PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE THINK PAIR SHARE TERHADAP HASIL BELAJAR PKn SISWA DI KELAS IV MI TERPADU MUHAMMADIYAH SUKARAME BANDAR LAMPUNG
Teks penuh
(2) PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE THINK PAIR SHARE TERHADAP HASIL BELAJAR PKn SISWA DI KELAS IV MI TERPADU MUHAMMADIYAH SUKARAME BANDAR LAMPUNG. Skripsi Diajukan untuk Melengkapi tugas dan Memenuhi Syarat-syarat Guna Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan (S.Pd) dalam Ilmu Tarbiyah dan Keguruan. Oleh RISKA DEWI HANDAYANI NPM : 1311100198. Prodi : Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah. Pembimbing I. : Heny Wulandari, M.Pd.I. Pembimbing II. : Yuli Yanti, M.Pd.I. FAKULTAS TARBIYAH DAN KEGURUAN UNIVERSITAS ISLAM NEGERI RADEN INTAN LAMPUNG 1438 H/2017 M.
(3) ABSTRAK PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE THINK PAIR SHARE TERHADAP HASIL BELAJAR PKn SISWA DI KELAS IV MI TERPADU MUHAMMADIYAH SUKARAME BANDAR LAMPUNG Oleh RISKA DEWI HANDAYANI Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh model pembelajaran kooperatif tipe think pair share terhadap hasil belajar PKn siswa antara kelompok siswa yang diajarkan dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe think pair share dengan kelompok yang diajarkan model pembelajaran guided note taking. Penelitian ini termasuk kedalam penelitian kuantitatif. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah Quasi Eksperiment Design dengan teknik pengambilan sampel Sampling Jenuh. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas IV MI Terpadu Muhammadiyah Sukarame Bandar Lampung Tahun Ajaran 2016/2017 yang berjumlah 41 siswa. Desain penelitian mengambil dua kelompok subjek dari populasi meliputi kelompok eksperimen dan kelompok kontrol. Dimana kelas IV Thoriq bin Ziyad sebagai kelas eksperimen dan kelas IV Zaid bin Tsabit sebagai kelas kontrol. Pada kelompok kelas eksperimen diberi perlakuan model pembelajaran kooperatif tipe Think Pair Share sedangkan kelas kontrol diberi perlakuan model pembelajaran Guided Note Taking. Alat pengumpulan data dalam penelitian ini adalah tes objektif (pretest-posttest) dan dokumentasi. Uji hipotesis penelitian menggunakan uji t, dengan uji prasyarat analisisnya menggunakan uji normalitas dan uji homogenitas. Berdasarkan hasil analisis data dengan perhitungan program IBM SPSS Statistics v.20 for Windows yang menggunakan analisis Uji t untuk sampel yang berasal dari distribusi yang berbeda Independent samples test, menunjukkan bahwa nilai sig = 0.011 < 0.025. Dengan demikian nilai sig.(2-tailed) < α pada taraf signifikan 5%, maka hipotesis (Ha) diterima, dengan perbandingan rata-rata dikelas eksperimen 78,81 dan rata-rata kelas kontrol 69,25 ini berarti bahwa ada pengaruh model pembelajaran kooperatif tipe think pair share terhadap hasil belajar PKn siswa di kelas IV MI Terpadu Muhammadiyah Sukarame Bandar Lampung Tahun Pelajaran 2016/2017.. Kata Kunci : Model pembelajaran kooperatif tipe think pair share, Hasil belajar Pkn siswa.. ii.
(4)
(5)
(6) MOTTO. Artinya : “Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan sesuatu kaum mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.”. sehingga. (Q.S. Ar-ra’d : 11)1. 1. Departemen Agama RI, Al-Qur’an dan Terjemahnya Special For Women (Bandung : Syaamil Quran, 2008), h.250.. v.
(7) PERSEMBAHAN Skripsi ini peneliti persembahkan untuk orang yang berjasa dalam hidup peneliti yang telah memberikan arti kehidupan bagi peneliti: 1. Kedua orang tuaku tercinta, ayahanda Alpian dan ibunda Hasmiah yang tiada henti-hentinya mendo’akan keberhasilanku, mengasihi dan menyayangiku yang tiada taranya serta segala pengorbanannya yang tidak bisa ananda balas dengan apapun jua. 2. Kakak ku Gani Wardana Putra, S.Pd dan Adikku ku tersayang A. Faizal Ramadhan terimakasih atas canda tawa, kasih sayang dan dukungan yang kalian berikan selama ini. Semoga kita bisa selalu membahagiakan kedua orang tua kita. 3. Almamater ku UIN Raden Intan Lampung tercinta.. vi.
(8) RIWAYAT HIDUP Riska Dewi Handayani, lahir pada tanggal 10 Oktober 1995 di Desa Panggung Jaya, Kecamatan Rawa Jitu Utara, Kabupaten Mesuji, Provinsi Lampung. Peneliti merupakan anak kedua dari tiga bersaudara. Lahir dari pasangan suami istri Ayahanda Alpian dan Ibunda Hasmiah. Peneliti mengawali pendidikan pada Taman Kanak-kanak di TK. Al-Yazier Desa Panggung Jaya, Kecamatan Rawa Jitu Utara, Kabupaten Mesuji yang diselesaikan pada tahun 2001. Kemudian melanjutkan ke jenjang Sekolah Dasar di SDN I Panggung Jaya Kecamatan Rawa Jitu Utara, Kabupaten Mesuji yang diselesaikan pada tahun 2007. Kemudian melanjutkan ke jenjang Sekolah Menengah Pertama di MTs Darul Huda Panggung Jaya Kecamatan Rawa Jitu Utara, Kabupaten Mesuji yang diselesaikan pada tahun 2010. Kemudian melanjutkan ke jenjang Sekolah Menengah Pertama di SMAN 1 Pagelaran, Kabupaten Pringsewu yang di selesaikan pada tahun 2013. Kemudian melanjutkan ke Perguruan Tinggi UIN Raden Intan Lampung dan diterima di Fakultas Tarbiyah dan Keguruan Prodi Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (PGMI) pada tahun 2013. Pada masa SD, SMP dan SMA peneliti aktif dalam bidang organisasi pramuka dan selama menjadi mahasiswa, peneliti aktif disalah satu UKM yaitu Hiqma di UIN Raden Intan Raden Lampung.. vii.
(9) KATA PENGANTAR Bismillahirrahmanirrahim Alhamdulilah puji syukur kehadirat Allah SWT yang senantiasa memberikan rahmat, hidayah serta karunia-Nya sehingga peneliti dapat menyelesaikan skripsi ini. Shalawat teriring salam semoga selalu tercurahkan kepada Nabi Muhammad SAW, para sahabat, keluarga dan para pengikutnya yang ta’at kepada ajaran beliau. Dalam penyusunan skripsi ini tidak terlepas dari bantuan berbagai pihak, maka pada kesempatan ini peneliti menyampaikan ucapan terima kasih dan penghormatan yang tulus kepada : 1. Bapak Dr. H. Chairul Anwar, M.Pd, selaku Dekan Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Raden Intan Lampung. 2. Ibu Syofnidah Ifrianti, M.Pd, selaku ketua jurusan Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (PGMI) UIN Raden Intan Lampung. 3. Ibu Nurul Hidayah, M.Pd, selaku sekretaris jurusan Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (PGMI) UIN Raden Intan Lampung. 4. Ibu Heny Wulandari, M.Pd.I, selaku pembimbing 1 yang telah memberikan bimbingan kepada peneliti, sehingga peneliti dapat menyelesaikan skripsi ini. 5. Ibu Yuli Yanti, M.Pd.I, selaku pembimbing II yang telah memberikan bimbingan dan pengarahannya, sehingga peneliti dapat menyelesaikan skripsi ini. 6. Bapak dan ibu dosen yang telah membekali ilmu pengetahuan kepada peneliti. 7. Ibu Fita Jumrotus Shalihah, S.Pd.I, selaku kepala MI Terpadu Muhammadiyah Sukarame Bandar Lampung, Ibu Umi Oktiani, S.Pd.I selaku wali kelas IV Thoriq viii.
(10) bin Ziyad dan Ibu Melawati, S.Ag selaku wali kelas IV Zaid bin Tsabit beserta seluruh staf dan dewan guru MI Terpadu Muhammadiyah Sukarame Bandar Lampung yang telah membantu peneliti dalam menyelesaikan skripsi ini. 8. Kepala Perpustakaan UIN Raden Intan Lampung serta seluruh staf yang telah meminjamkan buku guna terselesaikanya skripsi ini. 9. Sahabat-sahabat peneliti Putri Meidawati, Lia Andesta, Dhika Prisdiana Hadi, Jariatun, Rizky Fazriadi terimakasih telah menjadi sahabat berbagi cerita, motivasi, dukungan, serta masukan sehingga terselesaikannya skripsi ini. Kalian adalah orang-orang hebat yang pernah peneliti temui. 10. Rekan-rekan seperjuangan angkatan 2013 prodi PGMI UIN Raden Intan Lampung khususnya kelas E. 11. Semua pihak yang membantu terselesaikanya skripsi ini yang tidak bisa peneliti sebutkan satu persatu.. ix.
(11) Peneliti menyadari bahwa dalam penulisan skripsi ini masih banyak kekurangan, disebabkan karena masih terbatasnya ilmu dan teori penelitian yang peneliti kuasai. Oleh karenanya, kepada para pembaca kiranya dapat memberikan masukan dan saran-saran yang bersifat membangun sehingga penelitian ini akan lebih baik lagi. Semoga Allah SWT selalu melimpahkan rahmat-Nya kepada kita semua, dan semoga skripsi ini bermanfaat bagi semuanya. Aamiin yaa rabbal’alamin Bandar Lampung, Peneliti,. Mei 2017. Riska Dewi Handayani NPM. 1311100198. x.
(12) DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL ...................................................................................... i ABSTRAK ..................................................................................................... ii PERSETUJUAN............................................................................................. iii PENGESAHAN .............................................................................................. iv MOTTO ......................................................................................................... v PERSEMBAHAN .......................................................................................... vi RIWAYAT HIDUP ....................................................................................... vii KATA PENGANTAR ................................................................................... viii DAFTAR ISI................................................................................................... xi DAFTAR TABEL .......................................................................................... xiii DAFTAR LAMPIRAN .................................................................................. xiv DAFTAR GAMBAR...................................................................................... xvi BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah ................................................................... 1 B. Identifikasi Masalah ......................................................................... 7 C. Batasan Masalah ............................................................................... 8 D. Rumusan Masalah............................................................................. 8 E. Tujuan Penelitian.............................................................................. 8 F. Manfaat Penelitian............................................................................ 9 BAB II LANDASAN TEORI A. Model Pembelajaran ......................................................................... 10 1. Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Think Pair Share............ 10 a. Pengertian Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Think Pair Share................................................................... 10 b. Tahap-tahap Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Think Pair Share............................................................................. 13 c. Langkah-langkah Model PembelajaranKooperatif Tipe Think Pair Share .......................................................... 15 d. Kelebihan dan Kelemahan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Think Pair Share ........................................ 18 2. Model Pembelajaran Guided Note Taking.................................. 21 a. Pengertian Model Pembelajaran Guided Note Taking ......... 21 b. Langkah-langkah Model Pembelajaran Guided Note Taking.............................................................. 21 c. Kelebihan dan Kelemahan Model Pembelajaran Guided Note Taking.............................................................. 22 B. Hasil Belajar ..................................................................................... 24 1. Pengertian Hasil Belajar ............................................................. 24 2. Jenis-jenis Hasil Belajar ............................................................. 25. xi.
(13) 3. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Hasil Belajar....................... 29 C. Pendidikan Kewarganegaraan (PKn)................................................ 31 1. Pengertian Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) ....................... 31 2. Tujuan Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) ............................. 32 3. Materi Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) di Kelas IV SD/MI...................................................................... 33 D. Kerangka Pikir.................................................................................. 37 E. Penelitian yang Relevan ................................................................... 39 F. Hipotesis ........................................................................................... 41 BAB III METODE PENELITIAN A. Jenis dan Sifat Penelitian.................................................................. 42 B. Variabel Penelitian ........................................................................... 43 C. Populasi, Sampel, dan Teknik Sampel ............................................. 45 D. Teknik Pengumpulan Data ............................................................... 48 E. Instrumen Penelitian ......................................................................... 49 F. Prosedur Penelitian ........................................................................... 52 G. Teknik Analisis Uji Coba Instrumen ................................................ 53 H. Uji Analisis Data .............................................................................. 59 BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Uji Prasyarat Analisis ...................................................................... 63 1. Uji Validitas Instrumen Butir Soal Pretest dan Posttest .......... 63 a. Uji Taraf Kesukaran Instrumen Butir Soal Pretest dan Postest... 67 b. Uji Daya Pembeda Instrumen Butir Soal Pretest dan Posttest…. 71 2. Uji Reliabilitas Instrumen Butir Soal Pretest dan Posttest................. 74 B. Analisis Data .................................................................................. 76 1. Hasil Perhitungan Prasyarat Analisis ....................................... 76 a. Uji Normalitas.................................................................... 78 b. Uji Homogenitas ................................................................ 79 2. Uji Hipotesis Uji-t Independent ............................................... 80 a. Menentukan Hipotesis........................................................ 81 b. Menentukan Dasar Pengambilan Keputusan ..................... 81 C. PEMBAHASAN ............................................................................ 81 BAB V KESIMPULAN DAN SARAN A. KESIMPULAN ............................................................................... 85 B. SARAN............................................................................................ 85 DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN. xii.
(14) DAFTAR TABEL Halaman Tabel 1 Tabel 2 Tabel 3 Tabel 4 Tabel 5 Tabel 6 Tabel 7 Tabel 8 Tabel 9 Tabel 10 Tabel 11 Tabel 12 Tabel 13 Tabel 14 Tabel 15 Tabel 16 Tabel 17 Tabel 18 Tabel 19 Tabel 20 Tabel 21. Tabel 22. Data Hasil Belajar Ujian Akhir Sekolah (UAS) Semester Ganjil Mata Pelajaran PKn Siswa Kelas IV MI Terpadu Muhammadiyah Sukarame Bandar Lampung Tahun Pelajaran 2016/2017............................................ 6 Tabel desain penelitian................................................................................ 43 Populasi Penelitian Kelas IV MI Terpadu Muhammadiyah Sukarame Bandar Lampung ......................................................................................... 46 Kisi-kisi Instrumen Soal Pretest ................................................................. 50 Kisi-kisi Instrumen Soal Posttest ................................................................ 51 Kriteria Untuk Validitas Butir Soal............................................................. 55 Klasifikasi Daya Pembeda .......................................................................... 56 Indeks Taraf Kesukaran Soal ...................................................................... 58 Rekapitulasi Output Validitas Hasil Uji Coba Instrumen Pretest Butir Soal Tes Hasil Belajar PKn......................................................................... 63 Butir Soal Valid Pretest Hasil Belajar PKn ................................................ 65 Rekapitulasi Output Validitas Hasil Uji Coba Instrumen Posttest Butir Soal Tes Hasil Belajar PKn......................................................................... 65 Butir Soal Valid Posttest Hasil Belajar PKn............................................... 67 Rekapitulasi Output Tingkat Kesukaran Butir Soal Uji Coba Instrumen Pretest Tes Hasil Belajar PKn Menggunakan IBM SPSS Statistics v.20 for Windows................................................................................................. 68 Rekapitulasi Output Tingkat Kesukaran Butir Soal Uji Coba Instrumen Posttest Tes Hasil Belajar PKn Menggunakan IBM SPSS Statistics v.20 for Windows................................................................................................. 69 Rekapitulasi Output Daya Pembeda Butir Soal Uji Coba Instrumen Pretest Tes Hasil Belajar PKn Menggunakan IBM SPSS Statistics v.20 for Windows................................................................................................. 71 Rekapitulasi Output Daya Pembeda Butir Soal Uji Coba Instrumen Posttest Tes Hasil Belajar PKn Menggunakan IBM SPSS Statistics v.20 for Windows................................................................................................. 73 Hasil Perhitungan Reliabilitas Instrumen Pretest Butir Soal Tes Hasil Belajar PKn Menggunakan IBM SPSS Statistics v.20 for Windows .......... 75 Hasil Perhitungan Reliabilitas Instrumen Posttest Butir Soal Tes Hasil Belajar PKn Menggunakan IBM SPSS Statistics v.20 for Windows .......... 75 Data Nilai Pretest dan Posttest Hasil Belajar PKn Kelas Eksperimen ....... 76 Data Nilai Pretest dan Posttest Hasil Belajar PKn Kelas Kontrol.............. 77 Rekapitulasi Uji Normalitas Data Pretest dan Posttest Hasil Belajar PKn Kelas Eksperimen dan Kontrol ........................................................... 78 Rekapitulasi Uji Homogenitas Data Pretest dan Posttest Hasil Belajar PKn Kelas Eksperimen dan Kontrol ........................................................... 79 xiii.
(15) Tabel 23. Hasil Uji Independent T-test Posttest Hasil Belajar PKn ........................... 80. xiv.
(16) DAFTAR GAMBAR Halaman Gambar 1 Gambar 2 Gambar 3 Gambar 4 Gambar 5 Gambar 6 Gambar 7 Gambar 8 Gambar 9. Burung Garuda Pancasila ............................................................................ 36 Diagram Pemikiran ..................................................................................... 39 Pembagian Soal Pretest dikelas Eskperimen .............................................. 182 Pembagian Soal Pretest dikelas Kontrol..................................................... 183 Proses Pembelajaran dikelas eksperimen dengan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Think Pair Share ........................... 184 Pembelajaran dikelas Kontrol dengan Model Guided Note Taking ........... 186 Pembagian Soal Posttest Dikelas Eksperimen ............................................ 187 Pembagian Soal Posttest dikelas Kontrol.................................................... 188 Bersama Kepala sekolah dan Wali kelas IV MI Terpadu Muhammadiyah Sukarame Bandar Lampung............................................. 189. xvii.
(17) DAFTAR LAMPIRAN Lampiran 1 Lampiran 2 Lampiran 3 Lampiran 4 Lampiran 5 Lampiran 6 Lampiran 7 Lampiran 8 Lampiran 9 Lampiran 10 Lampiran 11 Lampiran 12 Lampiran 13 Lampiran 14 Lampiran 15 Lampiran 16 Lampiran 17 Lampiran 18 Lampiran 19 Lampiran 20 Lampiran 21 Lampiran 22 Lampiran 23. Halaman Silabus .................................................................................................. 90 Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) .......................................... 114 Surat Pernyataan Validator 1 Uji Coba Instrumen Butir Soal.............. 128 Lembar Penilaian Validasi ................................................................... 129 Surat Pernyataan Validator 2 Uji Coba Instrumen Butir Soal.............. 131 Lembar Penilaian Validasi ................................................................... 132 Kisi-Kisi Soal Pretest Uji Coba Instrumen .......................................... 134 Kisi-Kisi Soal Posttest Uji Coba Instrumen......................................... 135 Butir Soal Uji Coba Instrumen Pretest................................................. 136 Butir Soal Uji Coba Instrumen Posttest ............................................... 143 Rekapitulasi Hasil Uji Coba Butir Soal Pretest ................................... 151 Rekapitulasi Hasil Uji Coba Butir Soal Posttest .................................. 152 Hasil Perhitungan Validitas Uji Coba Instrumen Pretest Butir Soal Tes Hasil Belajar PKn Menggunakan IBM SPSS Statistics v.20 for Windows ............................................................................................... 153 Hasil Perhitungan Validitas Uji Coba Instrumen Posttest Butir Soal Tes Hasil Belajar PKn Menggunakan IBM SPSS Statistics v.20 for Windows ............................................................................................... 154 Hasil Perhitungan Reliabilitas Instrumen Pretest Butir Soal Tes Hasil Belajar PKn Menggunakan IBM SPSS Statistics v.20 for Windows ............................................................................................... 155 Hasil Perhitungan Reliabilitas Instrumen Posttest Butir Soal Tes Hasil Belajar PKn Menggunakan IBM SPSS Statistics v.20 for Windows ............................................................................................... 156 Hasil Perhitungan Taraf Kesukaran Butir Soal Uji Coba Instrumen Prettest Tes Hasil Belajar PKn Menggunakan IBM SPSS Statistics v.20 for Windows.................................................................................. 157 Hasil Perhitungan Taraf Kesukaran Butir Soal Uji Coba Instrumen Posttest Tes Hasil Belajar PKn Menggunakan IBM SPSS Statistics v.20 for Windows.................................................................................. 158 Hasil Perhitungan Daya Pembeda Butir Soal Uji Coba Instrumen Prettest Tes Hasil Belajar PKn Menggunakan IBM SPSS Statistics v.20 for Windows.................................................................................. 159 Hasil Perhitungan Daya Pembeda Butir Soal Uji Coba Instrumen Posttest Tes Hasil Belajar PKn Menggunakan IBM SPSS Statistics v.20 for Windows.................................................................................. 160 Kisi-kisi Soal Pretest - Posttest kelas Eksperimen dan Kontrol ......... 162 Butir Soal Pretest – Postest.................................................................. 164 Hasil Uji Normalitas Pretest - Posttest Hasil Belajar PKn Kelas Eksperimen dan Kontrol....................................................................... 174 xv.
(18) Lampiran 24 Hasil Uji Homogenitas Data Pretest - Posttest Hasil Belajar PKn Kelas Eksperimen dan Kontrol............................................................. 175 Lampiran 25 Hasil Uji Independent T-test Posttest Hasil Belajar PKn .................... 176 Lampiran 26 Surat Nota Dinas................................................................................... 177 Lampiran 27 Surat Izin Pra-Penelitian....................................................................... 178 Lampiran 28 Pengesahan Seminar............................................................................. 179 Lampiran 29 Surat Penelitian dari Akademik............................................................ 180 Lampiran 30 Surat Balasan penelitian dari MI Terpadu Muhammadiyah Sukarame Bandar Lampung ................................................................. 181 Lampiran 31 Dokumentasi Foto ................................................................................ 182 Lampiran 32 Kartu Konsultasi................................................................................... 190. xvi.
(19) BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan mempunyai fungsi yang sangat penting dalam pembangunan disetiap negara. Pendidikan merupakan cerminan kualitas suatu bangsa. Sebuah negara dikatakan maju atau tidak, salah satunya juga dapat dilihat dari seberapa tinggi kualitas pendidikan yang ada di dalam negara tersebut. Dalam islam, pendidikan juga terkandung dalam berbagai surat yang ada didalamnya. Salah satunya ada didalam Surat Al-Mujadalah ayat 11 yang berbunyi :. Artinya : “ Allah akan meninggikan oran – orang yang beriman di antaramu dan orang–orang yang diberi ilmu pengetahuan”(QS. Al– Mujadalah: 11).1. UU RI No. 20 Tahun 2003 Pasal 2 menetapkan bahwa Pendidikan Nasional berdasarkan Pancasila dan Undang-undang Dasar Negara Republik. 1. Departemen RI, Al- qur’an dan terjemahnya, (Bandung: Diponogoro, 2005), h.434..
(20) 2. Indonesia Tahun 1945.2 Menurut peneliti pembangunan nasional dibidang pendidikan salah satunya adalah dengan cara mengamalkan Pancasila. Guna mencapai mutu pendidikan yang baik hendaknya dimulai dari fondasi dasarnya. Pendidikan dasar merupakan fondasi awal dari semua jenjang sekolah selanjutnya. Pendidikan dasar diselenggarakan untuk memberikan bekal dasar yang diperlukan untuk hidup dalam masyarakat berupa pengembangan sikap, pengetahuan, dan keterampilan dasar. Pendidikan dasar juga berfungsi untuk mempersiapkan. siswa. memenuhi. persyaratan. mengikuti. pendidikan. menengah. Pendidikan diarahkan kepada terbinanya manusia Indonesia sesuai dengan tujuan pendidikan yang tercantum dalam Permendiknas No. 41 Tahun 2007 dalam standar proses yang berbunyi: Mengingat kebhinekaan budaya, keragaman latar belakang dan karakteristik siswa, serta tuntutan untuk menghasilkan lulusan yang bermutu, proses pembelajaran untuk setiap mata pelajaran harus fleksibel, bervariasi, dan memenuhi standar. Proses pembelajaran pada setiap satuan pendidikan dasar dan menengah harus interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, dan memotivasi siswa untuk berpartisipasi aktif, serta memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas, dan kemandirian sesuai dengan bakat, minat, dan perkembangan fisik serta psikologis siswa.3. 2. Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 Pasal 2 Tentang Sistem Pendidikan Nasional (Jakarta: Sinar Grafika, 2008), h. 6. 3 Djemari Mardapi, Permendiknas Nomor 41 Tahun 2007 Tentang Standar Proses Untuk Satuan Pendidikan Dasar Dan Menengah (Jakarta: Badan Standar Nasional Pendidikan, 2007), h. 6..
(21) 3. Salah satu mata pelajaran yang wajib di sekolah dasar adalah Pendidikan Kewarganegaraan (PKn). Dalam bukunya, menurut Susanto yang dimaksud dengan PKn adalah mata pelajaran yang digunakan sebagai wahana untuk mengembangkan dan melestarikan nilai luhur dan moral yang berakar pada budaya bangsa Indonesia. Nilai luhur dan moral ini diharapkan dapat diwujudkan dalam bentuk perilaku kehidupan siswa sehari-hari, baik sebagai individu maupun anggota masyarakat, dan makhluk ciptaan Tuhan Yang Maha Esa.4 Pembelajaran PKn di sekolah dasar dimaksudkan sebagai suatu proses belajar mengajar dalam rangka membantu siswa agar dapat belajar dengan baik dan membentuk manusia Indonesia seutuhnya. Pembentukan karakter bangsa yang diharapkan mengarah pada penciptaan suatu masyarakat yang menempatkan demokrasi dalam kehidupan berbangsa dan bernegara yang berlandaskan pada Pancasila, UUD, dan norma-norma yang berlaku dimasyarakat.5 Tujuan pembelajaran PKn di sekolah dasar adalah untuk membentuk watak atau karakteristik warga negara yang baik. PKn di sekolah dasar memberikan pelajaran pada siswa untuk memahami dan membiasakan dirinya dalam kehidupan di sekolah atau di luar sekolah, karena materi pendidikan kewarganegaraan menekankan pada pengamalan dan pembiasaan 4. Ahmad Susanto, Teori Belajar & Pembelajaran di Sekolah Dasar (Jakarta: Prenadamedia Group, 2014), h. 225. 5 Ibid, h. 227..
(22) 4. dalam kehidupan sehari-hari yang ditunjang oleh pengetahuan dan pengertian sederhana sebagai bekal untuk mengikuti pendidikan berikutnya.6 Menurut peneliti pembelajaran PKn sangat penting dimulai ketika anak-anak memasuki sekolah dasar. Karena, usia mereka haus akan pengetahuan, sangat penting dan tepat untuk memberikan konsep dasar tentang wawasan nusantara dan perilaku yang demokratis secara benar dan terarah, jika salah maka akan berdampak terhadap pola pikir dan perilaku pribadi yang mempengaruhi pada jenjang selanjutnya juga pada kehidupan di masyarakat. Jika diibaratkan mereka dalah bibit biasa yang kita pupuk menjadi bibit unggul, yang diharapkan dapat tumbuh menjadi pribadi yang bermutu baik akhlak maupun ilmunya. Upaya untuk mencapai tujuan pembelajaran PKn adalah dengan menggunakan. suatu model pembelajaran. Suprijono menyatakan bahwa. model pembelajaran ialah pola yang digunakan sebagai pedoman dalam merencanakan pembelajaran di kelas maupun tutorial. Menurut Arends, model pembelajaran mengacu pada pendekatan yang akan digunakan, termasuk didalamnya. tujuan-tujuan. pembelajaran,. tahap-tahap. dalam. kegiatan. pembelajaran, lingkungan pembelajaran, dan pengelolaan kelas.7 Menurut pandangan peneliti sangat penting memilih model pembelajaran yang dapat digunakan untuk memenuhi tujuan pembelajaran.. 6. Ibid, h. 231-233. Agus Suprijono, Cooperative Learning (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2015), h.65.. 7.
(23) 5. Peneliti tertarik untuk memilih mata pelajaran PKn sebagai bahan penelitian karena didalam pembelajaran PKn siswa dilatih agar dapat mengerti dan melaksanakan hak dan kewajiban dengan baik. Hal tersebut sesuai dengan model yang akan penulis gunakan dalam penelitian ini. Peneliti melaksanakan wawancara dan observasi di kelas IV MI Terpadu Muhammadiyah Sukarame Bandar Lampung untuk mengetahui masalah apa yang terjadi di kelas IV Thoriq bin Ziyad dan Zaid bin Tsabit MI Terpadu. Muhammadiyah. Sukarame. Bandar. Lampung.. Berdasarkan. wawancara dan observasi yang peneliti laksanakan proses pembelajaran dikelas IV Thoriq bin Ziyad dan Zaid bin Tsabit kurang efektif, banyak siswa yang mengobrol, siswa kurang memperhatikan ketika dijelaskan, kurangnya kerja sama saat pembelajaran berlangsung antara guru dengan siswa serta siswa dengan siswa, dan cenderung pasif saat kegiatan pembelajaran berlangsung.8 Hal ini mengakibatkan siswa kurang mengerti tentang materi yang disampaikan oleh guru. Salah satu penyebab pembelajaran yang kurang efektif ini, karena dalam proses pembelajaran hanya guru yang menjadi pusat pembelajaran. Guru belum banyak menggunakan variasi model dalam pembelajaran, sehingga siswa cepat bosan selama kegiatan pembelajaran berlangsung. Kurangnya keaktifan siswa selama proses pembelajaran sehingga dapat mempengaruhi hasil belajar siswa. 8. Umi Oktiani, Wali Kelas IV Thoriq bin Ziyad MI Terpadu Muhammadiyah, Sukarame Bandar Lampung, 03 Januari 2017..
(24) 6. Diperoleh data hasil nilai Ujian Akhir Semester (UAS) semester ganjil kelas IV Thoriq bin Ziyad dan IV Zaid bin Tsabit pada mata pelajaran PKn dapat dilihat pada tabel dibawah ini . Tabel 1 Data Hasil Belajar Ujian Akhir Sekolah (UAS) Semester Ganjil Mata Pelajaran PKn Siswa Kelas IV MI Terpadu Muhammadiyah Sukarame Bandar Lampung Tahun Pelajaran 2016/2017 No. Nama Kelas. KKM Jumlah ≤ 65 ≥ 65 1. IV Thoriq bin Ziyad 12 9 21 2. IV Zaid bin Tsabit 11 9 20 Jumlah 23 18 41 Persentase 56 % 44 % 100 % Sumber : Dokumentasi Guru Kelas IV MI Terpadu Muhammadiyah Sukarame Bandar Lampung Berdasarkan tabel diatas diperoleh data yang menyatakan bahwa dari 41 siswa kelas IV hanya 18 siswa yang memenuhi KKM sedangkan 23 siswa belum memenuhi KKM. Artinya 56 % dari 41 siswa belum memenuhi KKM dan hanya 44 % siswa yang memenuhi KKM. Dalam kegiatan pembelajaran gurulah yang menjadi pusat pembelajaran. Guru belum banyak menggunakan variasi model dalam pembelajaran, sehingga siswa mudah bosan selama kegiatan pembelajaran berlangsung. Kurangnya keikutsertaan dan keaktifan siswa dalam proses pembelajaran sehingga dapat mempengaruhi hasil belajar siswa. Frang Lyman.
(25) 7. dan koleganya menyatakan bahwa think pair share merupakan suatu cara yang efektif untuk membuat variasi suasana pola diskusi kelas.9 Model pembelajaran kooperatif tipe think pair share mampu memberikan kesempatan lebih banyak kepada siswa untuk berpikir kritis, kreatif, dalam merespon suatu pertanyaan. Dalam bukunya Huda menyatakan bahwa model ini memperkenalkan gagasan waktu “tunggu atau berpikir” (wait or think time) pada elemen interaksi pembelajaran kooperatif yang saat ini menjadi salah satu faktor ampuh dalam meningkatkan tanggapan siswa terhadap pertanyaan.10 Pembelajaran kooperatif tipe think pair share ini dianggap sederhana dan efisien karena tidak membuang-buang waktu hanya untuk mengatur tempat duduk atau mengelompokkan siswa. Diharapkan dengan menggunakan model ini, dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Berdasarkan uraian di atas, peneliti tertarik untuk mengangkat judul dalam skripsi ini, yaitu: “Pengaruh Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Think Pair Share terhadap Hasil Belajar PKn Siswa di Kelas IV MI Terpadu Muhammadiyah Sukarame Bandar Lampung” B. Identifikasi Masalah Berdasarkan latar belakang masalah, dapat diidentifikasi masalah sebagai berikut. 9. Jumanta Hamdayama, Model dan Metode Pembelajaran Kreatif dan Berkarakter (Bogor: Ghalia Indonesia, 2014), h. 201. 10 Miftahul Huda, Cooperative Learning (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2013), h.132..
(26) 8. 1. Pembelajaran masih konvensional berpusat pada guru. 2. Pembelajaran hanya menimbulkan komunikasi satu arah. 3. Siswa kurang memahami materi yang diajarkan. 4. Sebagian besar siswa pasif dalam mengikuti proses pembelajaran. 5. Kurangnya penggunaan model pembelajaran. 6. Rendahnya hasil belajar PKn. C. Batasan Masalah Berdasarkan identifikasi masalah, peneliti membatasi masalah dalam penelitian ini pada pengaruh model pembelajaran kooperatif tipe think pair share terhadap hasil belajar PKn siswa di kelas IV MI Terpadu Muhammadiyah Sukarame Bandar Lampung Tahun Pelajaran 2016/2017. D. Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang masalah, dapat dirumuskan masalah penelitian yakni, “Apakah terdapat pengaruh antara model pembelajaran kooperatif tipe think pair share terhadap hasil belajar PKn siswa di kelas IV MI Terpadu Muhammadiyah Sukarame Bandar Lampung Tahun Pelajaran 2016/2017? ” E. Tujuan Penelitian Untuk memperoleh hasil penelitian yang lebih jelas dan terarah, perlu ditetapkan terlebih dahulu tujuan yang hendak dicapai. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pada model pembelajaran kooperatif.
(27) 9. tipe think pair share terhadap hasil belajar PKn siswa di kelas IV MI Terpadu Muhammadiyah Sukarame Bandar Lampung Tahun Pelajaran 2016/2017. F. Manfaat Penelitian Manfaat yang diharapkan dalam kaitannya dengan penelitian ini: 1. Bagi Siswa Penerapan pembelajaran PKn dengan model pembelajaran kooperatif tipe think pair share merupakan pembelajaran yang menyenangkan sehingga dapat meningkatkan hasil belajar siswa dan menumbuhkan motivasi belajar siswa. 2. Bagi Guru Hasil penelitian ini diharapkan bisa menjadi wawasan bagi guru tentang penggunaan model pembelajaran kooperatif tipe think pair share dan diharapkan nantinya guru dapat mengembangkan pembelajaran dengan pendekatan yang bervariasi dan lebih efektif. 3. Bagi Sekolah Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan solusi untuk meningkatkan mutu pendidikan di MI Terpadu Muhammadiyah Sukarame Bandar Lampung. 4. Bagi Peneliti Bagi peneliti, penelitian ini dapat dijadikan sebuah ilmu dan pengalaman yang berharga guna menghadapi permasalahan dimasa depan dan menjadi sarana pengembangan wawasan mengenai pendekatan pembelajaran..
(28) BAB II LANDASAN TEORI A. Model Pembelajaran 1. Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Think Pair Share a. Pengertian Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Think Pair Share Model Think Pair Share atau berpikir berpasangan berbagi merupakan jenis pembelajaran kooperatif yang dirancang untuk mempengaruhi pola interaksi siswa. Model ini pertama kali dikembangkan oleh Frang Lymen dan koleganya yang menyatakan bahwa think pair share merupakan suatu cara yang efektif untuk membuat suatu cara yang efektif untuk membuat variasi suasana pola diskusi kelas yang aktif, inovatif, kreatif dan menyenangkan dengan asumsi bahwa resitasi atau diskusi membutuhkan pengaturan untuk mengendalikan kelas secara keseluruhan, dan prosedur yang di gunakan dalam think-pair-share dapat memberi peserta didik lebih banyak waktu berpikir dalam memecahkan masalah, untuk merespon dan saling membantu, think pair share merupakan model pembelajaran yang memberi kesempatan kepada peserta didik untuk berpikir terlebih dahulu sebelum didiskusikan dengan pasangannya.
(29) 11. dan dipersentasikan didepan kelas, belajar sendiri dan bekerja sama dengan orang lain.1 Model pembelajaran kooperatif tipe think pair share bisa membuat siswa untuk berfikir sendiri dan berdiskusi dengan temannya, serta dapat menumbuhkan partisipasi siswa. Model ini mengandung respon dari semua orang didalam kelas dan meningkatkan semua siswa kedalam peran-peran yang aktif secara kognitif. Think pair share merupakan salah satu model pembelajaran yang mudah direncanakan dan diterapkan. Karena setiap anggota dari pasangan diharapkan untuk berpartisipasi. Think pair share merupakan jenis pembelajaran kooperatif yang dirancang untuk mempengaruhi pola intereaksi siswa. Think pair share menghendaki siswa bekerja saling membantu dalam kelompok kecil (2-6 anggota).2 Seperti namanya “Thinking” model ini diawali dengan guru mengajukan pertanyaan atau isu terkait dengan pelajaran untuk dipikirkan oleh peserta didik. Guru memberikan kesempatan kepada mereka memikirkan jawabannya. Selanjutnya “Pairing” guru meminta peserta didik berpasang-pasangan. Beri kesempatan kepada pasangan-pasangan itu untuk berdiskusi. Diharapkan diskusi ini dapat 1. Jumanta Hamdayama, Model dan Metode Pembelajaran Kreatif dan Berkarakter (Bogor: Ghalia Indonesia, 2014), h. 201. 2 Kokom Komalasari, Pembelajaran Konstektual Konsep dan Aplikasi (Bandung: PT Refika Aditama, 2011), h.64..
(30) 12. memperdalam makna dari jawaban yang telah dipikirkannya melalui intersubjektif dengan pasangannya. Hasil diskusi intersubjektif ditiap-tiap pasangan hasilnya dibicarakan dengan pasangan seluruh kelas. Tahap ini dikenal dengan “Sharing”. Dalam hal ini diharapkan terjadi tannya jawab yang mendorong pada pengonstruksian pengetahuan yang dipelajarinya.3 Berdasarkan. pendapat. beberapa. ahli,. peneliti. menyimpulkan bahwa model pembelajaran kooperatif tipe think pair share adalah model pembelajaran kooperatif yang dirancang untuk mempengaruhi pola interaksi siswa, dimana siswa harus mampu berpikir mandiri dan melaksanakan diskusi untuk menentukan jawaban bersama. Model think pair share mendorong siswa untuk belajar lebih aktif secara kognitif. Siswa dituntut selalu berfikir tentang. suatu. persoalan. dan. mereka. mencari. sendiri. cara. penyelesaiannya. Dengan demikian mereka akan lebih terlatih untuk selalu. menggunakan. keterampilan. pengetahuannya,. sehingga. pengetahuan dan pengalaman belajar mereka akan tertanam untuk jangka waktu yang cukup lama.. 3. Agus Suprijono, Cooperative Learning (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2015), h. 110..
(31) 13. b. Tahap-tahap Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Think Pair Share Model pembelajaran tipe Think Pair Share memiliki prosedur yang ditetapkan secara eksplisit untuk memberi waktu lebih banyak pada siswa untuk berpikir, menjawab, dan saling membantu satu sama lain. Model Think Pair Share sebagai ganti dari Tanya jawab dikelas. Sebagai salah satu model pembelajaran Think Pair Share memiliki langkah-langkah tertentu. Setiap siswa memikirkan dan mengerjakan tugas sendiri. Siswa berpasangan dengan salah satu rekan dalam kelompok dan berdiskusi dengan pasangannya. Kedua pasangan bertemu kembali dalam kelompok berempat. Siswa berkesempatan untuk membagikan hasil kerjanya kepada kelompok berempat. Model pembelajaran tipe Think Pair Share terdiri atas 5 langkah,. yaitu. tahap. pendahuluan. think,. pair,. dan. share,. penghargaan. 1) Tahap Pendahuluan Awal pembelajaran dimulai dengan penggalian apersepsi sekaligus memotivasi siswa agar terlibat pada aktivitas pembelajaran. Pada tahap ini, guru menjelaskan aturan main serta menginformasikan batasan waktu untuk setiap tahap kegiatan..
(32) 14. 2) Tahap Think (berpikir secara individual) Proses Think Pair Share dimulai pada saat guru melakukan demonstrasi untuk menggali konsepsi awal siswa. Pada tahap ini, siswa diberi batasan waktu (think time) oleh guru untuk memikirkan jawabannya secara individual terhadap pertanyaan yang. diberikan.. Dalam. penentuannya,. guru. harus. mempertimbangkan pengetahuan dasar siswa dalam menjawab pertanyaan yang diberikan. 3) Tahap Pairs (berpasangan dengan teman sebangku) Pada tahap ini, guru mengelompokkan siswa secara berpasangan. Hai ini dimaksudkan agar siswa tidak pindah mendekati siswa lain yang pintar dan meninggalkan teman sebangkunya. Kemudian, siswa mulai bekerja dengan pasangannya untuk mendiskusikan mengenai jawaban atas permasalahan yang telah diberikan oleh guru. Setiap siswa memiliki kesempatan untuk mendiskusikan berbagai kemungkinan jawaban secara bersama. 4) Tahap Share (berbagi jawaban dengan pasangan lain atau seluruh kelas) Pada tahap ini, siswa dapat mempersentasikan jawaban secara perseorangan atau secara kooperatif kepada kelas sebagai keseluruhan kelompok. Setiap anggota dari kelompok dapat memperoleh nilai dari hasil pemikiran mereka..
(33) 15. 5) Tahap Penghargaan Siswa mendapat penghargaan berupa nilai baik secara individu maupun kelompok. Nilai individu berdasarkan hasil jawaban pada tahan think, sedangkan nilai kelompok berdasarkan jawaban pada tahap pair dan share, terutama pada saat presentasi memberikan penjelasan terhadap seluruh kelas.4 c. Langkah-langkah. Dalam. Penerapan. Model. Pembelajaran. Kooperatif Tipe Think Pair Share Model pembelajaran kooperatif tipe think pair share memungkinkan siswa untuk bekerja sendiri dan bekerja sama dengan orang lain, serta dapat mengoptimalkan partisipasi siswa. Model pembelajaran kooperatif yang dirancang untuk mempengaruhi pola interaksi siswa, dimana siswa harus mampu berpikir mandiri dan melaksanakan diskusi untuk menentukan jawaban bersama. Adapun langkah-langkah yang harus ditembuh untuk melaksanakan model pembelajaran kooperatif tipr think pair share. Huda menjabarkan prosedur pelaksanaan pembelajaran kooperatif tipe think pair share sebagai berikut : 1) Siswa ditempatkan dalam kelompok-kelompok. Setiap kelompok terdiri dari empat anggota/siswa. 2) Guru memberikan tugas pada setiap kelompok. 4. Jumanta Hamdayama, Op. Cit, h. 202-203..
(34) 16. 3) Masing-masing anggota memikirkan dan mengerjakan tugas tersebut sendiri-sendiri terlebih dahulu. 4) Kelompok membentuk anggota-anggotanya secara berpasangan. Setiap pasangan mendiskusikan hasil pengerjaan individunya. 5) Kedua pasangan lalu bertemu kembali dalam kelompoknya masing-masing untuk menshare hasil diskusinya.5 Hanapiah mengemukakan langkah-langkah pembelajaran kooperatif tipe think pair share : 1) Guru menyimpulkan inti materi dan kompetensi yang ingin dicapai. 2) Peserta didik diminta untuk berpikir tantang materi/permasalahan yang disampaikan guru. 3) Peserta didik diminta berpasangan dengan teman sebelahnya (kelompok 2 orang) dan mengutarakan hasil pemikiran masingmasing. 4) Guru. memimpin. pleno. kecil. diskusi,. tiap. kelompok. mengembangkan hasil diskusinya. 5) Berawal dari kegiatan tersebut, mengarahkan pembicaraan pada pokok. permasalahan. dan. diungkapkan para siswa. 5. Miftahul Huda, Op. Cit, h. 136-137.. menambah. materi. yang. belum.
(35) 17. 6) Guru memberikan kesimpulan. 7) Penutup.6 Langkah pelaksanaan pembelajaran kooperatif tipe think pair. share. sebagai. berikut. :. Seperti. namanya. “Thinking”,. pembelajaran ini diawali dengan guru mengajukan pertanyaan atau isu terkait dengan pelajaran untuk dipikirkan oleh siswa. Guru memberi kesempatan kepada mereka memikirkan jawabannya. Selanjutnya, “Pairing”, pada tahap ini guru meminta siswa berpasang-pasangan. Beri kesempatan kepada pasangan-pasangan itu untuk berdiskusi. Diharapkan diskusi ini dapat memperdalam makna dari jawaban yang telah dipikirkannya melalui intersubjektif dengan pasangannya. Hasil diskusi intersubjektif ditiap-tiap pasangan hasilnya dibicarakan dengan pasangan seluruh kelas. Tahap ini dikenal dengan “Sharing”. Dalam kegiatan ini diharapkan terjadi tanya jawab yang mendorong pada pengontruksian. pengetahuan. secara. integratif.. Siswa. dapat. menemukan struktur dari pengetahuan yang dipelajarinya.7 Langkah-langkah pembelajaran model think pair share yang dikemukan oleh para ahli diatas terdapat pebedaan, yaitu dalam hal. jumlah. anggota. kelompoknya.. Suprijono. dan. Hanapiah. mengemukakan pendapat pada kelompok berpasangan, sedangkan 6. Nanang Hanapiah dan Cucu Suhana, Konsep Strategi Pembelajaran (Bandung: Refika Aditama, 2009), h. 50. 7 Agus Suprijono, Op. Cit, h. 110..
(36) 18. huda mengemukakan untuk kelompok berempat. Akan tetapi pada hakikatnya sama yaitu diawali dengan siswa untuk berpikir secara individu, kemudian siswa berkelompok dan berdiskusi. Diskusi ini diharapkan memperdalam jawaban yang telah dipikirkannya melalui intersubjektif dengan pasangannya. Setelah itu jawaban dibacakan terhadap kelompok lain didepan kelas. Berdasarkan pendapat para ahli, peneliti menyimpulkan langkah-langkah pelaksanaan model pembelajaran kooperatif tipe think pair share diawali dengan siswa diminta berpikir (thinking) masalah secara masing-masing, kemudian siswa diminta untuk berpasangan (pairing) untuk mendiskusikan jawaban dari jawaban individu-individu tadi, lalu dilanjutkan dengan berbagi (share) jawaban yang telah disepakati. d. Kelebihan dan Kelemahan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Think Pair Share Beberapa kelebihan model pembelajaran kooperatif tipe think pair share sebagai berikut : 1) Meningkatkan pencurahan waktu dan tugas. Penggunaan model pembelajaran think pair share menuntut siswa menggunakan waktunya untuk mengerjakan tugas-tugas atau permasalahan yang diberikan oleh guru diawal pertemuan sehingga diharapkan siswa.
(37) 19. mampun. memahami. materi. dengan. baik. sebelum. guru. menyampaikannya pada pertemuan selanjutnya. 2) Memperbaiki kehadiran. Tugas yang diberikan oleh guru pada setiap pertemuan selain untuk melibatkan siswa secara aktif dalam proses pembelajaran juga dimaksudkan agar siswa dapat selalu berusaha hadir pada setiap pertemuan. Sebab bagi siswa yang sekali tidak hadir maka siswa tersebut tidak mengerjakan tugas dan hal ini akan mempengaruhi hasil belajar mereka. 3) Angka putus sekolah berkurang. Model pembelajaran think pair share diharapkan dapat memotivasi siswa dalam pembelajaran sehingga hasil. belajar. siswa. dapat. lebih. baik. daripada. pembelajaran. dimulai,. pembelajaran dengan model konvensional. 4) Sikap. apatis. berkurang.. Sebelum. kecenderungan siswa merasa malas karena proses belajar dikelas hanya mendengarkan apa saja yang disampaikan guru dan menjawab semua yang dtanyakan oleh guru. Dengan melibatkan siswa secara aktif dalam proses belajar mengajar, model pembelajaran think pair share akan lebih menarik dan tidak monoton dibandingkan model konvensional. 5) Penerimaan terhadap individu lebih besar. Dalam model pembelajaran konvensional, siswa yang aktif didalam kelas hanyalah siswa tertentu yang benar-benar rajin dan cepat dalam.
(38) 20. menerima materi yang disampaikan oleh guru sedangkan siswa lain hanyalah “pendengar” materi yang disampaikan guru. Dengan pembelajaran think pair share, hal ini dapat diminimalisir sebab semua siswa akan terlibat dengan permasalahan yang diberikan oleh guru. 6) Hasil belajar lebih mendalam. Parameter dalam proses belajar mengajar adalah hasil yang diraih oleh siswa. Dengan model pembelajaran think pair share, perkembangan hasil belajar dapat diidentifikasi secara bertahap, sehingga pada akhir pembelajaran hasil yang diperoleh siswa dapat optimal. 7) Meningkatkan kebaikan budi, kepekaan dan toleransi. Sistem kerja sama yang diterapkan dalam model pembelajaran think pair share menuntut siswa untuk dapat bekerja sama dalam tim, sehingga siswa dituntut untuk dapat belajar berempati, menerima pendapat orang lain atau mengakui secara sportif jika pendapatnya tidak diterima. Beberapa kelemahan model pembelajaran kooperatif tipe think pair share sebagai berikut : 1) Tidak selamanya mudah bagi siswa untuk mengatur cara berpikir sistematik. 2) Lebih sedikit ide yang masuk..
(39) 21. 3) Jika ada perselisihan, tidak ada penengah dari siswa dalam kelompok dalam kelompok yang bersangkutan sehingga banyak kelompok yang melapor dan dimonitori. 4) Jumlah siswa yang ganjil berdampak pada saat pembentukan kelompok, karena ada satu siswa tidak mempunyai pasangan. 5) Jumlah kelompok yang terbentuk banyak. 6) Menggantungkan pada pasangan.8 2. Model Pembelajaran Guided Note Taking a. Pengertian Model Pembelajaran Guided Note Taking Model pembelajaran Guided Note Taking atau catatan terbimbing yang merupakan salah satu model pembelajaran yang dipilih untuk membantu penyampaian materi ajar dengan menggunakan hand out dengan menyimpulkan poin-poin penting dari sebuah pelajaran yang disampaikan dengan ceramah. Agar ceramah yang yang dibawakan guru mendapat perhatian siswa.9 b. Langkah-langkah Model Pembelajaran Guided Note Taking 1) Beri peserta didik panduan yang berisi ringkasan poin-poin utama dari materi pelajaran yang akan disampaikan dengan ceramah. 2) Kosongkan sebagian dari poin-poin yang dianggap penting sehingga akan terdapat ruang-ruang kosong dalam panduan tersebut. 8 9. Jumanta Hamdayama, Op. Cit, h. 203-205. Agus Suprijono, Op. Cit, h. 124..
(40) 22. 3) Beberapa cara yang dapat dilakukan adalah dengan mengosongkan beberapa pernyataan, menghilangkan kata kunci dan dapat juga dibuat bahan ajar (handout) yang tercantum di dalamnya sub topik dari materi pelajaran. 4) Bagikan bahan ajar (handout) yang telah dibuat kepada peserta didik. Beri penjelasan bahwa sengaja menghilangkan beberapa poin penting dalam handout dengan tujuan agar peserta didik tetap berkonsentrasi menjelaskan materi yang disampaikan. 5) Setelah selesai menyampaikan materi, minta peserta didik untuk membacakan hasil catatannya. 6) Beri tanggapan.10 c. Kelebihan dan Kelemahan Model Pembelajaran Guided Note Taking Kelebihan model pembelajaran Guided Note Taking : 1) Model ini cocok untuk kelas besar maupun kecil 2) Model ini dapat digunakan sebelum, selama berlangsung, atau sesuai kegiatan pembelajaran 3) Model ini cukup berguna untuk materi pengantar 4) Model ini sangat cocok untuk materi-materi yang mengandung fakta, sila-sila, rukun-rukun, atau prinsip-prinsip, dan definisi-definisi. 10. Hisyam Zaini, Bermawy Munthe, Sekar Ayu Aryani, Strategi Pembelajaran Aktif di Perguruan Tinggi (Yogyakarta: Pustaka Insan Madani, 2008), h. 32-34..
(41) 23. 5) Model ini mudah digunakan ketika peserta didik harus mempelajari materi yang bersifat menguji pengetahuan kognitif 6) Model ini memungkinkan peserta didik untuk belajar lebih aktif, karena memberikan kesempatan mengembangkan diri, fokus pada handout dan materi ceramah serta diharapkan mampu memecahkan masalah sendiri dengan menemukan (discovery) dan bekerja sendiri. Kelemahan model pembelajaran Guided Note Taking : 1) Jika guided note taking digunakan sebagai model pembelajaran pada setiap materi pelajaran, maka guru akan sulit mengontrol kegiatan dan keberhasilan peserta didik 2) Kadang-kadang dalam mengimplementasikannya, memerlukan waktu yang panjang sehingga guru sulit menyesuaikannya dengan waktu yang ditentukan 3) Kadang-kadang. sulit. dalam. pelaksanaan. karena. guru. harus. mempersiapkan handout atau perencanaan terlebih dahulu, dengan memilah bagian atau materi mana yang harus dikosongkan dan pertimbangan kesesuaian materi dengan kesiapan peserta didik untuk belajar dengan metode tersebut 4) Menuntut para guru untuk lebih menguasai materi lebih luas lagi dari standar yang telah ditetapkan.
(42) 24. 5) Biaya untuk penggandaan handout bagi sebagian guru masih dirasakan mahal dan kurang ekonomis.11 B. Hasil Belajar 1. Pengertian Hasil Belajar Hasil belajar adalah perubahan tingkah laku atau kemampuankemampuan yang dimiliki peserta didik setelah ia menerima pengalaman belajarnya.12 Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 104 Tahun 2014 Tentang Penilaian Hasil Belajar oleh Pendidik pada Pendidikan Dasar dan Pendidikan Menengah Pasal 1 penilaian hasil belajar oleh pendidik adalah proses pengumpulan informasi/bukti tentang capaian pembelajaran siswa dalam kompetensi sikap spiritual dan sikap sosial, kompetensi pengetahuan, dan kompetensi keterampilan yang dilakukan secara terencana dan sistematis, selama dan setelah proses pembelajaran.13 Susanto mengemukakan bahwa hasil belajar adalah perubahanperubahan yang terjadi pada diri siswa, baik yang menyangkut aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik sebagai hasil dari kegiatan belajar.14 Berdasarkan pendapat para ahli, peneliti menyimpulkan bahwa hasil belajar adalah perubahan. yang terjadi pada diri siswa baik. perubahan sikap dan pengetahuan. 11. https://www.google.com/search?=model+pembelajarankooperatif+tipe+guided+note+taking &ie=utf-8&oe=utf-8&client=firefox-b (25 Januari 2017) 12 Nana Sudjana, Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2013), h. 22. 13 http://luk.staff.ugm.ac.id/atur/bsnp/Permendikbud104-2014PenilaianHasilBelajar.pdf (12 januari 2017). 14 Ahmad Susanto, Teori Belajar & Pembelajaran Disekolah Dasar (Jakarta: Prenadamedia Group, 2014), h. 5..
(43) 25. 2. Jenis-jenis Hasil Belajar a. Ranah Kognitif Ranah kognitif adalah ranah yang mencakup kegiatan mental (otak). Menurut Bloom, segala upaya yang mencakup aktivitas otak adalah termasuk ranah kognitif.15 Ranah kognitif merupakan suatu proses kontrol, yaitu suatu proses internal yang digunakan oleh peserta didik untuk memilih dan mengubah cara-cara memberikan perhatian, belajar, mengingat, dan berfikir. Berkenaan dengan hasil belajar intelektual yang terdiri dari enam aspek, yaitu pengetahuan atau ingatan, pemahaman, aplikasi, analisis, sintesis, dan evaluasi. Kedua aspek pertama disebut kognitif tingkat rendah dan keempat aspek berikutnya termasuk kognitif tingkat tinggi. 1). Pengetahuan (knowladge) adalah kemampuan seseorang untuk mengingat-ingat kembali (recall) atau mengenali kembali tentang nama, istilah, ide, gejala, rumus-rumus dan sebagainya.. 2). Pemahaman (comprehension) adalah kemampuan seseorang untuk mengerti dan memahami sesuatu setelah sesuatu itu diketahui ddan di ingat.. 3). Penerapan atau aplikasi (apliccation) adalah kesanggupan seseorang untuk menerangkan atau meggunakan ide-ide umum,. 15. 2012), h.50. Anas Sudijono, Pengantar Evaluasi Pendidikan, (Jakarta: PT Raja Grafindo Pustaka,.
(44) 26. tata cara, ataupun metode-metode, prinsip-prinsip, rumus-rumus, teori-teori dan sebagainya, dalam situasi yang kongkrit. 4). Analisis (analysis) adalah kemampuan seseorang untuk merinci atau menguraikan suatu bahan atau keadaan menurut bagianbagian dan faktor-faktor yang satu dengan faktor yang lainnya.. 5). Sintensis (syntensis) adalah suatu proses yang memadukan bagian-bagian atau unsur-unsur secara logis sehingga menjelma menjadi suatu pola yang berstruktur atau berbentuk pola baru.. 6). Penilaian (Evaluation) adalah jenjang paling tinggi dalam ranah kognitif.. Penilaian. atau. evaluasi. merupakan. kemampuan. seseorang untuk membuat pertimbangan terhadap suatu situasi, nilai atau ide..
(45) 27. b. Ranah Afektif Ranah afektif berkenaan dengan sikap dan nilai. Ciri-ciri hasil afektif akan tampak pada peserta didik dalam berbagai tingkah laku. Ranah afektif menurut Krathwohln dan kawan-kawan dibagi menjadi lima jenjang diantaranya: 1) Menerima (receiving), yaitu kepekaan seseorang dalam menerima rangsangan (stumulus) dari luar yang datang kepada dirinya dalam bentuk masalah, situasi, gejala, dan lain-lain. 2) Menanggapi (responding), yaitu kemampuan yang dimiliki seseorang untuk mengikutsertakan dirinya secara aktif dalam fenomene tertentu dan membuat reaksi terhadapnya dengan salah satu cara. 3) Menghargai (valuing), yaitu memberikan nilai atau memberikan penghargaan terhadap suatu kegiatan atau obyek, sehingga apabila kegiatan itu tidak dikerjakan akan membawa kerugian. Dalam kaitanya dengan proses belajar mengajar, peserta didik tidak hanya menerima nilai yang diajarkan tetapi mereka telah berkemampuan untuk menilai konsep atau fenomena, yaitu baik dan buruk. 4) Mengorganisasikan. (organization),. yaitu. mempertemukan. perbedaan nilai sehingga terbentuk nilai baru yang lebih universal, yang membawa pada perbaikan umum. Mengorganisasikan merupakan pengembangan diri dari nilai kedalam suatu sistem.
(46) 28. organsasi, termasuk di dalamnya hubungan satu nilai dengan nilai lain, pemantapan dan prioritas nilai yang telah dimilikinya. 5) Karakterisasi (characterization), yaitu keterpaduan semua sistem yang telah. dimiliki. seseorang,. yang mempengaruhi. pola. kepribadian dan tingkahlakunya. 16 c. Ranah Psikomotorik Hasil. belajar. psikomotorik. tampak. dalam. bentuk. keterampilan (skill) dan kemampuan bertindak individu. Ada enam tingkatan keterampilan, yaitu: 1) Gerakan refleks (keterampilan pada gerakan yang tidak sadar). 2) Keterampilan pada gerakan-gerakan dasar. 3) Kemampuan perseptual, termasuk di dalamnya membedakan visual, membedakan auditif, motoris, dan lain-lain. 4) Kemampuan dibidang fisik, misalnya kekuatan, keharmonisan, dan ketepatan. 5) Gerakan-gerakan skill, mulai keterampilan sederhana sampai pada keterampilan yang kompleks. 6) Kemampuan yang berkenaan dengan komunikasi non-decursive seperti gerakan ekspresif dan interpretatif.17. 16 17. Ibid, h. 54 Nana Sudjana, Op. Cit, h. 30-31..
(47) 29. Dalam penelitian ini, peneliti hanya membatasi penilaian hasil belajar. pada ranah kognitif dengan aspek pengetahuan,. pemahaman dan penerapan. 3. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Hasil Belajar Menurut Slameto, secara global ada beberapa faktor yang mempengaruhi belajar siswa, yaitu : a. Faktor intern (faktor dari dalam diri siswa) Faktor yang berasal dari dalam diri siswa meliputi 3 aspek, yaitu: 1) Aspek Fisikologis (yang bersifat jasmaniah). Kondisi umum jasmaniah dan tonus (tenaga otot) yang menandai tingkat kebugaran organ-organ tubuh dan sendi-sendi, dapat mempengaruhi semangat dan intensitas siswa dalam mengikuti pelajaran.kondisi organ-organ khusus siswa, seperti tingkat kesehatan indera pendengaran dan indera penglihatan, juga sangat mempengaruhi kemampuan siswa dalam menyerap informasi dan pengetahuan, khususnya yang disajikan di kelas. 2) Aspek psikologis (yang bersifat rohaniah). Banyak faktor yang termasuk aspek psikologis yang dapat mempengaruhi kuantitas perolehan belajar siswa. Namun, diantara faktor-faktor rohaniah siswa pada umumnya dipandang lebih esensial itu adalah sebagai berikut: a) tingkat kecerdasan/.
(48) 30. intelegensia siswa, b) Perhatian, c) bakat siswa, d) minat siswa, e) motif, f) kematangan, dan g) kesiapan. 3) Kelelahan. Kelelahan pada seseorang meliputi kelelahan jasmani dan rohani. b. Faktor eksternal siswa Faktor eksternal siswa, yaitu: 1) Faktor keluarga, meliputi: a) Cara orang tua mendidik. b) Relasi Antar anggota keluarga. c) Suasana rumah. d) Keadaan ekonomi keluarga. e) Latar belakang kebudayaan. 2) Faktor sekolah, meliputi: a) Guru. b) Metode mengajar. c) Kurikulum, kurikulum yang tidak baik berpengaruh tidak baik terhadap belajar siswa. d) Relasi guru dengan siswa. e) Relasi siswa dengan siswa. f)Disiplin sekolah. g) Alat pelajaran.
(49) 31. 3) Faktor masyarakat, meliputi: a) Kegiatan siswa dalam masyarakat. b) Mass media. c) Teman bergaul. d) Bentuk kehidupan masyarakat.18 Faktor-faktor di atas sangat berpengaruh terhadap hasil belajar siswa yang akan diperoleh dalam pencapaian tujuan. C. Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) 1. Pengertian Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) Pendidikan kewarganegaraan (PKn) adalah pendidikan yang menyangkut status formal warga negara yang pada awalnya diatur dalam Undang-undang No.2 th. 1949 tentang naturalisasi, yang kemudian diperbaharui lagi dalam UU No. 12 Tahun 2006. Mata pelajaran PKn pada dasarnya mencakup isi tentang konsep dan nilai Pancasila sebagai materi yang harus dipahami, dihayati dan diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari sesuai usia dan linggkungannya dengan ruang lingkup norma hukum dan peraturan. PKn di indonesia diharapkan dapat mempersiapkan siswa menjadi warga negara yang memiliki komitmen yang kuat dan konsisten untuk mempertahankan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). 18. Slameto, Belajar dan Faktor-Faktor yang Mempengaruhinya,( Jakarta : PT Rineka Cipta, 2010 ), h. 54-71..
(50) 32. Winataputra menyatakan bahwa PKn merupakan mata pelajaran yang memfokuskan pada pembentukan warga negara yang memahami dan mampu melaksanakan hak-hak dan kewajibannya untuk menjadi warga negara Indonesia yang cerdas, terampil, dan berkarakter yang diamanatkan oleh Pancasila dan UUD 1945.19 Sedangkan Susanto berpendapat bahwa pendidikan kewarganegaraan adalah mata pelajaran yang digunakan sebagai wahana untuk mengembangkan dan melestarikan nilai luhur dan moral yang berakar pada budaya bangsa indonesia.20 Berdasarkan pendapat para ahli, peneliti menyimpulkan bahwa yang dimaksud dengan pendidikan kewarganegaraan adalah mata pelajaran yang dilaksanakan di sekolah yang memiliki tujuan untuk membentuk bangsa yang baik, dimana dalam kajian materinya adalah membahas mengenai konstitusi, hukum, HAM, hak dan kewajiban warga negara sehingga dapat terwujud kehidupan demokrasi yang berlandaskan pada Pancasila dan UUD serta norma-norma yang berlaku di masyarakat sehingga dapat menjadi warga negara yang dapat diandalkan. 2. Tujuan Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) Tujuan Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) di sekolah dasar adalah untuk membentuk watak atau karakteristik warga negara yang baik. Susanto menyatakan bahwa tujuan pembelajaran PKn ini adalah siswa 19. Udin S. Winaputra, Pembelajaran PKn di SD (Tangerang Selatan: Universitas Terbuka, 2014), h.1.23. 20 Ahmad Susanto, Op. Cit, h. 225-226..
(51) 33. dapat memahami dan melaksanakan hak dan kewajiban secara santun, jujur, dan demokratis secara ikhlas sebagai warga negara terdidik dan bertanggung jawab. Pendidikan. kewarganegaraan. (PKn). disekolah. dasar. memberikan pelajaran pada siswa untuk memahami dan membiasakan dirinya dalam kehidupan disekolah atau di luar sekolah, karena materi pendidikan. kewarganegaraan. menekankan. pada. pengalaman. dan. pembiasaan dalam kehidupan sehari-hari yang ditunjang oleh pengetahuan dan pengertian sederhana sebagai bekal untuk mengikuti pendidikan berikutnya. 21 Berdasarkan. pendapat. beberapa. para. ahli,. peneliti. menyimpulkan bahwa pendidikan kewarganegaraan (PKn) memiliki tujuan untuk membentuk dan mempersiapkan generasi muda yang cinta tanah air dan menjaga kedaulatan negara indonesia. 3. Materi Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) di Kelas IV SD/MI Pada penelitian ini materi pelajaran yang akan digunakan adalah Pancasila, berdasarkan silabus kurikulum 2013 materi ini terdapat pada tema 7 Cita-citaku sub tema 1 Aku dan Cita-citaku.. 21. Ibid, h. 231-234..
(52) 34. a. Sejarah Lahirnya Pancasila Lahirnya pancasila adalah judul pidato yang disampaikan oleh Soekarno dalam sidang Dokuritsu Junbi Cosakai (bahasa Indonesia : Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan) pada tanggal 1 Juni 1945. Dalam pidato inilah konsep dan rumusan awal “Pancasila” pertama kali dikemukakan oleh Soekarno sebagai dasar negara indonesia merdeka. Pidato ini pada awalnya disampaikan oleh Soekarno secara aklamasi tanpa judul dan baru mendapat sebutan “Lahirnya Pancasila” boleh mantan ketua BPUPK Dr. Radjiman Wedyodiningrat. Menjelang kekalahan Tentara Kekausaran Jepang di akhir Perang Pasifik, tentara pendudukan Jepang di Indonesia berusaha menarik dukungan rakyat Indonesia dengan membentuk Dokuritsu Junbi Cosakai (bahasa Indonesia : “Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan” atau BPUPK, yang kemudian menjadi BPUPKI, yaitu Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia). Badan ini mengadakan sidang yang pertama pada tanggal 29 Mei 1945 dengan tema Dasar Negara. Rapat ini diadakan di gedung Chuo Sangi In di Jalan Pejambon 6 Jakarta yang kini dikenal dengan sebutan Gedung Pancasila. Setelah beberapa hari tidak mendapat titik terang, pada tanggal 1 Juni 1945, Bung Karno mendapat giliran untuk menyampaikan gagasan tentang dasar negara indonesia Merdeka, yang.
(53) 35. dinamakan “Pancasila”. Pidato yang tidak dipersiapkan secara tertulis terlebih dahulu itu diterima secara aklamasi oleh segenap anggota Dokuritsu Junbi Cosakai. Selanjutnya, Dokuritsu Junbi Cosakai membentuk Panitia Kecil untuk merumuskan dan menyusun Undang-undang Dasar dengan berpedoman pada pidato Bung Karno. Dibentuklah Panitia Sembilan yang terdiri atas Ir. Soekarno, Mohammad Hatta, Mr. AA Miramis, Abikoesno Tjokrosoebardjo, Abdul Kahar Muzakir, Agus Salim, Achmad Soebardjo, Wahid Hasjim, dan Mohammad Yamin. Panitia ini bertugas untuk merumuskan kembali pancasila sebagai dasar negara indonesia. b. Makna Simbol Pancasila dan Penerapan tiap Sila Garuda Pancasila merupakan lambang negara Indonesia, yang juga memiliki semboyan Bhinneka Tunggal Ika (Meskipun Berbeda-beda tetapi tetap satu Jika). Lambang negara Indonesia berbentuk burung garuda dengan kepala menghadap ke sebelah kanan (dari sudut pandang garuda), dan mempunyai perisai berbentuk seperti jantung yang digantung menggunakan rantai pada leher garuda, dan terdapat semboyan Bhinneka Tunggal Ika yang bermakna "Meskipun Berbeda-beda tetapi tetap satu Jiwa" tertulis di atas pita yang dicengkeram oleh garuda. Jumlah bulu pada burung garuda melambangkan hari kemerdekaan Indonesia pada tanggal 17 Agustus.
(54) 36. 1945. Dengan perincian bulu pada masing-masing sayap berjumlah 17 helai, jumlah bulu ekor ada 8 helai dan jumlah pada bulu leher ada 45 helai.. Gambar 1 Burung Garuda Pancasila Sumber : Buku Guru kelas 4 SD/MI Ada beberapa warna yang terdapat pada lambang garuda pancasila. Warna-warna yang dipakai menjadi warna pada lambang garuda pancasila ini memiliki makna dan arti sebagai berikut. a). Warna putih memiliki arti kesucian, kebenaran, dan kemurnian.. b). warna hitam memiliki makna keabadian.. c). Warna merah memiliki artian keberanian.. d). Warna hijau artinya adalah kesuburan dan kemakmuran.. e). Warna kuning berarti kebesaran, kemegahan, dan keluhuran. Berikut adalah penjabaran dari sikap–sikap yang sebaiknya. kita lakukan terhadap pancasila sebagai ideologi. 1. Ketuhanan Yang Maha Esa dengan lambangnya Bintang Sila ini berhubungan terhadap perilaku kita sebagai umat pertama pada Tuhannya. 2. Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab dengan lambangnya Rantai.
(55) 37. Sila ini berhubungan terhadap perilaku kita sebagai manusia yang pada hakikatnya semua sama di dunia ini. 3. Persatuan Indonesia dengan lambangnya Pohon Beringin Sila ini berhubungan terhadap perilaku kita sebagai warna Negara Indonesia untuk bersatu membangun negeri ini. 4. Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmah kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan dengan lambangnya. Kepala Banteng Sila ini berhubungan terhadap perilaku kita untuk selalu bermusyawarah dalam menyelesaikan masalah. 5. Keadilan. Sosial. bagi. Seluruh. Rakyat. Indonesia. dengan. lambangnya Padi dan Kapas Sila ini berhubungan terhadap perilaku kita dalam bersikap adil terhadap semua orang.22 D. Kerangka Pikir Pendidikan kewarganegaraan (PKn) merupakan salah satu mata pelajaran. yang. wajib. ada. di. Sekolah. Dasar.. Tujuan. Pendidikan. Kewarganegaraan (PKn) memberikan pelajaran pada siswa untuk memahami dan membiasakan dirinya dalam kehidupan di sekolah atau di luar sekolah, karena materi pendidikan kewarganegaraan menekankan pada pengalaman dan pembiasaan dalam. kehidupan sehari-hari. yang. ditunjang. oleh. pengetahuan dan pengertian sederhana sebagai bekal untuk mengikuti pendidikan berikutnya.. 22. Tomi Rianto, dkk, Tematik Terpadu Kurikulum 2013 Tema 7 Cita-citaku untuk SD/MI Kelas 4, (Sidoarjo: PT. Masmedia Buana Pustaka, 2014), h. 5-11..
(56) 38. Rendahnya kualitas pembelajaran PKn dipengaruhi banyak faktor, baik dari dalam maupun dari luar diri siswa. Upaya peningkatan hasil belajar siswa dalam mata pelajaran PKn dapat dibantu dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif. Model pembelajaran kooperatif merupakan salah satu faktor yang dapat mempengaruhi hasil belajar siswa. Salah satu model pembelajaran yang diduga bisa meningkatkan hasil belajar siswa adalah model pembelajaran kooperatif tipe think pair share. Model Think Pair Share atau berpikir berpasangan berbagi merupakan. jenis. pembelajaran. kooperatif. yang. dirancang. untuk. mempengaruhi pola interaksi siswa. Model ini pertama kali dikembangkan oleh Frang Lymen dan koleganya yang menyatakan bahwa think pair share merupakan suatu cara yang efektif untuk membuat suatu cara yang efektif untuk membuat variasi suasana pola diskusi kelas yang aktif, inovatif, kreatif dan menyenangkan dengan asumsi bahwa resitasi atau diskusi membutuhkan pengaturan untuk mengendalikan kelas secara keseluruhan, dan prosedur yang di gunakan dalam think-pair-share dapat memberi peserta didik lebih banyak waktu berpikir dalam memecahkan masalah, untuk merespon dan saling membantu, think pair share merupakan model pembelajaran yang memberi kesempatam kepada peserta didik untuk berpikir terlebih dahulu sebelum didiskusikan dengan pasangannya dan dipersentasikan didepan kelas, belajar sendiri dan bekerja sama dengan orang lain..
(57) 39. Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan bentuk variabel yaitu variabel bebas dan variabel terikat. Variabel bebas dalam penelitian ini adalah Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Think Pair Share (X), sedangkan variabel terikatnya adalah hasil belajar PKn (Y). Untuk mendapatkan gambaran yang jelas tentang pengaruh variabel bebas terhadap variabel terikat, maka dapat dijelaskan dengan gambar paradigm pemikiran yang ditunjukkan pada gambar berikut.. X. Y. Gambar 2 Diagram pemikiran Keterangan : X = Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Think Pair Share Y = Hasil Belajar PKn = Pengaruh E. Penelitian yang Relevan Agar landasan dalam penelitian lebih jelas dan kuat, peneliti melakukan penelusuran terhadap penelitian terdahulu yang terkait objek yang menjadi kajian dalam penelitian ini. Dari hasil penelusuran penelitian terdahulu diperoleh beberapa penelitian yang relevan, yaitu: 1. Menurut Wayan Raditya dengan judul penelitian “Pengaruh Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Think Pair Share (TPS) Terhadap Hasil Belajar Ipa. Siswa Kelas VI SD Gugus Letda Made Putra. Kecamatan. Denpasar Utara Tahun Ajaran 2014/2015” menyimpulkan bahwa terdapat.
(58) 40. pengaruh model pembelajaran kooperatif tipe Think Pair Share terhadap hasil belajar IPA siswa kelas VI SD Gugus Letda Made Putra.23 2. Menurut Shofia Ummi. dengan judul. penelitian. “Pengaruh. Model. Pembelajaran Kooperatif Tipe Think Pair Share Menggunakan Media Animasi Terhadap Hasil Belajar Fisika Siswa” Menyebutkan bahwa dari hasil uji beda (uji t), diperoleh bahwa ada perbedaan karena pengaruh penggunaan model pembelajaran kooperatif tipe think pair share menggunakan media animasi terhadap hasil belajar siswa pada materi elastisitas di kelas XI SMA Negeri 2 Model Binjai T.P. 2013/2014.24 3. Menurut Lovieana Hertinaningtyas dengan judul penelitian “Pengaruh Model Pembelajaran Guide Note Taking (GNT) dan Think Pair Share (TPS) Terhadap Aktivitas dan Hasil Belajar IPA Biologi” menyimpulkan bahwa penerapan model pembelajaran Guide Note Taking (GNT) dan Think Pair Share (TPS) dalam pembelajaran IPA Biologi dapat mempengaruhi aktivitas dan hasil belajar pada pelajaran IPA Biologi siswa kelas VIII SMP Negeri 13 Jember tahun ajaran 2014/2015.25. 23. Wayan Raditya, “Pengaruh Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Think Pair Share (TPS) Terhadap Hasil Belajar Ipa Siswa Kelas VI SD Gugus Letda Made Putra Kecamatan Denpasar Utara Tahun Ajaran 2014/2015”, e-Jurnal PGSD Universitas Ganesha Jurusan PGSD Vol: 3 No: 1 Tahun 2015. 24 Shofia Ummi, “Pengaruh Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Think Pair Share Menggunakan Media Animasi Terhadap Hasil Belajar Fisika Siswa”, Jurnal Inpafi Vol. 2, No. 3, Agustus 2014. 25 Lovieana Hertinaningtyas, “Pengaruh Model Pembelajaran Guide Note Taking (GNT) dan Think Pair Share (TPS) Terhadap Aktivitas dan Hasil Belajar IPA Biologi”, Artikel Ilmiah Mahasiswa, 2015, 1 (1): 1-7..
(59) 41. F. Hipotesis 1. Hipotesis Penelitian H0 : Tidak terdapat pengaruh antara Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Think Pair Share terhadap hasil belajar PKn kelas IV MI Terpadu Muhammadiyah Sukarame Bandar Lampung H1 : Terdapat pengaruh antara Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Think Pair Share terhadap hasil belajar PKn kelas IV MI Terpadu Muhammadiyah Sukarame Bandar Lampung 2. Hipotesis Statistik H0 : µ1 = µ2 H1 : µ1 = µ2 Keterangan : µ1 = Rata-rata model pembelajaran kooperatif tipe think pair share µ2 = Rata-rata model pembelajaran guided note taking.
(60) 42. BAB III METODE PENELITIAN A. Jenis dan Sifat Penelitian Metode penelitian diartikan sebagai cara ilmiah untuk mendapatkan data dengan tujuan dan kegunaan tertentu.1 Pada penelitian ini, yang digunakan adalah penelitian kuantitatif dengan metode Quasi Eksperimen Design. Quasi Eksperimen Design yaitu desain yang memiliki kelompok kontrol tetapi tidak berfungsi sepenuhnya untuk mengontrol variabel-variabel luar yang mempengaruhi pelaksanaan eksperimen.2 Desain penelitian mengambil dua kelompok subjek dari populasi meliputi kelompok eksperimen dan kelompok kontrol. Pada kelompok kelas eksperimen diberi perlakuan model pembelajaran kooperatif tipe Think Pair Share sedangkan kelas kontrol diberi perlakuan model pembelajaran Guided Note Taking. Subjek penelitian ini adalah seluruh siswa kelas IV MI Terpadu Muhammadiyah Sukarame Bandar Lampung pada semester genap tahun pelajaran 2016/2017.. 1. Sugiyono, Metode Penelitian Pendidikan Pendekatan Kuatitatif, Kualitatif dan R&D (Bandung: Alfabeta, 2013), h. 3. 2 Ibid. h. 114 ..
(61) 43. Tabel 2 Tabel desain penelitian Kelompok Test awal Eksperimen OI Kontrol O1 Keterangan : O1 = tes awal (pretest) O2 = tes akhir (post-test) X = kelas eksperiment C = kelas kontrol. Tindakan X C. Tes akhir O2 O2. B. Variabel Penelitian Kata “Variabel” berasal dari bahasa inggris Variable dengar arti “Ubahan”, ”faktor tak tetap” atau “gejala yang dapat diubah-ubah”.3 Kerlinger menyatakan bahwa variabel adalah (Contructs) atau sifat yang akan dipelajari. Selanjutnya Kidder menyatakan bahwa variabel adalah suatu kualitas (qualities) dimana peneliti mempelajari dan menarik kesimpulan darinya. Variabel-variabel penelitian harus didefinisikan secara jelas, sehingga tidak menimbulkan pengertian yang berarti ganda. Definisi variabel juga memberi batasan sejauh mana penelitian yang akan dilakukan. Pengertian variabel menurut Sugiyono adalah sebagai berikut: “Variabel penelitian adalah suatu atribut atau sifat atau nilai dari orang objek atau kegiatan yang mempunyai variasi yang tertentu yang diterapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya”.. 3. h. 36.. Anas Sudijono, Pengantar statistik pendidikan, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2012),.
Gambar
Dokumen terkait
Hasil penelitianini adalah hasil belajar siswa dapat ditingkatkan dengan menggunakan metode think pair share (TPS) pada siswa kelas VI MI Al-Khairiyah Bandar
Skripsi ini merupakan hasil penelitian tindakan kelas, yaitu penerapan model pembelajaran kooperatif Tipe Think Pair Share (TPS) untuk meningkatkan keaktifan dan prestasi belajar
Kegiatan pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe Think Pair Share (TPS) disertai metode praktikum, maka siswa akan lebih aktif sehingga
Hasil analisis inferensial menunjukkan bahwa terdapat peningkatan nilai komunikasi matematika siswa yang diajar dengan model kooperatif tipe Think Pair Share (TPS)
Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan pelaksanaan pembelajaran PKn dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe Think Pair Share (TPS) kelas IV
Simpulan penelitian ini adalah penerapan model pembelajaran Kooperatif tipe Think Pair Share dapat meningkatkan hasil belajar siswa pada mata pelajaran Komunikasi kelas X
Dengan demikian maka diterima dan ditolak, sehingga kesimpulannya adalah ada pengaruh yang signifikan model pembelajaran kooperatif tipe Think Pair Share
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Think Pair Share yang dapat meningkatkan hasil belajar siswa pada materi penjumlahan dan