• Tidak ada hasil yang ditemukan

KOREKSI KONSENTRASI LOGAM Ti, Cr DAN Mn TERHADAP DEBIT AIR SUNGAI CODE,YOGYAKARTA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "KOREKSI KONSENTRASI LOGAM Ti, Cr DAN Mn TERHADAP DEBIT AIR SUNGAI CODE,YOGYAKARTA"

Copied!
6
0
0

Teks penuh

(1)

KOREKSI KONSENTRASI LOGAM Ti, Cr DAN Mn

TERHADAP DEBIT AIR SUNGAI CODE,YOGYAKARTA

Muzakky, Agus Taftazani

Pusat Teknologi Akselerator dan Proses Bahan - BATAN

ABSTRAK

KOREKSI KONSENTRASI LOGAM Ti, Cr DAN Mn TERHADAP DEBIT AIR SUNGAI CODE,YOGYAKARTA. Telah dilakukan koreksi konsentrasi logam Ti, Cr dan Mn terhadap debit di dalam badan air sungai Code, Yogyakarta. Tujuan penelitian ini adalah untuk memperbandingkan secara langsung data konsentrasi logam antara satu lokasi dengan lokasi lain di dalam sampel air sungai Code dari hulu hingga hilir. Dari hasil percobaan didapat bahwa dengan melalui persamaan cukup sederhana ternyata dapat dilakukan koreksi debit terhadap konsentrasi logam Ti, Cr dan Mn disepanjang sungai Code. Berdasarkan harga koefisien determinasi (R2) yang telah terkoreksi debit, ternyata semua logam Ti, Cr dan Mn mempunyai harga di atas 0,600, berarti keberadaan ketiga logam tersebut cukup merata disepanjang sungai dari titik 1 hingga di titik 11. Akibatnya ke tiga logam Ti, Cr dan Mn perlu dilakukan koreksi konsentrasi dengan debit terlebih dahulu sebelum melangkah ke dalam penelitian selanjutnya. Dari perbedaan harga koefisien determinasi (R2) antara koreksi debit dengan nonkorekasi pada logam Ti, Cr dan Mn masing-masing adalah 0,1257; 0,0429 dan 0,0396.

Kata kunci : Koreksi debit, koefisien determinasi (R2), sungai Code.

ABSTRACT

CORRECTION CONCENTRATION OF Ti, Cr AND Mn METALS WITH WATER DEBIT OF CODE RIVER, YOGYAKARTA. The correction of Ti, Cr and Mn metals with debit on the water body of Code river, Yogyakarta has been done. The target of this research is to compare directly metals concentration data between one of location with other location in water sample of Code river from upstream to downstream. From the experimental result was proven the concentration with debit of Ti, Cr and Mn metals alongside Code river could be corrected. According to coefficient of determination (R2) result of the debit corrected proved that all of Ti, Cr and Mn metals have value above 0.600, this mean that the existence of the three metals are distributed evenly enough alongside Code river from location 1 to 11. So three metals Ti, Cr and Mn is necessarily corrected with debit before the concentration continuing to the further research.. From the different results of coefficient determination (R2) between corrected and non-corrected debits of Ti, Cr and Mn metals were 0,1257; 0,0429 and 0,0396.

Keywords: Debit corection, coefficient of determination (R2), Code river.

PENDAHULUAN

encemaran di lingkungan perairan sungai dapat terjadi antara lain, (1) karena masih kurangnya peraturan pemerintah yang jelas tentang fungsi dan kegunaan sungai, dan (2) masih kurangnya kesadaran masyarakat terhadap kelestarian lingkungan perairan sungai sehingga sungai sering dimanfaatkan sebagai tempat pembuangan akhir limbah rumah tangga atau kegiatan industri. Kreteria lingkungan sungai yang sehat harus memenuhi baku mutu air yang ditetapkan oleh pemerintah.

Penelitian ini sengaja memilih wilayah perairan sungai code yang mempunyai potensi terhadap pencemaran berbagai logam yang cukup tinggi dari berbagai sumber seperti pelapukan batuan dan mineral (Mg, Ti, Mn, V, Cr, Cd, Hg, As, Se dan lain lain), buangan limbah pertanian (As,Cd ,Mn ,Zn dan Se), industri (Zn, Ti, Cr, Cd dan lain lain), limbah domestik (Ti, Zn, Se, Hg, As dan lain lain)(1) sehingga perairan sungai Code diperkirakan

tidak memenuhi syarat baku mutu air. Dilaporkan oleh Anonim(2), bahwa hasil evaluasi kualitas sungai

Code hingga tahun 2005 secara umum hampir seluruhnya masuk ke dalam golongan C, yakni hanya layak dipakai untuk tujuan irigasi.

Limbah-limbah industri maupun perkotaan setiap detiknya mengalir melalui saluran-saluran perkotaan dan pembuangan limbah terus menerus mencemari perairan sungai hingga ke hilir sungai. Bilamana sisa-sisa tersebut dilepaskan ke perairan sungai, akan terjadi perubahan nilai dari perairan itu baik kualitas maupun kuantitas, sehingga perairan dapat dianggap tercemar (3)

Karakteristik debit air sungai Code dari hulu hingga hilir akan tergantung dari (1) letak geografis, (2) kedalaman sungai, (3) lebar sungai (4) adanya bendungan dan (5) adanya masukan air selokan atau air irigasi dan anak sungai. Bila sumber kecepatan masukan kontaminan logam kedalam sungai dianggap konstan, maka monitoring pulutan logam disepanjang sungai biasanya

(2)

dilakukan melalui pengukuran konsentrasi di dalam air sungai pada titik-titik lokasi sampling tertentu. Lokasi sungai dengan debit besar pengukuran konsentrasi logam dalam air akan mengalami kesalahan yang tinggi, jika hal ini dibandingkan dengan pengukuran di lokasi sungai yang rendah debitnya. Hal ini dapat dimengerti karena adanya kesalahan pengenceran. Perbedaan debit disetiap lokasi pengambilan sample tersebut, akan membuat kesulitan dalam memperbandingkan secara langsung data konsentrasi logam antara satu lokasi dengan lokasi lain di dalam sampel air sungai Code, akibat naik turunnya debit. Untuk itu diperlukan suatu langkah perhitungan koreksi konsentrasi logam dengan debit air sungai, sehingga diharapkan studi minitoring logam dari hulu hingga hilir di sepanjang sungai Code dapat lebih jelas diperbandingankan. Pernyataan diatas memperjelas bahwa penelitian tentang cara melakukan koreksi konsentrasi logam terhadap debit sungai sangat menarik untuk dilakukan. Penelitian akan melakukan koreksi logam Ti, Cr dan Mn yang terdapat dalam badan air dengan debit di sepanjang sungai Code, Yogyakarta. Logam-logam tersebut dipilih karena terletak pada periode tabel yang sama, kemudian logam Ti, Cr dan Mn banyak sebagai hasil pelapukan batuan/ mineral beku magma, dan merupakan polutan yang dikeluarkan oleh industri penyamakan kulit. Kemudian sebagai olah data dipakai “Coefficient of

determination (R2)” yang dinyatakan oleh

Mendenhall(4). Kelebihan metoda ini dipilih karena

cukup sederhana, dapat menerangkan secara kuantitatip besarnya hubungan variasi penyebab yang ada pada sumbu y dapat diterangkan dengan sumbu x secara kurva linear, yang rumusnya tertera

pada persamaan 1. Notasi SSE merupakan “Sum of

square of the deviation” dan SSyy adalah “Sum of

square of the deviation” dengan bentuk rerata.

TEORI

Berdasarkan Anonim(2), pada musim kemarau

selama tahun 2003-2005 debit sungai Code dari hulu hingga hilir cenderung mengalami kenaikan debit. Gejala kenaikan ini wajar karena di sepanjang sungai Code terdapat beberapa masukan air (“inlet channels”) dari beberapa sumber seperti irigasi sawah, anak sungai, air permukaan (“runoff”), limbah kota, industri, rumah sakit, kolam ikan dll. Akibatnya akan membuat kesulitan dalam memperbandingkan secara langsung data konsentrasi logam satu lokasi dengan lokasi lain di

dalam sample air sungai Code(2). Untuk itu

diperlukan suatu langkah koreksi konsentrasi logam dalam air ([L]air) dengan cara mengalikan rasio debit

blangko (mata air/jembatan Boyong) dengan debit di lokasi berikutnya yaitu(3),

=

Q1

Q2

[L]

air

Konsentrasi logam dengan debet...(2) Notasi Q1 dan Q2, masing-masing adalah pengukuran debit (L/menit) di lokasi pengambilan sample ke 1 (mata air) dan pengukuran debit pada lokasi berikurnya.

TATA KERJA

1. Letak Lokasi Penelitian

Penelitian ini dilakukan dengan mengambil 11 lokasi yaitu dari hulu sampai hilir sungai Code Yogyakarta. Berdasarkan letak geografis yang diukur menggunakan alat GPS V (Global Positioning System), personal navigator buatan “Garmin”, yang di ukur langsung di lokasi lapangan, dengan hasil posisi letak bujur timur dan lintang selatan dapat dilihat pada Tabel 1.

Tabel 1. Letak geografi lokasi Penelitian

Stasiun Lokasi Bujur Timur Lintang Selatan

1 Mata air Turgo 1100, 25’, 566” 070, 35’, 065”

2 Jembatan. Boyong 1100, 24’, 750” 070, 37’, 436 “

3 Jembatan Ngentak. 1100, 23’, 359” 070, 43’, 365”

4 Jembatan Ringroad utara 1100, 22’,499” 070, 45’, 108”

5 Jembatan Sarjito 1100, 22’, 223” 070, 46’, 720”

6 Jembatan Tukangan 1100, 22’, 182” 070, 47’, 648”

7 Jembatan Tungkak 1100, 22’, 478” 070, 48’, 927”

8 Jembatan Karangkajen 1100, 22’, 511” 070, 49’, 529”

9 Jembatan Ringroad selatan 1100, 22’, 517” 070, 50’, 176”

10 Jembatan Ngoto 1100, 22’, 519” 070, 50’, 527” 11 Jembatan Pacar,Wonokromo 1100, 22’, 999” 070, 52’, 361” ) 1 ...( ... ... 1

SS

R

yy 2 SSE − =

(3)

Berdasarkan Anonim(2), dan hasil

pengamatan dan sketsa lokasi, ternyata sumber pencemar sungai Code tidak terlepas dari pengaruh pemanfaatan lahan serta perilaku penduduk dari Kabupaten Sleman, Kota hingga Kabupaten Bantul dalam perilaku membuangan sampah atau limbah industri. Sampah ataupun limbah tersebut bisa berasal dari kegiatan pertanian, industri penyamakan kulit, percetakan, rumah sakit, jasa restoran, sentral industri tahu tempe dan permukiman.

2. Alat- alat

Seperangkat alat Current meter tipe TH-02, buatan Totonas pengukur debit sungai Code. Seperangkat reaktor Kartini beserta Fasilitas Iradiasi Lazy Susan, yang digunakan untuk mengaktivasi sampel diperlukan fluks rata–rata 5.1 x 1010 cm-2

det-1 dan daya 100 Kw. Seperangkat alat

spektrometer gamma, dengan spesifikasi alat ini adalah HPGE Coaxial detector model GC 1018 seri 4922305 yang dilengkapi dengan software 3. Bahan-bahan

Sampel air dan sedimen sungai Code yang diambil di bulan Agustus 2005, masing-masing sebanyak 10 liter/ lokasi untuk air dan 2 kg/ lokasi

untuk sedimen. Aseton teknis, HNO3 dan aquades

buatan laboratorium PTAPB-BATAN, Yogyakarta. Standar campuran Ti, Cr dan Mn masing-masing 1 ppm.

Cara kerja

Sampel air. Sampel air dalam jerigen

diambil 1 liter untuk disaring kotorannya dengan kertas saring sehingga kotoran yang terdapat didalamnya terbuang. Air sungai hasil penyaringan sebanyak 1 Liter tersebut kemudian dipekatkan 50 kali hingga dengan alat pendingin kering, menjadi 20 mL dan dari sampel tersebut diambil sebanyak 1 mL di isikan dalam vial dan ditutup, selanjutnya masing–masing vial dimasukkan dalam kelongsong dan siap untuk dilakukan iradiasi dengan reaktor Kartini.

Pengukuran debit air. Pengukuran debit air

sungai dilakukan di tengah sungai Code memakai alat pengukur debit current meter buatan Totonas. Selanjutnya dengan menggunakan alat “TH-02

current meter” diukur debit pada masing-masing

lokasi di bawah jembatan sepanjang sungai Code (m/s). Kemudian di ukur kedalaman (m) dan lebar sungai (m), selanjutnya data di tranfer menggunakan perangkat lunak excel menjadi debit (m3/s).

Penentuan TSS. Penentuan TSS dilakukan

dengan mengambil sebanyak 1 liter air sungai Code

disaring dengan kertas saring mikro 0,45 µm dengan alat corong yang dilengkapi alat vakum. Hasil endapan di keringkan diatas oven pada suhu 105oC,

dan selanjutnya ditimbang hingga berat tetap serta dihitung harga TSS.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Berdasarkan hasil pengamatan dan pengukuran debit air sungai Code di sebelas titik sampling ternyata, profil debit di setiap titik sampling di sepanjang sungai Code tersebut tidak selalu sama, dan cenderung mengalami kenaikan dari titik ke 1 hingga di titik ke 11. Gejala tersebut karena perbedaan karakteristik debit air sungai dari hulu hingga hilir dan akan tergantung dari sifat (1) letak geografis, (2) kedalaman sungai, (3) lebar sungai (4) adanya bendungan dan (5) adanya

masukan air irigasi dan anak sungai (2).

Perkecualian pengukuran debit terjadi di titik ke 7 yaitu pada jembatan Tungkak, karena pengukuran debit pada lokasi tersebut dilakukan diatas masukan saluran pembuangan air domistik. Akibatnya, hasil pengukuran debit pada lokasi 7 tersebut lebih kecil dari lokasi ke 6, walaupun begitu secara umum debit air sungai Code akan cenderung mengalami kenaikan dari hulu hingga hilir.

29,2 70,1 97,4 231,6 516,7 631,2 607,5 775,5 894,8 965,8 956 0 200 400 600 800 1000 1200 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 Lokasi sampling D e b it , l/ d t

Gambar 1. Profil debit di sepanjang sungai Code di 11 lokasi sampling

Berdasarkan Gambar 1, terlihat bahwa pengaruh debit akan mengakibatkan kesulitan dalam memperbandingkan secara langsung data konsentrasi logam antara satu lokasi dengan lokasi lain di dalam sample air sungai Code. Akibatnya perlu dilakukan koreksi debit terhadap konsentrasi

logam(3). Penelitian ini yang dipakai sebagai

koreksi adalah debit di lokasi sampel pertama yaitu mata air sungai code di Boyong, dengan alasan lokasi ini belum banyak masukan air dari daerah disekelilingnya (persamaan 2). Gambar 2 dibawah dapat ditunjukan perbandingan antara koreksi debit dan non koreksi terhadap konsentrasi logam Ti

(4)

di sepanjang sungai Code. Ternyata hasil koefisien

determinasi (R2) pada Gambar 2 tersebut

menunjukan bahwa konsentrasi logam Ti yang telah terkoreksi debit mempunyai harga yang lebih besar dari pada non koreksi, dengan harga masing-masing adalah 0,9654 dan 0,8397. R2 = 0,8397 R2 = 0,9654 0,00000 0,00500 0,01000 0,01500 0,02000 0,02500 0,03000 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 Lokasi sampling [T i] d a la m a ir , m g /l -0,1 0,1 0,3 0,5 0,7 0,9 [T i] * d a la m a ir , m g /l

non koreksi terkoreksi Linear (non koreksi) Linear (terkoreksi)

Gambar 2, Perbandingan harga koefisien

determinasi (R2) antara logam Ti

terkoreksi debit dengan non koreksi di sepanjang sungai Code. Perbedaan harga koefisien determinasi (R2)

pada Gambar 2 yang cukup signifikan yaitu 0,1257 hal tersebut, berarti bahwa dalam setiap perhitungan konsentrasi logam Ti diperlukan koreksi debit terdahulu sebelum menarik kesimpulan dari beberapa fenomena alam seperti distribusi, dinamika, penyebaran dll dari logam Ti di sepanjang sungai Code. R2 = 0,946 R2 = 0,9031 0,00000 0,02000 0,04000 0,06000 0,08000 0,10000 0,12000 0,14000 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11

lokasi sam pling

[C r] d a lam air ,m g /l -0,5 0,5 1,5 2,5 3,5 4,5 [C r] * d a la m a ir, m g /l

non koreksi terkoreksi

Linear (non koreksi) Linear (terkoreksi)

Gambar 3. Perbandingan harga koefisien

determinasi (R2) antara logam Cr

terkoreksi debit dengan non

koreksi di sepanjang sungai Code.

Selanjutnya Gambar 3 dapat ditunjukan

perbandingan antara koreksi debit dan non koreksi terhadap konsentrasi logam Cr di sepanjang sungai Code. Ternyata hasil koefisien determinasi (R2)

pada Gambar 3 tersebut menunjukan bahwa konsentrasi logam Cr yang telah terkoreksi debit mempunyai harga yang lebih besar dari pada non

koreksi, dengan harga masing-masing adalah 0,946 dan 0,9031. Perbedaan harga koefisien determinasi

(R2) dari data terkoreksi dan non koreksi cukup

signifikan yaitu 0,0429.

Kemudian Gambar 4 juga dapat ditunjukan perbandingan antara koreksi debit dan non koreksi terhadap konsentrasi logam Mn di sepanjang sungai Code. Ternyata hasil koefisien determinasi (R2)

pada Gambar 4 tersebut menunjukan bahwa konsentrasi logam Mn yang telah terkoreksi debit mempunyai harga yang lebih besar dari pada non koreksi, dengan harga masing-masing adalah 0,8329 dan 0,7933. Ternyata perbedaan harga koefisien

determinasi (R2) dari data terkoreksi dan non

koreksi cukup signifikan yaitu 0,0396. Mn R2 = 0,7933 R2 = 0,8329 0,0000 0,0100 0,0200 0,0300 0,0400 0,0500 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11

lokasi sam pling

[M n] da la m a ir , mg /l -0,2 0,3 0,8 1,3 1,8 [M n ]* d a la m a ir, mg /l

non koreksi tekoreksi

Linear (non koreksi) Linear (tekoreksi)

Gambar 4. Perbandingan harga koefisien

determinasi (R2) antara logam

Mn terkoreksi debit dengan non koreksi di sepanjang sungai Code.

Dari Gambar 2, 3 dan 4 di atas dapat dibuat evaluasi seperti terlihat pada Tabel 1. Ternyata pada tabel 2 tersebut dapat diperlihatkan bahwa perbedaan harga koefisien determinasi (R2) dari Ti,

Cr dan Mn cenderung mengalami penurunan. Hal ini berarti logam Ti cenderung paling banyak terdapat di dalam air sungai atau keberadaan logam Ti paling merata disepanjang air sungai Code dari pada logam Cr dan Mn. Akibatnya guna memperbandingkan secara langsung data konsentrasi logam Ti, dari satu lokasi dengan lokasi lain di dalam sampel air di sepanjang sungai Code, perlu dilakukan koreksi konsentrasi dengan debit terlebih dahulu dengan persamaam 2.

Pada Tabel 1, dapat diperlihatkan bahwa

harga koefisien determinasi (R2) yang telah

terkoreksi dengan debit berturut-turut untuk logam Ti, Cr dan Mn mempunyai harga di atas 0,600. Berarti hal ini bahwa keberadaan ketiga logam tersebut cukup merata disepanjang sungai dari titik

(5)

1 hingga di titik 11. Akibatnya selain Ti, logam Cr dan Mn juga perlu dilakukan koreksi konsentrasi dengan debit terlebih dahulu dengan persamaan 2. Tabel 1. Evaluasi hasil harga koefisien

determinasi (R2) koreksi dan non

koreksi untuk logam Ti, Cr dan Mn.

loga

m koreksi non koreksi beda

Ti 0,9654 0,8397 0,1257

Cr 0,946 0,9031 0,0429

Mn 0,8329 0,7933 0,0396 Berdasarkan Anonim(2), di dalam badan air

sungai Code terdapat “suspended solid” (SS) yang berfungsi sebagai kelasi logam (ligand). Material SS tersebut sebagai material anorganik, akan didominasi oleh gugus fungsianal silanol (-Si≡O-)

dari beberapa group silika(6). Padatan tersuspensi

(suspended solid, SS) dalam air sungai Code, akan

bertindak sebagai “carrier” logam dari satu tempat ke tempat lain, bahkan akan memacu nasib logam seperti terjadinya proses sedimentasi dan distribusi logam ke dalam sedimen. Keberadaan SS tersebut dapat dalam bentuk tanah liat berupa campuran beberapa material organik (senyawa humat dan derivatnya), besi-oksi-hidroksida, mineral phyllosilikate, karbonat , sulfida dan aluminium (5).

Gambar 5 berikut hasil pengukuran “total

suspended solid” (TSS), di sepanjang sungai Code

pada 11 titik lokasi sampling sungai Code.

1,0233 1,5625 2,8125 4,0625 4,375 57,880 150,3125 316,25 338,125366,25 482,5 1 10 100 1000 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 Lokasi sampling T SS, m g /l

Gambar 5. Profil debit di sepanjang sungai Code di 11 titik sampling

Dari Gambar 5, terlihat bahwa memperlihatkan bahwa konsentrasi TSS di sepanjang sungai Code dari hulu hingga hilir terus meningkat dari lokasi 1 hingga 11. Peningkatan konsentrasi menyolok terjadi di lokasi 6, hal ini terjadi karena adanya masukan air sungai Progo

melalui selokan mataram disebelah utara RS Sarjito. Peningkatan konsentrasi TSS terus cenderung naik hingga di lokasi ke 11, hal ini dikarenakan banyaknya masukan limbah industri, rumah sakit dan domestik dll.

Bedasarkan keberadaan SS pada Gambar 5 tersebut, kemungkinan logam Ti akan lebih terikat kuat didalam SS dari pada logam Cr dan Mn. Hal ini sesuai dengan sifat afinitas dan elektronegatifitas logam (dalam satu periode) didalam gugus silanol sesuai dengan urutan(6).

TI > Cr > Mn

Akibat dari sifat afinitas logam terhadap gugus silanol tersebut, di sepanjang sungai Code logam Ti akan cenderung tinggal didalam badan air dan sedikit berpindah kedalan sedimen dari pada logam Cr dan Mn. Fenomena ini sekaligus menjawab mengapa harga koefisien determinasi (R2) dari logam TI > Cr > Mn (tabel 1).

KESIMPULAN

Melalui persamaan cukup sederhana ternyata dapat digunakan untuk melakukan koreksi debit terhadap konsentrasi logam Ti, Cr dan Mn disepanjang sungai Code. Berdasarkan harga koefisien determinasi (R2) yang terkoreksi debit

ternyata logam Ti, Cr dan Mn mempunyai harga di atas 0,600, berarti keberadaan ketiga logam tersebut cukup merata disepanjang sungai dari titik 1 hingga di titik 11. Akibatnya ke tiga logam Ti, logam Cr dan Mn perlu dilakukan koreksi konsentrasi dengan debit terlebih dahulu dengan persamaan 2. Sedangkan perbedaan harga koefisien determinasi (R2) antara koreksi debit dengan nonkorekasi pada

logam Ti, Cr dan Mn masing-masing sebesar 0,1257; 0,0429 dan 0,0396. Dari sifat afinitas logam TI > Cr > Mn terhadap gugus silanol yang terdapat SS, maka di sepanjang sungai Code logam Ti akan cenderung tinggal di dalam badan air, lebih terikat pada SS dan sedikit berpindah kedalan sedimen dari pada logam Cr dan Mn.

UCAPAN TERIMAKASIH

Dengan selesainya pembuatan makalah ini, penulis mengucapkan banyak terimakasih kepada bapak Sihono, Mulyono, Sukirno ST, Suhardi, Sukadi dan Bambang Ir AMD yang terlah banyak membantu dalam melakukan iradiasi dan analisis logam secara AAN.

DAFTAR PUSTAKA

1. ROSS.S.M.,(1994)., Toxic Metals in Soil-Plant

Systems., John Wiley & Sons., New York (1994).

(6)

2. ANONIM,., Laporan Monitoring Kualitas Air, Balai PSDA Progo,Opak, Oyo dan Code (2003, 2004 dan 2005).

3. STUMM.W., AND MORGAN.J.J., (1991).,

Aquatic Chemistry., An Introduction Emphasizing Chemical Equibria in Natural Water., John Wiley & Sons., New York (1991).

4. MENDENHALL.W., AND SINCICH.T.,.,

Statistic for Engineering and The Sciences., Prentice-Hall International,Inc., New Jersey (2003).

5. RATE.,A.W., ROBERTSON A., BORG.A.,

(2000)., Distribution of Heavy Metals in Near-Shore Sediments of The Swan River Estuary, Western Australia., Water, Air and Soil pollution, 124, p.155-168 (2000).

6. BOLT.G.H., BOODT.M.D., HAYES.M.H.B.,

AND MCBRIDE.M.B.,., Interctions at the soil colloid-soil solution interface., Kluwer Academic Publishers (1998).

TANYA JAWAB

Tri Handini

• Bagaimana pengaruhnya terhadap logam

antara sebelum dan sesudah debit ? Muzzaky

¾ Sebelum koefisien determinasi <0,8,

sedangkan setelah dapat mencapai >0,9. Supardjo

• Bagaimana teknik pengambilan sampel ?.

• Apakah tidak sebaiknya dilakukan analisis

sampel di musim hujan/ lahar dingin ?.

• Kenapa tidak dilakukan analisis logam berat

lainnya yang kemungkinan ada ?. Muzzaky

¾ Pengambilan secara 2 demensi yaitu 2 tepi

dan kedalaman.

¾ Musim hujan parameter semakin tinggi

sehingga tidak dilakukan . lahar dingin tidak saya lakukan.

¾ Sudah, bahkan ada 10 buah, tetapi yang

menarik hanya ke 3 logam ini, karena toksisitasnya tinggi.

Gambar

Tabel 1.  Letak geografi lokasi  Penelitian
Gambar 1. Profil debit di sepanjang sungai Code  di 11 lokasi sampling
Gambar 3. Perbandingan harga koefisien  determinasi (R 2 ) antara logam Cr  terkoreksi debit dengan non  koreksi di sepanjang sungai Code
Gambar 5.   Profil debit di sepanjang sungai  Code di 11 titik sampling

Referensi

Dokumen terkait

Penyusunan skripsi ini merupakan salah satu syarat untuk mencapai gelar sarjana pada Fakultas Bisnis, Jurusan Akuntansi, Universitas Katolik Widya Mandala

manakah dari enzim yg dihasilkan oleh usus halus di bawah ini yang berfungsi untuk pencernaan karbohidrat?. lipid memiliki sifat umum berupa larut dalam pelarut nonpolar, yang

Dalam hubungannya dengan hukuman had maka pengertian hak Allah di sini adalah bahwa hukuman tersebut tidak bisa dihapuskan oleh perseorangan (orang yang menjadi korban

Penulis mencoba mengadakan penelitian terhadap produk yang ditawarkan yaitu berupa produk tabungan BritAma dan pelayanan yang diberikan Bank Rakyat Indonesia BRI tersebut

Remaja yang memiliki keterampilan sosial lebih mampu mengungkapkan perasaan baik itu positif ataupun negatif dalam hubungan interpersonal, tanpa perlu melukai orang lain

Analisis data penelitian ini dilakukan untuk memperoleh fakta pemerolehan makna pragmatis dalam tindak tutur direktif pada anak usia 5 tahun dengan menggunakan pendekatan

Permasalahan dalam penelitian ini yaitu fungsi tuturan ekspresif yang digunakan guru dalam pembelajaran bahasa Indonesia kelas VIII MTS Miftahul Ulum dan modus tindak