LAPORAN PRAKTIKUM
TEKNOLOGI FORMULASI SEDIAAN STERIL SEDIAAN INFUS
Disusun Oleh :
Ira Maharani 31121121
Cantiya Maryam 31121122
Nabila Khairunnisa A 31121123 Mila Cahya Fitria 31121124
Gita Nurwanti 31121125
Kelompok 3
Kelas 4C Farmasi
PROGRAM STUDI S1 FARMASI FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS BAKTI TUNAS HUSADA TASIKMALAYA
KATA PENGANTAR
Alhamdulillaah, segala puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT., yang mana atas dasar limpahan rahmat serta karunia dari – Nya penulis dapat menyelesaikan tugas makalah ini sebagai salah satu tugas Praktikum Mata Kuliah Teknologi Formulasi Sediaan Steril yang berjudul “Sediaan Infus”.
Ungkapan terima kasih banyak penulis ucapkan kepada Dosen Pengampu Pada Mata Kuliah Teknologi Formulasi Sediaan Steril yang senantiasa mengayomi dan membimbing penulis baik secara moral maupun material. Tidak lupa juga penulis ucapkan terima kasih banyak kepada keluarga yang senantiasa mendukung dalam proses pembuatan makalah ini sehingga daapt selesai tepat pada waktunya.
Adapun tujuan dibuatnya makalah ini yakni, utamanya untuk memenuhi salah satu tugas Mata Kuliah Teknologi Formulasi Sediaan Steril, selain itu agar para pembaca dapat mengetahui bagaimana cara melakukan sterilisasi ruangan serta sterililasi lima jari dengan baik dan benar.
Penulis menyadari dengan sepenuhnya bahwa penulisan makalah ini masih sangat jauh dari kata sempurna, maka dari itu penulis mengharapkan kritik dan saran yang tentunya sangat membangun akan makalah ini guna meningkatkan kualitas makalah pada tugas lain yang akan mendatang baik tugas dari Mata Kuliah ini maupun pada Mata Kuliah yang lainnya.
Tasikmalaya, 29 Oktober 2024
Penyusun
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR...i
DAFTAR ISI... ii
1.1 Tujuan... 1
1.2 Dasar teori... 1
1.3 Preformulasi...3
1.3.1 Zat Aktif...3
1.3.2 Zat Tambahan... 4
1.3.3 Formula...5
1.4 Metedologi penelitian...5
1.4.1 Alat dan Reagensia...5
1.4.2 Tonisitas...5
1.4.3 Perhitungan dan Penimbangan bahan...6
1.4.4 Prosedur kerja...7
1.5 Hasil Pengamatan...8
1.6 Pembahasan...9
1.7 Kesimpulan... 14
DAFTAR PUSTAKA...15
LAMPIRAN...16
1.1 Tujuan
1. Untuk lebih mengetahui cara pembuatan sediaan steril infus glukosa.
2. Mengevaluasi karakteristik sediaan infus dan evaluasinya.
1.2 Dasar teori
Glukosa adalah sejenis gula sederhana yang merupakan sumber energi utama bagi hampir semua sel dalam tubuh, terutama sel-sel otak. Bayangkan glukosa sebagai bensin untuk mobil, tanpa bensin, mobil tidak bisa berjalan. Begitu pula tubuh kita, tanpa glukosa, banyak fungsi tubuh akan terganggu.
Glukosa didapatkan tubuh kita terutama dari makanan yang kita konsumsi, khususnya karbohidrat. Ketika kita makan nasi, roti, atau buah-buahan, karbohidrat di dalamnya akan dipecah menjadi glukosa melalui proses pencernaan. Glukosa kemudian diserap oleh darah dan dibawa ke seluruh tubuh untuk digunakan sebagai energi.
Larutan glukosa dengan kosentrasi 5% sering digunakan untuk deplesi cairan, dan dapat diberikan melalui vena parifer. Larutan glukosa dengankosentrasi yang lebih besar dari 5% merupakan larutan yang bersifathiperosmotik dan umumnya digunakan sebagai sumber karbohidrat, sertalarutan glukosa 5%, sering digunakan dalam pengobatan hipoglikemi berat(Sweetman, 2002).
Infus adalah larutan dalam jumlah besar terhitung mulai dari 100 ml yang diberikan melalui intravena tetes demi tetes dengan bantuan peralatan yang cocok.
Ketika terjadi gangguan hemostatif, maka tubuh harus segera mendapatkan terapi untuk mengembalikan keseimbangan air dan elektrolit larutan untuk infus intravenous harus jernih dan praktis bebas partikel (Lukas, Syamsuni, H.A.2006).
Infus glukosa merupakan salah satu jenis cairan infus yang paling sering digunakan dalam dunia medis. Glukosa, yang merupakan bentuk gula sederhana, adalah sumber energi utama bagi sel-sel tubuh. Ketika diberikan secara intravena (melalui infus), glukosa langsung masuk ke dalam aliran darah dan dapat digunakan oleh sel-sel tubuh untuk menghasilkan energi.
Persyaratan infus :
a. Sediaan parenteral volume besar harus steril dan bebas pirogen
b. Sesuai kandungan bahan obat yang dinyatakan didalam etiket dan yang adadalam sediaan.
c. Penggunaan wadah yang cocok yang tidak hanya memungkinkan sediaantetap steril.
d. Tersatukan tanpa terjadi reaksi
1.3 Preformulasi 1.3.1 Zat Aktif
Glukosa
Pemerian : Hablur tidak berwarna, serbuk hablur, atau serbuk granul putih, tidak berbau, manis (FI VI, 2020).
Kelarutan : Sangat mudah larut dalam air mendidih, mudah larut dalam air, larut etanol mendidih, sukar larut dalam etanol (FI VI, 2020).
Titik leleh : 146℃ (PubChem) 1.3.2 Zat Tambahan
Natrium Klorida (FI VI, Hal. 1225 )
Pemerian : hablur bentuk kubus, tidak berwarna atau serbuk hablur putih rasa asin.
Kelarutan : Mudah larut dalam air, larut dalam gliserin, sukar larut dalam etanol pH : 6,7 – 7,3
Titik Didih : 14,13oC
Dosis Lazim : 10-20 gram P.O atau IV Dosis Max: -
Perhitungan Dosis : - Daftar Obat
Obat Keras : Sediaan Injeksi Sediaan injeksi
Pemeriaan : Larutan infus OTT : Terhadap oksidator kuat
Stabilitas : Larutan harus bebas pyrogen + karbon aktif 0,1 % pH : 3,5 – 6,5
1.3.3 Formula
Bahan Jumlah
Glukosa 1oo mL
NaCl Karbon
5 g 100 mg Formula Lengkap :
Glukosa 5g
Nacl
Aqua pro injection ad 100 mL
1.4 Metedologi penelitian 1.4.1 Alat dan Reagensia
a. Alat
- Beaker glass - Corong - Kertas saring
- Botol infus & Tutup Botol infus - Kaca arloji
- Spatel logam - Batang pengaduk - Gelas ukur b. Reagensia
- Glukosa - NaCl - Karbon
- Aqua pro injeksi 1.4.2 Tonisitas
Kelengkapan
Zat Δtb C
Glukosa 0,04 5
Perhitungan Tonisitas W = 0,52−(Δtb . c)
0,576
W = 0,52−(0,04×5) 0,576
W = 0,56% → Hipotonis
Untuk membuat larutan isotonis, maka ditambahkan NaCl sebanyak 0,56%
(b/v)
1.4.3 Perhitungan dan Penimbangan bahan a. Perhitungan
Glukosa : 5gram×105mL
100mL = 5,25 gram/105 mL NaCl : 0,56gram ×105mL
100mL = 0,588 gram/105mL Carbon : 0,1gram×105mL
100mL = 0,105 gram/105 mL b. Penimbangan Bahan
Bahan Satuan Dasar Volume Produksi
Aqua pro injeksi 100 mL 105 mL
Glukosa 5,25 gram 15,75 gram
NaCl 0,588 gram 1,764 gram
Karbon 0,105 gram 0,315 gram
1.4.4 Prosedur kerja Prosedur Kerja
2.
Prosedur Evaluasi A. Penampilan Fisik
B. Jumlah Sediaan Larutkan glukosa dalam sebagian A.P.I
Larutkan NaCL dalam
sebagian A.P.I Kedua campuran
tersebut di campurkan
Larutan ditambahkan A.P.I ad 315 ml, cek pH Tambahkan karbon,
panaskan dan aduk (60- 70°C)
Larutan di saring panas-panas dan filtrat pertama
dibuang
Larutan kemudian diisikan kedalam
botol infus sebanyak 105 ml
Sterilisasikan dalam otoklap 115-116°C)
Ambil Beberapa Sampel
Amati penampilan ampul yang
digunakan
Sampel yang diambil dan dimasukkan kedalam kemasan sebanyak 1
botol infus
C. Kejernihan Sediaan
D. Uji Keseragaman volume
E. Uji Kebocoran
F. Volume terpindahkan Ambil beberapa
Sampel
Letakkan botol infus kedalam alas yang
berlatar belakang hitam
Berikan penerangan untuk melihat ada tidaknya partikel kecil
dalam botol infus
Ambil beberapa Sampel
Masukkan sampel kedalam metilen blue selama 1 menit
Ambil botol infus yang di masukkan, amati apakah ada perubahan warna
pada sediaan
Ambil beberapa Sampel
masukan sediaan kedalam gelas ukur
Amati volume yang terdapat dalam
gelasukur Ambil beberapa
Sampel
Sejajarkan botol infus, lalu dilihat keseragaman
volume nya
2.1 Hasil Pengamatan
No. Jenis Evaluasi Penilaian
1. Penampilan fisik wadah Warna : Jernih Bau : Tidak berbau Wadah : Baik tertutup rapat
2. Jumlah sediaan 1 botol
3. Kejernihan sediaan Jernih
4. Keseragaman volume Volume seragam sebanyak 105 mL 5. Uji volume terpindahkan Botol 1 : 100/105x100%= 95,23%
Botol 2 : 105/105 x 100% = 100%
Botol 3 : 100/105x100%= 95,23%
Botol 4 : 105/105×100% =100%
Botol 5 : 100/105×100% = 95,23%
Botol 6 : 105/105 x 100% = 100%
Botol 7 : 100/105 x 100% = 95,23%
Botol 8 : 105/105 x 100% = 100%
Botol 9 : 100/105×100%= 95,23%
Botol 10 : 100/105 ×100% = 95,23%
Rata rata : 97,138%, sediaan belum memenuhi syarat
2.2 Pembahasan
Pada praktikum kali ini, kami melakukan pembuatan infus menggunakan zat aktif glukosa. Glukosa berfungsi sebagai bahan aktif yang bersifat kalorigenik, yaitu zat yang dapat menghasilkan atau meningkatkan energi serta mengurangi kekurangan kalori dalam terapi pengganti atau pemeliharaan. Infus glukosa juga direkomendasikan untuk mengatasi hipoglikemia dengan cara meningkatkan kadar glukosa dalam darah dan membantu mengatasi dehidrasi. Dosis umum yang digunakan adalah 5%. Namun, jika dicampurkan dengan logam seperti Ag, Hg, dan Fe, stabilitas glukosa dalam larutan dapat menurun. Selain itu, glukosa tidak stabil jika dipanaskan pada suhu tinggi dalam waktu lama, karena dapat menyebabkan penurunan pH dan karamelisasi. Oleh karena itu, sterilisasi sebaiknya tidak dilakukan pada suhu tinggi dalam waktu yang lama, dan penyimpanan sediaan disarankan dilakukan di tempat yang sejuk. Glukosa tetap stabil dalam bentuk larutan.
Pembuatan sediaan steril khususnya infus harus dilakukan dengan hati-hati untuk menghindari kontaminasi mikroba dan bahan asing. Sebelum dilakukan praktikum alat-alat yang akan digunakan harus di sterilisasikan terlebih dahulu menggunakan autoklaf pada suhu 121°C selama 2 jam agar terbebas dari mikroorganisme yang ada pada lingkungan sekitar. Cara pembuatan obat yang baik juga mensyaratkan tiap wadah akhir infus harus diamati secara fisik dan tiap wadah yang menunjukkan pencemaran bahan asing yang terlihat secara visual harus ditolak.
Pembuatan sediaan infus glukosa dilakukan menggunakan metode pembuatan infus pelarut air. Karena glukosa larut dalam air, proses pembuatannya menjadi lebih stabil dengan menggunakan pelarut air. Pelarut yang digunakan adalah Aqua Pro Inieksi (A.P.I.), yang juga berguna dalam pembuatan injeksi karena bebas pirogen. Alasan utama penggunaan A.P.I. dalam ilmu farmasi adalah bahwa air dapat bereaksi dengan obat-obatan dan zat tambahan lain yang mudah terhidrolisis (sulit terurai tanpa kelembaban).
Glukosa tidak stabil pada pemanasan suhu tinggi dalam waktu yang lama karena terjadi penurunan pH dan karamelisasi sehingga sterilisasi tidak dilakukan pada suhu yang tinggi dalam waktu yang lama serta penyimpanan sediaan disarankan pada suhu yang sejuk. Untuk membuat sediaan yang efektif dibuat kadar sediaan yang sesuai tujuan terapi yaitu untuk sediaan infus dengan rentang kadar 2,5 – 7 %.
Pada formulasinya memakai zat tambahan Natrium klorida (NaCl) karena syarat obat suntik itu harus isotonik yang artinya sediaan infus tersebut tekanan yang dihasilkan harus sama dengan tekanan dalam cairan tubuh yang kadarnya sama dengan 0,9 % NaCl, sehingga harus ditambahkan NaCl. Hasil perhitungan tonisitas menunjukkan bahwa sediaan bersifat hipotonis dan perlu penambahan Natrium Klorida sebanyak 0,56 % untuk mencapai keadaan isotonis. Jika sediaan
memiliki konsentrasi yang lebih rendah daripada konsentrasi cairan plasma dalam tubuh, sehingga sediaan akan berpenetrasi atau terjadi osmosis kedalam cairan plasma yang konsentrasinya lebih tinggi, lama-lama pembuluh darah dapat pecah atau disebut hemolisis karena banyaknya cairan yang menumpuk di pembuluh darah.
Larutan yang telah homogen kemudian di cek pH dihasilkan nilai pH 6. pH sediaan yang dibuat tidak boleh terlalu asam dan terlalu basa tetapi sebisa mungkin mendekati pH fisiologis pada kisaran 6,6- 7 tujuannya untuk menjaga stabilitas dan keselamatan sediaan. pH dalam rentang ini membantu mencegah kerusakan pada komponen aktif obat dan menghindari iritasi pada pembuluh darah saat infus diberikan. Selain itu, pH yang sesuai juga memastikan bahwa cairan infus tidak menyebabkan perubahan yang merugikan pada keseimbangan asam-basa tubuh pasien.
Larutan ditambahkan karbon aktif. Tujuan ditambahkannya karbon aktif yaitu a gar sediaan steril tersebut bebas dari pirogen. Kemudian dilakukan cek pH kembali dan menghasilkan pH 7, dengan menjaga pH infus , fektivitas pengobatan dapat ditingkatkan dan risiko efek samping dapat diminimalkan. Laturan kemudian disaring, tujuannya untuk menghilangkan partikel yang terdapat dalam larutan karena syarat injeksi bentuk larutannya harus jernih dan untuk menghilangkan bakteri yang berada dalam larutan secara mekanik.
Pada pembuatan infus glukosa ini tidak ada penambahan pengawet karena hanya digunakan untuk satu kali pemakaian dan untuk menghindari terjadinya toksisitas yang mungkin disebabkan oleh pengawet tersebut. Selain itu, hal terpenting yang harus diperhatikan yaitu adalah hasil degradasi pada pemanasan glukosa yaitu 5-hidroksi metil furfural ( 5-HMF ) tidak boleh melebihi batas tertentu seperti yang tertera dalam Farmakope Indonesia karena bersifat alergenik.
Beberapa hal yang perlu diperhatikan untuk membatasi produksi 5-hidroksi metil furfural adalah suhu dan pH karena semakin tinggi suhu maka semakin banyak produksi 5-HMF begitu juga pada pH karena semakin tinggi pH maka semakin mudah terbentuk 5-HMF, serta konsentrasi glukosa karena semakin besar konsentrasi glukosa maka pembentukan 5-HMF akan semakin mudah.
Kemudian setelah pembuatan infusa selesai, sediaan siap dikemas, masukkan kedalam 3 botol infus dengan volume masing – masing botolnya 100 mL, namun pada pembuatannya larutan yang dibuat dilebihkan jumlahnya untuk mengantisipasi terjadinya tumpahan saat pengisian. Volume yang dimasukkan pada setiap botol tidaklah 100 mL namun 105 mL. Hal ini dilakukan untuk mengantisipasi larutan yang tertinggal pada botol pada saat pengambilan cairan.
Sediaan infus Glucose disterilkan dengan menggunakan autoklaf dengan suhu 121ºC selama 2 jam. Proses sterilisasi ini dilakukan untuk membunuh mikroba yang tidak tersaring dan masih terdapat pada sediaan sehingga diperoleh sediaan yang steril. Selanjutnya dilakukan evaluasi, diantaranya yaitu uji penampilan fisik
Uji evaluasi pertama pada sediaan infus glukosa yakni uji penampilan fisik wadah dilihat secara langsung. Hasil pengamatan menunjukkan penampilan fisik botol infus memiliki penampilan yang baik karena tutup botol dilapisi alumunium yang telah di press sehingga lebih aman dan aspetis, cairan infus berwarna jernih dan tidak berbau. Selanjutnya dilakukan uji jumlah sediaan, ini dilakukan untuk memastikan apakah jumlah sediaan yang dibuat benar jumlahnya sesuai perintah, hasil produksi infus glukosa yang dikemas berjumlah 1 botol dan sudah sesuai.
Uji kejernihan pada sediaan infus glukosa dilakukan secara visual untuk mengamati ada atau tidaknya endapan yang terbentuk pada sediaan (Putri dan Yuliani, 2018). Sediaan infus yang digunakan pada uji kejernihan ini sebanyak 3 botol. Uji kejernihan bertujuan untuk memastikan setiap larutan infus jernih dan terbebas dari pengotor. Prinsip dari uji kejernihan adalah wadah-wadah kemasan akhir diperiksa satu persatu dengan menyinari wadah dari samping pada latar belakang hitam untuk mengamati ada atau tidaknya pengotor berwarna putih dan pada latar belakang putih untuk mengamati ada atau tidaknya pengotor berwarna (Ayuhastuti, 2016).
Berdasarkan hasil pengujian kejernihan sediaan infus glukosa yang telah dibuat diamati pada latar belakang putih dan hitam menunjukkan tidak adanya partikel berwarna, maka sediaan infus glukosa yang dibuat telah memenuhi persyaratan kejernihan berdasarkan Farmakope Indonesia Edisi VI (Kemenkes RI, 2020). Uji keseragaman volume. Uji ini dilakukan dengan membandingkan 3 botol . Tujuan dilakukan uji keseragaman volume adalah untuk mengetahui setiap botol dari yang dibuat memiliki volume yang seragam dengan botol yang lainnya. Karena pada tahap awal volume yang dibuat telah ditentukan tiap botolnya dengan volume yang sama. Jika volume tidak seragam dikhawatirkan kadar zat aktif dalam sediaan tidak sama. Hasil dari penetapan menunjukan bahwa volume pada setiap botol adalah seragam atau sama sehingga uji ini telah memenuhi.
Selanjutnya pada tahap akhir yaitu uji volume terpindahkan, yang bertujuan untuk menjamin bahwa sediaan infus glukosa yang dikemas dalam wadah, jika dipindahkan dari wadah aslinya, akan memberikan volume sediaan yang sama seperti yang tertera pada etiket. Persyaratan volume terpindahkan untuk sediaan dosis tunggal adalah volume rata-rata sediaan yang diperoleh tidak kurang dari 100% dan volume sediaan pada masing-masing wadah masih berada dalam rentang 95%-110% dari volume yang tertera pada etiket (Kemenkes RI, 2020).
Hasil uji evaluasi volume terpindahkan yang diperoleh dari sediaan infus glukosa pada 10 botol infus mempunyai rata-rata sebesar 97,138% menunjukkan bahwa volume rata-rata sediaan yang diperoleh kurang dari 100% sehingga sediaan belum memenuhi syarat. Tetapi, volume pada masing-masing wadah, memiliki nilai 100% pada 4 botol infus dan 95,23% pada 6 botol infus. Menurut Kemenkes RI (2020), volume sediaan pada masing-masing wadah harus berada dalam rentang 95%-110% dari volume yang tertera pada etiket maka untuk volume terpindahkan
kurang dari 100%, tetapi semua botol di atas 95%, maka perlu dilakukan uji tambahan terhadap 20 botol lagi.
2.3 Kesimpulan
Berdasarkan hasil pembahasan, ditarik kesimpulan bahwa evaluasi terhadap sediaan infus glukosa yang dibuat, telah sesuai dengan persyaratan pengujian, kecuali pada uji volume terpindahkan yang menunjukkan bahwa volume rata-rata sediaan dari 10 botol infus diperoleh kurang dari 100% sehingga sediaan belum memenuhi syarat. Hal ini disebabkan karena terjadinya kesalahan dalam proses pengemasan atau ketidakakuratan dalam pengukuran.
DAFTAR PUSTAKA
Ayuhastuti, A. 2016. Praktikum Teknologi Sediaan Steril. Cetakan Pertama.
Jakarta: Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.
Kemenkes RI. 2020. Farmakope Indonesia. Edisi VI. Jakarta: Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.
Putri, D. C. A., dan Yuliani, S. H. 2018. Evaluasi Peracikan Injeksi Seftriakson di Salah Satu Rumah Sakit Swasta di Semarang. Indonesian Journal of Clinical Pharmacy. 7(3). 143-153.
LAMPIRAN
Penimbang bahan Nacl
Penimbang bahan glukosa
Hasil Evaluasi (dilakukan 5 vial) Uji keseragaman volume
Uji kebocoran
Uji Kejernihan
PT. SINERGI FARMA Jl. Cilolohan No. 36 Tasikmalaya
No. Batch : 4151003 Tanggal : 15 Oktober 2024 Infus 105 mL
Komposisi :
Glukosa 5,25 g
Aqua pro injection ad 105 mL Pemakaian : Infus Intravena
Exp. Date : 2025
HARUS DENGAN RESEP DOKTER Uji Volume Terpindahan
Etiket
Label
No . Reg : DKL2410610549A1 No. Batch : 4151003
Komposisi Tiap 105 mL mengandung:
Glukosa…..…….5,25 gram
Nacl………….…0,588 gram
Karbon…………0,105
GLUCOSEDR IP
®SIMPAN DIBAWAH SUHU 25°C, TERLINDUNG DARI
CAHAYA LANGSUNG
Infusa 105 mL
Brosur
16
Glucosedrip
®Lautan Infus Glukosa 5%
Komposisi :
Tiap 105 mL larutan mengandung:
Glukosa ……….. 5,25 g Natrium klorida………. 0,588 g Aqua pro injection……….. Ad 105 mL Farmakologi :
Glukosa adalah monosakarisa dijadikan sebagai sumber energy bagi tubuh. Glukosa juga berperan pada berbagai tempat metabolisme protein dan lemak. Dextrose disimpan di dalam tubuh sebagai lemak dan di otot dan di hati sebagai glikogen. Jika suplai glukosa tidak mencukupi maka tubuh akan memobilisasi cadangan lemak untuk melepaskan atau menghasilkan energi.
Indikasi :
Mengatasi dehidrasi isotonic, menambah kalori, menggantikan cairan tubuh yang hilang dan mengembalikan keseimbangan elektrolit.
Kontraindikasi :
Hiperdehidrasi, diabetes melitus, , diabetes melitus, kelainan ginjal, mal- absorpsi, glukosa-galaktosa.
Efek Samping :
Hiperosmolaritas, edema, demam, iritasi atau infeksi pada tempat penyuntikan, thrombosis atau flebilitas yang luar dari tempat penyuntikan, ekstravas, diare, hiperglikemia.
Dosis :
Dewasa: 10-25 g (yaitu, 20-50 mL larutan 50% atau 40-100 mL dari 25%).
Anak-anak: 0,5-1 g/kg hingga 25 g (2-4 mL/kg/dosis larutan 25%) IV; tidak melebihi 25 g/dosis.
Peringatan dan Perhatian :
Gagal jantung kongesif, gangguan fungsi ginjal, hypoproteinemia, udem perifer, udem paru. Anak, usia lanut, hipertensi dan toksemia pada kehamilan.
Penyimpanan :
Simpan pada suhu kamar (25˚ -30˚ C), tempat kering, dan terlindung cahaya.