Sistem Nasional Pemantauan Kekerasan
(SNPK)
Laporan Bulanan
NOVEMBER 2014
Kementerian Koordinator
Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan
Republik Indonesia
P
embangunan kesejahteraan rakyat (kesra) merupakan salah satu prioritas pemerintah Republik Indonesia. Dalam menyelenggarakan pembangunan kesejahteraan rakyat tersebut, kita seringkali dihadapkan pada gangguan kesra berupa dampak bencana alam, perubahan iklim, dan kerusakan lingkungan hidup serta konflik sosial. Sehubungan dengan hal tersebut, Kementerian Koordinator Kesejahteraan Rakyat (Kemenko Kesra) berupaya untuk melaksanakan tindakan pencegahan guna meminimalisasi kerugian masyarakat.Dalam konteks pencegahan gangguan kesra berupa konflik sosial, diperlukan instrumen untuk menganalisis dan mengidentifikasi akar permasalahan dalam rangka mencari solusi sesuai amanat pilar koordinasi Kemenko Kesra, yaitu: “Penanggulangan, antisipasi, dan tanggap cepat gangguan kesejahteraan rakyat.” Untuk itu, Sistem Nasional Pemantauan Kekerasan (SNPK) merupakan jawaban yang dapat memberikan gambaran yang menyeluruh tentang konflik sosial sehingga pemerintah dan para pemangku kepentingan dapat mengambil langkah-langkah yang tepat.
Sistem Nasional Pemantauan Kekerasan (SNPK), yang telah diresmikan pada tanggal 7 Desember 2012, ditujukan untuk membangun kemampuan melakukan deteksi dini guna pencegahan konflik kekerasaan dan merespon dengan program dan kebijakan secara lebih efektif. Data SNPK terbuka untuk publik dengan harapan akan meningkatkan partisipasi masyarakat dalam mediasi dan pencegahan kekerasan di negeri ini. Dalam rangka meningkatkan kualitas SNPK kami mengharapkan dukungan dan kerjasama dari berbagai pihak. Akhir kata, SNPK diharapkan dapat bermanfaat bagi bangsa Indonesia dalam upaya penanganan dan pencegahan kekerasan sehingga pembangunan kesejahteraan masyarakat dapat berlangsung dan dicapai secara efisien, efektif dan produktif.
S
ambutan
Jakarta, Mei 2013
Menteri Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat Republik Indonesia
S
istem Nasional Pemantauan Kekerasan (SNPK) digagas oleh Kedeputian I Bidang Koordinasi Lingkungan Hidup dan Kerawanan Sosial, Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Republik Indonesia (Kemenko PMK) untuk menyediakan data kekerasan yang terjadi di Indonesia seakurat dan semutakhir mungkin. SNPK terdiri dari dua kegiatan utama yaitu: (i) pengumpulan data rutin dan rinci tentang insiden kekerasan berupa informasi waktu, lokasi, bentuk, dan pemicu insiden serta dampaknya; (ii) penerbitan laporan dan data yang diperbaharui setiap bulan. Laporan Bulanan SNPK menyajikan data dan informasi faktual tentang insiden kekerasan yang menonjol setiap bulan. Laporan Bulanan SNPK didedikasikan sebagai bahan rujukan untuk pencegahan dan penyusunan kebijakan pengelolaan konflik.SNPK mengumpulkan data kekerasan berdasarkan informasi yang tersedia secara publik, bersumber dari surat kabar lokal dilengkapi dengan berbagai sumber non-media seperti laporan pemerintah, kajian akademis, dan laporan lembaga swadaya masyarakat. SNPK mengumpulkan data insiden kekerasan sejak tahun 1998 dan disajikan melalui portal:
www.snpk-indonesia.com. Data insiden
kekerasan sejak Januari 2014 dan seterus- nya berasal dari seluruh 34 provinsi di Indonesia.
Portal SNPK menyajikan data kekerasan dalam empat kategori, yakni (i) konflik (lihat Kotak Definisi); (ii) Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT); (iii) kekerasan terkait kriminalitas, dan (iv) kekerasan dalam penegakan hukum. Kategori kekerasan selain konflik dipandang perlu untuk dipantau karena berpotensi menimbulkan konflik sosial. Setiap insiden kekerasan yang tercatat dalam database SNPK dilengkapi dengan kliping berita surat kabar yang digunakan sebagai sumber.
Pengelolaan SNPK dipimpin oleh Kemenko PMK dengan dukungan Bank Dunia dan The Habibie Center melalui hibah dari Korea Economic Transitions and Peace-building Trust Fund. Dalam rangka mengembangkan dan meningkatkan kualitas SNPK di masa mendatang, Kemenko Kesra mengembang-kan kerjasama dengan berbagai pihak termasuk perguruan tinggi, lembaga kajian, dan masyarakat sipil.
INSIDEN KEKERASAN adalah tindakan individu, antarindividu, kelompok atau
antarkelompok yang menyebabkan atau dapat menyebabkan dampak fisik terhadap manusia (kematian, cedera) atau kerusakan harta benda.
KONFLIK adalah peristiwa di mana insiden kekerasan terjadi karena adanya isu/
sengketa yang melatarbelakangi dan pihak tertentu yang menjadi sasaran. Konflik kekerasan mencakup insiden berskala kecil (melibatkan individu) dan berskala besar (melibatkan kelompok). Berdasarkan pemicunya, SNPK membagi konflik ke dalam tujuh jenis, yakni:
1. Konflik Sumber Daya :
insiden kekerasan yang dipicu oleh sengketa sumber daya alam maupun sumber daya buatan (lahan, tambang, akses ke mata pencaharian, gaji, polusi, kerusakan lingkungan).
2. Konflik Tata Kelola Pemerintahan :
insiden kekerasan dipicu oleh kebijakan atau program pemerintah (misalnya pelayanan publik, korupsi, subsidi, kenaikan harga, pemekaran).
3. Konflik Pemilihan dan Jabatan :
insiden kekerasan yang dipicu oleh persaingan dalam pemilihan atau jabatan (termasuk pemilihan umum, pemilihan umum kepala daerah, pemilihan kepala desa, pemilihan jabatan di universitas, lembaga mahasiswa, partai politik, dan lainnya).
4. Konflik Separatisme :
insiden kekerasan yang dipicu oleh upaya pemisahan dari Negara Kesatuan Republik Indonesia.
5. Konflik Identitas :
insiden kekerasan yang dipicu oleh identitas kelompok (agama, etnis, suku, gender, geografis, dan yang melibatkan migran/pengungsi, identitas sekolah, dan antarsuporter olahraga).
6. Konflik Main Hakim Sendiri :
insiden kekerasan yang dipicu balas dendam atau respon terhadap ketersinggungan, pencurian, hutang piutang, penghinaan, kecelakaan lalu lintas, perselingkuhan, termasuk kekerasan terhadap dukun santet dan lokasi maksiat.
7. Konflik Lainnya :
insiden konflik yang pemicunya belum diketahui atau tidak dilaporkan dengan jelas oleh sumber berita.
KRIMINALITAS adalah tindakan kekerasan yang terjadi tanpa dilatarbelakangi isu
atau sengketa yang diperselisihkan sebelumnya. Motif tindakan kriminalitas dapat berupa uang (misalnya perampokan atau penculikan) atau kesenangan pribadi, atau kebencian.
KDRT adalah tindakan kekerasan fisik yang dilakukan oleh anggota keluarga
terhadap anggota keluarga lainnya, di mana anggota keluarga tersebut tinggal dalam satu rumah. Kekerasan non-fisik tidak dipantau oleh SNPK.
KEKERASAN DALAM PENEGAKAN HUKUM adalah tindakan kekerasan yang
dilakukan oleh aparat keamanan resmi dalam upaya penegakan hukum, termasuk penggunaan kekerasan terhadap tersangka/pelaku kriminalitas baik yang dilakukan sesuai kewenangan maupun di luar wewenang aparat keamanan.
t
entang
SnPK
Tren kekerasan di bulan November 2014 seluruh jenis kekerasan
Data SNPK mencatat total 1.977 insiden seluruh jenis kekerasan di bulan November 2014 yang berdampak pada 222 tewas, 1.688 cedera dan 240 bangunan rusak. Jumlah insiden dan tewas bulan ini [1.977 insiden dan 222 tewas] turun jika dibandingkan pada bulan Oktober 2014 [2.360 insiden dan 271 tewas]. Jika dibandingkan rata-rata korban tewas per bulan di periode Januari – November 2014 [249 tewas per bulan], jumlah tewas bulan ini masih lebih rendah. Konsisten dengan bulan-bulan sebelumnya, jenis kekerasan aksi kriminalitas pada bulan ini menempati urutan teratas baik dalam jumlah insiden maupun korban tewas [1.064 insiden dan 122 tewas] (lihat Tabel 1).
Tren konflik kekerasan di bulan November 2014
Pada bulan ini, insiden dalam kategori konflik kekerasan yang tercatat dalam data SNPK berjumlah 620 insiden yang berakibat pada 54 tewas, 724 cedera dan 177 bangunan rusak. Adapun, korban tewas dalam insiden konflik kekerasan berasal dari konflik main hakim sendiri [31 tewas], konflik sumber daya [15 tewas], konflik identitas [7 tewas] dan satu tewas berasal dari konflik tata kelola pemerintahan. Jumlah tewas bulan ini tak jauh berbeda dibandingkan pada sebulan sebelumnya. Sedangkan jumlah insiden tertinggi di bulan ini berasal dari konflik main hakim sendiri [333 insiden] (lihat Tabel 1 dan Grafik 1).
Tren konflik kekerasan di periode Januari - November 2014
Dalam kategori konflik kekerasan tercatat 6.807 insiden yang berlangsung di periode Januari – November 2014 dan telah mengakibatkan 554 tewas, 8.054 cedera dan 1.312 bangunan rusak. Di periode ini, puncak tertinggi jumlah insiden kekerasan terjadi di bulan April [674 insiden], namun jumlah korban tewas terbanyak terdapat di bulan Agustus [74 tewas]. Secara keseluruhan jumlah insiden dan tewas terbanyak selama periode ini berasal dari konflik main hakim sendiri [3.952 insiden dan 282 tewas], diikuti konflik sumber daya [786 insiden dan 132 tewas] dan konflik identitas [767 insiden dan 78 tewas]. Selain itu, sebaran insiden dalam kategori konflik kekerasan berdasarkan kabupaten/kota di Indonesia pada periode Januari – November 2014 dapat dilihat di peta (lihat Tabel 1, Grafik 1 dan Peta).
Tabel 1. Insiden dan dampak kekerasan berdasarkan jenis kekerasan di 34 provinsi (November 2014)
Jenis Kekerasan
Jumlah Kejadian Jumlah Tewas Jumlah Cedera Jumlah Pemerkosaan Jumlah Bangunan Rusak
November 2014 Oktober2014 Januari -November 2014 November 2014 Oktober2014 Januari -November 2014 November 2014 Oktober2014 Januari -November 2014 November 2014 Oktober2014 Januari -November 2014 November 2014 Oktober2014 Januari -November 2014 Konflik 620 623 6.807 54 52 554 724 770 8.054 0 0 1 177 131 1.312 - Sumber Daya 78 70 786 15 13 132 55 67 1.049 0 0 0 37 18 307
- Tata Kelola Pemerintahan 90 40 456 1 0 1 140 75 454 0 0 0 12 14 168
- Pemilihan dan Jabatan 8 11 467 0 0 8 35 25 365 0 0 0 1 14 134
- Identitas 91 80 767 7 4 78 74 95 1.032 0 0 0 106 38 420
- Main Hakim Sendiri 333 393 3.952 31 31 282 401 480 4.779 0 0 1 17 45 252
- Separatisme 1 3 41 0 1 33 3 1 37 0 0 0 0 0 6
- Konflik Lainnya 19 26 338 0 3 20 16 27 338 0 0 0 4 2 25
Kekerasan dalam Penegakan
Hukum 141 186 1.667 15 21 180 152 212 1.936 0 0 0 0 0 2
Kriminalitas 1.064 1.372 15.142 122 157 1.599 703 874 9.105 173 216 3.269 62 93 663
KDRT 152 179 1.984 31 41 406 109 112 1.243 12 29 353 1 0 18
Total 1.977 2.360 25.600 222 271 2.739 1.688 1.968 20.338 185 245 3.623 240 224 1.995
Laporan Bulanan: November 2014
Data SNPK mencatat pada bulan November 2014 insiden-‐insiden konflik kekerasan yang mengemuka adalah:
Konflik Main Hakim Sendiri
v Konsisten pada bulan-‐bulan sebelumnya, konflik main hakim sendiri masih menempatkan urusan teratas. Data SNPK mencatat 333
insiden konflik main hakim sendiri yang telah mengakibatkan 31 tewas, 401 cedera dan 17 bangunan rusak. Selain itu, tercatat provinsi yang mengalami jumlah insiden tertinggi di bulan ini, diantarnya terjadi di Sumatera Utara [70 insiden] diikuti Jawa Barat [30 insiden] serta masing-‐masing [29 insiden] di Jawa Timur dan DKI Jakarta. Pemicu yang dominan dalam konflik main hakim sendiri terjadi karena pembalasan atas kasus-‐kasus pencurian atau perampokan [240 insiden dan 18 tewas].
v Dari sekian banyak insiden konflik main hakim sendiri, terdapat satu insiden yang mengemuka yakni bentrokan yang melibatkan dua
institusi keamanan negara. Insiden ini dilatarbelakang permasalahan ketersinggungan saat terjadi saling pandang dan adu mulut yang kemudian memicu bentrokan antara sejumlah oknum anggota Brimob Polda Kepri dengan oknum anggota Yonif 134/Tuah Sakti Batam. Akibat bentrokan ini, satu anggota Yonif 134/Tuah Sakti tewas tertembak dan seorang warga sipil cedera.
Konflik Sumber Daya
v Data SNPK mencatat insiden konflik sumber daya sebanyak 78 insiden kekerasan yang berdampak pada 15 tewas, 55 cedera dan 37
bangunan rusak. Adapun, pemicu yang paling dominan dalam konflik sumber daya di bulan ini adalah permasalahan atau sengketa lahan [33 insiden, 6 tewas, 17 cedera dan 33 bangunan rusak]. Tercatat juga provinsi yang mengalami insiden kekerasan tertinggi yakni Sumatera Utara [16 insiden], Jawa Barat [8 insiden] dan [6 insiden] masing-‐masing terjadi di Jawa Timur dan Maluku.
v Pada bulan ini konflik sumber daya yang mengemuka adalah pengerusakan yang dilakukan sejumlah massa di Kabupaten Buru,
Maluku yang mengakibatkan ratusan tenda dan cafe dirusak masa dalam aksi anarkis susulan di Desa UPT Wamsait di Kawasan Tambang Emas Gunung Botak. Insiden ini merupakan aksi balas dendam karena perseteruan antarpenambang yang menyebabkan dua orang tewas pada hari sebelumnya. Selain itu, terjadi beberapa insiden kekerasan terkait konflik antara warga dengan perusahaan yang terjadi di NTB dan Sulawesi Utara.
37 39 31 24 36 29 36 29 32 26 19 381 327 327 359 362 352 320 408 390 393 333 63 95 86 53 92 66 64 60 59 70 78 38 60 31 29 48 33 18 22 47 40 90 44 51 98 153 22 34 18 8 20 11 8 54 50 67 51 62 59 39 110 104 80 91 7 4 1 5 1 3 6 8 2 3 1 44 48 45 46 44 48 50 74 49 52 54 0 50 100 150 200 250 300 350 400 450 500 0 100 200 300 400 500 600 700 800
Jan-‐14 Feb-‐14 Mar-‐14 Apr-‐14 Mei-‐14 Jun-‐14 Jul-‐14 Aug-‐14 Sep-‐14 Okt-‐14 Nov-‐14
Jumlah insiden dan dampak Konflik Kekerasan (Januari -‐ November 2014)
Konflik Separa`sme Konflik Iden`tas Konflik Pemilihan dan Jabatan Konflik Tata Kelola Pemerintah Konflik Sumber Daya Konflik Main Hakim Sendiri Konflik Lainnya Tewas
Konflik Main Hakim Sendiri
v Konsisten dengan bulan-bulan sebelumnya, konflik main hakim sendiri masih menempati urutan teratas. Data SNPK mencatat 333 insiden konflik main hakim sendiri yang telah mengakibatkan 31 tewas, 401 cedera dan 17 bangunan rusak. Selain itu, tercatat provinsi yang mengalami jumlah insiden tertinggi di bulan ini adalah Sumatera Utara [70 insiden] diikuti Jawa Barat [30 insiden] serta masing-masing 29 insiden di Jawa Timur dan DKI Jakarta. Pemicu yang dominan dalam konflik main hakim sendiri adalah pembalasan atas kasus-kasus pencurian atau perampokan [240 insiden dan 18 tewas].
v Dari sekian banyak insiden konflik main hakim sendiri, terdapat satu insiden yang mengemuka yakni bentrokan yang melibatkan dua institusi keamanan negara. Insiden ini dilatarbelakangi rasa tersinggung saat terjadi saling pandang dan adu mulut yang kemudian memicu bentrokan antara sejumlah oknum anggota Brimob Polda Kepri dengan oknum anggota Yonif 134/Tuah Sakti Batam. Akibat bentrokan ini, satu anggota Yonif 134/Tuah Sakti tewas tertembak dan seorang warga sipil cedera. Konflik Sumber Daya
v Data SNPK mencatat insiden konflik sumber daya sebanyak 78 insiden kekerasan yang berdampak pada 15 tewas, 55 cedera dan 37 bangunan rusak. Adapun, pemicu yang paling dominan dalam konflik sumber daya di bulan ini adalah permasalahan atau sengketa lahan [33 insiden, 6 tewas, 17 cedera dan 33 bangunan rusak]. Tercatat juga provinsi yang mengalami insiden kekerasan tertinggi yakni Sumatera Utara [16 insiden], Jawa Barat [8 insiden] dan masing-masing 6 insiden terjadi di Jawa Timur dan Maluku.
v Pada bulan ini konflik sumber daya yang mengemuka adalah perusakan yang dilakukan sejumlah massa di Kabupaten Buru, Maluku yang mengakibatkan ratusan tenda dan cafe rusak dalam aksi anarkis susulan di Desa UPT Wamsait di Kawasan Tambang Emas Gunung Botak. Insiden ini merupakan aksi balas dendam karena perseteruan antarpenambang yang menyebabkan dua orang tewas pada hari sebelumnya. Selain itu, terjadi beberapa insiden kekerasan terkait konflik antara warga dengan perusahaan yang terjadi di NTB dan Sulawesi Utara.
Konflik Identitas
v Sepanjang bulan ini, tercatat 91 insiden kekerasan yang mengakibatkan 7 tewas, 74 cedera dan 106 bangunan rusak terkait konflik identitas. Sedangkan provinsi yang mengalami insiden kekerasan tertinggi, di antaranya adalah Sulawesi Selatan [19 insiden] diikuti Jawa Barat [11 insiden] dan DKI Jakarta [10 insiden]. Insiden konflik identitas yang terjadi di bulan ini lebih banyak dilatarbelakangi oleh permasalahan antarkampung/geografis [32 insiden, 3 tewas, 24 cedera, dan 102 bangunan rusak].
Data SNPK mencatat pada bulan November 2014 insiden-insiden konflik kekerasan yang mengemuka adalah:
v Insiden konflik identitas yang mengemuka pada bulan ini adalah bentrok antarkampung yang terjadi di Sulawesi Selatan dan Lampung. Di Sulawesi Selatan bentrok antarkampung terjadi secara beruntun melibatkan warga desa Bara-Baraya Timur, Kecamatan Makassar dengan warga Kelapa Tiga, Kelurahan Ballaparang, Kecamatan Rappocini, Kota Makassar. Bentrokan ini menelan dua korban tewas dan sedikitnya sembilan orang cedera, empat diantaranya adalah aparat keamanan. Sedangkan bentrok antarkampung di Lampung melibatkan ribuan warga Dusun I dan Dusun II di Desa Tanjung Harapan, Kecamatan Anaktuha, Kabupaten Lampung Tengah, yang dilatarbelakangi dugaan pembunuhan terhadap dua remaja dari salah satu dusun. Akibat bentrokan ini sedikitnya dua orang cedera, kurang lebih 95 rumah rusak, dan ratusan kepala keluarga mengungsi.
Konflik Tata Kelola Pemerintahan
v Data SNPK mencatat lonjakan yang signifikan baik dalam jumlah insiden dan dampak konflik tata kelola pemerintahan pada bulan ini dibandingkan bulan-bulan sebelumnya, yakni sebanyak 90 insiden kekerasan yang menyebabkan 1 tewas, 140 cedera dan 12 bangunan rusak. Insiden kekerasan yang mendominasi selama bulan ini dipicu terkait permasalahan harga komoditas atau subsidi [50 insiden, 1 tewas, 103 cedera dan 2 bangunan rusak].
v Insiden kekerasan terkait isu tata kelola pemerintahan didominasi oleh demonstrasi menolak kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) oleh mahasiswa yang berakhir ricuh yang terjadi di berbagai provinsi. Tercatat korban tewas akibat demonstrasi menolak kenaikan BBM terjadi di depan Kantor Gubernur Sulawesi Selatan di Makassar. Selain itu, tercatat korban cedera terbanyak terjadi di Gedung Radio Republik, Kota Pekanbaru, Riau yang mengakibatkan sebanyak 34 mahasiswa dilaporkan cedera akibat bentrok dengan aparat keamanan. Sedangkan di Bandung, Jawa Barat sejumlah mahasiswa dan polisi terlibat aksi saling dorong, bahkan suasana tambah memanas dan diakhiri dengan bentrokan yang mengakibatkan 14 orang cedera. Konflik Separatisme
v Tercatat 1 insiden kekerasan yang berakibat 3 cedera terkait konflik separatisme di Papua. Jumlah insiden konflik separatisme bulan ini terendah dibandingkan lima bulan sebelumnya.
v Insiden konflik separatisme yang terjadi bulan ini berupa aksi unjuk rasa yang dilakukan kurang lebih 300 anggota Komite Nasional Papua Barat (KNPB) di kawasan Terminal Monamani, Kecamatan Kamu, Kabupaten Dogiyai, Papua. Aksi ini merupakan bagian dari peringatan HUT ke-6 KNPB, yang kemudian menjadi ricuh. Kericuhan terjadi ketika para pengunjuk rasa memilih bertahan saat aparat keamanan meminta untuk membubarkan diri karena tidak memiliki izin. Sempat terdengar bunyi tembakan dari massa pengunjuk rasa yang kemudian dibalas oleh aparat keamanan. Diduga keras sebagian massa yang berdemonstrasi mempersenjatai diri dengan senjata api rakitan dan senjata tradisional. Akibat bentrokan ini tiga orang anggota KNPB mengalami cedera akibat terkena peluru karet dan 11 orang di antaranya ditangkap aparat keamanan TNI-Polri.
Konflik Pemilihan dan Jabatan
v Data SNPK mencatat 8 insiden kekerasan dalam konflik pemilihan dan jabatan yang berdampak pada 35 cedera dan 1 bangunan rusak. Tidak tercatat korban tewas dalam bulan ini dan insiden kekerasan yang terjadi mengalami penurunan yang signifikan dibandingkan dua bulan sebelumnya.
v Tercatat dua insiden kekerasan yang mengemuka dalam bulan ini. Pertama, demonstrasi menuntut pencopotan jabatan yang dilakukan sejumlah mahasiswa Universitas Negeri Papua (UNIPA), Kecamatan Manokwari Barat, Kabupaten Manokwari, Papua Barat. Para mahasiswa menuntut mundur Rektor UNIPA dan menuntut penjelasan pihak rektorat karena diduga telah terlibat dan membawa agenda politik saat melakukan kunjungan ke beberapa negara Uni Eropa. Aksi demonstrasi ini berakhir bentrok yang mengakibatkan sedikitnya tiga dosen dan 15 mahasiswa cedera. Kedua konflik internal Partai Golkar yang memicu terjadinya bentrokan antarkader. Bentrokan terjadi saat sejumlah kader Angkatan Muda Partai Golkar (AMPG) menolak digelarnya rapat pleno DPP Golkar yang membahas persiapan pelaksanaan Musyawarah Nasional (Munas). Bentrokan antarkader tersebut mengakibatkan sedikitnya 11 orang mengalami cedera dan puluhan sepeda motor menjadi sasaran perusakan.
Konflik Lainnya
Dalam kategori konflik lainnya - konflik kekerasan di mana pemicu atau motif belum/ tidak diketahui – tercatat 19 insiden kekerasan yang berakibat pada 16 cedera dan 4 bangunan rusak. Tidak tercatat korban tewas dalan insiden kekerasan terkait konflik lainnya.
Konflik Sumber Daya periode Januari - November 2014
Data SNPK mencatat 786 insiden konflik sumber daya yang telah menyebabkan 132 tewas, 1.094 cedera dan 307 bangunan rusak selama periode Januari – November 2014. Rata-rata per bulan terjadi 71 insiden dan 12 tewas pada periode ini. Jumlah insiden dan tewas tertinggi terjadi di bulan Februari [95 insiden] dan Maret [21 tewas]. Di periode ini, tercatat provinsi yang mengalami insiden kekerasan tertinggi adalah Sumatera Utara [117 insiden] diikuti Papua [54 insiden] dan Jawa Timur [52 insiden]. Pemicu tertinggi dalam konflik sumber daya di periode ini ialah permasalahan atau sengketa lahan [407 insiden, 80 tewas, 699 cedera dan 237 bangunan rusak].
Konflik Sumber Daya bulan November 2014
Di bulan ini, tercatat 78 insiden konflik sumber daya yang telah menyebabkan 15 tewas, 55 cedera, dan 37 bangunan rusak. Jumlah insiden dan tewas bulan ini sedikit mengalami peningkatan jika dibandingkan pada sebulan sebelum-nya. Pemicu terbanyak dalam konflik sumber daya di bulan ini adalah permasalahan atau sengketa lahan [33 insiden, 6 tewas, 17 cedera dan 33 bangunan rusak]. Adapun, provinsi yang mengalami insiden kekerasan tertinggi yakni Sumatera Utara [16 insiden], Jawa Barat [8 insiden] dan masing-masing 6 insiden di Jawa Timur dan Maluku (lihat Grafik dan Tabel Konflik Sumber Daya).
Insiden-insiden yang mengemuka di bulan November 2014
Insiden kekerasan pada bulan ini didominasi oleh persoalan konflik per-tambangan, konflik lahan, dan per- buruhan. Di Kabupaten Buru, Maluku, ratusan tenda dan cafe dirusak masa dalam aksi anarkis susulan di Desa UPT Wamsait di Kawasan Tambang Emas Gunung Botak. Insiden kekerasan ini berawal saat seorang penambang asal suku Bugis, Kabupaten Palopo, Sulawesi Selatan ditemukan tewas di Jalur A pada
tanggal 4/11/2014. Insiden kekerasan ini diduga adalah aksi balas dendam. Sehari sebelumnya, korban terlibat cekcok dan berujung perkelahian hingga menewaskan seorang penambang asal Kabupaten Buru. Pada hari yang sama, insiden tersebut memicu aksi massa dari rekan-rekan korban yang marah. Mereka membakar ratusan tenda-tenda dan tempat usaha milik masyarakat Bugis, serta beberapa cafe di Jalur A dan Jalur B. Polisi yang datang ke lokasi hanya mendapati puing-puing karena massa telah membubarkan diri.
Masih di Maluku Utara, pada tanggal 4/11/2014 ditemukan satu orang tewas diduga korban pembunuhan yang dipicu konflik tambang yang masih memanas. Korban ditemukan di Bendungan Desa Waelo, Kecamatan Waelata, Kabupaten Buru dengan sejumlah luka tikam. Di provinsi yang sama, terjadi bentrokan antara warga Desa Mede dengan Popilo, keduanya di Kecamatan Tobelo Utara, Kabupaten Halmahera Utara pada tanggal 12/11/2014. Bentrokan saling lempar batu dipicu sengketa pembagian lahan galian tipe C. Tidak ada korban jiwa karena polisi dibantu Kodim Tobelo berhasil mengendalikan situasi.
Konflik antara warga dengan perusahaan tambang PT Anugerah Mitra Graha (AMG) terjadi di Kabupaten Lombok Timur, NTB sebanyak dua kali, yang dipicu oleh penolakan sekelompok warga
terhadap kegiatan penambangan oleh PTAMG. Pada tanggal 8/11/2014 warga merusak satu eskavator dan papan nama perusahaan. Warga menilai perusahaan melanggar kesepakatan untuk tidak melakukan aktivitas apapun. Keesokan harinya, terjadi aksi yang lebih anarkis. Warga merusak dan membakar 12 Unit
magnetic separator, 3 basecamp, 1 unit generator, pipa dan selang. Tiga rumah
milik warga sekitar juga menjadi sasaran. Polisi yang mengamankan lokasi dibantu oleh Satpol PP tidak mampu meredam amuk massa ini.
Di Sulawesi Utara, insiden antara warga dengan perusahaan tambang PT JBRM juga terjadi dua kali di lokasi terpisah pada tanggal 13/11/2014. Di Kantor Bupati dan Kantor DPRD Bolaang Mongondow ratusan warga Desa Dumagin A dan Dumagin B berunjuk rasa menuntut pemerintah menerbitkan surat rekomendasi untuk menutup PT JRBM. Sempat terjadi bentrok dan lemparan batu, namun tidak ada korban. Di lokasi pertambangan, terjadi bentrok antara warga dengan aparat yang berupaya mengambil kembali bus milik perusahaan yang disita warga. Upaya petugas mengambil-alih bus perusahaan gagal karena warga yang emosi justru membakar bus tersebut. Penolakan warga terhadap kegiatan penambangan PT JBRM didasari klaim bahwa limbah pertambangan mencemari sungai.
K
onfliK
S
umber
D
aya
Jumlah insiden dan dampak Konflik Sumber Daya (November 2014)
Pemicu Insiden Tewas
Masalah Lahan 33 6
Masalah Sumber Daya Alam 11 3
Sumber Daya Buatan 6 2
Akses 17 4
Lingkungan 5 0
Gaji/upah/perburuhan 6 0
Sumber Daya Lainnya 0 0
Di lokasi tambang pasir di Kecamatan Tirtayasa, Serang, Banten, terjadi konflik kekerasan antara ribuan warga dengan para penambang ilegal. Warga yang telah lama menolak penambangan pasir di lokasi tersebut mendatangi sekelompok penambang dengan membawa golok, linggis, cangkul dan martil pada tanggal 30/11/2014. Mereka merusak dan membakar peralatan tambang pasir sedot ilegal di sepanjang aliran Kali Mati Pontang. Warga menghendaki penambangan ditutup karena mence-mari air sungai yang biasa mereka guna-kan untuk keperluan sehari-hari.
Adapun, insiden kekerasan akibat penertiban oleh pemerintah DKI Jakarta terjadi dua kali. Pada tanggal 21/11/2014, sekelompok pengemis dan pemulung yang terjaring razia Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS) oleh Dinas Sosial DKI Jakarta memilih melawan. Mereka melempari petugas dengan batu dan gir motor sehingga dua petugas terluka dan mobil dinas rusak. Razia terhenti dan petugas mengundurkan diri dari lokasi. Insiden lainnya adalah penggusuran lahan dan rumah di kawasan Waduk Ria-rio di Jakarta Timur. Warga yang menolak terlibat bentrok dengan sekitar 2.000 aparat gabungan Satpol PP, Sudin Kebersihan, Sudin Kebakaran, Sudin Perhubungan, Sudin Perindustrian dan Energi, Polisi dan TNI. Mereka melempari petugas dengan batu dan bom molotov. Massa dapat dibubarkan setelah petugas melepaskan tembakan gas air mata.
Petugas menahan warga yang kedapatan membawa senjata api.
Dua insiden kekerasan terkait isu perburuhan tercatat di Jawa Timur. Di Kabupaten Jombang pada tanggal 20/11/2014 terjadi demonstrasi ribuan buruh Pabrik Seng Fong menuntut kenaikan upah minimum yang berujung ricuh. Buruh bentrok dengan ratusan polisi yang menghalangi upaya mereka memasuki kawasan pabrik. Seorang buruh dan satpam luka, sedangkan beberapa motor rusak. Pada tanggal 11/11/2014, di Kabupaten Gresik terjadi perusakan oleh massa terhadap pabrik pupuk PT Hanampi Sejahtera Kahuripan (HSK) di Kawasan Industri Maspion. Massa mendobrak gerbang dan merusak bangunan pabrik pupuk untuk kelapa sawit tersebut. Massa juga mengeroyok
seorang satpam. Insiden diduga terkait dengan sengketa internal perusahaan. Data SNPK juga mencatat sejumlah insiden terkait sengketa lahan. Di Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara terjadi bentrokan antara petani penggarap dari Kelompok Tani Mekar Jaya dengan puluhan orang yang diduga dari perusahaan perkebunan PTPN II di Kecamatan Hamparan Perak. Ini adalah bentrokan susulan setelah sebelumnya kedua kelompok pernah terlibat bentrok beberapa bulan silam. Bentrokan kali ini diwarnai beberapa kali letusan senjata api, tapi tidak ada korban jiwa maupun luka. Bentrokan hanya menyebabkan sejumlah sepeda motor dan kaca rumah warga rusak. Sedangkan, konflik sesama petani penggarap lahan bekas miliki PTPN II terjadi di Desa Saentis, Kecamatan Percut Sei Tuan, Kabupaten Deli Serdang pada 7/11/2014. Puluhan petani penggarap menyerang petani penggarap dari kelompok lain. Para penggarap kabur namun salah satu di antaranya terjatuh dan menjadi bulan-bulanan para pelaku. Korban luka parah akibat sabetan kelewang. Polisi yang datang ke lokasi pascainsiden menangkap seorang pelaku dan masih memburu pelaku lainnya.
Insiden dan dampak Konflik Sumber Daya (Januari - November 2014)
Laporan Bulanan: November 2014
63 95 86 53 92 66 64 60 59 70 78 5 15 21 10 12 9 10 13 9 13 15 0 50 100 150 200
Jan-‐14 Feb-‐14 Mar-‐14 Apr-‐14 Mei-‐14 Jun-‐14 Jul-‐14 Aug-‐14 Sep-‐14 Okt-‐14 Nov-‐14
Insiden dan dampak Konflik Sumber Daya (Januari -‐ November 2014)
Insiden Tewas 1 2 1 3 1 2 8 6 2 2 1 3 6 2 3 3 2 1 1 2 4 4 1 1 16 1 2 2 2 3 1 1 3
Jumlah insiden dan tewas Konflik Sumber Daya berdasarkan provinsi (November 2014)
Inisden Tewas
Jumlah insiden dan tewas Konflik Sumber Daya berdasarkan provinsi (November 2014)
Laporan Bulanan: November 2014
63 95 86 53 92 66 64 60 59 70 78 5 15 21 10 12 9 10 13 9 13 15 0 50 100 150 200
Jan-‐14 Feb-‐14 Mar-‐14 Apr-‐14 Mei-‐14 Jun-‐14 Jul-‐14 Aug-‐14 Sep-‐14 Okt-‐14 Nov-‐14
Insiden dan dampak Konflik Sumber Daya (Januari -‐ November 2014)
Insiden Tewas 1 2 1 3 1 2 8 6 2 2 1 3 6 2 3 3 2 1 1 2 4 4 1 1 16 1 2 2 2 3 1 1 3
Jumlah insiden dan tewas Konflik Sumber Daya berdasarkan provinsi (November 2014)
Konflik Tata Kelola Pemerintahan periode Januari - November 2014
Sepanjang periode ini, insiden konflik tata kelola pemerintahan tercatat sebanyak 456 insiden kekerasan yang menyebabkan 1 tewas, 454 cedera, dan 168 bangunan rusak. Rata-rata jumlah insiden per bulan yang terjadi sebanyak 41 insiden. Di periode ini tercatat satu korban tewas di bulan November 2014, di mana sejak 10 bulan terakhir tidak pernah ada korban tewas. Jumlah insiden tertinggi terjadi di bulan November [90 insiden]. Dalam periode ini, insiden kekerasan terbanyak dipicu permasalahan program pemerintah terkait pengaduan dan komplain pelak-sanaan dan kebutuhan yang tidak terpenuhi [136 insiden, 136 cedera dan 56 bangunan rusak]. Selain itu, provinsi yang mengalami insiden tertinggi adalah NTB [41 insiden], Sulawesi Selatan [39 insiden] dan Sumatera Utara [36 insiden].
Konflik Tata Kelola Pemerintahan bulan November 2014
Di bulan ini, konflik tata kelola peme-rintahan mengalami lonjakan tertinggi baik dalam jumlah insiden maupun dampak dibandingkan pada bulan-bulan sebelumnya, yakni 90 insiden kekerasan yang menyebabkan 1 tewas, 140 cedera dan 12 bangunan rusak. Pemicu insiden didominasi isu harga komoditas atau subsidi [50 insiden, 1 tewas, 103 cedera dan 2 bangunan rusak] (lihat Grafik dan Tabel Konflik Tata Kelola Pemerintahan)
Insiden-insiden yang mengemuka di bulan November 2014
Insiden kekerasan terkait isu tata kelola pemerintahan didominasi oleh demons-trasi menolak kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) oleh mahasiswa yan berakhir ricuh. Demonstrasi yang ber-akhir dengan tewasnya seorang korban terjadi di depan Kantor Gubernur Sulawesi Selatan di Makassar pada 27/11/2014. Sekitar 50 mahasiswa menggelar aksi unjuk rasa menolak kenaikan harga BBM. Aparat kepolisian menghalau mahasiswa dengan menggu-nakan water canon dan kedua belah
pihak terlibat bentrokan. Pascabentrokan diketahui seorang warga tewas diduga akibat hantaman benda tumpul.
Salah satu demonstrasi yang menye-babkan tingginya korban luka terjadi di Gedung Radio Republik Indonesia, Kota Pekanbaru, Riau, pada tanggal 25/11/2014. Ribuan mahasiswa yang tergabung dalam Gerakan Rakyat Riau Menuntut (GERAM) yang berdemons-trasi menolak pengurangan subsidi BBM bentrok dengan polisi. Diawali saling dorong, mahasiswa kemudian melemparkan batu ke arah polisi dan dibalas dengan upaya pembubaran massa dengan menggunakan pentungan. Sebanyak 34 mahasiswa dilaporkan cedera akibat hantaman benda tumpul. Demonstrasi yang menyebabkan banyak korban luka juga terjadi di Bandung, jawa Barat pada tanggal 21/11/2014. Mahasiswa yang tergabung dalam HMI melakukan orasi di Gedung DPRD setempat lalu memaksa masuk ke Gedung DPRD. Mahasiswa dan polisi terlibat aksi saling dorong, bahkan suasana memanas dan diakhiri dengan bentrokan. Jumlah korban dalam insiden ini yaitu; 1 aparat cedera, 1 mahasiswa luka serius dan 12 mahasiswa mengalami luka-luka.
Aksi penolakan kenaikan harga BBM juga dilakukan oleh berbagai kelompok
mahasiswa di hampir seluruh provinsi di Indonesia yakni Banten, Bengkulu, DI Yogyakarta, Gorontalo, Jambi, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, Riau, Kepulauan Riau, Lampung, Maluku, Maluku Utara, NTB, Papua Barat, Sulawesi Tengah, Sulawesi Tenggara, Sumatera Barat, dan Sumatera Utara. Selain oleh massa mahasiswa, demons-trasi penolakan kenaikan harga BBM juga dilakukan oleh elemen buruh. Di Jawa Barat, ribuan buruh berdemo di depan pabrik Honda, di Kawasan Industri di Cikarang, Kabupaten Bekasi, menolak kenaikan harga BBM dan menuntut kenaikan upah minimum setempat pada tanggal 20/11/2014. Terjadi aksi saling pukul antara buruh dengan polisi ketika buruh mencoba menerobos pabrik untuk mengajak lebih banyak buruh untuk ikut berdemonstrasi. Polisi langsung menangkap 20 orang yang dianggap provokator.
Di Sulawesi Selatan, maraknya demons-trasi mahasiswa menolak kenaikan BBM memicu reaksi dari warga yang terganggu. Pada tanggal 18/11/2014 di depan Kampus Universitas Hasanuddin Makassar, terjadi bentrokan antara mahasiswa dengan sekelompok warga. Kejadian berawal ketika mahasiswa yang hendak berdemonstrasi menutup jalan raya di depan kampus. Sebagian warga
K
onfliK
t
ata
K
elola
P
emerintahan
Jumlah insiden dan dampak Konflik Tata Kelola Pemerintahan (November 2014)
Pemicu Insiden Cedera
Masalah Tender 2 2 Korupsi 4 1 Pelayanan Publik 9 2 Harga Komoditas/Subsidi 50 103 Program Pemerintah 15 27 Pemekaran Wilayah 1 0 Penegakan Hukum 9 5
Tata Kelola Pemerintahan Lainnya 0 0
7
yang terganggu menyerang mahasiswa hingga ke dalam kampus. Bentrokan tidak terhindarkan dan kedua pihak saling melempar batu dan bom molotov. Dalam insiden tersebut, sebanyak 15 sepeda motor dan satu gerai ATM terbakar. Warga juga merusak ratusan sepeda dan dua mobil milik mahasiswa. Selain itu, masjid yang berada di dalam kampus tak luput dari lemparan batu. Bentrokan dapat dibubarkan oleh aparat yang dibantu TNI. Akibat dari peristiwa ini tiga orang mengalami cedera. Selain demonstrasi menolak kenaikan harga BBM, SNPK juga mencatat satu insiden kekerasan yang dipicu kisruh pembagian Kartu Program Simpanan Keluarga Sejahtera (PSKS) di Kabupaten Rembang, Jawa Tengah. Pada tanggal 29/11/2014, pembagian Kartu PSKS di Desa Terjan, Kecamatan Kragan, Kabupaten Rembang diwarnai keributan. Seorang buruh serabutan memprotes karena ibunya tidak masuk ke dalam daftar penerima kartu bantuan kompensasi kenaikan harga BBM untuk
masyarakat miskin tersebut. Ketika petugas tengah membagikan kartu, pelaku merebut semua kartu dan memukuli korban dengan pentungan hingga cedera.
Insiden dan dampak Konflik Tata Kelola Pemerintahan (Januari - November 2014)
Laporan Bulanan: November 2014
Selain demonstrasi menolak kenaikan harga BBM, SNPK juga mencatat satu insiden kekerasan yang dipicu kisruh pembagian Kartu Program Simpanan Keluarga Sejahtera (PSKS) di Kabupaten Rembang Jawa Tengah. Pada tanggal 29/11/2014, pembagian Kartu PSKS di Desa Terjan, Kecamatan Kragan, Kabupaten Rembang diwarnai keributan. Seorang buruh serabutan memprotes karena ibunya tidak masuk ke dalam daftar penerima kartu bantuan kompensasi kenaikan harga BBM untuk masyarakat miskin tersebut. Ketiga petugas tengah membagikan kartu, pelaku merebut semua kartu dan memukuli korban dengan pentungan hingga cedera. 38 60 31 29 48 33 18 22 47 40 90 30 39 13 42 59 21 10 7 18 75 140 0 50 100 150 200
Jan-‐14 Feb-‐14 Mar-‐14 Apr-‐14 Mei-‐14 Jun-‐14 Jul-‐14 Aug-‐14 Sep-‐14 Okt-‐14 Nov-‐14
Insiden dan dampak Konflik Tata Kelola Pemerintahan (Januari -‐ November 2014)
Insiden Cedera
Jumlah insiden dan cedera Konflik Tata Kelola Pemerintahan berdasarkan provinsi (November 2014)
Laporan Bulanan: November 2014
Jumlah insiden dan dampak Konflik Tata Kelola Pemerintah (November 2014)
Pemicu Insiden Cedera
Masalah Tender 2 2
Korupsi 4 1
Pelayanan Publik 9 2
Harga Komoditas/ Subsidi 50 103
Program Pemerintah 15 27
Pemekaran Wilayah 1 0
Penegakan Hukum 9 5
Tata Kelola Pemerintahan Lainnya 0 0
Total 90 140 1 4 2 2 1 1 6 4 7 1 1 1 7 1 1 4 3 3 3 4 17 1 4 1 2 1 7 2 5 1 2 1 16 2 1 1 2 7 6 1 1 2 35 17 1 22 11 1 3
Jumlah insiden dan cedera Konflik Tata Kelola Pemerintahan berdasarkan provinsi (November 2014)
Konflik Pemilihan dan Jabatan periode Januari – November 2014
Data SNPK menghimpun sebanyak 467 insiden konflik pemilihan dan jabatan yang mengakibatkan 8 tewas, 365 cedera, dan 134 bangunan rusak sepanjang periode Januari – November 2014. April 2014 merupakan puncak tertinggi konflik pemilihan dan jabatan di mana tercatat sebanyak 153 insiden yang berdampak pada 3 tewas, 103 cedera, dan 40 bangunan rusak, yang sebagian besar terkait pemilihan legislatif. Dalam jumlah insiden dan dampak, Provinsi Aceh menempati urutan tertinggi [88 insiden, 4 tewas, 32 cedera, dan 30 bangunan rusak], diikuti Papua [30 insiden, 2 tewas, 26 cedera, dan 14 bangunan rusak] dan Jawa Timur [29 insiden, 17 cedera dan 3 bangunan rusak].
Konflik Pemilihan dan Jabatan bulan November 2014
Konflik pemilihan dan jabatan di bulan ini tercatat 8 insiden kekerasan yang berdampak pada 35 cedera dan 1 bangunan rusak. Tidak tercatat korban tewas dalam bulan ini. Jika dibandingkan pada dua bulan sebelumnya jumlah insiden kekerasan bulan ini mengalami penurunan (lihat Grafik dan Tabel
Konflik Pemilihan dan Jabatan).
Insiden-insiden yang mengemuka di bulan November 2014
Insiden konflik pemilihan dan jabatan yang mengemuka di bulan ini terkait isu perebutan jabatan partai politik di DKI Jakarta dan penuntutan mundur rektor di Papua Barat.
Di Kampus Universitas Negeri Papua (UNIPA), Kecamatan Manokwari Barat, Kabupaten Manokwari, Papua Barat sejumlah mahasiswa menggelar demonstrasi pada tanggal 4/11/2014. Aksi demonstrasi para mahasiswa ini menuntut mundur rektor UNIPA dan menuntut penjelasan pihak rektorat terkait kunjugan mereka ke beberapa negara di Uni Eropa. Para mahasiwa menduga rektor telah terlibat dan membawa agenda politik saat melakukan kunjungan tersebut.
Aksi mahasiwa yang semula damai berujung ricuh dan saling pukul dengan pihak rektorat yang mengakibatkan tiga dosen serta sedikitnya 15 mahasiwa mengalami cedera. Kericuhan ini reda setelah para pihak membubarkan diri. Di DKI Jakarta terjadi perseteruan internal di tubuh Partai Golkar yang berujung bentrokan pada tanggal 25/11/2014. Insiden kekerasan ini terjadi di kantor DPP Golkar di Jalan
Anggrek Neli, Kelurahan Slipi, Kecamatan Palmerah, Jakarta Barat saat sejumlah kader Angkatan Muda Partai Golkar (AMPG) menolak digelarnya rapat pleno DPP Golkar yang membahas persiapan pelaksanaan Musyawarah Nasional (Munas). Suasana makin terasa tegang ketika puluhan kader AMPG tandingan melakukan apel di kantor DPP Golkar yang kemudian memicu bentrokan antarkader.
Saling serang dan kejar antarkader reda setelah sebagian kader AMPG tandingan keluar dari kantor DPP Golkar. Akibat bentrokan ini tercatat sedikitnya 11 orang mengalami cedera dan puluhan sepeda motor rusak. Kisruh internal Partai Golkar ini kemudian melahirkan Presidium Penyelamat Partai.
K
onfliK
P
emilihan
Dan
J
abatan
Jumlah insiden dan dampak Konflik Pemilihan dan Jabatan (November 2014)
Pemicu Insiden Cedera
Pemilihan dan Jabatan Tingkat Nasional 1 1
Pemilihan dan Jabatan Tingkat Provinsi 0 0
Pemilihan dan Jabatan Tingkat Kab./Kota 2 1
Pemilihan dan Jabatan Tingkat Kecamatan 0 0
Pemilihan dan Jabatan Tingkat Desa/ Kelurahan 1 1
Terkait Jabatan/Pengaruh/Kekuasaan
di dalam Partai Politik 1 11
Jabatan Pemerintah Lain 1 18
Pemilihan dan Jabatan Lainnya 2 3
Laporan Bulanan: November 2014
Jumlah insiden dan dampak Konflik Pemilihan dan Jabatan (November 2014)
Pemicu Insiden Cedera
Pemilihan dan Jabatan Tingkat Nasional 1 1
Pemilihan dan Jabatan Tingkat Provinsi 0 0
Pemilihan dan Jabatan Tingkat Kabupaten/Kota 2 1
Pemilihan dan Jabatan Tingkat Kecamatan 0 0
Pemilihan dan Jabatan Tingkat Desa/Kelurahan 1 1
Terkait Jabatan/Pengaruh/Kekuasaan di dalam Partai
Politik 1 11
Jabatan Pemerintah Lain 1 18
Pemilihan dan Jabatan Lainnya 2 3 Total 8 35 10 6 11 15 8 3 18 22 24 29 9 3 1 1 6 13 14 25 15 30 12 9 3 23 6 6 24 88 1 11 21 1 2 1 4
Jumlah insiden dan tewas Konflik Pemilihan dan Jabatan berdasarkan provinsi (Januari -‐ November 2014)
Insiden Tewas
9
Insiden dan dampak Konflik Pemilihan dan Jabatan (Januari - November 2014)Jumlah insiden dan tewas Konflik Pemilihan dan Jabatan berdasarkan provinsi (November 2014)
Laporan Bulanan: November 2014
44 51 98 153 22 34 18 8 20 11 8 0 1 3 3 0 0 1 0 0 0 0 0 50 100 150 200
Jan-‐14 Feb-‐14 Mar-‐14 Apr-‐14 Mei-‐14 Jun-‐14 Jul-‐14 Aug-‐14 Sep-‐14 Okt-‐14 Nov-‐14
Insiden dan dampak Konflik Pemilihan dan Jabatan (Januari -‐ November 2014)
P
eta
i
nSiDen
K
onfliK
K
eKeraSan
K
abuPaten
/K
ota
(J
anuari
- n
ovember
2014)
Makassar (190 insiden) Palopo (53 insiden)
PROVINSI DKI JAKARTA
Jakarta Pusat (121 insiden)
Surabaya (138 insiden) Medan (407 insiden)
Deli Serdang (231 insiden)
Pematang Siantar (51 insiden) Pekanbaru (64 insiden)
Samarinda (111 insiden)
Banjarmasin (51 insiden)
Ternate (65 insiden)
Kota Sorong (63 insiden)
Ambon (54 insiden)
Kota Jayapura (86 insiden)
Mimika (107 insiden) Manado (170 insiden) Batam (130 insiden) Palembang (167 insiden) Bengkulu (61 insiden) Depok (65 insiden)
Kota Semarang (60 insiden)
Sleman (53 insiden)
Kab. Pasuruan (66 insiden)
Kota Kupang (55 insiden) Karawang (74 insiden)
Kab. Cirebon (55 insiden) Padang (71 insiden)
Jakarta Barat (83 insiden)
Jakarta Selatan (83 insiden)
0 – 5 6 – 25 26 – 50 > 50
Konflik Identitas periode Januari – November 2014
Sebanyak 767 insiden konflik identitas terjadi pada periode Januari – November 2014 dan telah menyebabkan sekurangnya 78 tewas, 1.032 cedera, dan 402 bangunan rusak. Pada periode ini, rata-rata per bulan terjadi 69 insiden dan 7 tewas. Bulan Agustus merupakan puncak tertinggi konflik identitas [110 insiden dan 17 tewas]. Provinsi yang mengalami insiden tertinggi adalah Sulawesi Selatan [108 insiden], diikuti Jawa Barat [79 insiden] serta Sulawesi Utara [60 insiden]. Sedangkan korban tewas terbanyak dialami Provinsi Jawa Barat [13 tewas], Papua [12 tewas] dan Sulawesi Selatan [8 tewas].
Konflik Identitas bulan November 2014
Insiden konflik identitas yang tercatat bulan ini sebanyak 91 insiden kekerasan yang mengakibatkan 7 tewas, 74 cedera dan 106 bangunan rusak. Jumlah insiden bulan ini tidak mengalami lonjakan berarti meski sedikit lebih tinggi diban-dingkan sebulan yang lalu, namun dampak bangunan rusak mengalami lonjakan tertinggi dibandingkan dengan bulan-bulan sebelumnya. Provinsi yang mengalami insiden tertinggi adalah Sulawesi Selatan [19 insiden] diikuti Jawa Barat [11 insiden] dan DKI Jakarta [10 insiden]. Selain itu, konflik identitas yang terjadi di bulan ini lebih banyak dilatarbelakangi oleh permasalahan antarkampung/geografis yakni sebanyak 32 insiden kekerasan yang menga-kibatkan sedikitnya 3 tewas, 24 cedera, dan 102 bangunan rusak (lihat Grafik dan Tabel Konflik Identitas).
Insiden-insiden yang mengemuka di bulan November 2014
Bentrok antarkampung marak terjadi selama bulan November 2014, beberapa di antaranya yang mengemuka terjadi di Sulawesi Selatan dan Lampung.
Di Sulawesi Selatan tercatat sebanyak 13 insiden konflik identitas yang dipicu permasalahan antarkampung. Bentrok antarkampung yang mengemuka terjadi
secara beruntun melibatkan warga Bara-Baraya Timur, Kecamatan Makassar dengan warga Kelapa Tiga, Kelurahan Ballaparang, Kecamatan Rappocini, Kota Makassar.
Kedua kelompok warga tersebut terlibat bentrokan pada tanggal 5/11/2014 di perbatasan kampung dengan meng-gunakan berbagai macam senjata. Saling serang antara kedua kelompok tidak terbendung Aparat kepolisian tidak berhasil melerai bentrokan karena jumlah aparat yang diturunkan tidak memadai. Bentrokan reda dengan sendirinya dan tidak tercatat korban jiwa.
Keesokan harinya, bentrokan kembali berulang di perbatasan kampung. Kali ini bentrokan makin menghebat. Kedua kelompok yang mempersenjatai diri dengan senapan angin, parang, badik dan busur saling serang dan kejar. Aparat kepolisian yang berada di lokasi tidak dapat membendung karena jumlah personil lebih sedikit. Lebih dari dua jam kedua kelompok warga saling lempar batu dan menyerang dengan busur serta senapan angin. Bentrokan mereda setelah sejumlah korban jatuh. Diketahui dua orang tewas, sedikitnya lima orang
mengalami cedera, dan sejumlah rumah warga rusak.
Usai kejadian itu kedua kelompok warga masih bersiaga untuk mengantisipasi aksi balas dendam menyusul tewas-nya dua warga dalam bentrokan. Tak membutuhkan waktu lama untuk keduanya kembali terlibat bentrokan. Pada tanggal 8/11/2014 sesaat setelah menguburkan jenazah korban bentrokan, sejumlah keluarga dan rekan korban menuntut balas dendam dan menyerang warga Kelapa Tiga dengan mempersenjatai dengan parang, senapan angin, dan busur. Sejumlah aparat keamanan gabungan TNI-Polri berhasil meredakan bentrokan. Akibat kejadian itu, dua anggota polisi dan satu anggota TNI mengalami cedera akibat terkena peluru senapan angin.
Sejumlah pihak berupaya memfasilitasi perdamaian dengan mengumpulkan tokoh-tokoh masyarakat dari kedua kubu untuk menghindari provokasi dan mengantisipasi bentrok susulan. Deklarasi damai kedua kelompok warga tercapai. Namun, upaya perdamaian yang sudah dicanangkan terusik dengan adanya penembakan busur oleh oknum tak dikenal yang menyebabkan anggota
K
onfliK
i
DentitaS
Jumlah insiden dan dampak Konflik Identitas (November 2014)
Pemicu Insiden Tewas
Antaretnis/suku 1 0 Antaragama 1 0 Intraagama 1 0 Antarkampung/desa 32 3 Antarpendukung Olahraga 17 0 Antarsekolah/kampus 21 1
Konflik antara migran/pengungsi dengan lokal 0 0
Konflik antara migran/pengungsi dengan etnis
tertentu 0 0
Gender 1 0
Konflik Identitas Lainnya 17 3
13
kepolisian terluka pada saat memberikan penyuluhan keamanan dan perdamaian. Sejauh ini, pihak kepolisian telah menangkap dan menetapkan seorang tersangka pelaku penembakan yang mengakibatkan dua orang tewas dalam bentrokan. Upaya penegakan hukum ini bagian dari komitmen perdamaian selain menempatkan beberapa anggota kepolisian di lokasi rawan bentrokan. Di Lampung terjadi satu insiden bentro-kan antarkampung yang melibatbentro-kan ribuan warga Dusun I dan Dusun II di Desa Tanjung Harapan, Kecamatan Anaktuha, Kabupaten Lampung Tengah pada tanggal 27/11/2014. Bentrokan ini bermula dari upaya sejumlah warga Dusun I yang mencari dua orang
warga-nya yang hilang sejak 23 November lalu, yang diduga kuat telah tewas dihakimi massa. Kedatangan mereka ke Dusun II bermaksud mencari tahu keberadaan kedua orang tersebut dan warga Dusun II mengaku tidak mengetahui nasib kedua remaja itu.
Di tengah upaya pencarian, di pos ronda milik Dusun II ditemukan bercak darah dan sandal milik dua remaja itu. Temuan ini memicu amarah warga Dusun I. Entah siapa yang memulai, sejumlah warga yang tidak terima atas dugaan pembunuhan ini langsung menyerbu pemukiman warga Dusun II. Warga Dusun II memberikan perlawanan dan terlibat saling serang dengan warga Dusun I. Dalam bentrokan terdengar suara tembakan dari senjata api rakitan
yang digunakan para warga. Mengetahui bentrokan makin membesar dan ber-langsung hingga dini hari itu, sebagian warga dari kedua dusun memilih mengungsi. Akibat bentrokan ini, sedi-kitnya dua orang cedera, kurang lebih 95 rumah milik kedua dusun hangus terbakar. Selain itu, dua unit traktor, lima unit motor dan satu unit mini bus ikut dirusak dan dibakar.
Situasi yang terus memanas menjadi reda setelah 2.000 aparat keamanan gabungan TNI-Polri datang ke lokasi. Inisiatif dan pendekatan yang dilakukan Bupati dan Wakil Bupati Lampung Tengah dibantu Danrem 043/ Garuda Hitam dan Kapolda Lampung mengakhiri bentrokan serta menghantarkan kedua pihak untuk berdamai. Di samping itu, pemerintah kabupaten Lampung Tengah akan membantu warga yang rumahnya hangus terbakar dan menjamin kea-manan sejumlah kepala keluarga yang mengungsi untuk kembali ke dusun masing-masing. Selain menetapkan tiga orang tersangka, aparat kepolisian juga telah menangkap dua pelaku yang diduga kuat membunuh dua remaja yang memicu bentrokan. Kedua pelaku yang sempat buron itu berhasil ditangkap di Blitar, Jawa Timur.
Edisi 11 | November, 2014
Jumlah insiden dan tewas Konflik Identitas berdasarkan provinsi (November 2014) Insiden dan dampak Konflik Identitas (Januari - November 2014)
Kecamatan Anaktuha, Kabupaten Lampung Tengah pada tanggal 27/11/2014. Bentrokan ini bermula dari upaya sejumlah warga Dusun I yang mencari dua orang warganya yang hilang sejak 23 November lalu, yang diduga kuat telah tewas dihakimi massa. Kedatangan mereka ke Dusun II bermaksud mencari tahu keberadaan kedua orang tersebut dan warga Dusun II mengaku tidak mengetahui nasib kedua remaja itu.
Ditengah upaya pencarian, di pos ronda milik Dusun II ditemukan bercak darah dan sandal milik dua remaja itu. Temuan ini memicu amarah warga Dusun I. Entah siapa yang memulai, sejumlah warga yang tidak terima atas dugaan pembunuhan ini langsung menyerbu pemukiman warga Dusun II. Mengetahui penyerbuan itu, warga Dusun II memberikan perlawanan dan terlibat saling serang dengan warga Dusun I. Dalam bentrokan terdengar suara tembakan dari senjata api rakitan yang digunakan para warga. Mengetahui bentrokan makin membesar dan berlangsung hingga dini hari itu, sebagaian warga dari kedua dusun memilih mengungsi. Akibat bentrokan ini sedikitnya dua orang mengalami cedera, kurang lebih 95 rumah milik kedua dusun hangus terbakar. Selain itu, dua unit traktor, lima unit motor dan satu unit mini bus ikut dirusak dan dibakar.
Situasi yang terus memanas menjadi reda setelah 2.000 aparat keamanan gabungan TNI-‐Polri datang kelokasi. Inisiatif dan pendekatan yang dilakukan Bupati dan Wakil Bupati Lampung Tengah dibantu Danrem 043/ Garuda Hitam dan Kapolda Lampung mengakhiri bentrokan serta menghantarkan kedua pihak yang bertikai memilih berdamai. Disamping itu, pemerintah kabupaten Lampung Tengah akan membantu warga yang rumahnya hangus terbakar dan menjamin keamanan sejumlah kepala keluarga yang mengungsi unyuk kembali ke dusun masing-‐masing. Selain menetapkan tiga orang tersangka dalam bentrokan ini, aparat kepolisian juga telah menangkap dua pelaku yang diduga kuat membunuh dua remaja yang memicu bentrokan. Kedua pelaku yang sempat buron itu berhasil ditangkap di Blitar, Jawa Timur.
54 50 67 51 62 59 39 110 104 80 91 9 9 4 1 3 7 10 17 7 4 7 0 50 100 150 200
Jan-‐14 Feb-‐14 Mar-‐14 Apr-‐14 Mei-‐14 Jun-‐14 Jul-‐14 Aug-‐14 Sep-‐14 Okt-‐14 Nov-‐14
Insiden dan dampak Konflik IdenVtas (Januari -‐ November 2014)
Insiden Tewas
Laporan Bulanan: November 2014
Jumlah insiden dan dampak Konflik Identitas (November 2014) Pemicu Insiden Tewas
Antaretnis/suku 1 0 Antaragama 1 0 Intraagama 1 0 Antarkampung/desa 32 3 Antarpendukung Olahraga 17 0 Antarsekolah/kampus 21 1
Konflik antara migran/pengungsi dengan lokal 0 0 Konflik antara migran/pengungsi dengan etnis tertentu 0 0
Gender 1 0
Konflik Identitas Lainnya 17 3
Total 91 7 1 1 3 10 1 11 1 4 2 4 5 1 8 5 2 1 1 19 1 1 3 2 2 2 1 1 2 2 1
Jumlah insiden dan tewas Konflik IdenVtas berdasarkan provinsi (November 2014)
Konflik Main Hakim Sendiri periode Januari – November 2014
Selama periode ini tercatat total 3.952 insiden konflik main hakim sendiri yang telah menyebabkan 282 tewas, 4.779 cedera, dan 252 bangunan rusak. Rata-rata terjadi sebanyak 359 insiden dan 25 tewas per bulan di periode ini. Puncak insiden dan tewas tertinggi terjadi di bulan Agustus [408 insiden dan 34 tewas]. Sedangkan provinsi yang me-ngalami jumlah insiden konflik main hakim sendiri tertinggi adalah Sumatera Utara [693 insiden], Jawa Timur [513 insiden] dan Jawa Barat [304 insiden]. Selain itu, korban tewas terbanyak dialami Jawa Barat [62 tewas] dan [31 tewas] masing-masing terjadi di Sumatera Selatan dan Sumatera Utara.
Konflik Main Hakim Sendiri bulan November 2014
Insiden konflik main hakim sendiri yang tercatat pada bulan ini sebanyak 333 insiden kekerasan yang mengakibatkan 31 tewas, 401 cedera dan 17 bangunan rusak. Dibandingkan pada dua bulan sebelumnya, jumlah insiden dan tewas bulan ini tidak mengalami penurunan yang berarti. Provinsi yang mengalami jumlah insiden tertinggi di bulan ini ialah Sumatera Utara [70 insiden] diikuti Jawa Barat [30 insiden] serta masing-masing 29 insiden di Jawa Timur dan DKI Jakarta (lihat Grafik dan Tabel
Konflik Main Hakim Sendiri).
Insiden-insiden yang mengemuka di bulan November 2014
Insiden aksi main hakim sendiri selama bulan ini lebih didominasi oleh pembalasan atas kasus-kasus pencurian atau perampokan [240 insiden dan 18 tewas] dan pembalasan atas penghinaan atau terkait harga diri [55 insiden dan 7 tewas]. Namun, tidak jarang aksi main hakim sendiri berubah menjadi bentrokan yang melibatkan banyak orang. Data SNPK menghimpun insiden aksi main hakim sendiri yang berujung bentrok sebanyak 15 insiden kekerasan yang berakibat 13 tewas, 18 cedera dan lima bangunan rusak.
Dari 15 insiden bentrokan yang disebabkan aksi main hakim sendiri tersebut, terdapat satu insiden yang mengemuka yakni terjadi di Kepulauan Riau di mana aksi main hakim sendiri yang dipicu rasa tersinggung menuai bentrokan antar dua aparatur negara yang melibatkan oknum anggota Yonif 134/Tuah Sakti Batam dengan Brimob Polda Kepri pada tanggal 19/11/2014.
Insiden bentrokan ini bermula dari saling pandang antara dua anggota Brimob Polda Kepri dengan dua prajurit Yonif 134/Tuah Sakti saat sedang mengisi bahan bakar minyak hingga terlibat adu mulut. Meski begitu, di antara mereka tidak terjadi kekerasan fisik karena keduanya langsung pergi. Tak lama kemudian sejumlah anggota Yonif 134/ Tuah Sakti mendatangi Mako Brimob di Jalan Trans Balerang, Tembesi, Batam untuk menanyakan keributan yang sempat terjadi di kios bensin itu.
Karena tidak puas, sejumlah oknum anggota Yonif 134/Tuah Sakti merusak kantor administrasi Mako Brimob. Situasi ini sempat diredam dengan adanya pertemuan dan mediasi yang dilakukan oleh Wagub Kepri, Danrem, dan Kasat Brimob. Namun, saat proses perdamaian dan mediasi berlangsung, sejumlah oknum anggota Yonif 134/Tuah
Sakti yang bermarkas tak jauh dari Mako Brimob mengepung Mako Brimob. Pengepungan itu membuat situasi makin memanas dan mencekam. Aksi saling tembak-menembak pun pecah antara oknum anggota Brimob Polda Kepri dengan Yonif 134/Tuah Sakti di sekitaran Mako Brimob Kepri. Hampir selama enam jam terjadi tembak-menembak dan baru berhenti setelah Panglima Kodam I/Bukit Barisan Mayor Jenderal Winston P. Simanjuntak datang ke lokasi bentrokan dan meminta pasukannya kembali ke barak.
Akibat bentrokan ini, dilaporkan satu anggota Yonif 134/Tuah Sakti tewas tertembak dan seorang warga sipil cedera terkena peluru nyasar. Atas insiden tersebut pemimpin TNI-Polri meminta maaf kepada masyarakat dan memastikan siapapun yang terlibat bentrokan akan ditindak tegas sesuai undang-undang yang berlaku. Sejauh ini, telah dibentuk tim investigasi TNI-Polri untuk bekerjasama mengungkap fakta-fakta. Hasil temuan tim investigasi ini, diharapkan nantinya akan menjadi salah satu landasan penyelesaian hukum dan mengungkap akar permasalahan yang sesungguhnya.
K
onfliK
m
ain
h
aKim
S
enDiri
Jumlah insiden dan dampak Konflik Main Hakim Sendiri (November 2014)
Pemicu Insiden Tewas
Masalah Harga Diri/Penghinaan 55 7
Kasus Kecelakaan 5 0
Masalah Utang-Piutang 2 1
Kasus Pencurian 240 18
Perselingkuhan 7 0
Pembalasan Atas Pengerusakan 1 1
Pembalasan Atas Penganiayaan 23 4
Melawan Maksiat 0 0
Melawan Santet 0 0
Main Hakim Sendiri Lainnya 0 0
Insiden dan dampak Konflik Main Hakim Sendiri (Januari - November 2014)
Laporan Bulanan: November 2014
381 327 327 359 362 352 320 408 390 393 333 21 19 14 25 28 26 24 34 29 31 31 0 50 100 150 200 250 300 350 400 450 500
Jan-‐14 Feb-‐14 Mar-‐14 Apr-‐14 Mei-‐14 Jun-‐14 Jul-‐14 Aug-‐14 Sep-‐14 Okt-‐14 Nov-‐14
Insiden dan dampak Konflik Main Hakim Sendiri (Januari -‐ November 2014)
Insiden Tewas 3 7 4 7 29 1 2 30 21 29 3 6 7 9 1 8 9 2 7 4 3 6 6 9 7 1 12 4 26 70 2 7 1 2 3 1 2 1 1 2 4 5
Jumlah insiden dan tewas Konflik Main Hakim Sendiri berdasarkan provinsi (November 2014)
Insiden Tewas
Laporan Bulanan: November 2014
381 327 327 359 362 352 320 408 390 393 333 21 19 14 25 28 26 24 34 29 31 31 0 50 100 150 200 250 300 350 400 450 500
Jan-‐14 Feb-‐14 Mar-‐14 Apr-‐14 Mei-‐14 Jun-‐14 Jul-‐14 Aug-‐14 Sep-‐14 Okt-‐14 Nov-‐14
Insiden dan dampak Konflik Main Hakim Sendiri (Januari -‐ November 2014)
Insiden Tewas 3 7 4 7 29 1 2 30 21 29 3 6 7 9 1 8 9 2 7 4 3 6 6 9 7 1 12 4 26 70 2 7 1 2 3 1 2 1 1 2 4 5
Jumlah insiden dan tewas Konflik Main Hakim Sendiri berdasarkan provinsi (November 2014)
Insiden Tewas
16
Konflik Separatisme periode Januari – November 2014
Data SNPK mencatat 41 insiden kekerasan terkait konflik separatisme yang berlangsung selama periode Januari – November 2014 dan telah menelan korban tewas 33 orang, melukai 37 lainnya dan 6 bangunan rusak yang terjadi di Papua dan Papua Barat. Di periode ini, kabupaten yang mengalami jumlah insiden dan tewas tertinggi adalah Kabupaten Puncak Jaya [14 insiden dan 10 tewas] dan Lanny Jaya [9 insiden dan 12 tewas]. Sedangkan puncak tertinggi insiden konflik sepa-ratisme terjadi di Agustus [8 insiden dan 8 tewas].
Konflik Separatisme bulan November 2014
Dibandingkan dengan lima bulan terakhir sepanjang periode Januari – November 2014, konflik separatisme pada bulan ini mengalami titik terendah yakni satu
insiden kekerasan yang berdampak pada tiga orang cedera yang terjadi di Papua. (lihat Grafik dan Peta Konflik Separatisme)
Insiden-insiden yang mengemuka di bulan November 2014
Tak ada baku tembak antara kelompok sipil bersenjata dengan aparat kea-manan yang mewarnai insiden yang terjadi pada bulan ini. Insiden kali ini berupa demonstrasi yang digelar oleh Komite Nasional Papua Barat (KNPB). Demonstrasi ini merupakan yang pertama kali terjadi selama periode Januari – November 2014 sebagaimana data yang dihimpun SNPK.
Sedikitnya 300 anggota KNPB melaku-kan demonstrasi di kawasan Terminal Monamani, Kecamatan Kamu, Kabu-paten Dogiyai, Papua pada tanggal 19/11/2014. Aksi unjuk rasa ini merupakan bagian dari peringatan
HUT ke-6 KNPB. Semula, aksi unjuk rasa berlangsung damai, namun saat aparat keamanan mengimbau massa membubarkan diri karena aksi tersebut tidak memiliki izin, simpatisan KNPB berusaha bertahan. Bentrokan keduanya tak dapat dihindarkan. Aparat keamanan gabungan TNI-Polri melepaskan tembakan peringatan ke udara untuk menghentikan aksi yang berubah menjadi anarkis. Dalam upaya pembubaran tersebut, terdengar tem-bakan dari kerumunan massa sehingga apara keamanan membalas ke arah bunyi tembakan. Diduga keras sebagian massa yang berdemonstrasi memper-senjatai diri dengan senjata api rakitan dan senjata tradisional.
Akibat bentrokan tersebut, tiga orang anggota KNPB mengalami cedera akibat terkena peluru karet dan 11 orang diantaranya berhasil ditangkap aparat keamanan TNI-Polri. Mengutip media lokal, insiden serupa juga terjadi di
K
onfliK
S
eParatiSme
Insiden dan dampak Konflik Separatisme (Januari - November 2014)
Laporan Bulanan: November 2014
Peta Konflik Separatisme berdasarkan insiden dan tewas di kabupaten/kota Papua dan Papua Barat (Januari -‐ November 2014)
7 4 1 5 1 3 6 8 2 3 1 7 1 1 6 1 2 4 8 2 1 0 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10
Jan-‐14 Feb-‐14 Mar-‐14 Apr-‐14 Mei-‐14 Jun-‐14 Jul-‐14 Aug-‐14 Sep-‐14 Okt-‐14 Nov-‐14
Insiden dan dampak Konflik SeparaVsme (Januari -‐ November 2014)