1
EFEKTIFITAS KONSELING ANALISIS TRANSAKSIONAL
FORMAT KELOMPOK UNTUK MENINGKATKAN
INTERAKSI SOSIALSISWA YANG TERISOLIR
PADA KELAS X IPS DI
SMAN 1 KECAMATAN. LINTAU BUO.
KABUPATEN. TANAH DATAR
SKRIPSI
Diajukan Kepada Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Guna Mencapai Gelar Sarjana Pendidikan
dalam Bidang Ilmu Bimbingan dan Konseling
Oleh:
MULTI FITRI YANI
NIM. 15300800058
JURUSAN BIMBINGAN DAN KONSELING
FAKULTAS TARBIYAH DAN ILMU KEGURUAN
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI
BATUSANGKAR
i ABSTRAK
Multi Fitri Yani. NIM 15 300 800 058. Judul Skripsi “EFEKTIFITAS KONSELING ANALISIS TANSAKSIONAL FORMAT KELOMPOK UNTUK MENINGKATKAN INTERAKSI SOSIAL SISWA YANG TERISOLIR PADA KELAS X IPS DI SMAN 1 KECAMATAN. LINTAU BUO KABUPATEN TANAH DATAR”. Jurusan Bimbingan dan Konseling Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan Institut Islam Negeri (IAIN) Batusangkar.
Pokok permasalahan dalam SKRIPSI ini adalah Efektifitas Konseling Analisis Tansaksional Format Kelompok untuk Meningkatkan Interaksi Sosial Siswa yang Terisolir pada Kelas X IPS di SMAN 1 Kecamatan. Lintau Buo Kabupaten Tanah Datar. Tujuan penelitian untuk mengetahui efektifitas konseling analisis transaksional format kelompok dalam meningkatkan interaksi sosial siswa terisolir pada kelas X IPS di SMAN 1 Kecamatan Lintau Buo Kabupaten Tanah Datar.
Jenis penelitian ini adalah kuantitatif menggunakan metode eksperimen dan jenis desain penelitian adalah pre-experimental design dengan tipe one group pretes-posttest.Instrument yang digunakan adalah skala interaksi soisal model Likert. Populasi penelitian adalah seluruh siswa kelas X IPS di SMAN 1 Kecamatan Lintau Buo Kabupaten Tanah Datar. Pegambilan sampel dengan menggunakan teknik purposive sampling yaitu pengambilan sampel berdasarkan pertimbangan oleh guru BK, yang mana sampelnya kelas X IPS 4.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa layanan konseling pendekatan Analisis Transaksional format kelompok signifikan meningkatkan interaksi sosial siswa terisolir dapat dilihat pada hasi uji-t, nilai “to” (12,91)>tt (2,23) pada df 10 α 0,05. Artinya hipotesis nol ditilak Sedangkan untuk melihat persentasi peningkatan digunakan analisis data n-gain. Hasilnya kemampuan interaksi sosial meningkat sebanyak 64% termasuk kategori sedang.
Kata Kunci : Analisis Transaksional Format Kelompok dan Interaksi Sosial Siswa Terisolir
ii DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL
SURAT PERNYATAAN KEASLIAN
HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING HALAMAN PENGESAHAN TIM PENGUJI
ABSTRAK... i
DAFTAR ISI... ii
BAB I PENDAHULUAN A.Latar Belakang Masalah... 1
B. Identifikasi Masalah... 14
C.Batasan Masalah... 15
D.Rumusan Masalah... 15
E. Tujuan Penelitian... 15
F. Manfaat dan Luaran Penelitian... 15
BAB II KAJIAN PUSTAKA A.Landasan Teoritis... 17
1. Interaksi Sosial... 17
a. Pengertian Interaksi Sosial... 17
b. Syarat-syarat Terjadinya Interaksi Sosial... 19
c. Aspek yang Mendasari Interaksi Sosial... 20
d. Bentuk-bentuk Interaksi Sosial... 29
e. Ciri-ciri Interaksi Sosial... 34
f. Faktor yang Mempengaruhi Interaksi... 35
2. Siswa yang Terisolir... 37
a. Pengertian Siswa Terisolir... 37
b. Ciri-ciri Siswa yang Terisolir... 39
c. Faktor yang Menyebabkan Siswa Terisolir... 42
3. Konseling Analisis Transaksional... 43
a. Defenisi Konseling Analisis Transaksional... 43
b. Struktur Kepribadian... 45
c. Penyebab Masalah... 46
d. Tujuan Konseling... 48
e. Proses konseling Analisis Transaksional Format Kelompok... 49
iii
C.Kerangka Berdikir... D.Hipotesisi...
57 58
BAB III METODE PENELITIAN
A. Jenin Penelitian... 59
B. Tempat dan Waktu Penelitian... 60
C. Populasi Sampel... 60
D. Defenisi Operasional... 62
E. Teknik Pengumpulan Data... 64
F. Pengembangan instrumen... 65
G. Desain Penelitian... 75
H. Teknik Analisis Data... 77
BAB IV HASIL PENELITIAN A. Deskripsi Data... 79
B. Perbandingan Hasil Pretes Dengan Posttes... 107
C. Uji Statistik... 108
D. Uji Peningkatan Dengan n-gain... 118
E. Pengujian Persyaratan Analisis... 123
F. Pembahasan... 125
BAB V PENUTUP A. Kesimpulan... 129
B. Saran... 130
BAB I PENDAHULUAN
A.Latar Belakang Masalah
Manusia sebagai makhluk Allah SWT, memiliki peran sebagai makhuk sosial yang tidak bisa hidup sendirian. Manusia pada dasarnya hidup bersama orang lain dan berinteraksi dengan individu lain. Maka peran yang dimiliki manusia tidak dapat dipisahkan antara satu dan lainnya. Manusia sebagai makhluk sosial berkewajiban menjalin kehidupan sosial dengan orang lain tanpa mengabaikan kepentingan seseorang. Sesuai dalam islam bahwa manusia adalah mahluk sosial, hal ini dijelaskan dalam Al-Qur’an surat An-Nisa’ ayat 36 tentang kewajiban terhadap Allah dan terhadap sesama manusia, yang berbunyi;
“Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapak, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh..., dan teman sejawat, ibnu sabil... dan hamba sahayamu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri”.
Dalam firman Allah di atas, Allah menegaskan kepada umat manusia untuk melakukan interaksi sosial yang baik dan benar dengan orang-orang terdekat bahkan dengan teman yang seumuran. sikap saling toleransi antar sesama manusia, tidak sombong, tidak angkuh, tidak acuh, tidak loyo, tidak dingin salah satunya dengan cara bertegur sapa atau berkomunikasi, dapat
menimbulkan interaksi yang baik sehingga membuktikan bahwa islam dalam Al-quran menyuruh manusia untuk melakukan interaksi sosial.
Begitu juga siswa di sekolah tidak hanya diajarkan ilmu pengetahuan saja, namun juga diajarkan dalam keterampilan berkomunikasi, agar mampu berinteraksi dengan lingkungan sekolah dan masyarakat. Tanpa pendidikan siswa tidak akan mengenal cara menyikapi kehidupan. Salah satunya mengenai potensi yang dimiliki siswa yaitu dalam bidang sosial. Potensi dalam bidang sosial yang akan dikembangkan pada diri siswa keterampilan berkomunikasi siswa dengan baik. Ada siswa yang mampu bergaul dengan cara harmonis. Namun tidak semua anak dapat bergaul dengan teman sebayanya seperti yang diharapkan, beberapa anak di sekolah mengalami kesulitan dalam kehidupan sosialnya sehingga anak menjadi terisolasi dalam lingkungan sekolah. Keadaan siswa terisolir di sekolah, atau lebih kecilnya dalam lingkup kelas, biasanya terdapat satu atau lebih orang yang mengalami keadaan terisolir.
Keadaan siswa terisolir, dapat diketahui dengan berbagai macam cara salah satunya dengan menggunakan alat sosiometri. “Sosiometri adalah suatu metode untuk mengumpulkan data tentang pola dan struktur hubungan antara individu-individu dalam suatu kelompok” (Nurkancana 1993: 109). Sosiometri digunakan sesuai dengan kebutuhan pengungkapan kedudukan seseorang dalam kelompok yang sangat kondisional. Dari hasil sosiometri yang telah dianalisis akan diketahui anak yang terisolasi di dalam kelas atau anak yang tidak di pilih oleh teman sebayanya di dalam kelas.
Anak terisolasi adalah anak yang mendapatkan sedikit pilihan atau dengan kata lain tidak di pilih oleh teman sebayanya dalam suatu kelompok. Cohen (1992: 223) menyatakan pula bahwa, “anak terisolasi adalah suatu sikap individu yang tidak dapat menyerap dan menerima norma-norma kedalam kepribadiannya dan anak terisolir juga tidak mampu untuk berperilaku yang pantas atau menyesuaikan diri menurut tuntutan lingkungan yang ada”. Sedangkan menurut Walgito (2007:50) “siswa terisolasi adalah siswa yang terasingkan atau ditolak oleh teman-temannya”.
Sependapat dengan Gunarsa (2003:98) anak terisolasi sebagai berikut:
Anak terisolasi adalah anak yang tidak mempunyai teman dalam pergaulannya karena ia tidak mempunyai minat untuk mengikuti kegiatan-kegiatan kelompok sebagai proses bersosial. Anak seperti ini lebih tertarik untuk melakukan kegiatan seorang diri dan tidak pandai dalam segi pergaulannya antar sesama teman.
Berdasarkan kutipan di atas diketahui bahwa anak terisolasi merupakan anak yang diasingkan atau dengan kata lainnya tidak memiliki teman dalam suatu kelompok karena anak tersebut tidak mempunyai kemauan untuk melakukan proses kegiatan kelompok dimana saling berinteraksi dan berkomunikasi untuk menujudkan suatu proses interaksi sosial yang harmonis, namun anak yang terisolasi ini tidak memiliki keberanian dan keterampilan dalam memulai suatu hubungan yang menyenangkan antara sesama temannya. Sejalan dengan pendapat Fadhilah yang mana menyatakan bahwa:
Keterisoliran siswa dapat ditemukan dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya, siswa yang sering duduk di pojok paling belakang, jarang sekali berkomunikasi dengan teman-teman yang lain terutama dengan lawan jenis, siswa seperti ini menunjukan perilaku terisolir di kelas, dan tidak memiliki keterampilan dalam bersosialisasi. Jika perilaku terisolir siswa tidak di atasi atau di rubah maka perkembangan ketrampilan sosial siswa-siswi tersebut akan terhambat (Fadhilah 2017:2).
Berdasarkan beberapa kutipan di atas mengenai anak terisolir diketahui bahwa anak terisolir adalah anak yang tidak pandai dalam segi bergaul tidak menguasai cara berkomunikai yang leluasa untuk membuat suasana hubungan sosial menjadi harmonis bersama teman sebaya. Hal ini menyebabkan anak terisolir menjadi lebih pendiam, murung, berkata tidak sopan, egois, tertutup, dan sering melakukan segala sesuatu sendiri. Sehingga anak terisolir tidak dipilih dalam bergaul, diasingkan untuk menjadi teman dalam suatu kelompok tertentu.
Faktor yang menyebabkan siswa terisolir yang mengalami kesulitan berinteraksi sosial sebagai mana dikutip Noval Riswandha, Nur Maulidyah dari Jurnal, Aplikasi E-Counseling dalam Layanan Bimbingan dan Konseling untuk Mengatasi Siswa Terisolir adalah sebagai berikut:
Faktor siswa terisolir adalah 1) Egosentris, penyebabnya mudah marah, mementingkan diri sendiri, dan dia merasa dirinya yang paling unggul. 2) pertengkaran, penyebabnya suka berselisih. 3)Penampilan (performance) dan perbuatan, penyebabnya suka memerintah, suka berkata tidak sopan, kurang bijaksana. 4) Kemampuan daya pikir, penyebabnya tidak mau mengemukakan buah pikirnya, pendiam. 5) Sikap, sifat dan perasaaan, penyebabnya cuek, tidak lemah-lembut. 6) Tertutup, penyebabnya menutup diri. 7) Pembangkangan (negativisme), penyebabnya suka melawan, acuh tak acuh. 8) Status sosioekonomis, penyebabnya tidak sesuai dengan standar teman. 9) Agresi (Agression), penyebabnya, frustasi, suka mencemooh. 10) Hubungan sosial, penyebabnya enggan, tidak ada minat untuk bersosial dengan teman-temanya (Noval Riswandha, Nur Maulidyah 2017: 230).
Berdasarkan kutipan di atas diketahui banyak faktor penyebab siswa terisolir atau siswa yang dijauhi dan diabaikan oleh teman sebayanya. Disebabkan karena siswa tersebut pendiam dan tidak mau bermain bersama temannya, saat diajak berbicara siswa tersebut merasa malu dan tidak yakin dengan apa yang diucapkan, memilih untuk menutup diri dan tidak mau untuk bersosial dengan teman. Ada juga Siswa yang dijauhi oleh temanya karna suka berbicara kasar dan bebicara tidak sopan. Saat berbicara dengan teman, tak jarang menggunakan bahasa yang kasar dan terkesan mengejek, mencemooh. Saat memanggil teman tidak menggunakan nama yang sebenarnya melainkan dengan nama-nama yang kurang baik. Saat berdiskusi atau bekerja sama cenderung memaksakan pendapatnya karena merasa dirinya yang hebat, muda marah saat dan berbicara tidak lemah lembut. Ketika memintak tolong dengan teman terkesan memerintah sehingga teman-temannya tidak nyaman berteman denganya.
Berdasarkan penjelasan di atas mengenai penyebab siswa terisolir atau siswa yang dijauhi dan diabaikan oleh teman sebayanya karena siswa kurang mampu berinteraksi dan kurang memahami kemampuan komunikasi interpesonal yang dimiliki siswa. Keterampilan komunikasi interpersonal merupakan kemampuan yang perlu dimiliki oleh setiap remaja agar mereka mampu dalam berinteraksi dengan teman sebayanya.
Sejalan dengan pendapat William Kay (dalam Yusuf 2013: 72) menjelaskan salah satu tugas “Perkembangan remaja adalah mengembangkan kemampuan berkomunikasi dan belajar interaksi dengan teman sebaya atau orang lain, baik secara individual maupun kelompok”. Berdasarkan pendapat tersebut siwa yang memiliki kemampuan berkomunikasi yang baik maka akan mempermudah dalam menyesuaikan diri dan berinteraksi sosial dengan lingkungan sekitar.
Calhoun, J.F, Acocella, J.R. edisi 3, penerjemah Satmoko berpendapat tentang interaksi sosial sebagai berikut:
Dalam interaksi manusia terdapat satu rangkaian, yang di perluas dari pengaruh timbal balik perubahan-perubahan halus yang kita timbulkan satu sama lain. Suatu hubungan yaitu pola kebiasaan mengenai interaksi antara dua orang, yang berlangsung lama dan melibatkan seperangkat tanda emosinya yang unik. Demikian juga pada setiap interaksi kita membawa kesadaran tentang anggota kita dalam sub kelompok tertentu dari masyarakat keseluruhan. (Calhoun, J.F, Acocella, J.R edisi 3, penerjemah Satmoko. 1990: 234-235).
Jadi, interaksi sosial merupakan suatu pengaruh timbal balik antara individu satu dan individu lain maupun kelompok dengan perubahan yang ditimbulkan satu sama lain. Suatu hubungan dan interaksi merupakan pola kebiasaan yang menjadi suatu kegiatan antara dua orang atau lebih dilakukan dengan kesadaran.
Selain itu menurut H. Borner (dalam Melchioriyusni, dkk, 2013: 102) juga sependapat, “interaksi sosial adalah suatu hubungan antara individu atau lebih, di mana kelakuan individu yang satu mempengaruhi, mengubah atau memperbaiki kelakuan individu yang lain atau sebaliknya”.
Berdasarkan kutipan di atas menjelaskan bahwa interaksi sosial adalah hubungan timbal balik antara dua orang atau lebih, dan masing-masing orang terlibat di dalamnya memainkan peran secara aktif. Dalam interaksi juga lebih dari sekedar terjadinya hubungan antara pihak-pihak yang terlibat dan terjadi saling mempengaruhi.
Interaksi sosial adalah hubungan timbal balik yang saling mempengaruhi satu sama lain, di mana ada aksi dan ada reaksi. Syarat-syarat terjadinya
interaksi menurut Sisrazeni adalah “kontak sosial dan komunikasi sosial” yaitu:
1) Kontak sosial adalah hubungan antara satu orang atau lebih melalui percakapan, dialok dan masing-masing pihak mengerti maksud dan tujuannya. Kontak sosial terbagi dua yaitu, kontak sosial secara langsung misalnya pertemuan dan dialog. Kontak tidak langsung yaitu menggunakan telvon, radio, dan suara.
2) Komunikasi sosial adalah suatu proses saling memberikan tafsiran kepada atau dari perilaku pihak lain. Melalui tafsir pada perilaku pihak lain, seseorang mewujudkan perilaku sebagai reaksi terhadap maksud atau peran yang ingin disampaikan oleh pihak lain. (Sisrazeni 2014: 51)
Berdasarkan pendapat di atas syarat terjadinya interaksi sosial adalah adanya komunikasi atau kata lain percakapan, dialog yang terbagi dua yaitu, kontak sosial secara bertatap mungka melakukan percakapan atau secara langsung dan tidak langsung di mana terjadi antara dua orang atau lebih saling bertemu dan tidak langsung, melalui alat tronik media komunikasi. Dimana kontak sosial ini saling mengerti maksud dan tujuan masing-masing. Sedangkan komunikasi sosial adalah memberian tafsiran atau maksud yang disampaikan oleh masing-masing pihak untuk terwujudnya pembicaraan, gerak tubuh, atau sikap perasaan yang ingin disampaikan oleh orang tersebut. Dalam komunikasi tidak hanya disampaikan isi pesan saja, tetapi yang terjadi juga dapat menentukan dan kedalaman suatu hubungan, komunikasi itu memiliki makna dan kedalaman masing-masing. Terlebih lagi dalam lingkungan sekolah.
Berdasarkan penjelasan di atas syarat terjadinya interaksi, dapat dijelaskan bahwa interaksi sosial menjadi faktor utaman dalam berkomunikasi antara dua orang atau lebih yang saling mempengaruhi. Siswa yang memiliki interaksi sosial yang baik maka akan mempermudah dalam menyesuaikan diri dengan lingkungan sekitar. Interaksi sosial yang baik di tandai dengan adanya komunikasi yang lancar dan adanya kesamaan makna antara komunikan dan komunikator.
Sesuai dengan pendapat Cangara yang mengatakan bahwa,
Komunikasi adalah suatu transakasi, proses simbolik yang menghendaki orang-orang mengatur lingkungannya dengan membangun hubungan antara sesama manusia, melalui pertukaran informasi, untuk mengutkan sikap dan tingkah laku orang lain, dan mengubah sikap dan tingkah laku itu (Cangara dalam Nofrion 2016: 3).
Berdasarkan kutipan di atas diketahui bahwa komunikasi merupakan sebuah proses bagi seseorang untuk menyampaikan pesan atau informasi yang ingin disampaikan dalam bentuk kata-kata dengan tujuan untuk mengubah orang lain atau dengan kata lain terjadinya transaksi komunikasi yang diinginkan oleh kedua belah pihak. Berdasarkan hal ini komunikasi merupakan suatu proses yang dilakukan seseorang untuk mendapatkan apa yang diinginkannya. Jika seseorang menginginkan bantuan dari orang lain, hal itu dapat diperoleh melalui proses komunikasi terlebih dahulu.
Berdasarkan penjelasan di atas dapat dijelaskan bahwa komunikasi dan interasi sosial itu merupakan satu kesatuan untuk melakukan suatu interaksi dengan orang lain, maka dengan adanya komunikasi dapat terjadi interaksi sosial. Adapun bentuk-bentuk interaksi sosial yang ingin dicapai dalam interaksi sosial yang disampaikan Gillin dan Gillin ada dua proses bagaian sebagai berikut; a) Kerja sama (cooperation), b) Akomodasi (acomodation), c) Asimilasi (assimilation). (dalam Sarbaini dan Rusdiyanta 2013: 28).
Kutipan di atas memaparkan bentuk-bentuk interaksi sosial yang mana tujuannya untuk mengubah pola interaksi siswa dan pola komunikasi siswa yang terisolir, dari yang dikucilkan oleh teman-temannya menjadi di terima oleh teman-teman sebanya, diantaranya siswa terisolir mampu kerja sama yang merupakan kegiatan yang saling membantu satu sama lain untuk mewujudkan sesuatu yang sama dalam berinteraksi sosial. Siswa terisolir mampu menyeimbangkan (akomidasi) dan menunjukan tindakan nilai dan norma yang baik dengan teman atau dengan lingkungan sekitar. Sedangkan interaksi yang diharapkan terjadi untuk siswa terisolir adalah asimilasi merupakan penyesuaian sifat-sifat asli yang dimiliki oleh masing-masing pihak dengan
lingkungan sekitar atau dengan orang lain dan memperhatikan sikap-sikap mental untuk kepentingan bersama.
Jelaslah dengan kegagalan individu dalam melakukan interaksi dengan orang lain sebagai akibat dari berkomunikasi yang tidak baik dan pengalaman yang tidak menyenangkan maka akan terjadi penolakan dan keterasingan dari kelompok teman sebaya. Agar tidak terjadinya keterisolasian, maka siswa terisolir ini mampu mengembangkan keterampilan berkomunikasi dengan baik. Mampu menciptakan suasana yang nyaman antara komunikator dan komunikan.
Keterampilan komunikasi siswa terisolir juga dapat dilatih dan dikembangkan melalui proses konseling, hal ini dikarenakan konseling juga merupakan salah satu contoh proses komunikasi dalam suasana konseling. Di dalam proses konseling, terjadi pertukaran informasi dan pengalaman dari seseorang. Klien kepada konselor kepada klien, sehingga tidak salah dikatakan, jika proses komunikasi antara klien dengan konselor, maka dapat dikatakan bahwa konseling merupakan salah satu wadah yang dapat digunakan untuk meningkatkan dan mengembangkan keterampilan komunikasi individu, khususnya siswa terisolir yang mengalami masalah atau kekurangan keterampilan dalam berkomunikasi. Di dalam konseling terdapat beberapa pendekatan salah satunya adalah pendekatan Analisis Transaksional.
Pendekatan Analisis Transalsional salah satu cara meningkatkan kemampuan berinteraksi sosial siswa yang terisolir secara efektif dalam menjalin interaksi sosial di lingkungan sekolah. Dapat dipahami bahwa model konseling Analisis Transaksional dapat mengembangkan interaksi sosial siswa terisolir secara efektif dan menjadi lebih baik. Menurut Richard Nelson Jones menyatakan bahwa “Analisis Transaksional merupan kajian tentang aspek-aspek psikiatrik dari transaksi-transaksi tertentu atau serangkaian transaksi yang terjadi di antara dua orang atau lebih individu tertentu di waktu dan tempat tertentu” (Richard Nelson Jones 2011:229).
Berdasarkan pendapat di atas diketahui bahwa Analisis Transaksional adalah salah satu model pendekatan dalam konseling yang digunakan untuk
mengkaji dan menganalisis bagaimana proses transaksi atau pertukaran pesan yang dilakukan individu dalam hal ini siswa terisolir dapat dilihat dari pola komunikasi yang dilakukan. Melalui pendekatan inilah nanti di analisis bagaimana proses dan transaksi dan komunikasi yang dilakukan oleh siswa yang terisolir yang menyebabkan siswa terisolir tersebut tidak efektif dalam proses komunikasinya.
Alasan penulis kenapa mengambil pendekatan konseling Analisis Transaksional yang penulis pilih sebagai salah satu pendekatan untuk memperbaiki keterampilan komunikasi siswa yang terisolir yaitu:
1. Analisis Transaksional adalah hubungan komunikasi antara seseorang dengan orang lain. Dengan demikian model analisis tranaksional lebih banyak di terapkan dalam suasana kelompok yaitu suasana yang terdapat hubungan dengan orang lain. Hal yang di analisis, menyangkut komunikasi antara dua orang atau lebih yang meliputi bagaimana bentuk, cara dan isi komunikasi mereka. (Erik Berne dalam Taufik, 2009: 95).
2. Analisis Transaksional adalah model konseling ini memandang bahwa perilaku individu dalam berkomunikasi dipengaruhi oleh ego state (status ego/pernyataan ego) yang dipilihnya. Setiap tindakan komunikasi dengan orang lain di pandang sebagai suatu transaksi. Status ego ini akan kelihatan ketika individu berinteraksi dengan orang lain yang ditampilkan pada waktu, tempat, situasi dan orang tang berbeda, digunakan orang-orang ketika mereka bersosisalisasi dalam
pasangan/ kelompok (Darimis 2014: 71-72).
3. Analisis transaksional adalah memiliki pandangan positif tentang sifat manusia, yang dinyatakan dalam posisi profesional “I am OK; you are OKE”. Analisis transaksional adalah konsep ego states. Ego states ada tiga macam; parent (orang tua), adult (dewasa), dan chaid (anak-anak) (Richard Nelson Jones 2011:229).
Kutipan di atas menjelaskan bahwa konseling Analisis Transaksional ini adalah suatu hubungan komunikasi antara kita dan orang lain, di mana terjadinya transaksi yang berjalan dapat berlangsung secara benar dan tepat atau dalam keadaan tidak benar dan tidak tepat, wajar dan tidak wajar. Sesuai dalam posisi yang profesional “I am OK; you are OKE” dengan mengendalikan ketiga ego states sesuai pada tempat atau dengan kata lain sesuai pada situasi objek tertentu. Bentuk cara dan isi komunikasi itu mencerminkan ada atau tidaknya masalah yang sedang di alami oleh individu
bersangkutan. Konseling analisis tansaksional dapat membantu mengembangkan bagaiman klien menggunakan ketiga ego states pada saat yang tepat dan berjalan dengan baik sesuai dengan perannya.
Individu bermasalah disebabkan jika kecenderungan memilih keluar dari posisi sikap hidup yang profesional “I am OK; you are OK”. Menurut Hansen dalam pendekatan AT, individu mengalami maslah disebabkan oleh beberapa faktor:
1. Kencenderungan untuk memilih posisi hidup devolusioner, revolusioner, atau obvolusioner atau pada dirinya ada “Not OK”. 2. Kecenderungan untuk menggunakan ego state yang tunggal atau
hanya satu ego state tampil untuk situasi yang berbeda.
3. Ego state yang ditampilkan sering terlalu cair, sehingga tidak ada batasan antara ego state yang lain.
4. Ego state-nya tercemar (Darimis 2014: 85).
Berdasarkan kutipan di atas, dapat diketahui individu yang mengalami masalah jika cenderung, memilih posisi hidup devolusioner, revolusioner, atau obvolusioner atau pada dirinya ada “Not OK”. Posisi hidup sangat mempengaruhi individu dalam menampilkan ego state dan semuanya akan terlihat dalam transaksi yang dilakukan. Seperti diungkapkan Prayitno menyatakan bahwa life position (posisi hidup) meliputi “ I am OK you are OK (SOKO), I am OK- you are Not OK (SOKTO), I am Not OK- you are OK (STOKO), dan I am Not OK- you are Not OK (STOKTO)” (Prayitno 2005:55).
Berdasarkan pendapat di atas diketahui bahwa posisi hidup (SOKO) yaitu transaksi menyenangkan orang lain dan dia juga disenagi orang lain. (SOKTO) yaitu menunjukan sikap sombong dan menjauhkan diri dari orang lain. (STOKO) dimana cenderung untuk mengasingkan diri dan kalaupun untuk bertansaksi dengan orang lain hanya untuk mendapatkan pengakuan. (STOKTO) posisi hidup yang dipilih menyerah pada semua keadaan, tidak mempunyai harapan, dan membiarkan dirinya di bawa gelombang pasang surut kehidupan.
Adapun tujuan untuk meningkatkan interaksi sosial secara efektif dengan menggunakan model konseling analisis tansaksional menurut Corey (1988) sebagai berikut:
Secara umum tujuan yang hendak di capai adalah membantu klien agar dapat memahami sifat dan jenis transksi mereka dengan orang lain sewaktu dia bertansaksi. Pemahaman ini akan berguna bagi klien sehingga mereka bisa merespon orang lain secara langsung, menyeluruh dan akrab. (Corey, 1988 dalam Taufik, 2009: 112).
Berdasakan kutipan di atas menjelaskan tujuan konselng analisis tansaksional untuk membantu seseorang untuk dapat memahami sifat dan jenis interaksi sehingga kita paham dan merespon orang lain dengan baik dan benar. Tujuanya untuk merubah cara berkomunikasi, sikap dan tingkah laku yang baik dan sehat dalam berinteraksi sosial. Di dalam konseling analisis tansaksional berfokus kepada menganalisis seseorang dalam berinteraksi dengan orang lain dan lebih cocok digunakan dalam kelompok. Konseling analisis transaksional format kelompok memiliki tahap, menurut Corey sebagai berikut:
Tahap awal yaitu membangun kontak/ rapport yang baik dengan anggota kelompok dan merumuskan kontrak dengan anggota kelompok. Tahap kerja, mengeksplorasi raket anggota kelompok dan membenarkan skrip hidup mereka dan pada akhirnya keputusan mereka. Tahap akhir, memberi dukungan atau penguatan terhadap keputusan baru anggota kelompok serta menantang anggota kelompok untuk dapat mengaplikasikan perubahannya dalam kehidupan sehari-hari (Corey,
2008: 327-329).
Konseling AT format kelompok yang penulis maksud dalam penelitian ini adalah suatu proses konseling yang terdiri dari tiga tahap yaitu tahap awal, tahap kerja dan tahap akhir. Tahap awal, yaitu tahap dimana pemimpin kelompok membangun rapport dengan anggota kelompok dan merumuskan kontrak kerja dengan anggota kelompok. Tahap kerja, yaitu tahap dimana pemimpin kelompok mengeksplorasi ego state, raket dan posisi hidup anggota kelompok untuk dapat di analisis dan di rekonstruksi kembali. Tahap akhir, yaitu tahap dimana pemimpin kelompok memberi dukungan terhadap perubahan perilaku baru anggota kelompok dan mendorongnya untuk dapat diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari.
Pendekatan Analisis Tansaksional berfokus kepada keputusan-keputusan awal yang diperoleh oleh klien dan menekankan kemampuan klien untuk membuat keputusan-keputusan baru. Analisis tansaksional menekankan aspek-aspek kognitif rasional-behavior dan berorientasi kepada peningkatan kesadaran sehingga klien mampu membuat keputusan-keputusan baru dan mengubah cara hidupnya. Hal ini juga melatar belakangi penulis memilih pendekatan analisis tansaksional. Sehingga dengan ini di harapkan kepada siswa terisolir yang kurang terampil dalam berkomunikasi dengan teman sebaya untuk melakukan interaksi sosial maka dengan adanya pendekatan analisis tansaksional dapat melatih dan mengembangkan kemampuan interaksi sosial siswa terisolir lebih baik.
Melihat dan mengingat pentingnya interaksi sosial dalam kehidupan dan terkhususnya pada dunia pendidikan, penulis tertarik untuk melakukan penelitian mengenai peningkatan interaksi sosial siswa yang terisolir melalui konseling analisis tansaksional. Diberikan layanan ini diharapkan terlahirnya individu-individu yang mampu menjalin interaksi sosial yang baik dan menjadi manusia seutuhnya di lingkungan pendidikan. Kemudian dari out-put pendidikan akan menghadirkan sumber daya manusia (SDM) yang bermutu dan mampu berperan aktif dalam berbagai aspek kehidupan. Berdasarkan hasil analisis data sosiometri yang di lakukan peneliti di SMAN 1 Lintau Buo Kabupaten Tanah Datar pada kelas X IPS yaitu:
Berdasarkan hasil sosiometri yang disebarkan pada tanggal 19 Agustus 2019, banyak ditemui siswa yang mengalami masalah interaksi sosial seperti ada siswa yang terisolir artinya siswa tidak mendapat pilihan, di kucilkan dalam bermain ataupun belajar oleh siswa tertentu ataupun kelompok tertentu. Kelas sebaran sosiometri yaitu kelas X IPS yang terdiri dari 6 lokal dengan jumlah seluruh siswa sebanyak 189 orang. (Hasil observasi kesekolah dan menyebarkan sosiometri di kelas X IPS di SMA 1 Lintau pada tanggal 19 Agustus 2019).
Tabel 1.1
Data Hasil Sosiometri Siswa yang Mengalami Keterisolir pada Kelas X IPS di SMA 1 Lintau Buo
KELAS JUMLAH SISWA
X. IPS 1 7 Orang X. IPS 2 8 Orang X. IPS 3 8 Orang X. IPS 4 11 Orang X. IPS 5 8 Orang X. IPS 6 6 Orang
Jumlah Seluruhnya 48 Orang Sumber : SMAN 1 Lintau Buo
Berdasarkan data di atas mengenai hubungan sosial siswa kelas X IPS SMA 1 Lintau Buo diketahui bahwa ada 48 siswa yang mengalami masalah dalam interaksi sosial yang terisolir yang tidak dipilih oleh teman dalam kelas untuk dijadikan teman pada peryataan-pernyatan dalam bidang pribadi, sosial, belajar, karir. Hal ini tentu tidak bisa dibiarkan begitu saja, mengingat pentingnya keterampilan komunikasi dalam berinteraksi sosial yang harus di miliki seseorang demi memenuhi kodratnya sebagai makhluk sosial yang pasti membutuhkan orang lain demi kelangsungan hidupnya. Jika siswa tidak terampil berkomunikasi dalam berinteraksi, tentu akan muncul berbagai permasalahan dalam kehidupannya, seperti siswa akan sulit memenuhi kebutuhannya sebagai makhluk sosial karena tidak terampil dalam berkomunikasi, bahkan siswa tersebut juga akan mengalami kehidupan yang tidak efektif.
Hal ini didukung juga dengan hasil wawancara penulis dengan Guru BK pada tanggal 21 Agustus 2019, Ibu Hidayati, S.Pd.I sebagai Guru BK menjelaskan bahwa,
Sebagian kecil siswa kelas X IPS mengalami masalah dibidang HSO (Hubungan Sosial) dan bidang DPI (Diri Pribadi). Bahkan mereka ada yang mengalami masalah berat di dua bidang masalah tersebut. Di ketahui siswa yang terisolir juga di nilai sebagai pribadi yang tidak mau bergaul, sering duduk di pojok paling belakang, jarang berkomunikasi, menghindari banyak orang, takut, pemalu di depan orang banyak, sulit untuk memulai pembicaraan, berkata tidak sopan, egois, suka memerintah, pendiam, dan sering dikucilkan dalam kelas dan tidak disukai oleh teman-temannya di kelas, sehingga mereka dianggap asing,
kurang dalam pergaulan. (Hasil wawancara dengan Guru BK pada tanggal 21 Agustus 2019).
Jadi, dari banyaknya faktor yang mempengaruhi interaksi sosial siswa terisolir, salah satunya yaitu kemampuan komunikasi. Dimana melalui kemapuan berkomunikasinya diharapkan siswa mampu menjalin hubungan sosial dan interkasi sosial yang jauh lebih bagus dari pada sebelumnya, sehingga siswa mampu menempatkan diri dan menjadi bagian dalam lingkungan sosialnya. Salah satu cara memperbaiki kemampuan berkomunikasi siswa dalam interaksi sosial yaitu melalui konseling analisis transaksional yang berfokus pada proses transaksi (pertukaran pesan antara satu individu (komunikator) dengan penerima pesan (komunikan), yang mana pendekatan ini menganggap bahwa permasalahan manusia terjadi karena adanya kesalahan dalam cara penyampaian, bentuk maupun isi pesan.
Beranjak dari kumpulan masalah dan fenomena yang terjadi, maka penulis tertarik untuk mendalami tentang interaksi sosial siswa yang terisolir di sekolah, melalui sebuah karya ilmiah dengan judul “Efektifitas Konseling Analisis Tansaksional Format Kelompok untuk Meningkatkan Interaksi Sosial Siswa yang Terisolir pada Kelas X IPS di SMAN 1 Kecamatan. Lintau Buo Kabupaten. Tanah Datar”.
B.Identifikasi Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah di atas, maka permasalahan dapat di identifikasikan sebagai berikut:
1. Gambaran interaksi sosial siswa yang terisolir di SMA 1 Lintau Buo. 2. Faktor penyebab interaksi sosial siswa yang terisolir di SMA 1 Lintau Buo. 3. Bentuk komunikasi interaksi sosial siswa yang terisolir.
4. Efektifitas konseling analisis transksional format kelompok untuk meningkatkan interaksi sosial siswa yang terisolir di SMA 1 Lintau Buo.
C.Batasan Masalah
Dari banyaknya identifikasi masalah yang diuraikan di atas, agar lebih fokus, maka penulis akan membatasi masalah yang akan diteliti yaitu “Efektifitas Konseling Analisis Tansaksional Format Kelompok untuk Meningkatkan Interaksi Sosial Siswa yang Terisolir pada Kelas X IPS di SMAN 1 Kecamatan. Lintau Buo Kabupaten Tanah Datar”.
D. Rumusan Masalah
Berdasarkan batasan masalah di atas, yang menjadi rumusan masalah yang penulis teliti adalah: “Apakah Konseling Analisis Tansaksional Format Kelompok Efektif untuk Meningkatkan Interaksi Sosial Siswa yang Terisolir pada Kelas X IPS di SMAN 1 Kecamatan. Lintau Buo Kabupaten. Tanah Datar ?”.
E. Tujuan Penelitian
Adapun tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian yang akan penulis lakukan adalah “Untuk Mengetahui Efektifitas Konseling Analisis Tansaksional Format Kelompok untuk Meningkatkan Interaksi Sosial Siswa yang Terisolir Kelas X IPS di SMAN 1 Kecamatan. Lintau Buo Kabupaten. Tanah Datar”.
F. Manfaat dan Luaran Penelitian 1. Manfaat Teoritis
Untuk membuktikan apakah pendekatan Analisis transaksional dapat meningkatkan interaksi sosial bagi siswa terisolir. Sehingga siswa tersiolir dapat berinteraksi dengan baik dan memiliki kehidupan sosial yang baik pula.
2. Manfaat Praktis
a. Bagi Peserta Didik : Bagi siswa terisolir dapat meningkatkan interaksi sosial dalam bekerja sama (cooperation), mampu menunjukan keseimbangan hubungan antara dua belah pihak (acomodation), dan mampu menyesuaikan dirinya dengan lingkungan sekitar
(asimilation(asimilation) sehingga siswa terisolir dapat berinteraksi sosial dengan baik.
b. Bagi Guru Mata Pelajaran : untuk membuat kesetaraan sosial di dalam kelas sehingga proses pembelajaran dapat berlangsung dengan baik. c. Bagi Guru BK : untuk lebih mengintensifkan pelayanan bimbingan
dan konseling terutama untuk anak-anak yang terisolir.
d. Luaran Penelitian : mengharapkan dari hasil penelitian ini untuk dijadikan artikel dalam jurnal.
BAB II
KAJIAN PUSTAKA
A.Landasan Teoritis 1. Interaksi Sosial
a. Pengertian Interaksi Sosial
Manusia sebagai makhluk sosial secara alami akan menjalin hubungan sosial dengan orang lain atau yang sering disebut berinteraksi. Peran yang dimiliki manusia tidaklah dapat dipisahkan antara satu dan lainnya. Kedua peran ini diibaratkan dua sisi mata uang yang saling berkebalikkan kedudukannya namun mempunyai peran yang sama dalam kehidupan manusia. Sebagai makhluk individu, manusia menjalankan kewajiban pribadinya secara bertanggung jawab tanpa merugikan kepentingan orang lain.
Lebih luas lagi dijelaskan oleh, Elly. M Setiadi: 2007 (dalam Melchioriyusni 2013: 102) mengungkapan bahwa “interaksi sosial yang dilakukan harus sesuai dengan nilai-nilai sosial yang harus menghargai antara individu satu dan lainya”. Sependapat dengan (Arifin 2015: 50) mengenai interaksi adalah “tindakan yang dilakukan oleh seseorang yang menjadi stimulus bagi tindakan individu lain yang menjadi pasangannya. Berdasarkan kutipan tersebut tanpa adanya interaksi sosial, maka dalam kehidupan tidak akan ada hubungan yang baik dengan orang lain. Dalam melakukan interaksi sosial, perlu memiliki sikap saling menghargai dengan individu lain. Interaksi menurut Elly.M Setiadi sejalan dengan pendapat H. Bonner mengenai interaksi sosial.
H. Bonner (dalam Ahmadi 1991: 54) interaksi sosial adalah “Suatu hubungan antara dua individu atau lebih, dimana kelakuan individu yang satu mempengaruhi, mengubah, atau memperbaiki kelakuan individu yang lain atau sebaliknya”. Berdasarkan kutipan tersebut menjelaskan bahwa interaksi sosial merupakan keuntungan yang besar satu sama lain dan memiliki fungsi kemajuan dalam kehidupan bermasyarakat.
Memiliki hubungan timbal balik dimana seseorang dapat menyesuikan diri dengan orang lain atau kelompok lain. Jika individu hannya hidup seorang diri maka individu sersebut semata-mata hidupnya tidak lebih maju dari pada kehidupan benda-benda mati, sehingga tidak ada kemajuan terhadap diri individu itu sendiri.
Selain itu, dalam Calhoun, J.F, Acocella, J.R, edisi 3, penerjemah Satmoko juga berpendapat tentang interaksi sosial sebagai berikut:
Dalam interaksi manusia terdapat satu rangkaian, yang diperluas dari pengaruh timbal balik perubahan-perubahan halus yang kita timbulkan satu sama lain. Suatu hubungan yaitu pola kebiasaan mengenai interaksi antara dua orang, yang berlangsung lama dan melibatkan seperangkat tanda emosinya yang unik. Demikian juga pada setiap interaksi kita membawa kesadaran tentang anggota kita dalam sub kelompok tertentu dari masyarakat keseluruhan. (Calhoun, J.F, Acocella, J.R, edisi 3, penerjemah Satmoko. 1990: 234-235).
Berdasarkan kutipan di atas menjelaskan interaksi sosial merupakan suatu pengaruh timbal balik antara individu satu dan individu lain maupun kelompok dengan perubahan-perubahan yang kita timbulkan satu sama lain. Suatu hubungan dan interaksi merupakan pola kebiasaan yang menjadi suatu kegiatan atau kebiasaan antara dua orang atau lebih dilakukan dengan kesadaran tentang anggota kita atau dari masyarakat keseluruhan.
Berdasarkan beberapa defenisi yang telah dikemukakan dan di paparkan di atas, maka dapat diambil suatu pemahaman bahwa interaksi sosial dengan kata lain merupakan keharusan tindakan yang dilakukan seseorang yang menjadikan stimulus untuk orang lain dengan nilai-nilai sosial yang harus menghargai antara individu satu dan lainya, dimana terjadi hubungan timbal balik yang membentuk dinamika kelompok antara individu dengan individu, individu dengan kelompok, kelompok dengan kelompok lain dimana dalam hubungan tersebut dapat mengubah perubahan-perubahan halus yang kita timbulkan satu sama lain, mempengaruhi, memperbaiki antara satu individu terhadap individu
lainnya mengenai pola kebiasaan interaksi, yang berlangsung lama dan melibatkan seperangkat tanda emosinya yang unik sehingga terjadi adanya aksi dan reaksi dari kontak sosial dan komunikasi sosial.
b. Syarat-Syarat Terjadinya Interaksi Sosial
Menurut Abdulsyani, terjadinya interaksi sosial dikarenakan saling mengerti tentang maksud dan tujuan masing-masing pihak dalam hubungan sosial. Dalam proses sosial dapat dikatan terjadi interaksi sosial, apabila memenuhi persyaratan sebagai aspek kehidupan bermasyarakat (dalam Arifin 2015: 56). Secara teoritis, setidak-tidaknya terjadi interaksi sosial yakni adanya kontak sosial dan adanya komunikasi.
Soejono Soekanto (dalam Sisrazeni 2014: 51) menjelaska mengenai syarat terjadinya interaksi sosial. “Kontak sosial adalah hubungan antara satu orang atau lebih melalui percakapan, dialog dan masing-masing pihak mengerti maksud dan tujuannya”. Kontak sosial terbagi menjadi dua yaitu, kontak sosial secara langsung dan kontak sosial secara tidak langsung. Kontak sosial secara langsung misalnya pertemuan dan dialok. Kontak tidak langsung yaitu, dengan menggunakan peralatan seperti telepon, radio, dan surat. Kontak sosial dapat berlangsung dalam tiga bentuk yaitu, antara orang perorangan, antara orang-perorangan dalam satu kelompok manusia atau sebaliknya, antara suatu kelompok manusia dengan satu kelompok manusia lainnya.
Maka dapat dipahami dari kutipan tersebut, kontak sosial pada prinsipnya adalah hubungan antara satu orang atau lebih, melalui percakapan dengan saling mengerti tentang maksud dan tujuan masing-masing dalam kehidupan masyarakat. Sedangkan, “komunikasi sosial adalah suatu proses saling memberikan tafsir kepada atau dari pelaku pihak lain”. Melalui tafsir kepada pelaku pihak lain, seseorang mewujudkan perilaku sebagai reaksi terhadap maksud atau peran yang ingin disampaikan oleh pihak lain.
Komunikasi sosial juga memiliki cara dalam penyampaiannya. Dalam sosiologi dikenal dua cara dalam menyampaikan komunikasi, yaitu sebagai berikut:
1. Komunikasi secara langsung, pihak komunikator menyampaikan pesannya secara langsung kepada pihak komunikan.
2. Komunikasi tidak langsung (simbolis), pihak komunitor menyampaikan pesanya kepada pihak komunikan melalui perantara pihak ketiga. Interaksi ini dilakukan dengan menggunakan media bantu untuk mempelacar dalam berinteraksi, minsalnya internet telvon dan sebagainya. (Arifin 2015: 57).
Maka dapat dipahami dari kutipan tersebut komunikasi yang secara langsung komunikator menyampaikan pesan atau kata-kata secara langung tanpa melalui prantara terhadap komunikan atau lawan berbicaranya. Sedangkan komuniksi tidak langsung adalah penyampaian pesan yang dilakukan oleh komunikator dengan mengunakan alat bantu atau prantara untuk penyampaian pesan kepada pihak komunikan dengan menggunakan internet telvon dan lain sebagainya.
c. Aspek Yang Mendasari Interaksi Sosial
Manusia sebagai makhluk sosial, makhluk yang membutuhkan orang lain dalam kehidupannya sehari-hari. Tidak dapat dihindari bahwa manusia harus berhubungan dengan yang lain. Adapun teori-teori yang mengenai aspek interaksi sosial sebagai hal yang paling pokok menurut Calhoun, J.F, Acocella, J.R, edisi 3, penerjemah Satmoko sebagai berikut:
1. Teori atribusi menyatakan bahwa kunci transaksi terletak pada apa yang dianggap oleh masing-masing orang sebagai penyebab perilaku orang lain (Calhoun, J.F, Acocella, J.R, edisi 3, penerjemah Satmoko. 1990: 235). Bahwa semua manusia merasakan kebutuhan yang kuat untuk memahami perilaku manusia, untuk mengatur pandangan mereka mengenai kenyataan orang perlu mengetahui mengapa mereka dan orang lain melakukan apa yang mereka lakukan.
2. Teori peran menyatakan bahwa kualitas interaksi sosial kita di tentukan oleh tanggapan kita terhadap peran sosial yaitu,
seperangkat pengharapan terhadap perilaku pada jabatan tertentu dalam struktur sosial. (Calhoun, J.F, Acocella, J.R, edisi 3, penerjemah Satmoko. 1990: 237).
3. Teori komunikasi menegaskan bahwa pernyataan orang satu sama lain adalah faktor yang sangat penting dalam interaksi sosial, karena pernyataan itu bermanfaat untuk membatasi hubungan tersebut bagi masing-masing peserta. (Calhoun, J.F, Acocella, J.R a, edisi 3, penerjemah Satmoko. 1990: 241).
4. Teori pertukaran sosial memandang hubungan sebagai hal yang terutama di tentukan oleh hasilnya yaitu, keuntungan yang di peroleh masing-masing peserta. (Calhoun, J.F, Acocella, J.R, edisi 3, penerjemah Satmoko. 1990: 243).
Berdasarkan kutipan di atas yang sama kita pakai dalam melakukan analisis diri individu, kita dapat menganalisis hubungan sosial individu, dengan menggunakan seluruh empat teori untuk meneliti anteseden dan konsekuensi perilaku sosial individu.
1. Komunikasi
a) Pengertian komunikasi
Manusia merupakan makhluk sosial, karena itu dalam kehidupan manusia selalu ditandai dengan pergaulan antar manusia. Pergaulan manusia merupakan salah satu bentuk peristiwa komunikasi dalam masyarakat. Sesama manusia yang saling bergaul, ada yang saling membagi informasi dan ada pula yang memberikan gagasan atau sikap.
Komunikasi merupakan salah satu aspek yang mendasari terjadinya interaksi sosial, jika komunikasi tidak ada maka seseorang tidak akan bisa berhubungan dengan individu lainnya. Menurut Sarwono (2010: 185) komunikasi adalah “Proses pengiriman berita dari seseorang kepada orang lain”. Berdasarkan kutipan di atas bahwa komunikasi merupakan proses pengiriman berita atau pesan dari komunikator kepada komunikan.
Farid Mashudi menyatakan bahwa komunikasi adalah “Suatu proses penyampaian pesan (ide, gagasan) dari satu pihak kepada pihak lain agar terjadi saling mempengaruhi diantara
keduanya”(Farid Mashudi2012:103). Berdasarkan kutipan di atas, diketahui bahwa komunikasi adalah proses penyampaian ide dan gagasan antara si pembicara dan si pendengar yang mana antara keduanya saling mempengaruhi.
Selanjutnya, Mohammad Surya menyatakan bahwa “Komunikasi adalah suatu proses pemindahan informasi antara dua orang manusia atau lebih, dengan menggunakan simbol-simbol bersama. Komunikasi sekurang-kuangnya melibatkan dua partisipan yaitu pemberi dan penerima”( Mohommad Surya 2003:10). Berdasarkan kutipan di atas, diketahui bahwa komunikasi adalah proses pemindahan informasi antara dua orang atau lebih dengan menggunakan simbol-simbol atau lambang-lambang bersama.
Berdasarkan beberapa defenisi yang telah dikemukakan di atas, maka dapat diambil suatu pemahaman bahwa komunikasi adalah suatu proses transaksi atau pemindahan pesan, ide dan gagasan oleh seorang komunikator (penyampai pesan) kepada komunikan (penerima pesan) melalui simbol-simbol yang dipahami bersama, sehingga apa yang disampaikan komunikator dapat dipahami oleh komunikan. Melalui proses komunikasi seseorang dapat menyampaikan maksud, tujuan dan apa yang ia inginkan kepada lawan bicaranya.
b) Tujuan Komunikasi
Setiap kegiatan yang dilakukan manusia tentu mempunyai tujuan, begitu juga dengan komunikasi. Devito dalam Sofyan Suri mengemukakan bahwa “Ada beberapa tujuan mengapa orang melakukan komunikasi, tujuan itu baik disadari atau disengaja ataupun tidak disengaja pada saat komunikasi dimulai. Tujuan komunikasi itu adalah untuk belajar, berhubungan, mempengaruhi, bermain dan menolong” (Syofyan Suri 2000: 6). Berdasarkan
kutipan di atas, diketahui bahwa tujuan komunikasi adalah untuk belajar, berhubungan dengan orang lain, saling mempengaruhi satu sama lain, bermain dan untuk menolong orang lain.
Gordon I. Zimmerman dalam Wahyu Ilahi menyatakan bahwa tujuan komunikasi adalah sebagai berikut:
a) Tujuan komunikasi adalah untuk menyelesaikan tugas-tugas yang penting bagi kebutuhan manusia untuk memberi pakaian dan makanan sendiri, memuaskan kepenasaran pada diri manusia akan lingkungan dan menikmati hidup.
b) Tujuan komunikasi adalah menciptakan dan memupuk hubungan dengan orang lain (Wahyu Ilahi 2010: 38-39).
Berdasarkan kutipan di atas, diketahui bahwa tujuan dari komunikasi adalah untuk menyelesaikan pemenuhan kebutuhan manusia, seperti makan, minum, pakaian dan lain sebagainya, yang dapat diperoleh melalui proses komunikasi. Tidak hanya itu, komunikasi juga bertujuan untuk menjawab kepenasaran manusia terhadap lingkungannya, sehingga dengan adanya komunikasi rasa penasaran manusia dapat terjawab. Komunikasi juga bertujan untuk menciptakan dan memupuk hubungan dengan orang lain. Dengan adanya komunikasi maka akan semakin mempererat hubungan yang terjalin antara seseorang dengan orang lain.
c) Bentuk-bentuk Komunikasi
Komunikasi digunakan untuk menciptakan atau meningkatkan aktivitas hubungan antar manusia atau kelompok. Komunikasi ini terdiri atas beberapa jenis, antara lain adalah sebagai berikut:
a. Komunikasi verbal atau perkataan, yaitu mencakup beberapa aspek, antara lain:
1) Vocubulary (perbedaharaan kata-kata). Komunikasi tidak akan efektif bila pesan disampaikan dengan kata-kata yang tidak dimengerti. Oleh karena itu, olah kata-kata menjadi hal yang amat penting dalam berkomunikasi.
2) Racing (kecepatan). Komunikasi akan lebih efektif dan sukses bila kecepatan bicara dapat diatur dengan baik, tidak terlalu cepat dan tidak terlalu lambat.
3) Intonasi suara. Aspek ini mempengaruhi arti pesan secara dramatis sehingga pesan menjadi lain artinya bila diucapkan dengan intonasi suara yang berbeda. Intonasi suara yang tidak proporsional merupakan hambatan dalam berkomunikasi.
4) Humor. Aspek ini dapat meningkatkan kehidupan yang bahagia. Dugan (1989) memberikan catatan bahwa tertawa dapat membantu menghilangkan stress dan nyeri. Tertawa mempunyai hubungan fisik dan psikis. Harus diingat bahwa humor merupakan satu-satunya selingan dalam berkomunikasi.
5) Singkat dan jelas. Komunikasi akan efektif bila disampaikan secara singkat dan jelas, langsung pada pokok permasalahannya, sehingga lebih mudah dimengerti.
6) Timing (waktu yang tepat), keadaan kritis yang perlu diperhatikan. Sebab, berkomunikasi menjadi berarti bila seseorang bersedia berkomunikasi. Artinya, ia dapat menyelesaikan waktu untuk mendengar atau memperhatikan sesuatu yang disampaikan.( Farid Mashudi 2012: 107).
Berdasarkan kutipan di atas, diketahui bahwa komunikasi terdiri dari dua bentuk, verbal dan nonverbal. Komunikasi verbal adalah komunikasi berupa perkataan atau verbal yang mencakup aspek vocabulary, yaitu pembendaharaan kata. Komunikasi tidak akan berjalan dengan lancar jika pembendaharaan kata minim. Komunikasi juga akan berjalan dengan lancar jika kecepatan berbicara serta intonasi suara diatur secara tepat, seperti tidak terlalu cepat maupun tidak terlalu lambat, sehingga penerima pesan dapat menangkap apa yang ingin disampaikan pemberi pesan.
Tidak hanya itu, dalam aspek komunikasi secara verbal aspek timing juga harus diperhatikan, karena komunikasi tidak akan berjalan dengan lancar jika penerima pesan tidak mendengar atau memperhatikan pemberi pesan, jika pemberi pesan berbicara terlalu lama, isi pembicaraan tidak jelas, terlalu panjang dan lain
sebagainya. Dengan demikian, dalam berkomunikasi waktu juga perlu untuk diperhatikan.
b. Komunikasi nonverbal atau bahasa tubuh. Komunikasi nonverbal adalah penyampaian pesan tanpa kata-kata. Beberapa hal yang termasuk dalam komunikasi nonverbal adalah sebagai berikut:
1) Ekspresi wajah. Wajah merupakan sumber yang kaya dengan komunikasi. Sebab, ekspresi wajah mencerminkan suasana emosi seseorang.
2) Kontak mata, yang merupakan sinyal alamiah untuk berkomunikasi. Dengan mengadakan kontak mata selama berinteraksi atau tanya jawab, berarti orang tersebut terlibat dan menghargai lawan bicaranya dengan kemauan untuk memperhatikan, bukan sekedar mendengarkan. Kontak mata juga memberikan kesempatan kepada orang lain untuk mengobservasi yang lainnya.
3) Sentuhan, yaitu bentuk komunikasi personal, sebab sentuhan bila bersifat spontan daripada komunikasi verbal. Beberapa pesan, seperti perhatian yang sungguh-sungguh, dukungan emosional, kasih sayang, atau simpati dapat dilakukan melalui sentuhan.
4) Postur tubuh dan gaya berjalan. Cara seseorang berjalan, duduk, berdiri dan bergerak memperlihatkan ekspresi dirinya. Postur tubuh dan gaya berjalan merefleksikan emosi, konsep diri, dan tingkat kesehatannya.
5) Sound (suara). Rintihan, menarik nafas panjang, dan tangisan juga merupakan ungkapan perasaan dan pikiran seseorang yang dapat dijadikan komunikasi. Bila dikombinasikan dengan semua bentuk komunikasi nonverbal lainnya, desis atau suara dapat menjadi pesan yang sangat jelas.
6) Gerak isyarat, yaitu gerakan yang dapat mempertegas pembicaraan. Menggunakan isyarat sebagai bagian total dari komunikasi seperti mengetukkan kaki atau menggerakkan tangan selama berbicara menunjukkan seseorang dalam keadaan stress, bingung, atau sebagai upaya untuk menghilangkan stress. (Farid Mashudi 2012: 107-109).
Berdasarkan kutipan di atas, diketahui bahwa komunikasi nonverbal adalah komunikasi tanpa menggunakan kata-kata atau verbal. Dimana komunikasi nonverbal ini dilakukan melalui kontak
mata, sentuhan, ekspresi wajah, postur tubuh, suara, gerak isyarat dan lain sebagainya. Melalui kontak mata, orang dapat berkomunikasi dengan lawan bicaranya, kontak mata memberikan peluang untuk mengobservasi, mengamati dan memperhatikan lawan bicara ketika sedang berkomunikasi. Begitu juga dengan ekspresi wajah, wajah adalah sumber yang kaya dengan komunikasi, yang mencerminkan bagaimana emosi seseorang. Melalui ekspresi wajah, seseorang dapat memahami apakah lawan bicaranya sedih, bahagia ataupun haru, tanpa harus diungkapkan sendiri oleh orang tersebut.
Begitu juga suara, menggambarkan bagaimana perasaan orang yang sedang berkomunikasi. Kemudian gerak isyarat, gerakan yang dapat mempertegas pembicaraan. Menggunakan isyarat sebagai bagian total dari komunikasi seperti mengetukkan kaki atau menggerakkan tangan selama berbicara menunjukkan seseorang dalam keadaan stress, bingung, atau sebagai upaya untuk menghilangkan stress. Dengan gerakan isyarat saja, tanpa melalui kata-kata, lawan bicara juga bisa memahami apa yang ingin disampaikan lawan bicaranya.
d) Fungsi sosial komuniksasi
Komunikasi mempunyai banyak sekali fungsi dalam kehidupan manusia, bahkan tidak hanya untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Berkaitan dengan fungsi komunikasi ini akan dikemukakan beberapa pendapat para ahli. Harold D. Lasswell dalam Wahyu Ilahi menjelaskan bahwa fungsi komunikasi adalah “Manusia dapat mengontrol lingkungannya, beradaptasi dengan lingkungan tempat mereka berada, serta melakukan transformasi warisan sosial terhadap generasi berikutnya” (Wahyu Ilahi 2010: 34-35). Berdasarkan pendapat di atas, dapat dipahami bahwa melalui komunikasi, manusia dapat mengontrol lingkungannya
seperti mengetahui peluang-peluang yang ada untuk dapat dimanfaatkan, dipelihara dan menghindar dari hal-hal yang mengancam. Manusia dapat mengembangkan pengetahuannya serta berdaptasi melalui informasi yang diterima dari lingkungannya.
Wahyu Ilahi mengatakan bahwa fungsi komunikasi adalah sebagai berikut:
Fungsi komunikasi adalah sebagai komunikasi sosial setidaknya mengisyaratkan bahwa komunikasi ini penting untuk membangun konsep diri, aktualisasi diri, untuk kelangsungan hidup, untuk memperoleh kebahagiaan, terhindar dari tegangan dan tekanan, antara lain melalui komunikasi yang bersifat menghibur dan memupuk hubungan dengan orang lain (Wahyu Ilahi 2010: 32).
Berdasarkan kutipan di atas, diketahui bahwa komunikasi berfungsi untuk membangun konsep diri, aktualisasi diri, untuk kelangsungan hidup, untuk memperoleh kebahagiaan, terhindar dari tegangan dan tekanan. Dengan adanya komunikasi seseorang dapat membangun konsep diri yang positif dengan interaksi yang ia lakukan. Dengan komunikasi juga seseorang dapat melangsungkan kehidupannya, dari segi pemenuhan kebutuhan pokok, aktualisasi diri maupun kebutuhan lainnya. Dengan komunikasi juga, rasa tertekan seseorang dapat hilang, jika ia komunikasikan dengan orang lain.
2. Sikap
Sikap juga merupakan aspek yang mendasari terjadinya interaksi sosial. Seseorang dalam melakukan interaksi dengan orang lain, maka sangat diperlukan sikap yang positif terhadap individu tersebut agar terciptanya interaksi sosial yang baik. Setiap manusia memiliki berbagai macam sikap yang berbeda-beda terhadap setiap objek yang ada. Menurut Sarlito Wirawan Sarwono sikap merupakan “Istilah yang mencerminkan rasa senang, tidak senang, atau perasaan
biasa-biasa saja (netral) dari seseorang terhadap sesuatu” Sarwono (2010: 201).
Sikap ini tertuju pada sesuatu yang menjadi objek dalam berinteraksi, misalnya benda, kejadian, situasi, orang-orang atau kelompok. Sikap yang muncul terhadap sesuatu itu adalah perasaan senang maka hal tersebut merupakan sikap yang positif. Sedangkan, sikap yang muncul tersebut merupakan sikap yang tidak senang, maka hal tersebut dapat dikatakan sikap yang negatif, sedangkan tidak timbul perasaan apa-apa, berarti sikapnya adalah netral. Sikap merupakan penentu yang terpenting dalam tingkah laku manusia, sebagai reaksi maka sikap selalu berhubungan dengan dua alternatif, yaitu senang dan tidak senang. Sikap seseorang terhadap lawan bicaranya akan mempengaruhi reaksi seseorang tersebut untuk membalas pembicaraan.
3. Tingkah laku kelompok
Interaksi juga didasari oleh tingkah laku individu yang ada dalam kelompok tersebut. Setiap individu memiliki tingkah laku yang berbeda, jadi di dalam kelompok masyarakat banyak tingkah laku individu yang berbeda-beda. Kelompok merupakan sekumpulan orang yang berkumpul di daerah tertentu.
Menurut Gustav Le Bon (dalam Sarwono 2010: 208) kelompok merupakan “Bila dua orang atau lebih berkumpul di suatu tempat tertentu, mereka akan menampilkan perilaku yang sama sekali berbeda dari pada ciri-ciri tingkah laku individu-individu itu masing-masing”. Berdasarkan kutipan tersebut jelaslah bahwa kelompok ini merupakan kumpulan dua orang atau lebih yang berkumpul di suatu tempat yang memiliki tingkah laku yang berbeda, sehingga dalam kelompok tersebut tingkah laku akan mempengaruhi bagaimana seseorang berinteraksi dengan anggota kelompok lainnya.
4. Norma-norma sosial
Aspek selanjutnya yang mendasari interaksi sosial adalah norma-norma sosial yang ada dalam masyarakat. Setiap kelompok masyarakat mempunyai norma-norma sosialnya tersendiri. Sehingga, dengan adanya norma ini bisa menjadi acuan bagi anggota kelompok tersebut dalam bertingkah laku.
Sarwono (2010: 230-231) mengatakan bahwa “Norma sosial adalah nilai-nilai yang berlaku dalam suatu kelompok yang membatasi tingkah laku individu dalam kelompok itu”. Nilai-nilai yang berlaku dalam kelompok merupakan hasil kesepakatan antara anggota kelompok. Sehingga, semua anggota kelompok patuh terhadap nilai-nilai yang telah dianutnya. Norma sosial akan membatasi tingkah laku individu di dalam kelompok, karena individu dalam bertingkah laku akan sesuai dengan nilai dan norma yang berlaku di dalam kelompoknya.
Norma sosial berbeda-beda dari suatu kelompok orang ke kelompok orang lainnya, norma sosial antara masyarakat dan suku bangsa akan berbeda setiap masyarakat dan suku bangsa. Norma sosial yang berbeda menyebabkan perilaku yang berbeda-beda. Suatu perilaku di anggap normal di suatu tempat dan menjadi perilaku yang aneh pada tempat lain.
d. Bentuk – Bentuk Interaksi Sosial
Interaksi sosial yang terjadi tidak hanya dalam satu bentuk saja, karena interaksi ini bermacam-macam sesuai dengan aspek atau cara interaksi individu tersebut. (Syarbaini dan Rusdiyanta 2013: 28) menjelaskan bentuk- bentuk interaksi sosial, dapat berupa adalah kerja sama (cooperation), akomodasi (accomodation), persaingan (competition), dan pertikaian (conflict). Sisrazeni mengemukakan juga bentuk-bentuk interasi sosial dapat berupa, kerjasama (cooperation), persaingan (competition), dan dapat juga berbentuk pertentangan atau
pertikaian (conflict). Suatu pertikaian mungkin mendapatkan suatu penyelesaian. Mungkin penyelesaian tersebut hanya akan dapat di terima untuk sementara waktu, yang dinamakan akomodasi (acomodation) dan ini kedua belah pihak belum tentu puas sepenuhnya. Suatu keadaan dapat dianggap sebagai bentuk keempat dari interaksi sosial. (Sisrazeni 2014:47).
Lebih mendalamnya dijelaskan oleh Gillin dan Gillin mengenai dua macam proses sosial yang timbul sebagai akibat adanya interaksi sosial yakni:
1. Proses sosial yang assosiatif yaitu suatu proses sosial yang mengidentifikasikan adanya gerakan pendekatan atau penyatuan. Bentuk-bentuk khusus proses sosial yang assosiatif adalah kooperatif, akomodasi, asimilasi dan alkulturasi.
2. Proses yang disodiatif yaitu proses sosial yang mengindikasikan pada gerak ke arah perpecahan. Bentuk –bentuk khusus proses sosial yang disosiatif adalah kompetisi, konflik dan kontravensi. Gillin dan Gillin (dalam Syarbaini dan Rusdiyanta 2013: 28).
Berdasarkan dari kutipan di atas mengenai bentuk-bentuk interasksi sosial yang terdiri dari kerja sama, persaingan, konflik, pertikaian dan akomodasi dari bentuk interaksi sosial terbagi juga kepada proses sosial yaitu proses yang pertama assosiatif yaitu yang dapat meningkatkan hubunagn atau interaksi sosial, kedua proses dissosiatif merupakan interaksi yang dapat merenggangkan hubungan solidaritas antara individu. Berikut penjelasan dari bentuk-bentuk interasi sosial sebagai berikut:
1. Proses Assosiatif
a) Kerja sama (cooperation)
Kerja sama adalah suatu bentuk interaksi sosial ketika tujuan anggota kelompok yang satu berkaitan dengan tujuan anggota yang lain atau tujuan kelompok secara keseluruhan sehingga setiap individu lain juga mencapai tujuannya masing-masing. Menutut (Arifin 2015: 58) kerja sama sebagai berikut:
Kerja sama adalah bentuk proses sosial yang dialaminya terdapat aktifitas tertentu yang ditujukan untuk mencapai tujuan bersama dengan saling membantu dan saling memahami terhadap aktifitas masing-masing. Roucek dan Werren mengatakan bahwa kerja sama berarti bekerja bersama-sama untuk mencapai tujuan bersama. Menurut Charles Horton Cooley, kerja sama timbul apabila orang menyadari bahwa mereka mempunyai kepentingan yang sama dan pada saat yang bersamaan mempunyai cukup pengetahuan serta pengendalian terhadap diri sendiri untuk memenuhi kepentingan tersebut melalui kerja sama.
Berdasarkan kutipan di atas dapat dipahami bahwa kerjasama merupakan persetujuan antara dua pihak atau lebih yang ingin mewujudkan kepenting bersama. Bekerja sama dapat membentuk hubungan timbal balik antara dua orang atau lebih. Menurut James D. Thompson dan wiliam J. Mc Ewen (dalam Arifin 2015: 59) bentuk kerja sama sebagai berikut:
1) kerukunan yang mencakup gotong-royong dan tolong-menolong.
2) Bargaining, yaitu pelaksanaan perjanjian mengenai pertukaran barang dan jasa antara dua organisasi atau lebih.
3) Kooptasi (cooptation), yaitu proses penerimaan unsur-unsur baru dalam kepemimpinan atau pelaksanaan politik dalam suatu organisasi sebagai salah satu cara untuk menghindari terjadinya kegonjangan dalam stabilitas organisasi yangg bersangkutan.
4) Koalisi (coalition), yaitu kombinasi antara dua organisasi atau lebih yang mempunyai tujuan-tujuan yang sama. 5) Joint venture, yaitu kerja sama dalam pengusahaan
proyek-proyek tertentu.
Berdasarkan kutipan di atas dapat dipahami bahwa bentuk kerja sama ada yang berbentuk gotong royong serta tolong menolong sesama manusia. Tolong menolong tersebut individu dapat menjadikan individu tersebut saling berhubungan atau berinteraksi. Bargaining, merupakan pertukan dalam bidang jasa. Selanjutnya, kooptasi yang merupakan penerimaan terhadap unsur-unsur baru dalam politik.
b) Akomodasi (accommodation)
Akomodasi adalah keadaan hubungan antara kedua belah pihak yang menunjukan keseimbangan yang berkaitan dengan nilai dan norma-norma sosial yang berlaku dalam masyarakat.
Menurut (Syarbaini 2013: 29) tentang akomodasi sebagai berikut:
Akomodasi digunakan dalam dua arti, yaitu menunjukan pada suatu keadaan dan untuk menunjukan pada suatu proses. Akomodasi sebagai keadaan berarti kenyataan adanya suatu keseimbangan (equilibrium) dalam interaksi orang-perorang dan kelompok-kelompok manusia, sehubung dengan norma– norma sosial dan nilai-nilai sosial yang berlaku dalam masyarakat.
Berdasarkan kutipan di atas dapat dipahami bahwa akomodasi adalah yang menunjukan keadaan seimbang pada suatu proses hubungan antar dua belah pihak yang berkaitan dengan nilai dan norma sosial di masyarakat. Adapun tujuan akomodasi dapat berbeda-beda sesuai dengan situasi yang dihadapi menurut (Arifin 2015: 61) yaitu:
1. Mengurangi pertentangan antara orang perseorangan atau sekelompok orang sebagai akibat perbedaan paham. 2. Mencegah meledaknya suatu pertentangan, baik sementara
waktu maupun temporer.
3. Memungkinkan terjadinya kerja sama antara kelompok sosial sebagai akibat faktor-faktor sosial psikologi dab kebudayaan, hidupnya terpisah.
4. Menguasai peleburan antara kelompok-kelompok sosial yang terpisah.
Berdasarkan kutipan di atas dapat dipahami bahwa esensi dari bentuk proses interaksi sosial sesuai dengan norma dan nilai yang berlaku dalam masyarakat, interaksi akan berlangsung dengan secara baik. Namun sebaliknaya jika tidak dilakukan sesuai dengan norma dan nilai sosial yang berlaku di masyarakat, interaksi sosial berlangsung kurang baik bahkan akan sangat buruk untuk individu