BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Landasan Teori 2.1.1 Teori Agensi
Hubungan keagenan didefenisikan sebagai suatu kontrak antara satu
atau lebih orang (principal) yang mengikat orang lain (agent) untuk
melakukan sesuatu atas nama principal yang berhubungan dengan
pendelegasian otoritas pembuatan keputusan kepada agent (Jensen dan
Meckling, 1976). Prinsip utama teori agensi adalah menyatakan adanya
hubungan kerja antara pihak yang memberi wewenang (principal) yaitu
investor (pemilik) dengan pihak yang menerima wewenang (agency) yaitu
manajer (Elqorni, 2009). Tujuan utama teori agensi (agency theory) adalah
untuk menjelaskan bagaimana pihak-pihak yang melakukan hubungan
kontrak dapat mendesain kontrak yang tujuannya untuk meminimalisasi cost
sebagai dampak adanya informasi yang tidak simetris dan kondisi
ketidakpastian.
Teori agensi menunjukkan pentingnya pemisahan manajemen
perusahaan dari pemilik kepada manajer. Tujuan sistem pemisahan ini untuk
menciptakan efisiensi dan efektivitas dengan menyewa agen profesional
dalam mengelola perusahaan. Pemisahan kepemilikan dan pengendalian ini
sebagai “agent” dan stakeholder bertindak sebagai “principal”. Pemegang
saham sebagai principal menyerahkan pembuatan keputusan kepada direktur
yang bertindak sebagai agen dari pemegang saham (Solomon, 2005).
Teori agensi berusaha untuk menjawab masalah keagenan yang terjadi
disebabkan pihak-pihak yang saling bekerja sama memiliki tujuan yang
berbeda. Teori agensi ditekankan untuk mengatasi dua permasalahan yang
dapat terjadi dalam hubungan keagenan (Eisenhardt, 1989 dalam Ernati,
2009) yakni:
a. Masalah agensi yang timbul pada saat keinginan-keinginan atau
tujuan-tujuan principal dan agent saling berlawanan dan merupakan hal yang sulit
bagi principal untuk melakukan verifikasi apakah agent telah melakukan
sesuatu dengan tepat.
b. Masalah pembagian dalam menanggung resiko yang timbul di mana
principal dan agent memiliki sikap yang berbeda terhadap resiko.
Inti dari hubungan keagenan adalah bahwa di dalam hubungan
keagenan tersebut terdapat pemisahan antara kepemilikan (principal) yaitu
para pemegang saham dengan pengendalian (pihak agent) yaitu manajer yang
mengelola perusahaan.
Menurut Eisenhardt (1989), teori agensi dilandasi oleh beberapa asumsi
yaitu asumsi tentang sifat manusia, asumsi keorganisasian, dan asumsi
informasi. Asumsi sifat manusia menekankan bahwa manusia memiliki sifat
rasionalitas (bounded rationality), dan tidak menyukai resiko (risk aversion).
Asumsi keorganisasian menekankan bahwa adanya konflik antar anggota
organisasi dan adanya asimetri informasi antara principal dan agent,
sedangkan asumsi informasi menekankan bahwa informasi sebagai barang
komoditi yang bisa diperjualbelikan.
2.1.2 Opini Audit
Menurut (IAI, 2001: SA Seksi 110, paragraf 01), dinyatakan bahwa
“tujuan audit atas laporan keuangan oleh auditor independen pada umumnya
adalah untuk menyatakan pendapat tentang kewajaran, dalam semua hal yang
material, posisi keuangan, hasil usaha, perubahan ekuitas, dan arus kas sesuai
dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum di Indonesia”.
Setelah selesai melakukan pemeriksaan laporan keuangan auditee,
auditor akan membuat laporan audit. Laporan audit merupakan hasil akhir
dari pemeriksaan atas laporan keuangan yang dilakukan oleh auditor. Laporan
audit berperan penting dalam audit atau proses atestasi lainnya karena
menginformasikan kepada para pengguna laporan keuangan terkait kegiatan
audit yang dilakukan dan kesimpulan mengenai kondisi entitas kliennya. Di
dalam laporan audit yang disajikan auditor, juga berisi opini audit atas
laporan keuangan auditee yang merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari
laporan audit yang terdapat di bagian akhir laporan audit yaitu bagian
paragraf pendapat. Dalam (IAI, 2001: SA Seksi 508, paragraf 03) dijelaskan
bahwa “opini audit harus didasarkan atas standar auditing dan temuan
Opini audit diberikan auditor melalui beberapa tahap audit sehingga
auditor dapat memberi kesimpulan atas laporan keuangan auditee yang
diaudit. Auditor bertanggung jawab atas opini yang dikeluarkan tentang
kemampuan entitas kliennya dalam mempertahankan kelangsungan hidup
perusahaannya.
Ada lima tipe pendapat auditor (IAI, 2001: SPAP Seksi 508 paragraf
10), yaitu:
1. Pendapat Wajar Tanpa Pengecualian (UnqualifiedOpinion)
Pendapat wajar tanpa pengecualian menyatakan laporan keuangan disajikan secara wajar dalam semua hal yang material, posisi keuangan, hasil usaha, dan arus kas entitas tertentu sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum di Indonesia. Ini adalah pendapat yang dinyatakan dalam laporan auditor bentuk baku.
Laporan keuangan dianggap menyajikan secara wajar posisi keuangan dan hasil usaha suatu organisasi, sesuai dengan prinsip akuntansi berterima umum, jika memenuhi kondisi berikut ini:
a. Prinsip akuntansi berterima umum digunakan untuk menyusun laporan keuangan.
b. Perubahan penerapan prinsip akuntansi berterima umum dari periode ke periode telah cukup dijelaskan.
c. Informasi dalam catatan-catatan yang mendukungnya telah digambarkan dan dijelaskan dengan cukup dalam laporan keuangan, sesuai dengan prinsip akuntansi berterima umum.
2. Laporan yang Berisi Pendapat Wajar Tanpa Pengecualian dengan Bahasa Penjelasan (Unqualified Opinion Report with Explanatory Language) Jika terdapat hal-hal yang memerlukan bahasa penjelasan, namun laporan keuangan tetap menyajikan secara wajar posisi keuangan dan hasil usaha perusahaan klien, auditor dapat menerbitkan laporan audit baku ditambah dengan bahasa penjelasan.
3. Pendapat Wajar Dengan Pengecualian (QualifiedOpinion)
Pendapat wajar dengan pengecualian menyatakan bahwa laporan keuangan menyajikan secara wajar, dalam semua hal yang material, posisi keuangan, hasil usaha, dan arus kas entitas tertentu sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum di Indonesia, kecuali untuk dampak hal-hal yang berhubungan dengan yang dikecualikan. Hal-hal yang berhubungan dengan yang dikecualikan tersebut misalnya:
b. Auditor tidak dapat melaksanakan prosedur audit penting atau tidak dapat memperoleh informasi penting karena kondisi-kondisi di luar kekuasaan klien maupun auditor.
c. Laporan keuangan tidak disusun sesuai dengan prinsip akuntansi berterima umum.
d. Prinsip akuntansi berterima umum yang digunakan dalam penyusunan laporan keuangan tidak dapat diterapkan secara konsisten.
4. Pendapat Tidak Wajar (AdverseOpinion)
Pendapat tidak wajar menyatakan bahwa laporan keuangan tidak menyajikan secara wajar posisi keuangan, hasil usaha, dan arus kas entitas tertentu sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum di Indonesia. Auditor memberikan pendapat tidak wajar jika auditor tersebut tidak dibatasi ruang lingkup auditnya, sehingga auditor tersebut dapat mengumpulkan bukti kompeten yang cukup untuk mendukung pendapatnya. Jika laporan keuangan diberi pendapat tidak wajar oleh auditor, maka informasi yang disajikan oleh klien dalam laporan keuangan sama sekali tidak dapat dipercaya, sehingga tidak dapat dipakai oleh pemakai informasi keuangan untuk pengambilan keputusan.
5. Pendapat Tidak Memberikan Pendapat (Disclaimer ofOpinion)
Pernyataan tidak memberikan pendapat menyatakan bahwa auditor tidak menyatakan pendapat atas laporan keuangan. Kondisi yang menyebabkan auditor tidak memberikan pendapat adalah:
a. Pembatasan yang luar biasa sifatnya terhadap lingkup audit. b. Auditor tidak independen dalam hubungannya dengan klien.
Opini audit dengan modifikasi mengenai goingconcern pada umumnya
terdapat pada opini wajar tanpa pengecualian dengan bahasa penjelas, wajar
dengan pengecualian dan pernyataan tidak memberikan pendapat (IAI, 2001:
SA Seksi 341 paragraf 10 dan 11).
2.1.3 GoingConcern
Goingconcern adalah kelangsungan hidup suatu entitas. Kelangsungan
hidup entitas dianggap sebagai kemampuan perusahaan untuk
mempertahankan kegiatan usahanya dalam jangka waktu yang panjang dan
Goingconcern dipakai sebagai suatu asumsi dalam pelaporan keuangan
sepanjang tidak terbukti adanya informasi yang berlawanan. Menurut IAI,
2001: SA Seksi 341, paragraf 01 menyatakan bahwa:
Informasi yang secara signifikan berlawanan dengan asumsi
kelangsungan hidup entitas adalah berhubungan dengan ketidakmampuan
entitas dalam memenuhi kewajibannya pada saat jatuh tempo tanpa
melakukan penjualan sebagian besar aktiva kepada pihak luar melalui bisnis
biasa, restrukturisasi hutang, perbaikan operasi yang dipaksakan dari luar dan
kegiatan serupa lainnya.
Auditor harus teliti melihat adanya ketidakpastian dalam perusahaan
untuk mempertahankan kelangsungan hidupnya. Adapun faktor-faktor yang
dapat menimbulkan ketidakpastian mengenai kemampuan perusahaan untuk
mempertahankan kelangsungan usahanya adalah sebagai berikut (Arens, 2008
: 66):
a) Kerugian operasi atau kekurangan modal kerja yang berulang dan
signifikan.
b) Ketidakmampuan perusahaan untuk membayar kewajibannya ketika jatuh
tempo.
c) Kehilangan pelanggan utama, terjadi bencana yang tidak dijamin oleh
asuransi seperti gempa bumi, banjir, atau masalah ketenagakerjaan yang
tidak biasa.
d) Pengadilan, perundang-undangan, atau hal-hal serupa lainnya yang sudah
2.1.4 Opini Audit GoingConcern
PSAK 30 (IAI, 2011) menyatakan bahwa going concern dipakai
sebagai asumsi dalam pelaporan keuangan sepanjang tidak terbukti adanya
informasi yang menunjukkan hal yang berlawanan. Biasanya informasi yang
secara signifikan dianggap berlawanan dengan asumsi kelangsungan hidup
suatu badan usaha adalah berhubungan dengan ketidakmampuan satuan usaha
dalam memenuhi kewajibannya pada saat jatuh tempo tanpa melakukan
penjualan sebagian besar aktiva kepada pihak luar secara bisnis biasa,
restrukturisasi hutang, perbaikan operasi yang dipaksakan dari luar atau
kegiatan operasi lainnya.
Going concern merupakan salah satu konsep yang mendasari laporan
keuangan sehingga ketika auditor memberikan opini dengan modifikasi
mengenai going concern kepada auditee terhadap laporan keuangannya
menunjukkan suatu indikasi bahwa auditee beresiko tidak dapat bertahan
dalam bisnis atau dengan kata lain terdapat kesangsian mengenai
kelangsungan hidup perusahaan. Auditor harus mampu mengidentifikasi
setiap tahap kegagalan bisnis yang sedang dialami oleh kliennya sehingga
dapat secara cermat menentukan opini audit yang akan diberikan.
Pernyataan Standar Auditing (PSA) 29 paragraf 11 huruf d (IAI: SA
Seksi 508, paragraf 11) menyatakan bahwa:
mempengaruhi pendapat wajar tanpa pengecualian (unqualified opinion) yang dinyatakan oleh auditor.
Auditor bertanggung jawab untuk mengevaluasi apakah terdapat
kesangsian besar terhadap kemampuan entitas mempertahankan
kelangsungan hidupnya dalam periode waktu tidak lebih dari satu tahun sejak
tanggal laporan keuangan yang sedang diaudit. Namun auditor tidak
bertanggung jawab memprediksi kondisi yang akan datang bahwa entitas
kemungkinan akan berakhir kelangsungan hidupnya setelah menerima
laporan auditor yang tidak memperlihatkan kesangsian besar dalam jangka
waktu satu tahun setelah tanggal laporan audit (IAI, 2001: SA Seksi 341).
Berdasarkan SA Seksi 341 (IAI, 2011: SPAP, paragraf 05)
menyebutkan bahwa auditor harus mengevaluasi apakah terdapat kesangsian
besar mengenai kemampuan entitas dalam mempertahankan kelangsungan
hidupnya dalam jangka waktu pantas dengan cara sebagai berikut:
1. Auditor mempertimbangkan apakah hasil prosedur yang dilaksanakan dapat mengidentifikasi keadaan atau peristiwa yang secara keseluruhan menunjukkan adanya kesangsian besar mengenai kemampuan entitas dalam mempertahankan kelangsungan hidupnya dalam jangka waktu pantas. Mungkin diperlukan untuk memperoleh informasi tambahan mengenai kondisi dan peristiwa beserta bukti-bukti yang mendukung informasi yang mengurangi kesangsian auditor.
2. Jika auditor yakin bahwa terdapat kesangsian besar mengenai kemampuan entitas dalam mempertahankan kelangsungan hidupnya dalam jangka waktu pantas, ia harus memperoleh informasi mengenai rencana manajemen yang ditujukan untuk mengurangi dampak kondisi dan peristiwa tersebut, dan menentukan apakah kemungkinan bahwa rencana tersebut dapat secara efektif dilaksanakan.
harus diambil oleh auditor apabila auditor memiliki kesangsian mengenai kemampuan entitas dalam mempertahankan kelangsungan hidupnya. 4. Auditor tidak bertanggung jawab untuk memprediksi kondisi atau
peristiwa yang akan datang. Fakta bahwa entitas kemungkinan akan berakhir kelangsungan hidupnya setelah menerima laporan dari auditor yang tidak memperlihatkan kesangsian besar, dalam jangka waktu satu tahun setelah tanggal laporan keuangan, tidak berarti dengan sendirinya menunjukkan kinerja audit yang tidak memadai. Oleh karena itu, tidak dicantumkannya kesangsian besar dalam laporan auditor tidak seharusnya dipandang sebagai jaminan mengenai kemampuan entitas dalam mempertahankan kelangsungan hidupnya.
Panduan seorang auditor untuk mempertimbangkan pernyataan
pendapat atau pernyataan tidak memberikan pendapat dalam hal auditor
menghadapi masalah kesangsian atas kemampuan entitas dalam
Gambar 2.1
Pedoman Pernyataan Pendapat Going Concern (Sumber: IAI, 2001: SA Seksi 341) Apakah ada kondisi
Pendapat wajar tanpa pengecualian dengan paragraf penjelas. Berkaitan dengan kelangsungan hidup entitas
Pedoman pernyataan pendapat going concern pada Gambar 2.1
menunjukkan hal-hal berikut ini:
a. Apabila tidak ada keraguan auditor atas kelangsungan usaha entitas,
auditor akan mengeluarkan opini pendapat wajar tanpa pengecualian
(unqualifiedopinion).
b. Apabila seorang auditor memiliki keraguan atas kelangsungan hidup
entitas, maka auditor akan melihat apakah ada rencana manajemen untuk
mengatasi hal tersebut. Jika terdapat rencana manajemen dan adanya
pelaksanaan serta pengungkapan yang cukup dari pihak manajemen
perusahaan maka auditor akan mengeluarkan opini pendapat wajar tanpa
pengecualian dengan paragraf penjelasan (unqualified opinion with
explanatory language). Sebaliknya jika tidak adanya rencana manajemen
atau rencana manajemen untuk mengatasi hal tersebut tidak dapat
dilaksanakan, auditor tidak akan memberikan pendapat atas hasil auditnya
(disclaimeropinion) namun apabila terdapat rencana manajemen dan dapat
dilaksanakan tetapi kurangnya pengungkapan yang cukup maka auditor
akan mengeluarkan opini pendapat wajar dengan pengecualian (qualified
opinion) atau pendapat tidak wajar (adverseopinion).
Para pengguna laporan keuangan menganggap bahwa opini audit going
concern ini adalah prediksi kelangsungan hidup suatu perusahaan. Auditor
harus bertanggung jawab atas opini going concern yang dikeluarkannya, dan
opini going concern tersebut harus konsisten dengan keadaan perusahaan
mempengaruhi para pemakai laporan keuangan untuk membuat keputusan
yang tepat dalam berinvestasi.
Informasi going concern sangat bermanfaat bagi para pemakai
informasi keuangan diantaranya:
1. Bagi kreditur (pemberi pinjaman), melalui informasi going concern
kreditur dapat menentukan apakah akan dapat memberikan pinjaman
kepada perusahaan tersebut atau tidak, kepada perusahaan apa saja ia akan
memberikan pinjamannya, dan dapat memonitor pinjaman yang telah ia
berikan kepada perusahaan yang bersangkutan.
2. Investor, melalui informasi going concern investor dapat melihat apakah
perusahaan masih dapat bertahan hidup dan mengambil keputusan untuk
berinvestasi atau tidak; keputusan mengenai menarik investasi atau
menambah investasi.
Menurut IAI, 2001: SA Seksi 341 paragraf 06, kondisi dan peristiwa
yang menjadi pertimbangan seorang auditor dalam memberikan opini audit
going concern, namun pertimbangan auditor tidak terbatas pada kondisi dan
peristiwa tersebut, sebagai berikut:
1) Trend negatif, contohnya kerugian operasi yang berulang kali terjadi,
kekurangan modal kerja, arus kas negatif dari kegiatan usaha, rasio
keuangan penting yang jelek.
2) Petunjuk lain tentang kesulitan keuangan, contohnya kegagalan dalam
memenuhi kewajiban hutangnya atau perjanjian serupa, penunggakan
permintaan kredit biasa, restrukturisasi hutang, kebutuhan untuk mencari
sumber atau metode pembelanjaan baru, atau penjualan sebagian besar
aktiva.
3) Masalah intern, contoh pemogokan kerja atau kesulitan hubungan
perburuhan yang lain, ketergantungan besar atas sukses proyek tertentu,
komitmen jangka panjang yang tidak bersifat ekonomi, kebutuhan untuk
secara signifikan memperbaiki operasi.
4) Masalah luar yang telah terjadi, contoh pengajuan gugatan pengadilan,
keluarnya undang-undang yang mengancam keberadaan perusahaan,
kehilangan franchise, lisensi atau paten yang penting, kehilangan
pelanggan atau pemasok utama, serta kerugian akibat bencana besar
seperti gempa bumi, banjir, kekeringan, yang tidak diasuransikan atau
diasuransikan namun dengan pertanggungan yang tidak memadai.
2.1.5 AuditTenure
Audittenure diartikan sebagai periode keterikatan antara auditor dengan
klien, yaitu lamanya auditor melakukan perikatan audit dengan klien yang
sama. Bagi auditor maupun klien yang menjalin hubungan kerja sama dalam
jangka waktu yang lama akan memberikan beberapa manfaat yakni
diantaranya:
1. Bagi auditor, menjalin kerja sama dalam jangka waktu yang panjang akan
memberikan pemahaman yang lebih mengenai industri dan kondisi
keuangan klien yang ditanganinya sehingga akan lebih mudah mendeteksi
2. Bagi klien, menjaga hubungan kerja sama yang panjang dengan auditor
dianggap akan lebih ekonomis.
Di samping memberikan manfaat, hubungan kerja sama dalam jangka
waktu yang panjang akan menimbulkan masalah bagi auditor. Beberapa
argumen yang dikeluarkan oleh Bagian Praktek SEC Komite Eksekutif
mengenai audit tenure yang menyatakan bahwa jangka panjang hubungan
auditor dan perusahaan klien akan menyebabkan masalah-masalah sebagai
berikut:
1. Auditor mempunyai hubungan yang dekat dengan manajemen klien
menyebabkan auditor untuk mengidentifikasi masalah manajemen
kehilangan skeptisisme profesional.
2. Auditor mungkin berkeinginan untuk menyelesaikan masalah perusahaan
klien dalam rangka mempertahankan hubungannya dengan klien.
Memenuhi keinginan klien dapat menjadi prioritas auditor daripada
mengikuti standar profesional.
Peraturan di Indonesia mengharuskan adanya pergantian Kantor
Akuntan Publik lima tahun dan auditor tiga tahun yang mengaudit sebuah
perusahaan secara berturut-turut (Bapepam, 2002). Peraturan Menteri
Keuangan No. 17/PMK.01/2008 tentang jasa akuntan publik disebutkan
bahwa: “Pemberian jasa audit umum atas laporan keuangan dari suatu entitas
dilakukan oleh KAP paling lama enam tahun berturut-turut dan oleh seorang
publik tersebut dapat menerima kembali jasa audit umum setelah satu tahun
tidak mengaudit klien tersebut.”
2.1.6 DebtDefault
Dalam SPAP (2011 Seksi 341) salah satu indikator yang digunakan
oleh auditor dalam memberikan opini audit going concern adalah kegagalan
perusahaan dalam melunasi kewajibannya pada saat jatuh tempo (debt
default).
Kegagalan dalam memenuhi kewajiban hutangnya (debtdefault) sering
digunakan sebagai bahan pertimbangan auditor untuk memberikan opini
going concern. Misalnya: dalam masa krisis, di mulai tahun 1997, terjadi
fluktuasi nilai tukar mata uang Rupiah. Hal ini mengakibatkan jumlah hutang
perusahaan dalam mata uang asing meningkat secara signifikan, di samping
itu, banyak perusahaan yang mengalami rugi operasi dan realisasi penjualan
juga mengalami penurunan.
Kegagalan auditor mengeluarkan opini going concern setelah adanya
keadaan default dalam perusahaan mengakibatkan biaya yang cukup tinggi.
Oleh karena itu, status default diharapkan dapat meningkatkan kemungkinan
auditor mengeluarkan opini goingconcern.
2.1.7 Kondisi Keuangan
Kondisi keuangan perusahaan adalah suatu keadaan atas keuangan
perusahaan selama periode waktu tertentu. Kondisi keuangan perusahaan
menggambarkan kinerja sebuah perusahaan. Salah satu media yang dapat
keuangan yang terdiri dari neraca, laporan laba rugi, laporan perubahan
ekuitas, laporan arus kas, dan catatan atas laporan keuangan. Menurut Mc
Keown (1991), semakin buruk kondisi perusahaan maka akan semakin besar
kemungkinan perusahaan menerima opini audit going concern. Sebaliknya
perusahaan yang tidak pernah mengalami kesulitan keuangan, auditor tidak
pernah menerbitkan opini audit goingconcern.
Kondisi perusahaan dapat diukur dengan menggunakan model prediksi
kebangkrutan yang terdiri dari 4 model yaitu: The Zmijeski Model, The
Altman Model, Revised Altman Model, dan Springate Model. Dalam
penelitian ini, peneliti menggunakan model Revised Altman Model (1993)
yaitu model yang dikembangkan sebelumnya mengalami revisi yang
tujuannya adalah agar model prediksinya tidak hanya digunakan pada
perusahaan manufaktur tetapi juga dapat digunakan untuk perusahaan selain
manufaktur.
2.1.8 Kualitas Audit
Pengukuran kualitas audit tetap merupakan sesuatu yang tidak jelas,
namun penelitian terdahulu mengaitkannya dengan ukuran dari kantor
akuntan publik (Januarti, 2009).
Auditor bertanggung jawab untuk menyediakan informasi yang
mempunyai kualitas tinggi yang akan berguna untuk pengambilan keputusan
para pemakai laporan keuangan. Auditor yang mempunyai kualitas audit yang
baik lebih cenderung mengeluarkan opini audit going concern apabila klien
Adanya asumsi dalam teori agensi bahwa manusia itu selalu self
interest sehingga dibutuhkan pihak ketiga yang independen yang
menjembatani kepentingan antara principal dengan agent, dalam hal ini
disebut auditor eksternal (Craswell et al., 1995 dalam Fanny, 2005)
menyatakan bahwa:
“Klien biasanya mempersepsikan bahwa auditor yang berasal dari Kantor Akuntan Publik besar dan yang memiliki afiliasi dengan Kantor Akuntan Publik Internasional-lah yang memiliki kualitas yang lebih tinggi karena auditor tersebut memiliki karakteristik yang dapat dikaitkan dengan kualitas, seperti pelatihan, pengakuan internasional, serta adanya peerreview.”
Secara umum, audit yang berkualitas merupakan audit yang
dilaksanakan oleh orang-orang yang berkompeten dan independen.
Widiastuty (2010) mendefenisikan auditor yang berkompeten adalah auditor
yang memiliki kemampuan teknologi, memahami dan melaksanakan prosedur
audit yang benar serta memahami dan menggunakan metode penyampelan
yang benar. Sebaliknya auditor yang independen adalah auditor yang jika
menemukan pelanggaran, akan secara independen melaporkan pelanggaran
tersebut. Probabilitas auditor akan melaporkan adanya pelanggaran atau
independensi auditor tergantung pada tingkat kompetensi mereka. De Angalo
(1980) dalam Widiastuty (2010) berpendapat bahwa kedua kualitas audit
tersebut hanya dimiliki oleh kantor akuntan yang berukuran besar. Oleh
karena itu, ukuran KAP kemudian secara luas diterima dan digunakan sebagai
ukuran kualitas audit oleh peneliti akuntansi.
Adapun KAP yang tergolong dalam kategori KAP Big-Four adalah
No. KAP Big-Four Partner di Indonesia
1. Price Water House Coopers (PWC) Haryanto Sahari dan Rekan
2. Deloitte Touche Tohmatsu Osman Bing Satrio, dan Rekan
3. Klynveld Peat Marwick Goerdeler
(KPMG) International
Siddharta-Siddharta dan
Widjaja
4. Ernst and Young (EY) Purwantoro, Sarwoko, dan
Sandjaja.
2.1.9 Pertumbuhan Perusahaan
Pertumbuhan perusahaan merupakan suatu harapan yang diinginkan
oleh pihak-pihak yang berkepentingan dengan perusahaan baik internal
perusahaan yaitu manajemen maupun eksternal perusahaan seperti investor
dan kreditur. Pertumbuhan ini diharapkan dapat memberikan aspek yang
positif bagi perusahaan seperti adanya suatu kesempatan berinvestasi di
perusahaan tersebut. Pertumbuhan perusahaan juga mengindikasikan
kemampuan perusahaan dalam mempertahankan kelangsungan usahanya.
Menurut Weston (1993) dalam Setyarno, dkk. (2007) pertumbuhan
perusahaan dapat diukur dan dihitung dengan menggunakan rasio
pertumbuhan perusahaan. Rasio pertumbuhan penjualan digunakan untuk
mengukur seberapa baik perusahaan dapat mempertahankan posisi
ekonominya, baik dalam industri maupun dalam kegiatan ekonomi secara
keseluruhan. Perusahaan yang mempunyai rasio pertumbuhan penjualan yang
positif mengidentifikasikan bahwa perusahaan dapat mempertahankan posisi
ekonominya dan dinilai oleh auditor lebih dapat mempertahankan
karena akan memberikan peluang bagi perusahaan untuk memperoleh
peningkatan laba. Semakin tinggi rasio pertumbuhan perusahaan, semakin
kecil kemungkinan auditor untuk menerbitkan opini audit goingconcern.
Menurut Weston (1993), laba yang tinggi pada umumnya menandakan
arus kas yang tinggi. Perusahaan yang memiliki pertumbuhan laba yang
tinggi cenderung dianggap memiliki laporan yang wajar, sehingga potensi
untuk mendapatkan opini non going concern akan lebih besar. Altman (1968)
mengemukakan bahwa perusahaan dengan pertumbuhan perusahaan yang
negatif mengindikasikan kecenderungan yang lebih besar ke arah
kebangkrutan. Salah satu dasar auditor untuk memberikan opini going
concern adalah kebangkrutan sehingga perusahaan yang mengalami
pertumbuhan perusahaan yang negatif akan memiliki kecenderungan yang
besar untuk menerima opini goingconcern.
2.1.10 Ukuran Perusahaan
Ukuran perusahaan dapat dinilai dari beberapa segi. Besar kecilnya
ukuran perusahaan dapat didasarkan pada total nilai aktiva, total penjualan,
kapitalisasi pasar, jumlah tenaga kerja dan sebagainya. Semakin besar
komponen-komponen tersebut, maka semakin besar ukuran perusahaan itu.
Semakin besar aktiva maka semakin banyak modal yang ditanam, semakin
banyak penjualan maka semakin banyak perputaran uang dan semakin besar
kapitalisasi pasar maka semakin dikenal pula perusahaan tersebut di mata
Perusahaan skala besar dengan pertumbuhan yang positif memberikan
suatu indikasi bahwa kemungkinan untuk menjadi bangkrut sangatlah kecil.
Ukuran perusahaan dapat dinilai dari total aktiva yang dimiliki perusahaan.
Variabel ukuran perusahaan diukur melalui logaritma dari total aktiva
perusahaan (Sudarmadji, 2007). Aset menunjukkan aktiva yang digunakan
untuk aktivitas operasional perusahaan. Peningkatan aset yang diikuti dengan
peningkatan hasil operasi akan semakin menambah kepercayaan pihak luar
terhadap perusahaan.
2.2 Hasil Penelitian Terdahulu
Penelitian-penelitian terdahulu mengenai faktor-faktor yang menjadi
pertimbangan auditor dalam memberikan opini audit going concern pada
perusahaan diringkas dalam Tabel 2.1.
Tabel 2.1
Hasil Penelitian Terdahulu
No Nama Peneliti
Variabel Alat
Sumber: Hasil Olahan Peneliti
Penelitian yang dilakukan Setyarno dkk (2006) mengenai penerimaan opini audit going concern dengan menggunakan variabel kualitas audit, kondisi
keuangan perusahaan, opini audit tahun sebelumnya, dan pertumbuhan
perusahaan sebagai variabel independen menunjukkan bahwa dari ke-empat
variabel independen tersebut hanya variabel kondisi keuangan dan opini audit
tahun sebelumnya yang mempengaruhi penerimaan opini audit going concern
sedangkan kualitas audit dan pertumbuhan perusahaan tidak berpengaruh
signifikan terhadap penerimaan opini audit going concern.
Hasil penelitian yang dilakukan Praptitorini (2011) dengan
menggunakan analisis regresi logistik menyatakan bahwa dari ketiga variabel
independen yaitu kualitas audit, debt default, dan opinion shopping hanya
variabel debt default yang berpengaruh signifikan terhadap penerimaan opini
audit going concern.
Penelitian yang dilakukan Dewayanto (2011) menunjukkan bahwa
variabel yang berpengaruh terhadap penerimaan opini audit going concern
adalah variabel kondisi keuangan dan opini audit tahun sebelumnya.
Sedangkan variabel ukuran perusahaan, opinion shopping, auditor client
tenure, dan reputasi auditor tidak berpengaruh signifikan terhadap
penerimaan opini audit going concern.
Hasil penelitian yang dilakukan oleh Widyantari (2011) menunjukkan
bahwa dari variabel-variabel penelitian yang diteliti hanya variabel leverage
dan opini audit tahun sebelumnya berpengaruh signifikan terhadap
penerimaan opini audit going concern. Sedangkan variabel profitabilitas,
likuiditas, arus kas, ukuran perusahaan, pertumbuhan perusahaan, kualitas
audit, audit lag, dan auditor client tenure tidak berpengaruh signifikan
Penelitian yang dilakukan Kartika (2012) menyatakan bahwa variabel
yang berpengaruh terhadap penerimaan opini audit going concern hanyalah
variabel opini audit tahun sebelumnya dan pertumbuhan perusahaan
sedangkan variabel kualitas audit, kondisi keuangan, dan opinion shopping
tidak berpengaruh terhadap penerimaan opini audit going concern.
Hasil penelitian yang dilakukan Alichia (2013) membuktikan bahwa
variabel ukuran perusahaan dan variabel opini audit tahun sebelumnya
berpengaruh signifikan terhadap penerimaan opini audit going concern.
Variabel pertumbuhan perusahaan tidak berpengaruh terhadap penerimaan
opini audit going concern.
2.3 Kerangka Konseptual
Kerangka konseptual merupakan suatu model yang menjelaskan
hubungan suatu teori dengan faktor-faktor penting yang telah diketahui dalam
suatu masalah. Hubungan antara variabel independen dan variabel dependen
dihubungkan secara teoritis melalui kerangka konseptual.
Penelitian ini bertujuan untuk melihat ada atau tidaknya pengaruh
variabel independen terhadap variabel dependen baik secara parsial maupun
simultan. Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan enam variabel
independen dan satu variabel dependen.
a. Variabel independen yang digunakan diantaranya adalah audittenure, debt
default, kondisi keuangan, kualitas audit, pertumbuhan perusahaan, dan
Audit Tenure (X1)
Debt Default (X2)
Kondisi Keuangan (X3)
Kualitas Audit (X4)
Pertumbuhan Perusahaan (X5)
Ukuran Perusahaan (X6)
b. Variabel dependen yang digunakan adalah opini audit goingconcern.
Hubungan antara variabel-variabel tersebut dapat digambarkan sebagai
berikut:
Gambar 2.2 Kerangka Konseptual
Audit tenure, debt default, kondisi keuangan, kualitas audit,
pertumbuhan perusahaan dan ukuran perusahaan memiliki pengaruh secara
simultan terhadap opini audit goingconcern.
Sebuah perusahaan yang menjalin hubungan kerja sama dengan auditor
dalam jangka waktu yang lama diperkirakan akan lebih memahami dan
Opini Audit
Going Concern
(Y)
H1
H2
H2 H2 H2
mengetahui kondisi perusahaan yang sebenarnya sehingga dengan demikian
auditor akan lebih mudah untuk mengeluarkan opini audit going concern atau
opini audit non going concern. Adanya pengaruh audit tenure ini sejalan
dengan penelitian yang dilakukan Setiawan (2011).
Bagi perusahaan yang tidak mampu membayar kewajibannya pada saat
jatuh tempo menunjukkan bahwa perusahaan mulai dalam kondisi yang tidak
sehat sehingga dengan adanya debt default yang tinggi dalam sebuah
perusahaan akan mengakibatkan auditor mengeluarkan opini audit going
concern. Hal ini didukung oleh penelitian yang dilakukan oleh Praptitorini
dan Januarti (2011).
Kondisi keuangan menggambarkan kinerja perusahaan secara
keseluruhan. Semakin buruk kondisi keuangan sebuah perusahaan, maka
semakin besar kemungkinan auditor memberikan opini audit going concern
begitu juga sebaliknya sehingga dapat dijelaskan bahwa kondisi keuangan
perusahaan berpengaruh terhadap penerimaan audit going concern. Adanya
pengaruh kondisi keuangan ini sejalan dengan penelitian Setyarno dkk (2006)
dan Dewayanto (2011).
Kualitas audit dalam penelitian ini menggunakan ukuran KAP sebagai
dasar pengaruh terhadap penerimaan opini audit going concern. Perusahaan
yang menggunakan auditor KAP Big-Four memiliki kualitas audit yang lebih
baik dibandingkan dengan auditor KAP Non Big-Four dikarenakan audit
yang berkualitas merupakan audit yang dilaksanakan oleh orang-orang yang
kantor akuntan publik yang berukuran besar. Sehingga dengan adanya
kualitas audit yang baik, kemungkinan kecil untuk perusahaan untuk dapat
menerima opini audit going concern. Hal ini sejalan dengan penelitian Doris
(2010) dan Khaddafi (2015) tetapi tidak didukung oleh penelitian Widyantari
(2011).
Pertumbuhan perusahaan diukur dengan rasio pertumbuhan penjualan
perusahaan. Semakin tinggi pertumbuhan penjualan perusahaan,
menunjukkan semakin besar peluang perusahaan di dalam memperoleh laba.
Pertumbuhan penjualan perusahaan yang tinggi cenderung menandakan
bahwa kemungkinan perusahaan untuk memperoleh opini audit going
concern adalah kecil. Kondisi ini didukung oleh penelitian Kartika (2012)
namun tidak sejalan dengan penelitian Alichia (2013).
Total aset perusahaan menjadi salah satu ukuran besar kecilnya sebuah
perusahaan. Peningkatan aset yang diikuti dengan peningkatan hasil operasi
menunjukkan kemampuan perusahaan dalam menjaga kelangsungan usaha.
Perusahaan besar memiliki kemampuan yang lebih baik dalam mengelola
perusahaan dan menghasilkan laporan keuangan yang lebih berkualitas
sehingga dengan kondisi demikian, perusahaan kemungkinan besar akan
memperoleh opini audit non going concern, begitu juga sebaliknya.
Penelitian ini sejalan dengan penelitian Alichia (2013), Santosa (2007) namun
2.4 Hipotesis Penelitian
Hipotesis pada dasarnya merupakan penjelasan atau jawaban
sementara mengenai perilaku, fenomena atau keadaan tertentu yang telah
terjadi atau yang akan terjadi dan masih akan diuji kebenarannya lebih lanjut.
Atau dengan kata lain, hipotesis merupakan pernyataan sementara yang
disusun oleh peneliti, yang kemudian akan diuji kebenarannya melalui
penelitian yang akan dilakukan.
Berdasarkan rumusan masalah dan kerangka konseptual yang telah
dikemukakan di atas, maka hipotesis penelitian adalah sebagai berikut:
1 : Audit tenure, debt default, kondisi keuangan, kualitas audit, pertumbuhan
perusahaan dan ukuran perusahaan berpengaruh secara simultan terhadap
opini audit going concern.
2 : Audit tenure, debt default, kondisi keuangan, kualitas audit, pertumbuhan
perusahaan dan ukuran perusahaan berpengaruh secara parsial terhadap