ILMUIMAN.NET: Koleksi Cerita, Novel, & Cerpen Terbaik
Cerita Kira-kira Sejarah (16+). 2016 (c) ilmuiman.net. All rights reserved.Berdiri sejak 2007, ilmuiman.net tempat berbagi kebahagiaan & kebaikan lewat novel-cerpen percintaan atau romance.. Seru. Ergonomis, mudah, & enak dibaca.. karya kami, anda, kita semua. Peringatan: Selazimnya romance-percintaan, karya ini bukan untuk anak/remaja di bawah umur. Pembaca yang sensi dengan seloroh ala internet, silakan stop di sini. Segala akibat menggunakan atau membaca, sepenuhnya tanggung jawab pembaca. Tokoh & alur cerita adalah fiksi belaka. Terima kasih & salam.
***
Kira-kira Sejarah Indonesia (2)
Nusantara versi 2A, Kerajaan KadiriBaiklah. Bagian pertama sudah. Sekarang bagian kedua.... Sampai titik ini, supaya tidak lupa, kita ringkaskan dulu masa lalu nusantara. Sebelumnya, kita kira-kira bahwa masa sebelum Tarumanagara, itu pra-nusantara, yang kurang lebihnya mulai tercatat sejarah sejak abad ke-4, ditandai antara lain dengan kerajaan tua di Kutai dan yang semacam itu. Setelah itu, abad ke-5 mulai muncul nusantara versi 0, diwakili oleh Tarumanagara yang wilayahnya mulai masif, tapi belum antar pulau. Setelah itu, nusantara sejati, versi 1, diwakili oleh Kerajaan Sriwijaya trah Syailendra, yang meluas ke Jawa juga, direpresentasikan oleh Kerajaan Medang, yang semula di Jawa Tengah, terus bergeser ke Jawa Timur di Masa Mpu Sendok, lalu menjelma lama-lama menjadi Kerajaan Kahuripan, yang dipimpin raja terkenal Airlangga. Di masa itu, Tarumanagara yang menjelma menjadi Sunda-Galuh juga masih terkiat trah Syailendra.
Airlangga lengser. Lalu kerajaan Kahuripan yang besar itu dibelah dua, menjadi Kadiri dan Janggala. Kerajaan Sriwijaya pada periode Airlangga ini juga luruh kebesarannya. Tapi secara garis besarnya, budaya kenusantaraan sudah menetap-mantap di pertengahan abad ke-11, diwakili oleh tiga mainstream budaya, yaitu budaya Sunda yang paling tua, lalu budaya Melayu, dan budaya Jawa. Selain yang mainstream, tidak banyak diceritakan... tapi banyak lagi budaya lain, bhineka tunggal ika. Satu yang unik di luar yang mainstream: budaya Bali. Dekat dengan budaya Jawa, tapi beda.
Kita lanjutkan cerita kita di pertengahan abad ke-11....
Sriwijaya sudah lewat. Dan tidak pernah terkonsolidasi lagi menjadi kerajaan yang sama besarnya. Tapi berkat pencerahan masa Airlangga, kemampuan orang-orang Jawa membentuk kerajaan besar yang menusantara tetap ada terus. Jalurnya berliku. Karena sebelum kesana, mestinya di Jawa Timur sendiri kekuasaan mesti dipadukan, solid lagi.
Kadiri berpusat di Daha, dan Janggala berpusat di Kahuripan, satu guru, satu ilmu. Adik-kakak semulanya bahkan, satu ayah, beda ibu, terus saja bersaing. Sampai wafatnya, Airlangga tentu gedek juga melihat kenyataan ini, tapi tidak bisa berbuat banyak. Konon gontok-gontokannya yang beneran perang saudara, terjadi terus dan terus, 60-an tahun. Sampai suatu ketika,.. Kadiri menjadi lebih solid di bawah Raja Jayabaya. Mimpinya lebih besar. Determinasinya lebih dahsyat. Sementara, Janggala tidak punya kepemimpinan sepadan. Dan Jayabaya ini (berkuasa 1135-1157M) lantas berhasil tuntas menaklukkan Janggala, dan dia satukan lagi, jadi bawahan Kadiri. Era pecah dua pun selesai untuk sementara. Yaitu terjadinya di abad ke-12.
Bisa kita kira-kira, gegeran di Jawa ini,.. sama dengan di Sriwijaya juga, menyebabkan talenta-talenta Jawa menyebar ke banyak tempat di nusantara. Bali, Madura, Sunda, entah kemana lagi. Apakah lebih masif atau tidak? Kita tidak tahu. Apakah saat itu sudah ada peribahasa bodoh: mangan ora mangan, asal ngumpul? Bisa jadi belum. Nah, jadi begitulah, Jawa Timur kembali bersatu di bawah pimpinan Kadiri, semangat me-nusantara-nya tumbuh lagi. Kemampuan perangnya juga menajam. Dan jadinya lebih mudah langkahnya untuk menyatukan nusantara. Karena banyak talenta yang menyebar tadi, diaspora Jawa, yang masih punya hubungan emosional dengan tanah leluhur. Bisa kita kira-kira begitu. Eksisnya Kadiri kurang lebih dari 1042M-1222M. Sekitar 180 tahun, kurang dari dua abad, tapi pengaruhnya meluas. Seluruh Jawa, praktis tunduk pada Kadiri. Jawa Barat, mungkin masih independen, tapi juga respek pada Kadiri, tidak punya kemampuan menantangnya. Beberapa pulau di luar Jawa mengakui kepemimpinan Kadiri di nusantara. Sampai mengalahkan pengaruh Sriwijaya di Sumatra. Masa berkibar Sriwijaya sudah lewat. Kadiri ini penggantinya.
Kronik berita Cina 1178M menyebutkan, pada masa itu, negeri terpandang di dunia selain Cina, ada Arab, Jawa, dan Sumatra. Di Arab, yang berkuasa Bani Abbasiyah. Di Jawa ada kerajaan Panjalu alias Kadiri. Dan Sumatra ada Sriwijaya. Sekedar catatan: nama Kerajaan Panjalu, ada juga Panjalu Ciamis/Galuh, pada periode yang lain. Di situ disebutkan, agama dominan di Jawa ada dua: Buddha dan HIndu. Penduduk Jawa pemberani dan emosional. Rekreasinya unik: mengadu binatang. Mata uangnya: campuran tembaga-perak. Maharaja di Jawa itu disebutkan punya beberapa wilayah jajahan, antara lain: wilayah Medang (Jawa Tengah sisi barat, kerajaan lama), Dieng, Pacitan, Tumapel (Malang, area tapal kuda), Hujung Galuh (area Surabaya-Sidoarjo, Kahuripan), Jenggi (Papua Barat?), Takang (Sumba), Huang-ma-chu (Papua), Bali, Kulun (kemungkinan Sorong di Papua-Barat atau Nusa Tenggara), Tanjungpura di Kalimantan, Tiwu (Timor), Banggai di Sulawesi, dan Wanuku (Maluku). Kalau benar seperti itu, ini sudah lebih daripada Sriwijaya.
Walau begitu, sebelum muncul Majapahit yang solid, kekuasaan Kadiri ini relatif rapuh. Dan banyak faksi yang tercerai berai, punya kemampuan menantang pemerintah pusat di Daha. Dan bahaya laten pemberontakan di jantung jawa timur senantiasa terbuka. Tahun 1222, Kadiri lalu diruntuhkan oleh Ken Arok. Dan saat diruntuhkan itu, Kadiri dipimpin oleh Raja Kertajaya. Sekaligus, Ken Arok itu pemutus trah Syailendra. Runtuh
bukan berarti kerajaan Kadiri hapus dari muka bumi, dan nimbul di bulan atau planet mars, tapi hilang dalam arti tadinya kerajaan utama di Jawa, berubah jadi kerajaan bawahan, dan yang menjadi kerajaan utamanya berubah jadi Singasari, yang semula sekedar kerajaan bawahan pendatang baru, jelmaan dari wilayah yang semula sekedar sekelas kecamatan.
Di puncak jayanya, Kediri ini seolah berkembang menjadi semacam 'Sriwijaya Timur' (wilayah bekas kerajaan tua Medang yang di-ekstend ke timur sampai jauh sekali), sedang kerajaan Melayu Dharmasraya jadi 'Sriwijya Barat'-nya (bekas Sriwijaya asli dengan teritori lebih kecil). Penyangga dari keduanya, ada kerajaan Galuh di priangan, lalu penyangga dengan ngeri Cina-India, ada kerajaan Khmer, Indrapura, dan Dai Viet. ***
NUSANTARA versi 2B, Kerajaan Singasari
Menurut kira-kira para sutradara ketoprak, yang akurasinya wallahualam: Ken Arok itu orang gak jelas. Rakyat biasa, bahkan ada yang bilang pencuri ulung. Lahir di Jawa
Timur sekitar 1182M, dan kelak meninggalnya kalau tidak 1247M ya 1227M. Konon dia orang desa, asal Sutojayan, Blitar. Orang tuanya ancur-ancuran, Ken Arok terus diasuh oleh seorang pencuri. Terus jadi jagoan. Berandalan. Oleh orang tua angkatnya terus diusir, tapi terus mondok pada seorang penjudi ulung. Bersama penjudi itu mungkin mimpinya mulai besar. Sampai kemudian.. dia bertemu seorang brahmana: Lohgawe, orang India yang berkelana ke Jawa mencari titisan wisnu, yang terus Lohgawe merasa menemukan yang dia cari itu pada diri Ken Arok atau Ken Angrok.
Waktu berlalu... Atas bantuan Lohgawe, jagoan yang punya mimpi besar itu lalu bisa diterima kerja di tempat pemimpin setempat, yaitu Tunggul Ametung. Tunggul Ametung ini levelnya akuwu saja, atau setingkat camat, di Tumapel. Sekarang daerah Malang. Di situ, bekerja dengan Tunggul Ametung, sang akuwu Tumapel, peran Ken Arok mulai menonjol. Dan terus si jagoan itu kepincut Ken Dedes, istri boss-nya. Oleh Lohgawe Ken Dedes diramal bisa menjadi ibunda yang menurunkan raja-raja tanah Jawa yang besar. Pagar makan tanaman ini arahnya! Mestinya, Ken Dedes itu cantik jelita. Kalo menyes, dan matanya juling, mungkin Ken Arok tertariknya saat mabok saja. Sedang pas nggak mabok.. girap-girap!
Alkisah, lalu disusunlah muslihat... Ken Arok cari pusaka, keris sakti, minta dibikinkan oleh Mpu Gandring dari Plumbangan, Doko, Blitar masa kini. Mpu Ganding bilang, keris sakti setahun baru selesai. Lama bener orang bikin keris... Ken Arok tidak sabar, dan kalap. Lima bulan, keris baru setengah jadi, dia rebut. Dia bunuh Mpu Gandring-nya dengan keris itu. Senjata makan tuan. Konon, lalu Mpu Gandring saat sekaratnya mengucapkan kutukan,.. bahwa keris itu nantinya akan membunuh tujuh raja, termasuk Ken Arok sendiri, dan anak cucunya. Bodo amat, Ken Arok tidak peduli. Ken Arok tidak percaya pada Mpu Gandring. Dia hanya percaya pada Allah subhanahu wataala. Eh, enggak tahu juga ding....
Kembali ke Tumapel, Ken Arok lalu membangun alibi. Kerisnya dia pinjamkan pada seseorang: Kebo Hijo, sesama pengawal Tunggul Ametung. Lalu Kebo Hijo pamer sana-sini, sehingga semua orang menyangka, keris itu Kebo Hijo yang punya. Suatu malam, saat Kebo Hijo teler mabuk arak, keris diambil balik oleh Ken Arok lalu dipakai membunuh Tunggul Ametung. Kejadiannya konon saat pak camat itu sedang di ranjang bersama Ken Dedes. Mungkin sedang kerokan, masuk angin, kita tidak tahu.
Jder! Tunggul Ametung pun tewas... Ken Dedes sebagai saksi satu-satunya, tutup mulut, luluh oleh rayuan Ken Arok. Bisa jadi, semula dia menikah dengan Tunggul Ametung bukan karena cinta, tapi kawin paksa. Bisa juga, dia mengesampingkan cinta, tapi karena dasarnya dia ngeri, takut, kalau menentang Ken Arok bisa dibunuh sekalian. Atau bisa juga, dari sebelumnya... mereka sudah main belakang, karena Ken Arok mungkin lebih mempesona dan macho dibanding boss-nya Tunggul Ametung. Atau.. kombinasi dari itu. Wallahualam. Para penggemar teori konspirasi bisa mengira-ira sendiri. Pokok intinya: Tunggul Ametung dibunuh di depan istrinya sendiri Ken Dedes, oleh Ken Arok. Dan selain Ken Dedes, tidak ada saksi lain atas pembunuhan itu.
Pagi setelah pembunuhan, kecamatan Tumapel geger. Berhubung keris yang nancep di tubuh Tunggul Ametung diketahui warga sebelumnya dipakai Kebo Hijo petentengan, Kebo Hijo jadi tertuduh. Langsung dia dilibas oleh Ken Arok, tanpa pernah membela diri. Jder! Kebo Hijo pun tewas, kemungkinan tertusuk keris Mpu Gandring juga! Tidak ada info sih kalau dia ketancep konde Mbok Jamu, atau kebacok clurit tukang sate! Persepsi warga,.. Ken Arok itu pahlawan. Karena dia membalaskan kematian Tunggul Ametung. Cuma Ken Dedes yang tahu, bahwa di belakang semua itu, Ken Arok si pahlawan kesiangan itu sendirilah sutradaranya.
Dasarnya cuma level kecamatan. Dengan leluasa, Ken Arok si jagoan lalu mengangkat dirinya sebagai akuwu baru Tumapel dan menikahi Ken Dedes. Mak nyus juga...
Dengan menikahi Ken Dedes, legitimasinya jadi rada kuat, dan tidak ada yang berani menentangnya di sekeliling situ. Bari kerajaan induk, Kadiri,.. serasa nggak penting amat ngurusin insiden di tingkat kecamatan Tumapel. Tunggul Ametung itu.. trah syailendra juga bukan. Turunan Mpu Sendok juga bukan. Jadi Ken Arok dibiarkan saja. Apalagi soal pembunuhannya pun terbungkus rapih, tidak diketahui Kadiri.
Mungkin.. Ken Arok sudah punya juga semacam pasukan teror waffen SS kecil-kecilan, sehingga ditakuti orang sekeliling. Menikahnya itu sendiri, bisa juga setengah paksa. Yaitu sebagaimana lazimnya saat itu. Saat seseorang berkuasa, dia bisa memaksa perempuan di bawah kekuasaannya untuk kawin.
Waktu berlalu. Dengan mimpi yang besar, Ken Arok membesarkan kekuatannya berangsur-angsur. Mungkin dari kelas kecamatan, naik kelas jadi semacam kabupaten atau kerajaan bawahan. Ken Dedes lalu melahirkan Anusapati, dari benih Tunggul Ametung, mendiang suami pertama. Rupanya, sebelum dikawin Ken Arok, Ken Dedes sudah hamil dulu. Lalu.. Ken Dedes punya empat anak lagi, turunan Ken Arok asli, yaitu Mahisa Wonga Teleng, Apanji Saprang, Agnibhaya, dan Dewi Rumbu. Selain Ken Dedes, Ken Arok punya istri lain. Kemungkinan selir, yaitu Ken Umang, dan dari selir ini, lahir empat anak lain: Tohjaya, Panji Sudhatu, Tuan Wergola, dan Dewi Rambi. Total anak asli Ken Arok 9 orang. Tujuh laki. Dua perempuan. Plus satu anak tiri: Anusapati. Lha,.. kalau nggak sedang asik bersama istri, Ken Arok itu juga kadang naik kuda. Tapi nggak tahu kuda itu punya anak apa enggak. Wong namanya juga kuda.... Perfect crime tidak ada di dunia ini. Konspirasi dan akal-akalan Ken Arok... ada keruwetannya. Salah satu ruwetnya: saat dikawin Ken Arok, Ken Dedes sudah hamil tadi, mengandung anak Tunggul Ametung, lahir jadi Anusapati atau Panji Anengah itu. Anak ini, kelak, oleh ibunya diberi tahu, bahwa ayahnya yang sejati, Tunggul Ametung, dibunuh Ken Arok. Jadi, sedikit banyak, terlihat juga, cinta Ken Dedes pada Ken Arok mengandung kepalsuan. Atau bisa juga, di awalnya Ken Dedes menikah karena cinta, belakangan nggak kuku dengan kelakuan suami barunya yang memang berkuasa penuh di Tumapel.
Anusapati juga, saat mulai pintar, mestinya nyadar, dirinya agak dibedakan oleh Ken Arok, dan juga tidak diarahkan jadi putra mahkota. Padahal dia tertua. Yang diarahkan, malah adik-adiknya jadi putri dan pangeran utama. Kalau pas ngaca, mungkin dia juga nyadar, dibanding Ken Arok, mungkin penampakannya tidak terlalu mirip. Nggak tahu kalau dengan tukang tahu, dia mirip atau tidak? Mirip pun, kita mau apa?
Ken Arok mengecilkan kemungkinan masalah di dalam rumah tangganya itu untuk beberapa waktu.... Di luaran, di wilayahnya, gak ada yang berani ganggu, dia pikir, di rumah, dia juga makin gak ada yang berani ganggu lagi...
Sejak hidup sama penjudi, Ken Arok sudah punya mimpi besar. Mimpi itu menjadi-jadi saat dia diramal bakal jaya oleh Lohgawe. Apalagi, terus dia pegang keris pusaka setengah jadi bikinan Mpu Gandring. Sekarang punya kekuasaan juga, walau cuma di Tumapel. Jadi,.. kekuatan dan mimpinya untuk suatu saat menantang kerajaan induk Kadiri mulai dia bangun, sedikit demi sedikit. Sepak terjangnya menuju ke sana mungkin bikin Ken Dedes galau. Apalagi,.. selayaknya lelaki ganas berkuasa, begitu Ken Dedes estewe, Ken Arok cari hiburan lain. Bukan! Bukannya dia keseringan main playstation! Dia cari selir! Mestinya, selir-selir Ken Arok itu lebih muda dan lebih kinyis daripada Ken Dedes kan? Kalo tuwek mekiklek, ngapain juga dijadiin selir? Bisa bikin keracunan barang kadaluarsa Ken Arok jadinya! Nah, jadi.. walau mudanya Ken Dedes mungkin paling kinyis sak kecamatan, tapi setelah estewe.. mlotrok juga tentunya. Jadi, Ken Dedes yang mulai luntur kesetiaannya pada suami, lalu mempersiapkan jago sendiri. Yaitu anak sulungnya, yang anak Tunggul Ametung. Kira-kira begitu. Mohon maklum, saat itu tes DNA belum ada. Andai dites DNA, walau pala peangnya mirip Tunggul Ametung,.. bisa saja terbukti anak itu.. bapak sejatinya tukang angon kebo atau siapa, wallahualam. Kita tidak bisa nyangka sembarangan. Astagfirullah.
Persiapan tinggal persiapan, perkembangan selanjutnya, Ken Arok yang semula akuwu itu malah jadi membesar kekuasaannya. Dan bahkan praktis lalu Tumapel yang semula kecamatan berkembang jadi semacam kerajaan bawahan Kadiri yang punya kemampuan tempur lumayan mumpuni. Sampai suatu ketika, di pusat Kadiri, terjadi perselisihan besar. Yaitu antara Raja Kertajaya dengan kaum brahmana. Apa musabab perselisihan itu, tidak ada yang tahu. Kemungkinan bukan pasal penistaan agama.
Raja punya tentara, brahmana tidak punya... walau punya dukungan politik. Kalangan brahmana galau. Cari punya cari, lalu kaum brahmana menemukan pasukan matang yang siap memberontak di Tumapel. Bergabunglah mereka ke sana, mensuplai logistik, memberi dukungan politik dan konstituen, dan memberi informasi intelijen. Dan terus bersama-sama berontak melecehkan Kertajaya.
Kertajaya yang kerajaannya paling digdaya senusantara tentu langsung marah. Nggak mungkin kan ada kerajaan bawahan berontak teus dia malah jingkrak-jingkrak kegirangan? Dengan segenap pasukan, dia lalu sesumbar, bahwa dirinya tak terkalahkan, dan hanya bisa dikalahkan oleh Bhatara Siwa. Dan mendengar sesumbar
itu, Ken Arok pun lalu menggelari dirinya dengan gelar baru. Bukan! Bukannya dia pakai gelar Upin-Ipin. Dia memakai gelar Bhatara Siwa sejak itu.
Jdar, jder, jdar... Pas campuh di desa Ganter, Kadiri kecolongan. Kertajaya mati di situ. Pemberontak dapat momentum. Tentara Kadiri terbelah. Antara pro Kertajaya, dan pro brahmana. Begitu Kertajaya wafat.. ya sudah. Yang pro Kertajaya mati angin. Kadiri lalu takluk. Dan Tumapel berbalik, dari semula cuma kuwu (kecamatan) yang membesar, terus memproklamirkan diri jadi kerajaan sendiri, penantang Kadiri.. sekarang dia menjadi pusatnya kerajaan Jawa! Yang tentu saja, hal itu tidak diterima begitu saja oleh banyak pihak. Ken Arok itu bukan trah raja-raja atau bangsawan manapun juga. Cuma,.. para bangsawan mau melawan dia.. perlu waktu juga untuk persiapan.
Kejadian geger itu tahun 1222. Atas sukses itu, Tumapel menetapkan pusat kotanya sebagai Kutaraja, lalu kelak 1254 oleh Wisnuwardhana dipindah ke Singasari atau Singhasari atau Singosari. Kerajaannya, tetap Tumapel, tapi oleh para sejarawan, Singasari sang ibukota itu lebih terkenal daripada Tumapelnya, jadi kelak, lama-lama disebut saja kerajaannya Kerajaan Singasari.
Setelah mengkonsolidasikan Jawa Timur, di luaran, Ken Arok tidak tertandingi. Tapi,.. tahu-tahu di rumah tangganya muncul gerakan itu, dari dalam istana.... Sebagaimana kita sitir di atas. Anusapati nyadar. Sikap Ken Arok selalu menganaktirikan dia, yang notabene sulung. Orang-orang pun, nyadar, bahwa secara tongkrongan, Anusapati itu lebih mirip Tunggul Ametung daripada Ken Arok. Akhirnya, Anusapati tahu dari ibunya Ken Dedes, bahwa dia anak Tunggul Ametung. Dan ayahnya itu, dibunuh Ken Arok. Dikondisikan ibunya, Anusapati bersiap cukup lama.. lalu berhasil mencuri jemuran dan mencuri keris Mpu Gandring. Eh, soal jemurannya itu ngarang, ding. Pangeran Singosari kok nyolong jemuran.. walah. Dia lalu menyuruh pembantunya, pembunuh bayaran, untuk menikam Ken Arok dengan keris itu. Ken Arok tewas, ditikam dari belakang saat makan sore hari oleh si pembantu. Nggak tahu yang dimakan apem atau kue cucur, tidak ditulis di prasasti manapun, tapi kecil kemungkinan dia sedang menyantap cheese burger! Walah gaya' bener! Panganan opo itu cheese burger?
Pembunuhan sukses, tapi oleh Anusapati, pembunuh bayaran itu pun lalu dibunuh untuk menghilangkan jejak, sekaligus untuk supaya kelihatan jadi pahlawan. Pahlawan kesiangan. Persis saja kelakuan Anusapati ini dengan ayah tiri yang dibunuhnya. Bisa jadi, pembantu dibunuhnya juga pakai keris Mpu Gandring. Yak betul. Tidak ada info, bahwa si pembunuh bayaran diuncek pakai konde mbok jamu, atau clurit tukang sate! Sebelum lanjut.. Mungkin ada pertanyaan: kok bisa ya, kerajaan Kadiri yang begitu digdaya, punya jajahan dimana-mana,.. bisa dikalahkan oleh Tumapel yang sebelumnya sekedar kecamatan? Tentu bukan karena keris empu gandring. Pentungan bisbol juga bukan. Jelas, di belakang layar, pasti ada bekingnya. Ini seperti Wurawari all over again. Wurawari dari desa Lwaram bisa menewaskan Dharmawangsa yang raja besar. Wajarnya karena di belakangnya ada pasukan komando dari Sriwijaya.
Bisa kita kira-kira, pada dasarnya: Kadiri itu dikalahkan oleh rame-rame. Karena, kenyataannya menunjukkan, sebelum Ken Arok bergerak, Kadiri sudah kisruh. Dan secara masif, kaum ulamanya, brahmana, sudah berseberangan dengan Kertajaya. Sebagaimana juga masa kini, ulama-ulama banyak yang anaknya pejabat dan tentara. Jaman dulu pun, mestinya anak brahmana banyak yang jadi tokoh di segenap penjuru. Jadi, saat Kadiri kisruh, kaum yang berseberangan dengan Kertajaya tidak cuma sedikit, tapi sudah masif. Ken Arok hanyalah puncak dari perlawanan itu.
Rencana orang ramai, mestinya: Ken Arok itu dijadikan pemimpin boneka, buah konsensus dari banyak pihak, yang dari belakangnya.. didalangi oleh para brahmana atau siapapun itu orang-orang kuat masa itu. Tapi,.. rupanya skenario ini tidak jalan. Ken Arok ini licin dan lihai. Mungkin, miriplah seperti Hitler. Saat dia naik menjadi kanselir, Hitler itu tidak menang mutlak di pemilunya. Suara dia dapat tidak lebih dari 35%. Tapi.. koalisi berkonsensus memilih dia jadi kanselir. Cuma,.. begitu kursi kanselir di tangan, Hitler mengkhianati konsensus itu, dan para penentangnya, satu demi satu dia tikam. Karena Hitler punya pasukan SS pribadi yang difungsikan untuk itu. Pas rekan-rekan koalisinya nyadar, sudah terlambat. Jadilah Hitler diktator yang berkuasa penuh. Ken Arok, bisa kita kira-kira, seperti itu juga caranya merebut kekuasaan mutlak. Cuma ujungnya dia kena karma juga setelah bertahta 25 tahun. Ken Arok meninggal dibunuh, tahta Tumapel alias Singasari jatuh ke tangan Anusapati. Anusapatinya berarti juga maksimal 25 tahun umurnya. Pemimpin muda.
Bagi penggemar teori konspirasi, sejauh ini keris Mpu Gandring sudah makan korban dua 'raja', yaitu Tunggul Ametung, dan Ken Arok. Kalo Kebo Ijo yang difitnah membunuh dan pembunuh bayaran Anusapati juga matinya oleh keris itu,.. plus Mpu Gandringnya sendiri, berarti korban keris itu sudah ada lima!
Hidup Ken Angrok ini jadi pelajaran bagi kita semuanya senusantara... Yang bisa jadi top, memimpin, itu tidak mesti trah mana-mana. Tapi mesti orang yang punya spirit dan mimpi besar, dan juga mesti jagoan, punya kompetensi. Walau begitu, di ujungnya nanti, kalau tidak diiringi dengan kebajikan demi kebajikan,.. penuh tipu-tipu, sempat jadi top pun, pada akhirnya tragis! Allah yang berkuasa memberikan kedudukan pada seseorang berkuasa juga untuk mengambilnya dari orang itu....
Balik lagi saja kepada cerita... Lalu, Anusapati setelah beberapa lama digantikan oleh anaknya Wisnuwardhana alias Ranggawuni. Ada yang bilang, matinya Anusapati itu mati biasa, tapi ada juga yang bilang matinya oleh pembunuhan yang didalangi Tohjaya, adik tiri, beda ayah, beda ibu. Anusapati anak Tunggul Ametung-Ken Dedes. Sedang Tohjaya anak Ken Arok-Ken Umang sang selir. Anak permaisuri dibunuh anak selir.. walah, itu panjang urusannya. Tapi klasik untuk cerita ketoprak.
Biar seru cerita, menurut penggemar konspirasi, Anusapati matinya juga ditikam keris empu gandring yang sebelumnya sudah membunuh Tunggul Ametung dan Ken Arok. Benar enggaknya, tidak ada yang bisa mengkonfirmasi. Yang jelas, kemungkinan dia meninggal kecemplung sumur atau dikepruk talenan juga amat kecil. Nggak elit bener. Wong raja kok matinya kecemplung sumur. Bener nggak? Kalo kecemplung got sih masih mending. Ini sumur!
Kita lanjut saja ke raja berikutnya, Wisnuwardhana...
Wisnuwardhana ini memperistri Jayawardhani alias Waning Hyun alias Narasingamurti, anak Mahisa Wunga Teleng (sulung asli Ken Arok-Ken Dedes, adik seibu Anusapati, dan paman Wisnuwardhana), alias bagi Wisnuwardhana, Narasingamurti itu sepupu, dan keduanya lalu memerintah bersama, sebagai simbol pemerintahan rukun, gabungan turunan Tunggul Ametung dan turunan Ken Arok. Simbol bahwa dendam masa lalu leluhurnya telah mereka akhiri dengan perdamaian. Dugaannya bisa begitu. Tapi bisa juga, kenyataannya berbeda. Yang jelas, walau di sisi elite kekuasaan sudah dikonsolidasikan, bahaya laten masih merata-rata diam-diam di masyarakat Tumapel. Lalu Wisnuwardhana alias Ranggawuni, tahun 1268 diteruskan oleh anaknya, yang menjadi raja Singosari paling termasyur yaitu Kertanegara. Kertanegara sendiri jadinya adalah keturunan Ken Arok, sekaligus keturunan Tunggul Ametung. Yang dua-duanya itu, tidak ada kaitannya dengan trah Syailendra di masa lalu.
Versi lain menyebutkan: setelah Anusapati tewas dibunuh Tohpati, dan pemerintahan tidak langsung jatuh ke tangan anaknya Wisnuwardhana, tapi sempat dipegang Tohpati si anak selir, adik tiri Anusapati. Katanya, anak selir ini dihasut seorang tokoh bernama Pranajaya untuk melibas kerabat dari jalur Ken Dedes, terutama Wisnuwardhana alias Ranggawuni anak Anusapati, dan Narasingamurti alias Mahisa Campaka anak Mahisa Wonga Teleng. Satu cucu Ken Arok dari jalur Ken Dedes. Satu lagi cucu Ken Dedes dan Tunggul Ametung. "Kalo ente gak sapu bersih sodara-sodara yang anak permaisuri.. derajat ente sebagai anak selir pasti diungkit-ungkit terus, Boss.. Legitimasi ente lemah..." Begitu mungkin kira-kira penghasut ngomporin Tohpati. Eh, tapi penumpasan oleh Tohpati itu gagal.
Konon, gagalnya karena jalur Ken Dedes itu kemungkinan punya pasukan khusus yang dipimpin oleh seorang pendekar, tapi bukan pendekar debus, bernama Panji Patipati. Sewajarnya, kalau benar Ken Arok punya pasukan yang bisa menyapu seluruh lawan politik di masa lalu, maka tradisi dan kompetensi itu, tentu layak dipelihara untuk terus mengawal keluarga raja, bukan?
Setelah gagal melibas, Tohjaya mengamuk, dan mengancam mau membunuhi tentara-tentara yang dia anggap tidak becus, tapi berakibat, sejumlah perwira kunci di bawah pimpinan Lembu Ampal malah membelot bersatu dengan Ranggawuni. Para perwira dan pasukannya ini, lantas menjadi modal bagi Ranggawuni dan Mahisa Campaka untuk merebut balik kekuasaan dari tangan Tohjaya. Dari penggemar keris, disebutkan,
dalam pertempuran... Tohjaya ketusuk keris Mpu Gandring pulak! Luka parah, lalu melarikan diri, tapi nyawanya tak tertolong. Dan tewas. Jadi, sejauh itu, keris Mpu Gandring bawa empat tokoh korban: Tunggul Ametung. Ken Arok. Anusapati. Tohjaya. Ditambah ada Kebo Ijo yang difitnah Ken Arok, pembunuh bayaran utusan Anusapati, dan Mpu Gandingnya sendiri. Total jadi tujuh. Lha,.. kalau belakangan ada info Ken Dedes juga matinya di tangan keris itu, bisa jadi delapan itu! Terus.. kalau untuk selametan tujuh harinya almarhum Ken Dedes itu nyembelih ayamnya juga pake keris itu.. berarti ada sembilan korban keris itu. Hehehe.. Itu mungkin kira-kira yang agak berlebihan ya. Masak ayam segala diitung? Kecian bener tuh ayam, disembelihnya pake keris... Sorry.
Kita balik lagi saja ke nasib Tohpati.
Berhubung Tohjaya itu dianggap rendah derajatnya, sekedar anak selir, dan kudetanya juga cuma berhasil sebentar, terus bisa ditumpas. Maka dalam sejumlah prasasti, periode kepemimpinannya ada yang dihapus sama sekali, dan dianggap tidak pernah eksis. Soal mana yang benar. Wallahualam. Kita lanjut saja masa Singosari. Yaitu pada masa jayanya. Di jaman Kertanegara.
***
KEJAYAAN & KERUNTUHAN SINGOSARI
Di tangan Kertanegara, Singosari jaya. Konon, Prabu Kertanegara inilah yang pertama punya ambisi menyatukan nusantara seluas yang dimimpikan Gajah Mada, dan lebih dari yang pernah diimplementasikan Kadiri. Tidak sekedar menyatukan Jawa dan yang dekat-dekat, tapi seluruh Nusantara!
Dia naik tahta 1268M menggantikan ayahnya Wisnuwardhana. Menurut Pararaton, Kertanegara ini satu-satunya raja Singosari yang naik tahta secara damai. Tapi turunnya nanti, dia terbunuh dalam geger pemberontakan Jayakatwang dari Kadiri. Cuma sepertinya... para penganut teori konspirasi, pada titik ini mungkin sudah capek, jadi tidak ada cerita yang menyebutkan Kertanegara tewasnya juga kesabet oleh keris Mpu Gandring. Juga tidak ada cerita yang menyebutkan soal sabetan clurit. Dibanjur kopi bersianida, kayaknya juga enggak.
Diketahui, teknik metalurgi pada masa itu pun masih menyes, kelak baru mumpuni di jaman Majapahit. Jadi... setelah waktu berlalu begitu lama, keris empu gandring jangan-jangan sudah berkarat pulak. Dipakai nusuk udah nggak bisa, malah yang pegang bisa mati sendiri karena tetanus! Wallahualam.
Demi mewujudkan mimpi besar, untuk menguasai nusantara yang lebih luas dari Kadiri dan Sriwijaya, Kertanegara terus membangun tentara maritim besar, lalu meluncurkan ekspedisi pamalayu (perang Malayu) untuk menguasai selat Malaka dan perdagangan yang ramai di sana.
Ekspedisi ini juga dimaksudkan untuk pengimbang kekuasaan Mongol yang di daratan Asia saat itu sedang menggila, tak terkalahkan, dan berkuasa kemana-mana. Sudah sampai ke Korea, Rusia (Kievan Rus), Eropa Timur, dan membakar habis kota Baghdad yang jadi pusat kekalifahan timur bani Abbasiyah. Mongol ini mengandalkan pasukan berkuda gerak cepat, tapi kemampuan marinirnya relatif terbatas. Pusat Mongol dari Dinasti Yuan saat itu adalah di Khanbalik (Beijing sekarang).
Di puncak kejayaannya, bentang kekuasaan Singosari ini lumayan masif. Tidak cuma menguasai teritorial darat di tanah Jawa, tapi punya kekuatan maritim juga.
Ekspedisi pertama ke Selat Malaka 1275 dipimpin Kebo Anabrang berhasil menguasai pesisir Sumatra Bhumi Malayu tahun 1286. Lalu kirim lagi misi setengah damai ke Kerajaan Dharmasraya yang saat itu paling terpandang di Sumatra pasca era Sriwijaya. Tahun 1284, Bali ditaklukkan Kertanegara, dan rajanya dibawa ke Singasari sebagai tawanan. Suatu penghinaan besar bagi negeri Bali, dan mungkin mengandung pelajaran dalem banget yang men-shaping Bali ke depannya setelah itu. Kelak, di Bali terkenal semangat puputan, seperti semangat orang Jepang. Daripada jadi tawanan, lebih baik.. terus berjuang, sampai tetes darah penghabisan. Entahlah, apakah terinspirasi oleh kejadian ini, atau terinspirasi oleh wangsit mbah dukun atau apa. Bisa kita kira-kira, semangat puputan itu andai munculnya pada masa ini, semangatnya adalah: lebih baik tumpas habis, daripada dipermalukan seperti jaman Kertanegara.
Tahun 1289, utusan Kubilai Khan meminta Kertanegara tunduk kepada Mongol, dan menyerahkan upeti setiap tahun. Tapi utusannya malah dianiaya oleh Kertanegara yang jumawa. Kubilai Khan marah dan langsung memerintahkan invasi ke Jawa. Tapi... informasi berjalan lambat, jadi baru kelakon mendaratkan pasukan invasi di Jawa 1293, di bawah pimpinan Panglima Ike Mese, alias empat tahun setelah utusannya dianiaya, yang pada waktu itu, Kertanegara-nya telah meninggal, digusur oleh Jayakatwang. Sebelum itu, perlu diketahui... Kertanegara punya satu istri, bernama Sri Bajradewi. Selir nggak tahu, punya pa enggak. Anaknya perempuan semua, ada lima. Empat di antaranya (kelak?) dinikahi Raden Wijaya, pendiri Majapahit, yaitu: Tribhuwaneswari, Narendraduhita, Jayendradewi, dan Gayatri. Gagah bener ya, Raden Wijaya, punya istri sekaligus empat. Sayangnya empat-empatnya satu model, karena berasal dari pabrik yang sama. Dan masih bersaudara dengan dirinya sendiri.
Rencananya, Raden Wijaya dan keempat putri ini digadang jadi penerus kebesaran Singosari. Dan satu anak Kertanegara lainnya, dinikahkan dengan Ardharaja pangeran Kadiri anak Jayakatwang untuk menjamin agar aliansi Singosari-Kadiri makin kokoh. Kadiri ini wajarnya diposisikan jadi 'cadangan strategis'-nya Singosari. Makanya, terus diajak besanan, dan pangerannya diambil mantu. Sekaligus, ini juga jadi peleburan dinasti, antara dinasti Rajasa Ken Arok, dengan Wangsa Isyana untuk menambah legitimasi. Eh, tapi tidak tahunya Jayakatwang malah berontak.
Bagaimana terjadinya pemberontakan Jayakatwang?
Alkisah, disebutkan dalam beberapa cerita, Kertanegara itu dianggap telah menguasai semua ajaran Hindu dan Budha pada masa itu. Dan dia dikisahkan telah dianggap rakyatnya sampai pada level bersih dari dosa. Tapi ironisnya, salah satu ritual keagamaan rutinnya adalah pesta minuman keras. Sampai mabok. Tutupen botole', tutupen oplosane'.. pastinya belum dinyanyikan khalayak ramai.
Dari lama.. barisan sakit hati bejejer sejak Ken Arok yang bukan siapa-siapa mengacak konstelasi kerajaan Jawa. Oleh Kertanegara, sebagai raja yang berkuasa absolut, ditambah lagi dengan beberapa langkah penggusuran kedudukan orang-orang penting. Rakryan Patih Mpu Raganata digusur. Juga digusur Arya Wiraraja yang ahli strategi. Dia malah dimutasi ke Sumenep, di ujung pulau Madura, disuruh jadi bupati di sana, tanpa melalui pilkada.
Usaha menggoyang Kertanegara dari dalam.. terus muncul. Antara lain pemberontakan Cayaraja 1270, dan pemberontakan Mahisa Rangkah 1280. Tapi gagal menggoyang Singasari. Harap maklum, walau banyak tentara jagoan Kertanegara sudah dikirim jauh bersama ekspedisi Pamalayu,.. jumlah tentara tersisa masih tak tertandingi oleh siapapun. Mana punya cadangan strategis di Kadiri pulak. Yang notabene pimpinan setempatnya itu, besan, dan ipar Kertanegara. Anaknya tinggal di Singasari sebagai menantu, tapi juga bisa diitung sebagai jaminan juga. Semacam 'sandera terselubung'.
Setiap langkah untuk menghimpun tentara dalam kekuatan sebanding Kertanegara, tentu akan ketahuan oleh intel-intel Singasari, sehingga bisa ditumpas sebelum terealisir. Jadi, diyakini.. tidak akan mungkin ada kecamatan atau kerajaan bawahan yang sanggup menantang kerajaan induk seperti jaman Ken Arok dulu. Begitu selalu asumsinya. Tentara-tentara yang datang dari jauh,.. sulit juga untuk mendaratkan pasukan invasi yang setanding. Cuma pasukan Mongol mungkin, kalau nekat, bisa menandingi Singosari. Toh itu biayanya akan mahal sekali kalau pertempuran mesti dilakukan di Jawa. Dan Mongol bukanlah terkenal sebagai marinir. Mereka andalannya pasukan kaveleri berkuda yang jagoan di darat.
Dengan asumsi itu,... Kertanegara jadi lengah, lalu terjadi pemberontakan Jayakatwang, bupati Gelang-gelang, turunan raja-raja asli Kadiri, yang kemungkinan sebetulnya dipercaya Kertanegara sebagai cadangan strategis untuk menumpas pemberontakan, sementara pasukan jagoan Kertanegara diberangkatkan bersama ekspedisi Pamalayu. Jayakatwang itu sendiri adalah sepupu, sekaligus ipar, karena dinikahkan dengan adik Kertanegara, sekaligus juga besan Kertanegara. Karena anaknya Ardharaja diambil menantu dan tinggal di Singasari. Di belakang Jayakatwang ini, kemungkinan yang menjadi pendukung kunci adalah ahli strategi dan intelijen: Arya Wiraraja. Bisa juga, Arya Wiraraja ini juga mendukung dengan kekuatan militer.
Di kalangan akar rumput, legitimasi Jayakatwang relatif kuat. Dia keturunan Kertajaya raja Kadiri terakhir, yang berarti juga keturunan Jayabaya, keturunan Airlangga, dan keturunan Wangsa Isyana, Mpu Sendok, trah Syailendra-Tarumanagara yang dipertuan di nusantara sejak kapan ta'uk, sekita tahun 750-an,.. kira-kira sejak jaman lahirnya Rasulullah saw. Enam-tujuh abad sebelum masa Kertanegara or something.
Seolah, Jayakatwang ini.. keturunan raja diraja yang asli, yang dijungkirkan oleh Ken Arok dan direbut tahtanya tahun 1222, strike back di tahun 1292, alias 70 tahun setelah dinasti ken Arok atau wangsa Rajasa membesarkan Singosari.
Cerdiknya lagi, serangan pertama dijalankan bukan oleh Jayakatwang sendiri, tapi muncul sebagai suatu pemberontakan tipuan, dari arah utara Singasari, oleh satu resimen pasukan dipimpin Jaran Guyang.
Bagaimana kejadiannya?
Alkisah... Mendengar pasukan Jaran Guyang mengamuk di utara ibukota, Kertanegara marah. Jaran Guyang itu siapa? Dia bukan siapa-siapa. Mabok kali tuh anak coba memberontak Singasari? Begitu Kertanegara dan para pembesar Singosari berpikir. Tanpa banyak curiga, lalu dikirimlah dua resimen pasukan untuk menumpas Jaran Guyang itu, yang dipimpin oleh dua menantu Kertanegara, yaitu satu resimen dipimpin Raden Wijaya, yang empat istrinya merupakan putri Kertanegara, dan satu lagi dipimpin oleh Ardharaja, yang seorang istrinya puteri Kertanegara juga.
Kalau ini pemberontakan murni resimen Jaran Guyang, tentu dengan mudah bisa diguyang oleh kedua resimen Singasari yang dipimpin kedua pangeran. Tapi, begitu tahu siasat ayahnya.. bisa dibayangkan Ardharaja jadi serba salah.
Di satu sisi, dia adalah menantu Kertanegara, raja diraja Singosari. Di sisi lain, dia adalah anak Jayakatwang sang pemberontak, yang berada di belakang Jaran Guyang. Pada akhirnya, Ardharaja membelot dan bergabung ke dalam pasukan ayahnya. Resimennya, bisa diduga juga bukanlah tentara-tentara Singasari yang murni loyalitasnya pada Kertanegara, tapi kemungkinan besar loyalitasnya lebih kepada Ardharaja. Logis saja. Ardharaja berangkat perang, apa mungkin dia membawa pasukan yang tidak sepenuhnya loyal kepada dirinya? Tidak, kan?
Dan dengan kondisi yang berbalik seperti itu, resimen Raden Wijaya jadinya tidak lagi unggul. Dia mesti melawan sekaligus dua resimen. Resimen Jaran Guyang. Guyang Karawang. Sama resimen Ardharaja, saudara misannya sendiri, yang tentaranya satu guru satu ilmu dengan tentara Raden Wijaya. Kalau terus Raden Wijaya bisa mengerahkan skuadron helikopter tempur Apache sih, mungkin dua resimen itu mudah ditumpas. Tapi ini jaman Singasari, bro? Helikopter Apache belum ada. Kalau buah pace sih banyak! Jadilah, Jaran Guyang tidak begitu saja mudah ditumpas di utara. Lebih lagi, ternyata.. serangan Jaran Guyang dari arah ke utara itu,.. rupanya adalah pancingan supaya ibu kota kosong dan kekurangan infanteri. Begitu saat seperti itu terjadi,... pasukan Kertanegara sudah terpecah, sebagian ke utara menyongsong Jarang Guyang dan sebagian stand-by di ibu kota, tahu-tahu muncul resimen pasukan kedua Jayakatwang dari selatan, dipanglimai oleh Patih Kebo Mundarang.
Konon, saat serangan selatan muncul, Kertanegara sedang minum-minum seperti biasanya dia rutin menjalankan ritual agamanya. Dia mungkin merasa jumawa, masih belum percaya sepenuhnya bahwa Jayakatwang dan Aria Wiraraja benar-benar berada di belakang semua ini. Dia tidak terlalu pikir panjang, dia kirim dua menantu top ke utara, dan sempat yakin bahwa Jaran Guyang pasti tidak bisa mengimbangi pasukan yang kekuatannya dua kali lipat darinya, dan pemberontakan segera padam. Tidak tahunya.. ada serangan kejutan dari selatan merangsek langsung ke istana.
Intelijen segera dikirim untuk memanggil pulang sebagian pasukan yang ke utara, tapi lalu kaget sendiri, menyadari bahwa di utara itu resimen Ardharaja telah memberontak dan malah membuat resimen Raden Wijaya terdesak kalah jumlah.
Kertanegara beserta pembesarnya jadilah terpaksa memimpin sisa pasukan yang ada menghadapi serangan dadakan itu. Secara jumlah, pasukan penyerang hanya unggul sedikit. Tapi secara kesiapan, mereka lebih unggul. Gimana sih? Berperang saat panglimanya dalam keadaan setengah mabok, tentu berbeda kesiapannya dengan penyerang yang segar bugar. Akhirnya, tewaslah Kertanegara terbunuh dalam campuh di istananya. Lalu perlawanan istana segera mereda setelah rajanya tewas.
Raden Wijaya yang dikabari kemudian, merasa kecolongan, dan tahu tidak mungkin lagi mengimbangi gelombang pemberontak, lantas dia menghilang ke persembunyian. Susah payah dia kirim pasukan komando, utusan-utusan rahasia, agar istrinya, putri-putri Kertanegara juga bisa lolos, dan akhirnya sukses juga pelariannya bersama istri (atau setidaknya, satu istri terselamatkan). Tapi kerajaan Singasari tamat riwayatnya, ditekuk Jayakatwang. Dan oleh Jayakatwang, kekuasaan dipindahkan balik ke tempat dulu leluhurnya berkuasa, yaitu ke Daha, Kadiri.
Dengan demikian, Jayakatwang bersama anaknya Ardharaja berhasil mengembalikan tahta Wangsa Isyana, trah Syailendra di tanah Jawa, menggulingkan wangsa Rajasa Ken Arok. Yaitu untuk beberapa lama waktunya....
Lanjut cerita.. Jayakatwang agak penasaran, karena tidak berhasil menumpas sekalian Raden Wijaya dan istrinya yang anak Kertanegara, tapi penasaran segera ditepis oleh mabuk kemenangan. Toh, di titik ini, sepertinya dia lupa. Bahwa dalam kejayaannya, banyak juga andil strategi jitu dan intelijen yang dikontribusikan oleh Arya Wiraraja. Bisa dikira-kira: Wiraraja terus kurang direspek.
"Arya Wiraraja itu siapa sih? Dia kan sekedar profesional. Sedangkan gue? Gue ini asli turunan wangsa Isyana. Trah Syailendra yang kebesarannya menyebar se-nusantara. Sudahlah, gue kasih kado-kado kecil, Arya Wiraraja paling juga diem. Pasukan besar banget sekarang di tangan gue. Nggak mungkin Arya Wiraraja nekat melawan!" Begitu mungkin bisa kita kira-kira jumawanya Jayakatwang ketika itu. Tapi asumsi itu salah! Catatan sejarah menyebutkan, mesiu bahan peledak, mulai pertama kali digunakan di pertempuran di Jawa, adalah pada masa Singosari ini. Apa mungkin Wiraraja yang pegang senjata rahasia ini sehingga juga jadi faktor yang bisa bikin Kertanegara amblas? Wallahualam. Tapi andai benar, satu pihak sudah pakai bom, mesiu Cina sebagai pemusnah massal, sedang sisi lainnya belum,.. bom itu memang bisa jadi faktor pembeda untuk pertempuran infanteri dan kaveleri berkuda masa itu.
Jadilah walau besar, kerajaan Singosari belum bisa 'menembus batas psikologis tiga generasi'. Konon, dalam dunia bisnis masa kini, kerajaan-kerajaan bisnis top, tipikalnya cuma bertahan tiga generasi. Satu generasi muncul jadi jaya, generasi kedua, masih bisa melanjutkan kejayaan.. tapi.. generasi ketiga adalah terakhir. Habis itu gone. Rupanya, Singosari masuk ke dalam yang tipikal itu, dan belum bisa menembusnya. Di generasi ketiga, dia ditekuk oleh Jayakatwang dari Kadiri....
***
Kadiri Runtuh Untuk Kedua Kalinya, Muncul Majapahit
Sikap Jayakatwang yang kurang memberi konsesi pada Wiraraja, ada kemungkinan bikin jagoan ahli strategi gondok. Sehingga, saat kemudian dia didatangi oleh Raden
Wijaya, juniornya, muridnya dalam urusan strategis, Arya Wiraraja melihat titik terang untuk balas menekuk Jayakatwang. Apalagi, dia melihat Raden Wijaya masih punya sejumlah pengikut berkualitas, dan pasukan komando yang walau jumlahnya kecil, itu merupakan bagian terbaik dari laskar Singasari yang selama 70 tahun ditakuti di seluruh nusantara. Toh Arya Wiraraja berhitung. Mestinya begitu. Bila dipadukan kekuatan Madura di bawah Wiraraja, dengan kekuatan tersisa dari Raden Wijaya,.. dibanding kekuatan Jayakatwang saat itu.. masih ibaratnya seekor srigala, melawan kawanan singa. Jadi, melawan secara frontal akan konyol. Lantas, Arya Wiraraja menasehati Raden Wijaya, agar jangan keburu napsu. Dan dia mesti menyusun kekuatan dulu, sampai bisa bikin pasukan setanding.
Apa mungkin bisa membangun pasukan setanding sambil lari-lari? Tentu tidak bisa. Jadi, Arya Wiraraja menasehati juga, agar Raden Wijaya minta damai saja pada Jayakatwang, dan menerima ditempatkan sebagai rakyat bawahan. Menawarkan untuk memencilkan diri, babat alas, jauh dari keramaian kota-kota yang sudah establish. Di tempat yang jauh dari keramaian itu, di situlah Raden Wijaya bisa tenang membangun kekuatan, yang kelak.. bisa digunakan untuk memberontak balik melawan Jayakatwang. Apa mungkin Jayakatwang menerima berdamai dengan Raden Wijaya?
Ternyata amat mungkin! Pertama, logislah Jayakatwang ingin kedamaian segera muncul kembali di tanah Jawa. Kalau terus kisruh, bagaimana dia sebagai raja Jawa bisa menikmati kemenangan dan kemakmuran? Kalau Raden Wijaya diampuni, dan bukannya ditumpas, tentu segenap trah Rajasa Ken Arok akan teredam amarahnya. Setidaknya... untuk sementara waktu. Apalagi, Jayakatwang pun tahu, di luar Jawa, ada pasukan besar ekspedisi Pamalayu, yang kesetiaannya jangan-jangan masih penuh kepada trah Rajasa, dan bukan pada dirinya.
Ini dari waktu ke waktu terulang lagi, bukan? Kalau Sukarno pasca sebelas maret lalu ditumpas oleh orde baru.. bisa-bisa Marinir berontak, Brimob berontak, Angkatan Udara berontak, dan Suharto jadi sulit untuk berkuasa tiga puluh sekian tahun bukan? Jadilah lebih bijak kalau Sukarno itu dikandangi saja, di Wisma Yaso. Pemikiran Jayakatwang mirip dengan itu. Kemungkinan karena masukan dari Arya Wiraraja juga.
Lebihnya lagi, di dalam lingkaran dalam Jayakatwang, itu juga ada orang-orang kunci, yang masih kerabat Singasari. Jadi, kalau dia berdamai dengan Raden Wijaya, lingkaran dalam makin aman terkendali. Bagus, kan?
Lebih oke lagi hati Jayakatwang, karena Raden Wijaya setuju untuk menyepi, jauh dari kota-kota mainstream, babat alas di hutan Tarik. Wisma Yaso-nya. Ya, ya. Ada kemungkinan di sana Raden Wijaya membentuk pasukan lagi. Tapi.. paling seberapa sih? Untuk membentuk resimen-resimen, itu perlu biaya besar, dan juga perlu waktu lama. Sepanjang waktu, hutan Tarik toh bisa dipantau oleh intel Jayakatwang, bukan?
Jayakatwang tidak menyadari, bahwa penghargaan dia pada Arya Wiraraja itu terlalu kecil, dan mestinya menyakitkan hati sang Arya. Dan dia tidak menyadari, ahli strategi yang mampu menskenariokan penggulingan raja besar Kertanegara, mestinya juga mampu menskenariokan Jayakatwang yang kekuatannya lebih kecil dari saat jayanya Kertanegara. Adu strategi pun lalu terjadi. Mestinya begitu.
Di hutan tarik, Raden Wijaya membuka kota baru. Dia tidak mengerahkan tentara, tapi babat alas dengan bantuan orang-orang Madura kepercayaan Arya Wiraraja. Seolah, niatnya sepenuhnya damai. Sekedar membangun ekonomi. Dan orang-orang Madura itu, bisa juga dipersepsi oleh Jayakatwang sebagai sipir-sipir yang menjaga agar Raden Wijaya tidak gimana-gimana. Saat Raden Wijaya mulai meninggali Hutan Tarik, konon padi-padi yang ditanam orang-orang Madura sudah menguning.
Sejak masa ini, pendekar-pendekar Madura mulai dibicarakan dalam setiap gegeran di nusantara. Entah sebagai tentara bayaran atau apa....
Pasukan-pasukan komando Raden Wijaya yang tersisa, 'disimpan' di berbagai tempat tersebar di sekeliling pemukiman baru itu. Rapih jali. Dan berhubung jumlahnya masih relatif sedikit, para jagoan luput dari pengamatan telik atau intel-intel Jayakatwang. Demikian pula kekuatan rahasia dari Arya Wiraraja. Bahkan, bisa jadi kedua kekuatan ini tidak saling tahu keberadaan yang lain.
Besar juga kemungkinan, Raden Wijaya kirim utusan kepada pasukan ekspedisi Pamalayu, agar bersiap berjuang di sisinya, saat nanti kembali ke tanah Jawa. Dan kelak memang demikian. Pasukan Pamalayu itu loyalitasnya adalah pada Singasari, dan otomatis representasinya yang sah saat itu adalah Raden Wijaya.
Begitulah. Waktu berlalu. Raden Wijaya dan Arya Wiraraja lalu membangun kekuatan dengan tenang dan senyap. Mereka nyadar, kalau terburu-buru, tentu akan terdengar oleh intel-intel Jayakatwang, dan lalu akan ditumpas habis sebelum terbentuk pasukan yang sizeable. Waktu tentu akan lama sekali. Bisa sampai kiamat tidak juga terbentuk pasukan yang besar. Raden Wijaya tidak sabar. Tapi, Arya Wiraraja kalkulasinya akurat, dan dia lebih senior, sehingga Raden Wijaya teredam juga napsunya, tidak terus nekat mengakselerasi rencana pemberontakan. Paling, yang terpikir oleh dia, momentum diharapkan berbalik saat pasukan Pamalayu pulang. Jadi, nunggunya tidak akan sampai kiamat,.. bisa dikira-kira, dia ngarep-ngarep pasukan itu pulang cepat. Atau bahkan.. bisa juga dia kirim perintah lewat kurir, agar pasukan itu segera pulang. Entah bagaimana kalkulasi Arya Wiraraja kalau pasukan Raden Wijaya digabung dengan eks Pamalayu. Bisa juga tetap belum bisa mengimbangi Jayakatwang. Bukankah sambil waktu berjalan, Jayakatwang pasukannya juga semakin kuat dan semakin menguasai Jawa? Konon, di Daha, ibukota Kadiri saja, tentara yang melindungi istana Jayakatwang tidak kurang dari seratus ribu kombatan.
Walau secara kualitas mungkin rata-rata lebih tinggi, pasukan eks Pamalayu jauh di bawah itu jumlahnya. Ditambah pasukan-pasukan yang sekarang disimpan tersebar.. tetap masih kalah. Eh, tapi.. kemudian ada pasukan jagoan yang muncul, sama sekali tak terduga oleh Jayakatwang! Yaitu pasukan Mongol.
Kalo Pasukan Mongol dimasukkan dalam kalkulasi, situasinya bisa berbeda. Ordenya, pasukan Mongol paling juga tiga puluhan ribu maksimal, tapi.. mereka pasukan gerak cepat yang tak terkalahkan dimanapun mereka bertempur pada masa itu. Punya mesiu-mesiu meriam yang lebih maju dari Jayakatwang.
Harap maklum, walau saat pertempuran di Singosari tentara-tentara Jawa juga sudah mengenal mesiu bahan peledak, penemu asli dari mesiu dan meriam-meriam itu adalah orang Cina. Jadi, tidak mengherankan kalau meriam Cina lebih mumpuni dari meriam Jawa. Teknologinya lebih maju sebagai pemusnah massal.
Arya Wiraraja pun lalu menasehati Raden Wijaya, untuk segera beraliansi dengan Pasukan Mongol. Begitu ceritanya....
Selepas mendarat, Pasukan Mongol sempat mengamuk di Tuban. Intel Jayakatwang mendengar juga, dan segera, mereka memperingatkan Kadiri untuk segera bersiap dan memobilisasi pasukan pertahanan serta penumpas. Kerajaan-kerajaan bawahan, kebanyakan tentu juga mendengar gonjang-ganjing di Tuban itu, tapi kemungkinan banyak yang enggan menyumbangkan pasukan ke Kadiri, dengan alasan, mungkin mereka mesti mempertahankan kotanya masing-masing, andai Mongol menyerang mereka duluan. Dan di balik itu, bisa juga karena kesetiaan mereka kepada Kadiri belum sepenuhnya. "Daripada pasukan saya dimundurkan ke Kadiri.. Biarlah saya coba bendung orang-orang Mongol itu di sini! Jadi Tuan Jayakatwang di Daha bisa tenang-tenang menyusun kekuatan besar.." Yang berada di antara Kadiri dan posisi Mongol mungkin ada yang berdalih seperti itu. Atau alasan lain.. khususnya dari kerajaan yang jauh-jauh, bisa juga gerak cepat pasukan Mongol tidak memberi waktu mereka untuk memobilisasi massa dan mengirimkan bala ke Kadiri.
Apapun alasannya, dan apapun yang terjadi, kenyataannya tidak ada pasukan sepanjang jalan dari tempat-tempat pendaratan di Tuban dan di Sungai Brantas, yang bisa membendung pasukan Mongol yang kawakan untuk menuju Kadiri.
Toh, Raden Wijaya punya jagoan-jagoan pasukan komando. Dan pasukan komando ini bisa menyusup ketemu petinggi Mongol, dan bisa berkomunikasi dengan mereka. "Daripada pasukan gue tempur sendirian, kalo emang ada pemberontak setempat mau bantuin kita, why not?" Begitu pikiran ketiga perwira Mongol yang memimpin invasi. Makin utusan Raden Wijaya berbaik hati menjelaskan informasi intelijen, peta-peta pertahanan Kadiri, dan berjanji memberikan sesembahan pada Kaisar Mongol berupa putri-putri cantik, dan lain-lain, makin bisalah orang-orang Mongol menerima tawaran aliansi. Dalam persepsi mereka, raja diraja Jawa adalah Jayakatwang. Dan demikian pula, kenyataan di lapangan, dari siapapun yang mereka tanya, memang jawabannya
seragam: raja diraja Jawa.. itu Jayakatwang. Notabene dia sepupu, ipar, dan besan Kertanegara yang dulu menganiaya utusan Mongol. Nggak ada pasti yang bilang bahwa maharaja yang berkuasa si Ujang. Ujang itu kan tukang benerin pintu! Mereka tidak nyadar, bahwa aslinya.. Kertanegara itu lebih dekat hubungannya ke Raden Wijaya daripada ke Jayakatwang. Aliansi pun lalu terbentuk. Raden Wijaya, dan diam-diam di belakangnya juga Arya Wiraraja, lantas ikut mengerahkan pasukan mengepung Kadiri. Pemukul utamanya pasukan Mongol, kemungkinan terdiri dari tiga resimen karena pemimpinnya adalah tiga jenderal. Lalu satu Resimen lagi, dukungan dari Raden Wijaya, serta satu resimen lagi, bergerak senyap pasukan Wiraraja yang eksistensinya mungkin hanya Wiraraja dan Raden Wijaya yang tahu. Kita kira-kira, pasukan ini paling pol 50 ribu tentara, atau mendekati itu jumlahnya. Atau mungkin juga separuhnya itu. Di pihak pertahanan Kadiri, yang bertempur sekira 100 ribu tentara saat itu. Orang-orang sipil yang membantu pertempuran mungkin ribuan lagi. Tapi, seperti disebutkan dalam kitab suci: Seringkali jumlah yang besar itu dikalahkan oleh jumlah yang kecil! Dimana titik lemah Jayakatwang? Pertama, Mongol itu telah menunjukkan efisiensinya sepanjang jalan. Orang-orang Kadiri tentu banyak yang jeri mendengar sepak terjang mereka. Secara skill, juga mestinya orang-orang Mongol lebih jago kungfu. Keduanya, Mongol juga menang teknologi. Tadi sudah kita sebutkan. Ketiganya, mereka juga menang adu intelijen. Segenap tipuan Jayakatwang, Mongol sudah dapat bocorannya. Sedangkan bagi Jayakatwang, info intelijen tentang para penyerang relatif terbatas. Lebihnya dari itu, keberadaan Raden Wijaya di sisi Mongol juga memecah belah orang Kadiri. Di antara mereka, tentu masih banyak yang kesetiaannya lebih kepada Singasari daripada Jayakatwang. Ada banyak lagi,.. seperti lazimnya rakyat Jawa yang suka mengalah, inginnya senantiasa hidup damai, dan membenci perang. Trauma saat Kadiri bunuh-bunuhan dengan Singasari tentu masih membekas di pikiran mereka bukan? Jadilah, akhirnya, pertahanan Kadiri bobol. Jayakatwang bersama anaknya Ardharaja pun akhirnya ditumpas tewas oleh tentara Mongol yang dibeking Raden Wijaya.
Mission accomplished. Bagi pasukan Mongol, sepertinya urusan sudah tuntas secara elegan. Mereka terus bisa pulang ke tanah leluhur, jauh dari negeri Jawa Timur yang panas tidak karuan dibanding negeri mereka di utara. Lalu tampuk kepemimpinan lokal bisa diserahkan kepada Raden Wijaya, yang sudah menyatakan siap memberikan upeti-upeti, dan putri-putri sesembahan, bagi kaisar Mongol, dan bersedia tunduk di bawah kekuasannya. Dua jenderal Mongol langsung sumringah dan tidak curiga saat diminta kirim penjemput tak bersenjata ke hutan Tarik oleh Raden Wijaya alias Dyah Wijaya, yaitu katanya untuk mengambil hadiah-hadiah dan memboyong putri-putri cantik. Satu jenderal saja yang merasa curiga. Tapi kalah suara. Walau begitu, dia tetap menyiagakan pasukan cadangan saat yang lain bersantai berpesta.
Merasa perang sudah berakhir, dan tidak menduga ada konsentrasi pasukan rahasia dalam jumlah besar yang masih 'disimpan' Arya Wiraraja dan Raden Wijaya, tentara Mongol santai saja selepas penumpasan Jayakatwang. Tentaranya terpecah, ada yang masih tugas pembersihan di Daha Kadiri. Ada yang tersebar di pos-pos pendaratan menjaga kapal-kapal. Ada yang tercecer sepanjang jalan untuk menjaga agar jalur komunikasi dan logistik tidak terputus. Dan sekarang, datasemen dalam jumlah yang lumayan besar dikirim ke hutan Tarik, kebanyakan tidak bersenjata.
Bujukan Arya Wiraraja, dituliskan di kitab-kitab, menyebutkan bahwa agar para putri yang akan jadi sesembahan itu tidak trauma, sebaiknya penjemput bersenjata minimal saja. Tapi bisa juga, hati kecil mereka sendiri memang tidak ingin bawa senjata-senjata berat. Pertama, pertempuran besarnya sudah selesai. Keduanya, bawa senjata berat itu ribet dan menguras energi. Ketiganya, kalau beban senjata terlalu banyak, hadiah-hadiah yang bisa diboyong dalam perjalanan... jadinya berkurang. Padahal, sebagai pemenang pertempuran mereka tentu napsu ingin dapat sebanyak-banyaknya bukan? Tidak tahunya, di saat yang tepat, lalu pasukan gabungan Raden Wijaya dan Arya Wiraraja itu membantai orang-orang Mongol yang terpecah-pecah. Korban berjatuhan banyak sekali. Utamanya di sisi Mongol. Bagaimanapun, tentara-tentara pilihan Raden Wijaya itu adalah bekas pasukan inti kerajaan Singosari yang diseganai di seantenro Nusantara tadinya. Jadi, mereka unggul melawan pasukan lengah, yang sebagiannya juga sudah kelelahan pasca ekspedisi pertempuran dan mungkin banyak pesta-pesta.. Di pihak Mongol, masih untung salah satu jenderalnya masih waspada, dan segera bisa mengaktifkan pasukan cadangannya. Kalau tidak? Mereka mungkin bisa tumpas punah. Segera saja, Jenderal yang waras itu mengkonsolidasikan pasukan tersisa. Pasukan induknya ditarik mundur kembali ke arah kapal-kapal mereka dengan susah payah, dan bersiap mengerahkan ofensif balik. Tapi lalu mereka terlanda dilema.
Kalau mereka melakukan gelombang ofensif kedua melawan Raden Wijaya dan Arya Wiraraja, bisa saja mereka menang. Teknologi mereka masih unggul walau banyak peralatan kececer sepanjang jalan. Tapi.. itu akan lama lagi. Waktu sudah mepet. Kalau musim keburu berganti, angin yang mereka andalkan untuk meniup balik kapal-kapal mereka ke Tiongkok baru akan muncul enam bulanan lagi dari saat pergantian musim itu. Jadilah, akhirnya diputuskan oleh ketiga jenderal, mereka pulang saja ke Tiongkok dan mengurus Jawa lain waktu.
Ya sudah. Akhirnya balik kucing. Setiba di Tiongkok, walau misi untuk membunuh raja Jawa telah sukses, kedua jenderal yang lengah itu lalu dihukum oleh Kaisar, hartanya disita sepertiganya. Sedang jenderal ketiga tidak dihukum, karena masih berhasil mencegah penumpasan Mongol dan berhasil memulangkan sisa pasukan.
Ujung dari semua, Jawa tidak dijajah Mongol. Raden Wijaya dan Wiraraja selamat sentosa, menjelma menjadi penguasa baru di Jawa, dan oleh sebagian masyarakat
dianggap pahlawan juga. Walau bisa juga pahlawan kesiangan. Dari situlah, kemudian muncul kerajaan Majapahit alias Wilwatikta. Wangsa Rajasa Ken Arok kembali berkuasa. Setelah Singasari runtuh, pada titik ini, tuntas juga: Kadiri runtuh (lagi) perannya sebagai kerajaan utama, dan peran utama lalu dimainkan oleh kerajaan baru: Majapahit, yang secara trah merupakan kelanjutan Singasari.
***
NUSANTARA versi 2C, Kerajaan Majapahit
Raden Wijaya alias Dyah Wijaya alias Kertarajasa Jayawardhana pendiri Majapahit alias Wilwatikta itu, adalah keponakan Kertanegara (raja Tumapel atau raja Singasari keempat), yang sekalian juga diambil menantu.
Aslinya, Raden Wijaya anak Lembu Tal atau Dyah Singhamurti alias Raden Singhamurti (putrinya Mahisa Campaka). Mahisa Campaka-nya itu selain ibunda Singhamurti juga ibunda Kertanegara. Dia sendiri, anak Mahisa Wonga Teleng. Mahisa Wonga Teleng-nya, itu putra sulung pendiri Singasari Ken Arok (dengan Ken Dedes, tapi bagi Ken Dedes, dia anak kedua, setelah Anusapati). Mahisa Campaka itu juga sekaligus menantu Anusapati (raja Tumapel kedua setelah Ken Arok), karena suaminya adalah anak Anusapati (yaitu Wisnuwardhana, raja Tumapel ketiga setelah Anusapati). Semoga, ini tidak ruwet penjelasannya. Mesti pelan-pelan bacanya kalau kesulitan. Ada kemungkinan juga, Raden Wijaya ini pernah berguru ke Jawa Barat. Dalam salah satu catatan sejarah di Jawa Barat, ada disebutkan bahwa Raden Wijaya itu anak kerajaan Jawa Barat juga. Bisa jadi, maksudnya anak murid atau anak didik, atau anak angkat, dan gurunya atau bapak angkatnya, adalah bangsawan Jawa Barat.
Kelak dalam kisah oleh anak-anak turunan Raden Wijaya, digambarkan bahwa yang 'besar' cuma Raden Wijaya. Tapi,.. dari kisah di atas, bisa dikira-kira, bahwa Raden Wijaya dan Arya Wiraraja itu pada titik itu, saat Mongol berhasil diusir, adalah dua kekuatan seimbang. Cuma dari trah saja Raden Wijaya lebih punya legitimasi karena dia turunan Wangsa Rajasa. Toh, kekuatan Arya Wiraraja juga tidak bisa dikecilkan. Lepas dari imbangan kekuatan Wiraraja, di rumah tangganya sendiri, yang asli turunan Prabu Kertanegara bukanlah Raden Wijaya itu. Melainkan istrinya yang empat pertama! Dan dari kalangan dekat para istri, tidak mustahil ada keinginan juga untuk melanggenggkan trah Singosari jalur Kertanegara. Jadi,.. selain secara eksternal Raden Wijaya punya pengimbang Arya Wiraraja, dari sisi internal, para istri juga besar kemungkinan tidak suka kalau Raden Wijaya menyempal dari jalur Kertanegara.
Dalam penelitian-penelitian masa kini, ada perkiraan bahwa setelah Mongol terusir, Jawa (Timur) tidaklah solid di tangan Raden Wijaya. Bukan artinya sebagian dikuasai oleh bonek pendukung Persebaya dan Arema, melainkan.. terpecah menjadi dua bagian. Arya Wiraraja mendapat bagian yang tidak kecil, yaitu di daerah tapal kuda, di
sisi timurnya Tumapel, Singosari Malang. Dan dia juga mendapatkan Madura. Dengan pusatnya di sekitar Lumajang masa kini. Wikipedia bilang, area Arya Wiraraja itu jadi 'kerajaan' Lamajang Tigang Juru. Sesisanya, barulah itu daerah Majapahit.
Jadi, berbeda dengan sejarah lama yang menyebutkan bahwa selepas runtuhnya Kediri yang kedua, penggantinya adalah Majapahit; kenyataannya yang lebih mungkin, penerus Kediri pasca serbuan Mongol adalah Majapahit dan Lamajang Tinga Juru. Kalau ini benar terjadi, maka pemecahan seperti saat Airlangga lengser kejadian lagi. Walau batas-batasnya beda.
Kalau dibilang Lamajang Tigang Juru itu kerajaan bawahan,.. semestinya tidak juga. Susah dibayangkan, setelah bahu membahu menyiapkan penggulingan Jayakatwang, lalu bersama mempertaruhkan segalanya untuk mengusir Mongol.. Arya Wiraraja terus munduk-munduk menghatur sembah dan kirim-kirim upeti pada Raden Wijaya. Nggak kebayang. Jadi,.. bisa dibilang, Majapahit dan Lamajang Tigang Juru itu, awalnya adalah dua kerajaan setara. Dwi-tunggal. Masing-masing, lalu mengembangkan budaya sendiri-sendiri. Di sisi Arya Wiraraja, pengaruh Madura kuat. Pengaruh Bali juga ada. Walau begitu, sangat mungkin, kesetaraan ini tidak berjalan lama. Apa pasalnya? Kalau sama-sama membangun,.. entah itu membangun ekonomi atau membangun kekuatan militer, mestinya perlu waktu lama sekali bagi Raden Wijaya untuk jauh mengungguli gurunya Arya Wiraraja. Tapi.. kemudian sepertinya dia dapat berkah.
Pasukan eks Pamalayu pulang! Dan keseluruhannya, bergabungnya dengan Raden Wijaya tentu saja. Bukankah dia penerus Singasari?
Sejak itu, Lamajang tidak bisa lagi menguber kekuatan Majapahit. Dalam kekuatan darat saja tidak bisa. Apalagi kekuatan maritim. Walau begitu, toh tidak ada perang saudara berkepanjangan seperti Janggala lawan Kadiri di masa lalu. Sepanjang bertahta, Raden Wijaya tidak pernah mengusik Arya Wiraraja dan daerahnya. Ngapain juga bangunin macan tidur? Saat Jayanegara muncul jadi raja kedua, barulah kejadian. Jayanegara ini anaknya siapa? Anak ibunya jelas. Nggak mungkin dia anak tukang dorokdok. Lha, tapi ibunya itu siapa?
Konon, saat pasukan Pamalayu pulang, Raden Wijaya dianugerahi hadiah dua puteri Melayu. Dara Petak dan Dara Jingga. Ini, bisa saja indikasi bahwa Kerajaan Melayu alias Dhamasraya mestinya waktu itu, terus jadi beraliansi dengan Majapahit. Atau mungkin sudah dari masa Singasari, dan saat itu 'memperbaharui' semangat aliansinya. Semangat aliansi ini, tentu diterima saja oleh Majapahit. Damasraya bukanlah kerajaan ecek-ecek. Dia jelmaan Sriwijaya.
Salah satu puteri Melayu itu, lalu diperistri oleh Raden Wijaya, yang sebelumnya sudah punya istri empat, yaitu empat orang anak almarhum Prabu Kertanegara. Uniknya,
walau selama berjuang mati-matian yang mendampinginya adalah keempat putri Singosari.. kemudian yang dijadikan permaisuri utama oleh Raden Wijaya, ditetapkan sebagai istri tertua.. adalah puteri melayu itu. Ironis juga.
Kenapa begitu?
Bisa jadi, puteri Melayu itu paling muda, dan paling cantik. Beda pabrik, beda cetakan. Mak nyus. Keduanya, kepentingan politiknya juga besar. Dengan perkawinan itu, aliansi Majapahit-Dhamasraya yang dipertuan di Sumatra dan semenanjung Malaka jadi lebih solid. Ketiganya, ada kemungkinan.. karena puteri Melayu itulah yang melahirkan pangeran Jayanegara. Sedang istri-istri Singosari, semua anaknya perempuan. Tapi, di sisi lain, amat mungkin.. setelan yang seperti ini.. tidaklah sepenuhnya diterima dengan legowo oleh istri-istri Singosari dan kerabat-kerabat eks trah Singosari. Dan jadinya.. setelan seperti itu, menimbulkan masalah-masalah laten Majapahit yang terus ada sampai masa keruntuhannya kelak.
Toh terlepas dari tumbuhnya bibit-bibit kisruh di dalam rumah tangga istana, berkat aliansi dengan Damasraya, Majapahit lalu tumbuh pesat lagi menjadi kerajaan yang melampaui kerajaan Jawa mana pun sampai titik itu. Dibanding Sriwijaya, Majapahit-Dhamasraya ini juga segera menjadi lebih besar. Kemajuan teknologi dan peradaban yang ada, mestinya juga makin mengukuhkan lagi, lebihnya kekuatan ini dibanding Sriwijaya sekian abad sebelumnya. Yaitu sampai Raden Wijaya wafat di awal abad ke-14, atau persisnya tahun 1309M. Mohon maklum, jalur perdagangan internasional timur dan barat, yaitu timur-tengah dan India, ke arah Cina dan Asia Timur di periode ini sampai kelak Portugis melanglang buana, kemungkinan adalah jalur perdagangan internasional teramai di dunia! Majapahit, lokasinya pas di tengah, dan punya sumber-sumber dagangan yang top juga, yaitu pangan (beras) dan rempah-rempah Maluku yang pusat pengumpulannya juga di Jawa Timur.
***
Lamajang Tinga Juru dan Kisruh Demi Kisruh Majapahit
Lamajang (atau masa kini Lumajang) yang terus dijadikan pusat daerah konsesi Arya Wiraraja sudah muncul di blantika elit kerajaan Jawa sekitar 1182M. nama Tigang Juru itu mungkin disebabkan area itu di arah tiga gunung besar di tiga penjuru, yaitu Gunung Semeru atau Mahameru, Gunung Lamongan, dan Gunung Bromo. Ketiga gunung aktif itu melimpahkan kesuburan pada sekeliling. Teritorial Kerajaan Lamajang ini meliputi Madura, Lamajang, Patukangan atau Panarukan, daerah Blambangan atau tapal kuda. Berdasar kebiasaan lama, Mahameru dianggap gunung suci tempat bersemayam roh leluhur dan pemukiman para dewa. Di tangan Wiraraja daerah tapal kuda (dan Madura) lantas tumbuh menjadi wilayah dengan keunikan tersendiri. Lamajang sempat mampu jadi pengimbang Majapahit jaman Raden Wijaya. Kelak, saat Jawa Timur di-islamisasi, daerah tapal kuda itu (Blambangan) masih resis terus dan terus. Budayanya berbeda
dengan Jawa umumnya. Ada yang menyebut: budaya Pendalungan atau campuran Jawa-Madura. Dan ada bagian tertenu bercampur lagi dengan Bali, membentuk masyarakat Osing yang berbahasa Osing.
Siapa Arya Wiraraja?
Arya ini nama kecilnya Banyak Wide. Banyak ini, masa itu nama brahmana. Jaman sekarang, banyak itu dalam bahasa Jawa artinya soang atau angsa. Mungkin juga waktu itu juga bermakna angsa pulak. Wide itu setara Widya yang artinya knowledge. Jadi Banyak Wide mungkin setara Smart Swan gitu deh.
Semula dia kepercayaan Kertanegara di Singosari. Wiraraja yang termasuk dituakan di Nangka kemudian dijauhkan dari elit Singasari ke Sumenep, di timur Madura. Ada yang mengira, Wiraraja lahir di Karang Nangkan, Sumenep. Versi lain: dia lahir di Besakih, Karangasem, Bali. Yang mengira dia asalnya dari Cicalengka tidak ada. Versi lain lagi: dia lahir di Nangkaan, Klakah, Lumajang. Karena kalau prasasti bilang dia dijauhkan ke Sumenep, mestinya aslinya dia bukan dari Sumenep bukan?
Diperkirakan, Wiraraja lahir 1232M. Saat dijadikan adipati Sumenep, umurnya 37 tahun. Dan saat Majapahit berdiri tahun 1293, selepas pengusiran Mongol dan pengukuhan Kerajaan Majapahit, usianya sudah 61 tahun! Sementara, Raden Wijaya waktu itu usianya entah berapa. Tapi mestinya, jauh lebih muda. Dalam sejarah, Wiraraja dikenal sebagai mastermind yang mendalangi kejatuhan Singasari dan kematian Kertanegara, terkait juga dengan kejatuhan Kediri dan rajanya Jayakatwang, serta mendalangi bangkitnya Raden Wijaya pendiri Majapahit.
Dari sisi kebangsawanan, Wiraraja sepertinya bukan siapa-siapa awalnya. Tapi karirnya pesat. Dalam umur 30-an dia sudah jadi penasehat raja Singasari. Babatangan atau Rakryan Demung. Ada prasasti yang bilang begitu. Singasarinya sendiri, sejak Ken Arok, penuh intrik dan konflik. Yaitu antara Wangsa Rajasa sejati (Ken Dedes, Ken Arok), dengan wangsa pendahulu (Ken Dedes, Tunggul Ametung), lalu dari turunan selir (Ken Arok, selir Ken Umang). Lalu.. dari bangsawan lama turunan Kertajaya, wangsa Isyana, yang digulung Ken Arok saat menaklukkan Kadiri juga eksis.
Wiraraja ini mestinya pendukung Wangsa Rajasa. Bukan pendukung Persija. Dia murid politik Narasinghamurti. Sejak Wisnuwardhana digantikan Kertanegara 1269, Singasari menganut politik penaklukan sesuai "Doktrin Drnnyawipantara". Tidak semua tentu suka dengan pendekatan penaklukan itu, tapi para haters lalu digusur Kertanegara. Antara lain: Pendeta Santasmerthi (dari pendeta kerajaan menyingkir ke pegunungan), Patih Mpu Raganatha (dari Patih ke Jaksa), Tumenggung Wirakerti juga. Banyak Wide di naikkan pangkatnya lalu dijuluki Arya Wiraraja (bermakna: Pemimpin Pemberani), tapi dijauhkan ke Sumenep jadi adipati, bukan jadi presiden. Walah, sejak kapan pulak Sumenep dipimpin oleh seorang presiden?
Saat Kertanegara melakukan penggusuran di Singasari, konon, tetap saja kelompok yang digusur saling komunikasi. Patih Raganatha yang padi penasehat utama senantiasa mengamati ibukota. Wiraraja mengamati keadaan luar dan membangun kekuatan di Sumenep. Sumenep menjadi pelabuhan penting Madura. Perekonomian bergerak walau daerahnya tandus. Hubungan dengan negeri asing mulai terjadi, mestinya dengan Mongol juga. Di masa ini, Mongol sudah kenal mesiu yang di Jawa masih asing. Mungkin Wiraraja tahu duluan tipe senjata baru ini. Terus jadi kojo.
Saat Kertanegara mengirimkan ekspedisi Pamalayu 1275. dan menolak mengakui hegemoni Mongol Tartar, di dalam negeri Singosari intrik makin mengkristal. Tiap pihak saling mengukur kelemahan lawan, sampai Jayakatwang dapat momentum lalu sukses mengkudeta dan membunuh Kertanegara. Di situ, konon Wiraraja penentu juga. Dia memberi tahu lewat anaknya Wirondaya strategi dan timing yang tepat, yaitu ketika kekuatan tentara di ibukota Singasari pas minimal. Mungkin dia suplai mesiu dan bom juga, senjata baru yang mungkin tergolong senjata rahasia masa itu.
Toh kemudian, Jayakatwang juga mengecewakan Wiraraja. Bisa dikira-kira mengapa sang Arya kecewa. Bisa karena kurang mendapat penghargaan atas peran kuncinya mensuplai informasi intelejen dan strategi, bisa juga karena dari awal hubungan dengan Jayakatwang itu cuma oportunistik, bukan sehidup semati. Tak lama kecewa dengan Jayakatwang, Arya Wiraraja kedatangan Raden Wijaya, cucu dari gurunya.
Melihat kedatangan itu sebagai kesempatan emas, Wiraraja lantas bersekutu dengan Raden Wijaya, yang terus sukses mengadu Jayakatwang dengan Mongol. Jayakatwang tumpas, lalu Mongolnya ditikam pulak. Jadilah.. Raden Wijaya bertahta di Majapahit, dan separo kerajaan diserahkan kepada Wiraraja jadi Lamajang Tigang Juru.
Konon, saat sowan minta bantuan ke Sumenep, Raden Wijaya bersumpah, setelah sukses, kerajaan akan dibagi dua untuk dirinya dan Wiraraja. Di prasasti Kudadu disebutkan 1294: "Wiraraja telah memberi bantuan besar kepada Raden Wijaya termasuk mengusahakan pengampunan politik dari Jayakatwang dan mengusahakan hak babat alas 'hutan Terik' menjadi desa Majapahit. Dalam pembukaan desa Majapahit ini yang kerja pun Wiraraja dan pasukan Madura. Raden wijaya sendiri baru datang ke situ setelah padi-padi menguning." Kemungkinannya begitu.
Raden Wijaya tahu diri. Dia promosikan jabatan para pengikut dekatnya. Banyak di antaranya orang dekat Wiraraja. Nambi dijadikan patih Majapahit, Lembu Sora, patih Daha. Arya Wiraraja dan Ranggalawe jadi pasangguhan, semacam hulu balang atau menteri pertahanan. Pasangguhan di Majapahit itu ada dua: Pasangguhan Pranaraja yang senior (Arya Wiraraja pertamanya) dan Pasangguhan Nayapati (Ranggalawe) yang lebih junior. Semua tokoh yang sempat menolong semua diberi anugerah. Singkatnya begitu. Yang paling culun mungkin dapet beras lima kilo sama celana kolor warna item mungkin. Wallahualam.