• Tidak ada hasil yang ditemukan

Hubungan Simbol dan Perilaku pdf

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Hubungan Simbol dan Perilaku pdf"

Copied!
4
0
0

Teks penuh

(1)

HUBUNGAN SIMBOL DAN PERILAKU

Ol eh

Budi H. Wibowo1

Dari zaman ke zaman, simbol acapkal i digunakan dal am berbagai bidang kehidupan. Simbol at au t anda, dikenal ol eh banyak orang sebagai suat u hal yang mengandung banyak makna l ebih dari sekadar benda, huruf , dan art i harf iahnya. Dengan simbol kit a mendapat nil ai t ambah yang t idak bisa begit u saj a dikonversi dengan nil ai uang, karena simbol memungkinkan yang t idak t ersent uh menj adi t ersent uh; sesuat u yang t idak t ampak menj adi t ampak kembal i, dan sebagainya.

Kit a menget ahui dari sej arah yang ada bahwa set iap bangsa di dunia at au set iap kebudayaan yang ada, past il ah memil iki simbol -simbol dengan art i yang pent ing bagi set iap orang yang ada dal am komunit asnya. Misal kan mot if hias pada menhir merupakan perl ambangan t ent ang f il osof i hidup masyarakat yang sekal igus merupakan ungkapan rupa mot if hias dengan peril aku kehidupan dal am st rukt ur masyrakat Minang.2 Cont oh l ainnya yang j uga dapat kit a j umpai dan t emui dal am keseharian adal ah simbol -simbol yang ada dal am set iap agama. Isl am, Krist en, Hindu, Budha, Konghucu dan l ain-l ain masing-masing memil iki simbol yang sarat dengan makna.

Menurut Nurchol is Madj id, penggunaan simbol -simbol diperl ukan adanya kesadaran t ent ang hal -hal yang l ebih subst ant if , yang j ust ru mempunyai nil ai int rinsik. Dan hal ini harus dit umbuhkan l ebih kuat dal am masyarakat . Agama t idak mungkin t anpa simbol isasi, namun simbol t anpa makna adal ah absurd, muspra dan mal ah berbahaya. Maka agama ial ah pendekat an diri kepada Al l ah dan perbuat an baik kepada sesama manusia, sebagaimana keduanya it u dipesankan kepada kit a mel al ui shal at kit a, dal am makna t akbir (ucapan “ Al l ah-u Akbar” ) pada pembukaan dan dal am makna t asl im (ucapan, “ assal amu'al aikum. . . ” ) pada penut upannya.3

Pemakaian simbol t el ah l ama ada dan t erus berl angsung hingga saat ini. Dal am buku yang dit erj emakan ol eh A. Widyamart aya, F. W. Dil l ist one The

Power of Symbol s (Kanisius, 2002) menggarisbawahi konsep simbol dengan

t erminol ogi “ pol a hubungan rangkap t iga” , yakni adanya suat u ent it as kecil , adanya suat u ket erwakil an, dan adanya suat u ent it as besar. Ent it as kecil it u dapat berupa kat a, ucapan, benda, perist iwa, pol a, drama, at au pribadi. Sement ara it u, ent it as besar dapat berupa makna, real it as, cit a-cit a, nil ai-nil ai, keadaan, l embaga, at au konsep. Adapun ket erwakil an dapat berupa

1

Pemerhat i masal ah sosial t inggal di Jakart a.

2

Penel it ian yang dil akukan ol eh Tim Penel it i dari Universit as Negeri Padang yang t erdiri dari Drs. Syaf wandi, M. Sn, Drs. Zubaidah, M. Sn dan Drs. Ariusmedi, M. Sn. Tim ini mencoba menel usuri kembali sej arah masyarakat Minangkabau yang berangkat dari peninggal an benda-benda t erut ama pengkaj ian bahasa rupa at au simbol . Lihat , ht t p: / / bel anak. wordpress. com/ 2007/ 03/ 21/ ekspedi si-megal i t i kum-dan-sebi ngkai -f i l m/ . Penel it ian t ersebut bert uj uan unt uk menyibak makna simbol yang t erdapat pada bat u t agak (menhir) sert a hubungannya dengan kebudayaan dan peril aku sosial masyarakat Minangkabau.

3

ht t p: / / medi a.isnet . or g/ i sl am/ Par amadi na/ Kont eks/ Si mbol i smeN2.ht ml

(2)

represenasi, il ust rasi, isyarat , ingat an, ruj ukan, acuan, at au corak (yang bersif at ar bi t r er).4

Dal am t at aran konsept ual , Dil l ist one mengkomparasikan t el aahnya dengan mendiskusikan konsep-konsep simbol dari beberapa pakar, baik ant ropol og sosial , t eol og, maupun f il suf . Mereka adal ah Raymond Firt h, Mary Dougl as, Vict or Turner, Cl if f ord Geert z, Ernst Cassirer, Paul Til l ich, Paul Ricoueur, Karl Rahner, Bernard Lonergan, Aust in Farrer, Mircea El iade, dan Ernst Gombrich. Cl if f ord Geert z, misal nya, sebagaimana diul as Dil l ist one, memahami simbol dal am kont eks kebudayaan, t erut ama menyangkut dimensi rel igi. Bagi Geert z, menaf sirkan suat u kebudayaan adal ah menaf sirkan sist em bent uk simbol nya sehingga membuahkan makna yang ot ent ik.5

Komersialisasi Simbol

Seiring dengan perkembangan masyarakat dan zaman, simbol t urut pul a hadir hampir dal am set iap bidang kehidupan. Kecenderungan penggunaan simbol unt uk kepent ingan-kepent ingan kel ompok, perusahaan, pemerint ah, organisasi, dan l ain-l ain dapat kit a j umpai di set iap l evel nya masing-masing. Guru besar komunikasi Universit as Padj aj aran, Deddy Mul yana berpendapat bahwa hubungan ant ara simbol , t ermasuk nama at au merek, dengan ruj ukannya memang rumit , ant ara l ain karena makna simbol t erikat ol eh budaya. Tanpa pemahaman ini, nama bisa menj adi bumerang. Misal nya, meski nama Nova indah dan enak didengar, Chevrol et gagal t ot al ket ika memasarkan model Nova di Amerika Lat in. Penj ual an mobil it u menyedihkan karena Chevrol et t idak menyadari bahwa Nova (no va) berart i ” t idak j al an” dal am bahasa Spanyol .6

Deddy j uga menyebut kan bahwa ahl i-ahl i komunikasi pemasaran dan perikl anan paham bahwa nama at au merek yang sudah mel ekat di hat i masyarakat , apal agi j ika mengunt ungkan, t ak perl u diut ak-at ik l agi. Sul it membayangkan Mercedes, Levi’ s at au Coca Col a digant i dengan nama-nama l ain, meski kual it as produknya t et ap sama at au bahkan l ebih baik l agi. Deddy mencont ohkan dal am semiot ika al a Rol and Bart hes, makna suat u simbol memang l iar. Makna apa pun yang dil ekat kan ol eh sumbernya t erhadap simbol t idak l agi mengikat pihak mana pun di l uar si sumber. Ibarat nya si pengarang t el ah mat i, art inya t idak l agi mampu mengont rol makna yang ia maksudkan semul a.

Di Indonesia, komersial iasi t erhadap simbol -simbol t el ah l ama t erj adi t erut ama di wil ayah yang menj adi pusat urban (misal nya Jakart a). Ronny Agust inus7 menyebut kan produk cet ak ur ban l ebih kepada pendekat an komersial isasi simbol -simbol yang pernah ada pada masyarakat kot a. Sering j uga merupakan pl eset an, sindiran, desakral isasi nil ai kepada sebuah simbol -simbol besar di masyarakat Indonesia, sepert i presiden, idol a, penyanyi, simbol -simbol magis dal am keagamaan.

4

Heru S. P. Saput ra, “ Simbol , Anal ogi, dan Al egori” , Humanior a, Vol ume XV, No. 1/ 2003, hl m. 115.

5

Ibi d. , hl m. 116.

6

Lihat, “ Ant ara Simbol dan Harapan” , Pi ki ran Rakyat , 20 Maret 2006.

7

ht t p: / / www.karbonj ournal . org/ cont ent / ?p=140&l anguage=en

(3)

Akibat komersial iasi simbol ini t ak j arang, banyak orang at au kel ompok t ert ent u menj adi t ersinggung t erhadap penggunaan simbol -simbol , t erut ama simbol -simbol yang berasal dari agama. Wal hasil , simbol yang dipakai demi keunt ungan komersil dengan al asan t ut unt an zaman menj adi perdebat an t ersendiri baik di kal angan akademisi, prakt isi, maupun masyarakat awam. Jika kit a coba mengamat i perdebat an bahkan perbedaan yang subst ant if t ent ang suat u simbol , dapat kit a j umpai dal am ruang obrol an —serius at au sekadar gosip— di pasar, warung at au kios, t erminal , st asiun, pangkal an oj ek, meski apa yang diobrol kan masih "kira-kira" (makna sesungguhnya dari simbol yang diobrol kan bisa j adi benar at aupun sal ah sama sekal i).

Ol eh karena it u, pemakaian simbol bagi kepent ingan komersial sudah seharusnya t et ap mengedepankan dan mempert imbangkan f akt or penerimaan simbol yang dikomersial kan t ersebut ol eh masyarakat , sekal ipun komersil asasi simbol diperunt ukkan at as dasar al asan st rat egis, ekonomis, pol it is, at aupun yang l ain.

Bersimbol Secara Arif

Pil ihan unt uk menggunakan simbol t ent unya t idak t anpa dasar. Simbol merupakan media yang sangat ef ekt if unt uk mempengaruhi secara masif . Mengingat akibat at au ef ek samping —posit if maupun negat if — dari sebuah simbol maka penggunaannya perl u didasarkan dengan kearif an, kecerdasan sekal igus ket epat an dari penggunanya.

Menurut Mohamad Surya adanya simbol -simbol keagresif an t ert ent u, sepert i pakaian, kendaraan, t anda-t anda (misal nya t at o, l ogo, dan sebagainya) dan senj at a yang dimil iki at au dibawa, secara t idak l angsung dapat mempengaruhi t imbul nya peril aku agresif baik bagi yang membawanya at au bagi orang l ain yang menget ahuinya.8

Terkait dengan it u, Sumadi Dil l a mencont ohkan peril aku para el it e di hampir set iap pel aksanaan momen pol it ik (pemil u dan pil kada), penuh aroma perang wacana, simbol , warna dan cit ra secara berl ebihan. Sebuah f enomena yang sel al u menj adi bumbu aj aib. Peril aku yang demikian, menj adi bahasa pol it ik dan pol a komunikasi pol it ik yang dianggap muj arap dil akukan. Tak t erkecual i para akt or pol it ik (el it ) baik it u birokrat , pol it isi, dan para akt ivis sibuk dengan propaganda dan kampanye pol it ik yang dil akukan.9 Dal am kont eks hubungan simbol dan peril aku ini sudah sel ayaknya pengguna/ pemakai simbol —biasanya dimanf aat kan t erut ama ol eh pemimpin dal am sebuah komunit as, kel ompok, organisasi, dan l ain-l ain— dengan t uj uan memot ivasi secara posit if yang dipimpinnya.

Bass dan Avol io (1994) menemukan bahwa kepemimpinan t ransf ormasional memil iki empat komponen peril aku, yait u: ideal ized inf l uence, inspir at ional mot ivat ion, int el l ect ual st imul at ion, and individual ized considerat ion. Inspir at ional Mot ivat ion, adal ah upaya pemimpin t ransf ormasional dal am memberikan inspirasi para pengikut nya

8

"Kekerasan di IPDN", Pi ki ran Rakyat , 11 April 2007.

9

Sumadi Dil l a, "Menyingkap Peril aku El it e dan Kenaif an Kedua dal am Pil kada",

ht t p: / / kendari ekspres. com/ news. php?newsi d=3647

(4)

agar mencapai kemungkinan-kemungkinan yang t idak t erbayangkan. Biasanya pemimpin ini menggunakan simbol -simbol dan met af ora unt uk memot ivasi karyawannya. Diaj aknya para karyawan menemukan makna mendal am dal am bekerj a. Agar karyawan mau mengikut inya secara suka rel a, ia menempat kan dirinya sebagai t aul adan bagi para pengikut nya t ersebut .10

Daft ar Bacaan

Dwi Suryant o, "Komponen Peril aku Kepemimpinan Transf ormasional ", ht t p: / / www. pemimpin-unggul . com/ buku/ komponen. ht ml

Heru S. P. Saput ra, “ Simbol , Anal ogi, dan Al egori” , Humanior a, Vol ume XV, No. 1/ 2003.

Sumadi Dil l a, "Menyingkap Peril aku El it e dan Kenaif an Kedua dal am Pil kada", ht t p: / / kendar iekspr es. com/ news. php?newsid=3647

“ Ant ara Simbol dan Harapan” , Pikir an Rakyat, 20 Maret 2006.

"Kekerasan di IPDN", Pikir an Rakyat, 11 April 2007.

ht t p: / / bel anak. wor dpr ess. com/ 2007/ 03/ 21/ ekspedisi-megal it ikum-dan-sebingkai-f il m/

ht t p: / / media. isnet . or g/ isl am/ Par amadina/ Kont eks/ Simbol ismeN2. ht ml

ht t p: / / www. kar bonj our nal . or g/ cont ent / ?p=140&l anguage=en

10

Dr. Dwi Suryant o, Ph. D. , "Komponen Peril aku Kepemimpinan Transf ormasional ",

ht t p: / / www. pemi mpi n-unggul . com/ buku/ komponen. ht ml

Referensi

Dokumen terkait

Melalui mata kuliah ini diharapkan dapat mengembangkan pengetahuan dan wawasan mahasiswa tentang teori, masalah dan perencanaan, kemampuan menganalisis dan menerapkan

[r]

Atraksi yang terdapat di Desa Wisata Samiran baik itu yang berupa daya tarik alam, budaya maupun minat khusus terbukti dapat menaikkan jumlah kunjungan

Memperhatikan ketentuan dalam Perpres 54 tahun 2010 yang dirubah terakhir kali dengan Perpres 4 tahun 2015 dan tata cara evaluasi kualifikasi sebagaimana diatur dalam

Guna pembuktian kualifikasi, diharapkan saudara membawa semua data dan informasi yang sah dan Asli sesuai dengan Data Isian Kualifikasi dan Dokumen Penawaran yang saudara

Banyak Objek Daya Tarik Wisata (ODTW) Kabupaten Boyolali yang masih dalam proses pembangunan dan pengembangan salah satunya adalah wisata Kampoeng Air di desa

The Scope of study is the reseacher want to Focus of analysis the study of types of meaning on Fast Food Advertisement Slogans using theory Geoffrey Leech (1983) in

[r]