• Tidak ada hasil yang ditemukan

V HASIL DAN PEMBAHASAN Perkembangan Komoditas`Sayuran di Jawa Timur

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "V HASIL DAN PEMBAHASAN Perkembangan Komoditas`Sayuran di Jawa Timur"

Copied!
82
0
0

Teks penuh

(1)

V HASIL DAN PEMBAHASAN .

5.1. Perkembangan Komoditas`Sayuran di Jawa Timur

Peran utama sub sektor hortikultura dalam pemberdayaan ekonomi dan sumberdaya domestik adalah penyediaan pangan dan gizi nasional serta penyedia bahan baku industri pengolahan. Komoditas hortikultura yang terdiri dari buah-buahan, sayuran tanaman hias dan obat merupakan komoditas yang sangat prospektif untuk dikembangkan mengingat potensi sumberdaya alam, sumberdaya manusia, ketersediaan teknologi serta potensi serapan pasar di dalam negeri dan pasar internasional yang terus meningkat.

Fokus pengembangan komoditas sayuran tidak hanya pada upaya peningkatan produksi, tetapi terkait dengan isu-isu strategis seperti mutu, daya saing dan akses pasar. Sesuai dengan arah kebijakan di tingkat pusat, berbagai kendala dan permasalahan yang dihadapi dalam pengembangan komoditas sayuran, perlu diatasi melalui pendekatan strategi yang dikenal sebagai 6 (enam) Pilar Pengembangan Tanaman Sayuran, yang dilakukan secara simultan dan terpadu dari tingkat pusat hingga daerah, yakni : (1) Pengembangan kawasan agribisnis tanaman sayuran; (2) Penataan rantai pasokan (Supply Chain Management) (SCM); (3)

Penerapan budidaya tanaman yang baik (Good Agriculture Practices) (GAP) dan Standard Operational Prosedure (SOP); (4) Fasilitasi terpadu investasi sayuran;

(5) Pengembangan kelembagaan usaha dan (6) Peningkatan konsumsi dan akselerasi ekspor (Ditjen Tanaman Hortikultura 2009). Keenam pilar tersebut dijabarkan dalam bentuk berbagai macam kegiatan utama maupun kegiatan pendukung untuk mencapai tujuan akhir yang berupa peningkatan pendapatan petani sayuran. Kegiatan tersebut dilakukan secara terpadu menjadi satu kesatuan yang saling terkait dan tergantung sehingga tidak dapat dipisahkan.

Perkembangan komoditas tanaman sayuran di Jawa Timur yang disajikan dalam data realisasi luas tanam, luas panen, produksi dan produktifitas Tanaman Sayuran Tahun 2009, dapat dilihat pada Tabel 18.

Secara umum angka produksi 4 (empat) komoditas sayuran unggulan pada tahun 2009 dibanding tahun 2008 mengalami peningkatan yang cukup signifikan, masing-masing : bawang merah (34,10%), kentang (13,1%), kubis (10,31% dan

(2)

cabai (12,53%). Peningkatan produksi pada bawang merah dan kentang disebabkan oleh semakin meningkatnya kesadaran petani untuk menggunakan benih bermutu dengan potensi hasil yang lebih tinggi. Hal ini seiring dengan prioritas program perbenihan sayuran yang difokuskan pada upaya penyediaan benih bermutu bagi petani, melalui penataan tata alur produksi benih bawang merah dan kentang yang dilakukan dinas provinsi beserta unit pelaksana teknis. (Dinas Pertanian Provinsi Jawa Timur 2009)

Tabel 18 Realisasi luas tanam, luas panen, produksi dan produktivitas sayuran di Jawa Timur tahun 2009

Jenis Luas tanam (ha) Luas panen (ha) Produksi (ton) Produktivitas (ku/ha) Bawang merah 25.877 26.077 276.023 105,85 Bawang putih 108 134 1.028 76,72 Bawang daun 6.509 6.909 82.934 120,04 Kubis 10.217 10.583 193.729 183,06 Kentang 9.040 9.074 127.259 140,25 Petsai 5.528 5.531 54.719 98,93 Wortel 3.303 3.610 47.765 132,31 Kacang panjang 6.615 7.032 41.406 58,88 Cabai besar 10.850 11.767 72.154 61,32 Cabai rawit 33.576 41.424 180.236 43,51 Tomat 3.874 3.795 54.282 143,04 Terong 2.826 3.004 37.769 125,73 Buncis 1.674 1.779 20.461 115,01 Ketimun 2.365 2.470 37.433 151,55 Kangkung 3.820 3.898 18.960 47,69 Bayam 2.471 2.520 10.960 43,49 Kembang kol 970 980 4.305 145,97 Lobak 55 57 775 135,96 Kacang merah 301 351 776 22,11 Jamur 339 347 12.439 358,47 Labu siam 375 442 11.742 265,66

Sumber : Dinas Pertanian Provinsi Jawa Timur (Data RKSP) 2009.

5.1.1. Perkembangan Luas Tanam Sayuran di Jawa Timur

Luas tanam tanaman sayuran di Jawa Timur dari tahun ke tahun mengalami fluktuasi namun secara umum mengalami peningkatan. Data total luas tanam pada 16 (enam belas) komoditas sejak tahun 2005 sampai dengan 2009 mengalami peningkatan sebesar 9,29 % (Data RKSP Dinas Pertanian Provinsi Jawa Timur 2009). Data tersebut dari empat komoditas dengan luas tanam terbesar adalah

(3)

kubis, cabai, kentang dan bawang merah. Untuk mengetahui perkembangan luas tanam empat jenis sayuran sampai dengan tahun 2009 dapat dilihat pada Gambar 13. Sedangkan data empat sayuran utama terluas meliputi bawang merah, cabai, kubis dan kentang mengalami perubahan luas tanam yang fluktuatif. Secara umum perubahan luas tanam empat komoditas sejak tahun 2005 sampai dengan tahun 2009 mengalami kenaikan'. Perubahan luas tanam empat komoditas dimaksud adalah sebagai berikut bawang merah 2,72 %, cabai 4,18 %, kubis 4,46 % dan kentang 9,88 %. .

Gambar 13. Perkembangan luas tanam 4 (empat) sayuran utama di Jawa Timur tahun 2005-2009.

Berdasarkan Gambar 13 menggambarkan bahwa tanaman cabai memiliki luas tanam yang paling luas, pada tahun 2009 luas tanam mencapai 44.426 ha dan puncaknya selama lima tahun (2005-2009) adalah 54.338 ha pada tahun 2008. Luas tanam tanaman sayuran urutan kedua adalah tanaman bawang merah dengan luas tanam pada tahun 2009 sebesar 25.877 ha. Kentang dan kubis memiliki luas tanam yang lebih sempit jika dibandingkan tanaman cabai dan bawang merah dengan luas tanam 9.040 ha dan 10.217 ha pada tahun 2009.

5.1.2. Perkembangan Produksi Empat Tanaman Sayuran Utama di Jawa Timur Secara umum angka produksi empat komoditas sayuran unggulan pada tahun 2009 dibanding tahun 2008 mengalami peningkatan yang cukup signifikan, masing-masing : bawang merah (34,10%), kentang (13,1%), kubis (10,31% dan

25.823 25.973 30.948 20.979 25.877 6.728 39.587 36.571 43.441 54.338 44.426 10.217 9.653 12.172 8.225 8.482 9.040 8.388 9.716 6.586 0 10.000 20.000 30.000 40.000 50.000 60.000 2005 2006 2007 2008 2009 Tahun Luas Tan am (ha)

(4)

cabai (12,53%). Sedangkan rata-rata peningkatan produksi per tahunnya sejak tahun 2005 sampai dengan tahun 2009 sebagai berikut bawang merah 6,36 %, kentang 9,68 %, kubis 7,46 % dan cabai 2,29 %.

Peningkatan produksi bawang merah dan kentang disebabkan oleh semakin meningkatnya kesadaran petani untuk menggunakan benih bermutu. Hal ini seiring dengan prioritas program perbenihan sayuran yang difokuskan pada upaya penyediaan benih bermutu bagi petani, melalui penataan tata alur produksi benih bawang merah dan kentang yang dilakukan Dinas provinsi beserta Unit Pelaksana Teknis. (Dinas Pertanian Provinsi Jawa Timur 2009).

Gambar 14. Perkembangan produksi 4 (empat) sayuran utama di Jawa Timur tahun 2005-2009

Gambar 14 menunjukkan bahwa dari keempat komoditas sayuran utama kentang dan kubis selama lima tahun menghasilkan produksi yang cenderung meningkat dan stabil. Stabilitas peningkatan produksi dua komoditas ini didukung oleh penambahan luas tanam dari tahun ke tahun secara perlahan.

5.1.3. Perkembangan Serangan OPT empat Tanaman Sayuran Utama

Perlindungan tanaman merupakan bagian integral dari sistem produksi yang meliputi penanganan pra-produksi, tahap produksi dan pasca panen. Peranan perlindungan tanaman dalam penanganan proses produksi tersebut sangat menentukan keberhasilan program peningkatan produksi dan produktifitas serta pengamanan kualitas produk pertanian. Pada waktu sekarang dan masa yang akan datang, indikator keberhasilan mempertahankan tingkat produktifitas selain secara

253.760 205.829 276.023 145.678 162.891 171.597 174.669 193.729 88.634 87.928 95.952 112.509 127.259 197.072 214.334 252.390 235.949 228.084 235.519 246.745 0 50.000 100.000 150.000 200.000 250.000 300.000 2005 2006 2007 2008 2009 Tahun Pr odu k tif it as ( k w /ha)

(5)

kuantitatif juga harus mampu memperbaiki kualitas produksi yang sesuai dengan permintaan konsumen.

Pada setiap tahapan sistem produksi tersebut, sering terjadi gangguan/kerusakan yang disebabkan oleh organisme pengganggu tumbuhan (OPT). Serangan OPT pada tanaman sayuran di Jawa Timur dari tahun ke tahun ada kecenderungan mengalami peningkatan. Peningkatan serangan tidak hanya pada tataran luas serangan namun juga pada intensitas serangannya. Pada tahun 2009 ditemukan pada tanaman cabai dan bawang merah intensitas serangan hingga puso yang mencapai 4,38 ha (cabai) dan 1,80 ha (bawang merah). Data kumulatif luas dan intensitas serangan OPT dapat dilihat pada Gambar 15 dan Tabel 19.

.

Gambar 15. Luas kumulatif serangan OPT pada empat jenis tanaman sayuran di Jawa Timur tahun 2005-2009

Gambar 15 menggambarkan bahwa serangan OPT pada empat tanaman sayuran utama sejak tahun 2005 sampai 2009 terus mengalami peningkatan kecuali pada tahun 2008 pada pada komoditas cabai dan bawang merah. Pada tahun 2009, luas serangan total kompleks OPT cabai 1.844,95 ha, bawang merah 1.426,15 ha, kubis 697,59 ha, dan kentang 584,89 ha. Tingginya serangan ini disebabkan oleh kondisi musim, diketahui bahwa pada tahun 2009 memiliki musim penghujan yang lebih panjang. Kondisi inilah yang mendukung berkembangya OPT sayuran. Data serangan OPT Sayuran utama Jawa Timur tertera Gambar 14 dan Tabel 19.

748,27 1.395,56 905,25 1.426,15 683,74 697,59 459,43 584,89 1.070,16 1.241,50 1.177,17 1.844,95 1.138,54 679,09 734,98 551,37 662,67 694,85 531,34 814,83 0 200 400 600 800 1.000 1.200 1.400 1.600 1.800 2.000 2005 2006 2007 2008 2009 Tahun Lu as S er a ng an ( h a)

(6)

Tabel 19 Kumulatif luas serangan kompleks OPT sayuran utama di Jawa Timur tahun 2009

Komoditas Kumulatif luas serangan

Ringan Sedang Berat Puso Jumlah Cabai 1.294,08 344,48 202,01 4,38 1.944,95 Bawang merah 1.235,70 182,73 5,92 1,80 1.426,15

Kubis 510,28 160,56 26,75 - 697,59

Kentang 237,04 255,95 91,90 - 584,89

Jumlah 3.277,10 943,72 326,58 6,18 4.553,58 Sumber : Dinas Pertanian Provinsi Jawa Timur, 2009

Serangan OPT ini menyebabkan kerugian pada petani yang cukup besar bahkan pada tanaman cabai dan bawang merah tingkat serangannya mencapai puso. Pada tanaman cabai serangan terbesar disebabkan oleh kutu daun dengan rerata 251,396 ha, virus kuning 139,29 ha, layu fusarium 146,126 ha dan

Colletotrichum 146,126 ha per tahunnya. Berdasarkan data yang berhasil dihimpun

persentase peningkatan terbesar terjadi pada virus kuning (195,83%), kemudian

Collelotrichum (26,15%) dan kutu daun (25,15%). Peningkatan pada tahun 2009

ini hampir terjadi di seluruh sentra cabai terutama di Kabupaten Kediri yang salah satunya dipicu oleh panjangnya musim kemarau sampai dengan akhir Desember. Serangan OPT pada tanaman cabai ini disebabkan oleh 22 jenis organisme dan serangan terbesar oleh virus kuning.(Dinas Pertanian Provinsi Jawa Timur, 2009). Data luas serangan OPT cabai selama tahun 2009 terhadap serangan luas serangan tahun 2008 dan rerata 5 (lima) tahun sebelumnya, tertera pada Tabel 20.

Pada tanaman bawang merah terdapat serangan 10 jenis OPT dengan luas total serangan 1.426,15 ha yang terdiri dari serangan ringan 1.235,70 ha, sedang 182,73 ha dan puso 1,80 ha. Data yang berhasil dikumpulkan selama 5 (lima) tahun terakhir pada lima jenis OPT terdiri dari ulat bawang, penggorok daun, trips,

Phytophthora dan Alternaria semuanya mengalami peningkatan serangan kecuali Alternaria, dengan persen peningkatan tertinggi pada trips (897,82%) dari 9,16 ha

menjadi 91,4 ha. Data luas serangan OPT bawang merah tahun 2009 terhadap 2008 dan rerata 5 (lima) tahun tertera pada Tabel 20.

Berdasarkan Tabel 20 menunjukkan bahwa hama ulat bawang dan penyakit layu Phytophthora porri masih dominan dengan luas serangan 706,66 ha dan

(7)

192,25 ha. Hasil pengolahan data, diperoleh data selama 5 (lima) tahun sampai dengan tahun 2009 rerata sebesar 958,25 % per tahunnya.

Tabel 20 Luas serangan OPT pada empat jenis tanaman sayuran di Jawa Timur selama tahun 2009 terhadap tahun 2008 dan rerata 5 (lima) tahun sebelumnya

Jenis sayuran

Organisme pengganggu

tanaman

Kumulatif luas serangan (ha) Persen (%) naik (+) turun (-) Rerata 5

Thn

2008 2009 2008 Rerata 5 Thn Cabai Lalat buah 129,96 100,11 117,03 16,90 -9,95

Kutu daun (Aphid sp.) 251,39 357,23 447,08 25,15 77,84 Trips (Thrip parvispinus) 91,56 79,81 85,21 6,77 -6,94 Virus 105,30 76,50 65,56 -14,30 -37,74 Collelotrichum 146,13 135,22 171,64 26,93 17,46 Virus kuning 139,29 187,16 553,67 195,83 297,49 Bercak daun (Cercospora sp.) 52,55 47,58 75,69 59,08 44,02 Layu fusarium 146,13 193,56 195,06 0,77 33,49 Jumlah kumulatif 316,36 415,67 Ulat bawang 581,69 513,08 706,66 37,73 21,48 Bawang merah Penggorok daun (Lyriomyza chinensis) 90,94 94,94 126,62 33,37 39,23 Trips 9,54 9,16 91,40 897,82 858,07 Phytophthora 113,37 93,80 192,25 104,96 69,58 Alternaria 103,87 100,46 73,35 -26,99 -29,38 Jumlah kumulatif 1.046,89 958,98

Kubis Ulat daun (Plutella xylostella) 431,37 447,95 402,27 -10,20 -6,75 Ulat krop (Crocidolomia pavonana) 65,00 64,99 97,10 49,41 49,39 Akar gada 153,19 164,01 126,50 -22,87 -17,42 Jumlah kumulatif 16,34 25,22 Kentang NSK (Nematoda Sista Kuning) 0,50 0,00 0,80 * 60,00 Penggorok Daun 45,14 90,10 121,29 34,62 168,70 Phytophthora 578,73 572,57 359,30 -37,25 -37,92 Jumlah kumulatif -2,83 190,78

(8)

Pada komoditas kubis serangan OPT tersbesar oleh 3 (tiga) jenis yakni P. xylostella, ulat krop (C. pavonana) dan akar gada. dengan luas serangan 625,87 ha

(tahun 2009) yang terdiri dari serangan ringan 497,72 ha, sedang 119,4 ha dan berat 8,75 ha. Menurut analisa perbandingan menggambarkan bahwa luas serangan ulat krop tahun 2009 masih di atas tahun 2008 (49,41 %), sementara Plutella dan

akar gada menurun. Namun nilai total rerata 5 (lima) tahun tetap terjadi kenaikan tingkat serangannya sebesar 25,22 %. Luas serangan OPT Tahun 2009 kubis terhadap tahun 2008 dan rerata 5 tahun tertera pada Tabel 20.

Tabel 20 menunjukkan bahwa serangan P. xylostella dan akar gada pada

tahun 2009 dan rerata 5 (lima) tahun, masih lebih dominan jika dibandingkan dengan C. pavonana. Adapun luas serangan kedua hama tersebut adalah 402,27 ha

dan 126,50 ha. Hasil analisis data persentase 5 (lima) tahun terakhir (2009) tingkat serangan OPT masih mengalami peningkatan sebesar 25,22 persen.

OPT pada komoditas kentang di Jawa timur yang sering menyerang adalah 7 (tujuh) jenis OPT dengan total luas 584,89 ha yang diketegorikan intensitas serangan ringan 234,04 ha, sedang 255,95 ha dan berat 91,9 ha. Hasil analisa perbandingan tahun 2009 dan 2008 menunjukkan bahwa serangan NSK muncul kembali pada tahun 2009 (0,8 ha) setelah tidak ada pada tahun 2008. Serangan penggorok daun meningkat baik terhadap tahun 2008 maupun rerata 5 (lima) tahun sebelumnya tetapi Phytophthora menurun. Data luas serangan OPT tahun 2009 dan

rerata 5 (lima) tahun tertera pada Tabel 20. Memperhatikan Tabel 20 tampak bahwa data serangan OPT kentang yang dominan adalah Phytophthora dan

penggorok daun dengan luas serangan pada tahun 2009 sebesar 359,30 ha dan 121,29 ha. Hasil analisis data persentase serangan OPT pada tanaman kentang pada rerata 5 (lima) tahun terakhir (2009) masih mengalami kenaikan sebesar 190,78 %. 5.2. Upaya Pengendalian OPT Tanaman Sayuran

Usaha pengembangan tanaman sayuran tidak lepas dari peran perlindungan tanaman, yang merupakan bagian integral dari sistem produksi dan pemasaran hasil pertanian tanaman sayuran, dalam upaya menekan kehilangan hasil yang diakibatkan oleh serangan OPT, disamping menjaga kualitas hasil tanaman sayuran. Untuk menekan penurunan produksi maka diperlukan pengelolaan pengendalian OPT dengan baik. Upaya pengendalian OPT yang baik diperlukan

(9)

pengelolaan ekosistem yang baik yaitu dengan menerapkan sistem Pengendalian Hama Terpadu (PHT).

Tabel 21 Perbandingan kumulatif luas serangan OPT pada empat jenis tanaman sayuran di Jawa Timur tahun 2009

Komoditas OPT Luas pengendalian (ha)

Eradikasi Pestisida Cara lain

Cabai Lalat buah 0,00 97,30 20,74

Kutu daun 0,00 54,57 0,15 Trips 7,78 963,98 8,58 Antraknosa 10,35 336,09 34,23 Virus 0,00 79,60 8,55 Virus kuning 8,93 499,88 178,94 Bercak daun 0,00 85,10 1,10 Fusarium 28,88 392,08 29,60 Bawang merah Ulat bawang 1.042,3 10.576,0 3.186 Penggorok daun 20 2.177,8 30,4 Phytophthora sp. 0,2 2.823,7 116,1 Bercak ungu 0 334,9 52,3 Antraknosa 0 46,2 25,4 Fusarium 0 369,4 2,5

Kubis Ulat daun 15,75 1.372,15 1,00

Ulat krop 0,00 644,20 2,30

Bercak daun 0,00 42,00 0,00

Layu bakteri 1,50 19,15 1,30

Akar gada 11,60 248,84 0,50

Busuk lunak 0,00 796,45 0,00

Kentang Penggorok daun 0,00 3.726,50 0,00

Nematoda 0,00 0,50 0,00

Phytophthora sp. 7,20 4.253,89 17,55

Layu bakteri 0,00 13,00 0,00

Jumlah 1.152,99 29.537,68 3.691,94

Persentase 3,35 85,91 10,74

Sumber : Dinas Pertanian Provinsi Jawa Timur 2009

PHT adalah suatu cara pendekatan atau falsafah pengendalian OPT yang didasarkan pada pertimbangan ekologis dan efisiensi ekonomi dalam rangka pengelolaan egroekosistem yang bertanggungjawab. Tindakan pengendalian dengan menggunakan pestisida harus didasarkan pada nilai Ambang Ekonomi (AE) atau Ambang Pengendalian (AP), namun kenyataan di lapangan penggunaan pestisida masih menjadi prioritas utama. Di Jawa Timur upaya pengendalian OPT tanaman sayuran terbesar tetap mengutamakan penggunaan pestisida sebagai

(10)

alternatif unggulan. Sebagaimana upaya pengendalian OPT pada tanaman cabai oleh serangan trips, virus kuning, antraknosa dan layu fusarium, tetapi karena agroklimat dan faktor pendukung cukup tinggi maka pengendlian belum efektif. Hal ini dapat terlihat dari luas pengendalian beberapa OPT cabai cukup tinggi selama tahun 2009. (Tabel 21)

Berdasarkan Tabel 21 dapat dilihat bahwa penggunaan pestisida merupakan teknik pengandalian hama dan penyakit tanaman sayuran yang paling banyak digunakan oleh petani sayuran di Jawa Timur. Namun hal ini juga tidak menutup kemungkinan terjadi pada petani-petani lain di Indonesia.

Penggunaan pestisida ini yang perlu untuk dicermati adalah bagaimana para petani menggunakan pestisida ? Apakah para petani telah melakukan 5 (lima) tepat ? Sebagaimana aturan penggunaan pestisida yang telah ditetapkan, dinyatakan bahwa penggunaan pestisida adalah alternatif terakhir dalam pengendalian OPT tanaman. Penggunaan pestisida harus memenuhi ketentuan tepat jenis, tepat sasaran, tepat waktu tepat dosis dan tepat cara. Namun kenyataan di lapangan menggambarkan bahwa penggunaan pestisda sudah menjadi alternatif yang utama disamping penggunaannya tidak sesuai dengan kenetuan yang telah diatur dalam kemasan maupun peraturan perundang-undangan. Sebagaimana yang dikemukan oleh Wiyono et al. (2007) dalam Hidayat et al. (2010) hasil focus group discussion

pada 35 petani cabai di Kecamatan Bumijawa pada Maret 2006 menunjukkan bahwa penggunaan pestisida pada tanaman cabai dilakukan secara terjadwal yaitu setiap minggu sekali selama satu musim tanam (4 bulan) atau mencapai 16 kali aplikasi pestisida. Demikian juga Sulistiyono (2003) mendapatkan dari hasil penelitian pada 90 (sembilan puluh) petani bawang merah di Kabupaten Nganjuk Jawa Timur bahwa untuk mengendalikan serangan hama dan penyakit dilakukan penyemprotan secara terjadwal 2 sampai 4 kali seminggu atau 22 sampai 44 kali selama satu musim tanam dan pada musim kemarau atau mencapai 3 sampai 5 kali seminggu atau 33 kali sampai 55 kali dalam satu musim tanam pada musim penghujan.

Data yang berhasil dikumpulkan tentang penggunaan pestisida pada tanaman cabai, dengan pengambilan sampel petani di Kecamatan Kepung Kabupaten Kediri sebanyak 35 responden dan Kecamatan Krucil Probolingo sebanyak 21 responden

(11)

didapatkan bahwa seluruh petani tetap mengunakan pestisida sebagai alternatif utama dalam pengendalian hama dan penyakit tanaman. Rerata volume penggunaan pestisida per hektar mencapai 66,88 liter (cair) dan 210,65 kg (padat). Data secara rinci dapat dilihat pada Tabel 22.

Tabel 22 Volume penggunaan pestisida pada tanaman sayuran yang dikelompokan berdassrkan petani SLPHT dan Non SLPHT di Jawa Timur tahun 2006.

Komoditas Petani

Penggunaan

pestisida (ha) Total volume (Kg/ha) Rerata Ket. Cair (ltr) Padatan (kg) Cabai SLPHT 26,97 84,66 111,63 138,77 Asumsi : 1 ltr = 1 kg Rerata 102,3 kg / ha Non SLPHT 39,91 125,99 165,9 Bawang merah SLPHT 15,35 16,25 31,6 31,9 Non SLPHT 15,49 16,71 32,2 Kubis SLPHT 48,85 21,53 70,38 78,04 Non SLPHT 55,86 29,83 85,69 Kentang SLPHT 56,73 77,66 134,39 160,62 Non SLPHT 71,69 115,15 186,84

Berdasarkan pada Tabel 22 dapat diketahui bahwa volume penggunaan pestisida rerata mencapai 33,44 liter per hektar dan yang berbentuk padatan mencapai 105,33 kg per hektarnya. Jika diasumsikan bahwa 1 liter setara dengan 1 kg maka kebutuhan pestisida dalam satu hektarnya adalah 138,77 kg. Sebagaimana diketahui bahwa luas tanam cabai besar dan cabai rawit Jawa Timur Tahun 2009 tercatat seluas 44.426 ha maka kebutuhan pestisida dalam satu tahun mencapai 6,16 ton. Sebagaimana kaidah penggunaan pestisida bahwa selain pestisida memiliki nilai ekonomis yang artinya penggunaan pestisida dapat memberikan keuntungan tetapi juga dapat mengakibatkan kerugian. Maka penggunaan pestisida secara bijaksana menjadi penting. Kaidah penggunaan pestisida yang dimaksud adalah penerapan prinsip 5 (lima) tepat yakni tepat sasaran, tepat jenis, dosis, waktu dan cara (Dirjen Sarprastan 2010).

Besaran volume penggunaan pestisida pada tanaman cabai dalam satu musim tanam didorong oleh variasi atau macam pestisida lebih dari 6 (enam) macam formulasi pestisida yang dipergunakan oleh petani SLPHT (64,29 %) dan 5-6 macam formulasi pestisida (28,57 %) pada petani Non SLPHT (67,86 %) serta

(12)

21,43% yang menggunakan 5-6 macam jenis (Tabel. 23 macam pestisida.). Banyaknya formulasi yang dipergunakan oleh petani ini oleh karena variasinya OPT pada tanaman cabai mulai dari gulma, lalat buah, kutu daun, trips, antraknosa,

virus, virus kuning dan bakteri. Sesuai dengan pendapat Kruniasih dan Paramita (2006) yang menyatakan bahwa pada budidaya tanaman sayuran penggunaan pestisida dalam pengendalian OPT tanaman lebih dari 3 macam formulasi pestisida, hal ini sangat tergantung pada tingkat dan macam serangan OPT. Persentase tertinggi jenis yang paling banyak digunakan adalah lebih dari 6 macam pestisida dalam setiap musim tanam, bahkan ada yang mempergunakan hingga 15 macam. Hasil uji statistik dengan Mann Whitney test kategori two independent

diperoleh nilai x2 hitung = 4.4857 dengan nilai x2 tabel 16.919 dengan demikian

dapat disimpulkan bahwa tidak ada perbedaan yang berarti antara petani SLPHT dan Non SLPHT dalam pengendalian OPT dengan pestisida jika dilihat dari jumlah jenis pestisida yang digunakan selama satu musim tanam.

Tabel 23 Jenis pestisida yang banyak digunakan oleh petani SLPHT dan Non SLPHT pada tanaman sayuran di Jawa Timur tahun 2006

Komoditas Jumlah jenis pestisida yang digunakan

Petani SLPHT Petani Non SLPHT Statistical test

Jumlah Persentase Jumlah Persentase

Cabai 1-2 macam - - - - ρ : 0,322 3-4 macam 2 7,14 3 10,71 5-6 macam 8 28,57 6 21,43 >6 macam 18 64,29 19 67,86 Jumlah 28 100,00 28 100,00 Bawang merah 1-3 macam - - - - ρ : 0,002 4-6 macam 10 35,71 3 10,71 7-9 macam 17 60,71 18 64,29 >9 macam 1 3,57 7 25,00 Jumlah 28 100,00 28 100,00 Kubis 1-2 macam - - - - ρ : 0,001 3-4 macam 3 10,71 2 7,14 5-6 macam 11 39,29 11 39,29 >6 macam 14 50,00 15 53,57 Jumlah 28 100,00 28 100,00 Kentang 1-3 macam - - - - ρ : 0,007 4-6 macam 5 2,50 2 7,14 7-9 macam 15 53,57 18 64,29 >9 macam 8 28,57 8 28,57 Jumlah 28 100,00 28 100,00

(13)

Pada komoditas bawang merah, kubis dan kentang, baik pada petani SLPHT dan Non SLPHT macam pestisida yang paling banyak digunakan dalam satu musim tanam > 6 macam formulasi. Bahkan pada budidaya tanaman bawang merah dan kentang formulasi yang digunakan antara 7-9 macam setiap musim tanam. Macam pestisida yang digunakan oleh petani pada umumnya adalah jenis herbisida (minimal 1 macam), insektisida (minimal 2 macam), fungisida (minimal 2 mcam), perekat (minimal 1 mcam) dan ZPT. Adapun akarisida, bakterisida, molluskisida, rodentisida dan lainnya jarang digunakan.

Pada tanaman bawang merah banyaknya jenis formulasi yang digunakan dipicu oleh ; (1) serangan OPT di musim kemarau ulat daun (Spodoptera sp.), Lyriomiza chinensis, dan Phytophthora sp. di musim penghujan, (2) Faktor lain

adalah budaya petani melakukan pencampuran (mixing) pestisida untuk

memperoleh formulasi baru agar pestisida yang akan digunakan memiliki daya racun yang lebih tinggi; dan (3) upaya preventif dari serangan OPT yang datang secara tiba-tiba. Petani melakukan pencarian formulasi lain dengan maksud untuk meningkatkan daya racun pestisida yang digunakan. Hal ini didasari oleh keyakinan para petani bahwa laju serangan OPT bersifat sporadis dan laju resistensi OPT lebih cepat dari pada teknologi formulasi pestisida yang diketahui oleh petani.

Semakin beragam jenis OPT yang menyerang pada tanaman sayuran semakin banyak pula jenis formulasi pestisida yang digunakan untuk mengendalikan. Demikian juga semakin berat intensitas serangan atau semakin luas serangan OPT semakin banyak pula pestisida yang digunakan. Sebagaimana data pada komoditas bawang merah, kubis dan kentang yang tertera pada Tabel 23 melalui uji statistik dengan bantuan software SPSS 16 for windows untuk menjustifikasi apakah

kelompok petani SLPHT dan Non SLPHT berbeda dalam penggunaan pestisida menurut macamnya. Pada ketiga komoditas antara dua kelompok menunjukkan perbedaan yang signifikan dimana pada bawang merah (p : 0,002), kubis (p : 0,001) dan kentang (p: 0,007) yang bermakna bahwa kelompok petani SLPHT dan Non SLPHT menggambarkan adanya perbedaan yang nyata. Jika dilihat dari nilai distribusi frekwensi terlihat bahwa petani SLPHT lebih sedikit dalam penggunaan macam pestisida jika dibandingkan pada petani Non SLPHT.

(14)

Tepat Dosis:

Selain macam pestisida yang digunakan besaran volume penggunaan pestisida juga dipengaruhi oleh dosis yang dipergunakan. Secara definisi dosis adalah takaran atau ukuran dalan liter, gram atau kilogram pestisida yang digunakan untuk mengendalikan OPT per satuan luas tertentu. Penentuan dosis yang dicantumkan dalam label adalah hasil uji toksisitas terhadap OPT tertentu. Berdasarkan Tabel 24 menunjukkan persentase penggunaan pestisida pada seluruh komoditas melebihi dosis yang telah ditetapkan. Pada komoditas cabai 60,71% (SLPHT) dan 82,154 % (Non SLPHT) melebihi dosis yang tertera pada label kemasan. Tingginya dosis penggunaan pestisida ini disebabkan oleh tingginya tingkat serangan hama yakni lalat buah, kutu daun, dan trips, sedangkan kategori penyakit yakni virus, patek atau antracnosa (oleh jamur Colletotrichum), virus

kuning, bercak daun (Cercospora sp.) dan layu Fusarium. Lima tahun terakhir

(2004-2009) yang mendorong volume penggunaan pestisida dengan dosis tinggi adalah serangan kutu daun (Aphids sp.), trips (trips parvispinus), patek/antracnosa

(Colletotricum sp.), dan layu Fusarium, dengan jumlah kumulatif kenaikan luas

serangan mencapai 415,67%.

Dengan menggunakan skala ordinal dan diuji statistik maka kedua kelompok petani menunjukkan perbedaan yang signifikan dengan nilai p: 0,04. Perbedaan yang dimaksudkan adalah pada petani SLPHT penggunaan pestisida pada tanaman cabai dengan dosis yang lebih rendah jika dibandingkan dengan petani Non SLPHT. Tingginya penggunaan pestisida pada budidaya tanaman cabai disebabkan oleh kekawatiran para petani terjadi kerusakan tanaman yang parah oleh serangan OPT khususnya oleh trips dan virus. Disisi lain berdasarkan pengalaman yang mereka dapatkan di lapangan bahwa ada fakta yang membuktikan penggunaan pestisida yang disesuaikan dengan dosis kurang berpengaruh nyata terhadap pengendalian OPT. Para petani memprediksi bahwa hama dan penyakit tanaman sudah mengalami resistensi. Sehingga petani cenderung untuk menggunakan pestisida melebihi dosis anjuran yang tertera pada label kemasan.

Pengaruh besarnya modal yang diinvestasikan dalam budidaya tanaman cabai sayuran yang besar (menurut ukuran petani), dan modal itu bukan milik pribadi petani yang melainkan berasal dari berbagai sumber pendanaan baik modal sendiri

(15)

maupun dari pendanaan lainnya, menimbulkan kecemasan yang luar biasa pada diri petani sehingga mendorong petani melakukan penyemprotan secara terjadwal. Data yang berhasil dikumpulkan dari petani cabai penyemprotan dilakukan secara terjadwal mencapai 57,14 % (SLPHT) dan 64,29 % (Non SLPHT). Tabel. 24 juga menggambarkan bahwa perilaku petani dalam menggunakan pestisida dalam mengendalikan OPT didahului dengan pengamatan terhadap tingkat serangan OPT dengan mempertimbangkan ambang pengendalian namun hal ini bukan menjadikan petani percayadiri sehingga selalu disertai dengan penyemprotan secara terjadwal 28,57 % (SLPHT) dan 25,00 % (Non SLPHT).

Tingginya dosis penggunaan pestisida pada tanaman bawang merah di Jawa Timur karena serangan ulat bawang (Spodoptera litura), penggorok daun (L. chinensis), trips, Phytophthora dan Altenaria. OPT yang paling tinggi

mempengaruhi dosis penggunaan pestisida yakni serangan ulat bawang (Spodoptera sp., Pengorok daun (L. chinensis) dan Phytophthora, diketahui lima

tahun terakhir (2004-2009) serangan OPT ini mengalami peningkatan secara signifikan yang mecapai sepuluh kali lipat (958,98 %) (Tabel 24).

Tabel 24 Ketepatan dosis pestisida yang digunakan oleh petani SLPHT dan Non SLPHT pada tanaman sayuran utama di Jawa Timur tahun 2006

Komoditas Ketepatan Dosis Petani SLPHT Petani Non SLPHT Statistical

Test

Jumlah Persentase Jumlah Persentase Cabai < Dosis 2 7,14 3 10,71 p: 0,040 = Dosis 9 32,14 2 7,14 > Dosis 12 42,86 14 50,00 2 x Dosis 3 10,71 4 14,29 > x Dosis 2 7,14 5 17,86 Jumlah 28 100 28 100 Bawang

Merah < Dosis = Dosis -- -- -- - p: 0,745 - > Dosis 8 28,57 4 14,29 2 x Dosis 9 32,14 16 57,14 > x Dosis 11 39,29 7 25,00 Jumlah 28 100 28 100 Kubis < Dosis 3 10,71 1 3,57 p: 0,480 = Dosis 2 7,14 1 3,57 > Dosis 13 46,43 16 57,14 2 x Dosis 7 25,00 9 32,14 > x Dosis 1 3,57 1 3,57 Jumlah 28 100 28 100 Kentang < Dosis - - - - = Dosis - - - - p: 0,061 > Dosis 4 14,29 4 14,29 2 x Dosis 4 14,29 6 21,43 >2 x Dosis 20 71,43 18 64,29 Jumlah 28 100 28 100

(16)

Di kabupaten Nganjuk dan Probolinggo yang menjadi sentra tanaman bawang merah, pengendalian OPT pada tanaman bawang merah khususnya ulat bawang dilakukan dengan beberapa teknik mulai penggunaan lampu perangkap, selambu dan cara manual (petan = Jawa). Teknik terakhir ini yang paling banyak

mengurangi penggunaan pestisida terutama pada petani-petani kecil atau penggarap (tanah sewa) pada luasan kurang dari 0,2 ha, sedangkan pada luasan lebih dari 0,2 ha hingga 1,6 ha lebih banyak menggantungkan penggunaan pestisida dengan dosis tinggi

Di Jawa Timur lima tahun terakhir ini pada tanaman kubis khususnya varitas dataran tinggi sering mengalami serangan organisme pengganggu tanaman beberapa jenis OPT, jenis OPT yang menyerang dengan intensitas serangan luas ada 3 (tiga) jenis yaitu ulat daun (P. xylostella), ulat krop (C. pavonana) dan akar

gada (Plasmodiophora brasicae). Serangan P. xyllostela dan P. brassicae pada

waktu lima tahun terkahir mengalami penurunan -6,75 % dan -17,42 %, namun meskipun menurun luas serangan masih dikategorikan tinggi karena pada tahun 2009 ; P. xyllostela mencapai 402,27 ha dan P. brassicae seluas 126,50 ha. Namun

tingkat serangan masih tetap bertahan, bahkan cenderung terjadi peningkatan luas serangan yaitu C. pavonana dengan luas serangan rerata 49,38 ha per tahunnya.

Jenis hama yang paling dominan menyerang tanaman kubis per satuan luasnya adalah P. xylostella. Karena luas serangan P. xylostella paling besar maka

penggunaan pestisida paling tinggi jika dibandingkan dengan hama lainnya.

Distribusi frekwensi penggunaan pestisida paling tinggi dijumpai pada komoditas kentang adalah >2x dosis dengan jumlah rerata responden 67,86 % dari seluruh responden. Penggunaan pestisida dosis tinggi ini banyak diaplikasikan untuk pengendalian P. infestans karena memiliki luas serangan paling tinggi jika

dibandingkan dengan serangan OPT lainnya yang mencapai 578,73 ha (Tabel 21). Selain pada itu dosis penggunaan pestisida oleh para petani dikategorikan tinggi karena serangan P. infestans sangat mengkawatirkan para petani. Pertimbangan

lain petani menggunakan pestisida dosis tinggi pada tanaman kentang karena para petani dihantui oleh rasa kekawatiran yang sangat hebat bahkan sampai dengan kategori panik, mengingat nilai investasi yang tinggi. Kondisi yang demikian serangan organisme pengganggu tanaman ini mendorong petani untuk melakukan

(17)

upaya preventif dengan dosis yang tinggi. Selain itu petani juga berpendapat bahwa resistensi hama dan penyakit terus meningkat dengan bertambahnya waktu sehingga penggunaan dosis tinggi dianggap lebih efektif.

Tepat Sasaran:

Ketepatan sasaran penggunaan pestisida didasarkan pada ketepatan jenis komoditas tanaman serta jenis dan cara hidup OPT yang akan dikendalikan dengan aplikasi pestisida (Direktorat Pupuk dan Pestisida Deptan 2011). Sebagaimana yang dimaksud dengan tepat sasaran adalah jika jenis insektisida diperuntukkan insekta, fungisida untuk golongan jamur, dan lain-lain. Data keterpatan sasaran dapat dilihat pada Tabel 25.

Tabel 25 Ketepatan sasaran penyemprotan pestisida yang digunakan oleh petani SLPHT dan Non SLPHT pada tanaman sayuran di Jawa Timur tahun 2006

Komoditas Ketepatan Sasaran

Petani SLPHT Petani Non SLPHT Statistic Test Jumla h Persentas e Jumla h Persentas e Cabai Tepat 25 89,29 23 82,14 ρ: 0,853 Tidak Tepat 3 10,71 5 17,86 Jumlah 28 100 28 100 ρ: 0,530

Bawang Merah Tepat 24 87.71 22 78,57 Tidak Tepat 4 14,29 6 21,43 Jumlah 28 100 28 100 Kubis Tepat 27 96,43 24 85,71 ρ: 0,164 Tidak Tepat 1 3,57 4 14,29 Jumlah 28 100 28 100 Kentang Tepat 23 82,14 21 75,00 ρ: 0,583 Tidak Tepat 5 17,86 7 25,00 Jumlah 28 100 28 100

Sebagaimana data yang tertera pada Tabel 25 menggambarkan bahwa ketepatan sasaran penggunaan pestisida pada tanaman sayuan dikategorikan tepat. Hal ini ditunjukan dominansi persentase distribusi frekwensi tepat pada tanaman cabai dengan nilai rata-rata 85,72 % (SLPHT maupun Non SLPHT), bawang merah 83,14 %, kubis 91,07 % dan kentang 78,57%. Berdasarkan data tersebut maka dapat disimpulkan bahwa penggunaan pestisida pada tanaman sayuran dikategorikan tepat sasaran. Meskipun sebagian kecil petani sayuran dikategorikan tidak tepat sasaran dalam penggunaan pestisida dikarenakan para petani ada kecenderungan mencari formula baru dengan mencampur dua atau lebih pestisida untuk mengendalikan OPT tertentu. Hal ini dilakukan apabila serangan awal disebabkan OPT tertentu yang sulit dikendalikan dengan pestisida yang sudah biasa

(18)

digunakan oleh petani beberapa bulan yang lalu, sementara pestesida yang telah tersedia dipasaran telah dicoba untuk diaplikasikan dan belum membuahkan hasil yang memuaskan para petani. Oleh karena itu munculah inisiatif para petani untuk melakukan trial and error dengan mencampur beberapa pestisida yang menurut

prediksi petani akan menghasilkan formulasi yang diharapkan oleh para petani. Proses uji coba ini berjalan secara terus menerus selama belum ada toksisitas pestisida sesuai harapan beberapa petani.

Berdasarkan hasil uji statistik dengan menggunakan pendekatan uji

independent statistic test Mann Whitney diperoleh nilai ρ> α dimana α = 0,05.

Sehingga disimpulkan bahwa antara petani SLPHT dan Non SLPHT menunjukkan tidak ada perbedaan dalam penggunaan pestisida dilihat dari sisi ketepatan sasaran dalam pengunaan pestisida.

Tepat Waktu Penyemprotan :

Waktu penggunaan pestisida atau sering di sebut dengan waktu aplikasi adalah pilihan rentang waktu yang tepat untuk mengaplikasikan pestisida. Waktu aplikasi merupakan salah satu faktor yang menentukan efektifitas pestisida yang digunakan. Jika dikaitkan dengan perkembangan hama maka dikenal dengan waktu aplikasi pestisida yaitu aplikasi preventif, sistem kalender dan apliaksi berdasarkan ambang kendali atau ambang ekonomi.

Ketepatan waktu penggunaan pestisida pada tanaman didasarkan pada hasil pengamatan para petani terhadap populasi OPT tanaman, jika hasil perhitungan populasi OPT sudah dikategorikan akan mempengaruhi nilai ekonomi tanaman sayuran maka perlu dilakukan pengendalian OPT dengan aplikasi pestisida. Sesuai dengan Peraturan Pemerintah No. 6 Tahun 1995 tentang Perlindungan Tanaman pasal 19 yang dinyatakan bahwa penggunaan pestisida dalam rangka pengendalian organisme pengganggu tumbuhan merupakan alternatif terakhir dan dampak negatif yang timbul harus ditekan seminimal mungkin.

Data yang berhasil dikumpulkan menunjukkan bahwa penggunaan pestisida menurut waktu penggunaannya bedasarkan pengaturan waktu atau dilaksanakan secara terjadwal. Pengertian terjadwal adalah penyemprotan pestisida yang bertujuan untuk mengendalikan OPT tanaman budidaya dilakukan secara periodik berdasarkan waktu tanpa didahului oleh pengamatan. Penyemprotan terjadwal ini

(19)

juga disebut sebagai sistem penggunaan pestisida secara kalender. Sistem ini merupakan salah satu dari aplikasi preventif yang lebih bersifat untung-untungan (hama belum tentu datang), cenderung boros (karena tidak ada hamapun disemprot), beresiko besar (bagi pengguna, konsumen dan lingkungan) maka sistem ini tidak diijinkan dalam sistem pengendalian hama tepadu.

Pengumpulan data waktu aplikasi pestisida pada komoditas cabai, bawang merah, kubis dan kentang, yang dibedakan menjadi 3 (tiga) kategori yakni (1) aplikasi menurut ambang ekonomi (AE)/ambang pengendalian (AP), (2) aplikasi yang didahului oleh pengamatan sekilas diawal saat aplikasi perdana dan (3) aplikasi pestisida dengan sistem kalender atau terjadwal. Tabel 26 menunjukkan bahwa frekwensi tertinggi dlakukan secara terjadwal atau sistem kalender disusul aplikasi pengamatan sekilas diawal saat aplikasi perdana dan terjadwal dan terakhir pengamatan menurut ambang ekonomi. Pada komoditas cabai rata-rata aplikasi secara terjadwal mencapai 55,36 %, yang didahului pengamatan di awal aplikasi perdana 37,5 %, sedangkan pengendalian OPT yang berorientasi pada nilai ambang ekonomi ditemukan pada petani SLPHT 14,29 %.

Tabel 26 Waktu penyemprotan pestisida oleh petani SLPHT dan Non SLPHT pada tanaman sayuran di Jawa Timur tahun 2006

Komoditas Ketepatan waktu Petani SLPHT Petani Non SLPHT Statistic Test Jumlah Persentase Jumlah Persentase

Cabai Ambang ekonomi 4 14,29 - - ρ: 0,031 Pengamatan dan terjadwal 12 42,86 9 32,14 Terjadwal 12 42,86 19 67,86 Jumlah 28 100 28 100 Bawang merah Ambang ekonomi 4 14,29 1 3,57 ρ: 0,078 Pengamatan dan terjadwal 9 32,14 10 35,71 Terjadwal 15 53,57 17 60,71 Jumlah 28 100 28 100 Kubis Ambang ekonomi 3 10,71 - - ρ: 0,112 Pengamatan dan terjadwal 9 32,145 7 25,00 Terjadwal 16 57,71 23 82,4 Jumlah 28 100 28 100 Kentang Ambang ekonomi 3 10.71 - - ρ: 0,036 Pengamatan dan terjadwal 11 39,29 7 25,00 Terjadwal 14 50,00 21 75,00 Jumlah 28 100 28 100

(20)

Pada komoditas bawang merah paling tinggi aplikasi pestisida juga dilakukan secara terjadwal dengan rata-rata distribusi frekwensi responden mencapai 57,14 %, sedangkan aplikasi dengan pengamatan diawal dan dilanjutkan terjadwal mencapai 33,93 % dan yang menarik perhatian pada data ini adalah bahwa aplikasi pestisida didahului dengan analisa ambang ekonomi pada petani Non SLPHT ada 1 responden atau 3,57 % sedangkan pada petani SLPHT 14,29 %.

Hasil uji Statistik menunjukkan bahwa antara dua kelompok responden menunjukkan nulai p : 0,078, yang berarti bahwa kelompok petani SLPHT dan Non SLPHT tidak berbeda secara signifikan waktu aplikasi pestisida dalam pengendalian OPT. Pada komoditas kubis dengan mengambil data di wilayah Kabupaten Malang dan Probolinggo, persentase tertinggi dilakukan secara terjadwal atau sistem kalender dengan nilai rata-rata 56,87 %, dan aplikasi terjadwal tetapi diawali dengan pengamatan sebesar 28,57 %. Sedangkan hasil uji statistik diperoleh nilai p : 0,112 yang berarti lebih besar dari nilai α, dengan demikian disimpilkan bahwa kelompok petani SLPHT dan Non SLPHT dalam waktu aplikasi pestisida untuk pengendalian OPT pada tanaman kubis kategori tidak berbeda signifikan.

Demikian halnya pada komoditas kentang, waktu aplikasi pestisida pada tanaman sayuran mayoritas dilakukan secara terjadwal dengan nilai rata-rata distribusi frekwensi responden mencapai 62,5 % sedangkan waktu aplikasi pestisida yang didahului dengan pengamatan awal kemudian terjadwal 32,15 %. Pada kelompok petani SLPHT ditemukan waktu aplikasi pestisida dengan diawali dengan evaluasi serangan OPT dengan nilai ambang ekonomi (AE) sebanyak 3 responden dari 28 responden atau sebesar 10,71 %. Berdasar data tersebut selanjutnya dilakukan analisis statistik untuk membedakan perilaku penggunaan pestisida berdasarkan waktu aplikasi, diperoleh nilai p : 0,036 yang berarti lebih kecil dari nilai α, dengan demikian dapat disimpulkan bahwa ada perbedaan yang dignifikan antara kelompok petani SLPHT dan Non SLPHT pada waktu aplikasi pestisida

Tepat Cara Penggunaan :

Sebagaimana yang tertuang dalam Peraturan Pemerintah No. 6 Tahun 1995 pasal 15 yang menjelaskan bahwa penggunaan pestisida bertujuan untuk

(21)

mengendalikan OPT harus dilakukan secara tepat guna dan pasal 16 menjelaskan bahwa pestisida selain berperanan dalam pengendalian OPT juga mempunyai dampak terhadap kesehatan manusia maka harus dilakukan dengan memperhatikan persyaratan kesehatan dan keselamatan kerja.

Dengan demikian penggunaan pestisida selain berorientasi pada pengendalian organisme pengganggu tanaman juga harus memperhatikan cara aplikasinya dilapangan yang dapat dilakukan dengan (1) penaburan (bentuk butiran) pada pestisida yang bersifat sistemik dengan OPT sasaran yang hidup dalam jaringan tanaman atau di dalam tanah; (2) Penyemprotan apabila pestisida dalam bentuk emulsi, larutan dan suspensi; (3) cara penghembusan biasanya dilakukan terhadap pestisida formulasi tepung atau debu (dust), sehingga alatnya disebut duster; (4)

cara pengumpanan yaitu mencampur pestsida dengan makanan atau bahan-bahan tertentu yang disukai OPT sasaran dan (5) cara fumigasi apabila aplikasinya dalam bentuk gas (fumigan) dengan cara fumigasi, pada umumnya untuk mengendalikan

hama gudang.

Tabel 27 Cara penggunaan pestisida oleh petani SLPHT dan Non SLPHT pada tanaman sayuran di Jawa Timur tahun 2006

Komoditas Ketepatan cara

Petani SLPHT Petani Non SLPHT Statistical test Jumlah Persentase Jumlah Persentase

Cabai Tepat 19 67,86 10 35,71 z: -2,385 Tidak Tepat 9 32,14 18 64,29 ρ: 0,017 Jumlah 28 100 28 100 Bawang merah Tepat 15 53,57 9 32,14 z: 1,606 Tidak Tepat 13 46,43 19 67,86 ρ: 0,108 Jumlah 28 100 28 100 Kubis Tepat 20 71,43 16 57,14 z: 1,106 Tidak Tepat 8 28,57 12 42,85 ρ: 0,269 Jumlah 28 100 28 100 Kentang Tepat 27 96,43 26 92,86 z: 0,558 Tidak Tepat 1 3,57 2 7,14 ρ: 0,556 Jumlah 28 100 28 100

Aplikasi pestisida pada tanaman sayuran 94 % dilakukan dengan cara penyemprotan, dikarenakan bahan yang digunakan dalam bentuk cair dan tepung yang diformulasikan menjadi suspensi, larutan atau emulsi, dan 6 % dalam bentuk butiran. Penetapan ketepatan cara penggunaan pestisida selain indikator cara aplikasi juga memperhatikan aspek kesehatan dan keselamatan kerja, sehingga

(22)

penggunaan alat pelindung diri (APD) juga menjadi perhatian. Dengan demikian indikator ketepatan cara aplikasi pestisida didasarkan pada cara aplikasi menurut formulasi dan faktor kesehatan dan keselamatan kerja. Berdasarkan indikator tersebut maka cara aplikasi pestisida dibedakan menjadi dua macam yakni tepat dan tidak tepat. Tepat apabila cara aplikasi sesuai formulasi dan penggunaan alat pelindung diri (APD) yang lengkap. APD lengkap jika pengguna pestisida mengenakan baju lengan panjang yang berserat padat, pelindung tangan, kepala dan pernafasan. Dikategorikan tidak tepat apabila salah satu atau lebih aturan penggunaan tidak dilaksanakan.

Tabel 27 menunjukkan bahwa cara aplikasi pestisida pada tanaman sayuran dikategorikan tepat banyak ditemui pada petani SLPHT dengan nilai rata-rata 72,32 %. Pada petani Non SLPHT lebih banyak kategori tidak tepat 45,53 %. Ketidaktepatan cara aplikasi pestisida 98 % disebabkan oleh penggunaan alat pelindung diri yang tidak lengkap sedang 2 % karena kesalahan aplikasi formulasinya. Keselahan formulasi ini banyak didorong oleh keinginan para petani untuk membuat formula baru yang diyakini oleh para petani bahwa akan lebih beracun.

Tingginya nilai persentase pada petani SLPHT kategori tepat (72,32%) jika dibandingkan dengan petani Non SLPHT (45,53%) disebabkan oleh pengetahuan tentang pestisida lebih tinggi jika dibandingkan dengan petani Non SLPHT. Sebagaimana substansi SLPHT di dalamnya mengandung muatan

Tepat Jenis

Sebelum pestisida digunakan oleh petani untuk pengendalian, yang harus dilakukan adalah analisis agroekosistem. Analisis agroekosistem bertujuan untuk menentukan jenis tanaman yang dibudidayakan dan jenis hama atau penyakit yang menyerang. Penetapan jenis tanaman dan OPT yang menyerang sudah jelas maka tindakan lanjutan adalah menetapkan jenis pestisida yang akan digunakan. Serangan OPT jenis serangga menggunakan insektisida, tikus dengan rodentisida dan seterusnya.

Data hasil survey dan wawancara dengan petani sebagaimana tertera pada Tabel 28 menggambarkan bahwa petani pada umumya telah mengetahui jenis yang akan digunakan untuk mengendalikan OPT yang menyerang pada tanaman

(23)

yang dibudidayakan dengan nilai rata-rata 94,19 % dinyatakan tepat jenis. Sebagian kecil dari petani tidak tepat jenis dalam pengunaaan pestisida (5,80 %) banyak disebabkan oleh kebingungan petani dalam menhadapi serangan OPT yang yang terjadi secara cepat dan belum ada formulasi pestisida yang mampu mengendalikannya. Sehingga langkah yang dilakukan oleh sebagian kecil petani ini untuk melakukan uji coba formulasi baru dengan mencampur beberapa pestisida yang telah ada. Sulistiyono (2002) yang menyatakan bahwa petani akan melakukan inovasi untuk memperoleh komposisi campuran 2 (dua), 3 (tiga) atau lebih pestisida yang diharapkan mampu menanggulangi serangan OPT tertentu.

Tabel 28 Ketepatan jenis penggunaan pestisida oleh petani SLPHT dan Non SLPHT pada tanaman sayuran di Jawa Timur tahun 2006

Komoditas Ketepatan cara

Petani SLPHT Petani Non SLPHT Statistical test

Jumlah Persentase Jumlah Persentase

Cabai Tepat 28 100 26 92,86 ρ: 0,154 Tidak Tepat 0 2 7,14 Jumlah 28 100 28 100 Bawang merah Tepat 26 92,86 24 85,71 ρ: 0,392 Tidak Tepat 2 7,14 4 14,29 Jumlah 28 100 28 100 Kubis Tepat 28 100 27 96,43 ρ: 0,317 Tidak Tepat - - 1 3,57 Jumlah 28 100 28 100 Kentang Tepat 27 96,43 25 89,29 ρ: 0,304 Tidak Tepat 1 3,57 3 10,71 Jumlah 28 100 28 100

Dilihat dari komposisi data pada Tabel 28 terlihat bahwa kelompok petani SLPHT dan Non SLPHT memiliki pengetahuan dan kemampuan yang hampir sama dalam menetapkan jenis pestisida yang akan digunakan dalam pengendalian OPT. Hasil uji statistik pada semua komoditas dihasilkan nilai p lebih rendah dari nilai α yang berarti bahwa pada petani SLPHT dan Non SLPHT tidak berbeda nyata menurut ketepatan jenis penggunaan pestisida. Beberapa faktor yang mempengaruhi ketidakadanya perbedaan disebabkan oleh peran distributor, formulator/sales pestisida dan peran aktif petani untuk mencari informasi kepada sesama petani yang dipercaya memiliki kemampuan lebih dalam pengendalian OPT sejenis.

(24)

Pestisida yang sering digunakan oleh petani adalah golongan organofosfat (28,2%), karbamat (23,2%), piretroid (31,5%), insect repellent (zat penolak

serangga), plant growth regulators dan jenis lainnya.

5.3. Persepsi Petani dalam Penggunaan Pestisida pada tanaman Sayuran 5.3.1.Karakteristik Responden

Untuk mengetahui persepsi masyarakat tentang pestisida telah dilakukan survei terhadap 224 responden atau petani di wilayah penelitian yakni Kabupaten Nganjuk, Kediri, Malang dan Probolinggo. Karakteristik responden yang dijadikan sampel dalam penelitian ini adalah umur, lama bertani, pendidikan, dan tingkat pendapatan yang diterima. Distribusi karakteristik responden pada empat lokasi penelitian disajikan pada Tabel 29.

Tabel 29 Sebaran karakteristik responden petani sayuran empat kabupaten di Jawa Timur tahun 2006 Karakteristik responden Kategori pengukuran Komoditas Total B. merah Cabai Kubis Kentang

n % n % n % n % n % Umur Muda (< 19 tahun) 0 0 0 0 0 0 0 Dewasa (20–55 tahun) 49 21,9 46 20,5 47 20,9 51 22,8 193 86,2 Tua (> 56 tahun) 7 3,1 10 4,5 9 4,0 5 2,3 31 13,8 Total 56 25,0 56 25,0 56 24,9 56 25,1 224 100 Pendidikan Tidak tamat SD 2 0,9 4 1,8 2 0,9 3 1,3 11 4,9 Dasar (SD-SLTP) 31 13,8 32 14,3 18 8,0 32 14,3 113 50,5 Menengah (SMU tamat) 19 8,5 16 7,1 30 13,4 18 8,0 83 37,1 Tinggi (D1-Sarjana) 4 1,8 4 1,8 6 2,7 3 1,3 17 7,5 Total 56 56 56 56 224 100 Lama Bertani < 5 th 3 1,3 6 2,6 4 1,8 6 2,6 19 8,5 5-10 th 8 3,6 13 5,8 19 8,5 11 4,9 51 22,7 > 10 th 45 20,1 37 16,5 33 14,7 39 17,4 154 68,8 Total 56 56 56 56 224 100 Pendapatan Rendah < Rp 750.000,- 7 3,1 4 1,8 3 1,3 0 0 14 6,3 Sedang (Rp 750.000-Rp 1.250.000) 27 12,1 19 8,5 21 9,4 15 6,7 82 36,6 Tinggi (> Rp 1.250.0000,-) 22 9,8 33 14,7 32 14,3 41 18,3 128 57,1 Total 56 56 56 56 224 100

(25)

Tabel 29 memperlihatkan bahwa responden di empat kabupaten paling banyak berumur dewasa (20-55 tahun) sebanyak 86,2% dan sedikit berumur tua (> 55 tahun) sebanyak 13,8% serta yang berumur kurang dari 20 tahun tidak ditemukan. Kondisi ini menunjukkan bahwa masyarakat tersebut berada pada usia kerja yang produktif. Memperhatikan proporsi umur paling banyak berumur lebih dari 20 tahun maka frekwensi lama bertani paling banyak lebih dari 10 (sepuluh) tahun yakni 68,8 % dan yang paling sedikit kurang dari 5 (lima) tahun yakni 7,5 %. Hal ini menggambarkan bahwa responden telah memiliki pengalaman yang cukup banyak di budidaya pertanian sayuran.

Pendidikan petani empat komoditas dikategorikan berpendidikan rendah atau banyak yang berpendidikan dasar yakni tamat SD dan SLTP sebanyak 50,5% bahkan tidak tamat SD atau tidak sekolah sebanyak 4,9 %, namun para petani ada yang berpendidikan lanjutan menengah (SLTA) sebanyak 37,1 %. Sedikit sekali masyarakat yang berpendidikan tinggi (tamat perguruan tinggi sarjana maupun diploma) yakni 7,5 %. Mayoritas responden berpendidikan dasar kebawah inilah yang mempengaruhi daya serap dan cerna informasi yang diterima oleh petani sehingga human resources menjadi rendah.

Jika dilihat dari tingkat pendapatannya petani sayuran dikategorikan berpendapatan tinggi mencapai 57,1 %, sedang berpendapatan sedang 36,6 % dan rendah hanya 6,3 %. Hal in tentunya dapat dimengerti bahwa usaha di bidang budidaya pertanian tanaman sayuran digolongkan usaha dengan nilai investasi tinggi mengingat input usaha yang besar. Sesuai dengan pendapat Setiawati (2006) yang menyatakan bahwa usaha budidaya tanaman sayuran memiliki prospek benefit yang tinggi namun pada kondisi tertentu dimana hight material supply

terjadi penurunan yang sangat draktis. 5.3.2. Persepsi Petani tentang Pestisida

Persepsi adalah pandangan atau pengetahuan seseorang tentang sesuatu hal yang ditangkap melalui panca indra (Notoadmojo 2003). Persepsi petani tentang pestisida dapat didefinisikan secara operasional adalah segala sesuatu yang diketahui oleh petani melalui panca indra tentang pestisida. Pengetahuan masyarakat petani sayuran mempunyai peranan yang penting dalam penggunaan pestisida dalam upaya pengendalian OPT tanaman sayuran. Oleh sebab itu, untuk

(26)

mengetahui peranannya maka dilakukan analisis terhadap persepsinya dalam hal pengendalian OPT dengan menggunakan pestisida. Analisis ini bertujuan untuk lebih memudahkan upaya implementasi kebijakan penggunaan pestisida dalam pengendalian OPT pada tanaman sayuran.

Persepsi masyarakat petani tentang implementasi kebijakan penggunaan pestisida dalam pengendalian OPT tanaman sayuran dibedakan menjadi 3 (tiga) jenis persepsi yaitu yaitu, persepsi tentang pengetahuan tentang bahan aktif pestisida, persepsi tentang aturan penggunaan dan aplikasinya serta dampak negatif yang ditimbulkan.

a) Persepsi petani bawang merah tentang penggunaan pestisida

Berdasarkan data yang berhasil dikumpulkan dengan kuesioner tertutup tentang persepsi masyarakat petani tanaman sayuran bawang merah terhadap pengetahuan, aturan penggunaan dan tindakan serta dampak negatif penggunaan pestisida dikategorikan rendah. Hasil penelitian tentang persepsi petani sayuran bawang merah, cabai, kubis dan kentang dapat dilihat pada Gambar 16.

Dari Gambar 16 terlihat bahwa responden pada tanaman bawang merah memiliki persepsi yang rendah terhadap dampak negatif penggunaan pestisida pada tanaman sayuran, yaitu dalam hal pengetahuan tentang pestisida (51,6%), dampak negatif dalam penggunaan pestisida (64,3%) dan aturan penggunaan dan tindakan pestisida (55,4%).

Gambar 16. Persentase persepsi petani sayuran bawang merah di Jawa Timur dalam penggunaan pestisida tahun 2006

51,8 55,4 64,3 28,6 30,4 25 19,6 14,2 10,7 0 10 20 30 40 50 60 70 P e t a n i ( % )

Rendah Sedang Tinggi

Pengetahuan Aturan penggunaan Dampak negatif

(27)

Sebagian kecil masyarakat yang memiliki persepsi sedang (20,3%) dan sisanya memiliki persepsi yang tinggi (14,67%) tentang pengetahuan tentang pestisida dan dampak negatif penggunaan pestisida. Rendahnya persepsi masyarakat tersebut disebabkan pengetahuan masyarakat tentang bahaya pestisida, cara memantau, apa yang harus dilakukan oleh petani agar tidak terpapar oleh pestisida dan cara penanggulangan jika terpapar oleh pestisida yang masih rendah. Rendahnya pemahaman petani bawang merah salah satunya mereka berpersepsi bahwa pestisida bukanlan racun yang mematikan jika terpapar dalam jumlah sedikit (misal ; tersiram, tumpah di saluran, dll) hal ini didukung oleh sangat jarang terjadi keracunan akut pada petani pengguna. Pemahaman sebagaimana dimaksud disebabkan oleh pendidikan yang masih rendah serta kurangnya sosialisasi oleh para petugas pertanian lapangan kepada masyarakat petani pengguna.

b) Persepsi petani cabai dalam penggunaan pestisida

Gambar 17 memperlihatkan bahwa responden petani cabai persepsi yang rendah terhadap dampak negatif yang diitmbulkan dalam penggunaan pestisida, yaitu dalam hal pengetahuam penggunaan pestisida (57,1%), dalam pencegahan munculnya dampak negatif dalam penggunaan pestisida (44,6%) dan aturan penggunaan serta partisipasi dalam penanggulangan dampak negatif yang timbul (60,7%). Hanya sebagian kecil masyarakat memiliki persepsi sedang diantara masing-masing parameter pengetahuan (30,3%), aturan penggunaan (37,5% dan sisanya partisipasi pencegahan dampak negatif pestisida (25%).

Gambar 17. Persentase persepsi petani cabai di Jawa Timur dalam penggunaan pestisida tahun 2006 57,1 44,6 60,7 30,3 37,5 25 12,5 17,9 14,3 0 10 20 30 40 50 60 70 P e t a n i ( % )

Rendah Sedang Tinggi

Pengetahuan Aturan penggunaan Dampak negatif

(28)

Sehubungan dengan rendahnya persepsi petani sayuran dalam pengetahuan tentang substansi pestisida, aturan penggunaan dan pemahaman dampak negatif serta upaya penanggulangan dampak pestisida juga disebabkan oleh pengetahuan masyarakat tentang ekosisitem, dampak pestisida dalam ekosistem terutama tanah, air dan udara, musuh alami, batas toleransi hama, resistensi dan resurgensi. Demikian halnya dengan lemahnya sumberdaya petugas lapangan dalam melakukan pemantauan lapang, untuk melakukan sosialisasi dan evaluasi program pengendalian OPT dengan menggunakan pestisida.

c) Persepsi petani kubis dalam penggunaan pestisida

Gambar 18 memperlihatkan bahwa responden petani tanaman sayuran kubis memiliki persepsi yang rendah terhadap pengetahuan tentang substansi pestisida (66,1%), aturan penggunaan dan tindakan dalam penggunaan pestisida (71,4%) dan dampak negatif yang ditimbulkan oleh pestisida Sebagian kecil masyarakat yang memiliki persepsi sedang dalam pemahaman substansi pestisida (25%), aturan penggunaan pestisida (21,4%) dan dampak negatif pesstisida yang muncul (13,0%)..

Gambar 18 Persentase persepsi petani kubis di Jawa Timur dalam penggunaan pestisida tahun 2006

Sehubungan dengan rendahnya persepsi petani sayuran dalam pemantauan, pencegahan dan partisipasi dalam penanggulangan dampak pestisida juga disebabkan oleh pengetahuan masyarakat tentang ekosistem, dampak pestisida dalam ekosistem terutama tanah, air dan udara, musuh alami, resistensi dan resurgensi. Demikian halnya dengan lemahnya sumberdaya petugas lapangan dalam melakukan pemantauan lapang, untuk melakukan sosialisasi dan evaluasi program pengendalian OPT dengan menggunakan pestisida

66,171,4 62,5 25 21,419,6 8,9 7,1 17,9 0 10 20 30 40 50 60 70 80 P e t a n i ( % )

Rendah Sedang Tinggi

Pengetahuan Aturan Penggunaan Dampak Negatif

(29)

d) Persepsi petani kentang dalam penggunaan pestisida

Penggunaan pestisida pada tanaman kentang diketahui tertinggi volumenya jika dibandingkan dengan tiga komoditas lainnya. Kondisi ini tidak lepas dari persepsi petani tentang pestisida, data persepsi petani tentang pestisida dengan substansinya dapat dilihat pada Gambar 19.

Gambar 19. Persentase persepsi petani kentang di Jawa Timur dalam penggunaan pestisida tahun 2006

Gambar 19 persepsi masyarakat petani kentang tentang pengetahuan substansi pestisida, aturan penggunaan dan tindakan penggunaan pestisida serta dampak negatif yang muncul dalam penggunaan pestisida dikategorikan rendah. Rendahnya persepsi petani sayuran disebabkan oleh rendahnya kategori dalam pemahaman tentang pengetahuan tentang substansi pestisida (73,2%), aturan penggunaan dan tindakan penggunaanya (67,9%) dan dampak negatif yang muncul oleh penggunaan pestisida (76,8%). Rendahnya persepsi petani ini disebabkan oleh rendahnya pemahaman petani tentang peran musuh alami, bahaya bagi manusia dan hewan, dan rendahnya kesadaran petani dalam memperhatikan kesehatan para responden.

e) Persepsi petani empat komoditas sayuran utama di Jawa Timur

Berdasarkan hasil analisis dari ke empat petani yang dijelaskan dalam Gambar 16, 17, 18 dan 19 maka dapat analisis secara keseluruhan melalui akumulasi menjadi satu kesatuan data, sebagaimana tertera pada Gambar 20. Berdasarkan data tesebut maka dapat dilihat bahwa secara keseluruhan petani sayuran utama memiliki pemahaman tentang penggunaan pestisida pada aspek pengetahuan tentang substansi pestisida, aturan penggunaan dan tndakannya dan

73,2 67,9 76,8 21,419,6 10,7 5,4 12,512,5 0 10 20 30 40 50 60 70 80 P e t a n i ( % )

Rendah Sedang Tinggi

Pengetahuan Aturan Penggunaan Dampak Negatif

(30)

dampak negatif pestisida yang ditimbulkan mayoritas kategori rendah sebanyak 62,7 % sedangkan kategori tinggi hanya 12,8 %.

Gambar 20 Akumulasi persepsi petani tanaman sayuran di Jawa Timur dalam penggunaan pestisida tahun 2006

5.4. Upaya Pengendalian OPT pada Tanaman Sayuran

Dalam sub bab ini disajikan contoh salah satu dari empat komoditas dalam upaya pengendalian OPT tanaman sayuran. Berdasarkan Tabel 19 luas serangan OPT pada tanaman bawang merah lima tahun terkhir (2005 s/d 2009) rerata terjadi kenaikan serangan seperti ulat bawang (S. litura) 21,48 %, penggorok daun

(Lyriomyza sp.) 39,23 %, penyakit layu (P. porri) 69,58 % dan trips mencapai

858,07 %. Namun berdasarkan luas serangan hama ulat daun dan penyakit layu P. porri masih dominan dengan luas serangan 706,66 ha dan 192,25 ha. Selama tahun

2009 terdapat serangan 10 jenis OPT bawang merah di Jawa Timur dengan total luas serangan 1.426,15 ha yang terdiri dari serangan ringan 1.235,70 ha, sedang 182,73 ha, berat 5,92 ha dan puso 1,80 ha. (Diperta Provinsi Jawa Timur 2009)

Tanaman bawang merah memiliki kerentanan yang cukup tinggi dari serangan OPT. Upaya pengendalian OPT bawang merah oleh petani telah dilakukan dengan berbagai cara melalui pemasangan perangkap light traps, cara

mekanis, dan secara kimiawi dengan pestisida. Tabel 30 menunjukkan bahwa luas pengendalian yang paling banyak diupayakan oleh petani adalah menggunakan cara kimiawi atau pestisida dan disusul dengan eradikasi. Data secara lengkap upaya pengendalian OPT pada tanaman bawang merah, tertera pada Tabel 30.

57,2 54,1 66,7 72,6 62,7 28 30,9 22 17,2 24,5 14,814,9 11,310,1 12,8 0 10 20 30 40 50 60 70 80 P e t a n i ( % )

Rendah Sedang Tinggi

B Merah Cabai Kubis Kentang Rerata

(31)

Tabel 30 Perbandingan kumulatif luas pengendalian serangan OPT bawang merah di Jawa Timur tahun 2009

OPT Luas Pengendalian (ha)

Eradikasi Pestisida Cara Lain

Spodoptera litura 1.042,3 10.576,0 3.186 Lyriomyza sp. 20 2.177,8 30,4 Phytophthora sp. 0,2 2.823,7 116,1 Alternaria porri 0 334,9 52,3 Antraknosa 0 46,2 25,4 Fusarium 0 369,4 2,5 Jumlah 1.062,5 15.993,1 3.412,7 Persentase 5,19 78,14 16,67

Sumber : Diperta Provinsi Jawa Timur 2009

Hasil inventarisi data yang berhasil dikumpulkan dalam penggunaan pestisida pada tanaman bawang merah di wilayah sentra yakni di Kabupaten Nganjuk dan Kabupaten Probolinggo dijumpai bahwa kebutuhan per hektarnya mencapai 31,59 kg (SLPHT) dan 32,19 kg (Non SLPHT). Volume penggunaan pestisida pada tanaman bawang merah sangat tergantung dari kondisi musim dan cuaca. Pada musim tanam bulan April sampai dengan Bulan Agustus penggunaan pestisida lebih dominan jenis insektisida, karena pada bulan-bulan ini banyak serangan insekta seperti Lyriomyza sp, S. exiqua, dan Thrips tabaci L Pada saat pengambilan

data, serangan Lyriomyza sp. dianggap masyarakat setempat sangat membahayakan

karena hama ini menyerang di dalam daun bawang sehingga tanda-tanda serangan tidak tampak diawal, namun setelah serangan berat baru tampak gejala dari luar. Dilihat dari waktu serangannya yang berjalan sangat cepat dan dalam waktu yang hampir bersamaan dalam satu area tertentu maka kondisi ini menyebabkan masyarakat setempat menamainya dengan serangan “Grandong” (semacam tokoh cerita sandiwara yang menyeramkan). Jenis hama lainnya yang menyebabkan penggunaan pestisida di musim kemarau lebih banyak adalah serangan ulat bawang

S. exiqua. Hama ini menyerang daun tanaman bawang merah dan masuk

didalamnya, sehingga tanda serangannya adalah daun patah dan kering.

Pengendalian serangan OPT Lyriomiza sp. dan S. exiqua tetap mengutamakan

dengan insektisida, namun pada luasan areal kurang dari 0,2 ha dibantu dengan cara mekanis yakni memangkas daun yang terserang secara manual (dalam bahasa jawa ”Petan”).

(32)

Pada musim penghujan penggunaan pestisida lebih tinggi jika dibandingkan musim kering, hal ini disebabkan oleh curah hujan lebih tinggi jika dibandingkan musim kemarau, mengakibatkan kelembaban yang relatif lebih tinggi sehingga bakteri dan fungi lebih cepat berbiak. Nama fungi yang sering menyerang tanaman bawang merah seperti bercak ungu atau trotol (Alternaria porri), Embun Bulu atau

busuk daun (Peronospora destructor (Berk) Caps, dan Antraknose (Colletotrichum gloesporioides). Sesuai dengan jenis OPT yang menyerang maka kebutuhan

fungisida pada musim penghujan 1,5-2 kali lipat musim kemarau.

Tabel 31 Jumlah pestisida yang banyak digunakan oleh petani SLPHT dan Non SLPHT pada komoditas bawang merah di Jawa Timur tahun 2006

No. Jumlah jenis pestisida yang digunakan

Petani SLPHT Petani Non SLPHT Jumlah (orang) Persentase Jumlah (Orang) Persentase 1 1-3 macam - - - - 2 4-6 macam 10 35,71 3 10,71 3 7-9 macam 17 60,71 18 64,29 4 >9 macam 1 3,57 7 25,00 Jumlah 28 100,00 28 100,00

Penggunaan pestisida dalam pengendalian OPT tanaman bawang merah yang mencapai 31,59 kg sampai dengan 32,19 kg per hektar, para petani tidak lagi hanya menggunakan 2 sampai 3 macam formulasi tetapi yang paling banyak antara 7 sampai 9 formulasi, bahkan pada sebagian petani non SLPHT ada yang menggunakan 9 sampai 12 formulasi (Tabel. 31). Banyaknya formulasi ini sangat tergantung pada banyaknya jenis OPT yang menyerang dan besaran tingkat serangan pada suatu areal. Semakin banyak OPT yang menyerang semakin banyak formulasi yang digunakan oleh petani, demikian juga semakin berat tingkat serangannya petani akan berusaha melakukan kombinasi formulasi dengan harapan mampu meningkatkan daya racunnya.

5.5. Pemodelan Sistem

Implementasi kebijakan penggunaan pestisida merupakan serangkaian kegiatan yang melibatkan berbagai unsur. Unsur-unsur yang dimaksud memiliki peranan yang berbeda-beda, baik berperan langsung maupun tidak langsung dalam mekanisme interaksinya. Implementasi kebijakan penggunaan pestisida pada tanaman sayuran di Jawa Timur melibatkan banyak unsur atau komponen yang

(33)

terkait maka implementasi ini bersifat komplek. Serangkaian kegiatan implementasi kebijakan penggunaan pestisida yang menggambarkan interaksi beberapa komponen maka proses ini adalah bagian dari sistem yang bersifat dinamis. Maka dari itu pendekatan yang dilakukan adalah pendekatan sistem dan pemodelan.

Pemodelan diartikan sebagai suatu gugus pembuatan model yang akan menggambarkan sistem yang dikaji (Eriyatno 1999). Tujuan utama dari penelitian ini adalah membangun model pengembangan implementasi kebijakan penggunaan pestisida. Pemodelan sistem pengembangan implementasi kebijakan penggunaan pestisida digunakan untuk menemukan dan menempatkan peubah-peubah penting serta hubungan antar peubah dalam sistem tersebut yang bersandarkan pada hasil pendekatan kotak gelap (black box). Dalam penelitian ini untuk mengukur besaran

implementasi kebijakan penggunaan pestisida dilakukan dengan pendekatan volume penggunaan pestisida untuk pengendalian organisme pengganggu tanaman.

Model pengembangan implementasi kebijakan penggunaan pestisida pada tanaman sayuran disusun berdasarkan variabel-variabel yang mempengaruhi kebijakan penggunaan pestisida oleh petani tanaman sayuran yaitu faktor dalam diri petani dan faktor luar. Model tersusun oleh beberapa sub-sub model variabel, yaitu: sub-model SDM Petani, sub-model SDM petugas lapangan, sub-model lingkungan (yang diukur dengan pendekatan serangan OPT), tekanan formulator dan sub model ketersediaan pestisida. Kelima sub-sub model tersebut dibuat secara parsial berdasarkan persamaan yang sesuai dengan masing-masing sub-model, kemudian diintegrasikan menjadi satu model pengembangan implementasi kebijakan penggunaan pestisida pada budidaya tanaman sayuran di Jawa Timur. Model yang dibangun untuk kajian sistem adalah model simbolik (model matematika). Pemodelan sistem dilakukan dengan menggunakan bantuan perangkat lunak (software) program Powersim versi 2.5 c.

Model umum (global) faktor dibedakan menjadi dua jenis yakni dari dalam diri petani dan dari luar diri petani. Faktor dari dalam diri petani adalah kemampuan petani memahami tentang substansi pestisida, aturan penggunaan pestisida, efek samping negatif pestisida, pemahaman tentang OPT dan pemahaman ekosistem. Sedangkan faktor dari luar diri petani meliputi luas tanam

(34)

tanaman sayuran, serangan OPT, tekanan formulator dan kumudahan atau ketersediaan pestisida. Model penggunaan pestisida berhasil dibangun menjadi sebuah persamaan. Persamaan inilah yang dijadikan indikator faktor yang mepengaruhi implementasi kebijakan penggunaan pestisida yaitu luas tanam, luas serangan OPT (tekanan lingkungan), SDM petani, tekanan promosi (formulator = petani menyebut), dan kemudahan akses mendapatkan pestisida di lapangan.

Data penggunaan pestisida per hektar per musim tanam pada empat tanaman sayuran utama sebagai berkut : kentang 160,62 kg, cabai 137,872 kg, kubis 78,03 kg dan bawang merah 31,89 kg. Volume penggunaan pestisida oleh petani tanaman sayuran ini dapat didistribusikan berdasarkan faktor-faktor pendorong. Sebagaimana diketahui bahwa hasil inventarisasi data distribusi volume penggunaan pestisida yang dipengaruhi oleh faktor-faktor pendorong yang telah disebutkan diatas. Secara matematik peningkatan penggunaan pestisida yang dipengaruhi faktor sebagai berikut serangan OPT mencapai 21 %, promosi oleh sales pestisida 10,5 %, luas tanam 44,9 %, SDM petani 19,5 % dan kemudahan akses memperoleh pestisida di lapangan 4,1 %.

Penggunaan pestisida di lapangan akan terkendalikan oleh faktor SDM petugas`lapangan sebagai kepanjangan tangan pemerintah dan SDM petani yang memiliki kemampuan lebih dibidang pengelolaan ekosistem, pemahaman substansi pestisida, aturan penggunaan pestisida dan efek samping yang ditimbulkan. Faktor pengendali yang kedua lebih terkenal dengan pemahaman konsep pengendalian hama terpadu (PHT). Beberapa tahun terakhir konsep dimaksud telah terakomodir dalam program baru yang termuat dalam program atau konsep good agriculture practice (GAP). Berdasarkan hasil identifikasi faktor dimaksud maka dapat

disusun menjadi persamaan matematis sebagai berikut:

JPP = ((LSO*fk1) + (LLhn*fk2) + (TProm*fk3) + (SdiaPest*fk4) + (SDMPetn1*fk5)) – ((SDMPetn2*fk5) + (SDMPetgs*fk6) --- (3) Keterangan :

JPP : jumlah/volume penggunaan pestisida LSO : luas serangan OPT

LLhn : luas lahan tanaman sayuran TProm : tekanan promosi/formulator SdiaPest : ketersediaan pestisida

(35)

SDMPetn1 : SDM petani berkemampuan rendah

SDMPetn2 : SDM petani berkemampuan tinggi

SDM Petgs : SDM petugas lapangan

Menurut data BPS Jawa Timur tahun 2009 diketahui bahwa jumlah petani di Jatim sebanyak 3.743.861 jiwa dan luas lahan tanaman sayuran 11,55 % dari seluruh luas lahan sawah. Berarti petani sayuran di Jawa Timur lebih kurang 432.306 petani. Jumlah penyuluh pertanian 5.520 orang (2645 Penyuluh/PNS dan 2.875 orang THL-TB dan propinsi 41 orang (BPTPH Jawa Timur 2011). Dengan demikian dapat diprediksi bahwa jumlah penyuluh yang bertugas di area tanaman sayuran lebih kurang 11,55 % dari total penyuluh atau sebanyak 638 orang.

Berdasarkan data sebagaimana disebutkan sebelumnya maka dapat dibuat model diagram alir komponen yang mempengaruhi penggunaan pestisida pada tanaman sayuran. Adapun gambar diagram alir komponen yang mempengaruhi penggunaan pestisida pada budidaya tanaman sayuran di Jawa Timur beserta keterangannya, dapat dilihat pada Gambar 21.

Gambar 21 Diagram alir komponen yang mempengaruhi penggunaan pestisida pada tanaman sayuran di Jawa Timur

Keterangan :

VPest = volume pestisida

Lj_KurPest = laju pengurangan penggunaan pestisida Lj_PPest = laju penggunaan pestisida

L_Tanam = luas tanaman sayuran

SalesPest = jumlah sales/formulator pestisida SDAPest = ketersediaan pestisida

SDM_Ptn1 = jumlah petani yang bekeampuan kurang

SDMPetgs Lj_KurPest fk_SDMPetgs VPest fk_tekOPT SDAPest fk_SDAPest TekOPT SalesPest fk_SalesPest fk_LLahan Lj_PPest fk_Ptn1 SDMPtn2 fk_SDMPtn2 SDM_Ptn1 L_Tanam

Gambar

Tabel 18 Realisasi luas tanam, luas panen, produksi dan produktivitas sayuran di Jawa  Timur  tahun 2009
Gambar  15. Luas kumulatif serangan OPT pada empat jenis tanaman sayuran di Jawa  Timur tahun 2005-2009
Tabel 19 Kumulatif luas serangan kompleks OPT sayuran utama di Jawa Timur tahun  2009
Tabel 20   Luas serangan OPT pada empat jenis tanaman sayuran di Jawa Timur selama  tahun 2009 terhadap tahun 2008 dan rerata 5 (lima) tahun sebelumnya
+7

Referensi

Dokumen terkait

a) Tidak melakukan perubahan dari kedua sistem penilaian kualitas tersebut, namun perlu meningkatkan upaya sosialisasi dari kedua sistem tersebut untuk menjelaskan

Syukur Alhamdulillah penulis haturkan ke hadirat Allah SWT atas segala limpahan rahmat serta hidayah-Nya yang telah diberikan sehingga dapat menyususun dan

Terkait dengan keterbatasan waktu yang dimiliki QA sehingga hasil review C2R hanya berdasarkan data – data dalam PAK dan tidak memungkinkan bahwa debitur harus

menunjukkan pengaruh yang nyata (P&gt;0,05) Hasil analisis tersebut berarti bahwa perubahan sifat fisik pada kulit wet blue sangat dipengaruhi oleh jenis kapang yang

Data parameter- parameter yang diperlukan dalam model diadopsi dan dikembangkan dari berbagai literatur.Pada bagian berikut diuraikan analisis secara teknis dari proses berkaitan

Tujuan umum penelitian ini adalah untuk menganalisis hubungan tinggi hak sepatu dan indek massa tubuh (IMT) dengan keluhan nyeri pinggang bawah pada sales promotion girl

Memberikan masukan kepada menteri mengenai penilaian MWA atas kinerja rektor yang menyangkut bidang akademik; 21. Mengusulkan pengangkatan anggota MWA kepada

Artinya: Syahnya nikah dengan mendahulukan qabul dan mengakhirkan ijab itu karena tercapainya / tersampaikannya maksud.. Hal ini dilatarbelakangi ketika qabul didahulukan