DINAMO STARTER, AKI, ALTERNATOR, REGULATOR
Bila mobil/motor Anda tak bisa distarter, atau daya sinar lampu redup, sering sekali aki/accu
yang disalahkan. Padahal belum tentu asal usul penyebabnya adalah aki. Fungsi utama aki
dalam mobil/motor adalah sebagai penyalur daya untuk menghidupkan mesin, dan juga sebagai
penyedia tenaga cadangan bagi keperluan mesin dan aksesoris kelistrikan dalam mobil (seperti
AC, pelacak GPS, audio system) yang tidak dapat dipenuhi oleh alternator (dinamo
ampere/pengisian/cas) mobil/motor.
Bisa saja memang akinya yang sudah melebihi batas umur penggunaannya, ataupun memang
akinya yang sudah rusak/soak dan mengakibatkan mesin tidak bisa distarter/dihidupkan. Tapi
ada begitu banyak komponen kelistrikan yang terangkai dan bekerja sama dengan aki pada
kendaraan, dan mungkin salah satu dari komponen tersebut yang menjadi akar permasalahan
atau penyebab soak atau rusaknya aki/accu mobil/motor. Beberapa di antaranya adalah:
1. Alternator/Dinamo Cas
Ada dua fungsi utama alternator: sebagai penyedia sumber listrik untuk menjalankan
aksesoris kelistrikan pada mobil/motor (lampu, AC, audio system, TV, pelacak GPS, dsb)
dan sebagai pengisi ulang daya kembali ke aki, dengan kata lain, sebagai charger aki.
Nilai tegangan yang dihasilkan oleh alternator yang bagus dan normal adalah pada
kisaran 13.4V – 14.8V. Bila alternatornya lemah, atau ada masalah, maka aki sebagai
penyedia tenaga listrik cadangan yang harus bekerja ekstra keras untuk menyuplai
tenaga menjalankan lampu, AC, radio, dsb. sampai aki tsb tekor/tidak mampu
menyediakan tenaga listrik lagi.
2. Regulator/Kiprok
Fungsi regulator adalah mengatur dan membatasi aliran listrik yang masuk dari
alternator ke aki. Pada kebanyakan mobil, regulator sudah menjadi bagian dari alternator.
Pada motor, letaknya dekat di aki, dan dinamakan kiprok.Regulator yang baik akan
mampu membatasi aliran listrik yang masuk ke aki pada batas atas 14.8V. Bila regulator
rusak, tegangan yang masuk ke aki bisa di atas 15V, dan ini akan
menimbulkan overcharging/overcas pada aki. Bilaovercharging terjadi, maka suhu aki
akan naik, air dalam aki bisa mendidih dan menguap hingga sel di dalam aki menjadi
kering. Bila aki sudah kering, sering sekali terjadi short-circuit/arus pendek pada internal
aki, yang mengakibatkan aki rusak.
3. Dinamo Starter
Dinamo starter bertugas untuk menghidupkan dan menjalankan perputaran roda
gila/roda angin pada mesin untuk pertama kalinya. Untuk keperluan ini, dinamo starter
menarik arus dari aki. Dinamo yang bermasalah akan menarik arus yang terlalu tinggi
dbanding normal untuk menjalankan tugasnya, sehingga aki perlu bekerja keras untuk
memenuhi permintaan dinamor starter. Ini bisa menyebabkan kerusakan internal pada
aki. Bila keadaan ini terus berlangsung, aki akan cepat tekor dan rusak.
4. Tali kipas / V-belt / Timing-belt
Tali-tali penghubung/penarik alternator yang sudah aus bisa menyebabkan perputaran
dinamo dalam alternator kurang maksimal, sehingga aliran listrik yang dihasilkan oleh
alternator tidak memenuhi kebutuhan mesin dan aki.
5. Kabel-kabel penghubung
Kabel-kabel listrik penghubung aki ke alternator, aki ke aksesoris tambahan yang sudah
aus, berkarat, korosi, longgar, atau terkontaminasi bisa menyebabkan aliran listrik yang
tidak maksimal. Selain itu, kabel yang terkelupas dan menyentuh bagian logam dari
mobil bisa menyebabkan grounding-out, di mana tenaga aki mengalir ke luar tanpa
disadari hingga aki tekor.
6. Sekring
Sekring yang putus/rusak akan memutuskan rangkaian kelistrikan dalam mesin, dan
secara otomatis dinamo starter atau aki takkan bekerja.
7. Perilaku penggunaan kendaraan
Aki mobil/motor dirancang untuk penggunaan SLI (Starting Light Ignition). Ini berarti
voltase/tegangan aki mobil/motor harus selalu dalam keadaan tinggi. Bila kendaraan
hanya digunakan sekali seminggu, atau hanya untuk jarak tempuh dekat dari rumah ke
supermarket terdekat dengan AC menyala penuh, maka hal ini hanya akan menyebabkan
pengecasan/pengisian aki yang tidak optimal. Aki baru bisa dicas secara optimal bila
perputaran mesin dan alternator sudah optimal, cukup lama, dan sebanding dengan daya
yang telah dikeluarkan oleh aki untuk menjalankan fungsi kelistrikan.
Perlu diingat bahwa aki mobil/motor dirancang untuk keperluan SLI (Starting Light Ignition), dan
bukan untuk deep-cycle. Bila daya listrik aki mobil/motor dikuras terus hingga 50% atau lebih
dari kapasitas totalnya, aki akan cepat rusak. Untuk mencegah hal tersebut, maka pengisian
kembali/pengecasan/recharge aki secara optimal adalah hal yang paling penting untuk merawat
dan mendukung umur aki/accu Anda.
Ketika Dinamo Bermasalah
Share |Minggu, 10 Oktober 2010 13:10 WIB
Duo dinamo ini memiliki peran yang bertolak belakang di dalam mesin. Bila alternator (dinamo ampere) menghasilkan listrik dari putaran mesin, dinamo starter berfungsi sebaliknya, yakni menggunakan listrik untuk memutar mesin di saat start.
Terbayang bukan bila salah satu komponen ini tidak bekerja? Kinerja mesin akan terganggu dan dapat menyebabkan kerusakan komponen yang lain. Sebab secanggih apapun teknologi sebuah mobil, sesungguhnya sistem ini tak pernah lepas dari sistem kelistrikan. Bahkan di era mesin modern yang sangat padat akan berbagai perangkat elektronis, kebutuhan akan arus listrik ini justru semakin bertambah.
Alternator
Ada tiga komponen utama yang dibutuhkan dalam sistem pembangkit listrik di mesin mobil: aki, alternator (dinamo ampere) dan regulator. Fungsi aki adalah penyuplai arus bagi semua komponen yang membutuhkan listrik di mobil. Alternator berfungsi sebagai pengisi setrum ke aki (recharge) ketika mesin sedang bekerja. Sedangkan regulator adalah ‘pihak’ yang memberi batasan agar arus listrik yang disuplai alternator ke aki tidak melewati batas (overcharge).
Tidak sedikit pemilik mobil yang tersesat pada pemahaman bahwa jika sebuah mobil bermasalah pada kelistrikannya maka saat itu juga cara yang ditempuh adalah mengganti aki dengan yang baru. Artinya, kesalahan di sistem kelistrikan sepenuhnya ditimpakan pada aki. Pendapat ini bisa saja benar, namun bisa juga salah.
Cara mendeteksi alternator yang bermasalah sebenarnya tidak sulit, kalau tidak mau dibilang mudah. Pertama melalui indikator di panel instrumen. “Jika simbol bergambar aki menyala, itu artinya ada yang tidak beres dengan alternator,†ujar Supardi, pemilik Angkasa Teknik, bengkel spesialis alternator dan dinamo starter di bilangan Kebon Jeruk, Jakarta Barat.
Bukalah kap mesin dan tempelkan kunci pas atau obeng di depan puli alternator ketika mesin hidup. Jika timbul medan magnet yang ditandai dengan tertariknya obeng ke puli maka alternator masih bekerja baik dan menghasilkan arus listrik.
Cara lainnya adalah dengan menggunakan voltmeter. Idealnya, tegangan yang dihasilkan alternator berada di rentang 13,8 volt sampai 14,8 volt. Jika angka yang tercatat berada di bawah batas minimal (13,8 V) maka itu berarti kinerja alternator sudah tak lagi optimal dan dapat menyebabkan kerusakan aki. Kondisi ini sering disebut dengan tekor. Dimana kebutuhan kelistrikan tidak mampu dipenuhi oleh alternator.
Dinamo starter
Esensi utama motor starter adalah sebagai unit yang memutar gigi flywheel untuk menghidupkan mesin. Terdapat cara awam untuk menandakan masalah yang timbul akibat ngadatnya motor starter.
Di antaranya adalah dengan merunut rangkaian komponen kelistrikan. Jika listrik yang dihasilkan alternator terpantau baik dan air aki belum menghitam - artinya aki masih fit - maka masalah datang dari motor starter. …
Indikasi awamnya adalah muncul bunyi “tek…tek…†dari arah mesin ketika kunci kontak sudah pada posisi On. Itu karena pelat starter sudah tidak bagus lagi, sehingga kurang baik mengantarkan listrik yang dibutuhkan. Sedangkan jika yang terdengar adalah “zingg…zingg…†atau seperti suara putaran yang tanpa hambatan, maka gigi di dalam motor starter atau sering disebut ‘gigi bendix’ perlu diperbaiki.
Gigi motor starter itu sudah tak lagi bersentuhan dengan gigi flywheel, sehingga motor tak mampu memutarnya. Jika ini yang terjadi, jalan satu-satunya adalah dengan menservis untuk mengembalikan stamina seperti sedia kala.
Berapa biaya servis?
Di Angkasa Teknik, biaya untuk menservis alternator adalah Rp 50.000. Itu baru jasa servis untuk membongkar dan membersihkan. Jika ada suku cadang yang sudah apkir, yang paling sering adalah mengganti bearing. Setiap alternator umumnya membutuhkan 2 buah bearing. Dengan harga Rp 75-90 ribu per buah.
sedangkan bila yang bermasalah adalah arangnya, maka siapkan dana ekstra sebesar Rp 60 ribu untuk mengganti arang dengan yang baru.
Disarankan interval pemeriksaan kedua alat tersebut dilakukan setiap 10 bulan sekali.
Jangan menggulung ulang dinamo
Supardi menjelaskan metode menggulung ulang dinamo menggunakan tangan manusia sebaiknya dihindari. Karena tekanan dan susunan kawat tembaga dalam membangun kumparan tidak akan pernah sebaik jika dikerjakan oleh mesin.
Alternator yang diganti
Bagi mereka yang menggemari modifikasi mobil, terutama sistem audionya, maka langkah antisipasi untuk mengatasi kekurangan listrik yaitu dengan cara mengganti aki.
Padahal yang seharusnya diganti adalah alternator dengan yang berdaya lebih besar. Misal jika sebelumnya berkapasitas 50 A, maka tukarlah dengan yang alternator 70 A. Karena aki hanya menampung listrik, sedang yang menghasilkan listrik adalah alternatornya.
Fungsi Alternator Dan Kaitannya Dengan Aki
Alternator merupakan sistem pengisian pada kendaraan yang mempunyai 3 rangkaian komponen penting yaitu Aki, Alternator dan Regulator. Alternator sendiri terdiri dari komponen-komponen seperti gabungan kutub magnet yang dinamakan rotor, yang didalamnya terdapat kumparan kawat magnet yang dinamakan stator.
Alternator mulai berkerja untuk menghasilkan listrik atau pembangkit listrik ketika mesin dihidupkan untuk disalurkan ke aki dengan mengkonversi atau mengubah tegangan AC menjadi tegangan DC. Sedangkan regulator punya fungsi sebagai alat pengatur dan pembatas voltase yang terdiri dari sebuah rangkaian dioda yang dinamakan rectifier serta dua kipas dalam (internal Fan) untuk menghasilkan sirkulasi udara.
Model Alternator
Pada setiap jenis mobil itu berbeda-beda, tapi kebanyakan alternator mempunyai regulator yang berada pula didalamnya, tapi untuk tipe yang lama mempunyai regulator diluar. Tidak seperti model yang lama, tipe yang punya IC bulit in ini dapat dengan mudah diperbaiki dengan membuka tutup bagian atasnya.
Tipe yang lainnya adalah model pulley alternator yang diikat atau dikencangkan ke bagian sumbu rotor. Tipe ini tidak mempunyai kipas luar yang menjadi bagian dari pulley nya namun sudah mempunyai 2 kipas dalam untuk sirkulasi udara pendingin, tidak seperti jenis alternator lama yang menggunakan kipas luar untuk pendinginan.
Hubungan antara Aki dengan Alternator
Kelistrikan yang dihasilkan oleh alternator sangat beragam, mulai dari yang paling kecil yang mempunyai daya 35 A hingga yang terbesar yang beredar dipasaran yaitu 220 A. Karena berfungsi sebagai pembangkit daya listrik ke aki, apabila ada
penambahan perangkat atau
aksesoris mobil yang membutuhkan beban listrik yang besar atau banyak, cukup dengan mengganti alternatornya bukan aki. Karena bila memperbesar daya listrik di aki tapi penyaluran tenaganya lebih kecil, maka aki akan tetap tekor.
Perawatan Alternator
Dalam hal ini tak ada hal khusus dalam perawatan, tapi apabila ada kerusakan dapat dideteksi secara dini melalui konsol dashboard yang terdapat gambar aki, apabila berkedip-kedip berarti tidak ada pengisian ke aki dan bisa jadi terdapat kerusakan pada alternator selain dari aki-nya.
Aki sendiri berhubungan langsung dengan dinamo starter . jangan menambah beban listrik yang berlebihan pada kendaraan, sebab dapat memperpendek umur dari alternator ataupun umur dari aki mobil. Karena terdiri dari bermacam-macam komponen, jadi apabila ada kerusakan pada salah satu komponennya masih bisa diperbaiki .
Ketika Ngadat
e
Minggu kemarin mau berangkat takziyah di luar kota sempat tertunda gara-gara kendaraan ngadat. Gejala awalnya
seperti aki drop, ketika kendaraan distarter sama sekali tidak ada respon. Mencoba beberapa kali starter sampai hanya
bersuara ngeekkk .... ngeekkkkk semakin melemah kemudian berbunyi thek ...thek..., selanjutnya benar-benar tidak
bersuara. Karena diburu waktu, akhirnya menggunakan tenaga manol alias pakai daya dorong rame-rame. Benar,
dengan setelah didorong dengan memasukkan transmisi gigi 3, akhirnya kendaraan bisa nyala seolah-olah tidak ada
masalah. Teknik stater pakai tenaga manol ini berlangsung juga ketika kita hendak pulang dari takziyah. Sepanjang jalan
tidak berani berhenti sembarangan, karena untuk menyalakan membutuhkan tenaga beberapa orang untuk mendorong
kendaraan.
Awalnya terpikir bahwa tersangka utamanya adalah aki. Padahal aki masih dipakai berumur 1 tahun dan permukaan
liquid di dalamnya selalu terkontrol tidak pernah kekurangan. Akhirnya dicarikan aki lain dan mencoba di pancing.
Hasilnya tetap tidak ada respon dari kendaraan, benar-benar mati. Bahkan kabel penghubung menjadi leleh. Wah ini pasti
ada konsleting kabel, segera kabel pancing dicabut. Ternyata tidak hanya kabel yang menjadi panas, aki dan dinamo
starter juga panas.
Ujung-ujungnya, memanggil teknisi mesin langganan. Setelah diperiksa, ternyata yang bermasalah adalah dinamo
starter. Setelah di bongkar ternyata ada bagian yang aus dan perlu diganti. Setelah dilakukan penggantian, ternyata
dinamo starter bisa digunakan lagi dan setiap melakukan starter langsung tokcer.
Seperti biasa, aku mengorek keterangan dari Teknisi untuk menambah ilmu, kenapa dan apa saja yang menyebabkan
kendaraan rewel dan sulit di starter. Beliau menceritakan bahwa ada beberapa yang perlu dicurigai ketika kendaraan
tidak bisa di starter, antara lain: aki, sikring, kabel kelistrikan, dinamo starter
Sedangkan apabila kerusakan bukan karena faktor di atas, berarti bagian mesin yang bermasalah. Ciri-cirinya adalah,
sistem kelistrikan masih sangat baik, artinya suara starter masih normal, indikator lampu elektrik normal tapi mesin tidak
bisa hidup bahkan ketika di kendaraan dorong dengan tenaga manol, mesin tetap mati. berarti faktor penyebab
kendaraan adalah mesinnya. dengan syarat cek dulu bahan bakarnya. jangan-jangan bensin atau solarnya memang
sudah habis. Menurut teknisi, kalau menyangkut mesin biasanya yang berasalah adalah Platina, karburator, CDI, busi,
kabel busi, koil atau bisa juga pompa bensin yang macet.
Penanganan Masalah Kelistrikan
Pertama-tama cek aki terlebih dahulu, lihat kepala aki tempat sambungan dengan kabel. Apabila kotor berupa bubuk
putih, segera bersihkan. lepaskan dahulu kabel terminal kemudian gosok sampai bersih. ciri-ciri kondisi ini adalah,
indikator kelistrikan di dasboard aki dan oli tidak menyala
periksa kabel terminal penghubung aki dengan kelistrikan mobil, apakah ada yang putus atau bahkan hangus, tentu
tinggal menyambung atau mengganti yang baru. Ciri-cirinya sama dengan di atas indikator aki dan oli tidak menyala Jika
indikator aki dan oli meredup, berarti setrum kurang. Yang perlu diperiksa juga adalah sikring, kalau putus tentu saja
starter tidak bisa hidup. sikring perlu diganti atau diakali dengan menambahkan sedikit serabut kabel yang dihubungkan
kedua ujungnya
jika setelah distarter kabel penghubung kelistrikan ada yang panas atau hangat, berarti ada konsleting, bisa juga dinamo
starter yang bermasalah Jika pada dinamo starter yang terasa panas, maka tidak perlu dilakukan starter berkali-kali.
bahkan kalau perlu dihentikan. sebab bisa menyebakan dinamo starter terbakar dan tidak bisa diperbaiki. Bushing starter
aus menyebabkan bagian angker tidak bisa berputar pada sumbunya, sehingga memberatkan kerja dinamo. Hal ini yang
bisa menyebabkan panas bahkan bisa menyebabkan kerusakan dinamo. Umumnya bagian dinamo starter yang
bermasalah adalah switch starter dan arang starter aus. Keduanya masih bisa diperbaiki oleh ahli dinamo
Mudah-mudahan tips dari Teknisi di atas bisa bermanfaat bagi kita semua, siapa tahu di tengah jalan kendaraan kita
mogok, jadi kita bisa melakukan PPPKM (Pertolongan Pertama Pada Kendaraan Mogok)
Remove & Install Electric System Big Digger, Dump Truck, Excavator,
Motor Grader, Buldozer
I. STRUCTURE & FUNCTION 1. Battery
Battery pada bagian dalamnya terdiri dari Plat positif terbuat dari material PbO2 ( Lead Peroxide ) dan Plat negatif yang terbuat dari material Pb ( spongy lead ), pada saat elektrolit H2SO4 diisikan kedalam battery, maka akan terjadi reaksi kimia :
PbO2 + 2 H2SO4 + Pb -> PbSO4 + 2 H2O + PbSO4. yang menghasilkan arus listrik.
Pada bagian luar battery terdapat 2 buah terminal yaitu + (positif) dan – (negatif) yang dihubungkan dengan system kelistrikan unit sebagai sumber tenaganya, karena battery mampu mengubah reaksi (energi) kimia menjadi energi listrik.
2. Wiring harness
Rangkaian kabel yang digunakan untuk menghubungkan komponen dalam system electric, yang meliputi : starting system, charging system, monitor panel & control system, lighting system dsb, sehingga arus listrik dari battery dapat mengalir dan system dapat bekerja sesuai fungsi masing masing. Diameter kabel yang digunakan sesuai dengan besar arus yang mengalir, sedangkan untuk
3. Starting switch
Suatu komponen elektrik berupa switch dan digerakkan secara manual dengan cara memutar kuncinya, untuk memposisikan ON, Start, Preheat atau OFF dengan cara menghubungkan terminal didalamnya, B, BR, C, R1, R2, ACC sesuai posisi switchnya. Pada dasarnya starting switch berfungsi untuk mengalirkan arus listrik penggerak relay utama (battery relay, safety relay), sehingga tegangan dari battery dapat mengalir ke system kelistrikan unit sesuai posisi Starting Switch.
4. Battery relay
Suatu komponen elektrik berupa relay yang mempunyai main coil untuk menimbulkan medan magnet, pada saat starting switch diposisikan ON. Medan magnet tersebut digunakan untuk menarik kontaktor dan menghubungkan salah satu terminal battery (+ atau –) dengan starting motor atau chasis (tergantung type battery relaynya). Sehingga pada dasarnya battery relay berfungsi untuk
menghubungkan atau memutuskan battery (sumber tenaga listrik) dengan sistem kelistrikan pada unit. 5. Safety relay
Suatu komponen electric (built-in type) yang mempunyai 5 terminal : B, C, S, A dan E. Safety relay didalam system dipasang (optional untuk non komatsu) diantara starting switch dan starting motor. Saat starting switch diposisikan start, akan menghubungkan terminal B battery dan terminal C starting motor, jika engine sudah hidup dan alternator bekerja, maka secara otomatis memutus hubungan terminal B dan C, akibatnya meskipun starting switch tetap di posisikan START, starting motor tidak bisa bekerja.
6. Alternator
Suatu komponen elektrik yang mempunyai 3 terminal : B, R, E, dan dipasang pada bagian front cover engine dan dihubungkan drive pulley dengan menggunakan V belt, sehingga saat engine hidup, alternator langsung ikut berputar. Putaran atau tenaga mekanis tersebut akan dirubah menjadi tenaga listrik untuk mengisi tegangan (charging) battery, Arus yang dihasilkan adalah Arus DC (direct current), sehingga tegangan battery dapat selalu dipertahankan saat unit operasi.
7. Starting motor
Suatu komponen elektrik yang dipasang pada flywheel engine, terdiri dari solenoid (magnetic switch) dan motor yang mempunyai 3 terminal B, C dan M. Starting motor berfungsi merubah tenaga listrik menjadi tenaga mekanis (putar) untuk memutar flywheel dan menghidupkan engine.
8. Fusible link
Sebuah fuse dengan kapasitas Arus yang besar (30 – 100A) dan dalam sirkuit dipasang diantara terminal B(+) output battery relay dengan fuse box, dan berfungsi sebagai pengaman battery agar tidak meledak jika terjadi short circuit pada sistem secara menyeluruh karena suatu kasus yang luar biasa terjadi, misalnya terjadi misconnection ataupun harness terjepit frame.
9. Monitor panel (PC1100)
Monitor panel dipasang dalam cabin dan bekerja berdasarkan input signal dari berbagai sensor dan switch yang terpasang pada system unit. Monitor panel meliputi fungsi monitor display, switch mode selector dan electric component didalamnya. Juga mempunyai CPU (Central Processing Unit) built in, yang memproses, menampilkan semua informasi pada Display monitor panel dengan
menggunakan liquid crystal display (LCD). Disamping itu jika terjadi keabnormalan pada unit, akan memberikan tanda bahaya atau alarm. Mode switch bertipe switch datar berlapis (flat sheet switch).
10. Controller (engine, hydraulic)
Suatu komponen electrik yang bekerja berdasarkan input sinyal dari berbagai macam sensor dan switch yang terpasang pada engine ataupun komponen sistem lainnya, sedangkan output sinyalnya (command current) akan dikirimkan ke solenoid valve untuk mengatur fuel system engine. Pada dasarnya engine controller mengatur jumlah fuel yang akan diinjeksikan (Quantity fuel injection) dan ketepatan waktu penyemprotan (Timing Injection).
11. Solenoid valve
Suatu komponen electrik yang merupakan actutor dan akan bekerja saat arus listrik mengalir ke coil didalam solenoid valve, sehingga akan timbul medan magnet yang digunakan untuk menggerakkan push pin atau plunger (tergantung konstruksinya). Pada solenoid type plunger, biasanya juga berfungsi sebagai switch valve (pengarah aliran), yang bekerja untuk menghubungkan atau memutuskan aliran dari port input ke port outputnya.
12. Speed sensor
Suatu sensor yang biasanya dipasang pada housing flywheel atau transmisi dan terdapat dua buah kabel sebagai outputnya. Didalam speed sensor terdapat satu magnet tetap, sehingga ketika ujung teeth gear melintas didepannya, akan memotong medan magnet, akibatnya timbul garis gaya listrik yang akan dialirkan melalui kedua kabel outputnya. Arus yang mengalir adalah Alternating Current (AC), dan frekwensinya akan bervariasi sesuai dengan kecepatan lintas teeth gear (putaran shaft).
13. Prolix switch (PC1100)
Terdapat dua buah Prolix switch : Swing prolix switch dan TVC prolix switch yang digunakan saat kondisi emergency dengan memposisikan ON (prolix) kedua switch saat terjadi kerusakan pada pump controller , sehingga swing brake akan selalu release dan unit dapat digerakkan swing, sedangkan TVC solenoid akan mendapat mendapat arus yang konstan, yang besarnya sebanding dengan pada saat working mode posisi G, sehingga TVC valve mengatur torque pump absorption berdasarkan Torque Constant Control.
14. Pressure switch
Suatu komponen electrik yang dipasang pada jalur output PPC valve, sehingga saat PPC valve digerakkan dan pressure oli ( + 4 kg/cm2) bekerja pada switch, pressure switch menjadi ON dan mengirimkan input sinyal menuju Pump Controller, yang selanjutnya akan mengatur kerja sistem.
15. Fuel control dial
Suatu komponen electrik yang pada dasarnya berupa variable potentiometer, sehingga saat dial diputar, nilai resistance akan berubah sesuai dengan sudut putarnya, dan dikirimkan ke engine controller sebagai throttle input signal, sehingga controller akan mengirimkan output signal ke governor solenoid (FIP, Fuel rail actuator (HPI) untuk mengatur putaran engine sesuai dengan putaran fuel control dial dan besar beban yang terjadi. Saat posisi Low Idle, nilai resistance fuel control dial adalah besar, sedangkan saat High idle, nilai resistance adalah kecil. Untuk PC & DZ, sedangkan pada HD785-5 dan WA600-3, nilai resistance kebalikannya.
16. Pressure switch
Suatu komponen electrik yang bekerja berdasarkan pressure angin ataupun pressure oli, sehingga kontaktor akan menghubungkan atau memutus hubungan kedua pin terminalnya (tergantung konstruksinya), saat pressure menekan diaphramnya, maka input sinyal akan dikirimkan ke controller ataupun monitor panel, agar kerja sistem dapat dimonitor dan diatur.
17. Fuse
Suatu komponen electrik yang mempunyai kapasitas alir kuat arus tertentu (5-30A) dan dalam sirkuit dipasang diantara fusible link dan sistem. Fuse akan putus saat arus yang melewatinya melebihi kapasitasnya, saat terjadi short circuit ataupun Overload sehingga
berfungsi sebagai pengaman sistem. 18. Level sensor
Terdapat beberapa tipe level sensor yang digunakan dalam sistem monitoring unit, antara lain level sensor resistance type yang antara lain digunakan pada Fuel gauge, dan level sensor switch type yang antara lain digunakan pada radiator collant level atau engine oil level.
19. Governor motor (PC 750)
Motor electric type step motor yang digunakan untuk menggerakkan linkage throttle FIP, sesuai arus perintah (command current ) dari Engine controller, sehingga putaran engine dapat diposisikan mati, low dan high idle ataupun menyesuaikan putaran dengan beban yang terjadi.
Note :
Untuk detail cara kerja komponen, lihat shop manual atau basic training II. TECHNICAL TERMINOLOGI
1. Parallel circuit
Paralel circuit battery adalah suatu rangkaian yang digunakan untuk menggabungkan beberapa battery pada terminal yang sama menjadi satu sumber tegangan, sehingga total arus menjadi besar (penjumlahan kuat arus [I] ) tanpa terjadi kenaikan tegangan [V]. Paralel circuit resistor adalah suatu rangkaian dengan titik percabangan yang dibagi menjadi beberapa jalur resistor, sehingga kuat arus total [Itotal] yang mengalir menjadi besar (penjumlahan arus [I] yang mengalir pada masing masing resistor [R] ) pada tegangan [V] yang tetap.
2. Series circuit
Series circuit battery adalah suatu rangkaian yang digunakan untuk mengabungkan beberapa battery pada terminal yang berlawanan menjadi satu sumber tegangan, sehingga total tegangan [Vtotal] menjadi lebih besar (penjumlahan tegangan [V] ) tanpa terjadi kenaikan arus [I].
Series circuit resistor adalah suatu rangkaian beberapa resistor [R] secara berurutan, karena total resistance [Rtotal] menjadi lebih besar (penjumlahan nilai resistor [R], sehingga kuat arus [I] yang mengalir menjadi lebih kecil, pada tegangan [V] yang tetap. 3. Grounding
Menghubungkan terminal negatif (-) battery dengan chasis atau body, pada sistem kelistrikan unit, sehingga untuk mengalirkan arus listrik (setelah melalui lampu, solenoid valve, relay, sensor dsb) hanya tinggal menghubungkan ke chasis, karena semua body unit sudah menjadi terminal negatif.
4. Continuity
Suatu rangkaian terhubung yang bisa mengalirkan arus listrik, pada kondisi terhubung maka nilai resistancenya max. 1 5. Alternating current (AC)
Alternating current (Arus bolak – balik) adalah arus yang mengalir dalam arah yang berubah - ubah. Dimana masing - masing terminal polaritasnya selalu berubah - ubah. Pada selang waktu tertentu menjadi positif dan bisa berubah lagi menjadi negatif. Contoh sumber arus yang menghasilkan arus bolak–balik adalah alternator (AC generator), PLN dan lain - lain.
6. Direct current (DC)
Direct current (Arus searah) adalah arus yang mengalir dengan arah yang tetap (konstan), dimana masing - masing terminal selalu tetap polaritasnya. Misalkan sebagai kutub (+) selalu menghasilkan polaritas positif dan pada kutub (-) akan selalu menghasilkan polaritas negatif.
7. Normally open circuit
).Suatu rangkaian listrik yang menggunakan switch (manual, pressure, level, electromagnetic coil / relay) dan pada kondisi normal atau tidak bekerja, kontaktor akan terbuka sehingga kedua terminalnya tidak saling berhubungan (min. 1M
8. Normally closed circuit
).Suatu rangkaian listrik yang menggunakan switch (manual, pressure, level, electromagnetic /coil) dan pada kondisi normal atau tidak bekerja, kontaktor akan tertutup sehingga kedua terminalnya saling berhubungan (max. 1
9. Overcharge
Suatu kondisi dimana besarnya tegangan pengisian (charging voltage [V]) melebihi dari standart, hal ini dapat disebabkan kerusakan pada alternator.
10. User code (Komatsu product)
Saat terjadi keabnormalan pada control system unit dan terdeteksi oleh controller, maka controller akan menampilkan User code pada monitor panel untuk memberitahukan kepada operator jika terjadi keabnormalan pada unitnya. Untuk HD series dan Buldozer, user code menunjukkan hal yang harus dilakukan operator saat terjadi keabnormalan, sedangkan pada PC series, user code menunjukkan telah terjadi kerusakan pada suatu System.
11. Service code (Komatsu product)
Setelah user code ditampilkan, maka untuk mengetahui detail kerusakan system, mekanik dapat masuk ke menu Service code, sehingga mengetahui detail kerusakan dan dapat melakukan langkah troubleshooting dan repair dengan tepat.
12. Disconnection (open circuit, loss contact)
Suatu kondisi dimana arus tidak dapat mengalir karena terlepasnya sambungan connector antara male dan femalenya, terutama karena goncangan atau clamping harness tidak kuat, atau lock connector sudah rusak, sehingga terjadi keabnormalan pada system unit.
13. Short circuit
Jenis kerusakan pada system kelistrikan unit, dikarenakan adanya hubungan singkat antara arus positif dengan chasis, sehingga terjadi over capacity pada fuse dan fuse menjadi putus, hal ini dapat disebabkan adanya kabel yang terkelupas karena gesekan atau terjadi penyimpangan langkah repair : mengelupas kabel atau menyambung tanpa isolator yang baik.
14. Neutral safety function
Suatu system yang dipasang pada starting system, yang berfungsi untuk mencegah engine dapat distart pada saat lever transmission tidak pada posisi netral (HD, GD, WA, D155), sedangkan pada D375, netral safetynya dipasang pada safety lock lever.
III. TOOL
Alat yang digunakan untuk mengukur tegangan [V], arus [I], dan hambatan [R] pada system kelistrikan. Pada jenis yang lebih canggih, juga dilengkapi untuk mengukur Frequency (Hz).
2. Hydrotester
Alat yang digunakan untuk mengetahui berat jenis suatu liquid, biasanya untuk elektrolit battery. 3. Refractometer
Alat yang digunakan untuk mengetahui berat jenis suatu liquid, biasanya untuk elektrolit battery tetapi teknologinya lebih canggih. 4. Harness checker
Alat yang digunakan untuk mempermudah pengukuran tegangan [V] dan hambatan [R] pada wiring harness unit. Pada prinsipnya, alat ini hanya menghubungkan kabel secara paralel sesuai jumlah pin connectornya dan menghubungkannya dengan adapter . Pada T-adapter terdapat sejumlah lubang test pin dengan nomor urut yang mewakili nomor urut pin pada connector.
5. Contact cleaner
Suatu liquid (bahan kimia) yang digunakan untuk membersihkan pin connector dari karat dan kotoran lainnya, sehingga kontak antara pin menjadi bersih dan arus listrik dapat mengalir dengan lebih baik karena tidak ada resistance. Pemakaian contact cleaner dengan cara menyemprotkannya pada permukaan pin connector.
6. Electrical tool kits
Seperangkat tools yang khusus digunakan untuk melakukan pekerjaan repair sistem kelistrikan unit : memotong dan menyambung kabel, mengganti connector dan crimping, mengukur Tegangan, Arus, Resistance dsb, sehingga kwalitas pekerjaan sesuai standard. 7. Cable jumper (battery booster)
Sepasang kabel yang digunakan untuk menghubungkan secara paralel kedua terminal battery yang kondisinya baik (Tegangan dan kuat arus mencukupi) dengan terminal battery yang tegangannya turun, sebagai upaya untuk memperkuat kemampuan start battery. IV. INSPECTION – MEASUREMENT
Note : Item measurement harus berdasarkan standart pada shop manual atau QA 1. Monitor panel
Visual check : Pastikan semua check lamp, caution lamp ataupun warning lamp OFF, saat engine hidup, sebagai indikasi semua system monitoring bekerja normal.
Manual check : Operasikan semua switch, dan pastikan semua system bekerja normal dan tidak muncul user ataupun service code. Measurement : Ukur voltage pada Fuse untuk monitor panel, pastikan voltage normal.
2. Voltage battery
Visual check : Pastikan kondisi terminal, pole dan cable crimp bersih dan bolt tidak kendor. Tidak ada keretakan ataupun pecah pada case battery.
Pastikan electrolyte battery pada range levelnya, dan vent plug tidak buntu Measurement : Ukur voltage battery menggunakan multitester
3. Prolix switch
Visual check : Pastikan kondisi connector dan pin tidak ada yang rusak Manual check : Gerakkan bolak balik, untuk memastikan switch tidak jammed. Measurement : Ukur continuity switch dengan menggunakan Multimeter
4. Continuity
, maka kabel putus. berarti sambungan normal, tepati jika menunjuk Min.1MMeasurement : Gunakan multitester: jika resistance menunjuk max. 1
5. Relay
Visual check : Pastikan kondisi connector dan pin tidak ada yang rusak
Measurement : Ukur resistance magnetic coil dengan menggunakan Multimeter dan pastikan nilainya dalam range standart. Ukur continuity antar pin input dengan kedua pin output
6. Solenoid valve
Visual check : Pastikan kondisi connector dan pin tidak ada yang rusak, kabel tidak terkelupas Manual check : Goyangkan solenoid, dan perhatikan bunyi pergerakan plunger atau pushpin.
Measurement : Ukur resistance magnetic coil dengan menggunakan Multimeter dan pastikan nilainya dalam range standart. 7. Alternator
Visual check : Pastikan kondisi terminal tidak ada yang rusak, pulley dapat berputar ringan.
Measurement : Ukur resistance antar terminal dengan menggunakan Multimeter dan pastikan nilainya dalam range standart. 8. Starting motor
Visual check : Pastikan kondisi terminal tidak ada yang rusak,
Manual check : Putar dan gerakkan overrun clutch, untuk memastikan masih normal.
Measurement : Ukur resistance antar terminal dengan menggunakan Multimeter dan pastikan nilainya dalam range standart. 9. Battery relay
Visual check : Pastikan kondisi terminal tidak ada yang rusak
Measurement : Ukur resistance antar terminal dengan menggunakan Multimeter dan pastikan nilainya dalam range standart. 10. Speed sensor
Visual check : Pastikan kondisi connector, pin dan ulir body tidak ada yang rusak, kabel tidak terkelupas
Measurement : Ukur resistance antar terminal dengan menggunakan Multimeter dan pastikan nilainya dalam range standart. 11. Governor motor
Visual check : Pastikan kondisi connector dan pin tidak ada yang rusak, kabel tidak terkelupas
Measurement : Ukur resistance antar terminal dengan menggunakan Multimeter dan pastikan nilainya dalam range standart. Catatan, jangan menggerakkan lever saat connector masih tersambung.
12. Fuel control dial
Visual check : Pastikan kondisi connector dan pin tidak ada yang rusak, kabel tidak terkelupas
Measurement : Ukur resistance antar terminal dengan menggunakan Multimeter dan pastikan nilainya dalam range standart. 13. Diode
Visual check : Pastikan pin tidak rusak, body diode tidak menggembung
Measurement : Ukur resistance antar terminal dengan menggunakan Multimeter dan pastikan hanya pada salah satu arah arus dapat mengalir.
14. Voltage
Measurement : Ukur voltage menggunakan Multimeter (V AC atau V DC) sesuai type arusnya dan hubungkan secara paralel pin multitester dengan system yang diukur dengan sumber tenaga battery terpasang (starting switch posisi ON)
15. Resistance
sesuai besar resistance dan hubungkan paralel pin multitester dengan system yang diukur tanpa sumber tenaga battery (starting switch posisi OFF)., M, KMeasurement : Ukur resistance menggunakan Multimeter (
16. Current
Measurement : Ukur kuat arus menggunakan Multimeter (A) dan hubungkan secara serie pin multitester dengan system yang diukur dengan sumber tenaga battery terpasang (starting switch posisi ON). Pastikan arus yang mengalir tidak melibihi kapasitas multimeter. V. PART RECOMMENDATION
1. PNPB (Publication Number of Part Book)
Suatu angka yang tertera pada cover part book (pojok kanan atas) yang menunjukkan aplikasi part book tersebut sesuai dengan Serial Number dan Tipe Unit.
2. SPO (Standard Part Overhaul)
Daftar part yang dibutuhkan untuk overhaul normal sesuai umur yang direkomendasikan factory, dengan kondisi tidak terjadi kerusakan abnormal pada komponen.
APL (Application Part List) (Remove & Install)
Daftar part yang dibutuhkan untuk Remove dan Install komponen sesuai umur yang direkomendasikan factory, dengan kondisi tidak terjadi kerusakan abnormal.
3. PSN (Part & Service News)
Informasi dari factory berupa brosur atau leaflet yang berisikan modifikasi atau improvement pada komponen, system atau technical instruction (Prosedur Repair, Testing Adjusting) dengan tujuan untuk meningkatkan performance atau memperbaiki kelemahan dan kekurangan. Setiap PSN hanya berlaku untuk Serial Number tertentu yang sesuai.
4. Kode kode pada part book (symbol)
Kode dari factory berupa angka dan huruf, sedangkan symbol berupa gambar yang ditunjukkan pada part book, dengan tujuan untuk mempermudah proses pemilihan part yang akan diorder, sehingga dapat mencegah kesalahan order atau double order (karena komponen ass"y dan separated diorder secara bersamaan). Dan juga mempermudah pencarian komponen yang berkaitan atau saling berhubungan.
5. Reusable part
Part yang masih dapat digunakan lagi setelah dilakukan visual check dengan membandingkan dengan reusable book (guide), dan hasil pengukuran masih dalam range yang diijinkan sesuai maintenance standart atau Quality Assurance.
6. Quality Assurance
Prosedur dan urutan langkah kerja yang harus dilakukan saat melakukan suatu pekerjaan Overhaul atau Remove Install, dimana didalamnya terdapat Critical Point dan Item Measurement yang harus diperhatikan dan dilakukan, sehingga dapat mencegah Redo ataupun premature damage
VI. TESTING AND ADJUSTING (untuk detail lihat shop manual) 1. T/M Shift Lever Potensiometer
- lihat shop manual
2. Transmission Speed Sensor
- Kendorkan locknut, dan lepas connector
- Putar searah jarum sampai terasa ujung sensor menyentuh teeth gear. (jangan menggunakan tool) - Putar balik sensor sekitar ¾ - 1 putaran
(untuk engine speed sensor putar balik sekitar ½ - ¾ putaran. 3. Forward / Reverse Proximity Switch
- lihat shop manual
4. Engine Stop Motor Cable - lihat shop manual
5. Alternator V-belt tension - lihat shop manual 6. Charging Lamp menyala - V – Belt putus atau slip - Kabel R atau B putus, - Alternator rusak, dsb
7. Starting system tidak berfungsi - Battery low voltage
- Starting motor rusak - Kabel C putus, dsb 8. Alternator no Charge - Belt putus atau slip - Kabel R atau B putus, - Alternator rusak, dsb 9. Monitor Panel No Light - Bulb putus
- dsb putus
10. Working Lamp no Light - Fuse putus
- Lampu putus