• Tidak ada hasil yang ditemukan

Perencanaan Base Plate

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Perencanaan Base Plate"

Copied!
14
0
0

Teks penuh

(1)

BAB 8

Perencanaan Base Plate

Perencanaan dimensi baseplate melibatkan gaya vertikal, momen dan geser, oleh karena itu diperlukan perhitungan dimensi baseplate untuk menahan gaya-gayatersebut. Umumnya, ukuran baseplate dihitung berdasarkan kekuatan beton pada pondasi saat hancur karena terbebani oleh beban diatasnya. Ketebalan baseplate dihitung berdasarkan batas plastis yang disebabkan oleh bengkoknya bagian kritis pada plat tersebut. Perancangan baseplate meliputi dua langkah utama yaitu dengan menentukan ukuran panjang dan lebar baseplate dan menentukan ketebalan baseplate.

Antara kolom baja dan baseplate harus terikat menjadi satu kesatuan, oleh karena itu perlu dilakukan perencanaan sambungan yang berfungsi untuk menyatukan kolom dengan baseplate

tersebut. Alat sambung yang digunakan umumnya berupa las, karena las lebih mudah dikerjakan dan difabrikasi.

Gambar 2. 31 Macam-macam type Base Plate

Perencanaan Baseplate Dengan Metode AISC-LRFD

Perencanaan baseplate terdiri dari perhitungan baseplate akibat beban vertikal saja, perhitungan baseplate akibat beban vertikal dan momen, serta perhitungan baseplate dengan beban geser.

8.1 Baseplate Dengan Beban vertikal

Perencanaan Baseplate dengan beban vertikal diasumsikan bahwa beban vertikal adalah beban terpusat pada pelat yang selanjutnya menjadi beban terbagi rata untuk struktur di dibawahnya.

(2)

Gambar 2.32 Ukuran Pelat

Untuk menghitung dimensi berdasarkan beban vertikal dengan metode LRFD dapat dilakukan dengan mengikuti langkah-langkah sesuai prosedur berikut : 1. Mentukan beban vertikal (Pu).

2. Menentukan luasan pelat ( A1 ), didasarkan pada sifat-sifat dari pondasi yang

menahan dasar kolom baja tersebut, yaitu :

A1 = 𝑃𝑢 𝜑𝑐∗0.85 𝑓𝑐′ (mm 2 ) ……….(2.17) Dimana :

Pu = Beban vertikal (Newton) 𝜑𝑐 = Faktor resistensi beton, 0.6

fc’ = Mutu beton (MPa)

Menentukan dimensi pelat ( B dan N ), sehingga m dan n kira-kira sama.

(3)

Dilihat dari batasan kritis pada pelat itu sendiri, yaitu : N = 𝐴1+ ∆  d + 100 (mm)

Dimana : 100 mm tambahan diperlukan untuk tempat baut angker N = Panjang pelat (mm) A1 = Luasan pelat (mm2) Δ = 0.5 (0.95d – 0.8bf) (mm) B = 𝐴1 𝑁  bf + 100 (mm) Dimana : B = Lebar pelat (mm) 1. Menetukan nilai m dan n, sebagai berikut :

m = 𝑁−0.95𝑑

2 (mm) n =𝐵−0.8 𝑏𝑓

2

(mm) Dimana :

d = kedalaman sayap dari kolom (mm)

bf= lebar sayap dari kolom (mm)

1. Menentukan ketebalan pelat ( tp ) didasarkan dari besaran nilai m atau n yangdilihat pada gambar 2.32 di atas dan diambil nilai yang terbesar. Untukmenentukan ketebalan pelat yaitu: tp = (m atau n) 2.𝑃 0.9𝐹𝑦 .𝐵.𝑁

(mm) ……….(2.21) Dimana : tp = Tebal pelat (mm) Fy= Mutu baja (MPa)

(4)

2. Menentukan luas dasar beton (bantalan), yaitu:

A2 = 4 N B ………..(2.22)

8.2 Baseplate Dengan Beban vertikal dan Momen

Terdapat dua metode perencanaan untuk menentukan dimensi baseplate yangterbebani oleh gaya aksial dan momen, yaitu :

1. Perhitungan untuk eksentrisitas (e) kecil dan sedang. 2. Perhitungan untuk eksentrisitas (e) besar.

8.2.1 Perhitungan Eksentrisitas (e) Kecil dan Sedang

Gambar 2.34 Base plate dengan eksenstrisitas besar

Jika nilai eksentrisitas (e) sama atau lebih kecil dari N/6, distribusi gaya tekanterjadi di seluruh permukaan baseplate, seperti yang terlihat pada gambar 2.13. Gaya f1,2 dapat dihitung sebagai berikut :

f1.2 = 𝑃 𝐵.𝑁

±

𝑀.𝑐 𝐼

<

Fp

(

MPa

)

………..(2.23) Dimana: B , N = dimensi baseplate (mm) c = N /2 (mm) I = momen inersia. ( B x N 3)/ 12 (mm4)

Berdasarkan LRFD (Load & Resistance Factor Design), gaya tekan maksimum (f1) tidak boleh melebihi gaya tekan yang diizinkan (Fp) :

(5)

Fp = 0.85 𝜑c

f

c 𝐴2

𝐴1 (MPa) ……….. (2.24)

Dimana :

f’c = Mutu beton (ksi) A1 = Luas baseplate (in2)

A2 = Luas beton dasar (bantalan) (in2)

𝜑c = Faktor resistensi pada beton, 0.6

Untuk menghitungnya dapat dilakukan dengan langkah-langkah sebagai berikut : 1. Menentukan Pu dan Mu

2. Menentukan tegangan desain bantalan maksimum

𝐹𝑝 = 0.85𝜑𝑐𝑓𝑐′ 𝐴2𝐴1 ≤ 1.7𝜑𝑐 𝑓′𝑐 ……….. (2.25)

3. Menentukan nilai N dan B dengan perkiraan

4. Menentukan tegangan bantalan yang terjadi dengan rumus

𝑓

1.2

=

𝐵.𝑁𝑃

±

𝑀.𝐶𝐼

5. Memeriksa apakah nilai 𝑒 = 𝑀𝑃 ≤𝑁6 dan nilai f1,2 < Fp . Jika nilainya memenuhi maka diteruskan kelangkah selanjutnya, jika tidak kembali ke langkah 3.

6. Menentukan tebal pelat 𝑡𝑝

=

4𝑀𝑝𝑙𝑢 0.90 𝐹𝑦

Gambar 2.35 Beban dengan Eksentrisitas sedang

Jika nilai eksentrisitas (e) diantara N/6 dan N/2, distribusi gaya tekan terjadi hanyapada sebagian baseplate, seperti yang terlihat pada gambar 2.14. Agar seimbang,distribusi

(6)

gaya tekan harus sama dengan beban vertikal dan berada pada jarak etitik tengah dari

baseplate. Gaya maksimum f1 dihitung sebagai berikut : f1 =

2.𝑃

𝐴.𝐵 (MPa) ……….. (2.26)

Dimana :

A = Panjang tegangan yang terjadi, 3 (N/2 – e)

8.2.2 Perhitungan Eksentrisitas (e) Besar

Gambar 2.36 Beban dengan Eksentrisitas besar

Saat terjadi eksentrisitas (e) yang besar, maka disarankan menggunakanjangkar (anchor bolt) untuk meredam peregangan komponen pada saat beban momenbekerja. Hal ini diperlihatkan pada gambar 2.36.

Untuk menghitungnya dapat dilakukan dengan langkah-langkah sebagai berikut : 1. Menentukan Pu dan Mu

2. Tentukan nilai N dan B dengan coba-coba. 1. Hitung nilai eksentrisitras e = M / P 2. Menentukan tegangan bantalan maksimum

f2,1 = 𝑃 𝐵.𝑁

𝑀.𝑁

2𝐼 ≤ Fp

Fp = Tegangan beton yg diperbolehkan

𝐹𝑝 = 0.85∅𝑐𝑓′𝑐 𝐴2

𝐴1 ≤ 1.7∅𝑐 𝑓′𝑐 ……….. (2.27)

3. Letak garis netral dan tegangan-tegangan

f3

f4 = f2 - f3 m

f3 f2

(7)

A = 𝑓2 𝑓2+𝑓1*N

𝑓

3

=

𝐴−𝑚

𝐴

𝑓

2

f4 = f2 - f3

4. Menghitung momen Mplu = (1/2 f3+ 1/3 f4) m2*B 5. Menghitung kapasitas jangkar (T)

𝑇 =

𝑓𝑝 𝐴 𝐵

2

− 𝑃

……….. (2.28)

6. Menentukan tebal pelat (tp)

𝑡

𝑝

=

0.9 𝑁 𝐹𝑦4𝑀𝑝𝑙𝑢 ……….. (2.29)

8.2.3 Desain Tambahan Untuk Perhitungan Eksentrisitas Besar

Saat pelat dasar menerima beban vertikal dan beban momen yang cenderungbesar, terjadi eksentrisitas yang besar pula. Keadaan ini berakibat tidak seimbangnyapelat dasar yang selanjutnya dapat menyulitkan pengerjaan terutama pada saat awalkonstruksi berlangsung. Untuk itu, diperlukan pengikat antara pelat dasar danpondasi agar dapat menahan gaya guling yang terjadi. Pengikat yang dimaksudadalah anchor bolt (baut angkur).

Maitra (1978) telah mengembangkan suatu solusi grafis untuk kasus pelatdasar yang memiliki beban eksentris yang besar. Grafik yang dimaksud adalahsebagai berikut :

Gambar 2.37 Grafik Desain Tambahan Untuk Baseplate Dengan Beban vertikal dan

(8)

Untuk menentukan resultan gaya (T) dari ankur (anchor bolt), dapat dihitungdengan prosedur sebagai berikut:

1. Menentukan Pu dan Mu

2. Menentukan tegangan desain bantalan maksimum

3. 𝐹𝑝 = 0.85𝜑𝑓′𝑐 𝐴2𝐴1 𝑘𝑠𝑖 (2.31)

4. Menentukan nilai N dan B dengan asumsi. 5. Hitung 𝛽 = [ 𝑀+𝑃.𝐴

𝑓𝑝 .𝐵.𝑁′ 2

]sehingga dari grafik didapat A/N

6. Dari nilai A/N` didapat nilai A. Jika nilai A sesuai maka lanjutkan ke langkahselanjutnya, jika tidak ulangi langkah 3.

7. Dari grafik juga di dapat nilai α. Sehingga dapat dicari kapasitas angkur

𝑇 =

𝑀+𝑃𝐴𝛼.𝑁

− 𝑃

(2.32)

Dimana  = koefisien jarak angkur dari pusat distribusi beban

8.3 Baseplate Dengan Beban Geser

Biasanya, gaya geser kolom dasar secara keseluruhan dilawan oleh gesekankarena adanya beban tekan aksial. Karena itu biasanya tidak diperlukan untukperencanaan geser. Namun ada beberapa kasus dimana perencanaan geserdiperlukan.

Ada 4 cara untuk menahan gaya geser yaitu: dengan pengembangan gayagesek; dengan baut geser / bantalan, penggunaan penahan geser (shear lug) dandengan penanaman kolom ke pondasi.

(9)

Untuk merencanakan dimensi baseplate dengan beban geser dapat mengikuti langkah berikut:

1. Menentukan bagian geser yang dapat ditransfer oleh gesekan sebesar μ dikalikandengan factor beban mati Vlgu, ditambah dengan bagian yang sesuai dari bebanhidup yang menghasilkan gaya geser. Bagian ini ditahan oleh penahan geser(shear lug), adalah berbeda antara beban geser yang diperhitungkan dankekuatan ini.

Vlgu = (faktor beban geser x gaya horizontal) - ( μ x faktor beban mati x bebanmati)

2. Menghitung daerah bantalan yang diperlukan untuk penahan geser (shear lug)

𝐴𝑙𝑔𝑢 = 𝑉𝑙𝑔𝑢

0.85𝜑𝑐𝑓 ′𝑐 (2.33)

3. Menentukan dimensi penahan geser dengan asumsi bahwa bantalan terjadi pada bagian di bawah pondasi beton.

𝐻 − 𝐺 =𝐴𝑙𝑔𝑢

𝑊 dimana W= Asumsi lebar shear slug

4. Menghitung momen pada penahan geser

𝑀𝑙𝑔𝑢 = 𝑉𝑙𝑔𝑢 𝑊 [

(𝐻+𝐺)

2 ] (2.34)

5. Menghitung ketebalan shear lug

𝑡𝑙𝑔 = 4𝑀𝑙𝑔𝑢0.9𝐹𝑦 (2.35)

Desain Baut Angkur

Baut angkur diperlukan untuk semua baseplate. Baut angkur digunakan untukmemperkuat semua pelat dan untuk mencegah kolom terbalik. Baut angkur jugadiperlukan ketika pelat menerima beban yang besar atau uplift.

(10)

Untuk menentukan panjang baut angkur yang dibutuhkan, didasarkan pada luas permukaan pelat dan kapasitas baut angkur itu sendiri.

Dapat dihitung dengan prosedur sebagai berikut : 1. Menghitung luas baru Ag

𝐴𝑔 = 0.75 𝜑𝑡 .𝐹𝑢𝑇𝑢 (2.36)

Dimana :

Tu = Kapasitas angkur (kip)

𝜑𝑡 = faktor tahanan untuk tegangan = 0.75 𝐹𝑢 = Kekuatan tarik minimum (Ksi) 2. Menghitung luasan yang diproyeksikan

Gambar 2.40Bidang runtuh

𝐴𝑝𝑠𝑓 = 𝑇𝑢 4𝜑𝑡 𝑓′𝑐 (𝑖𝑛

2) (2.37)

Dimana

Tu = Kapasitas angkur (kip)

𝜑𝑡 = faktor tahanan untuk tegangan = 0.75 𝐹𝑢 = Kekuatan tarik minimum (Ksi)

3. 𝐿 = 𝐴𝑝𝑠𝑓3.14 (𝑖𝑛) (2.38)

dimana Apsf = Luas permukaan pelat (in2)

Panjang jangkar ini berlaku apabila luas proyeksi dianggap penuh, artinya tidakterpotong oleh tepi pondasi beton.Pada tahun (1983) Shipp and Haninger telah menyajikan panjang minimum

(11)

jangkaryang tertanam dan juga jarak minimumnya keujung bawah pondasi. Disajikan dalam table berikut

Contoh Perhitungan:

1. Kasus kolom dengan beban vertikal saja Pu = 800 kN Kolom WF 200x200 d =200 mm tw = 8 mm A = 11080 mm2 bf = 200 mm tf = 12 mm f’c = 20 MPa Ix = 47.2 E6 mm4 Iy = 16 E6 mm4 fy = 240 MPa Wx = 472 E3 mm3 Wy = 160 E3 mm3 rx = 86.2 mm ry = 50.2 mm Luas pelat: A1 = 𝑃𝑢 0.85 𝜑𝑐 𝑓𝑐′

=

800000 0.85∗0.6∗20 = 78432 Δ = 0.5 (0.95d – 0.8bf) = 0.5 (0.95*200 – 0.8*200) = 15 (mm) N = 𝐴1+ ∆ = 78432 + 15 = 295  300 (mm) B = 𝐴1 𝑁

=

78432 300 = 261 300 (mm)

(12)

Cek tegangan beton fc ≤ Fp

Dipakai dimensi kolom 350x350 mm  A2 = 12.25 104 mm2

Luas pelat A1 = 300x300 = 9 104 mm2 Fp = 0.85

𝜑

c

f

c 𝐴2 𝐴1 = 0.85*0.6*20 12.25 9 = 11.9 fc = Pu / A1 = 800000 / 9 10 4 = 8.9 < Fp OK! m = 𝑁−0.95𝑑 2

=

300−0.95∗200 2 = 55 (mm) n =𝐵−0.8 𝑏𝑓 2

=

300−0.8∗200 2

= 70 (mm)

Tebal pelat tp = (m atau n) 2.𝑃 0.9𝐹𝑦 .𝐵.𝑁

= 70* 2∗800000 0.9∗240∗300∗300

=

20.1 mm  20 mm Kesimpulan: Pelat ukuran 300x300x20 mm; kolom ukuran 350x350 mm

2. Kasus kolom dengan beban vertikal dan momen (eksentrisitas kecil) Pu = 800 kN ; Mux = 40 kNm Kolom WF 200x200 d =200 mm tw = 8 mm A = 11080 mm2 bf = 200 mm tf = 12 mm f’c = 20 MPa Ix = 47.2 E6 mm4 Iy = 16 E6 mm4 fy = 240 MPa Wx = 472 E3 mm3 Wy = 160 E3 mm3 rx = 86.2 mm ry = 50.2 mm Coba B = 300 mm , N = 300 mm  A2 = 90000 mm2 e = Mu / Pu = 20 / 800 = 0.025 mm = 25 mm < N/6 = 50 mm (eksentrisitas kecil) f1.2 = 𝑃 𝐵.𝑁

±

𝑀.𝑐 𝐼

=

800000 300∗300

±

20000000 ∗150 3004 / 12

=

8.89  4.44 < Fp

(

MPa

)

f1 = 13.33 dan f2 = 4.44

Coba luas kolom beton 400 x 400 mm  A2 = 160000 mm2 Fp = 0.85 𝜑c

f

c 𝐴2 𝐴1 = 0.85*0.6*20 16 9 = 13.6 (MPa) f1 = 13.33 < Fp OK!

(13)

Menentukan tebal pelat m = 𝑁−0.95𝑑 2

=

300−0.95∗200 2

= 55 (mm)

n =𝐵−0.8 𝑏𝑓 2

=

300−0.8∗200 2

= 70 (mm)

Momen pada garis kritis Mplu = ½ *f1*m2*B = ½ *13.33*552*300 = 6048488

Kapasitas moment pelat Mn = φy Z fy = φy ( ¼ B tp2 )*fy = 0.9*( ¼ B tp2 )*fy = Mplu

𝑡

𝑝

=

0.9 𝐵 𝐹𝑦4𝑀𝑝𝑙𝑢

=

0.9∗300∗2404∗6048488 = 19.3  20 mm

Kesimpulan: Pelat ukuran 300x300x20 mm ; kolom ukuran 400x400 mm

3. Kasus kolom dengan beban vertikal dan momen (eksentrisitas besar) Pu = 200 kN ; Mux = 80 kNm Kolom WF 200x200 d =200 mm tw = 8 mm A = 11080 mm2 bf = 200 mm tf = 12 mm f’c = 20 MPa Ix = 47.2 E6 mm4 Iy = 16 E6 mm4 fy = 240 MPa Wx = 472 E3 mm3 Wy = 160 E3 mm3 rx = 86.2 mm ry = 50.2 mm Coba B = 350 mm , N = 350 mm  A1 = 122500 mm2 e = Mu / Pu = 80 / 200 = 0.4 m = 400 mm > N/2 = 175 mm (eksentrisitas besar) f1.2 = 𝑃 𝐵.𝑁

±

𝑀.𝑐 𝐼

=

200000 350∗350

±

80000000 ∗175 3504 / 12

=

1.6  11.2

f1 = -9.6 dan f2 = 12.8

Coba luas kolom beton 450 x 450 mm  A2 = 202500 mm2

(14)

Fp = 0.85 𝜑c

f

c 𝐴2

𝐴1 = 0.85*0.6*20*1.653 = 13.1 (MPa)

f2 = 12.8 < Fp OK!

Menentukan tebal pelat m = 𝑁−0.95𝑑 2

=

350−0.95∗200 2 = 80 (mm) n =𝐵−0.8 𝑏𝑓 2

=

350−0.8∗200 2

= 95 (mm)

Letak garis netral A = 𝑓1

𝑓2+𝑓1*N = 12.8 12.8+9.6 * 350 = 200

𝑓

3

=

𝐴−𝑚 𝐴

𝑓

2

=

200−80 200

∗ 12.8 = 7.68

f4 = f2 - f3 = 12.8 – 7.68 = 5.12 Mplu = (1/2 f3+ 1/3 f4) m2*B = (7.68/2+5.12/3)*802*350 = 12424533

Kapasitas moment pelat Mn = φy Z fy = φy ( ¼ B tp2 )*fy = 0.9*( ¼ B tp2 )*fy = Mplu

𝑡

𝑝

=

0.9 𝐵 𝐹𝑦4𝑀𝑝𝑙𝑢

=

4∗124245330.9∗350∗240 = 25.6  26 mm

Kesimpulan: Pelat ukuran 350x350x26 mm ; kolom ukuran 400x400 mm f2 f1 m f3 f3 f4 = f2 - f3 m f3

Gambar

Gambar 2. 31 Macam-macam type Base Plate  Perencanaan Baseplate Dengan Metode AISC-LRFD
Gambar 2.33 Ukuran pelat
Gambar 2.34 Base plate dengan eksenstrisitas besar
Gambar 2.35 Beban dengan Eksentrisitas sedang
+6

Referensi

Dokumen terkait

Hasil perencanaan struktur dalam penulisan Tugas Akhir ini berupa dimensi elemen struktur, momen dan gaya geser untuk perencanaan penulangan komponen-komponen struktur, yaitu

Adalah subsistem struktur yang berfungsi menahan beban lateral akibat pengaruh beban gempa rencana, yang runtuhnya disebabkan oleh momen lentur (bukan disebabkan oleh gaya geser)

Hasil perencanaan struktur yang 2 roleh pada tugas akhir ini berupa momen, gaya aksial, dan gaya geser yang akan digunakan untuk merencanakan jumlah, jarak dan dimensi

Gaya geser rencana Kolom Sistem Rangka Pemikul Momen Khusus Berdasarkan SNI 2847-2013 pasal 21.6.5.5., kuat gaya geser rencana Ve ditentukan dari kuat momen maksimum,

4) Perhitungan penulangan balok dilakukan setelah besarnya momen diperoleh dari langkah no.3, dilanjutkan dengan perhitungan kontrol dimensi balok, perencanaan tulangan geser

Gaya dalam momen Mu dan gaya geser Vu pada struktur balok akibat berbagai kombinasi pembebanan yang bekerja ditunjukkan pada Tabel 8.1 berikut.... Perencanaan Balok Induk

Hasil perencanaan struktur yang 2 roleh pada tugas akhir ini berupa momen, gaya aksial, dan gaya geser yang akan digunakan untuk merencanakan jumlah, jarak dan dimensi

Perhitungan tulangan balok lantai untuk momen dan gaya geser rencana akibat beban