47 BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Deskripsi Hasil Penelitian
Informasi yang diperoleh pada penelitian ini mengungkapkan keadaan nyata di lapangan berupa deskripsi mengenai pelaksanaan program remedi oleh guru mata pelajaran Biologi SMA Negeri di Kabupaten Kulon Progo. Wawancara tersebut dilaksanakan kepada guru berdasarkan kriteria dengan sampel jenuh dengan batasan tidak ada informasi baru yang ditemukan. Hasil penelitian mengungkap perencanaan, pelaksanaan, dan hasil program remedi. Hasil wawancara mendalam pelaksanaan program remedi pada pembelajaran biologi SMA Negeri di Kabupaten Kulon Progo sebagai berikut.
1. Guru A
Guru A melaksanakan program remedi. Penentuan peserta didik yang harus mengikuti remedi hanya berdasarkan nilai ulangan harian dan KKM, tidak ada pertimbangan lain. Guru A tidak melakukan observasi perilaku peserta didik dan tidak membandingkannya dengan hasil ulangan maupun hasil tes IQ.
Program remedi yang dilaksanakan berupa peserta didik belajar mandiri kemudian dilakukan tes ulang. Setelah melaksanakan program remedi, apabila masih ada peserta didik yang belum tuntas maka seharusnya dilakukan remedi tetapi Guru A tidak melakukan remedi lagi. Nilai akhir peserta didik yang remedi yaitu tepat KKM. Evaluasi terkait pelaksanaan remedi dilaksankan oleh guru A yaitu pada blangko analisis evaluasi, termuat analisis penyebab kegagalan peserta didik yang dapat berasal dari peserta didik itu sendiri maupun dari soal dan tingkat
48
kesulitan materi. Peserta didik yang mengikuti remedi cenderung sama, hanya peserta didik tertentu saja.
2. Guru B
Guru B melaksanakan program remedi. Guru B menentukan peserta didik yang harus mengikuti program remedi berdasarkan ketuntasan, mencapai KKM atau belum, tidak ada pertimbangan lain. Guru B melakukan observasi terhadap perilaku peserta didik apabila pada saat proses pembelajaran peserta didik mampu mengikuti dengan baik, namun saat ulangan harian tidak dapat mencapai KKM. Hasil observasi tersebut kemudian dituliskan pada analisis. Guru B juga melihat nilai IQ peserta didik, namun terkadang hasil IQ peserta didik tidak sesuai dengan kondisi peserta didik sesungguhnya. Apabila penyebab kegagalan peserta didik berasal dari masalah psikologis, guru B bekerja sama dengan guru BK. Selain itu, guru B juga melakukan pendekatan individual kepada peserta didik selaku wali kelas.
Program remedi yang dilaksanakan berupa mengerjakan soal setelah pembahasan mengenai materi yang belum dikuasai peserta didik. Pembelajaran ulang dilaksanakan secara individual ataupun klasikal sesuai dengan jumlah peserta didik yang mengikuti program remedi Terkadang guru menerapkan strategi yang berbeda dalam melaksanakan program remedi, namun hal tersebut tergantung pada materi, jumlah peserta didik yang mengikuti program remedi, studi literatur, dan tingkat kesulitan materi. Pemantauan hasil program remedi dilakukan dengan tes ulang. Nilai akhir peserta didik yang mengikuti program remedi yaitu sesuai KKM. Evaluasi setelah pelaksanaan program remedi seharusnya ada, namun guru B tidak
49
melakukannya. Kendala dalam melaksanakan program remedi yaitu masalah waktu. Guru B menjelaskan sulit mencari waktu yang tepat untuk melaksanakan program remedi karena banyaknya kegiatan dan mata pelajaran lain yang menyelenggarakan remedi juga.
3. Guru C
Guru C melaksanakan program remedi. Guru C menentukan peserta didik yang harus mengikuti program remedi berdasarkan analisis ulangan harian, namun tanpa analisispun sebenarnya bisa dilihat dari nilai ulangan harian yang tidak mencapai KKM. Guru C tidak memperhatikan pertimbangan lain dalam menentukan peserta didik yang harus mengikuti program remedi, hanya saja apabila ada peserta didik ketahuan menyontek juga harus mengikuti program remedi. Guru C tidak mampu menyelidiki masalah penyebab peserta didik tidak tuntas dan juga tidak melakukan konsultasi dengan guru BK. Observasi perilaku peserta didik yang menunjukkan tanda-tanda tidak konsentrasi, mengalami kesulitan memahami konsep, dan memiliki motivasi belajar rendah tidak dilakukan, tetapi menjadi kasus dan mencaritahu alasannya dengan pendekatan secara individual. Peserta didik yang nilainya jauh dibawah KKM ditelusuri penyebabnya oleh guru C. Guru C tidak mengaitkan antara hasil ulangan dengan hasil observasi maupun hasil tes IQ.
Bentuk pelaksanaan program remedi berupa belajar mandiri kemudian pemantauan hasilnya dengan tes ulang. Jika benar-benar tidak ada waktu maka program remedi dilakukan dengan mengerjakan tugas. Apabila setelah program remedi masih terdapat peserta didik yang belum tuntas maka peserta didik akan mengerjakan soal lagi dengan diperbolehkan membuka buku. Nilai akhir peserta
50
didik yang mengikuti program remedi sesuai KKM. Guru C tidak melakukan evaluasi terhadap pelaksanaan program remedi.
4. Guru D
Guru D melaksanakan program remedi. Setelah melaksanakan ulangan harian, guru tersebut menganalisis hasilnya. Apabila terdapat peserta didik yang belum mencapai nilai KKM maka guru tersebut melaksanakan program remedi. Cara menentukan peserta didik yang harus mengikuti program remedi berdasarkan nilai ulangan harian, peserta didik yang belum mencapai KKM mengikuti ulangan remedi. Guru tidak memperhatikan pertimbangan lain yang digunakan untuk menentukan peserta didik yang harus mengikuti program remedi. Guru D tidak melakukan observasi perilaku peserta didik, misalnya peserta didik tidak konsentrasi, mengalami kesulitan memahami konsep, dan memiliki motivasi belajar rendah. Guru D menjelaskan program remedi hanya untuk memperbaiki nilai saja. Guru D belum mengaitkan hasil nilai ulangan dengan hasil observasi maupun hasil tes intelegensi (IQ).
Bentuk pelaksanaan program remedi berupa pemberian tes ulang. Nilai akhir peserta didik yang mengikuti program remedi yaitu tepat nilai KKM. Setelah program remedi apabila masih terdapat peserta didik yang belum tuntas maka dilaksanakan program remedi ulang sampai peserta didik benar-benar tuntas. Guru D tidak melakukan evaluasi terkait pelaksanaan program remedi. Namun, guru tersebut melakukan telaah, misalnya banyak peserta didik yang mengikuti program remedi, kemudian menelusuri penyebabnya apakah karena tingkat kesulitan materinya atau memang karena peserta didiknya.
51 5. Guru E
Guru E melaksanakan program remedi. Guru E menentukan peserta didik yang harus mengikuti program remedi berdasarkan KKM, tidak ada pertimbangan lain yang diperhatikan. Guru E melakukan observasi perilaku peserta didik pada saat di dalam kelas dan secara tertulis juga ada. Guru E tidak mengaitkan hasil ulangan harian dengan hasil tes IQ peserta didik. Kegagalan peserta didik dapat disebabkan karena peserta didik tidak belajar maksimal atau memiliki masalah, baik masalah dengan teman maupun masalah di rumah. Guru E mengarahkan peserta didik yang memiliki masalah untuk mengikuti ekstrakurikuler Pusat Informasi Reproduksi Remaja (PIRR) yang ada di sekolah. PIRR membantu menyelesaikan masalah peserta didik dan umumnya masalah tersebut berkaitan dengan pacar. Terkadang guru E juga melakukan konsultasi dengan guru BK mengenai masalah peserta didik. Bentuk pelaksanaan program remedi berupa mengerjakan soal, mengerjakan tugas, ataupun memanfaatkan tutor sebaya. Tutor sebaya dilakukan secara terbimbing dimana peserta didik yang belum tuntas membuat daftar pertanyaan yang diajukan kepada peserta didik yang diangga tutor dan guru mengawasi pelaksanaannya.
Perbedaan program remedi yang dilaksanakan tergantung pada jumlah peserta didik yang mengikuti program remedi, apabila ketuntasan peserta didik >85% maka pembelajaran dilakukan secara individual, sementara apabila ketuntasan 50-85% maka pembelajaran dilakukan secara klasikal. Pemantauan hasil program remedi dilakukan dengan melaksanakan tes ulang, pemberian tugas, ataupun dengan tes lisan apabila jumlah peserta didik hanya beberapa orang saja.
52
Apabila setelah melakukan program remedi masih ada peserta didik yang belum tuntas maka dilakukan remedi lagi, namun apabila sampai 3 kali belum tuntas juga maka akan diberikan tugas. Nilai akhir peserta didik yang mengikuti program remedi sesuai KKM. Evaluasi pelaksanaan program remedi dilakukan untuk mengetahui penyebab kegagalan peserta didik, apakah dari tingkat kesulitan materi, sarana dan prasarana yang kurang menunjang, atau dari guru itu sendiri. Evaluasi dilaksanan untuk perbaikan pembelajaran selanjutnya.
6. Guru F
Guru F melaksanakan program remedi. Guru F menentukan peserta didik yang harus mengikuti program remedi berdasarkan nilai ulangan harian. Apabila peserta didik belum mencapai KKM maka peserta didik tersebut harus mengikuti program remedi, tidak ada pertimbangan lain yang diperhatikan. Program remedi dilakukan dengan fokus pada nilai peserta didik, bukan pada perilaku peserta didik. Guru F tidak mempertimbangkan apabila penyebab kegagalan belajar peserta didik berasal dari masalah psikologis atau pemahaman peserta didik. Apabila peserta didik memiliki masalah psikologis, guru BK yang akan menangani, bukan guru mata pelajaran. Guru mata pelajaran merujuk langsung ke nilai. Guru F tidak mengaitkan hasil ulangan harian dengan hasil tes IQ. Guru E menyatakan bahwa guru mata pelajaran tidak perlu mengetahui hasil tes IQ peserta didik yang diadakan guru BK.
Bentuk pelaksanaan program remedi berupa mengerjakan soal atau tes lisan. Terkadang peserta didik hanya mengerjakan nomer soal yang masih salah saja atau mengerjakan seluruh soal. Apabila masih ada peserta didik yang belum tuntas
53
walaupun sudah mengikuti program remedi, maka peserta didik mengerjakan soal kembali dengan tipe yang sama, namun apabila masih belum tuntas, maka mengerjakan soal yang sama. Nilai akhir peserta didik yang mengikuti program remedi yaitu sesuai KKM. Evaluasi dilaksanakan dengan melihat hasil analisis ulangan harian sehingga bisa diketahui penyebab kegagalan peserta didik, apakah dari tingkat kesukaran soal, atau peserta didiknya sendiri. Guru menjelaskan karena sekolah pinggiran maka dimungkinkan disebabkan karena peserta didik.
7. Guru G
Guru G melaksanakan program remedi. Guru G menentukan peserta didik yang harus mengikuti program remedi berdasarkan nilai ulangan, kalau belum mencapai KKM peserta didik harus mengikuti program remedi. Guru G tidak melakukan observasi perilaku peserta didik dan tidak mengaitkannya dengan hasil ulangan maupun hasil tes IQ peserta didik. Sekolah masih menerapkan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) sehingga kelas X belum ada peminatan. Hal ini mempengaruhi jumlah peserta didik yang mengikuti program remedi. Jumlah peserta didik kelas X yang mengikuti program remedi lebih banyak dibanding kelas XI karena peserta didik kelas X belum terfokus dan belum termotivasi. Peserta didik yang tidak tuntas karena masalah psikologis mendapat perhatian guru. Peserta didik yang mengikuti program remedi berulang kali ditelusuri penyebabnya, daya tangkap yang rendah atau ada masalah di rumah. Jika peserta didik yang mengikuti program remedi terlalu banyak, maka faktor guru dapat menjadi salah satu penyebabnya.
54
Program remedi yang dilaksanakan berupa peserta didik belajar mandiri, membahas materi atau soal yang belum dikuasai peserta didik. Kendala pelaksanaan remedi yaitu masalah waktu, program remedi harus dilaksanakan di luar jam pelajaran. Secara ideal, pelaksanaan program remedi harus memiliki strategi pembelajaran, pembelajaran ulang, namun guru belum melaksanakan. Tes ulang dilaksanakan dengan sebelumnya peserta didik diberitahu materi atau nomer soal yang belm dikuasai. Apabila terdapat peserta didik yang biasanya tuntas, tetapi suatu saat peserta didik tersebut tidak tuntas, maka guru G mencari tahu penyebabnya dengan konsultasi ke guru BK. Guru menjelaskan bahwa alasan peserta didik yaitu karena belum ada penjurusan. Nilai akhir peserta didik yang remedi yaitu nilai tepat KKM. Tidak ada evaluasi khusus untuk remedi, evaluasi dilihat dari hasil analisis ulangan harian.
8. Guru H
Guru H melaksanakan program remedi. Guru H menentukan peserta didik yang harus mengikuti program remedi berdasarkan KKM, tidak ada pertimbangan lain yang diperhatikan. Berdasarkan analisis yang dilakukan, item atau indikator yang belum dikuasai peserta didiklah yang digunakan untuk program remedi. Peserta didik yang belum tuntas disebabkan masalah psikologis, guru H membantu masalah peserta didik dengan cara pendekatan individual. Guru mata pelajaran harus menguasai dan menerapkan prinsip konseling. Peserta didik mengalami kegagalan apakah disebabkan pola belajar, masalah di rumah, atau yang lainnya. Guru H melakukan pendekatan dengan guru BK untuk membantu menangani masalah peserta didik sehingga tidak menggangu proses pembelajaran. Selain itu,
55
guru H juga melakukan pendekatan dengan peserta didik untuk membantu memecahkan masalah. Apabila peserta didik memiliki masalah mengenai materi, peserta didik dapat menanyakan dan menghubungi guru H melalui media sosial, seperti wa, facebook, line, dan bbm. Guru H tidak melakukan observasi perilaku peserta didik, namun terdapat buku hambatan untuk KTSP sehingga dari buku tersebut dapat diketahui peserta didik yang perlu pendampingan. Guru H tidak mengaitkan antara hasil observasi, hasil ulangan harian, dan hasil tes IQ. Bentuk pelaksanaan program remedi berupa pemberian tes ulang, penugasan, dan kalau peserta didik yang remedi lebih dari 50% dilakukan remedial teaching. Guru H juga memberitahukan materi yang belum dikuasai atau nomer soal yang masih salah. Pemantauan hasil program remedi dilakukan dengan tes ulang, namun apabila masih belum tuntas maka diberi penugasan. Nilai akhir peserta didik yang mengikuti program remedi sesuai nilai KKM. Evaluasi dilakukan dengan memperhatikan indikator dari kompetensi yang akan dicapai. Evaluasi digunakan untuk menetapkan soal kedepannya.
1. Pelaksanaan Program Remedi oleh Guru pada Pembelajaran Biologi SMA Negeri di Kabupaten Kulon Progo
Semua guru menentukan peserta didik yang harus mengikuti program remedi berdasarkan Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM). Namun, dilihat dari hasil wawancara, setiap guru memiliki pengungkapan yang berbeda-beda. Beberapa guru mengungkapkan bahwa nilai ulangan harian digunakan sebagai dasarmenetapkan peserta didik yang harus mengikuti program remedi.
“Penentuan peserta didik yang harus mengikuti remedi hanya berdasarkan nilai ulangan harian saja.” (A)
56
“Berdasarkan ketuntasan, sudah tuntas atau belum. Patokannya Nilai KKM.” (B) “Berdasarkan analisis ulangan harian. Sebenarnya nggak dianalisispun kalau nilainya kurang dari KKM ya peserta didik tersebut remedi.” (C)
“Berdasarkan nilai ulangan harian, peserta didik yang belum mencapai KKM mengikuti ulangan remedi.” (D)
“Berdasarkan KKM.” (E)
“Berdasarkan nilai ulangan harian, kalau dibawah KKM kan diremedi.” (F)
“Berdasarkan nilai ulangan... Kalau saya biasanya menggunakan nilai ulangan harian saja. Jadi, nilai ulangan harian kalau belum mencapai KKM harus mengikuti remedi. Jadi, hanya berdasarkan nilai ulangan harian untuk menetapkan peserta didik yang harus mengikuti remedi” (G)
“Berdasarkan KKM....” (H)
Berdasarkan hasil wawancara dapat diketahui bahwa guru belum melaksanakan kegiatan perencanaan kegiatan program remedi sesuai dengan langkah yang ada. Guru menentukan peserta didik yang harus mengikuti program remedi berdasarkan KKM. Sebagian guru mengungkapkan bahwa program remedi yang dilaksanakan berupa peserta didik belajar mandiri kemudian dilaksanakan pemantauan hasil program remedi dengan tes ulang. Namun, dua guru menyebutkan bahwa sebelum melaksanakan tes ulang, guru membahas soal ataupun materi yang belum dikuasai peserta didik. Guru yang lain menyebutkan pelaksanaan remedi dengan pemberian tugas, ataupun dengan tutor sebaya. Hasil wawancara dengan guru terkait pelaksanaan program remedi yaitu sebagai berikut: “Peserta didik melakukan belajar mandiri kemudian pada waktu yang telah ditentukan dilaksanakan tes ulang.” (A)
“Remedinya biasanya mengerjakan soal setelah pembahasan, mungkin ada anak yang masih bingung, tak bahas kemudian tak kasih soal. Pembelajaran ulang yang diakhiri dengan soal. Pembelajaran dilakukan secara klasikal, kadang juga individual, tergantung jumlah pesertanya. Kalau misal sedikit, individual. Kalau banyak, klasikal.” (B)
57
“Kalau seharusnya, melaksanakan remedi itu harus melaksanakan pembelajaran dulu, tapi kalau pembelajaran itu waktunya nggak ada. Nggih kon sinau riyin mawon. Jadi bisa belajar sendiri atau bisa tanya ke teman sebaya kemudian dites ulang. Ada pemberian tugas tapi kalau benar-benar waktunya nggak ada. Tapi kalau masih ada waktu, tetep pakai tes ulang.” (C)
“Pelaksanaan remedi yang saya lakukan berupa pemberian tes ulang.” (D)
“Remedi itu macam-macam. Yang pertama, pemberian tugas, kemudian yang kedua mengerjakan materi dengan kisi-kisi yang sama tetapi soal berbeda, kemudian juga ada tutor sebaya.” (E)
“... Misalnya sekarang lagi bagi hasil ulangan, minggu depan kita remedi, gitu. Kalau nggak kan nanti anaknya nggak belajar, nggak siap, sama aja.” (F)
“Kalau saya, saya suruh belajar, paling nggak gini, saya umumkan dulu kemudian nanti ditentukan kapan pelaksanaan remedi, yang belum dikuasai peserta didik nomer sekian sekian sekian. Kemudian saat pertemuan ada perbaikan (remedi) dan pengayaan...” (G)
“Remedi itu nanti dilakukan secara bertahap dengan kita beri penugasan. Kalau dengan penugasan, berhasil atau tidak? Kalau tidak berhasil mungkin nanti perlu pendampingan lebih lanjut sehingga nanti untuk indikator itu bisa tercapai.” (H)
Semua guru melaksanakan pemantauan hasil program remedi dengan mengadakan tes ulang. Sebagian guru menyatakan bahwa tes ulang yang dilaksanakan berupa pemberian soal kepada peserta didik. Dalam hal ini, tidak semua guru menyebutkan macam soal yang harus dikerjakan oleh peserta didik. Namun, beberapa guru menyebutkan bahwa soal yang dikerjakan oleh peserta didik adalah soal dengan indikator yang belum dikuasai peserta didik pada ulangan harian. Berikut ini hasil wawancara terkait pemantauan hasil program remedi yang telah dilaksanakan:
“Ya, ada tes ulang remedi.” (A) “Ya, dengan tes remedi.” (B) “Ya, dites dengan dikasih soal.” (C)
58
“Kalau perbaikan ya ada tesnya lagi mbak. Misalnya pembelajaran individual ya, nanti diberi soal lagi. Kalau yang pemberian tugas ya dari nilai tugas rumah itu, nanti dikumpulkan. Kalau dari tes ya belum tuntas ya diberi tes lagi sampai tuntas. Tapi remedi kalau hanya beberapa orang saya tes secara lisan. Kalau hanya atau 3 orang ya cuma secara lisan.” (E)
“Ya, tes lagi. Dan biasanya kan misal soalnya 5, misal si A nggak tuntas di soal nomer, ya sudah yang dikerjakan yang nomer 1 itu. Tetai uga tergantung situasi kondisi, kadang anak mengerjakan soal semuanya, kadang yang dikerjakan anak yang salah saja. Disesuaikan dengan situasi dan kondisi. Nggak saklek gitu juga nggak. Kan kita ya sekolah inggiran ya, jadinya harus menyesuaikan. Yang enak aja gimana.” (F) “Kalau saya cenderung saya berikan ulangan materi yang belum dikuasai atau nomer soal yang masih salah atau bobotnya yang masih kurang. Misalnya bobotya 10 tetapi baru mendapat 2 jadi perlu diperbaiki. Misalnya 5 nomer dengan bobot setiap nomernya 10 totalnya 50, ada yang baru mendaPat skor 2 atau 3 kemudian nomer tersebut yang dikerjakan lagi. Misalnya sudah mendapat skor 7 atau 8 berarti kan dianggap peserta didik sudah menguasai.” (G)
“Keberhasilan remedi dilakukan dengan tes, rata-rata yang kita lakukan tes. Tapi kalau itu belum ya dengan penugasan, artinya kita tidak ada suatu waktu formal sekali sehingga kalau kita dengan bisa jadi di kelas dengan tugas mandiri yang terstruktur begitu tapi kalau itu nanti masih trouble ya sudah untuk selanjutnya kita berikan keleluasaan untuk dikerjakan di rumah dengan referensi yang terbuka dengan sumber yang bisa lebih dicari. Kadang-kadang kita batasi, 5 soal targetnya nomer sekian ini dengan sekian menit saja. Kadang-kadang kalau begitu saja mereka bisa dikatakan sulit. Tapi kalau kita beri keleluasaan dengan diberikan soal-soal, nanti dikerjakan di rumah ya, sumbernya ini ini ini atau kalau mau browsing silahkan. Itu efektif. Tapi kalau tetap kita berikan soal yang tetap dikerjakan tidak di luar waktu yang kita tentukan. Kalau nanti masih trouble berarti dia tidak harus mengerjakan di sekolah, dia harus mencari referensi, dia harus membuka buku, berarti tugas kita berikan kemudian kita berikan dan kerjakan di rumah.” (H)
2. Pelaksanaan Program Remedi oleh Guru pada Pembelajaran Biologi SMA Negeri di Kabupaten Kulon Progo ditinjau Berdasarkan Lama Mengajar Guru
Wawancara mengenai pelaksanaan program remedi pada pembelajaran biologi di SMA Negeri Kabupaten Kulon Progo dilakukan kepada 8 guru. Lama mengajar guru pada penelitian ini dikategorikan menjadi dua, yaitu < 20 tahun dan >20 tahun. Guru dengan lama mengajar < 20 tahun berjumlah 3 guru
59
yaitu guru B, guru E, dan guru F, sementara guru yang sudah mengajar >20 tahun berjumlah 5 guru, yaitu guru A, guru C, guru D, guru G, dan guru H.
Guru dengan lama mengajar < 20 tahun menyatakan bahwa dalam menentukan peserta didik yang harus mengikuti program remedi berdasarkan Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM). Namun, terdapat perbedaan penyampaian setiap guru mengenai hal tersebut.
“Berdasarkan ketuntasan, sudah tuntas atau belum. Patokannya Nilai KKM.” (B) “Berdasarkan KKM.” (E)
“Berdasarkan nilai ulangan harian, kalau dibawah KKM kan diremedi.” (F)
Guru dengan lama mengajar >20 tahun menyatakan bahwa dalam menentukan peserta didik yang harus mengikuti program remedi berdasarkan KKM. Nilai yang digunakan untuk menentukan apakah sudah mencapai KKM atau belum merupakan nilai ulangan harian. Setiap guru memiliki penjabaran yang berbeda.
“Penentuan peserta didik yang harus mengikuti remedi hanya berdasarkan nilai ulangan harian saja.” (A)
“Berdasarkan nilai ulangan harian, peserta didik yang belum mencapai KKM mengikuti ulangan remedi.” (D)
“Berdasarkan nilai ulangan... Kalau saya biasanya menggunakan nilai ulangan harian saja. Jadi, nilai ulangan harian kalau belum mencapai KKM harus mengikuti remedi. Jadi, hanya berdasarkan nilai ulangan harian untuk menetapkan peserta didik yang harus mengikuti remedi” (G)
“Berdasarkan KKM....” (H)
Guru C menyatakan bahwa dalam menentukan peserta didik yang harus mengikuti program remedi tersebut berdasarkan analisis ulangan harian. Selain berdasarkan analisis ulangan harian, guru C juga memiliki pertimbangan lain
60
dalam menetapkan peserta didik yang harus mengikuti remedi yaitu apabila peserta didik ketahuan menyontek.
“Berdasarkan analisis ulangan harian. Sebenarnya nggak dianalisispun kalau nilainya kurang dari KKM ya peserta didik tersebut remedi.” (C)
“... kalau pas ulangan ada yang ketahuan nyontek kemudian peserta didik tersebut harus remedi.” (C)
Program remedi yang dilaksanakan oleh guru, baik guru yang mengajar <20 tahun maupun guru yang mengajar >20 tahun, berupa mengerjakan soal. Namun, keterangan yang disampaikan oleh masing-masing guru berbeda. Guru A menyatakan bahwa pelaksanaan remedi didahului dengan peserta didik belajar mandiri.
“Peserta didik melakukan belajar mandiri kemudian pada waktu yang telah ditentukan dilaksanakan tes ulang.” (A)
Guru B menyatakan pelaksanaan remedi dengan melakukan pembahasan soal ulangan terlebih dahulu kemudian peserta didik mengerjakan soal. Guru B juga menjelaskan pembelajaran ulang dilaksanakan secara klasikal apabila jumlah peserta didik yang mengikuti remedi banyak dan secara individual apabila jumlah peserta didiknya sedikit. Sementara, guru C menyatakan sebelum program remedi dilaksanakan, peserta didik belajar mandiri atau dapat bertanya kepada teman. Namun, jika benar-benar tidak ada waktu untuk melaksanakan remedi, guru C memberikan tugas sebagai ganti tes remedi.
“Remedinya biasanya mengerjakan soal setelah pembahasan, mungkin ada anak yang masih bingung, tak bahas kemudian tak kasih soal. Pembelajaran ulang yang diakhiri dengan soal. Pembelajaran dilakukan secara klasikal, kadang juga individual, tergantung jumlah pesertanya. Kalau misal sedikit, individual. Kalau banyak, klasikal.” (B)
61
“Kalau seharusnya, melaksanakan remedi itu harus melaksanakan pembelajaran dulu, tapi kalau pembelajaran itu waktunya nggak ada. Nggih kon sinau riyin mawon. Jadi bisa belajar sendiri atau bisa tanya ke teman sebaya kemudian dites ulang. Ada pemberian tugas tapi kalau benar-benar waktunya nggak ada. Tapi kalau masih ada waktu, tetep pakai tes ulang.” (C)
Guru D dan guru F menyatakan bahwa remedi yang dilaksanakan berupa pemberian tes ulang. Namun, guru menjelaskan bahwa ada pemberitahuan sebelumnya kepada peserta didik mengenai pelaksanaan remedi sehingga peserta didik dapat melakukan persiapan. Guru E menyatakan bahwa remedi yang dilaksanakan dapat berupa pemberian tugas, mengerjakan soal, ataupun dengan tutor sebaya.
“Pelaksanaan remedi yang saya lakukan berupa pemberian tes ulang.” (D)
“... Misalnya sekarang lagi bagi hasil ulangan, minggu depan kita remedi, gitu. Kalau nggak kan nanti anaknya nggak belajar, nggak siap, sama aja.” (F)
“Remedi itu macam-macam. Yang pertama, pemberian tugas, kemudian yang kedua mengerjakan materi dengan kisi-kisi yang sama tetapi soal berbeda, kemudian juga ada tutor sebaya.” (E)
Guru G menyatakan remedi yang dilaksanakan berupa mengerjakan soal dengan memberitahukan sebelumnya mengenai hal tersebut sehingga peserta didik dapat melakukan persiapan. Selain itu, guru G juga memaparkan nomer soal ulangan harian yang masih salah. Guru H menyatakan remedi yang dilaksanakan berupa penugasan kemudian selanjutnya diberikan pendampingan apabila tetap belum mencapai kompetensi.
“Kalau saya, saya suruh belajar, paling nggak gini, saya umumkan dulu kemudian nanti ditentukan kapan pelaksanaan remedi, yang belum dikuasai peserta didik nomer sekian sekian sekian. Kemudian saat pertemuan ada perbaikan (remedi) dan pengayaan...” (G)
62
“Remedi itu nanti dilakukan secara bertahap dengan kita beri penugasan. Kalau dengan penugasan, berhasil atau tidak? Kalau tidak berhasil mungkin nanti perlu pendampingan lebih lanjut sehingga nanti untuk indikator itu bisa tercapai.” (H)
Guru dengan lama mengajar < 20 tahun melakukan tes ulang untuk mengetahui keberhasilan program remedi. Namun, setiap guru memiliki pemaparan yang berbeda-beda. Berdasarkan hasil wawancara, guru B melakukan tes ulang tanpa ada penjelasan lebih lanjut. Guru E melaksanakan tes ulang untuk mengetahui keberhasilan program remedi. Tes ulang yang diberikan guru E berupa pemberian soal kepada peserta didik, pemberian tugas, atau tes lisan apabila jumlah peserta didik yang harus mengikuti program remedi hanya sedikit.
“Ya, dengan tes remedi.” (B)
“Kalau perbaikan ya ada tesnya lagi mbak. Misalnya pembelajaran individual ya, nanti diberi soal lagi. Kalau yang pemberian tugas ya dari nilai tugas rumah itu, nanti dikumpulkan. Kalau dari tes ya belum tuntas ya diberi tes lagi sampai tuntas. Tapi remedi kalau hanya beberapa orang saya tes secara lisan. Kalau hanya atau 3 orang ya cuma secara lisan.” (E)
“Ya, tes lagi. Dan biasanya kan misal soalnya 5, misal si A nggak tuntas di soal nomer, ya sudah yang dikerjakan yang nomer 1 itu. Tetai uga tergantung situasi kondisi, kadang anak mengerjakan soal semuanya, kadang yang dikerjakan anak yang salah saja. Disesuaikan dengan situasi dan kondisi. Nggak saklek gitu juga nggak. Kan kita ya sekolah inggiran ya, jadinya harus menyesuaikan. Yang enak aja gimana.” (F)
Guru dengan lama mengajar >20 tahun melakukan tes ulang untuk mengetahui keberhasilan program remedi. Masing-masing guru memiliki pemaparan yang berbeda-beda. Guru A, guru C, dan guru D menyatakan bahwa melaksanakan tes ulang untuk mengetahui keberhasilan program remedi. “Ya, ada tes ulang remedi.” (A)
63 “Ya, dites dengan dikasih soal.” (C)
“Ya, tes ulang yang dilakukan berupa ulangan remedi.” (D)
Guru G memberikan penjelasan materi yang belum dikuasai yang dilihat dari nomer soal ulangan harian yang masih salah. Berdasarkan hal tersebut dapat diketahui indikator-indikator yang belum dikuasai peserta didik. Guru H melakukan tes ulang untuk mengetahui keberhasilan program remedi. Tes ulang berupa peserta didik mengerjakan soal. Namun, apabila hasil remedi masih belum mencapai kompetensi, maka guru akan memberikan tugas rumah sehingga peserta didik dapat memanfaatkan berbagai sumber.
“Kalau saya cenderung saya berikan ulangan materi yang belum dikuasai atau nomer soal yang masih salah atau bobotnya yang masih kurang. Misalnya bobotya 10 tetapi baru mendapat 2 jadi perlu diperbaiki. Misalnya 5 nomer dengan bobot setiap nomernya 10 totalnya 50, ada yang baru mendaPat skor 2 atau 3 kemudian nomer tersebut yang dikerjakan lagi. Misalnya sudah mendapat skor 7 atau 8 berarti kan dianggap peserta didik sudah menguasai.” (G)
“Keberhasilan remedi dilakukan dengan tes, rata-rata yang kita lakukan tes. Tapi kalau itu belum ya dengan penugasan, artinya kita tidak ada suatu waktu formal sekali sehingga kalau kita dengan bisa jadi di kelas dengan tugas mandiri yang terstruktur begitu tapi kalau itu nanti masih trouble ya sudah untuk selanjutnya kita berikan keleluasaan untuk dikerjakan di rumah dengan referensi yang terbuka dengan sumber yang bisa lebih dicari. Kadang-kadang kita batasi, 5 soal targetnya nomer sekian ini dengan sekian menit saja. Kadang-kadang kalau begitu saja mereka bisa dikatakan sulit. Tapi kalau kita beri keleluasaan dengan diberikan soal-soal, nanti dikerjakan di rumah ya, sumbernya ini ini ini atau kalau mau browsing silahkan. Itu efektif. Tapi kalau tetap kita berikan soal yang tetap dikerjakan tidak di luar waktu yang kita tentukan. Kalau nanti masih trouble berarti dia tidak harus mengerjakan di sekolah, dia harus mencari referensi, dia harus membuka buku, berarti tugas kita berikan kemudian kita berikan dan kerjakan di rumah.” (H)
64
3. Pelaksanaan Program Remedi oleh Guru pada Pembelajaran Biologi SMA Negeri di Kabupaten Kulon Progo ditinjau Berdasarkan Golongan Kepegawaian
Guru yang melaksanakan program remedi pada penelitian ini memiliki golongan kepegawaian antara III b sampai IV a. Golongan kepegawaian III terdiri dari 3 orang yaitu seorang guru dengan golongan kepegawaian III b dan 2 guru dengan golongan kepegawaian III d. Sementara, golongan kepegawaian IV terdiri dari 5 guru dengan golongan kepegawaian IV a. Apabila dikaitkan dengan golongan kepegawaian, baik guru dengan golongan kepegawaian III maupun IV menentukan peserta didik yang harus mengikuti program remedi berdasarkan KKM. Namun, dilihat dari hasil wawancara, seluruh guru memiliki perbedaan dalam menyampaikan hal tersebut.
“Berdasarkan ketuntasan, sudah tuntas atau belum. Patokannya Nilai KKM.” (B, golongan kepegawaian III b)
“Berdasarkan KKM.” (E, golongan kepegawaian III d)
“Berdasarkan nilai ulangan harian, kalau dibawah KKM kan diremedi.” (F, golongan kepegawaian III d)
“Penentuan peserta didik yang harus mengikuti remedi hanya berdasarkan nilai ulangan harian saja.” (A)
“Berdasarkan analisis ulangan harian. Sebenarnya nggak dianalisispun kalau nilainya kurang dari KKM ya peserta didik tersebut remedi.” (C)
“Berdasarkan nilai ulangan harian, peserta didik yang belum mencapai KKM mengikuti ulangan remedi.” (D)
“Berdasarkan nilai ulangan... Kalau saya biasanya menggunakan nilai ulangan harian saja. Jadi, nilai ulangan harian kalau belum mencapai KKM harus mengikuti remedi. Jadi, hanya berdasarkan nilai ulangan harian untuk menetapkan peserta didik yang harus mengikuti remedi” (G)
65
Apabila dikaitkan dengan golongan kepegawaian, guru dengan golongan kepegawaian III maupun IV melaksanakan program remedi dengan mengerjakan soal kembali dengan peserta didik belajar mandiri, membahas materi atau indikator yang belum dikuasai, dan mengerjakan tugas. Hal yang membedakan yaitu guru E juga memanfaatkan tutor sebaya. Guru E menyatakan bahwa remedi yang dilaksanakan dapat berupa pemberian tugas, mengerjakan soal, ataupun dengan tutor sebaya.
“Remedi itu macam-macam. Yang pertama, pemberian tugas, kemudian yang kedua mengerjakan materi dengan kisi-kisi yang sama tetapi soal berbeda, kemudian juga ada tutor sebaya.” (E)
Guru B menyatakan pelaksanaan remedi dengan melakukan pembahasan soal ulangan terlebih dahulu kemudian peserta didik mengerjakan soal. Guru B juga menjelaskan pembelajaran ulang dilaksanakan secara klasikal apabila jumlah peserta didik yang mengikuti remedi banyak dan secara individual apabila jumlah peserta didiknya sedikit.
“Remedinya biasanya mengerjakan soal setelah pembahasan, mungkin ada anak yang masih bingung, tak bahas kemudian tak kasih soal. Pembelajaran ulang yang diakhiri dengan soal. Pembelajaran dilakukan secara klasikal, kadang juga individual, tergantung jumlah pesertanya. Kalau misal sedikit, individual. Kalau banyak, klasikal.” (B)
Guru F menyatakan bahwa remedi yang dilaksanakan berupa pemberian tes ulang. Guru F menjelaskan bahwa ada pemberitahuan sebelumnya kepada peserta didik mengenai pelaksanaan remedi sehingga peserta didik dapat belajar mandiri terlebih dahulu.
“... Misalnya sekarang lagi bagi hasil ulangan, minggu depan kita remedi, gitu. Kalau nggak kan nanti anaknya nggak belajar, nggak siap, sama aja.” (F)
66
Sementara, guru dengan golongan kepegawaian IV melaksanakan program remedi dengan peserta didik belajar mandiri dan pemberian tugas. Guru A menyatakan bahwa pelaksanaan remedi didahului dengan peserta didik belajar mandiri. Guru C menyatakan sebelum program remedi dilaksanakan, peserta didik belajar mandiri atau dapat bertanya kepada teman. Namun, jika benar-benar tidak ada waktu untuk melaksanakan remedi, guru C memberikan tugas sebagai ganti tes remedi.
“Peserta didik melakukan belajar mandiri kemudian pada waktu yang telah ditentukan dilaksanakan tes ulang.” (A)
“Kalau seharusnya, melaksanakan remedi itu harus melaksanakan pembelajaran dulu, tapi kalau pembelajaran itu waktunya nggak ada. Nggih kon sinau riyin mawon. Jadi bisa belajar sendiri atau bisa tanya ke teman sebaya kemudian dites ulang. Ada pemberian tugas tapi kalau benar-benar waktunya nggak ada. Tapi kalau masih ada waktu, tetep pakai tes ulang.” (C)
Guru D menyatakan bahwa remedi yang dilaksanakan berupa pemberian tes ulang. Guru G menyatakan remedi yang dilaksanakan berupa mengerjakan soal dengan memberitahukan sebelumnya mengenai hal tersebut sehingga peserta didik dapat belajar mandiri terlebih dahulu. Selain itu, guru G juga memaparkan nomer soal ulangan harian yang masih salah. Sementara, Guru H menyatakan remedi yang dilaksanakan berupa penugasan kemudian selanjutnya diberikan pendampingan apabila tetap belum mencapai kompetensi.
“Pelaksanaan remedi yang saya lakukan berupa pemberian tes ulang.” (D)
“Kalau saya, saya suruh belajar, paling nggak gini, saya umumkan dulu kemudian nanti ditentukan kapan pelaksanaan remedi, yang belum dikuasai peserta didik nomer sekian sekian sekian. Kemudian saat pertemuan ada perbaikan (remedi) dan pengayaan...” (G)
67
“Remedi itu nanti dilakukan secara bertahap dengan kita beri penugasan. Kalau dengan penugasan, berhasil atau tidak? Kalau tidak berhasil mungkin nanti perlu pendampingan lebih lanjut sehingga nanti untuk indikator itu bisa tercapai.” (H)
Apabila dikaitkan dengan golongan kepegawaian, guru dengan golongan kepegawaian III maupun IV melakukan tes ulang untuk mengetahui keberhasilan program remedi. Namun, setiap guru memiliki pemaparan yang berbeda-beda. Berdasarkan hasil wawancara, guru B melakukan tes ulang tanpa ada penjelasan lebih lanjut. Guru E melaksanakan tes ulang untuk mengetahui keberhasilan program remedi. Tes ulang yang diberikan guru E berupa pemberian soal kepada peserta didik, pemberian tugas, atau tes lisan apabila jumlah peserta didik yang harus mengikuti program remedi hanya sedikit.
“Ya, dengan tes remedi.” (B)
“Kalau perbaikan ya ada tesnya lagi mbak. Misalnya pembelajaran individual ya, nanti diberi soal lagi. Kalau yang pemberian tugas ya dari nilai tugas rumah itu, nanti dikumpulkan. Kalau dari tes ya belum tuntas ya diberi tes lagi sampai tuntas. Tapi remedi kalau hanya beberapa orang saya tes secara lisan. Kalau hanya atau 3 orang ya cuma secara lisan.” (E)
“Ya, tes lagi. Dan biasanya kan misal soalnya 5, misal si A nggak tuntas di soal nomer, ya sudah yang dikerjakan yang nomer 1 itu. Tetai uga tergantung situasi kondisi, kadang anak mengerjakan soal semuanya, kadang yang dikerjakan anak yang salah saja. Disesuaikan dengan situasi dan kondisi. Nggak saklek gitu juga nggak. Kan kita ya sekolah inggiran ya, jadinya harus menyesuaikan. Yang enak aja gimana.” (F)
“Ya, ada tes ulang remedi.” (A) “Ya, dites dengan dikasih soal.” (C)
“Ya, tes ulang yang dilakukan berupa ulangan remedi.” (D)
Guru G memberikan penjelasan materi yang belum dikuasai yang dilihat dari nomer soal ulangan harian yang masih salah. Berdasarkan hal
68
tersebut dapat diketahui indikator-indikator yang belum dikuasai peserta didik. Guru H melakukan tes ulang untuk mengetahui keberhasilan program remedi. Tes ulang berupa peserta didik mengerjakan soal. Namun, apabila hasil remedi masih belum mencapai kompetensi, maka guru akan memberikan tugas rumah sehingga peserta didik dapat memanfaatkan berbagai sumber.
“Kalau saya cenderung saya berikan ulangan materi yang belum dikuasai atau nomer soal yang masih salah atau bobotnya yang masih kurang. Misalnya bobotya 10 tetapi baru mendapat 2 jadi perlu diperbaiki. Misalnya 5 nomer dengan bobot setiap nomernya 10 totalnya 50, ada yang baru mendaPat skor 2 atau 3 kemudian nomer tersebut yang dikerjakan lagi. Misalnya sudah mendapat skor 7 atau 8 berarti kan dianggap peserta didik sudah menguasai.” (G)
“Keberhasilan remedi dilakukan dengan tes, rata-rata yang kita lakukan tes. Tapi kalau itu belum ya dengan penugasan, artinya kita tidak ada suatu waktu formal sekali sehingga kalau kita dengan bisa jadi di kelas dengan tugas mandiri yang terstruktur begitu tapi kalau itu nanti masih trouble ya sudah untuk selanjutnya kita berikan keleluasaan untuk dikerjakan di rumah dengan referensi yang terbuka dengan sumber yang bisa lebih dicari. Kadang-kadang kita batasi, 5 soal targetnya nomer sekian ini dengan sekian menit saja. Kadang-kadang kalau begitu saja mereka bisa dikatakan sulit. Tapi kalau kita beri keleluasaan dengan diberikan soal-soal, nanti dikerjakan di rumah ya, sumbernya ini ini ini atau kalau mau browsing silahkan. Itu efektif. Tapi kalau tetap kita berikan soal yang tetap dikerjakan tidak di luar waktu yang kita tentukan. Kalau nanti masih trouble berarti dia tidak harus mengerjakan di sekolah, dia harus mencari referensi, dia harus membuka buku, berarti tugas kita berikan kemudian kita berikan dan kerjakan di rumah.” (H)
Program remedi dilaksanakan oleh guru dilaksanakan berulang kali hingga peserta didik mencapai ketuntasan belajar. Namun, guru lain hanya melaksanakan program remedi satu kali kemudian peserta didik yang belum tuntas tetap diberikan nilai sesuai KKM.Penentuan nilai akhir peserta didik yang mengikuti program remedi yaitu sesuai KKM. Hal tersebut di terapkan oleh seluruh guru, baik guru dengan golongan III maupun IV.
69
4. Pelaksanaan Program Remedi oleh Guru pada Pembelajaran Biologi SMA Negeri di Kabupaten Kulon Progo ditinjau Berdasarkan Latar Belakang Pendidikan Guru
Berdasarkan data identitas guru terkait latar belakang pendidikan guru, khususnya jalur pendidikan formal, maka dapat dikelompokkan berdasarkan jenjang dan program studi terakhir guru. Jenjang pendidikan guru terdiri dari 5 guru dengan jenjang S1 dan 1 guru dengan jenjang S2. Program studi terakhir guru yaitu 6 guru Program Studi Pendidikan Biologi, seorang guru Program Studi Biologi dengan Akta Mengajar IV, dan seorang guru Program Studi Teknik Mesin. Berikut ini hasil wawancara guru mengenai perencanaan program remedi:
“Berdasarkan ketuntasan, sudah tuntas atau belum. Patokannya Nilai KKM.” (B) “Berdasarkan KKM.” (E)
“Berdasarkan nilai ulangan harian, kalau dibawah KKM kan diremedi.” (F)
“Penentuan peserta didik yang harus mengikuti remedi hanya berdasarkan nilai ulangan harian saja.” (A)
“Berdasarkan analisis ulangan harian. Sebenarnya nggak dianalisispun kalau nilainya kurang dari KKM ya peserta didik tersebut remedi.” (C)
“Berdasarkan nilai ulangan harian, peserta didik yang belum mencapai KKM mengikuti ulangan remedi.” (D)
“Berdasarkan nilai ulangan... Kalau saya biasanya menggunakan nilai ulangan harian saja. Jadi, nilai ulangan harian kalau belum mencapai KKM harus mengikuti remedi. Jadi, hanya berdasarkan nilai ulangan harian untuk menetapkan peserta didik yang harus mengikuti remedi” (G)
“Berdasarkan KKM....” (H)
Apabila dikaitkan dengan latar belakang pendidikan guru, guru dengan jenjang pendidikan S1 maupun S2 menentukan peserta didik yang mengikuti program remedi berdasarkan KKM. Berdasarkan penjabaran diatas, dapat
70
diketahui bahwa guru dengan jenjang pendidikan S1 maupun S2 memiliki cara yang sama dalam menentukan peserta didik yang harus mengikuti remedi, yaitu berdasarkan KKM.
Apabila dikaitkan dengan latar belakang pendidikan guru, guru jenjang S1 dan S2 memiliki perbedaan dalam menerapkan strategi pelaksanaan program remedi. Guru E dan guru F memiliki latar belakang pendidikan yang sama, yaitu jenjang S1 program studi Pendidikan Biologi. Kedua guru tersebut memiliki perbedaan dalam menerapkan strategi pelaksanaan program remedi walaupun memiliki latar belakang pendidikan yang sama. Guru E menyatakan bahwa program remedi yang dilaksanakan berupa pemberian tugas, mengerjakan soal, ataupun dengan tutor sebaya. Sementara, guru F menyatakan bahwa remedi yang dilaksanakan berupa pemberian tes ulang. Selain itu, guru F juga menjelaskan bahwa ada pemberitahuan sebelumnya kepada peserta didik mengenai pelaksanaan remedi sehingga peserta didik dapat belajar mandiri terlebih dahulu. “Remedi itu macam-macam. Yang pertama, pemberian tugas, kemudian yang kedua mengerjakan materi dengan kisi-kisi yang sama tetapi soal berbeda, kemudian juga ada tutor sebaya.” (E)
“... Misalnya sekarang lagi bagi hasil ulangan, minggu depan kita remedi, gitu. Kalau nggak kan nanti anaknya nggak belajar, nggak siap, sama aja.” (F)
Guru B dengan jenjang S2 program studi jurusan Teknik Mesin melaksanakan remedi dengan melakukan pembahasan soal ulangan terlebih dahulu. Strategi guru B dalam melaksanakan program remedi yaitu dengan pembelajaran ulang secara klasikal apabila jumlah peserta didik yang mengikuti remedi banyak dan secara individual apabila jumlah peserta didiknya sedikit.
71
“Remedinya biasanya mengerjakan soal setelah pembahasan, mungkin ada anak yang masih bingung, tak bahas kemudian tak kasih soal. Pembelajaran ulang yang diakhiri dengan soal. Pembelajaran dilakukan secara klasikal, kadang juga individual, tergantung jumlah pesertanya. Kalau misal sedikit, individual. Kalau banyak, klasikal.” (B)
Guru dengan latar belakang pendidikan yang sama, yaitu jenjang S1 program studi Pendidikan Biologi memiliki startegi yang berbeda dalam menerapkan pelaksanaan program remedi. Guru A menyatakan bahwa pelaksanaan program remedi didahului dengan peserta didik belajar mandiri. Guru C menyatakan sebelum program remedi dilaksanakan, peserta didik belajar mandiri atau dapat bertanya kepada teman. Namun, jika benar-benar tidak ada waktu untuk melaksanakan remedi, guru C memberikan tugas sebagai ganti tes remedi.
“Peserta didik melakukan belajar mandiri kemudian pada waktu yang telah ditentukan dilaksanakan tes ulang.” (A)
“Kalau seharusnya, melaksanakan remedi itu harus melaksanakan pembelajaran dulu, tapi kalau pembelajaran itu waktunya nggak ada. Nggih kon sinau riyin mawon. Jadi bisa belajar sendiri atau bisa tanya ke teman sebaya kemudian dites ulang. Ada pemberian tugas tapi kalau benar-benar waktunya nggak ada. Tapi kalau masih ada waktu, tetep pakai tes ulang.” (C)
Guru D menyatakan bahwa remedi yang dilaksanakan berupa pemberian tes ulang. Guru G menyatakan remedi yang dilaksanakan berupa mengerjakan soal dengan memberitahukan sebelumnya mengenai hal tersebut sehingga peserta didik dapat belajar mandiri terlebih dahulu. Selain itu, guru G juga memaparkan nomer soal ulangan harian yang masih salah. Guru H menyatakan remedi yang dilaksanakan berupa penugasan kemudian selanjutnya diberikan pendampingan apabila tetap belum mencapai kompetensi.
72
“Pelaksanaan remedi yang saya lakukan berupa pemberian tes ulang.” (D)
“Kalau saya, saya suruh belajar, paling nggak gini, saya umumkan dulu kemudian nanti ditentukan kapan pelaksanaan remedi, yang belum dikuasai peserta didik nomer sekian sekian sekian. Kemudian saat pertemuan ada perbaikan (remedi) dan pengayaan...” (G)
“Remedi itu nanti dilakukan secara bertahap dengan kita beri penugasan. Kalau dengan penugasan, berhasil atau tidak? Kalau tidak berhasil mungkin nanti perlu pendampingan lebih lanjut sehingga nanti untuk indikator itu bisa tercapai.” (H)
Apabila dikaitkan dengan latar belakang pendidikan, guru dengan jenjang pendidikan yang berbeda, yaitu guru E dan F dengan jenjang S1 Pendidikan Biologi dan guru B dengan jenjang S2 Teknik melakukan tes ulang untuk mengetahui keberhasilan program remedi. Namun, setiap guru memiliki pemaparan yang berbeda-beda. Berdasarkan hasil wawancara, guru E dan guru F melaksanakan tes ulang untuk mengetahui keberhasilan program remedi. Tes ulang yang diberikan guru E berupa pemberian soal kepada peserta didik, pemberian tugas, atau tes lisan apabila jumlah peserta didik yang harus mengikuti program remedi hanya sedikit. Guru B melakukan tes ulang tanpa ada penjelasan lebih lanjut.
“Ya, dengan tes remedi.” (B)
“Kalau perbaikan ya ada tesnya lagi mbak. Misalnya pembelajaran individual ya, nanti diberi soal lagi. Kalau yang pemberian tugas ya dari nilai tugas rumah itu, nanti dikumpulkan. Kalau dari tes ya belum tuntas ya diberi tes lagi sampai tuntas. Tapi remedi kalau hanya beberapa orang saya tes secara lisan. Kalau hanya atau 3 orang ya cuma secara lisan.” (E)
“Ya, tes lagi. Dan biasanya kan misal soalnya 5, misal si A nggak tuntas di soal nomer, ya sudah yang dikerjakan yang nomer 1 itu. Tetai uga tergantung situasi kondisi, kadang anak mengerjakan soal semuanya, kadang yang dikerjakan anak yang salah saja. Disesuaikan dengan situasi dan kondisi. Nggak saklek gitu juga nggak. Kan kita ya sekolah inggiran ya, jadinya harus menyesuaikan. Yang enak aja gimana.” (F)
73
Apabila dikaitkan dengan latar belakang pendidikan guru, seluruh guru jenjang S1 Pendidikan Biologi melakukan tes ulang untuk memantau hasil program remedi. Namun, masing-masing guru memiliki pemaparan yang berbeda-beda. Guru A, guru C, dan guru D menyatakan bahwa melaksanakan tes ulang untuk mengetahui keberhasilan program remedi. Sementara, guru G dan guru H menjelaskan lebih lanjut mengenai tes ulang yang dilaksanakan. “Ya, ada tes ulang remedi.” (A)
“Ya, dites dengan dikasih soal.” (C)
“Ya, tes ulang yang dilakukan berupa ulangan remedi.” (D)
Guru G memberikan penjelasan materi yang belum dikuasai yang dilihat dari nomer soal ulangan harian yang masih salah. Berdasarkan hal tersebut dapat diketahui indikator-indikator yang belum dikuasai peserta didik. Guru H melakukan tes ulang untuk mengetahui keberhasilan program remedi. Tes ulang berupa peserta didik mengerjakan soal. Namun, apabila hasil remedi masih belum mencapai kompetensi, maka guru akan memberikan tugas rumah sehingga peserta didik dapat memanfaatkan berbagai sumber.
“Kalau saya cenderung saya berikan ulangan materi yang belum dikuasai atau nomer soal yang masih salah atau bobotnya yang masih kurang. Misalnya bobotya 10 tetapi baru mendapat 2 jadi perlu diperbaiki. Misalnya 5 nomer dengan bobot setiap nomernya 10 totalnya 50, ada yang baru mendaPat skor 2 atau 3 kemudian nomer tersebut yang dikerjakan lagi. Misalnya sudah mendapat skor 7 atau 8 berarti kan dianggap peserta didik sudah menguasai.” (G)
“Keberhasilan remedi dilakukan dengan tes, rata-rata yang kita lakukan tes. Tapi kalau itu belum ya dengan penugasan, artinya kita tidak ada suatu waktu formal sekali sehingga kalau kita dengan bisa jadi di kelas dengan tugas mandiri yang terstruktur begitu tapi kalau itu nanti masih trouble ya sudah untuk selanjutnya kita berikan keleluasaan untuk dikerjakan di rumah dengan referensi yang terbuka
74
dengan sumber yang bisa lebih dicari. Kadang-kadang kita batasi, 5 soal targetnya nomer sekian ini dengan sekian menit saja. Kadang-kadang kalau begitu saja mereka bisa dikatakan sulit. Tapi kalau kita beri keleluasaan dengan diberikan soal-soal, nanti dikerjakan di rumah ya, sumbernya ini ini ini atau kalau mau browsing silahkan. Itu efektif. Tapi kalau tetap kita berikan soal yang tetap dikerjakan tidak di luar waktu yang kita tentukan. Kalau nanti masih trouble berarti dia tidak harus mengerjakan di sekolah, dia harus mencari referensi, dia harus membuka buku, berarti tugas kita berikan kemudian kita berikan dan kerjakan di rumah.” (H)
B. Pembahasan
1. Pelaksanaan Program Remedi oleh Guru pada Pembelajaran Biologi SMA Negeri di Kabupaten Kulon Progo
Berdasarkan hasil wawancara dapat diketahui bahwa guru merencanakan program remedi dengan menentukan peserta didik yang harus mengikuti program remedi berdasarkan Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM). Hal ini sesuai dengan Majid (2011: 228) yang menyatakan bahwa prosedur penentuan peserta didik yang mengikuti remedi dimungkinkan memiliki masalah belajar yang dapat diketahui berdasarkan penilaian hasil belajar yaitu nilai ulangan harian. Penilaian pencapaian kompetensi yang didasarkan pada KKM yang mempertimbangkan karakteristik Kometensi Dasar yang dicapai, daya dukung, dan karakteristik peserta didik.
Guru belum menentukan penyebab peserta didik belum mencapai ketunasan belajar sebelum merencanakan program remedi.Hal ini kurang sesuai dengan pernyataan Subali (2016: 167), diperlukan penilaian diagnostik untuk menyelidiki pada bagian mana peserta didik yang bersangkutan mengalami kesulitan belajar. Prosedur remedi harus dirancang dengan memperhatikan faktor penyebab peserta didik mengalami kegagalan.
Sebelum merencanakan program remedi, guru seharusnya menyelidiki penyebab kesulitan belajar peserta didik. Kesulitan belajar peserta didik dapat
75
dipengaruhi oleh beberapa faktor. Selain faktor akademik, faktor lain yang memungkinkan menjadi penyebab peserta didik tidak mencapai kompetensi adalah faktor psikologis. Berdasarkan hasil penelitian, diketahui terdapat guru yang menyelidiki penyebab peserta didik tidak mencapai kompetensi dengan bertanya kepada peserta didik yang bersangkutan maupun guru BK. Sebagian guru tersebut, terdapat guru yang memertimbangkan peserta didik yang memiliki masalah psikologis untuk membantu menyelesaikannya, tetapi terdapat pula guru yang memerlakukan peserta didik yang memiliki masalah tersebut seperti halnya peserta didik lainnya dengan langsung melaksanakan program remedi. Namun, terdapat pula guru yang menyatakan bahwa dalam menentukan peserta didik yang harus mengikuti program remedi hanya berdasarkan KKM tanpa mempertimbangkan faktor yang lain.
Perencanaan program remedi yang dilakukan guru dengan berdasarkan nilai KKM. Hal ini menunjukkan bahwa guru belum melaksanakan kegiatan perencanaan kegiatan program remedi sesuai dengan langkah yang ada seperti yang dijelaskan oleh Subali (2010: 64),prosedur remedi harus dirancang dengan memperhatikan faktor penyebab pembelajaran mengalami kegagalan. Bila kegagalan yang terjadi bersifat nonakademik, maka penanganannya harus melibatkan guru bimbingan dan konseling. Bila kegagalan bersifat akademik, maka berbagai metode dapat diterapkan tergantung pada tingkat kegagalannya. Bila kegagalan tidak parah, maka peserta didik dapat diberi kesempatan untuk belajar mandiri atau belajar dengan teman sebaya untuk mengatasi kegagalannya. Selain itu, dalam perencanaan program remedi seharusnya dilakukan diagnostik kesulitan
76
belajar untuk mengidentiikasi adanya kegagalan atau kesulitan belajar peserta didik.
Strategi beberapa guru dalam melaksanakan program remedi yaitu dengan melaksanakan pembelajaran ulang. Pembelajaran ulang yang dilaksanakan dapat berupa pembelajaran individual maupun klasikal bergantung pada jumlah peserta didik yang mengikuti program remedi. Hal ini kurang sesuai dengan Kunandar (2014: 14) yang menyatakan bahwa sebaiknya program remedi dilakukan secara individual karena setiap peserta didik memiliki karakteristik permasalahan dan kebutuhan masing-masing.Selain itu, strategi pelaksanaan program remedi yang dilakukan yaitu dengan menyelenggarakan program remedi di luar jam pelajaran. Hal ini dimaksudkan agar pelaksanaan pembelajaran tidak terganggu dan dapat mencapai kompetensi yang ditentukan. Waktu pelaksanaan menjadi kendala dalam penyelenggaraan program remedi, dimana guru kesulitan mencari waktu yang tepat untuk melaksanakan program remedi.Beberapa guru memberikan alasan di waktu tersebut terdapat mata pelajaran lain yang juga menyelenggarakan program remedi.
Sebagian guru mengungkapkan bahwa program remedi yang dilaksanakan berupa peserta didik belajar mandiri kemudian dilaksanakan pemantauan hasil program remedi dengan tes ulang. Namun, dua guru menyebutkan bahwa sebelum melaksanakan tes ulang, guru membahas soal ataupun materi yang belum dikuasai peserta didik. Guru yang lain menyebutkan pelaksanaan remedi dengan pemberian tugas, ataupun dengan tutor sebaya. Hal ini sesuai dengan yang tercantum dalam Depdiknas (2015: 46), bentuk pelaksanaan program remedi dapat berupa pemberian tugas ataupun memanfaatkan tutor sebaya. Bentuk pelaksanaan program remedi
77
yang dapat dilaksanakan guru yaitu pemberian pembelajaran ulang dengan metode dan media yang berbeda dan pemberian bimbingan secara khusus.
Semua guru melaksanakan tes ulang untuk memantau hasil program remedi. Hal ini sesuai dengan pernyataan Kunandar (2014: 14), setelah peserta didik mengikuti kegiatan remedi, lalu dilakukan penilaian kembali untuk melihat pencapaian kompetensi yang telah ditentukan. Guskey (Subali, 2016: 160) juga menyatakan sesudah tindakan remediasi diberikan kepada peserta didik yang mengalami kesulitan belajar, perlu dilakukan penilaian formatif kembali sebelum memasuki pembelajaran pokok bahasan selanjutnya. Dengan adanya penilaian formatif kembali maka akan diketahui apakah masih ada peserta didik yang mengalami kesulitan belajar sebelum masuk ke pokok bahasan selanjutnya.
2. Pelaksanaan Program Remedi pada Pembelajaran Biologi SMA Negeri di Kabupaten Kulon Progo ditinjau Berdasarkan Lama Mengajar Guru
Berdasarkan hasil wawancara, pelaksanaan program remedi oleh guru dengan lama mengajar < 20 tahun maupun >20 tahun memiliki beberapa persamaan jawaban, baik dalam cara menentukan peserta didik yang harus mengikuti remedi, pelaksanaan program remedi itu sendiri maupun pemantauan hasil remedi, hanya saja terdapat perbedaan penyampaian guru mengenai hal tersebut.
Hasil penelitian berupa kutipan wawancara menjelaskan jawaban guru mengenai cara menetapkan peserta didik yang harus mengikuti remedi. Cara guru dengan lama mengajar < 20 tahun maupun >20 tahun menetapkan peserta didik yang harus mengikuti remedi yaitu berdasarkan Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM). Hal ini sesuai dengan pernyataan Kunandar (2014: 11), keberhasilan peserta didik dalam belajar dapat dilihat dari pencapaian hasil belajar. Jika hasil
78
belajar (nilai) yang diperoleh peserta didik melampaui KKM berarti peserta didik telah tuntas menguasai kompetensi. Sebaliknya, jika hasil belajar peserta didik tersebut belum tuntas menguasai kompetensi. KKM ataupun penilaian hasil belajar menjadi tolok ukur guru terhadap tingkat pencapaian peserta didik.
Guru dengan lama mengajar >20 tahun memiliki pertimbangan tambahan dalam menetapkan peserta didik yang harus mengikuti program remedi yaitu dengan hasil analisis ulangan harian dan peserta didik yang ketahuan menyontek saat ulangan harian. Namun, salah satu guru menjelaskan bahwa tanpa analisis nilai ulangan harian pun dapat diketahui siapa saja peserta didik yang harus mengikuti program remedi berdasarkan nilai yang dibandingkan dengan KKM. Pertimbangan lain peserta didik yang harus mengikuti program remedi yaitu peserta didik yang ketahuan menyontek. Hal ini dapat memberikan pembelajaran bagi peserta didik untuk selalu menerapkan kejujuran.
Semakin lama waktu yang ditempuh guru dalam mengajar, diasumsikan guru tersebut memiliki semakin banyak pengalaman dalam hal mengajar. Hal ini dapat dilihat dari kenyataan di lapangan berdasarkan hasil wawancara. Guru yang mengajar < 20 tahun menyatakan bahwa menentukan peserta didik yang harus mengikuti program remedi berdasarkan KKM, sedangkan guru yang mengajar >20 tahun selain berdasarkan KKM, cara menetapkan peserta didik yang harus mengikuti program remedi juga berdasarkan analisis ulangan harian ataupun jika peserta didik ketahuan menyontek. Hal ini bisa dilihat bahwa guru dengan pengalaman mengajar lebih lama mempertimbangkan hal lain sesuai pengalaman mengajar selama ini. Hal tersebut sesuai dengan Bahri (2006: 112) yang
79
menyatakan bahwa dalam menekuni bidang tugasnya, pengalaman guru selalu bertambah, semakin bertambah masa kerjanya diharapkan guru semakin banyak pengalamannya, tingkat kesulitan yang ditemukan guru dalam pembelajaran semakin hari semakin berkurang seiring dengan bertambahnya pengalaman sebagai guru.
Hasil penilaian (ulangan harian) ini dapat digunakan untuk mendiagnosis penyebab peserta didik mengalami kesulitan belajar. Hal ini sesuai dengan pernyataan Bambang Subali (2016: 8), penilaian formatif digunakan untuk mendiagnosis penyebab kegagalan masing-masing peserta didik yang mengalami kesulitan belajar. Mengingat sumber keberhasilan dan kegagalan peserta didik bukan semata-mata akibat faktor akademik, perlu digali pula faktor nonakademik yang menjadikan seorang peserta didik gagal belajar. Oleh karena itu, apakah permasalahan nonakademik menjadi pertimbangan guru dalam menentukan peserta didik yang harus mengikuti program remedi juga ditanyakan pada saat wawancara.
Guru mempertimbangkan permasalahan nonakademik yang menjadi sumber kegagalan peserta didik, meliputi permasalahan orang tua dan peserta didik yang memiliki daya tangkap yang rendah. Untuk mengatasi hal tersebut, guru melakukan konsultasi dengan wali kelas atau guru BK.
“Peserta didik yang mengalami masalah psikologis, saya pertimbangkan. Biasanya guru, terutama wali kelas dan guru BK, lebih mengetahui tentang masalah yang dialami peserta didik. Sebagai guru memperhatikan kalau terdapat peserta didik yang tidak tuntas ulangan harian 3 kali dan mengikuti remedi berulang kali, ditelusuri apakah ada masalah atau tidak, atau memiliki daya tangkap yang kurang. Terdapat peserta didik yang memiliki problem di rumah tetapi juga memiliki daya tangka yang rendah (masalah internal).” (G)
80
Guru lain menyebutkan bahwa untuk menangani permasalahan kegagalan belajar peserta didik, guru melakukan pendekatan kepada peserta didik dan konseling.
“... namanya guru mapel harusnya juga menguasai untuk konseling dengan menerapkan prinsip-prinsip konseling. Konseling yang ada kita buka walaupun tidak terlalu formal karena nanti jika terlalu formal bisa saja malah anak menadi tidak terbuka. Nanti dengan pendekatan tertentu kita bisa beri masukan.” (H)
Namun, guru F menyatakan bahwa permasalahan psikologis peserta didik tidak menjadi pertimbangan dalam menetapkan peserta didik yang harus mengikuti program remedi. Guru tersebut hanya beracuan pada nilai ulangan harian saja, sementara apabila peserta didik memiliki masalah, guru BK yang akan menanganinya, bukan guru mata pelajaran.
“Kita menerima nilai itu kan nggak melihat flashbacknya si anak, yang penting nilainya segitu berarti anak punya masalah, entah itu masalah dalam penangkapan materi, atau psikologinya. Ya, enggak ditangani, nanti kan larinya ke guru BK. Kita kan guru mapel langsung ke nilai.” (F)
Guru B melakukan pembahasan soal ulangan sebelumnya kemudian peserta didik mengerjakan soal, guru E melakukan program remedi berupa pemberian tugas, mengerjakan soal, atau tutor sebaya, serta guru F dengan pemberian tes ulang, peserta didik disuruh belajar mandiri. Hal ini sedikit sesuai dengan Depdiknas (2015: 46) yang menyatakan bentuk pelaksanaan remedi berupa pemberian pembelajaran ulang dengan metode dan media yang berbeda, pemberian bimbingan khusus, pemberian tugas, atau pemanfaatan tutor sebaya. Strategi pelaksanaan program remedi oleh guru B yaitu pembelajaran ulang dilaksanakan
81
secara klasikal apabila jumlah peserta didik yang mengikuti remedi banyak dan secara individual apabila jumlah peserta didiknya sedikit.
Guru dengan lama mengajar >20 tahun menerakan program remedi yang brebeda-beda. Guru A dan guru C menyatakan bahwa pelaksanaan remedi didahului dengan peserta didik belajar mandiri. Namun, guru C menambahkan apabila benar-benar tidak ada waktu untuk melaksanakan tes ulang, program remedi dilaksanakan dengan memberikan tugas kepada peserta didik. Guru H juga melaksanakan remedi berupa penugasan. Hal ini sesuai dengan Depdiknas (2015: 46) yang menjelaskan bahwa salah satu bentuk pelaksanaan program remedi yaitu dengan pemberian tugas-tugas latihan secara khusus. Dalam rangka menerapkan prinsip pengulangan, tugas-tugas latihan perlu diperbanyak agar peserta didik tidak mengalami kesulitan dalam mengerjakan tes akhir.
Guru G menyatakan remedi yang dilaksanakan berupa mengerjakan soal dengan memberitahukan sebelumnya mengenai hal tersebut sehingga peserta didik dapat melakukan persiapan. Selain itu, guru G juga memaparkan nomer soal ulangan harian yang masih salah.
Guru yang mengajar < 20 tahun maupun guru yang sudah mengajar >20 tahun melakukan tes ulang untuk mengetahui keberhasilan program remedi. Hal ini sesuai dengan pernyataan Mulyadi (2010: 63), setelah pengajaran remedi selesai dilaksanakan, maka perlu dideteksi ada-tidaknya perubahan diri pada kasus. Oleh karena itu, perlu diadakan pengukuran kembali. Hasil pengukuran ini akan memberikan informasi seberapa jauh perubahan yang terjadi. Bambang Subali (2016: 160) juga menyatakan sesudah tindakan remediasi diberikan kepada peserta
82
didik yang mengalami kesulitan belajar, perlu dilakukan penilaian formatif kembali sebelum memasuki pembelajaran pokok bahasan selanjutnya. Dengan adanya penilaian formatif kembali maka akan diketahui apakah masih ada peserta didik yang mengalami kesulitan belajar sebelum masuk ke pokok bahasan selanjutnya.
3. Pelaksanaan Program Remedi pada Pembelajaran Biologi SMA Negeri di Kabupaten Kulon Progo ditinjau Berdasarkan Golongan Kepegawaian
Guru yang melaksanakan program remedi pada penelitian ini memiliki golongan kepegawaian antara III b sampai IV a terdiri dari seorang guru dengan golongan kepegawaian III b, 2 guru dengan golongan kepegawaian III d, serta 5 guru dengan golongan kepegawaian IV a.
Guru dengan golongan kepegawaian III maupun IV menentukan peserta didik yang harus mengikuti program remedi berdasarkan Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM). Guru dengan golongan kepegawaian yang lebih tinggi seharusnya memiliki kualitas yang lebih baik dalam menentukan peserta didik yang harus mengikuti program remedi. Kenyataan di lapangan kurang sesuai dengan pernyataan Samana (1994: 80), jabatan dan pangkat seorang guru mencerminkan bobot kualitas profesional guru tersebut.
Semakin tinggi golongan kepegawaian, maka diharapkan perkembangan kariernya semakin baik. Hal ini dapat dilihat dari kegiatan-kegiatan yang harus dicapai seorang guru dalam pembinaan karier sebagai salah satu syarat kenaikan golongan kepegawaian. Kegiatan-kegiatan yang diikuti oleh guru memberikan poin pada angka kredit yang digunakan sebagai syarat kenaikan pangkat dalam jabatan guru. Hal tersebut sesuai dengan Permendiknas No. 14 tahun 2010 tentang Petunjuk Pelaksanaan Jabatan Fungsional Guru dan Angka Kredit yang menyatakan bahwa
83
Angka kredit ini dipergunakan sebagai salah satu syarat untuk pengangkatan dan kenaikan pangkat dalam jabatan guru.
Apabila dikaitkan dengan golongan kepegawaian, guru dengan golongan kepegawaian III melaksanakan program remedi dengan mengerjakan soal kembali dengan peserta didik belajar mandiri, mengerjakan tugas, atau dengan tutor sebaya. Sementara, guru yang mengajar >20 tahun dengan golongan kepegawaian IV melaksanakan program remedi dengan peserta didik belajar mandiri dan pemberian tugas. Guru dengan golongan kepegawaian yang lebih tinggi seharusnya dapat melaksanakan program remedi lebih baik. Namun, kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa seluruh guru dalam melaksanakan program remedi berupa belajar mandiri, pemberian tugas, pembahasan materi atau indikator yang masih salah. Sementara,guru dengan golongan kepegawaian III memiliki strategi pelaksanaan remedi berbeda satu komponen yaitu pemanfaatan tutor sebaya.
Apabila dikaitkan dengan golongan kepegawaian, seluruh guru melakukan tes ulang, baik guru dengan golongan kepegawaian III maupun golongan IV. Tes ulang dilaksanakan untuk memantau hasil program remedi. Hal ini sesuai dengan Subali (2016: 160) yang menyatakan bahwa menyatakan sesudah tindakan remediasi diberikan kepada peserta didik yang mengalami kesulitan belajar, perlu dilakukan penilaian formatif kembali sebelum memasuki pembelajaran pokok bahasan selanjutnya. Dengan adanya penilaian formatif kembali maka akan diketahui apakah masih ada peserta didik yang mengalami kesulitan belajar sebelum masuk ke pokok bahasan selanjutnya. Mulyadi (2010: 63) juga mengungkapkan hal yang sama yaitu setelah pengajaran remedi selesai
84
dilaksanakan, maka perlu dideteksi ada-tidaknya perubahan diri pada kasus. Oleh karena itu, perlu diadakan pengukuran kembali. Hasil pengukuran ini akan memberikan informasi seberapa jauh perubahan yang terjadi.
4. Pelaksanaan Program Remedi pada Pembelajaran Biologi SMA Negeri di Kabupaten Kulon Progo ditinjau Berdasarkan Latar Belakang Pendidikan Guru
Apabila dikaitkan dengan latar belakang pendidikan guru, guru dengan jenjang pendidikan S1 maupun S2 menentukan peserta didik yang mengikuti program remedi berdasarkan KKM. Berdasarkan penjabaran diatas, dapat diketahui bahwa guru dengan jenjang pendidikan S1 maupun S2 memiliki cara yang sama dalam menentukan peserta didik yang harus mengikuti remedi, yaitu berdasarkan KKM.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa guru dengan jenjang S1 dan S2 telah memenuhi kualifikasi akademik menjadi guru SMA. Hal ini sesuai dengan Permendiknas No. 16 tahun 2007 tentang Standar Kualifikasi Akademik dan Kompetensi Guru dinyatakan bahwa guru yang mengajar SMA atau bentuk lain yang sederajat harus memiliki kualifikasi akademik pada minimum diploma empat (D-IV) atau Sarjana (S1) program yang sesuai dengan mata pelajaran yang diajarkan atau diampu, dan diperoleh dari program studi yang terakreditasi.
Guru jenjang S1 Pendidikan Biologi maupun jenjang S2 Teknik Mesin memiliki cara yang sama dalam menentukan peserta didik yang harus mengikuti program remedi, yaitu berdasarkan Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM). Guru dengan jenjang pendidikan terakhir yang lebih tinggi seharusnya dapat melaksanakan program remedi lebih baik dibanding guru dengan jenjang yang lebih