• Tidak ada hasil yang ditemukan

VETERINARIA Vol. 5 No. 3 Nopember 2012

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "VETERINARIA Vol. 5 No. 3 Nopember 2012"

Copied!
6
0
0

Teks penuh

(1)

Pola Resistensi Staphylococcus aureus yang Diisolasi dari Mastitis pada Sapi Perah di Wilayah Kerja KUD Argopuro Krucil Probolinggo terhadap Antibiotika Antibiotik Susceptibility Pattern of Staphylococcus aureus Isolated from Mastitis

in Dairy Cattle at Argopuro Dairy Cooperative in Krucil Probolinggo District 1Soetji Prawesthirini, 2Adwin Ferianto, 1Koesnoto Supranianondo

1 Fakultas Kedokteran Hewan Unair 2 PPDH Fakultas Kedokteran Hewan Unair Kampus C Unair, Jl. Mulyorejo Surabaya-60115.

Telp. 031-5992785, Fax. 031-5993015 Email : [email protected]

Abstract

The purpose of this research was to find out the antibiotic susceptibility pattern of S. aureus isolated from milk of mastitis cases of dairy cattle at Argopuro Dairy Cooperative, Krucil. The antibiotic discs used for susceptibility test were oxytetracycline 30µg, penicillin 10U, ampicillin 10µg, cloxacillin 5µg and erithromycin 10µg according to Kirby-Bauer method. Twenty isolates of S. aureus from 21 mastitis cases samples had been identified by microscopic, Gram staining, and biochemical characteristics. The antibiotic susceptibility pattern of S. aureus isolates showed differentiation between each villages, which were non of Kalianang’s isolates were resistance to all of antibiotics, 66,66% of Krucil’s isolates were resistance to penicillin and ampicillin, 50% of Tambelang’s isolates were resistance to erythromycin, 66,66% of Bremi’s isolates were resistance to penicillin, 66,66% of Kertosuko’s isolates were resistance to penicillin and 66,66% Watu Panjang’s isolates were resistance to penicillin, ampicillin and erythromycin.

Keywords : Antibiotic susceptibility pattern, Staphylococcus aureus, Dairy cattle mastitis, Argopuro dairy cooperative

Pendahuluan

Mastitis adalah proses keradangan pada ambing yang dapat berlangsung secara akut, sub akut, maupun kronis yang ditandai dengan kenaikan jumlah sel dalam air susu, perubahan fisik maupun susunan susu, tanpa atau disertai perubahan patologi atas kelenjarnya sendiri (Subronto, 2003). Berdasarkan ilmu epidemologi terdapat tiga faktor yang mempermudah terjadinya penyakit (Djajalogawa, 2000), pada kasus mastitis tiga faktor tersebut antara lain kondisi sapi sebagai inang, kondisi lingkungan yang buruk dan mikroorganisme sebagai agen penyebab penyakit. Salah satu mikroorganisme utama penyebab mastitis pada sapi adalah bakteri Staphylococcus

aureus. Tingkat kejadian infeksi Staphylococcus aureus dalam suatu kandang suatu kandang

seringkali mencapai 35% (Subronto, 2003).

Koperasi Unit Desa Argopuro kecamatan Krucil kabupaten Probolinggo membawahi peternak-petenak dengan jumlah populasi 7.628 ekor pada tahun 20011. Berdasarkan laporan screening sebelumnya kasus mastitis terbanyak adalah subklinis, dengan kebiasaan penduduk disana yang tidak memperhatikan perawatan pada sapi perah yang terkena mastitis subklinis maka akan berkembang menjadi klinis. Penanggulangan kasus mastitis yang sering dilakukan yaitu dengan pemberian antibiotika (Wasitaningrum, 2009). Beberapa obat yang sering digunakan untuk mengobati mastitis di KUD Argopuro antara lain oksitetrasiklin, penisilin, dan ampisilin, namun berdasarkan keterangan tenaga kesehatan hewan disana antibiotika tersebut sudah tidak ampuh lagi untuk mengobati mastitis pada sapi perah.

Penelitian yang pernah dilakukan oleh Estoepangestie dkk. (2003) terhadap kuman

(2)

penyebab mastitis pada sapi perah di KUD Dadi Jaya Purwodadi Kabupaten Pasuruan menunjuk-kan bahwa Staphylococcus spp. hasil isolasi dari KUD tersebut 90% peka terhadap cloxacillin dan

erithromycin, 70% peka terhadap oxytetracycline,

50% peka terhadap penicillin, dan hanya 40% yang masih peka terhadap ampicillin.

Penentuan antibiotika yang tepat untuk suatu pengobatan mastitis seharusnya didasarkan atas uji sensitifitas bakteri penyebab penyakit (Subronto, 2003). Metode difusi disk (Disk diffusion test) merupakan metode yang sering digunakan pada uji sensitifitas bakteri. Hasil metode difusi disk dapat dilihat dengan mengukur diameter zona terang (Cleare zone) yang merupakan petunjuk adanya respon penghambatan pertumbuhan bakteri oleh antibiotika (Hermawan, 2007).

Penelitian ini bertujuan untuk mengatahui pola resistensi Staphylococcus aureus yang di-isolasi dari sapi perah mastitis di tiap desa wilayah KUD Argopuro terhadap tiga antibiotika yang sering digunakan disana yaitu oksitetrasiklin, penisilin, ampisilin ditambah dengan dua anti-biotika alternatif yaitu kloksasilin dan eritromisin. Materi dan Metode Penelitian

Tempat dan waktu penelitian

Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Kesehatan Masyarakat Veteriner Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Airlangga Surabaya. Pengambilan sampel dilakukan di wilayah kerja KUD Argopuro kecamatan Krucil kabupaten Probolinggo. Pelaksanaan penelitian ini pada bulan Mei – Juli 2012.

Pengambilan sampel

Pengambilan sampel dilakukan secara

Non Probability Sampling sehingga tidak

melibatkan unsur peluang untuk penarikan sampel. Pemilihan sampel bertujuan memperoleh satuan sampel yang memiliki karakteristik yang di-kehendaki peneliti atau Purposive sampling (Setiawan, 2005). Dalam hal ini sampel yang memenuhi kriteria adalah sampel susu sapi mastitis yang diambil dari enam desa berdasarkan data hasil screening yang telah dilakukan oleh KUD Argopuro sebelumnya dan laporan peternak.

ditutup dengan penutup karet serta diberilabel. Simpan pada termos berisi es hingga tiba di laboratorium Kesehatan Masyarakat Veteriner. Pemerikasan CMT

Pemeriksaan CMT dapat dilakukan pada kuartil yang menunjukkan gejala klinis atau subklinis yang ditandai dengan penurunan produksi berdasarkan informasi dari peternak. Menurut Rice dan Dune (1981) serta Mallenbergen (2000) terdapat 5 interpretasi hasil CMT.

Negatif berarti sapi tidak menderita mastitis, trace dan positif lemah berarti sapi menderita mastitis subklinis, positif sedang dan positif kuat berartti sapi tersebut menderita mastitis klini. Berdasarkan hal tersebut maka pemeriksaan CMT hanya dilakukan pada mastitis subklinis, sedangkan mastitis klinis dilakukan pemeriksaan palpasi dan visualisasi untuk mengatahui perubahan fisik ambing.

Isolasi dan Identifikasi Staphylococcus aureus. Penanaman pada Mannitol Salt Agar (MSA)

Isolasi bakteri pada media Mannitol Salt

Agar (Merck, Art 105404) dilakukan dua kali,

yang pertama dengan cara sebar permukaan gunanya untuk menumbuhkan bakteri pada susu, mula-mula ambil 0,1 ml susu kemudian tuang dan ratakan pada permukaan MSA inkubasi selama 24 jam pada suhu 370C.

Koloni Staphylococcus aureus dapat memfermentasi mannitol ditandai dengan pe-rubahan warna media MSA dari merah menjadi kuning, kemudian diambil dengan ose untuk dilakukan pemurnian pada media MSA lagi. Pemurnian dilakukan dengan cara streak pada permukaan MSA kemudian diinkubasi selama 24 jam pada suhu 370C, dari pemurnian ini akan

dilanjutkan identifikasi bakteri. Identifikasi bakteri

Identifikasi bakteri yang pertama dengan cara pemeriksaan mikroskopis serta pewarnaan Gram, yaitu dengan mengambil sedikit koloni dari pemurnian pada MSA dan fiksasi diatas api kemudian tuangkan zat pewarnaan gram antara lain Kristal Violet (Merck, Art 1408), Lugol

(3)

Kemudian diperiksa dibawah mikoskop dengan lensa obyektif pembesaran 100 kali.

Identifikasi yang kedua dengan uji Katalase, yaitu dengan mengambil sedikit koloni dari pemurnian MSA dan letakkan pada obyek glass, kemudian tetesi dengan H2O2 3% (Merck,

Art 107210) dan amati adanya gelembung udara. Identifikasi yang ketiga yaitu dengan uji koagulase, mula-mula ambil sedikit koloni dari pemurnian pada MSA kemudian masukkan pada 0,5 ml MHB inkubasi selama 24 jam pada suhu 370C. Setelah 24 jam maka tambahkan plasma darah kelinci dengan jumlah yang sama, campur hingga rata. Inkubasi campuran plasma kelinci dan suspensi bakteri tersebut selama 4 hingga 24 jam pada suhu 370C dan amati adanya gumpalan. Pembuatan Suspensi Staphylococcus aureus

Suspensi Staphylococcus aureus yang akan digunakan dibuat dengan memasukkan empat (4) koloni S. aureus ke dalam 4 ml media Muller

Hinton Broth (Merck, Art 110293), kemudian

diaduk hingga merata dan diinkubasi pada suhu 37oC selama 24 jam. Suspensi tersebut disamakan kekeruhannya dengan standart Mc Farland I yang mengandung 3.108 kuman (Rosilawati dkk., 2009).

Pelaksanaan Uji Sensitifitas

Uji sensitifitas Staphylococcus aureus sebagai penyebab mastitis di wilayah kerja KUD Argopuro terhadap antibiotika dilakukan menurut metode difusi Kirby-Bauer. Media yang digunakan adalah Mueller Hinton Agar (Merck, Art 105437) dan 5 macam paperdisk antibiotika dari Oxoid oksitetrasiklin 30µg (Art 251537) , penisilin 10U (Art 265614), ampisilin 10 µg (Art 268952), kloksasilin 5µg (Art 266676), dan eritromisin 10µg (Art 236708).

Hasil pengujian difusi disk terlihat adanya daerah bening atau jernih di sekeliling Paperdisk sebagai daerah hambatan pertumbuhan kuman. Diameter daerah hambatan tersebut di bedakan menjadi 3, yaitu peka (sensitif), kurang peka (intermediate) dan tidak peka (resisten) (Tyasningsih dkk., 2010). Pengamatan dilakukan dengan melihat zona hambatan pertumbuhan yang

ditandai dengan terbentuknya zona bening di sekitar paperdisk. Menurut Pollack et al., (2005) dan Alexander et al., (2004) apabila terdapat koloni bakteri didalam zona bening maka yang diukur adalah koloni tersebut, sebagai bakteri strain yang lebih resisten terhadap antibiotika. Hasil pengukuran diameter hambatan akan dicocokan dengan standart dari Kirby-Bauer sehingga dapat diketahui status resistensi anti-biotikanya.

Hasil dan Pembahasan

Sampel yang berhasil didapatkan se-banyak 21 sampel susu mastitis, dengan 20 sampel mastitis subklinis dan 1 sampel mastitis klinis. Kemudian dilakukan isolasi dan identifikasi yang dapat dilihat pada tabel 1.

Tabel 1. Isolasi dan Identifikasi Staphylococcus

aureus

Sampel

MSA

Identifikasi

Asal Kode gram Kat* Koag*

Krucil A1 F+ + + 4+ A2 F+ + + 2+ A3 F+ + + 2+ Tambelang B1 F+ + + 2+ B2 F+ + + 2+ B3 F+ + + 2+ B4 F+ + + 4+ Bremi C2 F+ + + 3+ C3 F+ + + 2+ C4 F+ + + 2+ Kalianang D1 F+ + + 2+ D2 F+ + + 3+ D3 F+ + + 2+ D4 F+ + + 2+ Kertosuko E1 F+ + + 2+ E2 F+ + + 2+ E3 F+ + + 2+ Watu panjang F1 F+ + + 2+ F2 F+ + + 2+ F3 F+ + + 1+

*Keterangan : Kat : Katalase Koag : Koagulase

(4)

Berdasarkan tabel 1 dapat kita lihat bahwa 20 sampel tersebut menunjukkan hasil yang sama yaitu positif memfermentasi mannitol, gram positif, Katalase positif, namun koagulase yang berbeda-beda. Hanya ada 2 sampel saja yang jelas menunjukkan adanya Staphylococcus auresu, sedangkan sampel lain menunjukkan koagulase yang lemah. Hasil koagulase lemah ini dapat dikatakan sebagai Staphylococcus aureus murni, hal ini kemungkinan karena hasil isolasi

Staphylococcus aureus dari lapangan yang

beragam sifat koagulasenya. Menurut Effendi (2009) rendahnya hasil isolasi Staphylococcus

aureus disebabkan kemampuan tumbuh dan

berkembangnya bakteri tersebut tergantung dari kemampuan untuk beradaptasi dengan perubahan lingkungan. Dari hasil identifikasi tersebut maka uji sensitifitas dapat dilakukan dan dapat dilihat hasilnya pada tabel 2.

Berdasarkan Tabel 2 dapat dilihat bahwa pola resistensi Staphylococcus aureus dari desa Krucil, Bremi, Kertosuko dan Watu panjang menunjukkan bahwa antibiotika penisilin sudah tidak layak untuk pengobatan mastitis pada sapi perah di keempat desa tersebut. Sedangkan

Staphylococcus aureus dari desa Krucil dan Watu

panjang menunjukkan bahwa antibiotika ampisilin sudah tidak layak untuk pengobatan mastitis pada sapi perah di dua desa tersebut

Penisilin dan ampisilin termasuk golongan antibiotika β-laktam (Effendi, 2009). Beberapa bakteri dapat membentuk enzyme perusak (β-laktamase) yang membuka cincin β-laktam dari penisilin dan menghilangkan daya antimikrobanya

resitensi Staphhylococcus aureus terhadap ampisilin bisa terjadi karena resitensi silang. Resistensi silang bisa terjadi jika bakteri yang telah resisten terhadap suatu obat tertentu dapat pula resisten terhadap obat lain yang mempunyai mekanisme kerja obat yang mirip satu sama lain (Wasitaningrum, 2009).

Hasil yang berbeda ditunjukkan oleh oksitetrasiklin walaupun ketiga antibiotika ini sering digunakan untuk pengobatan mastitis disana. Hasil uji sensitifitas oksitetrasiklin ter-hadap Staphylococcus aureus dari tiap-tiap desa menujukkan bahwa antibiotika tersebut masih ampuh untuk pengobatan mastitis. Hasil uji sensitifitas berbeda juga terlihat pada antibiotika kloksasilin dan eritromisin, walaupun antibiotika kloksasilin termasuk dalam golongan penisilin namun dari semua Staphylococcus aureus tiap desa menunjukkan resistensi 0% (sensitif 100%). Hal ini menunjukkan bahwa Staphylococcus

aureus dari tiap desa tidak terdapat Methicillin Resistant Staphylococcus aureus (MRSA). MRSA

termasuk strain dari Staphylococcus aureus yang memiliki gen resisten terhadap antibiotika methicillin dan antibiotika β-laktam lainnya (CFSPH, 2011). Beberapa antibiotika yang termasuk sintesis penicillin yang tahan terhadap enzyme penicillinase antara lain metisilin, azidosilin, oksasilin, nafsilin, kloksasilin, quina-silin dan dikloksaquina-silin (Ahrens, 1996).

Hasil yang sama juga terlihat pada antibiotika eritromisin, resistensi terhadap anti-biotika tersebut pada tiga desa (Bremi, Kalianang dan Kertosuko) menunjukkan resistesi 0%, Tabel 2. Persentase Resistensi Staphylococcus aureus terhadap antibiotika oksitetrasiklin 30µg, penisilin

10U, ampisilin 10µg, kloksasilin 5µg, eritromisin 10µg.

Desa oksitetrasiklin penisilin ampisilin kloksaslin eritromisin

Krucil 33,33% 66,66% 66,66% 0% 33,33% Tambelang 0% 25% 0% 0% 50% Bremi 0% 66,66% 33,33% 0% 0% Kalianang 0% 0% 0% 0% 0% Kertosuko 0% 66,66% 33,33% 0% 0% Watu panjang 0% 66,66% 66,66% 0% 66,66%

(5)

resistant methylase genes (erm A, erm B dan erm

C) (Pechere, 2001 dalam Effendi, 2009) yang menyandi pemindahan dalam ribosom RNA dengan fungsi mencegah pengikatan makrolida pada bakteri sehingga menghasilkan reistensi tingkat tinggi.

Berdasarkan tabel 2 juga dapat dilihat

Staphylococcus aureus dari desa Kalianang

menunjukkan tidak resisten terhadap kelima antibiotika. Dari hasil isolasi sampel susu desa Kalianang tersebut didapatkan Staphylococcus

aureus yang tidak memiliki enzyme penicillinase.

Penelitian yang dilakukan di beberapa wilayah KUD Argopuro ini mendapatkan sampel sejumlah 21 dengan jumlah sapi sebanyak 21 ekor. Jumlah ini hanya sekitar 0,275% dibandingkan dengan total populasi sapi perah di daerah tersebut yang mencapai 7628 ekor pada tahun 2011. Artinya penelitian ini hanya memberikan gambaran awal sejauh mana kasus mastitis yang disebabkan Staphylococcus aureus terjadi di beberapa wilayah di KUD Argopuro kecamatan Krucil kabupaten Probolinggo. Penelitian lanjutan dengan jumlah sampel yang representatif terhadap populasi akan bermanfaat terutama untuk memberi pengetahuan bahwa Staphylococcus aurues di beberapa wilayah KUD tersebut memiliki resistensi yang berbeda. Sehingga dalam penanggulangan dan pengobatan mastitis pada sapi perah dapat memilih antibiotika yang sesuai untuk beberapa wilayah di KUD Argopuro.

Kesimpulan

Staphylococcus aureus yang disolasi dari

mastitis pada sapi perah desa Krucil kebanyakan resisten terhadap penisilin dan ampisilin sebesar 66,66%. Staphylococcus aureus yang disolasi dari mastitis pada sapi perah desa Tambelang kebanyakan resisten terhadap eritromisin sebesar 50%. Staphylococcus aureus yang disolasi dari mastitis pada sapi perah desa Bremi kebanyakan resisten terhadap penisilin sebesar 66,66%,

Staphylococcus aureus yang disolasi dari mastitis

pada sapi perah desa Kalianang tidak menunjukkan resistensi terhadap kelima antibiotika,

Staphylococcus aureus yang disolasi dari mastitis

pada sapi perah desa Kertosuko kebanyakan resisten terhadap penisilin sebesar 66,66%,

Staphylococcus aureus yang disolasi dari mastitis

pada sapi perah desa Watu panjang kebanyakan

resisten terhadap penisilin, ampisilin, dan eritromisin sebesar 66,66%.

Daftar Pustaka

Ahrenz, F.A. 1996. Pharmacologi. The national veteriner medical series. A Wolters Kluwer Company. USA. ISBN 0-683-00085-3.

Alexander, S.K., D. Strete and M.J. Niles. 2004. Laboratory exercises in organismal and molecular microbiology. Mc Graw-Hill Companies. 1st edition. USA. ISBN : 0-07-24874-5. 188.

CFSPH. 2011. Methicillin Resistant Staphylo-coccus aureus. http://www.cfsph.iastate. edu/Factsheets/pdfs/mrsa.pdf. 31 Agustus 2012.

Djajalogawa, S.D. 2000. Epidemologi dan Ekonami Veteriner. Yayasan Agribisnis Indonesia Mandiri. Jakarta. ISBN : 979-97639-1-6. 19

Estoepangesti, A.T.S., S. Prawesthirini, dan Budiarto. 2003. Peta resistensi antibiotika kuman penyebab mastitis pada sapi perah di wilayah kerja KUD Dadi Jaya Purwodadi Kabupaten Pasuruan Propinsi Jawa Timur. MKH; 19 (3) : 129-134. Effendi, M.H. 2009. Peta Resistensi Antibiotika

Staphylococcus aureus dari Kasus Mastitis Sapi Perah di Beberapa Daerah Peternakan. Media Kedokteran Hewan. Vol.24. No.3.

Hermawan, A. 2007. Pengaruh Ekstrak Daun Sirih (Piper betle Linn.) Terhadap Pertumbuh-an Staphilococcus aureus dPertumbuh-an Escherichia

coli dengan Metode Difusi Disk. Fakultas

Kedokteran Hewan. Universitas Airlangga Surabaya.

Jawetz., E., J. Melnick and E. Adelberg. 2008. Mikrobiologi kedokteran. 23th editor R.N.

Elferia. EGC. Jakarta. 164-168, 170, 225. Mallenberger, R. 2000. California Mastitis Test.

Dept. of Animal Sciences, Michigan State University.

Pollck. R.A., L. Findlay, W.M. Chein and R.R. Modesto. 2005. Laboratory Exercises in Microbiology. John Wiley and Sons Inc.USA. ISBN : 0-471-42082-4. 102. Rice, and N. Duane. 1981. "G81-556 Using the

(6)

Subclinical Mastitis" (1981). Historical

Materials from University of Nebraska-Lincoln Extension. Paper 483.

Rosilawati, E., N. Apriantini dan E.B. Sasongko. 2009. Uji Beberapa Bahan Antimikrobial Terhadap Staphylococcus aureus

Penyebab Mastitis pada sapi Perah di Wilayah Kerja KUTT Suka Makmur Grati Pasuruan. Veteriner Medika. 2(1). Setiawan, N. 2005. Teknik Sampling. Diktat

Meto-dologi Penelitian Sosial. Universitas Padjadjaran. Bogor.

Subronto. 2003. Ilmu Penyakit Ternak I. Edisi Keempat. Gajah mada University Press. Yogyakarta. 309-351.

Wasitaningrum, I.D.A. 2009. Uji Resistensi Bakteri Staphylococcus aureus dan

Escherichia coli dari Isolat Susu Sapi

Segar Terhadap Beberapa Antibiotika [skripsi]. Fakultas Farmasi Universitas Muhammadiah Surakarta.

Gambar

Tabel 1.  Isolasi  dan  Identifikasi  Staphylococcus  aureus

Referensi

Dokumen terkait

Faktor-Faktor Pengaruh Perkembangan Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, disimpulkan beberapa faktor dominan yang mempengaruhi perubahan pola bentuk ruang kampung

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah terdapat Hubungan Antara Kebahagiaan Karyawan ( Affective Well-Being ) dengan Keinginan Berpindah ( Turnover

Akibat fiksasi oleh senyawa organik, aluminium menjadi tidak mudah dipertukarkan (Hargrove dan Thomas, 1982) dan tidak bersifat fototoksik (Hue et al., 1986).Aplikasi bahan

Apabila dalam jangka waktu tertentu dana pada rekening Nasabah kurang dari yang dipersyaratkan, Pialang Berjangka dapat menutup posisi terbuka Nasabah secara keseluruhan

Pohon pembangkit adalah sebuah pohon dalam kon- teks teori graf di mana simpul-simpulnya meny- atakan obyek (untuk tujuan pembangkitan) atau angka yang menunjukkan banyaknya simpul

Hasil penelitian ini ternyata mayoritas responden di SMAN 6 Depok yang berusia ≥ 16 tahun lebih banyak berperilaku pacaran yang sehat, namun tidak menutup

Taman Nasional Ujung Kulon merupakan hutan tropis dataran rendah yang memiliki keanekaragaman hayati sangat tinggi, dimana di dalamnya terdapat fauna seperti badak bercula

Dengan segala keterbatasan yang ada, penulis berupaya semaksimal mungkin untuk memahami tafsirnya satu demi satu sehingga dapat menarik sebuah kesimpulan bahwa