BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA
1. Konsep Nifas
1.1 Pengertian nifas
Nifas adalah masa yang dimulai beberapa jam sesudah plasenta lahir dan mencakup 6 minggu berikutnya sedangkan yang dimaksud dengan masa nifas (puerperium) adalah masa pulih kembali yang dimulai setelah plasenta lahir dan berakhir pada ketika alat-alat kandungan kembali seperti keadaan sebelum hamil berlangsung kira-kira 6 minggu atau 40 hari (Heryani, 2012).
Masa nifas disebut juga masa postpartum atau puerperium adalah masa atau waktu sejak bayi dilahirkan dan plasenta keluar lepas dari rahim (Suherni,2009). Batasan waktu nifas yang paling singkat (minimum) tidak ada batas waktunya, bahkan bisa jadi dalam waktu relatif pendek darah sudah keluar, sedangkan batasan maksimumnya adalah adalah 40 hari (Wulandari, D., Ambarwati, E. R., 2009).
1.2 Tahapan masa nifas
puerperium, yaitu waktu yang diperlukan untuk pulih dan sehat kembali dalam keadaan sempurna terutama bila ibu selama hamil atau waktu persalinan mengalami komplikasi (Heryani, 2012).
1.3 Perubahan dalam masa nifas 1.3.1 Perubahan sistem reproduksi 1. Perubahan uterus
Tabel 1. Tinggi fundus uteri dan berat uterus menurut masa involusi:
Hasil dari penurunan ukuran uterus harus kehilangan sel-sel dalam jumlah besar. Selama beberapa hari pertama setelah melahirkan endometrium dan miometrium pada tempat plasenta diserap oleh sel-sel granulosa sehingga selaput basal endometrium kembali dibentuk. Fundus tidak lagi dapat diraba di area abdomen 10 hari postpartum atau lebih cepat. Konsistensi fundus harus tegas, dengan sekitar, bentuk halus. Fundus yangterasa lembut menunjukkan atonia atau sub involusi. Kandung kemih harus kosong untuk pemeriksaan akurat fundus, karena kandung kemih yang penuh menggantikan rahim dan meningkatkan ketinggian fundus (Griffin, K., Martin., Reeder, 1997).
Pada primipara, tonus uterus meningkat sehingga fundus pada umumnya tetap kencang. Relaksasi dan kontraksi yang periodik sering dialami multipara dan biasa menimbulkan nyeri yang bertahan sepanjang masa awal puerperium. Rasa nyeri setelah melahirkan ini lebih nyata ditempat uterus terlalu teregang (misalnya
No Waktu Involusi Tinggi Fundus Uteri Berat Uterus
1. Bayi lahir Setinggi Pusat 1000 gram
2. Plasenta lahir Dua jari bawah pusat 750 gram 3. 1 Minggu Pertengahan pusat-simfisis 500 gram 4. 2 Minggu Tidak teraba diatas simfisis 350 gram
5. 6 Minggu Bertambah kecil 50 gram
pada bayi besar dan kembar). Menyusui dan oksitosin tambahan biasanya meningkatkan nyeri ini karena keduanya merangsang kontraksi uterus.
2. Pengeluaran lokia
Lokea atau lokia adalah cairan yang keluar dari liang vagina/senggama pada masa nifas (Rukiyah, A.Y., Yulianti, L., Liana, M., 2011). Karakter dan jumlah lokia tidak langsung menunjukkan penyembuhan endometrium. Dalam proses penyembuhan normal, jumlah lokia secara bertahap berkurang dengan perubahan warna yang khas yang mencerminkan penurunankomponen darah di aliran lokia. Jumlah lokia bervariasi dengan individu dan umumnya lebih berlimpah pada multipara. Jumlah lokia dapat meningkat pada ambulasi awal karena vagina terasa terdorong dan peningkatan kontraksi uterus (Griffin, K., Martin., Reeder, 1997).
Cairan ini berupa darah atau sisa lapisan rahim.Urutan pengeluaran lokia:1-4: rubra/krueta merah kehitaman, 4-7: sanguinolenta putih bercampur merah, 7-14: serosa kekuningan, >14: alba putih.
Jumlah total lokia yang diproduksi 150 ml sampai 450 ml dengan jumlah rata-rata225 ml. Selama 2-3 hari pertama setelah melahirkan,pengeluaran darah dari vagina tergantung pada perubahan ambulasi seperti berdiri dan duduk. Hal ini tidak perlu dikhawatirkan karena masih dianggap normal.
3. Payudara/ laktasi
payudara menghasilkan ASI. Prolaktin adalah hormon pertama yang bertanggung jawab dalam proses laktasi. Dengan rangsangan hisapan bayi mengeluarkan prolaktin dari adeno hipofise dan oksitosin dari neurohipofise. Pada saat yang sama akan menstimulasi saraf melalui tulang belakang ke hipotalamus untuk menekan pengeluaran faktor penghambat terhadap laktasi.
Setelah persalinan estrogen dan progesteron menurun drastis sehingga dikeluarkan prolaktin untuk merangsang produksi ASI. ASI kemudian dikeluarkan oleh sel otot halus disekitar kelenjar payudara yang mengkerut dan memeras ASI keluar, hormon oksitosin yang membuat otot-otot itu mengkerut.
4. Perubahan di serviks dan segmen bawah uterus
Serviks dan segmen bawah uteri menjadi struktur yang tipis, kolaps dan kendur segera setelah selesainya kala ketiga persalinan (Rukiyah, A.Y., Yulianti, L., Liana, M., 2011). Mulut serviks mengecil perlahan-lahan. Selama beberapa hari, segera setelah persalinan, mulutnya dapat dengan mudah dimasuki dua jari tetapi pada akhir minggu pertama telah menjadi demikian sempit sehingga sulit untuk memasukkan satu jari. Setelah minggu pertama serviks mendapatkan kembali tonusnya pada saat saluran kembali terbentuk dan tulang internal menutup. Tulang eksternal dianggap sebagai penampakan yang menyerupai celah.
kendur terkulai dan berbentuk seperti corong setelah melahirkan disebabkan korpus uteri berkontraksi sedangkan serviks tidak berkontraksi sehingga perbatasan antara korpus dan serviks uteri berbentuk cincin.
5. Perubahan pada vulva, vagina dan perinium
Vulva dan vagina mengalami penekanan serta peregangan yang sangat besar selama proses melahirkan bayi, dan dalam beberapa hari pertama sesudah proses tersebut, kedua organ ini tetap berada dalam keadaan kendur, vagina dan pintu keluar vagina pada bagian pertama masa nifas membentuk lorong berdinding lunak dan luas yang ukurannya secara perlahan-lahan mengecil tetapi jarang kembali ke ukuran nullipara. Setelah minggu ketiga rugae dalam vagina secara berangsur-angsur akan muncul kembali sementara labia menjadi lebih menonjol.
Hymen mengalami ruptur pada saat melahirkan bayi pervaginam, kemudian setelah melahirkan hymen muncul sebagai beberapa potong jaringan kecil, yang selama proses sikatrisasi diubah menjadi carunculae mirtiformis yang khas pada wanita yang pernah melahirkan atau multipara. Orifisium vagina biasanya tetap sedikit membuka setelah melahirkan anak.
Perubahan perineum pasca melahirkan terjadi pada saat perineum mengalami robekan. Robekan jalan lahir dapat terjadi secara spontan ataupun dilakukan episiotomi dengan indikasi tertentu (Heryani, 2012).
6. Perubahan di peritoneum dan dinding abdomen
dibentuk menjadi lipatan-lipatan dan kerutan-kerutan. Ligamentum latum dan rotundum jauh lebih kendur daripada kondisi tidak hamil, dan memerlukan waktu yang cukup lama untuk kembali dari peregangan dan pengenduran yang telah dialaminya selama kehamilan tersebut.
1.3.2 Perubahan sistem pencernaan
Sistem gastrointestinal selama kehamilan dipengaruhi oleh beberapa hal, diantaranya tingginya kadar progesteron yang dapat mengganggu keseimbangan cairan tubuh, meningkatkan kolesterol darah dan melambatkan kontraksi otot-otot polos. Pasca melahirkan, kadar progesteron juga mulai menurun. Namun demikian, faal usus memerlukan waktu 3-4 hari untuk kembali normal.
Ibu biasanya mengalami obstipasi setelah melahirkan anak. Hal ini disebabkan karena saat melahirkan alat pencernaan mendapat tekanan yang menyebabkan colon menjadi kosong, pengeluaran cairan yang berlebihan pada waktu persalinan (dehidrasi), kurang makan, hemoroid, dan laserasi jalan lahir.
1.3.3 Perubahan sistem perkemihan
Pada masa hamil, perubahan hormonal yaitu kadar steroid tinggi yang berperan meningkatkan fungsi ginjal. Begitu sebaliknya, pada pasca melahirkan, kadar steroid menurun hingga menyebabkan penurunan fungsi ginjal. Fungsi ginjal kembali normal dalam waktu sebulan setelah wanita melahirkan. Urin dalam jumlah yang besar akan dihasilkan dalam waktu 12-36 jam sesudah melahirkan.
Setelah plasenta dilahirkan, kadar hormon estrogen akan menurun, hilangnya peningkatan tekanan vena pada tingkat bawah, dan hilangnya peningkatan volume darah akibat kehamilan, hal ini merupakan mekanisme tubuh untuk mengatasi kelebihan cairan. Keadaan ini disebut dengan dieresis pascapartum. Ureter yang berdilatasi akan kembali normal dalam tempo 6 minggu.
Kehilangan cairan melalui keringat dan peningkatan jumlah urin menyebabkan penurunan berat badan sekitar 2,5 kg selama masa pascapartum. Pengeluaran cairan tertimbun selama hamil kadang-kadang disebut kebalikan metabolisme air pada masa hamil (reversal of the water metabolism of pregnancy).
persalinan. Untuk mempercepat penyembuhan keadaan ini dapat dilakukan latihan pada otot dasar panggul.
1.3.4 Perubahan sistem muskuloskeletal
Perubahan sistem muskuloskeletal terjadi pada saat umur kehamilan semakin bertambah. Adaptasi muskuloskeletal ini mencakup: peningkatan berat badan, bergesernya pusat akibat pembesaran rahim, relaksasi dan mobilitas. Namun demikian, pada saat postpartum sistem ini akan berangsur-angsur pulih kembali. Ambulasi dini dilakukan segera setelah melahirkan, untuk membantu mencegah komplikasi dan mempercepat involusi uteri.
Selama masa kehamilan, kulit abdomen akan melebar, melonggar dan mengendur hingga berbulan-bulan. Dinding perut dan peritoneum akan longgar pasca persalinan. Otot-otot dari dinding abdomen dapat kembali normal dalam beberapa minggu pasca melahirkan dengan latihan postnatal. Keaadaan akan pulih dalam 6 minggu. Pada wanita yang astenis terjadi diastasis dari otot-otot restus abdominis, sehingga sebagian dari dingding perut digaris tengah hanya terdiri dari peritoneum, fasia tipis dan kulit.
Setelah janin lahir, ligamen-ligamen, diafragma pelvis dan fasia yang meregang sewaktu kehamilan dan partus berangsur-angsur menciut kembali seperti sedia kala. Tidak jarang ligamentum rotundum menjadi kendur yang mengakibatkan letak uterus menjadi retrofleksi.
abdominis pada ibu postpartum dapat dikaji melalui keadaan umum, aktivitas, paritas dan jarak kehamilan, sehingga dapat membantu menentukan lama pengembalian tonus otot menjadi normal.
Pemisahan simfisis pubis jarang terjadi. Namun demikian, hal ini dapat menyebabkan morbiditas maternal. Gejala dari pemisahan simfisis pubis, antara lain: nyeri tekan pada pubis disertai peningkatan nyeri saat bergerak ditempat tidur ataupun waktu berjalan. Pemisahan simfisis dapat dipalpasi. Gejala ini dapat menghilang setelah beberapa minggu pasca melahirkan, bahkan ada yang menetap.
Disfungsi simfisis pubis merupakan istilah yang menggambarkan gangguan fungsi sendi simfisis pubis dan nyeri yang dirasakan disekitar area sendi. Fungsi sendi simfisis pubis adalah penyempurnaan cincin tulang pelvis dan memindahkan berat badan melalui posisi tegak. Bila sendi ini tidak menjalankan fungsi semestinya, akan terdapat fungsi/stabilitas pelvis yang abnormal, diperburuk dengan terjadinya perubahan mekanis, yang dapat mempengaruhi gaya berjalan suatu gerakan lembut pada sendi simfisis pubis untuk menumpu berat badan dan disertai rasa nyeri yang hebat.
Diastasis rekti adalah pemisahan otot rektus abdominis lebih dari 2,5 cm pada tepat setinggi umbilikus sebagai akibat pengaruh hormon terhadap linea alba serta akibat peregangan mekanis dingding abdomen. Kasus ini sering terjadi pada multiparitas, bayi besar, polihidramion, kelemahan otot abdomen dan postur yang salah. Selain itu juga disebakan gangguan kolagen yang lebih kearah keturunan, sehingga ibu dan anak mengalami diastasis.
panggul selama persalinan. Prolaps genetalia sering dikaitkan dengan persalinan pervaginam yang dapat menyebabkan keregangan dan kerusakan pada fasia dan persarafan pelvis. Prolap uterus adalah penurunan uterus. Sistokel adalah prolaps kandung kemih dalam vagina, sedangkan rektokel adalah prolaps rektum kedalam vagina (Thakar & Stanton, 2002 dalam Heryani, 2012).
1.3.5 Perubahan sistem endokrin
Selama proses kehamilan dan persalinan terdapat perubahan pada sistem endokrin. Hormon yang berperan pada proses tersebut, antara lain: hormon plasenta, hormon pituitari, hipotalamik pituitari ovarium, hormon oksitosin, hormon estrogen dan progesteron. Pengeluaran plasenta menyebabkan penururnan hormon yang diproduksi oleh plasenta. Hormon plasenta menurun dengan cepat pasca persalinan. Penurunan hormon plasenta (Human Placental Lactogen) menyebabkan kadar gula darah menurun pada masa nifas. Human Choironic Gonadotropin (HCG) menurun dengan cepat dan menetap sampai 10% dalam 3
berkisar 16% dan 45% setelah 12 minggu pasca melahirkan. Sedangkan pada wanita yang tidak menyusui, akan mendapatkan menstruasi berkisar 40% setelah 6 minggu pasca melahirkan dan 90% setelah 24 minggu. Hormon oksitosin disekresikan dari kelenjar otak bagian belakang, bekerja terhadap otot dan jaringan payudara. Selama tahap ketiga persalian, hormon oksitosin berperan dalam pelepasan plasenta dan mempertahankan kontraksi, sehingga mencegah pendarahan. Isapan bayi dapat merangsang produksi ASI dan sekresi oksitosin, sehingga dapat membantu involusi uteri. Volume darah normal selama kehamilan akan meningkat. Hormon estrogen yang tinggi memperbesar hormon antidiuretik yang dapat meningkatkan volume darah. Sedangkan hormon progesteron mempengaruhi otot halus yang mengurangi perangsangan dan peningkatan pembuluh darah. Hal ini mempengaruhi saluran kemih, ginjal, usus, dinding vena, dasar panggul, perineum dan vulva serta vagina.
1.3.6 Perubahan tanda-tanda vital
Denyut nadi normal pada orang dewasa 60-80 kali per menit. Pasca melahirkan, denyut nadi dapat menjadi bradikardi maupun lebih cepat. Denyut nadi yang melebihi 100 kali per menit, harus waspada kemungkinan infeksi atau pendarahan postpartum.
Tekanan darah adalah yang dialami darah pada pembuluh arteri ketika darah dipompa oleh jantung keseluruh anggota tubuh manusia. Tekanan darah normal manusia adalah sistolik antara 90-120 mmHg dan distolik 60 mmHg sampai 80 mmHg. Pasca melahirkan pada kasus normal, tekanan darah biasnya tidak berubah. Perubahan tekanan darah menjadi lebih rendah pasca melahirkan dapat diakibatkan oleh pendarahan. Sedangkan tekanan darah tinggi pada postpartum merupakan tanda terjadinya pre eklamsia post partum. Namun demikian, hal tersebut sangat jarang terjadi.
Frekuensi pernapasan normal pada orang dewasa adalah 16-24 kali per menit. Pada ibu postpartum umumnya pernapasan lambat atau normal. Hal ini dikarenakan ibu dalam keadaan pemulihan atau dalam kondisi istirahat. Keadaan pernapasan selalu berhubungan dengan keadaan suhu dan denyut nadi. Bila suhu nadi tidak normal, pernapasan juga akan mengikutinya, kecuali apabila ada gangguan khusus pada saluran napas. Bila pernapasan pada masa postpartum menjadi lebih cepat, kemungkinan ada tanda-tanda shock.
1.3.7 Perubahan sistem kardiovaskuler
menjadi normal kembali. Meskipun kadar estrogen menurun selama nifas, namun kadarnya masih tetap tinggi daripada normal. Plasma darah tidak banyak mengandung cairan sehingga daya koagulasi meningkat.
Aliran ini terjadi dalam 2-4 jam pertama setelah kelahiran bayi. Selama masa ini ibu mengeluarkan banyak sekali jumlah urin. Hilangnya progesteron membantu mengurangi retensi cairan yang melekat dengan meningkatnya vaskuler pada jaringan tersebut selama kehamilan bersama-sama dengan trauma persalinan. Kehilangan darah pada persalinan pervaginam sekitar 300 cc sampai 400 cc, sedangkan kehilangan darah dengan persalinan seksio sesaria menjadi dua kali lipat. Perubahan yang terjadi terdiri dari volume darah dan hemokonsentrasi. Pada persalinan pervaginam, hemokonsentrasi akan naik dan pada persalinan seksio sesaria, hemokonsentrasi cenderung stabil dan kembali normal setelah 4-6 minggu.
Pasca melahirkan, shunt akan hilang dengan tiba-tiba. Volume darah ibu relatif akan bertambah. Keadaan ini akan menimbulkan dekompensasi kordis pada penderita vitum cordial. Hal ini dapat diatasi dengan mekanisme kompensasi dengan timbulnya hemokonsentrasi sehingga volume darah kembali seperti sedia kala. Pada umumnya hal ini akan terjadi pada hari ketiga sampai kelima postpartum.
1.3.8 Perubahan Hematologi
mengental dengan peningkatan viskositas sehingga meningkatkan faktor pembekuan darah.
Leukositosis adalah meningkatnya jumlah sel-sel darah putih sebanyak 15.000 selama persalinan. Jumlah leukosit akan tetap tinggi selama beberapa hari pertama masa postpartum. Jumlah sel darah putih akan tetap naik lagi sampai 25.000 hingga 30.000 tanpa adanya kondisi patologis jika wanita tersebut mengalami persalinan lama.
Jumlah hemoglobin, hematokrit dan eritrosit sangat bervariasi pada awal postpartum. Hal ini menyebabkan volume darah yang berubah-ubah. Tingkatan ini dipengaruhi oleh status gizi dan hidrasi dari wanita tersebut. Jika hematokrit pada hari pertama atau kedua lebih rendah dari titik 2% atau lebih tinggi daripada saat memasuki persalinan awal, maka pasien dianggap telah kehilangan darah yang cukup banyak. Titik 2% kurang lebih sama dengan kehilangan 500ml darah.
Penurunan volume dan peningkatan hematokrit dan hemoglobin pada hari ke 3-7 postpartum dan akan normal dalam 4-5 minggu posrtum. Jumlah kehilangan darah selama masa persalinan kurang lebih 200 ml sampai 500ml, minggu pertama postpartum berkisar 500-800 ml dan selama sisa masa nifas berkisar 500ml.
1.4 Adaptasi psikologis masa nifas
dirinya (sebelum proses) yang menyenangkan, serta harapan untuk masa yang akan datang. Taking in: periode ini terjadi 1-2 hari sesudah melahirkan, ibu baru pada umumnya pasif dan tergantung, perhatiannya tertuju pada tubuhnya, peningkatan nutrisi ibu mungkin dibutuhkan karena selera makan ibu mungkin bertambah. Taking Hold: periode ini berlangsung pada hari 2-4 hari post partum ibu menjadi orang tua yang sukses dengan tanggung jawab terhadap bayinya. Pada masa ini ibu agak sensitif dan merasa tidak mahir dalam melakukan hal tersebut. Letting go: periode terjadi setiap ibu pulang ke rumah. Pada ibu yang bersalin di klinik dan sangat berpengaruh terhadap waktu dan perhatian yang diberikan oleh keluarganya. Depresi postpartum sering terjadi pada periode ini (Rukiyah, 2011).
1.5 Perawatan masa nifas
1.5.1 Perawatan diri ibu selama masa nifas 1. Mobilisasi dini
Dengan melakukan mobilisasi dini diharapkan keadaan pemulihan kesehatan akan lebih cepat. Selain itu mempercepat involusioalat kandungan, memperlancar fungsi gastrointestinal, perkemihan, meningkatkan kelancaran peredaran darah, sehingga 24 mempercepat fungsi ASI dan pengeluaran sisa metabolisme (Manuaba, 2000).
2. Berkemih
Suami dapat membantu ibu bila ingin buang air kecil. Kadang-kadang ibu sulit waktu buang air kecil karena pada persalinan mengalami tekanan oleh kepala janin, juga karena adanya edema kandung kemih yang terjadi selama persalinan. Wanita yang baru melahirkan dianjurkan untuk segera mengosongkan kandung kemihnya untuk mencegah distensi. Wanita primipara mungkin tidak mengetahui bagaimana mengosongkan kandung kemih.
Miksi atau berkemih di sebut normal bila dapat buang air kecil spontan setiap 3-4 jam, ibu diusahakan dapat membuang air kecil sendiri, bila tidak dilakukan dengan tindakan sebagai berikut: rangsang dengan mengalirkan air kran di dekat klien dan mengkompres air hangat di atas simpisis. Bila tidak berhasil dengan cara di atas maka dilakukan kateterisasi. Karena prosedur kateterisasi membuat klien tidak nyaman dan beresiko infeksi saluran kencing tinggi untuk keteterisasi tidak dilakukan sebelum lewat 6 jam post partum, douwer keteter diganti setelah 48 jam (Ambawati & Wulandari, 2009).
3. Defekasi
obstipasi setelah melahirkan. Hal ini dikarenakan efek pemberian enema selama persalinan, diet cairan, obat-obatan analgesik selama persalinan. Selain itu, perineum yang sangat sakit juga menjadi penyebab kurangnya keinginan untuk defekasi.
Melakukan kembali kegiatan makan dan mobilisasi secara teratur dapat membantu mencapai regulasi defekasi. Selain itu, ibu dianjurkan untuk mengkonsumsi asupan cairan yang adekuat dan diet tinggi serat. Jika masih sulit untuk defekasi maka diberikan obat laksatif per oral atu per rektal atau obat pencahar.
Setelah kelahiran akan rentan terhadap infeksi oleh karena itu penting sekali agar daerah-daerah tersebut dijaga agar tetap kering dan bersih, untuk membersihkannya dan mencucinyanya dari arah depan ke belakang nasihatkan kepada ibu untuk memberihkan vulva setelah BAK/BAB (Rukiyah, dkk 2011). 4. Perawatan perineum
Perineumadalah area antara jalan lahir (vagina)dengan dubur (rektum).Pada ibu bersalin kadang dilakukan episiotomiuntuk memperlebar jalan lahir, terutama pada ibu primiparaatau yang baru pertama melahirkan sehingga memberikan luka dan perlu dilakukan penjahitan (heacting). Agar tidak terjadi infeksi maka harus diperhatikan perawatan luka perineum.
cairan antiseptik area perineumsetelah buang air kecil atau besar. Keringkan dengan kain pembalut atau handuk dengan cara ditepuk-tepuk, selalu dari arah muka ke belakang. Jangan dipegang sampai area tersebut pulih. Rasa gatal pada area sekitar jahitan normal dan merupakan tanda penyembuhan. Namun, untuk meredakan rasa tidak enak, atasi dengan mandi berendam air hangat atau kompres dingin dengan kain pembalut yang telah didinginkan. Berbaring pada sisi tubuh, hindari berdiri atau duduk lama untuk mengurangi tekanan pada daerah tersebut. Lakukan latihan kegel sesering mungkin guna merangsang peredaran darah di sekitar perineum. Dengan demikian, akan mempercepat penyembuhan dan memperbaiki otot-otot. Jangan terkejut jika Anda tidak merasakan apa-apa saat pertama kali berlatih karena area tersebut akan kebal setelah persalinan dan pulih secara bertahap dalam beberapa minggu (Danuatmaja, 2003).
5. Kebersihan vagina
6. Diet/nutrisi/gizi
Masalah diet perlu mendapat perhatian pada masa nifas untuk dapat meningkatkan kesehatan dan pemberian ASI. Gizi selama menyusui tidak saja akan berpengaruh terhadap kesehatan ibu yang baru melahirkan, tetapi juga pada bayinya. Ibu yang menyusui perlu mendapatkan gizi untuk memproduksi ASI. Oleh karena itu bila asupan gizi ibu kurang, maka kebutuhan gizi yang diperlukan untuk memproduksi ASI akan diambil dari tubuh ibu. Dalam sehari ibu menyusui memerlukan 2700 kalori sampai 2900 kalori dalam bentuk asupan makanannya. Ibu menyusui membutuhkan tambahan protein sebanyak 20% sampai 25%, kalsium sampai 45%, zat besi sebanyak 4%.
Ibu menyusui membutuhkan gizi seimbang untuk kesehatan ibu dan peningkatan kualitas dan kuantiats ASI (Kasdu, 2004).Makanan yang dikonsumsi berguna untuk melakukan aktivitas, metabolisme, cadangan dalam tubuh dan produksi ASI, menu makanan seimbang yang harus di konsumsi adalah dalam porsi yang cukup dan teratur, tidak terlalu asin, pedas atau berlemak, tidak mengandung alkohol, nikotin, serta bahan pengawet dan pewarna, disamping itu harus mengandung sumber energi, protein, mineral vitamin dan air (Ambawati & Wulandari, 2009).
yang cukup, minum sedikinya 3 liter air setiap hari (anjurkan ibu minum setiap kali menyusui), pil zat besi harus di minum untuk menambah zat gizi setidaknya selama 40 hari pasca persalinan., minum kapsul vitamin A (200.000 unit) agar bisa memberikan vitamin A kepada bayinya melalui ASI.
7. Istirahat
Setelah proses persalinan yang melelahkan ibu butuh cukup istirahat. Sarankan pada ibu untuk kembali ke kegiatan-kegiatan rumah tangga secara perlahan-lahan, kurang istirahat mempengaruhi ibu dalam beberapa hal seperti mengurangi jumlah ASI yang diproduksi, memperlambat proses involusio uterus dan memperbanyak perdarahan, menyebabkan depresi dan ketidakmampuan merawat bayi dan dirinya sendiri (Pusdiknakes, 2003).
Istirahat dan tidur ibu postpartum sering terganggu karena harus memenuhi kebutuhan bayi pada malam hari sehingga sering terbangun, waktu tidur lebih sedikit, pola tidur tidak teratur (Hung, 2005). Ibu primipara, sering cemas atau tidak nyaman karena rutinitas di lingkungannya dan juga kemampuan merawat bayi yang masih kurang sehingga ibu mengalami sulit tidur (Bobak, Lowdermilk, & Jensen, 2004).
perdarahan, menyebabkan defresi dan ketidakmampuan untuk merawat bayi dan dirinya sendiri (Eny dan Diah, 2009).
8. Pakaian
Pakaian longgar terutama daerah dada sehingga payudara tidak tertekan. Daerah perut tidak perlu diikat dengan kencang karena tidak akan mempengaruhi involusio. Pakaian dalam sebaiknya dipakai yang menyerap, sehingga lokia tidak memberikan iritasi pada sekitarnya. Pembalut sebaiknya diganti dua sampai tiga kali sehari atau setiap saat terasa penuh lokea (Manuaba, 2005).
9. ASI dan perawatan payudara
Pemberian ASI harus merata pada kedua payudara. Kedua payudara harus disokong pada saat pemberian ASI sehingga kelancaran pemberian ASI berjalan dengan baik. Puting susu perlu diperhatikan dan dibersihkan sebelum memberikan ASI. Cara merawat puting susu, yaitu: mengompres puting susu dengan kapas yang berminyak selama 5 menit agar kotoran terangkat, kemudian mengolesi minyak pada ibu jari dan mengoles kedua payudara.
Kedua mamae harus sudah di rawat selama kehamilan. Aerola mamae dan puting susu di cuci dengan menggunakan sabun dan diberikan minyak atau cream, agar tetap lemas jagan sampai menjadi lecet atau pecah-pecah. Sebelum menyusui mamae harus dalam keadaan lemas (massase) dan juga bersih (Wiknjosastro dalam Prawirohardjo, 2005).
pada bayi, terus menyusui dengan puting pecah-pecah dan perdarahan dapat mengarah pada mastitis.
Tujuan perawatan payudara bagi ibu menyusui, untuk melancarkan sirkulasi darah dan mencegah tersumbatnya saluran susu, sehingga mempelancar pengeluaran susu. Lakukan perawatan payudara secara teratur, perawatan paudara hendaknya dimulai sedini mungkin yaitu 1-2 hari setelah bayi dilahirkan dan dilakukan 2 kali sehari. (Rukiyah, dkk 2011)
Selama kehamilan puting susu akan berubah menjadi lebih gelap dan lebih besar dalam persiapan penyusuan. Puting ibu mungkinkan membesar/ membengkak bila payudara ibu membesar/membengkak. Dalam hal tersebut puting tersebut akan menjadi mengkilap dan keras sama seperti pada pembesaran, setelah melahirkan dan biasanya akan berlangsung hanya selama 24 jam hingga 48 jam.
10. Senggama
Secara fisik aman untuk memulai hubungan suami istri begitu darah merah berhenti dan ibu dapat memasukkan satu atau dua jarinya ke dalam vaginatanpa rasa nyeri. Begitu darah merah berhenti dan ibu tidak merasa nyeri, aman untuk mulai melakukan hubungan suami istri kapan saja ibu siap (Pusdiknakes, 2003).
1.5.2 Perawatan bayi baru lahir 1. Memandikan bayi
bayi kedinginan serta kemasukan air ke hidung, mulut, atau telinga yang dapat mengakibatkan aspirasi (Hidayat, 2008). Hampir setiap ibu merasa takut memandikan bayinya. Namun yang terpenting saat memandikan bayi adalah berhati-hati dalam memposisikan bayi secara tepat. Jadwal mandi bayi tidak sebanyak orang dewasa jika telah dilakukan pembersihan yang baik di tempat-tempat tertentu saat menggantikan popok atau menyusui, sebenarnya bayi tidak perlu dimandikan setiap hari. Ibu hanya perlu membersihkan wajah, leher, dan bokong dengan handuk atau busa basah. Pada bayi yang belum merangkak atau turun dari tempat tidur, mandi 3 kali seminggu akan membuatnya bersih dan wangi. Jika memungkinkan ibu boleh memandikan bayi setiap hari terutama jika cuaca panas. Tidak ada waktu yang tepat kapan bayi seharusnya dimandikan.Namun memandikan bayi sebelum tidur dapat membuatnya rileks sehingga memudahkan tidur. Hindari memandikan bayi sebelum atau setelah makan karena perut yang tertekan membuatnya muntah (Danuatmaja, 2003).
2. Merawat tali pusat
Perawatan tali pusat merupakan tindakan yang bertujuan merawat tali pusat pada bayi baru lahir agar tetap kering dan mencegah terjadinya infeksi (Hidayat, 2008). Tali pusat merupakan sisa terakhir ikatan ibu dengan bayi dari dalam rahim. Menjelang kesembuhannya, tali pusat akan berubah warna menjadi hitam. Bagian ini akan lepas dengan sendirinya antara satu sampai empat minggu. Untuk mempercepat penyembuhan dan menghindari infeksi, jagalah agar tali pusat tetap kering dan terkena udara.
Dalam perawatan tali pusat agar sang ibu memperhatikan bahwa sebelum tali pusat terlepas, jangan memandikan bayi dengan merendamnya dan jangan membasuh tali pusat sekali pun dengan lap basah, cuci tangan bersih-bersih, ambil kapas bulat yang telah diolesi alkohol 70%, bersihkan sisa tali pusat terutama pangkalnya (yang menempel pada perut), dan lakukanlah dengan hati-hati terutama jika pusat masih berwarna merah. Kemudian rendam perban atau kasa steril dalam alkohol 70%, lalu bungkus sisa tali pusat. Seluruh permukaan hingga pangkal harus tertutup perban. Lilitan perban jangan terlalu ketat agar bayi tidak kesakitan dan gurita bayi untuk menahan agar bungkusan perban tetap pada tempatnya. Jika area ini bernanah dan berwarna merah, maka ibu bisa segera menghubungi dokter (Danuatmaja, 2003).
3. Membersihkan alat kelamin
penis dengan menyemprotkan anti septik, karena ini sangat berbahaya. Kecuali ketika kulit luar sudah terpisah dari glan, ibu bisa menarik dan membersihkan bagian bawahnya. Dengan kapas baru, bersihkan anus dan bagian bokong dari arah anus keluar lalu keringkan dengan tisu lembut. Jangan buru-buru memakai popok, tetapi biarkan terkena udara sejenak dan lipatan kulit serta bokong boleh diolesi krim. Sedangkan untuk membersihkan alat kelamin bayi perempuan gunakan sabun dan air. Lalu gunakan gulungan kapas untuk membersihkan bagian bawah kelamin. Lakukan dari arah depan ke belakang, tidak perlu membersihkan bagian dalam vagina. Dengan kapas baru bersihkan anus dan bagian bokong dari arah anus keluar. Terakhir keringkan dengan tisu lembut, dan jangan terburu-buru memakai popok tetapi biarkan terkena udara sejenak. Lipatan kulit dan bokong boleh diolesi krim (Danuatmaja, 2003).
4. Perawatan pada mata, hidung dan telinga bayi
dengan penyedot hidung bayi atau letakkan bayi dalam posisi tengkurap untuk mengeluarkan cairan tersebut. Untuk membersihkan mata gunakan kapas yang dibasahi air hangat, pilihlah kapas paling lembut. Jangan memaksa mengeluarkan kotoran di mata jika sulit. Jika sudah dibersihkan, pastikan mata bayi bersih dari sisa kapas (Danuatmaja, 2003).
5. Merawat kulit dan kuku
Kulit bayi baru lahir rentan terhadap iritasi dari bahan kimia yang ada dalam pakaian baru, dan sisa sabun atau deterjen yang menempel pada pakaian yang sudah dicuci. Jika kulitnya sangat kering, ibu dapat mengoleskan sedikit losion bayi pada tempat-tempat yang kering. Perawatan untuk kuku adalah dengan memotongnya. Ibu dapat menggunakan gunting kuku khusus untuk bayi atau gunting kecil berujung tumpul. Waktu yang baik untuk memotong kuku adalah setelah mandi jika bayi berbaring dengan tenang, tetapi akan lebih mudah bila ibu melakukannya ketika bayi sedang tidur. Memotong kuku pada bayi bertujuan agar bayi tidak melukai dirinya sendiri dengan kuku yang panjang. Pada minggu-minggu awal kuku bayi tumbuh dengan cepat sehingga ibu harus memotongnya dua kali seminggu. Tetapi, kuku jari kaki tumbuh jauh lebih lambat sehingga ibu dapat memotongnya sekali atau dua kali sebulan (Shelov, 2005)
6. Mengganti popok
menggunakan popok sekali pakai atau diapers, basahnya diapers jangan digunakan sebagai ukuran. Diapers bermutu biasanya menginformasikan cara jika tiba saat mengganti, misalnya perubahan warna diapers. Ibu tidak perlu membangunkan bayi yang sedang tidur untuk mengganti popoknya, kecuali jika terlalu basah dan tidak nyaman bagi bayi atau jika bayi buang air besar (Danuatmaja, 2003).
7. Pemberian makanan dan minuman bayi
Menyusui bayi dilakukan dengan cara mendekatkan bayi ke arah ibu dan memalingkan seluruh tubuh bayi sehingga menghadap ke dada ibu. Pastikan bahwa kepala bayi berada dalam satu garis dengan tubuhnya dan tidak berpaling kesatu sisi. Posisikan bayi sehingga bibir atasnya setara dengan ketinggian putting ibu, kemudian ibu dapat merangsang bayi untuk membuka mulutnya dengan mengusapkan puting payudara ke bibir atasnya. Ketika mulutnya membuka lebar, kemudiansegera geser ke payudara ibu. Ibu perlu memperhatikan dan memastikan agar bayi memasukkan sebagian besar payudara ke dalam mulutnya bukan hanya puting saja, sehingga mulut bayi harus membuka dengan lebar (Nolan, 2004).
2. Konsep perawatan mandiri
2.1 Pengertian perawatan mandiri
Menurut Orem dalam Basford (2006) perawatan mandiri adalah suatu aktivitas yang dimulai secara individu dan dilakukan atas kemampuan dan kepentingan mereka sendiri dalam memelihara hidupnya, mencapai fungsi yang menyeluruh dan meningkatkan kesehatan dan kesejahteraan. Dalam teori ini Orem mengemukakan bahwa untuk dapat memenuhi kebutuhan dirinya sendiri, perawat dapat memberikan bantuan berdasarkan tingkat kemandirian pasien. Orem membaginya dalam tiga bentuk yaitu, sistem bantuan secara penuh, sistem bantuan sebagian serta sistem suportif dan edukatif.
adanya manipulasi gerakan. Pemberian bantuan sistem ini dapat dilakukan pada orang yang tidak mampu melakukan aktivitas dengan sengaja.
Sistem bantuan sebagian merupakan sistem dalam pemberian perawatan diri secara sebagian saja dan ditujukan kepada pasien yang memerlukan bantuan secara minimal seperi pada pasien yang post operasi abdomen dimana pasien ini memiliki kemampuan seperti cuci tangan, menggosok gigi, cuci muka, akan tetapi butuh pertolongan perawat dalam ambulasi dan melakukan perawatan luka. Sedangkan sistem suportif dan edukatif merupakan sistem bantuan yang diberikan pada pasien yang membutuhkan dukungan pendidikan dengan harapan pasien mampu melakukan perawatan secara mandiri. Sistem ini dilakukan agar pasien mampu melakukan tindakan keperawatan setelah dilakukanpembelajaran (Hidayat, 2004).
2.2 Faktor-faktor yang mempengaruhi tingkat kemandirian ibu dalam perawatan diri dan bayinya
Tingkat kemandirian terbagi atas mandiri, ketergantungan ringan, ketergantungan sedang, ketergantungan berat, ketergantungan total. Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi kemandirian ibu dalam melakukan perawatan diri dan bayinya selama early postpartum yaitu:
1. Faktor masa lalu ibu
payudara sebelumnya, maka akan mempengaruhi perilaku perawatan diri ibu pascabersalin. Ibu lebih mudah belajar atau melakukan perawatan tersebut. Dalam hal ini pengalaman memberikan pengaruh pada perilaku ibu untuk melakukan perawatan diri pascabersalin.
Pengalaman ibu dimana ibu yang multipara akan lebih realistis dalam mengantisipasi keterbatasan fisiknya dan dapat lebih mudah beradaptasi terhadap peran dan interaksi sosialnya, dukungan dimana ibu yang mendapat dukungan dapat memperkaya kemampuan menjadi orangtua dan mengasuh anak (Bobak, 2004). Sedangkan ibu postpartum primipara yang belum memiliki pengalaman melahirkan dan memiliki anak sebelumnya memerlukan banyak bantuan dari kerabat terdekatnya untuk membantu ibu melewati masa-masa tersebut (Desiyanti, 2008).
2. Faktor internal ibu pascabersalin
Faktor internal adalah segala sesuatu yang berasal dari dalam diri sendiri. Aktivitas merawat diri akan berbeda pada setiap individu. Hal ini juga dapat dipengaruhi oleh usia, pendidikan, karakter, keadaan kesehatan, kebudayaan. Pada usia ibu muda perawatan pascabersalin yang dilakukan akan berbeda dengan ibu yang memiliki usia lebih dewasa dimana ibu yang berusia lebih dari 35 tahun merasa bahwa merawat bayi baru lahir melelahkan secara fisik (Bobak, 2004).
yakin akan kemampuannya untuk melaksanakan peran ibu secara memuaskan (Saleha, 2009).
3. Faktor lingkungan ibu pascabersalin
Lingkungan akan terus berubah, jika memasuki suatu fase kehidupan yang baru akan selalu terjadi penyesuaian diri dengan lingkungan. Situasi ini dapat mempengaruhi ibu dalam melakukan perawatan diri pascabersalin. Keluarga berperan sebagai sistem pendukung yang kuat bagi anggota-anggotanya, khususnya dalam penanganan masalah kesehatan keluarga. Seperti halnya ibu pascabersalin, maka anggota keluarga yang lain akan berusaha untuk membantu memulihkan kondisi kesehatannya ke kondisi semula. Fungsi keluarga dalam masalah kesehatan meliputi reproduksi, upaya membesarkan anak, nutrisi, pemeliharaan kesehatan, rekreasi dan memberi dukungan dimana ibu yang mendapat dukungan dapat memperkaya kemampuan menjadi orangtua dan mengasuh anak (Bobak, 2004).
4. Petugas kesehatan