I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Indonesia merupakan salah satu negara bagian di Benua Asia yang memiliki 2 iklim yaitu tropis dan subtropis. Selain itu, Indonesia juga memiliki daratan luas sehingga cocok untuk pengembangan beberapa jenis ternak guna peningkatan mutu genetik seperti ternak ruminansia, pseudo ruminansia dan monogastrik. Peningkatan mutu genetik berhubungan dengan manajemen reproduksi yang baik sehingga nantinya dapat menghasilkan kemampuan keturunan secara berkelanjutan.
Salah satu indikator performans reproduksi ternak betina adalah keberhasilan kebuntingan untuk menghasilkan ternak dengan kemampuan produksi yang baik. Kebuntingan berkaitan dengan metode perkawinan. Perkawinan secara alami diduga dapat menghasilkan kemampuan kebuntingan yang rendah karena penanganan ternak yang akan dikawinkan tidak intensif sehingga terdapat berbagai alasan antara lain kurangnya kontrol terhadap manajemen estrus, ratio ternak jantan dan betina yang tidak seimbang dan adanya beberapa ekor ternak betina yang tidak mampu untuk bunting.
Buatan (IB) diharapkan mempunyai peran besar dalam meningkatkan keberhasilan kebuntingan dan guna perbaikan mutu genetik keturunannya.
B. Perumusan Masalah
Inseminasi Buatan (IB) merupakan teknologi reproduksi yang telah berkembang hingga saat ini di Indonesia dengan menggunakan semen beku dan semen cair, akan tetapi pemanfaatan dan penyebaran teknologi inseminasi buatan masih belum optimal diberikan kepada peternak sebagai sarana peningkatan mutu genetik ternak sapi perah dan potong. Oleh karena itu, peternak perlu mengetahui IB dapat menggunakan semen beku dan semen cair yang memiliki kemampuan produktifitas tinggi sehingga diperlukan peranan pemerintah dan praktisi agar seluruh lapisan masyarakat peternak dapat memanfaatkan teknologi IB untuk perbaikan mutu genetik ternak kedepannya.
C. Tujuan Penulisan
Tujuan penulisan karya tulis ilmiah ini adalah mempelajari, memanfaatkan dan ikut berperan dalam penyebaran teknologi inseminasi buatan pada sapi perah dan sapi potong.
D. Manfaat Penulisan
Manfaat yang diperoleh dari penulisan karya tulis ilmiah ini adalah memberikan informasi akan pentingnya serta manfaat pelaksanaan inseminasi buatan yang merata ke seluruh tempat di Indonesia kepada pembaca sebagai salah satu upaya peningkatan populasi dan perbaikan mutu genetik ternak sapi perah dan potong.
E. Ruang Lingkup Penulisan
II. TELAAH PUSTAKA
A. Bangsa – bangsa sapi yang unggul guna koleksi semen
Bangsa sapi perah yang cocok dikembangkan dengan kondisi di Indonesia sebagai ternak untuk peningkatan populasi dan mutu genetik adalah sapi Fries Hollands atau disebut juga FH, sapi ini berasal dari negara Belanda Utara dengan kriteria sebagai berikut : bobot badan Ideal sapi FH betina dewasa sekitar 625 kg dan jantan dewasa sekitar 860 kg, produksi susu sapi FH di Indonesia rata-rata 10 liter/ ekor per hari atau lebih kurang 30.050 kg per laktasi dan bobot anak sapi FH yang baru dilahirkan mencapai 43 kg. Bangsa sapi FH nantinya dapat disilangkan dengan bangsa sapi lokal Indonesia sehingga nantinya dapat menghasilkan bangsa sapi PFH yang memiliki kemampuan produksi tidak berbeda dengan sapi FH yaitu rata-rata dapat menghasilkan susu 8 liter/ ekor perhari.
Bangsa sapi potong yang berpotensi dalam peningkatan populasi dan peningkatan mutu genetik melalui pejantan unggul menurut BIB Lembang, (2011) adalah :
1. Simmental dengan keunggulan berat lahir umumnya lebih besar daripada Limousin; pertumbuhan yang cepat dengan pertambahan berat badan harian 0,9 – 1,2 kg; berat badan jantan umur 2 tahun 800 -900 kg; berat jantan dewasa 1000 – 1200 kg; berat badan sapi betina 700 – 800 kg; karkas tinggi dengan sedikit lemak.
2. Limousin dengan keunggulan pertumbuhan cepat dengan PBBH 1,0 – 1,4 kg, umur 2 tahun, memiliki berat badan 800 – 900 kg; berat jantan dewasa 1000 – 1100 kg; kualitas daging baik; dikenal dan disukai peternak.
internal (cacing), parasit eksternal (caplak) dan penyakit kembung perut (bloat).
4. Ongole dengan keunggulan dapat digunakan sebagai ternak kerja dan pedaging; tahan terhadap panas karena permukaan kulit yang luas dengan adanya gelambir yang besar; berkaki kuat dan lurus dan mampu beradaptasi terhadap kualitas pakan yang jelek.
Kualitas sapi perah dan sapi potong yang unggul akan menaikkan kualitas sapi-sapi di daerah pedesaan yang umumnya melakukan perkawinan asal, tanpa memperhatikan kualitas pejantan sehingga tidak ikut meningkatkan mutu genetik ternak. Semen ternak unggul ditampung dan di uji di Balai Inseminasi Buatan Lembang serta Singosari yang nantinya dijadikan produk semen beku untuk dapat disebarkan keseluruh indonesia dalam proses inseminasi buatan sehingga menjadi salah satu bentuk peningkatan mutu genetik dan populasi ternak di indonesia.
B. Inseminasi Buatan
Menurut Hafez dan Hafez (2000) Inseminasi buatan merupakan teknik yang berhasil di bidang pemuliaan ternak dengan metoda-metoda praktis yang telah dilakukan dan pelayanan untuk menaikkan mutu sapi agar menghasilkan keuntungan bagi para peternak. Tahun 1985 di Amerika Serikat keberhasilan IB memungkinkan didirikannya organisasi inseminasi buatan komersial yang menjangkau daerah luas. Peternakan kecil dengan jumlah sapi betina yang sedikit dapat dikelola bila peternakan ini menggunakan pejantan dengan daya pembuahan yang tinggi dan mutu genetik yang luar biasa, dengan pertimbangan peternak tidak keberatan bila membayar biaya lebih tinggi demi menghasilkan keturunan yang baik produksinya.
kawin alam relatif hanya sedikit keturunan (progeny) per betina terseleksi yang dapat diproduksi per tahun, sekali pun dengan transfer embrio. Keuntungan utama dari inseminasi buatan adalah perbaikan mutu genetik, pengendalian penyakit kelamin, tersedianya catatan perkawinan (recording) akurat yang penting untuk pengelolaan peternakan dengan baik, ekonomis dan terjaminnya keamanan dengan mengeliminasi pejantan yang berbahaya di peternakan.
Menurut Luthan, (2010) untuk mendapatkan hasil yang baik ketika pelaksanaan inseminasi buatan harus diperhatikan beberapa hal yaitu proses seleksi pada sapi jantan dapat dilakukan berdasarkan rekor tetua berdasar performans individu (Performance Testing). Pada seleksi individu, setiap ternak jantan harus melewati pemeriksaan Breeding Soundness yang meliputi : performans jantan, penilaian alat kelamin, uji fertilitas, bebas dari penyakit menular reproduksi, kondisi tubuh (Body Scoring Condition), serta mempunyai kaki dan kuku belakang yang sehat. Kualitas semen serta pengolahan semen yang baik secara langsung memberikan kontribusi dalam meningkatkan kualitas dari anak yang dilahirkan. Efisiensi dari pejantan secara optimal dengan memanfaatkan setiap ejakulat yang dihasilkan untuk mengawini dan membuahi banyak betina akan meningkatkan kuanititas ternak.
C. Proses Inseminasi Buatan menggunakan semen cair dan semen beku
Menurut Luthan, (2010) semen cair adalah semen segar yang telah di encerkan dengan bahan pengencer semen dan di simpan pada suhu 3–5oC (dalam lemari es),
dapat digunakan untuk IB dalam waktu 3 sampai dengan 4 hari.
Penampungan semen (Vagina buatan / elektroejakulator)
Evaluasi semen (Kualitas layak)
Penghitungan dosis dan pengenceran (bahan pengencer)
Penyimpanan (3–5oC/lemari es)
Gambar 1. Alur proses pembuatan semen cair
Proses semen cair dapat disimpan untuk waktu yang tidak lama, namun semen beku dapat disimpan dalam waktu yang lebih lama dengan cairan N2 cair.
Semen beku adalah semen segar yang telah di encerkan sesuai dosis dengan bahan pengencer semen yang mengandung krioprotektan (gliserol).
Penampungan semen (Vagina buatan)
Evaluasi semen (kualitas layak)
Penghitungan dosis dan pengenceran (bahan pengencer)
Ekuilibrasi pada suhu 4oC selama 4-6 jam
Pengemasan (straw mini 0.25 ml)
Pembekuan (pada uap N2 cair)
Penyimpanan (pada kontainer)
Inseminasi buatan
III. METODE PENULISAN
A. Objek Penulisan
Objek penulisan pada penulisan karya tulis ilmiah ini adalah Peningkatan Populasi dan Mutu Genetik Ternak Sapi Perah dan Potong di Indonesia Menggunakan Aplikasi Inseminasi Buatan.
B. Dasar pemilihan Objek Penulisan
Pemilihan objek pada karya tulis ini adalah didasarkan pada :
1. Kurangnya populasi ternak sapi perah dan potong untuk pemenuhan kebutuhan protein hewani masyarakat Indonesia
2. Pemanfaatan Inseminasi Buatan yang belum dimaksimalkan oleh seluruh peternak di Indonesia
3. Potensi ternak unggul belum merata ke seluruh daerah
C. Waktu, Tempat, dan Cara Kerja Penulisan
Penulisan karya tulis ini dimulai pada tanggal 4 April 2013 sampai dengan 10 April 2013 bertempat di Fakultas Peternakan Universitas Jenderal Soedirman Purwokerto.
Cara kerja penulisan :
Meliputi penggalian ide, membuat kerangka, studi pustaka, mengumpulkan informasi ilmiah dan mempersiapkan sarana dan prasarana dalam penulisan.
Tahap II : Pelaksanaan Penulisan
Cara penyusunan karya tulis ilmiah ini sesuai dengan Pedoman Pemilihan Mahasiswa Berprestasi Program Sarjana tingkat Perguruan Tinggi/ Wilayah/ Nasional Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Direktorat Pembelajaran Dan Kemahasiswaan tahun 2012. Konsultasi, diskusi dan arahan dari dosen pembimbing. Mencari data-data yang diperlukan; bahan-bahan penulisan dari jurnal ilmiah, artikel ilmiah, laporan hasil penelitian, skripsi, thesis, internet, dan referensi pendukung yang lainya.
Tahap III : Tahap Akhir Penulisan
Memperbaiki dan mengkaji isi materi penulisan dan presentasi Karya Tulis Mahasiswa.
D. Sumber Data
Data yang dipakai pada karya tulis ini berasal dari jurnal ilmiah, laporan hasil penelitian, skripsi, internet, proceeding buku teks dan referensi pendukung yang lainya.
E. Metode Pengumpulan Data
Data karya tulis ini dikumpulkan dari jurnal ilmiah, laporan hasil penelitian, skripsi, prociding dan referensi pendukung yang lainya.
F. Metode Penulisan
Karya tulis ini dibuat dengan menggunakan metode studi kepustakaan, browsing internet dan konsultasi.
Sistematika yang digunakan dalam penulisan karya tulis ilmiah ini mengacu pada Pedoman Pemilihan Mahasiswa Berprestasi Program Sarjana tingkat Perguruan Tinggi/Wilayah/Nasional Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Direktorat Pembelajaran Dan Kemahasiswaan tahun 2012.
IV. ANALISIS DAN SINTESIS
Kenyataan saat ini mengenai pemenuhan daging sapi dan susu masih kurang Berdasarkan road map pencapaian swasembada daging sapi tahun 2014, ditargetkan penyediaan daging sapi produksi lokal sebesar 420,3 ribu ton (90%) dan dari impor sapi bakalan setara daging dan impor daging sebesar 46,6 ribu ton (10%) (Blue Print P2SDS 2014). Sampai saat ini Indonesia masih mengimpor sapi bakalan dan daging sapi sekitar 30% dari total kebutuhan. Data ini menunjukkan bahwa perlu usaha keras untuk meningkatkan produksi sapi dan daging dalam negeri. Peran IPTEK dalam peningkatan populasi dan mutu genetik ternak Indonesia untuk memenuhi kebutuhan daging nasional menjadi sangat strategis. Menurut BPS (2011) pemenuhan kebutuhan susu di Indonesia pada tahun 2011 tercatat bahwa masih mengimpor 70 % dari luar negeri, dengan populasi ternak perah 488.000 ekor dan produksi susu 36,460,640 liter. Konsumsi susu di Indonesia hanya sebesar 12,85 liter susu per kapita per tahun. Jumlah tersebut memang meningkat tipis dibanding tahun sebelumnya sebesar 11,95 liter susu per kapita per tahun. Jumlah konsumsi susu Indonesia masih kalah dibanding dengan Malaysia (50,9 liter), India (47,1 liter), Singapura (44,5 liter), Thailand (33,7 liter), Vietnam (14,3 liter) dan Filipina (13,7 liter).
lingkungan panas dan tahan terhadap penyakit caplak. Sapi tersebut berkembang baik dengan sistem pemeliharaan ekstensif namun memiliki kekurangan yaitu produktifitas yang relatif rendah walaupun berada di daerah aslinya, Bos Indicus membutuhkan waktu lebih lama untuk mencapai dewasa kelamin, periode kebuntingan yang lebih panjang dan seringkali terjadi postpartum anestrus yang tinggi (Parakkasi,1999). Selain sapi-sapi dari spesies Bos indicus, sapi dari spesies Bos taurus juga banyak dikembangkan di indonesia antara lain bangsa Simmental dan Limousin. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Bestari (1998) diketahui bahwa sapi persilangan Simmental X PO memiliki bobot lahir sebesar 33,80 kg dengan pertambahan bobot badan sebesar 1,18 kg/ekor/hari dan sapi persilangan Limousin X PO memiliki bobot lahir sebesar 36 kg dengan pertambahan bobot badan sebesar 1,12 kg/ekor/hari sehingga keunggulan dari spesies Bos indicus dan Bos taurus dapat diperoleh dengan mengembangkan persilangan antar kedua spesies tersebut. Tujuan persilangan adalah untuk mendapatkan sifat-sifat unggul dan meminimalkan kelemahan-kelemahan yang dimiliki keduannya.
Menurut penelitian yang dilakukan Liasari, G.H (2007) dengan pejantan hasil persilangan sapi bangsa PO dengan Limousin dan Simmental berumur 3,5-4 tahun dilakukan pemeliharaan intensif pemberian pakan mengandung protein dalam kandungan konsentrat 12 % dan TDN sebesar 72 % dengan bobot kategori 1 (500-599 kg), kategori 2 (600-699 kg) dan kategori 3 (700-799kg) kemudian dipuasakan selama 12 jam sebelum pemotongan menunjukkan rataan bobot potong kategori 1,2 dan 3 secara berurutan adalah 570,83 kg, 653,27 dan 726,00 kg.
Sumber : Liasari, G.H (2007)
Berdasarkan tinggi badan sapi bangsa Limousin memiliki rataan tinggi 142,5 cm dan bangsa Simmental 140,6 cm. Baharudin (2005) menyatakan bahwa tinggi badan sapi hasil IB antara Bos taurus dan Bos indicus adalah 140,21 cm; Panjang badan sapi bangsa Limousin memiliki rataan panjang 157,07 cm dan bangsa Simmental 159,47 cm; Lingkar dada sapi bangsa Limousin memiliki rataan 205,28 cm dan bangsa Simmental 210,13 cm kemudian skor kondisi kategori 1 adalah 2,3 (kurus), kategori 2 adalah 3,1 (sedang) serta kategori 3 adalah 3,5 (gemuk) sehingga menunjukkan perdagingan yang baik ketika dibandingkan ternak Bos indicus. Menurut Hartati, et al (2009) data hasil pengukuran karakteristik kuantitatif sapi Peranakan Ongole terlihat dalam tabel 2.
Sumber : Hartati (2009)
Data tersebut memperlihatkan bahwa hasil persilangan dari sapi Bos taurus dan Bos indicus menunjukkan adanya perbedaan yang nyata dari segi kuantitatif dan produktifitas susu. Harapannya, ketika proses inseminasi buatan dilaksanakan maka akan terbentuk ternak lokal atau silangan dengan genetik yang lebih baik. Selain itu, ternak sapi di seluruh daerah Indonesia dapat ditingkatkan mutu genetiknya dengan inseminasi buatan karena dalam proses kawin alam, induk lokal Indonesia tergolong dalam kelompok induk yang memiliki postur yang lebih kecil dibandingkan dengan ternak impor sehingga tidak efektif ketika dilakukan proses kawin alam.
Inseminasi buatan merupakan teknik yang saat ini berguna apabila dimanfaatkan dengan maksimal oleh pihak-pihak yang memiliki wewenang di bidang pengembangan populasi dan mutu genetik peternakan seperti pemerintah, akademisi dan peternak sehingga nantinya dapat dikembangkan keseluruh wilayah Indonesia. Pengaplikasian teknik inseminasi buatan untuk digunakan sembarang orang tidak akan bisa karena membutuhkan keterampilan khusus dalam pelaksanaannya dan diperlukan pelatihan intensif sehingga prosentasi kebuntingan tinggi. Manfaat Inseminasi buatan menurut Toilihere (1993) adalah :
1. Mempertinggi penggunaan pejantan-pejantan unggul dengan memanfaatkan dayaguna genetik unggul.
2. Menghemat biaya, menghindari penyebaran penyakit yang bahaya dan menghemat biaya pemeliharaan pejantan yang belum tentu merupakan pejantan terbaik serta dapat menghindari dari perkawinan satu darah. 3. Penggunaan semen beku dan cair dengan pejantan yang unggul setelah di
teliti kemampuan genetiknya kemudian disilangkan dengan ternak betina akan memperbaiki mutu genetik keturunannya.
4. Memungkinkan perkawinan antara hewan atau ternak yang terpisah dalam waktu dan tempat, seperti IB memberi kesempatan untuk mempertinggi mutu ternak sapi – sapi daerah tropis dengan pejantan dari negara beriklim sedang dan dingin yang tidak dapat hidup di daerah tropis.
satu kali ejakulasi dapat mengawini ternak betina dalam jumlah banyak. Sebagai contoh, pada perkawinan alam seekor pejantan hanya dapat melayani 50 sampai 70 ekor per tahun. Melalui inseminasi buatan, seekor pejantan dapat melayani 5000 sampai 10.000 ekor betina per tahun (Toelihere, 1993). Menurut Johansson dan Rendel (1972) perbaikan mutu genetik yang tinggi (76 %) dapat diharapkan berasal dari seleksi calon pejantan bagi generasi yang akan datang. Perkawinan alam yang diduga menghasilkan kebuntingan yang rendah, dapat diatasi dengan melakukan perkawinan secara inseminasi buatan. Pemanfaatan IB menjadi semakin terlihat kegunaannya setelah melihat manfaat dari penggunaan IB dengan memanfaatkan semen pejantan unggul yang ditampung untuk proses pengenceran sehingga dari satu pejantan per ejakulasi dapat dijadikan berratus-ratus unit semen beku per mili, seperti contoh menurut Taswin, R.T (2005) perhitungan komposisi diluter untuk semen beku sama dengan semen cair, yaitu menggunakan formulasi I dan II untuk diluter TSH (Total Sperma Hidup) contoh : dari hasil evaluasi semen diperoleh data volume semen 6 ml, konsentrasi spermatozoa 0,9 x 109 per ml semen, motilitas spermatozoa 80 % dan normalitas spermatozoa 80 %, jika semen akan diprosesing menjadi semen
beku dengan formula 1 TSH = Volume x Konsentrasi x Motilitas x Normalitas Dosis IB(untuk semen beku)
= unit semen beku, jadi perhitungannya adalah TSH = 6x10 6
x0.8x0.8
Penisilin dan 1 mg streptomisin per ml x 115 ml = 115 mg streptomisin. Semakin tersebarnya semen beku dan cair yang merata ke seluruh Indonesia menjadi beberapa unit per mili semen menjadi sangat bermanfaat ketika digunakan dengan teknik inseminasi buatan.
Menurut Sugiarti dan Siregar (1998) pelaksanaan inseminasi buatan berdampak kepada peningkatan keuntungan peternak sapi perah di daerah jawa barat yaitu daerah Pengalengan, Kertasari, Lembang dan Cisarua.
Tabel 3. Parameter produksi dan pendapatan sebelum dan sesudah perlakuan IB
sebagaimana yang dilakukan pada penelitian ini memberikan dampak yang nyata terhadap peningkatan pendapatan peternak, namun dalam implementasinya di lapangan harus ditunjang dengan sarana pelaksanaan IB yang memadai. Sarana tersebut adalah berupa penyediaan semen yang berkualitas baik, inseminator yang handal dan fasilitas pelaksanaan IB yang lengkap.
Menurut Tagama, (2005) teknik inseminasi buatan pada sapi dengan teknik yang populer karena pelaksanaannya yaitu teknik yang menggunakan tangan kiri inseminator dimasukkan ke dalam rektum untuk mencari posisi serviks, sedangkan tangan kanan memasukkan alat inseminasi (Gun Inseminator) untuk mendeposisikan semen dengan tepat. Pelaksanaan inseminasi buatan ada beberapa tahap yaitu :
1. Perlengkapan inseminasi
Alat-alat yang harus dipersiapkan dengan seksama oleh inseminator adalah :
a. Kontainer yang terbuat dari baja tahan karat yang diisi cairan nitrogen cair dengan suhu -196oC. Semen beku yang telah dikemas saat prosesing dalam Straw (Jerami Plastik), diletakkan dalam suatu wadah yang disebut goblet kemudian goblet tersebut dimasukkan ke dalam wadah yang lebih besar yaitu canister yang bertangkai terbuat dari baja untuk memudahkan pengambilan straw, semen beku harus terendam dengan nitrogen cair untuk memperpanjang daya simpan.
b. Gun Inseminasi yang terbuat dari baja tahan karat berfungsi mendeposisikan semen ke dalam serviks, di Indonesia umumnya menggunakan straw yang berisi semen 0,25 ml.
d. Gunting straw digunakan untuk menggunting ujung straw.
e. Sarung tangan plastik panjang digunakan untuk keperluan palpasi rektum.
f. Ember, air dan sabun diperlukan untuk digunakan sebagai pelicin agar mempermudah palpasi rektum.
g. Handuk digunakan untuk membersihkan vulva.
h. Buku catatan, buku tersebut biasannya disebut dengan kartu inseminasi digunakan untuk mencatat tentang aktifitas inseminasi buatan yang di dalamnya termuat informasi tentang data reproduksi dari individu betina yang di inseminasi dan juga data tentang pejantan dari semen yang digunakan, tentang data individu ternak, mulai aktivitas estrus, waktu inseminasi, partus, jenis kelamin anak dan bobot lahir anak.
2. Cara pengambilan semen
Pengambilan semen dilakukan dengan mengangkat canister dari kontainer. Canister diusahakan jangan sampai melewati leher kontainer dan harus tetap terendam di dalam N2 cair. Setelah itu, straw diambil menggunakan pinset kemudian dimasukan ke dalam termos thawing maka straw sudah dapat digunakan. Untuk mempertahankan kondisi spermatozoa dalam straw agar tetap prima, maka suhu kontainer harus dipertahankan pada suhu -196oC, menurut Piper (1974) perubahan suhu straw sekitar 14-15oC per detik dan jika straw berada di tempat yang terbuka selama 7 sampai 9 detik akan merusak kualitas spermatozoa.
3. Pelaksanaan inseminasi buatan
Tangan kiri inseminator ditutup dengan sarung tangan plastik hingga batas lengan yang berfungsi sebagai pelindung. Bagian luar sarung tangan diberi sabun lunak dan air sebagai pelicin agar mudah masuk ke dalam rektum. Selanjutnya tangan kiri tersebut dimasukkan ke dalam rektum dengan teknik eksplorasi untuk mencari posisi serviks. Setelah serviks terpegang, maka Gun Inseminasi dimasukkan dimasukkan melalui vagina dengan tangan kanan sampai menuju serviks. Setelah posisi yang tepat ditemukan (terbaik adalah pada cincin serviks yang ke 4) kemudian semen disemprotkan, setelah itu alat inseminasi ditarik perlahan dari serviks. Untuk semen cair, yang saat ini jarang digunakan kecuali dalam kondisi khusus dan untuk hewan-hewan percobaan. Dalam praktiknya digunakan tabung plastik yang disebut kateter dengan diameter 4 mm dan panjang 40 cm, dilengkapi dengan adapter dan syringe (alat penyemprot) yang diperlukan untuk memompa semen cair ke dalam tabung penampung dengan prosedur pelaksanaan inseminasi buatan sama seperti inseminasi buatan semen beku. (Tagama, T.R. 2005).
Keberhasilan inseminasi buatan ada beberpa faktor yaitu :
1. Waktu optimum untuk inseminasi
Menurut Salisbury dan VanDenmark (1985) untuk menentukan waktu inseminasi terbaik tidaklah sederhana karena proses reproduksi sapi mengikuti suatu siklus. Meskipun umur spermatozoa lebih panjang daripada ovum, spermatozoa yang berada di dalam alat kelamin betina perlu mengalami perubahan-perubahan sebelum spermatozoa itu dapat membuahi ovum, berarti bahwa pelaksanaan IB perlu memperhatikan waktu yang tepat terhadap proses-proses faali yang dialami oleh sapi betina. Menurut Luthan, (2010) faktor-faktor yang harus diperhatikan sebelum melakukan inseminasi buatan adalah panjang siklus estrus, lama estrus, waktu ovulasi, umur fertil spermatozoa (24-36 jam), umur fertil ovum (8-12 jam), waktu kapasitasi dari sperma.
Sumber : Luthan, F (2010)
2. Keterampilan inseminator
Kemampuan inseminator sangat berperan terhadap keberhasilan atau kegagalan dalam pelaksanaan IB. Oleh karena itu, inseminator perlu banyak melakukan pelatihan dan pengalaman ternak-ternak yang baru sehingga nantinya akan terbiasa menangani ternak yang berbeda. Kegagalan inseminator dalam pelaksanaan IB dikarenakan kesalahan waktu thawing straw, kesalahan penanganan ternak, ketidakterampilan dalam mendeposisikan semen, kesalahan penentuan waktu inseminasi yang tepat, kondisi ternak yang sedang tidak optimal dan peternak yang terlambat memberi informasi kondisi ternak yang birahi kepada inseminator.
3. Jumlah air mani untuk inseminasi
0,25 cc dengan kandungan spermatozoa yang hidup 2,5 juta yang sudah diuji di laboratorium baik makroskopik dan mikroskopik terbukti cukup untuk membuahi satu indung telur sapi.
V. PENUTUP
A. Kesimpulan
Inseminasi buatan dapat menjadi salah satu alternatif teknologi peningkatan populasi dan mutu genetik ternak di Indonesia dengan pemanfaatan pejantan unggul yang dapat menyumbangkan semen untuk di cairkan guna pembuatan ratusan semen beku yang nantinya dapat disebarkan keseluruh pelosok Indonesia. Penyebaran teknologi inseminasi buatan dapat dilakukan dengan melakukan pelatihan secara intensif yang dilaksanakan oleh pemerintah sehingga seluruh lapisan peternak dapat memanfaatkan teknologi dengan optimal.
B. Saran
1. Perlu kerjasama antara pihak pemerintah, akademisi dan peternak untuk dapat mewujudkan pengembangan aplikasi inseminasi buatan.
2. Pemerintah memberikan alat inseminator di setiap desa peternakan.
Aamdal, J dan K, Anderson. 1968. Fast Thawingof Bull Semen Frozen in Straws. Proc. 6 th. Int. Congr. On Anim, Reprod. And A. I. 973-976.
Alexander, G.I. 1990. Selection Methods Used in The Develompment of The AFS Breed of Tropical Dairy Cattle. http://afstropicaldairybreeds/. Diakses pada tanggal 5 april 2013 pukul 19.00.
Baharudin. 2004. Produktivitas Sapi Potong Hasil Inseminasi Buatan di Kabupaten Malang. Skripsi. Fakultas Peternakan, Institut Pertanian Bogor, Bogor.
Bestari, J., A. R. Siregar, Y. Sani dan P. Sitomorang. 1998. Produktivitas Empat Bangsa Pedet Sapi Potong Hasil Inseminasi Buatan di Kabupaten Agam Propinsi Sumatera Barat : Perubahan pada Bobot badan samapai umur 120 hari. Proc. Seminar Nasional Peternakan dan Veteriner. Pusat Penelitian dan Pengembangan Peternakan, Bogor.
BIB Lembang. 2011. Koleksi Pejantan Unggul Tahun 2011. BIB Lembang. Bandung.
Blue Print Program Percepatan Swasembada Daging Sapi 2014. Direktorat Jenderal Petrnakan dan Kesehatan Hewan, Kementerian Pertanian RI.
BPS. 2011. Produksi Susu Perusahaan Sapi Perah di Indonesia tahun 2011. BPS Pusat Jakarta.
Budi, U. 2006. Dasar Ternak Perah. http://e-course.usu.ac.id/content/peternakan/dasar/textbook.pdf. Diakses pada tanggal 5 april 2013 pukul 19.00.
Elliott, F. I. 1994. Studies on Some problems Related to The Succesful Artifical Insemination of Dairy Cattle. Ph. D. Thesis, Cornell Univ.
Hartati, Sumadi, T. Hartatik. 2009. Identifikasi Karakteristik Genetik Sapi Peranakan Ongole di Peternakan Rakyat. Buletin Peternakan Vol. 33(2), 64-73.
Hafez, B. dan E.S.E. Hafez. 2000. Reproduction in Farm Animals. 7th Lippincott Williams and Wilkins. A Wolters Kluwer Company
Johansson, I dan J. Rendel.1972. Genetics and Animal Breeding. Oliver dan Boyd, Edinburg.
Liasari, G. H. 2007. Ukuran Tubuh dan Karakteristik Karkas Sapi Hasil Inseminasi Buatan yang Dipelihara Secara Intensif pada Berbagai Kategori Bobot Potong. Skripsi. Fakultas Peternakan, Institut Pertanian Bogor, Bogor.
Olds, D., D. M. Seath, M. C. Carpenter dan H,L. Lucas. 1953. Interelationships Between Site of Deposition, Dosage and Number of Spermatozoa in Diluted Semen and Fertility of Dairy Cow Inseminated Sartificially, J. Dairy Science., 36, 1031.
Parakkasi, A. 1999. Ilmu Nutrisi dan Makanan Ternak Ruminan. Universitas Indonesia Press, Jakarta.
Partodihardjo, 1987. Ilmu Reproduksi Hewan. Mutiara Sumber Widya, Jakarta.
Piper, A. 1974. Development and Experience With the U. S Straw. Proc. 5 th. Tech. Conf. On A. I. and Reprod. Pp. 88-90.
Salisbury, G.W. dan N.L. VanDemark, 1985. Fisiologi Reproduksi Dan Inseminasi Buatan Pada Sapi. Gadjah Mada Universitas Press, Yogyakarta.
Siregar , S. B. dan P. S. Sitorus . 1977. Pertumbuhan dan produksi susu dari F1 "grading-up" sapi perah Friesien dengan semen beku impor. Lembaran LPP 3:1-9.
Sugiarti, T dan S. B. Siregar . 1999. Effect of artificial insemination practices on the improvement of income of dairy cattle farmers in West Java. Jurnal Ilmu Ternak dan Veteriner 4(1): 1-6.
Tagama, T.R. 2005.Inseminasi Buatan. BritZ Publisher, Jakarta.
Toelihere, M. R. 1993. Inseminasi Buatan Pada Ternak. Angkasa, Bandung.
Toelihere, M. R. 1993. Fisiologi Reproduksi pada Ternak Sapi. Angkasa, Bandung.
DAFTAR RIWAYAT PENULIS
Nama : I Putu Widi Rejekyana Tempat Lahir : Cirebon
Tanggal Lahir : 28 Januari 1993
NIM : D1E010045
Program studi : Peternakan Agama : Hindu Riwayat Pendidikan
SD : SD Kristen 1 dan SD Kartika III/5 SMP : SMP Negeri 11 Kota Cirebon SMA : SMA Negeri 5 Kota Cirebon
Perguruan Tinggi :Fakultas Peternakan, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto
Karya Tulis Ilmiah
“Inseminasi Buatan (IB) Sebagai Sarana Peningkatan Populasi dan Mutu Genetik Ternak Sapi Perah dan Sapi Potong di Indonesia “
Pengalaman Organisasi
1. Kepala Laboratorium Hidup UP3 Fapet Unsoed 2012 - sekarang
2. Koordinator Dewan Legislatif Mahasiswa (DLM) Fapet Unsoed periode 2012-2013