• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN. karena dampak negatif terhadap lingkungan belum dirasakan. Seiring dengan

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB I PENDAHULUAN. karena dampak negatif terhadap lingkungan belum dirasakan. Seiring dengan"

Copied!
17
0
0

Teks penuh

(1)

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

Tren di industri pariwisata mengalami perubahan setiap masa. Pada era tahun 1960-an pariwisata dianggap sebagai suatu industri yang berada pada tahap ideal, karena dampak negatif terhadap lingkungan belum dirasakan. Seiring dengan perkembangan pariwisata di tahun 1970-an mulai bermunculan kritik terhadap pariwisata oleh berbagai kalangan mulai dari ahli, akademisi, dan pemerhati lingkungan yang menganggap pertumbuhan industri pariwisata pada skala besar

(mass tourism) ternyata berdampak negatif terhadap ekonomi, sosial budaya, maupun

lingkungan. Pemikiran-pemikiran tersebut kemudian mengantarkan munculnya pariwisata alternatif yang dimulai pada era 1980-an hingga sekarang dengan mengarahkan pengembangan pariwisata berkelanjutan (sustainable tourism) yang memiliki ciri berkontribusi terhadap kesejahteraan masyarakat lokal dan ramah terhadap lingkungan (Mowforth dan Munt, 1998; Tirtawati, 2009 dalam Giriwati, 2014: 1).

Aktivitas ekowisata saat ini tengah menjadi tren yang menarik yang dilakukan oleh wisatawan baik lokal maupun mancanegara untuk menikmati bentuk-bentuk wisata yang berbeda dari biasanya (Satria, 2009 dalam Latupupa, 2015). Adanya minat kunjungan ke kawasan konservasi dengan motivasi memperoleh tambahan pengetahuan dan pengalaman secara langsung di alam memberikan peluang bagi

(2)

kawasan pelestarian alam dalam memanfaatkan peluang tren yang ada sebagai destinasi tujuan wisatawan (Fandeli dan Mukhlison, 2000). Beberapa kawasan konservasi di Indonesia hampir sebagian besar memiliki kontribusi positif dalam perkembangan ekowisata, misalnya Taman Nasional Gunung Ciremai yang mengalami peningkatan jumlah kunjungan yang cukup signifikan di mana selama kurun waktu lima tahun dari (2007-2011) mengalami peningkatan dari 8.478 menjadi 331.258 wisatawan (Lucyanti, 2013 dalam Latupupa, 2015), Taman Nasional Bukit Tigapuluh berdasarkan data hasil observasi 2006-2010, mengalami peningkatan dari 1016 menjadi 2233 pengunjung (Haryono, 2010 dalam Latupupa, 2015), Taman Nasional Bali Barat sejak 2010-2013, mengalami peningkatan kunjungan pertahunnya lebih dari tiga puluh ribu wisatawan (Suramenggala, 2013 dalam Latupupa, 2015)

Ekowisata merupakan alternatif wisata alam yang mengedepankan aspek konservasi terhadap lingkungan, budaya, sejarah, dan peran aktif penduduk lokal untuk terlibat langsung dalam kegiatan ekowisata tersebut. Kegiatan ekowisata akhir-akhir ini menjadi tren baru berwisata oleh para pelaku pariwisata yang telah jenuh dengan konsep pariwisata yang telah ada. Kegiatan go green yang sedang dikampanyekan belakangan ini dianggap cocok dengan konsep ekowisata ini.

Banten pada awalnya adalah bagian dari Provinsi Jawa Barat namun memisah diri pada tahun 2000. Saat ini umur dari provinsi ini baru saja 16 tahun, namun potensi pariwisata yang dimiliki oleh Provinsi Banten saat berlimpah mulai dari

(3)

wisata budaya, wisata industri, wisata religi, dan wisata alam. Berbicara tentang wisata alam Provinsi Banten memiliki satu taman nasional yaitu Taman Nasional Ujung Kulon.

Taman Nasional Ujung Kulon adalah taman nasional yang pertama diresmikan di Indonesia. Taman Nasional Ujung Kulon juga telah diresmikan sebagai salah satu situs warisan dunia yang dilindungi oleh UNESCO pada tahun 1991, karena wilayahnya mencakupi hutan lindungi hutan lindung yang sangat luas yang merupakan habitat dari badak. Taman Nasional Ujung Kulon terdiri dari beberapa pulau atau berupa satu kepulauan. Taman Nasional Ujung Kulon yang berupa kepulauan tentu memiliki banyak potensi di setiap pulaunya.

Daerah Ujung Kulon merupakan suatu cagar alam yang pengelolaannya berada di bawah Balai Taman Nasional Ujung Kulon, Kementrian Kehutanan dan Lingkungan Hidup yang berlokasi di Labuan. Keberadaan cagar alam dengan kekayaan dalam dunia fauna dan floranya ditambah dengan keindahan laut dengan ikan hias dan terumbu karangnya, membuat kawasan ini dapat dikembangkan sebagai destinasi wisata.

Potensi wisata daerah Ujung Kulon tidak hanya dalam hutan dan laut berserta penghuninya, tetapi juga dalam peninggalan sejarahnya. Dalam hal ini keberadaan reruntuhan mercusuar dan bangunan-bangunan lainnya merupakan suatu saksi, bahwa di dearah Semenanjung Ujung Kulon pernah berlangsung kegiatan manusia. Kehadirannya dengan demikian akan menarik bagi wisatawan untuk melihat

(4)

tinggalan yang ada dan untuk mengtahui latar belakang sejarah dan nilai kulturalnya. Taman Nasional Ujung Kulon terbagi menjadi 3 Seksi Pengelolaan wilayah. Seksi pengelolaan wilayah I bertanggung jawab atas Wilayah Pulau Panaitan dan segala yang ada di dalam pulau. Seksi pengelolaan wilayah II bertanggung jawab atas wilayah Semenanjung Ujung Kulon dan beberapa pulau yang berada di sekitar Semenajung Ujung Kulon termasuk Pulau Peucang dan Pulau Handeuluem. Seksi Pengelolaan Wilayah III bertanggung jawab atas wilayah Gunung Honje. Seksi Pengelolaan Wilayah II merupakan seksi dengan aktivitas wisata terbanyak karena Seksi ini menjadi pusat tujuan wisatawan namum aktivitas wisatawan tergolong monoton. Wisatawan yang datang melakukan trekking untuk melihat keindahan alam. Tujunan wisatawan selama ini hanya pada pulau peucang dan handeuluem yang mana dua tempat ini sangat jauh dari jangkauan masyarakat.

Seksi Pengelolaan Wilayah III merupakan seksi dengan aktifitas kemasyarakatan terbesar karena seksi ini bersinggungan langsung dengan masyarakat. Aktifits yang dilakukan oleh taman nasional adalah penyuluhan tentang konservasi dan penindakan bagi masyarakat yang melanggar aturan yang sudah ditetapkan.

Seksi Pengelolaan Wilayah II dan III Taman Nasional Ujung Kulon tidak saling menopang satu sama lain. Masyarakat di sekitar Taman Nasional Ujung Masih tidak merasakan dampak dari aktivitas wisata di Seksi Pengelolaan Wilayah II. Masyarakat sekitar taman nasional cenderung melakukan eksploitasi sumber daya alam yang ada di taman nasional. Penyerapan tenaga kerja masyarakat di bidang wisata masih

(5)

kurang dan masyarakat tidak merasakan dampak ekonomi dari kegiatan wisata. Kerena seksi pengelolaan wilayah II dan III taman nasional ujung kulon memiliki banyak potensi sumber daya alam dan manusia seperti yang disebutkan di atas, Saya memilih judul “Potensi Seksi Pengelolaan Wilayah II dan III Taman Nasional Ujung Kulon Banten sebagai Destinasi Ekowisata”

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas maka penulis merumuskan masalah dengan judul "Potensi Seksi Pengelolaan Wilayah II dan III Taman Nasional Ujung Kulon Banten sebagai Destinasi Ekowisata”. Melalui rumusan masalah tersebut maka pertanyaan penelitian dapat dijabarkan sebagai berikut:

a. Apa sajakah daya tarik wisata di Seksi Pengelolaan Wilayah II dan III Taman Nasional Ujung Kulon?

b. Bagaimanakah potensi Seksi Pengelolaan Wilayah II dan III Taman Nasional Ujung Kulon sebagai destinasi ekowisata?

c. Bagaimanakah strategi Seksi Pengelolaan Wilayah II dan III Taman Nasional Ujung Kulon sebagai destinasi ekowisata?

1.3 Tujuan Penelitian

Adapun tujuan penelitian ini adalah sebagai berikut:

a. Mengetahui daya tarik wisata di Seksi Pengelolaan Wilayah II dan III Taman Nasional Ujung Kulon.

(6)

b. Mengetahui potensi Seksi Pengelolaan Wilayah II dan III Taman Nasional Ujung Kulon sebagai destinasi ekowisata.

c. Mengetahui strategi Pengelolaan Wilayah II dan III Taman Nasional Ujung Kulon sebagai destinasi ekowisata.

1.4 Manfaat Penelitian

Adapun manfaat penelitian ini adalah sebagai berikut:

a. Bagi Balai Taman Nasional Ujung Kulon, sebagai masukan dan pertimbangan bagi pengelola dalam pengembangan Taman Nasional Ujung Kulon.

b. Bagi Penulis, Hasil penelitian ini dapat bermanfaat bagi penulis dalam memperdalam ilmu pengetahuan dalam bidang pengembangan wisata. Hasil penelitian ini dapat mendewasakan pikiran mahasiswa dalam menuangkan gagasan guna pengembangan masyarakat. Menambah pengetahuan tentang wisata di Taman Nasional Ujung Kulon.

1.5 Tinjauan Pustaka

Adapun tinjauan pustaka yang berkaitan dengan judul di antaranya sebagai berikut:

a. Dalam Tugas Akhir yang disusun oleh Fera Yulianti Program Studi Diploma Kepariwisataan Sekolah Vokasi Universitas Gadjah Mada tahun 2014 berjudul

(7)

“Inventarisasi Potensi Budaya Kampung Naga Sebagai Daya Tarik Wisata di Tasikmalaya”, yang berisi tentang potensi budaya yang menjadi daya tarik wisata di Kampung Naga serta peran pemerintah dan masyarakat terhadap Kampung Naga sebagai daya tarik wisata di Tasikmalaya.

b. Dalam Tesis yang disusun oleh Kornelia Webliana B Program Studi Kehutanan Fakultas Ilmu Kehutanan Universitas Gadjah Mada Tahun 2014 “Studi Potensi Atraksi Wisata Dalam Pengembangan Pariwisata Alam di Taman Nasional Komodo dan Sekitarnya (Studi Kasus di Pantai Pede dan Desa Komodo, Kabupaten Manggarai Barat)” yang berisi tentang evaluasi potensi yang menarik dilakukan oleh evaluasi langsung terhadap objek. Dari hasil evaluasi, hasilnya menunjukkan bahwa nilai Pantai Pede layak untuk dikembangkan. Wisatatawan yang dating ke pantai pade dan kampong komodo yang bertujuan untuk rekreasi merasa puas dan menginginkan dating kembali.

c. Dalam Tesis yang disusun oleh Herturiansyah Program Studi Ilmu Program Pascasarjana Kehutanan Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada tahun 2011 “Kajian Satwa Liar untuk Pengembangan Ekowisata di Taman Nasional Bukit Tigapuluh” yang berisi tentang Taman Nasional Bukit Tiga Puluh memiliki keanekaragaman hayati flora dan fauna cukup tinggi. Satwa liar memiliki potensi yang tinggi untuk pengembangan ekowisata.

Berdasarkan hasil penelitian dengan menggunakan metode strip transek (penelusuran jalan) dan metode daftar jenis Mackinnon, tercatat sebanyak 49

(8)

jenis burung dan 8 jenis mamalia. Beberapa potensi objek daya tarik pendukung ekowisata yang terdapat di lokasi wisata camp granit terdiri dari objek alami dan artifisial, yaitu antara lain: 1) panorama alam, 2) air terjun granit, 3) danau kecil/telaga, 4) pohon mersawa raksasa, 5) rumah pohon, 6) pusat informasi, 7) sungai, 8) kolam renang.

Setelah melihat semua tinjauan di atas saya menyatakan bahwa Tugas Akhir dengan judul “Potensi Seksi Pengelolaan Wilayah II dan III Taman Nasional Ujung Kulon sebagai Destinasi Ekowisata” belum pernah ada yang membuat.

1.6 Landasan Teori 1.6.1 Ekowisata

Ekowisatawan atau ecotourist dalam pengertian internasionalnya, merupakan wisatawan yang berniat untuk mendapatkan pengalaman berwisata yang berbeda dengan pengalaman wisata yang biasa dengan cara mengunjungi tempat-tempat yang tidak lazim untuk dikunjungi, serta diasumsikan sudah memahami prinsip yang harus ditaati dalam melakukan kunjungan kesuatu lingkungan alami sesuai dengan prinsip yang terkandung dalam konsep ekowisata (Darsoprayitno, 2002).

Iwan Nugroho (2011: 132) menjelaskan, tujuan wisata khususnya ekowisata merupakan komponen terpenting yang diharapkan memberikan kepuasan, pengalaman berkesan atau gagasan atau pemikiran baru kepada wisatawan. Seorang

(9)

pengunjung dengan pengalamannya tersebut bukan tidak mungkin selain akan ikut mempromosikan juga akan tertarik secara langsung berbisnis atau berinvestasi mengembangkan tempat tujuan tersebut. Pengalaman memperlihatkan bahwa sentuhan bisnis oleh wisatawan asing khususnya dapat memperbaiki manajemen dan meningkatkan industri wisata.

Di tengah dinamika ekonomi dunia yang tidak menentu menyebabkan krisis ekonomi, serta globalisasi, telah berkembang sebuah jenis wisata yang memberikan alternatif solusi terciptanya kesejahteraan bagi masyarakat. Jenis wisata tersebut dikenal dengan ecotourism atau ekowisata. Ekowisata merupakan suatu bentuk wisata yang bertanggung jawab terhadap kelestarian area yang masih alami, memberi manfaat secara ekonomi, dan mempertahankan keutuhan budaya bagi masyarakat setempat. Atas dasar definisi tersebut, bentuk ekowisata pada dasarnya merupakan bentuk gerakan konservasi (Fandeli dan Mukhlison, 2000).

Indonesia memiliki potensi keindahan serta kekayaan alam yang memiliki nilai tinggi dalam pasar wisata alam, khususnya ekowisata. Sebagai salah satu bentuk wisata yang sedang tren, ekowisata mempunyai ciri khas tersendiri yakni mengedepankan konservasi lingkungan, kesejahteraan penduduk lokal dan menghargai budaya lokal. Taman nasional sebagai kawasan pelestarian alam memiliki potensi Sumber daya alam hayati dan ekosistemnya yang melimpah merupakan salah satu dari bagian pengembangan ekowisata. Taman nasional yang menawarkan wisata ekologis banyak diminati wisatawan, hal tersebut terjadi karena telah muncul

(10)

pergeseran paradigma kepariwisataan internasional dari bentuk pariwisata masal

(mass tourism) ke wisata minat khusus yakni ekowisata (Nugroho, 2011).

1.6.2 Destinasi Wisata

Destinasi wisata atau daerah tujuan wisata menurut Undang-undang Republik Indonesia Nomor 9 Tahun 2009 adalah kawasan geografis yang berada dalam satu atau beberapa wilayah administratif yang mempunyai daya tarik wisata, fasilitas umum, fasilitas pariwisata, aksesbilitas, serta masyarakat yang saling berinteraksi dan terkait dalam pemenuhan kebutuhan wisatawan.

Pada umumnya tempat berlibur merupakan destinasi wisata yang berskala lokal, nasional atau internasional dan memiliki daya tarik seperti keindahan alam, keunikan budaya, atraksi kesenian, dan hiburan. Penggolongan destinasi wisata berdasarkan daya tarik dan ciri-ciri destinasinya, yaitu:

1. Destinasi yang memiliki daya tarik sumber daya alam seperti pantai, hutan, sungai, goa, danau, dan air terjun,

2. Destinasi yang memiliki daya tarik sumber daya budaya seperti museum dan candi,

3. Destinasi yang memiliki daya tarik fasilitas rekreasi seperti taman hiburan, 4. Destinasi yang memiliki daya tarik peristiwa (event) seperti pesta kesenian

rakyat dan pasar malam,

(11)

Malioboro,

6. Destinasi yang memiliki daya tarik psikologis seperti wisata petualangan dan perjalanan romantis (Hadinoto, 1996:18; Pitana dan Diarta, 2009:126-127).

1.6.3 Atraksi/ Daya Tarik Wisata

Daya tarik wisata adalah segala sesuatu yang memiliki keunikan, keindahan, dan nilai yang berupa keanekaragaman kekayaan alam, budaya, dan hasil buatan manusia yang menjadi sasaran atau tujuan kunjungan wisatawan (Undang-undang RI Nomor 10 Th. 2009 Tentang Kepariwisataan: Bab I, Pasal 1). Daerah tujuan pariwisata tersebut selanjutnya disebut sebagai destinasi (Widianingrum, 2013).

Kegiatan wisata di sebuah wilayah tidak lengkap tanpa daya tarik wisata atau disebut tourist attractions. Daya tarik wisata merupakan fokus utama penggerak pariwisata di sebuah destinasi. Dalam arti, daya tarik wisata sebagai penggerak yang utama yang memotivasi wisatawan untuk mengujungi suatu tempat (Ismayanti, 2010).

Swarbrooke (1995) dalam Mahadewi (2012) menyatakan atraksi merupakan sektor yang sangat kompleks dalam industri pariwisata. Menurutnya ada beberapa buku yang khususnya membahas tentang atraksi ada beberapa definisi yang tidak semua dapat diterima secara umum. Berikut beberapa kutipan dari berbagai definisi tentang atraksi:

(12)

ditujukan kepada pengunjung, yang tujuan utamanya untuk memberikan hiburan, bersenang-senang, pendidikan, menyaksikan sesuatu yang menarik. Hal ini terbuka untuk umum tanpa harus ada pemesanan, harus di publikasikan setiap tahun dan dapat menarik wisatawan maupun masyarakat lokal setiap hari (Scottish Touris Board, 1991 dalam Mahadewi, 2012).

Atraksi juga merupakan sumber daya yang bersifat alami, dikontrol dan diatur untuk kegiatan bersenang- senang, hiburan, musik dan pendidikan, serta dikunjungi oleh publik (Middleton, 1988 dalam Mahadewi, 2012)

1.6.4 Pengertian SWOT

SWOT adalah akronim untuk kekuatan (strenghts), kelemahan (weakness), peluang (opportunities), dan ancaman (threats) dari lingkungan eksternal perusahaan. Menurut Jogiyanto (2005:46), SWOT digunakan untuk menilai kekuatan-kekuatan dan kelemahan-kelemahan dari sumber-sumber daya yang dimiliki perusahaan dan kesempatan-kesempatan eksternal dan tantangan-tantangan yang dihadapi. Sedangkan menurut David (2006:8), Semua organisasi memiliki kekuatan dan kelemahan dalam area fungsional bisnis. Tidak ada perusahaan yang sama kuatnya atau lemahnya dalam semua area bisnis. Kekuatan/kelemahan internal, digabungkan dengan peluang/ancaman dari eksternal dan pernyataan misi yang jelas, menjadi dasar untuk penetapan tujuan dan strategi. Tujuan dan strategi ditetapkan dengan

(13)

maksud memanfaatkan kekuatan internal dan mengatasi kelemahan. Berikut ini merupakan penjelasan dari SWOT menurut David, (2006) yaitu:

a) Kekuatan (Strenghts)

Kekuatan adalah Sumber daya, keterampilan, atau keungulan-keungulan lain yang berhubungan dengan para pesaing perusahaan dan kebutuhan pasar yang dapat dilayani oleh perusahaan yang diharapkan dapat dilayani. Kekuatan adalah kompetisi khusus yang memberikan keunggulan kompetitif bagi perusahaan di pasar.

b) Kelemahan (Weakness)

Kelemahan adalah keterbatasan atau kekurangan dalam sumber daya, keterampilan, dan kapabilitas yang secara efektif menghambat kinerja perusahaan. Keterbatasan tersebut dapat berupa fasilitas, sumber daya keuangan, kemampuan manajemen dan keterampilan pemasaran dapat meruoakan Sumber dari kelemahan perusahaan.

c) Peluang (Opportunities)

Peluang adalah situasi penting yang menguntungkan dalam lingkungan perusahaan. Kecendrungan–kecendrungan penting merupakan salah satu sumber peluang, seperti perubahaan teknologi dan meningkatnya hubungan antara perusahaan dengan pembeli atau pemasok merupakan gambaran peluang bagi perusahaan.

(14)

Ancaman adalah situasi penting yangtidak menguntungan dalam lingkungan perusahaan. Ancaman merupakan pengganggu utama bagi posisi sekarang atau yang diinginkan perusahaan. Adanya peraturan-peraturan pemerintah yang baru atau yang direvisi dapat merupakan ancaman bagi kesuksesan perusahaan.

1.7 Metode Penelitian

Penelitian kualitatif adalah prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan perilaku yang diamati (Moleong, 2000)

1.7.1 Jenis Data a) Data Primer

Data primer adalah data yang didapatkan melalui peninjauan dan observasi langsung di lapangan. Data primer yang didapatkan merupakan data utama yang digunakan untuk menyusun Laporan Tugas Akhir ini.

b) Data Sekunder

Data sekunder adalah data pendukung yang dipakai dalam penelitian dan penyusunan Laporan Tugas Akhir. Data ini dapat diambil melalui studi pustaka, literatur terkait penelitian, dokumen atau arsip yang

(15)

diperoleh di lokasi penelitian. Data tersebut dapat mendukung hasil observasi langsung yang dilakukan.

1.7.2 Teknik Pengumpulan Data a. Observasi

Dalam menyusun laporan ini penulis melakukan pengamatan langsung melalui program Praktek Kerja Lapangan di Seksi Pengelolaan Wilayah II dan III Taman Nasional Ujung Kulon, sehingga penulis dapat mengaplikasikan pengamatan ke dalam bentuk deskriptif maupun analisis data secara akurat.

b. Wawancara

Dalam penyusunan laporan ini juga menggunakan teknik wawancara kepada beberapa pihak guna mendukung data dalam laporan ini. Adapun orang yang saya wawancarai adalah Kepala Seksi Pengelolaan Wilayah II dan III, petugas di Lapangan, dan tamu Taman Nasional Ujung Kulon.

c. Dokumentasi

Dalam penyusunan laporan ini penulis mengumpulkan dokumentasi terkait Seksi Pengelolaan Wilayah II dan III Taman Nasional Ujung Kulon.

(16)

Untuk mendukung data dalam laporan ini, penulis juga mencari dan mempelajari kemudian menganalisa dari beberapa buku dan literatur denga pokok bahasan yang berhubungan dengan judul laporan yang telah penulis buat.

1.7.3 Metode Analis Data

Menurut Sugiyono (2005) menyatakan bahwa metode deskriptif adalah suatu metode yang digunakan untuk menggambarkan atau menganalisis suatu hasil penelitian tetapi tidak digunakan untuk membuat kesimpulan yang lebih luas.

1.8 Sistematika Penyusunan

Sistematika penulisan tugas akhir, terdiri dari 4 (empat) BAB yang akan di deskripsikan dan dipaparkan oleh penulis dalam penyusunan tugas akhir ini. Empat BAB tersebut adalah:

BAB I Pembahasan yang berisi Latar Belakang, Rumusan Masalah, Tujuan Penelitian, Manfaat Penelitian, Tinjauan Pustaka, Landasan Teori, Metode Penelitian, dan Sistematika Penulisan.

BAB II Penjelasan Gambaran Umum Penelitian Seksi Pengelolaan Wilayah II dan III Taman Nasional Ujung kulon.

BAB III Pembahasan Tentang Potensi Seksi Pengelolaan Wilayah II dan III Taman Nasional Ujung Kulon Banten Sebagai Destinasi Ekowisata.

(17)

Referensi

Dokumen terkait

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan menjelaskan kinerja yang dilakukan oleh Penyuluh Badan Seksi Pengelolaan Taman Nasional Wilayah II Bengkunat (SPTN II

Penelitian mengenai pengembangan pengelolaan melalui pendekatan daya dukung lingkungan dari nilai PCC, RCC dan ECC di kawasan konservasi taman Wisata Alam Telaga

Kegiatan ekowisata dapat dikembangkan pada kawasan dilindungi seperti taman nasional, taman wisata alam dan hutan lindung dengan prinsip ekowisata yang berkelanjutan,

197410121999031003 III/d Kepala Seksi Perlindungan, Pengawetan dan Perpetaan, Bidang Teknis Konservasi TN., Balai Besar Taman Nasional Gunung Gede Pangrango.

Sebagai hasil akhir dari penelitian ini akan dibuat model pengembangan pengelolaan TNBT berbasis pada potensi yang ada sesuai dengan azas-azas pembangunan kawasan taman

Zona pemanfaatan merupakan bagian taman nasional yang letak, kondisi, dan potensi alamnya dimanfaatkan untuk kepentingan pariwisata alam dan kondisi/jasa

Wilayah pedesaan sebagai unit perencanaan tersusun atas unsur-unsur penyusunan potensi wilayah yang meliputi sumber daya alam (SDA) dan sumber daya manusia(SDM)

Jika terdapat pengelolaan sumber daya alam secara bijaksana, terdapat pula pengelolaan lingkungan hidup yang kurang bijaksana. Kegiatan yang tidak