• Tidak ada hasil yang ditemukan

5 KONFLIK SUMBERDAYA HUTAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "5 KONFLIK SUMBERDAYA HUTAN"

Copied!
64
0
0

Teks penuh

(1)

117

5 KONFLIK SUMBERDAYA HUTAN

5.1. Penyebab dan Bentuk Konflik

Konflik dalam penguasaan sumberdaya hutan pada dua kawasan konflik yaitu Taman Nasional Gunung Halimun Salak (TNGHS) dan Hutan Sungai Utik disebabkan karena adanya kebijakan negara tentang tata kelola hutan. Di TNGHS, negara mengeluarkan kebijakan tentang pelestarian hutan, sedangkan di Hutan Sungai Utik, negara mengeluarkan kebijakan pemanfaatan hutan. Konflik ini melibatkan berbagai macam aktor dengan berbagai kepentingan.

Di kawasan TNGHS, konflik yang terjadi adalah konflik negara dengan Masyarakat Kasepuhan. Negara dalam arti pemerintah pusat (Departemen Kehutanan) dalam tataran kebijakan, dan Balai Taman Nasional Gunung Halimun Salak (BTNGHS) dalam tataran praktis pengelolaan hutan kawasan Taman Nasional Gunung Halimun Salak. Adapun di Sungai Utik, konflik terjadi antara negara dengan Masyarakat Dayak Iban Sungai Utik. Negara dalam arti pemerintah pusat (Departemen Kehutanan) dan pemerintah daerah (Kabupaten Kapuas Hulu) dalam tataran kebijakan. Kebijakan negara tersebut melahirkan rezim penguasaan hutan pada tataran praktis oleh pengusaha baik pengusaha yang mengantongi izin usaha pemanfaatan hasil hutan kayu (IUPHHK) dari pemerintah pusat maupun pengusaha yang mengantongi izin usaha perkebunan (IUP) dari pemerintah daerah.

Bentuk konflik pada kawasan TNGHS dan Hutan Sungai Utik tersebut berupa konflik laten sampai konflik terbuka. Pada kawasan TNGHS, sebenarnya konflik sudah ada sejak lama, sejak terjadinya tumpang tindih kepemilikan lahan melalui klaim oleh masyarakat dan klaim oleh pihak lain atau Negara Hindia Belanda, jauh sebelum Indonesia merdeka. Namun dalam perjalanan sejarah konflik ini timbul tenggelam, kadang muncul ke permukaan menjadi konflik terbuka, kadang hanya sekedar konflik laten yang muncul di ruang wacana, tapi ketika terjadi konsensus maka konflikpun mereda.

Dalam kasus Hutan Sungai Utik, telah terjadi konflik fisik antara pihak masyarakat adat dengan pengusaha pemegang IUPHHK yang merupakan representasi negara di kawasan. Konflik ini berujung pada pengusiran secara fisik

(2)

118

termasuk perusakan alat-alat berat dari lokasi yang dilakukan oleh masyarakat terhadap pengusaha. Namun setelah pengusaha terusir dari lokasi konflikpun mereda, berubah menjadi konflik laten di ruang wacana.

5.1.a. Kasus Konflik TNGHS: Kebijakan Negara Tentang Pelestarian Hutan

Setelah merdeka, Negara Kesatuan Republik Indonesia mengeluarkan kebijakan perluasan Taman Nasional Gunung Halimun menjadi Taman Nasional Gunung Halimun Salak di tahun 2003 berdasarkan SK Menteri Kehutanan No.175/Kpts-II/2003. Taman Nasional Gunung Halimun bergabung dengan kawasan Gunung Salak di bawah pengelolaan Taman Nasional Gunung Halimun-Salak seluas 113.357 hektar (ha). Penggabungan kedua kawasan ini mencakup pula beberapa kawasan hutan lindung dan hutan produksi yang sebelumnya dikelola oleh Perum Perhutani.

Dampak dari penggabungan hutan tersebut menyebabkan masyarakat kehilangan akses dan berbagai macam haknya. Jika mengacu pada teori property right dari ostrom dan schlager (1990), dapat dibedakan hak yang dimiliki oleh masyarakat sebelum dan sesudah tahun 2003, sebagai berikut:

Tabel 9. Hak Masyarakat Kasepuhan Sebelum dan Sesudah Tahun 2003 Tipe hak (right) Sebelum tahun 2003 Sesudah tahun 2003

Access right Ya Tidak (ya tapi terbatas)

Withdrawal right Ya Tidak

Management right Ya Tidak

Exclusion right Ya Tidak

Alienation/ diversion right Tidak Tidak

Sejak tahun 2003, masyarakat mulai kehilangan berbagai macam hak, hak untuk mengelola hutan berdasarkan konsep mereka, hak untuk memanfaatkan hasil hutan, bahkan terlarang untuk memotong pohon yang pernah mereka tanam di lahan pekarangan mereka sendiri. Satu-satunya hak yang masih ada adalah hak akses untuk memasuki kawasan hutan karena beberapa masyarakat terlanjur bermukim di lokasi tersebut. Dalam kontek ini, kondisi Masyarakat Kasepuhan menunjukkan bahwa mereka kehilangan berbagai macam hak, walaupun masih ada akses untuk memasuki kawasan tapi sifatnya sangat terbatas. Ketiadaan hak (property right) membuat akses juga terbatas. Konflik menjadi tidak terhindarkan manakala kebijakan perluasan TNGHS tersebut menyebabkan Masyarakat

(3)

119 Kasepuhan kehilangan akses terhadap hutan, bahkan masyarakat kehilangan lahan garapan mereka yang berada di dalam kawasan hutan taman nasional. Mereka dilarang untuk mengerjakan lahan pertanian yang sudah lama dimiliki, padahal hutan merupakan sumber livelihood masyarakat tersebut.

Kebijakan perluasan TNGHS dikeluarkan atas pertimbangan adanya kerusakan lingkungan di kawasan tersebut. Selama tahun 1998-2001, hutan alam berkurang 25% atau penurunan sebesar 22 ribu hektar. Penurunan ini diikuti dengan peningkatan semak-semak, ladang dan lahan matang. Namun ternyata hilangnya hak akses masyarakat terhadap pengelolaan kawasan hutan, tidak serta merta memperbaiki kerusakan hutan, bahkan masih terjadi penurunan tutupan lahan setelah tahun 2003 di kawasan Taman Nasional Gunung Halimun Salak disertai terjadinya peningkatan pada kawasan ladang, kebun campuran, semak-semak termasuk lahan terbangun.

Pada tahun 2004-2007 terjadi penurunan tutupan hutan sebesar 2163,65 ha dan penurunan tutupan semak yang cukup besar yaitu dari 16.386 ha menjadi 7.875,27 ha atau sebesar 8.510,73 ha. Penurunan tutupan hutan dan semak ini diikuti oleh kenaikan pada tutupan kebun campuran seluas 4275,83 ha, tutupan ladang sebesar 2.293 ha, tutupan lahan kosong sebesar 2737 ha dan tutupan lahan terbangun seluas 1970 ha. Selama periode tahun 2007-2008, luas hutan alam di kawasan TNGHS hanya sedikit mengalami penurunan, yaitu sebesar 0,06% atau berkurang sebesar 136,44 ha. Namun terjadi kenaikan yang signifikan untuk luas kebun teh sebesar 1,4%. Kenaikan ini diikuti dengan penurunan luas kebun campuran sebesar 1,5% dan lahan kosong sebesar 1,32%. Selain itu, luas lahan terbangun juga mengalami kenaikan sebesar 0,41%. Lebih jelasnya lihat gambar berikut:

(4)

120

Grafik 1. Kondisi Hutan Selama Tahun 1989-2008 (Sumber: BTNGHS, 2010) Masyarakat Kasepuhan tidak dapat menerima begitu saja kebijakan negara tentang perluasan taman nasional. Kebijakan negara tersebut telah menghilangkan hak akses masyarakat terhadap hutan, termasuk hilangnya akses pada lahan garapan yang menjadi sumber livelihood mereka. Kondisi-kondisi tersebut menyebabkan tumbuhnya kesadaran akan kepentingan tujuan bersama di antara Masyarakat Kasepuhan (kelompok kuasi dalam istilah Dahrendorf). Masyarakat Kasepuhan yang tadinya merupakan kelompok kuasi bergeser menjadi "kelompok konflik" yang sesungguhnya. Konflik antara Masyarakat Kasepuhan dan negara (BTNGHS) pun menjadi tidak terhindarkan.

Salah satu bentuk perlawanan yang dilakukan Masyarakat Kasepuhan adalah tidak mengindahkannya perintah negara untuk penghentian aktivitas di dalam kawasan TNGHS. Rahmawati et al. (2008) menyebutkan bahwa penolakan masyarakat terhadap perluasan TNGHS pada awalnya melahirkan tindakan anarkis berupa pengrusakan beberapa fasilitas di TNGHS oleh masyarakat yang terjadi pada tahun 2003. Camat Cisolok kemudian memfasilitasi penyelesaian konflik tersebut dengan memediasi pertemuan antara masyarakat dengan pihak pengelola kawasan (BTNGHS). Hasil penting dari pertemuan tersebut adalah penanda-tanganan surat pernyataan oleh pihak pengelola kawasan yang berjanji akan merevisi peta kawasan. Meskipun sudah dicapai kesepakatan untuk meninjau ulang peta kawasan namun kesepakatan itu tidak dilaksanakan oleh pihak pengelola kawasan. Kegagalan negosiasi yang difasilitasi oleh camat tersebut semakin memojokkan kondisi Masyarakat Kasepuhan. Masyarakat berusaha melawan dengan tidak mengindahkan larangan untuk melakukan aktivitas di

0.00 10,000.00 20,000.00 30,000.00 40,000.00 50,000.00 60,000.00 70,000.00 80,000.00 90,000.00 1989 1990 1991 1992 1993 1994 1995 1997 1998 2001 2003 2004 2007 2008 TAHUN L U A S T U T U PA N (H A ) Hutan Hutan tanaman Kebun campuran Kebun karet Kebun teh Semak Rumput Sawah Ladang Lahan kosong Lahan terbangun Badan air

(5)

121 dalam kawasan. Kondisi ini kemudian melahirkan bentrokan antara masyarakat dengan pihak BTNGHS pada tahun 2005. Konflik ini bermula dari penangkapan terhadap warga yang mengambil kayu di dalam kawasan oleh pihak BTNGHS. Alasan penangkapan adalah warga tersebut tidak memiliki surat izin tebang (SIT), sedangkan menurut warga, mereka menebang pohon yang dulu mereka tanam sendiri. Konflik ini akhirnya dapat diselesaikan oleh Kepala Desa Sirna Resmi, namun warga yang menebang pohon di kawasan tersebut tetap dipenjara.

Dengan melihat kasus di atas menunjukkan bahwa konflik terjadi karena ada pemaknaan yang berbeda atas sumberdaya hutan antara negara dan masyarakat adat. Berdasarkan UU Nomor 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan Pasal 24, bahwa pemanfaatan kawasan hutan dapat dilakukan pada semua kawasan hutan kecuali pada hutan cagar alam serta zona inti dan zona rimba pada taman nasional. Menurut UU tersebut bahwa pemanfaatan hutan tidak dapat dilakukan pada kawasan taman nasional khsusnya zona inti dan zona rimba. Sementara dalam konsep Masyarakat Kasepuhan, bahwa dalam pengelolaan hutan memberi ruang bagi masyarakat adat untuk melakukan aktivitas pengelolaan lahan garapan sebagai sumber livelihood mereka. Perbedaan pemaknaan terhadap hutan tersebut membuat terjadinya perbedaan perlakuan terhadap hutan. Hal tersebut menjadi masalah ketika ada tumpang tindih klaim atas kawasan tersebut.

Dari beberapa fakta konflik di kawasan TNGHS, diketahui bahwa kekalahan masyarakat dalam beberapa kejadian tersebut menunjukkan bahwa posisi Masyarakat Kasepuhan sebagai pihak yang tersubordinasi sementara negara pusat (BTNGHS) sebagai pihak yang superordinat. Melalui kebijakan perluasan taman nasional atas nama pelestarian lingkungan inilah negara menguasai (menundukkan) Masyarakat Kasepuhan. Masyarakat dipaksa untuk menerima kebijakan negara atas alasan keselamatan lingkungan (biodiversity). Sekarang ini, konflik di TNGHS memasuki babak “konflik laten” di ruang wacana, dimana proses negosiasi sedang dilakukan untuk menyelesaikan konflik yang dapat memberikan keputusan menguntungkan bagi kedua belah pihak. Hanya saja konsensus tersebut belum dicapai.

(6)

122

5.1.b. Kasus Konflik Hutan Sungai Utik: Kebijakan Negara tentang Pemanfaatan Hutan

Konflik di Sungai Utik melibatkan banyak pihak. Ada konflik antara negara (pemerintah pusat) dengan masyarakat adat, konflik ini terjadi karena adanya kebijakan negara dalam pemanfaatan kawasan hutan. Negara dengan kebijakannya telah memberikan izin IUPHHK kepada pengusaha untuk memanfaatkan hutan. Konflik terjadi karena kebijakan negara tentang IUPHHK tersebut telah mengabaikan status kepemilikan hutan adat yang diklaim oleh Masyarakat Dayak Iban Sungai Utik.

Tahun 1984 pertama kalinya negara menerbitkan IUPHHK pada kawasan Sungai Utik. Dalam konflik antara Masyarakat Dayak Iban dan negara, ada masa dimana konflik sangat memanas menjadi konflik terbuka, tetapi ada masa-masa dimana konflik tidak kentara seakan-akan tidak pernah ada konflik. Konflik pada Masyarakat Dayak Iban datang dan timbul, memanas kemudian mengalami fase dingin (seperti virus dorman yang tidur menunggu waktu yang tepat untuk bangun), suatu hari kembali bangun dan memanas. Sebagai bukti, tahun 1984 negara mengeluarkan IUPHHK untuk PT. BI, masyarakat melawan kebijakan negara tersebut dengan cara memerangi perusahaan yang datang ke lokasi. Negara dan perusahaan pergi dari lokasi, suasana kembali tenang, tidak ada aktivitas perusahaan di lokasi tetapi izin tidak pernah dicabut.

Konflik kembali muncul ketika di tahun 1997 negara mengeluarkan kembali IUPHHK untuk PT. BRU. Akibat dari aksi negara tersebut, PT. BRU sempat beroperasi selama 1 (satu) tahun di kawasan Mungguk. Konflik terbuka antara Masyarakat Dayak Iban Sungai Utik dan PT. BRU terjadi pada tahun 1997-1998, dipicu ketika PT. BRU yang telah habis masa rencana kerja tahunan (RKT) masih melakukan pencurian kayu (menurut versi Masyarakat Dayak Iban) di wilayah Sungai Utik dan di luar areal RKT kawasan hutan Dusun Mungguk. Pihak perusahaan menutup jalan-jalan menuju areal yang ditebang sehingga aktivitas penebangan tersebut tidak diketahui oleh Departemen Kehutanan dan masyarakat adat. Saat mengetahui hal itu, Masyarakat Dayak Iban Sungai Utik dan Masyarakat Mungguk memeriksa areal penebangan, lalu melapor ke Dinas Kehutanan. Masyarakat dari Kampung Sungai Utik dan Mungguk melakukan

(7)

123 tuntutan ganti kerugian. Perusahaan memenuhi tuntutan dengan 1 mesin listrik 0,5 KVA serta pemberian fee kepada tokoh-tokoh kampung sesuai dengan jabatannya. Temenggung dan Kepala Desa memperoleh Rp. 25.000/bulan, sedangkan Kepala Dusun memperoleh Rp. 15.000/bulan selama perusahaan bekerja (berlaku surut). Setelah Masyarakat Dayak Iban Sungai Utik dan Masyarakat Mungguk serta Ketemenggungan Jalai Lintang berhasil mengusir PT. BRU, menyita alat-alat berat dan menghukum denda PT. BRU, konflik ditingkat grassrootpun mereda. Sementara, kerugian yang dialami masyarakat adalah kehilangan kayu mencapai 20.000 batang terdiri dari; Meranti, Jelutung, Merebang, Sempetir, Bantas dan Temau.

Konflik muncul kembali di tahun 2004 ketika negara menerbitkan IUPHHK bagi PT. BRW berdasarkan SK Menteri Kehutanan No. 268/Menhut-II/2004 jangka waktu 45 tahun pola tebang pilih tanam Indonesia (TPTI) dengan luas areal 110.500 ha. Menanggapi keputusan negara masyarakatpun tidak tinggal diam, mengusir PT. BRW dari lokasi, menyita alat-alat berat milik PT. BRW dan menjaga kawasan hutan sehingga PT. BRW tidak pernah aktif untuk menjalankan izin usahanya.

Dalam perjuangannya mempertahankan hak penguasaan atas kawasan Hutan Sungai Utik, Masyarakat Dayak Iban menggunakan kekuatan fisik untuk mengusir pengusaha dan mempertahankan otoritasnya atas pengelolaan kawasan Hutan Sungai Utik. Dalam konflik fisik tersebut masyarakat berhasil mengusir pengusaha dari lokasi kawasan hutan. Sementara negara selaku pemegang legalitas atas kawasan hutan tersebut juga tidak melakukan usaha represif untuk menunjukkan kekuasaannya, namun negara juga tidak pernah mencabut IUPHHKnya. Kekuasaan negara seakan-akan tidur, potensi konflik melemah, masyarakat dibiarkan mendapatkan hak akses atas hutannya, namun tidak pernah ada pengakuan dari negara atas hak kelola adat, izin IUPHHK juga tidak dicabut. Konflik memasuki babak baru sebagai konflik laten di ruang wacana.

Jika melihat kasus Sungai Utik, maka sekalipun secara formal Masyarakat Dayak Iban Sungai Utik tidak memiliki property right menurut konsep negara, namun mereka memiliki akses terhadap kawasan tersebut termasuk mempunyai semua hak: akses, withdrawal, management, exclusion dan hak alienasi. Sebelum

(8)

124

maupun sesudah terbitnya kebijakan negara, baik kebijakan pemerintah pusat maupun pemerintah daerah terhadap kawasan tersebut, Masyarakat Dayak Iban Sungai Utik tetap memiliki hak dan akses yang sama.

Sekalipun dalam prakteknya mereka memiliki akses terhadap sumberdaya hutan, artinya mereka mempunyai kemampan untuk mengambil keuntungan dari sumberdaya Hutan Sungai Utik, ketiadaan pengakuan negara atas hak masyarakat tersebut tidak membuat masyarakat hidup tenang. Masyarakat masih diliputi kecemasan, apalagi izin IUPHHK untuk PT. BRW belum dicabut sampai saat ini, bahkan jikapun suatu hari dicabut, masyarakat tetap belum bisa hidup tenang, karena ada ketakutan di kalangan masyarakat bahwa negara akan kembali menerbitkan izin IUPHHK untuk perusahaan lain.

Berdasarkan apa yang disampaikan oleh tuai rumah tersebut, maka sekalipun menurut Ribot dan Peluso (2003) akses membuat masyarakat dapat memperoleh manfaat atas sesuatu dalam hal ini sumberdaya, namun tanpa ada hak property, maka akses itu tidak memberikan ketenangan hidup. Apa yang diperjuangakan oleh Masyarakat Dayak Iban adalah hak (right), bukan hanya akses. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa right itu lebih penting daripada akses, karena right dapat menjamin kelangsungan akses.

Sejarah membuktikan konflik selalu berulang menjadi konflik terbuka, kemudian padam, menjadi konflik laten sampai suasana menjadi dingin dan terlupakan, pada saat itulah kembali negara mengeluarkan kebijakannya, konflik berulang dan seterusnya. Konflik mereda namun bersifat laten, seperti orang yang sedang tidur, namun suatu ketika konflik akan muncul kembali. Jika mengacu pada apa yang dikemukakan oleh Dahrendorf, bahwa konflik pada kawasan Sungai Utik ini merupakan konflik otoritas, dimana polarisasi yang terus menerus Seperti yang dikemukakan oleh Apai janggut (Tuai Rumah Sungai Utik): “Sekalipun suatu hari izin tersebut dicabut, namun dikawatirkan pemerintah pusat akan selalu mengeluarkan izin baru bagi perusahaan baru. Buktinya waktu tahun 1984 pemerintah mengeluarkan izin untuk PT BI, kemudian kami mengusirnya, PT BI keluar dari lokasi, kemudian setelah sekian lama izinnya dicabut tapi di tahun 1997 pemerintah mengeluarkan izin untuk PT BRU, dan di tahun 2004, pemerintah mengeluarkan izin lagi buat PT BRW. Selama hutan ini belum diakui sebagai hutan adat, maka selama itu pula percobaan untuk mengambil alih hutan oleh negara akan selalu dilakukan. Oleh karena itu tuntutan kami adalah mendapat pengakuan sebagai hutan adat”

(9)

125 ke dalam dua kelompok kepentingan untuk perebutan otoritas atas penguasaan sumberdaya Hutan Sungai Utik menjadi sebuah realitas sosial yang menandai siklus konflik otoritas di Hutan Sungai Utik.

Dalam vis a vis dengan negara, negara memegang otoritas secara formal, sementara masyarakat mempunyai otoritas kewenangan tradisional. Masyarakat sebetulnya tidak punya otoritas dan berjuang untuk memperoleh otoritas. Dalam perjuangan untuk mendapatkan otoritas pengelolaan sumberdaya hutan ini, masyarakat bisa dikatakan menang sementara karena tetap memegang otoritas mengelola secara adat, meskipun secara formal belum menang karena belum ada pengakuan formal.

Konflik sumberdaya hutan di Kalimantan Barat tersebut masih akan terus berlangsung, mengingat Hutan Kalimantan Barat masih menjadi incaran sebagai pendapatan negara disektor kehutanan. Melalui Keputusan Menteri Kehutanan Republik Indonesia Nomor: SK.266/Menhut-II/2012 tentang Penetapan Daerah Penghasil dan Dasar Penghitungan Dana Bagi Hasil Sumberdaya Alam Sektor Kehutanan Untuk Tahun 2012 disebutkan bahwa daerah penghasil sumberdaya alam sektor kehutanan ditetapkan kembali berdasarkan rencana produksi hasil hutan di daerah yang bersangkutan dengan perhitungan penerimaan provisi sumberdaya hutan (PSDH), dana reboisasi (DR), dan iuran izin usaha pemanfaatan hutan (IIUPH) tahun 2012. Selanjutnya disebutkan penghitungan penerimaan daerah penghasil sumberdaya alam sektor kehutanan adalah: a. Perkiraan penerimaan PSDH, dihitung dari target produksi hasil hutan kayu dan bukan kayu dikalikan tarif PSDH yang berlaku dikalikan harga patokan. b. Perkiraan penerimaan DR, dihitung dari target produksi hasil hutan kayu dikalikan tarif DR yang berlaku. c. Efektivitas penerimaan PSDH dan DR diasumsikan sebesar 95 % (sembilan puluh lima) perseratus. Penyaluran dana bagi hasil bagi daerah penghasil sumberdaya alam sektor kehutanan berdasarkan realisasi setoran penerimaan PSDH dan DR dari masing-masing daerah penghasil ke pemerintah u.p. Kementerian Kehutanan yang selanjutnya disetor ke kas negara. Dalam lampiran Keputusan tersebut diperoleh angka target pendapatan untuk Kabupaten Kapuas Hulu Provinsi Kalimantan Barat, bahwa pendapatan dari PSDH sebesar Rp. 9.113.156.058,13; pendapatan dari DR sebesar Rp. 19.976.713.178,52 dan

(10)

126

pendapatan dari IIUPH sebesar Rp. 1.176.350.000,00. Keberadaan SK Menteri Kehutanan tersebut memberi makna bahwa konflik sumberdaya hutan di Kalimantan Barat masih akan terjadi dan terus berlangsung, menempatkan Masyarakat Dayak Iban Sungai Utik dalam kondisi cemas sebagai kelompok konflik yang subordinat.

Ancaman lain atas keberadaan Hutan Sungai Utik ini, yaitu diterbitkannya izin usaha perkebunan (IUP). IUP tersebut diterbitkan untuk PT. MKA, PT. BSA, PT. RU, PT. BTJ dalam jangka waktu 20 tahun yang lokasinya tumpang tindih dengan IUPHHK PT. BRW. Penerbitan izin usaha perkebunan (IUP) PT. RU untuk perkebunan karet dengan Keputusan Bupati Nomor 283 Tahun 2010 tentang Izin Lokasi Untuk Perkebunan Karet Seluas 14.000 Ha di Kecamatan Embaloh Hulu, Bunut Hilir dan Embaloh Hilir, telah dirubah peruntukannya menjadi sawit dengan Surat Bupati Nomor 525/032/DKH/Bpt-A tentang Persetujuan IUP Perubahan Dari Karet Menjadi Kelapa Sawit, tertanggal 10 januari 2011.

PT. RU telah melakukan analisa dampak lingkungan (amdal) dan mencoba sosialisasi pada Masyarakat Embaloh Hulu, namun masyarakat menolak sawit. Perjuangan penolakan sawit ini masih terus dilakukan. Sungai Utik kemungkinan dikeluarkan dari sasaran sebagai lokasi perkebunan sawit karena memiliki sertifikat ekolabel dari lembaga ekolabel Indonesia dengan nomor certificate 08/SCBFM/005 yang diberikan untuk pengelolaan hutan oleh rumah panjae Menua Sungai Utik (forest management unit of rumah panjae Menua Sungai Utik), dalam lingkup “Sustainable Community Based Forest Management (SCBFM) unit with an area of 9.453,40 hectares”; dan termasuk desa yang mendapat penghargaan sebagai “Desa Perduli Hutan”, walaupun sebenarnya secara kebijakan, Hutan Sungai Utik masuk dalam peta kawasan IUP tersebut.

Dari fakta di atas terlihat bahwa konflik di Sungai Utik melibatkan banyak pihak, yaitu: negara pusat (pemerintah pusat/ Departemen Kehutanan), Masyarakat Dayak Iban Sungai Utik, negara lokal (pemerintah daerah), pengusaha yang berafiliasi dengan pemerintah pusat dan pengusaha yang berafiliasi dengan pemerintah daerah. Selain itu, diluar lingkaran konflik ada LSM yang membantu Masyarakat Dayak Iban dalam menghadapi negara, memperjuangkan kepentingan

(11)

127 dan hak masyarakat. Konflik sumberdaya hutan tersebut terjadi karena perbedaan pemaknaan terhadap hutan dan tumpang tindih kebijakan dan klaim penguasaan atas kawasan hutan.

5.2. Jenis Konflik: Pemaknaan, Tenurial, Authority dan Livelihood 5.2.a. Konflik Pemaknaan

Konflik sumberdaya hutan di TNGHS dan Hutan Sungai Utik dapat dipahami sebagai konflik pemaknaan. Konflik ini terjadi karena adanya perbedaan pandangan terhadap fungsi hutan antara masyarakat adat dan negara. Perbedaan pemaknaan tersebut dilatar-belakangi adanya perbedaan pengetahuan tentang tata kelola hutan, relasi manusia dengan alam (hutan) dan bagaimana manusia memperlakukan alam, baik dalam hal pengelolaan maupun pemanfatan hutan. Pengetahuan masyarakat adat, baik Masyarakat Kasepuhan maupun Dayak Iban Sungai Utik bersumber dari tradisi budaya berdasarkan aspek historis yang diturunkan secara turun temurun berbenturan dengan konsep pengetahuan ilmiah negara yang mendasari kebijakan negara dalam pengelolaan hutan.

Masyarakat Kasepuhan memaknai hutan sebagai tempat hidup berbagai makhluk hidup, bukan hanya manusia, tetapi juga ada banyak binatang, tumbuhan dan tempat bersemayamnya roh nenek moyang. Hutan bagi Masyarakat Kasepuhan memiliki fungsi dan makna yang sangat berarti bagi seluruh makhluk hidup. Keberadaanya harus dapat menjamin keteraturan dan keseimbangan kehidupan seluruh makhluk hidup. Pemaknaan tersebut ditopang dengan adanya sejumlah aturan untuk tidak menggunakan zat-zat kimia yang dapat membunuh keberadaan makhluk lain (binatang), sekalipun binatang tersebut merupakan hama perusak bagi tanaman mereka. Oleh karena itu dalam konsep Masyarakat Kasepuhan, manusia memiliki kewajiban untuk memelihara dan melestarikan hutan. Sejalan dengan apa yang dikemukakan oleh Kusnaka Adimiharja (1989), bahwa di kalangan warga Kasepuhan, terdapat pandangan bahwa alam semesta itu sebagai suatu sistem yang teratur dan seimbang. Alam semesta akan tetap ada selama elemen-elemennya masih terlihat dan terkontrol oleh hukum keteraturan dan keseimbangan yang dikendalikan oleh pusat kosmiknya.

Masyarakat Dayak Iban Sungai Utik memandang hutan memiliki banyak makna sesuai fungsi dari hutan tersebut. Makna dari hutan tersebut diwujudkan

(12)

128

dalam bentuk pemaknaan tempat didalam hutan sesuai dengan fungsinya. Masyarakat Dayak Iban memandang hutan sebagai sebuah kawasan yang tidak hanya terdiri dari vegetasi tumbuhan kayu melainkan juga hutan memiliki fungsi sebagai sumber air, sumber makanan dan tempat dimana mereka dapat bertapa untuk mendekatkan diri pada “betara” sang penguasa hutan dan alam semesta. Selanjutnya hutan bagi Masyarakat Dayak Iban Sungai Utik adalah kekayaan masyarakat. Hutan Sungai Utik merupakan hutan primer yang masih banyak kayu-kayu berdiameter besar, bukan hanya di hutan simpan, kayu-kayu dengan diameter lebih dari satu meter juga terdapat di lahan garapan masyarakat. Hutan ini nantinya akan diwariskan kepada anak-cucu Masyarakat Dayak Iban Sungai Utik, sebagaimana dikemukakan oleh Ape Janggut bahwa: “Meskipun tidak mempunyai harta/ materi yang banyak, tapi kami akan mewariskan hijaunya hutan kepada anak cucu nantinya. Kami mempertahankan hutan karena kami tidak ingin kelak anak-cucu kami tidak tahu apa-apa”.

Dalam sistem pengelolaan kawasan, baik Masyarakat Kasepuhan maupun Masyarakat Dayak Iban Sungai Utik memiliki pengetahuan, nilai-nilai budaya dan tradisi yang khas yang selama bertahun-tahun secara turun temurun telah digunakan untuk mengatur dan mengelola kawasan hutan berdasarkan pengetahuan lokal (indigenous knowledge) tentang tata kelola hutan yang mereka bagi dalam beberapa zona. Masyarakat Kasepuhan membaginya dalam 4 wewengkon, yaitu: leuweung titipan, leuweung tutupan, leuweung cawisan dan leuweung garapan. Sedangkan Masyarakat Dayak Iban membaginya dalam tiga kampong yaitu kampong taroh, kampong galao, dan kampong endor kerja. Sistem pengelolaan tersebut berdasarkan atas fungsi dari masing-masing kawasan, sebagai wilayah lindung (keramat); bertani (ladang); berkebun, dan berdasarkan pada peruntukan yaitu berburu, meramu dan mengambil manfaat tanaman obat-obatan. Tata kelola hutan dalam konsep masyarakat adat tersebut bukan hanya sekedar konsep zonasi, namun merupakan sistem pengetahuan karena basis dari pengetahuan masyarakat tersebut adalah sejarah.

Adapun pemaknaan hutan menurut negara dipengaruhi oleh sistem pengetahuan negara yang bersumber dari pengetahuan ilmiah (scientific knowledge). Peraturan perundang-undangan adalah wujud dari pengetahuan

(13)

129 ilmiah. Berdasarkan UU Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumberdaya Alam Hayati Dan Ekosistemnya, taman nasional didefinisikan sebagai kawasan pelestarian alam yang mempunyai ekosistem asli, dikelola dengan sistem zonasi yang dimanfaatkan untuk tujuan penelitian, ilmu pengetahuan, pendidikan, menunjang budidaya, pariwisata dan rekreasi alam. Sementara itu, berdasarkan UU No. 41 Tahun 1999 Pasal 28 bahwa (1) pemanfaatan hutan produksi dapat berupa pemanfaatan kawasan, pemanfaatan jasa lingkungan, pemanfaatan hasil hutan kayu dan bukan kayu, serta pemungutan hasil hutan kayu dan bukan kayu. (2) pemanfaatan hutan produksi dilaksanakan melalui pemberian izin usaha pemanfaatan kawasan, izin usaha pemanfaatan jasa lingkungan, izin usaha pemanfaatan hasil hutan kayu, izin usaha pemanfaatan hasil hutan bukan kayu, izin pemungutan hasil hutan kayu, dan izin pemungutan hasil hutan bukan kayu. Selanjutnya berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 6 Tahun 1999 tentang Pengusahaan Hutan dan Pemungutan Hasil Hutan pada Hutan Produksi Pasal 1, bahwa hutan produksi adalah kawasan hutan yang diperuntukkan guna produksi hasil hutan untuk memenuhi keperluan masyarakat pada umumnya dan khususnya untuk pembangunan, industri dan eksport.

Selanjutnya dalam Pasal 1 Peraturan Menteri Kehutanan Nomor P.18/Menhut-II/2004 disebutkan bahwa hutan produksi adalah kawasan hutan yang mempunyai fungsi pokok memproduksi hasil hutan. Kawasan hutan produksi adalah wilayah tertentu yang ditunjuk dan/atau ditetapkan oleh pemerintah untuk dipertahankan keberadaannya sebagai hutan tetap yang mempunyai fungsi pokok memproduksi hasil hutan. Lebih lanjut, untuk memperoleh izin usaha pemanfaatan hasil hutan kayu pada hutan alam dengan kegiatan restorasi ekosistem perlu adanya kriteria kawasan hutan produksi yang dapat diberikan izin usaha pemanfaatan hasil hutan kayu pada hutan alam dengan kegiatan restorasi ekosistem.

Berdasarkan peraturan perundang-undangan di atas, diketahui bahwa negara memaknai hutan sebagai sumber ekonomi, sementara itu masyarakat memaknai hutan sebagai ruang kehidupan. Pengetahuan memberi kekuasaan kepada para pihak untuk mengontrol dan mengelola sumberdaya hutan. Pemaknaan dari negara atas hutan cenderung mendominasi pemaknaan masyarakat atas hutan,

(14)

130

karena negara memainkan UU sebagai alat kekuasaan, sementara masyarakat dipaksa untuk mematuhi aturan yang datang dari negara sebagai konsekuensi warga negara Indonesia.

Baik tentang konservasi hutan maupun pemanfaatan hutan, pengetahuan negara didukung oleh kekuatan kekuasaan politik dan kelembagaan yang secara legitimasi memberikan kekuatan kepada negara untuk mempengaruhi bahkan mendominasi sistem pengetahuan tradisional yang dianut oleh masyarakat adat. Dominasi sistem pengetahuan negara atas masyarakat adat melahirkan perilaku perlawanan dari masyarakat melalui perjuangan di ruang pengetahuan, antara lain pada arena seminar, pertemuan ilmiah, negosiasi dan kesepakatan-kesepakatan yang dibangun. Dalam konteks seperti ini, maka pendekatan Foucault digunakan untuk melihat bagaimana konstelasi kekuasaan pengelolaan dan pemanfaatan hutan dimainkan, dimana pengetahuan dipandang sebagai kekuasaan. Melalui politik mikro kekuasaan, dapat dilihat bagaimana negara dengan pengetahuan modern berusaha mengkooptasi pengetahuan masyarakat dan meyakinkan masyarakat bahwa pengetahuan negara mampu menjawab berbagai permasalahan di sekitar hutan, melalui kelembagaan negara dan berbagai ruang komunikasi yang telah diintroduksir kepada masyarakat adat.

5.2.b. Konflik Tenurial

Pengetahuan dan pemaknaan atas tata kelola hutan di dua kawasan hutan (TNGHS dan Hutan Sungai Utik) melahirkan klaim penguasaan atas hutan. Klaim atas penguasaan lahan inilah yang melahirkan konflik tenurial, yaitu konflik atas tanah, dimana tanah (termasuk konsesi, perkebunan, kawasan lindung, kawasan masyarakat subsisten) selalu menemukan diri mereka dalam situasi konflik atas penguasaan tanah dan sumberdaya hutan. Konflik tenurial dalam kawasan hutan selama ini terjadi akibat adanya klaim penguasaan lahan oleh negara dan masyarakat. Klaim penguasaan lahan oleh negara didasarkan atas peraturan perundang-undangan, sedangkan masyarakat adat mengklaim penguasaan lahan/ hutan berdasarkan hukum adat/ ulayat.

Dalam konsep negara, adanya dualisme system pertanahan yaitu system pertanahan yang diatur dalam UU Agraria dan dalam UU Kehutanan. Tanah dalam konsep Negara Kesatuan Republik Indonesia diatur dalam UUD 1945 Pasal

(15)

131 33 Ayat (3) bahwa “Bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung didalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat”. Undang-undang tersebut memberi makna bahwa tanah dan kekayaan di dalamnya adalah dalam penguasaan negara.

Berdasarkan UU No. 5 Tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokok-Pokok Agraria Pasal 4 Ayat (1) bahwa atas dasar hak menguasai dari negara ditentukan adanya macam-macam hak atas permukaan bumi, yang disebut tanah, yang dapat diberikan kepada dan dipunyai oleh orang-orang, baik sendiri maupun bersama-sama dengan orang-orang lain serta badan-badan hukum. (2) hak-hak atas tanah yang dimaksud memberi wewenang untuk mempergunakan tanah yang bersangkutan, demikian pula tubuh bumi dan air serta ruang yang ada di atasnya, sekedar diperlukan untuk kepentingan yang langsung berhubungan dengan penggunaan tanah itu dalam batas-batas menurut undang-undang ini dan peraturan-peraturan hukum lain yang lebih tinggi. Selanjutnya dalam pasal 5 disebutkan bahwa hukum agraria yang berlaku atas bumi, air dan ruang angkasa ialah hukum adat, sepanjang tidak bertentangan dengan kepentingan nasional dan negara, yang berdasarkan atas persatuan bangsa, dengan sosialisme Indonesia serta dengan peraturan-peraturan yang tercantum dalam undang-undang ini dan dengan peraturan-perundangan lainnya, segala sesuatu dengan mengindahkan unsur-unsur yang bersandar pada hukum agama.

Sementara itu, dalalm UU No. 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan Pasal 4 Ayat (1), bahwa semua hutan di dalam wilayah Republik Indonesia termasuk kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat. Selanjutnya dalam Pasal 4 Ayat (3), bahwa penguasaan hutan oleh negara tetap memperhatikan hak masyarakat hukum adat, sepanjang kenyataannya masih ada dan diakui keberadaannya, serta tidak bertentangan dengan kepentingan nasional. Dalam Pasal 5 disebutkan bahwa hutan berdasarkan statusnya terdiri dari: hutan negara, dan hutan hak. Hutan negara dapat berupa hutan adat, dimana hutan adat ditetapkan sepanjang menurut kenyataannya masyarakat hukum adat yang bersangkutan masih ada dan diakui keberadaannya. Apabila dalam perkembangannya masyarakat hukum adat yang

(16)

132

bersangkutan tidak ada lagi, maka hak pengelolaan hutan adat kembali kepada pemerintah.

Dualisme system pertanahan menurut UUPA dan menurut UU Kehutanan ini memberikan hak penguasaan atas tanah kawasan hutan pada sistem penguasaan lahan menurut negara (pemerintah) dan masyarakat adat. Namun demikian disebutkan bahwa hak penguasaan oleh masyarakat adat tersebut diakui selama tidak bertentangan dengan kepentingan nasional dan negara dan selama masyarakat hukum adat yang bersangkutan masih ada dan diakui keberadaannya

Faktanya, pada kawasan hutan di TNGHS dan Hutan Sungai Utik, berlaku dua sistem penguasaan lahan, yaitu sistem penguasaan lahan menurut negara dan masyarakat. Secara de jure kawasan hutan berada dalam penguasaan negara, namun secara de facto dikuasai oleh masyarakat yang secara turun temurun tinggal dan menggantungkan hidupnya dari hutan dan hasil hutan. Klaim wilayah menurut masyarakat adat ditentukan berdasarkan aspek historis, sebagai berikut:

Matrik 2. Klaim Wilayah Menurut Masyarakat Adat Kasepuhan dan Dayak Iban Sungai Utik

TNGHS Sungai Utik

Aktor lokal Masyarakat Kasepuhan Masyarakat Dayak Iban Sungai Utik

Lamanya tinggal di

kawasan Sejak 634 tahun yang lalu Sejak 1972 Penanda klaim atas

wilayah adat Makam keramat nenek moyang Tembawai (bekas rumah panjang) Penanda klaim atas

kepemilikan individual

Ladang dan bekas

bukaan ladang Ladang dan bekas bukaan ladang/ ladang yang ditinggalkan (damun)

Berdasarkan tabel di atas diketahui bahwa Masyarakat Kasepuhan sudah ada di lokasi sejak 634 tahun yang lalu sejak perpindahan pertama komunitas Kasepuhan dari jasinga ke bogor. Adapun sejarah penguasaan wilayah Sungai Utik oleh Masyarakat Dayak Iban Sungai Utik relatif masih baru sejak 1972. Sebelumnya suku Dayak Iban tersebut berasal dari Lanjak tahun 1800-an, tercatat ada 12 tembawai (bekas rumah panjang) sebelum sampai di Dusun Sungai Utik. Sebelum tahun 1972, wilayah Sungai Utik dikuasai oleh Dayak Embaloh, selanjutnya wilayah tersebut diberikan dari Suku Embaloh kepada Dayak Iban dengan sebuah perjanjian adat (lihat bab 4).

(17)

133 Dalam kepemilikan tanah menurut adat, ada yang disebut kepemilikan kolektif, ada kepemilikan individu. Kepemilikan kolektif adalah kepemilikan adat, yaitu apa yang disebut sebagai kepemilikan adat atau tanah ulayat. Adapun kepemilikan individu ini baik di Masyarakat Kasepuhan maupun pada Masyarakat Dayak Iban Sungai Utik ditandai dengan bekas ladang. Orang yang pertama kali membuka ladang, maka dialah yang akan menjadi pemilik lahan tersebut. Bekas ladang dalam istilah Dayak Iban disebut “damun”. Baik kepemilikan kolektif maupun kepemilikan individu, tanah tersebut disebut tanah adat atau tanah dalam penguasaan adat.

Masalahnya klaim tanah oleh masyarakat adat tersebut tidak memiliki bukti hitam diatas putih (sertifikat), melainkan hanya aspek kesejarahan. Klaim tersebut akan berbenturan dengan klaim oleh negara selaku penguasa seluruh tanah berdasarkan peraturan perundang-undangan negara. Berdasarkan UUPA Pasal 19 Ayat (1), bahwa untuk menjamin kepastian hukum oleh pemerintah diadakan pendaftaran tanah di seluruh wilayah Republik Indonesia menurut ketentuan-ketentuan yang diatur dengan peraturan pemerintah. Hal tersebut bermakna bahwa semua tanah harus terdaftar. Tanah tanpa judul diasumsikan milik negara (MacAndrews, 1986). Artinya bahwa tanah tanpa sertifikat diakui sebagai tanah negara.

Dengan demikian, konflik sumberdaya hutan pada TNGHS dan Hutan Sungai Utik menunjukkan adanya konflik atas tanah dan sumberdaya hutan dimana masing-masing pihak mengklaim bahwa tanah dan sumberdaya hutan tersebut merupakan miliknya. Negara mengklaim bahwa kawasan hutan tersebut sebagai hutan negara, TNGHS sebagai hutan konservasi sedangkan Hutan Sungai Utik sebagai hutan produksi. Adapun masyarakat adat juga mengklaim bahwa kawasan tersebut sebagai kawasan hutan adat. Oleh karena itu, konflik pada Masyarakat Kasepuhan dan Masyarakat Dayak Iban Sungai Utik dapat disebut juga sebagai konflik tenurial.

Konflik tenurial ini terjadi berawal dari adanya politik teritorialisasi. Melalui perspektif historis dapat dijelaskan teritorialisasi kawasan hutan yang bermula dari sistem lokal yang dijalankan masyarakat hingga masuknya politik teritorialisasi yang diperkenalkan pemerintah kolonial dan pemerintah Indonesia

(18)

134

merdeka. Realitas konflik sumberdaya hutan sebagai politik teritorialisasi pernah dikemukakan juga oleh Maring (2010) dalam melihat masyarakat sekitar Gunung Noge. Sama halnya dengan apa yang terjadi di Masyarakat Lerokloang Flores NTT (Maring, 2010), bahwa sistem teritorialisasi yang dijalankan Masyarakat Kasepuhan di TNGHS dan Masyarakat Dayak Iban di Sungai Utik bisa dilihat dalam dua hal, yaitu sejarah teritorialisasi sistem penguasaan tanah dan teritorialisasi penguasaan atau pemanfaatan sumberdaya alam.

Matrik 3. Teritorialisasi Masyarakat Kasepuhan dan Masyarakat Dayak Iban Sungai Utik

TNGHS Sungai Utik

Sistem penguasaan

tanah Sistem penguasaan tanah adat dan penguasaan individu.

Sistem penguasaan tanah adat dan penguasaan individu.

Pemanfaatan

sumberdaya alam Melalui konsep zonasi menurut adat Melalui konsep zonasi menurut adat

Berdasarkan tabel di atas, bahwa sistem penguasaan tanah pada Masyarakat Kasepuhan maupun Masyarakat Dayak Iban Sungai Utik terdiri atas dua sistem penguasaan tanah yaitu penguasaan tanah adat dan penguasaan tanah individu. Adapun sistem pemanfaatan sumberdaya alam dilakukan melalui konsep zonasi menurut adat. Masyarakat Kasepuhan membagi hutan ke dalam 4 wewengkon (zonasi) yaitu leuweung titipan, leuweung tutupan, leuweung cawisan dan leuweung garapan, sedangkan Masyarakat Dayak Iban Sungai Utik membagi hutan kedalam 3 kawasan yaitu kampong taroh, kampong galao dan kampong endor kerja. Setiap zona tersebut mencerminkan adanya hak, kewajiban dan larangan yang harus dipatuhi oleh masyarakat.

Adapun hak yang dimiliki masyarakat dapat didentifikasi sebagai berikut: hak penggunaan kawasan baik untuk nilai ekonomi langsung maupun tidak langsung; hak meminjamkan atau mengalihkan kepemilikan; mekanisme kontrol atas penggunaan hak; kewajiban dan larangan bagi setiap individu yang terikat atas hak tersebut; dan simbol-simbol adat yang menandai adanya kepemilikan atas sumberdaya hutan. Dikedua masyarakat baik Kasepuhan maupun Dayak Iban Sungai Utik memperlihatkan bahwa hak kepemilikan tidak didasarkan atas pemberian negara atau dokumentasi formal, namun lebih memperlihatkan suatu perkembangan dinamis di tingkat lokal. Bagaimana masyarakat sepanjang sejarah

(19)

135 penguasaan atas tanah dan sumberdaya hutan tersebut mengembangkan pengetahuan dan norma-norma yang memberi hak, kewajiban dan larangan bagi masyarakatnya dalam pengelolaan dan pemanfaatan sumberdaya hutan.

Bila dilihat dari aspek kesejarahan, dapat dikemukakan bahwa dalam sejarah TNGHS, terjadi beberapa kali tumpang tindih klaim pengusaan tanah oleh pemerintah dari mulai Zaman Hindia Belanda sampai masa Indonesia merdeka, dengan klaim oleh Masyarakat Adat Kasepuhan. Pengalaman pada Masyarakat Kasepuhan menunjukkan bahwa sejak masa penjajahan telah terjadi perampasan tanah-tanah masyarakat untuk kepentingan negara. Selanjutnya negara membatasi ruang gerak masyarakat dengan menyediakan tanah-tanah yang diperuntukkan untuk huma, namun dalam statusnya tanah tersebut merupakan tanah negara. (lihat Zwart, 1924: 33, Thieme, 1920 dalam Galudra et al., 2005).

Beberapa kali Masyarakat Kasepuhan kehilangan hak atas tanah. Sampai pada akhirnya di tahun 1957, pemerintah menerbitkan Peraturan Pemerintah No. 64 Tahun 1957 tentang Penyerahan Sebagian dari Urusan Pemerintah Pusat Dilapangan Perikanan Laut, Kehutanan dan Karet Rakyat Kepada Daerah-Daerah Swatantra Tingkat I, yang menyebutkan bahwa kegiatan pengelolaan hutan serta eksploitasinya, terutama di Jawa dan Madura, diserahkan kepada Pemerintah Daerah Swatantra. Selanjutnya dalam Pasal 11 Peraturan Pemerintah No. 64 Tahun 1957 disebutkan bahwa pemerintah daerah mengatur pemberian izin kepada penduduk yang tinggal di sekitar hutan yang bersangkutan untuk mengambil kayu dan hasil hutan lainnya untuk dipergunakan sendiri oleh penduduk termaksud. Berdasarkan PP tersebut, maka pada masa ini negara (pemerintah daerah) mengizinkan masyarakat lokal melakukan aktivitas di kawasan Gunung Halimun Salak, dengan mewajibkan masyarakat tersebut memberikan sebagian hasil panennya (kabubusuk) kepada pemerintah daerah. Keputusan pemerintah daerah tersebut menandai adanya kesepakatan antara pemerintah (negara) dengan masyarakat, dimana masyarakat mengakui adanya “right” negara di kawasan tersebut, namun mereka pun memiliki “akses” terhadap hutan, baik untuk kegiatan ekonomi livelihood, maupun untuk tradisi budaya adat Kasepuhan yang mengelola hutan melalui konsep pengetahuan lokal tentang “wewengkon”.

(20)

136

Ketika di tahun 1992, negara melalui Surat Keputusan Menteri Kehutanan No. 282/Kpts-II/1992, merubah status hutan cagar alam (Gunung Halimun) Menjadi Taman Nasional Gunung Halimun seluas 40.000 hektar. Di luar kawasan Taman Nasional Gunung Halimun, pengelolaannya dilakukan oleh Perhutani dan berstatus sebagai hutan produksi. Pada masa ini, masyarakat masih diizinkan untuk melalukan aktivitas didalam kawasan hutan, mengelola hutan bersama-sama dengan Perum Perhutani, dengan memberikan sebagian hasil panen 15-25% kepada Perum Perhutani. Kondisi ini menunjukkan bahwa masyarakat mengakui “right” negara, selama mereka memiliki “akses” terhadap hutan, baik untuk kegiatan ekonomi livelihood maupun untuk tradisi budaya dalam pengelolaan kawasan hutan berdasarkan pengetahuan lokal.

Pada tahun 2003 negara menerbitkan SK Menteri Kehutanan No.175/Kpts-II/2003 tentang Penunjukkan Kawasan Taman Nasional Gunung Halimun Dan Perubahan Fungsi Kawasan Hutan Lindung, Hutan Produksi Tetap, Hutan Produksi Terbatas Pada Kelompok Hutan Gunung Halimun Dan Kelompok Hutan Gunung Salak Seluas 113.357 Hektar Menjadi Taman Nasional Gunung Halimun-Salak. Berdasarkan SK tersebut, semua kawasan Gunung Halimun Salak menjadi taman nasional. Dasar pertimbangan diterbitkannya SK ini adalah kerusakan hutan pada kawasan pengelolaan oleh Perum Perhutani dan masyarakat adat. Sejak saat itu Masyarakat Kasepuhan bukan hanya kehilangan “right”, melainkan juga kehilangan akses. Kondisi ini tentu saja akan menempatkan negara dan masyarakat pada situasi konflik.

Masyarakat Kasepuhan selalu terlibat dalam konflik dengan negara sejak dulu, sejak zaman penjajahan, namun konflik selalu mereda ketika masyarakat mempunyai akses terhadap tanah untuk kepentingan livelihood dan akses terhadap pengaturan hutan berdasarkan pengetahuan lokal masyarakatnya. Sekalipun mereka kehilangan hak (property right) atas tanah tersebut, selama memiliki akses terhadap kawasan, masyarakat dapat menerima keberadaan kepemilikan yang diklaim oleh negara. Ribot dan peluso (2003) mendefinisikan akses sebagai kemampuan untuk memperoleh keuntungan dari sesuatu, dalam hal ini sesuatu tersebut adalah sumberdaya hutan. Namun ketika aksespun tidak ada maka konflik menjadi tidak terelakkan.

(21)

137 Sejarah penguasaan kawasan Hutan Sungai Utik berbeda dengan TNGHS. Penguasaan Masyarakat Dayak Iban Sungai Utik di kawasan Hutan Sungai Utik baru dimulai sejak tahun 1972. Masyarakat Dayak Iban mewarisi kawasan tersebut dari Suku Dayak Embaloh. Tahun 1984, tahun 1997, tahun 2004 menjadi momentum penting dalam sejarah penguasaan kawasan hutan oleh negara. Pada tahun-tahun tersebut terjadi konflik fisik secara terbuka antara Masyarakat Dayak Iban Sungai Utik dengan pengusaha (yang mengantongi izin IUPHHK dari negara) sebagai reaksi masyarakat atas kebijakan negara. Sekalipun masyarakat berhasil mengusir pengusaha dari lokasi, namun konflik tenurial tidak pernah reda. Perjuangan masyarakat untuk mendapatkan “right” tidak pernah berhenti.

Fakta tersebut menunjukkan bahwa sekalipun jangka waktu penguasaan atas tanah dan Hutan Sungai Utik belum lama (sejak tahun 1972), namun sejarah membuktikan bahwa keberadaan mereka di kawasan tersebut sangat dominan. Mereka memiliki semua hak akses terhadap hutan. Bahkan keberadaan kebijakan pemerintah (baik pusat maupun daerah) tidak mampu mengeluarkan masyarakat dari kawasan tersebut. Sekalipun secara formal mereka tidak memiliki property right, namun mereka mempunyai akses. Mereka mempunyai ability untuk mengelola dan mengambil manfaat dari kawasan hutan.

Menurut ribot dan peluso (2003), dengan memfokuskan pada kemampuan (ability) dari pada right sebagaimana dalam theory property, formulasi ini membawa perhatian pada berbagai hubungan sosial yang dapat memaksa atau memungkinkan masyarakat untuk memperoleh keuntungan dari sumberdaya tanpa memfokuskan pada hubungan property saja. Artinya sekalipun Masyarakat Dayak Iban tidak memiliki property right (dalam konsep negara) tetapi mereka mempunyai akses terhadap hutan. Akses adalah lebih mirip dengan bundle power (ikatan kekuasaan) ketimbang property yang merupakan suatu ikatan right (bundle of right). Sehingga bagaimanapun juga hak kepemilikan merupakan hal yang penting bagi kedua masyarakat baik Kasepuhan maupun Dayak Iban dalam rangka menjamin kelangsungan akses. Sebagaimana diakui oleh Bromley (1998; 200), McCay dan Acheson (1987), Lynch & Harwell (2006) bahwa hak kepemilikan merupakan faktor penting dalam pengelolaan sumberdaya alam.

(22)

138

5.2.c. Konflik Authority (Konflik Otoritas)

Klaim atas penguasaan kawasan memberi otoritas kepada masing-masing aktor untuk mengelola dan memanfaatkan hutan. Keberadaan tumpang-tindih klaim atas kawasan hutan oleh masing-masing aktor menunjukkan adanya otoritas aktor yang saling berhadapan. Kondisi ini menyebabkan terjadinya konflik otoritas. Konflik otoritas ini melibatkan kelembagaan sebagai alat otoritas. Otoritas inilah yang menjadi legitimasi masing-masing pihak yang saling berhadapan. Semua pihak mengklaim bahwa sumberdaya hutan tersebut adalah wilayah otoritasnya. Wujud kekuasaan muncul dalam bentuk institusi dan aktor. Melalui institusi inilah kekuasaan aktor bekerja. Dalam kasus konflik sumberdaya hutan di TNGHS dan Hutan Sungai Utik, setidaknya terdapat dua otoritas yang saling berhadapan yaitu otoritas negara dan otoritas masyarakat.

Masyarakat mengklaim memiliki otoritas atas kawasan hutan, dimana dengan pengetahuan lokalnya selama turun temurun masyarakat telah hidup bersama hutan. Hutan menjadi ciri penanda dari teritori masyarakat adat. Dengan kata lain hutan adalah bagian dari ciri kekuasaan masyarakat adat atas kawasan tersebut, atau dapat juga dikatakan bahwa hutan menjadi penanda otoritas masyarakat adat atas kawasan tersebut. Ketika negara menetapkan kawasan tersebut sebagai kawasan hutan negara melalui kebijakan konservasi ataupun kebijakan IUPHHK, sebenarnya negara sedang menandai kawasan tersebut sebagai wilayah teritorinya. Dengan kata lain menandai adanya otoritas negara yang bekerja pada kawasan tersebut. Otoritas negara atas pengelolaan dan pemanfaatan sumberdaya hutan ditandai dengan adanya kelembagaan baru yang diterbitkan oleh negara, berupa kebijakan negara dalam pengelolaan dan pemanfaatan hutan. Ketika ada dua otoritas yang bekerja pada satu kawasan, maka konflik pun menjadi tidak terhindarkan. Konflik terjadi karena adanya perebutan otoritas antara pihak negara selaku pemilik formal otoritas atas sumberdaya hutan dengan masyarakat adat. Otoritas negara diperoleh berdasarkan peraturan perundang-undangan, sedangkan otoritas masyarakat diperoleh berdasarkan tradisi budaya dan historis yang diwariskan secara turun temurun.

Pada kasus Hutan Sungai Utik, aktor negara dengan otoritas yang formal yang dimilikinya telah memberikan otoritas pemanfaatan hutan pada pengusaha,

(23)

139 sehingga pada kasus Sungai Utik konflik otoritas tersebut berada pada dua level, yaitu level grassroot menghadapkan masyarakat dan pengusaha, sedangkan pada level kebijakan menghadirkan pertentangan otoritas antara masyarakat dan negara. Negara dalam arti pemerintah pusat (Departemen Kehutanan) yang mengeluarkan IUPHHK, dan pemerintah daerah (Kabupaten Kapuas Hulu) yang mengeluarkan IUP. Semakin tajam konflik sumberdaya alam (hutan) maka semakin terlihat adanya pihak yang tersubordinasi dan pihak lain yang menjadi superordinat. Dalam kasus konflik di TNGHS dan Hutan Sungai Utik ditemukan bahwa negara dengan otoritas formalnya menduduki posisi otoritas superordinat yang mengendalikan subordinat. Menurut Dahrendorf bahwa dalam suatu sistem sosial mengharuskan adanya otoritas, dan relasi-relasi kekuasaan yang menyangkut pihak superordinat dan subordinat. Dengan demikian maka tampaklah bahwa ada pembagian wewenang dan otoritas yang jelas antara pihak yang berkuasa dengan pihak yang dikuasai.

Dahrendorf mengakui terdapat perbedaan otoritas di antara kelompok yang memiliki sedikit dan banyak kekuasaan. Dengan demikian konflik terjadi karena adanya pertentangan mengenai legitimasi hubungan-hubungan kekuasaan. Dalam kasus TNGHS, jelas terlihat hubungan kekuasaan antara kelompok-kelompok konflik yaitu Masyarakat Kasepuhan sebagai pihak yang tersubordinasi dan BTNGHS sebagai pihak yang superordinat. Sebagai pihak yang subordinat, Masyarakat Kasepuhan melakukan perjuangan untuk memperoleh otoritas atas penguasaan sumberdaya hutan. Distribusi otoritas yang tidak merata antar kelompok konflik inilah yang menyebabkan konflik terus terjadi. Dalam kasus Sungai Utik, kesadaran akan adanya masalah dan musuh bersama membuat Masyarakat Dayak Iban sangat solid untuk berjuang mempertahankan otoritasnya, perjuangan yang terus menerus ini melahirkan formasi baru dimana Masyarakat Dayak Iban Sungai Utik selaku pihak yang tersubordinasi mampu mempertahankan otoritasnya dengan menguasai kontrol atas sumberdaya Hutan Sungai Utik.

(24)

140

Matrik 4. Analisis Perbandingan Otoritas Dalam Pengelolaan dan Pemanfaatan Sumberdaya Hutan (SDH) di TNGHS dan Hutan Sungai Utik

No Indikator Kasepuhan Dayak Iban Sungai Utik 1 Otoritas

tertinggi Abah Tuai Rumah dan musyawarah adat 2 Kewenangan

dalam SDH/ SDA

Abah mengatur tata cara bagaimana memperlakukan hutan dan sumberdaya alam lainnya; memimpin upacara untuk meminta izin kepada roh nenek moyang ketika ada warga yang akan memasuki hutan atau mengambil manfaat atas hutan; memiliki kewenangan dalam menentukan sanksi bagi warga yang melanggar peraturan

Tuai Rumah mengatur tata cara bagaimana memperlakukan hutan dan sumberdaya alam lainnya; memimpin upacara untuk meminta izin kepada roh nenek moyang ketika ada warga yang akan memasuki hutan atau mengambil manfaat atas hutan; memiliki kewenangan dalam menentukan sanksi bagi warga yang melanggar peraturan

3 Basis legitimasi kekuasaan

Adat melalui wangsit yang

dikukuhkan oleh

musyawarah adat yang diwakili oleh setiap kolot lembur (perwakilan kampung).

Adat melalui sejarah pertama kali yang menancapkan tiang di rumah panjae atau kepemilikan tanah yang paling banyak selanjutnya otomatis diwariskan kepada keturunannya. 4 Potensi konflik otoritas yang terjadi Konflik memungkinkan terjadi didalam Kasepuhan itu sendiri, karena adanya strata dalam kelembagaan Kasepuhan.

Konflik antara Kasepuhan yang satu dengan Kasepuhan yang lain dalam angka perebutan pengaruh di kalangan warganya.

Konflik dengan negara dimana kelembagaan negara telah menegasikan hak akses Masyarakat Kasepuhan atas kelola hutan adat mereka yang berubah menjadi taman nasional

Konflik memungkinkan terjadi di dalam rumah panjae, manakala ada persaingan antara tuai rumah dan kepala desa dalam rangka perebutan pengaruh atas warganya.

Konflik dengan sesama Masyarakat Dayak Iban di dusun lain juga terjadi akibat perbedaan pandangan dalam memperlakukan sumberdaya hutan/ alam lainnya.

Konflik dengan negara terjadi karena pengakuan negara atas hutan adat mereka sebagai hutan negara yang dilegitimsi dengan keluarnya izin IUPHHK dari pemerintah pusat dan IUP dari pemerintah daerah

Berdasarkan matrik di atas, diketahui bahwa otoritas tertinggi pada Masyarakat Kasepuhan berada pada tangan “abah” (kepala suku Masyarakat Kasepuhan). Kedudukan abah lebih tinggi dari kedudukan masyarakat biasa. Hal inilah yang membuat abah memiliki otoritas dominan dibandingkan anggota masyarakat lainnya. Basis legitimasi otoritas adat Masyarakat Kasepuhan adalah wangsit melalui abah yang dikukuhkan dengan musyawarah adat. Adapun pada

(25)

141 Masyarakat Dayak Iban, otoritas tertinggi ada pada “tuai rumah” dan musyawarah adat. Artinya kedudukan tuai rumah setingkat dengan masyarakat lainnya. Kebijakan-kebijakan yang dibuat oleh tuai rumah didasarkan atas musyawarah adat. Basis legitimasi Masyarakat Dayak Iban adalah sejarah pertama kali penancapan tiang atau kepemilikan tanah. Otoritas masyarakat adat dalam penguasaan sumberdaya hutan tersebut menjadi potensi konflik, baik konflik antara masyarakat adat dengan negara, maupun konflik didalam kelembagaan adat tersebut. Selanjutnya bukti adanya otoritas Masyarakat Kasepuhan dan Dayak Iban Sungai Utik dapat dibedakan berdasarkan nilai-nilai budaya, boundary, rules, dan territory.

Matrik 5. Perbedaan Otoritas Antara Masyarakat Kasepuhan dan Dayak Iban

TNGHS Sungai Utik

Nilai-nilai

budaya Ada penetapan nilai nilai dan hukum adat yang ketat yang diberlakukan bagi warga hukum adatnya maupun pada

masyarakat lain.

Ada penetapan nilai nilai dan hukum adat yang ketat yang diberlakukan bagi warga hukum adatnya maupun pada masyarakat lain.

Boundary Tidak ada batas yang jelas

mengenai wilayah kekuasaan Ada batas yang jelas yang membedakan kawasan kekuasaan hukum dan nilai-nilai adat Rules Sanksi hukum lebih banyak

berupa sanksi hukum yang abstrak berupa kualat dan

kabendon (sanksi gaib dari roh

nenek moyang);

Ketika berhadapan dengan hukum negara, maka yang digunakan adalah sanksi hukum negara.

Sanksi hukum memiliki dua tipe. Pertama sanksi hukum adat yang nyata yang dibukukan dalam sebuah buku peraturan hukum adat dan sanksi abstrak “tulah” (sanksi gaib dari roh nenek moyang);

Ketika berhadapan dengan hukum negara pun, masyarakat lebih mendahulukan hukum adat. Territori (klaim

atas wilayah) Klaim atas wilayah pada Masyarakat Kasepuhan tidak terlalu kuat, belum ada kesepakan yang jelas antara masing-masing Kasepuhan maupun dengan taman nasional.

Klaim atas wilayah (batas wilayah) sangat jelas disepakati berdasarkan masing-masing subsuku yang saling berbatasan, sudah memiliki peta partisipatif walaupun belum diregistrasi oleh negara.

Dengan membanding dua lokasi TNGHS dan Hutan Sungai Utik, diketahui bahwa otoritas masyarakat adat Kasepuhan tidak terlalu kuat dibandingkan dengan otoritas Masyarakat Dayak Iban Sungai Utik. Kuatnya otoritas Masyarakat Dayak Iban Sungai Utik tersebut ditunjang oleh adanya territori yang jelas dan disepakati oleh masing-masing suku yang saling berbatasan.

(26)

142

5.2.d. Konflik Livelihood

Konflik sumberdaya hutan di TNGHS dan Hutan Sungai Utik disebut juga sebagai konflik livelihood. Konflik livelihood terjadi karena adanya perbedaan tindakan sosial akan sumberdaya hutan yang didasarkan atas kepentingan yang berbeda, dimana masyarakat adat memiliki kepentingan terhadap hutan sebagai sumber livelihood mereka, sedangkan negara memandang hutan dalam kerangka pembangunan nasional. Baik dalam konsep konservasi maupun hutan produksi, negara tidak memberi ruang masyarakat adat untuk membuka lahan garapan pada kawasan hutan bagi kepentingan livelihood masyarakat tersebut.

Dalam kasus TNGHS, konflik livelihood terjadi karena adanya perbedaan kepentingan antara negara dan Masyarakat Kasepuhan. Bagi Masyarakat Kasepuhan, hutan memiliki nilai manfaat yang tinggi bagi sumber penghidupan livelihood mereka, baik memanfaatkan hutan untuk diambil kayunya maupun manfaat dari non kayu termasuk pemanfaatan lahan hutan sebagai lahan garapan pertanian, sumber mata air, maupun sumber obat-obatan. Sekalipun demikian, pemanfaatan hutan oleh Masyarakat Kasepuhan tidaklah semena-mena melainkan didasarkan atas pengetahuan lokal dan aturan-aturan adat Kasepuhan. Misalnya dalam hal pemanfaatan kayu, dalam kelembagaan Kasepuhan pengambilan kayu dibolehkan hanya pada kawasan leuweung garapan dan leuweung cawisan, sementara itu terlarang mengambil kayu pada leuweung titipan dan leuweung tutupan. Selain itu, jika ingin mengambil kayu pada leuweung cawisan (kawasan hutan yang kayunya boleh diambil), ada persyaratan yang harus dipenuhi terlebih dahulu. Jika masyarakat akan menebang satu pohon kayu, maka dia terlebih dahulu harus menanam 10 sampai 20 batang pohon kayu tersebut, sesuai syarat yang diberikan oleh abah berdasarkan jenis kayu yang akan diambil.

Dalam kasus TNGHS, negara (BTNGHS) memiliki kepentingan terhadap hutan sebagai hutan konservasi (taman nasional). Kepentingan negara terhadap hutan konservasi tercermin dalam UU No. 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya. Berdasarkan UU Nomor 5 Tahun 1990 Pasal 33 bahwa (1) setiap orang dilarang melakukan kegiatan yang dapat mengakibatkan perubahan terhadap keutuhan zona inti taman nasional; (2) perubahan terhadap keutuhan zona inti taman nasional meliputi mengurangi,

(27)

143 menghilangkan fungsi dan luas zona inti taman nasional, serta menambah jenis tumbuhan dan satwa lain yang tidak asli; (3) setiap orang dilarang melakukan kegiatan yang tidak sesuai dengan fungsi zona pemanfaatan dan zona lain dari taman nasional. Selanjutnya dalam pasal 34 UU Nomor 5 Tahun 1990, menyebutkan bahwa (1) pengelolaan taman nasional dilaksanakan oleh pemerintah; (2) di dalam zona pemanfaatan taman nasional, dapat dibangun sarana kepariwisataan berdasarkan rencana pengelolaan; (3) untuk kegiatan kepariwisataan dan rekreasi, pemerintah dapat memberikan hak pengusahaan atas zona pemanfaatan taman nasional dengan mengikut sertakan rakyat. Berdasarkan UU Nomor 5 Tahun 1990 tersebut diketahui bahwa hutan dalam konsep taman nasional adalah kawasan pelestarian alam yang dikelola oleh pemerintah dengan sistem zonasi, dengan memberi ruang pemanfaatan kawasan untuk tujuan penelitian, ilmu pengetahuan, pendidikan, menunjang budidaya, pariwisata, dan rekreasi. Dalam upaya pemanfaatan inilah diperkenankan untuk melibatkan masyarakat, sementara aktivitas untuk pertanian terlarang di kawasan taman nasional. Pelarangan aktivitas pada kawasan taman nasional tersebut memberi konsekuensi kepada sistem livelihood ditingkat lokal, membuat Masyarakat Kasepuhan kehilangan sumber livelihood mereka.

Konsep hutan menurut taman nasional (negara) jelas berbeda dengan konsep hutan menurut Masyarakat Kasepuhan. Dalam Masyarakat Kasepuhan dikenal konsep wewengkon leuweung. Konsep tersebut juga sama membagi lokasi kedalam beberapa zonasi. Hanya saja salah satu zona yang merupakan zona pemanfaaan (leuweung garapan) memperkenankan adanya kegiatan ekonomi livelihood masyarakatnya. Konsep hutan menurut Masyarakat Kasepuhan bukan hanya harus dijaga kelestariannya, tetapi hutan juga harus mampu memberikan kesejahteraan bagi masyarakatnya. “leuweung hejo masyarakat ngejo” adalah simbol tujuan Masyarakat Kasepuhan untuk melestarikan hutan dan kesejahteraan masyarakatnya.

Pada kasus Hutan Sungai Utik, konflik livelihood terjadi karena adanya perbedaan kepentingan antara negara (Departemen Kehutanan dan Pemerintah Daerah Kabupaten Kapuas Hulu, pengusaha (PT BRW yang mengantongi IUPHHK dan PT. RU yang mengantongi IUP) dan Masyarakat Dayak Iban

(28)

144

Sungai Utik. Pada Masyarakat Dayak Iban Sungai Utik, hutan memiliki manfaat sebagai sumber livelihood masyarakatnya, sebagai tempat berburu, tempat mengambil kayu, tempat obat-obatan, penyedia bahan konsumsi, sumber mata air dan hutan cadangan. Sekalipun hutan dianggap sebagai sumber livelihood, namun Masyarakat Dayak Iban Sungai Utik tidak semena-mena memanfaatkan hutannya. Masyarakat mengelola hutan berdasarkan pengetahuan lokal dan aturan-aturan adat. Misalnya dalam hal mengambil kayu, tidak semua tempat boleh diambil kayunya, hanya pada kawasan kampong galao dan kampong endor kerja kayunya boleh diambil. Selain pembatasan tempat, juga ada pembatasan jumlah pengambilan kayu yaitu tidak boleh lebih dari 30 pokok kayu dalam satu pengambilan untuk kepentingan rumah dan tidak untuk diperjual belikan. Selain pemanfaatan kayu, hutan juga dimanfaatkan sebagai lahan garapan pertanian atau tempat berladang. Walaupun demikian, masyarakat mengatur mana kawasan yang boleh diladangi, mana yang tidak boleh diladangi. Hanya kawasan kampong endor kerja yang dapat digarap oleh masyarakat sebagai tempat berladang. Konflik terjadi manakala kepentingan negara untuk melestarikan hutan telah menegasikan Masyarakat Kasepuhan dengan kepentingan (livelihood)-nya terhadap hutan.

Dalam kasus Sungai Utik, sikap negara dalam memperlakukan hutan didasarkan atas konsep hutan produksi. Dalam konteks ini, negara (Departemen Kehutanan) memiliki tujuan untuk mengambil manfaat dari hutan bagi pendapatan negara sebesar-besarnya untuk kepentingan pembangunan. Negara berafiliasi dengan pengusaha untuk memanfaatan hutan seoptimal mungkin bagi pendapatan negara untuk kepentingan pembangunan yang didasarkan atas tuntutan pasar kapitalis. Selanjutnya peran negara dalam kehutanan di Indonesia diatur dalam berbagai peraturan perundang-undangan, salah Satunya Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 6 Tahun 2007 tentang Tata Hutan dan Penyusunan Rencana Pengelolaan Hutan, serta Pemanfaatan Hutan. Sesuai pasal 18 PP No. 6 Tahun 2007 tersebut, hutan dapat dimanfaatkan dan bahwa pemanfaatan hutan dapat dilakukan pada seluruh kawasan hutan kecuali pada kawasan cagar alam, zona inti dan zona rimba pada taman nasional. Selanjutnya berdasarkan pasal 31 ayat (2) bahwa pemanfaatan hutan pada hutan produksi dapat berupa pemanfaatan hasil hutan kayu. Dengan PP Nomor 6 Tahun 2007 tersebut memberi ruang bagi negara

(29)

145 untuk memanfaatkan hutan sebesar-besarnya bagi peningkatan ekonomi, sebagai wujud sumbangsih subsektor kehutanan terhadap pembangunan bangsa, yang dinilai berdasarkan berapa besar sumbangan subsektor ini dalam pembangunan nasional, khususnya bagi peningkatan ekonomi.

Bila dilihat dari sudut pandang ekonomi makro, peran subsektor kehutanan secara konvensional ditunjukkan oleh besaran persentase nilai tambah bruto (NTB) yang disumbangkan subsektor ini terhadap total produk domestik bruto (PDB). Dalam penyajian angka PDB Indonesia yang diterbitkan oleh Badan Pusat Statistik (BPS), subsektor kehutanan hanya mencakup komoditi primer dari kehutanan seperti kayu log, rotan, jasa kehutanan, dan lain-lain. Sementara itu sesuai Peraturan Pemerintah No. 6 Tahun 2007 Jo. Peraturan Pemerintah Nomor 3 Tahun 2008 tentang Tata Hutan dan Penyusunan Rencana Pengelolaan Hutan serta Pemanfaatan Hutan, cakupan binaan oleh Departemen Kehutanan meliputi hasil produk primer kehutanan sampai industri kehutanan seperti industri penggergajian kayu, industri kayu lapis, panel kayu, dan veneer.

Berdasarkan data BPS (2012), bahwa jika dilihat dari data PDB tahun 2000-2011, PDB subsektor kehutanan menyumbang rata-rata 0,97% (persen) setiap tahunnya terhadap total PDB Indonesia, dengan penurunan setiap tahun. Data di tahun 2011 menunjukkan bahwa sebenarnya nilai PDB subsektor kehutanan lebih besar dari tahun-tahun sebelumnya yaitu sebesar 51.638,1 milyar rupiah, namun jika dihitung berdasarkan total PDB Indonesia di tahun 2011 yaitu 7.427.086,1 milyar rupiah, maka sumbangan PDB subsektor kehutanan terhadap total PDB hanya 0,70%, jauh lebih kecil dari prosentase sumbangan ditahun-tahun sebelumnya. Lebih jelasnya dapat dilihat dari tabel berikut:

(30)

146

Tabel 10. Kontribusi Subsektor Kehutanan Terhadap Produk Domestik Bruto Atas Dasar Harga Berlaku Tahun 2000-2011

No

Tahun/ Year

Produk Domestik Bruto (PDB)/ Gross Domestic Product (Miliar

Rupiah/ Billion Rupiahs)

Kontribusi Subsektor Kehutanan Terhadap PDB Kehutanan/ Forestry Total PDB/ GDP Total Contribution of Forestry Sub Sector To GDP (%) 1 2 3 4 5 1 2000 16.343,0 1.389.769,9 1,18 2 2001 16.962,1 1.646.322,0 1,03 3 2002 17.602,4 1.821.833,0 0,97 4 2003 18.414,6 2.013.674,6 0,91 5 2004 20.290,0 2.295.826,2 0,88 6 2005 22.561,8 2.774.281,1 0,81 7 2006 30.065,7 3.339.216,8 0,90 8 2007 36.154,1 3.950.893,2 0,92 9 2008 40.375,1 4.951.356,7 0,82 10 2009 44.952,1 5.613.441,7 0,80 11 2010 48.050,5 6.422.918,2 0,75 12 2011 51.638,1 7.427.086,1 0,70

Sumber: Badan Pusat Statistik, 2012.

Salah satu sumber pendapatan di sektor kehutanan adalah dari pemanfaatan hasil hutan kayu melalui IUPHHK. Kawasan hutan yang telah dimanfaatkan untuk kegiatan pemanfaatan hasil hutan kayu berupa izin usaha pemanfaatan hasil hutan kayu (IUPHHK) secara keseluruhan sampai dengan oktober 2009 adalah: jumlah IUPHHK-HA (Hutan Alam) sebanyak 299 unit dengan luasan 25.384.650 ha; jumlah IUPHHK-HTI (Hutan Tanaman Industri) sebanyak 211 unit dengan luasan 8.441.976 ha; dan jumlah IUPHHK-HTR (Hutan Tanaman Rakyat) sebanyak 9 unit dengan luas 21.157,35 ha. Sedangkan kawasan hutan yang telah dimanfaatkan untuk izin usaha pemanfaatan hutan kemasyarakatan (IUPHKM) sebanyak 55 izin dengan luas 7.708,09 ha. (Departemen Kehutanan, 2009). Salah satu kawasan hutan yang telah ditetapkan sebagai kawasan IUPHHK adalah Hutan Sungai Utik. Hutan Sungai Utik ini adalah hutan yang masih primer, masih banyak potensi kayu yang ada dikawasan ini. Oleh karena itu, hutan ini menjadi incaran, bukan hanya oleh Departemen Kehutanan (pemerintaah pusat) untuk dijadikan kawasan IUPHHK, tetapi juga incaran pemerintah daerah untuk dijadikan kawasan IUP.

Gambar

Tabel 10. Kontribusi Subsektor Kehutanan Terhadap Produk Domestik Bruto Atas  Dasar Harga Berlaku Tahun 2000-2011

Referensi

Dokumen terkait

19 Lebih jauh lihat, Cahyono, Eko, (Tesis), Aksi Petani Dalam Kontestasi Politik Penataan Dan Penguasaan Ruang Di Kawasan Konservasi Taman Nasional Ujung Kulon - Provinsi

Peternak berpendapatan tinggi, sedang maupun rendah yang telah mengadopsi biogas juga tidak menyebarkan biogas tersebut untuk diadopsi peternak lain karena

Untuk menampilkan di Google Maps, kita bisa menggunakan dua cara; yang pertama adalah dengan melakukan hosting terhadap file KML(Keyhole Markup Language)

Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata total leukosit sapi bali yang diinfeksi telur Taenia saginata secara eksperimental (6.92 x 10 3 /μl) lebih tinggi

Pelayanan Terpadu adalah serangkaian kegiatan untuk melakukan perlindungan bagi anak korban kekerasan, eksploitasi, perlakuan salah dan penelantaran yang dilaksanakan

pengendalian intern jg mengalami perubahan dari konsep ketersediaan pengendalian inetern beralih ke konsep proses pencapaian tujuan.. Dg konsep baru tersebut

Adopsi teknologi perangkap kuning (Yellow Trap) baik di Kabupaten sambas mupun di kabupaten Ponorogo masih sangat rendah. Menurut keterangan petani responden,

Kepala ruangan mengingatkan perawat melakukan hand hygiene setelah menyentuh pasien (melakukan tindakan).. Kepala ruangan mengingatkan perawat memakai air dan sabun