MEMBERANTAS
KORUPSI DI
SEKTOR SUMBER
DAYA ALAM
KOMISI PEMBERANTASAN KORUPSI
3 Oktober 2016
Laode M Syarif, Ph.D
KERUGIAN NEGARA, BURUKNYA TATA
KELOLA, DAN KORUPSI
Sektor sumber daya alam
yang terindikasi terjadi
korupsi memanfaatkan
celah regulasi, buruknya
tata kelola, dan lemahnya
pengawasan.
Perkara tipikor terkait
sumber daya alam
sebagian besar berkaitan
dengan
suap dari
perizinan
atau kebijakan
alih fungsi. Kajian KPK
(2013) menemukan
dalam tiap tahap
perizinan kehutanan suap
mencapai 22 milyar-668
juta rupiah.
Untuk satu perkara,
menyebabkan kerugian
negara tertinggi mencapai
1,2 trilyun (AJ); KPK
menemukan kerugian di
sektor kehutanan per tahun
hingga 5,2-7,2 trilyun per
tahun; sektor batubara 28,5
trilyun pada tahun 2012.
Kajian Sistem Perencanaan dan Pengawasan Kawasan Hutan (2010) Semiloka Percepatan Pengukuhan Kawasan Hutan (2012) NKB 12 K/L Percepatan Pengukuhan Kawasan Hutan (2013) NKB 27 K/L Gerakan Nasional Penyelamatan SDA (2015) Kajian Sistem Pengelolaan PNBP dan Korsup Minerba (2013) Kajian Sistem Pengelolaan Ruang Laut (2014) Kajian Perizinan Sektor
Kehutanan (2013) Deklarasi Penyelamatan SDA (2015) Kajian Kebijakan Pengusahaan Batubara (2011)
Kajian Perizinan Sektor Pertambangan (2013)
Kajian Pengelolaan Hutan Jawa Perum
Perhutani (2014) Refleksi Setahun NKB 12 K/L (2014) Kajian Sistem Pengelolaan Pajak Sektor Batubara (2014) Kajian PNBP Kehutanan (2015) AGENDA KORSUP HUTBUN DAN ENERGI
(2016-2017) RENAKSI PNBP, 6 temuan, 76 output (2016-2017) RENAKSI PERHUTANI, 4 temuan, 111 output (2016-2017) 2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016
PENCEGAHAN KORUPSI SEKTOR
SUMBER DAYA ALAM
Permasalahan
di sektor
perkebunan
1. Konsolidasi data dan peta (kompilasi, integrasi dan
sinkronisasi data spasial); data yang ada saat ini saling
berbeda antara pusat dan daerah.
2. Perizinan tumpang tindih, tidak sesuai dengan alokasi
lahan;
3. Pembinaan kebun masyarakat dan plasma (STDB,
pendataan plasma); Kebun masyarakat cenderung tidak
memiliki akses legal;
4. Penerimaan negara cenderung rendah; tidak sesuai dengan
neraca perdagangan (estimasi penerimaan negara,
mekanisme bagi hasil dll)
5. Regulasi perizinan terfragmentasi jadi celah korupsi
(permentan 98, Permen ATR 5/2015 dll)
6. Tidak tersedianya Infrastruktur pendukung perkebunan
(pembibitan dll)
7. Tata niaga CPO (kajian struktur pelaku, kepemilikan saham,
mata rantai bisnis dll); melebihi batas kepemilikan grup.
Permasalahan
di Sektor
Hutan & LH
1. Tidak adanya peta yang dapat dijadikan acuan tunggal bagi
seluruh sektor untuk tata guna lahan; aturan mengenai
alokasi lahan cenderung tidak harmonis – menyebabkan
ketidak adilan dan ketidak pastian.
2. Pengukuhan kawasan hutan belum selesai (saat ini 68%),
cenderung bersifat administratif – masih menyisakan
penyelesaian hak.
3. Berbagai aturan turunan UU 32/2009 belum diselesaikan.
4. Standar perizinan di sektor kehutanan memberikan ruang
bagi diskresi dan suap maupun pemerasan.
5. Tingginya biaya informal untuk kegiatan usaha sektor
kehutanan (Kajian KPK 2013, 22 milyar – 668 juta per tahun).
6. Pengelolaan data produksi dan pengawasan tidak kredibel
untuk menguji pertanggungjawaban penerimaan negara (gap
antara data produksi dengan deforestasi tidak terkendali).
7. Pungutan rente ekonomi hutan tidak optimal (tarif tidak
berubah sejak tahun 1990-an).
Permasalahan
di Sektor
Pertambangan
1.
Renegosiasi kontrak 37 KK dan 74 PKP2B belum terlaksana
2.
Peningkatan Nilai Tambah Mineral dan Batubara belum terlaksana
dengan baik
3.
Pengembangan sistem data dan informasi minerba masih bersifat
parsial
4.
Belum diterbitkannya semua aturan pelaksana UU No. 4 tahun 2009
tentang Pertambangan Minerba
5.
Penataan Kuasa Pertambangan/Izin Usaha Pertambangan belum selesai
6.
Tidak ada upaya sistematis untuk meningkatkan DMO (Domestic
Market Obligation)
7.
Kewajiban pelaporan reguler belum dilakukan oleh pelaku usaha dan
pemerintah daerah
8.
Kewajiban reklamasi dan pascatambang belum sepenuhnya dilakukan
9.
Pelaksanaan pengawasan pertambangan belum optimal
10. Terdapat kerugian keuangan negara karena tidak dibayarkannya
kewajiban keuangan
tidak optimalnya sanksi atas pelaku usaha
yang tidak memenuhi kewajiban keuangannya.
2011
Kajian Sistem Pengusahaan
Batubara
22 Temuan
2013
Kajian sistem Pengelolaan
PNBP Minerba
19 Temuan
Tindak Lanjut KPK
•
Perbaikan regulasi (Permen)
•
Penguatan kelembagaan
•
Perbaikan ketatalaksanaan perizinan
•
Membangun database
Minerba-MOMI
•
Monitoring kepatuhan pelaksanaan
kewajiban pemda dan pelaku usaha
•
Mendorong penetapan batas
wilayah pertambangan
•
Membenahi izin usaha melalui
proses clean and clear
•
Mendorong renegosiasi kontrak
agar sesuai dengan semangat UU
4/2009
•
pelatihan inspektur Tambang
Tindak Lanjut KPK
•
Perbaikan regulasi : SE revisi PP
secara reguler , dan panduan
tentang tata cara revisi PP tarif dan
jenis PNBP
•
Inventarisasi Pelabuhan, Terminal
Khusus dan TUKS Minerba
•
Witness Survey Minerba
•
Audit pada IUP/KK/PKP2B
berukuran besar dengan hasil
temuan sekitar 1 Triliun.
2014 - 2015
Korsup Minerba
32 Provinsi
Tindak Lanjut KPK
•
Penataan IUP Non CNC
•
Mendorong Peningkatan pembayaran kewajiban PNBP
Pelaku Usaha di Tahun 2014 sebanyak 10 Triliun
•
Mendorong Pengakhiran 1087 IUP
•
Mendorong penertiban pelabuhan khusus (TUKS)
•
Mendorong pelaksanaan pengawasan produksi
pertambangan minerba
•
Mendorong pelaksanaan kewajiban
pengolahan/pemurnian hasil tambang minerba
2016
Tindak Lanjut
Korsup Minerba
PENCEGAHAN KORUPSI DI SEKTOR
PERTAMBANGAN
2010
• Kajian Perencanan Hutan
2013
• Kajian Sistem Perizinan
Sektor Kehutanan
2014
• Kajian Sistem
Pengelolaan Hutan oleh
Perhutani
2015
•Kajian Sistem Pemungutan Penerimaan Negara Bukan Pajak dan Tata Usaha Kayu
PENCEGAHAN KORUPSI DI SEKTOR
KEHUTANAN
Tindak Lanjut KPK
• Mendorong terwujudnya peta tunggal kehutanan untuk menjadi acuan semua pihak.
• Mendorong pembenahan
kebijakan pengukuhan kawasan hutan dan alokasi lahan.
• Mendorong penertiban
tambang ilegal dalam kawasan hutan.
Tindak Lanjut KPK • Mendorong standar
layanan publik dalam
perizinan sektor kehutanan.
• Memotong birokrasi perizinan dan menutup peluang ekonomi biaya tinggi.
Tindak Lanjut KPK
• Mendorong kebijakan pengakuan tegakan hutan sebagai aset.
• Mendorong kriteria kinerja BUMN sehingga meliputi keberlanjutan asetnya.
• Mendorong penyelesaian konflik dalam kawasan hutan yang dikelola Perhutani.
Tindak Lanjut KPK
• Mendorong penggunaan SIMPONI untuk seluruh pemungutan PNBP hutan.
• Mendorong pengawasan produksi hasil hutan berbasis spasial yang terintegrasi.
• Mendorong penguatan kebijakan pemungutan rente ekonomi di sektor hutan.
• Mendorong penyusunan basisdata PEP dan profil risiko TPPU kehutanan.
PENCEGAHAN KORUPSI DI SEKTOR
PERKEBUNAN SAWIT
2016
•Korsup Sawit
•Kajian Tata Niaga Sawit
Data Pra
Korsup (2015)
Nasional 1972
unit IUP
Kalbar 104
unit IUP
Sumbar 17
unit IUP
Proses Korsup
(2016)
Nasional (??)
unit IUP
Kalbar 411
unit IUP
Sumbar 88
unit IUP
Tindak Lanjut KPK• Mendorong tercapainya kebijakan satu peta; konsolidasi data.
• Mendorong kewajiban perusahaan untuk (1)
menyampaikan laporan kinerja, (2) pemenuhan kewajiban keuangan, (3) pemenuhan kewajiban pengembangan perkebunan plasma.