• Tidak ada hasil yang ditemukan

IV. GAMBARAN UMUM KABUPATEN LAMPUNG BARAT

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "IV. GAMBARAN UMUM KABUPATEN LAMPUNG BARAT"

Copied!
37
0
0

Teks penuh

(1)

IV. GAMBARAN UMUM KABUPATEN LAMPUNG BARAT

4.1. Letak Geografis

Kabupaten Lampung Barat dengan ibukota Liwa yang merupakan

pemekaran dari Kabupaten Lampung Utara adalah salah satu dari sepuluh

kabupaten/kota di wilayah Propinsi Lampung. Kabupaten ini dibentuk

berdasarkan Undang-Undang No. 6 Tahun 1991 pada tanggal 16 Juli 1991 dan

diundangkan pada tanggal 16 Agustus 1991, dengan batas-batas geografis sebagai

berikut:

a. Sebelah Utara berbatasan dengan Kabupaten Bengkulu Selatan Propinsi

Bengkulu dan Kabupaten Ogan Komering Ulu Propinsi Sumatera Selatan.

b. Sebelah Timur berbatasan dengan Kabupaten Lampung Utara, Kabupaten

Lampung Tengah dan Kabupaten Tanggamus

c. Sebelah Selatan berbatasan dengan Laut Indonesia dan Selat Sunda

Wilayah Kabupaten Lampung Barat memiliki luas sebesar 4.950,40 Km

2

atau 13,99 persen dari Luas Wilayah Propinsi Lampung. Wilayah Kabupaten

Lampung Barat secara Administratif meliputi 17 (tujuh belas) kecamatan dan

terdiri dari 175 Desa (BPS, Tahun 2008).

4.2. Keadaan Topografi

Letak Kabupaten Lampung Barat pada koordinat : 4, 47', 16" - 5°, 56', 42"

Lintang Selatan dan 103°, 35', 8" - 104', 33', 51" Bujur Timur. Secara Topografi

Kabupaten Lampung Barat dibagi menjadi 3 (tiga) unit topografi yakni:

a. Daerah dataran rendah (ketinggian 0 sampai 600 meter dari permukaan Laut).

b. Daerah berbukit ( Ketinggian 600 sampai 1.000 meter dari permukaan Taut)

c. Daerah pegunungan (Daerah ketinggian 1.000 sampai dengan 2.000 meter dari

permukaan laut)

Keadaan wilayah sepanjang Pantai Pesisir Barat umumnya datar sampai

berombak dengan kemiringan berkisar 3˚ sampai 5˚. Di bagian barat laut

Kabupaten Lampung Barat terdapat gunung-gunung dan bukit, yaitu Gunung

(2)

Pugung (1.808 m), Bukit Palalawan (1.753 m), dan Bukit Tababjan (1.413 m)

sedangkan di bagian selatan terdapat beberapa Gunung dan bukit yaitu Bukit

Penetoh (1.166 m), Bukit Bawanggutung (1.1042 m), Gunung Sekincau (1.718

m), Pegunungan Labuan Balak (1.313 m), Bukit Sipulang (1.315 m). Di sebelah

timur dan utara terdapat pula Gunung Pesagi (2.127 m), Gunung Subhanallah

(1.623 m), Gunung Ulumajus (1.789 m), Gunung Siguguk (1.779 m), dan Bukit

Penataan (1.688 m).

Terdapat empat (4) sistem tanah yang ada pada kabupaten ini. Pertama

adalah tanah pada sistem Alluvial. Tanah sistem ini terbentuk dari bahan endapan

sungai dan hasil alluvial/koliviasi di kaki lereng perbukitan/pegunungan yang

landai. Tersebar antara ketinggian 0 - 100 meter dari pemukaan laut disepanjang

jalur aliran sungai daerah peisisir selatan, Pesisir Tengah, dan Pesisir Utara dan di

sebelah Selatan Gunung Sekincau (Suoh). Sistem ke dua (2) adalah tanah pada

sistem Marine ini terbentuk dari bahan endapan laut yang bersusun halus sampai

kasar dan merupakan dataran rendah yang memanjang pada ketinggian antara 0 -

20 meter dari permukaan laut, berupa dataran pasang surut berlumpur,

beting-beting pantai dan cekungan antar pantai.

Sedangkan sistem tanah yang ke tiga adalah tanah pada sistem Teras

Marine. Jenis tanah ini terdapat di sepanjang garis pantai mulai dari Pesisir Utara,

terletak pada ketinggian antara 0 - 20 meter dari permukaan laut, bentuk wilayah

berombak sampai bergelombang dengan variasi lereng antara 3 - 5 persen.

Terbentuk dari tufa masam dan batuan sedimen. Tanah pada sistem Vulkan

merupakan sistem yang ke empat (4) dan secara umum tanah pada sistem ini dapat

dibedakan berdasarkan bahan induknya yaitu dari bahan induk andesitis dan basal

yang terletak pada ketinggian 25 - 200 meter dari permukaan laut. Lereng atas dan

tengah telah mengalami pengikisan lanjut, berlereng curam dengan lereng lebih

dari 30 sedangkan lereng bawahnya berlereng kurang dari 16˚.

Tanah pada sistem perbukitan keadaan topografi yang bervariasi sistemnya

tersebut memberikan pengaruh terhadap proses pembentukan dan perkembangan

tanah. Umumnya tanah telah mengalami dan menunjukan perkembangan lanjut,

kecuali di daerah yang tererosi.

(3)

Hutan hujan dataran rendah yang terdiri dari :

1. Formasi Hutan Pantai (Littoral Forest)

Terletak di samping semenanjung Selatan Taman Nasional, Bukit Barisan, di pantai barat yang terendah pada ketinggian 0 - 2 meter dari permukaan laut. Jenis-jenis vegetasinya antara lain Terminalia, ahesbiskus Sp, Barbaringtonia, Calophylum, Casuarina Sp, Pandanus Sp, dan Ficus Sp.

2. Formasi Dataran Rendah (Lowland Planis).

Tipe formasi ini terletak di sepenanjung selatan (pertengahan jalan ke utara) Taman Nasional Bukit Barisan Selatan yang memiliki ketinggian 0 - 500 meter dari permukaan laut.

3. Formasi Hutan Hujan Bawah.

Tipe Hutan ini terletak di sebelah Danau Ranau bagian barat dan selatan dan berada pada ketinggian 500 - 1.000 meter dari permukaan laut. Jenis jenis pohon yang ada adalah dari famili Dipterocarpaceae, Myrtaceae dan Annonaceac antara lain Uqenia oferculuta dan Naudea purpurescens. Jenis jenis tumbuhan bawah dan semak antara lain Neolitcea cassinefolia, Psychotria rhinocerotis, Arecea Sp dan Globba pandela.

4. Hutan Hujan Tengah (Lower Montain Rain Forest)

Tipe hutan ini terletak di daerah sekincau di tengah pegunungan sebelah utara pada ketinggian 1.000 - 1.500 meter dari pennukaan laut. Jenis-jenis tumbuhan dari famili Dipterocarpaceae, Lauraceae, Myrtaceae dan Fagaceae antara lain Qercus Sp, selain itu terdapat juga padang nimput (Grazing area) di daerah danau Mengukut, Jenis vegetasi yang terdapat adalah gajah (Penesetum purpureum).

4.3. Penduduk

Penduduk Kabupaten Lampung Barat tahun 2006 sebanyak 410.848 jiwa

yang terdiri dari laki-laki 219.856 jiwa dan perempuan sebanyak 190.992 jiwa

dengan sex rasio 116. Rasio jenis kelamin sebesar 116, artinya terdapat 116

(4)

laki-laki untuk setiap 100 perempuan. Komposisi ini menunjukkan perbandingan

jumlah penduduk laki-laki dan perempuan yang hampir seimbang. Sedangkan

rata-rata kepadatan/km

2

sebesar 82,99 jiwa dengan rata-rata anggota rumah tangga

4 orang/rumah. Daerah dengan kepadatan penduduk tertinggi terdapat di

Kecamatan Pesisir Tengah (285 orang per km

2

) dan terendah di Kecamatan Pesisir

Selatan 28 orang per km

2

).

4.4. Tingkat Pendidikan

Kualitas sumber daya menusia suatu wilayah dapat dilihat dari sektor pendidikan, dimana pendidikan sangat berpengaruh terhadap kualitas pembangunan suatu bangsa. Semakin tinggi jenjang pendidikan yang dimiliki oleh suatu wilayah akan membawa dampak positif bagi pembangunan di wilayah tersebut. Kondisi sumberdaya manusia di Kabupaten Lampung Barat setiap tahunnya dapat dikatakan selalu meningkat, baik dari sisi kualitas ataupun dari sisi kuantitas. Hal ini terbukti dari meningkatnya jumlah siswa dan guru yang ada di Kabupaten Lampung Barat. Tahun 2006 jumlah siswa sebanyak 51.668 orang dan jumlah guru sebanyak 2.236 orang. Tahun 2007 jumlahnya meningkat menjadi 3.040 orang guru dan 61.705 orang siswa. Tidak hanya siswa dan guru saja yang meningkat jumlahnya tapi jumlah lulusan sekolah, seperti TK, SD, SLTP, dan SLTA juga meningkat. Secara lebih jelasnya dapat dilihat pada Tabel 14.

Tabel 14. Jumlah Lulusan TK, SD, SLTP, dan SLTA Negeri/Swasta di Kabupaten Lampung Barat

Jumlah Jenis Sekolah Tahun 2006 Tahun 2007 TK 1.529 1.694 SD 51.319 51.668 SLTP 2.136 1.838 SLTA 928 887 Jumlah 55.912 56.087

(5)

Kualitas sumberdaya manusia di suatu daerah dapat dilihat pada pendidikan tertinggi yang ditamatkan oleh penduduk suatu daerah. Telah terjadi peningkatan kualitas sumberdaya manusia yang cukup berarti di Kabupaten Lampung Barat selama dua tahun terakhir.

(6)

4.5. Kondisi Perekonomian

Salah satu aspek dalam melihat kemajuan perekonomian suatu daerah adalah prasarana ekonomi yang dimiliki oleh daerah yang bersangkutan. Prasarana ekonomi yang dimaksud berupa pasar, pertokoan, dan lembaga penunjang kegiatan perekonomian seperti bank dan koperasi. Sarana perekonomian yang terdapat di Kabupaten Lampung Barat adalah kelompok pertokoan 9 unit, pasar dengan bangunan permanen 38 unit, pasar tanpa bangunan permanen 55 unit, KUD 41 unit, dan Koperasi simpan pinjam 18 unit.

Sektor industri tampaknya belum dapat diharapkan menjadi pemicu pertumbuhan ekonomi. Jumlah unit usahanya masih sedikit, dan skala usaha sektor ini juga masih terbatas pada industri rumah tangga dan industri kecil, baik ditinjau dari segi asset maupun tenaga kerja yang digunakan. Jenis industri yang terdapat di Kabupaten Lampung Barat antara lain industri makanan berjumlah 160 unit dengan 404 tenaga kerja, industri pengolahan tanah liat/bahan semen/kapur 42 unit dengan 221 tenaga kerja, industri perabotan/perlengkapan rumah tangga 103 unit dan 328 tenaga kerja, industri sandang dan bahan dari kulit 109 unit dengan 395 tenaga kerja, dan industri pengolahan lainnya 143 unit dengan 431 tenaga kerja.

Pertumbuhan ekonomi Kabupaten Lampung Barat cenderung bergerak naik dengan rata-rata laju pertumbuhan sebesar 3,73 persen per tahun dari tahun 2000 sampai dengan tahun 2006. Pertumbuhan ini tidak lepas dari adanya pertumbuhan seluruh sektor yang ada. Masing-masing sektor usaha selama kurun waktu lima tahun mengalami pertumbuhan yang positif. Terhitung sejak tahun 2001 hingga tahun 2006 pertumbuhan ekonomi per tahunnya adalah 3,2 persen dimana pada tahun 2003 laju pertumbuhan sebesar 2,60 persen, pada tahun 2004 sebesar 5,4 persen dan pada tahun 2005 sebesar 4,6 persen dan turun hingga 2,5 persen dan telah terjadi pembangunan ekonomi yang positif dan berarti di Lampung Barat dengan laju inflasi tahun 2007 sebesar 4,71 persen.

Pendapatan per kapita di Kabupaten Lampung Barat terjadi kenaikan sebesar 15,48 persen atau rata-rata terjadi kenaikan sebesar 3,87 persen per tahun dimana pada tahun 2001 sebesar Rp.2.726.338,- meningkat pada tahun 2006 menjadi sebesar Rp.3.686.254,16 per tahun. Beberapa ahli ekonomi menyatakan bahwa pendapatan per kapita belum bisa mencerminkan tingkat kesejahteraan. Secara global dari 80 persen

(7)

PDRB Nasional disumbang dari tidak kurang dari 5 persen penduduk yang bermatapencaharian sebagai pengusaha.

Laju pertumbuhan ekonomi di Kabupaten Lampung Barat pada tahun 2009 diperkirakan akan tumbuh positif dengan skenario pesimis (under estimasi) diperkirakan 4-5 persen dengan asumsi pertumbuhan sektor di luar sektor pertanian mengalami laju pertumbuhan yang sama dengan pertumbuhan tahun lalu dan turunnya nilai tambah bruto sub sektor perkebunan. Perubahan indikator ekonomi makro secara nasional akan mempengaruhi perekonomian di daerah antara lain perubahan nilai tukar mata uang US$, dan perkembangan harga minyak mentah dunia walaupun belum terasa secara langsung tetapi akan mempengaruhi kinerja perdagangan luar negeri dan dalam negeri, sedangkan pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun 2008 diperkirakan sekitar 6,5 persen dan pada tahun 2008 sebesar 7,2 persen dengan laju inflasi sebesar 4,0 persen sesuai RPJM Nasional 2004 - 2009, maka secara umum pertumbuhan ekonomi dapat dilihat pada Tabel 15.

Tabel 15. Pertumbuhan Ekonomi dan Kontribusi Sektor terhadap PDRB Kabupaten Lampung Barat Tahun 2005 – 2006

Tahun Uraian

2005 2006 a. Pendapatan Perkapita (Rupiah) 3.456.298,62 3.686.254,16

b. Pertumbuhan Ekonomi (%)

ƒ Kabupaten Lampung Barat

ƒ Propinsi Lampung 4,60

4,60

2,6 5,3 c. Peranan Sektor Terhadap PDRB

ƒ Pertanian

ƒ Pertambangan dan Penggalian ƒ Industri Pengolahan

ƒ Listrik & Air Bersih ƒ Bangunan

ƒ Perdagangan, Hotel & Restoran ƒ Angkutan & Komunikasi

ƒ Keuangan, Persewaan & Jasa

Perusahaan ƒ Jasa-Jasa 64,68 1,31 2,59 0,24 3,75 62,09 1,56 2,83 0,24 3,77

(8)

18,51 2,87 2,33 3,72 20,02 3,14 2,62 3,73 Sumber : BPS Kabupaten Lampung Barat, Tahun 2007

Pada periode tahun 2000 sampai dengan tahun 2006 struktur

perekonomian Kabupaten Larnpung Barat didominasi oleh lapangan usaha

pertanian dengan peranan sebesar 64,46 persen pada tahun 2001; 65,01 persen

pada tahun 2002; 64,30 persen pada tahun 2003; 65,29 persen pada tahun 2004,

64,68 persen pada tahun 2005 dan pada tahun 2006 sebesar 62,09 persen. Kondisi

ini menunjukkan peranan lapangan usaha pertanian sangat kuat sehingga

pengembanganya akan berdampak terhadap perekonomian secara keseluruhan.

Besarnya peranan sektor pertanian dalam pembentukan PDRB sektoral

diperkirakan akan bertahan hingga 25 tahun mendatang hal ini ditunjukkan dalam

periode 5 tahun, sebelumnya tidak banyak terjadi perubahan persentase

sumbangan rnasing-masing sektor lainnya.

Pada tahun 2006 dari sembilan sektor

,

yang ada, sektor pertambangan dan

penggalian adalah sektor paling tinggi laju pertumbuhannya sebesar 21,67 persen.

Dalam hal penyerapan tenaga kerja sektor pertanian merupakan sektor terbanyak

yang menyerap tenaga kerja berdasarkan banyaknya jumlah angkatan kerja yang

bekerja di sektor ini mencapai 79,79 persen berdasarkan data susenas 2006. Dari

62,09 persen dari peranan sektor pertanian terhadap PDRB dimana sub sektor

perkebunan adalah penyumbang terbesar yaitu 41,97 persen.

Salah satu indikator penting untuk mengetahui kondisi perekonomian suatu daerah dalam suatu periode tertentu adalah Produk Domestik Regional Bruto atas dasar harga berlaku maupun harga konstan. PDRB atas dasar harga berlaku dapat digunakan untuk melihat pergeseran struktur ekonomi, sedangkan PDRB atas dasar harga konstan digunakan untuk mengetahui pertumbuhan ekonomi. Sementara itu PDRB

(9)

per kapita riil (harga konstan) biasa digunakan untuk mengukur tingkat pendapatan/kesejahteraan suatu daerah.

Berdasarkan komposisi PDRB harga berlaku, pertanian merupakan sektor yang mempunyai kontribusi paling besar di Kabupaten Lampung Barat. Sumbangan sektor pertanian terhadap pembentukan PDRB pada tahun 2006 sebesar 64,65 persen. Nilai sektor pertanian pada tahun tersebut sejumlah 910.009,43 juta rupiah. Sektor lainnya yang mempunyai kontribusi cukup besar adalah sektor perdagangan, hotel dan restoran sebesar 16,67 persen dan sektor jasa-jasa sebesar 9,13 persen. Ketiga sektor tersebut menjadi tulang punggung perekonomian Kabupaten Lampung Barat. Kontribusi ketiga sektor tersebut terhadap PDRB harga berlaku di Kabupaten Lampung Barat sebesar 90,453 persen. Untuk dapat lebih jelasnya dapat dilhat pada Tabel 16.

Tabel 16. Produk Domestik Bruto Kabupaten Lampung Barat Menurut Lapangan Usaha atas Dasar Harga Berlaku dan Harga Konstan tahun 2006

2006

Harga Berlaku Harga Konstan

No Lapangan Usaha Nilai % Nilai % 1 Pertanian 91.009,43 64,65 747.479,46 62,09 2 Pertambangan 23.988,57 1,60 18.751,24 1,56 3 Industri pengolahan tanpa MIGAS 39.828,75 2,65 34.042,61 2,83

4 Listrik dan Air Bersih 2.999 0,20 2.877,41 0,24

5 Bangunan 48.020,64 3,20 45.347,84 3,77 6 Perdagangan, hotel dan restoran 250.091,50 16,67 241.060,58 20,02 7 Pengangkutan dan komunikasi 53.897,06 3,59 37.794,77 3,14 8 Keungan, persewaan, dan jasa perusahaan

34.483,58 2,30 31.589,88 2,62

(10)

Sumber : BPS Kabupaten Lampung Barat Tahun 2007 4.6. Pendapatan Asli Daerah Kabupaten Lampung Barat

Secara keseluruhan perbandingan PAD Kabupaten Lampung Barat terhadap APBD mengalami peningkatan setiap tahunnya. Dari keempat sumber PAD Kabuapten Lampung Barat, sumber yang berupa lain-lain pendapatan yang sah memberi kontribusi terbesar bagi penerimaan PAD Kabupaten Lampung Barat. Kontribusi dari sumber PAD ini hampir stabil dan memberikan kontribusi sekitar 50 persen dari penerimaan PAD setiap tahunnya. Bahkan di tahun 2002 dan 2006 kontribusinya mencapai 68,18 persen dan 61,48 persen. Sumber PAD yang menempati posisi ke dua dalam memberi kontribusi terbesar pada PAD Kabupaten Lampung Barat adalah retribusi daerah, kemudian disusul oleh oleh pajak daerah, dan laba perusahaan daerah. Besarnya kontribusi (dalam persentase) sumber-sumber PAD terhadap total PAD pada tahun 2001-2007 diperlihatkan pada Tabel 17.

Tabel 17. Persentase Kontribusi Sumber-sumber PAD terhadap Total PAD Tahun 2001-2007

Jenis Penerimaan Tahun

2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007

Pajak Daerah 24.46 17.52 17.16 18.29 18.51 16.04 15.15

Pajak hotel 1.24 0.28 0.22 0.13 0.18

Pajak restoran 0.44 0.60 0.70 0.37 0.33

Pajak hotel dan

restoran 1.46 0.85

Pajak reklame 0.42 0.20 0.16 0.22 0.29 0.20 0.21

Pajak hiburan 0.14 0.09 0.06 0.08 0.07 0.04 0.04

Pajak galian C 11.20 7.52 6.36 5.54 5.94 5.01 3.41

(11)

Pajak huller 0.13 0.00 Retribusi Daerah 26.30 14.30 19.81 29.58 25.62 18.59 20.96 Retribusi pelayanan kesehatan 6.88 3.60 3.17 4.33 3.84 2.31 2.67 Retribusi pelayanan persampahan 0.44 0.46 0.34 0.51 0.48 0.26 0.29

Retribusi biaya cetak

KTP dan akta capil 0.64 0.66 0.57 0.90 0.76 0.74 2.41

Retribusi parkir di tepi

jalan umum 0.31 0.21 0.15 0.17 0.20 0.11 0.09 Retribusi pasar 0.61 0.24 0.19 0.27 0.24 0.13 0.17 Retr.pengujian Kendaraan Bermotor (KIR) 0.29 0.27 0.29 0.16 0.15 Retribusi pemakaian kekayaan daerah 4.04 2.30 1.74 4.16 3.41 1.98 1.98

Retribusi pasar grosir

atau pertokoan 3.37 2.28 2.34 3.63 3.09 1.92 1.94 Retribusi terminal 1.24 1.19 1.04 1.96 1.70 1.01 0.91 Retribusi tempat khusus parkir 0.20 0.15 0.11 0.17 0.16 0.09 0.08 Retribusi tempat penginapan/pesanggra han 0.90 0.36 0.47 0.76 0.74 0.50 0.72

Retribusi rumah potong

hewan 0.27 0.06 0.07 0.10 0.08 0.05 0.04 Retribusi izin pengambilan hasil hutan ikutan 5.51 1.99 Retribusi izin peruntukan penggunaan tanah 0.30 0.07 0.26 0.54 0.22 Retribusi Izin Mendirikan bangunan/IMB 0.25 0.38 0.37 0.50 0.45 0.29 0.30

(12)

Retribusi Izin Gangguan 1.28 0.28 0.64 0.69 0.96 0.53 0.37

Retribusi Izin Trayek 0.07 0.09 0.06 0.06 0.06 0.03 0.03

Jenis Penerimaan Tahun

2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007

Surat Izin Usaha Jasa

Konstruksi 0.09 0.03 0.00 0.01

Tabel lanjutan....

Jenis Penerimaan Tahun

2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007

Retribusi izin selain

kepentingan lalulintas 0.01 0.01 0.02 0.01 0.01

Retribusi pemungutan kayu dan non kayu

serta tanah milik 4.08 6.49 6.14 6.14 5.71

Retribusi walet 0.19 0.40 0.18 0.18

Retribusi tandan buah

segar kelapa sawit 1.35 1.26

Retribusi penebangan

peremajaan kelapa 0.04

Retribusi izin usaha pendaf.keg.inds perdag. 0.43 Uang leges 0.23 0.25 0.25 0.14 0.14 Dokumen lelang 2.11 2.06 2.34 2.00 2.50 Laba Perusahaan Daerah 4.30 5.80 5.26 3.90 4.67 Lain-lain Pendapatan Yang Sah 49.24 68.18 58.73 46.33 50.60 61.48 59.22

Hasil penjualan aset

(13)

dipisahkan Jasa giro 11.37 27.79 25.62 11.45 8.92 14.83 16.64 Bunga deposito 18.86 16.04 33.49 39.34 40.78 Pendapatan dari pengembalian 1.70 Fasilitas umum 0.05 Tuntutan Perbendaharaan

tentang Ganti Rugi 0.08 0.06 0.03 0.02

Denda keterlambatan pekerjaan daerah 0.11 0.02 0.29 Penerimaan dinas-dinas 11.45 8.72 10.39 4.28 3.87 1.62 Pengembalian asuransi kebakaran ruko 0.18 0.14 0.10 0.10 0.11 0.07

Bagi hasil Nikah/Rujuk 0.14 0.05 0.05 0.14

Pemberian hak atas

tanah pemerintah 0.04 0.02

Penerimaan askes 0.19 0.21

Sumbangan pihak ke

tiga hasil bumi

Penerimaan dari KTP dan KK Penerimaan Lain-lain 25.96 31.18 3.16 14.30 4.20 5.62 Jumlah 100.0 0 100.0 0 100.0 0 100.0 0 100.0 0 100.0 0 100.0 0

Sumber : Dinas Pendapatan, Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah Tahun 2008, Data diolah, Tahun 2007

Tabel 17 terlihat bahwa bunga deposito dan jasa giro merupakan 2 sumber terbesar yang berkontribusi pada sumber PAD yaitu lain-lain pendapatan yang sah. Bahkan penerimaan PAD tahun 2007 dari bunga deposito mencapai 40 persen sedangkan jasa giro sebesar 16,64 persen.

(14)

Pajak daerah pun menjadi sumber PAD yang cukup memberikan kontribusi yang signifikan. Pajak dari penerangan jalan memberi kontribusi yang paling besar dari sumber PAD ini. Kontribusinya stabil di atas 10 persen setiap tahunnya. Laba perusahaan daerah pun menjadi sumber PAD yang setiap tahunnya memberikan kontribusi cukup besar dalam penerimaan PAD. Hal ini terlihat dari kontribusinya terhadap jumlah penerimaan PAD total yang cukup stabil sekitar 4%-5%. Khusus untuk laba perusahaan daerah pada tahun 2001 dan 2002 terlihat tidak memiliki kontribusi terhadap PAD. Hal ini dapat terjadi karena salah satu perusahaan daerah, yaitu Perusahaan daerah Air Minum (PDAM) Kabupaten lampung Barat merugi sehingga tidak berkontribusi pada PAD. Penyertaan modal PDAM baru dilanjutkan pada tahun 2003 dan dengan kontribusi dari perusahaan daerah lainnya, yaitu hotel dan

resort

yang dikelola oleh permerintah daerah, mulai berkontribusi cukup signifikan pada PAD Kabupaten Lampung Barat.

Sumber PAD yang berupa retribusi daerah, kontribusi dari retribusi pemungutan kayu dan non kayu serta tanah milik; retribusi pemakaian kekayaan daerah dan retribusi pasar grosir atau pertokoan juga memberikan kontribusi yang cukup besar meski juga berfluktuatif setiap tahunnya, yaitu dari 4,08% hingga 6,49%. Kontribusi dari retribusi pemungutan kayu dan non kayu serta tanah milik mencapai 6,14% pada tahun 2006 namun menurun menjadi 5,71% pada tahun 2007. Sedangkan kontribusi retribusi pemakaian kekayaan daerah dan retribusi pasar grosir atau pertokoan setelah cukup stabil pada tahun 2001 hingga mencapai 3,41% dan 3,09% pada tahun 2005, namun menurun pada 2 tahun berikutnya. Kontribusi retribusi pemakaian kekayaan daerah menjadi 1,98 pada tahun 2006 dan bertahan di tahun 2007. Di sisi yang hampir sama kontribusi retribusi pasar grosir atau pertokoan pada tahun 2006 turun menjadi 1,92% dan sedikit meningkat menjadi 1,94% di tahun 2007. Dari uraian di atas terlihat bahwa beberapa sumber-sumber PAD Kabupaten Lampung Barat memberikan kontribusi yang signifikan setiap tahunnya, seperti lain-lain pendapatan yang sah dan pajak daerah.

4.7. Kebijakan Peningkatan dan Pengelolaan PAD Kabupaten Lampung Barat

(15)

Dalam era otonomi daerah sekarang ini, daerah diberikan kewenangan yang lebih besar untuk mengatur dan mengurus rumah tangganya sendiri. Tujuannya antara lain adalah untuk lebih mendekatkan pelayanan pemerintah kepada masyarakat, memudahkan masyarakat untuk memantau dan mengontrol penggunaan dana yang bersumber dari APBD, selain untuk menciptakan persaingan yang sehat antar daerah dan mendorong timbulnya inovasi. Sejalan dengan kewenangan tersebut, Pemerintah Daerah khususnya Kabupaten Lampung Barat berupaya menggali sumber-sumber keuangan khususnya untuk memenuhi kebutuhan pembiayaan pemerintahan dan pembangunan di daerahnya melalui PAD.

Sebelum otonomi daerah kewenangan pemungutan PAD Kabupaten Lampung Barat dilaksanakan oleh Dinas Pendapatan Daerah, namun setelah otonomi daerah pemungutan dilakukan oleh masing-masing dinas/kantor pengelola pendapatan, dan dinas pendapatan daerah berfungsi sebagai kooordinator pendapatan asli daerah. Tuntutan peningkatan PAD semakin besar seiring dengan semakin banyaknya kewenangan pemerintahan yang dilimpahkan kepada daerah disertai pengalihan personil, peralatan, pembiayaan dan dokumentasi (P3D) ke daerah dalam jumlah besar. Sementara, sejauh ini dana perimbangan yang merupakan transfer keuangan oleh pusat kepada Kabupaten Lampung Barat dalam rangka mendukung pelaksanaan otonomi daerah, meskipun jumlahnya relatif memadai yakni sekurang-kurangnya sebesar 25% dari Penerimaan Dalam Negeri dalam APBN, namun Kabupaten Lampung Barat harus lebih kreatif dalam meningkatkan PADnya untuk meningkatkan akuntabilitas dan keleluasaan dalam pembelanjaan APBD-nya. Sumber-sumber penerimaan Kabupaten Lampung Barat yang potensial harus digali secara maksimal, namun tentu saja di dalam koridor peraturan perundang-undangan yang berlaku, termasuk diantaranya adalah pajak daerah dan retribusi daerah yang memang telah sejak lama menjadi unsur PAD yang utama.

Arah kebijakan pembangunan Kabupaten Lampung Barat yang ditempuh yaitu untuk mewujudkan masyarakat yang sejahtera melalui peningkatan dan pencapaian Indeks Pembangunan Manusia (IPM). Salah

(16)

satunya adalah Peningkatan Pendapatan Asli Daerah untuk kemakmuran masyarakat dengan penyesuaian secara terarah dan sistematis untuk menggali sumber-sumber pendapatan daerah bagi pembiayaan pembangunan melalui intensifikasi dan ekstensifikasi sumber- sumber PAD. Penerapan prinsip, norma, asas, dan standar akuntansi dalam penyusunan APBD menjadi dasar kegiatan pengelolaan, pengendalian, pemeriksaan dan pengawasan keuangan daerah. Salah satu kebijakan pemerintah daerah dalam rencana strategi Kabupaten Lampung Barat tahun 2002-2007 adalah peningkatan Pendapatan Asli Daerah rata-rata 15% per tahun. Hal ini dimaksudkan untuk memperkirakan penerimaan daerah secara keseluruhan. Adapun program dan kegiatan yang telah dilaksanakan oleh pemerintah daerah Kabupaten Lampung Barat adalah: 1. Meningkatkan akurasi data dan aktualitas data melalui kegiatan

Peremajaan data obyek/subyek pajak dan retribusi daerah 2. Melakukan penyusunan laporan penerimaan daerah

3. Penyuluhan terhadap wajib pajak/retribusi daerah 4. Melakukan penagihan pajak dan retribusi daerah 5. Peningkatan sarana dan prasarana aparatur

6. Meningkatkan penagihan pajak dan retribusi daerah melalui kegiatan operasional daerah melalui kegiatan operasional tim terpadu intensifikasi PAD

(17)

5.1 Kinerja Keuangan Daerah Kabupaten Lampung Barat 5.1.1. Tingkat Kemandirian PAD

Tingkat kemandirian menunjukkan kemampuan pemerintah daerah dalam membiayai sendiri kegiatan pemerintahan, pembangunan, dan pelayanan kepada masyarakat yang telah membayar pajak dan retribusi sebagai sumber pendapatan yang diperlukan daerah. Hal ini berarti juga bahwa tingkat kemandirian keuangan daerah dapat menggambarkan sejauhmana ketergantungan daerah terhadap sumber dana dari luar karena semakin tinggi rasio ini berarti tingkat ketergantungan daerah terhadap bantuan pihak luar (terutama pemerintah pusat dan propinsi) semakin rendah, demikian pula sebaliknya.

Tingkat kemandirian keuangan daerah juga menggambarkan tingkat partisipasi masyarakat dalam pembangunan daerah. Semakin tinggi tingkat kemandirian berarti semakin tinggi partisipasi masyarakat dalam membayar pajak dan retribusi daerah yang merupakan komponen dari PAD. Tingkat kemandirian keuangan daerah Kabupaten Lampung Barat disajikan pada Tabel 18.

Tabel 18. Tingkat Kemandirian Keuangan Daerah Kabupaten Lampung Barat No Tahun PAD (Juta Rupiah) APBD (Juta Rupiah) Tingkat Kemandirian (Persen) 1 2003 5.394,41 235.949,47 2,29 2 2004 4.954,46 231.450,55 2,14 3 2005 6.197,94 272.990,81 2,27 4 2006 11.215,88 409.383,83 2,74 5 2007 12.341,41 449.439,42 2,75

Sumber : Dinas Pendapatan, Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah, Tahun 2007

Proporsi PAD Kabupaten Lampung Barat terhadap APBD dari tahun ke tahun terus mengalami peningkatan. Tahun 2003, peran PAD terhadap pendapatan total Kabupaten Lampung Barat mencapai 5,394 milyar rupiah atau setara dengan 2,29%. Namun pada tahun 2004 mengalami penurunan sebesar 4,95 milyar rupiah atau 2,14 pesen. Hal ini

(18)

dapat terjadi karena kontribusi dari sumber PAD yaitu lain-lain pendapatan yang sah mengalami penurunan, khususnya pada jasa giro dan bunga deposito.

Sekalipun pada tahun 2005 dan 2006 total PAD meningkat jika dibandingkan dengan tahun 2004 yang masing-masing sebesar 6,19 milyar rupiah dan 11,21 milyar rupiah namun kemandirian keuangan terhadap total pendapatan Kabupaten Lampung Barat masih relatif kecil yaitu hanya sebesar 2,27 pesen dan 2,74 persen. Persentase PAD terhadap total pendapatan periode 2003 – 2007 ini jauh lebih kecil jika dibandingkan dengan besarnya sumbangan atau transfer pemerintah pusat terhadap pendapatan Kabupaten Lampung Barat yang rata-rata pertahunnya mencapai 97,56%. Posisi sampai dengan akhir tahun 2007 persentase PAD terhadap pendapatan total sebesar 2,75% dan diperkirakan akan terus meningkat. Meski begitu dengan nilai yang diperoleh ini maka tingkat kemandirian Kabupaten Lampung Barat masih termasuk pola hubungan kategori rendah sekali menurut Nadeak (2003). Hal ini menunjukkan bahwa pola hubungan antara pemerintah daerah dan pemerintah pusat bersifat instruktif, yaitu peranan pemerintah pusat lebih

dominan dari pada kemandirian pemerintah daerah (daerah yang tidak mampu melaksanakan otonomi daerah). Hal ini berarti bahwa ketergantungan daerah terhadap bantuan pihak luar (terutama pemerintah pusat) masih sangat besar karena pendapatan aslinya baru menyumbang 2,75% dari total penerimaan daerah. Tingkat kemandirian yang sangat rendah juga pernah terjadi pada Kabupaten Pelalawan dimana tingkat kemandiriannya mencapai 1,42% pada tahun 2001 (Rahman, 2005). Namun kabupaten tersebut mampu meningkatkan tingkat kemandiriannya menjadi 3,66 pada tahun 2003.

Rendahnya tingkat kemandirian Kabupaten Lampung Barat dapat disebabkan karena pertumbuhan ekonomi Kabupaten Lampung Barat yang juga rendah, yaitu sebesar 2,6% pada tahun 2006. Tingkat kemandirian ini lebih rendah dibanding dengan pertumbuhan ekonomi Propinsi Lampung yang mencapai 5,3% pada tahun yang sama. Terdapat beberapa hal yang dapat menjadikan tingkat kemandirian Kabupaten Lampung Barat menjadi sangat rendah, yaitu seperti kurang berkembangnya sektor jasa. Kurang berkembangnya sektor ini dapat dilihat dari pertumbuhan sektor ini yang hanya sebesar 0,01% yaitu dari 3,72% pada tahun 2005 menjadi 2,73% pada tahun 2006. Sektor angkutan dan komunikasi juga baru mengalami pertumbuhan dari 2,87% pada tahun 2005

(19)

menjadi 3,14% pada tahun 2006. Padahal dengan lemahnya perkembangan sektor ini dapat mendorong juga rendahnya penerimaan PAD dari retribusi pasar, retribusi parkir di tepi jalan umum, retribusi pengujian kendaraan bermotor, serta retribusi izin trayek. Dengan rendahnya penerimaan dari sumber PAD yang berupa retribusi daerah tersebut dapat menjadikan penerimaan PAD menjadi rendah sehingga tetap bergantung pada pemerintah pusat.

Kondisi tingkat kemandirian Kabupaten Lampung Barat yang masih rendah tersebut mengakibatkan terbatasnya belanja dan investasi pemerintah Kabupaten Lampung Barat yang bersumber dari PAD. Alokasi PAD di Lampung Barat digunakan untuk belanja aparatur daerah, belanja pelayanan publik, dan belanja bantuan keuangan. Sehingga diperlukan peningkatan sumber dana yang dapat dilakukan dengan optimalisasi penggalian sumber-sumber pendapatan dan pengelolaan aset daerah melalui intensifikasi dan ekstensifikasi potensi yang ada dengan tidak membebankan terhadap masyarakat. Agar pajak dan retribusi tidak menjadi beban masyarakat, maka perencanaan dan penetapannya selalu mempertimbangkan antara keseimbangan objek pajak dan retribusi dengan koefisien beban yang ditanggung masyarakat.

5.1.2. Tingkat Efektivitas PAD

Rasio efektivitas menunjukkan kemampuan pemerintahan daerah dalam merealisasikan pendapatan asli daerah (PAD) yang direncanakan dibandingkan dengan target yang ditetapkan berdasarkan potensi daerah. Jumlah PAD Kabupaten Lampung Barat dari tahun 2001 hingga 2007 terus mengalami peningkatan. Besarnya PAD Kabupaten Lampung Barat dari setiap sumber-sumber PAD dari tahun 2001-2007 ada pada Lampiran 2.

Terdapat 4 sumber PAD yaitu pajak, retribusi daerah, laba perusahaan daerah, dan lain-lain pendapatan yang sah. Beberapa sumber-sumber PAD tersebut ada yang memberikan kontribusi signifikan setiap tahunnya, seperti lain-lain pendapatan yang sah dan pajak daerah. Dari PAD yang terealisasi setiap tahunnya tersebut sesungguhnya pemerintah memiliki juga sejumlah penerimaan PAD yang menjadi target. Ada tahun-tahun dimana penerimaan PAD yang terealisasi lebih besar dari penerimaan PAD yang ditargetkan. Namun ada juga kondisi sebaliknya

(20)

dimana penerimaan PAD yang terelisasi lebih kecil dari penerimaan PAD yang ditargetkan. Perbandingan antara penerimaan PAD yang ditargetkan dengan PAD yang terealisasi mengacu pada konsep rasio efektivitas. Secara rinci rasio efektivitas PAD di Kabupaten Lampung Barat tahun 2003 – 2007 berfluktuasi. Rasio efektivitas PAD di Kabupaten Lampung Barat disajikan pada Tabel 19.

Tabel 19. Rasio Efektivitas Keuangan Daerah Kabupaten Lampung Barat Tahun 2002-2007 (%)

No Sumber-sumber PAD 2003 2004 2005 2006 2007

1 Pajak Daerah 126 97 99 146 135

2 Retribusi Daerah 94 111 98 122 114

3 Laba Perusahaan Daerah - 124 104 100 100

4 Lain-Lain Pendapatan yang

Sah 111 106 100 388 212

TOTAL PAD 115 107 129 218 121

Sumber : Dinas Pendapatan, Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah Tahun 2007, Data diolah, Tahun 2007

Tabel 19 di atas terlihat bahwa rasio efektivitas Kabupaten Lampung Barat dalam melakukan pemungutan PAD mencapai 107% samapi 218% dengan adanya fluktuasi rasio efektivitas PAD Kabupaten Lampung Barat setiap tahunnya. Hal ini menggambarkan bahwa Pemerintah Kabupaten Lampung Barat sudah efektif dalam melakukan pemungutan sumber pendapatan daerah hal ini disebabkan karena realisasi PAD lebih besar dibandingkan target yang telah ditetapkan. Tahun 2003 rasio efektivitas PAD sebesar 115%, pada tahun 2004 terjadi penurunan sebesar 107%. Namun pada tahun 2005 meningkat kembali menjadi 129%, dan selanjutnya pada tahun 2006 mengalami kenaikan mencapai 218%. Namun pada tahun 2007 rasio efektivitas PAD Kabupaten Lampung Barat kembali mengalami penurunan sebesar 121%.

Penerimaan PAD dari sumber pajak daerah pada tahun 2007 sebesar 1,86 milyar rupiah dengan efektivitas sebesar 135% atau melebihi target

(21)

yang ditetapkan oleh DPRD Kabupaten Lampung Barat sebesar 1.388,85 milyar rupiah. Pajak daerah merupakan sumber PAD yang paling berperan dalam menyumbangkan PAD Kabupaten Lampung Barat seteleh lain-lain pendapatan yang sah. Sumber PAD ini memang terbukti memberikan kontribusi yang sangat signifikan setiap tahunnya. Bahkan pada tahun 2006 rasio efektivitas dari sumber PAD ini mencapai 388% meski pada tahun 2007 penerimaan dari sumber ini mengalami penurunan menjadi 212%. Hal ini dapat berarti pemerintah Kabupaten Lampung Barat belum melihat adanya potensi dari sumber ini di tahun 2006 dan 2007. Namun dari data PAD Kabupaten Lampung Barat tahun 2006 dan 2007 terlihat bahwa meski kurang memperoleh perhatian namun sumber ini memberikan kontribusi yang besar pada perolehan PAD Kabupaten Lampung Barat tahun 2006 dan 2007, yaitu sebesar 68,18% dan 61,48%. Dua penerimaan yang berkontribusi secara signifikan dari sumber ini terhadap PAD yaitu bunga deposito dan jasa giro.

Pada analisis rasio dari sumber PAD yang berupa pajak daerah, penerimaan adalah pajak penerangan jalan yang pada tahun 2007 mencapai 1,35 milyar rupiah atau melebihi pagu yang telah ditetapkan DPRD Kabupaten Lampung Barat yang hanya 1,004.4 milyar rupiah. Kontribusi terbesar kedua adalah pajak galian C yang mencapai 420,36 juta rupiah. Hal ini sesuai dengan pembahasan sebelumnya bahwa pajak penerangan jalan menyumbang 10,99% dan pajak galian C menyumbang 3,41% dari penerimaan PAD tahun 2007.

Pajak restoran juga merupakan sumber PAD Kabupaten Lampung Barat. Tahun 2007 perolehan pajak restoran mencapai 40,48 juta rupiah. Pajak reklame juga memberikan kontribusi bagi pajak daerah, dimana selama tahun 2007 perolehan pajak reklame mencapai 25,54 juta rupiah. Dari angka itu, kontribusi reklame papan/billboard/ megatron memberikan sumbangan terbesar. Sisanya bersumber dari jenis reklame alat bersinar, reklame berjalan, termasuk pada kendaraan. Kelebihan target pada pajak penerangan merupakan dampak dari semakin meningkatnya pertumbuhan dunia usaha yang menggunakan berbagai media untuk melakukan promosi di Kabupaten Lampung Barat.

(22)

Peran sumber retribusi daerah dalam peningkatan PAD Kabupaten Lampung Barat juga cukup besar yang mencapai 114 persen pada tahun 2007. Jenis retribusi daerah yang cukup besar memberikan kontribusi adalah retribusi pelayanan kesehatan. Posisi pertama yang kontribusinya paling besar terhadap PAD Lampung Barat yaitu retribusi pemungutan kayu dan non kayu serta tanah milik yang mencapai 5,71% pada tahun 2007. Tahun yang sama sumbangan retribusi dari pelayanan kesehatan terhadap PAD Kabupaten Lampung Barat mencapai 329,51 juta rupiah. Retribusi biaya cetak KTP dan akta capil juga memberikan kontribusi cukup besar yakni sebesar 297,32 juta. Disusul dengan retribusi pemakaian kekayaan daerah sebesar 244,10 juta rupiah. Sementara itu retribusi pasar grosir atau pertokoan dan retribusi terminal juga memberikan sumbangan yang tidak sedikit. Tahun 2007 misalnya, masing-masing memberikan kontribusi sebesar 239,43 juta rupiah dan 112,76 juta rupiah. Jenis retribusi pelayanan persampahan dan retribusi pasar juga memiliki peran penting. Kontribusinya mencapai 35,20 juta rupiah dan 21,42 juta rupiah.

Realisasi PAD Kabupaten Lampung Barat yang selalu melebihi 100% setiap tahunnya merupakan suatu hal yang positif tentang kinerja keuangan pemerintah daerah. Namun mengapa tingkat kemandiriannya masih termasuk pada ketegori sangat rendah? Untuk menjawab hal ini dapat ditelusuri dengan metode yang digunakan dalam penghitungan target PAD setiap tahunnya. Selama ini Pemerintah Kabupaten Lampung Barat memiliki kebijakan untuk menghitung target dari setiap sumber PAD berdasarkan kenaikan 10% hingga 15% dari penerimaan PAD tahun sebelumnya. Hal ini dapat membuat target PAD menjadi tidak sesuai dengan kondisi faktual karena target bukan ditentukan berdasarkan potensi yang sebenarnya dari setiap sumber. PAD yang ditargetkan menjadi tidak mencerminkan nilai yang sesungguhnya dari setiap sumber karena kebanyakan target dari setiap sumber PAD masih lebih rendah dari potensi yang sebenarnya sehingga efektivitasnya dapat mencapai lebih dari 300%.

(23)

Rasio efisiensi PAD di Kabupaten Lampung Barat selama periode 2003-2007 mengalami penurunan yaitu dari 6,30% menjadi 7,62%. Menurunnya rasio efisiensi PAD mencerminkan bahwa besarnya peningkatan biaya pungut relatif lebih tinggi dari pada realisasi PAD. Biaya pungut pada periode 2003-2007 meningkat sebesar 176,72% yaitu dari 339,84 juta rupiah menjadi 940,41 juta rupiah. Peningkatan biaya pungut ini lebih tinggi dari peningkatan realisasi PAD yang hanya sebesar 128,78% yaitu dari 5.394,41 juta rupiah menjadi 12.341,41 juta rupiah. Rasio efisiensi PAD di Kabupaten Lampung Barat ada pada Tabel 20.

Tabel 20. Rasio Efisiensi Keungan Daerah Kabupaten Lampung Barat Tahun 2003-2007 No Tahun Biaya Pungut (Juta Rupiah) Realisasi PAD (Juta Rupiah) Rasio Efisiensi (%) 1 2003 339,84 5.394,41 6,30 2 2004 331,94 4.954,46 6,70 3 2005 427,65 6.197,94 6,90 4 2006 796,32 11.215,88 7,10 5 2007 940,41 12.341,41 7,62

Sumber : Dinas Pendapatan, Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah Tahun 2007, data diolah, Tahun 2007

Terlihat jelas bahwa rasio efisiensi Kabupaten Lampung Barat setiap tahunnya semakin mendekati dari 100%. Hal ini berarti realisasi Pendapatan Asli Daerah yang di terima Kabupaten Lampung Barat lebih kecil dibandingkan dengan biaya yang harus dikeluarkan untuk memungut Pendapatan Asli Daerah makin kurang efisien. Besarnya peningkatan biaya pungut terkait dengan semakin banyaknya petugas pungut dan kenaikan biaya transportasi. Sejak tahun 2005 semakin banyak obyek yang dikenai biaya pungut oleh pemerintah daerah, sebagai dampak dari meningkatnya kewenangan untuk mengelola sumber-sumber keuangan daerah. Meningkatnya obyek pungut tersebut membawa konsekuensi

(24)

pada meningkatnya biaya operasional pemungutan. Karakteristik Kabupaten Lampung Barat yang wilayahnya sebagian besar pegunungan dan perbukitan sulit untuk dijangkau dengan transportasi darat, menyebabkan biaya pemungutan meningkat lebih besar. Pemungutan ke daerah-derah terpencil sangat tergantung pada kondisi alamnya. Realisasi penerimaan PAD di daerah-daerah terpencil kadang tidak sebanding dengan biaya pungut yang dikeluarkan. Pemerintah daerah perlu mengupayakan efisiensi pungutan pajak di kecamatan dan desa. 5.2. Strategi Peningkatan PAD Kabupaten Lampung Barat

Ciri utama suatu daerah mampu melaksanakan otonomi adalah yaitu memiliki kemampuan keuangan daerah, artinya daerah harus memiliki kewenangan dan kemampuan untuk menggali sumber-sumber keuangan, mengelola dan menggunakan keuangan sendiri yang cukup memadai untuk membiayai penyelenggaraan permerintahannya. Ketergantungan kepada bantuan pusat harus seminimal mungkin agar pendapatan asli daerah (PAD) dapat menjadi bagian sumber keuangan terbesar. Dengan demikian diharapkan pemerintah daerah tidak terlalu menjadi tergantung oleh dana dari pemerintah pusat.

Strategi peningkatan PAD harus mengarah pada sasaran komprehensif yang memiliki keterpaduan program-program, menyeluruh, partisipasi aktif dari seluruh stakeholders dan masyarakat, dan juga berorientasi pada prinsip berkelanjutan. Strategi ini diharapkan dapat meningkatkan pendapatan daerah dari potensi daerah yang ada sehingga mengurangi beban anggaran dan mengurangi ketergantungan dari pusat. Kondisi tersebut pada akhirnya berdampak pada surplus anggaran yang bisa dimanfaatkan untuk pembangunan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat Kabupaten Lampung Barat. Oleh karena itu dalam rangka meningkatkan peningkatan PAD Kabupaten Lampung Barat diperlukan strategi yang efektif. Beberapa strategi untuk meningkatkan PAD Kabupaten Lampung Barat yaitu peningkatan keahlian SDM

dan insentif petugas, pengembangan sektor unggulan, pembangunan infrastruktur, perbaikan sistem informasi dan administrasi pelaporan, serta pemberdayaan BUMD dan bagi hasil sumber daya alam, strategi ini dapat meningkatkan penerimaan daerah dari laba perusahaan daerah dan lain-lain pendapatan yang sah.

Dari ke lima strategi tersebut akan dipilih sebuah strategi yang dijadikan sebagai prioritas untuk meningkatkan PAD Kabupaten Lampung

(25)

Barat. Upaya menentukan strategi yang dapat diprioritaskan dalam kajian dengan mengolahnya menggunakan

Analytical Hierarchy Process

(AHP). Selain AHP, pengambilan keputusan juga didasarkan atas analisis terhadap besarnya kontribusi dari tiap sumber penerimaan PAD dimana sumber yang telah berkontribusi paling besar terhadap PAD Kabupatren Lampung Barat dan kemungkinan paling berpotensi akan diupayakan akan diprioritaskan.

5.3. Kriteria dalam Menetapkan Strategi Peningkatan PAD Kabupaten Lampung Barat

Dalam menentukan skala prioritas strategi peningkatan PAD di Kabupaten Lampung Barat dilakukan pengumpulan pendapat para stakeholders dan dianalisis dengan

Analytical Hierarchy Process

(AHP). Penentuan prioritas strategi peningkatan PAD dilakukan untuk menetapkan prioritas program peningkatan PAD yang berorientasi pada peningkatan pendapatan daerah secara optimal. Strategi tersebut meliputi peningkatan keahlian SDM dan insentif petugas, pengembangan sektor unggulan, pembangunan infrastruktur, perbaikan sistem informasi dan administrasi pelaporan; serta pemberdayaan BUMD dan bagi hasil sumber daya alam.

Dari beberapa pilihan strategi di atas perlu ditentukan strategi yang menjadi prioritas dibandingkan strategi lainnya. Hal ini dikarenakan semua strategi tersebut tidak mungkin dapat dilaksanakan seluruhnya. Upaya menentukan prioritas diperlukan penilaian dengan menggunakan beberapa kriteria. Kriteria-kriteria yang digunakan untuk menganalisis strategi tersebut adalah efektivitas, potensi SDM, anggaran biaya, potensi pengembangan, dan kemudahan.

Hasil pengolahan terhadap data kuesioner melalui AHP dapat dilihat pada Tabel 21. Perhitungan kriteria total adalah menggabungkan hasil analisis AHP terhadap empat responen, begitu juga dengan bobot prioritasnya. Pengolahan data dari setiap responden ada pada Lampiran 3 sedangkan penghitungan hasil penilaian terhadap kriteria ada pada Lampiran 4.

(26)

Urutan Kriteria Bobot Prioritas 1 Efektivitas 0,375 2 Potensi SDM 0,183 3 Anggaran biaya 0,160 4 Kemudahan 0,141 5 Potensi pengembangan 0,140

Tabel tersebut menunjukkan hasil perbandingan antar-kriteria yang digunakan dalam menentukan skala prioritas penilaian bagi strategi peningkatan PAD Kabupaten Lampung Barat. Terlihat bahwa di antara 5 kriteria, efektivitas memiliki bobot prioritas paling tinggi dibandingkan dengan kriteria lainnya. Kriteria efektivitas bobot prioritasnya sebesar 0,375. Hal ini berarti bahwa kriteria efektivitas merupakan kriteria yang paling penting untuk menentukan strategi yang akan diprioritaskan dalam rancangan program. Kriteria yang memiliki bobot prioritas ke dua adalah potensi SDM yang bobot prioritasnya sebesar 0,183. Potensi SDM mencerminkan seberapa besar kompetensi dan kemampuan dalam merencanakan dan melaksanakan serta mereview program peningkatan PAD yang dimiliki oleh Kabupaten Lampung untuk mendukung strategi peningkatan PAD.

Prioritas ke tiga adalah anggaran biaya yang merupakan total anggaran yang dibutuhkan untuk melaksanakan program strategi peningkatan PAD dan bobot prioritasnya sebesar 0,160. Kriteria kemudahan didefinisikan sebagai kemudahan secara teknis ternyata menduduki prioritas ke empat dengan bobot prioritas sebesar 0,141. Kriteria potensi pengembangan merupakan potensi yang dimiliki oleh suatu strategi peningkatan PAD apakah dapat dikembangkan dan dilaksanakan di Kabupaten Lampung menduduki prioritas ke lima dengan bobot prioritas sebesar 0,140.

5.4. Penilaian Strategi Peningkatan PAD Kabupaten Lampung Barat berdasarkan Tiap Kriteria

(27)

Kriteria efektivitas ditekankan pada seberapa efektif strategi tersebut, semakin efektif semakin diprioritaskan. Berdasarkan batasan tersebut, maka bobot prioritas dari 5 alternatif strategi untuk meningkatkan PAD Kabupaten Lampung Barat berdasarkan kriteria efektivitas disajikan pada Tabel 22.

Tabel 22. Penilaian Strategi Peningkatan PAD Berdasarkan Kriteria Efektivitas

Alternatif Bobot Prioritas

Peningkatan keahlian SDM dan insentif petugas 0.297

Pengembangan sektor unggulan 0.091

Pembangunan infrastruktur 0.060

Perbaikan sistem informasi dan administrasi pelaporan

0.271

Pemberdayaan BUMD dan bagi hasil sumberdaya alam

0.282

Tabel 22 memperlihatkan bahwa hasil penilaian strategi peningkatan PAD menempatkan strategi peningkatan keahlian SDM dan insentif petugas menempati urutan pertama dengan bobot prioritas sebesar 0,297. Dengan mendasarkan pada kriteria efektivitas maka alternatif yang dirasa perlu untuk diprioritaskan agar dapat meningkatkan PAD Kabupaten Lampung Barat adalah peningkatan kualitas SDM dan insentif petugas. Jika petugas memiliki keahlian SDM yang memadai dan memperoleh insentif yang cukup maka pekerjaan mereka sehari-hari dapat menjadi lebih efektif. Mereka dapat memahami target yang dikehendaki dari pekerjaan mereka dan berusaha untuk mencapainya sehingga pada akhirnya dapat meningkatkan penerimaan PAD Kabupaten Lampung Barat. Hasil ini juga sepertinya mendukung anggapan kebanyakan orang bahwa yang perlu dikedepankan dalam meningkatkan PAD Kabupaten Lampung Barat berdasarkan efektivitas adalah peningkatan SDM petugas. Dengan petugas yang tingkat SDM tinggi maka pekerjaannya akan lebih efektif sehingga penerimaan PAD akan dapat meningkat.

(28)

Kriteria pengembangan sektor unggulan dengan bobot prioritas sebesar 0,091menempati alternatif kedua dengan mendasarkan pada kriteria efektivitas. Bobot alternatif ini tidak terlalu jauh berbeda dengan alternatif peningkatan kualitas SDM dan insentif petugas yang sebesar 0,297. Kemudian disusul oleh alternatif pemberdayaan BUMD dan bagi hasil sumberdaya alam dengan bobot prioritas sebesar 0,282. Kedua alternatif ini mengarah pada potensi sumberdaya alam yang dimiliki Kabupaten Lampung Barat baik yang potensinya belum ataupun sudah tergali namun bagi hasilnya belum dapat berkontribusi maksimal pada PAD Kabupaten Lampung Barat.

Alternatif yang memperoleh bobot prioritas berdasarkan kriteria efektivitas tidak terlalu tinggi adalah perbaikan sistem informasi dan administrasi pelaporan dengan bobot prioritas sebesar 0,271 serta pembangunan infrastruktur dengan bobot prioritas sebesar 0,060. Hal ini dapat dijelaskan bahwa perbaikan sistem informasi dan administrasi pelaporan dan pembangunan infrastruktur tidak akan efektif dalam meningkatkan PAD Kabupaten Lampung Barat.

5.4.2. Kriteria Potensi Sumberdaya Manusia (SDM)

Kriteria potensi Sumber Daya Manusia (SDM) menekankan pada kualitas maupun kuantitas SDM. Kualitas berkaitan dengan kemampuan baik dari latar belakang pendidikan dan keahlian, sedangkan kuantitas berkaitan dengan ketersediaan SDM dilihat dari segi jumlah untuk melaksanakan strategi tersebut. Semakin tersedianya dan berpotensi SDM berarti strategi semakin diprioritaskan untuk dilaksanakan. Tabel 23 di bawah ini memperlihatkan bobot prioritas dari setiap alternatif strategi untuk meningkatkan penerimaan PAD Kabupaten Lampung Barat berdasarkan kriteria potensi SDM.

Tabel 23. Penilaian Strategi Peningkatan PAD Berdasarkan Kriteria Potensi SDM

(29)

Peningkatan keahlian SDM dan insentif petugas 0,261

Pengembangan sektor unggulan 0,081

Pembangunan infrastruktur 0,077

Perbaikan sistem informasi dan administrasi pelaporan

0,338

Pemberdayaan BUMD dan bagi hasil sumberdaya alam

0,243

Perbaikan sistem informasi dan administrasi pelaporan dengan bobot prioritas sebesar 0,338 menduduki posisi teratas yang perlu diprioritaskan dalam meningkatkan PAD. Kemudian disusul oleh alternatif peningkatan keahlian SDM dan insentif petugas dengan bobot prioritas sebesar 0,261 dan pemberdayaan BUMD dan bagi hasil sumberdaya alam dengan bobot prioritas sebesar 0,243. Hal ini sesuai dengan kriteria yang diujikan, yaitu terkait dengan potensi SDM, maka ketiga alternatif yang menduduki 3 prioritas teratas juga terkait dengan perbaikan pada sisi SDM.

Dengan melihat potensi SDM yang ada baik dari kualitas latar belakang pendidikan maupun keahlian; serta jumlahnya mencukupi maka perbaikan sistem informasi dan administrasi pelaporan merupakan alternatif yang paling dapat diprioritaskan untuk meningkatkan PAD Kabupaten Lampung Barat. Dengan latar belakang dan keahlian yang sekarang dimiliki petugas dinilai dapat meningkatkan PAD Kabupaten Lampung Barat. Dengan modal kualitas dan kuantitas SDM yang ada tersebut, maka alternatif upaya peningkatan keahlian dan insentif petugas juga akan dapat dilaksanakan selanjutnya. Setelah para petugas ini meningkat keahlian dan insentifnya, maka alternatif pemberdayaan BUMD serta bagi hasil sumberdaya alam baru dapat dilaksanakan agar dapat meningkatkan PAD Kabupaten Lampung Barat.

Sementara itu pengembangan sektor unggulan dengan nilai bobot prioritas sebesar 0,081 dan pembangunan infrastruktur menduduki dengan bobot prioritas sebesar 0,077 menjadi alternatif selanjutnya yang perlu diprioritaskan berdasarkan potensi SDM. Jadi pembenahan atau peningkatan kualitas SDM petugas terlihat lebih diprioritaskan dibanding

(30)

keahliannya untuk mengurusi sumberdaya alam maupun infrastruktur dalam meningkatkan PAD berdasar kriteria potensi SDM.

5.4.3. Kriteria Anggaran Biaya

Kriteria anggaran biaya diperlukan untuk menjalankan strategi peningkatan PAD di Kabupaten Lampung Barat. Kriteria ini menekankan pada ketersediaan dana anggaran dan besar kecilnya pembiayaan yang diperlukan untuk pelaksanaan strategi peningkatan PAD. Semakin rendah biaya yang diperlukan berarti semakin diprioritaskan strategi tersebut. Semakin tinggi anggaran biaya yang diperlukan, maka nilai yang diberikan semakin kecil atau strategi tersebut tidak layak dilaksanakan dan sebaliknya. Tabel 24 memperlihatkan bobot prioritas dari setiap alternatif strategi untuk meningkatkan PAD Kabupaten lampung Barat berdasarkan kriteria anggaran biaya.

Tabel 24. Penilaian Strategi Peningkatan PAD Berdasarkan Kriteria Anggaran Biaya

Alternatif Bobot Prioritas

Peningkatan keahlian SDM dan insentif petugas 0,281

Pengembangan sektor unggulan 0,082

Pembangunan infrastruktur 0,099

Perbaikan sistem informasi dan administrasi pelaporan

0,343

Pemberdayaan BUMD dan bagi hasil sumberdaya alam

0,195

Tabel 24 terlihat bahwa alternatif perbaikan sistem informasi dan adminstrasi pelaporan dinilai paling murah dengan bobot prioritas sebesar 0,373. Hal ini sesuai dengan persentase PAD yang masih sebesar 2,75% dari APBD-nya sehingga melihat bahwa alternatif stratregi yang paling murah biayanya adalah perbaikan sistem informasi dan adminstrasi pelaporan. Hal ini mungkin tidak selalu benar adanya karena biaya pembenahan sistem informasi dan administrasi pelaporan jika menggunakan konsultan teknologi informasi maka membutuhkan biaya

(31)

yang tidak murah. Namun biaya yang dikeluarkan tersebut memang jauh lebih murah jika dibandingkan dengan pembangunan infrastruktur baru.

Alternatif kedua adalah peningkatan keahlian SDM dan insentif petugas yang bobot prioritasnya sebesar 0,281. Peningkatan kualitas SDM juga dinilai sebagai alternatif strategi yang biayanya murah dan dapat segera dilaksanakan. Sama dengan biaya perbaikan sistem informasi dan adminstrasi pelaporan, sebenarnya biaya untuk peningkatan kualitas SDM pun tidak sedikit. Namun biaya yang dikeluarkan tersebut memang jauh lebih murah jika dibandingkan dengan pembangunan infrastruktur baru.

Alternatif ketiga teratas adalah pemberdayaan BUMD dan bagi hasil sumberdaya alam dengan bobot prioritas sebesar 0,195. Alternatif ini dapat dipilih dengan asumsi memberdayakan yang sudah ada (BUMD) dan memperbaiki kelembagaan yang sudah ada akan lebih mudah bila dibandingkan dengan membangun infrastruktur atau mengembangkan sektor unggulan.

Peringkat keempat adalah pembangunan infrastruktur yang mempunyai nilai total sebesar 0,397 dengan bobot prioritas sebesar 0,099. Sementara itu, strategi yang merupakan strategi paling mahal adalah strategi pengembangan sektor unggulan yang memiliki nilai total sebesar 0,327 dengan bobot prioritas sebesar 0,082.

5.4.4. Kriteria Kemudahan

Kriteria kemudahan didefinisikan sebagai kemudahan secara teknis pelaksanaan strategi peningkatan PAD Kabupaten Lampung Barat. Semakin mudah strategi tersebut dilakukan, maka nilai yang diberikan akan semakin tinggi dan sebaliknya. Tabel 25 memperlihatkan bobot prioritas dari setiap alternatif strategi untuk meningkatkan PAD Kabupaten Lampung Barat berdasarkan kriteria kemudahan.

(32)

Tabel 25. Penilaian Strategi Peningkatan PAD Berdasarkan Kriteria Kemudahan

Alternatif Bobot Prioritas

Peningkatan keahlian SDM dan insentif petugas 0,161

Pengembangan sektor unggulan 0,173

Pembangunan infrastruktur 0,154

Perbaikan sistem informasi dan administrasi

pelaporan 0,319 Pemberdayaan BUMD dan bagi hasil

sumberdaya alam 0,193

Alternatif strategi yang sangat mudah dilaksanakan berdasarkan kriteria kemudahan adalah perbaikan sistem informasi dan administrasi pelaporan dengan bobot prioritas sebesar 0,319. Bobot prioritas alternatif ini jauh lebih tinggi dibanding alternatif lainnya. Alternatif ini dinilai mudah secara teknis untuk dilaksanakan dibandingkan alternatif lainnya. Pemberdayaan BUMD dan bagi hasil sumberdaya alam menempati urutan ke dua dengan bobot prioritas sebesar 0,193. Alternatif ini ternyata juga dinilai mudah untuk dilaksanakan karena hanya dalam tataran memberdayakan kelembagaan dan kebijakan tentang bagi hasil yang sudah ada.

Ketika alternatif pengembangan sektor unggulan yang memiliki bobot prioritas sebesar 0,173 menempati urutan prioritas ke tiga untuk meningkatkan PAD Kabupaten Lampung Barat berdasarkan kriteria kemudahan. Padahal berdasarkan kriteria anggaran biaya, alternatif ini menempati prioritas ke empat yang berarti perlu anggaran besar untuk mengembangkan sektor unggulan. Jadi sebenarnya pengembangan sektor unggulan mudah untuk dilaksanakan, namun menjadi sulit karena anggaran biayanya tinggi. Hal ini sesuai dengan PAD Kabupaten Lampung Barat yang masih sebesar 2,75% dari APBD-nya, sehingga jika ada alternatif yang anggarannya lebih murah maka alternatif tersebut yang diprioritaskan.

(33)

Alternatif peningkatan keahlian SDM dan insentif petugas yang bobot prioritasnya sebesar 0,161menempati urutan ke empat. Padahal menurut kriteria efektivitas dan kemudahan, alternatif ini meruapakan alternatif yang paling efektif untuk meningkatkan PAD Kabupaten Lampung Barat dan anggaran biayanya yang tidak mahal serta dapat segera dilaksanakan. Sehingga terlihat seperti adanya suatu persepsi yang memberatkan bagi pengembangan SDM di Kabupaten Lampung Barat. Alternatif peningkatan keahlian SDM telah dinilai sebagai alternatif yang paling efektif, manggaran biayanya tidak mahal, bisa segera dilaksanakan dalam rangka meningkatkan PAD, namun secara teknis mudah untuk dilaksanakan. Persepsi inilah yang sebaiknya diperbaiki, jika ingin lebih mengefektifkan alternatif peningkatan keahlian SDM dan insentif petugas, maka segeralah dilakukan karena mudah atau tidaknya merupakan sebuah resiko yang harus dihadapi bersama.

Alternatif strategi yang paling sulit dilaksanakan adalah pembangunan infrastruktur yang bobot prioritasnya sebesar 0,54. Hal ini dapat dipahami karena PAD Kabupaten Lampung Barat yang masih sebesar 2,75% dari APBD. Sehingga jika ada pembangunan infrastruktur baru mungkin hanya akan dilakukan jika ada bantuan dari pemerintah pusat.

5.4.5. Kriteria Potensi Pengembangan

Kriteria potensi pengembangan ditekankan pada kemungkinan adanya potensi untuk dikembangkan dan dilaksanakan. Semakin besar peluang dan potensinya strategi tersebut semakin diprioritaskan pelaksanaannya. Tabel 26 memperlihatkan bobot prioritas dari setiap alternatif strategi untuk meningkatkan PAD Kabupaten lampung Barat berdasarkan kriteria potensi pengembangan.

Tabel 26. Penilaian Strategi Peningkatan PAD Berdasarkan kriteria Potensi Pengembangan

Alternatif Bobot Prioritas

(34)

Pengembangan sektor unggulan 0,106

Pembangunan infrastruktur 0,142

Perbaikan sistem informasi dan administrasi pelaporan

0,432

Pemberdayaan BUMD dan bagi hasil sumberdaya alam

0,194

Kriteria potensi pengembangan,diantara alternatif yang paling mempunyai peluang dan memungkinkan untuk dikembangkan adalah perbaikan sistem informasi dan administrasi pelaporan yang memiliki dengan bobot prioritas sebesar 0,432. Hal ini sejalan dengan bobot prioritasnya yang juga menduduki posisi teratas dalam kriteria potensi SDM dan anggaran biaya dibanding alternatif-alternatif lainnya. Sehingga alternatif ini dapat dilihat sebagai alternatif yang anggaran biayanya tidak terlalu mahal, dapat dilaksanakan segera, serta dapat dilakukan oleh SDM yang tersedia.

Alternatif pemberdayaan BUMD dan bagi hasil sumberdaya alam dengan bobot prioritas sebesar 0,194 menempati prioritas ke dua. Pengembangan potensi dan bagi hasil sumberdaya alam dinilai sebagai alternatif yang masih mungkin untuk dikembangkan sehingga dapat meningkatkan PAD Kabupaten Lampung Barat. Kamudian menyusul pembangunan infrastruktur dengan bobot prioritas sebesar 0,142 yang dinilai masih dapat dikembangkan untuk mendukung peningkatan PAD Kabupaten Lampung Barat.

Alternatif lain yang masih dapat diprioritaskan untuk meningkatkan PAD Kabupaten Lampung Barat yaitu peningkatan keahlian SDM dan insentif petugas dengan bobot prioritas sebesar 0,126 dan pengembangan sektor unggulan dengan bobot prioritas sebesar 0,106. Tampaknya sejalan dengan analisis alternatif ini pada kriteria kemudahan, peningkatan keahlian SDM dan insentif petugas meruapakan alternatif yang anggaran biayanya tidak terlalu mahal, bisa dilaksananakan segera mungkin, dan yang memungkinkan upaya peningkatan PAD Kabupaten Lampung Barat menjadi efektif, namun terlihat kurang mudah dan kurang berpotensi untuk dilaksanakan.

(35)

Bertentangan dengan ekspetasi awal adalah alternatif pengembangan sektor unggulan menjadi alternatif yang paling terakhir dipilih untuk meningkatkan penerimaan PAD Kabupaten Lampung Barat. Namun analisis untuk alternatif ini sejalan dengan analisis peda kriteria anggaran biaya dan kemudahan yang menyakatan bahwa pengembangan sektor unggulan memerlukan biaya yang besar dan sulit untuk dilaksanakan segera. Penilaian berdasarkan kriteria ini memperlihatkan bahwa pengembangan sektor unggulan sulit dilaksanakan. Padahal dengan mengkaji lebih seksama penerimaan PAD dari tahun ke tahun, terlihat bahwa adanya sumber-sumber PAD yang sudah berkontribusi signifikan pada PAD dan masih bisa untuk dikembangkan ke depannya, seperti dari pajak restoran dan retribusi pemungkutan kayu dan non kayu.

5.5. Sintesis Penilaian Strategi Peningkatan PAD Kabupaten Lampung Barat

Sintesis penilaian strategi peningkatan PAD di Kabupaten Lampung Barat merupakan penjumlahan bobot yang diperoleh di setiap pilihan pada masing-masing kriteria setelah diberi bobot prioritas pada kriteria. Hasil dari sintesis penilaian telah dilakukan pada pemilihan strategi peningkatan PAD di Kabupaten Lampung Barat dapat dilihat pada Tabel 27.

Tabel 27. Sintesis Penilaian Strategi Peningkatan PAD

Priorita

s Strategi Peningkatan PAD Nilai AHP

1 Perbaikan sistem informasi dan administrasi

pelaporan 0,344

2 Peningkatan keahlian SDM dan insentif petugas 0,232 3 Pemberdayaan BUMD dan bagi hasil

sumberdaya alam 0,212

4 Pembangunan infrastruktur 0,115

(36)

Kelima strategi di atas dikembangkan menjadi program pemerintah daerah dalam meningkatkan PAD. Berdasarkan sintesa hasil penelitian tersebut prioritas strategi peningkatan PAD Kabupaten Lampung Barat adalah perbaikan sistem informasi dan administrasi pelaporan (nilai 0,344), peningkatan keahlian SDM dan insentif petugas (nilai 0,232), pemberdayaan BUMD dan bagi hasil sumberdaya alam (0,212), pembangunan infrastruktur (0,115) dan terakhir pengembangan sektor unggulan (nilai 0,097). Lebih jelasnya dapat dilihat pada Gambar 3.

0,344 0,232 0,212 0,115 0,097 0 0,05 0,1 0,15 0,2 0,25 0,3 0,35 0,4 P er b ai k a n S IM & AD M P e ni ng k a ta n k e ah lian S D M P e mbe rda y a an BU M D P em b an gu na n Inf ras tr uk tu r P en ge m ba ng an se kt o r un gg ul an Strategi Pr io ri ta s

Gambar 3. Prioritas Ranking dari Strategi Peningkatan PAD di Kabupaten Lampung Barat

Secara umum hierarki pemilihian strategi peningkatan PAD di Kabupaten Lampung Barat dapat dilihat pada Gambar 4.

Gambar

Tabel 14.  Jumlah  Lulusan  TK,  SD,  SLTP,  dan  SLTA  Negeri/Swasta  di           Kabupaten Lampung Barat
Tabel 15. Pertumbuhan Ekonomi dan Kontribusi Sektor terhadap PDRB  Kabupaten Lampung Barat Tahun 2005 – 2006
Tabel 16.  Produk  Domestik  Bruto  Kabupaten Lampung Barat Menurut  Lapangan Usaha atas Dasar Harga Berlaku dan Harga Konstan  tahun 2006
Tabel 17. Persentase Kontribusi Sumber-sumber PAD terhadap Total PAD   Tahun 2001-2007
+7

Referensi

Dokumen terkait

Sehubungan dengan Penetapan Daftar Pendek Pekerjaan Pengawasan Pembangunan Kantor Lurah Tanjung Palas Hilir Nomor : 07/PPBJ-PWS CK 2/III/2015 tanggal 10 Maret 2015, dengan ini

This particular infection is caused by certain ˆdermatophytes˜ --- a parasitic fungi affecting a person’s skin, hair, and nails.. There are three classifications of

Many nutritionists recommend that individuals each fish at least once a week, but emphasis must be placed on the importance of avoiding fish that contain certain harmful

4) mampu menerapkan ilmu pengetahuan dan keterampilan yang dimilikinya sesuai dengan bidang keahliannya dalam kegiatan produktif dan pelayanan kepada masyarakat dengan sikap

[r]

JABATAN PENJAGA TAHANAN FORMASI UMUM PRIA. KANTOR WILAYAH KEMENTERIAN HUKUM DAN

Walaupun penghapusan subsidi listrik akan menjadi pemicu kenaikan inflasi, diperkirakan angka inflasi tahun ini masih tetap berada di kisaran target Bank Indonesia 4%

[r]