UCAPAN TERIMA KASIH. hanya atas berkat, rahmat karunia dan penyertaan-nya sehingga dapat

15  14  Download (0)

Teks penuh

(1)

vi

UCAPAN TERIMA KASIH

Puji syukur penulis panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena hanya atas berkat, rahmat karunia dan penyertaan-Nya sehingga dapat menyelesaikan tesis yang berjudul “Perilaku Kawin dan Histologi Testis Tikus (Rattus norvegicus) Jantan yang Diberi Tepung Daun Lamtoro (Leucaena leucocephala Lamk. de Wit) Hasil Perendaman”.

Penulis mengucapkan terima kasih kepada Dr. Dra. Ngurah Intan Wiratmini, M.Si., selaku pembimbing pertama dan sebagai ketua panitia ujian tesis yang telah memberikan dorongan, semangat, bimbingan dan saran selama penulis menyelesaikan tesis ini. Terima kasih sebesar-besarnya pula penulis sampaikan kepada Prof. Dr. Ir. I Wayan Kasa, M.Rur.Sc., selaku pembimbing kedua dan juga sebagai sekretaris panitia ujian tesis yang dengan penuh perhatian dan kesabaran memberikan bimbingan, arahan dan saran kepada penulis.

Ucapan yang sama juga penulis tujukan kepada Rektor Universitas Udayana Prof. Dr. dr. Ketut Suastika, Sp. PD-KEMD atas kesempatan dan fasilitas yang diberikan kepada penulis untuk mengikuti dan menyelesaikan pendidikan Program Magister di Universitas Udayana. Ucapan terima kasih ini juga ditujukan kepada Direktur Program Pascasarjana Universitas Udayana yang dijabat oleh Prof. Dr. dr. A. A. Raka Sudewi, Sp.S(K) atas kesempatan yang diberikan kepada penulis untuk menjadi mahasiswa Program Magister pada Program Pascasarjana Universitas Udayana. Penulis juga menyampaikan rasa terima kasih kepada Ketua Program Studi Magister Ilmu Biologi Ir. Ida Ayu Astarini, M.Sc., Ph.D. Ungkapan terima kasih penulis sampaikan pula kepada

(2)

para penguji tesis, yaitu Drs. I. B. Made Suaskara, M.Si., Dra. Ni Gusti Ayu Manik Ermayanti, M.Si., dan Dr. Dra. Ni Putu Adriani Astiti, M.Si., yang telah memberikan masukan, saran, sanggahan, dan koreksi sehingga tesis ini dapat terwujud seperti ini. Ucapan yang sama juga penulis tujukan kepada Dr. Dra. Ni Putu Adriani Astiti, M.Si., selaku dosen pembimbing akademik atas bimbingan dan nasehatnya. Ucapan yang sama juga penulis tujukan kepada keluarga dan teman-teman yang telah memberikan doa dan motivasi positif kepada penulis.

Tesis ini akan menjadi panduan bagi pembaca dalam melaksanakan penelitian. Semoga tesis ini dapat memberi ide bagi pembaca. Atas perhatiannya, penulis mengucapkan terima kasih.

Denpasar, Juni 2016

(3)

viii ABSTRAK

PERILAKU KAWIN DAN HISTOLOGI TESTIS TIKUS (Rattus norvegicus) JANTAN YANG DIBERI TEPUNG DAUN LAMTORO

(Leucaena leucocephala Lamk. de Wit) HASIL PERENDAMAN

Lamtoro (Leucaena leucocephala Lamk. de Wit) merupakan salah satu tanaman yang memiliki kandungan protein yang cukup tinggi yaitu berkisar antara 25-35%. Namun, pemanfaatan lamtoro menjadi terbatas karena mengandung zat antinutrisi seperti mimosin. Kandungan mimosin dapat diturunkan melalui beberapa metode salah satunya adalah melalui perendaman dalam air. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh dari pemberian tepung daun lamtoro hasil perendaman terhadap perilaku kawin dan histologi testis tikus jantan. Rancangan percobaan yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) yang terdiri dari empat kelompok dengan masing-masing delapan ulangan. Perlakuan berupa pemberian tepung daun lamtoro hasil perendaman yang dicampur dengan pelet komersial dengan aras 100% pakan komersial (tanpa TDLP) sebagai kontrol (P0), 92,5% pakan komersial + 7,5% TDLP sebagai perlakuan 1 (P1), 85% pakan komersial + 15% TDLP sebagai perlakuan 2 (P2) dan 77,5% pakan komersial + 22,5% TDLP sebagai perlakuan 3 (P3). Perlakuan diberikan pada tikus jantan selama 30 hari. Variabel yang diamati pada penelitian ini adalah jumlah kissing vagina, jumlah mount, jumlah intromission, diameter tubulus seminiferus dan jumlah sel spermatogenik. Data hasil penelitian diolah dan disajikan dalam bentuk tabel menggunakan program statistik komputer (SPSS 16.0 for Windows) dengan menggunakan uji One Way Anova. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan TDLP dalam ransum tidak berpengaruh nyata (P>0,05) terhadap perilaku kawin dan histologi testis tikus jantan. Penambahan TDLP hingga aras 22,5% tidak menurunkan jumlah perilaku kawin dan histologi testis tikus jantan.

(4)

ABSTRACT

MATING BEHAVIOR AND TESTIS HISTOLOGY OF ALBINO RATS (Rattus norvegicus) FED SOAKED LAMTORO

(Leucaena leucocephala Lamk. de Wit) LEAVES MEAL

Lamtoro (Leucaena leucocephala Lamk. de Wit) is one of the plants that have high protein contents ranging from 25 to 35%. However, it used is restricted due to its anti nutrition factors such as mimosine. The mimosine can be reduced by several methods, one of them is by soaking. This research aims to determine the efffect of soaked lamtoro leaf meal on the mating behavior and testis histology of albino rats. The experimental design used within study was a Completely Randomised Design (CRD) with four groups and each group consisted of eight albino rats. The treatments was fed by pellets made from water soaked lamtoro leaf meal (SLLM) combined with commercial feed. The control treatment (P0) was feeding group with commercial feed, the first treatment (P1) 92.5% commercial feed + 7.5% SLLM, the second treatment (P2) 85% commercial feed + 15% SLLM and the third treatment (P3) 77.5% commercial feed + 22.5% SLLM. Treatments was given to albino rats everyday for 30 days. Variables observed is the amount of kissing vagina, amount of mount, amount of intromission, diameter of seminiferous tubular and amount of spermatogenic cells. Data were analysed with statistic program (SPSS 16.0 for Windows) with One Way Annova. The result showed that additional of SLLM into commercial feed diet did not significantly difference (P>0.05) in mating behavior and testis histology of albino rats. It was concluded that the additional amount of SLLM up to 22.5% did not decrease amount of mating behavior and testis histology of albino rats.

(5)

x DAFTAR ISI

Halaman

SAMPUL DALAM... i

PRASYARAT GELAR ... ii

LEMBAR PERSETUJUAN ... iii

PENETAPAN PANITIA PENGUJI ... iv

SURAT PERNYATAAN BEBAS PLAGIAT ... v

UCAPAN TERIMA KASIH... vi

ABSTRAK ... viii

ABSTRACT... ix

DAFTAR ISI... x

DAFTAR TABEL... xii

DAFTAR GAMBAR ... xiii

DAFTAR SINGKATAN ... xiv

DAFTAR LAMPIRAN... xv BAB I. PENDAHULUAN ... 1 1.1. Latar Belakang ... 1 1.2. Rumusan Masalah ... 4 1.3. Tujuan Penelitian ... 4 1.4. Manfaat Penelitian ... 5

BAB II. TINJAUAN PUSTAKA ... 6

2.1. Klasifikasi dan Deskripsi Tikus Putih ... 7

2.2. Tanaman Lamtoro Sebagai Hijauan Ternak ... 6

2.3. Kandungan Nutrien dan Zat Antinutrisi Daun Lamtoro... 11

2.4. Upaya Penurunan Kadar Mimosin Pada Lamtoro ... 14

2.5. Perilaku Kawin Tikus Jantan... 16

2.6. Perilaku Kawin Tikus Betina... 18

2.7. Testis... 20

2.7.1. Struktur Anatomi Testis... 20

2.7.2. Struktur Histologi Testis... 21

BAB III. KERANGKA BERPIKIR, KONSEP DAN HIPOTESIS PENELITIAN ... 25

3.1. Kerangka Berpikir ... 22

3.2. Konsep ... 27

(6)

BAB IV. METODE PENELITIAN ... 29

4.1. Rancangan Percobaan... 29

4.2. Tempat dan Waktu Penelitian... 30

4.3. Sampel ... 30 4.3.1. Sampel ... 30 4.3.2. Aklimatisasi... 30 4.4. Variabel Penelitian ... 31 4.4.1. Variabel bebas ... 31 4.4.2. Variabel tergantung ... 31 4.4.3. Variabel kontrol... 31 4.5. Bahan Penelitian ... 31 4.6. Instrumen Penelitian ... 32 4.7. Prosedur Penelitian ... 32 4.7.1. Tahap Persiapan... 32

4.7.1.1. Pembuatan tepung daun lamtoro... 32

4.7.1.2. Pembuatan pellet campuran tepung daun lamtoro dan pakan komersial ... 33

4.7.1.3. Pemeriksaan Siklus Estrus ... 34

4.7.2. Pelaksanaan Penelitian ... 34

4.7.2.1. Konsumsi Ransum ... 35

4.7.2.2. Pertambahan Bobot Badan... 35

4.7.2.3. Pengamatan Perilaku Kawin ... 35

4.7.2.4. Pembuatan Sayatan Histologi Testis... 36

4.7.2.5. Pengamatan Histologi Testis... 37

4.8. Analisis Data ... 40

BAB V HASIL... 41

5.1. Perilaku Kawin Tikus Jantan... 41

5.2. Histologi Testis Tikus Jantan ... 46

5.3. Konsumsi Ransum... 54

5.4. Bobot Badan Harian ... 56

BAB VI SIMPULAN DAN SARAN ... 59

6.1. Simpulan... 59

6.2. Saran ... 59

(7)

xii

DAFTAR TABEL

Halaman 2.1. Biologi Tikus Putih ... 7 2.2. Kandungan Nutrien Daun Lamtoro ... 12 4.1. Komposisi Nutrien Pakan Komersial... 33 5.1. Rata-rata Perilaku Kawin Tikus Jantan yang Diberi Perlakuan

Tepung Daun Lamtoro Hasil Perendaman……….... 41 5.2. Rata-rata Diameter Tubulus Seminiferus dan Sel Spermatogenik Tikus

Jantan yang Diberi Perlakuan Tepung Daun Lamtoro Hasil

Perendaman………... 46 5.3. Rata-rata Konsumsi Ransum Tikus Jantan yang Diberi Perlakuan

Tepung Daun Lamtoro Hasil Perendaman………... 54 5.4. Rata-rata Bobot Badan Harian Tikus Jantan yang Diberi Perlakuan

(8)

DAFTAR GAMBAR

Halaman

2.1. Tanaman Lamtoro (Leucaena leucocephala Lamk. de Wit) ... 10

2.2. Struktur Anatomi Testis ... 21

2.3. Proses Spermatogenesis ... 24

3.1. Kerangka Konsep Penelitian... 27

4.1. Pakan perlakuan dalam bentuk pellet ... 34

4.2. Bagan Alur Penelitian ... 39

5.1. Perilaku Kawin Tikus Jantan ... 45

5.2. Gambaran Diameter Tubulus Seminiferus pada Kontrol (400x) (100% pakan komersial (tanpa TDLP)……… 50

5.3. Gambaran Diameter Tubulus Seminiferus pada Perlakuan 1 (400x) (92,5% pakan komesial + 7,5% TDLP)……….. 50

5.4. Gambaran Diameter Tubulus Seminiferus pada Perlakuan 2 (400x) (85% pakan komesial + 15% TDLP)……….. 51

5.5. Gambaran Diameter Tubulus Seminiferus pada Perlakuan 3 (400x) (77,5% pakan komesial + 22,5% TDLP)……..……….. 51

5.6. Gambaran Histologi Sel Spermatogenik pada kontrol (400x)………… 52

5.7. Gambaran Histologi Sel Spermatogenik pada perlakuan 1 (400x)…… 52

5.8. Gambaran Histologi Sel Spermatogenik pada perlakuan 2 (400x)…… 53

(9)

xiv

DAFTAR SINGKATAN

DHP = Dihydroxy Pyridone

DNA = Deoxyribonucleid Acid

FSH = Folikel Stimulating Hormone GnRH = Gonadotropin Releasing Hormone

LH = Lutein Hormone

mRNA = Messenger Ribonucleic Acid

PBBH = Pertambahan Bobot Badan Harian

RAL = Rancangan Acak Lengkap

(10)

DAFTAR LAMPIRAN

Halaman

1. Analisis ragam jumlah kissing vagina ... 68

2. Analisis ragam jumlah mount ... 70

3. Analisis ragam jumlah intromission ... 72

4. Analisis ragam diameter tubulus seminiferus ... 74

5. Analisis ragam jumlah sel spermatogonium ... 76

6. Analisis ragam jumlah sel spermatosit... 78

7. Analisis ragam jumlah sel spermatid ... 80

8. Analisis ragam konsumsi ransum tikus jantan... 82

9. Analisis ragam bobot badan harian tikus jantan ... 84

(11)

1 BAB I PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Hewan ternak merupakan salah satu sumber makanan hewani penting yang banyak dikonsumsi masyarakat sebagai sumber nutrsi. Protein pada hewan memiliki fungsi yang sangat penting bagi pertumbuhan. Pemenuhan akan protein hewani pada masyarakat dapat dilakukan dengan meningkatkan produktivitas ternak. Produktivitas ternak sangat tergantung dengan cara pemeliharaan hewan tersebut, mulai dari menjaga kesehatan ternak agar bebas dari gangguan penyakit, pemenuhan nutrisi yang cukup serta kemampuan bereproduksi, sehingga pelaksanaan pemeliharaan hewan ternak merupakan salah satu upaya penting untuk meningkatkan produktivitas ternak.

Pemberian pakan yang berkualitas dengan jumlah pemberian sesuai dengan kebutuhan ternak merupakan salah satu aspek yang penting dalam menunjang keberhasilan usaha peternakan. Kondisi pakan (kualitas dan kuantitas) yang tidak mencukupi kebutuhan, menyebabkan produktivitas ternak menjadi rendah yang ditunjukkan dengan laju pertumbuhan yang lambat dan bobot badan rendah sedangkan pemberian pakan yang berkualitas dapat meningkatkan bobot badan, hormon reproduksi dan siklus birahi (Socheh, 2012). Ternak jantan membutuhkan pakan selain untuk pemenuhan nutrisi juga untuk dapat meningkatkan kualitas reproduksi sehingga dapat menjadi pejantan yang unggul. Oleh karena itu, ternak jantan harus diberikan pakan dalam jumlah yang cukup dan berkualitas baik.

(12)

Ketersediaan pakan pada usaha peternakan di Indonesia pada umumnya mengalami kendala pada aspek ketersediaan sumber pakan, kualitas bahan pakan serta keberadaan dari sumber pakan tersebut. Pemanfaatan tanaman lamtoro dapat digunakan sebagai salah satu alternatif untuk menutup kekurangan jumlah maupun mutu hijauan pada musim kemarau. Tanaman lamtoro dapat diberikan kepada ternak berupa hijauan segar, kering, tepung, silase dan pelet, atau ternak tersebut langsung merumput di lapangan (Suprayitno, 1981). Daun lamtoro memiliki kandungan protein yang cukup tinggi yaitu mencapai 25-35% berdasarkan bahan kering dibandingkan dengan hijauan lainnya (Gosh dan Bandyopadhyay, 2007). Kandungan asam amino pada daun lamtoro hampir sama dengan kandungan asam amino yang terkandung pada tepung ikan (Siswati dkk., 2010).

Pemanfaatan daun lamtoro sebagai pakan ternak perlu dibatasi karena lamtoro mengandung zat anti nutrisi yaitu asam amino non protein yang disebut mimosin. Mimosin dapat menimbulkan keracunan atau gangguan kesehatan apabila dikonsumsi dalam jumlah yang banyak dan terus menerus dalam jangka waktu yang cukup lama (Haryanto, 1993).

Pemberian tepung daun lamtoro pada beberapa jenis ternak juga menimbulkan pengaruh yang merugikan seperti pada babi dapat menimbulkan keterlambatan seksual (Hammond, 1995), pada kelinci dapat menyebabkan kerontokan rambut serta mortalitas yang tinggi pada kelinci prasapih (Muir dan Massaete, 1995), pada sapi menyebabkan penurunan berat badan, gondok, serta

(13)

3

abortus, penurunan konsepsi, pembesaran kelenjar tiroid pada induk dan fetus (Sastry et al., 2008). Pada hewan jantan pemberian tepung daun lamtoro juga menyebabkan penurunan produksi dan kualitas semen dari kelinci jantan (Herbert et al., 2005) serta menyebabkan nekrosis pada tubulus seminiferus kambing dan domba jantan yang diberikan daun lamtoro sebanyak 400 g (Woldemeskel et al., 2001).

Ternak ruminansia yang mengkonsumsi pakan yang mengandung mimosin dalam dosis tinggi dapat menyebabkan pengaruh buruk bagi ternak. Akan tetapi ternak ruminansia memiliki sistem cerna yang komplek (poligastrik) karena mikroba yang terdapat pada rumen mampu mendegradasi mimosin menjadi 3-hydroxy, 4 (IH) pyridine (DHP) sehingga tingkat keracunannya lebih rendah (Hammond, 1995). Berbeda halnya pada ternak monogastrik yang tidak memiliki mikroba di dalam lambungnya sehingga tidak mampu menurunkan pengaruh negatif mimosin pada lamtoro. Oleh karena itu pemanfaatan daun lamtoro pada pakan ternak monogastrik dibatasi secara kuantitatif yaitu tidak lebih dari 10 % (Chanchay dan Poosaran, 2009). Pemberian pakan tepung daun lamtoro pada hewan coba juga menunjukkan pengaruh negatif yang sama seperti pada ternak yaitu gangguan estrus, penurunan konsepsi serta kematian fetus (Joshi, 1968).

Upaya penurunan kadar mimosin daun lamtoro dapat dilakukan dengan beberapa pendekatan, salah satunya adalah perendaman dengan air. Perendaman daun lamtoro dengan air selama 12 jam pada suhu 18-190C dapat mereduksi mimosin sebesar 52,24% (Laconi dan Widiyastuti, 2010). Cara ini dianggap paling efektif untuk mereduksi mimosin pada daun lamtoro. Pemanfaatan daun

(14)

lamtoro yang direndam selama 12 jam juga tidak menghambat pertumbuhan fetus tikus pada saat prenatal (Wiratmini et al, 2014). Namun, sampai saat ini pengaruh pemberian daun lamtoro hasil perendaman terhadap perilaku kawin dan histologi testis belum ada yang melaporkannya. Salah satu hewan percobaan yang sering digunakan pada penelitian tersebut adalah tikus. Tikus digunakan karena memiliki daya adaptasi yang baik, mudah dalam penanganannya serta memiliki kemampuan reproduksi yang tinggi. Oleh karena itu, penelitian mengenai perilaku kawin dan histologi testis tikus jantan yang diberi tepung daun lamtoro hasil perendaman perlu dilakukan.

1.2. Rumusan Masalah

Beberapa masalah yang perlu dirumuskan dalam pelaksanaan penelitian antara lain:

1. Bagaimana pengaruh pemberian tepung daun lamtoro hasil perendaman pada ransum terhadap perilaku kawin tikus jantan?

2. Bagaimana pengaruh pemberian tepung daun lamtoro hasil perendaman pada ransum terhadap histologi testis tikus jantan?

1.3. Tujuan

Tujuan dari penelitian ini adalah:

1. Untuk mengetahui pengaruh pemberian tepung daun lamtoro hasil perendaman pada ransum terhadap perilaku kawin tikus jantan.

(15)

5 1.4. Manfaat Penelitian

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat yaitu:

1. Memberikan informasi bahwa tepung daun lamtoro hasil perendaman dengan air dapat mengurangi kadar mimosin sehingga dapat digunakan sebagai suplemen protein bagi ternak monogastrik.

2. Memberikan informasi tentang pengaruh pemberian tepung daun lamtoro hasil perendaman pada ransum terhadap perilaku kawin tikus jantan.

3. Memberikan informasi tentang pengaruh pemberian tepung daun lamtoro hasil perendaman pada ransum terhadap histologi testis tikus jantan.

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :