• Tidak ada hasil yang ditemukan

TUNJANGAN NAFKAH PASCA PERCERAIAN STUDI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "TUNJANGAN NAFKAH PASCA PERCERAIAN STUDI"

Copied!
5
0
0

Teks penuh

(1)

1

TUNJANGAN NAFKAH PASCA PERCERAIAN:

STUDI PERBANDINGAN ANTARA HUKUM ISLAM DAN

BARAT

Muhamad Isna Wahyudi Pengadilan Agama Bima [email protected]

Salah satu akibat perceraian yang dialami oleh mantan pasangan suami istri adalah terkait dengan kondisi ekonomi yang berubah. Selama dalam perkawinan, masing-masing pasangan saling menanggung biaya hidup bersama. Namun, kondisi ekonomi pasca perceraian bagi mantan pasangan tentu tidak sebaik ketika masih dalam perkawinan. Bagi mantan pasangan yang memiliki penghasilan mandiri, kondisi ekonomi ekonomi pasca perceraian tidak banyak berpengaruh terhadap kehidupannya. Akan tetapi, bagi pasangan yang tidak memiliki penghasilan mandiri, atau memiliki penghasilan tetapi sedikit, kondisi ekonomi pasca perceraian akan sangat berpengaruh terhadap kehidupannya.

Hukum keluarga mengatur masalah tunjangan nafkah pasca perceraian bagi mantan pasangan. Dalam hukum Barat, mantan pasangan yang lebih mampu secara nafkah wajib memberikan tunjangan nafkah bagi mantan pasangannya yang tidak mampu, sampai batas waktu tertentu, yang disebut dengan alimony.

(2)

2 Ketentuan yang termuat dalam KUH Perdata tampaknya diakomodir dalam Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974. Dalam Pasal 41 huruf c disebutkan bahwa akibat putusnya perkawinan karena perceraian pengadilan dapat mewajibkan kepada bekas suami untuk memberikan biaya penghidupan dan/atau menentukan sesuatu kewajiban bagi bekas isteri.

Dalam hukum Islam, tunjangan nafkah pasca perceraian hanya diberikan kepada kaum perempuan, yang mencakup nafkah ‘iddah dan mut’ah. Nafkah ‘iddah hanya diberikan selama mantan istri melaksanakan masa tunggu, yang berlangsung kurang lebih tiga bulan. Sementara mut’ah, sebagai pemberian pelipur lara, hanya sekali diberikan. Mengenai nafkah ‘iddah dan mut’ah ini diatur dalam Kompilasi Hukum Islam Pasal 149 dan 158. Nafkah ‘iddah wajib diberikan oleh suami kecuali istri nusyuz atau dijatuhi talak ba’in dan dalam kondisi tidak hamil. Sedangkan mut’ah wajib diberikan oleh suami apabila istri telah dicampuri, tetapi belum ditetapkan mahar, dan perceraian atas kehendak suami.

Baik hukum Islam maupun hukum Barat, masing-masing mengatur tentang tunjangan nafkah pasca perceraian, dengan ketentuan yang berbeda. Hukum Barat tidak membedakan jenis kelamin dalam hal menentukan siapa yang wajib memberikan tunjangan nafkah pasca perceraian terhadap mantan pasangan, tetapi siapa yang lebih mampu dalam hal keuangan, dan jangka waktu pemberian tunjangan nafkah relatif lebih lama. Hal ini sering menimbulkan persoalan, karena dengan perceraian, maka tidak ada lagi hubungan hukum yang menimbulkan hak dan kewajiban antara mantan pasangan.

(3)

3 Perbedaan konstruksi hukum Barat dengan hukum Islam di atas sangat dipengaruhi oleh latar belakang masyarakat di mana hukum tersebut tumbuh. Masyarakat Barat dengan sistem kekerabatan bilateral, mengakui kesetaraan antara suami dan istri. Sementara masyarakat Muslim, dalam hal ini Arab Saudi tempat al-Qur’an diturunkan, mengikuti sistem kekerabatan patrilineal yang melahirkan budaya patriarki, dalam mana hubungan antara suami dan istri lebih bersifat hierarkis, suami memiliki kedudukan lebih tinggi dibanding istri.

Di Indonesia, hak-hak pasca perceraian, tidak hanya terbatas pada tunjangan nafkah pasca perceraian, tetapi juga mencakup harta bersama. Kompilasi Hukum Islam mengatur masalah harta bersama dalam perkawinan pada Pasal 85 sampai dengan Pasal 97. Berdasarkan pasal-pasal Kompilasi Hukum Islam tersebut, dapat dipahami bahwa hukum Islam Indonesia pada dasarnya menerima ketentuan-ketentuan adat tentang harta bersama dalam perkawinan, bahkan menerima gagasan tentang kesetaraan suami dan isteri dalam masalah harta bersama tersebut.

Hukum positif Islam di Indonesia yang mengakui harta bersama dalam perkawinan tersebut, sebenarnya telah menimbulkan konsep yang berbeda dalam hal tunjangan nafkah pasca perceraian dengan ketentuan hukum Islam yang telah mapan, sebagaimana yang tumbuh dan berkembang di negara-negara muslim di Timur Tengah. Untuk memahami masalah ini kita perlu melihat konteks dalam mana muncul kewajiban bagi suami untuk memberikan nafkah ’iddah dan mut’ah bagi istri yang diceraikan.

Pada masa Arabia pra-Islam seorang perempuan yang dicerai tidak memiliki hak untuk mendapatkan nafkah, sementara laki-laki dibebaskan dari tanggung jawab keuangan dan hal ini berlangsung terus karena tidak ada sanksi hukum bagi tindakan mereka.1 Ketiadaan nafkah pasca perceraian yang terjadi secara bersamaan dengan ketiadaan ‘iddah bagi perempuan yang dicerai ini telah menyebabkan seorang janda

1

(4)

4 yang tidak segera menikah mungkin mendapati dirinya mengalami kesulitan keuangan, terutama jika sedang hamil.2

Perlu diketahui bahwa pada masa kedatangan Islam, perempuan di Arabia secara umum benar-benar tidak memiliki status hukum. Mereka dijual ke dalam perkawinan oleh wali mereka untuk suatu harga yang dibayarkan kepada wali tersebut, suami mereka dapat mengakhiri perkawinan mereka sesuka hatinya, dan perempuan hanya memiliki sedikit kekayaan atau hak-hak waris atau tidak sama sekali.3 Pada saat itu sebagian besar perempuan menjadi sangat tergantung secara ekonomi kepada laki-laki, karena di bawah sistem patrilineal sebagian besar perempuan mengalami pembatasan peran sosial yang hanya berada dalam wilayah domestik.

Dalam kondisi yang demikian, kewajiban ‘iddah yang diiringi dengan kewajiban nafkah (mut’ah) atas suami terhadap para istri yang dicerai selama dalam masa ‘iddah (Q.S. 2: 236-7, 240-1; 33: 49), dapat memberikan perlindungan ekonomi pasca perceraian bagi para perempuan pada saat itu. Oleh karena itu, dapat dikatakan bahwa di antara maksud lain dari ketentuan ‘iddah adalah untuk meringankan beban ekonomi perempuan yang dicerai pada saat itu.

Pada umumnya, ayat-ayat al-Qur’an tentang perceraian lebih banyak mengatur tentang cara-cara pemberian nafkah dan pertanggungjawaban suami lainnya yang harus dipenuhi terhadap istri yang dicerai dan anak-anaknya. Hal ini secara jelas menunjukkan bahwa istri dan anak-anak merupakan pihak yang sangat menderita ketika terjadi perceraian pada saat itu, dan oleh karenanya al-Qur’an mendesak suami untuk memberikan perlindungan kepada mereka.

Poin yang ingin penulis ajukan di sini adalah terkait dengan kewajiban mut’ah pada satu sisi, dengan harta bersama pada sisi lain. Antara kewajiban mut’ah dengan

2

John L. Esposito dan Natana J. Delong-Bas, Women in Muslim Family Law, second edition (Syracuse, New York: Syracuse University Press, 2001), hlm. 14.

3

(5)

Referensi

Dokumen terkait

Akibat perceraian dalam perkawinan campuran lebih rumit daripada perkawinan biasa, khususnya terhadap harta bersama dimana harta bersama dikuasai oleh salah satu pihak

Lusinda Maranatha Siahaan : Pembagian Harta Bersama Dalam Hal Putusnya Perkawinan Karena…, 2004 USU Repository © 2008... Lusinda Maranatha Siahaan : Pembagian Harta Bersama Dalam

1. Penunaian kewajiban suami memberi nafkah dapat dilakukan dengan menggunakan harta pribadinya dan atau dengan harta bersama dalam pengertian harta yang

Hal ini diatur dalam Pasal 35 Undang-undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan, yaitu sebagai berikut: 1 Harta benda yang diperoleh selama perkawinan menjadi harta bersama 2

Putusan Pengadilan Agama Bukit Tinggi Nomor 618/Pdt.G/2012/PA.Bkt yang menetapkan dalam amar putusannya bahwa harta bersama dalam perkawinan dibagi menjadi 1/3

Bahwa mengenai pertimbangan Majelis Hakim Syariah Aceh yang menyatakan : “Bahwa meskipun tergugat mengakui obyek gugatan merupakan harta yang diperoleh selama dalam perkawinan

Seperti dalam kasus Pasca peceraian yang banyak terjadi di tengah-tengah masyarakat, suami tidak bisa menjalankan putusan pengadilan atau menjalankan putusan pengadilan

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui akses perempuan yang terlibat dalam poligami terhadap nafkah dan harta bersama.. Penelitian ini menggunakan metodologi