• Tidak ada hasil yang ditemukan

LAPORAN PRAKTIKUM BUDIDAYA JAMUR. : Sutia Afrinanda : Kelompok : VI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "LAPORAN PRAKTIKUM BUDIDAYA JAMUR. : Sutia Afrinanda : Kelompok : VI"

Copied!
25
0
0

Teks penuh

(1)

LAPORAN PRAKTIKUM

BUDIDAYA JAMUR

Nama

: Sutia Afrinanda

NIM

: 1303112292

Kelompok : VI

LABORATORIUM MIKROBIOLOGI JURUSAN BIOLOGI

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM UNIVERSITAS RIAU

PEKANBARU 2016

(2)

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

Budidaya Jamur merupakan salah satu usaha peningkatan ekonomi dan pangan yang sangat marak berkembang di masyarakat belakangan ini. Selain mudah dalam proses pengerjaannya, budidaya jamur tidak membutuhkan modal yang terlalu besar sehingga sangat tepat diterapkan pada masyarakat yang taraf ekonominya sedang ataupun rendah, bahkan saat ini banyak petani padi, jagung, tembakau maupun peternak yang banting stir berprofesi menjadi pembudidaya jamur, bahkan membudidayakan jamur juga banyak diandalkan sebagai pekerjaan sampingan (Agus 2002).

Budidaya jamur merupakan salah satu budidaya yang tidak mengenal musim dan tidak membutuhkan tempat yang luas. Jenis-jenis jamur yang umum dibudidayakan ialah jamur yang menguntungkan bagi manusia diantanya jamur merang (Volvariella volvaceae),jamur tiram (Pleurotus ostreatus),jamur kuping (Auricularia polytricha),jamur payung (Lentinus edodes),dan jamur kancing (Agaricus Sp) (Riyanto 2010).

Jamur memiliki manfaat yang beragam dalam kehidupan sehari-hari antara lain sebagai bahan pangan maupun sebagai bahan pembuatan obat yang dapat menyembuhkan berbagai macam penyakit kronis. Sebagai bahan pangan, jamur tiram misalnya dapat dimasak sebagai campuran sayur sop, jamur krispi maupun keripik jamur. Banyak restoran berkelas yang mengandalkan hidangan utamanya adalah berbahan dasar jamur. Sebagai bahan pengobatan, jamur memiliki banyak manfaat bagi kesehatan manusia, protein nabati yang tidak mengandung kolesterol dapat digunakan sebagai obat pencegah timbulnya penyakit darah tinggi dan serangan jantung, serta dapat mencegah penyakit diabetes dan mengurangi berat badan atau obesitas. Kandungan asam folat yang tinggi dapat menyembuhkan penyakit anemia dan obat anti tumor, juga dapat digunakan untuk mencegah dan menanggulangi kekurangan gizi dan pengobatan kekurangan zat besi (Djarijah 2001).

Dengan banyaknya manfaat tersebut, maka tidak salah jika pada jurusan Biologi Universitas Riau, Budidaya Jamur termasuk mata kuliah pilihan yang

(3)

dapat diambil oleh mahasiswa. Dengan adanya mata kuliah pilihan budidaya jamur ini, diharapkan mahasiswa dapat berlatih untuk membudidayakan jamur yang bermanfaat dalam kehidupan manusia dan nantinya dapat diterapkan dikehidupan sehari-hari. Salah satu praktikum dari budidaya jamur adalah budidaya jamur tiram putih (Pleurotus ostreatus) yang juga memiliki banyak manfaat.

1.2. Tujuan

 Mengetahui cara isolasi jamur tiram yang baik

 Mengetahui bagian-bagian yang dapat diisolasi dalam budidaya jamur

 Memahami bagaimana teknik pengomposan yang baik dan benar dalam budidaya jamur

 Mengetahui cara pengemasan yang baik dan benar dalam budidaya jamur

 Mengetahui cara pembuatan media pertumbuhan jamur tiram

 Mengetahui cara sterilisasi yang baik dan benar

 Mengetahui waktu sterilisasi yang optimal pada budidaya jamur

 Mengetahui cara inokulasi yang baik dan benar dalam budidaya jamur

 Mengetahui cara perawatan pada budidaya jamur

 Mengetahui apa saja yang perlu dilakukan dalam perawatan budidaya jamur

 Mengetahui cara pemanenan yang baik

 Mengetahui waktu yang baik untuk pemanenan

(4)

TINJAUAN PUSTAKA

Budidaya jamur merupakan salah satu budidaya yang tidak mengenal musim dan tidak membutuhkan tempat yang luas.Jenis-jenis jamur yang umum dibudidayakan ialah jamur merang(Volvariella volvaceae),jamur tiram (Pleurotus

ostreatus),jamur kuping (Auricularia polytricha), jamur payung (Lentinus edodes),dan jamur kancing (Agaricus Sp) (Riyanto 2010).

Hasil panen jamur tersebut tak hanya untuk mencukupi kebutuhan dalam negeri bahkan ada juga yang di ekspor, seperti jamur kancing dan jamur payung. Media untuk pertumbuhan jamur dapat menggunakan limbah yaitu limbah pertanian(merang dan daun pisang) dan limbah industri (serbuk gergaji). Ramuan atau campuran yang digunakan sebagai media juga bermacam-macam,sedangkan metode yang digunakan untuk budidaya jamur ini juga bermacam-macam,seperti cara ilmiah, konvensional,tradisional,dan semi modern (Soenanto 2000).

Secara umum jamur dikelompokan menjadi 4 kategori yaitu pertama jamur pangan (edible mushroom) yaitu jamur yang berdaging dan enak dimakan, kedua jamur obat yaitu jamur yang memiliki khasiat obat dan dipakai untuk pengobatan ; ketiga jamur beracun ; keempat jamur yang tidak tergolong kategori sebelumnya dan umumnya beragam jenisnya (Riyanto 2010)

Dari segi botani, jamur tiram termasuk jenis jamur kayu yang mudah dibudidayakan. Jamur tiram termasuk familia Agaricaceae atau Tricholomataceae dari klasis Basidiomycetes. Terdapat beberapa jenis jamur tiram yang sering dibudidayakan petani, antara lain :

1. Jamur tiram putih (Pleurotus ostreatus), warna tubuh buah putih. 2. Jamur tiram coklat (P. abalonus), warna tubuh buah kecoklatan.

3. Jamur tiram kuning (Pleurotus sp), warna tubuh buah kuning dan sangat jarang ditemukan.

Dari beberapa jenis jamur tiram tersebut, jamur tiram putih dan coklat paling banyak dibudidayakan, karena mempunyai sifat adaptasi dengan lingkungan yang baik dan tingkat produktivitasnya cukup tinggi (Susilawati 2010).

Jamur tiram atau dalam bahasa latin disebut Pleurotus sp. Merupakan salah satu jamur konsumsi yang bernilai tingi. Di alam liar, jamur tiram

(5)

merupakan tumbuhan saprofit yang hidup dikayukayu lunak dan memperoleh bahan makanan dengan memanfaatkan sisa-sisa bahan organik. Jamur tiram termasuk termasuk tumbuhan yang tidak berklorofil (tidak memliliki zat hijau daun) sehingga tidak bisa mengolah bahan makanan sendiri. Untuk memenuhi kebutuhan hidup, jamur tiram sangat tergantung pasa bahan oranik yang diserap untuk keperluan pertumbuhan dan perkembangan. Nutrisi utama yang dibutuhkan jamur tiram adalah sumber karbon yang dapat disediakan melalui berbagai sumber seperti sebuk kayu gergajian dan berbagai limbah organik lain (Soenanto 2000).

Pertumbuhan jamur tiram sangat tergantung pada faktor fisik seperti suhu, kelembaban, cahaya, pH media tanam, dan aerasi, udara jamur tiram dapat menghasilkan tubuh buah secara optimum pada rentang suhu 26-28 °C, sedangkan pertumbuhan miselium pada suhu 28-30° C, kelembaban udara 80-90% dan pH media tanam yang agak masam antara 5-6. Aerasi merupakan hal penting bagi pertukaran udara lingkungan tumbuh jamur yaitu engab mempertahankan perdediaan Oksigen (O2) dan membuang karbon dioksida (CO2), cahaya matahariyang dibutuhkan untuk pertumbuhan jamur sangat sedikit berkisar antara 50-300 lux atau masih terbacanya huruf dikoran dalam jarak sedepa (Djarijah 2001).

Sebagai bahan pangan jamur menjadi salah satu sumber protein seperti thiamine (vitamin B1), riboflavin (vitamin B2), niasin, biotin dan vitmin C serta mineral. Sebagai bahan fungsional jamur mengandung bahan aktif yang terdiri dari senyawa polisakarida (glikan), triterpen, nukleotida, monitol, alkoloid dan lain-lain yang bermanfaat untuk kesehatan tubuh. Menurut Crisan dan Sands (1978) rata-rata kandungan protein (% berat kering) dari jamur kuping adalah 4-9%, jamur kancing 24-44%, jamur shitake 10-17%, jamur tiram 10-30%, jamur merang 21-30%. Daya cerna tubuh terhadap protein yang dikandung jamur pun sangat tinggi berkisar antara 71-90% (Siswono 2003).

Dalam budidaya jamur tiram atau jamur edibel yang lain, memerlukan beberapa langkah persiapan antara lain menyiapkan lokasi yang tepat atau cocok untuk menempatkan rumah jamur, menyiapkan bibit jamur, mempersiapkan media tumbuh yang steril dan sarana perawatan yang lain. Budidaya jamur tidak memerlukan teknologi tinggi, sehingga cukup sederhana. Media tanam jamur

(6)

biasanya menggunakan bahan organik yang banyak dijumpai di alam yang sangat mudah ditemukan dan murah harganya. Media organik ini dapat berupa jerami, serbuk gergaji, kertas dan bahan lain sebagai tambahan seperti bekatul, kapur tohor, yang juga mudah didapatkan di lingkungan. Untuk budidaya jamur tiram dan jamur lainnya diperlukan rumah jamur yang umumnya menggunakan bahan baku utama bambu yang banyak juga banyak tumbuh di kawasan Indonesia (Shifriyah 2012).

Daya simpan jamur tiram putih terbilang mudah sekali rusak setelah dipanen, jamur tiram mejadi mudah berubah warna dan keriput. Jamur tiram memiliki umur simpan yang pendek atau cepat mengalami kerusakan. Produk hortikultura seperti buah dan sayur adalah produk yang masih melakukan aktivitas metabolisme setelah dipanen. Kerusakan produk dapat disebabkan kontaminasi mikroba, pengaruh suhu dan udara, serta kadar air. Jamur tiram mudah rusak jika terlalu lama disimpan di udara terbuka, walaupun di lemari pendingin. Jamur akan lebih lama disimpan dalam keadaan kering dan tahan sampai 1 tahun. Hal ini disebabkan jamur tiram memiliki kandungan kadar air yang cukup tinggi yaitu 86,6%. Kadar air yang tinggi dapat mempengaruhi daya tahan pangan terhadap serangan mikroorganisme. Dimana semakin tinggi kadar air bebas yang terkandung dalam bahan pangan, maka semakin cepat rusak bahan pangan tersebut karena aktivitas mikroorganisme (Puspitasari 2013).

BAB III METODE

(7)

3.1. Alat dan Bahan

Alat yang digunakan dalam pratikum ini adalah Pisau, pinset, sekop, terpal, ember, plastik PP, karet gelang, drum besi, spatula, lampu spritus, sprayer.

Bahan yang digunakan dalam pratikum ini adalah Jamur tiram, Medium PDA, Alkohol, serbuk kayu (10 kg), dedak (2 kg), gipsum (200 gr), dolomit (300 gr), kalsium karbonat (CaCo3 : 200 gr), Inokulum pengomposan (1000 ml), substrat media tanam, air, baglog, bibit F2 jamur tiram, media tanam.

3.2. Cara Kerja

3.2.1. Pembuatan Bibit

1. Diambil tangkai jamur tiram yang besar dan keras

2. Dipotong bagian kulitnya secara aseptis untuk mengambil bagian dalam tangkai

3. Diambil bagian dalam tangkai jamur menggunakan pinset 4. Potongan jamur ditanamkan pada medium PDA

5. Inkubasi sampai miselium tumbuh pada medium PDA

3.2.2. Pengomposan

1. Persiapkan semua bahan yang akan digunakan.

2. Semua bahan yang telah dipersiapkan dicampur hingga merata

3. Bahan yang sudah merata ditambahkan air secukupnya sampai kelembababn mencapai ± 60-70 % yang ditandai dengan substrat yang digenggam akan menggumpal dan tidak pecah.

4. Media yang sudah tercampur dimasukkan ke dalam terpal

5. Media yang ada dalam terpal dibiarkan selama 5 hari untuk proses pengomposan

6. Setelah 3 hari pengomposan dibalik

(8)

1. Media tanam yang telah selesai dikomposkan dimasukkan ke dalam plastik PP dan dipadatkan.

2. Disisakan sekitar 10 cm pada bagian mulut baglog untuk pemasangan cincin paralon.

3. Media yang sudah padat kemudian diikat menggunkan karet gelang 4. Media tanam yang sudah siap dikemas kemudian dimasukkan ke

dalam drum besi untuk disterilisasi.

3.2.4. Sterilisasi

1. Media tanam (baglog) dimasukkan ke dalam drum besi yang sudah diberi air terlebih dulu di bagian bawahnya.

2. Kemudian baglog disusun satu per satu dengan rapi di dalam drum besi.

3. Kemudian baglog yang telah disusun rapi ditutup menggunakn terpal rapat-rapat agar udara tidak keluar

4. Api dihidupkan untuk sterilisasi selama ± 8 jam.

3.2.5. Inokulasi

1. Proses inokulasi dilakukan dengan steril. 2. Karet pengikat media tanam (baglog) dibuka.

3. Potongan paralon yang menyerupai cincin dipasangkan pada bagian leher baglog.

4. Bibit jamur tiram putih (± 10 butir jagung yang sudah dikelilingi miselium dari jamur tiram putih) diambil lalu diinokulasikan ke baglog dan sedikit ditekan.

5. Setelah diinokulasikan, ditutup kembali baglog menggunakan koran dan diikat kembali.

6. Media tanam diinkubasi sampai medium penuh pada baglog.

(9)

1. Perawatan jamur dilakukan dengan cara menyiram dengan air bersih sebanyak dua kali sehari (pagi dan sore)

2. Penyiraman jamur menggunakan sprayer atau gayung, penyiraman dilakukan dengan cara berkabut jika menggunakan sprayer atau ditetes-teteskan jika menggunakan gayung.

3.2.7. Pemanenan

1. Pemanenan dilakukan pada jamur yang sudah cukup umur.

2. Pemanenan dilakukan dengan cara mencabut jamur dari media tanam dengan hati-hati.

3. Bekas pencabutan dibersihkan dan dirapikan, jamur yang sudah dipanen dibersihkan dan dipotong bagian bawahnya.

(10)

HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Hasil 4.1.1. Pembuatan Bibit 4.1.2. Pengomposan 4.1.3. Pengemasan 4.1.4. Sterilisasi (a) (b) Keterangan :

(a) Cawan petri ulangan 1 : terjadi kontaminasi oleh jamur lain berwarna putih, hijau, kuning.

(b) Cawan petri ulangan 2 : terjadi kontaminasi oleh jamur lain berwarna putih kehijauan.

Keterangan :

Hasil pengomposan serbuk gergaji dan bahan-bahan pengomposan lainnya pada hari ke-3.

Keterangan :

Semua bahan hasilpengomposan dikemas menggunakan plastik polipropilen (PP).

(11)

4.1.5. Inokulasi

4.1.6. Laju Pertumbuhan Miselium (Dilampirkan)

Tabel 1. Kolonisasi Miselium

Baglog H1 H2 H3 H4 H5 H6 H7 H8 H9 H10 H11 H12 H13 H14 1 - - 2,0 2,7 3,4 4,8 5,5 6,0 7,0 7,4 8,3 8,9 9,5 10,0 2 - - 2,3 3,4 4,2 5,0 5,2 6,3 7,1 7,6 8,7 9,3 9,7 10,7 3 - - 1,7 2,6 3,2 4,0 4,4 5,5 6,9 7,4 8,4 9,1 9,6 10,2 4 - - 1,6 2,8 3,7 4,3 4,4 5,6 6,5 6,9 8,0 9,0 9,8 10,5 5 - - 2,1 2,9 3,8 4,6 5,5 7,1 8,0 8,9 9,9 10,8 11,7 12,3 4.1.7. Perawatan Keterangan :

Sterilisasi baglog dilakukan pada suhu 70° C selama 5–8 jam menggunakan kompor (api).

Keterangan :

Baglog yang sudah diinokulasi bibit F2 jamur tiram.

Keterangan :

(12)

4.1.8. Pemanenan

4.2. Pembahasan

4.2.1. Pembuatan Bibit

Pembuatan bibit ini dilakukan dengan menginokulasikan bagian tengah batang jamur secara aseptis pada medium PDA. Dimana pembuatan dilakukan dengan tujuan menumbuhkan miselium jamur lebih cepat, sehingga terdapat banyak bibit yang nantinya dapat diinokulasikan ke media tumbuh (baglog). Jika miselium telah tumbuh pada media PDA selanjutnya akan dipindahkan ke wadah yang berisi jagung, dimana ketika miselia jamur telah banyak pada wadah berisi jagung tersebut, maka selanjutnya baru akan diinokulasikan ke media tumbuh (baglog) jamur.

Tujuan mengapa saat menginokulasikan jamur ke medium PDA diambil bagian tengah batang jamur karena pada bagian tengah batang jamur itulah terdapatnya banyak spora, sehingga ketika diinokulasikan, pertumbuhan miselium pada medium PDA akan lebih cepat.

Keterangan :

Penyiraman secara kabut pada baglog menggunakan sprayer.

Keterangan :

(13)

4.2.2. Pengomposan

Pengomposan dilakukan dengan pencampuran serbuk kayu gergaji dengan dedak, kapur dan dolomit sesuai takaran untuk mendapatkan komposisi media yang merata. Tujuannya menyediakan sumber hara/nutrisi yang cukup bagi pertumbuhan dan perkembangan jamur tiram sampai siap dipanen. Media untuk pertumbuhan jamur tiram sebaiknya dibuat menyerupai kondisi tempat tumbuh jamur tiram di alam.

Serbuk kayu berfungsi sebagai media tumbuh miselium jamur tiram. Penambahan dedak berfungsi sebagai bahan nutrisi tambahan sebagai sumber karbohidrat, lemak, dan protein, sedangkan penambahan serbuk gipsum dan kalsium karbonat (CaCo3) sebagai sumber mineral dan sebagai bahan untuk mengokohkan media tanam dan penambahan dolomit berfungsi sebagai pengatur pH pada substrat/media tanam.

Pada proses pengomposan ini juga dilakukan penambahan air secukupnya dengan tujuan agar substrat tetap terjaga kelembabannya.

4.2.3. Pengemasan

Setelah dilakukannya pencampuran substrat dan beberapa bahan pada pengomposan, selanjutnya dilakukan pengemasan. Dimana pengemasan ini merupakan kegiatan memasukan campuran media ke dalam plastik polipropile (PP) dengan kepadatan tertentu (tidak terlalu padat, tidak terlalu renggang) agar miselia jamur dapat tumbuh maksimal dan menghasilkan panen yang optimal. Tujuannya menyediakan media tanam bagi bibit jamur.

4.2.4. Sterilisasi

Setelah media selesai dikemas ke dalam plastik PP, media dimasukkan kedalam drum untuk disterilisasi guna mematikan organisme hidup yang merugikan pertumbuhan jamur, juga untuk menyempurnakan tahap akhir dari serbuk kayu sebagai media tanam yang selektif untuk pertumbuhan jamur. Tujuannya mendapatkan serbuk kayu yang steril bebas dari mikroba dan jamur lain yang tidak dikendaki. Sterilisasi dilakukan pada suhu 70° C selama 5 – 8 jam, sedangkan jika sterilisasi autoclave membutuhkan waktu selama 4 jam, pada suhu121°C, dengan tekanan 1 atm. Selesai sterilisasi baglock diturunkan dan

(14)

didiamkan hingga dingin. Karena media yang masih panas nantinya akan menghambat pertumbuhan hifa.

4.2.5. Inokulasi

Inokulasi adalah proses pemindahan sejumlah kecil miselia jamur dari biakan induk kedalam media tanaman yang telah disediakan. Tujuannya adalah menumbuhkan miselia jamur pada media tanam hingga menghasilkan jamur yang siap panen. Inokulasi harus dilakukan secara aseptis, agar mencegah tumbuhnya mikroba lain. Selanjutnya dilakukan inkubasi, dimana Inkubasi adalah menyimpan atau menempatkan media tanam yang telah diinokulasi pada kondisi ruang tertentu agar miselia jamur dapat tumbuh dengan baik.

Pertumbuhan miselium pada baglog diamati sejak munculnya miselium sampai miselium memenuhi baglog. Salah satu indikator keberhasilan inokulasi yaitu munculnya miselium. Lama pemenuhan miselium dipengaruhi oleh suhu, kelembaban, tempat inkubasi dan kualitas bibit jamur yang digunakan. Guna menunjang pemenuhan miselium pada jamur tiram, idealnya ruang inkubasi memiliki suhu 22-29oC dan kelembaban 90-100%. Tingkat kepadatan baglog juga mempengaruhi pada penyebaran miselium, apabila baglog terlalu padat maka miselium juga akan sulit untuk memenuhi ke seluruh permukaan baglog, oleh karena itu dalam pengisian baglog diusahakan untuk tidak terlalu padat atau terlalu renggang.

4.2.6. Perawatan

Baglog yang miseliumnya sudah putih dan ada penebalan kemudian dibuka cincin paralonnya agar jamur bisa tumbuh. Baglog yang telah dibuka cincin dirawat dengan melakukan penyiraman secara kabut untuk mempercepat pertumbuhan pinhead jamur. Penyiraman dilakukan dengan cara penyemprotan atau pengkabutan dengan menggunakan air bersih yang ditujukan pada ruang kubung dan media tumbuh jamur, tujuan untuk menjaga kelembaban kubung. Hal yang terpenting harus diperhatikan dalam kumbung adalah menjaga suhu dan kelembaban yang dibutuhkan jamur. Apabila kelembaban kurang, pinhead mati dan jika terlkalu lembab jamur menjadi basah.

(15)

4.2.7. Pemanenan

Pemanenan dilakukan setelah pertumbuhan jamur mencapai tingkat yang optimal, yaitu cukup besar, tetapi belum mekar penuh. Pemanenan dilakukan 4-5 hari setelah tumbuh calon jamur. Pada saat itu, ukuran jamur sudah cukup besar. Pemanenan dilakukan pada pagi hari karena suhu lingkungan tidak terlalu tinggi dan kondisi pertumbuhan jamur sangat baik sehingga bobot panen relatif lebih banyak.

Pemanenan dilakukan dengan cara mencabut seluruh rumpun jamur yang ada dari substrat tanam. Bagian batang/akar jamur tiram yang menembus substrat harus diangkat bersamaan dengan jamur yang dipanen. Bekas batang atau akar jamur tiram yang mungkin tertinggal dalam media harus dibersihkan karena cepat atau lambat ujung batang tersebut akan membusuk. Akibatnya, bagian substrat di sekitar batang yang membusuk juga akan membusuk. Pembusukan ini akan menyebar ke bagian lain, sehingga media tidak akan ditumbuhi jamur baru.

Jamur yang sudah dipanen dibersihkan dari kotoran yang menempel di bagian akarnya saja, dengan cara tersebut, disamping kebersihanya lebih terjaga, daya simpan jamur pun akan lebih tahan lama. Kondisi ruang penyimpanan untuk jamur yang dianjurkan adalah pada suhu 0- -150C, jamur dapat tetap segar selama 10-12 hari. Pasca panen jamur tiram meliputi, pengumpulan, pembersihan, sortasi, pengemasan dan penyimpanan.

Jamur akan terus tumbuh selama baglog masih mampu memberikan makanan yang cukup untuk tubuh buah jamur. Jika nutrisi pada media jamur ini telah habis atau baglog telah rusak maka baglog ini harus segera dibuang dari rak penumbuhan dan segera diganti dengan baglog yang masih produktif. Baglog yang telah rusak dapat dijadikan sebagai pupuk untuk tanaman.

(16)

BAB V KESIMPULAN

Kesimpulan yang dapat diambil dari kegiatan praktikum budidaya jamur ini adalah :

1. Budidaya jamur tiram ini dilakukan melalui beberapa tahap yaitu penumbuhan bibit, pengomposan, pengemasan, sterilisasi, inokulasi, perawatan dan pemanenan.

2. Pada penumbuhan bibit dilakukan dengan menginokulasikan bagian tengah batang jamur, karena pada bagian tersebut terdapat banyak spora. 3. Serbuk gergaji merupakan substrat untuk pertumbuhan jamur, dedak

berfungsi sebagai penambah nutrisi, gipsum sebagai sumber mineral, dolomit dan kalsium karbonat berfungsi sebagai pengatur pH.

4. Pada proses pengemasan, substrat yang dimasukkan tidak boleh terlalu padat karena dapat menghambat pertumbuhan miselium jamur, dan tidak boleh terlalu renggang karena adanya banyak udara menyebabkan mudahnya terjadi kontaminasi.

5. Ada beberapa faktor yang perlu diperhatikan dalam budidaya jamur, seperti : suhu, kelembaban, pH, O2, nutrisi, tatacara perawatan, tatacara pemanenan dan pasca panen.

(17)

Agus G.T.K. 2002. Budidaya Jamur Konsumsi. Agromedia Pustaka. Jakarta. Djarijah, N.M. 2001. Budidaya Jamur Tiram. Kanisius. Yogyakarta.

Puspitasari, G. Wignyanto. Dewanti, B. 2013. Pemanfaatan Jamur Tiram Putih

(Pleurotus Ostreatus) Sebagai Tepung, Kajian Pengaruh Suhu Dan Lama Pengeringan. Jurnal Teknologi Industri Pertanian FTP-Universitas Brawijaya

Riyanto, Frendi. 2010. Pembibitan Jamur Tiram (Pleurotus ostreatus) Di Balai

Pengembangan Dan Promosi Tanaman Pangan Dan Hortikultura (BPPTPH) Ngipiksari Sleman, Yogyakarta. Fakultas Pertanian Universitas Sebelas

Maret. Surakarta

Shifriyah, A. Badami. K. 2012. Pertumbuhan dan Produksi Jamur Tiram Putih

(Pleurotus ostreatus) pada Penambahan Dua Sumber Nutrisi. Jurnal

Agrovigor vol (5) no 1

Siswono. 2003. Jamur untuk Anti Kolesterol. Kompas, 30 agustus 2003. (Diakses pada : Selasa, 7 Juni 2016)

Soenanto, Hardi. 2000. Jamur Tiram, Budidaya dan Peluang Usaha. Aneka Ilmu. Semarang.

Susilawati. Raharjo, Budi. 2010. Budidaya Jamur Tiram (Pleourotus ostreatus var

florida) yang ramah lingkungan (Materi Pelatihan Agribisnis bagi KMPH).

Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Sumatera Selatan.

(18)

Lampiran 1. Pembuatan Bibit Lampiran 2. Pengomposan

(19)

(20)

Lampiran 3. Pengemasan

Lampiran 4. Sterilisasi

(21)

Lampiran 6. Kolonisasi Miselium

Hari ke 1 (Minggu, 15 Mei 2016) Hari Pertama Inokulasi (Sabtu, 14 Mei 2016)

(22)

Hari ke 2 (Senin, 16 Mei 2016)

Hari ke 3 (Selasa, 17 Mei 2016)

Hari ke 6 (Jumat, 20 Mei 2016)

Hari ke 7 (Sabtu, 21 Mei 2016)

(23)

Lampiran 7. Perawatan

Hari ke 9 (Senin, 23 Mei 2016)

Hari ke 10 (Selasa, 24 Mei 2016)

Hari ke 11 (Rabu, 25 Mei 2016)

(24)
(25)

Gambar

Tabel 1. Kolonisasi Miselium

Referensi

Dokumen terkait

Hal ini, karena kekuranagan cahaya pada saat pertumbuhan berlangsung akan menimbulkan gejala etiolasi, dimana batang kecambah akan tumbuh lebih cepat, namun lemah

Mitra selanjutnya membangun sendiri rumah jamur dengan pendampingan tim pengabdian kepada masyarakat, yang sekaligus untuk mengevaluasi materi dan praktik tentang

Setelah dilakukan pembuatan sediaan gel Na diklofenak 1% dengan gelling agent xanthan gum sebanyak 5 pot dimana masing-masing pot berisi 30 mg sediaan dengan formula