• Tidak ada hasil yang ditemukan

INTISARI HENNY FEBRIANTY. Fakultas Psikologi Universitas Islam Indonesia

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "INTISARI HENNY FEBRIANTY. Fakultas Psikologi Universitas Islam Indonesia"

Copied!
20
0
0

Teks penuh

(1)

1

Fakultas Psikologi – Universitas Islam Indonesia

Penelitian ini bertujuan untuk menguji secara empiris hubungan antara keberfungsian keluarga terhadap kecerdasan emosional. Penelitian ini mengambil subjek ibu-ibu wali murid TK Ndasari Budi 2 Dusun Krapyak kulon, Pangungharjo, Sewon, Bantul. Sebagai sampel dalam penelitian ini akan diambil sebagian saja yaitu ibu-ibu wali murid untuk anak-anak TK B (TK Nol Besar). Penelitian ini menggunakan metode data kuantitatif dengan menguji aitem menggunakan teknik korelasi product moment atau dengan menggunakan bantuan program komputer SPSS 11.0 for windows.Hasil penelitian menunjukkan bahwa subjek penelitian secara keseluruhan memiliki tingkat keluarga yang berfungsi cukup baik. Subjek penelitian secara keseluruhan memiliki tingkat kecerdasan emosional sedang. Ada hubungan positif dan signifikan antara keberfungsian keluarga dengan kecerdasan emosional. Semakin positif keberfungsian keluarga semakin tinggi kecerdasan emsional dan semakin negatif keberfungsian keluarga semakin rendah kecerdasan emosional. Dengan demikian hipotesis yang menyatakan ada korelasi positif antara keberfugsian keluarga dengan kecerdasan emosional diterima.

A. Latar Belakang

Tuntutan kebutuhan hidup yang semakin tinggi, mangakibatkan kehidupan dalam keluarga sering dihadapkan dengan berbagai masalah, baik ekonomi maupun ketenangan keluarga itu sendiri. Untuk mampu menghadapi hal tersebut, maka diperlukan skill (keahlian) dalam diri seseorang, semua skill yang diperoleh tidaklah maksimal jika seseorang tidak mempunyai kecerdasan emosional yang baik (Kedaulatan Rakyat, 2006). Keluarga yang mempunyai anggota terdiri dari bapak, ibu dan anak, yang paling berperan dalam mengelola keluarga adalah ibu. Ibu rumah tangga merupakan tumpuan dari baik dan buruknya suatu keluarga. Menurut

(2)

Mappiare, dalam (Rifkha, 2004), suatu rumah tangga akan harmonis jika seorang ibu mampu memiliki kecerdasan dalam mengelola keluarga dan teladan terhadap anggota keluarga yang lain.

Seorang ibu sangat berperan dalam membentuk keluarga sakinah, dimana peran ibu yang baik yaitu yang dapat menciptakan seorang keturunan yang baik pula. Fenomena di masyarakat sekarang setiap ada masalah remaja atau anak baik kesehatan, pergaulan, pembelajaran dan sosial, maka orang pertama yang disalahkan adalah ibu. Hal ini menunjukkan bahwa peran ibu sangat berat dalam sebuah keluarga. Ibu sebagai tulang punggung keluarga dalam arti sebagai suri teladan, anak akan mematuhi segala aturan dan nasehat yang diberikan oleh orang tua apabila orang tua memberikan contoh terlebih dahulu. Ibu-ibu bekerja yang memiliki kecerdasan emosional tinggi, mereka dapat mencari waktu yang tepat bersama keluarga dan menghabiskan waktunya dengan bermanfaat, seperti membereskan rumah bersama, makan bersama, bercerita pengalaman selama ini, berjalan-jalan ditaman, semua ini untuk mewujudkan kebersamaan dan kehangatan serta lebih terbukanya komunikasi.

Sedangan ibu-ibu yang tidak cerdas atau memiliki kecerdasan emosional yang rendah, maka ibu-ibu hanya membiarkan keluarganya berjalan sendiri, tidak empati, serta tidak mampu memecahkan masalah dengan baik. Ibu yang demikian mementingkan dirinya sendiri dan tidak mampu mengelolah emosi dengan baik. Akibat yang ditimbulkan anak-anaknya mempunyai perilaku yang tidak sesuai dengan norma agama, sosial dan masyarakat seperti narkoba, pergaulan bebas, kenakalan remaja, anti sosial.

(3)

Goleman (2002) mengatakan bahwa individu yang tidak mampu mengontrol emosi seringkali merasa dikuasai oleh emosi dan tidak berdaya untuk melepaskan diri, akibatnya mereka sering marah dan tidak peka terhadap perasaannya. Individu merasa kalah karena tidak mempunyai kendali atas kehidupan emosional.

Ekspresi dari keluarga fungsional dapat terlihat lewat kasih sayang dan pengertian tulus, keterbukaan, rasa menghargai antar anggota keluarga yang didukung toleransi yang tinggi, kepedulian yang tinggi, pola komunikasi yang sehat serta adanya dukungan emosional dengan kadar yang proposional dalam membagi tugas atas hak-hak dan kewajiban masing-masing anggota keluarga. Adanya nilai-nilai yang dihasilkan dari kehidupan keluarga yang kondusif inilah yang diterima, diserap untuk kemudian dihayatinya secara mendalam oleh semua anggota keluarga, akan membentuk kecerdasan emosi individu. Kegiatan semacam ini oleh Frankl (2003) disebut sebagai penghayatan nilai-nilai (experiental values) yang merupakan bagian dari upaya untuk meningkatkan kecerdasan emosi. Pendapat ini ditegaskan oleh hasil penelitian Leath, dalam Agustina (2006) yang mengungkapkan bahwa interaksi dengan keluarga merupakan salah satu sumber pembentukan kebermaknaan hidup.

Selain itu, keluarga fungsional juga dapat menjadi wahana yang sangat potensial bagi keluarga untuk rnengembangkan nilai-nilai kreatif (creative values) yang juga merupakan salah satu jalan untuk pengembangan kecerdasan emosi (Frankl, 2003). Keluarga yang fungsional menunjukkan bahwa di dalamnya ada keterlibatan semua unit keluarga dalam berbagai aspek kegiatan keluarga, misalnya dalam proses pengambilan keputusan, memecahkan masalah serta pembagian tugas

(4)

dan tanggungjawab secara proposional. Bagi anggota keluarga, keterlibatannya dalam kegiatan seperti ini akan memberikan peluang dan kesempatan besar baginya untuk meningkatkan kecerdasan emosional. Keyakinan bahwa seorang ibu mampu memberikan sesuatu yang berarti dan berguna bagi kehidupan dikeluarganya akan memberikan perasaan yang positif dalam menjalani kehidupan berumah tangga.

Perasaan bahwa dirinya bermakna sebagai akibat dari keterlibatan aktifnya di kehidupan keluarga, akan mendorong seorang untuk senantiasa memberikan dedikasi terbaik bagi keluarga yang dicintainya serta kesungguhan dalam menjalani hidup demi menghasilkan sesuatu dengan kualitas terbaik sekaligus memberikan makna bagi kehidupannya secara umum, hal ini akan mampu membentuk individu menjadi mandiri, empati, taggung jawab dan mampu memecahkan masalah.

Menurut Agustina (2006) dari hasil penelitiannya menunjukkan keberfungsian keluarga mepunyai hubungan yang signifikan terhadap kebermaknaan hidup remaja. Mappiare, dalam (Rifkha, 2004), menegaskan bahwa remaja bermasalah disebabkan karena remaja kurang memiliki keberfungsian keluarga, yang tidak didukung oleh anggota keluarga, sehinggga mereka tidak cerdas dalam mengendalikan lingkungan dan emosinya.

Goleman (2002), kecerdasan emosi merupakan kemampuan seseorang untuk mengenali dan merasakan emosi yang dialami dengan mengendalikan dorongan hati dan tidak melebih-lebihkan kesenangan, maupun mengelolah emosi dengan mengatur suasana hati dan menjaga agar beban stres tidak melumpuhkan kemampuan berpikir, berempati, membina hubungan dengan orang lain. Kecerdasan emosi adalah

(5)

kemampuan merasakan memahami dan secara efektif menerapkan daya dan kepekaan emosi sebagai sumber energi informasi, koreksi dan pengaruh yang manusiawi (Agustian, 2005).

Rifkha (2004) menyatakan kemampuan mengontrol emosi sebagai salah satu bentuk kecerdasan emosional akan membantu seseorang untuk mengendalikan emosi dan dorongan dalam dirinya, sehingga ketika seseorang merasa emosi, maka emosi tersebut akan tetap dapat dikendalikan dan bahkan diarahkan ke arah yang positif.

Sadarjoen (2005) menyatakan aspek emosi merupakan seberapa jauh seseorang dalam mencapai prestasi sosial, yaitu pengakuan masyarakat akan kebaikan individu dalam masyarakat. Keberanian seseorang dalam menempatkan posisisnya yang tepat dilingkungan sosial, tanpa mengusik ketentraman lingkungan. Hal ini seseorang dituntut untuk memiliki kecerdasan emosional untuk dapat menempatkan posisi yang tepat di masyarakat.

Keluarga yang penuh dengan kehangatan kasih sayang dan mampu mengekpresikan perhatian dan penghargaan secara terbuka, akan memungkinkan individu untuk mengembangkan rasa percaya terhadap lingkungan dan memberinya kesempatan luas untuk berkembang secara baik. Lingkungan keluarga menjadi lahan untuk mengembangkan berbagai kemampuan melalui pengalaman-pengalaman sehari-hari di dalam keluarga.

Dengan uraian di atas penulis bertujuan untuk mengungkap kerberfungsian keluarga dapat membentuk anggota keluarga yang memiliki kecerdasan emosional yang baik.

(6)

B. Metode Penelitian 1. Subyek Penelitian

Populasi dalam penelitian ini adalah ibu-ibu wali murid TK Ndasari Budi 2 Dusun Krapyak kulon, Pangungharjo, Sewon, Bantul. Sebagai sampel dalam penelitian ini akan diambil sebagian saja yaitu ibu-ibu wali murid untuk anak-anak TK B (TK Nol Besar).

2. Metode Pengumpulan Data

Dalam penelitian ini menggunaka skala sebagai metode pengumpulan data yang diperlukan. Metode ini mempunyai beberapa alasan yaitu:

a. Subjek adalah orang yang paling mengerti tentang keadaan dirinya sendiri.

b. Apa yang dinyatakan oleh subjek pada peneliti adalah benar dan dapat dipercaya.

c. Interprestasi subjek tentang pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh peneliti sama dengan apa yang dimaksudkan oleh peneliti.(Hadi,2000). Data dalam penelitian diperoleh dengan menggunakan :

Pengumpulan data pada penelitian ini dilakukan dengan menggunakan skala kecerdasan emosional yang diadopsi dari teori Reuven Bar-On (Stein and Book, 2000) dan dimodofikasi oleh penulis, yang dibuat oleh peneliti skala ini terdiri dari 30 butir pertanyaan yang merupakan menifestasi 15 aspek yang menunjukkan kecerdasan emosional yaitu kesadaran diri, sikap asertif,

(7)

kemandirian, penghargaan diri, aktualisasi – diri, empati, tanggung jawab sosial, hubungan antarpribadi, pemecahan masalah, uji-realitas, sikap fleksibel, ketahanan menanggung stress, pengendalian impuls, kebahagiaan, optimisme

Alternatif jawaban yang disediakan berjumlah 4, yaitu sangat setuju (SS), setuju (S), tidak setuju (TS), dan sangat tidak setuju (STS), sehingga penilaian aitem yang favorable akan bergerak dari nilai 1, 2, 3, dan 4. Pada butir pertanyaan favorable maka skor untuk jawaban sangat setuju adalah 4, jawaban setuju adalah 3, jawaban tidak setuju adalah 2, dan jawaban sangat tidak setuju adalah 1. Pada butir pertanyaan unfavorable akan bergerak dari angka 4, 3, 2, dan 1. Pada butir pertanyaan unfavorable maka skor untuk jawaban sangat setuju adalah 1, jawaban setuju adalah 2, jawaban tidak setuju adalah 3, dan jawaban sangat tidak setuju adalah 4.

Butir-butir pertanyaan tersebut disusun secara urut. Distribusi butir pertanyaan dapat dilihat di tabel berikut ini :

(8)

Tabel 1

Blue Print Kecerdasan Emosional

Aspek Nomor Aitem (Butir) Jumlah

Favorable 1. Kesadaran diri 2. Sikap ascertif 3. Kemandirian 4. Penghargaan diri 5. Aktualisasi diri 6. Empati

7. Tanggung jawab sosial 8. Hubungan antarpribadi 9. Pemecahan masalah 10. Uji-realitas

11. Sikap fleksibel

12. Ketahanan menanggung stress 13. Pengendalian impuls 14. Kebahagiaan 15. Optimisme 1,2,3, 4,5,6, 7,8,9 10,11,12 13,14,15 16,17,18 19,20,21 22,23,24 25,26,27 28,29,30 31,32,33 34,35,36 37,38,39 40,41,42 43,44,45 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 Jumlah 45 45

Pengumpulan data pada penelitian ini dilakukan dengan menggunakan skala keberfungsian keluarga yang diadopsi dari Agustina, (2006) dan dimodifikasi oleh penulis, yang dibuat oleh peneliti skala ini terdiri dari 25 butir pertanyaan Alternatif jawaban yang disediakan berjumlah 4, yaitu sangat setuju (SS), setuju (S), tidak setuju (TS), dan sangat tidak setuju (STS)), sehingga penilaian aitem yang favorable akan bergerak dari nilai 1, 2, 3, dan 4. Pada butir pertanyaan favorable maka skor untuk jawaban sangat setuju adalah 4, jawaban setuju adalah 3, jawaban tidak setuju adalah 2, dan jawaban sangat tidak setuju adalah 1. Pada butir pertanyaan unfavorable akan bergerak dari angka 4, 3, 2,

(9)

dan 1. Pada butir pertanyaan unfavorable maka skor untuk jawaban sangat setuju adalah 1, jawaban setuju adalah 2, jawaban tidak setuju adalah 3, dan jawaban sangat tidak setuju adalah 4.

Butir-butir pertanyaan tersebut disusun secara acak. Distribusi butir pertanyaan dapat dilihat di tabel berikut ini :

Tabel 2

Blue Print Keberfungsian Keluarga

Nomor Aitem (Butir) Aspek Favorable Unfavorable Jumlah 1. Problem Solving 2. Comunication 3. Role 4. Efective Responsiveness 5. Behavior Control 1,2 3,4,5 6,7,8 9,10,11 12,13, 14,15,16 17,18 19,20 21,22 23,24,25 5 5 5 5 5 Jumlah 13 12 25

3. Metode Analisis Data

Penelitian ini menggunakan metode data kuantitatif dengan menguji aitem menggunakan teknik korelasi product moment atau dengan menggunakan bantuan program komputer SPSS 11.0 for windows.

(10)

C. Hasil Penelitian

1. Deskripsi Statistik

Deskripsi data tingkat keberfungsian keluarga dan kecerdasan emosional dapat dilihat pada Tabel 3.

Tabel 3.

Deskripsi data hasil penelitian (N = 50)

Hipotetik Empirik

Maks Min Rerata SD Maks Min Rerata SD Keberfungsian Keluarga 100 25 62.5 12.5 85 51 70,22 9,17 Kecerdasan Emosional 180 45 112.5 22.5 151 100 125,76 13,08

Secara lengkap kategorisasi skor keberfungsian keluarga dan kecerdasan emosi dapat dilihat pada tabel 4 dan 5 berikut :

Tabel 4.

Kategorisasi Skor Keberfungsian Keluarga

Kategori Skor Frekuensi Persentase

Sangat Tinggi X > 85 0 0,00%

Tinggi 70< x <85 25 50,00%

Sedang 55< x <70 25 50,00%

Rendah 40< x <55 0 0,00%

Sangat Rendah X < 40 0 0,00%

Berdasarkan kategorisasi tingkat keberfungsian keluarga yang dilakukan, dapat diketahui bahwa tidak ada subjek (0,00%) berada pada taraf kategori sangat

(11)

tinggi, 25 subjek (50%) berada pada kategori tinggi, 25 subjek (50%) berada pada kategori sedang, tidak ada subjek (0,00%) rendah dan tidak ada subjek (0,00%) sangat rendah. Jadi dapat disimpulkan bahwa subjek penelitian ini cenderung memiliki tingkat keberfungsian keluarga yang tinggi. Hal itu didukung oleh perbandingan antara rerata hipotetik (62,5) maupun rerata empiris (70,22) termasuk dalam kategorisasi tinggi.

Tabel 5.

Kategorisasi Skor Kecerdasan Emosional

Kategori Skor Frekuensi Persentase

Sangat Tinggi x > 145 4 8,00%

Tinggi 118< x <145 27 54,00%

Sedang 91< x <118 19 38,00%

Rendah 64< x <91 0 0,00%

Sangat Rendah x < 64 0 0,00%

Berdasarkan kategorisasi tingkat kecerdasan emosional, dapat diketahui bahwa ada 4 subjek (8,00%) berada pada taraf kategori sangat tinggi, 27 subjek (54%) berada pada kategori tinggi, 19 subjek (38%) berada pada kategori sedang, tidak ada subjek (0,00%) berada pada kategori rendah dan tidak ada subjek (0,00%) pada kategori sangat rendah. Jadi dapat disimpulkan bahwa subjek penelitian ini cenderung memiliki tingkat kecerdasan emosional tinggi. Hal itu didukung oleh perbandingan antara rerata hipotetik (112,5) maupun rerata empiris (125,76) termasuk dalam kategorisasi tinggi.

(12)

2. Pengujian Hipotesis a. Uji Prasyarat

1) Uji Linearitas

Uji linearitas dilakukan dengan menggunakan test of linearity yang menunjukkan koefisien linearitas (F) sebesar = 16,446 (p < 0,05) artinya variabel keberfungsian keluarga dan kecerdasan emosional memiliki hubungan yang linear.

2) Uji Normalitas

Uji normalitas dilakukan menggunakan one sample kolmogorov- smirnov test, Hasil uji normalitas untuk keberfungsian keluarga

menunjukkan nilai KS-Z = 1,124 (p > 0,05). Berarti sebaran data tersebut terdistribusi normal. Uji normalitas kecerdasan emosional menunjukkan nilai KS-Z = 1,298 (p> 0,05). Berarti sebaran data kecerdasan emosional

terdistribusi secara normal. b. Uji Korelasi

Hasil analisis menunjukkan koefisien korelasi (rxy) = 0,517 (p < 0,05). Ada hubungan positif dan signifikan antara keberfungsian keluarga dengan kecerdasan emosional. Semakin positif keberfungsian keluarga semakin tinggi kecerdasan emosional dan semakin negatif keberfungsian keluarga semakin rendah kecerdasan emosional. Dengan demikian hipotesis yang menyatakan ada korelasi positif antara keberfungsian keluarga dengan kecerdasan emsional diterima.

(13)

c. Hasil Analisis Data Tambahan

Hasil uji regresi tersebut menunjukkan bahwa semua aspek keberfungsian keluarga mempunyai korelasi yang signifikan terhadap kecerdasan emosional. Namun hanya aspek role dan efective responsiveness saja yang mempunyai pengaruh paling besar dan dapat berfungsi sebagai prediktor bagi kecerdasan emosional. Artinya melalui kedua aspek tersebut, sebenarnya tingkat kecerdasan emosional seseorang sudah dapat diprediksi.

Dengan memperlihatkan nilai R Square change dari analisis regresi, ditemukan bahwa aspek role memberikan sumbangan efektif sebesar 17,5% dan aspek efective responsiveness memberikan sumbangan efektif sebesar 8,8% terhadap kecerdasan emosional. Dengan demikian, aspek role dan efective responsiveness berpengaruh terhadap kecerdasan emosional secara bersama-sama sebesar 26,3%. Hasil selengkapnya mengenai analisis tambahan ini dapat dilihat pada lampiran.

D. Pembahasan

Hasil uji korelasi menunjukkan nilai korelasi (rxy) antara kedua variabel sebesar 0,517 (p < 0,01) artinya ada hubungan positif antara keberfungsian keluarga dengan kecerdasan emsional. Semakin positif keberfungsian keluarga semakin tinggi kecerdasan emosional dan semakin negatif keberfungsian keluarga semakin rendah kecerdasan emosional. Diterimanya hipotesis yang diajukan oleh peneliti berarti mendukung hasil penelitian Agustina (2006), yang menyatakan bahwa keberfungsian keluarga berpengaruh terhadap kebermaknaan hidup yang mampu membentuk

(14)

kecerdasan emosional. Adanya nilai-nilai yang dihasilkan dari kehidupan keluarga yang kondusif inilah yang diterima, diserap untuk kemudian dihayatinya secara mendalam oleh anggota keluarg. Kegiatan semacam ini oleh Frankl, (2003) disebut sebagai penghayatan nilai-nilai (experiental values) yang merupakan bagian dari upaya untuk membentuk kecerdasan emosi dalam individu. Dengan demikian diduga bahwa keberfungsaian keluarga akan berpengaruh pula terhadap sikap dan tingkah laku individu yang berkaitan dengan masalah keluarga, dalam hal ini adalah kecerdasan emosional. Dari pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa dengan kerberfungsian keluarga yang positif mendorong individu mempunyai kecerdasan emosional yang tinggi.

Berdasarkan hasil kategori data keberfungsian keluarga dapat disimpulkan bahwa secara umum subjek memiliki tingkat keberfungsian keluarga yang tingggi. Hal tersebut ditunjukkan oleh rerata subjek sebesar 70,22 yang berada pada kategori tinggi. Subjek digambarkan sebagai seseorang yang memiliki keberfungsian keluarga yang tinggi. Hal ini karena keluarga terutama orang tua yang merupakan lingkungan pembentuk karakter anggota keluarga, dapat menanamkan kecerdasan emosional seseorang dalam keluarga tersebut.

Berdasarkan hasil kategori data tingkat kecerdasan emosional dapat disimpulkan bahwa secara umum subjek memiliki tingkat kecerdasan emosional yang sedang. Hal tersebut ditunjukkan oleh rerata subjek sebesar 125,76 yang berada pada kategori tinggi. Subjek digambarkan sebagai seseorang yang memiliki kecerdasan emosional tinggi. Melalui pengalaman individu bisa mengetahui bagaimana anggapan orang lain tentang berbagai bentuk ungkapan emosi. Individu akan mempelajari

(15)

bagaimana cara mengungkapkan emosi yang bisa diterima oleh lingkungan sosial dan bagaimana ungkapan emosi yang tidak diterima. Hal ini berkaitan dengan kondisi norma budaya setempat. Individu harus bisa mampu mempelajari kondisi lingkungan tempat dia berada. Antara satu daerah dengan daerah yang lain tidak sama adat istiadatnya.

E. Kesimpulan

1. Subjek penelitian secara keseluruhan memiliki tingkat keluarga yang berfungsi cukup baik.

2. Subjek penelitian secara keseluruhan memiliki tingkat kecerdasan emosional sedang.

3. Ada hubungan positif dan signifikan antara keberfungsian keluarga dengan kecerdasan emosional. Semakin positif keberfungsian keluarga semakin tinggi kecerdasan emsional dan semakin negatif keberfungsian keluarga semakin rendah kecerdasan emosional. Dengan demikian hipotesis yang menyatakan ada korelasi positif antara keberfugsian keluarga dengan kecerdasan emsional diterima.

F. Saran

Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, ada beberapa saran yang dapat penulis berikan berkaitan dengan proses dan hasil yang diperoleh dari penelitian ini. Saran-saran tersebut, antara lain:

(16)

Para orang tua hendakanya mulai memahami bahwa untuk mencapai tingkat kecerdasan emosional, maka yang dibutuhkan oleh keluarga adalah dengan memberikan peran kepadanya dan melibatkannya secara aktif dalam berbagai aktivitas di dalam kehidupan keluarga. Selain itu hendaknya semua anggota keluarga juga selalu konsisten dalam menetapkan standar perilaku dan norma didalam keluarga sehingga ketegangan dan konflik dalam keluarga dapat diminimalisir agar tercipta iklim yang kondusif demi penghayatan nilai-nilai kehidupan oleh anggota keluarga.

2. Bagi peneliti selanjutnya

Bagi yang tertarik untuk melakukan penelitian dengan tema serupa, mungkin dapat menggunakan pendekatan penelitian yang merupakan kombinasi antara kuantitatif dan kualitatif. Selain itu penilaian mengenai keberfungsian keluarga kiranya akan lebih akurat apabila melibatkan bukan hanya penilaian tunggal dari subjek penelitian, namun juga melibatkan semua unit lain dalam keluarga.

(17)

DAFTAR PUSTAKA

Ary Ginanjar Agustian, 2005, Emotional Spiritual Quotient, Jakarta : Pirga.

Agustina, Ike, 2006. Hubungan Keberfungsian Keluarga dengan Kebermaknaan Hidup Pada Mahasiswa, Skripsi. (tidak diterbitkan). Fakultas Psikologi Universitas Islam Indonesia Yogyakarta.

Frankl, V.E. 2003, Logoterapi. Terapi Psikologi Melalui Pemaknaan Eksistensial, Yogyakarta: Penerbit Kreasi Wacana.

Goleman D. 2002. Emosional Intelliggence. (Alih Bahasa. T. Hermaya). Jakarta : PT. Gramedia Pustaka Utama.

Hadi, S. 2000. Statistik 3. Yogyakarta : Penerbit And Offset.

Kedaulatan Rakyat, 2006. Membina Keluarga Cerdas. Yogyakarta.

Rifkha Anna. 2004. Peranan Kecerdasan Emosional dan Komunikasi Interpersonal Terhadap Penyesuaian diri Mahasiswa Baru Universitas Wangsa Manggala. Skripsi. (tidak diterbitkan). Fakultas Psikologi Universitas Wangsa Manggala Yogyakarta.

Sadarjoen Supardi Sawitri, 2005, Jiwa yang Rentan, Pernik-pernik Permasalahan Kepribadian, Kejiwaan, dan Stress, Jakarta, Kompas.

Stein, J. & Book H, 2000. Ledakan Emotional Quetion .Bandung :Kaifah.

Olson, D. H & DeFrain, J. 2003, Marrige and Families, New York: Mc.Graw-Hill Companies.

(18)

NASKAH PUBLIKASI

HUBUNGAN ANTARA KEBERFUNGSIAN KELUARGA

DENGAN KECERDASAN EMOSIONAL

Oleh:

HENNY FEBRIANTY

IRWAN NURYANA

FAKULTAS PSIKOLOGI

UNIVERSITAS ISLAM INDONESIA

YOGYAKARTA

(19)

NASKAH PUBLIKASI

HUBUNGAN ANTARA KEBERFUNGSIAN KELUARGA DENGAN KECERDASAN EMOSIONAL

Telah Disetujui Pada Tanggal

_________________________

Dosen Pembimbing

(20)

Referensi

Dokumen terkait

Berkaitan dengan pengaruh kemiskinan kultural terhadap feminisasi kemiskinan, International Labour Office (2004) menyatakan bahwa kaum wanita miskin lebih

Therefore, we can conclude that reallotmet activities through comparing areas, reshaping into a rectangle could support students understanding of the concept of

Analisis petrografi pada sampel 2 dapat dilihat pada Gambar 4 yang terdiri dari asosiasi resinite dan pyrite dengan detrovitrinite.. Asosiasi resinite dan pyrite

Dalam Tindak balas I, lukiskan rajah susunan radas yang boleh digunakan dalam pertukaran ini dan terangkan satu ujian kimia untuk mengenal pasti sebatian X. Write a

Diduga terjadi korelasi yang tinggi antara karakteristik-karakteristik tenaga kerja, sehingga analisis hubungan antara karakteristik tenaga kerja terhadap produksi tanaman

😬 Di mana para Penguasa yg ngaku2 Agama Islam,gak marah dan tersinggun @sunartoct RT Terima kasih pd Abu Janda sangat berani mengatakan bahwa teroris itu agama

[r]

A3 Jika anda tandakan Ya pada soalan A2 , sila nyatakan hubungan anda dengan kanak - kanak ter se but.. (Anda boleh tanda l ebih dari satu jika