100
Oleh, Dra. Hj. Ramlah M. MM*
Abstrak: Agama dan pluralitas sosisial merupakan suatu tantangan dalam upaya dalam mendamaikan dan mengkompromikan, betapa tidak di satu pihak sikap beragama cenderung menggiring pengikutnya untuk berposisi sebagai fanatis, eksklusivist, dan tertutup; sedang di pihak lain fenomena pluralitas mendorong warga masyarakat untuk bersikap terbuka, saling menghargai dan menerima baik segala bentuk keragaman. Namun demikian tidaklah berarti bahwa pola hidup yang bernuansa pluralistis sama sekali tertutup, penerapannya di kalangan warga masyarakat yang taat terhadap ajaran agama. Sebab diketahui bahwa semua agama pasti memiliki titik temu dalam sisi universalitas di bidang-bidang: Worship (peribadatan, penyembahan), divorce (ketaatan), sacrified (pengorbanan), fietist (kesalehan), dan good deed and good common living (perbuatan baik dan hidup bersama dengan baik). Tujuan utama yang ingin dicapai semua agama khususnya dalam hal kebaikan dan keselamatan itulah yang merupakan nilai universal yang mempertemukan semua agama dan sekaligus menjadi legitimasi (pembenar) bagi pihak-pihak yang meyakini adanya kesamaan dalam keragaman di bidang hidup keagamaan.
Kata-kata Kunci: Pendidikan Multikultural, Problematika konflik Sosial
I. Pendahuluan
Berbicara tentang pluralitas, apalagi dikaitkan dengan tinjauan terhadap sikap hidup beragama, merupakan suatu tantangan dalam upaya untuk mendamaikan atau setidak-tidaknya mengkompromikan sesuatu yang memang pada dasarnya selalu saling berhadap-hadapan. Betapa tidak, di satu pihak sikap beragama cenderung menggiring pengikutnya
*
untuk berposisi sebagai fanatis, eksklusivist, dan tertutup; sedang di pihak lain fenomena pluralitas mendorong warga masyarakat untuk bersikap terbuka, saling menghargai dan menerima baik segala bentuk keragaman. Agama menuntut ketundukan dan ketaatan secara penuh dan seseorang baru dapat disebut sebagai memeluk agama secara baik jika ia menyerahkan kepentingan hidupnya secara total diatur menurut tuntunan agama yang ia anut. Di sini nampak adanya tantangan terhadap masing-masing penganut agama untuk bersikap panatik terhadap prinsip agama mereka masing-masing sekaligus terdorong ke arah penerapan sikap hidup yang bercorak eksklusivistis dalam berbagai sisi kehidupan.
Dengan demikian dapat dikatakan bahwa semakin tinggi kualitas ketaatan beragama seseorang, semakin kental pula sikap panatisme terhadap ajaran agama yang ia anut dan sekaligus berarti bahwa semakin sulit pula untuk dapat menerapkan pola hidup yang menerima nilai-nilai pluralistis.
Namun demikian tidaklah berarti bahwa pola hidup yang bernuansa
pluralistis sama sekali tertutup, untuk tidak menyebut mustahil,
penerapannya di kalangan warga masyarakat yang taat terhadap ajaran agama. Sebab diketahui bahwa semua agama pasti memiliki titik temu dalam sisi universalitas di bidang-bidang: Worship (peribadatan, penyembahan), divorce (ketaatan), sacrified (pengorbanan), fietist (kesalehan), dan good deed and good common living (perbuatan baik dan hidup bersama dengan baik). (Joahim Wach, 1978:38).
Niali-nilai universal dalam ajaran agama-agama itulah yang sangat perlu dikembangkan sehingga terwujud masyarakat yang harmonis karena, di satu pihak saling mengahargai dan saling “berpadu” dalam keragaman, dan di pihak lain saling menjaga ketaatan beragama sesuai ajaran agama mereka masing-masing.
Jika itu terwujud, maka nuansa pluralitas dalam segi keragaman pemeluk agama justeru menjadi pupuk penyubur bagi pertumbuhan keharmonisan warga masyarakat karena saling menghargai serta saling menjaga diri sekaligus tidak terperangkap dalam sikap hidup yang memuja
pluralisme.
II. Agama Antara Ekslusivisme dan Inklusivisme A. Eksklusivisme
Penulis maksud sebagai eksklusivisme di sisni ialah faham atau sikap tertutup yang ditunjukkan oleh penganut agama dengan tidak
meperdulikan sikap menerima, bahkan tidak mau membaur dengan, orang-orang yang tidak sekeyakinan di bidang agama, dan tidak sealiaran di bidang ideologi. Ketertutupan tersebut muncul dari persepsi bahwa bergaul atau menerima pihak-pihak yang tidak seide pada gilirannya akan menimbulkan dampak negatif bagi kelestarian maupun kelangsungan keyakinan hidup di masa depan. Akibatnya, terjadi social distance (jarak sosial) di antara warga komunitas yang tidak sealiran. Dan keadaan demikian sekaligus merupakan pangkal bagi timbulnya kerawanan sosial khsusnya di antara warga masyarakat yang berbeda keyakinan (agama) maupun ideologi politik.
Bagi yang menganut sikap eksklusivisme, hubungan emosional di kalangan sesama aliran dan keyakinan nampak amat kokoh sebab ada
inner bound (ikatan batin) yang mempersatukan mereka yaitu kesamaan
dalam ide dan keyakinan. Dengan demikian maka hubungan batin di antara sesama warga sekeyakinan dan sealiran tersebut merupakan pendorong utama bagi terpeliharanya kekokohan ikatan emosinal di antara mereka. Melalui sikap eksklusivisme itu, maka di satu pihak wadah persatuan dan kesatuan dengan sesama penganut keyakinan agama atau aliran ideologi politik tertentu akan terus menguat, dan di pihak lain ikatan emosional dengan pihak-pihak yang tidak sekeyakinan dan tidak sealiran ideologi menjadi semakin renggang dan lemah.
Keadaan buruk berupa lemahnya hubungan emosional di kalangan warga masyarakat yang saling berbeda keyakinan dan ideologi politik tersebut lambat laun akan berujung pada melemahnya hubungan intergritas bengsa.
Sikap eksklusivisme dalam kehidupan beragama dapat dihindari dengan membangun kesadaran di kalangan para penganut agama dan keyakinan maupun ideologi politik bahwa keragamaan dan kebersamaan adalah sudah menjadi kebutuhan dalam kehidupan dunia modern. Sebab kenyataan tidak dapat diingkari bahwa semakin majunya prestasi ilmu dan teknologi, maka batas pemisah antar wilayah domisili semakin mudah terlampaui. Selain itu, fenomena saling membutuhkan antar warga masyarakat baik yang bersamaan latar belakang kehidupan dan keyakinan maupun yang berbeda terasa semakin mendesak. Dengan demikian amat dibutuhkan semangat kebersamaan dan saling menghargai serta saling menerima sambil tidak merusak identitas maupun prisnsip hidup masing-masing.
B. Inklusivisme
Sikap dan cara pandang dalam menjalani hidup secara inklusivisme muncul dalam bentuk penerimaan keragaman dalam hidup. Keragaman itu mislanya dalam keyakinan agama, adat-istiadat dan latar belakang budaya, bahasa, suku bangsa maupun ras. Dengan memakai cara pandang yang bercorak inklusivisme, semangat kebersamaan akan tumbuh subur dan berkembang ke arah yang lebih positif. Sebab setiap warga masyarakat memperlihatkan sikap saling menerima, saling menghargai, dan saling memberi.
Sekalipun demikian sikap inklusivisme ini harus dikawal dengan upaya maksimalisasi pemahaman agama secara positif sehingga tidak mengarah kepada lahirnya bentuk keyakinan yang bersifat sinkretisme yaitu perpaduan yang tak mengenal batas pemisah antara sumber-sumber kayakinan yang berbeda. (Gerald O’Collins, SJ. dan Edward G. Farrugia, SJ, 1996:298).
III. Fenomena Pluralitas Keagamaan dalam Kehidupan Sosial
A. Agama dan Pluralitas
Diketahui dengan baik bahwa semua agama, dari mana pun asalnya, dan siapapun pembawanya, pasti bertujuan untuk mengantarkan para pengikut atau pemeluknya ke arah kebaikan dan keselamatan.
Tujuan utama yang ingin dicapai semua agama khususnya dalam hal kebaikan dan keselamatan itulah yang merupakan nilai universal yang mempertemukan semua agama dan sekaligus menjadi legitimasi (pembenar) bagi pihak-pihak yang meyakini adanya kesamaan dalam keragaman di bidang hidup keagamaan. Dan itu pulalah yang menjadi dasar bagi orang-orang yang meyakini adanya doktrin pluralitas pada semua agama.
Memang harus diakui bahwa di mana-mana kondisi pluralistik telah terjadi, namun masih sering menjadi persoalan. Lebih jauh Richard J. Mouw menyatakan bahwa pluralisme merupakan faham tentang kemajemukan. Dalam pengertian ini, pluralistik dapat dikondisikan ketika seseorang berkeyakinan bahwa “yang bercorak banyak” itu adalah sesuatu yang berupa anugerah dan oleh karenanya harus diterima. (Richard J. Mouw and Sander Griffioen, 1993:13)
Di sisi lain, Harold Coward mengingatkan tentang kenyataan yang telah berbicara bahwa setiap agama muncul dalam lingkungan yang plural, bersanding dengan agama-agama lain, membentuk dirinya dan eksis.
Namun tidak sedikit menimbulkan tantangan yang perlu disikapi secara arif (bijak) namun tantangan itu sendiri di samping muncul dalam bentuk “krisis” juga sekaligus merupakan peluang bagi perkembangan rohani. (Harold Coward, 1992:167-168).
Mencermati kenyataan sebagaimana yang dikemukakan oleh Coward di atas, dapat difahami bahwa pluralitas dalam kehidupan beragama adalah memang berpotensi menimbulkan komplik, atau setidak-tidaknya membawa krisis. Tapi jika hal itu dihadapi secara arif, maka keragaman tersebut dapat medatangkan berkah bahkan sekaligus merupakan rahmat.
Dalam agama Islam, lebih khusus lagi dalam al-Qur’an ada empat tema pokok yang menjadi kategori utama tentang pluralisme agama, yaitu masing-masing: (1) tidak adanya paksaan dalam beragama; (2) pengakuan atas eksistensi agama-agama; (3) kesatuan kenabian; dan (4) kesatuan pesan ketuhanan. (Fatimah Usman, Wahdah Al-Adyan, 2002:70).
Dari pemaparan di atas diketahui bahwa agama-agama, termasuk agama Islam, memang memiliki tantangan yang tidak ringan ke depan. Salah satu di antara tantangan berat itu ialah fenomena pluralisme dalam dunia global ini. Untuk itu diperlukan pandangan teologis yang dapat dipertanggung jawabkan secara filosfis, dan dapat dilaksanakan dalam tataran etis, sebagai “bekal hidup” ke depan. Dan agar tidak salah kaprah dalam menyikapi fenomena pluralitas ini, amat perlu kiranya ditempuh langkah penelusuran terhadap sejarah perjumpaan agama-agama di masa kejayaan pemerintahan Islam di masa silam.
B. Agama dan Kehidupan Sosial
Telah diketahui oleh setiap menusia yang berpikir normal bahwa agama adalah tata aturan yang ditetapkan oleh Penguasa Tunggal (Zat Yang Transendent) disampaikan kepada umat manusia melalui Rasul pilihanNya, untuk diterapkan dalam mengatur kehidupan mereka agar terhindar dari kekakacauan, malapetaka, dan kebinasaan. (A. Mukti Ali, 1975:6).
Jika dirumuskan dengan kalimat lain, maka agama sebenarnya bertujuan untuk mewujudkan kehidupan yang bahagia bagi masyarakat yang mengamalkan atau yang menerapkan ajarannya.
Khusus dalam ajaran agama Islam, dalam kaitannya dengan kewajiban memenuhi tuntunan agama dalam kehidupan, manusia ditempatkan pada dua posisi terhormat dalam waku yang bersamaan, yakni dalam kehidupan mereka di dunia ini. Posisi pertama, sebagai ’abid
(hamba yang menyembah) atau manusia penyembah, yang dituntut untuk membuktikan status kehambaan diri mereka di hadapan Penciptanya yaitu Allah swt. Ketundukan dan ketaatan manusia dalam memenuhi petunjuk Allah swt. dalam kehidupan, harus dilakssanakan secara sadar dan selalu berada dalam lingkaran niat beribadah ke padaNya.
Sedang posisi kedua, ialah sebagai khalifah (wakil, atau pemegang mandat kekuasaan), yang harus memakmurkan dan menjaga keseimbangan dalam kehidupan di bumi ini. Dalam posisi ini manusia adalah pelaku utama untuk mewujudkan kemakmuran dan penjaga keselamatan dalam kehidupan ini.
Dengan demikian jelas bahwa fungsi sosial bagi agama, khususnya Islam, amat besar. Sebab dengan penekanan bahwa manusia sebagai
khalifah (wakil) Allah swt di bumi yang memegang mandat sebagai
pelaku utama untuk memakmurkan kehidupan di bumi serta menyelamatkan isinya dari kebinasaan atau kerusakan, lalu manusia itu memenuhi misi kekhalifahannya sambil berpegang teguh pada ajaran agama (petunjuk Allah swt), maka di sinilah letak fungsi sosial agama Islam. Dan semua agama tentu saja memiliki konsep dasar tentang pengaturan kehidupan sosial yang kurang lebih sama dengan yang ada dalam ajaran Islam.
IV. P e n u t u p
Dari uraian yang telah dikemukakan pada bagian-bagian terdahulu, dapat diambil beberapa kesimpulan sebagai berikut :
1. Problema pluralitas (keragaman) dalam kehidupan modern, di mana kehidupan beragama termasuk di dalamnya, adalah suatu hal yang merupakan keharusan dan mutlak perlu diterima sebab keadaan itu adalah merupakan keniscayaan dalam kehidupan global.
2. Dalam menyikapi dan menjalani kehidupan yang bernuansa
pluralistis, setiap pemeluk agama tidak boleh larut dalam sinkretisme,
yaitu mencampur baurkan ajaran dasar agama yang dianutnya dengan ajaran dasar agama lain yang seharusnya amat berbeda dan tidak mungkin dipadukan. Sikap yang baik terhadap era pluralisme ialah pengembangan sikap saling menghargai, saling menghormati, dan saling memberi dengan bertumpu pada prinsip “hidup berdaampingan dan saling menghargai”. Dengan demikian akan tercipta keharmonisan dalam masyarakat.
3. Cara pandang terhadap kehidupan di era pluralitas dengan mengedepankan nilai-nilai sakral dalam ajaran masing-masing, itulah yang menjadikan terwujudnya kehidupan yang harmonis di masa silang,
terutama di masa-masa kejayaan pemerintahan Islam sejak awal sejarah peradaban Islam; mulai dari zaman Rasulullah saw, masa sahabat
(al-Khulafa’ al-Rasyidin), masca Bani Uamayyah, Bani Abbas, hingga masa
kejayaan Islam di Afrika Utara dan bahkan di Spanyol sebelum era kemunduran perkembangan Islam.
Daftar Rujukan
Ali, A. Mukti. Ilmu Perbandingan Agama. 1975. Yogyakarta, Nida.
Coward, Harold. 1992. Pluralisme Tantangan bagi Agama-agama. terj. Bosco Carvallo. Yogyakarta: Kanisius.
O’Collins, Gerald SJ. dan Farrugia, Edward G. SJ. 1996. Kamus Teologi. Yogyakarta: Kanisius.
Mouw, Richard J. and Griffioen, Sander. 1993. Pluralism & Horizon. USA: Wm. B. Berdmans Publishing Co.
Usman, Fatimah. 2002. Wahdah Al-Adyan , Dialog Pluralime Agama. Yogyakarta : LkiS.
Wach, Joachim. 1978. The Comparative Study of Religions. London: The Oxford University Press.