MANHAJ TAFSIR AL-T{ABARI<
Dipresentasekan pada Seminar Mata Kuliah
“Manhaj al-Mufassiri>n”
Semester III
Konsentrasi Ilmu al-Qur’an dan Tafsir Kelas Reguler
Oleh:
Muhammad Dirman Rasyid 80600216003
Dosen Pemandu:
Dr. Dudung Abdullah, M.Ag. Dr. H. Aan Parhani, Lc., M.Ag.
PASCASARJANA
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI ALAUDDIN MAKASSAR 2017
1
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Al-Qur’an yang merupakan kalam Allah swt. diturunkan ke muka bumi di antara fungsi dan tujuannya adalah sebagai petunjuk kepada umat manusia, sebagaimana diungkapkan al-Qur’an sendiri dalam QS al-Baqarah/2: 185:
ُ رْهَش
ُ
َُناَضَمَر
ُ
يِذَّلا
ُُ أ
َُلِزْن
ُ
ُِهيِف
ُ
ُ نآْر قْلا
ُ
ىًد ه
ُ
ُِساَّنلِل
ُ
ُ تاَنِّ يَ بَو
ُ
َُنِم
ُ
ُ ىَد ْلْا
ُ
ُِناَقْر فْلاَو
...
ُ
Terjemahnya:Bulan Ramadan aadalah (bulan) yang di dalamnya diturunkan al-Qur’an, sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk
itu dan pembeda (antara yang benar dan yang batil)…1
Oleh sebab itu, agar fungsi dan tujuan al-Qur’an sebagaimana telah disebutkan bisa terwujud, maka perlu untuk memahami isi kandungan al-Qur’an. Upaya untuk memahami isi kandungan al-Qur’an melahirkan penjelasan-penjelasan mengenai isi kandungan al-Qur’an dari segi kebahasaan, hukum yang
terkandung di dalamnya dan sebagainya, kemudian dikenal dengan istilah tafsir.2
Dari uraian tersebut tampak begitu urgen fungsi dan kedudukan tafsir terhadap al-Qur’an.
Dari aspek historis, tafsir bukanlah hal yang datang kemudian, melainkan hadir bersamaan dengan al-Qur’an itu diturunkan. Begitu banyak riwayat yang menceritakan tentang penjelasan Rasulullah saw. yang menjelaskan makna ayat yang kurang dipahami oleh para sahabatnya. Sebagai contoh pada riwayat yang dikeluarkan oleh Imam al-Bukha>ri> berikiut:
1Kementrian Agama RI, Al-Qur’an dan Terjemahnya (Cet. III; Solo: Tiga Serangkai
Pustaka Mandiri, 2013 M/1434 H), h. 28.
2Abu> ‘Abd Allah Badr al-Di>n Muh}ammad Ibn ‘Abd Allah al-Zarkasyi>, Al-Burha>n fi> ‘Ulu>m
اَنَ ثَّدَح
ُ
ُ رَم ع
ُ
ُ نْب
ُ
ُِصْفَح
ُ
ُِنْب
ُ
، ثاَيِغ
ُ
اَنَ ثَّدَح
ُ
، ِبَِأ
ُ
اَنَ ثَّدَح
ُ
، شَمْعَلأا
ُ
َُلاَق
ُ:
ُِنَثَّدَح
ُ
، ميِهاَرْ بِإ
ُ
ُْنَع
ُ
،َةَمَقْلَع
ُ
ُْنَع
ُ
ُِدْبَع
ُ
ُِهَّللا
ُ
َُيِضَر
ُ
َُّللا
ُ هُ
، هْنَع
ُ
َُلاَق
ُ:
اَّمَل
ُ
ُْتَلَزَ ن
ُ
{
َُنيِذَّلا
ُ
او نَمآ
ُ
َُْلَوُ
او سِبْلَ ي
[ُ}
ماعنلأا
ُ:
82
ُ]
ُْم َنَاَيمِإ
ُ
، مْل ظِب
ُ
اَنْل ق
ُ:
اَيُ
َُلو سَر
ُ
،ِهَّللا
ُ
اَنُّ يَأ
ُ
َُلُ
ُ مِلْظَي
ُ
؟ هَسْفَ ن
ُ
َُلاَق
ُ:
"
َُسْيَل
ُُ
اَمَك
ُ
َُنو لو قَ ت
ُ
{
َُْلُ
او سِبْلَ ي
ُ
ُْم َنَاَيمِإ
ُ
ُ مْل ظِب
[ُ}
ماعنلأا
ُ:
82
ُ]
، كْرِشِب
ُ
َُْلَوَأ
ُ
او عَمْسَت
ُ
َُلِإ
ُ
ُِلْوَ ق
ُ
َُناَمْق ل
ُ
ُِهِنْب ِل
ُاَي
ُ
ََُّن ب
ُُ
َل
ُ
ُْكِرْش ت
ُ
ُِهَّللاِب
ُ
َُّنِإ
ُ
َُكْرِّشلا
ُ
ُ مْل ظَل
ُ
ُ ميِظَع
"
3ُ
Artinya:Telah bercerita kepada kami ‘Umar Ibn H{afs} Ibn Giya>s\, telah bercerita kepada kami bapakku, telah bercerita kepada kami al-Aʻmasy, ia berkata: telah bercerita kepada kami Ibra>hi>m, dari ‘Alqamah, dari ‘Abd Allah ra. ia berkata: ketika turun (ayat)
مْل ظِب
ُ
ُْم َنَاَيمِإ
ُ]
82
ُ:
ماعنلأا
[ُ}
او سِبْلَ ي
َُْلَوُ
ُ
او نَمآ
ُ
َُنيِذَّلا
{
(orang-orang yang tidak mencapurkan imannya dengan kezaliman), kami berkata: wahai Rasulullah, siapakah di antara kami yang tidak menzalimi dirinya? Rasulullah saw. bersabda: (itu) tidaklah seperti yang kalian katakan (maksud), maksud dari}
ُ مْل ظِب
ُ
ُْم َنَاَيمِإ
ُ
او سِبْلَ ي
َُْلُ
{
(tidak mencapurkan imannya dengan kezaliman) adalah dengan syirik, apakah kalian tidak mendengar perkataan lukman kepada anaknyaُ ميِظَع
ُ
ُ مْل ظَل
ُ
َُكْرِّشلا
ُ
َُّنِإ
ُ
ُِهَّللاِب
ُ
ُْكِرْش ت
َُلُ
ُ
ََُّن ب
اَيُ
(wahai anakku janganlah engkau menyekutukan Allah (syirik), karena sesungguhnya syirik itu kezaliman yang besar).Setelah Rasulullah saw. wafat, para sahabat yang menjadi rujukan umat untuk menanyakan hal-hal yang tidak mereka pahami dalam al-Qur’an. Dalam menafsirkan al-Qur’an, para sahabat menjelaskan sebagaimana yang telah mereka dengarkan dari Nabi saw. namun apabila tidak menemukan hal tersebut, maka
mereka melakukan ijtihad.4
ُ
Kemudian setelah masa para sahabat, otoritasmenafsirkan al-Qur’an beralih ke tabiʻi>n. Tabiʻi>n dalam menafsirkan al-Qur’an tidak jauh berbeda dengan sahabat, dalam arti mereka menafsirkan al-Qur’an mereka menukil dari Nabi saw. yang mereka dengarkan dari sahabat, namun jika tidak menemukan riwayat maka mereka melakukan ijti>ha>d.
Penjelasan dan penafsiran dari Rasulullah saw. dan para sahabatnya serta tabiʻi>n ini kemudian dikenal dengan istilah tafsir dengan riwayat (tafsi>r bi
3Abu> ‘Abd Allah Muh}ammad Ibn Isma>ʻi>l al-Bukha>ri>, S{ah}i>h} al-Bukha>ri>, Juz 4 ([t.t.]: Da>r
T{auq al-Naja>h, 1422 H), h. 141.
4Muh}ammad Sayyid H{usain al-Z|ahabi>, ‘Ilm al-Tafsi>r (Al-Qa>hirah: Da>r al-Maʻa>rif, [t.th.])
3
maʻs\u>r).5 Tafsir dengan riwayat atau tafsi>r bi al-maʻs\u>r ini merupakan salah satu
jenis atau model tafsir yang ditinjau dari segi sumbernya atau asasnya dan merupakan model penafsiran yang paling awal dan diutamakan dibanding jenis
yang lain.6 Tapi hal yang perlu digaris bawahi kaitannya dengan tafsir dengan
riwayat lebih diutamakan jika riwayat tersebut s}ah}i>h}, dan penilaian mengenai s}ah}i>h} atau tidaknya sebuah riwayat dalam penafsiran mengikuti kaidah-kaidah ke-s}ah}i>h}-an hadis.7
Sampai saat ini telah banyak mufasir yang menempuh model penafsiran dengan riwayat, dan di antaranya salah satu yang paling populer adalah Tafsi>r
al-T{abari>. Hal ini dikarenakan antara lain tafsir karena sebelumnya belum ada tafsir
yang disusun sebagaimana al-T{abari> menyusun kitab tafsirnya. Bahkan para ulama mengakuinya bahwa tidak ada penulis yang menyamainya dalam menulis dan
menyusun tafsir.8 Hal ini kemudian menjadi menarik untuk dibincangkan lebih
lanjut, terkait bagaimana seorang al-T{abari> menyusun tafsirnya sehingga mendapat pujian yang tidak sedikit dari para ulama. Olehnya itu, pada makalah ini akan disajikan mengenai Manhaj Tafsi>r al-T{abari>.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan di atas, maka disusunlah rumusan masalah sebagai berikut:
1. Bagaimana biografi al-T{abari>?
5Muh}mmad Sayyid H{usain al-Z|ahabi, Al-Tafsi>r wa al-Mufassiru>n, Juz 1 (Al-Qa>hirah:
Maktabah Wahbah, [t.th.]), h. 112.
6Jenis tafsir lainya ditinjau dari sumbernya yang dimaksud adalah; tafsi>r bi al-ra’yi dan
tafsi>r isya>ri>. Kadar M. Yusuf, Studi Alquran (Jakarta: Amzah, 2009), h. 140-141.
7‘Abd Jawwa>d Khalf Muh}ammad ‘Abd Jawwa>d, Madkhal ila> Tafsi>r wa ‘Ulu>m
al-Qur’a>n (Al-Qa>hirah: Da>r al-Baya>n al-‘Arabi>, [t.th.]), h. 110.
8Musa>ʻid Muslim A<li> Jaʻfar dan Muh{yi> Hila>l al-Sirh}a>n, Mana>hij al-Mufassiri>n ([t.t.]: Da>r
2. Bagaimana Manhaj Tafsi>r al-T{abari>?
C. Tujuan dan Kegunaan
1. Tujuan
a. Untuk mendeskripsikan kehidupan al-T{abari>. b. Untuk mendalami Manhaj Tafsi>r al-T{abari>.
2. Kegunaaan
a. Makalah ini diharapkan memiliki arti ilmiah yang dapat menambah informasi, memperkaya dan mengembangkan khasznah keilmuan dan keislaman, khususnya dalam kajian ilmu al-Qur’an dan tafsir dan memberikan gambaran serta penjelasan mengenai Manhaj Tafsi>r al-T{abari>. b. Secara praktis, makalah ini diharapkan dapat menjadi khasanah keilmuan
5
BAB II PEMBAHASAN
A. Biografi al-T{abari>
1. Nama Lengkap, Gelar, Julukan, Kelahiran al-T{abari>
Al-T{abari> bernama lengkap Muh}ammad Ibn Jari>r Ibn Yazi>d Ibn Kas\i>r al-Amuli> al-T{abari>. Al-T{abari bergelar al-Ima>m, al-H{a>fiz}, al-‘Ilm, dan juga dikenal
dengan kunniah-nya yaitu Abu> Jaʻfar al-T{abari>.9 Meskipun para ahli sejarah
mencatat al-T{abari> tidak pernah menikah selama hidupnya,10 namun sebagai
bentuk penghormatan dan bagian dari tradisi pada masa itu untuk memberikan kunniyah kepada seseorang. Tampaknya pemberian kunniyah Abu> Jaʻfar kepada al-T{abari> mencerminkan sosok al-al-T{abari> yang terus bergerak dan berjalan dari satu tempat ke tempat lain untuk menuntut ilmu.
Al-T{abari> lahir di A<mul (Amol),11 yang merupakan kota utama dari
T{abarista>n (Thabaristan),12 karena beliau berasal dari T{abarista>n, sehingga dinamai
al-T{abari>, dan lebih dikenal dengan nama tersebut. Mengenai tahun kelahirannya, terdapat perbedaan pendapat, Ibn Kas\i>r dalam al-Bida>yah wa al-Niha>yah
9Syams al-Di>n Abu> ‘Abd Allah Muh}ammad Ibn Ah}mad Ibn ‘Us\ma>n Ibn Qaima>z al-Z|ahabi>,
Taz\kirah al-H{uffa>z}, Juz 2 (Bairu>t: Da>r al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 1998 M/1419 H), h. 201.
10Amaruddin, “Mengungkap Tafsir Jami’ al-Bayan fi Tafsir Al-Qur’an Karya
Ath-Thabari”, Jurnal Syahadah 2, no. 2 (Oktober 2014): h. 6.
11Mani>ʻ Ibn H{ali>m Mah}mu>d, Mana>hij al-Mufassiri>n (Al-Qa>hirah: Da>r al-Kita>b al-Mas}ri>,
2000 M/1421 H), h. 39.
12Thabaristan adalah wilayah kuno bersejarah yang kini berada dalam wilayah Iran.
Thabaristan berada di selatan pantai Laut Kaspia kira-kira di lokasi lereng utara dan selatan pegunungan Alborz dan di sebelah utara kota Ray yang merupakan kota besar pada masa lalu. Wilayahnya kurang lebih mencangkup sebagian provinsi-provinsi modern di Iran saat ini seperti Mazandaran, Jailan, Golestan, Semnan bagian utara, dan sebagian kecil wilayah Turkmenistan. Lihat, “Thabaristan”, Wikipedia Ensiklopedia Bebas. https://id.wikipedia.org/wiki/Thabaristan (14 Oktober 2017).
menyebutkan bahwa beliau lahir pada tahun 224 H.13 Sementara itu ada juga yang
menyatakan bahwa beliau lahir pada tahun 225 H.14
2. Latar Belakang Keluarga, Keadaan Sosial dan Studi al-T{abari>
Mengenai keluarga al-T{abari> tidak banyak catatan sejarah yang mengulas secara terperinci. Tapi dari keadaaan sosial dan studi al-T{abari> dapat diperoleh sketsa mengenai kehidupan keluarga al-T{abari> yang sangat peduli terhadap agama dan ilmu. Hal tersebut dapat dilihat dari kehidupan ilmiah al-T{abari> yang dimulai sejak usia dini, al-T{abari> telah menghafal al-Qur’an pada usia 7 tahun, salat bersama (memimpin salat) umat Islam pada usia 8 tahun dan memulai menulis
hadis pada usia 9 tahun.15 Dari fakta-fakat sebagaimana disebutkan, tentu hal
tersebut sulit terwujud jika tanpa dukungan dan arahan dari orang tua.
Kecintaan al-T{abari> terhadap ilmu pengetahuan membuatnya melakukan perjalan ke kota-kota Islam pada saat itu untuk mengungjungi dan belajar dari para ulama-ulama di kota-kota tersebut. Al-T{abari pertama-tama mengunjungi kota Ray (salah satu kota di Iran, berada di dekat Teheran), di sana ia belajar hadis dari Muh}ammad Ibn H{ami>d al-Ra>zi> dan muh}adis\i>n terkemuka di kota itu. Kemudian menuju Bas}rah, Iraq, di sana ia berguru ke Muh}ammad Ibn al-Maʻli> dan Muh}ammad Ibn Basysya>r. Lalu pergi ke Kufa, Iraq ,di sana ia belajar dari Hana> Ibn al-Sira>, Abu> Karb Muh}ammad Ibn al-‘Ala> al-Hamda>ni>. Perjalanan ilmiahnya di Iraq berakhir di Bagda>d. Kemudian dari Iraq ia menuju Sya>m (Suriah) dan berlajar al-Qur’an dari al-‘Abba>s al-Wali>d al-Bi>ru>ni> dengan bacaan Sya>mi>. Kemuidan menuju Mesir dan berguru kepada ulama-ulama terkemuka di sana, di antaranya; Muh}ammad Ibn ‘Abd Allah Ibn al-H{ukm, al-Mazni> dan Muh{ammad Ibn Ish}a>q Ibn
13Abu> al-Fada> Isma>ʻi>l Ibn ‘Umar Ibn Kas\i>r, Al-Bida>yah wa al-Niha>yah, Juz 11 ([t.t]: Da>r
al-Fikr, 1986 M/1407 H), h. 145.
14Mani>ʻ Ibn H{ali>m Mah}mu>d, Mana>hij al-Mufassiri>n, h. 39.
15Syiha>b Di>n Abu> ‘Abd Allah Ya>qu>t Ibn ‘Abd Allah Ru>mi> H{amawi>, Muʻjam
7
Khuzaimah dan Tala>mi>z\ Ibn Wahb. Setelah itu, ia kembali ke T{abarista>n kemudian
memutuskan untuk mengajar di Bagda>d sampai akhir hayatnya.16
Dalam studinya ke berbagai wilayah Islam, al-T{abari> menyerap semua ilmu-ilmu yang dipelajari dari para ulama di berbagai disipilin ilmu dan pada akhirnya beliau tuangkan dalam karya-karyanya di berbagai disiplin ilmu.
Faktor lain yang tidak kalah pentingnya yang mendukung keberhasilan studi al-T{abari> adalah keadaan sosial pada masa itu. Al-T{abari> hidup bersamaan dengan masa kegemilangan dinasti Abba>siyyah, dan juga bersamaan dengan mulai goyahnya pemerintahan dinasti Abba>siyah ketika beberapa wilayah Islam ingin memerdekakan diri. Namun, krisis politik pada masa itu tidak mempengaruhi kegiatan keilmuan. Para tokoh-tokoh politik tetap menghormati dan
memperhatikan para ulama dan penunut ilmu.17 Ini merupakan salah satu
keistimewaan pada masa tersebut, para tokoh politik cukup dewasa dalam menyikapi permasalahan yang ada, sehingga krisis politik pada masa itu hanya persoalan kekuasaan dan tidak membawa dampak yang signifikan pada kegiatan keilmuan.
3. Karya dan Pandangan Ulama terhadap al-T{abari>
Al-T{abari> merupakan salah seorang ulama yang sangat produktif dalam menulis. Di antara karya-karyanya adalah sebagai berikut:
a. Ja>miʻ al-Baya>n ‘an Ta’wi>l A>y al-Qur’a>n yang terkenal dengan nama Tafsi>r al-T{atabri>.
b. Ta>rikh al-Rusul wa al-Mulu>k.
16Mani>ʻ Ibn H{ali>m Mah}mu>d, Mana>hij al-Mufassiri>n, h. 39-40.
17Yu>suf Ibn H{amu>d H{ausya>n, “Al-A<s\a>r Wa>ridah ‘an Salf fi> Yahu>d fi> Tafsi>r
al-T{abari>: Jamʻan wa Dira>sah”, Risa>lah al-Duktu>rah (Riya>d}: Kulliyah Usu>l al-Di>n, Ja>miʻah al-Ima>m Muh}ammad Ibn Saʻu>d al-Isla>miyah, 1424 H), h. 9-10.
c. Kita>b Tahz\i>b A<s\a>r wa Tafs}i>l S|a>bit ‘an Rasu>l Allah min al-Akhba>r.
d. Kita>b Ikhtila>f al-Fuqaha>.
e. Kita>b Ikhtiya>r Aqwa>l al-Fuqaha>.
f. Kita>b Ada>b al-Nufu>s al-Jayyidah wa al-Akhla>q al-Nafsiyah. g. Kita>b A<da>b al-Qud}a>.
h. Kita>b Basi>t} al-Qaul fi> Ah}ka>m Syara>’iʻ al-Isla>m. i. Kita>b al-Tabs}i>r fi> Maʻa>lim al-Di>n.
j. A<da>b al-Mana>sik, dan seterunya.18
Masih banyak lagi karya-karya beliau yang disebutkan dalam Maʻa>jim dan buku-buku yang membincang biografi ulama-ulama.
Mengenai pandangan ulama terhadap al-T{abari>, tampaknya sosoknya dianggap salah satu dari tokoh Islam yang revolusioner dan sangat berpengaruh dengan karya-karyanya. Tak heran jika beliau menuai pujian serta pengakuan akan kualitras keilmuan dan integritas beliau baik dari aspek keilmuan maupun kepribadiannya.
Ibn Khuzaimah menyatakan bahwa tidak ada pengembara yang lebih alim dari seorang al-T{abari>.19 Jala>l al-Di>n al-Suyu>t}i>, dalam T{abaqa>t al-Mufassiri>n menukil pandangan ulama yang menggambarkan sosok al-T}abari>, bahwa beliau
menulis selama 40 tahun dan tiap harinya menyelesaikan 40 halaman.20 Al-Khat}i>b
menuliskan dalam Ta>rikh Bagda>d bahwa al-T{abari> adalahseorang ulama paling terkemuka yang pernyataannya sangat diperhitungkan dan pendapatnya pantas
18Mani>ʻ Ibn H{ali>m Mah}mu>d, Mana>hij Mufassiri>n, h. 40-41. Lihat juga, Ali> Ibn ‘Abd
al-‘Azi>z al-Syubl, “Kutub al-Ima>m al-T{abari> wa A<s\a>ruhu”, Al-Alu>kah.
http://www.alukah.net/culture/0/80326/ (14 Okrober 2017).
19Musa>ʻid Muslim A<li> Jaʻfar dan Muh{yi> Hila>l al-Sirh}a>n, Mana>hij al-Mufassiri>n, h. 53. 20‘Abd al-Rah}ma>n Ibn Abu> Bakr Jala>l al-Di>n al-Suyu>t}i>, T{abaqa>t al-Mufassiri>n al-‘Isyri>n
9
menjadi rujukan, karena keluasan pengetahuan dan kelebihannya. Ia menguasai
berbagai disiplin ilmu yang sulit ditandingi oleh siapa pun di masa itu.21
4. Wafatnya al-T{abari>
Al-T{abari> wafat di penghujung bulan Syawal pada tahun 310 H22 di
Bagda>d,23 pada usia kurang lebih 84 atau 85 tahun. Beliau wafat di Bagda>d dan
dikebumikan di sana.
B. Manhaj Tafsi>r al-T{abari>
1. Profil Kitab Tafsir al-T{abari>, Latar Belakang Penyusunan dan Pandangan Ulama Terhadap Tafsir al-T{abari>
Kitab tafsir al-T{abari> berjudul “Ja>miʻ al-Baya>n ‘an Ta’wi>l A>y al-Qur’a>n”, merupakan salah satu kitab tafsir yang paling populer dan terbesar sampai saat ini. Sampai saat ini kitab ini telah dicetak berulang kali oleh banyak percetakan dengan jumlah jilid yang berbeda-beda. Tapi pada umumnya jumlah jilidnya pun beragam tiap percetakan, ada yang 24 jilid, 27 jilid, bahkan ada yang sampai 30 jilid.
Al-Taba>ri> menyusun kitab tasfirnya, salah satu di antara sebabnya, karena T{abari> sangat prihatin menyaksikan kualitas pemahaman umat Islam terhadap al-Qur’an. Mereka sekadar bisa membaca al-Qur’an tanpa sanggup menangkap makna hakikinya. Karena itulah, T{abari> berinisiatif menunjukkan berbagai kelebihan al-Qur’an. Ia mengungkap beragam makna al-Qur’an dan kedahsyatan susunan bahasanya seperti nah}wu, bala>gah, dan lain sebagainya. Bahkan jika ditilik dari
21Abu> Bakr Ah}mad Ibn ‘Ali> Ibn S|a>bit Ibn Ah}mad Ibn Mahdi> al-Khati>b al-Bagda>di>, Ta>rikh
Bagda>d, Juz 2 (Bairu>t: Da>r al-Kutub al-‘Ilmiyah, 1417 H), h. 161.
22‘Abd al-Rah}ma>n Ibn Abu> Bakr Jala>l al-Di>n al-Suyu>t}i>, T{abaqa>t al-Mufassiri>n al-‘Isyri>n,
h. 97.
23Syiha>b Di>n Abu> ‘Abd Allah Ya>qu>t Ibn ‘Abd Allah Ru>mi> H{amawi>, Muʻjam
judulnya, kitab ini merupakan kumpulan keterangan (Jami’ al-Bayan) yang cukup
luas meliputi berbagai disiplin keilmuan seperti Qira>’at, Fiqih}, dan Aqi>dah.24
Karya al-T{abari> ini dianggap sebagai salah satu tafsir yang terbaik, al-Suyu>t}i> mengungkapkan bahwa tafsir al-T}abari> merupakan tasfir yang sangat luar biasa, ia memaparkan pendapat-pendapat dalam penafsiran lalu melakukan identifikasi dan seleksi terhadap pendapat-pendapat itu, demikian juga ia menuliskan tentang iʻra>b dan istinba>t} hukum. Ia menggabungkan antara riwa>yah dan dira>yah dalam tasfirnya, hal inilah yang menjadikan tafsirnya lebih unggul dibanding tafsir-tasfir
terdahulu.25
Al-Quft}i> menyatakan bahwa saya tidak melihat kitab tafsir yang lebih besar
dan lebih banyak faidahnya dibanding tafsir al-T{abari>.26
ُ
Al-Nawawi> menyatakanumat bersepakat bahwa belum ada yang menulis atau menyusun tafsir sebagaimana al-T{abari> menyusun tafsirnya. Tafsir al-T{abari> merupakan kitab tafsir tertua yang
sampai pada zaman ini,27 adapun yang lain tidak dapat lagi ditelusuri.
2. Sumber Penafsiran
Sumber penafsiran yang dimaksud adalah sumber yang digunakan dalam menafsirkan al-Qur’an, apakah menggunakan riwayat (bi al-ma’s\u>r) atau akal (bi al-ra’yi).
Al-T{abari> dalam menafsirkan al-Qur’an mengedepankan riwayat-riwayat baik dari Nabi, sahabat maupun tabiʻi>n. Al-T{abari> tidak sepakat dengan penafsiran yang mengedepankan akal semata. Bahkan ia menuliskan satu pembahasan tentang larangan menafsirkan al-Qur’an dengan akal, pada pembahasan tersebut al-T{abari>
24Amaruddin, “Mengungkap Tafsir Jami’ al-Bayan fi Tafsir Al-Qur’an Karya
Ath-Thabari”, h. 11.
25Mani>ʻ Ibn H{ali>m Mah}mu>d, Mana>hij al-Mufassiri>n, h. 46. 26Mani>ʻ Ibn H{ali>m Mah}mu>d, Mana>hij al-Mufassiri>n, h. 46.
27Muh}ammad ‘Ali> al-H{asan, Al-Mana>r fi> ‘Ulu>m al-Qur’a>n maʻa Madkhal ila> Usu>l al-Tafsi>r
11
menyebutkan 8 riwayat yang berisikan larangan menafsirkan dengan akal, di antaranya sebagai berikut;
انثدح
ُ
يىيح
ُ
نب
ُ
ةحلط
ُ
،يعوبيرلا
ُ
لاق
ُ:
انثدح
ُ
،كيرَش
ُ
نع
ُ
دبع
ُ
،ىلعلأا
ُ
نع
ُ
ديعس
ُ
نب
ُ
،يرب ج
ُ
نع
ُ
نبا
ُ
سابع
ُ:
نأ
ُ
بينلا
ُ
ىلص
ُ
للها
ُ
هيلع
ُ
ملسو
ُ
لاق
ُ:
(
نم
ُ
َُلاق
ُ
في
ُ
نآرقلا
ُ
هيأرب
ُ
أوبتيلف
ُ
هَدعقم
ُ
نم
ُ
رانلا
)
28 Artinya:Telah berbicara kepada kami Yah}ya Ibn T{alh}ah al-Yarbu>ʻi>, dia berkata: telah berbicara kepada kami Syari>k, dari ‘Abd al-Aʻla>, dari Saʻi>d Ibn Khubair, dari Ibn ‘Abba>s: sesungguhnya Nabi saw. bersabda: barang siapa yang berkata dalam al-Qur’an dengan akalnya, maka hendaklah menyediakan tempat duduknya di neraka.
Dalam aplikasinya pun al-T{abari> selalu mengemukakan riwayat ketika menafsirkan ayat-ayat al-Qur’an, misalnya dalam QS al-Baqarah/2: 2 ketika menafsirkan
ُ باَتِكْلا
ُ
َُكِلَذ
, ia menyatakan mayoritas mufasir menafsirkanُ باَتِكْلا
ُ
َُكِلَذ
,sebagai
باتكلا
ُ
اذه
(kitab ini, maksudnya adalah al-Qur’an), lalu al-T{abari>melanjutkannya dengan menyebutkan riwayat-riwayat tentang penafsiran tersebut, di antaranya:
نثدح
ُ
نوراه
ُ
نب
ُ
سيردإ
ُ
مصلأا
ُ
،ّفيوكلا
ُ
لاق
ُ:
انثدح
ُ
دبع
ُ
نحمرلا
ُ
نب
ُ
دممح
ُ
،بِرالمحا
ُ
نع
ُ
نبا
ُ
،جير ج
ُ
نع
ُ
دهامج
":
كلذ
ُ
باتكلا
ُ"
لاق
ُ:
وه
ُ
اذه
ُ
باتكلا
.
29 Artinya:Telah berbicara kepadaku Ha>ru>n Ibn Idri>s al-As}im al-Ku>fi>, dia berkata: telah berbicara kepada kami ‘Abd al-Rah}ma>n Ibn Muh}ammad al-Muha>rabi>, dari
Juraij, dari Muja>hid: “
باتكلا
ُ
كلذ
” dia berkata: itu adalah kitab ini (al-Qur’an).
28Abu> Jaʻfar Muh}ammad Ibn Jari>r Ibn Yazi>d Ibn Kas\i>r al-T{abari>, Ja>miʻ al-Baya>n ‘an Ta’wi>l
A>y al-Qur’a>n, Juz 1 (Bairu>t: Mu’assasah al-Risa>lah, 2000 M/1421 H), h. 77.
29Abu> Jaʻfar Muh}ammad Ibn Jari>r Ibn Yazi>d Ibn Kas\i>r al-T{abari>, Ja>miʻ al-Baya>n ‘an Ta’wi>l
نثدح
ُ
بوقعي
ُ
نب
ُ
،ميهاربإ
ُ
لاق
ُ:
انثدح
ُ
نبا
ُ
،ةيَل ع
ُ
لاق
ُ:
انبرخأ
ُ
دلاخ
ُ
،ءاّذلحا
ُ
نع
ُ
،ةمركع
ُ
لاق
":
كلذ
ُ
باتكلا
ُ:"
اذه
ُ
باتكلا
.
30ُ
Artinya:Telah berbicara kepadaku Yaʻqu>b Ibn Ibra>hi>m, dia berkata: telah berbicara kepada kami Ibn ‘Ulaih, dia berkata: Kha>lid Ibn H{uz\z\a>, dari ‘Ikrimah, dia
berkata: “
باتكلا
ُ
كلذ
” adalah kitab ini (al-Qur’an).انثدح
ُأ
دحم
ُ
نب
ُ
قاحسإ
ُ
،يزاوهلأا
ُ
لاق
ُ:
انثدح
ُ
وبأ
ُ
دحمأ
ُ
ييربزلا
ُ
لاق
ُ:
انثدح
ُ
مَكَلحا
ُ
نب
ُ
،يرَه ظ
ُ
نع
ُ
،يِّدُّسلا
ُ
في
ُ
هلوق
"
كلذ
ُ
باتكلا
ُ"
لاق
ُ:
اذه
ُ
باتكلا
.
31 Artinya:Telah berbicara kepada kami Ah}mad Ibn Isha>q al-Ahwa>zi>, dia berkata: Abu> Ah}mad al-Zubairi> telah berbicara kepada kami, dia berkata: al-H{akam Ibn
Z{uhair telah berbicara kepada kami, dari al-Suddi> tentang firman-Nya “
ُ
كلذ
باتكلا
”, dia berkata: (maksudnya) kitan ini (al-Qur’an).Penafsiran al-T{abari> yang mengedepankan periwayatan tersebut sehingga para ulama-ulama ilmu Qur’an menyebut tafsir T{abari sebagai tafsi>r bi al-maʻs\u>r.
3. Metode, Corak dan Sistematika Tafsir al-T{abari>
Dalam melakukan penafsiran, al-T{abari> meruntut ayat demi ayat sebagaimana susunan ayat dan surah di dalam mushaf. Kemudian sebagaimana telah diuraikan sebelumnya bahwa al-T{abari> mengedepankan riwayat dalam penafsirannya, oleh sebab itu ketika menafsirkan ayat al-Qur’an maka ia menggunakan penafsiran al-Qur’an dengan al-Qur’an, lalu dengan sunnah, perkataan sahabat dan tabiʻi>n. Ketika terjadi perbedaan pendapat di kalangan sahabat atau tabiʻi>n, maka ia melakukan tarji>h} atau mengkompromikannya jika
memungkinkan.32
30Abu> Jaʻfar Muh}ammad Ibn Jari>r Ibn Yazi>d Ibn Kas\i>r al-T{abari>, Ja>miʻ al-Baya>n ‘an Ta’wi>l
A>y al-Qur’a>n, Juz 1, h. 225.
31Abu> Jaʻfar Muh}ammad Ibn Jari>r Ibn Yazi>d Ibn Kas\i>r al-T{abari>, Ja>miʻ al-Baya>n ‘an Ta’wi>l
A>y al-Qur’a>n, Juz 1, h. 225.
13
Al-T{abari> juga memaparkan qira>’at ayat-ayat yang mempunyai bacaan lebih dari satu. Lalu, melakukan analisis terhadap bacaan-bacaan tersebut dengan pendekataan kebahasaan dan kesesuainnya dengan penafsiran, kemudian al-T{abari> memilih satu bacaan yang paling tepat menurutnya setelah melakukan analisis. Hal tersebut dapat dilihat ketika al-T{abari> menafsirkan QS al-Fa>tih}ah/1 ayat 4:
ُِكِلاَم
ُ
ُِمْوَ ي
ُ
ُِنيِّدلا
ُ
Terjemahnya:Pemilik hari pembalasan.33
Al-T{abari> menuliskan bahwa para Qura>’ berbeda dalam membaca
ُ
ُِمْوَ ي
ُ
ُِكِلاَم
ُِنيِّدلا
ada yang membacaُِنيِّدلا
ُ
ُِمْوَ ي
ُ
ُِكِلاَم
, dan ada yang membacaُِنيِّدلا
ُ
ُِمْوَ ي
ُ
ُِكِل
َُم
. Al-T{abari> menganalisis kedua bacaan tersebut dari segi bahasanya dan kesesuianya dengan penafsiran, lalu memilihُِنيِّدلا
ُ
ُِمْوَ ي
ُ
ُِكِل
َُم
sebagai bacaan yang lebih utamadibandingkan dengan yang lainnya. Dengan alasan, meskipun
ُِكِلاَم
danُِكِلَم
tetapiyang paling tepat digunakan adalah
ُِكِلَم
karena sebagaimana diketahui bahwa tidakada
ُِكِلَم
kecuali dia jugaكِلاَم
, dan terkadangُِكِلاَم
bukanكلم
.34Dalam menjelaskan kosa kata yang sulit, ia menggunakan syiʻr klasik arab. Selain itu, ia juga memberikan perhatian yang besar dalam persoalan gramatikal bahasa arab (nah}wu) dalam tafsirnya. Dalam hal gramatikal bahasa arab ini,
al-T{abari> menyebutkan pendapat al-nuh}a> dari Kufa dan Basrah.35
Al-T{abari> juga banyak menyinggung persoalan fikih dalam tafsirnya, ia mengungkapkan pendapat-pendapat dari mazhab-mazhab, lalu mengkritisi dan menganalisis tiap pendapat dan mazhab, pada akhirnya ia memilih pendapat dan
33Kementrian Agama RI, Al-Qur’an dan Terjemahnya, h. 1.
34Abu> Jaʻfar Muh}ammad Ibn Jari>r Ibn Yazi>d Ibn Kas\i>r al-T{abari>, Ja>miʻ al-Baya>n ‘an Ta’wi>l
A>y al-Qur’a>n, Juz 1, h. 150.
35Muh}ammad ‘Ali> al-H{asan, Al-Mana>r fi> ‘Ulu>m al-Qur’a>n maʻa Madkhal ila> Usu>l al-Tafsi>r
mazhabnya sendiri. Hal ini bukanlah seseatu yang anek, sebab al-T{abari> memang
seorang mujtahid yang mempunyai mazhab tersendiri.36
Dalam tafsir T{abari>, banyak membahas tentang kala>m. Seringkali al-T{abari> mengkritik ajaran-ajaran Mu’tazilah dan Qadariyah, khususnya pada ayat-ayat s}ifa>t.37
Al-T{abari> sering menukil isra>’i>liyat khususnya dalam menafsirkan ayat-ayat yang tentang kisah-kisah nabi terdahulu, khususnya nabi-nabi dari bani israel.38
Dari uraian di atas tampak betapa komprehensifnya tafsir al-T{abari>, sehingga untuk menentukan corak tafsirnya sulit. Intinya tasfir al-T{abari> sesuai dengan judulnya yaitu “Ja>miʻ al-Baya>n ‘an Ta’wi>l A>y al-Qur’a>n”, merupakan kumpulan dari penjelasan ayat-ayat al-Qur’an. Al-T{abari> menjelaskan semua aspek yang terkandung dalam suatu ayat.
Mengenai sistematika penyusunan kitabya, al-T{abari> memulainya dengan muqaddimah. Sebelum masuk ke penafsiran surah dan ayat, al-T{abari> terlebih dahulu memaparkan hal-hal yang berkaitan dengan tasfir atau mungkin bisa disebut sebagai Usu>l al-Tafsi>r. Bisa dikatakan bagian awal tasfir al-T{abari> yang memuat
Usu>l al-Tafsi>r merupakan pengantar sebelum memasuki tafsir surah dan ayat-ayat
al-Qur’an. Setelah itu, al-T{abari> memulai penafsirannya dengan makna dengan surat al-Fa>tih}ah/1 sampai pada QS al-Nas/144.
36Muh}ammad ‘Ali> al-H{asan, Al-Mana>r fi> ‘Ulu>m al-Qur’a>n maʻa Madkhal ila> Usu>l al-Tafsi>r
wa Mas}a>dirihi, h. 265.
37Muh}ammad ‘Ali> al-H{asan, Al-Mana>r fi> ‘Ulu>m al-Qur’a>n maʻa Madkhal ila> Usu>l al-Tafsi>r
wa Mas}a>dirihi, h. 265.
38Muh}ammad ‘Ali> al-H{asan, Al-Mana>r fi> ‘Ulu>m al-Qur’a>n maʻa Madkhal ila> Usu>l al-Tafsi>r
15
BAB III PENUTUP
A. Kesimpulan
Berdasarkan uraian pada bab sebelumnya, maka dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut:
1. Al-T{abari> beranama lengkap Muh}ammad Ibn Jari>r Ibn Yazi>d Ibn Kas\i>r al-Amuli> al-T{abari>. Ia lahir di Amol, Thabaristan, sebab itulah ia dikenal dengan sebutan al-T{abari>, dinisbahkan ke tanah kelahirannya. Al-T{abari> lahir pada tahu 224 H, ada juga yang mengatakan 225 H. Ia merupakan salah satu ulama besar, mempunyai integritas keilmuan dan pribadi yang diakui, sebab itu ia diberi gelar sebagai Ima>m, H{a>fiz}, dan ‘Ilm. Keilmuan seorang al-T{abari> sangat paripurna, hal ini tidak lepas dari keseriusannya dalam menuntut ilmu. Bahkan ia melakukan pengembaraan ilmiah ke kota-kota Islam pada masanya untuk berguru pada ulama-ulama di kota-kota yang ia datangi. Al-T{abari> satu dari sekian ulama yang sangat produktif dalam menulis, banyak karya-karya yang ia hasilkan di berbagai disiplin ilmu. Di antara karyanya yang paling monumental adalah “Ja>miʻ al-Baya>n ‘an Ta’wi>l A>y al-Qur’a>n” atau yang populer dikenal dengan Tafsi>r al-T{abari>. Al-T{abari> wafat pada tahun 310 H di Bagda>d.
2. Ja>miʻ al-Baya>n ‘an Ta’wi>l A>y al-Qur’a>n merupakan judul dari kitab tafsir karya al-T{abari>. Kitab tersebut merupakan kitab tafsir tertua yang masih ada sampai saat ini. Tafsir al-T{abari> tersebut merupakan tafsi>r bi al-maʻs\u>r. Dalam menafsirkankan al-Qur’an al-T{abari> menyesuaikan dengan susunan ayat dalam mushaf dan menjelaskan ayat demi ayat dari berbagai aspek yang dikandung oleh ayat tersebut. Karena itu, tafsir al-T{abari> dapat dikategorikan sebagai tafsi>r tah}li>li>.
Pada tafsir al-T{abari> tidak ada corak yang dominan dan mencolok, hal ini disebabkan karena al-T{abari> menjelaskan semua aspek yang berkaitan dengan ayat yang sedang ditafsirkan, nyaris tidak ada yang dilewatkan, baik dari segi bahasa, bacaan, hukum fikih, persoalan kalam dan sebagainya.
Dalam tafsirnya al-T{abari> juga menggunakan isra>’i>li>yat dalam menafsirkan ayat-ayat yang berkaitan dengan kisah nabi-nabi terdahulu atau umat-umat terdahulu.
Al-T{abari> tidak serta merta langsung menafsirkan al-Qur’an di dalam kitabnya. Namun terlebih dahulu memberikan pengantar terkait ilmu tafsir sebelum menafasirkan ayat demi ayat di dalam al-Qur’an.
B. Implikasi
Implikasi dari makalah ini secara teoritis diharapkan memiliki konstribusi dalam pengembangan kajian keislaman terkhusus dalam bidang ilmu-ilmu al-Qur’an dan tafsir. Lebih rinci lagi pembahasan pada makalah ini yaitu, Manhaj Tafsi>r al-T{abari>. Adapun secara praktis, diharapkan makalah ini dapat berkonstribusi pada mahasiswa Pascasarjana UIN Alauddin Makassar, khususnya konsentrasi ilmu al-Qur’an dan ilmu hadis.
Tentu dalam makalah ini masih banyak kekurangan, olehnya itu diharapkan saran dan kritikan yang konstruktif demi kesempurnaan penulisan berikutnya.
17
DAFTAR PUSTAKA
Al-Qur’an al-Karim
A<li> Jaʻfar, Musa>ʻid Muslim dan Muh{yi> Hila>l al-Sirh}a>n. Mana>hij al-Mufassiri>n. [t.t.]: Da>r al-Maʻrifah, 1980.
Amaruddin. “Mengungkap Tafsir Jami’ al-Bayan fi Tafsir Al-Qur’an Karya Ath-Thabari”. Jurnal Syahadah 2, no. 2 (Oktober 2014): h. 5-15.
al-Bagda>di>, Abu> Bakr Ah}mad Ibn ‘Ali> Ibn S|a>bit Ibn Ah}mad Ibn Mahdi> al-Khati>b. Ta>rikh Bagda>d, Juz 2. Bairu>t: Da>r al-Kutub al-‘Ilmiyah, 1417 H).
al-Bukha>ri>, Abu> ‘Abd Allah Muh}ammad Ibn Isma>ʻi>l. S{ah}i>h} al-Bukha>ri>, Juz 4. [t.t.]: Da>r T{auq al-Naja>h, 1422 H.
al-H{amawi>, Syiha>b al-Di>n Abu> ‘Abd Allah Ya>qu>t Ibn ‘Abd Allah al-Ru>mi>. Muʻjam al-Adibba>, Juz 6. Bairu>t: Da>r al-Garb al-Isla>mi>, 1993 M/1414 H.
al-H{asan, Muh}ammad ‘Ali>. Al-Mana>r fi> ‘Ulu>m al-Qur’a>n maʻa Madkhal ila> Usu>l al-Tafsi>r wa Mas}a>dirihi. Bairu>t: Mu’assasah al-Risa>lah, 2000 M/1421 H. al-H{ausya>n, Yu>suf Ibn H{amu>d. “Al-A<s\a>r al-Wa>ridah ‘an al-Salf fi> al-Yahu>d fi>
Tafsi>r al-T{abari>: Jamʻan wa Dira>sah”. Risa>lah al-Duktu>rah. Riya>d}: Kulliyah Usu>l al-Di>n, Ja>miʻah al-Ima>m Muh}ammad Ibn Saʻu>d al-Isla>miyah, 1424 H. Ibn Kas\i>r, Abu> al-Fada> Isma>ʻi>l Ibn ‘Umar. Al-Bida>yah wa al-Niha>yah, Juz 11. [t.t]:
Da>r al-Fikr, 1986 M/1407 H.
al-Jawwa>d, ‘Abd al-Jawwa>d Khalf Muh}ammad ‘Abd. Madkhal ila> al-Tafsi>r wa ‘Ulu>m al-Qur’a>n. Al-Qa>hirah: Da>r al-Baya>n al-‘Arabi>, [t.th.].
Kementrian Agama RI. Al-Qur’an dan Terjemahnya. Cet. III; Solo: Tiga Serangkai Pustaka Mandiri, 2013 M/1434 H.
Mah}mu>d, Mani>ʻ Ibn H{ali>m. Mana>hij Mufassiri>n. Al-Qa>hirah: Da>r Kita>b al-Mas}ri>, 2000 M/1421 H.
Suyu>t}i>, ‘Abd Rah}ma>n Ibn Abu> Bakr Jala>l Di>n. T{abaqa>t Mufassiri>n al-‘Isyri>n. Al-Qa>hirah: Maktabah Wahbah, 1396 H.
al-Syubl, Ali> Ibn ‘Abd al-‘Azi>z. “Kutub al-Ima>m al-T{abari> wa A<s\a>ruhu”.
Al-Alu>kah. http://www.alukah.net/culture/0/80326/ (14 Okrober 2017).
al-T{abari>, Abu> Jaʻfar Muh}ammad Ibn Jari>r Ibn Yazi>d Ibn Kas\i>r Ja>miʻ al-Baya>n ‘an Ta’wi>l A>y al-Qur’a>n, Juz 1. Bairu>t: Mu’assasah al-Risa>lah, 2000 M/1421 H.
“Thabaristan”. Wikipedia Ensiklopedia Bebas.
https://id.wikipedia.org/wiki/Thabaristan (14 Oktober 2017). Yusuf, Kadar M. Studi Alquran. Jakarta: Amzah, 2009.
al-Z|ahabi, Muh}mmad Sayyid H{usain. Tafsi>r wa al-Mufassiru>n, Juz 1. Al-Qa>hirah: Maktabah Wahbah, [t.th.].
---. ‘Ilm al-Tafsi>r. Al-Qa>hirah: Da>r al-Maʻa>rif, [t.th.].
al-Z|ahabi>, Syams al-Di>n Abu> ‘Abd Allah Muh}ammad Ibn Ah}mad Ibn ‘Us\ma>n Ibn Qaima>z. Taz\kirah al-H{uffa>z}, Juz 2. Bairu>t: Da>r al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 1998 M/1419 H.
al-Zarkasyi>, Abu> ‘Abd Allah Badr al-Di>n Muh}ammad Ibn ‘Abd Allah. Al-Burha>n
fi> ‘Ulu>m al-Qur’a>n, Juz 2. Al-Qa>hirah: Da>r al-Kutub al-‘Arabiyyah, 1957