DI KOTA BOGOR
ERDI HUMEID
DEPARTEMEN GIZI MASYARAKAT
FAKULTAS EKOLOGI MANUSIA
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR
Levels of Hemoglobin at Pregnant Mother in Bogor City. Supervised by SITI MADANIJAH and YEKTI HARTATI EFFENDI
Levels of hemoglobin is one of the most common indicator used to determine the status of iron deficiency anemia, which is closely related by intake
of protein and iron that increased and must be adequate during pregnancy. The aim of study was to explain relationship between %RDA of protein and iron
with levels of hemoglobin at pregnant mother in Bogor City. The design of this study was cross-sectional study, and the number of samples were 45 pregnant women. The result of the research show that the anemia prevalence
was 22.2%. Consumption of animal foods as a source of iron was still low (60.3 g) it might for 68.8% of the samples had inadequate iron. Intake of vitamin C as a enhancer of iron bioavailability was 27.0 mg. This study has
shown that intake of heme iron (6.9 mg) was lower than the non-heme iron (10.4 mg). Most of sample on group anemia and non anemia has %RDA of energy and protein as a deficit level of heavy and then %RDA of vitamin A,
vitamin C, folic acid, and iron as a deficit. Results test correlation show there is no relation between %RDA of protein and iron with levels of hemoglobin (p>0.05)
Kadar Hemoglobin Ibu Hamil di Kota Bogor. Di bawah bimbingan SITI MADANIJAH dan YEKTI HARTATI EFFENDI
Kadar hemoglobin merupakan salah satu indikator paling umum yang digunakan dalam penentuan status anemia defisiensi zat besi yang sangat erat
kaitannya dengan asupan protein dan zat besi yang meningkat dan harus tercukupi selama masa kehamilan. Tujuan umum penelitian ini untuk
menjelaskan hubungan tingkat kecukupan protein dan zat besi dengan kadar hemoglobin Ibu hamil di Kota Bogor yang bertujuan khusus untuk
mengetahui: (1) status anemia, prevalensi anemia dan status gizi ibu hamil di wilayah penelitian; (2) karakteristik contoh berdasarkan umur, besar keluarga, pendidikan, pekerjaan dan pendapatan dengan status anemia;
(3) kebiasaan konsumsi pangan, asupan zat gizi serta tingkat kecukupan zat gizi
contoh, serta (4) menganalisis hubungan karakteristik contoh dan keluarga, nilai LILA, tingkat kecukupan energi, protein dan zat besi dengan kadar Hb.
Penelitian ini menggunakan sebagian data dasar Studi tentang Status
Gizi dan Pola Makan pada Wanita Pra-Hamil (Usia Subur), Ibu Hamil, dan Menyusui yang telah dilakukan oleh SEAFAST Center IPB menggunakan
data konsumsi pangan (recall 2X24 jam dan kuesioner frekuensi pangan (FFQ). Desain penelitian yang digunakan adalah cross sectional study. Lokasi penelitian di Kota Bogor, meliputi enam kecamatan (Kecamatan Bogor Utara, Selatan, Barat, Timur, Tengah, dan Tanah Serial. Contoh adalah 45 ibu hamil yang bermukim di enam kecamatan di Kota Bogor dengan kriteria meliputi (1) umur 20-40 tahun, (2) usia kehamilan trimester II (3-6 bulan), (3) pengeluaran rumah tangga berada pada kuintil-2, 3 dan 4.(Kuintil-2 Rp. 253.875- Rp.330.787), (kuintil-3 Rp.332.781-Rp.430.137), (kuintil-4 Rp.432.210-Rp.618.983) (SUSENAS 2009). Kemudian contoh diambil darahnya untuk dilakukan analisis kadar hemoglobin. Sebelum contoh diambil darahnya dikenakan kriteria sehat dinyatakan oleh dokter setelah dilakukan pemeriksaan klinis.
Data yang dikumpulkan meliputi data karakteristik contoh dan keluarga,
antropometri, konsumsi makanan, kebiasaan makan, pemeriksaan klinis, serta data status besi (hemoglobin). Semua data dimasukkan dan diolah
menggunakan program Microsoft Excel kemudian dianalis secara deskritpif. Selanjutnya dilakukan analisis secara inferensia dengan uji korelasi pearson
menggunakan SPSS 16.0 for windows
Hasil penelitian ini menyatakan bahwa sebanyak 77.8% contoh tidak menderita anemia, 22.2% menderita anemia tingkat ringan, serta tidak ada yang menderita anemia tingkat berat. Prevalensi anemia ibu hamil di wilayah penelitian sebesar 22,2%. Sebanyak 80.0% dari keseluruhan contoh tidak menderita KEK. Karakteristik Ibu hamil trimester ke II yang dikelompokan dalam dua kelompok (10 orang, 22.2%) anemia dan (35 orang, 77.8%) tidak anemia menunjukkan secara umum 55.6% dari keseluruhan contoh berumur antara 20.0-29.0 tahun dengan rata-rata umur 29.0 tahun. Sebanyak 40.0% contoh dari keseluruhan
berpendidikan SMA/sederajat namun terlihat sebanyak 80.0% contoh pada kelompok anemia berpendidikan SD/sederajat hingga SMP/sederajat. Secara umum 48.9% suami contoh berpendidikan SMA/sederajat. Sebanyak
86.7% dari keseluruhan berstatus tidak bekerja atau sebagai ibu rumah tangga. Seluruh suami contoh baik pada kelompok anemia maupun tidak anemia berstatus bekerja. Secara umum 66.7% dari keseluruhan contoh
tidak miskin.
Konsumsi pangan contoh didominasi oleh serealia dan pangan nabati beserta olahannya yang ditunjukkan dengan rata-rata konsumsi serealia sebesar 487 g dengan frekuensi konsumsi 3-4. kali sehari dan konsumsi pangan nabati
sebanyak 99.5 g per hari dengan frekuensi konsumsi sebanyak 3-4 kali sehari. Rata-rata asupan protein nabati dan zat besi non heme dari pangan nabati
sebesar 32.6 g dan 10.4 mg per hari. Konsumsi pangan hewani sebagai sumber protein hewani dan zat besi heme masih sedikit dikonsumsi oleh contoh yaitu sebesar 60.3 g dengan frekuensi konsumsi antara 1-2 kali seminggu dengan rata-rata asupan protein hewani dan zat besi heme sebesar 17.3 g dan 6.9 mg per hari. Konsumsi serealia, pangan hewani, pangan nabati, sayur dan buah
masih lebih rendah dibandingkan dengan ketetapan yang sudah ada. Rata-rata asupan contoh sebesar 1545.0 kkal energi, 49.9 g protein, 579.0 RE
vitamin A, 27.0 mg vitamin C, 187.0 µg asam folat , 12 mg seng, dan 17.3 mg zat besi. Hampir separuh (44.0%) contoh memiliki tingkat kecukupan energi defisit tingkat berat (TKE <70% AKE), 46.7% contoh memilki tingkat kecukupan protein defisit tingkat berat (TKP <70% AKP), 66.4% contoh kurang vitamin A, 91.1% contoh kuang vitamin C dan 95.5% contoh kurang asam folat, dan 68.8% contoh kurang zat besi (TKG <77%AKG).
Uji korelasi pearson menunjukkan karakteristik contoh dan keluarga, tingkat kecukupan energi, protein dan zat besi tidak berhubungan dengan kadar hemoglobin (p>0.05) melainkan nilai LILA yang berhubungan kadar hemoglobin (p<0.05)
DI KOTA BOGOR
ERDI HUMEID
Skripsi
Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Gizi
dari Program Studi Ilmu Gizi pada Departemen Gizi Masyarakat
DEPARTEMEN GIZI MASYARAKAT
FAKULTAS EKOLOGI MANUSIA
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2013
Nama Mahasiswa : Erdi Humeid
NIM : I14080072
Menyetujui,
Dosen Pembimbing I Dosen Pembimbing II
Prof. Dr. Ir. Siti Madanijah, MS dr. Yekti Hartati Effendi, S. Ked NIP. 1949 1130 197 603 2001 NIP. 1947 1029 197 901 2 001
Mengetahui,
Ketua Departemen Gizi Masyarakat
Dr. Ir. Budi Setiawan, MS NIP 19621218 198703 1 001
PRAKATA
Syukur Alhamdulillah penulis panjatkan kehadirat Allah SWT atas rahmatnya sehingga penulis dapat menyelesaikan penulisan skripsi yang menjadi syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Gizi. Skripsi ini berjudul “Hubungan Tingkat Kecukupan Protein dan Zat Besi (Fe) dengan Kadar Hemoglobin Ibu Hamil di Kota Bogor” untuk mengetahui tingkat kecukupan gizi ibu hamil di Kota Bogor yang utamanya adalah protein dan zat besi.
Penulis ucapkan terima kasih kepada Prof. Dr. Ir. Siti Madanijah, MS dan dr. Yekti Hartati Effendi, S.Ked selaku dosen pembimbing skripsi atas
bimbingan dan arahannya sehingga penulisan skripsi ini dapat selesai dengan baik. Ucapan terima kasih juga penulis sampaikan kepada kedua orang tua yang selalu memberikan do’a dan dukungan, serta teman-teman yang telah memberi bantuan dan semangat kepada penulis dalam menyelesaikan penulisan skripsi ini.
Semoga skripsi ini dapat memberikan manfaat bagi penulis dan masyarakat umumnya serta dapat memberikan kontribusi bagi perkembangan ilmu pengetahuan. Penulis menyadari bahwa penulisan skripsi ini masih banyak kekurangan oleh karena itu penulis membutuhkan saran dan kritikan dari berbagai pihak untuk kesempurnaan penulisan skripsi ini.
Bogor, Januari 2013
RIWAYAT HIDUP
Penulis dilahirkan dan dibesarkan di Jakarta pada tanggal 26 Juni 1990. Penulis merupakan anak ke-dua pasangan Bapak Entje Rahman dan Ibu Siti Rokayah. Pendidikan formal yang pertama kali ditempuh penulis adalah Taman
Kanak-kanak di TK Yayasan Rumah Kita, Jakarta Pusat pada tahun (1995-1996). Penulis menyelesaikan pendidikan dasar di Sekolah Dasar (SD) Republica de Venezuela, Jakarta Pusat, selama enam tahun (1996-2002).
Setelah itu penulis melanjutkan ke Sekolah Menengah Pertama Negeri (SMPN) 1 Jakarta, Jakarta Pusat selama tiga tahun (2002-2005). Kemudian
Penulis diterima di Sekolah Menengah Atas Negeri (SMAN) 3 Jakarta pada tahun 2005. Setelah lulus pada tahun 2008, penulis diterima di Departemen Gizi Masyarakat, Fakultas Ekologi Manusia (FEMA) IPB melalui jalur Undangan Seleksi Masuk (USMI) IPB.
Selama menjadi mahasiswa, penulis aktif dalam tim asisten praktikum mata kuliah biokimia gizi dan metabolisme zat gizi tahun 2010-2012 menjabat
sebagai ketua koordinator asisten, sempat menjabat sebagai staff Divisi Biro Pelaksana Harian Organisasi Dewan Perwakilan Mahasiswa (DPM) Fema
IPB 2010, Ketua Divisi Humas Organisasi Himpunan Pelajar dan Mahasiswa Bogor (HPMB) 2011, Penanggungjawab Anggota Kelompok (PAK) pada acara Masa Perkenalan Fakultas Ekologi Manusia 2010, ketua koordinator mahasiswa Kuliah Kerja Profesi (KKP) wilayah Kalimantan Selatan bekerja sama dengan PT Arutmin Indonesia 2011, staff Divisi Logistik dan Transportasi pada Seminar Nasional SENZASIONAL 2011, melaksanakan Internship Dietetik di RSUD Ciawi 2012, Ketua delegasi IPB sekaligus penyaji hasil karya tulis ilmiah dalam kegiatan Aceh Development International Conference di International Islamic University Malaysia, Gombak, Kuala Lumpur, Malaysia 2012. Penulis aktif di bidang penelitian dan pengembangan minuman alga coklat dalam kegiatan PKM 2012, dan sebagai asisten peneliti doctoral student of Tohoku University, Jepang, dalam penelitian agribisnis di Kabupaten Cianjur 2012. Penulis juga mengikuti seminar-seminar yang diadakan di kampus untuk menambah pengetahuan dan pengalaman.
UCAPAN TERIMA KASIH
Syukur Alhamdulillah penulis panjatkan kepada Allah SWT, sehingga penulis dapat menyelesaikan penulisan skripsi yang berjudul “Hubungan Tingkat Kecukupan Protein dan Zat Besi (Fe) dengan Kadar Hemoglobin Ibu Hamil di Kota Bogor” sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Gizi pada Mayor Ilmu Gizi, Departemen Gizi Masyarakat, Fakultas Ekologi Manusia, Institut Pertanian Bogor.
Keberhasilan penulis menyelesaikan penulisan skripsi ini tidak luput dari bantuan banyak pihak. Untuk itu penulis menyampaikan terima kasih kepada: 1. Prof. Dr. Ir. Siti Madanijah, MS dan dr. Yekti Hartati Effendi, S.Ked sebagai
dosen pembimbing yang selalu menyediakan waktu untuk memberikan bimbingan, motivasi, nasihat, dan arahan selama penyusunan skripsi.
2. Dr. Ir. Budi Setiawan, MS selaku Ketua Departemen Gizi Masyarakat, Fakultas Ekologi Manusia, Institut Pertanian Bogor.
3. Dr. Ir. Dodik Briawan, MCN sebagai dosen pemandu seminar dan dosen penguji yang memberikan saran dan masukan yang berharga baik pada waktu seminar maupun pada waktu sidang.
4. Para pembahas materi seminar (Tunggul Waloya, Yulmiaris Dwi Okto Putri, Mely Choirul Nurfitri dan Saumi Lil Hairi)
5. Yayasan Supersemar yang telah memberikan beasiswa selama penulis menempuh pendidikan.
6. Orang tua tercinta, Bapak Entje Rahman dan Ibu Siti Rokayah, serta kakak ku, Wira Rahmanda, SE dan Angietha Putri Prameswari, SE yang selalu mencurahkan kasih sayang, senantiasa berdoa, memberikan nasihat, dukungan moral maupun materil, motivasi, pengertian, kesabaran, dan perhatian yang tiada henti untuk diberikan kepada penulis.
7. Semua pihak yang tidak disebutkan namanya dalam kesempatan ini, namun tidak mengurangi rasa terima kasih penulis atas kerja sama dan bantuannya dalam menyelesaikan skripsi ini.
Semoga Allah SWT memberikan balasan kebaikan yang telah diberikan oleh semua pihak kepada penulis dalam menyusun skripsi ini.
DAFTAR ISI
DAFTAR TABEL ... .. ... ii
DAFTAR GAMBAR ... ... iii
DAFTAR LAMPIRAN . . ... iv PENDAHULUAN... ... ... 1 Latar belakang ... 1 Tujuan ... .... ... 2 Hipotesis... 3 Kegunaan penelitian ... 3 TINJAUAN PUSTAKA... 4
Anemia gizi besi pada ibu hamil ... 4
Penilaian status gizi besi... ... 8
Status gizi ibu hamil...10
Konsumsi pangan ibu hamil...11
Angka dan tingkat kecukupan gizi ibu hamil...16
KERANGKA PEMIKIRAN ... ...……18
METODE PENELITIAN……… ... ………20
Desain, tempat, dan waktu penelitian ... 20
Jumlah dan cara penarikan contoh……… .... 20
Jenis dan cara pengumpulan data ... 21
Pengolahan dan analisis data ... 23
Definisi operasional ... 25
HASIL DAN PEMBAHASAN……… ………27
Status anemia, prevalensi anemia dan status gizi ... 27
Karakteristik contoh dan keluarga……… ... 29
Kebiasaan konsumsi pangan contoh ... 34
Asupan dan tingkat kecukupan zat gizi contoh ... 39
Hubungan karakteristik contoh dan keluarga dengan kadar Hb... 44
Hubungan nilai LILA dengan kadar Hb ... 45
Hubungan TKE, TKP dan TKFe dengan kadar Hb ... 46
KESIMPULAN DAN SARAN……… ... ……49
Kesimpulan... 49
Saran……… ... 50
DAFTAR PUSTAKA ...51
LAMPIRAN... 56
DAFTAR TABEL
Halaman
Tabel 1 Nilai cut off Hemoglobin ... 10
Tabel 2 Kategori tingkatan status anemia. ... 10 Tabel 3 Rentang pengeluaran keluarga pada kuintil 1-5
(SUSENAS 2009) ... 20 Tabel 4 Jenis peubah dan cara pengumpulan data ... 22 Tabel 5 Jenis, kategori dan pengelompokan serta pengolahan
data ... 24 Tabel 6 Sebaran contoh berdasarkan tingkatan status anemia ... 27 Tabel 7 Sebaran contoh berdasarkan status gizi dan status
anemia ... 28 Tabel 8 Sebaran contoh berdasarkan umur dan status anemia ... 29 Tabel 9 Sebaran contoh berdasarkan tingkat pendidikan dan
status anemia ... 30 Tabel 10 Sebaran suami contoh berdasarkan tingkat pendidikan
dan status anemia ... 31 Tabel 11 Sebaran contoh berdasarkan status pekerjaan dan
status anemia ... 31 Tabel 12 Sebaran contoh berdasarkan status pekerjaan suami
dan status anemia contoh ... 31 Tabel 13 Sebaran contoh berdasarkan besar keluarga dan
status anemia ... 32 Tabel 14 Sebaran contoh berdasarkan besar
pendapatan/kapita/bulan dan status anemia ... 33 Tabel 15 Konsumsi pangan contoh ... 35 Tabel 16 Sebaran contoh berdasarkan kebiasaan konsumsi
berbagai kelompok pangan ... 37 Tabel 17 Sebaran contoh berdasarkan kebiasaan konsumsi
suplemen ... 38 Tabel 18 Sebaran contoh berdasarkan kebiasaan minum teh
dan kopi ... 39 Tabel 19 Asupan dan tingkat kecukupan zat gizi contoh ... 39 Tabel 20 Sebaran contoh berdasarkan TKG dan status anemia ... 40
DAFTAR GAMBAR
Halaman Gambar 1 Bagan kerangka pemikiran hubungan tingkat kecukupan
protein dan zat besi (Fe) dengan kadar hemoglobin ibu
hamil di Kota Bogor...19
DAFTAR LAMPIRAN
Halaman Lampiran 1 Hasil uji hubungan antar peubah dengan kadar
hemoglobin ... 56
PENDAHULUAN
Latar belakangSuatu bangsa dalam menghadapi pasar persaingan bebas di era globalisasi diperlukan sumberdaya manusia yang berkualitas. Pembentukan
sumberdaya manusia yang berkualitas dipengaruhi oleh banyak faktor. Gizi merupakan salah satu faktor yang sangat penting dalam pembentukan
kualitas sumberdaya manusia. Masalah gizi akan berdampak negatif pada sumberdaya manusia dan selanjutnya akan berpengaruh negatif terhadap perekonomian nasional (Depkes 2005).
Salah satu masalah gizi yang masih menjadi masalah kesehatan dunia adalah anemia pada masa kehamilan. Kehamilan merupakan hal yang diharapkan oleh setiap calon ibu. Namun pada kenyataannya ibu hamil merupakan salah satu kelompok yang paling rawan terhadap masalah pangan dan gizi (Rimbawan et al 2004). Masalah gizi di Indonesia yang dialami oleh ibu hamil sebelum atau selama masa kehamilan dapat mempengaruhi pertumbuhan janin yang sedang dikandung. Oleh karena itu diperlukan persiapan yang baik, sehingga kualitas bayi yang akan dilahirkan juga baik (Khomsan 2000). Menurut WHO, yang diacu dalam Aritonang (2010) menyatakan bahwa
prevalensi anemia secara global pada ibu hamil tahun 2000 sebesar 51.0%, di Indonesia 40.1% pada tahun 2001 (SKRT 2004), di Jawa Barat 51.7% pada
tahun 2002 (Dinkes Jabar 2003) serta di Kota Bogor sebesar 40.4% pada tahun 2002 (Darlina & Hardinsyah 2003). WHO (2001) menyatakan bahwa prevalensi anemia >20% menunjukkan adanya masalah kesehatan masyarakat.
Anemia merupakan salah satu gangguan yang paling sering terjadi selama kehamilan dengan kondisi kadar hemoglobin darah yang lebih rendah atau di bawah normal (Hb <11g/dL) (Wirakusumah 1998). Anemia secara fungsional didefinisikan sebagai penurunan jumlah massa sel darah merah (eritrosit) sehingga tidak dapat memenuhi fungsinya untuk membawa oksigen dalam jumlah yang cukup ke jaringan perifer (Bakta 2006). Anemia bisa disebabkan karena defisiensi zat gizi, kehilangan darah, atau adanya hemolisis yang berlebihan (Fatmah 2007). UNICEF (1998) menyebutkan bahwa penyebab lain anemia adalah infeksi akut dan kronis seperti malaria, HIV, serta diare kronis.
Anemia yang disebabkan karena defisiensi zat gizi (anemia gizi) merupakan jenis anemia yang paling sering terjadi (Fatmah 2007). Sebagian besar anemia gizi disebabkan oleh defisiensi besi, tetapi beberapa studi juga menyatakan bahwa defisiensi zat gizi mikro lainnya seperti protein, asam folat, vitamin A, vitamin C, dan vitamin B1, B3, B6, B9, B12 dapat menyebabkan anemia gizi. Berbagai vitamin dan zat gizi mikro tersebut berperan dalam
penyerapan besi dan pematangan sel darah merah (eritropoiesis) (Marcia et.al 2010). Anemia pada ibu hamil menurut Cheryl (1996) dalam Darlina
2003) disebabkan karena penurunan kadar haemoglobin (Hb) dan hematokrit (Ht) pada trimester 1 dan 2 sebagai akibat peningkatan volume plasma darah yang terjadi lebih dahulu dibandingkan produksi sel darah merah.
Menurut Muslimatun et.al (2000) anemia selama masa kehamilan dapat mengakibatkan ibu melahirkan bayi lahir prematur, bayi lahir dengan Berat
Badan Lahir Rendah (BBLR), pendarahan pada saat melahirkan sampai dengan kematian ibu. Pernyataan itu didukung oleh Allen et.al (2000) yang menyatakan rendahnya kadar hemoglobin yang terus menerus terjadi selama masa kehamilan berisiko ibu melahirkan bayi dengan berat badan lahir rendah (BBLR). Meskipun berbagai program telah dilakukan untuk menanggulanginya tetapi nampaknya angka prevalensi tidak mengalami penurunan secara bermakna. Masih cukup tingginya prevalensi anemia di Kota Bogor menjadi salah satu alasan penelitian ini dilaksanakan.
Tujuan Tujuan Umum
Menjelaskan hubungan tingkat kecukupan protein dan zat besi (Fe) dengan kadar hemoglobin ibu hamil di Kota Bogor.
Tujuan Khusus
1. Mengetahui status anemia, prevalensi anemia dan status gizi pada ibu hamil di wilayah penelitian.
2. Mengetahui karakteristik contoh dan keluarga berdasarkan sebaran status anemia.
3. Mengetahui kebiasaan konsumsi pangan, asupan zat gizi serta tingkat kecukupan gizi contoh.
4. Menganalisis hubungan karakteristik contoh dan keluarga dengan kadar hemogobin.
5. Menganalisis hubungan nilai LILA dengan kadar hemogobin.
6. Menganalisis hubungan tingkat kecukupan energi, protein dan zat besi (Fe) dengan kadar hemoglobin.
Hipotesis
Ada hubungan tingkat kecukupan protein dan zat besi (Fe) dengan kadar hemoglobin ibu hamil di Kota Bogor.
Kegunaan Penelitian
Memberikan informasi mengenai hubungan tingkat kecukupan protein, dan zat besi (Fe) dengan kadar hemoglobin ibu hamil di Kota Bogor guna
memberikan masukan kepada pelaksana dan penanggung jawab program gizi masyarakat Dinas Kesehatan Kota Bogor atau Pemerintah Daerah Kota
Bogor untuk dijadikan pedoman pembuatan kebijakan dalam pencegahan dan penanganan anemia pada ibu hamil, sehingga angka prevalensi anemia ibu hamil di Kota Bogor dapat terus diturunkan, dengan harapan akan meningkatnya kesejahteraan ibu dan anak sebagai sumberdaya pembangunan bangsa Indonesia.
TINJAUAN PUSTAKA
Anemia Gizi Besi pada Ibu HamilKehamilan merupakan hal yang diharapkan oleh setiap calon ibu. Namun pada kenyataannya ibu hamil merupakan salah satu kelompok yang paling rawan terhadap masalah pangan dan gizi (Rimbawan et al 2004). Kekurangan gizi pada ibu hamil mempunyai dampak yang cukup besar terhadap proses pertumbuhan janin dan anak yang akan dilahirkan. Kehamilan yang disertai oleh penyakit atau kondisi seperti diabetes melitus, penyakit jantung, anemia, usia remaja, dan vegetarian merupakan kehamilan berisiko tinggi.
Pengertian Anemia
Anemia adalah suatu keadaan dengan kadar hemoglobin yang lebih rendah dari nilai normal (Hb < 11g/dL) (Wirakusumah 1998). Anemia bisa juga berarti suatu kondisi ketika terdapat defisiensi ukuran / jumlah eritrosit atau kandungan hemoglobin. Anemia tidak pernah menjadi sebab utama dari suatu penyakit. Biasanya anemia selalu menjadi akibat sampingan dari keadaan patologis atau penyakit tertentu. Semakin rendah kadar Hb maka anemia yang diderita makin berat (Wirakusumah 1998). Pada ibu hamil peningkatan volume
plasma darah terjadi lebih dahulu dibandingkan produksi sel darah merah menyebabkan penurunan kadar Hb dan hematokrit pada trimester 1 dan 2
sedangkan pembentukan sel darah merah terjadi pada pertengahan akhir kehamilan sehingga konsentrasi mulai meningkat pada trimester 3 kehamilan (Cheryl 1996 diacu dalam Darlina 2003).
Klasifikasi anemia
Menurut Wirakusumah (1998), anemia secara morfologis dapat diklasifikasikan menurut ukuran sel dan hemoglobin yang dikandung seperti berikut. (1) Makrositik, (2) Mikrositik, dan (3) Normositik. Pada anemia makrositik ukuran sel darah merah bertambah besar dan jumlah hemoglobin tiap sel juga bertambah. Ada dua jenis anemia makrositik, yaitu anemia megaloblastik dan anemia non megaloblastik. Kekurangan vitamin B12, asam folat, atau gangguan sintesis DNA merupakan penyebab anemia megaloblastik. Sedangkan anemia non megaloblastik disebabkan oleh eritropoiesis yang dipercepat dan peningkatan luas permukaan membran.
Anemia mikrositik adalah anemia yang disebabkan oleh mengecilnya ukuran sel darah merah merupakan salah satu tanda anemia mikrositik. Penyebabnya adalah defisiensi besi, gangguan sintesis globin, porfirin, dan
heme, serta gangguan metabolisme besi lainnya. Sedangkan pada anemia normositik ukuran sel darah merah tidak berubah. Penyebab anemia jenis ini adalah kehilangan darah yang parah, meningkatnya volume plasma secara berlebihan, penyakit, penyakit hemolitik, gangguan endokrin, ginjal, dan hati.
Sebagian besar anemia di Indonesia disebabkan karena kekurangan zat besi (Fe) sehingga disebut Anemia Gizi Besi. Anemia gizi besi adalah anemia yang terjadi akibat kekurangan zat besi dalam darah. Artinya, konsentrasi hemoglobin dalam darah berkurang karena terganggunya pembentukan sel-sel darah merah akibat kurangnya kadar zat besi dalam darah. Semakin berat kekurangan zat besi yang terjadi akan semakin berat pula anemia yang diderita (Wirakusumah 1998). Anemia defisiensi gizi besi merupakan masalah kesehatan masyarakat yang serius. WHO (2001) memperkirakan sekitar 40.0% penduduk dunia terkena anemia defisiensi zat besi. Prevalensi tertinggi anemia pada ibu hamil secara global tahun 2000 sebesar 51.0% (Aritonang 2010), di Indonesia sebesar 40.1% pada tahun 2001 (SKRT 2004), di Jawa Barat sebesar 51.7% pada tahun 2002 (Dinkes Jabar 2003) serta prevalensi anemia ibu hamil di Kota Bogor tahun 2002 sebesar 40.4.0% (Darlina & Hardinsyah 2003). WHO (2001) menyatakan bahwa prevalensi anemia >20% menunjukkan anemia masih menjadi masalah kesehatan masyarakat.
Penyebab Umum Anemia Gizi Besi
Zat gizi yang paling berperan dalam proses terjadinya anemia gizi besi adalah zat besi. Defisiensi besi merupakan penyebab utama anemia gizi dibanding defisiensi zat gizi lain, seperti asam folat, vitamin B12, protein, vitamin, dan trace elements lainnya. Itulah sebabnya anemia gizi sering diidentikkan dengan anemia gizi besi. Wirakusumah (1998) menyatakan secara umum, faktor utama yang menyebabkan anemia gizi besi adalah;
1. Kurangnya konsumsi zat besi dan zat gizi lainnya yang berasal dari makanan terkait proses pembentukan sel darah merah. Apabila zat-zat gizi tersebut tidak terpenuhi kecukupannya berdampak terhadap kurangnya prosuksi sel darah merah dalam tubuh sehingga mengakibatkan anemia.
2. Tidak terpenuhinya kebutuhan zat besi selama masa kehamilan sebab rendahnya absorpsi zat besi yang ada dalam makanan ke dalam tubuh. Pangan protein nabati sebagai sumber zat besi non heme memiliki penyerapan yang lebih rendah dibandingkan dengan pangan protein hewani sebagi sumber zat besi heme. Zat besi non heme harus dibantu
penyerapannya dengan vitamin C. Oleh karena itu tingkat kecukupan vitamin C harus terpenuhi tingkat kecukupannya agar penyerapannya optimal
dan terhindar dari anemia.
3. Pendarahan mengakibatkan tubuh kehilangan banyak sel darah merah. Pendarahan dapat terjadi secara mendadak dan dalam jumlah banyak yang bisa disebut pendarahan ekternal dan terjadi pada waktu kecelakaan. Selain itu, pendarahan kronis juga dapat mengakibatkan kehilangan sel darah merah dalam jumlah banyak. Yang dimaksud pendarahan kronis adalah pendarahan yang sedikit demi sedikit, tetapi berlangsung secara terus menerus. Pendarahan jenis ini dapat disebabkan oleh kanker saluran pencernaan, wasir, atau peptik ulser.
4. Investasi cacing tambang pada masyarakat di daerah tertentu menyebabkan banyak darah yang keluar, karena cacing tambang menghisap darah. Selain itu, pada gadis remaja dan wanita dewasa, kehilangan darah dalam jumlah banyak bisa terjadi akibat menstruasi.
Faktor lain yang berpengaruh pada kadar hemoglobin ibu hamil selain dari konsumsi yaitu karena kehamilan berulang dalam waktu singkat, sehingga cadangan zat gizi ibu yang sebenarnya belum pulih akhirnya terkuras untuk keperluan janin yang dikandung berikutnya (Khomsan 2002). Berdasarkan Laporan SKRT (1985-1986) dalam Wijianto (2002) bahwa semakin rendah jumlah paritas, maka semakin rendah angka prevalensi anemia. Selain itu, usia ibu pada saat hamil akan mempengaruhi timbulnya anemia. Umur seorang ibu berkaitan dengan alat-alat reproduksi wanita. Sistem reproduksi wanita yang sehat dan aman berada pada umur 20.0-35.0 tahun. Kehamilan pada umur <20.0 tahun dan >35.0 tahun dapat menyebabkan anemia, karena kehamilan pada umur <20.0 tahun secara biologis belum optimal, emosinya cenderung labil, mentalnya belum matang sehingga mudah mengalami keguncangan yang mengakibatkan kurangnya perhatian terhadap pemenuhan kebutuhan zat-zat gizi selama kehamilannya. Sedangkan jika berumur >35 tahun terkait dengan
kemunduran dan penurunan daya tahan tubuh serta berbagai penyakit yang sering menimpa pada umur itu (Manuaba 1999). Apabila zat gizi yang dibutuhkan tidak terpenuhi maka akan terjadi kompetisi zat gizi antara ibu dengan bayinya (Wijianto 2002).
Ibu dengan pendidikan tinggi cenderung lebih memperhatikan kesehatan diri dan keluarganya. Sebaliknya ibu dengan tingkat pendidikan yang rendah menyebabkan kurangnya perhatian mereka akan bahaya yang dapat menimpa ibu hamil ataupun bayinya. Menurut Suhardjo (1989) dalam Permatahati (2012) menyatakan bahwa orang yang berpendidikan tinggi biasanya akan memilih untuk mengonsumsi makanan yang bernilai gizi tinggi sehingga kebutuhan gizi tetap terpenuhi. Pendidikan formal sangat penting dalam menentukan status gizi keluarga. Kemampuan baca tulis di pedesaan akan membantu dalam memperlancar komunikasi dan penerimaan informasi, dengan demikian informasi tentang kesehatan akan lebih mudah diterima oleh keluarga. Tristiyanti (2006) menyatakan bahwa tingkat pendidikan yang dicapai seseorang mempunyai hubungan nyata dengan prilaku gizi dari makanan yang dikonsumsinya.
Berat ringannya pekerjaan ibu juga akan mempengaruhi kondisi tubuh dan pada akhirnya akan berpengaruh pada status kesehatannya. Menurut Junadi (1998) dalam Permatahati (2012) ibu yang bekerja memiliki risiko anemia yang lebih besar dibandingkan dengan ibu yang tidak bekerja, hanya proporsinya tergantung pada beban kerja yang dimilikinya. Wijianto (2002) menyatakan bahwa ibu yang bekerja mempunyai kecenderungan kurang istirahat, konsumsi makan yang tidak seimbang sehingga mempunyai resiko lebih besar untuk menderita anemia dibandingkan ibu yang tidak bekerja.
Menurut Khumaidi (1989) dalam Tristiyanti (2006) status pekerjaan biasanya erat hubungannya dengan pendapatan seseorang atau keluarga. Ibu hamil yang tidak bekerja kemungkinan akan menderita anemia lebih besar dibanding dengan yang bekerja. Hal ini kemungkinan disebabkan pada ibu yang bekerja akan dapat menyediakan makanan terutama yang mengandung sumber zat besi dalam jumlah yang cukup dibandingkan ibu yang tidak bekerja. Biasanya dengan meningkatnya pendapatan perorangan, maka terjadi perubahan-perubahan dalam susunan makanan. Akan tetapi, pengeluaran uang yang lebih banyak untuk pangan tidak menjamin konsumsi pangan akan lebih beragam. Terkadang perubahan utama yang terjadi dalam kebiasaan makanan ialah pangan yang dimakan lebih mahal (Suhardjo 1989). Menurut Sediaoetama
(1996) pendapatan merupakan salah satu faktor yang menentukan kualitas dan kuantitas makanan, sehingga terjadi hubungan yang erat antara pendapatan dan gizi.
Dampak Anemia Gizi Besi pada Ibu Hamil
Wirakusumah (1998) menyatakan bahwa anemia gizi besi dapat berakibat fatal bagi ibu hamil karena ibu hamil memerlukan banyak tenaga untuk melahirkan. Ibu Hamil yang menderita anemia gizi besi tidak akan mampu memenuhi kebutuhan zat-zat gizi bagi dirinya dan janin dalam kandungannya. Oleh karena itu, keguguran, kematian bayi dalam kandungan, berat badan lahir rendah, atau kelahiran prematur rawan terjadi pada ibu hamil yang menderita anemia gizi besi.
Selain itu Depkes (1998) menyakatan anemia dalam kehamilan yang tidak diterapi dapat mengakibatkan pengaruh buruk pada ibu, persalinan dan janin. Pengaruh buruk bagi ibu antara lain (1) timbulnya gejala umum anemia yaitu lesu, lemah, letih, lalai dan lunglai (5L), (2) pendarahan saat melahirkan, (3) preeklampsi, (4) abortus, (5) kematian ibu dan (6) hipoksia akibat anemia dapat menyebabkan syok dan kematian ibu pada persalinan sulit (Depkes 1998). Muslimatun et.al (2000) menyatakan bahwa anemia pada masa kehamilah berdampak ibu berisiko melahirkan bayi lahir prematur, bayi lahir dengan berat
badan lahir rendah (BBLR), atau bayi lahir dalam keadaan meninggal Allen et al. (2000) juga menyatakan bahwa rendahnya kadar hemoglobin yang
terus menerus terjadi selama masa kehamilan berisiko ibu melahirkan bayi dengan berat badan lahir rendah (BBLR).
Penilaian Status Gizi Besi
Perkembangan defisiensi besi terbagi atas tiga tahapan. Tahapan defisiensi besi ini umumnya digunakan untuk menetapkan status besi di dalam tubuh seseorang dan menunjukkan tingkatan defisiensi besi yang terjadi (Briawan 2008). Tiga tahapan tersebut adalah perubahan besi pada simpanan, defisiensi besi tanpa anemia, dan defisiensi besi dengan anemia (Gibson 2005).
Tahap pertama terjadi ketika terjadi penurunan yang bersifat progresif simpanan besi di hati. Pada tahap ini, suplai besi ke dalam setiap bagian fungsional tubuh tidak terpengaruh dan hemoglobin dalam keadaan normal. Pada tahap ini, konsentrasi serum feritin menurun. Oleh karena itu, pengukuran serum feritin dapat digunakan untuk mengindikasikan adanya defisiensi besi tahap pertama (Gibson 2005).
Defisiensi tahap kedua ditunjukkan dengan habisnya cadangan besi dan adanya penurunan suplai besi ke dalam sumsum tulang sehingga produksi sel darah merah terganggu. Pada tahap ini juga terjadi penurunan kejenuhan transferin, dan kenaikan konsentrasi eritrosit protoporfirin (Gibson 2005), serta tingginya serum transferin reseptor (STfR) (WHO 2004 dalam Briawan 2008). Kadar hemoglobin mungkin mulai menurun, tetapi umumnya tidak jauh dari rentang normal (Gibson 2005).
Tahap ketiga merupakan tahap akhir dari defisiensi besi. Tahap ini ditandai dengan habisnya simpanan besi, penurunan kadar besi dalam sirkulasi, serta terjadi penurunan kadar hemoglobin dan hematokrit. Penurunan kadar hemoglobin dan hematokrit dapat dilihat dari ukuran sel darah yang lebih kecil dari normal (mikrositik) dan warnanya lebih pucat (hipokromik). Kondisi ini disebut sebagai anemia defisiensi besi dan sering disertai gejala-gejala terkait anemia (Gibson 2005).
Indikator yang dapat digunakan untuk menilai status besi yaitu kadar hemoglobin (Hb), serum transferin reseptor (STfR), serum feritin(SF), dan mean cell volume (MCV). Kombinasi antara pengukuran Hb dan serum feritin (SF) akan meningkatkan ketepatan dalam pengukuran status besi. Jika kedua indikator ini menunjukkan normal, berarti tidak terjadi defisiensi besi. Jika SF rendah dan Hb normal kemungkinan pada individu simpanan besinya berkurang (AISAP 2005 dalam Briawan 2008).
Penggunaan indikator serum feritin tidak dianjurkan pada populasi dengan kemungkinan infeksi tinggi karena keadaan infeksi mempengaruhi kadar serum feritin (WHO & CDC 2004 dalam Briawan 2008). Jika biaya menjadi kendala dalam penelitian maka Indikator Hb dapat digunakan tanpa pengukuran SF dan STfR (AISAP 2005 dalam Briawan 2008). Hemoglobin dapat digunakan untuk mengukur status besi pada beberapa populasi. Pemilihan indikator hemoglobin dengan alasan lebih sederhana dan membutuhkan biaya lebih rendah dibandingkan indikator lain (Gibson 2005). Berdasarkan WHO dan CDC (2004) dalam Briawan (2008), pengukuran kadar hemoglobin sangat penting untuk mengetahui tingkat keparahan dari defisiensi besi.
Salah satu metode pengukuran kadar hemoglobin yang biasa dilakukan
yaitu metode Cyanmethemoglobin. Merupakan salah satu metode untuk mengukur kadar hemoglobin menggunakan spektrofotometer
cyanmenthemoglobin dengan larutan drabkin yang diukur pada panjang gelombang 540 nm. Larutan drabkin berperan sebagai pengubah semua derivat hemoglobin menjadi cyanmethemoglobin yang berwarna merah. Tinggi rendahnya nilai absorbansi atau intensitas warna merah akan menentukan
kadar hemoglobin dari sampel. (Kee 2007). Tabel 1 berikut adalah cut off point kadar hemoglobin sebagai indikator anemia.
Tabel 1 Nilai Cutoff Hemoglobin
Umur (tahun) Nilai Cut off Hemoglobin untuk anemia (g/L)
Pria dan Wanita Pria Wanita
0,5-5 < 110 - - 5-11 < 115 - - 12-13 < 120 - - >14 (Pria) - 130 >14 (Wanita) - - <110 (hamil) <120 (tidak hamil) Sumber : Gibson (2005)
WHO (2005) menggolongkan tingkatan anemia ibu hamil dengan kategori normal, anemia ringan dan anemia berat. Nilai ambang batas yang digunakan untuk menentukan status anemia ibu hamil, didasarkan pada kriteria WHO tahun 2005 yang ditetapkan dalam tiga kategori dapat dilihat dalam Tabel 2 berikut.
Tabel 2 Kategori tingkatan status anemia ibu hamil
Tingkatan Anemia Kadar Hemoglobin (g/dL)
Normal ≥ 11
Ringan 8-10 g/dL
Berat < 8 g/dL
Sumber : WHO 2005
Status Gizi Ibu Hamil
Kelompok ibu hamil merupakan kelompok yang memerlukan pengukuran khusus dalam penentuan status gizinya. Penentuan status gizi menggunakan
Indeks Massa Tubuh (IMT) tidak berlaku pada kondisi fisiologis hamil. Oleh karena itu, status gizi ibu hamil ditetapkan dengan menggunakan
pengukuran Lingkar Lengan Atas (LILA) (Anggraeni 2012). Apabila nilai LILA <23.5 cm maka termasuk dalam kategori Kurang Energi Kronik (KEK) dan apabila nilai LILA ≥ 23.5 cm maka termasuk dalam kategori normal (Depkes 2001 yang diacu dalam Anggraeni 2012). Menurut Depkes (1994) bagi ibu hamil yang KEK mempunyai resiko lebih besar untuk melahirkan dengan Berat Bayi Lahir Rendah (BBLR). Selain itu ibu yang mengalami KEK yang telah melalui masa persalinan dengan selamat, akan mengalami masa pascapersalinan yang sulit
karena lemah dan mudah mengalami gangguan kesehatan. Hal ini akan menurunkan kemampuan merawat anak serta dirinya sendiri.
Konsumsi Pangan Ibu Hamil
Konsumsi pangan ibu hamil adalah jenis pangan yang dimakan oleh ibu hamil dengan tujuan tertentu pada waktu tertentu. Konsumsi pangan dimaksudkan untuk memenuhi kebutuhan individu secara biologis, psikologis, maupun sosial (Baliwati et.al 2004). Ada beberapa metode yang dapat digunakan untuk menilai konsumsi pangan, baik tingkat individu, keluarga, maupun masyarakat. Setiap metode masing-masing mempunyai kelebihan dan kekurangan. Oleh karena itu, metode yang akan digunakan untuk menilai konsumsi pangan harus dipilih yang paling relevan dan cocok dengan penelitian. Kombinasi antara metode yang satu dengan metode yang lain dapat dilakukan untuk memperoleh hasil yang lebih baik. Selain itu, dapat pula dilakukan modifikasi terhadap suatu metode yang digunakan dengan menyesuaikannya terhadap karakteristik masyarakat setempat (Kusharto 2010).
Penilaian konsumsi pangan individu dapat dilakukan dengan berbagai cara dan metode. Untuk menentukan kuantitas pangan yang dikonsumsi seseorang, metode yang dapat digunakan antara lain metode recall 24 jam, metode ulangan recall 24 jam, metode pencatatan makanan (food record), metode penimbangan makanan, dan metode riwayat makanan (dietary history). Sedangkan untuk menilai frekuensi jenis pangan yang dikonsumsi, metode yang dapat digunakan adalah menggunakan food frequency questionnaire (FFQ). Frekuensi konsumsi pangan ini dapat memberikan gambaran kualitatif tentang pola konsumsi pangan (Gibson 2005).
Kebiasaan makan adalah cara individu atau kelompok individu memilih pangan dan mengonsumsinya sebagai reaksi terhadap pengaruh fisiologik, sosial dan budaya (Sanjur 1982). Kebiasaan makan merupakan hasil interaksi anatar beberapa peubah yang terbentuk sejak kecil. Menurut Sanjur (1982), kebiasaan makan mencakup empat komponen : konsumsi pangan, preferensi terhadap makanan, ideologi (pengetahuan) terhadap makanan dan sosial budaya pangan. Menurut Khumaidi (1989) dalam Tristiyanti (2006), kebiasaan makan dapat dibedakan menjadi dua berdasarkan segi gizi, yaitu kebiasaan makan yang baik dan kebiasaan makan yang buruk. Kebiasaan makan yang baik adalah kebiasaan makan yang mendorong terpenuhinya kebutuhan gizi. Sedangkan kebiasaan makan yang buruk adalah kebiasaan makan yang
menghambat terpenuhinya kebutuhan gizi. Kebiasaan makan bahan makanan dari sumber protein dan zat besi berpengaruh terhadap proses pembentukan sel darah merah terkait dengan komponen pembentuk hemoglobin (Sayogo 2007). Pangan Sumber Protein, Fungsi dan Kaitannya dengan Status Anemia
Protein terdiri dari asam-asam amino. Protein atau asam amino esensial berfungsi terutama sebagai katalisator, pembawa, penggerak, pengatur, ekspresi genetik, neurotransmmitter, penguat struktur, penguat imunitas, dan untuk pertumbuhan (Sayogo 2007). Menurut Almatsier (2002), protein juga berfungsi mengatur keseimbangan air di dalam tubuh, memelihara netralisasi tubuh, membantu antibodi dan mengangkut zat-zat gizi. Protein memegang peranan esensial dalam mengangkut zat gizi dari saluran cerna ke dalam darah, dari darah ke jaringan, dan melalui membran sel ke dalam sel-sel.
Sumber protein berasal dari pangan hewani seperti susu, telur, daging, unggas, ikan, dan kerang, serta pangan nabati seperti kedelai dan produk olahannya seperti tempe, tahu dan kacang-kacangan lainnya (Almatsier 2002). Sayogo (2007) mengemukakan bahwa pada umumnya pangan hewani mempunyai mutu protein yang lebih baik dibandingkan dengan pangan nabati. Pangan protein hewani sebagai sumber zat besi heme yang penyerapannya lebih tinggi dibandingkan dengan protein nabati sebagai sumber zat besi non heme.
Pangan Sumber Zat Besi, Fungsi dan Kaitannya dengan Status Anemia Zat gizi besi (Fe) merupakan kelompok mineral yang diperlukan sebagai inti dari hemoglobin, unsur utama sel darah merah. Fungsi sel darah merah itu penting mengingat tugasnya antara lain sebagai sarana transportasi zat gizi terutama oksigen yang diperlukan pada proses fisiologis dan biokimia dalam setiap jaringan tubuh (Wirakusumah 1998). Besi merupakan mineral mikro yang
paling banyak terdapat di tubuh manusia dan hewan, yaitu sebanyak 3-5 di dalam tubuh manusia dewasa (Almatsier 2002).
Besi dalam makanan terdapat dalam bentuk besi heme seperti terdapat dalam hemoglobin dan mioglobin makanan hewani, dan zat besi non heme
dalam makanan nabati. Besi heme merupakan bagian kecil dari besi yang diperoleh makanan. Akan tetapi yang dapat diabsorbsi mencapai 25% sedangkan besi non heme hanya 5% (Almatsier 2002). Konsumsi pangan dapat menjadi faktor penyebab terjadinya anemia. Pangan yang dikonsumsi bila termasuk golongan protein hewani kaya akan zat besi, mampu memberikan
kontribusi terhadap kebutuhan tubuh akan zat besi. Bila pangan hewani dikonsumsi bersamaan dengan pangan yang mampu membantu penyerapan zat besi secara optimal didalam tubuh maka tubuh tidak akan mengalami kekurangan zat besi yang berdampak pada kejadian anemia.
Ketersediaan zat besi dalam suatu pangan (bioavailabilitas) berperan dalam pemenuhan kebutuhan zat besi, Monsen et.al (1978) dalam Permatahati (2012) menyatakan bahwa penyerapan zat besi pada suatu pangan akan optimal bila dikonsumsi bersamaan dengan pangan yang menjadi faktor pendorong
penyerapan zat besi. Pangan sumber zat besi terutama zat besi heme, yang bioavailabilitasnya tinggi sangat jarang dikonsumsi oleh masyarakat
berkembang, yang kebanyakan memenuhi kebutuhan besi mereka dari produk nabati (Achadi 2007). Menurut Almatsier (2002), makan besi heme dan non
heme secara bersama dapat meningkatkan penyerapan besi non heme. Daging, ayam, dan ikan mengandung suatu faktor yang membantu penyerapan besi. Faktor ini terdiri atas asam amino yang mengikat besi dan membantu penyerapannya. Susu sapi, keju, dan telur tidak mengandung faktor ini sehingga tidak dapat membantu penyerapan besi. Lebih lanjut (Alsuhendra 2005) menyebutkan bahwa polifenol seperti tanin dalam teh, kopi dan sayuran tertentu mengikat besi heme membentuk kompleks besi-tannat yang tidak larut sehingga zat besi tidak dapat diserap dengan baik.
Metabolisme Zat Besi (penyerapan, transportasi, penyimpanan)
Di dalam tubuh, besi disimpan dalam bentuk feritin atau hemosiderin dalam hati, limpa, dan sumsum tulang. Ferritin dan hemosiderin merupakan simpanan zat besi ada di hati dan sumsum tulang. Simpanan zat besi sebagai feritin dan hemosiderin sebanyak 30% dalam hati, sumsum tulang sebanyak 30% dan sisanya berada dalam limfa dan otot. Simpanan zat besi yang dapat dimobilisasi untuk keperluan tubuh berkisar 50 mg sehari (IOM-FNB 2001; Almatsier 2002)
Ferritin bersikulasi dalam darah mencerminkan simpanan besi di dalam tubuh. Pengukuran ferritin dalam serum merupakan indikator penting untuk menilai status besi. Jumlah zat besi di dalam tubuh bervariasi antara 0-1000 mg dimana jumlahnya pada wanita lebih rendah dari pria. Simpanan besi pada pria dewasa berkisar antara 500-1000 mg sedangkan pada wanita dewasa lebih rendah lagi dan jarang melebihi 500 mg. Wanita di negara berkembang banyak yang tidak mempunyai cadangan besi karena keterbatasan biologis rendah dan
sumber besi heme dalam makanan terbatas (O’Brien et al. 1999). Total besi pada manusia dipengaruhi oleh berat badan, jenis kelamin,
jumlah kompartemen, simpanan besi, dan konsentrasi Hb. Hemoglobin merupakan senyawa protein heme yang mengandung Fe++. Diperkirakan bahwa hemoglobin berisi lebih dari 65% zat besi tubuh. Hemoglobin berfungsi mengangkut oksigen melalui aliran darah dari paru-paru ke jaringan tubuh yang lain. Dalam keadaan normal 100 ml darah mengandung 15 gram Hb. Jumlah tersebut dapat mengangkut 0.03 gram oksigen. Perhitungan perkiraan penyerapan zat besi dapat didasarkan pola konsumsi makanan yaitu penyerapan zat besi tinggi (15%), penyerapan zat besi sedang (10%), dan penyerapan besi rendah (5%) (Gibson 2005).
Banyaknya zat besi yang dimanfaatkan untuk pembentukkan hemoglobin umumnya sebesar 20-25 mg per hari. Pada sumsum tulang yang berfungsi baik, dapat memproduksikan sel darah merah dan hemoglobin sebanyak enam kali. Zat besi yang berlebihan disimpan sebagai cadangan dalam bentuk ferritin dan hemosiderin di dalam sel parenkim hepatik, sel retikuloendotelial sumsum tulang, hati dan limfa. Eksresi zat besi sebanyak 0.5- 1.0 mg per hari yang dikeluarkan bersama-sama urin, keringat dan feses. Zat besi dalam hemoglobin dapat pula keluar dari tubuh melalui pendarahan, menstruasi, dan saluran urin. Siasanya dibawa ke bagian tubuh lain yang membutuhkan sedangkan kelebihan besi dapat mencapai 200-1500 mg disimpan sebagai protein ferritin dan hemosiderin di dalam hati (30%), sumsum tulang belakang (30%), dan selebihnya di dalam limfa dan otot (Mahan et.al 2004).
Pangan Sumber Vitamin A, Fungsi dan Kaitannya dengan Status Anemia Vitamin A dalam bentuk retinol terdapa pada makanan hewani seperti hati, kuning telur, krim, mentega, dan susu difortifikasi. Sedangkan dalam bentuk karoten terdapat pada makanan nabati yaitu sayuran berwarna hijau dan jingga, serta buah-buahan. Vitamin A berfungsi pada siklus penglihatan yaitu penyesuaian terhadap terang dan gelap serta berguna untuk pertumbuhan jaringan terutama kulit (Almatsier 2009).
Defisiensi vitamin A dapat menyebabkan mobilisasi cadangan Fe di dalam tubuh akan turun. Vitamin A berperan dalam memobilisasi cadangan Fe tubuh untuk dapat mensintesa Hb. Apabila jumlah vitamin A di dalam tubuh kurang, akan mempengaruhi status besi dengan menghambat penggunaan besi pada proses erythropoesis (Setiyobroto et.al 2004) dalam (Andriani 2012).
Pangan Sumber Vitamin C, Fungsi dan Kaitannya dengan Status Anemia Vitamin C banyak ditemukan pada cabe hijau, buah sitrus (jeruk lemon), strawberry, tomat, brokoli, lobak hijau dan sayuran hijau lainnya serta semangka. Salah satu fungsi vitamin C adalah membantu proses penyerapan zat besi non heme dari bahan pangan ke dalam tubuh dengan mereduksi bentuk besi ferro menjadi ferri agar lebih mudah diserap usus halus (Sayogo 2007). Apabila terjadi kekurangan vitamin C maka jumlah zat besi yang diserap tidak akan optimal sehingga persediaan zat besi dalam tubuh akan berkurang dan lambat laun menurunkan kadar hemoglobin darah sebagai salah satu indikator status anemia (Khomsan 2002).
Pangan Sumber Vitamin C, Fungsi dan Kaitannya dengan Status Anemia Asam folat banyak ditemukan pada sayuran berdaun hijau, hati ayam atau sapi, kacang merah, dan kedelai (Almatsier 2009). Asam folat berfungsi sebagai salah satu komponen pembentuk hemoglobin dalam proses pembentukan sel dalrah merah (Khomsan 2002). Ketika makanan sumber asam folat dimakan, asam folat yang tercerna kemudian dikirim ke hati. Hari menyimpannya sebagian dan mengirimkan sebagian lainnya ke sumsum tulang. Dalam sumsum tulang inilah asam folat digunakan untuk membuat sel darah merah (Khomsan 2002). Apabila terjadi kekurangan asam folat maka akan menghambat proses pembentukan sel darah merah yang berdampak terhadap penurunan kadar hemoglobin sebagai salah satu indikator anemia.
Pangan Sumber Seng (Zn), Fungsi dan Kaitannya dengan Status Anemia Seng banyak ditemukan pada daging, makanan laut seperti lobster, kerang, ikan, dan daging kepiting, kacang-kacangan dan produk olahan susu seperti yougurt dan keju (Almatsier 2009). Seng memegang peranan esensial dalam banyak fungsi tubuh. Sebagai bagian dari enzim atau sebagai kofaktor pada kegiatan lebih dari dua ratus enzim, seng memiliki peran dalam berbagai aspek metabolisme, seperti reaksi-reaksi yang berkaitan dengan sintesis dan degradasi karbohidrat, protein, lipida, dan asam nukleat. Sebagai bagian dari karbonik anhidrase dalam sel darah merah, seng berperan dalam keseimbangan asam basa di dalam tubuh. Peran penting lain dari seng adalah sebagai bagian integral enzim DNA polimerase dan RNA polimerase yang diperlukan dalam sintesis DNA dan RNA. Seng juga berperan dalam perkembangan fungsi reproduksi (Almatsier 2004).
Berdasarkan Whitney & Rolfes (2008) dalam Hardiansyah (2012) seng mempengaruhi penyerapan besi. Di dalam darah, seng juga dapat
berikatan dengan transferin (protein pengangkut yang berperan dalam pengangkutan besi di dalam darah). Dalam individu yang sehat, transferin biasanya kurang dari 50% jenuh terhadap besi, tetapi dalam keadaan berlebihan, kejenuhannya dapat meningkat. Diet dari makanan seharusnya mengandung porsi besi dua kali lebih besar dibandingkan dengan seng sehingga lebih sedikit transferin yang mengikat seng. Dengan demikian absorbsi seng akan lebih rendah. Jika diet menyediakan lebih besar seng daripada besi, maka penyerapan besi akan terhambat oleh seng.
Angka dan Tingkat Kecukupan Gizi pada Ibu Hamil
Gizi pada ibu hamil merupakan hal penting yang harus dipenuhi selama kehamilan berlangsung. Risiko akan kesehatan janin yang sedang dikandung dan ibu yang mengandung akan berkurang jika ibu hamil mendapatkan gizi yang seimbang. Bersama dengan usia kehamilan yang terus bertambah, makan bertambah pula kebutuhan gizi ibu hamil, khususnya ketika usia kehamilan memasuki trimester kedua. Pada saat trimester kedua, janin tumbuh dengan sangat pesat, khususnya mengenai pertumbuhan otak dan sistem syarafnya (Sayogo 2007).
Selama kehamilan, angka kecukupan zat gizi yang terkait dengan proses pembentukan hemoglobin seperti energi, protein, vitamin C, asam folat, zat besi dan seng pun meningkat berdasarkan acuan AKG 2004 dengan kondisi fisiologis
ibu hamil trimester ke II. Angka kecukupan gizi energi, protein, vitamin C, vitamin A asam folat, zat besi dan seng masing-masing sebesar 2100.0 kkal,
67.0 g, 85.0 mg, 800 RE, 600.0 µg, 26.0 mg dan 11.5 mg. Perhitungan asupan zat gizi seseorang dapat menggunakan Daftar Kecukupan Gizi (DKG) yaitu daftar yang memuat angka-angka kecukupan gizi rata-rata per orang per hari bagi orang sehat Indonesia. Angka Kecukupan Gizi (AKG) tersebut sudah memperhitungkan variasi kebutuhan individu, sehingga kecukupan ini setara dengan kebutuhan rata-rata ditambah jumlah tertentu untuk mencapai tingkat aman. AKG dapat digunakan untuk menilai tingkat kecukupan gizi seseorang (Hardinsyah & Briawan 1994).
Angka kecukupan gizi adalah taraf konsumsi zat-zat gizi esensial yang berdasarkan pengetahuan ilmiah dinilai cukup untuk memenuhi kebutuhan hampir semua orang sehat (Almatsier 2009). Namun, angka kecukupan ini
digunakan untuk berbagai keperluan yang sifatnya menyangkut populasi seperti merencanakan dan menyediakan suplai pangan untuk penduduk atau kelompok penduduk (Almatsier 2002). Penilaian untuk mengetahui tingkat kecukupan zat gizi dilakukan dengan membandingkan antar asupan zat gizi aktual (nyata) dengan angka kecukupan gizi yang dianjurkan. Hasil perhitungan kemudian dinyatakan dalam persen. Tingkat kecukupan zat gizi dirumuskan sebagai berikut menurut Hardinsyah & Briawan 1994:
Tingkat kecukupan energi dan protein dikategorikan menurut Depkes (1996) menjadi (1) defisit tingkat berat jika <70% AKG, (2) defisit tingkat sedang
jika 70-79% AKG, (3) defisit tingkat ringan jika 80-89% AKG, (4) normal jika 90-119% AKG dan (5) kelebihan jika ≥120% AKG. Sedangkan untuk zat gizi
mikro seperti vitamin dan mineral hanya dikategorikan menjadi dua yaitu kurang jika <77% AKG dan cukup jika ≥ 77% AKG (Gibson 2005).
Tingkat kecukupan zat gizi =
KERANGKA PEMIKIRAN
Karakteristik contoh diduga sebagai salah satu faktor yang mempengaruhi atau berhubungan dengan kejadian anemia pada ibu hamil. Pada penelitian ini karakteristik contoh meliputi usia ibu, pendidikan, pekerjaan pendapatan dan status gizi. Usia ibu pada saat hamil akan mempengaruhi timbulnya anemia. Selain usia ibu, usia kehamilan pun juga mempengaruhi kejadian anemia pada ibu hamil. Kebutuhan zat besi pada ibu hamil terus meningkat sesuai dengan bertambahnya usia kehamilan. Ibu yang mempunyai pendidikan tinggi lebih sedikit dipengaruhi oleh praktek-praktek tradisional yang merugikan terhadap ibu hamil terutama dalam hal kualitas maupun kuantitas makanan untuk konsumsi setiap harinya. Ibu hamil yang bekerja cenderung tidak menderita anemia dibandingkan dengan ibu yang tidak bekerja.
Karakteristik contoh tersebut pada akhirnya akan mempengaruhi konsumsi pangan. Konsumsi pangan akan mempengaruhi asupan energi, protein, zat besi serta zat gizi lainnya yang berperan dalam pembentukan hemoglobin. Apabila konsumsi pangan sumber zat gizi tinggi maka asupan zat gizi juga akan tinggi. Tingginya asupan zat gizi tersebut akan mempengaruhi tingkat kecukupannya.
Bioavailabilitas zat besi dipengaruhi oleh faktor penghambat dan pendorong penyerapan zat besi. Adapun faktor penghambat tersebut adalah asam fitat dalam serealia dan kacang-kacangan, tanin dalam teh, asupan kalsium yang berlebihan dan lain-lain. sementara itu faktor pendorong dalam penyerapan zat besi adalah vitamin C. Vitamin C dapat mereduksi besi ferri
menjadi ferro agar lebih mudah diserap.
Salah satu faktor yang mempengaruhi status anemia adalah konsumsi pangan yang terkait dengan nilai bioavailabilitas zat besi. Apabila bioavailabilitas zat besi tinggi maka ketersediaan zat besi didalam tubuh akan lebih banyak. Selain faktor konsumsi, status anemia pada ibu hamil juga dipengaruhi oleh jarak kehamilan, perdarahan dan penyakit infeksi. Secara keseluruhan, hubungan antar peubah disajikan pada Gambar 1.
Keterangan :
: peubah yang diteliti : peubah yang tidak diteliti
: hubungan antar peubah yang dianalisis : hubungan antar peubah yang tidak dianalisis
Gambar 1 Kerangka pemikiran hubungan tingkat kecukupan protein dan zat besi (fe) dengan kadar hemoglobin Ibu hamil di Kota Bogor.
Asupan Energi Protein dan Zat Besi
Faktor pendorong penyerapan zat besi
Faktor penghambat penyerapan Zat besi Tingkat Kecukupan
Energi, Protein dan Zat besi
Status anemia ibu hamil Kadar Hemoglobin
Konsumsi pangan sumber energi,
protein hewani (besi heme) dan nabati
(besi non heme)
Bioavailabilitas zat besi
Penyakit infeksi Perdarahan Jarak kehamilan
yang terlalu dekat Karakteristik contoh (umur, besar keluarga ,
pendidikan, pekerjaan, dan pendapatan) Angka Kecukupan Gizi (AKG) Status Gizi Nilai LILA Feritin
METODE PENELITIAN
Desain, Tempat, dan Waktu PenelitianPenelitian ini menggunakan desain cross sectional study dilaksanakan di Kota Bogor menggunakan data sekunder dari data dasar penelitian Status Gizi dan Pola Makan pada Wanita Pra-Hamil (Usia Subur), Ibu Hamil dan Menyusui di Kota Bogor yang telah dilaksanakan oleh SEAFASTCenter IPB. Contoh diambil dari enam kecamatan di Kota Bogor yaitu Kecamatan Bogor Utara, Bogor Selatan, Bogor Timur, Bogor Barat, Bogor Tengah, dan Tanah Sareal yang berlangsung pada bulan Agustus hingga Desember 2010.
Jumlah dan Cara Penarikan Contoh
Contoh dalam penelitian ini adalah Ibu hamil yang bermukim di enam
kecamatan di Kota Bogor dengan kriteria meliputi (1) umur 20-40 tahun, (2) usia kehamilan trimester kedua (3-6 bulan), (3) pengeluaran rumah tangga
berada pada kuintil-2, 3 dan 4. Kuintil adalah nilai yang menandai batas interval dari sebaran frekuensi yang berderet dalam lima bagian sebaran yang sama (Probohandojo 1989). Penentuan Kuintil dihitung berdasarkan tingkat sosial ekonomi keluarga yang didapat dari data SUSENAS 2009 pada Tabel 3 berikut.
Tabel 3 Rentang pengeluaran keluarga pada kuintil 1-5 (SUSENAS 2009)
Quintiles Kota Bogor (Rp/kap/bln)
Rentang Mean Q5 622,421 - 6,676,869 1,158,923 Q4 432,210 – 618,983 517,468 Q3 332,781 – 430, 137 378,730 Q2 253,875 – 330,787 295,701 Q1 127,869 – 247,698 213,570
Ukuran minimal calon contoh dihitung menggunakan rumus (Lemeshow
et al. 1997) : n ≥ (1-α)2 x P (1-P) d² n ≥ (1,96)2 x 0,5 (1-0,5) (0,1)² n ≥ 97 Ket :
n =Jumlah calon contoh yang akan dipilih
P = Perkiraan prevalensi anemia pada wanita hamil (50%) α = Batas kepercayaan (95%)
d = Batas toleransi kesalahan yang diinginkan (10%)
Tahap awal dikumpulkan sebanyak 203 calon contoh yang memenuhi kriteria tersebut diatas. Pelaksanaannya dibantu oleh oleh kader posyandu dengan cara mendatangi ke rumah-rumah ibu hamil di enam kecamatan Kota Bogor setelah mendapatkan izin dari puskesmas setempat. Tahap berikutnya
dilakukan penentuan ukuran minimal contoh untuk penelitian klinis yang
dihitung berdasarkan populasi minimal calon contoh (N): 97, menggunakan rumus (Lemeshow et.al 1997):
Z2α p (1-p) N n = --- d2(N-1) + Z2α p (1-p) (1,96)2 x 0,5 (1-0,5) 97 n = --- (0,1)2(97-1) + (1,96)2 x 0,5 (1-0,5) n= 49 ± 10 % keterangan:
n = ukuran contoh penelitian yang akan dipilih
Z2α = nilai peubah acak normal baku pada derajat kepercayaan (1,96) p = perkiraan prevalensi anemia pada ibu hamil (50%)
d = batas toleransi proporsi (10%)
N = populasi minimal calon contoh (97 orang)
Penentuan calon contoh untuk pemeriksaan biokimia darah dipilih diantara 203 calon contoh yang dinyatakan sehat oleh dokter dan bersedia diambil darahnya, diperoleh sejumlah 45 calon contoh. Seluruhnya dijadikan contoh dalam penelitian ini karena telah memenuhi ukuran minimal (49-10%).
Jenis dan Cara Pengumpulan Data
Seluruh data yang dikumpulkan merupakan data sekunder. Data tersebut meliputi data karakteristik contoh dan keluarga, konsumsi pangan, antropometri dan kadar hemoglobin contoh. Data karakteristik contoh dan keluarga contoh meliputi umur, besar keluarga, pendidikan, pekerjaan dan pendapatan dikumpulkan dengan cara wawancara menggunakan kuesioner terstruktur.
Data konsumsi pangan meliputi semua makanan dan minuman yang dikonsumsi oleh contoh diperoleh dengan melakukan recall 2x24 jam. Pengambilan data konsumsi dilakukan secara berturut-turut dengan tidak membedakan antara hari libur dengan hari kerja. Data konsumsi dan kebiasaan konsumsi pangan terdiri dari 12 kelompok pangan yaitu (1) serealia; (2) daging; (3) unggas (4) ikan; (5) telur; (6) susu; 7) kacang-kacangan; (8) sayuran ; (9) buah beserta produk olahannya (g); (10) Minuman (ml); (11) Makanan ringan
Data antropometri meliputi berat badan, tinggi badan dan Lingkar Lengan Atas (LILA) yang diukur secara langsung. Berat badan diukur dengan menggunakan timbangan injak, tinggi badan diukur menggunakan microtoise serta lingkar lengan atas (LILA) diukur menggunakan pita LILA / meteran jahit.
Jenis data status besi didapatkan dari hasil pemeriksaan biokimia darah dengan menggunakan analisa Hb sebagai salah satu indikator status anemia dengan metode Cyanmethemoglobin. Pemeriksaan dan analisis kadar hemglobin darah contoh dilakukan dengan cara mengambil specimen darah dari pembuluh darah vena menggunakan jarum suntik kurang lebih sebanyak 10-12 ml oleh analis kesehatan Laboratorium PRODIA Bogor.
Sebelum darah diambil, dokter umum mendeteksi calon contoh yang akan diambil darahnya dengan melakukan pemeriksaan klinis terhadap contoh seperti pengukuran suhu, tekanan darah, denyut nadi, dan kecepatan pernafasan. Contoh yang dinyatakan sehat oleh dokter yang dapat diambil darahnya. Tabel 4 berikut adalah daftar rinci data yang dikumpulkan :
Tabel 4 Jenis peubah dan cara pengumpulan data
No. Peubah Data yang dikumpulkan Cara pengumpulan
1 Karakteristik contoh dan keluarga
Umur Wawancara menggunakan
kuesioner terstruktur Besar keluarga Pendidikan Pekerjaan Pendapatan 2 Status Gizi (Antropometri)
Berat Badan (BB) Pengukuran Langsung
menggunakan timbangan injak,
microtoise, dan meteran jahit Tinggi Badan (TB)
Lingkar Lengan Atas (LILA)
3 Konsumsi
Pangan
Makan pagi, siang, malam dan selingan: a. Nasi (g), b. Lauk hewani (g), c. Lauk nabati (g), d. Sayur (g), e. Buah (g), f. Lainnya
Pengisian kuesioner Recall 2x24 jam dan Food Frequency
Questionaire (FFQ) 4 Pemeriksaan Klinis a. Suhu b. Tekanan darah c. Denyut nadi d. Kecepatan pernafasan Pengukuran langsung menggunakan termometer, tensimeter,stetoskop dan spirometer
5 Status Besi Kadar Hemoglobin dari hasil pemeriksaan biokimia darah
Dimabil spesimen darah dari pembuluh darah vena kurang lebih sebanyak 10-12 ml kemudian dianalisis di Laboratorium menggunakan metode Cyanmethemoglobin
Pengolahan dan Analisis Data
Data yang telah dikumpulkan kemudian diolah dengan melakukan proses
coding, entry, cleaning, dan analisis. Coding dilakukan dengan menyusun
code-book sebagai panduan entry dan pengolahan data. Setelah itu semua data di entri dan kemudian dilakukan cleaning data untuk memastikan bahwa tidak ada kesalahan dalam memasukkan data. Analisa data dilakukan dengan menggunakan program komputer Microsoft Excel 2007 dan SPSS 16 for
Windows. Hubungan antara peubah yang diteliti, dianalisis menggunakan uji korelasi pearson
Data karakteristik contoh dan keluarga contoh meliputi umur, besar keluarga, pendidikan, pekerjaan dan pendapatan. Umur contoh dalam penelitian
ini dikelompokkan dalam dua kelompok, yaitu 20-29 tahun dan 30-40 tahun. Data besar keluarga dikategorikan menjadi tiga yaitu : (1) keluarga kecil dengan
jumlah anggota keluarga ≤ 4 orang, (2) keluarga sedang 5-6 orang, dan (3) keluarga besar dengan jumlah anggota keluarga ≥ 7 orang (BKKBN 1998).
Data pendidikan contoh dan suami contoh dikelompokkan menurut
jenjang pendidikan yang pernah diperoleh yaitu (1) SD, (2) SMP, (3) SMA dan (4) Perguruan Tinggi (PT) yang kemudian dianalisis secara deskriptif. Data status pekerjaan contoh dan suami contoh dikelompokkan dalam 2
kelompok, yaitu: (1) bekerja dan (2) tidak bekerja. Data pendapatan/ kapita/
bulan dikategorikan dalam dua kategori yaitu; (1) Miskin (<Rp.278.530) dan (2) Tidak Miskin (≥Rp.278.530) berdasarkan garis kemiskinan Kota Bogor
tahun 2010 (BPS 2011).
Data konsumsi pangan diperoleh dari hasil recall 2x24 jam. Data yang telah didapat lalu dikonversikan kedalam satuan energi (kkal), protein (g), vitamin A (RE), vitamin C (mg), dan Fe (mg) dan seterusnya untuk zat gizi lainnya. Setelah jumlah asupan energi protein dan zat besi serta zat gizi lainnya diketahui maka tingkat kecukupan zat gizi pun dapat diketahui dari hasil pembagian antara asupan zat gizi aktual dengan angka kecukupan zat gizi tertentu kemudian dikali dengan seratus. Tingkat Kecukupan Gizi (TKG) dihitung menggunakan rumus menurut Hardinsyah dan Briawan (1994) adalah sebagai berikut :
Angka kecukupan energi, protein dan zat besi serta zat gizi lainnya diacu
Berdasarkan AKG 2004 dengan kondisi fisiologis ibu hamil trimester II, Angka kecukupan energi, protein, vitamin C, vitamin A, asam folat, zat besi dan seng adalah sebesar 2100.0 kkal; 67.0 g protein; 85.0 mg vitamin C; 800.0 RE
vitamin A; 600.0 µg asam folat, 35.0 mg zat besi dan 11.5 mg seng. Menurut Depkes (1996), tingkat kecukupan energi dan protein dikatakan (1) defisit tingkat berat jika <70% AKG, (2) defisit tingkat sedang jika 70-79%
AKG, (3) defisit tingkat ringan jika 80-89% AKG. (4) Normal jika 90-119% AKG dan (5) kelebihan jika >120% AKG. Sedangkan untuk zat gizi mikro seperti vitamin dan mineral hanya dikategorikan menjadi dua yaitu (1) kurang jika <77% AKG dan (2) cukup jika ≥ 77% AKG (Gibson 2005).
Status gizi menggunakan metode pengukuran Lingkar Lengan Atas (LILA) untuk menentukan ada tidaknya status gizi Kurang Energi Kronis (KEK). Jika panjang Lingkar Lengan Atas (LILA) < 23,5 cm maka ditetapkan menderita Kurang Energi Kronis (KEK) (Depkes 2001). Sedangkan tingkatan status anemia dibagi dalam tiga kategori, yaitu (1) normal (Hb ≥11g/dL), (2) anemia tingkat ringan (Hb 8-10 g/dL) dan (3) anemia tingkat berat (Hb < 8 g/dL) (WHO 2005).
Hubungan antara karakteristik contoh dan keluarga, LILA, tingkat
kecukupan energi, protein dan zat besi dengan kadar hemoglobin contoh dapat diketahui dengan menggunakan uji korelasi pearson agar dapat diketahui
ada tidaknya hubungan peubah independent (penyebab) dengan peubah
dependent (akibat). Tabel 5 berikut disajikan informasi mengenai jenis peubah, kategori dan pengelompokan, pengolahan serta analisis data yang digunakan.
Tabel 5 Jenis, kategori dan pengelompokan serta pengolahan data
No Peubah Kategori dan Pengelompokan
Peubah Acuan Baku Pengolahan
1 Umur a. 20-29 tahun Microsoft Excell 2007 b. 30-40 tahun 2 Tingkat pendidikan a. SD/sederajat b. SMP/sederajat c. SMA/sederajat d. PT 3 Status pekerjaan a. Bekerja b. Tidak bekerja 4 Besar keluarga a. Kecil (≤ 4 orang) BKKBN 1998 b. Sedang (5-7 orang) c. Besar (>7 orang) 5 Pendapatan/ kapita/bulan a. Miskin (<Rp.278.530) BPS 2011 b. Tidak Miskin (≥ Rp.278.530) 6 Status anemia a. Normal (Hb≥11 g/dL) WHO 2005 b Anemia ringan (Hb 8-9 g/dL) c. Anemia berat (Hb<8 g/dL)