• Tidak ada hasil yang ditemukan

Konsep pembinaan kepribadian anak menurut Al-Ghazali : studi kitab Ayyuhal Walad

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Konsep pembinaan kepribadian anak menurut Al-Ghazali : studi kitab Ayyuhal Walad"

Copied!
108
0
0

Teks penuh

(1)

KONSEP PEMBINAAN KEPRIBADIAN ANAK

MENURUT AL-GHAZALI

(Studi Kitab Ayyuhal Walad)

SKRIPSI

Diajukan untuk Memenuhi Sebagian Syarat Memperoleh Gelar Sarjana

dalam Ilmu Pendidikan Agama Islam

Oleh:

MANSHUR HIDAYAT NIM: 113111123

FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN UNIVERSITAS ISLAM NEGERI WALISONGO

SEMARANG 2018

(2)

.

PERNYATAAN KEASLIAN

Yang bertanda tangan di bawah ini:

Nama : Manshur Hidayat

NIM : 113111123

Jurusan/Program Studi : Pendidikan Agama Islam

Menyatakan bahwa skripsi ini secara keseluruhan adalah hasil penelitian/karya saya sendiri, kecuali bagian tertentu yang dirujuk sumbernya.

Semarang, 13 Juli 2018 Saya yang menyatakan,

Manshur Hidayat

(3)
(4)

. iv

(5)

. ABSTRAK

Judul : KONSEP PEMBINAAN KEPRIBADIAN ANAK MENURUT AL-GHAZALI (Studi Kitab Ayyuhal

Walad )

Penulis : Manshur Hidayat NIM : 113111123

Skripsi ini dilatarbelakangi adanya permasalahan remaja yang sebagian besar mempengaruhi ganngguan kepridaian dan kitab

Ayyuhal Walad sebagai salah satu solusi permasalah tersebut. Penelitian ini dimaksudkan untuk menjawab permasalahan: (1) Bagaimana konsep pembinaan kepribadian anak menurut Imam Al-Ghazali dalam kitab Ayyuhal Walad ? (2) Bagaimana relevansi konsep pembinaan kepribadian anak menurut Imam Al Ghazali dalam kitab

Ayyuhal Walad dengan pendidikan di Indonesia?

Penelitian ini merupakan penelitian pustaka kategori kualitatif, dengan sumber data berupa sebuah kitab karya imam Al-Ghazali. Pengumpulan data dilakukan melalui pengamatan terhadap sumber data baik primer maupun sekunder, berupa buku-buku yang berkaitan dengan bidang penelitian. Analisis data dilakukan dengan memberikan makna terhadap data yang berhasil dikumpulkan dan dari makna itulah ditarik suatu kesimpulan.

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa dalam kitab Ayyuhal Walad mengandung pembinanaan kepribadian terhadap anak yang yaitu : 1) Membentuk pribadi yang taat dan bertaqwa kepada Allah Swt. 2) Membentuk pribadi yang Tawakal 3) Membentuk pribadi yang Ikhlas 4) Membentuk pribadi yang Istiqomah 5) Membentuk Pribadi yang mempunyai sifat tenggang rasa dan jiwa sosial 6) Membentuk Pribadi yang mempunyai guru. Dan Pembinaan kepribadian ini menggunakan metode : 1) Nasihat 2) Pembiasaan dan 3) Keteladanan. Selain itu konsep pembinaan kepribadian dalam kitab

Ayyuhal Walad relevan dengan pendidikan di Indonesia seperti tujuan pendidikan nasional serta pendidikan karekter dan keteladanan dalam pendidikan.

(6)

.

TRANSLITERASI ARAB-LATIN

Penulisan transliterasi huruf-huruf arab-latin dalam skripsi ini berpedoman pada SK menteri agama dan menteri pendidikan dan kebudayaan R.I. Nomor: 158/1987 dan Nomor: 0543b/U/1987. Penyimpangan penulisan kata sandang (al-) disengaja secara konsisten supaya sesuai teks Arabnya.

Huruf

Hijaiyah Huruf Latin

Huruf

Hijaiyah Huruf Latin

ا a ط ṭ ب b ظ ẓ ت t ع ´ ث s غ g ج j ف f ح h ق q خ kh ك k د d ل l ذ ž م m ر r ن n ز z و w س s ه h ش sy ء ’ ص ṣ ي y ض ḍ

Bacaan Madd: Bacaan Diftong:

ā = a panjang وا = au

ī = i panjang يا = ai

ū = u panjang

(7)

.

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT atas limpahan Rahmat, hidayah dan inayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi dengan lancar. Shalawat serta salam penulis haturkan kepada junjungan Nabi Muhammad SAW yang telah menunjukkan jalan kebenaran kepada umat manusia, beserta keluarganya, sahabat dan para pengikutnya.

Penulis menyadari sepenuhnya bahwa penyusunan skripsi ini, masih banyak terdapat kekurangan. Dalam proses penyusunan skripsi ini tidak akan terlaksana dengan baik tanpa adanya bantuan, bimbingan dan dorongan dari berbagai pihak. Oleh karena itu, dengan segala kerendahan hati penulis mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya kepada:

1. Prof. DR. Muhibbin, M.Ag., selaku Rektor UIN Walisongo Semarang.

2. DR. H. Raharjo, M.Ed., St., selaku Dekan Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Walisongo Semarang.

3. Drs. Mustopa, M.Ag., selaku ketua jurusan PAI Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Walisongo Semarang.

4. M.Rikza Chamami, M.Si. selaku pembimbing yang telah bersedia meluangkan waktu, tenaga, dan pikirannya untuk memberikan bimbingan dan pengarahan dalam penyusunan skripsi ini.

5. DR.Darmuin selaku dosen wali yang senantiasa memberikan arahan dan bimbingan selama menempuh kuliah di UIN Walisongo Semarang.

6. Segenap Dosen dan Karyawan Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Walisongo Semarang.

7. Ayah dan Ibu tercinta atas segala do’a pengorbanan serta kasih sayangnya yang tiada tara telah diberikan kepada penulis, sehingga penulis dapat menempuh pendidikan sampai ke perguruan tinggi. Beliau pulalah penyemangat ketika penulis merasakan malas dan bosan selama penyelesaian skripsi ini.

(8)

.

8. Saudara-saudaraku yang aku sayangi, kak sahar, kak zah, ulin, Aka, dan udin yang memberi motivasi pada penulis.

9. Rekan-rekan di pondok pesantren Al-Ishlah, Kang Sugeng, Kang Badak, Kang Dhopar, Obed, Farid yang telah memberi semangat dan masukan serta pengalaman yang telah diberikan. 10.Teman-teman PAI C angkatan 2011 yang selalu solid dan

memotivasi penulis.

11. Keluarga besar UKM Kopma Walisongo terutama kepada Farizal, Ahsan, Farid, Lukman, Miftah, Iin atas segala ilmu, motivasi, doa dan dukungannya, serta semua pengalaman yang telah diberikan.

12.Semua pihak yang telah membantu dalam proses penulisan skripsi ini.

Sungguh penulis tidak dapat memberikan balasan apapun, kecuali doa semoga Allah SWT memberikan balasan pahala yang berlipat atas amal kebaikan yang telah diberikan.

Pada akhirnya penulis menyadari bahwa apa yang telah tersaji dalam penulisan ini masih jauh dari kesempurnaan, oleh karena itu kritik dan saran yang sifatnya membangun sangat diharapkan demi kesempurnaan penulisan selanjutnya. Akhirnya semoga skripsi ini bermanfaat, Aamiin. Semarang, 13 Juli 2018 Penulis, Manshur Hidayat NIM. 113111123 viii

(9)

. DAFTAR ISI Halaman HALAMAN JUDUL ... i PERNYATAAN KEASLIAN ... ii PENGESAHAN ... iii NOTA PEMBIMBING ... iv ABSTRAK ... v TRANSLITERASI ... vi

KATA PENGANTAR ... vii

DAFTAR ISI ... ix

BAB I : PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah ... 1

B. Penegasan Istilah ... 7

C. Rumusan Masalah ... 12

D. Tujuan Dan Manfaat Penelitian ... 12

E. Kajian Pustaka ... 13

F. Metode Penelitian ... 15

G. Sistematika Pembahasan ... 18

BAB II : LANDASAN TEORI A. Pengertian Kepribadian ... 20

B. Pembentukan Kepribadian ... 22

C. Faktor Yang Mempengaruhi Kepribadian ... 24

1. Faktor Genetika (Pembawaan) ... 25

2. Faktor Environment (lingkungan) ... 26

(10)

.

a. Keluarga ... 26

b. Kebudayaan ... 28

c. Sekolah ... 29

D. Kepribadian Dalam perspektif Islam ... 31

1. Hakikat Manusia ... 31

2. Makna Kepribadian ... 35

3. Dinamuka Kepribadian ... 36

4. Perkembangan Kepribadian... 38

BAB III : KONSEP PEMBINAAN KEPRIBADIAN ANAK MENURUT AL-GHAZALI DALAM KITAB AYYUHAL WALAD A. Sejarah Hidup Al-Ghazali... 41

B. Karya-Karya Al-Ghazali ... 46

C. Konsep Pembinaan Kepribadian Anak Menurut Al-Ghazali Dalam Kitab Ayyuhal Walad ... 49

1. Latar Belakang Penulisan Kitab Ayyuhal Walad ... 49

2. Kandungan isi kitab Ayyuhal Walad... 51

D. Metode Pembinaan Kepribadian Anak ... 59

1. Nasihat ... 60

2. Pembiasaan ... 61

3. Keteladanan ... 63

(11)

.

BAB IV : ANALISIS KITAB AYYUHAL WALAD

A. Analisis Data Terhadap Konsep Pembinaan Kepribadian Anak Menurut Al-Ghazali Dalam Kitab Ayyuhal Walad ... 65 1. Analisis Materi Pembinaan Kepribadian

Anak ... 65 2. Analisis Metode Pembinaan Kepribadian

Anak ... 75 B. Relevansi Konsep Pembinaan Kepribadian

Anak Dalam Kitab Ayyuhal Walad Dengan

Pendidikan Di Indonesia ... 85 BAB V : PENUTUP A. Kesimpulan... 91 B. Penutup ... 92 DAFTAR PUSTAKA xi

(12)

1 BAB I

PENDAHULUAN A.Latar Belakang Masalah

Kepribadian (personality) adalah sifat dan tingkah laku khas seseorang yang membedakannya dengan orang lain. Integrasi karakteristik dari struktur, pola tingkah laku, minat, pendirian, kemampuan dan potensi yang dimiliki seseorang.1 Kepribadian bukan merupakan sesuatu yang statis karena kepribadian memiliki sifat-sifat dinamis yang disebut dinamika kepribadian. Dinamika kepribadian ini berkembang pesat pada diri anak-anak (masa kanak-kanak) karena pada dasarnya mereka masih memiliki pribadi yang belum matang, yaitu masa pembentukan kepribadian.

Sebagai sesuatu yang memiliki sifat kedinamisan, maka karakter kepribadian seseorang dapat berubah dan berkembang sampai batas kematangan tertentu. Perkembangannya sejalan dengan perkembangan kemampuan cara berpikir seseorang. Perkembangan kemampuan cara berpikir ini dipengaruhi oleh lingkungan sekitar seseorang yang mengkristal sebagai pengalaman dan hasil belajar. Hasil belajar dan pengalaman inilah yang memberikan warna pada kehidupan seseorang nantinya.2

1

Sjarkawi, Pembentukan Kepribadian Anak.(Jakarta: PT. Bumi

Aksara, 2011), hlm. 5- 6.

2

Jenny Gichara, Mengatasi Perilaku Buruk Anak. (Jakarta: Kawan

(13)

2 Perkembangan kepribadian memang pada dasarnya bersifat individual, namun kenyataannya kepribadian itu ternyata dapat ditularkan atau mempengaruhi orang lain. Remaja yang terlahir dari keluarga baik-baik belum tentu setelah dewasa pasti akan menjadi pria dewasa dengan karakter kepribadian yang matang dan positif secara otomatis. Apabila ia bergaul dengan teman-temannya yang berkepribadian negatif seperti: malas, suka melanggar aturan/disiplin, apatis dan suka berbohong tentulah ia akan berpeluang menjadi pribadi berkarakter negatif. Oleh karena itu perlu adanya pengetahuan mengenai metode-metode pembentukan kepribadian anak yang dapat dijadikan panduan oleh orang tua dan guru sebagai pendidik anak usia dini untuk dapat membentuk anak yang memiliki kepribadian yang mulia.

Negara Indonesia dan negara-negara lain di Dunia menghadapi permasalahan yang sama pada anak/remaja antara lain masalah penyimpangan perilaku sosial, pergaulan bebas, kenakalan/kriminalitas, dan penyalahgunaan obat-obat terlarang. Sebagian besar dari mereka yang terlibat dalam kegiatan tersebut mengalami gangguan kepribadian (personality disorder), salah satu di antaranya adalah bentuk psikopatik. Anak dengan kepribadian psikopatik bila kelak telah dewasa akan memperlihatkan berbagai perilaku anti sosial, antara lain tindak kejahatan atau kriminal yang pada gilirannya akan mengganggu keamanan dan ketertiban masyarakat. Banyak kalangan merasa khawatir tentang

(14)

3 kemerosotan moral ini, dan apabila diruntut benang merahnya, maka hal itu bermuara pada faktor pendidikan anak.

Kenyataan lain juga menunjukkan, penyalahgunaan narkotika dan obat-obatan terlarang di kalangan generasi muda dewasa ini kian meningkat. Badan Narkotika Nasional (BNN) menyebutkan pada tahun 2008, 32 persen dari penggunaan narkoba di Indonesia adalah mahasiswa dan pelajar.3 Angka tersebut kemungkinan meningkat kembali karena beredarnya sejumlah narkotika jenis baru. Sasaran dari penyebaran narkoba ini adalah kaum muda atau remaja. Kalau dirata-ratakan, usia sasaran narkoba ini adalah usia pelajar, yaitu berkisar umur 11 sampai 24 tahun. Hal ini disebabkan usia mereka yang labil dan mudah dipengaruhi. Maraknya penyimpangan perilaku generasi muda tersebut, dapat membahayakan keberlangsungan hidup bangsa ini di kemudian hari. Karena pemuda sebagai generasi yang diharapkan menjadi penerus bangsa, semakin hari semakin rapuh digerogoti zat-zat adiktif penghancur syaraf. Sehingga pemuda tersebut tidak dapat berpikir jernih. Akibatnya, generasi harapan bangsa yang mempunyai pribadi tangguh dan cerdas hanya akan tinggal kenangan.

Bangsa Indonesia sekarang, sedang sibuk mencari formulasi yang tepat untuk Pendidikan Karakter, Karakter Bangsa yang kesemuanya itu memerlukan pembinaan kepribadian secara

3

Agus Wibowo, Pendidikan Karakter Strategi Membangun Bangsa

(15)

4 komprehensif dan terus menerus. Untuk itu, penulis merasa sangat penting untuk menawarkan suatu kajian tentang Pembinaan Kepribadian anak yang berorientasi kepada ajaran Islam seperti yang dibahas oleh Imam Ghazali, sebagai pemikir muslim, Teolog, Faqih, dan Sufi yang banyak berkecimpung dalam bidang pendidikan praktis dan teoritis. Bahkan di akhir hayatnya lebih banyak bertekun mempraktekkan teori tasawufnya yang berhubungan dengan moral, akhlak dalam membentuk kepribadian anak. Menurut penulis, sangat tepat sekali bila kajiannya mengenai akhlak dan pembinaan kepribadian, yang banyak berorientasi kepada sumber Al-Quran dan Hadis, dapat dijadikan bahan kajian untuk formulasi pembinaan kepribadian di Indonesia. Pemikirannya diharapkan dapat menjawab problematika pendidikan akhlak dan karakter di Indonesia bidang afektif dan psikomotor”.

Dalam sejarah pemikiran Islam, Al-Ghazali dikenal sebagai ahli dan praktisi pendidikan, agama, hukum Islam, dan memiliki keilmuan yang luas mengenai filsafat, tasawuf, kejiwaan, akhlak (moral) dan spiritualitas Islam.4 Al-Ghazali banyak mengulas tentang pendidikan akhlak dan pembinaan kepribadian. Hal ini bisa dilihat dari semua karya-karyanya khususnya dalam Ihya‟ Ulumuddin, Mizan al-„Amal, Mi‟raj al-Salikin dan Ayyuhal Walad.

Pengertian pendidikan menurut Al-Ghazali tidak jauh berbeda

4

Yahya Jaya, Spiritualisasi Islam Dalam Menumbuhkembangkan

Kepribadian Dan Kesehatan Mental, (Jakarta: CV Ruhama, 1994), hlm. 17.

(16)

5 dengan apa yang dikemukakan oleh para ahli pendidikan, yang berintikan pada pewarisan nilai-nilai budaya suatu masyarakat kepada individu yang ada didalamnya agar kehidupan dapat berkesinambungan.5

Salah satu kitab karangan Imam Ghazali yang tak kalah fenomenal di dunia pendidikan adalah kitab Ayyuhal Walad. Kitab tersebut membahas beberapa pokok bahasan tentang beragama. Salah satu yang menarik dalam pembahasan kitab ini adalah tentang konsep pendidikan akhlak untuk menjadikan manusia yang berkarakter. Kitab Ayyuhal Walad berisikan tentang adab dalam belajar. Sehingga dalam pembahasan kitab Ayyuhal Walad dapat membantu dalam memperbaiki Pembinaan Kepribadian anak saat ini yang mulai mengalami kemerosotan. Serta dapat memberikan sumbangsih dalam Pendidikan Agama Islam.

Berkaitan dengan pembinaan kepribadian dan penanaman nilai-nilai akhlak, Imam Al Ghazali dalam Ayyuhal Walad telah memberikan konsep yang cukup menarik salah satunya adalah bahwa pendidikan akhlak anak menekankan pada pola pembinaan serta penerapan metode dalam proses pembentukan pribadi muslim salah satunya yaitu membiasakan anak untuk selalu beramal shalih dan mengamalkan ilmu yang bermanfaat serta agar selalu beribadah mendekatkan diri pada Allah swt.

5

Musya Asy‟ari (Ed), Islam, Kebebasan Dan Perubahan Sosial,

(17)

6 Pernyataan tersebut terlihat bahwa Al-Ghazali memberikan konsep yang mendasari dalam proses pembinaan akhlak anak dan bertujuan untuk perkembangan kepribadiannya. Oleh karena itu tawaran konsep Al-Ghazali tersebut sangat penting dalam mengkaji pemikiran Al-Ghazali yang berkenaan dengan pembinaan kepribadian anak.

Dalam kitab ini Al-Ghazali memanfaatkan metode pembinaan kepribadian anak dalam bentuk nasehat-nasehat yang bersifat normatif. Untuk itulah upaya mengkaji lebih dalam tentang konsep pembinaan kepribadian anak perspektif Imam Ghazali dalam kitab ini menjadi penting. Ada beberapa alasan yang mendasarinya, pertama, pemanfaatan terhadap kitab ini sebagai bahan ajar kurikulum pendidikan pesantren di Indonesia masih terus dilakukan. Hal ini dapat dimungkinkan karena pemikiran yang berbasis tasawuf dan pendidikan telah banyak memberikan kontribusi, terutama pada perilaku anak- anak muslim dalam menempuh pendidikan : kedua, kitab ini dapat berpotensi menjadi panduan praktis mendidik akhlaq anak dengan strategi mentranformasikannya dalam bahasa-bahasa yang dapat dimengerti masyarakat Indonesia. Berbagai kasus negatif yang dialami anak-anak dewasa ini di Indonesia diharapkan dapat diminimalisasi dengan mempraktekkan kandungan-kandungan karya Al-Ghazali ini. Meskipun kitab ini ditulis pada abad ke-12 M, kandungannya memiliki relevansi dengan zaman kekinian :

(18)

Al-7 Ghazali dalam kitab ini memberikan alternatif yang potensial bagi penanaman nilai akhlaq kepada anak. Metode nasihat dalam kitab ini memiliki bobot psikologis berupa kedekatan antara orang tua dan anak serta bobot teologis berupa pembelajaran bagi anak untuk berakhlaq kepada Allah SWT, makhluk dan lingkungannya. B. Penegasan Istilah

Dalam bagian ini, penulis mencoba untuk menegaskan beberapa istilah kunci dalam penulisan skripsi ini. Hal ini dilakukan untuk menghindari missunderstanding dan

misinterpretation terhadap beberapa istilah yang digunakan dalam judul skripsi ini. Istilah-Istilah yang akan dijelaskan itu meliputi:

1. Konsep

Konsep yaitu gambaran mental suatu objek, proses, atau apapun yang berada diluar bahasan dan yang digunakan oleh akal budi untuk memahami masalah-masalah lainnya, atau dengan kata lain, ide atau pendapat yang diabsatrakkan melalui peristiwa nyata.6 Dalam wilayah filsafat ilmu, konsep dalam bahasa Inggris adalah concept (bahasa latin concepere, conceptum,) yaitu kesan mental, sebuah pikiran, pernyataan

6

Peter Salim dan Yenni Salim, Kamus Bahasa Indonesia

(19)

8 gagasan dari sembarang tingkat kenyataan atau abstraksi yang digunakan dalam berpikir abstrak.7

2. Pembinaan

Pembinaan secara etimologi berasal dari kata bina. Tim Penyusun Kamus Pusat Bahasa, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Pembinaan adalah proses, pembuatan, cara pembinaan, pembaharuan, usaha dan tindakan atau kegiatan yang dilakukan secara berdaya guna dan berhasil guna dengan baik. Pembinaan menurut Masdar Helmi adalah segala hal usaha, ikhtiar dan kegiatan yang berhubungan dengan perencanaan dan pengorganisasian serta pengendalian segala sesuatu secara teratur dan terarah.8

Pembinaan juga dapat diartikan: bantuan dari seseorang atau sekelompok orang yang ditujukan kepada orang atau sekelompok orang lain melalui materi pembinaan dengan tujuan dapat mengembangkan kemampuan, sehingga tercapai apa yang diharapkan.9

7

Tim Penulis Rosda, Kamus Filsafat, (Bandung: Rosda Karya,

1995), hlm. 56. 8

Masdar Helmi, Dakwah dalam Alam Pembangunan I, (Semarang:

Toha Putra, 1973), hlm. 16. 9

Ahmad Tanzeh, Pengantar Metode Penelitian, (Yogyakarta :

(20)

9 Dari beberapa definisi di atas, dapat dipahami bahwa dalam pembinaan terdapat unsur tujuan, materi, proses, cara, pembaharuan, dan tindakan pembinaan.

3. Kepribadian Anak

Kepribadian merupakan ciri atau karakteristik atau gaya atau sifat khas dari diri seseorang yang bersumber dari bentukan-bentukan yang diterima dari lingkungan, misalnya lingkungan keluarga pada masa kecil, dan juga bawaan seseorang sejak lahir.10 Kepribadian menurut R. Linton adalah

Personality is the organized aggregate pf psychological processes an states pertaining to the individual (Kepribadian merupakan kumpulan dari proses-proses psikologi dan keadaan atau kondisi yang bersangkutan dengan individu).11 Jadi yang dimaksud penulis disini adalah kepribadian anak baik berupa tingkah lakunya, sikap dan wataknya yang harus dibina.

4. Al-Ghazali

Imam Al-Ghazali, nama lengkapnya adalah Abu Hamid Muhammad bin Muhammad bin Muhammad Al-Ghazali at-Thusi, tapi dalam dunia Islam ia lebih dikenal dengan sebutan

10

Sjarkawi, Pembentukan Kepribadian..., hlm. 11.

11

Kartono, Teori Kepribadian, (Bandung: Mandar Maju, 2005),

(21)

10 Al-Ghazali saja.12 Dalam sejarah pemikiran Islam Al-Ghazali dikenal sebagai ahli dan praktisi pendidikan, agama, hukum Islam, dan memiliki keilmuan yang luas mengenai filsafat, tasawuf, kejiwaan, akhlak (moral) dan spiritualitas Islam.13 Imam Al-Ghazali dilahirkan di kota Gazalah, sebuah kota kecil dekat Tus di Khurasan, yang pada waktu itu sebagai salah satu pusat ilmu pengetahuan di dunia Islam. Imam Al-Ghazali meninggal di kota Tus setelah perjalanan mencari ilmu dan ketenangan batin, kemudian nama Al-Ghazali dan at Tusi itu dinitsbatkan kepada tempat kelahirannya.

5. Kitab Ayyuhal Walad

Kitab Ayyuhal Walad adalah kitab berbahasa Arab dan termasuk salah satu karya Hujjatul Islam Al-Ghazali. Di dalam kitab ini dari segi isinya menggunakan metode pemberian nasehat dengan memberikan arahan-arahan kepada anak meliputi teori-teori yang disandarkan pada Al-Qur‟an maupun hadis juga dengan menggunakan pemikiran-pemikiran Imam Al-Ghazali itu sendiri dengan pengalamannya sebagai seorang pendidik yang profesional. Kitab ini muncul karena permintaan dari salah satu siswa zaman dahulu, yang meminta kepada Imam Al-Ghazali untuk menulis kitab yang di dalamnya memuat ilmu yang

12)

M. Zurkani Jahja, Teologi Al-Ghazali: Pendekatan Metodologi,

(Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1996), hlm. 63. 13

(22)

11 bermanfaat dan yang tidak bermanfaat bagi dirinya di dunia maupun di akhirat.

Terlepas dari perbedaan kata yang digunakan baik etika, akhlak, dan budi pekerti mempunyai penekanan yang sama, yaitu adanya kualitas-kualitas yang baik yang teraplikasi dalam perilaku seseorang dalam kehidupan sehari-hari, baik sifat-sifat yang ada dalam dirinya maupun dalam kaitannya dengan kehidupan bermasyarakat. Walau mempunyai perbedaan, namun moral, etika dan akhlaq dapat dianggap sama apabila sumber ataupun produk budaya yang digunakan sesuai.14

Oleh karena itu dalam skripsi ini istilah kepribadian anak digunakan untuk menunjukkan tentang sikap dan tingkah laku manusia dalam kehidupan sehari-hari, baik sebagai makhluk individu seperti jujur, dapat dipercaya, adil, bertanggung jawab dan lain-lain, maupun sebagai makhluk sosial dalam hubungannya dengan masyarakat, seperti kejujuran, penghormatan sesama manusia, tanggung jawab, kerukunan, kesetiakawanan, solidaritas sosial dan sebagainya.

Dengan pengertian diatas maka kajian tentang Pembinaan Kepribadian anak bukan sekedar kajian tentang bagaimana mengajarkan norma-norma tentang mana nilai-nilai keutamaan dan mana nilai-nilai keburukan, namun lebih dari

14

Muslim Nurdin, Moral Dan Kognisi Islam: Buku Teks Agama

(23)

12 itu merupakan kajian tentang bagaimana Kepribadian anak didik dikembangkan untuk mencapai pribadi yang baik dalam segala situasi kehidupan.

Dengan latar belakang yang telah terpapar di atas penulis termotivasi untuk mengkaji lebih lanjut tentang pembinaan kepribadian dalam penelitian ini dengan judul “Konsep Pembinaan Kepribadian anak menurut Al-Ghazali (studi Kitab Ayyuhal Walad )”.

C.Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas, dari latar belakang masalah diatas, permasalahan-permasalahan yang diangkat dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Bagaimana konsep pembinaan kepribadian anak menurut Imam Al-Ghazali dalam kitab Ayyuhal Walad ?

2. Bagaimana relevansi konsep pembinaan kepribadian anak menurut Imam Al Ghazali dalam kitab Ayyuhal Walad dengan pendidikan di Indonesia?

D.Tujuan Penelitian Dan Manfaat Penelitian

Dalam setiap penelitian mempunyai tujuan yang hendak dicapai. Adapun dalam penelitian ini tujuan yang ingin dicapai adalah sebagai berikut :

1. Untuk mengetahui konsep pembinaan kepribadian anak pemikiran Imam Al-Ghazali dalam kitab Ayyuhal Walad

(24)

13 meliputi materi-materi dan metode pembinaan kepribadian anak.

2. Untuk mengetahui relevansi pembinaan kepribadian anak menurut Imam Al-Ghazali dalam kitab Ayyuhal Walad

dengan pendidikan di Indonesia.

Adapun Manfaat dari penelitian ini adalah :

1. Dapat dijadikan referensi dalam upaya pengembangan pendidikan pada umumnya dan pendidikan Islam pada khususnya.

2. Dapat dijadikan rujukan yang tepat untuk mengembangkan pendidikan ke arah yang lebih baik.

3. Memberikan informasi dan memperkaya wacana mengenai pemikiran tentang cendekiawan muslim Imam Al-Ghazali. 4. Bagi pendidikan Islam, penelitian ini menjadi salah satu

sumbangan pemikiran bagi perbaikan pendidikan Islam di masa yang akan datang untuk mewujudkan manusia yang seutuhnya (insan kamil) dengan mempertahankan konsep hidup yang selalu berdasarkan ilmu yang sekaligus menjadi pikiran dalam kehidupan di dunia dan bimbingan menuju Ilahi Rabbi.

5. Memberikan manfaat bagi guru Pendidikan Agama Islam.

E.

KajianPustaka

Untuk menghindari pengulangan hasil temuan, maka perlu dilakukan pengkajian terhadap karya-karya ilmiah sejenis agar dapat menjadi sebuah perbandingan ataupun dapat digunakan

(25)

14 sebagai penyokong penelitian yang sedang penulis kerjakan. Beberapa karya tulis tersebut antara lain:

1. Skripsi Aan Masrohan yang berjudul “Konsep Al-Ghazali tentang pendidikan akhlak (Suatu tinjauan metodologis dalam kitab Ihya „Ulum ad-Din)”. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa metode pendidikan akhlak Al-Ghazali dalam kitab Ihyā' „Ulum ad-Din meliputi metode alamiah, metode mujāhadah dan riyādah, metode pergaulan yang baik dan metode koreksi diri. Metode alamiah adalah karunia Tuhan dengan kesempurnaan fitrah dimana manusia diciptakan dan dilahirkan dengan sempurna akalnya dan bagus akhlaknya, metode mujāhadah dan riyādah adalah metode pendidikan akhlak dengan mendorong jiwa dan hati untuk mengerjakan perbuatan-perbuatan yang dikehendaki oleh akhlak yang dicari, metode pergaulan yang baik adalah metode pendidikan akhlak dengan menyaksikan orang-orang yang memiliki perbuatan-perbuatan yang bagus dan bergaul dengan mereka dan metode koreksi diri adalah metode pendidikan akhlak dengan melihat cacat dirinya sendiri kemudian merubahnya menjadi kebaikan.

2. Skripsi Irmayanti berjudul “Konsep Pendidikan Agama dan Akhlak pada Anak Menurut Imam Al-Ghazali”, Skripsi tersebut menjelaskan tentang peran anak dalam implementasinya terhadap nilai-nilai moral (akhlak) yang terdapat dalam kehidupan sehari-hari, sehingga nantinya

(26)

15 dapat menghasilkan pola-pola pengembangaan sikap dan membiasakannya ber prilaku sesuai dengan norma-norma agama. Dalam hal ini persoalan yang dihadapi penulis kurang menjelaskan pada pola pendidikan agama terhadap realita pembinaan akhlak saat ini.

3. Skripsi yang ditulis oleh Ahmad Busyro dengan judul, “Model Pembentukan Kepribadian Islami Siswa melalui Pembelajaran Agama Islam di SMA Negeri 1 Parung”. Penelitian ini membahas tentang pembinaan dalamlingkungan sekolah yang sangat besar pengaruhnya terhadap perilaku anakdidik atau siswa kelak dikemudian hari, sebab baik buruknya perilakuseseorang disekolah maupun dimasyarakat ditentukan oleh pembinaanyang diperoleh dari lingkungan sekolah, karena sekolah memiliki peranyang sangat penting.

F. Metode Penelitian

Kajian skripsi ini seluruhnya berdasar atas kajian pustaka atau studi literatur. Oleh karena itu sifat penelitiannya adalah penelitian kepustakaan (Library Research). Data yang dikumpulkan dan dianalisis seluruhnya berasal dari literatur maupun bahan dokumentasi lain, seperi tulisan di jurnal, maupun media lain yang relevan dan masih dikaji.

Data yang dikumpulkan dalam studi ini adalah dua jenis data yaitu data yang bersifat primer dan data yang bersifat sekunder.

(27)

16 Proses dalam penelitian ini, penulis menggunakan beberapa metode sebagai acuan dalam penulisan karya ilmiah, diantaranya yaitu :

1. Jenis Penelitian

Berdasarkan jenisnya, jenis penelitian yang peneliti lakukan ini merupakan kajian pustaka (Library Research) yang bersifat analisis. Penelitian pustaka yaitu peneliti berusaha untuk mengumpulkan dan menyusun data, kemudian terdapat analisa dan interpretasi atau pengisian terhadap data tersebut. Pembahasan ini merupakan pembahasan naskah, yang mana datanya diperoleh melalui sumber literatur, yaitu melalui penelitian kepustakaan. Penelitian kepustakaan bertujuan untuk mengumpulkan data dan informasi dari buku-buku, film, majalah, dokumen, catatan, dan kisah-kisah sejarah lainnya.15 Penelitian ini menurut Anton Baker bersifat historis-faktual, yang mencoba meneliti tentang tokoh dan pemikirannya.16 Serta deskripsi analisis yaitu dengan memberi gambaran utuh dan sistematis serta menganalisisnya secara mendalam dalam mengungkap konsep pembinaan kepribadian anak menurut Al-Ghazali dalam kitab Ayyuhal Walad.

2. Sumber Data

15

Sutrisno Hadi, Metodologi Research Indek, (Yogyakarta : Gajah

Mada, 1980), hlm. 3. 16

Anton Baker, Metode-Metode Filsafat, (Jakarta : Galia Indonesia,

(28)

17 Dalam hal ini penelitian ini tergolong penelitian pustaka yang bersifat kualitatif, maka pengumpulan datanya atau informasinya bersifat literer dan menggunakan metode atau cara: membaca, menelaah dan menganalisa sumber-sumber literatur yang berhubungan dengan penelitian ini. Oleh karena itu sumber data yang digunakan adalah sebagai berikut : a. Data primer : Data yang berupa pemikiran-pemikiran

Imam Al-Ghazali dan kitab-kitabnya maupun yang berkaitan dengan pendidikan serta perkembangan pendidikan akhlak anak khususnya secara langsung yang telah tertuang dalam bentuk tulisan-tulisan baik berupa buku yang beliau tulis sendiri maupun yang diedit oleh orang lain, Data primer disini ialah buku yang berjudul Kitab Ayyuhal Walad karangan Imam Al-Ghazali.

b. Data sekunder : Data yang berupa bahan pustaka yang memiliki kajian yang sama yang dihasilkan oleh pemikir lain baik yang berbicara tentang gagasan Imam Al-Ghazali maupun gagasan mereka sendiri yang membicarakan masalah yang terkait dengan masalah dalam penelitian ini. Data sekunder dimaksudkan untuk membantu data primer dalam memecahkan permasalahan yang menjadi fokus penelitian ini.

Adapun data sekunder diantaranya adalah buku karangan Imam Al-Ghazali Terjemahan Ihya Ulumuddin, buku Sjarkawi yang berjudul pembentukan kepribadian

(29)

18 anak, pesan moral intelektual, emosional, dan sosial sebagai wujud intgeritas membangun jati diri, buku teori kepribadian perpktif psikologi Islam, dan buku-buku lain yang mendukung penelitian.

3. Metode Analisis Data

Metode yang digunakan dalam menganalisis data dalam penelitian ini adalah analisis isi (content Analysis). 17 Analisis ini adalah suatu teknik penelitian untuk membuat rumusan kesimpulan dengan mengidentifikasikan karakteristik spesifik akan pesan-pesan dari suatu tekt secara sistematikdan obyektif.18

Adapun langkah-langkah yang ditempuh untuk menganalisis data dalam penelitian ini adalah :

a. Membaca secara keseluruhan kitab yang diteliti yaitu kitab AyyuhalWalad.

b. Mengidentifikasi data menjadi bagian-bagian untuk dianalisis. Satuan unit yang digunakan berupa kalimat atau alinea. Identifikasi dilakukan dengan membaca dan pengamatan secara cermat terhadap kitab Ayyuhal Walad. c. Dari data-data teks yang didapat, peneliti melakukan

analisis data dengan mengacu pada berbagai teori, dan

17

Abudin Nata, Metodologi Studi Islam, ( Jakarta : Grafindo

Persada, 2001), hlm. 141. 18

Hadari Nawawi, Metode penelitian Sosial, ( Yokyakarta : Gajah

(30)

19 sumber-sumber data yang berkaitan, kemudian menjabarkan data analisis kedalam laporan penelitian.

G.Sistematika Pembahasan

Untuk memberikan gambaran secara jelas dan mengetahui pokok-pokok pembahasan skripsi ini, maka penulis menyusun sistematika sebagai berikut:

Bab satu yang merupakan gambaran umum tentang penulisan skripsi ini. bab ini berisi Pendahuluan, terdiri atas: latar belakang masalah, rumusan masalah, tujuan penelitian, penegasan istilah, metode penelitian dan sistematika penulisan skripsi.

Bab dua merupakan landasan teori penelitian. Pada bab ini penulis membahas tentang pengertian kepribadian, pembentukan kepribadian, faktor yang mempengaruhi kepribadian, serta kepribadian dalam perspektif pendidikan Islam.

Bab tiga merupakan deskripsi data yang meliputi riwayat hidup Ghazali, karya-karya Ghazali, serta pemikiran Al-Ghazali tentang konsep pembinaan kepribadian anak dalam kitab

Ayyuhal Walad yang meliputi materi pembinaan anak, dan metode pembinaan kepribadian anak.

Bab empat adalah analisis data terhadap konsep pembinaan anak menurut Al-Ghazali dalam kitab Ayyuhal Walad dan relevansinya dengan pendidikan di Indonesia.

Bab lima berisi kesimpulan dari pembahasan di bab empat dan penutup.

(31)

20 BAB II

LANDASAN TEORI

A. Pengertian Kepribadian

Kata “Kepribadian” atau personality sesungguhnya berasal dari kata latin: persona. Pada mulanya, kata persona ini menunjuk pada topeng yang biasa digunakan oleh pemain sandiwara di zaman Romawi dalam memaikan peranan-peranannya. Pada saat itu, setiap pemain sandiwara memaikan peranannya masing-masing sesuai dengan topeng yang dikenakannya.19 Lambat-laun, kata persona atau personality berubah menjadi satu istilah yang mengacu pada gambaran sosial tertentu yang diterima oleh individu dari kelompok atau masyarakatnya, kemudian individu tersebut diharapkan bertingkah laku berdasarkan atau sesuai dengan gambaran sosial (peran) yang diterima.20

Kepribadian sangat perlu diketahui dan dipelajari karena kepribadian sangat berkaitan erat dengan pola penerimaan lingkungan sosial terhadap seseorang. orang yang memiliki kepribadian sesuai dengan pola yang dianut oleh masyarakat di lingkungannya, akan mengalami peneriman yang baik, tetapi sebaliknya jika kepribadian seseorang tidak sesuai, apalagi

19

Jess Feist Dan Gregory J. Feist (penr. Handriyanto) Teori

Kepribadian buku II (Jakarta: Salemba Humanika, 2010), hlm, 3. 20

Alex Sobur, Psikologi Umum, (Bandung: Pustaka Setia, 2003),

(32)

21 bertentangan dengan pola yang dianut lingkungannya, maka akan terjadi penolakan dari masyarakat.21

Jika terdapat kesesuaian antara kepribadian yang dimiliki dengan lingkungan sosial, akan terjadi keseimbangan diantara keduanya, sebaliknya jika terjadi ketidaksesuaian di antara keduanya, maka akan timbul akibat, yaitu orang tersebut akan mencari lingkungan sosial yang sesuai atau akan mengadakan penyesuaian terhadap lingkungan sosialnya. Dalam bahasa populer, istilah “kepribadian” juga berarti ciri-ciriwatak seseorang individu yang konsisten, yang memberikan kepadanya suatu identitas sebagai individu yang khusus. Jika dalam bahasa seharihari kita anggap bahwa seseorang mempunyai kepribadian, yang kita maksudkan ialah orang tersebut mempunyai beberapa ciri watak yang diperlihatkannya secara lahir dan konsisten dalam tingkah lakunya, sehingga tampak bahwa individu tersebut memiliki identitas khusus yang berbeda dengan individu lainya.22

Kepribadian itu relatif stabil. Pengertian stabil di sini bukan berarti bahwa kepribadian itu tetap dan tidak berubah. Di dalam kehidupan manusia dari kecil sampai dewasa atau tua, kepribadian itu selalu berkembang, dan mengalami perubahan-perubahan. Tetapi di dalam perubahan itu terlihat adanya pola-pola tertentu yang tetap. Makin dewasa orang itu makin jelas adanya stabilitas.

21

Djaali, Psikologi Pendidikan, (Jakarta: Bumi Aksara, 2008), hlm.

1. 22

(33)

22 Dari uraian di atas bisa diperoleh gambaran bahwa kepribadian menurut pengertian sehari-hari, menunjuk kepada bagaimana individu tampil dan menimbulkan kesan individu-individu lainnya. Dan kepribadian manusia merupakan gabungan dari berbagai sifat dan konsep diri orang. Jadi secara umum, dapat dikatakan bahwa kepribadian merupakan suatu proses yang dinamis di dalam diri, yang terus menerus dilakukan terhadap sistem psikofisik (fisik dan mental), sehingga terbentuk pola penyesuainan diriyang unik atau khas pada setiap orangterhadap lingkungan.23

B. Pembentukan Kepribadian

Manusia lahir dengan potensi-potensi kepribadian menurut sifat-sifat individualitas yang unik baik psychologis maupun psykis. Meskipun pada dasarnya identitas kepribadian yang unik tiap-tiap individu berbeda beda, akan tetapi secara umum dapat kita lihat faktor-faktor apakah yang menentukan perkembangan pribadi manusia itu. Suatu kenyataan proses pertumbuhan pribadi amat ditentukan oleh waktu, atau kematangan pribadi yang dipengaruhi oleh umur.

Meskipun pengetahuan manusia tentang persoalan-persoalan instink, kematangan, proses belajar, sangat membantu untuk mengerti pribadi. Dalam seluruh perkembangan tampak bahwa tiap perkembangan maju, muncul dalam cara-cara yang

23

(34)

23 kompleks dan tiap perkembangan didahului oleh perkembangan sebelumnya. Ini berarti perkembangan itu tidak saja continue, tapi juga perkembangan phase yang satu diikuti dan menghasilkan atau menentukan perkembangan pada phase yang berikutnya.24

Pertumbuhan pribadi merupakan suatu continue berkembang dan belajar ketrampilan baru serta bergerak menuju realisasi diri. Pada hakikatnya, kepribadian dapat dikatakan mencakup semua aspek perkembangan, seperti perkembangan fisik, motorik, mental, sosial, moral,tetapi melebihi penjumlahan semua aspek perkembangan tersebut. Kepribadian merupakan suatu kesatuan aspek jiwa dan badan, yang menyebabkan adanya kesatuan dalam tingkah laku dan tindakan seseorang. Ini disebut integrasi, integrasi dari pola-pola kepribadian yang dibentuk oleh seseorang. Dan pembentukan pola kepribadian ini terjadi melalui proses interaksi dalam dirinya sendiri, dengan pengaruh-pengaruh dari lingkungan luar.

Faktor-faktor genetika dan pematangan juga mempunyai peran yang penting dalam perkembangan kepribadian, proses-proses genetik pematangan bertugas memprogramkan sejenis urutan pergantian berbagai masa sepanjang kehidupan seorang individu. Selama masa pertama yakni masa kanak-kanak, dan

24

Patty dkk, Pengaturan Psikologi Umum, (Surabaya: Usaha

(35)

24 masa dewasa awal, komposisi struktural baru muncul dan menjadi bertambah banyak.

C. Faktor yang Mempengaruhi Kepribadian

Perkembangan kepribadian individu dipengaruhi oleh berbagai faktor diantaranya factor hereditas dan lingkungan. Faktor hereditas yangmempengaruhi kepribadian antara lain:bentuk tubuh, cairan tubuh, dansifat-sifat yang diturunkan dari orang tua. Adapun factor lingkungan antara lain: lingkungan rumah, lingkungan sekolah, dan lingkungan masyarakat.

Di samping itu, meskipun kepribadian seseorang itu relative konstan, kenyatannya sering ditemukan perubahan kepribadian. Perubahanitu terjadi dipengaruhi oleh faktor gangguanfisik dan lingkungan. Keluarga dipandang sebagai penentu utama pembentukan kepribadian anak. Alasannya adalah keluarga merupakan kelompok social pertama yang menjadi pusat identifikasi anak, anak banyak menghabiskan waktunya di lingkungan keluarga, dan para anggota keluarga merupakan

significant people bagi pembentukan kepribadian anak. Di samping itu, keluarga juga dipandang sebagai lembaga yangdapat memenuhi kebutuhan insani (manusiawi), terutama bagi pengembangan kepribadiannya dan pengembangan ras manusia. Melalui perlakuan dan perawatan yang baik dari orang tua, anak dapat memenuhi kebutuhannya, baik kebutuhan fisik atau biologis, maupun kebutuhan sosio atau psikologisnya. Apabila

(36)

25 anak dapat memenuhi kebutuhankebutuhan dasarnya, maka anak cenderung berkembang menjadi seorang pribadi yang sehat.25

Perlakuan orang tua yang penuh kasih sayang dan pendidikantentang nilai-nilai kehidupan yang diberikan kepada anak, baik nilai agamamaupun nilai sosial budaya merupakan faktor yang kondusif untukmempersiapkan anak menjadi pribadi dan warga masyarakat yang sehat dan produktif.

Secara garis besar ada dua faktor utama yang mempengaruhi perkembangan kepribadian, yaitu faktor hereditas (genetika) dan faktor lingkungan (environment).26

1. Faktor Genetika (Pembawaan)

Pada masa konsepsi, seluruh bawaan hereditas individu dibentuk dari 23 kromosom (pasangan x x) dari ibu, dan 23 kromosom (pasangan x y) dari ayah. Dalam 46 kromosom tersebut terdapat beribu-ribu gen yang mengandung sifat-sifat fisik dan psikis atau mental individu atau yang menentukan potensi-potensi hereditasnya. Dalam hal ini, tidak ada seorang pun yang mampu menambah atau mengurai potensi hereditas tersebut. Masa dalam kandungan dipandang sebagai saat (periode) yang kritis dalam perkembangan kepribadian, sebab tidak hanya sebagai pembentukan pola-pola kepribadian, tetapi juga sebagaimasa pembentukan

25

Syamsu Yusuf Ln, dan A. Juntika Nurishan, Teori Kepribadian,

(Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2008), hlm. 19. 26

(37)

26 kemampuan yang menentukan jenis penyesuaian individu terhadap kehidupan setelah kelahiran.

Pengaruh gen terhadap kepribadian, sebenarnya tidak secara langsung, karena yang dipengaruhi gen secara langsung adalah kualitas sistem syaraf, keseimbangan biokimia tubuh, dan struktur tubuh. Dapat dikemukakan, bahwa fungsi hereditas dalam kaitannya dengan perkembangan kepribadian adalah sebagai sumber bahan mentah kepribadian seperti fisik, inteligensi, dan temperamen, dan juga membatasi perkembangan kepribadian (meskipun kondisi lingkunganya sangan baik atau kondusif,perkembangan kepribadian itu tidak bisa melebihi kapasitas atau potensi hereditas, dan mempengaruhi keunikan kepribadian.27

2. Faktor Environment (lingkungan)

Faktor lingkungan yang mempengaruhi kepribadian ialah keluarga, kebudayaan, dan sekolah.

a. Keluarga

Keluarga dipandang sebagai penentu utama pembentukan kepribadian anak. Kebiasaan yang dimiliki anak sebagian besar terbentuk oleh keluarga.28 Alasannya adalah keluarga merupakan kelompok sosial pertama yang menjadi pusat identifikasi anak, anak banyak

27

Syamsu Yusuf Ln, dan A. Juntika..., hlm. 21. 28

Jalaluddin, Psikologi Agama, (Jakarta: Raja Grafindo Persada,

(38)

27 menghabiskan waktunya di lingkungan keluarga, dan para anggota keluarga merupakan significant people bagi pembentukan kepribadian anak.

Disamping itu, keluarga juga dipandang sebagai lembaga yang dapat memenuhi kebutuhan insani (manusiawi), terutama bagi pengembangan kepribadiannya dan pengembangan ras manusia. Melalui perlakuan dan perawatan yang baik dari orang tua, anak dapat memenuhi kebutuhannya, baik kebutuhan fisik biologis, maupun kebutuhan sosio psikologisnya. Apabila anak dapat memenuhi kebutuhan kebutuhan dasanya, maka dia cenderung berkembang menjadi seorang pribadi yang sehat.29

Perlakuan orang tua yang penuh kasih sayang dan pendidikan nilai-nilai kehidupan, baik nilai agama maupun nilai sosial budaya yang diberikan kepada anak merupakan faktor yang kondusif untuk mempersiapkan anak menjadi pribadi dan warga masyarakat yang sehat dan produktif. Suasana keluarga sangat penting bagi perkembangan kepribadian anak. Seorang anak yang dibesarkan dalam lingkungan keluarga yang harmonis dan agamis, yaitu suasana yang memberikan curahan kasih sayang, perhatian, dan bimbingan dalam bidang agama, maka perkembangan kepribadian anak tersebut cenderung positif, sehat.

29

(39)

28 Sedangkan anak yang dikembangkan dalam lingkungan keluarga yang broken home, kurang harmonis, orang tua bersikap keras kepada anak, atau tidak memperhatikan nilai-nilai agama, maka perkembangan kepribadiannya cenderung mengalami distorsi atau mengalami kelainan dalam penyesuain dirinya.30

b. Kebudayaan

Kebudayaan meregulasi (mengatur) kehidupan kita dari mulai lahir sampai mati, baik disadari maupun tidak disadari. Kebudayaan mempengaruhi kita untuk mengikuti pola-pola perilaku tertentu yang telah dibuat orang lain untuk kita. Setiap kelompok masyarakat (bangsa, ras, atau suku) memiliki tradisi, adat, atau kebudayaan yang khas. Kebudayaan suatu masyarakat meberikan pengaruh terhadap setiap warganya, baik yang menyangkut cara berpikir (cara memandang sesuatu), cara bersikap atau cara berperilaku. Pengaruh kebudayaan terhadap kepribadian ini dapat dilihat dari perbedaan antara masyarakat modern, yang budayanya maju dengan masyarakat primitif, yang budayanya masih sederhana. Perbedaan itu tampak dalam gaya hidupnya, sepertidalam cara makan, berpakaian, memelihara kesehatan, berinteraksi, pencaharian, dan cara berpikir (cara memandang sesuatu). Pola-pola tingkah laku

30

(40)

29 yang sudah terlembagakan dalam masyarakat (bangsa) tertentu (seperti dalam bentuk adatistiadat) sangat memungkinkan mereka untuk memiliki karakteristik kepribadian yang sama. Setiap suku dan bangsa didunia ini masing-masing memiliki tipe kepribadian dasar yang relatif berbeda (meskipun dalam banyak hal, dengan pengaruh globalisai perbedaan karakteristik kepribadian itu cenderung berkurang).31

c. Sekolah

Lingkungan sekolah dapat mempengaruhi kepribadian anak. Faktor-faktor yang dipandang berpengaruh itu diantaranya sebagai berikut:

1) Iklim Emosional Kelas

Kelas yang iklim emosionalnya sehat (guru bersikapramah, respek terhadap siswa dan begitu juga berlaku diantara sesame siswa) memberikan dampak positif bagi perkembangan psikis anak, seperti merasa nyaman,bahagia, mau bekerja sama, termotivasi untuk belajar, danmau menaati peraturan. Sedangkan kelas yang iklim emosionalnya tidak sehat (guru bersikap otoriter dan tidak menghargai siswa) berdampak kurang baik bagi anak, seperti merasa tegang, grogi, mudah

31

(41)

30 marah, malas untuk belajar dan berperilaku yang menggangu ketertiban.

2) Sikap dan Perilaku Guru

Sikap dan perilaku guru itu tercermin dalam hubungannya dengan siswa. Hubungan guru dengan siswa dipengaruhi oleh berbagai faktor. Faktor-faktor itu diantaranya (1) budaya terhadap guru (pribadi dan profesi), positif atau negatif, (2) sikap guru terhadap siswa, (3) metode mengajar,(4) penegakan disiplin dalam kelas, dan penyesuaian pribadi guru. Sikap dan prilaku guru, secara langsung mempengaruhi siswa, melalui sikap-sikapnya terhadap tugas akademik (kesungguhan dalam mengajar), kedisiplinan dalam menaati peraturan sekolah, dan perhatiannya terhadap siswa. Secara tidak langsung, pengaruh guru ini terkait dengan upayanya membantu siswa dalam mengembangkan kemampuan penyesuaian sosialnya. 3) Disiplin (Tata-Tertib)

Tata tertib ini ditunjukan untuk membentuk sikap dan tingkah laku siswa. Disiplin yang otoriter cenderung mengembangkan sifat-sifat pribadi siswa yang tegang, cemas, dan antagonistic. Disiplin yang permisif, cenderung membentuk sifat siswa yang kurang bertanggung jawab, kurung menghargai otoritas,

(42)

31 dan egosentris. Sementara disiplin yang demokratis, cenderung mengembangkan perasaanberharga, merasa bahagia, perasaan tenang, dansikap berkerja sama. 4) Prestasi belajar

Perolehan prestasi belajar, atau peringkat kelas dapat mempengaruhi peningkatan harga diri, dan sikap percaya diri siswa.

5) Penerimaan teman sebaya

Siswa yang diterima oleh teman-temanya, dia akan mengembangkan sikap positif terhadap dirinya, dan jugaorang lain. Dia merasa menjadi orang yang berharga.32

D. Kepribadian dalam Perspektif Pendidikan Islam 1. Hakikat Manusia

a. Manusia adalah mahluk Allah

Keberadaan manusia di dunia ini bukan kemauan sendiri, atau hasil proses evolusi alami, melainkan kehendak yang Maha Kuasa, Allah Robbul „Alamin. Dengan demikian, manusia dalam hidupnya mempunyai ketergantungan kepada-Nya. Manusia tidak bisa lepas dari ketentuan-Nya. Sebagai mahluk, manusia berada dalam posisi lemah (terbatas), dalam arti tidak bisa menolak, menentang atau merekayasa yang sudah

32

(43)

32 dipastikanNya. Dalam Al-Qur‟an surat At-Tin: 4, Allah SWT berfirman:









Sungguh kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sangat baik (sempurna). (QS. At-Tin: 4)33

Menurut sayyid Qutb, ayat diatas menunjukkak bahwa penciptaan manusia dengan bentuk yang sebaik-baiknya, itu merupakan perhatian yang lebih dari Allah kepada manusia. Meskipun mempunyai kelemahan dan terkadang menyimpang dari fitrah, manusia memiliki urusan tersendiri di sisi Allah, dan memiliki timbangan sendiri dalam sistem semesta.34

Dari tafsiran di atas dapat disimpulkan bahwa manusia adalah makhluk Allah, ciptaan Allah, dan secara kodrati merupakan makhluk beragama atau pengabdi Allah. Sesuai dengan fitrahnya tersebut, manusia bertugas untuk mengabdi kepada Allah, seperti difirmankan Allah dalam Q. S.Adz Dzariyat: 56.







33

Departemen Agama RI, Al-Qur’an dan terjemahnya, (Semarang:

PT. Kumudasmoro Grafindo, 1994), hlm. 1076. 34

Sayyid Qutb, Tafsir fi Zhilalil-Qur’an di bawah naungan

Al-Qur’an jilid 12, terjmemah. As‟ad Yasin, dkk (Jakarta: Gema Insani Pres, 2001), hlm. 299.

(44)

33 Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia kecuali supayamereka beribadah kepada-Ku. (QS. Adz Dzariyat: 56)35

Ayat ini, membuka sekian banyak sisi dan aneka sudut dari makna dan tujuan. Sisi pertama bahwa pada hakikatnya ada tujuan tertentu dari wujud manusia dan jin, ia merupakan satu tugas. Siapa yang melaksanakannya maka dia telah mewujudkan tujuan wujudnya, dan siapa yang mengabaikannya maka dia telah membatalkan hakikat wujudnya dan menjadilah dia seseorang yang tidak memiliki tugas, hidupnya kosong tidak bertujuan dan berakhir dengan kehampaan. Tugas tersebut adalah ibadah kepada Allah, yakni penghambaan diri kepada-Nya.36

b. Manusia adalah khalifah di muka bumi

Hal ini berarti, manusia berdasarkan fitrahnya adalah mahluk sosial yang bersifat altruis (mementingkan/membantu orang lain). Menilik fitrahnya ini, manusia memiliki potensi ataukemampuan untuk bersosialisasi, berinteraksi sosial secara positif dengan orang lain atau lingkungannya. Sebagai khalifah manusia mengemban amanah atau tanggung jawab untuk

35

Departemen Agama RI, Al-Qur’an..., Hlm. 862.

36

M. Quraish Shihab, Tafsir Al-Misbah vol.13, (Jakarta : Lentera

(45)

34 berinisiatif dan berpartisipasi aktif dalammenciptakan tatanan kehidupan masyarakat yang nyaman dan sejahtera dan berupaya mencegah terjadinya pelecehan nilai-nilaikemanusiaan dan perusakan lingkungan hidup. Terlihat bahwa, kekhalifahan manusia bukan sekedarjabatan biasa. Dengan jabatan tersebut manusia dituntut untukbertanggung jawab terhadap kehidupan dan pemeliharaan ciptaan Allah di muka bumi terlebih tanggung jawab atas dirinya sendiri.37

c. Manusia adalah mahluk yang mempunyai fitrah beragama

Melalui fitrahnya ini manusia mempunyai kemampuan untuk menerima nilai-nilai kebenaran yang bersumber dari agama, dan sekaligus menjadikan kebenaran agama itu sebagai tolak ukur atau rujukan perilakunya.

d. Manusia berpotensi baik (takwa) dan buruk (fujur) Manusia dalam hidupnya mempunyai dua kecenderungan atau arah perkembangan, yaitu takwa sifat positif (beriman danberamal shaleh) dan yang fujur sifat negatif (musyrik, kufur, berbuat maksiat/ jahat/ buruk/ zolim). Dua kutub kekuatan ini saling mempengaruhi. Kutub pertama mendorong individu untuk berperilaku yang normatif (merujuk nila-nilai kebenaran), dan kutub

37

Jalaluddin, Teologi Pendidikan, (Jakarta: PT. Raja Grafindo

(46)

35 lain mendorong individu untuk berperilaku secara impulsif (dorongan naluriah, instinktif, hawa nafsu). Dengan demikian, manusia dalam hidupnya senantiasa dihadapkan pada situasi konflik antara benar-salah atau baik-buruk.38

e. Manusia memiliki kebebasan memilih

Manusia diberi kebebasan untuk memilih kehidupannya, apakah mau beriman atau kufur kepada Allah. Apakah manusia akan memilih jaln hidup yang sesuai dengan ajaran agama atau memperturutkan hawa nafsunya. Dalam hal ini, manusia mempunyai kemampuan untuk berupaya menyelaraskan arah perkembangan dirinya dengan tuntutan normatif, nilai-nilai kebenaran, yang dapat memberikan kontribusi atau nilai manfaat bagi kesejahteraan umat manusia. Atau malah sebaliknya memiliki kemampuan untuk menjalani kehidupan yang berseberangan dengan nilai-nilai agama, sehingga menimbulkan suasana kehidupan yang anarki atau tidak nyaman.

2. Makna kepribadian

Kepribadian dalam studi keislaman lebih dikenal dengan istilah syakhshiyah berasal dari kata syakhshun yang

38

(47)

36 berarti pribadi. Kata ini kemudian diberi ya‟ nisbat sehingga menjadi kata benda buatan syakhshiyat yang berarti kepribadian. Kepribadian adalah integrasi sistem kalbu, akal, dan nafsu manusia yang menimbulkan tingkah laku.39

3. Dinamika kepribadian

Manusia memang bukan malaikat, yang selamanya istiqomah dalam kebenaran, tetapi juga bukan setan, yang selamanya dalam kebathilan, kekufuran, kemaksiatan) dan senantiasa mengajak manusia ke jalan yang dilarang Allah SWT. Dalam Al-Qur‟an surat Al-Baqarah: 168.





















Hai sekalian manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah langkah syaitan; karena Sesungguhnya syaitan itu adalah musuhyang nyata bagimu. (QS. Al-Baqarah: 168)40

Ayat di atas bukan hanya ditujukan kepada muslim saja, tetapi seluruh manusia. Hal ini menunjukkan bahwa bumi disiapkan Allah untuk seluruh manusia, mukmin atau kafir. Setiap upaya untuk memonopoli hasil-hasilnya, baik oleh kelompok, suku, bangsa dan kawasan, dengan

39

Syamsu Yusuf Ln, dan A. Juntika..., hlm. 211. 40

(48)

37 merugikan yang lain, maka itu bertentangan dengan ketentuan Allah. Oleh karena itu manusia diajak untuk makan yang halal yang ada di bumi.41

Manusia adalah mahluk yang netral, kepribadiannya itu bisa berkembang seperti malaikat, bisa juga seperti setan. Hal ini amat bergantung pada pilihannya tadi, apakah manusia mengisi kalbunya dengan ketakwaan atau dengan fujur. Apabila yang dipilihnya itu ketakwaan, maka qolbu (fungsi rohaniyah sebagai perpaduan antara akal dan rasa) akan menggerakkannya untuk berperilaku yang bermakna (beramal shaleh), dan berpribadi mulia. Tetapi apabila yang dipilhnya itu fujur, maka dia akan berpribadi mufsid (pembuat keonaran di muka bumi), biang kemaksiatan. Berkaitan dengan hal tersebut, Allah berfirman dalam surat Asy-Syams: 9-10.







Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu, dan Sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya.42

Ayat-ayat tersebut menjelaskan bahwa sesungguhnya manusia adalah makhluk yang mempunyai tabiat, potensi,

41

M. Quraish Shihab, Tafsir Al-Misbah vol.1, (Jakarta : Lentera

Hati, 2002), hlm. 379. 42

(49)

38 dan arah yang komplek. Manusia dibekali potensi yang sama untuk berbuat baik dan berbuat buruk. Tetapi manusia mampu untuk membedakan antara yang baik dan yang buruk, sebagaimana ia mampu mengarahkan jiwanya kepada kebaikan atau keburukan.43

Manusia akan mengalami konflik psikis, manakala dia tidak mengambil keputusan, membiarkan jiwanya terkurung (terbelenggu) oleh keraguan antara mengambil kebenaran, dengan mengambil yang salah. Bagi mereka yang komitmen kepada kebenaran (memakai hidupnya dengan kebenaran), meskipun harus menempuh perjuanganhidup yang sulit, maka dia akan lahir, berkembang sebagai manusiayang berpribadi mantap.44

4. Perkembangan kepribadian

Manusia diciptakan oleh Allah dari unsur jasmaniah dan rohaniah. Dilihat dari karakteristik jasmaniahnya, manusia memiliki kesamaan dengan hewan (binatang). Kesamaan itu seperti berkaitan dengan kebutuhan-kebutuhan makan, minum, bernafas, istirahat dan seks (dorongan naruliah dalam rangka pengembangan keturunan). Namun dari segi rohaninya, manusia berbeda dengan hewan. Dalam hal ini, manusia memiliki akal atau kalbu sebagai substansi rohaniah, yang dengannya manusia mampu merespon

43

Sayyid Qutb, Tafsir fi Zhilalil-Qur’an..., hlm. 282.

44

(50)

39 (menerima atau menolak) kebenaran ajaran agama sebagai pedoman hidup, rambu rambu yang mengatur pola perilakunya di dunia ini.

Agama menunjukkan perilaku yang benar, yang membimbing manusia ke arah kondisi kehidupan yang bahagia dan sejahtera, dan juga menunjukkan pola perilaku yang salah (menyimpang) yang memperosokkan manusia ke lembah kehidupan yang nista dan nestapa. Dalam Al-Qur‟an dinyatakan, bahwa manusia berpotensi untuk menerima atau menolak kebenaran (Asy-syams: 8).45





Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya.

Sebagaimana telah disebutkan di atas, manusia dibekali potensi yang sama untuk berbuat baik dan berbuat buruk. Tetapi manusia mampu untuk membedakan antara yang baik dan yang buruk, sebagaimana ia mampu mengarahkan jiwanya kepada kebaikan atau keburukan. Kemampuan ini ada dalam diri manusia dan dalam Al-Qur‟an disebut dengan ilham.46

Dengan demikian, ayat ini menunjukkan bahwa manusia dapat berkembang menjadi seorang yang

45

Departemen Agama RI, Al-Qur’an..., hlm. 1064.

46

(51)

40 berkepribadian mulia (shaleh), atau berkepribadian buruk (zolim/ fasik/ munafik). Ke arah kepribadian yang mana manusia (individu) itu berkembang, amat bergantung pada kualitas pengalaman hidup sebagai hasil interaksi dengan lingkungan. Dalam hal ini terutama pengalaman hidup yang diperolehnya dalam lingkungan keluarga.

(52)

41 BAB III

KONSEP PEMBINAAN KEPRIBADIAN ANAK MENURUT

AL-GHAZALI DALAM KITAB AYYUHAL WALAD

A. Sejarah Hidup Al-Ghazali

Beliau mempunyai nama lengkap Abu Hamid Muhammad bin Muhammad Al-Ghazali42 dan lebih dikenal dengan sebutan Al-Ghazali. Al-Ghazali adalah seorang tokoh fiqih dan sufi, bermadzab Syafi‟i dan mengikuti firqah Asy‟ariyah dalam berakidah. Al-Ghazali juga populer dengan sebutan Hujjatul Islam, Zainuddin at-Tusi (Penghias agama)43, al-Faqih asy-Syafi’i, dan Bahrun Mugriq.44 Namanya kadang diucapkan Ghazzali (dua z), artinya tukang pintal benang, karena pekerjaan ayah Al-Ghazali ialah tunkang pintal benang wol. Sedangkan yang lazim ialah Ghazali (satu),45 disebut demikian karena beliau dilahirkan di Ghazalah, di kota Thus termasuk daerah Khurasan Iran pada tahun 450 H/ 1058 M.

42

Abidin Ibnu Rusn, Pemikiran Al-Ghazali Tentang Pendidikan,

(Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2009), hlm. 9. 43

Yusuf al-Qardhawi, Al-Ghazali Antara Pro dan Kontra, alih

bahasa, Hasan Abrori, (Surabaya: Pustaka Progressif, 1996), hlm. 39. 44

Basyuni Madjidi, Konsep Pendidikan Para Filsuf Muslim,

(Yogyakarta: Al Amin Press, 1997), hlm. 79. lihat juga H.M. Zurkani

Jahja, Teologi Al-Ghazali: Pendekatan Metodologi, (Yogyakarta:

Pustaka Pelajar, 1996), hlm. 71. 45

(53)

42 Al-Ghazali lahir di tengah-tengah keluarga yang tinggi religiusitasnya. Ayahnya, Muhammad, adalah seorang penenun dan pemintal kain wol dan menjualnya ditokonya sendiri di Thus, di luar kesibukannya, ia senantiasa menghadiri majelis-majelis pengajian yang diselenggarakan para ulama. Al-Ghazali mempunyai seorang saudara laki-laki yang bernama Abu al-Futuh Ahmad bin Muhammad bin Muhammad bin Ahmad at-Thusi Al-Ghazali yang dikenal dengan julukan Majduddin. Kondisi keluarga yang religius mengarahkan keduanya untuk menjadi ulama besar. Hanya saja saudaranya lebih cenderung kepada kegiatan dakwah dibanding Al-Ghazali yang menjadi penulis dan pemikir.46

Meskipun Ayah Al-Ghazali seorang tukang pintal benang dan berpenghasilan kecil, namun dia adalah seorang pencinta ilmu, bercita-cita tinggi, dan seorang muslim yang saleh yang selalu taat menjalankan agama. Ayah Al-Ghazali mengharapkan anaknya menjadi ulama yang selalu memberi nasihat kepada umat.47 Doa ayahnya dikabulkan oleh Allah, Al-Ghazali dan saudaranya Ahmad menjadi ulama besar dan pengagum serta pecinta ilmu. Tetapi sayang, ajalnya tidak memberi kesempatan kepadanya untuk menyaksikan segala keinginan dan do‟anya tercapai. Ia meninggal sewaktu Al-Ghazali dan saudaranya,

46

Dewan Redaksi Ensiklopedi Islam, Ensiklopedi Hukum Islam,

(Jakarta: PT. Ichtiar Baru Van Hoeve, 1997), I:404, artikel Al-Ghazali. 47

Hasyimsyah Nasution, Filsafat Islam, (Jakarta: Gaya Media

(54)

43 Ahmad masih kecil.48 Pada saat meninggal dunia, ia menitipkan anak-anaknya pada seorang sahabat untuk dididik. Maka Al-Ghazali dan saudaranya diserahkan ke sebuah madrasah di Thus untuk bisa memperoleh pakaian, makan, dan pendidikan. Di sinilah awal mula perkembangan intelektual dan spiritual Al-Ghazali yang penuh arti sampai akhir hayatnya.49

Kesempatan emas ini dimanfaatkan oleh Al-Ghazali untuk memperoleh pendidikan setinggi-tingginya. Mula-mula ia belajar agama, sebagai pendidikan dasar, kepada seorang ustadz setempat, Ahmad bin Muhammad Razkafi. Kemudian Al-Ghazali pergi ke Jurjan dan menjadi santri Abu Nasr Ismaili. Setelah menamatkan studi di Thus dan Jurjan, Al-Ghazali melanjutkan dan meningkatkan pendidikannya di Naisabur, dan ia bermukim di sana.50 Di sini ia belajar kepada seorang ulama besar Al-Juwaini yang dikenal dengan imam al-Haramain tentang berbagai keilmuan seperti ilmu kalam, ilmu mantiq dan sebagainya.

Selajutnya ia pindah ke Baghdad, kota pusat kebudayaan dan pengetahuan Islam pada masa itu. Ia mulai mengamalkan dan mengajarkan pengetahuannya sehingga ia berhasil menjadi seorang yang masyhur. Karena kebesaran pribadi dan tingginya

48

Asmaran AS, Pengantar Studi Tasawuf, cet. 2, (Jakarta: PT Raja

Grafindo Persada, 1996), hlm. 322-323.

49

Amin Syukur, Studi Akhlak, (Semarang: Walisongo Press, 2010),

hlm. 46-47. lihat juga H.M. Zurkani Jahja, Teologi Al-Ghazali:..., hlm.

64. lihat juga dalam Dewan Redaksi Ensiklopedi Islam,..., hlm. 404. 50

Referensi

Dokumen terkait

1. Pendidikan aqidah maksudnya, pada dasarnya setiap anak yang lahir di dunia ini sudah memiliki benih aqidah yang benar, akan tetapi aqidah itu akan tumbuh dan

Dengan adanya beberapa sifat yang harus dimiliki dari seorang pendidik ataupun dari seorang peserta didik yang sudah dijelas- kan oleh Imam Al-Ghazali maka akan tercipta

dan Munzier S., Watak Pendidikan Islam, Jakarta: Friska Agung Insani, 2003.. Ancok, Jamaludin, Psikologi Islami, Yogyakarta: Pustaka

Karena tugas pendidik adalah membantu peserta didik mengembangkan seluruh potensi yang ia miliki hingga mencapai kedewasaan dan peserta didik adalah sebagai pihak yang

Karena tugas pendidik adalah membantu peserta didik mengembangkan seluruh potensi yang ia miliki hingga mencapai kedewasaan dan peserta didik adalah sebagai pihak yang

Pembinaan kepribadian terdiri dari dua kata yaitu pembinaan dan kepribadian. Pembinaan adalah usaha yang dilakukan secara sadar, terencana, terarah, teratur untuk

11 Arini, Rosyidi, “Profil Kemampuan Penalaran Peserta didik SMP Dalam Menyelesaikan Masalah Matematika Ditinjau Dari Tipe Kepribadian Extrovert Dan Introvert”, Math Edu

Hasil penelitian menunjukkan bahwa kepribadian peserta didik MI No.81 Mico sebelum dan sesudah pengadaan pendidikan akhlak bahwa sebelum pengadaan pembinaan akhlak