• Tidak ada hasil yang ditemukan

peran kejaksaan dalam pemberantasan tind f100bcb8

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "peran kejaksaan dalam pemberantasan tind f100bcb8"

Copied!
18
0
0

Teks penuh

(1)

PERAN KEJAKSAAN

DALAM PEMBERANTASAN TINDAK PIDANA KORUPSI DI INDONESIA PASCA UNDANG-UNDANG NOMOR 20 TAHUN 2001

TENTANG PEMBERANTASAN TINDAK PIDANA KORUPSI

(The role of prosecutor in corruption eradication in Indonesia after-the-law number 20 in 2001 about eradication of corruption acts)

Yasmirah Mandasari Saragih

Fakultas Hukum Universitas Pembangunan Panca Budi Medan Jalan Jendral Gatot Subroto KM. 4,5 Sei Sikambing Medan

E-mail: [email protected]

Abstract

The criminal act of corruption in large numbers has the potential to harm the state's finances so as to disrupt development resources and endanger the political stability of a country. Currently corruption is transnational. The prosecutor's office as the case controller or Dominus Litis has a central position in law enforcement, since only the prosecutor's office can determine whether a case can be brought to the Court or not based on valid evidence as per criminal law. To carry out the task of eradicating corruption, the Attorney General can not work alone by relying on the ability of the prosecutor apparatus without cooperation with other agencies. According to the prevailing regulations, corruption investigators are prosecutors and police, so cooperation between the two law enforcers should be mutually supportive and mutually supportive for the successful investigation of criminal acts of corruption.

Keywords: Prosecutor, Corruption, Eradication. Abstrak

(2)

Kata Kunci: Kejaksaan, Korupsi, Pemberantasan.

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Hukum menetapkan apa yang

harus dilakukan dan atau apa yang

boleh dilakukan serta yang dilarang.

Sasaran hukum yang hendak dituju

bukan saja orang yang nyata-nyata

berbuat melawan hukum, melainkan

perbuatan hukum yang mungkin

akan terjadi, dan kepada alat

perlengkapan negara untuk bertindak

menurut hukum. Sistem bekerjanya

hukum yang demikian itu merupakan

salah bentuk penegakan hukum

Proses pembangunan dapat

menimbulkan kemajuan dalam

kehidupan masyarakat, selain itu

dapat juga mengakibatkan perubahan

kondisi sosial masyarakat yang

memiliki dampak sosial negatif,

terutama menyangkut masalah

peningkatan tindak pidana yang

meresahkan masyarakat. Salah satu

tindak pidana yang dapat dikatakan

cukup fenomenal adalah masalah

korupsi.

Dengan adanya keadaan yang

seperti itu dan perlunya diatur segera

tindak pidana korupsi, maka atas

dasar Pasal 96 ayat (1) UUDS 1950,

penggantian Peraturan Penguasa

Perang Pusat tersebut ditetapkan

dengan peraturan

perundang-undangan yang berbentuk Peraturan

Pemerintah Pengganti

Undang-Undang, yaitu dengan Peraturan

Pemerintah Pengganti

Undang-Undang Nomor 24 Tahun 1960

tentang Pengusutan, Penuntutan, dan

Pemeriksaan Tindak Pidana Korupsi,

yang kemudian atas dasar

Undang-Undang Nomor 1 tahun 1960

menjadi Undang-Undang Nomor 24

Prp 1960 tentang Pengusutan,

Penuntutan, dan Pemeriksaan Tindak

Pidana Korupsi.1

Founding fathers republik ini telah mencita-citakan Indonesia

sebagai negara yang berdasarkan

hukum (Rechtstaat) bukan kekuasaan (Machtstaat), konstitusi kita, Undang-Undang Dasar 1945 pun

telah menegaskan bahwa “Negara

Indonesia adalah Negara Hukum”2.

1

Wiyono, 2005, Pembahasan Undang-Undang Pemberantasan Tindak Piadana Korupsi, Sinar Grafika, Jakarta, hlm. 3.

2 Vide Pasal 1 ayat (3) UUD 1945,

(3)

Sebagai konsekuensi dari negara

hukum tersebut, maka negara

Indonesia harus menjunjung tinggi

supremasi hukum dengan berasaskan

pada prinsip dasar dari negara hukum

yaitu equality before the law yang artinya adalah setiap orang

mempunyai kedudukan yang sama di

mata hukum.

Sebagai suatu negara hukum,

maka sudah selayaknya juga segala

sesuatu yang dijalankan dalam

kehidupan bernegara dan

bermasyarakat juga harus berada

dalam koridor hukum, artinya dalam

masyarakat mutlak diperlukan

hukum untuk mengatur hubungan

antara warga masyarakat dan

hubungan antara masyarakat dengan

negara.

Berkaitan dengan hal

tersebut, Prof. Dr. Satjipto Raharjo3,

mengemukakan bahwa dalam setiap

masyarakat harus ada hukum yang

mengatur perilaku-perilaku dan tata

kehidupan anggota masyarakat.

kekuasaan belaka (machtsstaat)”, namun setelah amandemen dilakukan Penjelasan tersebut ditiadakan dan bukan lagi menjadi bagian dari konstitusi.

3 Satjipto Rahardjo, Hukum Dan

Perubahan Sosial, Alumni, Bandung, 1979, hal. 102.

Untuk adanya tata hukum dalam

masyarakat diperlukan 3 komponen

kegiatan yaitu Pembuatan

norma hukum, Pelaksana

norma-norma hukum tersebut dan

Penyelesaian sengketa yang timbul

dalam suasana tertib hukum

tersebut.4

Apabila melihat bahwa di

kehidupan masyarakat di Indonesia

saat ini, maka dapat dilihat bahwa

telah banyak peraturan-peraturan

yang dikeluarkan untuk menjaga

kelangsungan hidup bernegara dan

bermasyarakat. Dikeluarkannya

peraturan-peraturan tersebut

menggambarkan adanya

norma-norma hukum yang diciptakan untuk

mengatur hak dan kewajiban dari

negara dan masyarakat.

Pelaksanaan dari

peraturan-peraturan yang mengandung

norma-norma hukum tersebut pada dasarnya

merupakan bagian dari penegakan

hukum karena penegakan hukum

adalah suatu upaya untuk menjaga

agar hukum harus ditaati.

Pelanggaran atau penyimpangan dari

hukum yang berlaku akan dikenakan

4 Lawrence M. Friedman, The Legal

(4)

sanksi sesuai ketentuan yang diatur

dalam hukum. Dalam hal inilah

hukum pidana digunakan. Dengan

demikian, penegakan hukum dengan

menggunakan perangkat hukum

pidana juga merupakan upaya untuk

memberantas kejahatan.

Di Indonesia mempunyai

penegak hukum, sebagai salah

satunya adalah Kejaksaan.

Pembentukan Jaksa ini didasari oleh

Undang-undang No. 16 tahun 2004

tentang Kejaksaan yang dalam

bagian menimbang menerangkan

tujuan nasional Indonesia adalah

penegakan hukum dan keadilan serta

sebagai salah satu badan yang

fungsinya berkaitan dengan Susunan

Kejaksaan menurut Undang-undang

No.16 tahun 2004 tentang Kejaksaan

Republik Indonesia adalah terdiri

dari Kejaksaan Agung, Kejaksaan

Tinggi, dan Kejaksaan Negeri.

Dimana kekuasaan tertinggi dalam

Kejaksaan ada pada Kejaksaan

Agung yaitu Jaksa Agung sendiri,

sedangkan seorang jaksa diangkat

dan diberhentikan oleh Jaksa Agung,

dimana syarat-syarat untuk dapat

diangkat menjadi seorang jaksa

diatur dalam Undang-undang No.16

tahun 2004 pasal 9. Dalam

melaksanakan tugas dan fungsinya,

jaksa bertidak dan atas nama negara

serta bertanggung jawab menurut

saluran hierarki.

Pada era presiden Susilo

Bambang Yudhoyono untuk

memberantas korupsi sebagai

therapy (shock theraphy). Presiden telah mengeluarkan Instruksi No. 5

tahun 2004 tentang Percepatan

Pemberantasan Tindak Pidana

Korupsi. Kemudian dikeluarkannya

pula Keppres No. 11 tahun 2005

tentang Tim Koordinasi

Pemberantasan Tindak Pidana

Korupsi yang anggotanya terdiri dari

Kejaksaan, Kepolisian, dan Badan

Pengawas Keuangan Pembangunan

(BPKP), dan secara kebetulan

diketuai oleh jaksa agung muda

tindak pidana khusus.

Fungsi Jaksa merupakan

salah satu mata rantai dari proses

penegakkan hukum dalam

penanggulangan kejahatan atau

tindak pidana yang terjadi dalam

masyarakat, dimana fungsi tersebut

tidak dapat terlepas dan dipisahkan

dari proses penyelidikan, penyidikan,

(5)

eksekusi. Dalam KUHAP pasal 1

butir 6 menyatakan sebagai berikut:5

1. Jaksa adalah pejabat yang

diberi wewenang oleh

undang-undang ini untuk

bertindak sebagai penuntut

umum serta melaksanakan

putusan pengadilan yang

telah memperoleh kekuatan

hukum tetap;

2. Penuntut umum adalah Jaksa

yang diberi wewenang oleh

undang-undangini untuk

melakukan penuntutan dan

melaksanakan penetapan

hukum.

B. PERMASALAHAN

Masalah adalah kejadian atau

keadaan yang menimbulkan

pertanyaan dalam hati tentang

kedudukannya, tidak puas hanya

dengan melihat saja, melainkan ingin

mengetahui lebih dalam.

Berdasarkan hal-hal yang telah

dikemukakan pada latar belakang,

5 Sudhono Iswahyudi, 2003, Makalah

Jaksa Agung Muda Tindak Pidana

Khusus,Keterkaiatan Komisi

Pemberantasan Korupsi dengan Kejaksaan dalam penanganan Tindak Pidana Korupsi, hlm. 112.

maka permasalahan yang akan

dibahas adalah sebagai berikut:

1. Bagaimana Fungsi Lembaga

Kejaksaan Sebagai Salah

Satu Unsur Sistem Peradilan

Pidana?

2. Bagaimana Peran Jaksa

Dalam Tindak Pidana

Korupsi?

C. METODE PENELITIAN

1. Spesifikasi

Spesifikasi penelitian ini

merupakan jenis penelitian yuridis

normatif. Bahan penelitian ini

menggunakan bahan hukum

primer berupa dokumen-dokumen

antara lain sebagai berikut:

a. Undang-undang Nomor 8

Tahun 1981 tentang ”Kitab

Undang-undang Hukum

Acara Pidana”;

b. Undang-undang Nomor 16

Tahun 2004 tentang

“Kejaksaan Republik

Indonesia”;

c. Undang-undang Nomor 28

Tahun 1999 tentang

“Penyelenggaraan Negara

(6)

dari Korupsi, Kolusi dan

Nepotisme”

d. Undang-undang Nomor 31

Tahun 1999 tentang

“Pemberantasan Tindak

Pidana Korupsi”;

e. Undang-undang Nomor 20

Tahun 2001 tentang

“Perubahan atas Undang -undang Nomor 31 Tahun

1999 tentang

Pemberantasan Tindak

Pidana Korupsi”;

f. Undang-undang Nomor 30

Tahun 2002 tentang

“Komisi Pemberantasan

Tindak Pidana Korupsi”; Sedangkan bahan hukum

sekunder yang diperoleh dari studi

literatur umumnya dipergunakan

sebagai data awal untuk

merumuskan kerangka teoritis dan

kerangka konsep yang

dipergunakan dalam penelitian.

terdahulu dan buku-buku para

pakar yang relevan dengan materi

penelitian.

D. HASIL PENELITIAN

1. LEMBAGA KEJAKSAAN

SEBAGAI SALAH SATU

UNSUR SISTEM

PERADILAN PIDANA

Negara Indonesia adalah

Negara Hukum. Hal ini ditegaskan

dalam Pasal 1 ayat 3

Undang-Undang Dasar tahun 1945. Norma ini

bermakna bahwa di dalam Negara

Kesatuan Republik Indonesia, hukum

merupakan urat nadi aspek

kehidupan. Hukum mempunyai

posisi strategis dan dominan dalam

kehidupan masyarakat berbangsa dan

bernegara. Hukum, sebagai suatu

sistem, dapat berperan dengan baik

dan benar di tengah masyarakat jika

instrumen pelaksanaannya dilengkapi

dengan kewenangan-kewenangan

dalam bidang penegakan hukum.

Salah satu penegakan hukum itu

adalah Lembaga Kejaksaan. Sistem

hukum menurut L.M. Friedman

tersusun dari sub-sub sistem yang

berupa substansi hukum, struktur

hukum, dan budaya hukum. Ketiga

unsur sistem hukum ini sangat

(7)

hukum dapat berjalan dengan baik

atau tidak6.

Penegakan hukum pada

dasarnya melibatkan seluruh warga

Negara Indonesia, dimana dalam

pelaksanaannya dilakukan oleh

penegak hukum. Penegakan hukum

tersebut dilakukan oleh aparat yang

berwenang. Aparat negara yang

berwenang dalam pemeriksaan

perkara pidana adalah aparat

Kepolisian, Kejaksaan dan

Pengadilan. Polisi, Jaksa dan Hakim

merupakan tiga unsur penegak

hukum yang masing-masing

mempunyai tugas, wewenang dan

kewajiban yang sesuai dengan

Peraturan Perundang-Undangan yang

berlaku.

Hukum dan penegakan

hukum merupakan sebagian faktor

penegakan hukum yang tidak bisa

diabaikan karena jika diabaikan akan

menyebabkan tidak tercapainya

penegakan hukum yang diharapkan.

Oleh karena itu, keberadaan

Lembaga Kejaksaan salah satu unsur

sistem peradilan pidana mempunyai

kedudukan yang penting dan

6 Effendy, Marwan, 2005, Kejaksaan RI,

PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.

peranannya yang strategis di dalam

suatu negara hukum karena Lembaga

Kejaksaan menjadi filter antara

proses penyidikan dan proses

pemeriksaan di persidangan,

sehingga keberadaannya dalam

kehidupan masyarakat harus mampu

mengemban tugas penegakan hukum.

Pada Pasal 1 Angka 1

Undang-Undang Nomor. 16 Tahun

2004 tentang Kejaksaan Republik

Indonesia ditentukan bahwa Jaksa

adalah pejabat fungsional yang diberi

wewenang oleh undang-undang ini

untuk bertindak sebagai penyelidik,

penuntut umum dan pelaksanaan

putusan pengadilan yang telah

memperoleh kekuatan hukum serta

wewenang lain berdasarkan.

Undang-Undang Nomor 16

Tahun 2004. Kejaksaan Republik

Indonesia sebagai lembaga

pemerintahan yang melaksanakan

kekuasaan negara di bidang

penuntutan harus bebas dari

pengaruh kekuasaan pihak manapun.

Dalam penuntutan dilaksanakan

secara merdeka terlepas dari

pengaruh kekuasaan pemerintah dan

pengaruh kekuasaan lainnya.

(8)

lembaga penegak hukum dituntut

lebih berperan dalam menegakkan

supremasi hukum, perlindungan

kepentingan umum, penegakan hak

asasi manusia, serta pemberantasan

korupsi.7

Substansi hukum merupakan

keseluruhan asas-hukum, norma

hukum dan aturan hukum, baik yang

tertulis maupun yang tidak tertulis,

termasuk putusan pengadilan, dalam

hal substansi hukum pidana di

Indonesia, maka induk

perundang-undangan pidana materiil kita adalah

Kitab Undang Undang Hukum

Pidana (KUHP), sedangkan induk

perundang-undangan pidana formil

(hukum acaranya) adalah Kitab

Undang Undang Hukum Acara

Pidana (KUHAP).

Unsur ketiga dalam sistem

hukum adalah Kultur hukum yakni

kebiasaan atau budaya masyarakat

yang menyertai dalam penegakan

hukum. Kultur hukum tersebut

berada pada masyarakat maupun

pada aparat penegak hukum. Pada

prinsipnya, kultur hukum suatu

bangsa sebanding dengan kemajuan

7 Hartanti, Evi, 2005, Tindak Pidana

Korupsi, Sinar Grafika, hlm. 123.

yang dicapai oleh bangsa

bersangkutan karena hukum suatu

bangsa sesungguhnya merupakan

pencerminan kehidupan sosial

bangsa yang bersangkutan.

Dalam menjalankan tugas

dan wewenangnya, Kejaksaan berada

pada posisi sentral dengan peran

strategis dalam pemantapan

ketahanan bangsa. Karena Kejaksaan

berada di poros dan menjadi filter

antara proses penyidikan dan proses

pemeriksaan di persidangan serta

juga sebagai pelaksana penetapan

dan putusan pengadilan. Dengan

begitu Kejaksaan sebagai pengendali

proses perkara (dominus litis), karena hanya institusi Kejaksaan yang dapat

menentukan apakah suatu

kasus/perkara dapat diajukan ke

Pengadilan atau tidak berdasarkan

alat bukti yang sah menurut Hukum

Acara Pidana.

Bahwa selain dari melakukan

penuntutan, melaksanakan penetapan

hakim dan putusan pengadilan yang

telah memperoleh kekuatan hukum

tetap (executive ambtenaar). Kejaksaan juga memiliki tugas dan

wewenang dalam bidang pidana

(9)

pengawasan terhadap pelaksanaan

putusan pidana bersyarat, putusan

pidana pengawasan, dan keputusan

lepas bersyarat; melakukan

penyelidikan terhadap tindak pidana

tertentu berdasarkan undang-undang;

melengkapi berkas perkara tertentu

dan untuk itu dapat melakukan

pemeriksaan tambahan sebelum

dilimpahkan ke pengadilan yang

dalam pelaksanaannya

dikoordinasikan dengan penyidik.8

Dalam bidang perdata dan

tata usaha negara, kejaksaan dengan

kuasa khusus dapat bertindak baik di

dalam maupun di luar pengadilan

untuk dan atas nama negara atau

pemerintah, adapun yang dapat

dilakukan jaksa dalam bidang ini

antara lain melakukan penegakan

hukum; bantuan hukum sebagai jaksa

pengacara negara; melakukan

pelayanan hukum kepada

masyarakat; memberikan

pertimbangan hukum kepada

lembaga pemerintah; dan melakukan

tindakan hukum lain.

Sedang dalam bidang

ketertiban dan ketenteraman umum,

8 Pasal 30 ayat (1) UU Kejaksaan

Republik Indonesia.

kejaksaan turut menyelenggarakan

kegiatan peningkatan kesadaran

hukum masyarakat; pengamanan

kebijakan penegakan hukum;

pengawasan peredaran barang

cetakan; pengawasan aliran

kepercayaan yang dapat

membahayakan masyarakat dan

negara; pencegahan penyalahgunaan

dan/atau penodaan agama; penelitian

dan pengembangan hukum serta

statistik kriminal. Dalam UU

Kejaksaan tepatnya pada Pasal 1

butir 1 ditentukan bahwa :

”Jaksa adalah pejabat fungsional yang diberi wewenang oleh undang-undang untuk bertindak sebagai penuntut umum dan pelaksana putusan pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap serta wewenang lain berdasarkan undang-undang.”

Sedangkan dalam Pasal 1

butir 2 disebutkan :

“Penuntut Umum adalah jaksa yang diberi wewenang oleh Undang-Undang ini untuk melakukan penuntutan dan melaksanakan penetapan hakim.”

Hal tersebut juga di atur

dalam UU Nomor 8 Tahun 1981

tentang Hukum Acara Pidana yang

kerap di sebut dengan KUHAP yakni

(10)

Jo. Pasal 13 dengan begitu telah jelas

bahwa penuntut umum sudah pasti

adalah seorang jaksa, sedangkan

jaksa belum tentu seorang penuntut

umum. Bila melihat uraian di atas,

dapat dikatakan bahwa peran jaksa

selaku penuntut umum dalam

penegakan hukum tentu berada

dalam koridor tindakan penuntutan.

2. PERAN JAKSA DALAM

TINDAK PIDANA KORUPSI

Pada dasarnya lembaga

Kejaksaan adalah alat negara

penegak hukum, pelindung dan

pengayom masyarakat berkewajiban

untuk memelihara tegaknya hukum.

Lembaga Kejaksaan dengan

demikian berperan sebagai penegak

hukum. Seseorang yang mempunyai

kedudukan tertentu, lazimnya

dinamakan pemegang peranan. Suatu

hak sebenarnya merupakan

wewenang untuk berbuat atau tidak

berbuat, sedangkan kewajiban adalah

beban atau tugas. Setiap penegak

hukum secara sosiologis mempunyai

kedudukan dan peranan sebagai

penegak hukum. Kedudukan

merupakan posisi tertentu di dalam

struktur kemasyarakatan, yang

mungkin tinggi, sedang-sedang saja

atau rendah. Kedudukan tersebut

sebenarnya mempunyai wadah, yang

isinya adalah hak-hak dan

kewajiban-kewajiban tertentu.

Hak-hak dan kewajiban-kewajiban tadi

merupakan peranan. Suatu peranan

tertentu, dapat dijabarkan ke dalam

unsur-unsur sebagai berikut:

a. Peranan yang ideal;

b. Peranan yang seharusnya;

c. Peranan yang dianggap oleh

diri sendiri;

d. Peranan yang sebenarnya

dilakukan9;

Kejaksaan adalah

satu-satunya lembaga negara yang

merupakan aparat pemerintah yang

berwenang melimpahkan perkara

pidana, menuntut pelaku tindak

pidana di pengadilan dan

melaksanakan penetapan dan putusan

hakim pidana, kekuasaan ini

merupakan ciri khas dari kejaksaan

yang membedakan lembaga-lembaga

atau badan-badan penegak hukum

lain. Selain itu dalam tindak pidana

umum Jaksa hanya sebagai penuntut

9

(11)

umum, tetapi dalam tindak pidana

khusus dalam hal ini korupsi Jaksa

berperan sebagai penyidik dan

penuntut umum. Sebagai penyidik

maka diperlukan suatu keahlian dan

keterampilan yang khusus untuk

mencari dan mengumpulkan bukti

sehingga dapat diketemukan

tersangkanya. Pada dasarnya

penyelidikan dan penyidikan setiap

tindak pidana merupakan awal dalam

penanganan setiap tindak pidana

terutama tindak pidana korupsi.

Penyidik dalam Tindak

Pidana Korupsi pertama kali

ditangani oleh penyidik Kejaksaan

maupun oleh Penyidik Polri. Dalam

tindak pidana khusus jaksa berperan

sebagai penyidik.Dasar hukum yang

memberikan kewenangan penyidikan

tindak pidana korupsi kepada

Kejaksaan adalah Pasal 30 ayat (1)

huruf d Undang-Undang nomor 16

Tahun 2004 Tentang Kejaksaan

Republik Indonesia yang berbunyi

sebagai berikut : “Di bidang pidana,

kejaksaan mempunyai tugas dan

wewenang melakukan penyidikan

terhadap tindak pidana tertentu”

Berdasarkan pasal tersebut

maka tindak pidana korupsi adalah

tindak pidana khusus dalam arti

bahwa tindak pidana korupsi

mempunyai ketentuan khusus acara

pidana. Dengan demikian, Lembaga

Kejaksaan berwenang melakukan

penyidikan. Tindak pidana yang

memuat ketentuan terhadap tindak

pidana tertentu disebut “tindak pidana khusus”. Tindak pidana

korupsi berdasarkan Undang-Undang

Nomor 20 Tahun 2001 Tentang

Perubahan Atas Undang- Undang No

31 Tahun 1999 Tentang

Pemberantasan Tindak Pidana

Korupsi memuat “ketentuan khusus

acara pidana” antara lain:

1) Tersangka wajib memberi

keterangan tentang seluruh harta

benda korporasi yang

diketahuinya (Pasal 28).

2) Terdakwa mempunyai hak untuk

membuktikan bahwa ia tidak

bersalah (Pasal 37).

3) Dalam hal terdakwa telah

dipanggil secara sah dan tidak

hadir di siding pengadilan tanpa

alasan yang sah maka perkara

dapat diperiksa dan diputus tanpa

(12)

Dalam menjalankan tugasnya

unsur aparat penegak hukum tersebut

merupakan sub sistem dari sistem

peradilan pidana. Dalam rangka

penegakan hukum ini,

masing-masing sub sistem tersebut

mempunyai peranan yang

berbeda-beda sesuai dengan bidangnya serta

sesuai dengan ketentuan

Perundang-Undangan, akan tetapi secara

bersama-sama mempunyai kesamaan

dalam tujuan pokoknya yaitu

menanggulangi kejahatan dan

pemasyarakatan kembali para nara

pidana. Bekerjanya masing-masing

sub sistem tersebut harus sesuai

dengan ketentuan

Perundang-Undangan yang mengaturnya. Salah

satu sub sistem penegak hukum dari

peradilan pidana adalah Lembaga

Kejaksaan. Hukum dan penegakan

hukum merupakan sebagian faktor

penegakan hukum yang tidak bisa

diabaikan karena jika diabaikan akan

menyebabkan tidak tercapainya

penegakan hukum yang diharapkan.

Oleh karena itu, keberadaan

Lembaga Kejaksaan salah satu unsur

sistem peradilan pidana mempunyai

kedudukan yang penting dan

peranannya yang strategis di dalam

suatu negara hukum karena Lembaga

Kejaksaan menjadi filter antara

proses penyidikan dan proses

pemeriksaan di persidangan,

sehingga keberadaannya dalam

kehidupan masyarakat harus mampu

mengemban tugas penegakan

hukum.10

Pada Pasal 1 Angka 1

Undang-Undang Nomor 16 Tahun

2004 tentang Kejaksaan Republik

Indonesia ditentukan bahwa Jaksa

adalah pejabat fungsional yang diberi

wewenang oleh undang-undang ini

untuk bertindak sebagai penyelidik,

penuntut umum dan pelaksanaan

putusan pengadilan yang telah

memperoleh kekuatan hukum serta

wewenang lain berdasarkan

Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2004.

Kejaksaan Republik Indonesia

sebagai lembaga pemerintahan yang

melaksanakan kekuasaan negara di

bidang penuntutan harus bebas dari

pengaruh kekuasaan pihak manapun.

Dalam penuntutan

dilaksanakan secara merdeka terlepas

dari pengaruh kekuasaan pemerintah

dan pengaruh kekuasaan lainnya.

10 Marwan Effendy, 2005, Kejaksaan

(13)

Kejaksaan sebagai salah satu

lembaga penegak hukum dituntut

lebih berperan dalam menegakkan

supremasi hukum, perlindungan

kepentingan umum, penegakan hak

asasi manusia, serta pemberantasan

korupsi.11

Kejaksaan adalah

satu-satunya lembaga negara yang

merupakan aparat pemerintah yang

berwenang melimpahkan perkara

pidana, menuntut pelaku tindak

pidana di pengadilan dan

melaksanakan penetapan dan putusan

hakim pidana, kekuasaan ini

merupakan ciri khas dari kejaksaan

yang membedakan lembaga-lembaga

atau badan-badan penegak hukum

lain.

Selain itu dalam tindak

pidana umum Jaksa hanya sebagai

penuntut umum, tetapi dalam tindak

pidana khusus dalam hal ini korupsi

Jaksa berperan sebagai penyidik dan

penuntut umum. Sebagai penyidik

maka diperlukan suatu keahlian dan

keterampilan yang khusus untuk

mencari dan mengumpulkan bukti

sehingga dapat diketemukan

11 Suryono Sutarto, 2004, Hukum Acara

Pidana Jilid I, Universitas Diponegoro, Semarang, hlm. 76.

tersangkanya. Pada dasarnya

penyelidikan dan penyidikan setiap

tindak pidana merupakan awal dalam

penanganan setiap tindak pidana

terutama tindak pidana korupsi.

Sebagai penyidik dalam

tindak pidana korupsi maka

kejaksaan berwenang untuk

mengadakan penyelidikan dan

penyidikan. Setelah penyidikan

dirasa oleh penyidik sudah selesai

maka berkas perkaranya diserahkan

kepada kejaksaan selaku penuntut

umum. Jaksa yang ditunjuk sebagai

penuntut umum setelah menerima

berkas perkara segera memeriksa,

apabila berkas oleh penuntut umum

dianggap kurang lengkap maka

dalam waktu tujuh hari atau

sebelumnya, penuntut umum harus

sudah mengembalikan berkas pada

penyidik disertai dengan petunjuk

untuk kelengkapan berkas tersebut.

Apabila dalam waktu tujuh

hari setelah menerima berkas perkara

dari penyidik penuntut umum tidak

mengembalikan berkas, maka berkas

tersebut sudah lengkap. Dengan

dikembalikannya berkas perkara oleh

penuntut umum pada penyidik

(14)

kelengkapan berkas maka penyidik

harus mengadakan penyidikan

lanjutan guna melengkapi berkas

selambat-lambatnya dalam waktu

empat belas hari selesai dan dikirim

lagi pada penuntut umum.12

Berdasarkan Pasal 110 ayat

(1) KUHAP, menyebutkan bahwa

yang “dalam hal penyidik telah

selesai melakukan penyidikan,

penyidik wajib segera menyerahkan

berkas perkara itu kepada penuntut

umum”. Hal ini untuk memenuhi

asas peradilan cepat, sederhana dan

biaya ringan.

Bila penuntut umum

berpendapat bahwa hasil penyidikan

dari penyidik sudah lengkap maka

penyidik selanjutnya menyerahkan

tanggung jawab atas barang bukti

dan tersangkanya. Penuntut umum

selanjutnya memeriksa hasil

penyidikan dari penyidik apakah

dapat dilakukan penuntutan atau

tidak, bila dapat maka ia dalam

waktu secepatnya membuat surat

dakwaan. Surat dakwaan ini sangat

penting dalam pemeriksaan perkara

pidana. Sebab surat dakwaan

12 Emmy Hafild, 2004, Transparancy

International Annual Report, Transparancy International, Jakarta, hlm. 4.

merupakan dasar dan menentukan

batas-batas bagi pemeriksaan

terdakwa dalam

Pada Pasal 1 Angka 1

Undang-Undang Nomor 16 Tahun

2004 tentang Kejaksaan Republik

Indonesia ditentukan bahwa Jaksa

adalah pejabat fungsional yang diberi

wewenang oleh undang-undang ini

untuk bertindak sebagai penyelidik,

penuntut umum dan pelaksanaan

putusan pengadilan yang telah

memperoleh kekuatan hukum serta

wewenang lain berdasarkan

Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2004.

Kejaksaan Republik Indonesia

sebagai lembaga pemerintahan yang

melaksanakan kekuasaan negara di

bidang penuntutan harus bebas dari

pengaruh kekuasaan pihak manapun.

Dalam penuntutan

dilaksanakan secara merdeka terlepas

dari pengaruh kekuasaan pemerintah

dan pengaruh kekuasaan lainnya.

Kejaksaan sebagai salah satu

lembaga penegak hukum dituntut

lebih berperan dalam menegakkan

supremasi hukum, perlindungan

kepentingan umum, penegakan hak

asasi manusia, serta pemberantasan

(15)

Kejaksaan adalah

satu-satunya lembaga negara yang

merupakan aparat pemerintah yang

berwenang melimpahkan perkara

pidana, menuntut pelaku tindak

pidana di pengadilan dan

melaksanakan penetapan dan putusan

hakim pidana, kekuasaan ini

merupakan ciri khas dari kejaksaan

yang membedakan lembaga-lembaga

atau badan-badan penegak hukum

lain.

Selain itu dalam tindak

pidana umum Jaksa hanya sebagai

penuntut umum, tetapi dalam tindak

pidana khusus dalam hal ini korupsi

Jaksa berperan sebagai penyidik dan

penuntut umum. Sebagai penyidik

maka diperlukan suatu keahlian dan

keterampilan yang khusus untuk

mencari dan mengumpulkan bukti

sehingga dapat diketemukan

tersangkanya. Pada dasarnya

penyelidikan dan penyidikan setiap

tindak pidana merupakan awal dalam

penanganan setiap tindak pidana

terutama tindak pidana korupsi.13

13

Robert Kligaard, 2005, Penuntun

Pemberantasan Korupsi dalam

Pemerintahan Daerah, Yayasan Obor Indonesia, Jakarta, hlm. 3.

Sebagai penyidik dalam

tindak pidana korupsi maka

kejaksaan berwenang untuk

mengadakan penyelidikan dan

penyidikan. Setelah penyidikan

dirasa oleh penyidik sudah selesai

maka berkas perkaranya diserahkan

kepada kejaksaan selaku penuntut

umum. Jaksa yang ditunjuk sebagai

penuntut umum setelah menerima

berkas perkara segera memeriksa,

apabila berkas oleh penuntut umum

dianggap kurang lengkap maka

dalam waktu tujuh hari atau

sebelumnya, penuntut umum harus

sudah mengembalikan berkas pada

penyidik disertai dengan petunjuk

untuk kelengkapan berkas tersebut.

Apabila dalam waktu tujuh hari

setelah menerima berkas perkara dari

penyidik penuntut umum tidak

mengembalikan berkas, maka berkas

tersebut sudah lengkap. Dengan

dikembalikannya berkas perkara oleh

penuntut umum pada penyidik

disertai dengan petunjuk untuk

kelengkapan berkas maka penyidik

harus mengadakan penyidikan

lanjutan guna melengkapi berkas

(16)

empat belas hari selesai dan dikirim

lagi pada penuntut umum.14

Berdasarkan Pasal 110 ayat

(1) KUHAP, menyebutkan bahwa

yang “dalam hal penyidik telah

selesai melakukan penyidikan,

penyidik wajib segera menyerahkan

berkas perkara itu kepada penuntut

umum”. Hal ini untuk memenuhi

asas peradilan cepat, sederhana dan

biaya ringan.

Bila penuntut umum15

berpendapat bahwa hasil penyidikan

dari penyidik sudah lengkap maka

penyidik selanjutnya menyerahkan

tanggung jawab atas barang bukti

dan tersangkanya. Penuntut umum

selanjutnya memeriksa hasil

penyidikan dari penyidik apakah

dapat dilakukan penuntutan atau

tidak, bila dapat maka ia dalam

waktu secepatnya membuat surat

dakwaan. Surat dakwaan ini sangat

penting dalam pemeriksaan perkara

pidana. Sebab surat dakwaan

merupakan dasar dan menentukan

14 Andi Hamzah, 1991, Korupsi di

Indonesia, Masalah dan Pemecahannya, Gramedia, Jakarta, hlm. 36.

15

Robert Kligaard, 2005, Penuntun

Pemberantasan Korupsi dalam

Pemerintahan Daerah, Yayasan Obor Indonesia, Jakarta, hlm. 3.

batas-batas bagi pemeriksaan

terdakwa.

Di dalam Pasal 13 KUHAP

merumuskan bahwa penuntut umum

adalah Jaksa yang diberi wewenang

untuk melakukan penuntutan.

Adapun wewenang Penuntut Umum

menurut Pasal 14 KUHAP adalah:

a. Menerima dan memeriksa

berkas perkara penyidikan

dari penyidik atau pembantu

penyidik.

b. Mengadakan prapenuntutan

apabila ada kekurangan pada

penyidikan dengan

memperhatikan Pasal 110

Ayat (3) dan (4), dengan

member petunjuk dalam

rangka menyempurnakan

penyidikan dari penyidik.

c. Memberikan perpanjangan

penahanan, melakukan

penahanan atau penahanan

lanjutan dan atau mengubah

status tahanan setelah

perkaranya dilimpahkan oleh

penyidik.

d. Membuat surat dakwaan.

e. Melimpahkan perkara ke

(17)

f. Menyampaikan

pemberitahuan kepada

terdakwa tentang ketentuan

dan waktu perkara

disidangkan yang disertai

surat panggilan, baik kepada

terdakwa maupun kepada

saksi untuk datang pada

sidang yang telah ditentukan.

PENUTUP

Tindak pidana korupsi di

Indonesia terus meningkat dari tahun

ke tahun. Meningkatnya tindak

pidana korupsi yang tidak terkendali

akan membawa bencana terhadap

kehidupan perekonomian nasional.

Pemberantasan korupsi adalah

dengan mengandalkan

diperlakukannya secara konsisten

Undang-Undang tentang

pemberantasan tindak pidana korupsi

No. 20 Tahun 2001 tentang

Perubahan Atas Undang-Undang

Nomor 31 Tahun 1999 tentang

Pemberantasan Tindak Pidana

Korupsi.

Jaksa sebagai penyidik

merangkap sebagai penuntut umum

dalam penanganan tindak pidana

korupsi. Maka untuk menyelesaikan

kewajibannya tersebut Jaksa harus

bekerja sama dengan pihak lain yang

terkait. Kerja sama dengan pihak lain

ini disebut dengan hubungan hukum,

karena dalam melakukan kerja sama

dalam suatu aturan atau hukum yang

sifatnya pasti. Hubungan hukum

dengan pihak lain itu dapat berupa

perseorangan, badan hukum dan

instansi pemerintahan yang lain.

DAFTAR PUSTAKA

A. Buku

Wiyono, 2005, Pembahasan Undang-Undang Pemberantasan Tindak Piadana Korupsi, Sinar Grafika, Jakarta.

Andi Hamzah, 1991, Korupsi di Indonesia, Masalah dan Pemecahannya, Gramedia, Jakarta.

Effendy, Marwan, 2005, Kejaksaan RI, Jakarta : PT. Gramedia Pustaka Utama.

Emmy Hafild, 2004, Transparancy International Annual Report, Transparancy International, Jakarta.

Hartanti, Evi, 2005, Tindak Pidana Korupsi, Sinar Grafika. Lawrence M. Friedman, The Legal

System : A Social Science Perspective, Russel Sage Foundation, New York, 1975.

(18)

Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.

Robert Kligaard, 2005, Penuntun Pemberantasan Korupsi dalam Pemerintahan Daerah, Yayasan Obor Indonesia, Jakarta.

Satjipto Rahardjo, Hukum Dan Perubahan Sosial, Alumni, Bandung, 1979.

Soerjono Soekanto, 2002, Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Penegakan Hukum, PT. Raja Grafindo Persada, Indonesia.

Sudhono Iswahyudi, 2003, Makalah Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus,Keterkaiatan Komisi Pemberantasan Korupsi dengan Kejaksaan dalam penanganan Tindak Pidana Korupsi.

Suryono Sutarto, 2004, Hukum Acara Pidana Jilid I, Universitas Diponegoro, Semarang.

B. Peraturan

Perundang-undangan

Undang-Undang No. 8 Tahun 1981 tentang Hukum Acara Pidana (KUHAP).

Undang-Undang No. 20 Tahun 2001 tentang Perubahan Atas Undang-Undang No. 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi (LNRI 2001-134, TLNRI 4150).

Undang-Undang No. 30 Tahun 2002

tentang Komisi

Pemberantasan Tindak

Referensi

Dokumen terkait

kemungkinan anak berpikir logis. Sedangkan kelemahannya adalah tidak semua peserta didik terlibat dalam melakukan percobaan. Berdasarkan uraian- uraian di atas, maka penulis

Compliance (pemenuhan) adalah kemampuan untuk memenuhi hukum Islam dan beroperasi berdasarkan prinsip-prinsip ekonomi dan perbankan Islam. Dimensi ini merupakan tambahan

Seperti sebuah rumah, setiap unitnya menghadirkan tata letak ruangan dengan pengaturan fungsi yang optimal seperti kamar tidur yang lega, ruang tamu yang leluasa, adanya ruang

 Keislaman seseorang terbatal (murtad) apabila dia melakukan perkara yang membatalkan dua kalimah syahadah seperti berfahaman ateis (tidak percaya akan kewujudan Tuhan),

Adanya konsentrasi uap pelarut yang melebihi batas ketentuan yang berlaku dapat mengakibatkan efek negatif pada kesehatan seperti iritasi pada membran mucous dan sistem

Dari pengamatan di lapangan dan berdasarkan data yang di peroleh menunjukkan bahwa masih minimnya pemahaman mitra dalam memahami tentang penanganan anak yang

Berdasarkan nilai resistivitas dapat dilakukan penelitian untuk mengetahui penyebaran lindi yang dipengaruhi hidrogeologi di sekitar TPA Gampong Jawa dengan memanfaatkan

Dalam mukaddimah ini juga sebagaimana dijelaskan oleh al-nasyir kitab al-Mizan, bahwa manhaj yang dipergunakan oleh Tabataba’i dalam menafsirkan ayat-ayat al-Qur’an