• Tidak ada hasil yang ditemukan

konstipasi

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "konstipasi"

Copied!
18
0
0

Teks penuh

(1)

SUPPOSITORIA

SUPPOSITORIA

Suppositoria adalah sediaan padat yang umumnya berbentuk peluru atau torpedo yang Suppositoria adalah sediaan padat yang umumnya berbentuk peluru atau torpedo yang  penggunaannya

 penggunaannya dapat dapat melalui melalui beberapa beberapa cara cara yaitu yaitu melalui melalui rektal rektal (anus), (anus), vagina, vagina, atau atau uretrauretra (saluran kencing). Tapi yang umumnya digunakan pada bayi dan anak adalah supositoria yang (saluran kencing). Tapi yang umumnya digunakan pada bayi dan anak adalah supositoria yang melalui rektal (anus). Suppositoria ini mudah meleleh, melunak atau

melalui rektal (anus). Suppositoria ini mudah meleleh, melunak atau melarut pada suhu tubuh.melarut pada suhu tubuh. Suppositoria biasanya diberikan pada pasien yang sedang tidak sadarkan diri, pasien yang Suppositoria biasanya diberikan pada pasien yang sedang tidak sadarkan diri, pasien yang  jika

 jika menerima menerima sediaan sediaan oral oral akan akan muntah, muntah, pasien pasien bayi bayi dan dan anak, anak, serta serta dalam dalam keadaan keadaan tidak tidak  memungkinkannya diberikan obat suntik (parenteral). Pada pasien bayi dan anak supositoria ini memungkinkannya diberikan obat suntik (parenteral). Pada pasien bayi dan anak supositoria ini digunakan sebagai obat anti kejang atau penurun panas secara cepat.

digunakan sebagai obat anti kejang atau penurun panas secara cepat. Penyimpanan suppositoria:

Penyimpanan suppositoria: 1.

1. PenyimPenyimpanan supppanan suppositositoria daloria dalam wadah team wadah tertutrtutup baik dan pada suup baik dan pada suhu yang berkhu yang berkisar 2′isar 2′C- C-8′C serta terlindung dari cahaya.

8′C serta terlindung dari cahaya. 2.

2. DisDisaraarankankan pada orang tua yang men pada orang tua yang mempumpunyai ananyai anak dengan riwk dengan riwayaayat Kejant Kejang demam atag demam atauu epile

epilepsi, untuk psi, untuk menyedimenyediakan akan suppossuppositoritoria ia penurun penurun panas atau panas atau suposisupositoritoria a anti kejanganti kejang sebagai persediaan obat di rumah.

sebagai persediaan obat di rumah.

Cara Penggunaan

(2)

1. Cuci kedua tangan sampai bersih dengan air dan sabun.

2. Sebelum dikeluarkan dari wadah, jika suppositoria terasa melunak, simpan di kulkas atau rendam dalam air dingin selama beberapa saat untuk mengeraskannya kembali.

3. Buka wadah pembungkus suppositoria.

4. Jika diminta untuk menggunakan hanya setengahnya, maka potong di bagian tengah dengan rata menggunakan pisau yang tajam.

5. Bagian ujung suppositoria dilumasi dengan lubrikan larut air supaya licin, jika tidak ada  bisa ditetesi sedikit dengan air keran.

6. Diperbolehkan memakai sarung tangan bersih jika ingin.

7. Atur posisi tubuh berbaring menyamping dengan kaki bagian bawah diluruskan sementara kaki bagian atas ditekuk ke arah perut.

8. Angkat bagian atas dubur untuk menjangkau ke daerah rectal.

9. Masukkan suppositoria, ditekan dan ditahan dengan jari telunjuk, sampai betul-betul masuk ke bagian otot sfinkter rektum (sekitar ½ – 1 inci dari lubang dubur). Jika tidak 

(3)

dimasukkan sampai ke bagian otot sfinkter, suppositoria ini akan terdorong keluar lagi dari lubang dubur.

10. Tahan posisi tubuh tetap berbaring menyamping dengan kedua kaki menutup selama kurang lebih 5 menit untuk menghindari suppositoria terdorong keluar.

11. Buang wadah suppositoria yang sudah terpakai dan kembali cuci kedua tangan sampai  bersih.

(4)

Konstipasi atau dikenal juga dengan istilah sembelit adalah keadaan dimana seseorang kesulitan buang air besar dengan pola harian yang normal. Pada setiap keadaan sembelit,  penyebab sembelit harus diidentifikasi secara benar untuk dapat menentukan pendekatan terapinya. Penyebab konstipasi atau sembelit ini dapat beragam seperti diet makanan yang rendah serat atau akibat konsumsi obat-obatan hipotiroidisme.

Konstipasi umumnya dianggap sebagai gangguan kesehatan biasa, yang dialami oleh  banyak orang, dan umumnya mereka melakukan pengobatan sendiri (swamedikasi). Masalah  banyaknya orang yang mengalami konstipasi biasanya berhubungan dengan masalah pola makan yang rendah serat. Konstipasi juga sering dipahami secara salah oleh masyarakat awam. Masyarakat umumnya menganggap bahwa buang air besar setiap hari penting bagi kesehatan. Dan menganggap bahwa buang air besar yang tidak rutin setiap harinya akan berkontribusi bagi  penimbunan racun dan mengakibatkan keluhan-keluhan somatik yang beragam.

Kesalahpahaman ini mengakibatkan penggunaan obat-obat pencahar yang kurang rasional dimasyarakat.

Untuk menilai kondisi konstipasi, diperlukan penilaian terhadap variabel-variabel  berikut:

1. Frekuensi buang air besar. Seseorang akan dinyatakan mengalami konstipasi jika frekuensi buang air besarnya kurang dari 3 kali dalam seminggu pada wanita dan 5 kali  per minggu pada pria.

2. Ukuran dan konsistensi tinja. Seseorang dengan konstipasi memerlukan waktu 25% lebih  besar dari biasanya untuk defekasi dan atau dengan jumlah tinja yang lebih sedikit.

3. Gejala-gejala sebagai sensasi buang air besar yang tidak lengkap.

Epidemiologi

Sekitar 40% pasien kelompok usia lebih dari 65 tahun mengalami konstipasi. Namun  pada dasarnya frekuensi buang air besar tidak menurun seiring peningkatan usia yang normal. Usia yang meningkat beresiko meningkatkan penggunaan laksatif (pencahar). Meski tak ada  bukti adanya korelasi antara kinerja usus dengan faktor usia.

Patofisiologi

Konstipasi pada dasarnya bukanlah penyakit. Konstipasi hanyalah gejala yang menunjukan adanya penyakit atau masalah kesehatan tertentu. Pendekatan pengobatannya harus

(5)

dimulai dengan mengenali penyebabnya. Gangguan saluran cerna seperti sindrom iritasi usus atau diverkulitis, gangguan metabolik seperti diabetes melitus dan gangguan endokrin seperti hipotiroidisme bisa jadi merupakan penyebab konstipasi tersebut. Selain itu diet rendah serat dan akibat obat-obatan seperti opiat juga dapat menjadi penyebab konstipasi.

Jika selama ini konstipasi lebih sering dialami oleh orang lanjut usia, hal ini mungkin lebih disebabkan karena diet yang kurang tepat (rendah serat dan cairan), elastisitas otot perut yang berkurang dan kurangnya aktivitas olahraga.

Obat-obatan tertentu memang telah terbukti mampu menyebabkan konstipasi, dimana obat-obatan tersebut menghambat fungsi neurologis atau otot saluran cerna, terutama pada usus  besar, sehingga menyebabkan terjadinya konstipasi. Opiat dan turunannya adalah contoh obat

yang dapat menyebabkan efek konstipasi melalui efek antimotilitasnya. Beberapa faktor atau kondisi berikut dapat menyebabkan konstipasi:

1. Penyakit pada saluran cerna; sindrom iritasi usus, diverkulitis, penyakit saluran cerna atas, Penyakit pada anal dan rektum, wasir, tumor, hernia, volvulus usus, sifilis, TB, infeksi cacing, limphogranuloma, Penyakithirscprung's.

2. Gangguan metabolik dan endokrin; diabetes melitus dengan neuropati, hipotiroidisme,  pheokromositoma, hiperkalsemia, kelebihan glukagon enterik.

3. Kehamilan; Penekanan motilitas usus, peningkatan penyerapan cairan dari usus besar,  penurunan aktivitas fisik, perubahan diet, Kurangnya asupan cairan, diet rendah serat,  penggunaan garam besi.

4. Neurogenik; penyakit sistem syaraf pusat, trauma otak, cedera spinal kordata, tumor  sistem syaraf pusat, kecelakaancerebrovaskular , penyakit parkinson's

5. Psikogenik; Psikogenik untuk mengabaikan/menunda dorongan untuk buang air besar,  penyakit psikiatrik.

6. Penggunaan obat-obatan tertentu.

Obat-obatan pemicu konstipasi:

(6)

2. Antikolinergik; antihistamin, agen antiparkinsonian (misal: benztrophin, trihexaphenidyl), fenotiazin, dan antidepresan trisiklik.

3. Antasida yang mengandung kalsium karbonat atau alumunium hidroksida 4. Barium sulfat

5. Pemblok kanal kalsium 6. Klonidin

7. Diuretik (boros kalium) 8. Pemblok Ganglion 9. Sediaan besi

10. Antiinflamasi nonsteroid 11. Natrium polistirena sulfonat

Hindari Obat Pencahar

Laksatif (obat pencahar) seringkali dianggap sebagai solusi termudah untuk mengatasi konstipasi, tetapi jika tidak digunakan secara benar, obat ini sebenarnya dapat menimbulkan masalah lain yang lebih banyak. Laksatif bekerja melalui banyak cara dan masing-masing jenis menimbulkan masalah tersendiri. Beberapa diantaranya bersifat sebagai lubrikan (pelumas), sedangkan lainnya dapat melunakkan konsistensi feses, menyerap air lebih banyak pada usus  besar, dan ada juga yang membentuk massa. Salah satu bahaya dari laksatif yaitu dapat menimbulkan ketergantungan pada penggunanya. Bahkan beberapa jenis laksatif diketahui dapat merusak sel-sel saraf pada kolon (usus besar) sampai akhirnya membuat individu tersebut tidak  dapat buang air besar lagi. Laksatif dapat menghambat absorpsi atau menghilangkan efikasi obat. Laksatif berbahan dasar minyak mineral dapat mencegah absorpsi vitamin A, D, E, dan K. Jenis laksatif lainnya dapat merusak dinding usus. Karena itu penggunaan laksatif sebaiknya dihindari dan hanya digunakan atas anjuran dokter. Untuk mengatasi konstipasi, individu lebih dianjurkan untuk secara rutin berolahraga, cukup minum, dan mengonsumsi makanan yang tinggi serat.

(7)

Tanda dan gejala yang perlu diperhatikan dalam mengetahui apakah seseorang mengalami konstipasi atau tidak:

1. Perlu diketahui kondisi apakah pasien mengeluhkan kondisi kurangnya volume tinja saat  buang air besar, perasaan perut yang penuh, rasa sakit saat buang air besar.

2. Tanda dan gejala seperti tinja keras, kecil atau kering. Ketidaknyamanan pada perut, sakit, kram, mual dan muntah, sakit kepala, dan kelelahan.

Pemeriksaan Laboratorium

Untuk mengetahui adanya konstipasi perlu dilakukan pemeriksaan berikut:

1. Serangkain pemeriksaan termasuk proktoskopi, sigmoidoskopi, kolonoskopi, atau suntikan barium mungkin diperlukan untuk mengetahui kemungkinan adanya patologi kolorektal.

2. Pemeriksaan fungsi tiroid untuk mengetahui kemungkinan adanya gangguan metabolik  dan endokrin

3. Penyalahgunaan laksatif/pencahar. Penyalahgunaan laksatif akan mengakibatkan ketidakseimbangan cairan dan elektrolit yang dapat ditandai dengan kondisi hipokalemia, atau terjadinya kehilangan protein gastroenteropati yang dapat ditandai dengan terjadinya hipoalbuminemia.

Pendekatan Terapi Konstipasi

Dalam memberikan terapi konstipasi maka kita harus mengkaji kondisi kronisitas konstipasi tersebut. Konstipasi yang terjadi secara akut pada orang dewasa kemungkinan  berhubungan dengan kondisi patologi kolon. Sedangkan konstipasi yang telah berlangsung lama (kronis) sejak masa bayi kemugkinan berhubungan dengan masalah neurologis. Selain itu harus diketahui pola makan pasien dan atau kebiasaan dalam penggunaan laksatif atau katartik.

(8)

1. Diet Tinggi Serat

Terapi non farmakologis merupakan terapi lini pertama dalam penanganan konstipasi dengan melakukan modifikasi diet untuk meningkatkan jumlah serat yang dikonsumsi. Serat yang merupakan bagian dari sayuran yang tak dicerna dalama usus akan meningkatkan curah feses, meretensi cairan tinja, dan meningkatkan transit tinja dalam usus. Dengan terapi serat ini maka frekuensi buang air besar meningkat dan menurunnya tekanan pada kolon dan rektum.

Pasien disarankan setidaknya mengkonsumsi 10 gram serat kasar perharinya. Buah, sayur  dan sereal adalah contoh bahan makanan kaya serat. Dedak baku mengandung sekitar 40% serat. Selain itu terdapat juga produk obat yang merupakan agen pembentuk serat masal seperti koloid psylium hidrofilik ,metilselulosaatau polikarbofil yang dapat menghasilkan efek sama dengan bahan makanan tinggi serat yang tersedia dalam sediaan tablet, serbuk atau kapsul.

2. Pembedahan

Pada beberapa pasien konstipasi tindakan pembedahan diperlukan. Hal ini karena adanya keganasan kolon atau obstruksi saluran gastrointestinal sehingga diperlukan reseksi usus. Selain itu pembedahan juga diperlukan pada kasus konstipasi yang disebabkan oleh pheokromositoma. 3. Biofeedback 

Sebagian besar pasien konstipasi karena disfungsi dasar panggul merasakan manfaat dari elektromiogram dengan terapibiofeedback .

Terapi Farmakologis

Pada pengobatan dan pencegahan konstipasi pemberian agen pembentuk serat mutlak  diberikan. Suatu jenis agen pembentuk serat ini sudah mencukupi, dan harus digunakan dalam diet harian terutama pada penderita konstipasi kronis. Kecuali agen difenilmetana dan turunan antrakuinon tidak boleh digunakan pada terapi rutinitas dasar.

Sedangkan pada pasien konstipasi akut, penggunaan laksatif sewaktu-waktu diperbolehkan. Konstipasi akut dapat dihilangkan dengan pemberian supositoria gliserin, atau  jika kurang efektif dapat juga diberikan sorbitol oral, difenilmetan atau turunan antrakuinon

dosis rendah, atau garam pencahar (garam magnesium/garam inggris). Namun jika gejala ini tidak hilang dalam waktu lebih dari 1 minggu maka penderita harus melakukan pemeriksaan lanjut dan menerima terapi dengan rejimen lain.

(9)

1. Emolien. Emolien adalah agen surfaktan dari dokusat dan garamnya yang bekerja dengan memfasilitasi pencampuran bahan berair dan lemak dalam usus halus. Produk ini meningkatkan sekresi air dan elektrolit dalam usus. Pencahar emolien ini tidak efektif  dalam mengobati konstipasi namun berguna untuk pencegahan, terutama pada pasien  pasca infark miokard, penyakit perianal akut, atau operasi dubur. Secara umum dokusat relatif aman, namun berpotensi meningkatkan laju penyerapan usus sehingga berpotensi meningkatkan penyerapan zat-zat yang berpotensi racun.

2. Lubrikan. Merupakan laksatif dari golongan minyak mineral yang akan efektif bila digunakan secara rutin. Lubrikan diperoleh dari penyulingan minyak bumi. Lubrikan  bekerja dengan membungkus feses sehingga memudahkannya meluncur ke anus dan dengan menghambat penyerapan air diusus sehingga meningkatkan bobot feses dan mengurangi waktu transitnya dalam usus. Lubrikan dapat diberikan peroral dengan dosis 15-45 ml, dan akan memberikan efek setelah 2-3 hari setelah penggunaan. Penggunaan lubrikan ini disarankan pada kondisi sebagaimana penggunaan emolien. Namun lubrikan memberikan potensi efek samping yang lebih besar. Resiko efek samping itu diantaranya: minyak mineral dapat diserap secara sistemik dan dapat menimbulkan reaksi asing dalam  jaringan limfoid tubuh, dan mengurangi penyerapan vitamin larut lemak (A, D, E dan K). 3. Laktulosa dan sorbitol. Laktulosa adalah disakarida yang dapat digunakan secara oral

atau rektal. Laktulosa dimetabolisme oleh bakteri kolon menjadi molekul asam dengan  bobot rendah, sehingga mempertahankan cairan dalam kolon, menurunkan PH dan

meningkatkan gerak peristaltik usus. Laktulosa tidak direkomendasikan dalam terapi konstipasi lini pertama karena harganya yang mahal dan efektivitasnya yang tidak lebih efektif dari sorbitol atau garam magnesium. Sorbitol sebagai monosakarida bekerja dengan tindakan osmotik dan telah direkomendasikan sebagai terapi konstipasi lini  pertama.

4. Derivat Difenilmetana. Dua turunan difenilmetana yang utama adalah bisakodil dan fenoftalein. Bisakodil memberikan efek dengan merangsang pleksus syaraf mukosa usus  besar. Sedangkan fenoftalein bekerja dengan menghambat penyerapan aktif glukosa dan

natrium. Dengan fenoftalein, sejumlah kecil fenoftalein akan mengalami resirkulasi enterohepatik dan mengakibatkan efek antikonstipasi berkepanjangan. Penggunaan

(10)

fenoftalein pada penderita apendiksitis, hamil, atau menyusui harus berhati-hati karena dapat menimbulkan perforasi, sehingga menyebabkan air seni berwarna merah muda. 5. Derivat Antrakuinon. Termasuk dalam derivat antrakuinon adalah sagrada

cascara, sennosides, dancasathrol . Bakteri usus memetabolismekan senyawa-senyawa tersebut, namun mekanisme jelasnya dalam pengobatan konstipasi tidak diketahui. Sama seperti derivat difenilmetana, penggunaan derivat antrakuinon secara rutin tidak  direkomendasikan.

6. Katartik Saline. Katartik  saline terdiri dari ion-ion yang sulit diserap seperti magnesium, sulfat, sitrat, dan fosfat yang bekerja dengan menghasilkan efek osmotik dalam mempertahankan cairan dalam saluran cerna. Magnesium merangsang sekresi kolesistokinin yang merangsang motilitas usus dan sekresi cairan. Agen ini akan memberikan efek dalam waktu kurang dari 1 jam setelah pemberian dosis oral. Agen ini sebaiknya digunakan dalam keadaan evakuasi akut usus, tindakan pradiagnostik, keracunan, atau untuk menghilangkan parasit setelah pemberian antelmintik. Agen ini tidak disarankan untuk digunakan secara rutin. Agen ini berpotensi menyebabkan deplesi cairan.

7. Minyak Jarak. Minyak jarak dimetabolisme disaluran cerna menjadi senyawa aktif asam risinoleat yang bekerja merangsang proses sekresi, menurunkan absorpsi glukosa, dan meningkatkan motilitas usus, terutama dalam usus halus. Efek buang air besar biasanya akan dihasilkan 1-3 jam setelah mengkonsumsi agen ini.

8. Gliserin. Gliserin biasanya diberikan dalam bentuk suppositoria 3 gram yang akan memberikan efek osmotik pada rektum. Gliserin dianggap sebagai pencahar yang aman meski mungkin juga mengakibatkan iritasi rektum.

9. Polyethylene glicol-electrolite lavage solution(PEG-ELS), merupakan larutan yang digunakan dalam pembersihan usus sebelum prosedur diagnostik atau pembedahan kolorektal. 4 liter cairan ini diberikan dalam waktu tiga jam untuk evakuasi lengkap dari saluran gastrointestinal. Cairan ini tidak dianjurkan untuk terapi rutin dan pada pasien dengan obstruksi usus.

(11)

Pencahar Untuk Keperluan Operasi Bahan Osmotik 

Bahan-bahan osmotik mendorong sejumlah besar air ke dalam usus besar, sehingga tinja menjadi lunak dan mudah dilepaskan. Cairan yang berlebihan juga meregangkan dinding usus  besar dan merangsang kontraksi. Pencahar ini mengandung garam-garam ( fosfat,  sulfat danmagnesium) atau gula (laktulosa dan sorbitol ).

Beberapa bahan osmotik mengandung natrium, menyebabkanretensi (penahanan) cairan  pada penderita penyakit ginjal atau gagal jantung, terutama jika diberikan dalam jumlah besar. Bahan osmotik yang mengandung magnesium dan fosfat sebagian diserap ke dalam aliran darah dan berbahaya untuk penderita gagal ginjal.

Pencahar ini pada umumnya bekerja dalam 3 jam dan lebih baik digunakan sebagai  pengobatan daripada untuk pencegahan. Bahan ini juga digunakan untuk mengosongkan usus

sebelum pemeriksaan rontgen pada saluran pencernaan dan sebelum kolonoskopi. Contoh: Fosen, Laxarec, Microlax.

Konstipasi Pada Lansia

Konstipasi merupakan keluhan saluran cerna terbanyak pada usia lanjut; terjadi  peningkatan dengan bertambahnya usia dan 30–40 % orang di atas usia 65 tahun mengeluh

konstipasi.

Beberapa faktor yang mempermudah terjadinya konstipasi pada lansia seperti kurangnya gerakan fisik, makanan yang kurang sekali mengandung serat, kurang minum, akibat pemberian obat-obat tertentu dan lain-lain. Akibatnya, pengosongan isi usus menjadi sulit terjadi atau isi usus menjadi tertahan. Pada konstipasi, kotoran di dalam usus menjadi keras dan kering, dan  pada keadaan yang berat dapat terjadi akibat yang lebih berat berupa penyumbatan pada usus

disertai rasa sakit pada daerah perut.

Anamnesis merupakan hal yang terpenting untuk mengungkapkan etiologi dan faktor-faktor risiko penyebab konstipasi, sedangkan pemeriksaan fisik pada umumnya tidak  mendapatkan kelainan yang jelas. Pemeriksaan colok dubur dapat memberikan banyak informasi yang berguna. Pemeriksaan-pemeriksaan lain yang intensif dikerjakan secara selektif setelah 3

(12)

sampai 6 bulan pengobatan konstipasi kurang berhasil dan dilakukan hanya pada pusat-pusat  pengelolaan konstipasi tertentu.

Etiologi

Banyak lansia mengalami konstipasi sebagai akibat dari penumpukan sensasi saraf, tidak  sempurnanya pengosongan usus, atau kegagalan dalam menanggapi sinyal untuk defekasi. Konstipasi merupakan masalah umum yang disebabkan oleh penurunan motilitas, kurang aktivitas, penurunan kekuatan dan tonus otot.

Faktor-faktor risiko konstipasi pada usia lanjut:

1. Obat-obatan: golongan antikolinergik, golongan narkotik, golongan analgetik, golongan diuretik, NSAID, kalsium antagonis, preparat kalsium, preparat besi, antasida aluminium, penyalahgunaan pencahar.

2. Kondisi neurologik: stroke, penyakit parkinson, trauma medula spinalis, neuropati diabetik.

3. Gangguan metabolik: hiperkalsemia, hipokalemia, hipotiroidisme.

4. Kausa psikologik: psikosis, depresi, demensia, kurang privasi untuk BAB, mengabaikan dorongan BAB, konstipasi imajiner.

5. Penyakit-penyakit saluran cerna: kanker kolon, divertikel, ileus, hernia, volvulus, iritable bowel syndrome, rektokel, wasir, fistula/fisura ani, inersia kolon.

6. Lain-lain: defisiensi diet dalam asupan cairan dan serat, imobilitas/kurang olahraga,  bepergian jauh, paska tindakan bedah parut.

Terapi Non Farmakologik 

a. Cairan

Keadaan status hidrasi yang buruk dapat menyebabkan konstipasi. Kecuali ada kontraindikasi, orang lanjut usia perlu diingatkan untuk minum sekurang kurangnya 6-8 gelas sehari (1500 ml cairan perhari) untuk mencegah dehidrasi. Asupan cairan dapat dicapai bila tersedia cairan/minuman yang dibutuhkan di dekat pasien, demikian pula cairan yang berasal dari sup,sirup, dan es. Asupan cairan perlu lebih banyak bagi mereka yang mengkonsumsi diuretik tetapi kondisi jantungnya stabil.

(13)

 b. Serat

Pada orang usia lanjut yang lebih muda, serat berguna menurunkan waktu transit (transit time). Pada orang lanjut usia disarankan agar mengkonsumsi serat skitar 6-10 gram per hari. Ada juga yang menyarankan agar mengkonsumsi serat sebanyak 15-20 per hari. Serat berasal dari biji-bijian, sereal, beras merah, buah, sayur, kacang-kacangan. Serat akan memfasilitasi gerakan usus dengan meningkatkan masa tinja dan mengurangi waktu transit usus. Serat juga menyediakan substrat untuk bakteri kolon, dengan produksi gas dan asam lemak rantai  pendek yang meningkatkan gumpalan tinja. Perlu diingat serat tidaklah efektif tanpa cairan yang cukup, dan dikontraindikasikan pada pasien dengan impaksi tinja (skibala) atau dilatasi kolon. Peningkatan jumlah serat dapat menyebabkan gejala kembung, banyak gas, dan buang  besar tidak teratur terutama pada 2-3 minggu pertama, yang seringkali menimbulkan

ketidakpatuhan obat. c. Bowel training

Pada pasien yang mengalami penurunan sensasi akan mudah lupa untuk buang air besar. Hal tersebut akan menyebabkan rektum lebih mengembang karena adanya penumpukan feses. Membuat jadwal untuk buang air besar merupakan langkah awal yang lebih baik untuk  dilakukan pada pasien tersebut, dan baik juga diterapkan pada pasien usia lanjut yang mengalami gangguan kognitif. Pada pasien yang sudah memiliki kebiasaan buang air besar   pada waktu yang teratur, dianjurkan meneruskan kebiasaan teresebut. Sedangkan pada pasien

yang tidak memiliki jadwal teratur untuk buang air besar, waktu yang baik untuk buang air   besar adalah setelah sarapan dan makan malam.

d. Latihan jasmani

Jalan kaki setiap pagi adalah bentuk latihan jasmani yang sederhana tetapi bermanfat bagi orang usia lanjut yang masih mampu berjalan. Jalan kaki satu setengah jam setelah makan cukup membantu. Bagi mereka yang tidak mampu bangun dari tampat tidur, dapat didudukkan atau didudukkan atau diberdirikan disekitar tempat tidur. Positioning bagi pasien usia lanjut yang tidak dapat bergerak, meninggalkan tempat tidurnya menuju ke kursi  beberapa kali dengan interval 15 menit, adalah salah satu cara untuk mencegah ulkus dekubitus. Tentu saja pasien yang mengalami tirah baring dapat dibantu dengan menyediakan toilet atau komod dengan tempat tidur, jangan diberi bed pan. Mengurut perut dengan hati-hati mungkin dapat pula dilakukan untuk merangsang gerakan usus.

(14)

e. Evaluasi penggunaan obat

Evaluasi yang seksama tentang penggunaan obat-obatan perlu dilakukan untuk  mengeliminasi, mengurangi dosis, atau mengganti obat yang diperkirakan menimbulkan konstipasi. Obat antidepresan, obat Parkinson merupakan obat yang potensial menimbulkan konstipasi. Obat yang mengandung zat besi juga cenderung menimbulkan konstipasi, demikian obat anti hipertensi (antagonis kalsium). Antikolinergik lain dan juga narkotik  merupakan obat-obatan yang sering pula menyebabkan konstipasi.

Terapi Farmakologik 

a. Pencahar pembentuk tinja (pencahar bulk/bulk laxative)

Pencahar bulk merupakan 25% pencahar yang beredar di pasaran. Sediaan yang ada merupakan bentuk serat alamiah non-wheat seperti pysilium dan isophagula husk, dan senyawa sintetik seperti metilselulosa. Bulking agent sistetik dan serat natural sama-sama efektif dalam meningkatkan frekuensi dan volume tinja. Obat ini tidak menyebabkan malabsorbsi zat besi atau kalsium pada orang usia lanjut, tidak seperti bran yang tidak  diproses. Pencahar bulk terbukti menurunkan konstipasi pada orang usia lanjut dan nyeri defekai pada hemoroid. Sama halnya dengan serat, obat ini juga harus diimbangi dengan asupan cairan.

 b. Pelembut tinja

Docusate seringkali direkomendasikan dan digunakan oleh orang lanjut usia sebagai  pencahar dan sebagai pelembut tinja. Docusate sodium bertindak sebagaisurfaktan, menurunkan tegangan permukaan feses untuk membiarakan air masuk dam memperlunak  feses. Docusate sebenarnya tidak dapat menolong konstipasi yang kronik, penggunaannya sebaiknya dibatasi pada situasi dimana mangedan harus dicegah.

c. Pencahar stimulan

Senna merupakan obat yang aman digunakan oleh orang usia lanjut. Senna meningkatkan  peristaltik di kolon distal dan menstimulasi peristaltik diikuti dengan evakuasi feses yang lunak. Pemberian 20 mg senna per hari selama 6 bulan oleh pasien berusia lebih dari 80 tahun tidak menyebabkan kehilangan protein atau elektrolit. Senna umumnya menginduksi evakuasi tinja 8-12 jam setelah pemberian. Orang usia lanjut biasanya memerlukan waktu yang lebih lama yakni sampai dengan 10 minggu sebelum mencapai kebiasaan defekasi yang

(15)

teratur. Pemberian sebelum tidur malam mengurangi risiko inkontininsia fekal malam hari dan dosis juga harus ditritasi berdasarkan respon individu. Terapi dengan Bisakodil supositoria memiliki absorbsi sistemik minimal dan sangat menolong untuk mengatasi diskezia rectal pada usia lanjut. Sebaiknya diberikan segera setelah makan pagi secara supositoria untuk mendapatka efek refleks gastrokolik. Penggunaan rutin setiap hari dapat menyebabkan sensasi terbakar pada rectum, jadi sebaiknya digunakan secara rutin, melainkan sekitar 3 kali seminggu.

d. Pencahar hiperosmolar 

Pencahar hiperosmolar terdiri atas laktulosa disakarida dan sorbitol. Di dalam kolon keduanya di metabolisme oleh bakteri kolon menjadi bentuk laktat, aetat, dan asam dengan melepaskan karbondioksida. Asam organik dengan berat molekul rendah ini secara osmotic meningkatkan cairan intraluminal dan menurunkan pH feses. Laktulosa sebagai pencahar  hiperosmolar terbukti memperpendek waktu transit pada sejumlah kecil penghni panti rawat  jompo yang mengalami konstipasi. Laktulosa dan sorbitol juga sama-sama menunjukkan efektifitasnya dalam mengobati konstipasi pada orang usia lanjut yang berobat jalan. Sorbitol sebaiknya diberikan 20-30 selama empat kali sehari. Glikol polietelin merupakan pencahar  hiperosmolar yang potensial yang mengalirkan cairan ke lumen dan merupakan zat  pembersih usus yang efektif. Gliserin adalah pencahar hiperomolar yang dugunakan hanya

dalam bentuk supositoria. e. Enema

Enema merangsang evakuasi sebagai respon terhadap distensi kolon; hasil yang kurang  baik biasanya karena pemberian yang tidak memadai. Enema harus digunakan secara hati-hati pada usia lanjut. Pasien usia lanjut yang mengalami tirah baring mungkin membutuhkan enema secara berkala untuk mencegah skibala. Namun, pemberian enema tertentu terlalu sering dapat mengakibatkan efek samping. Enema yang berasal dari kran (tap water) merupakan tipe paling aman untuk penggunaan rutin, karena tidak menghasilkan iritasi mukosa kolon. Enema yang berasal dari air sabun (soap-suds) sebaiknya tidak diberikan pada orang usia lanjut.

(16)

Saran

Lansia dalam memenuhi kebutuhan hidupnya harus manjaga kebutuhan nutrisi yang seimbang seperti memenuhi asupan cairan yang cukup dan makan makanan yang bergizi dan cukup serat, selain itu lansia harus bisa menjaga aktivitas yang cukup dengan olah raga agar  tidak terjadi konstipasi. Sebagai farmasis kita harus dapat memberikan arahan dan edukasi kepada lansia dan keluarga tentang pencegahan dan penanganan dini bila terjadi konstipasi.

Konstipasi Pada Ibu Hamil

Konstipasi pada wanita hamil tidak hanya berkaitan dengan kurangnya asupan serat, namun juga berkaitan dengan peningkatan hormon progesteron yang menyebabkan  berkurangnya pergerakan lambung dan meningkatnya waktu transit makanan di lambung. Selain itu penekanan rektum (bagian terbawah usus besar) akibat pembesaran rahim juga dapat menyebabkan konstipasi.

Suatu penelitian menyebutkan bahwa terjadinya konstipasi semakin berkurang dengan  bertambahnya usia kehamilan. Gandum atau makanan yang mengandung serat efektif di dalam menangani konstipasi. Apabila nyeri perut dan konstipasi yang terjadi tidak ada perbaikan dengan asupan makanan berserat, maka penggunaan laksatif sebagai perangsang lebih efektif  dibandingkan laksatif yang membentuk masa tinja. Efek samping penggunaan laksatif  diantaranya adalah diare dan nyeri perut.

Terapi Non Farmakologis

a. Makan makanan berserat (roti gandum, buah, sayuran).

 b. Minum cairan dalam jumlah cukup (6 – 8 gelas air dan 1 -2 gelas jus per hari). c. Minum minuman hangat terutama di pagi hari.

d. Miliki waktu khusus untuk BAB dan hindari mengedan ketika BAB.

e. Ketika di toilet dapat melakukan gerakan duduk tegak dan bersandar sedikit kebelakang, naikkan lengan ke atas untuk mengaktifkan gerakan usus besar, bergerak dari samping ke samping untuk melancarkan gerakan usus, dan letakkan salah satu kaki di suatu kotak  untuk menurunkan tekanan dari anus (dubur).

(17)

f. Apabila memiliki pekerjaan yang mengharuskan duduk sepanjang waktu, berdirilah dan  berjalan setiap jam atau kapanpun ada waktu.

g. Diskusikan penggunaan laksatif dengan dokter.

Konstipasi Pada Anak-anak 

Penyebab Konstipasi Pada Anak:

1. Menahan tinja. Adakalanya anak-anak menunda pergi ke kakus karena terlalu sibuk atau tidak membuang hajat besar karena rasa sakit. Ada anak lain yang tidak ingin menggunakan kakus di prasekolah atau sekolah karena kakusnya busuk, kurang privasi atau diejek. Menunggu terlalu lama untuk ke kakus dapat mengakibatkan tinja  berlonggok di dalam usus dan juga mungkin menjadi keras sekali. Jumlah besar tinja keras yang berlonggok dapat menegangkan usus besar dan mungkin tidak berfungsi secara normal.

2. Tidak cukup serat dari makanan. Serat membantu usus kita berfungsi dengan baik dan kerap. Kita semua perlu makan makanan yang berisi serat seperti roti bijian lengkap,  buah-buahan segar dan sayur-sayuran setiap hari. Makan makanan dengan serat akan

membantu usus anak berfungsi dengan baik.

3. Penyakit, misalnya tonsilitis, ketika anak Anda kurang makan dan minum.

4. Kondisi medis tertentu mungkin juga mengakibatkan konstipasi. Namun, kondisi-kondisi ini tidak umum di kalangan anak-anak. Dokter Anda akan dapat menentukan apakan tes manapun perlu untuk anak Anda.

Terapi Non Farmakologis

1. Makan cukup serat. Untuk mencegah konstipasi, gabungkan makanan yang berisi cukup serat dan banyak cairan.

2. Gerak badan atau aktivitas anak sehari-hari.

3. Berikan dorongan kepada anak untuk pergi buang air besar secara berkala, sekurang-kurangnya sekali sehari setelah waktu makan merupakan waktu yang baik. Ajari mereka untuk tidak menahan sewaktu ingin buang air besar.

(18)

1. Laksatif stimulan adakalanya mungkin diperlukan untuk membuang longgokan tinja yang keras. Movicol atau Sennekot dapat digunakan dengan cara ini.

2. Parafin cair (mis. Parachoc) melunakkan tinja dan menjadikannya lebih mudah dibuang, tetapi harus tidak diberikan kepada anak-anak yang menderita Palsi Serebral atau anak  lain yang cenderung mengalami refluks gastro-esofagus.

3. Anak-anak mungkin perlu tetap menggunakan obat lain untuk supaya tinja tetap lunak  dan mudah dibuang tanpa rasa sakit atau mengerang. Obat ini termasuk parafin cair, Movicol, laktulosa (Duphalac, Actilax), sorbitol (Sorbilax) dan Polylax. Ada orang yang lebih menyukai Benifibre. Semua obat ini aman bagi anak-anak di atas usia 1 tahun, dan aman apabila digunakan untuk waktu yang singkat atau panjang. Beberapa obat lain yang dapat digunakan bagi orang dewasa biasanya tidak digunakan bagi anak-anak. Dokter  Anda akan memberikan Anda nasihat tentang jenis laksatif atau pelunak tinja yang tepat  bagi anak Anda dan berapa lama anak Anda akan memerlukan bantuan ini. Penting untuk 

mengikuti petunjuk dokter dengan teliti. Anak Anda perlu minum banyak cairan apabila sedang menggunakan obat ini.

Referensi

Dokumen terkait

Berikut ini adalah pertanyaan-pertanyaan yang berkaitan dengan Pemeriksaan Pajak, Penagihan Pajak, Norma Moral dan Kebijakan Sunset Policy terhadap Peningkatan

(2) Menciptakan mendesain interior Community Center Suporter Klub Sepakbola Arema Indonesia FC sehingga dapat memberikan fasilitas yang informatif dan

7 Sebuah acara pesta dimulai pukul 08.00 dan selesai pukul 14.15. Berapa jam dan berapa menit lama pesta

Tesis ini tidak boleh diperbanyak seluruhnya atau sebagian, dengan dicetak ulang, difoto kopi, atau cara lainnya tanpa ijin dari

Berdasarkan hasil analisis yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa dalam novel Surga Yang Tak Dirindukan karya Asma Nadia, didalamnya terkandung pesan moral yang

3.1 Mengenal teks deskriptif tentang anggota tubuh dan pancaindra, wujud dan sifat benda, serta peristiwa siang dan malam dengan bantuan guru atau teman dalam bahasa Indonesia

Berdasarkan uraian tersebut maka peneliti mempunyai gagasan untuk mengadakan penelitian tentang adakah korelasi kecerdasan spiritual dengan motivasi belajar siswa pada

Mengingat fluks yang dihasilkan pada lokasi bioturbasi secara dominan dipengaruhi oleh porositas, maka perlu juga dilakukan analisis nutrien pada sedimen,