• Tidak ada hasil yang ditemukan

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA"

Copied!
14
0
0

Teks penuh

(1)

i

KESEJAHTERAAN SISWA YANG TINGGAL DI PANTI ASUHAN

NASKAH PUBLIKASI

Diajukan kepada Fakultas Psikologi Untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan Dalam Mencapai Derajat Sarjana (S-1) Psikologi

Diajukan oleh:

DIYAH UTAMI HASAN F 100 104 039

FAKULTAS PSIKOLOGI

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA

2014

(2)

ii

KESEJAHTERAAN SISWA YANG TINGGAL DI PANTI ASUHAN

NASKALH PUBLIKASI

Diajukan kepada Fakultas Psikologi Untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan Dalam Mencapai Derajat Sarjana (S-1) Psikologi

Diajukan oleh:

DIYAH UTAMI HASAN F 100 104 039

FAKULTAS PSIKOLOGI

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA

2014

(3)
(4)
(5)

v

KESEJAHTERAAN SISWA YANG TINGGAL DI PANTI ASUHAN Diyah Utami Hasan

Usmi Karyani

Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Surakarta

ABSTRAKSI

Sekolah diharapkan mampu memberikan pengalaman terbaik bagi siswa sehingga siswa dapat merasa sejahtera karena pemenuhan kesejahteraan siswa mempengaruhi hampir seluruh aspek optimalisasi fungsi siswa di sekolah dan menjadi faktor penting yang mempengaruhi hasil belajar dan pengembangan kemampuan siswa. Dukungan terbesar sebagai faktor kesejahteraan siswa berasal dari orang tua. Namun siswa yang tinggal di panti asuhan harus jauh dari orang tua. Hal ini dapat menghambat perkembangan anak secara wajar karena pada kenyataannya, pengasuhan di panti asuhan hanya berfokus untuk memenuhi kebutuhan materi saja sedangkan kebutuhan emosional dan perkembangan kurang diperhatikan. Siswa yang tinggal di panti asuhan cenderung kesulitan dalam menyesuaikan diri, pendiam dan memiliki self esteem negatif lebih tinggi dari pada self esteem positif. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk memahami dan mendeskripsikan kesejahteraan siswa yang tinggal di panti asuhan. Informan dalam penelitian ini diambil dengan cara purposive sampling dengan karakteristik siswa yang bersekolah di SMP dan tinggal di panti asuhan berjumlah 8 informan. Metode pengambilan data menggunakan kuesioner terbuka dan wawancara.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor pendorong sejahtera adalah teman, sekolah, penghargaan dan pujian, guru, belajar dan orang tua. Hal ini membuat siswa yang tinggal di panti asuhan merasa sejahtera. Walaupun demikian, orang tua juga menjadi faktor penghambat sejahtera karena tinggal di panti asuhan membuat siswa jauh dari orang tua. Faktor penghambat sejahtera yang lain adalah mendapat perlakuan tidak baik dari teman, melihat teman bermusuhan, jarang belajar, lampu belajar kurang terang, sakit fisik kambuh, pengasuh yang suka marah serta menjadi siswa yang nakal. Faktor penghambat ini membuat siswa yang tinggal di panti asuhan merasa tidak sejahtera sehingga dapat diuraikan bahwa pengertian sejahtera menurut siswa yang tinggal di panti asuhan adalah damai, tentram, dan bahagia.

(6)

1 PENDAHULUAN

Sekolah diharapkan mampu melaksanakan tujuan pendidikan nasional yang diatur dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 dengan memberikan pengalaman terbaik bagi siswa sehingga siswa dapat merasa sejahtera. Pemenuhan kesejahteraan siswa mempengaruhi hampir seluruh aspek optimalisasi fungsi siswa di sekolah dan menjadi faktor penting yang mempengaruhi hasil belajar dan pengembangan kemampuan siswa (Frost, 2010).

Salah satu faktor yang mempengaruhi kesejahteraan anak sebagai siswa adalah berkumpul dengan keluarga (Frost, 2010). Namun pada kenyataannya beberapa anak harus berpisah dengan keluarganya akibat disfungsi sosial keluarga. Kondisi seperti inilah yang dapat membuat anak tinggal panti asuhan (Sudrajat, 2008; Sarwono, 2014).

Sarsito N Sarwono (2014) mengemukakan bahwa panti asuhan berperan sebagai tempat rehabilitasi sosial bagi anak-anak terlantar akibat disfungsi sosial keluarga. Namun pada kenyataanya, pengasuhan anak

di panti asuhan berfokus hanya untuk memenuhi kebutuhan kolektif, sementara untuk kebutuhan emosional dan pertumbuhan anak kurang diperhatikan (Sudrajat, 2008). Hasil wawancara dengan Panti Asuhan Darul Hadlonah Semarang menyatakan bahwa banyak anak yang mengalami kesulitan dalam menyesuaikan diri, terutama anak yang baru tinggal di panti asuhan. (Rahma, 2011). Tidak adanya hubungan yang sehat dengan orang lain menjadi penghambat siswa merasa sejahtera (Masters, 2004).

Attachment yang kuat dengan orang tua dapat menghindarkan siswa dari kecemasan dan potensi perasaan-perasaan depresi atau tekanan emosional (Santrock, 2004). Remaja cenderung memiliki suasana hati yang naik-turun. Hal ini termasuk bagian dari pencarian remaja akan identitas diri (Santrock, 2004).

Attachment yang kuat dengan orang tua juga dibutuhkan remaja yang tinggal di panti asuhan untuk melewati tahap perkembangan remajanya dengan baik dan anak

(7)

2 menjadi orang dewasa yang mandiri (Santrock, 2004; Wong, 2008).

Kesejahteraan siswa adalah derajat dimana siswa merasa baik berada di lingkungan sekolah dan derajat keefektifan fungsi siswa dalam lingkungan komunitas sekolah (Fraine dkk, 2005 & Fraillon, 2004). Tingkat kesejahteraan siswa dapat ditunjukkan melalui sejauh mana prestasi akademik yang didapatkan, fungsi sosial, emosional serta perilaku siswa ketika berada disekolah (Noble dkk, 2008). Gambaran mengenai kesejahteraan siswa dapat dilihat ketika guru percaya bahwa semua siswa mampu sukses dalam belajar, siswa merasa bahagia dan sukses ketika mendapatkan pelajaran baru dan siswa semangat untuk datang ke sekolah, memiliki hubungan pertemanan yang baik dengan siswa

lainnya serta mampu

mengoptimalkan potensi yang dimiliki ketika berada disekolah (Kaplan dan Maehr dalam Avi dkk, 1999 & Bonnie, 2004).

Masters (2004) berpendapat bahwa terdapat lima aspek

kesejahteraan siswa yaitu mental, emosional, spiritual, sosial dan fisik.

Ress dkk (2010) juga merumuskan bahwa faktor penting yang berkontribusi pada kesejahteraan anak adalah keluarga, teman, kesehatan, penampilan, penggunaan waktu, orientasi masa depan, rumah, uang dan kepemilikan, kebebasan, keamanan, sekolah dan juga pilihan hidup.

Faktor yang paling terlihat yang tidak dimiliki oleh siswa yang tinggal di panti asuhan adalah keluarga. Panti asuhan merupakan lembaga pengganti fungsi orangtua (keluarga) dalam pemenuhan kebutuhan anak baik secara jasmani, rohani maupun sosial yang dikembangkan sebagai lembaga pelayanan profesional dan menjadi pilihan untuk memberikan pelayanan kesejahteraan anak (Argyo, 2009). Anak yang tinggal dipanti asuhan terdiri dari 1) Anak yatim, piatu dan yatim piatu, 2) Anak terlantar dari keluarga yang mengalami perpecahan, 3) Anak terlantar dari keluarga yang sakit kronis serta 4) keluarga dengan kesulitan ekonomi (Argyo, 2009).

(8)

3 Pola pengasuhan anak di panti asuhan digambarkan melalui tiga proses yaitu pengajaran, pengganjaran dan pembujukan (Argyo, 2009). Kelebihan panti asuhan: 1) Memiliki teman yang senasib, 2) Anak dapat mengembangkan kreatifitas melalui fasilitas yang disediakan panti asuhan, 3) Membiasakan hidup mandiri. Kelemahan panti asuhan: 1) Terisolasi dari masyarakat luas sehingga muncul rasa rendah diri, 2) Pembinaan bisa dianggap sebagai pengekangan apalagi dengan sikap pengasuh yang kasar dan tidak mendidik (Muhsin, 2003).

Argyo (2009) Seharusnya panti asuhan dapat digunakan sesuai fungsinya yaitu memberikan pelayanan, pemeliharaan baik secara fisik, mental maupun sosial terhadap anak-anak terlantar namun keterbatasan SDM profesional dalam pengasuhan anak di panti asuhan membuat pengasuh panti asuhan biasanya terdiri dari orang yang bekerja secara suka rela dan seadanya (Muhsin 2003). Para pengurus panti asuhan kurang dibekali pendidikan dan pelatihan

terkait pengasuhan anak (Fuaida dkk, 2007).

Berdasarkan uraian di atas, penulis merasa tertarik untuk mengadakan penelitian untuk mengetahui bagaimana kesejahteraan siswa yang tinggal di panti asuhan. METODE PENELITIAN

Informan penelitian

Siswa yang memiliki karakteristik bersekolah di SMP dan tinggal di panti asuhan terdiri dari 8 informan.

Alat pengumpul data

Dalam penelitian ini alat pengumpul data mengunakan kuesioner terbuka dan wawancara. Hasil dari kuesioner terbuka dan wawancara akan dianalisis dengan cara sebagai berikut :

1. Organisasi data 2. Koding

3. Kategorisasi

4. Pembahasan hasil penelitian. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Berdasarkan hasil kuesioner terbuka dan wawancara didapatkan hasil mengenai kesejahteraan siswa yang tinggal di panti asuhan, adapun pembahasannya sebagai berikut :

(9)

4 a. Pengertian sejahtera menurut

siswa yang tinggal di panti asuhan.

Pengertian sejahtera menurut siswa yang tinggal di panti asuhan adalah damai, tentram dan bahagia. Hal ini sesuai dengan teori yang di kemukakan oleh Noble dkk (2008) yang mendefinisikan kesejahteraan siswa sebagai keadaan dengan suasana hati yang positif, sikap, resilien, dan kepuasan terhadap diri serta kepuasan dalam berhubungan dengan orang lain dan harapan-harapan dari sekolah.

Damai adalah ketika memiliki banyak teman dan tidak terjadi konflik di dalamnya sehingga diri merasa tentram. Damai juga ketika melakukan hal-hal yang benar seperti taat peraturan dan rajin belajar. Mendapatkan prestasi juga membuat siswa yang tinggal di panti asuhan merasa sejahtera. Menjadi sukses dan mencapai cita-cita adalah tujuan untuk mencapai bahagia sehingga dapat membanggakan orang tua, dan diri sendiri.

b. Penilaian diri siswa yang tinggal di panti asuhan terhadap kesejahteraannya

Hasil penelitian menunjukkan bahwa siswa menyatakan sejahtera karena menjalin hubungan baik dengan teman sehingga memiliki banyak teman dan dengan tinggal di panti asuhan dapat membantu meringankan keuangan keluarga. Hal ini sesuai dengan aspek sosial kesejahteraan siswa menurut John Ainley (dalam Masters, 2004) yaitu adanya ketergantungan antara individu dan sekolah untuk membangun hubungan yang sehat dengan orang lain, individu, kelompok dan lembaga dapat memudahkan siswa merasa sejahtera.

Hasil penelitian juga menyatakan bahwa siswa belum sejahtera karena belum mendapatkan prestasi yang memuaskan. Noble dkk (2008) menyatakan bahwa Tingkat kesejahteraan siswa dapat ditunjukkan melalui sejauh mana prestasi akademik yang didapatkan.

Penyebab belum sejahtera yang lain adalah belum dapat meraih cita-cita dan menjadi sukses. Hal ini sesuai dengan salah satu faktor yang mempengaruhi kesejahteraan siswa menurut Ress dkk (2010) yaitu adanya orientasi masa depan.

(10)

5 Ditinggal ayah pergi, dan memiliki teman yang suka iri juga menjadi penyebab belum sejahtera. Huebner dkk (2003) mengemukakan bahwa kepuasan hidup anak dipengaruhi oleh beberapa faktor diantaranya adalah adalah keluarga dan teman. Karena faktor ini belum terpenuhi maka siswa menjadi belum sejahatera.

c. Faktor pendorong kesejahteraan siswa yang tinggal di panti asuhan

Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor pendorong kesejahteraan siswa yang tinggal di panti asuhan adalah banyak teman, guru, fasilitas sekolah dan peraturan yang dimiliki. Hal ini sesuai dengan aspek sosial kesejahteraan siswa menurut John Ainley (dalam Masters, 2004) yang mengemukakan gagasan adanya ketergantungan antara individu dan sekolah untuk membangun hubungan yang sehat dengan orang lain, individu, kelompok dan lembaga.

Membangun hubungan yang sehat dengan orang lain, individu maupun kelompok dapat ditunjukkan dari hasil penelitian yaitu memiliki

banyak teman yang baik. Sesuai dengan aspek mental kesejahteraan siswa menurut Masters (2004) yaitu teman sebaya merupakan faktor penting yang dapat menghindarkan anak dari gangguan kesehatan mental sehingga anak mampu meraih kesejahteraan.

Memiliki kesempatan untuk belajar juga menjadi faktor pendorong sejahtera. Sesuai dengan pendapat Kanu & Rimpela (2002) kesejahteraan dikaitkan dengan pengajaran dan pendidikan serta dengan belajar dan prestasi.

Faktor utama pendorong kesejahteraan siswa yang tinggal di panti asuhan adalah bersama orang tua. Seperti pendapat beberapa tokoh bahwa ranah kesejahteraan siswa tertinggi adalah keluarga dan self (Huebner dkk, 2003; Ress dkk, 2010; Evan, 2011; Hanafin & Brooks, 2005; dan Frost 2010) seperti halnya hasil penelitian bahwa mendapatkan penghargaan dan pujian juga menjadi faktor pendorong kesejahteraan.

Walaupun jauh dari orang tua, lingkungan membantu mereka sehingga dapat menemukan sosok pengganti peran orang tua yaitu

(11)

6 teman, kakak panti, pengasuh dan saudara kandung. Pengasuh sebagai bagian dari lembaga kesejahteraan sosial anak harus memahami bahwa pemenuhan hak-hak anak harus dilakukan secara menyeluruh. Hak-hak anak meliputi Hak-hak terhadap perlindungan, hak terhadap tumbuh kembang serta hak terhadap partisipasi seperti mendengarkan suara dan pilihan anak (Jufri, 2011). Hal ini sejalan dengan tanggung jawab peran orang tua dan keluarga menurut Jufri (2011) yaitu mengasuh, memelihara, mendidik dan melindungi anak.

Namun peran pengganti orang tua dirasakan oleh semua siswa yang tinggal di panti asuhan sehingga perhatian yang diberikan juga terbagi. Oleh karena itu, orang tua tetap menjadi faktor utama pendorong sejahtera.

d. Faktor penghambat kesejahteraan siswa yang tinggal di panti asuhan

Hasil penelitian menunjukkan bahwa siswa yang tinggal di panti asuhan menyatakan tidak sejahtera karena jauh dari orang tua. Seperti pendapat beberapa tokoh bahwa

ranah kesejahteraan siswa tertinggi adalah keluarga (Huebner dkk, 2003; Ress dkk, 2010; Evan, 2011; Hanafin & Brooks, 2005; dan Frost 2010).

Faktor penghambat kesejahteraan yang lain adalah mendapat perlakuan tidak baik dari teman. Salah satu aspek mental kesejahteraan siswa yaitu teman yang juga merupakan faktor penting yang dapat menghindarkan anak dari gangguan kesehatan mental sehingga anak mampu meraih kesejahteraan (John Toumbourou, Elizabeth Douglas& Alison Shortt dalam Masters, 2004).

Begitu juga dengan menjadi siswa yang nakal. Ketidak percayaan guru dan teman yang dirasakan oleh siswa menimbulkan gangguan kesehatan mental. Dalam hal ini adalah menjadi nakal. Guru dan teman merupakan faktor penting untuk menghindarkan anak dari gangguan kesehatan mental (John Toumbourou, Elizabeth Douglas& Alison Shortt dalam Masters, 2004).

Faktor penghambat sejahtera yang selanjutnya adalah jarang belajar sehingga prestasi belum memuaskan. Hal ini sesuai dengan

(12)

7 pendapat Kanu & Rimpela (2002) bahwa belajar dan mendapatkan prestasi ada kaitannya dengan kesejahteraan.

Sakit fisik yang kambuh membuat siswa harus meninggalkan pelajarannya. Salah satu aspek kesejahteraan siswa adalah aspek fisik. Sakit fisik harus diatasi dengan benar supaya tidak mengganggu siswa dalam belajar (Kathy rowe, Ken rowe & Jan pollard dalam Masters, 2004).

Faktor penghambat kesejahteraan siswa yang tinggal di panti asuhan yang terakhir adalah memiliki pengasuh yang suka marah. Pengasuh sebagai bagian dari lembaga kesejahteraan sosial anak harus memahami bahwa pemenuhan hak-hak anak harus dilakukan secara menyeluruh. Hak-hak anak meliputi hak terhadap perlindungan, hak terhadap tumbuh kembang serta hak terhadap partisipasi seperti mendengarkan suara dan pilihan anak (Jufri, 2011).

KESIMPULAN

Berdasarkan hasil analisis dan

pembahasan maka dapat

disimpulkan:

1. Pengertian sejahtera menurut siswa yang tinggal di panti asuhan adalah kehidupan yang damai yaitu melakukan hal-hal yang benar sebagai siswa, tentram ketika tidak ada konflik dan bahagia ketika bisa menjadi sukses, membanggakan orang tua dan diri sendiri.

2. Siswa menilai dirinya sejahtera ketika memiliki banyak teman yang menghargai dan bisa membantu keluarga. Sedangkan siswa menilai dirinya belum sejahtera karena masih melanggar tata tertib, belum berprestasi, belum sukses, jauh dari ayah dan memiliki teman yang suka iri. 3. Faktor pendorong kesejahteraan

siswa yang tinggal di panti asuhan paling utama adalah orang tua. Karena jauh dari orang tua, lingkungan membentuk peran pengganti orang tua yaitu pengasuh, teman, kakak panti dan saudara kandungnya. Faktor pendorong sejahtera yang lain adalah memiliki banyak teman, hubungan baik dengan guru, mendapatkan penghargaan dan pujian, fasilitas sekolah beserta

(13)

8 peraturannya dan memiliki kesempatan untuk belajar.

4. Faktor penghambat kesejahteraan siswa yang tinggal di panti asuhan adalah jauh dari orang tua, mendapatkan perlakuan tidak baik dari teman, menjadi nakal, jarang belajar dan lampu untuk belajar yang kurang terang, melihat teman musuhan, sakit fisik yang kambuh serta memiliki pengasuh yang suka marah.

DAFTAR PUSTAKA

Argyo. (2009). Pola Pengasuhan Anak di Panti Asuhan dan Pondok Pesantren Kota Solo dan Kabupaten Klaten. Pusat Penelitian Kependudukan LPPM UNS & UNICEF.

Avi, K., & Martin, L.M. (1999). Achievement Goals and Student Well-Being.

Contemporary Educational

Psychology, Vol.24 , 330-38. Bonnie, B. (2004). Resiliency: What

We Have Learned. San

Francisco: Wested.

Fraillon, J. (2004). Measuring Student Well-Being in The Context of Australian Schooling: Discussion Paper.

Fraine, B.D., Landeghem, G.V., Damme, J.V., & Onghena, P. (2005). An Analysis of

Well-Being in Secondary School with Multilevel Growth Curve Models and Multilevel Multivariate Models. Quality & Quantity, 39, 297 – 316. Frost, P. (2010). The Effectiveness of

Student Wellbeing Program

and Service. Melbourne:

Victorian Auditor-General's Report.

Fuaida, L. D., Kartika, T., & Basuki, U. (2007). Laporan

Penelitian Kualitas

Pengasuhan Anak di Panti Sosial Asuhan Anak (PSAA)

di Indonesia PSAA AL

IKHLAS Kabupaten Lombok

Barat Provinsi Nusa

Tenggara Barat. UIN, Save the children & UNICEF.

Huebner, E.S., Suldo, S.M., & Valois, R.F. (2003). Psychometric Properties of Two Brief Measures of Children’s Life Satisfaction; The Students’ Life Satisfaction Scale and the Brief Multidimensional Students Life Satisfaction Scale. Paper prepare for the Indicators of Positive Development Conference, March 12 – 13, 2003. www.childrens.org/files/huen bersuldovaloispaper.pdf, diakses tanggal 20 Februari 2014 pukul 17.00 WIB.

Jufri, Salim S A. (2011). Standar Nasional Pengasuhan untuk Lembaga Kesejahteraan

Sosial Anak.

(14)

http://www.pksa-9

kemensos.com/wp-content/uploads/2011/01/stan dart-pengasuhan.pdf. diakses pada tanggal 24 April 2014 pukul 18.00 WIB

Kanu, A., & Rimpela, M. (2002). Well-Being in School: A Conceptual Model. Health Promotion International, Vo. 17 (1), 79 – 89. Masters, G.N. (2004). Conceptualising and Researching Student Wellbeing. Australia: Research Conferences.

Muhsin. 2003. Mari Mencintai Anak Yatim. Jakarta: Gema Insani Press.

Noble, T., McGrath, H., Wyatt, T., Carbines, R., & Robb, L. (2008). Scoping Study Into

Approaches to Student

Wellbeing. Brisbane, Sydney, Canberra, Ballarat, Melbourne: Australian Catholic University.

Rahma, A. N. (2011). Hubungan Efikasi Diri dan Dukungan Sosial dengan Penyesuaian Diri Remaja di Panti Asuhan.

PSIKOISLAMKA, Jurnal

Psikologi Islam (JPI), Vol.8, 232.

Ress, G., Goswani, H. & Bradshaw, J. (2010). Developing an Index of Children’s Subjective Well Being in England.

(http://www:childrenssociety. org.uk. diakses tanggal 20

Februari 2014 pukul 17.00 WIB.

Santrock, J. W. (2004). Life Span Development Perkembangan Masa Hidup Jilid II. Jakarta: Erlangga.

Sarwono, S. N. (2014). Kasus Panti Asuhan, Sebab dan Akibat. http://www.kompas.co.id/. diakses tanggal 10 Maret 2014 pukul 18.00 WIB.

Sudrajat, T. (2008). Kurangnya Pengasuhan di Panti Asuhan. http://www.kemsos.go.id/. diakses tanggal 10 maret 2014 pukul 18.00 WIB.

Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional.

Undang-undang Republik Indonesia Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak. Wong, Donna L. (2008). Buku Ajar

Keperawatan Pediatrik.

Referensi

Dokumen terkait

( market-based view ); (4) Masukan bagi konsumen jasa pendidikan tinggi swasta sebagai bahan evaluasi apakah keinginan mereka ( voice of the customers ) telah

Pembelajaran berjalan dengan lancer, yang diawali dengan presentasi kelompok yang bertugas dalam menjadi pemateri, kemudian ada sesi tanya jawab sekaligus diluruskan oleh

Tjokro Bersaudara membutuhkan sistem informasi yang bisa membantu bagian marketing untuk melakukan perhitungan beban kerja yang lebih tepat dan menyajikan data historis

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang mendorong petani mengkonversikan lahan pertanian, dampak dari konversi lahan pertanian, pengendalian

Guru bersama siswa menarik kesimpulan bahwa: Perubahan pada daratan dapat disebabkan oleh perubahan faktor lingkungan antara lain hujan, angin, cahaya matahari,

Implementasi dari rancangan dapat dilakukan melalui beberapa program seperti penetapan kebijakan oleh pemerintah lokal maupun pusat untuk pelestarian lanskap habitat musim

Penanda hubungan kohesif referensial tipe persona adalah penanda hubungan antara bagian wacana yang satu dengan yang lainnya melalui persona. Referensi persona merupakan salah

Jangan lupa tuliskan nim, nama, dan tanda tangan anda, sebetum menjawab soat!. Koreksilah jawaban sebelum