Tugas Akhir ini disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Pengantar Hubungan Internasional
Dosen:
Dr. Arry Bainus, S.IP., M.A. Wawan Budi Darmawan, S.IP., M.Si.
Nuraeni Suparman, S.IP., M.Hum.
Disusun oleh: Syera Anggreini Buntara
PROGRAM STUDI HUBUNGAN INTERNASIONAL FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK
UNIVERSITAS PADJADJARAN SUMEDANG
DAFTAR ISI
Pendahuluan………...1
Sejarah Proliferasi Senjata Nuklir: Self-Help, Balance of Power, dan Security Dilemma...1
Realisme: Senjata Nuklir sebagai Deterrence...5
Liberalisme: Pengembangan Senjata Nuklir adalah Irasional...6
Neoliberalisme: Traktat Nonproliferasi Nuklir...7
Konstruktivisme: Prinsip Nuclear Taboo...8
Simpulan...11
Pendahuluan
Pengeboman Hiroshima dan Nagasaki pada tahun 1945 merupakan salah satu peristiwa dahsyat yang menggemparkan dunia. Hal ini dikarenakan dampak kerusakan dan korban yang ditimbulkan oleh senjata nuklir sangat berlimpah. Sebagai salah satu dari kategori Weapons of Mass Destruction (WMD), senjata nuklir memiliki potensi mematikan yang luar biasa (Goldstein & Pevehouse, 2014: 209). Menurut data Manhattan Engineer District’s, dari total populasi Hiroshima sebelum pengeboman sebanyak 255.000 orang, sebanyak 66.000 orang meninggal dunia dan 69.000 orang terluka. Sedangkan total populasi Nagasaki sebelum pengeboman adalah 195.000 orang dengan korban meninggal dunia 39.000 orang dan korban terluka 25.000 orang (Atomic Archive, n.d.). Jumlah korban tersebut belum mencakup orang-orang yang selamat tetapi mengalami dampak penderitaan jangka panjang radiasi nuklir yang memengaruhi kesehatannya.
Sepanjang sejarah, peristiwa Hiroshima dan Nagasaki merupakan pertama kali dan terakhir kalinya di mana senjata nuklir digunakan. Semenjak Pengeboman Hiroshima dan Nagasaki hingga saat ini, belum ada negara-negara yang menggunakan senjata nuklirnya untuk menyerang negara lain. Apakah faktor-faktor yang menyebabkan negara-negara
tidak menggunakan senjata nuklirnya?
Esai ini akan menelaah sejarah proliferasi senjata nuklir melalui perspektif realisme dan akan menganalisis faktor-faktor yang menyebabkan negara tidak menggunakan senjata nuklirnya. Adapun analisis faktor-faktor tidak digunakannya senjata nuklir tersebut akan
dipaparkan oleh penulis dengan menggunakan perspektif realisme, liberalisme, dan konstruktivisme.
Sejarah Proliferasi Senjata Nuklir: Self-Help, Balance of Power, dan Security
Dilemma
1945 di New Mexico. Dengan berhasilnya uji coba senjata nuklir ini, Amerika Serikat
menjadi negara pertama yang sukses mengembangkan senjata nuklir. Keberhasilan uji coba senjata nuklir ini sekaligus menandai dimulainya era nuklir atau yang biasa disebut dengan nuclear age (Petersen, 2012: 93; International Campaign to Abolish Nuclear Weapons, n.d.).
Senjata nuklir yang berhasil dikembangkan saat uji coba tersebut digunakan Amerika Serikat untuk menyerang Hiroshima dan Nagasaki saat Perang Dunia II dengan tujuan agar membuat Jepang menyerah tanpa syarat. Ledakan Hiroshima dan Nagasaki ini memunculkan kekhawatiran Uni Soviet bahwa Amerika Serikat mungkin akan menyerang Uni Soviet dikarenakan persaingan ideologi antara Amerika Serikat dan Uni Soviet. Maka dari itu, pasca ledakan Hiroshima dan Nagasaki, Uni Soviet mengalokasikan dana yang lebih pada program pengembangan senjata nuklirnya. Pada tanggal 29 Agustus 1949, Uni Soviet berhasil melakukan uji coba pertama senjata nuklirnya di Semipalatink, Kazakhstan. Dengan berhasilnya uji coba ini, Uni Soviet menjadi negara kedua yang sukses mengembangkan senjata nuklir (International Campaign to Abolish Nuclear Weapons, n.d.).
Proliferasi senjata nuklir tidak berhenti sampai di sini. Setelah Uni Soviet, Inggris dan Prancis juga turut mengembangkan senjata nuklir. Pengembangan senjata nuklir Inggris dan Prancis didorong oleh dua alasan utama. Pertama, sebelum Uni Soviet berhasil mengembangkan senjata nuklir, Inggris dan Prancis berada di bawah jaminan keamanan
Oktober 1952, sedangkan Prancis berhasil mengembangkan senjata nuklir pertamanya
pada 13 Februari 1960 (International Campaign to Abolish Nuclear Weapons, n.d.).
Setelah Inggris dan Prancis, Tiongkok ikut mengembangkan senjata nuklir. Keputusan Tiongkok untuk mengembangkan senjata nuklir didorong oleh keresahan Tiongkok bahwa Amerika Serikat mungkin menyerang Tiongkok pasca Perang Korea yang terjadi antara tahun 1950 sampai 1953. Tiongkok akhirnya berhasil melakukan uji coba senjata nuklir pertamanya di Lop Nor, Provinsi Xinjiang, pada tahun 16 Oktober 1964. Dikarenakan hubungan Tiongkok dan India kurang baik karena saat itu keduanya sedang berselisih memperebutkan wilayah Arunachal Pradesh, maka untuk merespon Tiongkok yang merupakan saingannya, India juga mengembangkan senjata nuklir. Di samping alasan tersebut, India juga mengembangkan senjata nuklir untuk tujuan status dan prestise agar India diakui oleh dunia sebagai emerging great power. India berhasil melakukan uji coba senjata nuklir pada 18 Mei 1974. Menanggapi keberhasilan India, Pakistan yang merupakan saingan India merasa tidak aman dan memutuskan untuk mengembangkan senjata nuklir. Pakistan juga akhirnya berhasil mengembangkan senjata nuklir pada 1998. (International Campaign to Abolish Nuclear Weapons, n.d.).
Proliferasi nuklir dapat ditinjau dari sudut pandang realisme yang menekankan pada konsep power dan prinsip 3S, yaitu statism, survival, dan self-help. Realisme percaya bahwa power merupakan elemen terpenting yang harus dimiliki oleh negara agar dapat menjamin keberlangsungan (survival) negaranya. Di tengah kondisi sistem internasional
yang anarki dan tidak menentu, negara harus berupaya meningkatkan power-nya. Realisme klasik menggambarkan perilaku negara sebagai struggle for power (Morgenthau, 1985). Senjata nuklir dianggap sebagai salah satu bentuk power sebuah negara. Negara yang memiliki senjata nuklir dapat meningkatkan statusnya dalam sistem internasional.
Amerika Serikat dalam sistem internasional. Sistem internasional yang awalnya unipolar
di mana Amerika Serikat menjadi hegemon mulai bergeser menjadi bipolar dengan Amerika Serikat dan Uni Soviet sebagai great power.
Adapun menurut perspektif neorealisme, tujuan negara berjuang meningkatkan power dapat ditelaah berdasarkan dua alasan, yaitu realisme ofensif dan realisme defensif. Pertama, realisme ofensif memprioritaskan pada jumlah power yang dimiliki oleh negara. Realisme ofensif menyatakan bahwa tujuan negara adalah menjadi hegemon. Karena hanya dengan menjadi hegemon, negara dapat menjamin keamanan dan keberlangsungannya. Kedua, realisme defensif yang memprioritaskan pada keamanan negara. Realisme defensif percaya bahwa negara tidak seharusnya memaksimalkan power dan tidak seharusnya pula berjuang menjadi hegemon. Negara seharusnya mencari power dengan jumlah yang cukup atau tepat karena upaya negara untuk memaksimalkan power justru akan membahayakan negara tersebut. Apabila negara meningkatkan power, negara-negara lain akan merasa tidak aman, dan negara-negara akan melakukan proses balancing untuk menyaingi negara yang meningkatkan power tersebut (Dunne, 2011: 81; Baylis et al, 2008: 438-439)
Upaya setiap negara untuk mencapai balance of power demi menjamin keamanan negara seringkali menimbulkan security dilemma. John H. Herz mendeskripsikan security dilemma sebagai sebuah kondisi di mana upaya negara untuk meningkatkan kebutuhan keamanan mereka, walaupun tidak berniat untuk mengancam negara lain, cenderung
dan Prancis merasa pengembangan senjata nuklir oleh Uni Soviet sebagai potensi
ancaman terhadap keamanan negaranya sehingga Inggris dan Prancis juga mengembangkan senjata nuklir.
Sesuai dengan pandangan neorealisme bahwa kondisi sistem internasional yang penuh dengan ketidakpastian membuat negara-negara tidak dapat memprediksi perilaku negara lain dan membuat negara menjadi saling tidak percaya terhadap negara lain (Baylis et al, 2008: 935). Oleh karena itu, untuk menjaga keamanan negara, negara harus self-help. Pengembangan senjata nuklir oleh Inggris dan Prancis menandakan adanya upaya untuk self-help. Sebelumnya, ketika Amerika Serikat merupakan pemilik senjata nuklir satu-satunya di dunia, Inggris dan Prancis bergantung pada perlindungan yang diberikan oleh Amerika Serikat melalui NATO. Namun, ketika Uni Soviet berhasil mengembangkan senjata nuklir, Inggris dan Prancis merasa tidak aman. Ditambah lagi Prancis meragukan komitmen Amerika Serikat yang berjanji akan membantu menjaga keamanan Prancis, tetapi tidak terbukti karena Amerika Serikat tidak membantu Prancis dalam Pertempuran Dien Bien Phu tahun 1954 dan Krisis Suez pada tahun 1956. Kedua faktor ini membuat Inggris dan Prancis tersadar bahwa untuk menjunjung keamanan nasionalnya, mereka tidak dapat bergantung pada negara lain.
Realisme: Senjata Nuklir sebagai Deterrence
Kaum realis beranggapan bahwa pengembangan senjata nuklir oleh negara-negara justru mencegah penggunaan senjata nuklir. Asumsi kaum realis ini didukung oleh konsep
terlibat dalam perang tersebut (Petersen, 2012: 94). Doktrin MAD menjelaskan mengapa
Amerika Serikat dan Uni Soviet dapat tetap menjaga kondisi “damai” dengan tidak menggunakan senjata nuklirnya pada saat Perang Dingin.
Namun, prinsip deterrence ini menuai kritik dari kaum liberalis dan konstruktivis. Pertama, kritik dari kaum liberalis adalah memiliki senjata nuklir yang ditujukan untuk deterrence bukanlah tindakan yang rasional. Selanjutnya liberalisme menjelaskan tentang kemungkinan negara-negara bekerja sama untuk menggunakan nuklir hanya untuk tujuan perdamaian melalui sebuah perjanjian yang disebut dengan Traktat Nonproliferasi Nuklir.
Kedua, kritik dari kaum konstruktivis adalah berkaitan dengan keefektifan prinsip deterrence. Apakah prinsip deterrence benar-benar dapat menjelaskan mengapa sebuah negara tidak menggunakan senjata nuklirnya? Esensi dari Teori Deterrence adalah senjata nuklir tidak akan pernah digunakan di dunia di mana dua atau lebih negara memiliki senjata nuklir (Waltz, 2003a: 16). Apabila benar demikian, maka ada kemungkinan bahwa senjata nuklir akan digunakan untuk menyerang negara yang tidak memiliki senjata nuklir karena negara yang diserang tidak akan dapat melakukan pembalasan. Akan tetapi, pada kenyataannya, negara yang memiliki senjata nuklir tidak menggunakan senjata nuklirnya untuk menyerang negara yang tidak memiliki senjata nuklir. Hal ini dapat diamati pada peristiwa Perang Vietnam tahun 1955 sampai 1975, Perang Teluk pada tahun 1991, perang di Afghanistan pada tahun 2002, dan perang di
Liberalisme: Pengembangan Senjata Nuklir adalah Irasional
Berbeda dengan realisme yang lebih menekankan pada isu high politics, liberalisme memberi perhatian pada isu-isu high politics dan low politics. Dalam konteks senjata nuklir, liberalisme memperhatikan alokasi biaya yang besar dalam pengembangan senjata nuklir. Alokasi dana yang besar menyebabkan negara mengorbankan kesejahteraan masyarakat demi kepentingan keamanan negara. Sebagai contoh, Amerika Serikat menghabiskan dana sebanyak 20 miliar dollar Amerika per tahun untuk menjaga dan mengoperasikan senjata nuklirnya (Olson, 2010: 12). Terlebih lagi saat krisis finansial tahun 2008, Amerika Serikat mengalokasikan dana sebanyak 9,2 milliar dollar untuk sistem pertahanan rudal (Schwartz & Choubey, 2009: 27). Hal ini mendasari kaum liberalis untuk menyatakan bahwa mengalokasikan dana yang besar untuk senjata nuklir dengan mengorbankan kesejahteraan rakyatnya adalah tindakan yang irasional. Liberalisme menganggap bahwa apabila negara bertindak rasional maka seharusnya alokasi dana yang besar itu dapat mencegah negara untuk mengembangkan senjata nuklir.
Neoliberalisme: Traktat Nonproliferasi Nuklir
Neoliberalisme, sama seperti neorealisme, percaya bahwa sistem internasional anarki. Namun, yang membedakan keduanya adalah, neorealisme pesimis terhadap kemungkinan negara bekerja sama, sedangkan neoliberalisme optimis bahwa dalam keadaan anarki, negara dapat bekerja sama karena kerja sama akan membuahkan absolute gain (Kegley, 2010: 43). Dalam hal nonproliferasi nuklir, absolute gain berupa keteraturan dan keamanan, serta jaminan bahwa setiap negara dapat mengembangkan
energi nuklir untuk keperluan perdamaian sipil. Neoliberalisme menekankan institusi atau rezim internasional dalam menjaga keteraturan. Salah satu rezim internasional yang berfungsi untuk mengontrol proliferasi nuklir adalah Traktat Nonproliferasi Nuklir (Nuclear Nonproliferation Treaty/NPT).
Security Information Council, 2015). Sebelum adanya NPT, norma nonproliferasi tidak
memiliki platform yang signifikan untuk diaplikasikan. Dengan adanya NPT, norma nonproliferasi dapat diaktivasi. Norma dalam perspektif neoliberalisme dipandang sebagai standar perilaku yang didefinisikan dalam wujud hak dan kewajiban (Keohane, 1984: 57).
NPT merupakan suatu governance yang bertujuan untuk menciptakan keteraturan agar dapat mewujudkan collective security.1Untuk menciptakan keteraturan tersebut, NPT memiliki norma dan menerapkan norma tersebut dengan cara memberikan hak dan kewajiban bagi negara pemilik senjata nuklir (Nuclear Weapons State/NWS) dan negara yang tidak memiliki senjata nuklir (Non-Nuclear Weapons State/NNWS). NWS berkewajiban untuk tidak menyebarkan informasi, pengetahuan, dan teknologi senjata nuklir kepada NNWS serta bersedia mengurangi senjata nuklirnya. Sedangkan NNWS berkewajiban untuk tidak menerima teknologi senjata nuklir dari NWS dan tidak mengembangkan senjata nuklir. NWS dan NNWS memiliki hak untuk mengakses teknologi atau energi nuklir hanya untuk tujuan perdamaian sipil (NTI, 2015).
Walau diragukan keefektifannya oleh neorealisme, NPT meraih beberapa langkah keberhasilan dalam upayanya mengontrol proliferasi nuklir. NPT menyambut pembentukan Zona Bebas Senjata Nuklir (Nuclear Weapon-Free Zones/NWZF). Dalam Artikel VII, NPT mendorong pembentukan traktat regional untuk memastikan bahwa negara-negara menjunjung tiga pilar NPT. Saat ini, banyak traktat regional yang
menggunakan NPT sebagai dasar pembentukan NWZF (UNODA, n.d.). Alasan utama NNWS mengajukan pembentukan NWZF adalah untuk memberhentikan penyebaran senjata nuklir di kawasannya dan untuk memperkuat mandat nonproliferasi (Paul, 2009: 170). Meskipun dalam rezim internasional tidak ada sanksi baku yang diatur dalam peraturan atau hukum, tetapi anggota-anggota rezim internasional dapat menegakkan norma yang ada dengan tujuan collective security.
!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!! 1
Collective security adalah sebuah sistem untuk menjaga perdamaian melalui kumpulan
negara-negara yang berdaulat di mana negara-negara-negara-negara berjanji untuk membela satu sama lain dengan
prinsip an attack against one is an attack against all
Konstruktivisme: Prinsip Nuclear Taboo
Konstruktivisme menekankan peran ide dalam mengubah struktur internasional, membentuk identitas dan kepentingan negara, dan menentukan perilaku mana yang dianggap sah atau memiliki legitimasi. Konstruktivisme juga menjelaskan bagaimana norma diinternasionalisasikan dan diinstitusionalisasikan sehingga diterima secara global serta dapat memengaruhi dan mendesak perilaku negara dan aktor non-negara (Baylis et al., 2008: 665-668). Perspektif konstruktivisme mengenai nonproliferasi nuklir dapat dijelaskan melalui prinsip Nuclear Taboo.
Prinsip Nuclear Taboo pertama kali diperkenalkan oleh Nina Tannenwald. Nuclear Taboo menjelaskan mengapa senjata nuklir tidak digunakan dengan menggunakan pendekatan moralitas. Ditinjau dari maknanya, kata taboo berarti bahwa ada larangan yang sangat keras untuk menjaga orang-orang dari konsekuensi bahaya pelanggaran tersebut. Berdasarkan prinsip Nuclear Taboo, negara-negara tidak menggunakan senjata nuklir karena senjata nuklir termasuk kategori Weapons of Mass Destruction dan distigmatisasi sebagai senjata penghancur massal yang imoral. Karena stigma ini, negara-negara terikat oleh norma-norma bahwa negara-negara yang beradab tidak akan menggunakan senjata nuklir mengingat dampak penggunaan senjata tersebut yang sangat tidak berperikemanusiaan (Sauer, 2015: 24-25).
Berbeda dengan pandangan realisme yang menganggap cara preventif untuk menjaga negara agar tidak menggunakan senjata nuklirnya dengan prinsip deterrence, perspektif
Sekilas prinsip ini terlihat sangat lemah dalam menjelaskan keputusan sebuah negara
untuk tidak menggunakan senjata nuklir. Namun, prinsip Nuclear Taboo memiliki dua efek yang menjelaskan tidak digunakannya senjata nuklir, yaitu efek regulatif dan efek konstitutif. Pertama, efek regulatif berupa norma yang memengaruhi pengambilan kebijakan. Seseorang pengambil kebijakan harus mampu menjelaskan mengapa ia mengambil kebijakan tersebut. Dalam konteks senjata nuklir, pengambil kebijakan harus mampu menjelaskan mengapa ia memutuskan untuk menggunakan atau tidak menggunakan senjata nuklir. Tekanan dari publik bahwa nuklir itu tabu berubah menjadi keyakinan dalam masyarakat tentang apa yang benar dan apa yang salah – menggunakan senjata nuklir adalah salah, dan tidak menggunakan senjata nuklir adalah benar – sehingga menimbulkan kewajiban untuk berperilaku sesuai dengan norma. Maka dari itu, seorang pengambil kebijakan memiliki beban moral untuk menjelaskan keputusannya (Sauer, 2015: 26).
Kedua, efek konstitutif berupa identitas negara yang dibentuk melalui stigmatisasi senjata nuklir. Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya bahwa dampak kerusakan akibat senjata nuklir sangat dahsyat dan tidak berperikemanusiaan sehingga negara yang menggunakan senjata nuklir dapat dianggap sebagai negara yang tidak beradab. Sebaliknya, negara yang menaati norma nuklir tabu, memeroleh identitas sebagai negara yang beradab. Atas dasar ini, negara berupaya untuk membentuk identitasnya (Sauer, 2015: 26; Wendt, 1992: 412-415).
Hersey yang berjudul Hiroshima diterbitkan di The New Yorker pada tanggal 31 Agustus
1946. Artikel Hersey seketika langsung diperbanyak dan dicetak ulang di berbagai media dan disiarkan melalui radio. Artikel Hersey menggambarkan penderitaan yang dialami oleh korban bom di Hiroshima. Artikel ini menjadi permulaan yang memberikan pengetahuan tentang sisi moralitas senjata nuklir dan mengonstruksi individu bahwa penggunaan senjata nuklir sangat tidak bermoral (Tannenwald, 2007: 92-93). Mengingat dampak kerusakan yang timbul akibat senjata nuklir, selanjutnya norma tabu tersebut diperkuat dengan adanya perjanjian atau peraturan yang membatasi pengembangan senjata nuklir, salah satunya dengan Traktat Nonproliferasi Nuklir (NPT).
Dengan demikian, konstruksi yang dibentuk melalui norma Nuclear Taboo berhasil memengaruhi individu dan negara dalam memandang sisi moralitas senjata nuklir sehingga memengaruhi keputusan negara untuk tidak menggunakan senjata nuklir.
Simpulan
Realisme, Liberalisme, dan Konstruktivisme memiliki perspektif yang berbeda terkait mengapa negara tidak menggunakan senjata nuklir. Realisme lebih menekankan pada prinsip deterrence, yaitu mencegah musuh untuk tidak menyerang dengan ancaman pembalasan, dan prinsip mutually assured destruction, yaitu bahwa negara tidak akan saling serang apabila sama-sama memiliki senjata nuklir karena serangan yang terjadi antarnegara yang memiliki senjata nuklir akan menimbulkan kerusakan yang sama-sama dahsyat bagi kedua pihak. Dengan demikian, realisme mendukung negara-negara untuk
mengembangkan senjata nuklir karena kepemilikan senjata nuklir justru mencegah negara-negara untuk saling serang.
DAFTAR PUSTAKA
Dari buku
Baylis, J., Smith, S., & Owens, P. (2008). The Globalization of World Politics. Oxford: Oxford University Press.
Dunne, T., Kurki, M., & Smith, S. (2011). International Relations Theories. Oxford: Oxford University Press.
Goldstein, J.S. & Pevehouse, J.C. (2014). International Relations, Tenth Edition. Madison: Pearson.
Herz, John H. (1951). Political Realism and Political Idealism. Cambridge: Cambridge University Press.
Kegley, C.W. & Blanton, S.L. (2011). World Politics: Trend and Transformation. Boston, MA: Wadsworth.
Keohane, R. O. (1984). After hegemony: cooperation and discord in the world political
economy. Chichester: Princeton University Press.
Morgenthau, H.J. & Thompson, K.W. (1985). Politics Among Nations: The Struggle for Power and Peace. New York: Knopf.
Olson, L. (2010). Fiscal Year 2011 Defense Spending Request: Briefing Book. Washington: The Center For Arms Control and Non-Proliferation.
Paul, T.V. (2009). The Tradition of Non-Use of Nuclear Weapons. Stanford: Stanford
University Press.
Rose, K.D. (2001) One Nation Underground: The Fallout Shelter in American Culture.
New York: New York University Press.
Sauer, F. (2015). Atomic Anxiety: Deterrence, Taboo, and the Non-Use of US Nuclear Weapons. New York: Palgrave Macmillan.
Schwartz, S. I. & Choubey, D. (2009). Nuclear Security Spending: Assessing Cost, Examining Priorities. Washington: Carnegie Endowment for International Peace.
Tannenwald, N. (2008). Nuclear Taboo. New York: Cambridge University Press.
Waltz, K.N. (2003a). ‘More May Be Better’ in S.D. Sagan and K.N. Waltz (eds.) The Spread of Nuclear Weapons. A Debate Renewed, 2nd Edition. New York: W.W. Norton.
Weart, S.R. (1988). Nuclear Fear: A History of Images. Cambridge: Harvard University Press.
Dari artikel dalam jurnal
Wendt, A. (1992). Anarchy is What States Make of It: The Social Construction of Power Politics. International Organization, 46(2), 391-425.
Dari sumber internet
Atomic Archive. (n.d.). The Atomic Bombings of Hiroshima and Nagasaki. Diakses dari http://www.atomicarchive.com/Docs/MED/med_chp10.shtml pada 15 Juni 2016,
pk. 12.00 WIB
British American Security Information Council. (2015). The Nuclear Non-Proliferation Treaty (NPT). Diakses dari
http://www.basicint.org/sites/default/files/basic_npt_briefing_april2015.pdf pada
International Campaign to Abolish Nuclear Weapons. (n.d). Nuclear Weapons Timeline.
Diakses dari http://www.icanw.org/the-facts/the-nuclear-age/ pada 14 Juni 2016, pk. 10.00 WIB
NTI. (2015). Treaty on The Non-Proliferation of Nuclear Weapons (NPT). Diakses dari
http://www.nti.org/learn/treaties-and-regimes/treaty-on-the-non-proliferation-of-nuclear-weapons/ pada 15 Juni 2016, pk. 09.00 WIB
Stromberg, R.N. (n.d.). Collective Security. Diakses dari
http://www.americanforeignrelations.com/A-D/Collective-Security.html pada 15
Juni 2016, pk.20.40 WIB
UNODA. (n.d.). Nuclear-Weapon-Free Zone. Diakses dari
https://www.un.org/disarmament/wmd/nuclear/nwfz/ pada 14 Juni 2016, pk.20.00
WIB