• Tidak ada hasil yang ditemukan

ANALISIS DEIKSIS PERSONA DALAM BABAD KARTASURA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "ANALISIS DEIKSIS PERSONA DALAM BABAD KARTASURA"

Copied!
19
0
0

Teks penuh

(1)

ANALISIS DEIKSIS PERSONA DALAM

BABAD KARTASURA

Marina Dwija Mumpuni, Widhyasmaramurti

Jurusan Sastra Daerah untuk Sastra Jawa, Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya, Universitas Indonesia, Depok, 16424

E-mail: [email protected], [email protected]

Abstrak

Skripsi ini membahas deiksis persona yang muncul dalam teks dialog Babad Kartasura. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menemukan deiksis persona yang muncul dalam teks dan menemukan parameter sosial pemunculan pronomina tersebut. Penelitian ini menggunakan metode deksriptif-analitis. Analisis masalah menggunakan teori deiksis dari Rahyono (2011), serta teori dari Verhaar (1990) dan Sudaryanto (1991) mengenai morfem bebas dan morfem terikat. Secara lebih lanjut, penelitian ini juga menggunakan teori parameter sosial dalam analisisnya. Hasil penelitian yang didapat adalah ditemukannya 16 bentuk pronomina morfem bebas dan 34 pronomina morfem terikat yang mencakup pronominal persona pertama, kedua, dan ketiga; sedangkan hasil parameter sosial penutur merupakan pusat orientasi yang menentukan tinggi rendahnya parameter sosial.

Kata kunci: Babad Kartasura, deiksis persona, morfem Abstract

This thesis focused on pronoun deixis in Babad Kartasura’s text dialog. The aim of this research is to find out pronoun deixis on the text and the impact of social parameter to deixis. This study uses descriptive-analysis method. Pronoun deixis theory and social parameter theory are adopted from Rahyono (2011), free morpheme theory by Verhaar (1990) and bound morpheme theory by Sudaryanto (1991). Moreover, this research also uses social parameter theory by Rahyono (2011). As a result, 16 free morphemes and 34 bound morphemes are found which covered all pronouns area (including first person, second person, and third person); while based on social parameter, speaker is the core of a conversation in determining the parameter scale.

Keywords: Babad Kartasura, morpheme, pronoun deixis

1. Pendahuluan

Babad adalah cerita rekaan yang berdasarkan peristiwa sejarah, oleh karenanya babad disebut juga sastra sejarah. Pakar sastra dan sejarah seperti Hinzler menyebutkan bahwa babad merupakan garis hubung atau jaringan yang mengikat suatu kerabat dan keturunannya dengan latar belakang sejarah. 1 Sebagian besar teks sastra sejarah Jawa ditandai dengan kata Babad di bagian awal judul (Karsono, 2013: 1). Judul-judul babad

                                                                                                                         

1 Amir Rochkyatmo dalam pengantar Babad Tanah Jawi: Mitologi, Legenda, Folklor, dan Kisah Raja-raja Jawa I-6, R.Ng. Yosodipuro

(2)

tersebut menandai pengelompokan atas babad, yaitu 1) babad yang merujuk pada kewilayahan tertentu, seperti Babad Pajang, Babad Demak; 2) merujuk pada seorang tokoh, Babad Trunajaya, Babad Ajisaka; dan 3) merujuk pada peristiwa tertentu, seperti Babad Palihan Nagari, Babad Pacinan (Karsono, 2013: 1).

Babad Tanah Jawi merupakan salah satu kesusastraan Jawa yang merupakan sastra sejarah. Menurut Berg (1974: 124), Babad Tanah Jawi ditulis sekitar tahun 1575-1625, diawali dengan kisah Nabi Adam sampai pada masa Kartasura. Dalam Babad Tanah Jawi, terdapat beberapa babad yang saling berhubungan satu sama lain. Babad Tanah Jawa terdiri atas Babad Pajajaran, Babad Maja Pait, Babad Demak, Babad Pajang, Babad Mataram, dan Babad Kartasura.

Babad Kartasura mengisahkan tentang keadaan di Kartasura pada waktu pemerintahan Mangkurat Amral. Latar cerita yang istanasentris dan dimulai dari awal abad ke-16 sampai paruh abad ke-18 memunculkan matra bahasa yang dipakai unik dan tidak ditemukan dalam percakapan pada umumnya. Ragam bahasa yang unik, khususnya, muncul dalam penggunaan pronomina persona (kata ganti orang) pada dialog teks Babad Kartasura.

Pronomina persona merupakan kata ganti yang mempunyai kadar kedeiksisan yang tertinggi karena mengacu pada orang (dalam hal ini orang merupakan penutur sebagai pusat orientasi deiksis yang menentukan referen yang akan ditunjuk dalam tuturan) (Rahyono 2011:250). Pronomina persona, juga paling produktif digunakan dalam tuturan. Pronomina persona yang digunakan dalam tuturan menyatakan identitas penutur dan mitra tutur. Setiap bentuk pronomina tersebut menunjukkan status sosial antara si penutur dengan mitra tutur. Partisipan tutur mematuhi kaidah-kaidah yang mengatur tatanan penggunaan bahasa untuk menyampaikan pesan kepada kawan tutur (Rahyono 2011: 14). Dalam bahasa Jawa, seseorang dituntut untuk menggunakan bahasa Jawa secara tepat sesuai dengan kedudukan seseorang dalam keluarga, status sosial, tingkat kebangsawanannya, umur, dan prestise (Moedjanto, 1987: 43),

(3)

Berdasarkan penjelasan di atas ditemukan dua permasalahan, yaitu 1) Apa pronomina persona yang digunakan dalam dialog teks Babad Kartasura?; 2) Bagaimana parameter sosial berdasarkan pemunculan penggunaan pronomina persona tersebut? Oleh sebab itu, pada akhirnya penelitian ini akan menjawab kedua permasalahan tersebut.

2. Tinjauan Teoritis

Penelitian ini menggunakan teori deiksis dari Rahyono (2011), serta Verhaar (1990) mengenai morfem bebas dan Sudaryanto (1991) mengenai morfem terikat; sedangkan teori parameter sosial menggunakan teori Rahyono (2011).

2.1 Deiksis

Rahyono dalam buku Ekspresi Deiktis Bahasa Jawa membagi deiksis dalam tiga jenis, yaitu, deiksis orang (persona), deiksis tempat (ruang), dan deiksis waktu. Deiksis persona mencakupi kata ganti penunjuk (orang) dalam kedudukannya sébagai partisipan tuturan. Deiksis ruang dalam bahasa Jawa, secara deiksis, dibagi menjadi dua kelas, yaitu kelompok iki dan kelompok kene (Rahyono, 2002:53). Kategori terakhir adalah deiksis waktu. Leksem waktu dalam bahasa Jawa dapat bersifat deiksis atau tidak deiksis. Leksem waktu dapat bersifat deiksis dan tidak deiksis. Leksem waktu dikatakan deiksis apabila si penutur menjadi patokan (Kaswanti Purwo 1984: 71).

2.2 Pronomina Persona Bahasa Jawa

Menurut Rahyono (2011: 250), semua pronomina persona bersifat deiksis, pronomina persona masing-masing menyatakan posisi status sosial penutur berbeda dalam hubungannya dengan kawan tuturnya. Penggunaan pronomina dalam bahasa Jawa dipengaruhi oleh kondisi percakapan itu dilakukan. Rahyono (2002: 10) mencontohkan, seorang pembicara yang menggunakan aku (untuk mengacu penutur), kowe (untuk mengacu mitra tutur), dan dheweke (untuk mengacu orang yang dibicarakan), akan menunjukkan kondisi yang berbeda jika pembicara tersebut berturut-turut menggunakan bentuk kula, panjenengan, dan panjenenganipun. Dari uraian Rahyono di atas dapat

(4)

diketahui bahwa perbedaan kondisi itu dipengaruhi oleh konteks sosial—berhubungan dengan parameter sosial antarpartisipan. Bentuk-bentuk pronomina ini dibagi menjadi tiga, yaitu pronomina persona pertama, pronomina persona kedua, dan pronomina persona ketiga. Pronomina persona pertama mengacu pada diri penutur. Dalam bahasa Jawa, kata ganti persona yang digunakan adalah aku, ingsun, kula. Pronomina persona kedua mengacu pada orang yang diajak bicara atau dalam tulisan ini disebut dengan istilah mitra tutur. Pemakaian bentuk pronomina persona kedua menunjukkan identitas (status sosial) si penutur terhadap mitra tutur (Rahyono 2002: 25). Pronomina persona ketiga menggantikan obyek mengenai orang yang sedang dibicarakan.

2.3 Bentuk Pronomina Persona Bahasa Jawa

2.3.1 Morfem Bebas

Pada umumnya, pronomina persona dibagi atas bentuk bebas dan bentuk terikat. Verhaar (1990, 52-53) menyebutkan, morfem bebas (bentuk bebas) dapat berdiri sendiri sebagai sebuah kata, sedangkan morfem terikat (bentuk terikat) selalu dirangkaikan dengan satu atau lebih morfem yang lain menjadi satu kata.

Sejalan dengan Verhaar, Rahyono (2011: 252) dalam bukunya Ekspresi Deiktis Bahasa Jawa, memberikan ikhtisar mengenai bentuk bebas pronomina persona bahasa Jawa orang pertama, orang kedua, dan orang ketiga kategori tunggal dan jamak sebagai berikut:

Tabel 2.1 Pronomina Persona (Rahyono, 2011: 252)

Tunggal

Orang pertama Orang kedua Orang ketiga

ingsun kowe dheweke

aku awakmu piyambake

Kula sampeyan piyambakipun

Dalem sliramu panjenengane

panjenengan panjenenganipun nan dalem

(5)

paduka

Jamak awake dhewe kowe kabeh

aku kabeh panjenengan sami kula sadaya panjenengan sedaya

2.3.2 Morfem Terikat

Tidak hanya morfem bebas, bahasa Jawa juga memiliki pronomina persona dalam bentuk morfem terikat dan hadir hanya khusus dipakai untuk membentuk kata berimbuhan atau berafiks (Sudaryanto, 1991: 19). Terdapat empat macam afiksasi dalam bahasa Jawa, yaitu prefiks ‘awalan’, sufiks ‘akhiran’, infiks ‘sisipan’, dan konfiks ‘awalan-akhiran’.

Menurut Sudaryanto (1991: 19-20), prefiks adalah afiks yang terletak di muka atau mengawali bentuk dasar, contoh: takjupuk ‘kuambil’, bentuk prefiksnya adalah tak- yang bergabung pada bentuk dasar jupuk ‘ambil’ (tak- + jupuk = takjupuk). Sufiks adalah afiks yang terletak di belakang atau mengakhiri bentuk dasar, contoh: bapakmu ‘ayahmu’, bentuk sufiksnya adalah –mu yang bergabung dengan bentuk dasar bapak ‘ayah’ (bapak + -mu). Infiks adalah afiks yang disisipkan atau diselipkan dalam bentuk dasar, contoh: gumantung ‘tergantung’, bentuk infiksnya adalah sisipan –um- yang bergabung dengan bentuk dasar gantung (gantung + -um-). Konfiks adalah afiks yang berelemen dua, yaitu awalan dan akhiran, yang mengapit bentuk dasarnya, contoh: tak wenehake ‘kuberikan’, bentuk konfiksnya adalah tak-/-ake (tak- + weneh + -ake).

2.4 Parameter Sosial dalam Pronomina Bahasa Jawa

Tidak dapat dipungkiri bahwa permasalahan mengenai tingkat tutur berpengaruh dalam pemilihan deiksis persona yang tepat. Rahyono (2002: 20) mengatakan bahwa pronomina persona yang dimunculkan membawa suatu kriteria yang harus dipenuhi oleh penutur. Kriteria yang berpengaruh dalam pemilihan pronomina persona tersebut adalah: superioritas, inferioritas, kesetaraan, kehormatan, keakraban, dan keformalan.

(6)

3. Metode Penelitian

Penulis menggunakan metode penelitian yang bersifat deskriptif-analitis. Metode deskriptif-analitis adalah metode penelitian untuk membuat gambaran suatu hal, menerangkan hubungan, menguji hipotesis-hipotesis, membuat prediksi serta mendapatkan makna dan implikasi dari suatu masalah yang ingin dipecahkan (Nazir 1998: 64). Dalam metode deskriptif-analitis, terdapat tiga tahapan kerja penelitian, yaitu penyediaan data, analisis data, dan penyajian hasil analisis data (Sudaryanto, 1993).

4. Sumber Data

Sumber data yang digunakan adalah Babad Tanah Jawa versi JJ Ras (1987) bagian Babad Kartasura. Bagian Babad Kartasura tersebut memiliki kisah utama “Adipati Anom Jumeneng Nata ing Tegal” sampai “Marta Yuda Kabucal dhateng Jakarta”. Pemilihan Babad Kartasura karena berupa teks dialog sehingga memiliki deiksis persona yang cukup produktif. Data penelitian ini dikhususkan pada kalimat yang mengandung pronomina dari teks dialog antartokoh dalam cerita2. Dialog antartokoh dipilih sebagai sumber data utama, karena menampilkan deiksis persona.

5. Analisis

Secara keseluruhan, penelitian ini berusaha menjawab dua permasalahan utama.

Pertama, mengenai pronomina persona bahasa Jawa dalam dialog teks Babad

Kartasura. Berdasarkan data yang ada, pronomina persona bahasa Jawa ditampilkan dalam tabel berikut:

Tabel 1 Pronomina Persona Bahasa Jawa dalam dialog teks Babad Kartasura

Orang Pertama Orang Kedua Orang Ketiga

Tunggal Ingsun Kowe dheweke

Aku Sampeyan piyambakipun

Kula panjenengan-dalem Iku panjenengan-ingsun dika, jengandika

                                                                                                                         

2  Dialog teks berbahasa Jawa ejaan lama ditranskripsikan pada bahasa Jawa ejaan baru

(7)

Awakku Sira

Jamak Kula-saprikanca bocah-ingsun kabeh bocah-bupati kabeh

Dapat dilihat dalam Tabel 1 jika ponomina persona yang ditemukan berjumlah 16 pronomina baik tunggal maupun jamak. Pronomina persona pertama yang ditemukan terdiri atas 5 pronomina persona tunggal dan 1 pronomina persona jamak. Pronomina persona kedua yang ditemukan terdiri atas 5 persona tunggal dan 2 persona jamak. Pronomina persona ketiga tunggal yang ditemukan terdiri atas 3 persona tunggal.

Apabila dibandingkan dari segi jumlah pronomina persona yang sudah ditemukan sebelumnya, pronomina Rahyono (2011: 252) lebih memuat banyak pronomina, yaitu 23 pronomina morfem bebas dan 34 pronomina morfem terikat. Secara lebih lanjut, beberapa pronomina bebas yang ditemukan dalam penelitian ini, berbeda dari Rahyono (2011: 252), karena adanya pronomina persona yang tidak umum ditemukan dalam percakapan sehari-hari namun pemunculannya lebih dalam bahasa Jawa tulis yang digunakan dalam babad seperti: panjenengan-ingsun, kula-saprikanca, sira, panjenengan-dalem, bocah-ingsun kabeh, bocah-bupati kabeh, dan iku. Oleh sebab itu, berikut ini akan dipaparkan pembahasan mengenai pronomina persona bahasa Jawa dalam dialog Babad Kartasura.

5.1 Pronomina Persona Pertama Tunggal dan Jamak

Pronomina persona pertama yang ditemukan dalam dialog teks Babad Kartasura ini adalah pronomina tunggal dan jamak. Pronomina persona pertama tunggal berupa 5 morfem bebas yaitu ingsun, aku, kula, panjenengan-ingsun, awakku, dan 1 bentuk pronomina jamak yaitu kula-saprikanca. Dari pronomina yang ditemukan, di antaranya mempunyai bentuk morfem terikat yang berkedudukan sebagai prefiks dan sufiks, contoh: -ingsun, dak-, kula-/-aken, seperti dapat dilihat pada Tabel 2

(8)

Tabel 2 Pronomina Persona Pertama Tunggal dan Jamak

Tunggal

Morfem bebas Morfem terikat

Prefiks Sufiks Konfiks

ingsun sun- ingsun- -ingsun -ningsun sun-/i ingsun-/-i sun-/-aken ingsun-/-ake sun-/-ke aku dak- Tak- -ku tak-/-I dak-/-e tak-/-e

kula Kula- -kula kula-/-i

kula-/-aken

panjenengan-ingsun - - -

awakku - - -

Jamak kula-saprikanca - - -

Berdasarkan Tabel 2 di atas dapat dilihat bahwa morfem terikat ditemukan 19 bentuk. Lima morfem terikat pada prefiks, 4 morfem terikat pada sufiks, dan 10 morfem terikat pada konfiks.

5.2Pronomina Persona Kedua Tunggal dan Jamak

Tabel 3 Pronomina Persona Pertama Tunggal dan Jamak

Tunggal

Morfem bebas Morfem terikat

Prefiks Sufiks Konfiks

ingsun sun- ingsun- -ingsun -ningsun sun-/i ingsun-/-i sun-/-aken ingsun-/-ake sun-/-ke aku dak- Tak- -ku tak-/-I dak-/-e tak-/-e

kula Kula- -kula kula-/-i

kula-/-aken

panjenengan-ingsun - - -

awakku - - -

Jamak kula-saprikanca - - -

Berdasarkan Tabel 3 Pronomina Persona Kedua Tunggal dan Jamak ditemukan morfem bebas pronomina persona kedua ada 7 pronomina. Pronomina persona kedua terdiri atas 5 pronomina persona kedua tunggal, yaitu kowe, sampeyan, panjenengan-dalem,

(9)

jengandika/dika, sira; dan 2 pronomina jamak, yaitu bocah-ingsun kabeh dan bocah-bupati kabeh. Kemudian, morfem terikat berjumlah 13 pronomina, terdiri atas 2 prefiks, 6 sufiks, dan 7 konfiks. Khusus pronomina kedua jamak yaitu bocah-ingsun kabeh dan bocah-bupati kabeh, selalu muncul dengan konstruksi bocah-[nomina] kabeh.

5.3Pronomina Persona Ketiga Tunggal dan Jamak

Tabel 4 Pronomina Persona Ketiga

No. Morfem bebas Morfem terikat

Prefiks Sufiks Konfiks

1. dheweke - -e , -ne -

2. piyambakipun - - -

3. iku - - -

Pronomina persona ketiga yang telah dipaparkan dalam tabel 4 di atas, dalam teks hanya ditemukan tiga pronomina, yaitu dheweke, piyambake, dan iku. Pada pronomina persona ketiga ini tidak ditemukan bentuk jamak. Pronomina persona ketiga yang ditemukan hanya berbentuk tunggal. Morfem terikat yang ditemukan juga hanya berupa sufiks dari dheweke yaitu sufiks –e dan –ne.3

Kedua, mengenai parameter sosial berdasarkan penggunaan pronomina persona,

yang hasilnya dapat dilihat dalam Tabel 5 di bawah ini.

Tabel 5 Parameter Sosial Penggunaan Pronomina Persona

Pronomina Superior Inferior Setara Hormat Akrab Formal Tunggal Orang Pertama Ingsun + - - * - + Aku +/- - -/+ - -/+ +/- Kula - +/- -/+ + - +/- panjenengan-ingsun + - - * - + Awakku - +/- +/- - +/- - Orang Kedua Kowe - + +/- - +/- - Sampeyan +/- - - + +/- + panjenengan-dalem + - - + - + dika, jengandika + - - + +/- +/- Sira - + - - - +/-                                                                                                                          

3 Anderson dan Keenan dalam Rahyono (2002: 4) menyebutkan bahwa pronomina persona ketiga lebih sering bersifat anaforis daripada deiktis, sehingga mereka menyebutnya weak deictics. Rahyono (2002: 5) bahkan menyebutkan bahwa bahasa Jawa tidak memiliki bentuk persona ketiga jamak.

(10)

Orang Ketiga Dheweke - +/- +/- - +/- - piyambakipun + - - + +/- +/- Iku - + - - - +/- Jamak +/- - -/+ - +/- - kula-saprikanca - + - + - + bocah-ingsun kabeh bocah-bupati kabeh - - - +/-

Keterangan: Tanda (+) menyatakan bahwa pronomina yang tercantum mempunyai komponen makna sosial seperti yang tercantum dalam hubungannya dengan mitra tutur. Tanda (-) berarti pronomina tersebut tidak mempunyai komponen makna sosial. Tanda (+/-) berarti pronomina tersebut mempunyai dua kemungkinan dan tanda (*) menyatakan bentuk tersebut tidak operasional

Parameter Sosial Penggunaan Pronomina Persona dapat dianalisis lebih lanjut melalui 2 hal, yaitu (1) hubungan penutur dengan mitra tutur yang terdiri atas 5 parameter, serta (2) 3 konteks percakapan.

6. Parameter Sosial Pronomina Persona

6.1Hubungan Penutur dengan Mitra Tutur

a. Penutur sebagai Pihak Inferior

Kedudukan inferior (posisi penutur lebih rendah dari mitra tutur) dapat dikarenakan status penutur memang lebih rendah dari penutur atau penutur memang memposisikan dirinya lebih rendah dari mitra tutur dengan alasan kesantunan.

(1) “Tuwan, inggih sayektos pun Galengsong punika adhi kula;nggen kula pisah kala

teksih alit. Ngantos sapriki kula dereng nate kepanggih dhateng piyambakipun.”

(Mangku-Rat II Tedhak Jepara hal.186)

‘Tuan, iya benar, Galengsong adalah adik saya, kami berpisah sewaktu masih kecil. Sampai sekarang saya belum pemah bertemu dengannya.’

Identifikasi status penutur yang lebih rendah dari mitra tutur dapat dilihat dari penggunaan ragam bahasa krama dalam percakapan terhadap tokoh ‘tuwan’. Penyebutan tokoh ‘tuwan’ atau ‘Tuan’ itu pun menyatakan bahwa posisi ‘tuwan’ lebih tinggi dari tokoh ‘kula’.

(11)

b. Mitra Tutur sebagai Pihak Inferior

Dilihat dari sudut pandang penutur, penuturlah yang memposisikan dirinya superior dan/atau penuturlah yang menentukan posisi mitra tuttur lebih rendah darinya berdasarkan faktor-faktor tertentu, seperti usia yang lebih muda, kedudukan yang lebih rendah.

(2) “Marta-Laya, mulane sira sun-timbali, sira sumurupa, yen ingsun jumeneng nata.

Dene nggon-ingsun bakal munggah kaji samengko wis orasida” (Adipati Anom

Jumeneng Nata ing Tegal hal. 174)

‘Marta-Laya, oleh karena itu kau kupanggil saat aku naik tahta. Adapun keinginanku untuk naik haji tadi sudah dibatalkan.’

Kedudukan mitra tutur sebagai pihak inferior terlihat dari penggunaan ragam bahasa ngoko oleh penutur. Penyebutan pronomina ‘sira’ untuk tokoh Marta-Laya apabila dibandingkan dengan penyebutan ‘ingsun’ oleh penutur, menandakan bahwa kedudukan tokoh Marta-Laya lebih rendah dari tokoh ‘ingsun’. Selain ‘sira’, pronomina ‘kowe’ juga menunjukkan posisi yang lebih rendah.

c. Penutur sebagai Pihak Superior

Penutur sebagai penentu apakah dirinya berkedudukan lebih rendah atau lebih tinggi dari mitra tutur. Dalam pemilihan penggunaan pronomina, hal ini benar-benar diperhatikan agar tepat penggunaannya. Tentu tidak tepat apabila seorang raja menggunakan pronomina kula kepada prajuritnya yang lebih rendah kedudukannya. Penutur sebagai pihak superior ditandai dengan penggunaan pronomina ‘ingsun’ dan ‘aku’.

(3) “Bocah-ingsun kabeh, sira padha seksenana, yen saiki ingsun jumeneng nata,

nggenteni kanjeng rama. Ingsun ajejuluk susuhunan Mangku-Rat Senapati ing Alaga

Ngabdurahman Sayidin Panatagama.” (Adipati Anom Jumeneng Nata ing Tegal hal.174)

‘Kawulaku semua, saksikanlah, jika sekarang aku telah naik tahta, menggantikan Kanjeng Rama. Aku berjuluk susuhunan Mangku-Rat senapati ing Alaga Ngabdurahman Sayidin Panatagama.’

(12)

d. Mitra Tutur sebagai Pihak Superior

(4) “Gusti, prayoginipun maringana uninga dhateng tiyang Kumpeni rumiyin, bilih

rama-dalem seda, sarta aparinga uninga, yen panjenengan-dalem karsa jumeneng nggentosi nata.”

‘Gusti, sebaiknya memberitahu kepada Kompeni dahulu jika ayah paduka telah mangkat, serta memberitahu jika paduka bersedia naik tahta’

Mitra tutur dalam percakapan di atas sudah dipastikan adalah seorang calon raja. Terlihat dari kalimat panjenengan-dalem karsa jumeneng nggentosi nata ‘paduka bersedia naik tahta’. Oleh karena itu, ragam yang digunakan oleh penutur dalam percakapan tersebut adalah ragam krama dan menyebut mitra tutur dengan kata ganti panjenengan dalem dan –dalem.

e. Penutur dan Mitra Tutur berkedudukan Setara

Kedudukan setara ditandai dengan penggunaan ragam bahasa yang sama. Antara penutur dan mitra tutur tidak menganggap bahwa kedudukan salah satu pihak lebih tinggi dari pihak yang lain. Pronomina yang muncul di bawah ini adalah pronomina persona aku. Pada sub-bab Penutur sebagai Pihak Superior, pronomina ini muncul sebagai pihak yang berkedudukan lebih tinggi dari mitra tutur. Akan tetapi, ternyata pronomina persona aku dapat digunakan pula dalam kedudukan yang setara. Di bawah ini adalah contoh percakapan antara utusan raja mataran dengan orang Inggris.

(5) A: “Eh wong Prasman lan Inggris, aku ingutus marang Raja mataram, dikakake

ndhawuhi ing kowe, prakara nggonmu tetulung perang wis ditrima, sarta kowe

diparingi wang rong leksa ringgit kang mangka ganjaran nggonmu tetulung perang.

Nanging kowe dikakake lunga teka ing Tanah Jawa, mangkata sedina iki.” (Demak

Kabedhah Tetiyang Madura hal. 181)

‘Hai orang Prasman dan Inggris. Aku diutus oleh raja Mataram. Diperintahkan untuk memberi perintah padamu. Hal tentang bantuanmu untuk berperang telah diterima. Kalian juga diberi uang dua leksa ringgit sebagai hadiah telah membantu perang. Tetapi, kalian juga diperintahkan untuk datang ke Tanah Jawa, berangkatlah hari ini.’

(6) B: Aku ora duwe prau, prauku lagi padha digawa mulih ngungsungi dagangan.”

(Demak Kabedhah Tetiyang Madura hal. 181)

‘Aku tidak mempunyai kapal. Kapalku sedang dibawa pulang untuk mengangkut (barang) dagangan.’

(13)

(7) A: “Sapira kehe daganganmu kang wis ana ing kene? Aku kang ngenehi prau.

Nanging kowe tumuli lungaa sadina iki. Sakehe prauku kang bakal kok gawa

ngungsungi daganganmu, iku mbanjur peken pisan, aja susah kok-balekake.” (Demak

Kabedhah Tetiyang Madura hal. 181)

‘Sebanyak apakah barang daganganmu yang ada di sini? Aku yang memberikan perahu. Tetapi kau segeralah pergi hari ini. Semua kapalku yang kau gunakan untuk mengangkut barang daganganmu itu, ambilah, tidak usah kau kembalikan.’

6.2Konteks Percakapan

Selain hubungan antara penutur dan mitra tutur, parameter sosial juga dapat dilihat melalui konteks percakapan (dialog), seperti 3 konteks berikut ini.

1. Konteks Hormat

Bentuk hormat dapat dinyatakan dalam bentuk non-ngoko atau krama. Penggunaan basa krama ini memang untuk menghormati mitra tutur yang kedudukan sosialnya lebih tinggi, lebih tua usianya, atau sesamanya demi alasan ketakziman.

(8) “Gusti, kersa dalem badhe mundhut bantu punika kula mboten ngrembagi, sabab

watekipun tiyang Welandi punika, yen dipun-prasanak, tansah mengarahi, sarta kathah cidranipun. Saenipun lahir kemawon. Ing batos mboten pedhot-pedhot pangangkahipun. Dene prekawis mengsah-dalem tiyang bang wetan, tiyang kula sampun nyagahi numpes sedaya. Punapa panjenengan-dalem mboten pitados ing

atur-kula?” (Adipati Anom Jumeneng Nata ing Tegal hal. 175)

‘Yang Mulia, niat paduka meminta bantuan itu, hamba tidak sepakat. Sebab, watak orang Belanda itu, apabila dianggap seperti saudara, malah menjadi-jadi, serta banyak keburukannya. Baiknya hanya di lahir saja. Dalam batin tak kurang-kurang keinginannya. Adapun masalah musuh paduka orang timur, anak buah hambalaah yang sanggup menumpas semuanya. Apakah paduka tak memercayai perkataan hamba?’

Bentuk ngoko yang mengandung konteks hormat yaitu yang memuat kata sliramu. Bentuk tersebut tidak ditemukan dalam dialog teks.

2. Konteks Akrab

Dalam hubungan yang akrab, pronomina persona aku dank owe seringkali muncul dan menggunakan ragam bahasa ngoko. Seperti yang tampak dalam teks dialog Truna-Jaya kepada istrinya ini.

(14)

(9) “Ni-mas, aku ya nurut marang karepmu, nanging kowe sebaa dhingin, ngatuma

pati-uripku, sarta aku suwunna pangapura. Dene aku ya tumuli nusul.” (Truna-Jaya

Kacepeng hal.194)

‘Adinda, aku menurut pada kehendakmu, namun kau menghadaplah dulu, sampaikan hidup-matiku, serta mohonkanlah maaf. Sedangkan aku juga akan segera menyusul.’

3. Konteks Formal

Penggunaan pronomina dalam konteks formal adalah penggunaan pronomina ingsun. Seperti yang telah dijelaskan, penggunaan pronomina tersebut hanya tepat untuk orang yang berkedudukan superior seperti raja. Dalam konteks percakapan dengan raja, konteks yang ditemukan adalah konteks formal.

(10) “Amral, ya banget trima-ningsun, sarta ingsun ya nurut ing atur-ira, nanging lerena dhingin, mbesuk yen wis mari kesel, tumuli mangkata marang Jepara, ingsun ya

tumuli nusul.” (Adipati Anom Jumeneng Nata ing Tegal hal. 179)

‘Admiral, aku berterima kasih banyak (padamu), aku akan menuruti apa yang kau katakan. Tapi istirahatlah sejenak, besok kalau sudah hilang lelahmu, berangkatlah ke Jepara. Aku juga akan segera menyusul.’

Maka dari uraian sebelumnya, terlihat bahwa hubungan antarpartisipan mempengaruhi pemilihan pronomina persona yang digunakan dalam tuturan. Pronomina-pronomina yang digunakan penutur secara tidak langsung memberikan identitas atau kedudukannya di depan mitra tutur, apakah ia termasuk golongan superior, atau sebaliknya, golongan inferior. Dalam konteks inferior dan superior, pronomina persona pertama digradasikan dalam bentuk grafik berikut:

Grafik 1. Pronomina Persona Pertama

ingsun aku

awakku kula

(15)

Leksem kula menempati tempat yang paling inferior dari semua pronomina persona pertama tunggal yang ditemukan. Di pertengahan adalah pronomina persona aku. Pronomina ini berkedudukan lebih superior apabila dibandingkan dengan pronomina persona awakku, sehingga posisinya berada di atas pronomina tersebut. Terakhir adalah pronomina persona ingsun. Pronomina ini menempati tingkat paling superior dari semua pronomina persona pertama tunggal yang ditemukan. Pronomina ingsun dalam dialog teks hanya digunakan oleh penutur yang berkedudukan sebagai raja saja.

Pronomina persona kedua digradasikan dalam bentuk grafik berikut.

Grafik2. Pronomina Persona Kedua

Panjenengan-dalem Dika/Jengandika Sampeyan Sira kowe

Tidak hormat sangat hormat

Pronomina persona kedua yang menempati posisi paling inferior adalah kowe, kemudian berturut-turut di atas kowe adalah sira, sampeyan, dika/jengandika. Posisi orang kedua tunggal superior ditempati oleh panjenengan-dalem. Hal tersebut dikarenakan, dalam teks, pronomina tersebut hanya digunakan untuk menggantikan raja saja.

Pronomina persona ketiga digradasikan dalam bentuk grafik di bawah ini.

Grafik 3. Pronomina Persona Ketiga

piyambakipun dheweke

iku

(16)

Pronomina persona iku menempati posisi paling tidak hormat dari ketiga pronomina persona ketiga yang tercantum. Hal tersebut dikarenakan penggunaan iku mengacu pada orang yang kedudukannya rendah. Iku biasanya digunakan untuk menunjuk pada benda, bukan manusia. Akan tetapi, dalam teks ditemukan iku yang mengacu pada orang. Berturut-turut di atas iku adalah pronomina dheweke dan piyambakipun. Pronomina piyambakipun termasuk dalam konteks hormat, karena dalam pemakaiannya, pronomina ini biasanya digunakan untuk mengacu orang yang lebih tua atau lebih tinggi kedudukannya dari penutur. Kedudukan superior dan inferior tidak dapat terlepas dari hubungannya dengan mitra tutur apakah hubungan yang setara, hormat, atau akrab, serta dalam konteks yang formal atau tidak.

7. Kesimpulan

Berdasarkan analisis deiksis persona dalam Babad Kartasura, dapat diambil kesimpulan sebagai berikut:

a. Pronomina persona dalam babad Kartasura terbagi atas pronomina persona pertama, kedua, dan ketiga. Pronomina persona pertama ditemukan morfem bebas yang terdiri atas 16 jenis pronomina tunggal dan jamak. Pronomina persona kedua ditemukan 7 pronomina. Pronomina persona kedua terdiri atas 5 pronomina persona kedua tunggal dan 2 pronomina jamak. Pronomina orang ketiga hanya ditemukan bentuk tunggalnya saja, yaitu dheweke, piyambakipun, dan iku. Dalam teks, justru banyak ditemukan pronomina persona morfem terikat. Morfem terikat yang ditemukan dari keseluruhan pronomina persona yaitu berjumlah 34 bentuk, meliputi prefiks, sufiks, dan konfiks.

b. Parameter sosial terbukti mempengaruhi pemilihan bentuk pronomina yang dipakai dalam tuturan. Pronomina yang digunakan erat sekali hubungannya dengan identitas dan kedudukan penutur di hadapan mitra tutur dalam sebuah konteks tuturan. Pemilihan pronomina dalam tuturan mengacu pada kedudukan sosial seseorang yang menjadi mitra tutur. Di sisi lain, pronomina yang tampil dalam tuturan dapat digunakan untuk mengidentifikasi status sosialnya.

(17)

DAFTAR PUSTAKA

Alwasilah, A. Chaedar. 1989. Beberapa Madhab dan Dikotomi Teori Linguistik. Bandung: Angkasa

Berg, C.C. 1974. Penulisan Sejarah Jawa. Jakarta: Bratara

Kushartanti, Untung Yuwono dan Multamina RMT Lauder (peny.). 2009. Pesona Bahasa, Langkah Awal Memahami Linguistik. Jakarta:Gramedia Pustaka Utama.

M.S., Mahsun. 2000. Penelitian Bahasa: Berbagai Tahapan Strategi, Metode, dan Teknik-tekniknya. Universitas Mataram

Moedjanto. 1987. Konsep Kekuasaan Jawa. Yogyakarta: Kanisius. Nazir, Mohammad. 1998. Metode Penelitian. Jakarta: Ghalia Indonesia

Poedjasoedarma, Soepomo, dkk. 1979. Tingkat Tutur Bahasa Jawa. Jakarta: Pusat Pembinaan dan pengembangan BahasaDepartemen Pendidikan dan Kebudayaan

Purwo, Bambang Kaswanti. 1984. Deiksis dalam Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.

Rahyono, F.X. 2011. Studi Makna. Jakarta: Penaku.

Rahyono, F.X. 2002. Ekspresi Deiktis Bahasa Jawa. Depok: Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia

Ras, J.J. 1987. Babad Tanah Djawi. Foris Publication, Dordecht-Holland/ Providence-U.S.A

Sudaryanto (peny.). 1991. Tata Bahasa Baku Bahasa Jawa. Yogyakarta: Duta Wacana University Press

Uhlenbeck, E.M. 1982. Kajian Morfologi Bahasa Jawa. Jakarta: Djambatan

Verhaar, J.W.M. 1990. Pengantar Lingguistik. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press

Verhaar, JWM. 2010. Dasar-dasar Linguistik Umum. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press

(18)

Wedhawati, dkk. 2006. Tata Bahasa Jawa Mutakhir. Jakarta: Penerbit Kanisius

Makalah Seminar:

H. Saputra, Karsono. 2013. Babad: Matarantai Sastra Nusantara.

“Seminar Internasional Kebhinekaan dan Budaya.”Depok: PPKB FIB UI, 10-11 Desember 2013

Daftar Kamus:

Poerwadarminta. W.J. 1939. Baoesastra Djawa. Batavia: J.B Wolters Uitgevers-Maatschappij N.V.

Sastro Utomo, Sutrisno. 2009. Kamus Lengkap Jawa-Indonesia. Yogyakarta: Kanisius

Sumber Internet:

Sutanto, Sunaryati. 1991. Pronomina Persona dalam Bahasa Jawa Dialek Yogyakarta http:// i-lib.ugm.ac.id/jurnal/detail.php?dataId=6086 (waktu akses, Jumat 24/05/2014 pk.15.43 WIB)

Yosodipuro, R.Ng. Babad Tanah Jawi: Mitologi, Legenda, Folklor, dan Kisah Raja-raja Jawa www.goodreads.com/book/recommend/5108366 (waktu akses, Jumat 31/1/2014 pk. 23.43 WIB)

(19)

Gambar

Tabel 2.1 Pronomina Persona (Rahyono, 2011: 252)
Tabel 1 Pronomina Persona Bahasa Jawa  dalam dialog teks Babad Kartasura
Tabel 3 Pronomina Persona Pertama Tunggal dan Jamak
Tabel 4 Pronomina Persona Ketiga
+3

Referensi

Dokumen terkait

Hasil penelitian ini yaitu: (1)Sebagian besar mahasiswa Universitas Nasional Pasim Bandung memiliki status sosial ekonomi keluarga tingkat atas sebesar 64,67% dan mahasiswa

Untuk dapat mengembangkan kemahiran ber- bicara BA, mahasiswa juga dituntut untuk secara nyata menggunakan bahasa target dalam tindak komunikasi sosial. Hal itu

Penelitian ini menggunakan fitur bahasa status di media sosial (dalam hal ini Facebook) sebagai objek penelitian. Penelitian ini menjabarkan bentuk bahasa status melalui dua hal,

Terlebih pada situasi sekarang yang melakukan pembelajaran secara daring, mahasiswa dituntut untuk menggunakan media sosial seperti zoom atau gmeet guna mendukung proses

Dari dua belas faktor yang diteliti yaitu Motivasi mencari tantangan baru, Eksistensi diri dan Status sosial, Dukungan Legitimasi Wirausaha, Dukungan Keluarga, Faktor

Analisis data yang digunakan yaitu menggunakan analisis univariat dan bivariat karena untuk mengetahui hubungan tingkat sosial ekonomi keluarga dan pola asuh dengan

Sedangkan keluarga tersebut tetap dapat menggunakan jasa bidan, sehingga penggambaran status sosial keluarga tokoh Notomiharjo dalam film kurang sesuai atau bergeser dengan konsep

- Memberikan informasi secara terbuka dengan menggunakan media sosial - Menyampaikan hasil laporan keuangan secara berkala dengan tepat waktu Sesuai Sumber :Data diolah Peneliti 5