TAR 323 - METODOLOGI RISET ARSITEKTUR
DRAFT PROPOSAL RISET
Penerapan Gaya Arsitektur Art Deco pada Gedung Grand
Royal Panghegar Hotel, Bandung
Dosen : Dr. Yasmin Suriansyah, Ir., MSP. Kelas : B
Kamalia Nurul Fikri 2012420065
Deffany Almira 2012420074
Nabila Qatrunnada 2012420118
Candy Amanda M. 2012420128
Desire Prima Tania 2012420205
BAB I
1.1 Latar Belakang
Art deco adalah gaya hias yang lahir setelah Perang Dunia I dan berakhir sebelum Perang Dunia II. Art deco banyak diterapkan dalam berbagai bidang, misalnya eksterior, interior, mebel, patung, perhiasan dan lain-lain. Art deco dipengaruhi oleh berbagai macam aliran modern, antara lain Kubisme, Futurisme dan Konstruktivisme serta juga mengambil ide-ide desain kuno seperti dari Mesir, Siria dan Persia. Langgam art deco tercipta dari pencampuran ornamen-ornamen historis, aliran arsitektur sekarang dan muatan lokal. Setiap negara yang menerima langgam Art deco mengembangkannya sendiri dan memberikan sentuhan lokal sehingga art deco di suatu tempat akan berbeda dengan art deco di tempat lain.
Di Indonesia, Bandung menjadi pusat bangunan berlanggam art deco. Bandung pernah dijuluki sebagai kota laboratorium arsitektur art deco dunia karena banyaknya bangunan dengan langgam art deco di kota ini. Hal ini terjadi karena pernah terjadi pemindahan ibukota Hindia Belanda dari Batavia ke Bandung tahun 1915. Belanda banyak mendatangkan arsitek-arsitek andal ke Indonesia untuk membangun dan menata Bandung. Pembangunan diawali dengan membangun pusat pemerintahan, militer, Gedung Sate sampai bangunan publik dan komersial seperti pemandian umum, bioskop, hotel, dan taman-taman kota.
Dari banyaknya bangunan yang bergaya art deco di bandung, hotel grand royal panghegar dipilih sebagai obyek studi pada penelitian ini. Obyek studi ini dinilai menarik karena penerapan unsur art deconya yang tidak biasa, melalui bangunan ini dapat terlihat bagaimana gaya art deco dapat berdialog dengan lingkungannya (lokalitas) namun tetap mengikuti perkembangan zaman.
1.2 Rumusan Masalah
Pertanyaan : Seberapa banyakkah karakter art deco yang diterapkan pada grand royal panghegar?
Bagaimana cara menerapkan gaya art deco pada gedung grand royal panghegar? Pernyataan :
Terdapat berbagai cara dalam menerapkan gaya art deco pada gedung grand royal panghegar.
Hipotesa :
Ada penerapan gaya art deco yang berbeda pada gedung grand royal penghegar
1.3 Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk memahami gaya art deco dilihat dari karakteristik -karakteristiknya. Gaya art deco sebagai salah satu gaya arsitektur merupakan gaya yang paling berkembang di Kota Bandung. Penerapannya pada bangunan di Bandung tentunya mengalami penyesuaian – penyesuaian tertentu, yang mengakibatkan adanya perbedaan penerapan gaya yang ditampilkan. Perbedaan penerapan inilah yang akan diteliti dan dianalisa dalam penelitian ini.
1.4 Manfaat Penelitian
Dengan adanya penelitian ini, diharapkan analisa – analisa yang dilakukan akan memberikan wawasan baru dan menjadi sumber inspirasi dalam proses perancangan bagi mahasiswa arsitektur dan penikmat gaya arsitektur modern khususnya gaya art deco. Selain itu, diharapkan laporan ini dapat menjadi referensi atau sumber literatur bagi para peneliti lain yang juga sedang mengkaji gaya art deco.
1.5 Kajian Pustaka
Selanjutnya, dijelaskan bahwa art deco terhubung dengan peradaban kuno melalui pengaruh seni tradisional Afrika, Mesir, atau Aztek Meksiko, yang diimplementasikan melalui ornamen-ornamen historis (Bayer, 1992: 15).
Masih dalam buku yang sama, terdapat pendapat yang mengatakan, apa yang membuat sebuah bangunan atau struktur dikenali sebagai art deco adalah jiwa yang terkandung padanya. Secara metafora, bangunan bergaya art deco berusaha untuk menjangkau Tuhan dengan unsur vertikal, dan secara bersamaan diseimbangkan oleh unsur horizontal sebagai skala manusia (Striner, Spring 1990: 2 I).
Selanjutnya, dilakukan penelusuran terhadap karya tulis ilmiah yang relevan dengan penelitian ini, diantaranya:
1. Karya tulis ilmiah yang disusun oleh Jerry Adam dan Rizki Swandara. R (Itenas) yang berjudul “Kajian Desain Fasad Baru Grand Royal Panghegar Bandung Dalam Perspektif Arsitektur Posmodern”. Karya tulis ilmiah ini menjelaskan mengenai fasad Grand Royal Panghegar melalui perspektif arsitektur posmodern. Dikatakan Fasad Grand Royal Panghegar didesain dengan memunculkan kembali gaya Art Deco sebagai karakteristik bangunan-bangunan yang ada di Kota Bandung. Ornamen Art Deco bisa ditemukan pada sebagaian besar fasad bangunan Grand Royal Panghegar, baik itu podium, badan bangunan, sampai kepala bangunan semuanya tidak terlepas dari sentuhan ornamen Art Deco. Grand Royal Panghegar banyak mengeksplor karakter Art Deco dari bangunan-bangunan bersejarah yang ada di Kota Bandung.
Penerapan unsur-unsur arsitektur modern minimalis pada fasad massa bangunan baru cukup direpresentasikan dengan jelas pada penggunaan cladding, pemilihan material, pemilihan warna dan tekstur, penggabungan komposisi massa bangunan, dan tidak ditemukannya penggunaan motif yang rumit. Secara keseluruhan, desain pada fasad massa bangunan baru dibuat sederhana, elegan, dan menerapkan prinsip “form follow function” juga “less is more”.
bangunan Grand Royal Panghegar, sebagian besar bangunan ini menggunakan substruktur granit berwarna hitam ataupun putih, hal ini merupakan usaha dari sang arsitek untuk menghadirkan kembaliornament figuratif. Hal tersebut memunculkan pertanyaan betapa bangunan baru telah didorong menjadi simbolis dan monumental, tetapi bermain-main seperti halnya arsitektur masa lalu. Tampaknya dari pemikiran diatas, terjadi penggabungan dua makna yang berbeda pada bangunan Grand Royal Panghegar yaitu penggabungan dua langgam berbeda, Art Deco dan modern. Selain itu apabila diperhatikan lebih dalam bangunan terbagi menjadi beberapa bagian tropomoetri bangunan klasik, yaitu podium, badan, kepala. Artinya, Grand Royal Panghegar adalah bangunan posmodern.
2. Skripsi Fakultas Teknik Jurusan Arsitektur Universitas Katolik Soegijapranata yang disusun oleh Dedy Kurniawan yang berjudul “Telaah Arsitektur Art Deco pada Bangunan Kampus Stikubank”. Skripsi ini membandingkan antara karakteristik dasar art deco dengan obyek studi, yaitu Kampus Stikubank. Hingga kemudian hasil akhirnya adalah untuk menentukan apakah bangunan tersebut berlanggam art deco atau tidak. Analisis dilakukan dengan memaparkan poin-poin karakteristik tersebut dalam bentuk tabel, yang kemudian menjadi variabel penelitian.
Berdasarkan hasil analisis, dapat diketahui bahwa, Stikubank tidak memilliki keseluruhan karakteristik arsitektur art deco untuk disebut sebagai art deco. Ciri-ciri arsitektur art deco yang menonjol pada bangunan adalah streamline dan classical moderne berupa penguatan unsur horisontalisme dan adanya menara sebagai klimaks bangunan. Sebagai penguat analisis, yaitu sebagai pembanding, penelitian ini mengambil satu sampel tambahan, yaitu bangunan Bank Permata yang sudah sangat dikenal sebagai bangunan berlanggam art deco.
Adapun penelitian ini berbeda dengan penelitian-penelitian tersebut di atas. Penelitian pertama cenderung menggunakan teori posmodern sebagai variabel. Selain itu, unsur art deco tidak dibahas secara mendetail penerapannya.
diterapkan secara eksplisit. Berbeda dengan obyek studi Stikubank yang merupakan bangunan art deco murni.
Oleh karena itu, sebagai pengembangan dari penelitian pertama, penelitian ini menggunakan metoda analisis pada penelitian kedua, agar melahirkan analisis yang lebih kritis.
.6 Kerangka Konsep Pemikiran
LATAR BELAKANG
& FENOMENA
TEORI
STUDI KASUS Gaya arsitektur Arsitektur
Art deco Fasad Bangunan
Karakteristik ART DECO
Suatu gaya kombinasi antara tradisional dan estetika mesin, yang merupakan bentuk modern dari art nouveau. Gaya pada art deco menekankan pada
bentuk geometrik.
Geometris
Streamline
Material
Ornamental
Warna monokrom
Monolitik
.7 Metodologi Riset
Pendekatan Riset
Penelitian ini merupakan jenis penelitian kualitatif studi kasus yang menggunakan pendekatan induktif. Pendekatan induktif menekankan pada pengamatan terhadap suatu fenomena yang kemudian ditarik kesimpulan berdasarkan pengamatan tersebut. Dalam riset ini, dilakukan studi literatur mengenai gaya arsitektur art deco dan penerapannya dalam bangunan.
Untuk memfokuskan penelitian, paradigma peneliti diarahkan pada paradigma kritis. Paradigma kritis memandang suatu obyek secara detail atau dilihat dari elemen – elemen pembentuknya. Di dalam penelitian ini, paradigma kritis terhadap art deco dilihat dari karakter – karakter yang mendukung gaya tersebut.
Metode Riset
Metode kualitatif merupakan metode yang sesuai untuk pengumpulan data riset ini. Dalam metoda ini, landasan teori dimanfaatkan sebagai pemandu agar fokus penelitian sesuai dengan fakta yang ada di lapangan. Data literatur/landasan teori yang berkaitan dengan penelitian digunakan sebagai alat/tolak ukur dalam menganalisa obyek penelitian terhadap kebenaran data.
Lokasi Riset
Bandung, Jawa Barat.
Studi Kasus
Grand Royal Panghegar Hotel, Bandung