasi memerlukan pemimpin yang mampu menjadi motor penggerak perubahan organisasi dan pemimpin yang mampu menetapkan gaya kepemimpinan merupakan usaha atau cara seorang pemimpin untuk mencapai tujuan organisasi dengan memperhatikan unsur-unsur falsafah, keterampilan, sifat, dan sikap bawahan. Di negara Indonesia sistem pemerintahan yang dianut adalah sistem pemerintahan presidensial, dimana presiden adalah sebagai kepala pemerintahan dan kepala negaranya, sesuai amanat Undang-Undang Dasar 1945 melalui Undang-Undang Nomor 23 tahun 2014 Tentang Pemerintah Daerah, negara Indonesia dibagi ke dalam daerah provinsi dan daerah kabupaten atau kota. Era desentralisasi telah memberikan dampak positif dalam pemerataan pembangunan di daerah. Proses pembangunan yang dilakukan dengan asas desentralisasi dan penuh rasa tanggung jawab akan mewujudkan masyarakat yang adil dan makmur. Walaupun banyak orang yang ingin memajukan daerahnya dengan cara menjadi figur calon pemimpin baik itu pemimpin nasional maupun pemimpin skala daerah. Pemimpin tidak hanya duduk di lembaga eksekutif saja, melainkan ada lembaga legislatif sebagai lembaga perwakilan yang bertugas

menampung aspirasi masyarakat juga sebagai penyeimbang pemerintahan yang berkuasa. Akan tetapi, Indonesia saat ini mengalami krisis kepemimpinan pemerintahan yang harus segera diatasi, hal ini disebabkan, kurang puasnya masyarakat terhadap kinerja aparatur pemerintah yang tidak membawa angin perubahan di negeri ini, jika yang memimpin hanya wajah - wajah lama. Seharusnya setiap pemimpin mulai menyadari bahwa masa kepemimpinannya memiliki tenggang waktu yang terbatas. Sangat diperlukan regenerasi, dengan mempersiapkan penggantinya yang nantinya siap menjadi penerus kepemimpinan bangsa ini. maka dari itu, pemimpin yang bijaksana adalah mereka yang mempersiapkan pengganti dirinya. Oleh sebab itu penulis mencoba memaparkan, bagaimana sebenarnya pelaksanaan kepemimpinan pemerintahan di negara Indonesia pada saat ini dan teknik apa yang cocok diterapkan sebagai cara memimpin yang baik. 2. Teori

2.1 Kajian Pustaka

2.1.1 Konsep Kepemimpinan

Pada dasarnya konsep kepemimpinan berasal dari kata “pimpin” yang artinya bimbing atau tuntun dan dari kata “pemimpin” yaitu orang yang berfungsi memimpin, atau orang yang membimbing atau menuntun. Seorang pemimpin adalah seseorang yang aktif dalam membuat rencana-rencana, mengkoordinasi, maupun dalam melakukan percobaan, hal ini dengan tujuan untuk mencapai tujuan bersama-sama dalam organisasi tersebut. Sedangkan kepemimpinan sendiri yaitu kemampuan seseorang dalam mempengaruhi orang lain dalam mencapai tujuan. Menurut James L. Gibson (2010:110), Kepemimpinan adalah suatu usaha menggunakan suatu gaya mempengaruhi dan tidak memaksa untuk memotivasi individu dalam mencapai tujuan. Menurut Ralph M. Stogdill (1974:13), Kepemimpinan adalah suatu proses mempengaruhi kegiatan-kegiatan sekelompok orang yang terorganisasi dalam usaha mereka menetapkan dan mencapai tujuan.

Maka dapat disimpulkan bahwa konsep kepemimpinan dari kedua ahli diatas, adalah suatu bentuk usaha / proses dengan menggunakan suatu gaya yang dapat mempengaruhi kegiatan sekelompok orang yang terorganisasi, dengan memotivasi individu dalam mencapai tujuan organisasi.

2.1.2 Konsep Gaya Kepemimpinan

Konsep Gaya Kepemimpinan, sebagaimana menurut Veithzal Rivai (2012:45) dalam bukunya Kepemimpinan dan Perilaku Organisasi Edisi Ketiga menyatakan gaya kepemimpinan sebagai berikut :

(3)

3

“Gaya kepemimpinan merupakan dasar mengklasifikasikan tipe kepemimpinan. gaya kepemimpinan memiliki tiga pola dasar, yaitu yang mementingkan palaksanan tugas, yang mementingkan hubungan kerjasama dan yang mementingkan hasil yang dicapai.” (Veithzal Rivai, 2012:45).

Gaya kepemimpinan dapat ditunjukkan, baik secara langsung maupun tidak langsung, tentang keyakinan seseorang terhadap kemampuan bawahannya. Artinya gaya kepemimpinan adalah perilaku dan strategi, sebagai hasil kombinasi dari falsafah, maupun keterampilan, sifat, dan sikap, yang sering diterapkan oleh seorang pemimpin, ketika seorang pemimpin tersebut mencoba untuk memengaruhi kinerja bawahannya. Tercapainya visi dan misi dari suatu organisasi akan ditentukan oleh gaya kepemimpinan seorang pemimpin di dalam organisasi tersebut, dan setiap kebijakan yang diambilnya akan berpengaruh terhadap gerakan dari organisasi yang dijalaninya.

2.1.3 Model Gaya Kepemimpinan

Sebagaimana menurut (Veithzal Rivai, 2012:52), dalam bukunya Kepemimpinan dan Perilaku Organisasi Edisi Ketiga, mengemukakan bahwasanya terdapat model gaya kepemimpinan yang dapat dibagi menjadi 4, yakni adalah sebagai berikut :

1. Gaya Kepemimpinan Karismatis, Kelebihan dari gaya kepemimpinan karismatis ini adalah mampu menarik orang. Mereka terpesona dengan cara berbicaranya yang membangkitkan semangat. Biasanya pemimpin dengan gaya kepribadian ini visionaris. Mereka sangat menyenangi adanya perubahan dan tantangan.

2. Gaya Kepemipinan Diplomatis, Kelebihan dari gaya kepemimpinan diplomatis ini terletak pada penempatan perspektifnya. Banyak orang seringkali melihat dari satu sisi, yaitu sisi keuntungan dirinya. Sisanya, melihat dari sisi keuntungan lawannya. Hanya pemimpin dengan kepribadian yang dapat melihat kedua sisi, hal ini dengan tujuan untuk menguntungkan dirinya, dan juga menguntungkan lawannya.

3. Gaya Kepemimpinan Otoriter, Kelebihan dari model kepemimpinan otoriter ini ada di pencapaian prestasinya. Tidak ada satupun tembok yang mampu menghalangi langkah pemimpin ini. Ketika dia memutuskan suatu tujuan, hal tersebut adalah harga mati, tidak ada alasan, yang ada adalah hasil. Langkah – langkahnya penuh dengan perhitungan dan sistematis. Dingin dan sedikit kejam adalah kelemahan dari pemimpin dengan kepribadian ini. Mereka sangat mementingkan adanya tujuan sehingga tidak peduli lagi dengan cara. Makan atau dimakan adalah prinsip hidupnya.

4. Gaya Kepemimpinan Moralis, Kelebihan dari gaya kepemimpinan seperti ini adalah umumnya Mereka hangat dan sopan kepada semua orang. Mereka memiliki empati yang tinggi terhadap permasalahan para bawahannya, juga sabar, murah hati Segala bentuk kebajikan ada dalam diri pemimpin ini. Orang – orang yang datang karena kehangatannya terlepas dari segala kekurangannya.

Dalam menyesuaikan antara karakter pengikut dengan gaya kepemimpinan yang harus diterapkan oleh seorang pemimpin, maka penulis mengacu pada pendapat Luthans (2006: 651), teori kepemimpinan modern dapat dikelompokkan ke dalam, teori kepemimpinan transformasional, teori kepemimpinan transaksional, teori kepemimpinan kharismatik. Berikut adalah penjelasannya dibawah ini :

1. Teori Kepemimpinan Transformasional, Salah satu asumsi dasar dari teori kepemimpinan transformational yang perlu digaris bawahi bahwa para pemimpin organisasi harus mampu menghadapi perubahan-perubahan secara berkesinambungan agar bisa bersaing dalam situasi ekonomi yang perubahnya serba cepat. Dalam situasi seperti ini setiap organisasi atau perusahaan menghadapi dua persoalan pokok dimasa yang akan datang. Pertama, perubahan tekhnologi yang begitu cepat dan berkesinambungan. Kedua, perubahan sosial dalam arti arus manusia yang masuk ke dalam angkatan kerja dan pasar kerja dengan kebutuhan, nilai-nilai, dan sikap yang berbeda dari generasi sebelumnya.

2. Kepemimpinan Transaksional, kepemimpinan transaksional pada prinsipnya sangat tergantung pada pertukaran imbalan antara pimpinan dengan bawahan. Kesepakatan antara pimpinan dan bawahan tentang apa yang seharusnya dikerjakan oleh seorang bawahan dimaksudkan untuk memperoleh imbalan atau agar dapat menghindari hukuman. Namun demikian kepemimpinan transaksional juga menyangkut nilai-nilai, akan tetapi nilai-nilai tersebut hanya relevan dengan proses pertukaran atau keuntungan timbale balik. Dengan demikian seorang pemimpin transaksional juga mengakui kebutuhan dan keinginan bawahan, serta menjelaskan bahwa ke duanya hanya bisa dicapai dengan memuaskan jika para bawahan mencurahkan usahanya sesuai dengan kebutuhan pekerjaan. Model kepemimpinan transaksional mempunyai dampak positif dan dampak negatif. Dampak positif, model transaksional ini terletak pada efisiensi di dalam pelaksanaan kerja, karena kejelasan pembagian kerja sesuai dengan tugas pokok dan fungsi masing-masing staf dalam

(4)

4

organisasi, standarisasi pedoman dan aturan kerja, dan konsitensi terhadap tata aturan yang telah ditetapkan (Harbani Pasolong, 2008:127),. Transaksional kepemimpinan didasarkan pada asumsi bahwa bawahan dan sistem kerja lebih baik jika pemimpin memotivasi dengan memberi reward dan hukuman (Buhler, 2004:52). Dengan demikian seorang pemimpin transaksional juga mengakui kebutuhan dan keinginan bawahan, menjelaskan bahwa ke duanya hanya bisa dicapai dengan memuaskan jika para bawahan mencurahkan usahanya sesuai dengan tuntutan pekerjaan.

3. Kepemimpinan Kharismatik, Kepemimpinan kharismatik menjadi salah satu faktor khusus yang perlu dipertimbangkan dalam suatu pemetaan terhadap seorang pemimpin yang nantinya akan memiliki legalitas-otoritas dalam menentukan suatu kebijakan. Kepemimpinan kharismatik merupakan suatu kualitas yang spesial bagi seorang pemimpin terhadap tujuannya, kekuasaannya, dan ketegasannya yang berbeda dari pemimpin yang lain (Andrew J.DubRin, 2005:44). Teori kepemimpinan kharisamtik yang didasarkan atas asumsi bahwa kharisma adalah sebuah fenomena atribusi. Dimana dikatakan bahwa atribusi charisma oleh pengikut tergantung kepada beberapa aspek perilaku pemimpin. Perilaku-perilaku tersebut tidak diasumsikan ada pada semua pemimpin kharismatik dengan tingkat yang sama, dan kepentingan yang relative dari masing-masing perilaku untuk diatribusikan kepada charisma tergantung sampai tingkat tertentu kepada situasi kepemimpinan (Conger and Kanungo, 1987 dalam Syahrir Natsir,2004:38).

3. Metode Penulisan

Pada metode ini menggunakan metode berdasarkan metode studi pustaka (library reserch). Yakni, metode studi pustaka dengan cara mengumpulkan data dan mempelajari berbagai literatur berupa buku-buku salah satunya menjelaskan tentang gambaran pembahasan mengenai Implementasi Gaya Kepemimpinan Terhadap Kedisplinan Aparatur Sipil Negara di Kota Malang. Sebagaimana menurut Menurut (Nazir,1988: 111),Studi kepustakaan adalah teknik pengumpulan data dengan mengadakan studi penelaahan terhadap buku-buku, litertur-literatur, catatan-catatan, dan laporan-laporan

yang ada hubungannya dengan masalah yang

dipecahkan.” Dalam pembahasan ini diarahkan pada

bagaimana upaya yang dilakukan Gaya Kepemimpinan dalam mendisplinkan aparatur sipil negara (ASN) kota Malang. Hal ini dengan tujuan, suatu organisasi agar tercapainya visi dan misi pada organisasi tersebut. Maka dibutuhkan sebuah gaya kepemimpinan untuk mengukur

kinerja kepegawaian yang efektif serta efisien dari segi kedisplinannya. Pada informasi yang didapatkan adalah para informan yang paham dalam upaya mewujudkan gaya kepemimpinan dalam mendisplinkan aparatur sipil negara di Kota Malang.

4. Diskusi dan Hasil

4.1 Implementasi Gaya Kepemimpinan dalam Kesuksesan Organisasi

Mengimplementasikan gaya kepemimpinan sebagai penentu arah, dalam arti kata pemimpin diharuskan untuk mengarahkan pengikutnya ke arah pencapaian tujuan organisasi. Jika pemimpin tidak dapat memahami kondisi pengikut, maka untuk menggerakkan kearah tujuan organisasi, dapat dikatakan mustahil akan tercapai. Oleh karena itu para pemimpin di dalam bertindak sebagai penentu arah, hal ini dapat diumpakan oleh seorang nahkoda di tengah laut, yakni kemana tujuan dan sasaran yang dituju, dibutuhkan sebuah petunjuk. Oleh sebab itu, tujuan dalam suatu organisasi mengacu pada visi organisasi, tanpa visi maka organisasi tersebut bisa salah arah.

Sebagaimana yang diungkapkan oleh Werren Bennis & Burt Nanus (2006) mengatakan bahwa elemen yang paling penting dari kepemimpinan yang sukses adalah terdapat visi yang disampaikan dengan jelas, atau indra yang tajam dalam menentukan arah untuk memfokuskan perhatian semua orang yang terkait dengan organisasi. Oleh sebab itu, visi organisasi merupakan panduan untuk mengarah pada pencapaian tujuan organisasi yang bersangkutan. Untuk mengarahkan pengikut kearah pencapaian visi, maka pemimpin harus memahami karkateritik pengikut menurut Yukl (2005:49), bahwa karakteristik setiap pengikut tercermin pada Ciri (Kebutuhan, nilai, konsep peribadi, Keyakinan & Optimisme, Keterampilan & keahlian, Sifat dari pemimpinnya, Kepercayaan kepada pemimpin, Komitmen dan upaya tugas, Kepuasan terhadap pemimpin & Pekerjaan.

4.2 Implementasi Gaya Kepemimpinan Terhadap Kedisplinan Aparatur Sipil Negara di Indonesia

Dalam gaya kepemimpinan terhadap kedisplinan aparatur sipil negara di Indonesia, sangatlah berpengaruh untuk menyukseskan adanya program yang dijalani oleh pemerintah, hal ini dikarenakan dalam menyukseskan sebuah tatanan pemerintahan, diperlukan karakter pemimpin / gaya kepemimpinan dalam sebuah organisasi, khususnya pada sektor publik di Indonesia. Kehadiran adanya pemimpin, sangat menentukan dalam menyukseskan visi dari misi apa yang telah dicanangkan oleh pemerintah, hal ini dikarenakan, kehadiran dari adanya pemimpin sangat

(5)

5

dibutuhkan dalam mempengaruhi

staf/bawahan/karyawan/ aparatur sipil negara (ASN) dalam mewujudkan tatanan pemerintahan Indonesia yang kedepannya dapat berkembang, terdapat inovasi seiring berkembangnya waktu ke waktu. Hal ini dapat disandingkan dengan zaman kita, yakni zaman millenial, dimana didalamnya dibutuhkan seorang pemimpin yang cakap serta berinovatif dalam membentuk sebuah program yang efektif serta efisien, sesuai dengan kebutuhan negara dan kebutuhan masyarakat Indonesia. Dengan adanya gaya kepemimpinan yang inovatif, maka dapat berpengaruh besar bagi jalannya pemerintahan di Indonesia.

Pada gaya kepemimpinan ini dibutuhkan sosok

pemimpin dalam mempengaruhi

bawahan/staf/karyawan/aparatur sipil negara (ASN), dapat termotivasi dalam menjalankan sebuah program yang telah dicanangkan oleh pemerintah, yakni sebagaimana kewajiban seorang karyawan dalam melakukan kewajibannya untuk membantu pemerintah. Jika karyawan tersebut termotivasi, ataupun merasa tergerak hati nuraninya atau didalam dirinya, maka hal tersebut secara tidak langsung dapat memberikan jiwa semangat bagaikan kobaran api didalam tubuhnya dalam menjalankan kewajibannya sebagai aparatur sipil negara (ASN), dimana ASN disini sangatlah berpengaruh bagi jalannya pemerintah, dan kehadirannya sangat berpengaruh dalam melayani masyarakat di Kota Malang.

4.3 Hubungan Gaya Kepemimpinan dengan Kedisplinan Aparatur Sipil Negara di Kota Malang Salah satu unsur kepemimpinan dalam memahami dan menyesuaikan gaya kepemimpinan, yakni apa yang cocok / apa yang sesuai terhadap setiap pengikut agar dapat mengikuti arahan yang bersumber dari pimpinan. Misalkan salah satu karakterisitik yang dapat dilihat dari segi aspek keterampilan dan keahlian pada aparatur sipil

negara (ASN) Kota Malang, maka unsur pimpinan sebenarnya menanamkan dan memberi keyakinan bahwa apa yang dimiliki dapat memberi kontribusi terhadap organisasi, oleh karena itu pegawai tersebut merasa diperhatikan dan dihargai. Jika mengalami hambatan dengan adanya potensi yang dimiliki maka unsur pimpinan mengarahkannya sesuai tujuan yang hendak dicapai serta memberinya motivasi untuk meningkatkan kemampuan dengan mengikuti pendidikan serta pelatihan. Jika tidak mengalami hambatan, maka unsur pimpinan memberi penghargaan baik berupa materi maupun non materi, seperti pujian, karena tidak semua manusia dalam bekerja hanya sekedar memnuhi kebutuhan hidup secara mendasar akan tetapi masih ada beberapa manusia membutuhkan aktualisasi.

Werren Bennis & Burt Nanus (2006) mengatakan bahwa elemen yang paling penting dari kepemimpinan

yang sukses adalah visi yang disampaikan dengan jelas, atau indra yang tajam dalam menentukan arah untuk memfokuskan perhatian semua orang yang terkait dengan organisasi. Jadi visi organisasi merupakan panduan untuk mengarah pada pencapaian tujuan organisasi yang bersangkutan. Untuk mengarahkan pengikut kearah pencapaian visi, maka pemimpin harus memahami karkateristik pengikut menurut Yukl (2005:58), bahwa karakteristik setiap pengikut tercermin pada Ciri (Kebutuhan, nilai, konsep peribadi, Keyakinan & Optimisme, Keterampilan & keahlian, Sifat dari pemimpinnya, Kepercayaan kepada pemimpin, Komitmen dan upaya tugas, Kepuasan terhadap pemimpin & Pekerjaan. Setelah memahami karkateristik pengikut, maka unsur pimpinan memahami dan menyesuaikan gaya kepemimpinan apa yang cocok bagi setiap pengikut agar mau mengikuti arahan yang bersumber dari pimpinan. Misalkan salah satu karakterisitik yang dilihat dari aspek keterampilan dan keahlian, maka unsur pimpinan sebenarnya menanamkan dan memberi keyakinan bahwa apa yang dimiliki dapat memberi kontribusi terhadap organisasi, oleh karena itu pengikut merasa diperhatian dan diharagai. Jika mengalami hambatan dengan adanya potensi yang dimiliki maka unsur pimpinan mengarahkannya sesuai tujuan yang hendak dicapai serta memberinya motivasi untuk meningkatkan kemampuan dengan mengikuti pendidikan dsan pelatihan. Jika tidak menagalami hambatan, maka unsur pimpinan memberi penghargaan baik berupa materi maupun non materi, seperti pujian, karena tidak semua manusia dalam bekerja hanya sekedar memnuhi kebutuhan hidup secara mendasar akan tetapi masih ada beberapa manusia membutuhkan aktualisasi. Untuk memenuhi kebutuhan setiap manusia atau pengikut maka unsur pimpinan dapat menerapkan gaya kepemimpinan transaksional maupun transformasional.

Karakteristik dari adanya kepemimpinan transaksional, sebagaimana yang dikemukakan oleh Burns, bahwasanya contingent reward dapat berupa pemberian penghargaan dari pimpinan karena tugas yang telah dilaksanakan, yaitu berupa bonus atau bertambahnya penghasilan atau fasilitas. Hal ini dimaksudkan oleh Burns bahwa penghargaan yang diberikan pada bawahan baik berupa pujian atas upaya-upayanya maupun jika terjadi kesalahan yang dilakukan oleh bawahan kemudian pimpinan memberi arahan kea rah pencapaian tujuan. Sedangkan gaya kepemimpinan transformasional merupakan suatu gaya kepemimpinan yang dapat memberi motivasi para bawahan dengan membuat mereka lebih sadar akan pentingnya hasil suatu pekerjaan, mendorong mereka lebih mementingkan kepentingan organisasi dari pada kepentingan diri sendiri, dan mengaktifkan kebutuhan-kebutuhan yang lebih tinggi. Kedua gaya kepemimpinan tersebut dapat dimanfaatkan kedua-duanya tergantung situasi dari pada pengikut/karyawannya. Burns mengatakan bahwa jika

(6)

6

pengikut memiliki kebutuhan yang rendah maka pemimpin menerapkan kepemimpinan transaksional, sedangkan pengikut yang membutuhkan aktualisasi diri maka pimpinan sebaiknya menerapkan gaya kepemimpinan transformasional.

Hubungan gaya kepemimpinan dengan kemajuan tatanan pemerintahan di Indonesia, dapat disandingkan dengan unsur pimpinan yang menerapkan gaya kepemimpinan transaksional maupun transformasional. Hal ini dikarenakan hubungan antar kedua variabel tersebut dapat mewujudkan tatanan pemerintahan yang efektif dan kompleks. Dengan menerapkan kedua dari gara kepemimpinan tersebut, seorang pemimpin dapat terbantu dan dapat melakukan strateginya dalam mempengaruhi bawahannya, agar bekerja secara efektif dan efisien, termotivasi, dan tidak malas-malasan. Hal ini dikarenakan, masih ditemuinya beberapa ASN yang melakukan kewajibannya dengan setengah – setengah, dan kurangnya motivasi yang dilakukan oleh seorang pemimpin terhadap bawahannya dalam menghadapi masalah, khususnya untuk mengerjakan kewajibannya sebagai ASN dalam pemerintahan.

5. Kesimpulan dan Saran 5.1 Kesimpulan

Berdasarkan diskusi dan hasil, maka dapat disimpulkan bahwa dalam rangka mewujudkan pemerintahan yang baik (good governance), sangat dipengaruhi oleh sikap dan keinginan para pemegang kekuasan atau lembaga pemerintah atau alat perlengkapan negara untuk mewujudkan suatu konsep pemerintahan yang baik (good governance). Pemimpin yang efektif adalah pemimpin yang memiliki kemampuan untuk berperan aktif dalam melaksanakan peran kepemimpinan, baik peran sebagai penentu arah, agen perubahan, juru bicara maupun pelatih untuk meningkatkan kinerja atau semangat kerja bagi pegawai/pengikut pada sebuah organisasi. Oleh sebab itu diperlukan adanya paduan dari gaya kepemimpinan dengan karakteristik pegawai/bawahannya, maka hasilnya dapat mewujudkan visi dari misi apa yang diharapkan oleh organisasi tersebut. Khususnya dalam mewujudkan kedisplinan ASN di Kota Malang, yakni diperlukan adanya gaya kepemimpinan yang dapat mempengaruhi bawahan, sehingga pegawai/aparatur sipil negara tersebut dapat termotivasi dengan gaya kepemimpinan yang dilakukan oleh seorang pemimpin, yakni dapat berupa penghargaan / upah gaji dinaikkan.

5.2 Saran

Berdasarkan kesimpulan yang telah dipaparkan diatas, maka penulis akan memberikan saran atau masukan sebagai bahan pertimbangan dalam mewujudkan gaya kepemimpinan dalam mendisplinkan ASN di Kota Malang, dibutuhkan sebuah gaya

kepemimpinan yang sesuai dengan kondisi saat ini yang tengah terjadi khususnya di Kota Malang. Dengan menerapkan gaya kepemimpinan, maka diharapkan Seorang pemimpin dapat :

1. Menjadikan instansi adaptif dan fleksibel, mengurangi birokrasi yang rumit dan lebih transparan.

2. Menjadikan sebuah instansi, mampu memenuhi harapan masyarakat (pengguna layanan).

3. Dapat mengevaluasi kinerja, meninjau dan mengkaji ulang situasi serta melakukan berbagai penyesuaian dan koreksi jika terdapat penyimpangan di dalam pelaksanaan dalam organisasi khususnya pada sektor publik.

4. Menjadikan ASN Kota Malang menjadi aparatur yang disiplin dan bekerja dengan semaksimal mungkin, agar tercapainya program – program yang telah dijalankan maupun dicanangkan oleh pemerintah.

Daftar Pustaka

Buhler, Patricia. 2004. Management Skill. Jakarta: Prenada Media.Fattah.

Burns, J.M. 1978. Leadership. New York : Harper and Row.

Bass, B.M. 1981. Stogdils Handbook of Leadership, A Survey of theory and research . Revised and Ekspanted. Editon: New York: Free Press.

Conger, J.A., & Kanungo, R.N. (1987). Toward a Behavioral Theory of Charismatic Leadership in Organizational Settings. Academy of Management Review, Vol 12 No 4, hal 637 – 647. Dubrin, Andrew J., 2005. Leadership (Terjemahan), Edisi Kedua, Prenada Media, Jakarta.

Gibson, James. L,.et all.2010. Organisasi, Perilaku, Struktur, Proses, Edisi Ke-5. Jakarta. Erlangga. Luthans. 2006. Perilaku Organisasi. Terjemahan Edisi 10. Vivin Andika Yuwono. Yogyakarta. Nazir, M. 1988. Metode Penelitian. Jakarta: Ghalia Indonesia.

Pamudji, S. 2010. Kepemimpinan Pemerintahan Indonesia. Jakarta:Bina Aksara.

Pasolong Harbani. 2008. Kepemimpinan Birokrasi. Bandung: Alfabeta

Rivai, Veithzal. 2012. Kepemimpinan dan Perilaku Organisasi. Jakarta: PT.Raja Grafino.

(7)

7

Stogdill, Ralph M. 1974. Handbook of Leadership : A Survey of Theory and Research. New York : Free Press.

Natsir, Syahrir. 2004. Ringkasan Disertasi: Pengaruh Gaya Kepemimpinan Terhadap Perilaku Kerja dan Kinerja Karyawan Perbankan di Sulawesi Tengah. Disertasi,

Universitas Airlangga Surabaya. Vol. 2, No.

4, 2004 : 20-34

Titik Ronani. 2012. Pengaruh Kepemimpinan Transaksional dan Kepemimpinan Transformasional Terhadap Kepuasan Kerja dan Kinerja Dosen Universitas Tanjungpura Pontianak. Jurnal Ekonomi Bisnis dan Kewirausahaan Vol. 3, No. 5, 2012 : 30 – 43.

Taufan dan Siti. 2016. Pengaruh Gaya Kepemimpinan Transaksional Dan Budaya Organisasi Terhadap Kinerja Karyawan. Jurnal Ilmu dan Riset

Manajemen. Vol. 5, No. 1, 2016 : 41 – 54.

Wirjana. 2005. Kepemimpinan Birokrasi. Jakarta: PT.Raja Grafino.

Werren Bennis & Burt Nanus. 2006. Leaders Strategi Untuk Mengemban Tanggung Jawab. PT.Buana Ilmu Populer Kelompok Gramedia: Jakarta.

Yukl, Gary. 2005. Kepemimpinan dalam Organisasi. Jakarta: PT Indeks Kelompok Gramedia.

Referensi

Dokumen terkait

Adapun tujuan penelitian mengetahui peran Kepolisian dalam menganalisis tindak pidana pemalsuan surat, dan mengetahui factor-faktor yang menghambat penyidikan

Seperti yang telah disebutkan dalam sub bab sebelumnya bahwa perbedaan antara Ibn hazm dan al-Rafi‟i tentang meminang di atas pinangan orang lain adalah hanya

Search engine atau mesin pencari adalah sebuah sistem perangkat lunak ( software ) yang didesain untuk melakukan pencarian tentang suatu informasi pada World Wide Web.. Hasil

Hasil perhitungan kadar ALP secara statistik menunjukkan adanya pengaruh penggunaan deksametason terhadap tikus jika dibandingkan dengan kelompok tikus kontrol.. Hal ini

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pelaksanaan pendidikan akhlak pada anak dalam keluarga pedagang Pasar Terapung Lok Baintan di Desa Paku Alam Kecamatan

ANEKA SAMBAL CICAH DAN ANEKA JERUK SAMBAL BELACAN, SAMBAL MANGGA MUDA, SAMBAL KELAPA THAI CHILI MANIS, CENCALUK, KICAP PEDAS, BUDU, KICAP CHILI. JERUK MANGGA, JERUK KELUBI,

Gambar 4.11 pengujian waktu search flight result Jetstar rute SUB - HKG Pada website Jestar ditemukan 3 penerbangan dengan durasi penerbangan terkecil 11. jam