• Tidak ada hasil yang ditemukan

LAPORAN PRAKTIKUM NATRII THIOSULFAS[1]

N/A
N/A
ira maharani

Academic year: 2024

Membagikan "LAPORAN PRAKTIKUM NATRII THIOSULFAS[1]"

Copied!
19
0
0

Teks penuh

(1)

LAPORAN PRAKTIKUM

TEKNOLOGI FORMULASI SEDIAAN STERIL SEDIAAN INFUS

Disusun Oleh :

Ira Maharani 31121121

Cantiya Maryam 31121122

Nabila Khairunnisa A 31121123 Mila Cahya Fitria 31121124

Gita Nurwanti 31121125

Kelompok 3

Kelas 4C Farmasi

PROGRAM STUDI S1 FARMASI FAKULTAS FARMASI

UNIVERSITAS BAKTI TUNAS HUSADA TASIKMALAYA

(2)

KATA PENGANTAR

Alhamdulillaah, segala puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT., yang mana atas dasar limpahan rahmat serta karunia dari – Nya penulis dapat menyelesaikan tugas makalah ini sebagai salah satu tugas Praktikum Mata Kuliah Teknologi Formulasi Sediaan Steril yang berjudul “Sediaan Infus”.

Ungkapan terima kasih banyak penulis ucapkan kepada Dosen Pengampu Pada Mata Kuliah Teknologi Formulasi Sediaan Steril yang senantiasa mengayomi dan membimbing penulis baik secara moral maupun material. Tidak lupa juga penulis ucapkan terima kasih banyak kepada keluarga yang senantiasa mendukung dalam proses pembuatan makalah ini sehingga daapt selesai tepat pada waktunya.

Adapun tujuan dibuatnya makalah ini yakni, utamanya untuk memenuhi salah satu tugas Mata Kuliah Teknologi Formulasi Sediaan Steril, selain itu agar para pembaca dapat mengetahui bagaimana cara melakukan sterilisasi ruangan serta sterililasi lima jari dengan baik dan benar.

Penulis menyadari dengan sepenuhnya bahwa penulisan makalah ini masih sangat jauh dari kata sempurna, maka dari itu penulis mengharapkan kritik dan saran yang tentunya sangat membangun akan makalah ini guna meningkatkan kualitas makalah pada tugas lain yang akan mendatang baik tugas dari Mata Kuliah ini maupun pada Mata Kuliah yang lainnya.

Tasikmalaya, 29 Oktober 2024

Penyusun

(3)

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR...i

DAFTAR ISI... ii

1.1 Tujuan... 1

1.2 Dasar teori... 1

1.3 Preformulasi...3

1.3.1 Zat Aktif...3

1.3.2 Zat Tambahan... 4

1.3.3 Formula...5

1.4 Metedologi penelitian...5

1.4.1 Alat dan Reagensia...5

1.4.2 Tonisitas...5

1.4.3 Perhitungan dan Penimbangan bahan...6

1.4.4 Prosedur kerja...7

1.5 Hasil Pengamatan...8

1.6 Pembahasan...9

1.7 Kesimpulan... 14

DAFTAR PUSTAKA...15

LAMPIRAN...16

(4)

1.1 Tujuan

1. Untuk lebih mengetahui cara pembuatan sediaan steril infus glukosa.

2. Mengevaluasi karakteristik sediaan infus dan evaluasinya.

1.2 Dasar teori

Glukosa adalah sejenis gula sederhana yang merupakan sumber energi utama bagi hampir semua sel dalam tubuh, terutama sel-sel otak. Bayangkan glukosa sebagai bensin untuk mobil, tanpa bensin, mobil tidak bisa berjalan. Begitu pula tubuh kita, tanpa glukosa, banyak fungsi tubuh akan terganggu.

Glukosa didapatkan tubuh kita terutama dari makanan yang kita konsumsi, khususnya karbohidrat. Ketika kita makan nasi, roti, atau buah-buahan, karbohidrat di dalamnya akan dipecah menjadi glukosa melalui proses pencernaan. Glukosa kemudian diserap oleh darah dan dibawa ke seluruh tubuh untuk digunakan sebagai energi.

Larutan glukosa dengan kosentrasi 5% sering digunakan untuk deplesi cairan, dan dapat diberikan melalui vena parifer. Larutan glukosa dengankosentrasi yang lebih besar dari 5% merupakan larutan yang bersifathiperosmotik dan umumnya digunakan sebagai sumber karbohidrat, sertalarutan glukosa 5%, sering digunakan dalam pengobatan hipoglikemi berat(Sweetman, 2002).

Infus adalah larutan dalam jumlah besar terhitung mulai dari 100 ml yang diberikan melalui intravena tetes demi tetes dengan bantuan peralatan yang cocok.

Ketika terjadi gangguan hemostatif, maka tubuh harus segera mendapatkan terapi untuk mengembalikan keseimbangan air dan elektrolit larutan untuk infus intravenous harus jernih dan praktis bebas partikel (Lukas, Syamsuni, H.A.2006).

Infus glukosa merupakan salah satu jenis cairan infus yang paling sering digunakan dalam dunia medis. Glukosa, yang merupakan bentuk gula sederhana, adalah sumber energi utama bagi sel-sel tubuh. Ketika diberikan secara intravena (melalui infus), glukosa langsung masuk ke dalam aliran darah dan dapat digunakan oleh sel-sel tubuh untuk menghasilkan energi.

Persyaratan infus :

a. Sediaan parenteral volume besar harus steril dan bebas pirogen 

(5)

b. Sesuai kandungan bahan obat yang dinyatakan didalam etiket dan yang adadalam sediaan.

c. Penggunaan wadah yang cocok yang tidak hanya memungkinkan sediaantetap steril.

d. Tersatukan tanpa terjadi reaksi

1.3 Preformulasi 1.3.1 Zat Aktif

Glukosa

Pemerian : Hablur tidak berwarna, serbuk hablur, atau serbuk granul putih, tidak berbau, manis (FI VI, 2020).

Kelarutan : Sangat mudah larut dalam air mendidih, mudah larut dalam air, larut etanol mendidih, sukar larut dalam etanol (FI VI, 2020).

Titik leleh : 146℃ (PubChem) 1.3.2 Zat Tambahan

Natrium Klorida (FI VI, Hal. 1225 )

Pemerian : hablur bentuk kubus, tidak berwarna atau serbuk hablur putih rasa asin.

Kelarutan : Mudah larut dalam air, larut dalam gliserin, sukar larut dalam etanol pH : 6,7 – 7,3

Titik Didih : 14,13oC

Dosis Lazim : 10-20 gram P.O atau IV Dosis Max: -

Perhitungan Dosis : - Daftar Obat

Obat Keras : Sediaan Injeksi Sediaan injeksi

Pemeriaan : Larutan infus OTT : Terhadap oksidator kuat

Stabilitas : Larutan harus bebas pyrogen + karbon aktif 0,1 % pH : 3,5 – 6,5

(6)

1.3.3 Formula

Bahan Jumlah

Glukosa 1oo mL

NaCl Karbon

5 g 100 mg Formula Lengkap :

Glukosa 5g

Nacl

Aqua pro injection ad 100 mL

1.4 Metedologi penelitian 1.4.1 Alat dan Reagensia

a. Alat

- Beaker glass - Corong - Kertas saring

- Botol infus & Tutup Botol infus - Kaca arloji

- Spatel logam - Batang pengaduk - Gelas ukur b. Reagensia

- Glukosa - NaCl - Karbon

- Aqua pro injeksi 1.4.2 Tonisitas

Kelengkapan

Zat Δtb C

Glukosa 0,04 5

(7)

Perhitungan Tonisitas W = 0,52−(Δtb . c)

0,576

W = 0,52−(0,04×5) 0,576

W = 0,56% Hipotonis

Untuk membuat larutan isotonis, maka ditambahkan NaCl sebanyak 0,56%

(b/v)

1.4.3 Perhitungan dan Penimbangan bahan a. Perhitungan

Glukosa : 5gram×105mL

100mL = 5,25 gram/105 mL NaCl : 0,56gram ×105mL

100mL = 0,588 gram/105mL Carbon : 0,1gram×105mL

100mL = 0,105 gram/105 mL b. Penimbangan Bahan

Bahan Satuan Dasar Volume Produksi

Aqua pro injeksi 100 mL 105 mL

Glukosa 5,25 gram 15,75 gram

NaCl 0,588 gram 1,764 gram

Karbon 0,105 gram 0,315 gram

(8)

1.4.4 Prosedur kerja Prosedur Kerja

2.

Prosedur Evaluasi A. Penampilan Fisik

B. Jumlah Sediaan Larutkan glukosa dalam sebagian A.P.I

Larutkan NaCL dalam

sebagian A.P.I Kedua campuran

tersebut di campurkan

Larutan ditambahkan A.P.I ad 315 ml, cek pH Tambahkan karbon,

panaskan dan aduk (60- 70°C)

Larutan di saring panas-panas dan filtrat pertama

dibuang

Larutan kemudian diisikan kedalam

botol infus sebanyak 105 ml

Sterilisasikan dalam otoklap 115-116°C)

Ambil Beberapa Sampel

Amati penampilan ampul yang

digunakan

Sampel yang diambil dan dimasukkan kedalam kemasan sebanyak 1

botol infus

(9)

C. Kejernihan Sediaan

D. Uji Keseragaman volume

E. Uji Kebocoran

F. Volume terpindahkan Ambil beberapa

Sampel

Letakkan botol infus kedalam alas yang

berlatar belakang hitam

Berikan penerangan untuk melihat ada tidaknya partikel kecil

dalam botol infus

Ambil beberapa Sampel

Masukkan sampel kedalam metilen blue selama 1 menit

Ambil botol infus yang di masukkan, amati apakah ada perubahan warna

pada sediaan

Ambil beberapa Sampel

masukan sediaan kedalam gelas ukur

Amati volume yang terdapat dalam

gelasukur Ambil beberapa

Sampel

Sejajarkan botol infus, lalu dilihat keseragaman

volume nya

(10)

2.1 Hasil Pengamatan

No. Jenis Evaluasi Penilaian

1. Penampilan fisik wadah Warna : Jernih Bau : Tidak berbau Wadah : Baik tertutup rapat

2. Jumlah sediaan 1 botol

3. Kejernihan sediaan Jernih

4. Keseragaman volume Volume seragam sebanyak 105 mL 5. Uji volume terpindahkan Botol 1 : 100/105x100%= 95,23%

Botol 2 : 105/105 x 100% = 100%

Botol 3 : 100/105x100%= 95,23%

Botol 4 : 105/105×100% =100%

Botol 5 : 100/105×100% = 95,23%

Botol 6 : 105/105 x 100% = 100%

Botol 7 : 100/105 x 100% = 95,23%

Botol 8 : 105/105 x 100% = 100%

Botol 9 : 100/105×100%= 95,23%

Botol 10 : 100/105 ×100% = 95,23%

Rata rata : 97,138%, sediaan belum memenuhi syarat

(11)

2.2 Pembahasan

Pada praktikum kali ini, kami melakukan pembuatan infus menggunakan zat aktif glukosa. Glukosa berfungsi sebagai bahan aktif yang bersifat kalorigenik, yaitu zat yang dapat menghasilkan atau meningkatkan energi serta mengurangi kekurangan kalori dalam terapi pengganti atau pemeliharaan. Infus glukosa juga direkomendasikan untuk mengatasi hipoglikemia dengan cara meningkatkan kadar glukosa dalam darah dan membantu mengatasi dehidrasi. Dosis umum yang digunakan adalah 5%. Namun, jika dicampurkan dengan logam seperti Ag, Hg, dan Fe, stabilitas glukosa dalam larutan dapat menurun. Selain itu, glukosa tidak stabil jika dipanaskan pada suhu tinggi dalam waktu lama, karena dapat menyebabkan penurunan pH dan karamelisasi. Oleh karena itu, sterilisasi sebaiknya tidak dilakukan pada suhu tinggi dalam waktu yang lama, dan penyimpanan sediaan disarankan dilakukan di tempat yang sejuk. Glukosa tetap stabil dalam bentuk larutan.

Pembuatan sediaan steril khususnya infus harus dilakukan dengan hati-hati untuk menghindari kontaminasi mikroba dan bahan asing. Sebelum dilakukan praktikum alat-alat yang akan digunakan harus di sterilisasikan terlebih dahulu menggunakan autoklaf pada suhu 121°C selama 2 jam agar terbebas dari mikroorganisme yang ada pada lingkungan sekitar. Cara pembuatan obat yang baik juga mensyaratkan tiap wadah akhir infus harus diamati secara fisik dan tiap wadah yang menunjukkan pencemaran bahan asing yang terlihat secara visual harus ditolak.

Pembuatan sediaan infus glukosa dilakukan menggunakan metode pembuatan infus pelarut air. Karena glukosa larut dalam air, proses pembuatannya menjadi lebih stabil dengan menggunakan pelarut air. Pelarut yang digunakan adalah Aqua Pro Inieksi (A.P.I.), yang juga berguna dalam pembuatan injeksi karena bebas pirogen. Alasan utama penggunaan A.P.I. dalam ilmu farmasi adalah bahwa air dapat bereaksi dengan obat-obatan dan zat tambahan lain yang mudah terhidrolisis (sulit terurai tanpa kelembaban).

Glukosa tidak stabil pada pemanasan suhu tinggi dalam waktu yang lama karena terjadi penurunan pH dan karamelisasi sehingga sterilisasi tidak dilakukan pada suhu yang tinggi dalam waktu yang lama serta penyimpanan sediaan disarankan pada suhu yang sejuk. Untuk membuat sediaan yang efektif dibuat kadar sediaan yang sesuai tujuan terapi yaitu untuk sediaan infus dengan rentang kadar 2,5 – 7 %.

Pada formulasinya memakai zat tambahan Natrium klorida (NaCl) karena syarat obat suntik itu harus isotonik yang artinya sediaan infus tersebut tekanan yang dihasilkan harus sama dengan tekanan dalam cairan tubuh yang kadarnya sama dengan 0,9 % NaCl, sehingga harus ditambahkan NaCl. Hasil perhitungan tonisitas menunjukkan bahwa sediaan bersifat hipotonis dan perlu penambahan Natrium Klorida sebanyak 0,56 % untuk mencapai keadaan isotonis. Jika sediaan

(12)

memiliki konsentrasi yang lebih rendah daripada konsentrasi cairan plasma dalam tubuh, sehingga sediaan akan berpenetrasi atau terjadi osmosis kedalam cairan plasma yang konsentrasinya lebih tinggi, lama-lama pembuluh darah dapat pecah atau disebut hemolisis karena banyaknya cairan yang menumpuk di pembuluh darah.

Larutan yang telah homogen kemudian di cek pH dihasilkan nilai pH 6. pH sediaan yang dibuat tidak boleh terlalu asam dan terlalu basa tetapi sebisa mungkin mendekati pH fisiologis pada kisaran 6,6- 7 tujuannya untuk menjaga stabilitas dan keselamatan sediaan. pH dalam rentang ini membantu mencegah kerusakan pada komponen aktif obat dan menghindari iritasi pada pembuluh darah saat infus diberikan. Selain itu, pH yang sesuai juga memastikan bahwa cairan infus tidak menyebabkan perubahan yang merugikan pada keseimbangan asam-basa tubuh pasien.

Larutan ditambahkan karbon aktif. Tujuan ditambahkannya karbon aktif yaitu a gar sediaan steril tersebut bebas dari pirogen. Kemudian dilakukan cek pH kembali dan menghasilkan pH 7, dengan menjaga pH infus , fektivitas pengobatan dapat ditingkatkan dan risiko efek samping dapat diminimalkan. Laturan kemudian disaring, tujuannya untuk menghilangkan partikel yang terdapat dalam larutan karena syarat injeksi bentuk larutannya harus jernih dan untuk menghilangkan bakteri yang berada dalam larutan secara mekanik.

Pada pembuatan infus glukosa ini tidak ada penambahan pengawet karena hanya digunakan untuk satu kali pemakaian dan untuk menghindari terjadinya toksisitas yang mungkin disebabkan oleh pengawet tersebut. Selain itu, hal terpenting yang harus diperhatikan yaitu adalah hasil degradasi pada pemanasan glukosa yaitu 5-hidroksi metil furfural ( 5-HMF ) tidak boleh melebihi batas tertentu seperti yang tertera dalam Farmakope Indonesia karena bersifat alergenik.

Beberapa hal yang perlu diperhatikan untuk membatasi produksi 5-hidroksi metil furfural adalah suhu dan pH karena semakin tinggi suhu maka semakin banyak produksi 5-HMF begitu juga pada pH karena semakin tinggi pH maka semakin mudah terbentuk 5-HMF, serta konsentrasi glukosa karena semakin besar konsentrasi glukosa maka pembentukan 5-HMF akan semakin mudah.

Kemudian setelah pembuatan infusa selesai, sediaan siap dikemas, masukkan kedalam 3 botol infus dengan volume masing – masing botolnya 100 mL, namun pada pembuatannya larutan yang dibuat dilebihkan jumlahnya untuk mengantisipasi terjadinya tumpahan saat pengisian. Volume yang dimasukkan pada setiap botol tidaklah 100 mL namun 105 mL. Hal ini dilakukan untuk mengantisipasi larutan yang tertinggal pada botol pada saat pengambilan cairan.

Sediaan infus Glucose disterilkan dengan menggunakan autoklaf dengan suhu 121ºC selama 2 jam. Proses sterilisasi ini dilakukan untuk membunuh mikroba yang tidak tersaring dan masih terdapat pada sediaan sehingga diperoleh sediaan yang steril. Selanjutnya dilakukan evaluasi, diantaranya yaitu uji penampilan fisik

(13)

Uji evaluasi pertama pada sediaan infus glukosa yakni uji penampilan fisik wadah dilihat secara langsung. Hasil pengamatan menunjukkan penampilan fisik botol infus memiliki penampilan yang baik karena tutup botol dilapisi alumunium yang telah di press sehingga lebih aman dan aspetis, cairan infus berwarna jernih dan tidak berbau. Selanjutnya dilakukan uji jumlah sediaan, ini dilakukan untuk memastikan apakah jumlah sediaan yang dibuat benar jumlahnya sesuai perintah, hasil produksi infus glukosa yang dikemas berjumlah 1 botol dan sudah sesuai.

Uji kejernihan pada sediaan infus glukosa dilakukan secara visual untuk mengamati ada atau tidaknya endapan yang terbentuk pada sediaan (Putri dan Yuliani, 2018). Sediaan infus yang digunakan pada uji kejernihan ini sebanyak 3 botol. Uji kejernihan bertujuan untuk memastikan setiap larutan infus jernih dan terbebas dari pengotor. Prinsip dari uji kejernihan adalah wadah-wadah kemasan akhir diperiksa satu persatu dengan menyinari wadah dari samping pada latar belakang hitam untuk mengamati ada atau tidaknya pengotor berwarna putih dan pada latar belakang putih untuk mengamati ada atau tidaknya pengotor berwarna (Ayuhastuti, 2016).

Berdasarkan hasil pengujian kejernihan sediaan infus glukosa yang telah dibuat diamati pada latar belakang putih dan hitam menunjukkan tidak adanya partikel berwarna, maka sediaan infus glukosa yang dibuat telah memenuhi persyaratan kejernihan berdasarkan Farmakope Indonesia Edisi VI (Kemenkes RI, 2020). Uji keseragaman volume. Uji ini dilakukan dengan membandingkan 3 botol . Tujuan dilakukan uji keseragaman volume adalah untuk mengetahui setiap botol dari yang dibuat memiliki volume yang seragam dengan botol yang lainnya. Karena pada tahap awal volume yang dibuat telah ditentukan tiap botolnya dengan volume yang sama. Jika volume tidak seragam dikhawatirkan kadar zat aktif dalam sediaan tidak sama. Hasil dari penetapan menunjukan bahwa volume pada setiap botol adalah seragam atau sama sehingga uji ini telah memenuhi.

Selanjutnya pada tahap akhir yaitu uji volume terpindahkan, yang bertujuan untuk menjamin bahwa sediaan infus glukosa yang dikemas dalam wadah, jika dipindahkan dari wadah aslinya, akan memberikan volume sediaan yang sama seperti yang tertera pada etiket. Persyaratan volume terpindahkan untuk sediaan dosis tunggal adalah volume rata-rata sediaan yang diperoleh tidak kurang dari 100% dan volume sediaan pada masing-masing wadah masih berada dalam rentang 95%-110% dari volume yang tertera pada etiket (Kemenkes RI, 2020).

Hasil uji evaluasi volume terpindahkan yang diperoleh dari sediaan infus glukosa pada 10 botol infus mempunyai rata-rata sebesar 97,138% menunjukkan bahwa volume rata-rata sediaan yang diperoleh kurang dari 100% sehingga sediaan belum memenuhi syarat. Tetapi, volume pada masing-masing wadah, memiliki nilai 100% pada 4 botol infus dan 95,23% pada 6 botol infus. Menurut Kemenkes RI (2020), volume sediaan pada masing-masing wadah harus berada dalam rentang 95%-110% dari volume yang tertera pada etiket maka untuk volume terpindahkan

(14)

kurang dari 100%, tetapi semua botol di atas 95%, maka perlu dilakukan uji tambahan terhadap 20 botol lagi.

2.3 Kesimpulan

Berdasarkan hasil pembahasan, ditarik kesimpulan bahwa evaluasi terhadap sediaan infus glukosa yang dibuat, telah sesuai dengan persyaratan pengujian, kecuali pada uji volume terpindahkan yang menunjukkan bahwa volume rata-rata sediaan dari 10 botol infus diperoleh kurang dari 100% sehingga sediaan belum memenuhi syarat. Hal ini disebabkan karena terjadinya kesalahan dalam proses pengemasan atau ketidakakuratan dalam pengukuran.

(15)

DAFTAR PUSTAKA

Ayuhastuti, A. 2016. Praktikum Teknologi Sediaan Steril. Cetakan Pertama.

Jakarta: Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.

Kemenkes RI. 2020. Farmakope Indonesia. Edisi VI. Jakarta: Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.

Putri, D. C. A., dan Yuliani, S. H. 2018. Evaluasi Peracikan Injeksi Seftriakson di Salah Satu Rumah Sakit Swasta di Semarang. Indonesian Journal of Clinical Pharmacy. 7(3). 143-153.

(16)

LAMPIRAN

Penimbang bahan Nacl

Penimbang bahan glukosa

 Hasil Evaluasi (dilakukan 5 vial) Uji keseragaman volume

Uji kebocoran

(17)

Uji Kejernihan

(18)

PT. SINERGI FARMA Jl. Cilolohan No. 36 Tasikmalaya

No. Batch : 4151003 Tanggal : 15 Oktober 2024 Infus 105 mL

Komposisi :

Glukosa 5,25 g

Aqua pro injection ad 105 mL Pemakaian : Infus Intravena

Exp. Date : 2025

HARUS DENGAN RESEP DOKTER Uji Volume Terpindahan

 Etiket

 Label

No . Reg : DKL2410610549A1 No. Batch : 4151003

Komposisi Tiap 105 mL mengandung:

Glukosa…..…….5,25 gram

Nacl………….…0,588 gram

Karbon…………0,105 

GLUCOSEDR IP

®

SIMPAN DIBAWAH SUHU 25°C, TERLINDUNG DARI

CAHAYA LANGSUNG

Infusa 105 mL

(19)

 Brosur

16

Glucosedrip

®

Lautan Infus Glukosa 5%

Komposisi :

Tiap 105 mL larutan mengandung:

Glukosa ……….. 5,25 g Natrium klorida………. 0,588 g Aqua pro injection……….. Ad 105 mL Farmakologi :

Glukosa adalah monosakarisa dijadikan sebagai sumber energy bagi tubuh. Glukosa juga berperan pada berbagai tempat metabolisme protein dan lemak. Dextrose disimpan di dalam tubuh sebagai lemak dan di otot dan di hati sebagai glikogen. Jika suplai glukosa tidak mencukupi maka tubuh akan memobilisasi cadangan lemak untuk melepaskan atau menghasilkan energi.

Indikasi :

Mengatasi dehidrasi isotonic, menambah kalori, menggantikan cairan tubuh yang hilang dan mengembalikan keseimbangan elektrolit.

Kontraindikasi :

Hiperdehidrasi, diabetes melitus, , diabetes melitus, kelainan ginjal, mal- absorpsi, glukosa-galaktosa.

Efek Samping :

Hiperosmolaritas, edema, demam, iritasi atau infeksi pada tempat penyuntikan, thrombosis atau flebilitas yang luar dari tempat penyuntikan, ekstravas, diare, hiperglikemia.

Dosis :

Dewasa: 10-25 g (yaitu, 20-50 mL larutan 50% atau 40-100 mL dari 25%).

Anak-anak: 0,5-1 g/kg hingga 25 g (2-4 mL/kg/dosis larutan 25%) IV; tidak melebihi 25 g/dosis.

Peringatan dan Perhatian :

Gagal jantung kongesif, gangguan fungsi ginjal, hypoproteinemia, udem perifer, udem paru. Anak, usia lanut, hipertensi dan toksemia pada kehamilan.

Penyimpanan :

Simpan pada suhu kamar (25˚ -30˚ C), tempat kering, dan terlindung cahaya.

Referensi

Dokumen terkait

Sediaan yang akan disterilkan diisikan kedalam wadah yang cocok, kemudian Sediaan yang akan disterilkan diisikan kedalam wadah yang cocok, kemudian ditutup kedap. Jika volume dalam

Dengan demikian untuk menjamin sterilitas dari sediaan salep mata kloramfenikol, maka selama proses produksi harus dilakukan secara aseptis, dimana semua alat-alat

Tahap pertumbuhan selanjutnya yaitu folikel tersier dimana pada folikel ini oositnya berupa oosit sekunder yang berada di bagian tepi folikel, dan memiliki antrum yang lebih besar,

Sediaan parenteral volume besar merupakan sedia an cair steril an cair steril yang mengandung obat yang mengandung obat yang dikemas dalam wadah 100 ml atau lebih dan

Metode sterilisasi akhir merupakan proses sterilisasi yang dilakukan setelah sediaan selesai dikemas, untuk selanjutnya dilakukan sterilisasi, jenis metode

Praktikum kali ini dibuat sediaan large volume parenteral atau infus dengan  bahan aktif Natrium Bikarbonat$ adar %at aktif 'ang digunakan 'aitu 1,3!$ -ediaan

Ketika terjadi kesalahan dalam proses fiksasi maka proses selanjutnya menjadi sia-sia karena akan menghasilkan sediaan yang tidak baik, lebih gawatnya lagi sel atau jaringan yang

7 Penanggung Jawab Penimbangan - Bertugas umtuk melaksanakan proses penimbangan tepung yang telah jadi untuk selanjutnya dapat dikemas Penanggung Jawab Pengemasan - Bertugas untuk