• Tidak ada hasil yang ditemukan

Latar belakang Visi Indonesia 2030 Pendekatan Transformasi Ekonomi Strategi Transformasi Ekonomi Target Penyebaran Ekonomi Pengembangan 20 Program

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Latar belakang Visi Indonesia 2030 Pendekatan Transformasi Ekonomi Strategi Transformasi Ekonomi Target Penyebaran Ekonomi Pengembangan 20 Program"

Copied!
55
0
0

Teks penuh

(1)
(2)

Latar belakang

Visi Indonesia 2030

Pendekatan Transformasi Ekonomi

Strategi Transformasi Ekonomi

Target Penyebaran Ekonomi

Pengembangan 20 Program Utama

Estimasi Kebutuhan Investasi

Infrastruktur

Strategi Pelaksanaan

Strategi Pembiayaan

Tindak Lanjut

(3)
(4)

Latar

Latar

belakang

belakang

Beberapa tahun terakhir ini Indonesia semakin

diakui peran dan kiprahnya di dunia

internasional. Hal tersebut dapat diamati dari

keterlibatan Indonesia di fora global dan regional

seperti APEC, G-20, ASEAN dan berbagai FTA.

Prestasi tersebut didorong oleh kinerja

Indonesia yang dalam krisis global 2008

termasuk salah satu negara yang paling dapat

bertahan dan stabil, jika dibandingkan negara

lain terutama negara-negara di Asia.

Bahkan, sejak 2009, berbagai institusi

pemeringkatan

inter-nasional

terkemuka

(Moody’s, Fitch, dan Standard & Poor)

meningkatkan Indonesia's Sovereignty Rating

(terlepas dari ketidakpastian ekonomi global)

menjadi hanya 1–2 level lagi di bawah

Investment Grade dan digolongkan memiliki

outlook yang stabil/positif.The Japan Credit

Ratings Agency, Ltd. (JCR) bahkan mening-

katkan peringkat Indonesia ke Investment

Grade, dari

BB+ ke BBB-/stable (Juli 2010).

Sementara itu, UNCTAD menetapkan Indonesia

sebagai 1 dari 10 negara dengan daya tarik

terbesar untuk FDI, mengalahkan negara

ASEAN lainnya seperti Thailand, Malaysia, dan

Vietnam (Survey pada 2009)

Prestasi Indonesia di Tengah Ketidakpastian Ekonomi

Global

(5)

Perdagangan South to South Meningkat

Cepat

Pada tahun 2008, 54% pertumbuhan ekspor di

negara berkembang didorong oleh pemintaan

negara

berkembang

lainnya

dibandingkan

dengan 12% di tahun 1998. Indonesia memiliki

posisi yang sangat bagus dalam perubahan ini.

China Tengah Melakukan Proses

Rebalancing

atas

Sumber-sumber

Pertumbuhan Ekonominya yang Memberikan

Dampak Bagi Negara Lain:

ƒ

Proses

re-orientasi

sumber pembangunan

ekonomi RRT dan perubahan Value Chain

RRT menjadi

Lebih

berorientasi

pada

Knowledge-intensive Products, Sektor Jasa,

dengan perhatian lebih pada proses yang

ramah lingkungan dan berkelanjutan.

ƒ

Relokasi kegiatan manufaktur yang padat

karya terus berlangsung dengan kemungkinan

tujuan relokasi Bangladesh, Cambodia, India,

Indonesia, dan Vietnam.

Proses Liberalisasi Ekonomi India Akan

Terus Berlangsung

ƒ

India Saat Ini tengah melakukan tahap ke-3

proses reformasi untuk meningkatkan FDI dan

melakukan deregulasi sektor jasa.

ƒ

Reformasi dilakukan untuk mengatasi masalah

b idi

i

d

th

b ttl

ki

Indonesia di tengah-tengah berubahnya tataran regional

Restrukturisasi Jaringan Produksi di Asia

Timur

ƒ

Fragmentasi produk merupakan kunci penting

dari proses produksi untuk elektronik dan

machinery di Asia Timur

47% Perdagangan di Asia Timur berupa

mesin produksi, 30% perdagangan antar

region adalah komponen dan parts.

ƒ

Fragmentasi

produk

tidak

lagi

ditentukan

semata-mata oleh rendahnya biaya produksi.

Makin pentingnya peran penyedia jasa,

fasilitasi perdagangan yang efisien dan

kepastian hukum untuk menarik Investasi.

ƒ

Mempergunakan permintaan lokal atas produk

manufaktur

bagi

negara

dengan

pasar

domestik besar untuk kepentingan ekspor (

Innova

Kijang

Toyota, Daihatsu, dan

Indomie sebagai contoh sukses).

Pengaturan arus modal

ƒ

Yields akan terus rendah di negara maju,

sehingga modal akan terus masuk ke negara

berkembang.

ƒ

Suku

Bunga

Negara Maju

akan

terus

meningkat

sebagai

respon

meningkatnya

inflasi

yang akhirnya

berakibat

pada

meningkatnya biaya modal (cost of capital) di

negara berkembang termasuk Indonesia.

(6)

Sebagai negara dengan jumlah penduduk ke-4 terbesar di

dunia, dalam kurun waktu 20 tahun mendatang Indonesia

akan memasuki periode “bonus demografi”, yaitu periode

di mana angka dependency ratio (indeks perbandingan

antara usia tidak produktif dibagi usia produktif) mencapai

angka minimal (di bawah 50%) sehingga dalam periode ini

akan terdapat lebih banyak tenaga kerja produktif yang

dapat diberdayakan untuk mendorong peningkatan

produktivitas nasional yang sangat bermanfaat untuk

pertumbuhan ekonomi.

Periode “Bonus Demografi”

Indonesia memiliki "Bonus Demografi"

India

mempunyai

poten-si yang sama, di

mana penduduk usia

kerja ma-sih

meningkat tinggi se-

mentara Rusia dan Je-

pang menurun,

Bonus Demografi ini harus dimanfaatkan secara maksimal di

saat negara lain menghadapi situasi “aging population”

Bonus Demografi ini harus dimanfaatkan secara maksimal di

saat negara lain menghadapi situasi “aging population”

(7)

Indonesia tengah mengalami proses urbanisasi yang sangat pesat

53% penduduk Indonesia tinggal di kawasan perkotaan. Di tahun 2025

jumlah tersebut akan lebih dari 65%. Kawasan-kawasan metropolitan

berpotensi menjadi lebih besar sehingga membutuhkan penataan ruang

dan pembangunan infrastruktur yang sangat serius dan komprehensif

53%

53%

penduduk

penduduk

Indonesia

Indonesia

tinggal

tinggal

di

di

kawasan

kawasan

perkotaan

perkotaan

.

.

Di

Di

tahun

tahun

202

202

5

5

jumlah

jumlah

tersebut

tersebut

akan

akan

lebih dari

lebih dari

6

6

5

5

%

%

. Kawasan

. Kawasan

-

-

kawasan metropolitan

kawasan metropolitan

berpotensi menjadi lebih besar sehingga membutuhkan penataan rua

berpotensi menjadi lebih besar sehingga membutuhkan penataan rua

ng

ng

dan pembangunan infrastruktur yang sangat serius dan komprehensi

dan pembangunan infrastruktur yang sangat serius dan komprehensi

f

f

(8)

Indonesia memiliki “kekayaan sumber daya alam"

Indonesia adalah negara yang kaya dengan potensi sumber daya alam, baik yang terbarukan (hasil

bumi) maupun yang tidak terbarukan (hasil tambang dan mineral). Kekayaan sumber daya alam

tersebut tersebar dari Sabang sampai Merauke.

Indonesia menjadi salah satu produsen besar di dunia untuk berbagai komiditas. Beberapa

diantaranya adalah: Cengkeh (produsen terbesar dunia), Kelapa Sawit (produsen dan eksportir

terbesar dunia), Karet Alam (produsen terbesar kedua dunia), Kakao (produsen terbesar kedua

dunia), dan bermacam2 hasil bumi lainnya.

Kekayaan sumber daya alam ini harus dapat dikelola seoptimal mungkin, dengan pengertian

kecenderungan untuk mengekspor dalam bentuk bahan mentah harus diubah menjadi bahan

olahan yang bernilai tambah jauh lebih tinggi.

(9)

Fakta menunjukkan Indonesia di masa lalu

berhasil mencapai pertumbuhan ekonomi rata-

rata 7% (1967-1997), dan pulih dari krisis

ekonomi 1997, serta bertahan terhadap krisis

ekonomi 2008-2009, dengan pertumbuhan

rata-rata 5,8% (2004-2009) dan pada tahun

2006 masuk lower middle income country.

Total GDP Indonesia (menurut PPP) pada

tahun 2009 +/- USD 1 miliar, ranking 16 dunia.

Sementara, Indonesia kehilangan kesempatan

untuk tumbuh lebih tinggi dikarenakan

beberapa hal:

•Situasi global terus berubah, sehingga

kompetisi di berbagai bidang meningkat.

•Ekspor berupa bahan baku dan bukan hasil

pengolahan.

•Tingkat kesejahteraan rakyat masih belum

sesuai amanat konstitusi.

•Tingkat kemiskinan serta kesenjangan masih

tinggi.

Perlunya Transformasi Ekonomi

Dinamika global dan kondisi

ekonomi menuntut Indonesia

melakukan transformasi ekonomi

nasional (tidak business as usual)

(10)

Industrialisasi adalah mesin utama transformasi ekonomi yang

dilakukan semua negara maju, seperti Korea, China, Brazil dan

India.

Dari Sisi Permintaan

: (i) Investasi di sektor industri dan

infrastruktur serta (ii) perdagangan internasional adalah mesin

utama dibalik kenaikan output.

– Swasta dan publik investasi di infrastruktur

– Pemerintah pusat dan daerah menjadi koordinator, katalisator

dan fasilitator

– Investasi pada industri pengolahan terutama dilakukan oleh

Swasta

Dari Sisi Suplai

: harus dicapai pertumbuhan total factor

productivity (mencapai output lebih banyak per unit input) yang

tinggi, melalui :

– Peningkatan economic of scale terutama diperoleh akibat

adanya konsentrasi lokasi industri (Osaka di Jepang, Guang

Zhou di China, Mumbai di India)

Meningkatnya kapasitas sosial untuk menguasai dan

mengembangkan teknologi

• Pada tingkat rmh tangga: investasi untuk pendidikan anak

• Pada tingkat perusahaan: menciptakan suasana yang

kondusif untuk meningkat-kan kapasitas produktif dan inovatif

pekerja

• Pada tingkat Pemerintah: menerapkan kebijakan industri

yang mengurangi biaya perusahaan untuk memperoleh dan

Transform

asi

Ekonomi

Transform

asi

Ekonomi

10

(11)
(12)

Dalam Undang-Undang No. 17 Tentang Rencana

Pembangunan Jangka Panjang Nasional disebutkan

bahwa visi pembangunan ekonomi nasional sampai

dengan 2025 adalah

”mewujudkan masyarakat

Indonesia yang mandiri, maju, adil dan makmur.”

Untuk itu diperlukan penguatan dan pengembangan

ekonomi di segala bidang berdasarkan keunggulan

kompetitif.

Perekonomian indonesia pada tahun 2010 ini

menduduki peringkat 16 besar dunia. Dengan

mengacu pada proyeksi pertumbuhan di Rencana

Pembangunan Jangka Menengah yang rata-rata

berkisar antara 6,3% - 6,8% per tahun, pada tahun

2014 PDB Indonesia diperkirakan akan berkisar di

angka US$1.200 miliar dan PDB per kapita sedikit di

bawah US$5.000.

Untuk jangka waktu yang lebih panjang, terdapat

beberapa prediksi untuk pertumbuhan ekonomi

Indonesia. Dengan asumsi pertumbuhan riil yang stabil

antara 7 – 8 % per tahun sejak tahun 2013,

diperkirakan PDB pada tahun 2030 adalah antara US$

6.460 – 8.152 miliar. Dengan proyeksi penduduk

sekitar 313 juta jiwa, diperkirakan PDB per kapita akan

berkisar antara US$ 20.600 – 25.900.

Dengan demikian, Indonesia sudah dapat

dikategorikan sebagai negara berpendapatan tinggi

menurut klasifikasi Bank Dunia dan pada tahun 2030

tersebut Indonesia merupakan kekuatan 10 besar

dunia.

“Mendorong Indonesia menjadi

negara maju

dan merupakan kekuatan 10 besar dunia di

tahun 2030 dan 7 besar dunia pada tahun 2050

melalui

pertumbuhan ekonomi tinggi

yang

inklusif

dan

berkelanjutan

Menurut proyeksi Goldmann Sachs dan Economist, pada

tahun 2050 PDB Indonesia akan mencapai lebih dari US$

26.000 miliar dan perekonomiannya akan menjadi kekuatan

6 besar dunia.

Visi 2030

Visi 2030

(13)

INDIKATOR PEMBANGUNAN TRANFORMASI EKONOMI

Investasi untuk

pembangunan dalam

rangka mendukung

pertumbuhan ekonomi

yang inklusif dan

berkelanjutan

Catatan/Keterangan:

1.

PDB (Nominal 2009: US$ 5.600 billion

2.

Menurut survei konsultan AC Nielsen, penduduk disebut masuk ke dalam kelas menengah bila memiliki

pendapatan tahunan minimal US$ 4.000 (2008). Pada tahun 2030, golongan menengah diperkirakan memiliki

pendapatan per kapita sekitar US$ 15.000 – 20.000.

3.

HDI adalah Human Development Index yang setiap tahunnya dihitung oleh UNDP

4.

EoDB adalah singkatan dari Ease of Doing Business (Bank Dunia)

(14)

“... struktur ekonomi negara maju ditandai dengan

meningkatnya porsi sektor sekunder dan tersier (angka

estimasi)”

Struktur Ekonomi INDONESIA

2009

Struktur Ekonomi NEGARA MAJU

2030

Lower middle income country

High income country

14

Perubahan struktur ekonomi menjadi sebuah

NEGARA MAJU bisa diwujudkan bila sektor-

sektor utama tumbuh sebagai berikut:

•Primer : 7,8 – 8,3 % per tahun

•Sekunder

: 12,6 – 13,1 % per

tahun

(15)
(16)

PENDEKATAN

PENDEKATAN

GRAND DESIGN

GRAND DESIGN

TRANSFORMASI

TRANSFORMASI

EKONOMI

EKONOMI

Grand Design Transformasi

Eko-nomi ini

merupakan

bagian yang integral di

dalam sistem perencanaan

pembangunan na-sional.

Oleh karena itu, Grand

Design Transformasi

Ekonomi dirumus-kan

dengan mengacu pada UU

17 Tahun 2007 tentang

Rencana Pembangunan

Jangka Panjang dan

memperhatikan RAN-GRK.

Selanjutnya, produk Grand

De-sign Transformasi

Ekonomi ini menjadi acuan

bagi perumusan RPJMN.

Sementara itu rencana aksi

yang diindikasikan di dalam

Grand Design ini menjadi

acuan bagi penyusunan

RKP/RAPBN serta bagi

penyusunan kebijak-an

investasi swasta dan PPP.

Kedudukan Grand Design Transformasi Dalam Kebijakan Nasional

(17)

PENDEKATAN

PENDEKATAN

GRAND DESIGN

GRAND DESIGN

TRANSFORMASI

TRANSFORMASI

EKONOMI

EKONOMI

Grand Design

Transformasi

Ekonomi

mengkombinasikan

pendekatan

Sektoral

dan

Regional

Perumusan Grand Design Transformasi Ekonomi ini mengkombinasikan

2 (dua) pendekatan

,

yaitu

sektoral

dan

regional (pengembangan wilayah)

yang selanjutnya diintegrasikan dalam

pengembangan Koridor Ekonomi.

Pendekatan sektoral didasarkan atas identifikasi sektor-sektor unggulan dengan prospek

pengembangan tinggi secara global dan Indonesia memiliki potensi dan kemampuan untuk

ditingkatkan daya saingnya ke depan. Sementara itu, pengembangan wilayah diterapkan untuk

menyebarkan pengembangan sektor-sektor unggulan yang telah ditetapkan ke dalam 6 (enam)

koridor ekonomi yang telah diidentifikasi.

Rencana Aksi Penguatan Konektivitas Nasional

Grand Design

Transformasi

Ekonomi

17

(18)

Penetapan

Program Utama

18

• Transformasi Ekonomi berisi langkah-langkah

spesifik dan

nyata

,

bukan pada tataran konsep dan umum

• Program utama adalah kelompok kegiatan utama di

komoditi atau sektor tertentu pada koridor ekonomi yang

akan menjadi

mesin pertumbuhan

ekonomi serta dapat

memberikan kontribusi secara langsung dan signifikan bagi

pertumbuhan dan penciptaan lapangan kerja

.

• Investasi (publik dan swasta) dan peningkatan kapasitas

SDM

diprioritaskan untuk mendorong sektor produktif dan

unggulan

di setiap program utama untuk memacu

percepatan pertumbuhan ekonomi.

• Mempermudah

fokus

dan

mempertajam

perumusan

kebijakan

dan reformasi peraturan yang menghambat

pertumbuhan.

• Mempermudah dan

meningkatkan kualitas pelaksanaan

monitoring dan evaluasi

dari kinerja pelaksanaan

Transformasi

Ekonomi harus

fokus pada

Program Utama

PENDEKATAN

PENDEKATAN

GRAND DESIGN

GRAND DESIGN

TRANSFORMASI

TRANSFORMASI

EKONOMI

(19)

Pengembangan aktivitas ekonomi ke-20

program utama tersebut difokuskan pada 6

(enam) koridor ekonomi yang telah

ditetapkan

, yaitu:

1.

Koridor Ekonomi Wilayah Sumatera

2.

Koridor Ekonomi Wilayah Jawa

3.

Koridor Ekonomi Wilayah Kalimantan

4.

Koridor Ekonomi Wilayah Sulawesi

5.

Koridor Ekonomi Wilayah Bali-Nusa Tenggara

6.

Koridor Ekonomi Wilayah Papua

Program Utama

Terobosan untuk mendorong percepatan transformasi ekonomi

Berdasarkan identifikasi sementara, diperoleh

20 program utama, yaitu sebagai berikut:

1.

Metropolitan Jabodetabek

2.

Jembatan Selat Sunda

3.

Pengembangan Kelapa Sawit

4.

Pengembangan Karet

5.

Pengembangan Batubara

6.

Pengembangan Nikel

7.

Pengembangan Tembaga

8.

Pengembangan Minyak dan Gas

9.

Pengembangan Pariwisata

10.

Pengembangan Perikanan

11.

Pengembangan Food Estate

12.

Pengembangan Industri Makanan -

Minuman

13.

Pengembangan Industri Tekstil

14.

Pengembangan Industri Mesin dan

Peralatan Transportasi

15.

Pengembangan Industri Perkapalan

16.

Pengembangan Industri Baja

17.

Pengembangan Industri Aluminium

18.

Pengembangan Industri Telematika

19.

Penguatan Konektivitas Nasional

(20)

PROGRAM

UTAMA

Sumatera

Jawa

Kalimantan

Sulawesi

Bali - NT

Papua

Jabodetabek

Jembatan Selat Sunda Kelapa Sawit

Karet Batubara Nikel Tembaga

Minyak dan Gas Pariwisata Perikanan Food Estate

Ind. Makanan – Minuman Industri Tekstil

Industri Mesin – Peralatan Transportasi Industri Perkapalan Industri Baja Industri Aluminium Industri Telematika Konektivitas Nasional Kapasitas IPTEK

KORIDOR EKONOMI

20

(21)
(22)

Strategi Transformasi Ekonomi Indonesia:

Pertumbuhan Ekonomi Tinggi, Inklusif dan

Berkelanjutan

Strategi Utama

1.

MENGEMBANGKAN KORIDOR EKONOMI INDONESIA

: Membangun pusat-

pusat per-tumbuhan di setiap pulau, dengan pengembangan klaster industri

berbasis sumber daya unggulan (komoditi dan/atau sektor)

2.

MEMPERKUAT KONEKTIVITAS NASIONAL

(locally integrated, internationally

connected)

Æ mengurangi transaction cost, mewujudkan sinergi antar pusat

pertumbuhan dan mewujudkan akses pelayanan yang merata, meliputi :

• Konektivitas intra dan inter pusat pertumbuhan

• konektivitas international (gate perdagangan dan wisatawan),

• Konektivitas lokal untuk pembangunan inklusif (akses dan kualitas

pelayanan dasar yang merata di seluruh Indonesia

3.

MEMPERCEPAT KEMAMPUAN IPTEK NASIONAL

Strategi Pendukung

1. Mengembangkan kebijakan Investasi

2. Mengembangkan kebijakan perdagangan, termasuk kerjasama perdagangan

3. Mengembangkan kebijakan pembiayaan

4. Kebijakan pengembangan PPP

(23)

Menentukan pusat

Menentukan pusat

ekonomi

ekonomi

Menentukan kebutuhan

Menentukan kebutuhan

konektivitas antara

konektivitas antara

pusat ekonomi

pusat ekonomi

Validasi dengan

Validasi dengan

rencana pembangunan

rencana pembangunan

nasional

nasional

Menentukan

Menentukan

konektivitas lokasi

konektivitas lokasi

sektor fokus ke sarana

sektor fokus ke sarana

pendukung

pendukung

Ibukota provinsi di

Indonesia diposisikan

sebagai pusat ekonomi

Selain itu, kota-kota

yang memiliki aktivitas

ekonomi penting (seperti

Pusat Kegiatan

Nasional), kawa- san

industri, FTZ, bonded

zone, dan kawasan stra-

tegis ekonomi lainnya

juga bisa menjadi pusat

ekonomi

Berdasarkan analisa

transportasi (inter-

regional O-D matrix

analysis)

Memperhitungkan moda

transportasi laut, darat,

dan udara

Mendorong terjadinya

dampak positif

aglomerasi dengan

mempertimbangkan

konektivitas ke pusat

ekonomi utama

Mempertimbangkan

struktur ruang RTRWN

Mempertimbangkan

arahan pola

pemanfaatan ruang

yang digambarkan

dalam RTRWN

Konektivita

s

pendukung

1

1

2

2

3

3

4

4

1. Strategi Pengembangan Koridor Ekonomi

Penentuan Koridor Ekonomi dilakukan melalui 4 tahap sebagai berikut:

Konektivitas

utama

Menentukan sektor

fokus di dalam Koridor

Ekonomi

Menentukan sarana

penghubung untuk

mendukung sektor

fokus, termasuk industri

hulu dan hilirnya

Menentukan konektivitas

pendukung yang

menghubungkan antara

lokasi sektor fokus dan

sarana pendukung

(24)

Rencana Induk Pembangunan Koridor Ekonomi

Indonesia terdiri dari empat bagian:

Latar belakang dan tantangan

menjelaskan kondisi

dan tantangan saat ini di dalam Koridor Ekonomi,

seperti pemerataan ekonomi, tingkat investasi global

dan domestik, kondisi infrastruktur, kondisi

pengembangan sosial, dan lainnya. Bagian ini

menjadi dasar penentuan Tema Pembangunan

Koridor Ekonomi.

Tema Pembangunan Koridor Ekonomi

merupakan

penekanan yang merangkum tujuan yang ingin

dicapai Koridor Ekonomi dalam waktu yang panjang.

Tema Pembangunan ini sifatnya lebih umum, yang

akan diterjemahkan kedalam strategi dan langkah

taktis yang lebih rinci.

Strategi pengembangan ekonomi dan sosial

adalah bagian utama dari Rencana Induk, yang

menjelaskan pemilihan sektor fokus, tantangan yang

dihadapi sektor fokus untuk setiap industri hulu dan

hilir, strategi yang perlu dilakukan, serta dukungan

pemerintah yang perlu diberikan.

Rangkuman dampak Koridor Ekonomi dan

kebutuhan infrastruktur

memberikan gambaran

dampak positip yang akan dicapai dengan PKEI.

Dampak positip tersebut dibandingkan dengan dan

tanpa Koridor Ekonomi. Di bagian ini juga diestimasi

dampak tambahan bagi area lain di luar Koridor

Ekonomi.

Rangkaian Analisis dalam Setiap

Koridor Ekonomi

Tema Pembangunan Koridor

Tema Pembangunan Koridor

Ekonomi

Ekonomi

Latar belakang dan tantangan di

Latar belakang dan tantangan di

dalam Koridor Ekonomi

dalam Koridor Ekonomi

Strategi pengembangan ekonomi

Strategi pengembangan ekonomi

dan sosial

dan sosial

Rangkuman dampak Koridor

Rangkuman dampak Koridor

Ekonomi dan kebutuhan

Ekonomi dan kebutuhan

infrastruktur

infrastruktur

2

2

2

1

1

1

3

3

3

4

4

4

24

(25)

1 KE Sumatera

2

KE Jawa

5 KE Bali – Nusa Tenggara

6 KE Papua

3

KE Kalimantan

4

KE Sulawesi

Denpasar Denpasar Mataram Mataram Jakarta Jakarta Medan Medan Pekanbaru Pekanbaru Jambi Jambi Palembang Palembang Lampung Lampung Semarang Semarang Banjarmasin Banjarmasin Palangkaraya Palangkaraya Pontianak Pontianak Makassar Makassar Manado Manado Kendari Kendari Gorontalo

Gorontalo ManokwariManokwari

Jayapura Jayapura

1

2

5

3

4

6

Serang Serang Mamuju Mamuju IMT IMT--GTGT BIMP

BIMP--EAGAEAGA

Surabaya Surabaya

Pusat ekonomi

Pusat ekonomi mega

Usulan lokasi KEK

Usulan lokasi KEK yang merupakan FTZ

Merauke Merauke Kupang

Kupang Samarinda

Samarinda TernateTernate

Wamena Wamena Sorong Sorong Ambon Ambon

6 Koridor Ekonomi Prioritas : Berbasis

Komoditi/Sektor Unggulan Wilayah

(26)

Rangkuman Tema Pengembangan Koridor Ekonomi Indonesia

"Sentra Produksi dan Pengolahan Hasil

Bumi dan Lumbung Energi Nasional"

"Pusat Produksi dan Pengolahan Hasil Tambang & Lumbung

Energi Nasional"

''Pusat Produksi dan Pengolahan Hasil Pertanian, Perkebunan, dan Perikanan Nasional'' Koridor Sumatera Koridor Kalimantan Koridor Sulawesi ''Pintu Gerbang Pariwisata Nasional dan Pendukung Pangan Nasional'' "Pendorong Industri

dan Jasa Nasional"

"Pengolahan Sumber Daya Alam yang Melimpah dan SDM

yang Sejahtera"

Koridor Jawa

Koridor Bali Nusa Tenggara

Koridor Papua

(27)

2.

Membangun Konektivitas Nasional :

Untuk

mendorong pertumbuhan tinggi yang inklusif

Integrasi ekonomi adalah cara terbaik untuk mendapatkan manfaat

Integrasi ekonomi adalah cara terbaik untuk mendapatkan manfaat

langsung dari

langsung dari

konsentrasi produksi dan manfaat jangka panjang konvergensi sta

konsentrasi produksi dan manfaat jangka panjang konvergensi sta

ndar hidup

ndar hidup

Mencapai

pertumbuhan inklusif

Menghubungkan pusat-

pusat pertumbuhan

Perekonomian yang berhasil...

Menghubungkan daerah

tertinggal dengan pusat

pertumbuhan

Menghubungkan daerah

terpencil dengan

infrastruktur & pelayanan

dasar dalam mendapatkan

manfaat pembangunan

Memperluas

pertumbuhan dengan

menghubungkan

wilayah melalui inter-

modal supply chain

systems

Tumbuh maksimal

melalui keterpaduan

bukan keseragaman

(inclusive

development)

Surabaya

Jakarta

Makassar

Makassar Papua Maluku Sulawesi Ambon Kendari Makassar Manado

27

(28)

Konektivitas LOKAL

Konektivitas NATIONAL

Konektivitas GLOBAL

Intra-island

2

2

2

Inter

Inter

-

-

island

island

3

3

3

International

Gerbang

Internasiona

l Indonesia

Asia

Europ

e

Americ

a

Tow n

Pulau

Pulau

Pulau

Tow n Tow n Tow n Tow n Tow n Tow n Tow n Kot a Kot a Kot a Kot a Kot a

Dalam Pusat

Ekonomi

(urban)

Antar Pusat

Ekonomi

1

1

1

Vision

Locally integrated, Globally connected

2.

Membangun Konektivitas Nasional :

konektivitas intra pulau, antar pulau dan

international

(29)

•Meningkatkan kualitas pendidikan,

termasuk pendidikan tinggi dan kejuruan,

dan pelatihan

•Meningkatkan tingkat kompetensi

teknologi dan keahlian tenaga kerja

•Meningkatkan kegiatan R & D, baik oleh

Pemerintah maupun swasta, melalui

pemberian insentif dan peningkatan

anggaran

•Mengembangkan sistem inovasi

nasional, termasuk meningkatkan

pembiayaan inovasi

3. Membangun kapasitas ilmu pengetahuan dan

teknologi

(30)
(31)

Target Penyebaran Ekonomi

Koridor Jawa diproyeksikan akan meningkatkan PDRB

di wilayahnya hingga 5-6 kali lipat pada 2030. Yaitu

mencapai 2126 milyar USD, atau bertumbuh 10.8%

dari kondisi basis yang tumbuh 6.4%.

Di Koridor Kalimantan, pertumbuhan tanpa koridor

hingga tahun 2030 diproyeksikan hanya sebesar 4.0%,

sedangkan dengan koridor pertumbuhan tersebut akan

meningkat mencapai 7.6%. Peningkatan ini menambah

PDRB Koridor Kalimantan sebesar 4-5 kali lipat atau

bertambah 107 milyar USD sehingga proyeksi awal

yang sebesar 117 milyar USD akan menjadi 224 milyar

USD.

Pembangunan koridor ekonomi di Sumatera

ditargetkan untuk dapat mencapai PDRB sebesar 4 –

5 kali lipat pada tahun 2030. Sehingga, PDRB di

Koridor Sumatera akan mencapai 818 milyar USD,

atau bertambah sebanyak 459 milyar USD dari

kondisi basis yang diproyeksikan mencapai 359

milyar USD. Pertumbuhan dengan koridor pada

tahun tersebut akan mencapai 9.9%, sedangkan

tanpa koridor 5.2%.

Koridor Sumatera, PDRBnya meningkat menjadi 5-6x di tahun 2030.

PDRB Koridor ($ milyar, riil 2000)

818

5

5--6 x6 x

9.9%

9.9%

Koridor Jawa, PDRB nya akan meningkat menjadi 6-7x di tahun 2030.

6

6--7x7x

2126

PDRB koridor ($ milyar, riil 2000)

6.4%

6.4%

10.8%

10.8%

PDRB Koridor ($ milyar, riil 2000)

224

Koridor Kalimantan, PDRBnya akan meningkat menjadi 4-5 x di tahun

2030. 4.02% 4.02% 7.6% 7.6% 4 4--5 x5 x

31

(32)

Koridor Sulawesi ditargetkan akan mampu meningkatkan

pertumbuhan ekonominya sebesar 10.6% pada 2030, dari

proyeksi tanpa koridor sebesar 6.7%. Sedangkan

penambahan PDRB yang dicapai dengan koridor di wilayah

ini yaitu sebesar 66 milyar USD, atau meningkat 6-7 kali

lipat dari tahun 2010.

Pertumbuhan Koridor Bali-Nusa Tenggara pada 2030 akan

mencapai 11.3% atau meningkatkan PDRB wilayah tersebut

sebesar 7-8 kali lipat dari PDRB 2010. Adapun peningkatan

PDRB yang dihasilkan akan mencapai 80 milyar USD

sehingga PDRB Koridor B ali-Nusa Tenggara akan

mencapai 137 milyar USD.

Papua merupakan koridor yang diproyeksikan

akan mengalami dampak pertumbuhan tertinggi

dengan adanya koridor ekonomi. Yaitu mencapai

8-9 kali lipat PDRB 2010 atau bertumbuh 12.4%

pada tahun 2030. Penambahan PDRB yang

dihasilkan oleh koridor ini yaitu sebesar 67 milyar

USD sehingga akan mencapai 120 milyar USD.

Koridor Sulawesi, PDRBnya akan meningkat menjadi 6-7 x di tahun 2030.

Koridor Bali-Nusa Tenggara, PDRBnya meningkat menjadi 7-8 x di tahun

2030.

PDRB Koridor ($ milyar, riil 2000)

7

7--8x8x

137

Koridor Papua, PDRB nya meningkat menjadi 8 - 9 x sampai ke tahun 2030.

PDRB Koridor ($ milyar, riil 2000)

8 8--9x9x 120 7.6% 7.6% 12.4% 12.4%

PDRB Koridor ($ milyar, riil 2000)

6 6--7 x7 x 135 6.7% 6.7% 10.6% 10.6% 6.2% 6.2% 11.3% 11.3%

32

(33)

Target Penyebaran Ekonomi Secara Nasional

Persentase dari PDB Nasional: ~60%

PDRB 6 Koridor Ekonomi diharapkan meningkat sebesar ~6 – 7x

PDRB Koridor ($ milyar, riil 2000)

Dampak di luar Koridor Ekonomi juga diharapkan terjadi

PDRB Koridor ($ milyar, riil 2000)

~6 ~6--7x7x 6% 6% 10.4% 10.4%

Pada 2010 – 2030 :

PDRB untuk daerah-daerah dalam Koridor

Ekonomi akan meningkat sekitar 6 - 7 kali

lipat, atau kurang lebih bertumbuh sekitar

10.4% setiap tahunnya.

Pada tahun 2030, kontribusi PDRB dari

Koridor Ekonomi akan mencapai ~60% dari

total PDB Indonesia.

Tanpa adanya PKEI, PDRB diperkirakan

meningkat 2 -3 kali lipat, atau kurang lebih

bertumbuh sekitar 6% setiap tahunnya.

Selain dampak ekonomi langsung ke dalam

daerah-daerah Koridor Ekonomi, dampak

limpahan juga akan tercipta ke daerah di

luar koridor.

(34)
(35)

Metropolitan Jabodetabek

Definisi

• Yang termasuk dalam areal ini adalah 3 provinsi (yaitu DKI Jakarta, Banten, dan Jawa Barat) dan 12 Kabupaten/ Kota (yaitu, Kota Tangerang, Kab. Tangerang, Kota Tangerang Selatan, 5 Kota di Provinsi DKI Jakarta, Kab. Bekasi, Kota Bekasi, Kab. Bogor, dan Kota Depok).

• Berdasarkan data penduduk terakhir, jumlah populasi areal Metropolitan Jabodetabek ini sekitar 28 Juta jiwa (2010) --- lebih dari 12% penduduk nasional. Metro- politan ini merupakan wilayah perkotaan terbesar di Regional Asia Tenggara.

• Diperkirakan lebih dari 30% penduduk Jabodetabek memiliki income per kapita lebih dari Rp 50 juta atau sekitar US$5.500 per tahun.

Rationale

• Sebagai kawasan yang mengendalikan sekitar 60% aktivitas ekspor-impor nasional serta lebih dari 85% pengambilan keputusan dari lebih 85% masalah- masalah keuangan nasional, kawasan ini memiliki beban aktivitas yang sangat berat dan membutuhkan penataan ruang yang sangat komprehensif.

• Penataan kawasan Metropolitan Jabodetabek melalui pola perencanaan yang komprehensif akan sangat men- dorong efisiensi aktivitas ekonomi sekaligus peningkatan daya saing perekonomian nasional.

• Selain itu, upaya yang sama akan sangat bermanfaat bagi pengurangan beban daya dukung lingkungan, baik untuk kawasan metropolitan ini maupun kawasan- kawasan di sekitarnya, yang saat ini sudah cukup berat.

• Sebagai contoh, pengembangan jaringan transportasi umum yang berkualitas bagi aktivitas komuter dari dan ke pusat kegiatan di DKI Jakarta diperkirakan akan mengurangi pencemaran udara kawasan ini lebih dari 50%.

• Selain itu, oleh karena sekitar 40% kendaraan nasional ada di kawasan ini, penataan jaringan transportasi masal yang baik akan mengurangi secara signifikan besaran subsidi nasional untuk bbm. Jumlah pengurangan subsidi ini akan dapat dimanfaatkan oleh daerah-daerah lain di Indonesia yang lebih membutuhkan

Jakarta

Jakarta’’s landmarks landmark

Sumber: Foto-foto dari Shutterstock dan lain-lain

(36)

Visi 2030

• Kawasan Metropolitan Jabodetabek menjadi salah satu

benchmark bagi pola penataan kota secara regional dan

menjadi pusat pelayanan bisnis terkemuka di Kawasan Asia Tenggara.

• Memiliki pola jaringan transportasi masal yang handal, sistem logistik yang efisien serta merupakan kawasan metropolitan yang ramah lingkungan, nyaman dan aman untuk kehidupan masyarakat.

Target

• Jumlah penduduk di Kawasan Metropolitan Jabodetabek perlu dibatasi tidak melebihi 40 juta jiwa agar bisa di- kembangkan pola penataan ruang yang tidak melebihi daya dukung lingkungannya.

• Pencemaran udara perlu dikurangi menjadi 50% dari kondisi saat ini, sementara itu pencemaran air dan suara perlu dikurangi lebih dari 60% dari kondisi saat ini.

Strategi

• Penyebaran beberapa aktivitas bisnis ke luar DKI Jakarta untuk mengurangi kuantitas perjalanan antar pusat-pusat bisnis di internal Jabodetabek.

Memindahkan pusat pemerintahan ke luar Provinsi DKI Jakarta untuk mengurangi beban pergerakan ke pusat kawasan metropolitan sekaligus untuk kepentingan pengembangan kawasan pusat pemerintahan yang lebih terkonsentrasi dan tertata apik

• Pengembangan sistem jaringan transpormasi masal non- jalan yang handal, nyaman, aman dan murah, terutama untuk aktivitas ulang-alik dari wilayah pinggiran.

• Pengembangan pola intermoda jaringan transportasi masal yang mudah diakses untuk seluruh aktivitas di sekitar pusat-pusat bisnis dan pemerintahan.

• Pengembangan jaringan logistik yang efisien dari pusat- pusat produksi di dalam kawasan maupun dengan pusat- pusat produksi di luar kawasan yang memiliki hubungan erat.

Kemungkinan kedudukan pusat pemerintahan baru

Transformasi Struktur Kota

Metropolitan JABODETABEK

(37)

Katalisator (Enabling Growth)

• Menata manajemen pola penanganan transportasi ke dalam satu kelembagaan di tingkat pemerintah pusat. • Memberikan insentif penyebaran beberapa kegiatan

bisnis ke pusat-pusat baru di wilayah pinggiran kawasan metropolitan

• Pembangunan sejumlah infrastruktur, utamanya adalah:

– Pengembangan Bandara Sukarno – Hatta

– Pengembangan Pelabuhan Tanjung Priok dan kemungkinan penambahan terminal baru di kawasan Pantura

– Pengembangan jaringan transportasi masal kereta api dari kawasan pinggiran ke kawasan pusat metropo-litan dan di dalam kawasan pusat metropolitan.

– Pengembangan jaringan logistik dari pusat-pusat industri di kawasan pinggiran Jabodetabek untuk perbaikan akses ke Pelabuhan Tanjung Priok dan Bandara Sukarno - Hatta.

– Penataan sistem pengendalian banjir dan pembuangan limbah padat dan cair darikawasan-kawasan perumah- an dan kawasan-kawasan industri.

– Pengembangan sumber-sumber baru penyediaan air bersih

– Peningkatan kapasitas penyediaan energi untuk melayani seluruh kebutuhan Kawasan Metropolitan Jabodetabek

• Mendorong kerjasama dengan berbagai pihak, baik dengan pelaku domestik maupun masyarakat internasional, melalui mekanisme yang menjunjung profesionalisme.

• Penataan lingkungan perumahan dan pusat-pusat bisnis untuk perbaikan kondisi kosmik mikro melalui penyedia- an areal terbuka hijau.

“liveable city for every people”

(38)

Jembatan Selat Sunda

(JSS)

• Pada kedua sisinya akan berkembang sejumlah aktivitas bisnis berupa pusat-pusat produksi, pariwisata, ataupun pusat pelayanan angkutan laut yang melayani pelayaran antar benua ataupun menjadi salah satu pusat distribusi nasional.

• Pengembangan pusat-pusat bisnis tersebut akan terin- tegrasi dengan pembangunan Jembatan Selat Sunda dan kawasannya menjadi Kawasan Strategis Selat Sunda yang merupakan salah satu dari Kawasan Strategis Nasional.

Rationale

• Jawa dan Sumatera merupakan representasi dari lebih 60% kegiatan ekonomi nasional. Terdapatnya jembatan antara 2 (dua) pusat pertumbuhan tersebut akan mentranformasi hubungan ekonomi antara kedua pula besar tersebut dan menjadi pendorong perkembangan ekonomi nasional menuju negara yang maju.

• Pada saat ini, Sumatera yang kaya sumberdaya alam belum optimal berfungsi sebagai “pintu gerbang Indo- nesia ke Asia dan Eropa”. Bahkan sebagian besar dari kekayaan sumberdaya alamnya diekspor dalam bentuk bahan baku, tidak diproses menjadi produk bernilai tambah tinggi.

• Pengembangan ekonomi Pulau Sumatera membutuhkan keberadaan Jembatan Selat Sunda untuk memantapkan perannya sebagai antara lain lumbung energi nasional. • Di lain pihak, intensitas aktivitas ekonomi Pulau Jawa

yang sudah demikian besar dan seringkali melewati batas ambang daya dukungnya membutuhkan outlet. Tanpa adanya infrastruktur pendukung yang memadai, kepasitas interkoneksi yang telah ada saat ini terbatas untuk bisa memfungsikan Sumatera secara optimal sebagai penerima limpahan kemajuan ekonomi Pulau Jawa.

Visi 2030

• Dari persiapan yang telah dilakukan sampai saat ini, Jembatan Selat Sunda direncanakan akan mulai beroperasi pada tahun 2025. Jembatan ini akan menjadi salah satu jembatan suspensi yang terpanjang di dunia (lebih dari 42 km dan ketinggian tiang tertinggi akan mencapai sekitar 150m).

Kawasan

Kawasan

Strategis

Strategis

Selat Sunda

Selat Sunda

Deliniasi Pengembangan

(hipotetis)

JS

S

38

(39)

Target

• Merupakan proyek kegiatan berskala besar yang pelak- sanaannya dipimpin oleh anak bangsa.

Katalisator (Enabling Growth)

• Penetapan aturan khusus untuk pola prokurmen dan pengusahaan Jembatan Selat Sunda dan kawasan- kawasan di sekitarnya.

• Pembentukan Badan/Otoritas khusus yang didirikan untuk pembangunan dan pengelolaan kawasan dengan mengikutsertakan keterlibatan Pemerintah Provinsi terkait, BUMN, BUMD, dan mitra strategis.

• Merupakan penyelenggaraan aktivitas pembangunan yang mengedepankan keterlibatan dunia usaha dengan fasilitasi khusus dari Pemerintah.

• Memberikan insentif pengembangan aktivitas ekonomi dengan mendorong pembentukan klaster industri yang bisa ditingkatkan menjadi Kawasan Ekonomi Khusus.

Jembatan

Jembatan

Selat Sunda

Selat Sunda

(artist impression) (artist impression) Sumber: PT. BSM

39

(40)

Kelapa Sawit

Prospek Sektor

Kelapa sawit adalah sumber minyak nabati terbesar yang dibutuhkan oleh berbagai industri di dunia. Kebutuhan kelapa sawit terus mengalami pertumbuhan pesat sebesar 5% per tahun. Pemenuhan kebutuhan kelapa sawit dunia tersebut sangat tergantung pada Indonesia yang saat ini produksinya telah mencapai ~46% dari total produksi CPO di dunia sehingga menempatkan Indonesia sebagai produsen CPO nomor satu di dunia.

Kondisi Saat Ini

Industri kelapa sawit memberikan kontribusi ekonomi yang besar baik di tingkat regional maupun nasional. Sekitar 73% produksi kelapa sawit Indonesia dihasilkan di Sumatera. Meskipun potensi yang cukup besar terdapat juga di Kalimantan. Selain kontribusinya terhadap perekonomian, sektor kelapa sawit juga mampu menyediakan lapangan kerja yang luas. Hal ini disebabkan karena sekitar 42% lahan kelapa sawit dimiliki oleh petani kecil. Tingkat produktivitas CPO yang dikelola oleh masyarakat masih cukup rendah yaitu sekitar 3,4 ton/ha. Sementara rata-rata produktivitas nasional Indonesia adalah 3,8 ton/ha, dan akan lebih rendah lagi jika dibandingkan dengan rata- rata tingkat produktivitas CPO di Malaysia yang telah mencapai 4,6 ton/ha

Strategi dan Arahan Mendatang

1. Meningkatkan produktivitas lahan

Koridor Sumatera memiliki peluang besar untuk meningkatkan produksinyai dengan meningkatkan produktivitas CPO dari luas lahan yang ada. Peluang tersebut dapat terlihat dengan membandingkan produktivitas Indonesia yang lebih rendah dengan negara lain. Rendahnya produktivitas terutama ditemui pada petani kecil yang cenderung menggunakan teknik lebih sederhana dibanding perusahaan besar.

Produktivitas CPO (ton/hektar), 2009

8 6 4 0 4.1 Pemerintah Swasta 4.2 3.8 4.6 7.0 Petani kecil 3.4

Indonesia masih berpotensi untuk meningkatkan produktivitas CPO

Sumber: BPS (Statistik Kelapa Sawit Indonesia), industry report, USDA FAS

42,6 4,4 1,2 17,5 19,5 0 20 40 60

Indonesia Malaysia Thailand Others Total

Produksi kelapa sawit (CPO), 2008 (Juta T)

46%

46% 41%41% 3%3% 10%10%

Persentase produksi (%)

(41)

Pemerintah dapat membantu meningkatkan produktivitas lahan, terutama petani kecil, dengan menyediakan bantuan keuangan, badan industri dan lembaga pendidikan yang akan saling membantu petani kecil menggunakan bibit, alat-alat dan metode pertanian yang lebih maju.

2. Meningkatkan posisi strategis di bagian hilir

Industri hilir utama dalam mata rantai industri kelapa sawit antara lain perkilangan, oleo-kimia, dan biodiesel. Kapasitas produksi di Indonesia untuk semua industri hilir tersebut saat ini sudah cukup untuk memenuhi kebutuhan global, sehingga kebutuhan investasi relatif minim.

Namun demikian, pengembangan industri hilir sangat dibutuhkan untuk mempertahankan posisi strategis sebagai penghasil hulu sampai hilir, sehingga dapat menjual produk yang bernilai tambah tinggi.

3. Memperkuat infrastruktur

Kualitas konektivitas jalan dan/atau kereta api perlu ditingkatkan untuk dapat meningkatkan produktivitas CPO.

Sebagian besar produksi CPO akan diangkut melalui laut, oleh karena itu pelabuhan memegang peran kunci dalam industri kelapa sawit. Kapasitas pelabuhan utama kelapa sawit perlu ditingkatkan, sebab saat ini sudah terjadi kepadatan dengan waktu tunggu mencapai 3-4 hari. Selain itu, kualitas dan proses pelayanan pelabuhan juga perlu untuk ditingkatkan.

Target Peningkatan

Nilai

Terdapat potensi peningkatan nilai yang signifikan dari pengembangan kelapa sawit, yaitu tambahan sebesar $2.8 milyar sampai dengan $4.2 milyar dari kondisi saat ini. Potensi peningkatan nilai tersebut terutama berasal dari pengembangan industri hulu melalui pengembangan lahan yang selektif, konversi lahan produktif, dan peningkatan produksi CPO.

Jakarta Medan Pekanbaru Jambi Lampung Serang Belawan Palembang

Pengembangan klaster industri

Pengembangan klaster industri

kelapa sawit Sei Mangkei

kelapa sawit Sei Mangkei

Dumai Pekanbaru

Jambi

Tanjung Api Api

Pengembangan klaster

Pengembangan klaster

industri kelapa sawit Dumai

industri kelapa sawit Dumai

Pontianak Pangkalan Bun Banjarmasin Samarinda Bontang Balikpapan Kumai Palangka Raya Pelabuhan

Rel kereta Area perkebunan kelapa sawit

Penggilingan kelapa sawit

Penyulingan kelapa sawit Industri hilir kelapa sawit

Pengembangan klaster

Pengembangan klaster

industri kelapa sawit Maloy

industri kelapa sawit Maloy

(42)

Katalisator (growth enabler)

Untuk mencapai target peningkatan nilai tersebut, dibutuhkan beberapa dukungan pemerintah dalam bentuk non-infrastruktur (Katalisator) sebagai berikut:

1. Membentuk Badan Industri

Untuk meningkatkan penelitian dan pengembangan bibit dan metode perkebunan kelapa sawit, memberikan informasi mengenai kondisi pasar regional/global serta teknik perkebunan yang lebih maju. Badan ini juga mengkaji pemberian insentif pengembangan sektor melalui masukan kebijakan (misalnya) pemanfaatan dana yang dikumpulkan dari Biaya Keluar melalui perumusan program yang transparan.

2. Menyediakan Bantuan Finansial

Untuk pembelian bibit yang berkualitas dan peralatan yang diperlukan untuk mendorong penggunaan metode perkebunan yang lebih produktif. Diberikan kepada petani kecil

3. Memberikan pendidikan dan pelatihan

Untuk pekerja di bidang kelapa sawit untuk meningkatkan kemampuan dalam proses perkebunan yang lebih produktif.

4. Mendorong terbentuk klaster industri yang terintegrasi

Dengan areal perkebunannya untuk porogram hilirisasi yang dalam perkembangannya bisa ditingkatkan menjadi Kawasan Ekonomi Khusus

5. Menguatkan regulasi & perencanaan

Produk hukum yang berkaitan dengan perlindungan lingkungan, terutama pembedaan antara lahan hutan lindung dan lahan untuk pertanian/perkebunan, perlu diperjelas, sehingga perluasan lahan dapat dilakukan secara berkesinambungan

Kebutuhan Infrastruktur

Kebutuhan infrastruktur yang mendesak adalah :

1. Peningkatan kapasitas pelabuhan utama (hub) kelapa sawit, yaitu Dumai berdasarkan masukan dari pelaku industri kelapa sawit. Selain itu beberapa pelabuhan lainnya yang perlu ditingkatkan kapasitasnya adalah di Medan, Palembang, dan Jambi untuk Sumatera dan pelabuhan Maloy di Kalimantan. 2. Kereta api kelapa sawit yang terhubung langsung dengan

pelabuhan akan membantu meningkatkan produktivitas kelapa sawit terutama untuk daerah Riau yang perkebunannya terkonsentrasi.

3. Akses jalan yang baik diperlukan dari perkebunan ke penggilingan, dan dari penggilingan ke pelabuhan termasuk perbaikan jembatan/ flyover

4. Hasil sampingan kelapa sawit dapat digunakan sebagai sumber energi sehingga kebutuhan energi tidak mendesak untuk industri kelapa sawit. Namun demikian di beberapa daerah seperti di Dumai dan Maloy masih diperlukan adanya pembangkitan listrik untuk menunjang industri kelapa sawit 5. Dukungan air bersih dan pengolahan air limbah

(43)

Karet

Prospek Sektor

Karet adalah komoditas strategis yang digunakan di berbagai industri. Saat ini Indonesia adalah produsen terbesar kedua dunia setelah Thailand, dan diproyeksikan menjadi produsen terbesar setelah tahun 2015.

Kondisi Saat Ini

Industri karet adalah industri yang memiliki nilai tambah besar dari hulu sampai hilir. Produksi karet indonesia pada tahun 2010 mencapai 3,2 juta ton dan diproyeksikan mampu mencapai 4,4 juta ton pada tahun 2020. Dalam produksi karet mentah dari perkebunan, Sumatera adalah produsen terbesar di Indonesia dan masih memiliki peluang peningkatan produktivitas. Dalam usaha pemrosesan karet mentah, fasilitas yang ada sudah mencukupi, namun keberadaan perantara menghasilkan harga yang tidak menguntungkan bagi petani.

Strategi dan Arahan Mendatang

Sumatera memiliki peluang sangat besar untuk pengembangan industri hilir karet, terutama industri ban dan sarung tangan. Keberadaan karet mentah di Indonesia akan menguatkan daya saing terhadap negara industri karet lainnya, yang harus mengimpor karet mentah tersebut. Oleh karena itu strategi yang harus dilakukan adalah:

1.Hulu: Menaikkan produktivitas melalui penanaman ulang

Sumatera memiliki peluang besar untuk meningkatkan produktivitas lahan yang ada. Produktivitas lahan karet di Indonesia masih lebih rendah dibandingkan dengan negara lain. Sebagai bandingan, produktivitas lahan matang di Indonesia adalah 993 kg/ha, sedangkan India telah mencapai 1903 kg/ha, Thailand 1699 kg/ha, dan Malaysia 1411 kg/ha. Rendahnya produktivitas tersebut merupakan kontribusi dari pada petani kecil yang sebagian besar mengelola lahan karet dan cenderung menggunakan teknik yang sederhana dibanding perusahaan besar.

Proyeksi Produksi Karet ('000 ton)

+4% Thailand Indonesia Malaysia India China Vietnam Others 2020 13,003 2015 11,648 2010 10,481 2005 8,389 2000 6,070

Sumber: Laporan industri karet IRSG

780 1.140 1.120 0 500 1.000 1.500 Petani kecil Swasta Pemerin- tah

Produktivitas (Kg per Ha)

Sumber: BPS (Statistik Karet Indonesia)

Sebagian besar dari lahan karet dikelola petani kecil

Produksi karet ('000 ton)

+11% +11% 2007 2,755 2006 2,637 2005 2,271 2004 2,066 2003 1,823 2002 1,630 Perkebunan rakyat Swasta Pemerintah

43

(44)

2. Hilir: Mengembangkan industri ban dan sarung tangan

Industri ban adalah industri hilir terbesar di Indonesia yang menggunaan karet (60% total konsumsi karet). Perkembangan industri ban di Indonesia sangat pesat dengan pertumbuhannya yang mencapai 22% per tahun. Satu-satunya tantangan dalam industri ban adalah fluktuasi yang dapat terjadi seiring dengan adanya resesi global.

Selain industri ban, industri sarung tangan adalah salah satu industri hilir karet yang berpotensi tinggi untuk dikembangkan. Walaupun ukuran pasar sarung tangan lebih kecil daripada ban, namun permintaan pasar industri sarung tangan relatif lebih stabil dibanding industri ban.

3. Menguatkan dukungan infrastruktur

Pengembangan kapasitas pelabuhan merupakan kebutuhan infrastruktur yang penting untuk industri karet. Hasil produksi karet membutuhkan pelabuhan sebagai pintu gerbang ekspor maupun konsumsi dalam negeri. Waktu tunggu yang lama di pelabuhan saat ini adalah keluhan utama para pengusaha karet. Untuk mengembangkan industri hilir karet yang akan mengkonsumsi energi dalam jumlah besar, penambahan kapasitas kelistrikan sangatlah dibutuhkan. Saat ini pasokan listrik untuk Sumatera masih dirasa kurang memadai.

Untuk memperlancar transportasi karet dan produk olahannya, maka jaringan logistik darat antara perkebunan, sentra pengolahan dan pelabuhan juga harus diperbaiki.

Target Peningkatan Nilai

Peningkatan nilai dari pengembangan produksi karet ditargetkan memperoleh tambahan sebesar $0.8 milyar sampai dengan $1.6 milyar dari kondisi saat ini. Potensi peningkatan nilai tersebut berasal dari penanaman ulang tanaman karet dan pengembangan industri hilir terutama industri ban dan sarung tangan.

Wilayah produksi karet tersebar

merata sepanjangkoridor Pemrosesan karet Industri hilir karet

Pelabuhan Jakarta Serang Medan Pekanbaru Jambi Lampung Belawan Dumai

Tanjung Si Api Api

Palembang Pekanbaru Jambi 100 7 6 12 14 61 0 25 50 75 100

Penggunaan Karet untuk industri Pengolahan (%)

Sarung Tangan

Total Ban Alas Industri Lain-lain

Kaki

Industri sarung tangan tidak terlalu tergantung pada kondisi ekonomi dunia Industri ban sangat tergantung kondisi ekonomi dunia

Sumber: Wawancara ahli, laporan analis, BCG; analisa tim

Koridor Sumatera

(45)

Katalisator (Enabling Growth)

Untuk mencapai target peningkatan nilai yang telah diindikasikan tersebut, dibutuhkan beberapa dukungan pemerintah dalam bentuk non-infrastruktur (Katalisator) sebagai berikut:

1. Menyediakan subsidi untuk penanaman ulang

Metoda penanaman ulang sangat dibutuhkan untuk meningkatkan produktivitas lahan secara signifikan. Namun, metoda tersebut berdampak pada kehilangan pemasukan bagi para petani karet selama 5-6 tahun sampai lahan mereka matang kembali. Bantuan pemerintah dibutuhkan untuk membantu petani kecil dalam penyediaan bibit hingga program penanggulangan kehilangan pendapatan para petani akibat diterapkannya program tersebut.

2. Membentuk badan industri karet

Untuk meningkatkan produktivitas lahan para petani kecil melalui litbang industri karet dan pengembangan koperasi petani kecil yang dapat menggantikan peran tengkulak.

3. Menyediakan layanan satu pintu bagi penanam modal

Untuk memfasilitasi proses investasi ke industri hilir karet yang biasanya membutuhkan investasi yang besar baik dari asing maupun domestik.

4. Menguatkan standar tata kelola perizinan

Untuk meningkatkan efisiensi dalam tata kelola perizinan yang pada akhirnya akan menciptakan iklim investasi yang lebih menarik.

Kebutuhan Infrastruktur

Kebutuhan infrastruktur yang mendesak adalah :

1.Peningkatan kapasitas pelabuhan utama (hub) karet, yaitu Dumai berdasarkan masukan dari pelaku industri karet. Selain itu beberapa pelabuhan lainnya yang perlu ditingkatkan kapasitasnya adalah pelabuhan di Medan, Palembang, dan Jambi .

2.Pembangunan akses jalan untuk menghubungkan pusat industri karet dengan pelabuhan.

3.Untuk meningkatkan produktivitas, ketersediaan energi listrik sangat dibutuhkan terutama pada industri hilir karet.

(46)

Batubara

Prospek Sektor

Indonesia adalah eksportir batubara terbesar di dunia (~ 25% dari total ekspor batubara dunia). Produksi batubara Indonesia diperkirakan akan terus meningkat, baik untuk ekspor maupun konsumsi dalam negeri.

Kondisi Saat Ini

Produksi batubara nasional saat ini sebagian besar berasal dari Kalimantan sekitar 90% sedangkan sisanya sebesar 10% berasal dari batubara Sumatera. Namun demikian cadangan batubara di Sumatera mencapai 50% dari cadangan nasional. Kondisi ini menunjukkan masih rendahnya produksi batubara terutama di Sumatera. Tiga alasan utama rendahnya produksi saat ini adalah: (1) Sumatera memiliki banyak batubara kualitas rendah, (2) lokasi tambang yang jauh di tengah pulau, dan (3) kurangnya sarana rel kereta untuk menjangkau lokasi tambang. Ketiga faktor tersebut membuat penambangan batubara di Sumatera dan Kalimantan menjadi kurang ekonomis. Oleh karena itu, dengan dukungan infrastruktur yang memadai, produksi batubara akan dapat ditingkatkan secara pesat.

Strategi dan Arahan Mendatang

1. Mengembangkan jaringan rel kereta

Untuk menggali potensi batubara kualitas rendah, terutama di wilayah Sumatera Selatan bagian tengah, dibutuhkan terobosan dalam bentuk infrastruktur rel kereta api yang dapat digunakan untuk mengangkut batubara. Sementara di Kalimantan, terobosan dlakukan dengan pembanguan infrastruktur rel kereta api yang dihubungkan dengan sungai. Saat ini, penambangan batubara kualitas rendah tidak ekonomis karena jarak yang jauh dan biaya transportasi yang besar menggunakan sarana jalan. Dengan menggunakan sarana rel kereta api, diperkirakan bahwa biaya transportasi akan menurun sampai dengan tingkat yang menguntungkan untuk penambangan batubara kualitas rendah tersebut.

Konsumsi dan ekspor batubara Indonesia

diproyeksikan bertumbuh pesat

Konsumsi dan ekspor

batubara Indonesia (Juta Ton)

+6% +6% Domestik Ekspor 2020 366 2015 325 2010 254 2008 190 50 50

Sumatera dan Kalimantan masing-masing

memiliki 50% cadangan, namun baru 10%

produksi nasional

0,4 51,9 52,4 0 30 60 90 120 Cadangan batubara, 2009 (Milyar Ton) To ta l 104.4 La in - lain Ka lim a ntan Su m a te ra 190 170 20 0 50 100 150 200 Produksi batubara, 2009 (Juta Ton) To ta l Ka lim a ntan Su m a te ra

Sumber: Kementerian ESDM, laporan analis, Reuters

Sumber: Indonesia Coal Book

(47)

Di Sumatera, sarana rel kereta api yang akan dikembangkan akan menghubungkan tambang-tambang yang terkonsentrasi di sekitar kabupaten Lahat dengan pelabuhan utama batubara di Lampung dan Palembang.

Di Kalimantan, pengembangan rel kereta api di Kalimantan Tengah harus diintegrasikan dengan transportasi sungai yang sudah ada. Biaya transportasi melalui rel kereta api dan sungai tidak berbeda jauh, sehingga akan sangat ekonomis untuk menggabungkan kedua sarana transportasi tersebut. Jaringan rel kereta api untuk daerah Puruk Cahu dan sekitarnya sebaiknya dihubungkan dengan dua sungai besar, yaitu Barito dan Mahakam.

2. Mengolah batubara ke produk bernilai tambah lebih tinggi

Batubara yang digali di Sumatera sebaiknya tidak langsung diekspor sebagai komoditas mentah, tetapi diolah menjadi produk bernilai tambah lebih tinggi, sepertii konversi listrik, upgraded coal, atau produk petrokimia. Salah satu metode pengolahan yang sangat cocok di Sumatera Selatan adalah PLTU mulut tambang. Hal ini disebabkan oleh biaya pengangkutan yang relatif tinggi dan kesulitan dalam mengangkut batubara kualitas rendah yang banyak terdapat di Sumatera Selatan. Listrik yang dihasilkan kemudian dapat disalurkan ke bagian Sumatera lain maupun pulau Jawa secara lebih ekonomis.

3. Membina iklim usaha batubara yang lebih kondusif

Iklim usaha batubara di Kalimantan saat ini masih memiliki beberapa tantangan yang harus diatasi untuk mengembangkan batubara secara optimal. Beberapa perubahan pada regulasi tambang, seperti penggunaan model lisensi disertai tender, menimbulkan keraguan pada investor. Di samping itu, masih belum adanya sinergi antar pengusaha tambang, sehingga masing-masing pengusah a mengembangkan infrastruktur sendiri-sendiri. Sebuah model konsorsium dapat digunakan, seperti yang digunakan di Australia, di mana beberapa perusahaan berbagi sabuk conveyor, rel kereta dan jalan yang sama , sehingga dapat meningkatkan efisiensi. Jakarta Medan Pekanbaru Jambi Lampung Serang Tanjung Siapiapi Panjang Palembang Pelabuhan

Jalur kereta api (di Kalimantan, menghubungkan lokasi tambang dengan sungai)

Lokasi batubara Konsesi batubara Wilayah fokus batubara

Pontianak Palangka Raya Banjarmasin Samarinda Bontang Balikpapan River Puruk Cahu Mahakam Barito River Bangkuang Tj. Isuy

Koridor Sumatera

Koridor

Kalimantan

47

Gambar

Gambar IV.4 Peta Cadangan Minyak Bumi Indonesia (Status 1 Januari 2009)Di masa yang akan datang, terdapat peluang

Referensi

Dokumen terkait

Sedangkan untuk abu cangkang kerang mengandung senyawa CaCO3 yang merupakan unsur yang ada di dalam batu kapur sehingga kedua bahan yaitu abu sampah dan abu

Karena itu untuk memperoleh suatu kondisi transportasi yang baik dalam arti aman, murah, cepat dan nyaman, tidak terlepas dari interaksi tiga elemen yang merupakan sistem tata

Hasil pengujian menunjukkan bahwa terdapat variasi penghambatan antarbakteri antagonis yang akan digunakan dalam program pengendalian hayati penyakit lincat��� Hampir separuh isolat

1) Kualitas pelayanan berpengaruh positif dan signifikan terhadap loyalitas nasabah PT. BPR Berkah Pakto. Artinya, semakin baik kualitas pelayanan yang diberikan oleh PT.

Karena pada proses elektrokoagulasi terjadi proses elektrolisis air yang menghasilkan gas hydrogen dan ion hidroksida, dengan semakin lama waktu kontak yang digunakan,

217 Al-Nawawi menyatakan bahawa sepakat jumhur umat Islam dalam kalangan para sahabat, tabicin dan selepas mereka antaranya ulama hadis, ulama fikah dan ulama

Erechtheum Erechtheum Erechtheum adalah suatu Kuil bersifat ion yang berdiri utara untuk Parthenon pada [atas] Athens' Acropolis.. yang ditantang Oleh [tanah/landasan] tidak