• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN 1. Latar Belakang Masalah

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB I PENDAHULUAN 1. Latar Belakang Masalah"

Copied!
11
0
0

Teks penuh

(1)

1 1. Latar Belakang Masalah

Realitas masyarakat merupakan kenyataan dinamis dari berbagai cara pandang dan variasi perilaku individu, meskipun realitas itu seolah dikotomis dengan kenyataan lainnya bahwa manusia adalah pencipta kehidupan sosial yang potensial dalam melakukan tindakan sesuai dengan hasratnya masing-masing, sebagaimana konsep masyarakat dan budaya berlaku secara langsung atau tidak, potensi individual akan terjebak dalam sistem kehidupan normatif yang dapat menghentikan proses dinamis dari berbagai potensi individual. (Saebani 2006, 33)

Perilaku manusia yang terbentuk oleh norma-norma masyarakat tidak berarti bahwa potensi dirinya secara kultural dinafikan begitu saja. Justru potensi kultural individual itu diadaptasi dan diintegrasikan secara sosialitik sehingga menjadi sistem sosial yang muatan simboliknya diterima dan menjadi ciri khas masyarakat tertentu. Dengan demikian, pembentukan masyarakat secara serta merta merupakan pemolaan karakteristik budaya yang memiliki daya ikat dan daya atur tersendiri.

Perubahan dapat menjadi lebih baik atau lebih buruk. Keduanya merupakan bagian dari perubahan. Ada pula perubahan dari bentuk aslinya yang dapat dikatakan sebagai perubahan material semata-mata, sedangkan substansinya tidak berubah. Di alam jagad raya ini tidak ada sesuatu yang tidak berubah, semuanya akan berubah. Apalagi perubahan kehidupan masyarakat bisa terjadi dalam hitungan per detik karena manusia adalah makhluk bergerak. Bergerak berarti berubah dari keadaan yang satu pada keadaan yang lain. (Saebani 2006, 183)

Sukses atau tidaknya perkuliahan yang dijalani oleh mahasiswa sesungguhnya determinan dengan kesiapan mental akademik. Pengetahuan mahasiswa terhadap hak dan kewajiban serta paham akan

(2)

kode etik akademik yang harus mereka penuhi dan patuhi ketika menjalani proses perkuliahan adalah fondasi untuk membentuk mental akademik mahasiswa tersebut. Hal lain apa hak, kewajiban, kode etik, dan tata tertib akademik bisa dikatakan wajib diketahui oleh mahasiswa tidak lain karena sukses atau tidaknya sebuah pendidikan perguruan tinggi termasuk di UIN Imam Bonjol Padang. (Pedoman Akademik 2012, 1)

Keberadaan UIN (Universitas Islam Negeri) di Padang, Sumatra Barat, diawali dengan perubahan status Fakultas Agama Islam Jurusan Tarbiyah (milik Yayasan Imam Bonjol) menjadi Fakultas tarbiyah Padang, cabang dari UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Fakultas Tarbiyah ini diresmikan berdiri pada 1 Oktober 1963 berdasarkan SK Menteri Agama RI No. 29 Tahun 1963 tertanggal 21 September 1963. Tiga tahun kemudian, pada saat berdirinya UIN Imam Bonjol Padang, fakultas tarbiyah tersebut dilepaskan dari UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, dan menjadi bagian dari UIN Imam Bonjol Padang.

Sejak tahun 1997 setelah pemerintah melepaskan semua fakultas-fakultas cabang dari UIN dan meresmikan berdirinya 33 STAIN (Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri) di Indonesia maka fakultas cabang di Batusangkar dan Bukittinggi berobah status menjadi STAIN Syekh Jamil Jambek Bukittinggi. Sejak itu UIN Imam Bonjol Padang sebagai salah satu dari 14 UIN di Indonesia yang memiliki lima Fakultas di Padang, dan sedang berupaya menjadi lembaga pendidikan yang unggul dalam melaksanakan Tri Dharma Perguruan Tinggi, terutama dalam bidang-bidang ilmu keislaman. Pada tahun 2017 sesuai peraturan presiden (Perpres) Nomor 35 Tahun 2017 UIN Imam Bonjol Padang resmi menjadi UIN Imam Bonjol Padang.

Kebijakan pemimpin di UIN Imam Bonjol Padang salah satunya adalah membuat sebuah buku pedoman yang berisikan tata tertib dan peraturan sebagai pedoman pembinaan kemahasiswaan dan menjadi rujukan bagi pemimpin institut, fakultas dan lembaga-lembaga

(3)

kemahasiswaan. Salah satu peraturan yang tercantum pada buku pedoman tahun 2014 bagian IV ada sub bab tentang Satuan Kredit Ekstra Kurikuler (SKEK). SKEK merupakan satuan angka kredit dalam jangka waktu tertentu yang diprogramkan untuk memenuhi persyaratan dalam menyelesaikan studi di UIN Imam Bonjol Padang. SKEK tersebut bertujuan untuk Menciptakan mahasiswa aktif, kreatif, dinamis, dan memiliki kepedulian terhadap lingkungan akademik untuk meningkatkan output yang berkualitas, Membina dan mengembangkan potensi, bakat minat mahasiswa melalui kegiatan ekstra kurikuler, Menghargai aktifitas mahasiswa dalam kegiatan ekstra kurikuler. Kemudian kegunaan dari SKEK tersebut adalah sebagai prasyarat ujian komprehensif. (Buku Pedoman 2014, 59)

Namun dalam proses mendapatkan SKEK berupa piagam, sertifikat, dan Surat Keputusa (SK) ini terjadi penyimpangan yang dilakukan oleh mahasiswa adalah perilaku mengupahkan pembuatan sertifikat kepada orang lain. Mahasiswa itu menerima sertifikat lengkap dengan kop surat, tanda tangan, stempel, dan bentuk kegiatan tanpa harus mengikuti kegiatan nonakademik maupun kontribusi dalam organisasi dan bagi si pembuat sertifikat hanya mencari keuntungan. Padahal Islam memberikan kebebasan kepada manusia untuk berusaha serta mendapatkan keuntungan yang banyak, tetapi kebebasan ini tidak serta merta membuat manusia liar berbuat. Kebebasan manusia yang ada adalah kebebasan dengan tanggung jawab yaitu kebebasan yang didasari oleh ilmu dan kesadaran penuh.

Praktik pembuatan sertifikat untuk kebutuhan SKEK merupakan fenomena menarik untuk dipersoalkan, di mana bisnis tersebut memberi manfaat jasa kepada masyarakat khususnya bagi mahasiswa yang akan menyelesaikan tugas akhir dan untuk mahasiswa yang akan mengikuti ujian komprehensif. Bisnis praktik pembuatan sertifikat sebenarnya sudah lama ada namun praktik jasa pembuatan sertifikat untuk kebutuhan SKEK

(4)

mahasiswa di lingkungan UIN Imam Bonjol Padang mulai berkembang dan dikenal saat sekarang.

Awalnya praktik pembuatan sertifikat palsu ini hanya menawarkan jasa print out, akan tetapi usaha ini berkembang dengan membuatkan sertifikat lengkap dengan kop surat, stempel, tanda tangan, dan bentuk pelaksanaan kegiatan untuk mahasiswa. Dalam pembuatan sertifikat palsu ini mahasiswa hanya memberikan uang untuk imbalan sebesar Rp. 100.000. Dengan uang Rp.100.000 ini mahasiswa tersebut sudah bisa mendapatkan semua aspek penilaian SKEK yang dibutuhkan sebagai persyaratan komprehensif. (SY Mahasiswa 2016). Namun terdapat juga pembuatan sertifikat palsu yang hanya menyediakan jasa print out dan mahasiswa hanya menyediakan data yang diperlukan dengan biaya Rp. 2000 s/d Rp.3000 per lembarnya tergantung banyak pemakaian tintanya. (NH Mahasiswa 2016).

Selain itu penyediaan jasa ini tidak hanya ditawarkan oleh sebuah lembaga maupun rental-rental yang ada, akan tetapi penyediaan jasa ini juga banyak dilakukan oleh individu, seperti yang pernah dilakukan oleh Rini. Dari wawancara awal yang penulis lakukan kepada Rini salah seorang mahasiswa yang menerima pemesanan pembuatan sertifikat, Rini mengungkapkan harga 1 lembar sertifikat lengkap dengan tanda tangan dan stempel sebesar Rp.5000,00. (Rini, Pembuat Sertifikat 2016)

Dalam penyediaan jasa pembuatan sertifikat untuk kebutuhan SKEK mahasiswa ada yang dibuat secara lengkap oleh penerima jasa baik dari segi peralatan yang diperlukan seperti stempel, kertas, di mana mahasiswa yang bersangkutan hanya menerima sertifikat yang sudah jadi, misalnya yang pernah dilakukan oleh WR dan RS. (Mahasiswa, 2016). Selain itu ada juga pembuatan sertifikat ini mahasiswa yang menyediakan kertas, dan data yang dibutuhkan, misalnya yang diungkapkan RZ yang pernah membuatkan sertifikat untuk mahasiswa. (RZ, Pemilik Fotokopi2016).

(5)

Berdasarkan permasalahan di atas, penulis tertarik untuk membahasnya lebih lanjut dalam bentuk skripsi dengan judul “PRAKTIK PEMBUATAN SERTIFIKAT PALSU UNTUK KEBUTUHAN SKEK DITINJAU DARI PERSPEKTIF FIQH MUAMALAH (Studi Kasus di Lingkungan UIN Imam Bonjol Padang)”

2. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah yang telah dipaparkan sebelumnya, rumusan masalah dalam penulisan skripsi ini adalah: Bagaimana praktek pembuatan sertifikat palsu untuk kebutuhan SKEK di UIN Imam Bonjol Padang ditinjau dari perspektif fiqh muamalah?

3. Pertanyaan Penelitian

3.1.Apa faktor penyebab muncul praktik pembuatan sertifikat palsu untuk kebutuhan SKEK ditinjau dari perspektif fiqh muamalah?

3.2.Apa unsur-unsur gharar yang terdapat dalam praktik pembuatan sertifikat palsu untuk kebutuhan SKEK ditinjau dari perspektif fiqh muamalah?

4. Signifikasi Penelitian

Hal ini dimaksudkan agar kegiatan yang dilakukan lebih terarah dan teridentifikasi manfaatnya. Sebelum melakukan kegiatan, hal yang pertama kali dilakukan adalah menetapkan tujuan.

4.1. Tujuan Penelitian

4.1.1. Untuk mengetahui penyebab muncul praktik jasa pembuatan sertifikat untuk kebutuhan SKEK ditinjau dari perspektif fiqh muamalah

4.1.2. Untuk mengetahui unsur-unsur gharar dalam praktik jasa pembuatan sertifikat untuk kebutuhan SKEK ditinjau dari perspektif fiqh muamalah.Kegunaan Hasil Penelitian

4.2. Kegunaan Hasil Penelitian

4.2.1. Memberikan wacana ilmiah bagi masyarakat dan mahasiswa mengenai hukum praktik jasa pembuatan sertifikat untuk

(6)

kebutuhan SKEK ditinjau dari fiqh muamalah (studi kasus di lingkungan UIN Imam Bonjol Padang).

4.2.2. Sebagai informasi bagi mahasiswa mengenai sisi negatif dari pembuatan sertifikat yang diupahkan kepada orang lain.

Sebagai sumbangan pemikiran dan wacana ilmu pengetahuan yang bermanfaat bagi masyarakat

5. Studi Literatur

Dalam penulisan skripsi ini penulis melakukan tinjauan kepustakaan dengan cara menulis atau meneliti dan menelaah karya-karya ilmiah yang dituliskan oleh RISKA HANDAYANI (Bp: 304.137) jurusan muamalah fakultas syariah UIN Imam Bonjol Padang. Skripsi ini berjudul “Tinjauan Hukum Islam terhadap Usaha Pembuatan Skripsi (studi kasus mahasiswa UIN Imam Bonjol Padang)”. Latar belakang masalahnya adalah banyaknya praktik pembuatan skripsi yang berkembang pada saat ini, yang perkembangannya tidak hanya di kota-kota besar tetapi juga di kota kecil. Masalah utama dalam skripsi ini adalah apakah praktik pembuatan skripsi ini mendatangkan manfaat atau bahkan suatu mudharat yang akan ditimbulkan baik bagi pihak praktik maupun mahasiswa yang memanfaatkan jasa tersebut.

Hasil dari penelitian ini adalah secara umum, praktik pembuatan skripsi untuk mahasiswa sudah memenuhi rukun menurut hukum Islam, akan tetapi dari syaratnya akad ini belum terpenuhi, yaitu objek yang ditransaksikan harus bermanfaat, tetapi dalam pelaksanaannya akad ini lebih banyak mudharat dari pada manfaatnya. Kemudharatan ini dari segi objeknya yaitu sebuah keterampilan dalam penulisan yang menghasilkan sebuah skripsi. Di mana skripsi yang dihasilkan itu menjadi milik mahasiswa yang memesan skripsi tersebut, dan tentunya praktik pembuatan skripsi ini lebih banyak mudharat dari pada manfaatnya, yang mengakibatkan rasa malas, membuat mahasiswa tidak bertanggung jawab terhadap apa yang dilakukannya. Kesimpulan dari skripsi ini adalah

(7)

praktik dan bekerja sebagai pembuat skripsi hukumnya adalah haram, begitu juga dengan upah dari hasil pembuatan skripsi, dan juga bagi pemesannya.

Berbeda dengan pemaparan di atas penulis lebih memfokuskan kepada faktor penyebab muncul praktik pembuatan sertifikat palsu untuk kebutuhan SKEK ditinjau dari perspektif fiqh muamalah dan unsur-unsur gharar yang terdapat dalam praktik pembuatan sertifikat palsu untuk kebutuhan SKEK ditinjau dari perspektif fiqh muamalah

6. Kerangka Teori

Dalam penelitian ini teori yang dipakai adalah Ijarah dalam fiqih muamalah.

Salah satu usaha yang telah dilakukan oleh masyarakat dalam bentuk jasa, yaitu ijarah. Ijarah adalah menukar sesuatu dengan adanya imbalannya. (Suhendi 2002, 115) Sedangkan praktik dalam bentuk ijarah itu adalah dengan cara mempekerjakan seseorang untuk melakukan sesuatu pekerjaan, (Haroen 2000, 236) dan orang yang melakukan pekerjaan itu memiliki keahlian dalam sebuah bidang dan penerimaan jasa.

Islam mensyari’atkan tentang jasa yang merupakan suatu perbuatan sosial yang dalam masyarakat Indonesia dikenal dengan adanya melakukan pekerjaan dengan pembayaran sebagai balas jasa yang dinamakan dengan hubungan kerja. Hubungan semacam ini terjadi setelah adanya perjanjian untuk melakukan suatu atau beberapa pekerjaan tertentu untuk mencapai tujuan tertentu dan pihak menghendaki tersebut bersedia untuk memberikan upah. (Pasaribudan K. Lubis 1994, 153)

Ijarah memang sudah disyari’atkan dalam Islam sebagaimana firman Allah SWT dalam surat al-Thalaq ayat 6 :













(8)

Artinya: Kemudian jika mereka menyusukan (anak-anak) mu untuk mu Maka berikanlah kepada mereka upahnya. (Departemen RI 2005, 559).

Kemudian dasar hukum ijarah terdapat dalam hadits :

م .ص الله لوسر ل اق :ل اق ونع الله يضررمع هبا هع

)وج ام هبا ه اور( وق رع فجي نا لبق ه رجاريج لاااوطعا

Artinya: Diriwayatkan dari umar ra, telah bersabda Rasulullah Saw,

berikanlah upah pekerja sebelum keringatnya kering. (HR. Ibnu Majah). (A. Mas’adi 2002, 183)

Berdasarkan hadis di atas dapat disimpulkan bahwa ijarah dibolehkan dan dianjurkan karena adanya perintah ayat yang menjelaskan tentang pembayaran upah. Pembayaran upah yang dimaksud ialah memberikan upah kepada seseorang yang telah melakukan pekerjaannya sesuai dengan apa yang telah dilakukannya baik berbentuk upah maupun dalam hal sewa terhadap benda yang bisa diambil manfaatnya dalam bentuk sewa (ganti).

Menurut Ulama Hanafiyah, rukun ijarah hanya satu yaitu ijab dan qabul, yakni pernyataan dari orang yang menyewa dan menyewakan. Lafal yang digunakan adalah lafal ijarah, isti’jar, iktira’ dan ikra’, (Muslich 2013, 320), sedangkan akad sendiri berasal dari bahasa Arab yaitu al-aqdu yang berarti: perikatan, perjanjian dan pemufakatan atau ikatan antara pihak-pihak baik ikatan itu secara nyata atau maknawi yang berasal dari satu pihak atau kedua belah pihak yang ditetapkan dengan ijab dan qabul berdasarkan ketentuan syara’ yang berdampak pada objeknya. (Pasaribu dan K. Lubis 1994, 41)

Menurut jumhur ulama rukun ijarah ada empat yaitu: (Syarifuddin 2003, 218-219)

(9)

b. Sighat akad (ijab dan qabul) c. Ujrah (Upah)

d. Manfaat

Akad ijarah dianggap sah apabila telah terpenuhi rukun dan syaratnya, adapun syarat ijarah adalah : (Suhendi 2002, 153)

a. Dua orangyang berakad

b. Kedua belah pihak menyatakan kerelaan melakukan ijarah

c. Manfaat yang menjadi objek ijarah harus diketahui secara sempurna sehingga tidak muncul perselisihan kemudian hari

d. Objek ijarah merupakan sesuatu yang bisa disewakan e. Objek ijarah sesuatu yang dihalalkan oleh syara’ f. Upah atau sewa dalam akad ijarah harus jelas

Dalam syariat perniagaan, Islam mengajarkan agar senantiasa membangun perniagaan di atas kejelasan. Kejelasan dalam harga, obyek, dan akad, sebagaimana Islam juga mensyari’atkan agar menjauhkan akad perniagaan yang dijalin dari segala hal yang bersifat untung-untungan atau yang disebut dalam bahasa Arab dengan gharar. Hal ini disebabkan sesuatu yang mengandung unsur gharar sangat rentan menimbulkan persengketaan dan permusuhan juga dapat merugikan orang lain.

Kehidupan umat manusia tidak hanya berkisar pada pusaran ekonomi saja, tetapi ada dimensi lain seperti aspek politik dan aspek sisiobudaya dari kehidupan. (Damsar, Indrayani 2009, 249) Tindakan ekonomi dapat dipandang sebagai suatu tindakan sosial sejauh tindakan tersebut memperhatikan tingkah laku orang lain. (Damsar, Indrayani 2009,31)

7. Metode Penelitian 7.1.Jenis penelitian

Penelitian ini adalah penelitian lapangan. Data yang dibutuhkan dikumpulkan di lapangan, selanjutnya untuk penentuan status hukum dalam praktik jasa pembuatan sertifikat untuk

(10)

kebutuhan SKEK mahasiswa UIN Imam Bonjol Padang ditentukan dengan mengaitkannya dengan konsep maqashid syari’ah.

7.2.Informan penelitian

Informan penelitian yaitu mahasiswa UIN Imam Bonjol Padang yang akan mengikuti ujian komprehensif sebanyak 30 orang, 5 orang pembuat sertifikat, garin, dosen, wakil dekan III fakultas syariah dan pihak lain yang terkait dengan penelitian. Teknik pemilihan informan yang digunakan adalah teknik (snowball sampling). (Prasetyo, Jannah 2006, 136).

7.3.Teknik Pengumpulan Data

7.3.1.Wawancara merupakan alat pengumpulan data dengan menyusun suatu pedoman dalam bentuk daftar pertanyaan terhadap objek penelitian, kemudian dilakukan serangkaian interview langsung dengan sumber data yaitu mahasiswa UIN Imam Bonjol Padang, pembuat sertifikat, garin, dosen, wakil dekan III dan pihak lain yang terkait dengan penelitian.

7.3.2.Observasi adalah metode pengumpulan data dengan melakukan pengamatan langsung kepada suatu objek penelitian. Penelitian menggunakan alat untuk mengamati garak-gerik, tingkah laku, dan keadaan seseorang atau sesuatu. (Amar 2001, 114). Observasi ini penulis lakukan secara langsung ke lapangan yaitu kawasan UIN Imam Bonjol Padang dan tempat terjadi praktik pembuatan sertifikat yang dilakukan si pembuat sertifikat.

7.3.3.Dokumentasi adalah suatu cara pengumpulan data yang menghasilkan catatan-catatan penting yang berhubungan dengan masalah yang diteliti sehingga akan diperoleh data yang lengkap, sah dan bukan berdasarkan perkiraan. (Basrowi, Suwandi 2008, 158). Dalam hal ini berupa foto, catatan-catatan yang terkait dengan penelitian yang diteliti.

(11)

7.4.Lokasi Penelitian

Lokasi penelitian yang penulis ambil adalah Kota Padang, tepatnya di UIN Imam Bonjol Padang jalan M Yunus Kelurahan Lubuk Lintah Kecamatan Kuranji. Lokasi ini merupakan salah satu perguruan tinggi di kota Padang yang berbasis Agama Islam yang idealnya menjadi contoh bagi perguruan tinggi lainnya.

7.5.Teknik Analisis Data

Dalam penelitian ini penulis menggunakan teknik deskriptif analisis secara kualitatif. Di mana teknik ini menggunakan beberapa tahapan, yaitu (Moleong 2002, 248)

7.5.1.Seleksi data, seleksi data dilakukan untuk mendapatkan data-data yang diperlukan dalam penelitian ini. Setelah data terkumpul kemudian diklasifikasikan menurut kategori tertentu.

7.5.2.Setelah data terkumpul kemudian dilanjutkan dengan menghubungkan data dengan teori yang ada.

7.5.3.Setelah data dihubungkan dengan teori-teori yang ada, kemudian data-data yang ditafsirkan untuk menentukan hukum tertentu.

Referensi

Dokumen terkait

“Kecuali mengenai Wilayah Persekutuan Kuala Lumpur, Labuan dan Putrajaya, hukum Syarak dan undang-undang diri dan keluarga bagi orang yang menganut agama Islam,

Latar Belakang: Persiapan mental merupakan hal yang tidak kalah pentingnya dalam proses persiapan operasi karena mental pasien yang tidak siap atau labil dapat

Pedoman Pengelolaan Taman Pendidikan Al- Qur’an Metode Cepat Tanggap Belajar Al- Qur’an An -Nahdliyah.. Strategi

Sehubungan dengan Surat Penawaran Saudara pada Paket Pekerjaan Pengadaan Bahan Bangunan di Kecamatan Sei Menggaris pada Badan Pemberdayaan Masyarakat dan

Sampai dengan batas akhir pemberian penjelasan dokumen pengadaan, dari 3 (tiga) calon penyedia yang lulus masuk daftar pendek dan diundang untuk memasukkan

Berdasarkan Pengumuman Pemenang Penyedia Jasa Konsultansi dengan Seleksi Sederhana Pascakualifikasi Tanggal 11 Maret 2016 dan Penutupan Masa Sanggah Pengadaan

Metode pengolahan dan analisis data yang digunakan adalah analisis deskriptif kualitatif dengan pendekatan manajemen strategi untuk mengetahui lingkungan perusahaan

Berdasarkan pengamatan kemampuan berbahasa siswa pada siklus 1 telah mengalami peningkatan dari pratindakan walaupun belum mencapai persentase KKM yang telah ditentukan.