• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Gambaran Umum

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Gambaran Umum"

Copied!
14
0
0

Teks penuh

(1)

1 BAB 1 PENDAHULUAN

1.1 Gambaran Umum

Pertumbuhan di sektor keuangan tidak lepas dari peran lembaga keuangan. Menurut Luca, 1995 (Fahmi, 2014, hal. 3) Negara yang aktivitas ekonominya tinggi maka peran lembaga keuangan pasti tinggi. Oleh karena itu lembaga keuangan yang berada dalam suatu negara harus selalu dalam keadaan sehat, tidak hanya jangka pendek namun juga secara jangka panjang (Fahmi, 2014, hal. 3).

Dalam Undang-undang Nomor 14 Tahun 1967 mendefinisikan lembaga keuangan adalah semua badan yang melalui kegiatan-kegiatannya di bidang keuangan, menarik uang dari dan menyalurkannya ke dalam masyarakat. Secara umum lembaga keuangan dapat dikelompokkan dalam dua bentuk yaitu bank dan bukan bank (Budisantoso & Triandaru, 2006, hal. 5), dan berdasarkan Undang-undang Nomor 10 Tahun 1998 tentang perubahan atas Undang-undang Nomor 7 Tahun 1992 membagi bank kedalam dua jenis yaitu bank umum dan bank perkreditan rakyat.

Menurut Undang-undang Nomor 10 Tahun 1998, bank adalah badan usaha yang menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk simpanan dan menyalurkannya kepada masyarakat dalam bentuk kredit dan atau bentuk-bentuk lainnya dalam rangka meningkatkan taraf hidup rakyat banyak.

Lembaga keuangan perbankan mempunyai peranan amat penting dalam perekonomian suatu negara. Perbankan mempunyai kegiatan yang mempertemukan pihak yang membutuhkan dana (brower) dan pihak yang mempunyai kelebihan dana (saver). Melalui kegiatan perkreditan, bank berusaha memenuhi kebutuhan masyarakat bagi kelancaran usahanya, sedangkan dengan kegiatan penyimpanan dana, bank berusaha menawarkan kepada masyarakat keamanan dananya dengan jasa-jasa lain yang dapat diperoleh (Latumaerissa, 2011, hal. 145).

(2)

2 Selain menjalankan fungsi dan peranannya sebagai lembaga intermediasi yang menjembatani kepentingan peminjam (borrower) dan penitip dana (saver), bank menjalankan pelayanan jasa-jasa bank lainnya. Tujuan dari bentuk pelayanan jasa bank lainnya ini dimaksudkan untuk memberikan kemudahan bagi masyarakat dalam melakukan aktivitas ekonomi. Masyarakat berkedudukan sebagai pelaku ekonomi yang secara aktif melakukan transaksi ekonomi dengan sistem pembayaran melaui system banking, untuk itulah bank memberikan berbagai kemudahan untuk transaksi dengan berbagai bentuk produk bank yang didukung dengan teknologi perbankan yang makin mutahir (Latumaerissa, 2011, hal. 227). Menurut Nath et al., 2001 dan Kannabiran dan Narayan, 2005 (Tofara, 2009) bank dan bisnis lain sama-sama beralih ke Teknologi Informasi (TI) untuk meningkatkan efisiensi usaha, kualitas layanan dan menarik pelanggan baru.

1.2 Latar Belakang Penelitian

Salah satu bentuk pemanfaatan teknologi informasi di bidang perbankan yaitu layanan internet banking. Gerak dan gaya hidup manusia, terutama dikota besar yang semakin cepat menjadi salah satu asumsi para pengelolah bank menyediakan layanan internet baking. Tujuan utama bank menyediakan berbagai kemudahan berinteraksi dengan layanan internet banking sejatinya untuk menghimpun dana nasabah agar mengendap di bank (Latumaerissa, 2011, hal. 228). Keberadaan internet banking sejalan dengan perkembangan teknologi dan informasi saat ini, industri perbankan cenderung ketinggalan jika tidak menyediakan layanan internet banking (Latumaerissa, 2011, hal. 227).

Ini sejalan dengan pendapat Eriksson et al., 2008; Sayar and Wolfe, 2007 (Grabner-Kra¨uter & Faullant, 2008) yang menyatakan bahwa perkembangan dan evolusi teknologi informasi berupa internet banking secara fundamental telah mengubah proses bisnis bank dan konsumennya.

(3)

3 Secara konseptual, lembaga keuangan bank dalam menawarkan layanan internet banking dilakukan melalui dua jalan, yaitu pertama, melalui bank konvensional (an existing bank) dengan representasi kantor secara fisik menetapkan suatu website dan menawarkan layanan internet banking pada nasabahnya, hal lain merupakan penyerahan secara tradisional. Kedua, suatu bank mungkin mendirikan suatu “virtual” “cabang”, atau “internet” bank. Virtual bank dapat menawarkan kepada nasabahnya kemampuan untuk penyimpanan deposito dan tagihan dana pada ATM atau bentuk lainnya (Riswandi, 2005, hal. 21).

Menurut (Atorf, Sugiarto, & Irnal Fiscallutfi, 2002) Internet banking

pertama kali diperkenalkan oleh bank-bank di Amerika pada tahun 1995, yang selanjutnya melalui proses globalisasi telah berkembang sampai di Asia, termaksud Indonesia. Perkembangan penyediaan layanan internet banking di Asia dipelopori oleh Hong Kong dan Singapura, yang ditandai dengan semakin bertambahnya jumlah bank yang menawarkan internet banking, dari waktu ke waktu.

Di Indonesia praktek internet banking dipelopori oleh salah satu bank swasta nasional pada tahun 1999. Namun menurut Riswandi, 2005, hal 52 dalam awal impeentasinya penyelenggaraan internet banking di Indonesia yang dilakukan oleh bank-bank nasional tidak dijalankan secara penuh. Artinya beberapa bank di Indonesia seperti bank BII yang lembaganya mengklaim bahwa mereka telah melaksanakan penyeleggaraan internet banking

(www.bankbii.co.id), pada awal pendiriannya, baru sebatas sebagai sarana promosi atas produk-produk bank BII, hal ini mungkin terjadi mengingat ketersediaan dana untuk pengadaan teknologi yang berkaitan dengan internet banking. Di samping itu juga, menyangkut kesiapan sumber daya manusianya, sehingga penerapan internet banking tidak dapat diimplementasikan secara penuh.

Ketika bank BCA meluncurkan internet banking-nya (www.klikbca.com), barulah penerapan internet banking ini mulai dijalankan secara penuh dimana pihak bank BCA sebagai penyedia layanan internet

(4)

4

banking, dalam menyediakan layanan tidak hanya berkaitan dnegan promosi produk-produknya serta memberikan kesempatan pada nasabah untuk melihat saldo rekeningnya melalui internet banking, tetapi pihak bank BCA juga sudah melangkah jauh dengan menyediakan layanan transaksi online.

Namun menurut (Atorf, Sugiarto, & Irnal Fiscallutfi, 2002) belum pesatnya perkembangan internet banking di Indonesia terutama adanya kendala-kendala sebagai berikut: (i) persiapan dan investasi yang matang dan mahal dengan dukungan teknologi yang canggih, (ii) kepercayaan publik atas sistem pengamanan internet banking, (iii) promosi internet banking yang belum merata ke seluruh lapisan masyarakat, dan (iv) pasar yang terbatas hanya pada masyarakat pegguna internet yang umumnya adalah lapisan menengah ke atas dan berpendidikan.

Gambar 1.1 Perbandingan Pengguna Internet Banking dan Mobile Banking Lima Bank Besar di Indonesia Berdasarkan Jumlah Nasabah dan

Jumlah Aset 2013

Sumber: (data yang telah diolah)

Gambar 1.1 menunjukkan lima bank besar di Indonesia berdasarkan jumlah aset, jumlah nasabah dibandingkan dengan pengguna layanan internet banking dan mobile banking pada tahun 2013, dari data diatas terlihat BRI

Rp100,000 Rp200,000 Rp300,000 Rp400,000 Rp500,000 Rp600,000 Rp700,000 Rp800,000

BRI BNI Bank

Mandiri

BCA CIMB

Niaga Total Aset (Triliun) Rp606,370 Rp386,660 Rp733,100 Rp537,210 Rp227,730

Jumlah Nasabah (Juta) 48 13,7 13 12 2,8

Pengguna Internet Banking (Juta) 1,64 0,618 0,784 2,8 0,888 Pengguna Mobile Banking (Juta) 5,1 3,25 3,2 4,8 0,684

Total Aset (Triliun) Jumlah Nasabah (Juta)

(5)

5 memiliki jumlah aset yaitu Rp. 606,370 triliun, lalu aset BNI sebanyak Rp. 386,660 triliun, Bank Mandiri Rp. 733,100 triliun, BCA Rp. 537,210 triliun, dan CIMB Niaga Rp. 227,730 triliun.

Dari jumlah nasabah BRI yang mencapai 48 juta nasabah, hanya 3,42% nasabah BRI yang telah menggunakan layanan internet banking sedangkan 10,63% telah menggunakan layanan mobile banking, untuk BNI dari jumlah nasabah yang mencapai 13,7 juta nasabah, 4,51% nasabahnya telah menggunakan layanan internet banking dan 23,73% telah menggunakan layanan mobile banking, Bank Mandiri dengan jumlah nasabah 13 juta nasabah, 6,03% nasabahnya telah menggunakan layanan internet banking dan 24,62% telah menggunakan layanan mobile banking, BCA dengan jumlah nasabah 12 juta nasabah, 20,33% telah menggunakan layanan internet banking

dan 40% lainnya telah menggunakan layanan mobile banking, dan untuk CIMB Niaga dengan jumlah nasabah 2,8 juta nasabah, 44,44% diantaranya telah menggunakan layanan internet banking dan 24,43% telah menggunakan layanan mobile banking. Padahal disediakannya internet banking, nasabah bank mendapatkan keuntungan berupa fleksibilitas untuk melakukan kegiatan setiap saat (Riswandi, 2005, hal. 21).

Gambar 1.2 Perbandingan Tingkat Penetrasi Pengguna Internet Banking,

dengan pengguna Mobile Banking di Indonesia tahun 2013

Sumber: (MARS Research Specialist, 2013)

Penetrasi Mobile Banking Penetrasi Internet Banking 41,2%

8,1%

PENETRASI PENGGUNAAN SYSTEM PERBANKAN

DI INDONESIA 2013

(6)

6 Gambar 1.2 menunjukkan perbandingan tingkat penetrasi antara

internet banking dan mobile banking di Indonesia tahun 2013. Tingkat penetrasi mobile banking mencapai 41,2%, sedangkan penetrasi internet banking hanya 8,1%.

Dari data (MARS Research Specialist, 2013) menunjukkan 34,7% Nasabah di lima kota di Indonesia (Jakarta, Bandung, Semarang, Surabaya, dan Medan) menyatakan telah mengetahui internet banking, sedangkan 65,3% lainnya belum mengetahui internet banking. Selanjutnya, dilihat dari sisi status sosial ekonomi (SES), nasabah kelas SES A memiliki tingkat kesadaran (awareness) yang lebih baik dibandingkan nasabah di SES B. Sedangkan berdasarkan tingkat pendidikan, nasabah berpendidikan tinggi (S1/S2/S3) memiliki kesadaran (awareness) yang lebih unggul daripada tingkat pendidikan lainnya. Sementara dari sisi usia, nasabah yang paling aware terhadap internet banking adalah pada kelompok usia produktif (25-30 tahun) sebesar 43,1%. Dan yang paling rendah adalah kelompok usia tua (41-55 tahun) yang baru mencapai 25,6% (MARS Research Specialist, 2013). Penelitian ini dilakukan di Indonesia dengan membagi bagian indonesia berdasarkan jumlah simpanan dan kredit.

Gambar 1.3 Perbandingan Jumlah Simpanan dan Pinjaman Berdasarkan Lokasi Proyek Provinsi 2014

(7)

7 Gambar 1.3 menunjukkan perbandingan simpanan dan pinjaman berdasarkan lokasi proyek Provinsi di Indonesia tahun 2014, Pulau Jawa dan Bali menunjukkan nilai simpanan tertinggi yang mencapai Rp. 37,3 triliun dengan jumlah pinjaman Rp. 2,1 triliun, selanjutnya Pulau Sumatera dengan total simpanan yang mencapai Rp. 10,4 triliun dengan jumlah pinjaman Rp. 460 miliar, dan Pulau Kalimantan, Sulawesi, NTT-NTB, Maluku, dan Papua dengan jumlah simpanan mencapai Rp. 4,6 triliun dengan pinjaman Rp. 420 miliar.

Masih rendahnya tingkat penetrasi layanan self service internet banking, salah satunya karena nasabah belum sepenuhnya merasa aman dari tindak kejahatan ataupun kesalahan sistem internet banking yang merugikan nasabah (MARS Research Specialist, 2013). Sehingga menurut penulis hal ini mempengaruhi tingkat kepercayaan (trust) nasabah untuk mengadopsi layanan

internet banking.

Menurut Slovic, 1993 menyatakan kepercayaan (trust) telah lama diakui sebagai elemen penting untuk mengeksplorasi reaksi masyarakat terhadap isu-isu yang rumit (Love, Mackert, & Silk, 2013), sejalan dengan penelitian yang dilakukan Gabarro,1978 menyatakan kepercayaan (trust) adalah komponen utama dalam hubungan kerja yang efektif (Micknight & Chervany, 1996). Pantauan ID-SIRTII, upaya gangguan terhadap sistem

internet banking bisa mencapai puluhan kali per situs dalam satu hari. Kasus hanya terungkap apabila korban mengumumkan kerugiannya kepada publik. (MARS Research Specialist, 2013), hal ini sesuai dengan pendapat Deutsch, 1962 dan Mayer et al., 1995 bahwa kepercayaan (trust) memungkinkan orang hidup dalam resiko dan keadaan yang tidak pasti (Corritore, Kracher, & Wiedenbeck, 2003). (Suh & Han, 2002) dalam penelitiannya menemukan bahwa kepercayaan (trust) berdampak signifikan terhadap penerimaan internet banking. Disisi lain tingkat kepercayaan (trust) nasabah bisa saja dipengaruhi oleh pengalaman penggunaan sebelumnya (prior experience), hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan (Chow, 2015) yang menyatakan bahwa

(8)

8 nasabah dapat mengevaluasi kepercayaan terhadap perusahaan dengan menggunakannya langsung.

Selain itu faktor lain yang mempengaruhi adopsi layanan internet banking yaitu kemampuan menggunakan internet (internet skill). Menurut (Sharma & Singh, 2011) dalam penelitiannya menemukan bahwa kemampuan dalam menggunakan sistem internet, karyawan bank dan nasabah harus dipertimbangkan secara tepat. Bank sebaiknya mengadakan pelatihan berkelanjutan untuk menyatukan peran karyawan dan nasabah untuk beralih dalam layanan internet banking. Karena Perubahan ke mode internet banking

membutuhkan kemampuan khusus yang merupakan tugas yang tidak sederhana bagi sebagain besar nasabah. Menurut Au et al dan Agarwal et al, 2000 (Rajarathinam & Mangalam, 2013) mengasumsikan bahwa dibutuhkan kemampuan teknikal yang baik untuk memahami konsekuensi dalam menggunakan teknologi baru.

Menurut Ndubisi & Sinti, 2006 (Qeisi & Al-Abdallah, 2014) dalam sistem internet banking, karakteristik sistem, fungsi dari setiap fitur website

merupakan hal yang dianggap penting, sejalan dengan penelitian Gerrard & Gunningham, 2003 yang menyatakan bahwa keamanan sistem juga menjadi hal penting untuk transaksi online baik untuk pengguna (user) maupun non-pengguna (non-user) sehingga diprediksi bahwa kualitas website (website quality) menjadi salah satu faktor yang mempengaruhi adopsi layanan internet banking.

Salah satu model yang banyak digunakan untuk mengetahui karakteristik perilaku terhadap adopsi teknologi baru yaitu model unified theory of acceptance and use of technology (UTAUT) yang dibuat oleh Venkatesh et. al., 2003. Selain itu penelitian yang telah dilakukan oleh (Giri & Saad, 2015) menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara variabel-variabel internet skill, prior experience, trust, website quality dalam model UTAUT untuk mengetahui perilaku dalam mengadopsi layanan internet banking di Bandung.

(9)

9 Sejalan dengan penelitian (Venkatesh, Thong, & Xu, 2012) yang menyatakan UTAUT telah menjadi faktor kritis yang saling berhubunggan untuk memprediksi perilaku dalam mengadopsi teknologi dalam konteks organisasi. Menurut Venkatesh et. al., 2003 (Qeisi & Al-Abdallah, 2014), UTAUT merupakan gabungan dari delapan model dalam bidang teknologi informasi dan penerimaan terhadap teknologi informasi, menggabungkan variabel penting untuk menunjukkan kondisi fasilitas (facilitation condition), intensitas penggunaan (usage intention) yang berfugsi sebagai penentu penggunaan aktual (actual use).

Dalam penelitian (Giri & Saad, 2015) baru menunjukkan perilaku

online terhadap adopsi internet banking di Bandung, selain itu penelitian tersebut juga belum memprediksi niat perilaku nasabah dalam mengadopsi layanan internet banking, padahal Menurut Hsiu-Fen, 2010 (Awuah, 2012) menyatakan bahwa niat berperilaku (behavioral intention) adalah faktor utama dalam memprediksi perilaku pengadopsian sebuah teknologi baru, sehingga pada penelitian ini, peneliti akan menguji model tersebut dengan menambahkan variabel niat berperilaku (behavioral intention) untuk memprediksi niat hingga perilaku online nasabah dalam adopsi layanan

internet banking di Indonesia.

Berdasarkan uraian latar belakang diatas, maka judul penelitian ini yaitu Trust, Internet Skill, Prior Experience, Website Quality Dalam

Modified UTAUT Model Untuk Adopsi Layanan Internet Banking Di Indonesia”

1.3 Perumusan Masalah

Banyaknya jumlah nasabah bank yang ada di Indonesia, berbanding terbalik dengan tingkat penggunaan layanan internet banking padahal layanan

internet banking menawarkan banyak keuntungan kepada nasabah dalam melakukan aktivitas perbankan.

Penelitian yang dilakukan oleh (Giri & Saad, 2015) terbatas hanya untuk mengetahui perilaku online dalam mengadopsi internet banking di

(10)

10 Bandung Raya, penelitian tersebut tidak memprediksi niat berperilaku (behavioral intention) nasabah dalam adopsi layanan internet banking padahal

behavioral intention menjadi faktor prediksi utama untuk mengetahui perilaku nasabah dalam adopsi layanan internet banking. Pada penelitian ini, peneliti ingin menguji apakah model tersebut dengan menambahkan variabel niat berperilaku (behavioral intention) untuk memprediksi niat hingga perilaku

online nasabah dalam adopsi layanan internet banking di Indonesia.

Faktor-faktor lain yang membuat nasabah bank di Indonesia belum mengadopsi layanan internet banking belum dipahami secara baik. Beberapa studi terdahulu yang terkait masalah masih rendahnya tingkat adopsi layanan

internet banking belum dapat dipastikan karena lingkup penelitian yang terbatas.

1.4 Pertanyaan Penelitian

1. Apakah secara structural model, pengalaman penggunaan sebelumnya (prior experience) berpengaruh terhadap kemampuan internet (internet skill)?

2. Apakah secara structural model, pengalaman penggunaan sebelumnya (prior experience) nasabah berpengaruh terhadap kualitas website (website quality)?

3. Apakah secara strutcural model, kemampuan internet (internet skill) berpengaruh terhadap kepercayaan (trust)?

4. Apakah secara structural model, kualitas website (website quality) berpengaruh harapan kinerja (performance expectanccy)?

5. Apakah secara structural model, kualitas website (website quality) berpengaruh terhadap harapan usaha (effort expectancy)?

6. Apakah secara structural model, pengalaman penggunaan (prior experience) berpengaruh terhadap harapan usaha (effort expectancy)? 7. Apakah secara structural model, pengalaman penggunaan sebelumnya

(11)

11 8. Apakah secara structural model, kemampuan internet (internet skill)

berpengaruh terhadap harapan kinerja (performance expectanccy)?

9. Apakah secara structural model, harapan usaha (effort expectancy)

berpengaruh terhadap niat perilaku (behavioral intention)?

10. Apakah secara structural model, pengaruh sosial (sosial influence) berpengaruh terhadap niat perilaku (behavioral intention)?

11. Apakah secara structural model, kepercayaan (trust) berpengaruh terhadap niat perilaku (behavioral intention)?

12. Apakah secara structural model, kualitas website (website quality) berpengaruh terhadap perilaku penggunaan (use behavioral)?

13. Apakah secara structural model, harapan kinerja (performance expectanccy) berpengaruh terhadap niat perilaku (behavioral intention)? 14. Apakah secara structural model, niat perilaku (behavioral intention)

berpengaruh terhadap perilaku penggunaan (use behavioral)?

1.5 Tujuan Penelitian

1. Untuk mengetahui pengaruh pengalaman penggunaan sebelumnya (prior experience) terhadap kemampuan internet (internet skill) dalam structural

model.

2. Untuk mengetahui pengaruh pengalaman penggunaan sebelumnya (prior experience) terhadap kualitas website (website quality) dalam structural

model.

3. Untuk mengetahui pengaruh kemampuan internet (internet skill) berpengaruh terhadap kepercayaan (trust) dalam structural model.

4. Untuk mengetahui pengaruh kualitas website (website quality) terhadap harapan kinerja (performance expectancy) dalam structural model.

5. Untuk mengetahui pengaruh kualitas website (website quality) terhadap terhadap harapan usaha (effort expectancy) dalam structural model.

6. Untuk mengetahui pengaruh pengalaman penggunaan (prior experience) terhadap harapan usaha (effort expectancy) dalam structural model.

(12)

12 7. Untuk mengetahui pengaruh pengalaman penggunaan (prior experience)

terhadap pengaruh sosial (sosial influence) dalam structural model.

8. Untuk mengetahui pengaruh kemampuan menggunakan internet (internet skill) terhadap harapan kinerja (performance expectancy) dalam structural

model.

9. Untuk mengetahui pengaruh harapan usaha (effort expectancy) nasabah terhadap niat perilaku (behavioral intention) dalam structural model. 10. Untuk mengetahui pengaruh sosial (sosial influence) terhadap niat perilaku

(behavioral intention) dalam structural model.

11. Untuk mengetahui pengaruh kepercayaan (trust) terhadap niat perilaku (behavioral intention) dalam structural model.

12. Untuk mengetahui pengaruh pengalaman kualitas website (website quality) terhadap perilaku penggunaan (use behavioral) dalam structural model. 13. Untuk mengetahui pengaruh harapan kinerja (performance expectancy)

terhadap niat perilaku (behavioral intention) dalam structural model. 14. Untuk mengetahui pengaruh niat perilaku (behavioral intention) terhadap

perilaku penggunaan (use behavioral) dalam structural model.

1.6 Manfaat Penelitian

Manfaat teoristis penelitian ini yaitu untuk menguji, model penelitian (Giri & Saad, 2015) untuk mengetahui perilaku online dalam mengadopsi layanan internet banking di Bandung Raya dapat diterapkan untuk memprediksi perilaku online dalam mengadopsi layanan internet banking di Indonesia.

Sedangkan untuk manfaat praktis, penelitian ini untuk mengetahui faktor-faktor yang menyebabkan masih rendahnya tingkat adopsi layanan

internet banking di Indonesia. Dengan adanya penelitian ini dapat membantu penyedia layanan internet banking mengetahui faktor-faktor rendahnya tingkat adopsi layanan internet banking, sehingga penyedia layanan internet banking

dapat meningkatkan kualitas layanannya untuk mrmbuat nasabah mau mengadopsi layanan internet banking.

(13)

13 1.7 Ruang Lingkup Penelitian

Lingkup penelitian ini adalah mengetahui faktor yang mempengaruhi proses adopsi nasabah bank di Indonesia terhadap layanan internet banking, untuk memastikan adanya keterwakilan diseluruh wilayah Indonesia, maka peneliti membagi wilayah penelitian menjadi tiga kawasan yaitu: 1) Pulau Jawa, Bali, NTT-NTB, 2) Pulau Sumatera, dan 3) Pulau Indonesia bagian timur (Sulawesi, Kalimantan, Maluku dan Papua). Pembagian tersebut berdasarkan persebaran tingkat loans (pinjaman) dan tingkat funds (simpanan) pada Mei 2014.

Penelitian ini dilakukan dengan metode pengisian kuisioner secara

online (internet survei) dan offline (kuisioner cetak). Total responden yang berhasil dikumpulkan yaitu 1016 responden. Pengisian secara online

mendapatkan 916 responden, dan 100 responden melalui offline, Data yang dapat dijadikan sampel yaitu 716 responden. Penyeberan kuisioner ini dilakukan mulai tanggal 30 Desember 2015 hingga 24 Januari 2016. Variabel yag digunakan dalam penelitian ini yaitu harapan usaha (effort expectancy), harapan kinerja (performance expectancy), pengaruh sosial (social influence), kepercayaan (trust), kemampuan menggunakan internet (internet skill), pengalaman penggunaan sebelumnya (prior experience), kualitas website (website quality), niat perilaku (behavioral intention), dan perilaku penggunaan (use behavioral).

1.8 Sistematika Penulisan Tugas Akhir

Adanya sistematika penulisan tugas akhir ini bertujuan untuk memberikan gambaran yang jelas mengenai penelitian yang dilakukan. Gambaran tersebut berisi informasi mengenai materi dan hal yang dibahas dalam tiap-tiap bab. Adapun sistematika penulisan penelitian ini adalah sebagai berikut:

(14)

14 - BAB I PENDAHULUAN

Bab ini merupakan penjelasan secara umum mengenai objek penelitian, latar belakang masalah, perumusan masalah, pertanyaan penelitian, tujuan penelitian, manfaat penelitian, ruang lingkup penelitian, serta sistematika penulisan.

- BAB II TINJAUAN PUSTAKA DAN LINGKUP PENELITIAN

Bab ini merupakan penjelasan mengenai hasil kajian kepustakaan yang terkait dengan masalah yang akan diteliti. Bab ini meliputi uraian tentang tinjauan pustaka penelitian yang digunakan sebagai dasar dari analisis penelitian, penelitian terdahulu, kerangka pemikiran, hipotesis penelitian serta ruang lingkup penelitian.

- BAB III METODE PENELITIAN

Bab ini merupakan uraian tentang jenis penelitian, variabel operasional, tahapan penelitian, populasi dan sampel, pengumpulan data, serta teknik analisis data dan pengujian hipotesis.

- BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Bab ini menjelaskan mengenai deskripsi objek penelitian, hasil analisis dan pengolahan data beserta pembahasannya, yang disajikan secara sistematis sesuai dengan lingkup penelitian serta sesuai dengan tujuan penelitian.

- BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

Bab ini akan menjelaskan mengenai kesimpulan dari hasil penelitian yang dilakukan dan disertai dengan rekomendasi atau saran.

Gambar

Gambar 1.1 Perbandingan Pengguna Internet Banking dan Mobile  Banking  Lima Bank Besar di Indonesia Berdasarkan Jumlah Nasabah dan
Gambar 1.2 Perbandingan Tingkat Penetrasi Pengguna Internet Banking,  dengan pengguna Mobile Banking di Indonesia tahun 2013
Gambar 1.3 Perbandingan Jumlah Simpanan dan Pinjaman  Berdasarkan Lokasi Proyek Provinsi 2014

Referensi

Dokumen terkait

‚Pengaruh Kompetensi, Independensi, dan Keahlian Profesional terhadap Kualitas Audit pada dengan Etika Auditor sebagai Variabel Moderasi (Studi Kasus pada Kantor Akuntan

 Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional Tahun 2005 – 2025 yang selanjutnya disebut sebagai RPJP Nasional adalah dokumen perencanaan pembangunan nasional untuk

Faktor Performance Expectancy, Effort Expectancy, Social Influence, Facilitating Condition, Hedonic Motivation, Price Value, dan Habbit secara simultan berpengaruh terhadap

Adapun hasil penelitian secara kuantitatif menunjukkan bahwa keseluruhan variabel yang diteliti, yaitu performance expectancy (PE), effort expectancy (EE), social influence

Barisan pengantar ararem tersebut, diantanya: pertama, kelompok kelurga inti (yang dituakan) terdiri dari para perempuan atau ibu-ibu dengan busana adat Biak,

Sementara, menurut (Chaer, 2004: 47) peristiwa tutur adalah terjadinya atau berlangsungnya interaksi linguistik dalam satu bentuk ujaran atau lebih yang melibatkan

Saat ini, pengetahuan mengenai geoteknik merupakan salah satu pengetahuan dasar yang harus dimiliki untuk seorang perancang tambang (mine plan engineer/mine engineer) baik

Dengan mencermati berbagai kondisi lingkungan strategis eksternal yang akan mempengaruhi ekonomi Kota Denpasar, baik kondisi ekonomi global maupun nasional dan berbagai