• Tidak ada hasil yang ditemukan

Dayat Hidayat, SPd., MPd. Pendidikan Luar Sekolah, FKIP-UNSIKA BAB I PENDAHULUAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Dayat Hidayat, SPd., MPd. Pendidikan Luar Sekolah, FKIP-UNSIKA BAB I PENDAHULUAN"

Copied!
74
0
0

Teks penuh

(1)

1

PEMBELAJARAN KETERAMPILAN FUNGSIONAL

DALAM MENINGKATKAN KETERAMPILAN WARGA BELAJAR KEJAR PAKET B DI PKBM HARAPAN DESA SUKAMULYA KECAMATAN CILAMAYA KULON

KABUPATEN KARAWANG

Dayat Hidayat, SPd., MPd. Pendidikan Luar Sekolah, FKIP-UNSIKA

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

Masyarakat menghadapi tantangan untuk mengembangkan diri untuk memajukan yang lebih baik. Untuk itu dibutuhkan tenaga-tenaga untuk mengadakan langkah-langkah usaha menggali serta menggunakan potensi masyarakat untuk keperluan memajukan kehidupan mereka. Identifikasi kebutuhan masyarakat dapat dilakukan oleh Lembaga sosial serta perorangan. Motivasi kehidupan berwirausaha dapat dilaksanakan oleh pihak-pihak yang telah menyusun rancangan pembelajaran keterampilan fungsional. Sedangkan pengem-bangan kehidupan berwirausaha depat dilaksanakan oleh pihak anggota masyarakat sendiri, baik secara perorangan maupun secara kelompok.

PKBM Harapan di desa Sukamulya kecamatan Cilamaya Kulon telah menyiapkan dan merintis pelaksanaan pembelajaran keterampilan fungsional untuk meningkatkan keterampilan warga belajarnya. Pelayanan utamanya berupa pelaksanaan program pendidikan singkat yang bertujuan untuk meningkatkan keterampilan warga belajar Kejar Paket B itu nantinya dapat mengembangkan kewirausahaan pada semua sasaran secara efisien. Dalam perkembangannya, pembelajaran keterampilan fungsional warga belajar Kejar Paket B di PKBM Harapan Desa Sukamulya kecamatan Cilamaya Kulon dilaksanakan dalam upaya menumbuhkembangkan jiwa wirausaha. Melalui pembelajaran keterampilan fungsional ini diharapkan warga belajar Kejar Paket B di PKBM Harapan dapat memiliki kemampuan keterampilan untuk berwirausaha secara maksimal.

Bertitik tolak dari uraian yang telah dikemukakan di atas, maka dilakukan penelitian tentang

“Pembelajaran Keterampilan Fungsional Dalam Meningkatkan Keterampilan Warga Belajar Program Kejar Paket B di PKBM Harapan desa Sukamulya Kecamatan Cilamaya Kulon Kabupaten Karawang”.

C. Perumusan dan Pembatasan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah di atas, penulis merumuskan masalah, yaitu : “bagaimanakah pembelajaran keterampilan fungsional program Kejar Paket B dalam meningkatkan keterampilan warga belajar program Kejar Paket B di PKBM Harapan desa Sukamulya kecamatan Cilamaya Kulon kabupaten Karawang”.

Berdasarkan rumusan masalah yang telah dikemukakan di atas, maka pertanyaan penelitian dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :

1. Bagaimanakah proses pembelajaran keterampilan fungsional bagi warga belajar program Kejar Paket B di PKBM Harapan desa Sukamulya?

2. Bagaimanakah hasil pembelajaran keterampilan fungsional bagi warga belajar program Kejar Paket B di PKBM Harapan desa Sukamulya?

3. Bagaimanakah faktor-faktor pendukung pembelajaran keterampilan fungsional B di PKBM Harapan desa Sukamulya?

D. Kerangka Pemikiran

Salah satu orientasi pendidikan luar sekolah diarahkan kepada pembelajaran keterampilan fungsional. Melalui pembelajaran keterampilan fungsional ini diharapkan warga belajar program Kejar Paket B di PKBM Harapan memiliki perilaku kewirausahaan yang tercermin dalam kepribadian yang memiliki kreativitas, disiplin diri, kepercayaaan diri, keberanian dalam menghadapi resiko, dorongan dan kemauan yang kuat untuk mengembangkan usahanya. Melalui pembelajaran keterampilan fungsional warga belajar program Kejar Paket B di PKBM Harapan memiliki kemampuan hubungan dengan orang lain yang secara operasional dapat dilihat dari indikator komunikasi dan hubungan antar personal, kepemimpinan dan manajemen, dan memiliki kemampuan pemasaran yang meliputi kemampuan dalam menentukan produk dan

(2)

2

harga, periklanan dan promosi. Kemampuan kewirausahaan yang diperoleh diharapkan dapat memberikan dampak terhadap peningkatan pendapatan usahanya.

Program pembelajaran keterampilan fungsional Kejar Paket B di PKBM Harapan diawali oleh perencanaan pembelajaran yang disesuaikan dengan program Kejar Paket B yang menekankan pada peningkatan keterampilan fungsional warga belajarnya. Proses pembelajaran keterampilan fungsional di PKBM Harapan mendapat respon atau tanggapan yang sangat baik dari warga belajar program Kejar Paket B, sebagai sarana untuk meningkatkan pengetahuan, sikap dan keterampilannya di bidang wirausaha. Pelaksanaan pembelajaran keterampilan fungsional kepada warga belajar program Kejar Paket B di PKBM Harapan dapat dilaksanakan dengan lancar sesuai dengan waktu yang telah ditetapkan. Proses pembelajaran keterampilan fungsional tersebut tercermin dalam kerangka pemikiran sebagai berikut :

Gambar 1 : Proses Pembelajaran Keterampilan Fungsional Warga Belajar Kejar Paket B

TINJAUAN PUSTAKA

A. Teori Pembelajaran 1. Pengertian Belajar

Belajar dapat diartikan sebagai suatu perubahan disposisi atau kemampuan seseorang yang dicapai melalui usaha orang itu. Perubahan itu bukan diperoleh secara langsung melainkan dari proses pertumbuhan dirinya secara alamiah. Kegiatan belajar merupakan usaha yang disengaja oleh seseorang untuk mencapai tujuan belajarnya, tujuan belajar belajar tersebut meliputi perubahan tingkah laku. Oleh karena itu, belajar dapat dikatakan sebagai suatu perubahan yang dilakukan meningkatkan disposisi dan kemampuan. Disposisi yang dimaksudkan disini adalah perubahan sikap, pengetahuan, keterampilan dan nilai atau aspirasi. Adapun yang dimaksud dengan kemampuan adalah wujud penampilan seseorang dalam lingkungan tertentu, misal dalam lingkungan pekerjaan atau kehidupannya pada umumnya.

“Belajar adalah setiap perubahan yang relatif menetap dalam tingkah laku yang terjadi sebagai suatu hasil dari latihan atau pengalaman” (Morgan dalam Ngalim Purwanto, 2008 : 84). Selanjutnya Whiterington dalam Ngalim Purwanto (2008 : 84) mengemukakan bahwa : “belajar adalah suatu perubahan di dalam kepribadian yang menyatakan diri sebagai suatu pola baru dari pada reaksi yang berupa kecakapan, sikap, kebiasaan, kepandaian, atau suatu pengertian.

John Travers (1972 : 281) dalam Djudju Sudjana (2004 : 69) mengemukakan bahwa : “belajar adalah suatu proses yang menghasilkan penyesuaian tingkah laku”. Sebelum merumuskan pengertian tersebut Travers membedakan belajar itu ke dalam dua macam, yaitu pertama belajar sebagai proses dan kedua belajar sebagai hasil. Belajar sebagai hasil adalah akibat wajar dari proses, atau proses menyebabkan hasil. Sebagai hasil belajar adalah perubahan tingkah laku yang diperoleh dari kegiatan belajar (Gagne, 1972; Coombs, 1985) Perubahan tingkah laku itu mencakup ranah afeksi, kognisi dan psikomotor (Bloom, 1965); koginisi, konasi dan keterampilan (Dunlop, 1984) pengetahuan, keterampilan dan aspirasi (Kinsey, 1978) (Djudju Sudjana 2004 : 6). Warga Belajar Kejar Paket B Harapan

Proses

pembelajaran keterampilan fungsional

Hasil :

1. Perubahan pengetahuan 2. Perubahan sikap 3. Perubahan Keterampilan

Dampak :

Peningkatan Keterampialn Berusaha

Masukan

sarana

Masukan

Lingkungan

(3)

3

Belajar sebagai hasil menurut Djudju Sudjana (2004 : 72) berpendapat sebagai sebagai berikut: Belajar sebagai hasil bermakna sebagai suatu kemampuan yang dicapai seseorang setelah melalui kegiatan belajar atau sesudah mengalami belajar sebagai proses. Melalui kegiatan belajar sebagai proses, seseorang dapat berpikir, merasakan dan bertindak di dalam dan terhadap kehidupannya.

Dari pernyataan di atas dapat disimpulkan bahwa belajar sebagai hasil merupakan perubahan tingkat pengetahuan, keterampilan dan sikap yang diperoleh melalui proses pembelajaran. Belajar sebagai hasil menurut banyak para pakar pendidikan sebagai hasil yang dicapai dalam setiap kegiatan pembelajaran. Hasil kegiatan pembelajaran meliputi aspek pengetahuan (cognitive), keterampilan (psicomotor) dan sikap

(affective). Hasil perubahan pengetahuan ialah pemilikan atau penambahan sesuatu yang dipelajari, misalnya

tentang mata pelajaran dalam bidang studi tertentu. Perubahan pengetahuan (cognitive) tersebut meliputi enam aspek, yaitu pengetahuan (knowledge), pengertian (comprehension) penerapan (application), analisis, sintesis dan evaluasi. Dalam aspek afektif, yaitu perubahan yang berhubungan dengan minat, sikap, nilai-nilai, penghargaan dan penyesuaian diri. Perubahan keterampilan dapat diartikan sebagai peningkatan kemampuan di bidang keterampilan sebgai hasil dari proses belajar.

3. Interaksi Komponen-Komponan Dalam Pembelajaran

Komponen-komponen pembelajaran dalam proses pendidikan luar sekolah menurut Djudju Sudjana (2004 : 33-34), adalah sebagai berikut :

Masukan sarana (instrumental input) meliputi keseluruhan sumber dan fasilitas yang memungkinan bagi seseorang atau kelompok dapat melakukan kegiatan belajar. Ke dalam masukan ini termasuk tujuan program, kurikulum, pendidik (tutor, pelatih, fasilitator), tenaga kependidikan lainnya, tenaga pengelola program, sumber belajar, media, fasilitas, biaya, dan pengelolaan program. Masukan mentah (raw input) yaitu peserta didik (warga belajar) dengan berbagai karakteristiknya yang dimilikinya, termasuk ciri-ciri yang berhubungan dengan faktor internal yang meliputi struktur kognitif, pengalaman, sikap, minat, keterampilan, kebutuhan belajar, aspirasi, dan lain sebagainya serta ciri-ciri yang berhubungan dengan faktor internal seperti keadaan keluarga dalam segi ekonomi, pendidikan, status sosial, biaya dan sarana belajar, serta cara dan kebiasaan belajar.

Masukan lingkungan (environmental input) yaitu faktor lingkungan yang menunjang atau mendorong berjalannya program pendidikan yang meliputi lingkungan keluarga, lingkungan sosial seperti teman bergaul atau teman bekerja, lapangan kerja, kelompok sosial dan sebagainya, serta lingkungan alam seperti iklim, lokasi, tempat tinggal baik di desa maupun kota. Masukan ini meliputi pula lingkungan daerah (regional), lingkungan nasional, dan bahkan lingkungan internasional. Proses yang menyangkut interaksi antara masukan sarana, terutama pendidik dengan masukan mentah, yaitu peserta didik (warga belajar). Proses ini terdiri atas kegiatan membelajarkan, bimbingan dan penyuluhan serta evaluasi. Kegiatan belajar-membelajarkan lebih mengutamakan pendidik untuk membantu agar peserta didik melakukan kegiatan belajar, dan bukan menekankan pada peranan mengajar.

Keluaran (out put) yaitu kuantitas lulusan yang disertai dengan kualitas perubahan tingkah laku yang didapat melalui kegiatan belajar-membelajarkan. Perubahan tingkah laku ini mencakup ranah kognitif, afektif, dan psikomotor yang sesuai dengan kebutuhan belajar yang mereka perlukan. Kinsey (1977) mengemukakan bahwa perubahan tingkah laku ini mencakup pengetahuan (knowledge), sikap (attitude), keterampilan (skills), dan aspirasi (aspiration)

Masukan lain adalah daya dukung lain yang memungkinkan para peserta didik dan lulusan dapat menggunakan kemampuan yang telah dimiliki untuk kemajuan kehidupannya. Masukan lain ini meliputi dana atau modal, lapangan kerja/usaha, informasi, alat dan fasilitas, pemasaran, lapangan kerja, paguyuban peserta didik (warga belajar), latihan lanjutan, bantuan eksternal, dan lain sebagaianya.

Pengaruh (impact) yang menyangkut hasil yang telah dicapai oleh peserta didik dan lulusan. Pengaruh ini meliputi antara lain : perubahan taraf hidup yang ditandai dengan perolehan pekerjaan, atau berwirausaha, perolehan atau peningkatan pendapatan, kesehatan, dan penampilan diri, kegiatan membelajarkan orang lain atau mengikutsertakan orang lain dalam memanfaatkan hasil yang telah ia miliki, dan peningkatan partisipasinya dalam kegiatan sosial dan pembangunan masyarakat, baik partisipasi buah pikiran, tenaga, harta benda dan dana.

B. Pembelajaran Keterampilan 1. Tipe Pembelajaran Keterampilan

Tipe kegiatan belajar keterampilan berfokus kepada pengalaman belajar di dalam dan melalui gerakan-gerakan yang dilakukan oleh warga belajar. Dalam psikologi belajar (Traver, 1970) dalam Djudju Sudjana (2004 : 87) dikemukakan bahwa : “gerak ini disebut dengan berbagai istilah di antaranya ialah motor

(4)

4

Keterampilan merupakan dasar bagi sebagian besar tingkah laku warga belajar. Kesulitan yang akan dialami oleh seseorang dalam belajar keterampilan itu antara lain dapat disebabkan karena cacat tubuh atau cara warga belajar yang salah. Hal ini akan mengakibatkan adalanya usaha penyesuaian warga belajar terhadap lingkungannya. Keterampilan dipelajari dengan cara-cara yang sama sebagaimana mempelajari jenis-jenis belajar lainnya.

Kegiatan belajar keterampilan gerak memiliki hubungan dengan keterampilan intelektual. Keterampilan intelektual berhubungan dengan kegiatan belajar untuk memecahkan masalah, melakukan penelitian, melakukan perencanaan, mengerjakan soal-soal statistik dan matematik, membuat proposal dan lain sebagainya. Ketermpilan gerak berhubungan dengan gerakan badan untuk menghasilkan sautu benda seperti kegiatan mengukir patung, membuat anyaman dan lain sebagainya.

Kedua macam keterampilan yang dikemukakan di atas, yaitu keterampilan gerak dan keterampilan intelektual, memiliki persamaan dalam situasi belajar. Selain itu ada pula perbedaannya antara keterampilan gerak dengan keterampilan intelektual, yaitu pada keterampilan intelektual lebih menekankan pada unsur intelekm sedangkan belajar gerak lebih mengutamakan pada gerakan badan.

2. Tujuan Pembelajaran Keterampilan

Dalam tipe belajar keterampilan diperlukan kejelasan tujuan dan proses kegiatan belajar. Untuk mengetahui kejelasan kegiatan belajar dalam tipe belajar keterampilan, menurut Djudju Sudjana (2004 : 91) diperlukan kondisi belajar sebagai berikut :

1. Tujuan dan manfaat keterampilan yang dipelajari harus diketahui dengan jelas oleh warga belajar. 2. Tingkat keberhasilan atau prestasi belajar yang akan dicapai dan ukuran penilaian hasil belajar perlu

dipahami oleh warga belajar.

3. Kegiatan belajar diawali dengan mendemontrasikan keterampilan yang dilakukan oleh sumber belajar yang memiliki keterampilan dalam keterampilan yang akan dipelajari.

4. Mulailah kegiatan belajar dengan latihan keterampilan dasar. 5. Tinjau kembali kegiatan belajar yang telah dilakukan.

6. Pada waktu kegiatan belajar berlangsung, sumber belajar mengatur waktu-waktu yang tepat untuk mempelajari pengertian, aturan, cara-cara, dan teknik yang berhubungan dengan keterampilan yang dipelajari.

7. Latihan perluasan diperlukan sebagai tambahan keterampilan yang dipelajari.

8. Kegiatan belajar keterampilan dilakukan dengan mendekatkan atau mengaitkan keterampilan dan penerapannnya dalam dunia kehidupan warga belajar.

9. Penilaian kegiatan dan hasil belajar pertlu dititik-beratkan pada penilaian oleh warga belajar yang dilakukan baik secara individual ataupun secara kelompok.

Dengan demikian pada proses pembelajaran keterampilan dapat diketahui bahwa tujuan dan manfaat keterampilan yang dipelajari harus diketahui dengan jelas oleh warga belajar. Tujuan belajar dihubungkan dengan kebutuhan yang dirasakan oleh warga belajar. Sedangkan manfaat belajar keterampilan dihubungkan dengan kehidupan mereka masa sekarang dan masa yang akan datang.

TUJUAN DAN MANFAAT PENELITIAN A. Tujuan Penelitian

Tujuan yang ingin dicapai dalam melakukan penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Untuk mengungkapkan data tentang proses pembelajaran keterampilan fungsional bagi warga belajar program Kejar Paket B di PKBM Harapan desa Sukamulya.

2. Untuk mengungkapkan data tentang hasil pembelajaran keterampilan fungsional bagi warga belajar program Kejar Paket B di PKBM Harapan desa Sukamulya.

3. Untuk mengungkapkan data tentang faktor-faktor pendukung pembelajaran keterampilan fungsional B di PKBM Harapan desa Sukamulya.

B. Manfaat Penelitian

Manfaat yang diharapkan dalam mengadakan penelitian ini adalah sebagai berikut :

1. Sebagai masukan untuk mengembangkan teori yang memiliki relevansi dengan masalah kegiatan yang sejenis, terutama tentang pembelajaran keterampilan fungsional B di PKBM Harapan desa Sukamulya. 2. Sebagai bahan masukan bagi pengurus program pembelajaran keterampilan fungsional, khususnya di

PKBM “Harapan” agar pelaksanaan pembelajaran keterampilan fungsional B di PKBM Harapan desa Sukamulya berjalan dengan baik dan mencapai hasil yang lebih optimal.

(5)

5

3. Sebagai sarana untuk menambah pengetahuan dan pengalaman bagi penulis yang berkaitan dengan masalah penelitian untuk mengembangkan kemampuan bagi program-program Pendidikan Luar Sekolah yang lebih luas.

METODE PENELITIAN

A. Pendekatan dan Metode Penelitian

Pendekatan yang digunakan dalam penelitian pembelajaran keterampilan fungsional bagi warga belajar program Kejar Paket B Harapan dalam meningkatkan keterampilannya adalah kualitatif dengan metode studi kasus. Pendekatan kualitatif ini digunakan untuk mengamati orang dalam lingkungan hidupnya, berinteraksi dengan mereka, memahami bahasa dan tafsiran mereka tentang dunia sekitarnya. Dengan demikian peneliti yang menggunakan pendekatan kualitatif harus turun langsung ke lapangan untuk mengamati subyek penelitian.

Berkaitan dengan penelitian tentang pembelajaran keterampilan fungsional bagi warga belajar program Kejar Paket B Harapan dalam meningkatkan keterampilannya peneliti memperhatikan fenomena- fenomena yang terjadi di lapangan, kemudian ditafsirkan dan diberi makna sesuai apa adanya dan berdasarkan ciri-ciri tersebut di atas serta sesuai dengan tujuan penelitian yaitu untuk menggambarkan variabel-variabel pelaksanaan, hasil, dan dampak pembelajaran keterampilan fungsional bagi warga belajar program Kejar Paket B Harapan dalam meningkatkan keterampilannya.

Metode penelitian studi kasus yang digunakan dalam penelitian ini berupaya untuk mengungkapkan kenyataan yang ada atau terjadi di lapangan untuk dipahami secara mendalam tentang pembelajaran keterampilan fungsional bagi warga belajar program Kejar Paket B Harapan.

Langkah-langkah yang dilakukan untuk mengungkapkan pelaksanaan pembelajaran keterampilan fungsional bagi warga belajar program Kejar Paket B Harapan ini adalah sebagai berikut :

1) Mencari informasi tentang prosedur proses pembelajaran keterampilan fungsional bagi warga belajar program Kejar Paket B Harapan.

2) Mencari informasi tentang hasil yang telah diperoleh warga belajar program Kejar Paket B Harapan setelah mengikuti pembelajaran keterampilan fungsional.

3) Mencari informasi tentang faktor-faktor pendukung pembelajaran keterampilan fungsional, baik yang berkaitan kemampuan sumber belajar, motivasi warga belajar Kajar Paket B, keadaan sarana dan prasarana, serta lingkungan masyarakat. Informasi ini diperoleh dari penyelenggara, warga belajar dan dokumen-dokumen hasil pembelajaran.

B. Subyek Penelitian

Untuk memperoleh informasi tentang pembelajaran keterampilan fungsional terhadap warga belajar program Kejar Paket B Harapan, subyek penelitian dipilih secara purposif (sesuai dengan tujuan). Dalam penelitian kualitatif tidak membutuhkan populasi dan sampel yang banyak. Sampel atau subyek penelitian biasanya sedikit dan dipilih sesuai tujuan (purposive) penelitian. Jumlah subyek penelitian tidak ditentukan secara ketat, tetapi tergantung kepada tercapainya redudancy, ketuntasan atau kejenuhan data, jadi cenderung bersifat snowball sampling.

Dalam penelitian tentang pembelajaran keterampilan fungsional terhadap warga belajar program Kejar Paket B Harapan, ditentukan bahwa subjek yang sesuai dengan tujuan penelitian adalah tiga orang warga belajar program Kejar Paket B Harapan. Agar mendapatkan data yang akurat dan tepat setelah mengumpulkan hasil observasi dan wawancara dengan ketiga sumber data primer, peneliti mengadakan triangulasi dengan salah seorang penyelenggara dan seorang sumber belajar yang memberikan materi pembelajaran keterampilan fungsional. Seluruh jumlah subyek dalam penelitian ini adalah lima orang.

C. Instrumen Penelitian

Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini antara lain observasi, wawancara mendalam (indepth interview), analisis dokumentasi sebagai sumber data triangulasi yang dapat dipertanggungjawabkan keabsahannya.

1. Teknik Observasi

Peneliti mengamati segala sesuatu yang terjadi selama kegiatan belajar, respon-respon yang dapat dicatat selama pembelajaran keterampilan fungsional terhadap warga belajar program Kejar Paket B Harapan berlangsung, hasil yang diperoleh dan dampaknya terhadap peningkatan keteampilan warga belajar program Kejar Paket B Harapan. Alat yang digunakan dalam observasi ini adalah panduan observasi, alat rekam suara, kamera foto, catatan sebagai dokumentasi.

(6)

6

2. Teknik Wawancara

Dalam penelitian ini wawancara dilakukan pada saat pelaksanaan pembelajaran keterampilan fungsional terhadap warga belajar program Kejar Paket B Harapan tentang :

1) Proses pembelajaran keterampilan fungsional terhadap warga belajar program Kejar Paket B Harapan. 2) Hasil pelaksanaan pembelajaran keterampilan fungsional terhadap warga belajar program Kejar Paket B

Harapan.

3) Faktor-faktor pendukung pembelajaran keterampilan fungsional warga belajar program Kejar Paket B Harapan.

3. Studi Dokumentasi

Studi dokumentasi ini diperlukan sebagai data sekunder untuk pengayaan data penelitian yang memiliki hubungan dengan tujuan penelitian, dan interpretasi sekunder terhadap kejadian-kejadian.

D. Tahap-Tahap Penelitian

Tahap-tahap penelitian kualitatif yang dilakukan meliputi tiga tahapan, yaitu sebagai berikut :

1. Tahap Orientasi

Kegiatan yang dilakukan dalam tahap ini adalah:

a. Melakukan studi pendahuluan dan penjajagan lapangan ke PKBM Harapan untuk mengidentifikasi permasalahan atau fokus penelitian.

b. Mempersiapkan berbagai referensi seperti ; buku, brosur dan referensi lainnya tentang program pembelajaran keterampilan fungsional..

c. Menyusun pra-desain penelitian.

d. Menyusun kisi-kisi penelitian dan pedoman wawancara. e. Mengurus perizinan untuk mengadakan penelitian.

2. Tahap Eksplorasi

Kegiatan yang dilakukan dalam tahap ini adalah:

a. Menerima penjelasan dari pihak penyelenggara program pembelajaran keterampilan fungsional terhadap warga belajar program Kejar Paket B Harapan.

b. Melakukan wawancara secara lisan kepada subyek penelitian untuk memperoleh inforinasi tentang pelaksanaan, hasil dan dampak pembelajaran keterampilan fungsional.

c. Menggali dokumentasi hasil pembelajaran keterampilan fungsional terhadap warga belajar program Kejar Paket B Harapan.

d. Menyusun catatan kasar hasil data yang terkumpul dari subyek penelitian.

e. Memilih, menyusun, dan mengelompokkan data sesuai jenis aspek-aspek penelitian. f. Menyempurnakan fokus permasalahan penelitian sesuai dengan tujuan penelitian.

3. Tahap Member Check

Pengecekan informasi dan data dapat dilakukan dengan cara :

a. Menyusun wawancara berdasarkan item-item pertanyaan, kemudian mengkonfirmasikan hasil wawancara tersebut kepada sumber belajar agar tidak ada kesalahan interpretasi dalam mendeskripsikan data.

b. Meminta koreksi hasil yang telah dicatat dari observasi dan wawancara kepada nara sumber.

c. Peningkatan validitas dan reliabilitas dilakukan dengan triangulasi akan kebenaran informasi dari nara sumber dengan informasi dari penyelenggara dan sumber belajar serta hasil pengamatan.

E. Teknik Analisis Data

Langkah-langkah tersebut meliputi :

1. Koleksi data.

Dalam mengoleksi data, penulis melakukan observasi, wawancara yang mendalam dengan subyek penelitian dan sumber infomasi, serta mencari dokumentasi hasil pembelajaran. Hasil observasi, wawancara dan dokumentasi dengan segera dituangkan penulis dalam bentuk tulisan dan dianalisis.

(7)

7

Reduksi data dilakukan dengan cara menelaah kembali seluruh catatan hasil observasi, wawancara dan dokumentasi. Pada tahap ini akan diperoleh hal-hal pokok yang berkaitan dengan fokus penelitian tentang pembelajaran keterampilan fungsional terhadap warga belajar program Kejar Paket B Harapan.

3. Display data.

Display data merupakan penyusunan hal-hal pokok yang sudah dirangkum secara sistematis sehingga diperoleh tema dan pola secara jelas tentang permasalahan penelitian agar mudah diambil kesimpulannya.

4. Kesimpulan dan verifikasi.

Tahap ini merupakan upaya untuk mencari makna dari data yang dikumpulkan dan memantapkan kesimpulan dengan cara member cheek atau triangulasi yang dilakukan selama dan sesudah data dikumpulkan.

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

1. Proses Pembelajaran Keterampilan Fungsional Bagi Warga Belajar Program Kejar Paket B di PKBM Harapan Desa Sukamulya

Pelaksanaan suatu pembelajaran keterampilan fungsional merupakan proses transformasi pengetahuan, sikap dan keterampilan dari sumber belajar kepada warga belajar Kejar Paket B. Pelaksanaan program pembelajaran keterampilan fungsional keripik jamur tidak terlepas dari kurikulum yang telah ditetapkan, yang meliputi tujuan pembelajaran keterampilan fungsional keripik jamur yaitu memberikan pengetahuan dan keterampilan budi daya jamur serta sikap kewirausahaan yang mendukung pengembangan usaha warga belajar Kejar Paket B di PKBM Harapan desa Sukamulya.

Pembelajaran keterampilan fungsional keripik jamur dilakukan untuk membangkitkan dan meningkatkan budaya belajar sebagai bagian dari aktifitas belajar sendiri sehingga tercipta warga belajar Kejar Paket B yang memiliki pengetahuan dan keterampilan budi daya jamur serta sikap kewirausahaan pembuatan keripik jamur yang mendukung pengembangan usaha warga belajar Kejar Paket B yang berdampak pada peningkatan kesempatan kerja dan pendapatan kehidupannya.

Materi pembelajaran keterampilan fungsional keripik jamur, adalah pengetahuan dan keterampilan tentang cara mengenal bahan dan alat yang digunakan dengan indikator mengenal jenis bahan dan jenis-jenis alat yang digunakan. Adapun pengalaman belajar yang diharapkan adalah mengenal bahan baku dan alat untuk membuat keripik jamur dengan hasil belajar yang diharapkan warga belajar Kejar Paket B mampu memilih bahan baku dan menggunakan alat yang diperlukan untuk mengolah keripik jamur.

Selanjutnya materi tentang pengetahuan dan keterampilan tentang cara mengolah bahan mentah menjadi bahan jadi dengan indikator praktek keterampilan. Adapun pengalaman belajar praktek membuat keripik jamur dengan hasil belajar yang diharapkan adalah mampu membuat keripik jamur, serta bagaimana cara memasarkan hasil produksi dengan indikator mampu menghitung laba rugi hasil pemasaran produksi keripik jamur. Adapun pengalaman belajar yang diharapkan adalah mampu menghitung modal bahan dan alat, menghitung biaya, dan menghitung laba/rugi dengan hasil belajar yang diharapkan adalah mampu menghitung laba dan rugi hasil pemasaran produksi keripik jamur.

Metode yang digunakan dalam pembelajaran keterampilan fungsional keripik jamur ini adalah kelompok. Teknik pembelajaran keterampilan fungsional keripik jamur yang digunakan antara lain : 1) ceramah, 2) tanya jawab, 3) demontrasi, 4) penugasan (drill), 5) kerja kelompok, dan 6) praktek lapangan. Media yang digunakan meliputi adalah buku-buku dan alat peraga.

Untuk mengukur keberhasilan proses pembelajaran keterampilan, sumber belajar selalu melaksanakan penilaian, baik yang berkaitan dengan penguasaan teori dan kemampuan praktek budi daya jamur.

2. Hasil Pembelajaran Keterampilan Fungsional Bagi Warga Belajar Program Kejar Paket B di PKBM Harapan Desa Sukamulya

Belajar termasuk kegiatan pembelajaran keterampilan itu adalah perubahan disposisi atau kemampuan seseorang yang dapat dicapai melalui upaya orang itu, dan perubahan itu bukan diperoleh secara langsung dari proses pertumbuhan dirinya secara ilmiah (Gagne, 1970 dalam Djudju Sudjana (2004 : 97). Hasil pembelajaran keterampilan budi daya ikan merupakan produk penyesuaian tingkah yang diperoleh warga belajar. John Travers (1972 : 281) dalam Djudju Sudjana (2004 : 98) mengemukakan bahwa : “belajar adalah suatu proses yang menghasilkan penyesuaian tingkah laku”. Belajar sebagai hasil adalah akibat wajar dari proses, atau proses menyebabkan hasil.

Bloom (1965) dalam Djudju Sudjana (2004 : 99-102) menyusun klasifikasi tujuan pendidikan

(taxonomy of educational objectives) yang meliputi tiga ketegori, yaitu :

1) Ranah kognitif yang mencakup : pengetahuan (knowledge), pengertian (comprehension), penerapan (application), analisis, sintesis, dan evaluasi.

(8)

8

2) Ranah afektif yang mencakup perubahan yang berhubungan minat, sikap, nilai-nilai, penghargaan dan penyesuaian diri.

3) Ranah keterampilan yang mencakup : keterampilan produktif (productive skills), keterampilan teknik (technical skills), keterampilan fisik (physical skills), keterampilan sosial (social skills), keterampilan pengelolaan (managerial skills), dan keterampilan intelek (intellectual skills). Dari hasil analisis data menunjukkan hasil pembelajaran keterampilan fungsional keripik jamur yang telah diperoleh warga belajar Kejar Paket B selama mengikuti program pembelajaran keterampilan pembuatan keripik jamur berdasarkan ranah kognitif, afektif, dan keterampilannya, dalam mengenal bahan dan alat yang digunakan dengan indikator mengenal jenis-jenis bahan dan jenis-jenis alat yang digunakan. Adapun pengalaman belajar yang diharapkan adalah mengenal bahan baku dan alat untuk membuat keripik jamur dengan hasil belajar yang diharapkan warga belajar Kejar Paket B mampu memilih bahan baku dan menggunakan alat yang diperlukan untuk mengolah keripik jamur. Pengetahuan dan keterampilan tentang cara mengolah bahan mentah menjadi bahan jadi dengan indikator praktek keterampilan. Adapun pengalaman belajar praktek membuat keripik jamur dengan hasil belajar yang diharapkan adalah mampu membuat keripik jamur, serta bagaimana cara memasarkan hasil produksi dengan indikator mampu menghitung laba rugi hasil pemasaran produksi keripik jamur. Adapun pengalaman belajar yang diharapkan adalah mampu menghitung modal bahan dan alat, menghitung biaya, dan menghitung laba/rugi dengan hasil belajar yang diharapkan adalah mampu menghitung laba dan rugi hasil pemasaran produksi keripik jamur.

3. Faktor-Faktor Pendukung Pembelajaran Keterampilan Fungsional B Di PKBM Harapan Desa Sukamulya

Faktor sumber belajar yang mengelola pembelajaran keterampilan fungsional di desa Sukamulya sangat menentukan keberhasilan proses pembelajaran keterampilan. Sumber belajar sangat mempengaruhi dalam penetapan metode yang digunakan dalam pembelajaran keterampilan, terutama dalam hubungannya dengan pemanfaatan metode demonstrasi dalam pembelajaran keterampilan fungsional pembuatan keripik jamur di PKBM Harapan desa Sukamulya. Kondisi sumber belajar menyangkut kondisi diri yaitu pemahaman terhadap bahan kajian, pemahaman penggunaan metode demonstrasi, dan kemampuan mengelola pembelajaran keterampilan fungsional telah memadai. Demikian pula kondisi warga belajar Kejar Paket B serta pemahaman faktor-faktor lain yang berkaitan dengan pengelolaan pembelajaran keterampilan fungsional telah cukup mamadai. Untuk mencapai kemampuan yang diharapkan dalam pembelajaran keterampilan fungsional keripik jamur di PKBM Harapan desa Sukamulya, penggunaan metode demonstrasi sudah sangat tepat.

Bahan belajar yang telah ditetapkan pada pembelajaran keterampilan fungsional keripik jamur di desa Sukamulya sangat tepat dengan penggunaan metode demonstrasi. Bahan belajar terdiri dari konsep, prinsip, prosedur, dan fakta atau kenyataan tentang materi sudah sesuai dengan penggunaan metode demonstrasi pada pembelajaran keterampilan fungsional keripik jamur di desa Sukamulya. Kegiatan pembelajaran keterampilan yang menggunakan metode demostrasi pada pembelajaran keterampilan fungsional keripik jamur di PKBM Harapan desa Sukamulya tersedia cukup memadai. Sarana dalam pengertian segala macam fasilitas yang dapat menunjang, dan melengkapi terselenggaranya pembelajaran keterampilan fungsional keripik jamur di PKBM Harapan desa Sukamulya untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan dapat dikatakan cukup memadai. Sarana yang berfungsi sebagai fasilitas atau alat belajar dan sumber belajar pada pembelajaran keterampilan fungsional keripik jamur di PKBM Harapan desa Sukamulya cukup lengkap dan memadai.

KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan

1. Proses Pembelajaran Keterampilan Fungsional Bagi Warga Belajar Program Kejar Paket B di PKBM Harapan Desa Sukamulya

Pembelajaran keterampilan fungsional keripik jamur di PKBM Harapan desa Sukamulya bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan serta sikap kewirausahaan pembuatan keripik jamur yang mendukung pengembangan usaha warga belajar Kejar Paket B yang berdampak pada peningkatan kesempatan kerja dan pendapatan kehidupannya. Materi pembelajaran keterampilan fungsional keripik jamur, adalah pengetahuan dan keterampilan tentang cara mengenal bahan dan alat yang digunakan, materi tentang pengetahuan dan keterampilan tentang cara mengolah bahan mentah menjadi bahan jadi, dan cara memasarkan hasil produksi. Metode yang digunakan dalam pembelajaran keterampilan fungsional keripik jamur ini : 1) ceramah, 2) tanya jawab, 3) demontrasi, 4) penugasan (drill), 5) kerja kelompok, dan 6) praktek

(9)

9

lapangan. Sarana dan media yang digunakan meliputi adalah buku-buku dan alat peraga. Untuk mengukur keberhasilan proses pembelajaran keterampilan, sumber belajar selalu melaksanakan penilaian, baik teori dan kemampuan praktek budi daya dan pembuatan keripik jamur.

2. Hasil Pembelajaran Keterampilan Fungsional Bagi Warga Belajar Program Kejar Paket B di PKBM Harapan Desa Sukamulya

Hasil pembelajaran keterampilan fungsional keripik jamur yang telah diperoleh warga belajar Kejar Paket B selama mengikuti program pembelajaran keterampilan pembuatan keripik jamur berdasarkan ranah kognitif, afektif, dan keterampilannya, dalam mengenal bahan dan alat yang digunakan dengan indikator mengenal jenis-jenis bahan dan jenis-jenis alat yang digunakan. Pengetahuan dan keterampilan tentang cara mengolah bahan mentah menjadi bahan jadi dengan indikator praktek keterampilan. Adapun pengalaman belajar praktek membuat keripik jamur dengan hasil belajar yang diharapkan adalah mampu membuat keripik jamur, serta bagaimana cara memasarkan hasil produksi dengan indikator mampu menghitung laba rugi hasil pemasaran produksi keripik jamur. Dampak yang diharapkan warga belajar Kejar Paket B setelah memperoleh pengetahuan, sikap dan keterampilan budi daya jamur adalah terbukanya kesempatan untuk meningkatkan pendapatan kehidupannya.

3. Faktor-Faktor Pendukung Pembelajaran Keterampilan Fungsional B Di PKBM Harapan Desa Sukamulya

Kemampuan sumber belajar dalam memberikan materi pembelajaran keterampilan fungsional di PKBM Harapan desa Sukamulya cukup memadai Penetapan metode demonstrasi yang digunakan sumber belajar dalam pembelajaran keterampilan fungsional keripik jamur di desa Sukamulya telah dipertimbangkan dengan kondisi-kondisi warga belajar Kejar Paket B.

Sumber belajar sudah sangat tepat menetapkan bahan pembelajaran keterampilan fungsional keripik jamur di PKBM Harapan desa Sukamulya. Bahan belajar yang telah ditetapkan pada pembelajaran keterampilan fungsional keripik jamur di desa Sukamulya sangat tepat dengan penggunaan metode demonstrasi. Waktu yang digunakan dalam pembelajaran keterampilan fungsional keripik jamur di PKBM Harapan desa Sukamulya tersedia cukup memadai.

Sarana dalam pengertian segala macam fasilitas yang dapat menunjang, dan melengkapi terselenggaranya pembelajaran keterampilan fungsional keripik jamur di PKBM Harapan desa Sukamulya untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan dapat dikatakan cukup memadai. Sarana yang berfungsi sebagai fasilitas atau alat belajar dan sumber belajar pada pembelajaran keterampilan fungsional keripik jamur di PKBM Harapan desa Sukamulya cukup lengkap dan memadai.

B. Saran-Saran

Berdasarkan hasil penelitian yang telah diperoleh, maka pemulis mencoba untuk memberikan saran-saran sebagai berikut ini.

1. Kepada Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga Kabupaten Karawang melalui Bidang Pendidikan Nonformal dan Informal Seksi Pendidikan Masyarakat, dapat memberikan pelatihan kewirausahaan secara berkelanjutan untuk meningkatkan keterampilan warga belajar Kejar Paket B sehingga hasil produksi dan pemasaran pembuatan keripik jamur lebih meningkat.

2. Ketua PKBM Harapan dapat memberikan akses bantuan permodalan ke Bank bagi warga belajar Kejar Paket B dengan bunga pengembalian yang rendah untuk meningkatkan produksi keripik jamurnya. 3. Ketua PKBM Harapan dapat menyalurkan hasil produksi warga belajar Kejar Paket B sebagai pembuat

keripik jamur ke pasaran sehingga dapat lebih meningkatkan pendapatan warga belajarnya.

DAFTAR PUSTAKA

Bogdan, R. dan Taylor, S. J. (1993). Dasar-Dasar Penelitian Kualitatif. Surabaya: Usaha Nasional. Bungin, B. (2003). Analisis Data Penelitian Kualitatif. Jakarta : Raja Grafindo Persada.

Djudju Sudjana, (2004), Pendidikan Nonformal (Sejarah Perkembangan, Falsafah, Teori Pendukung, Asas, Bandung, Fallah Production.

____________, (2004), Strategi Pembelajaran Partisipatif dalam Pendidikan Nonformal, Bandung, Fallah Production.

____________, (2004), Metode dan Teknik Pembelajaran Pendidikan Nonformal, Bandung, Fallah Production.

(10)

10

Kartini Kartono, (1989), Pengantar Metodologi Research Sosial, Bandung, Alumni. Margono, S, (2006), Metodologi Penelitian Pendidikan, Jakarta, Rineka Cipta. Nasution, (1992), Metode Research, Bandung, Jemmars.

Suharsimi Arikunto, (2007), Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek, Jakarta, Rineka Cipta. Sutaryat Trisnamansyah, (1987), Pendidikan Kemasyarakatan (Pendidikan Luar Sekolah), Bandung, IKIP. Undang Undang Nomor 20 tahun 2003, (2003), Sistem Pendidikan Nasional, Jakarta, Depdiknas.

Organisasi Pelaksana

1. Ketua Peneliti

1) Nama Lengkap : Dayat Hidayat, SPd., MPd. 2) Jenis Kelamin : Laki-laki

3) NIS : 411700005

4) Disiplin lmu : PLS 5) Pangkat/Golongan : Penata/IIIc 6) Jabatan Fungsional : Lektor 7) Fakultas /Prodi : KIP/PLS 8) Waktu Pengadian : 6 bulan

2. Pengalaman Peneliti :

1) Ketua Peneliti :

Analisis kesulitan belajar mahasiswa dalam mengikuti kuliah Penelitian Pendidikan dan Pembuatan Tugas akhir Skripsi serta alternatif Penanggulangannya di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Singaperbangsa Karawang.

Dipublikasikan pada Jurnal Ilmiah Solusi, Vol.2, No. 4 bulan April tahun 2005 2) Ketua Peneliti

Analisis Minat Siswa-Siswi SMA-SMK se-Kabupaten Karawang dan Penilaian Terhadap Universitas Singaperbangsa Karawang.

Tidak Dipublikasikan. 3) Anggota Peneliti :

Minat Baca Mahasiswa Unsika di Perpustakaan Universitas Singaperbangsa Karawang. Dipublikasikan pada Jurnal Ilmiah Solusi, Vol.4, No.8 bulan September 2007- Fabruari 2008

4) Ketua Peneliti:

Hubungan antara partisipasi masyarakat dan lintas sektoral dalam pengelolaan PKBM terhadap Peningkatan Kualitas program PLS di Kabupaten Karawang.

Dipublikasikan pada Jurnal Solusi Vol. 6 No. 11 Maret - Agustus tahun 2009

5) Anggota :

Dampak Pendidikan Keterampilan Hidup (life skills) Montir Otomotif terhadap Peningkatan Kesempatan Kerja dan Pendapatan Warga Belajar di PKBM Cepat Tepat Karawang.

Dipublikasikan pada Jurnal Solusi Vol. 6 No. 11 Maret - Agustus tahun 2009

6) Ketua Peneliti : Model Pemberdayaan Kelompok Pemuda Produktif (KPP) Melalui Pelatihan Kewirausahaan di Pondok Pesantren Ihyahul Khoer desa Cintalanggeng kecamatan Tegalwaru kabupaten Karawang.

Dipublikasikan pada Jurnal Solusi Vol. 9 No. 17 Desember 2010 – Pebruari tahun 2011 7) Ketua Peneliti :

Model Pembelajaran Kelompok Pemuda Produktif (KPP) Melalui Pelatihan Kewirausahaan di Pondok Pesantren Ihyatul Khoer desa Cintawargi kecamatan tegalwaru kabupaten Karawang. Dipublikasikan pada Jurnal Solusi Vol. 9 No. 17 Desember 2010 – Pebruari 2011

8) Anggota : Analisis Kualitatif Dampak Pelatihan Kewirausahaan Terhadap Peningkatan Kinerja Usaha Ekonomi Kerakyatan Program Kelompok Belajar Usaha (KBU) di Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) “Mintar Umat” desa Telukbuyung lecamatan Pakisjaya Kabupaten Karawang.

Dipublikasikan pada Jurnal Solusi Vol. 9 No. 18 Maret – Mei tahun 2011 9) Ketua Peneliti :

Model Pelatihan Kewirausahaan Program Kelompok Belajar Usaha (Kbu) Berbasis Potensi Lokal Bagi Pemberdayaan Warga Belajar Keaksaraan Fungsional (KF) Di Kabupaten Karawang

(11)

11

PERBANDINGAN SISTEM HUKUM KETENAGAKERJAAN NEGARA MALAYSIA DAN NEGARA INDONESIA DALAM PERLINDUNGAN HUKUM DAN PENEGAKAN HAK ASASI

MANUSIA

Oleh :

Dedi Pahroji & Holyness N Singadimedja A. Latar Belakang

Walau terjadi peningkatan jumlah imigrasi pekerja dari Indonesia, kerangka kebijakan yang komprehensif dan lembaga yang efektif guna mengelola pekerja migran Indonesia belum tersedia. Pada 2004 Undang-undang No. 39 Tahun 2004 tentang Penempatan dan Perlindungan terhadap Pekerja Migran Indonesia di Luar Negeri (untuk selanjutnya akan disebut UU Penempatan dan Perlindungan Pekerja Migran) telah disahkan DPR. Kendati UU tersebut mengandung beberapa ketentuan yang mengagumkan, seperti jaminan bahwa penempatan tenaga kerja akan dilaksanakan berdasarkan “persamaan hak, demokrasi, keadilan sosial, persamaan gender dan keadilan gender, anti-diskriminasi, dan anti-perdagangan manusia” (Pasal 2 UU No.39 Tahun 2004) , UU tersebut memiliki kelemahan konsep dan substansi. Contohnya, secara konsep UU tersebut telah dikritik karena terfokus pada penempatan pekerja migran ketimbang perlindungan terhadap pekerja migran tersebut.1 Dinilai dari substansinya, UU tersebut kurang jelas dalam beberapa hal seperti penugasan tanggung jawab guna menegakkan hak-hak pekerja migran. Namun, aspek terlemah dari UU ini adalah bahwa penegakkannya selama ini sangatlah kurang dan bahkan tidak ada sama sekali. Sebagai hasil dari lemahnya hukum dan penegakannya dalam hal pekerja migran, kasus-kasus pelecehan dan eksploitasi terhadap pekerja migran

(12)

12

Indonesia banyak terjadi di tangan agen penyalur jasa tenaga kerja, pelatih, pemberi kerja, para pelaku perdagangan manusia (trafficker) dan pejabat pemerintah yang tidak manusiawi. Kasus-kasus ini terjadi pada setiap tahapan dari proses migrasi tenaga kerja: pra-keberangkatan, selama bekerja di luar negeri dan setelah kembali.

Dari berbagai jumlah kasus yang menimpa TKI serta fakta belum selesainya penanganan hukum atas kasus-kasus yang melibatkan banyak pihak, terutama kasus-kasus yang secara langsung bersinggungan dengan hukum, maka sudah selayaknya menimbulkan berbagai pertanyaan mendasar tentang sejauh mana peranan dan kepedulian pemerintah Indonesia terhadap warga negaranya, sehingga dapat dijadikan cerminan untuk melihat perlindungan yang dilakukan negara (dalam hal ini pemerintah) terhadap warganegara atas segala bentuk penyiksaan hak asasinya. Hal ini menarik dikaji mengingat pemerintah telah mengeluarkan berbagai peraturan yang berhubungan dengan keberadaan TKI seperti Keputusan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Kepmennakertrans) No. 104 A Tahun 2002, UU No 13 tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan, maupun UU No. 39 tahun 2004 tentang Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia di Luar Negeri (UU PPTKILN), dan Memorandum Of Understansing (MOU) antara Malaysia dan Indonesia yang telah diperbaharui pasca dicabutnya moratorium bagi TKI informal Indonesia ke Malaysia, yang sampai sekarang dirasa masih kurang menampakkan kebijakan yang menyentuh perlindungan terhadap TKI. Sorotan dari banyak pihak telah melahirkan peraturan perundang-undangan tersebut berkaitan dengan substansi yang hanya didominasi dengan aturan mengenai mekanisme operasional pengiriman dan penempatan. Sementara substansi yang mengatur perlindungan hak-hak TKI ke luar negeri masih kurang diperhatikan.

B. Perumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas, dapat ditarik beberapa masalah sebagai berikut :

1. Bagaimanakah system hukum ketenagakerjaan yang berlaku di Negara Malaysia di bandingkan dengan system hukum ketenagakerjaan di Indonesia?

2. Bagaimanakah perlindungan hukum yang diberikan Pemerintah Indonesia dan Pemerintah Malaysia bagi buruh migrant Indonesia di negara Malaysia dalam rangka penegakan hak asasi manusia menurut UUD 1945 ?

C. Metode Penelitian

Metode penelitian yang digunakan bersifat deskriftif analitis menggunakan pendekatan yuridis normatif , dilakukan untuk mengidentifikasi konsep dan asas-asas hukum yang digunakan untuk menghasilkan perlindungan hukum bagi TKI LN sebagai dasar dalam UU No. 39 Tahun 2004 tentang Penempatan dan Perlindungan TKI di Luar Negeri, yang didukung dengan pendekatan perbandingan (comparative approach) dengan Negara Malaysia yang memiliki Sistim Hukum yang berbeda dengan negara Indonesia.

Kemudian melakukan analisis secara yuridis kualitatif, dengan menggunakan daya abstraksi dan penafsiran hukum (interpretasi) untuk selanjutnya dituangkan dalam bentuk uraian-uraian (deskripsi) dengan menggunakan logika deduktif maupun induktif

(13)

13

D. Pembahasan

1. Sistem Hukum Ketenagakerjaan di Negara Malaysia dan Sistem Hukum Ketenagakerjaan Indonesia dalam Mewujudkan Penegakan Hak Asasi Buruh Migran

a. Sistem Hukum Ketenagakerjaan Malaysia

Sebagai bekas jajahan Inggris, Malaysia tetap mempertahankan tradisi hukum kebiasaan Inggris ( Common Law Sistem ) Tradisi ini berdiri ditengah-tengah sistem hukum Islam (yang dilaksanakan oleh pengadilan atau Mahkamah Syari’ah) dan hukum adat berbagai kelompok penduduk asli. Malaysia merupakan salah satu dari sekian banyak (+ 19 negara ) Commonwealth Country atau negara-negara persemakmuran Inggris. Semua negara-negara persemakmuran mengadopsi sistem hukum Inggris yang biasa disebut dengan sistem hukum Anglo-Saxon atau juga Common Law .

Malaysia memiliki sistem federal yang membagi kekuasaan pemerintahan menjadi Pemerintahan Federal dan Pemerintahan Negara bagian Pembagian kekuasaan ini tercantum dalam Undang-Undang Dasar Federal. Walaupun undang-undang dasar menggunakan sistem federal namun sistem ini berjalan dengan kekuasaan yang besar dari pemerintahan pusat.

Di Malaysia Konstitusi merupakan hukum yang berkedudukan paling tinggi. Meskipun hukum Malaysia sangat dipengaruhi hukum Inggris tetapi dalam banyak hal ternyata berbeda, misalnya Parlemen Malaysia berbeda dengan Parlemen Inggris, Parlemen Inggris memegang kekuasaan tertinggi dan tanpa batas sedangkan parlemen Malaysia tidak memiliki kekuasaan seperti itu. Malaysia merupakan negara Federal dengan kostitusi tertulis yang kaku. Parlemen memperoleh kekuasaan dari konstitusi dan dibagi diantara negara federal denga negara-negara bagian.

Beberapa kewenangan dari Pemerintahan Federal adalah urusan luar negeri, pertahanan, keamanan nasional, polisi, hukum perdata dan pidana sekaligus prosedur dan administrasi keadilan, kewarganegaraan, keuangan, perdagangan, perniagaan dan industri, perkapalan, navigasi dan perikanan, komunikasi dan trasnsportasi, kinerja dan kekuasaan federal, pendidikan, kesehatan, ketenagakerjaan, dan keamanan social.

Sistem pengadilan secara mendasar bersifat federal. Baik hukum federal maupun negara bagian dilaksanakan di pengadilan federal. Hanya pengadilan Syari’ah yang hanya terdapat pada negara bagian, yang menggunakan sistem Hukum Islam, bersama dengan pengadilan pribumi di Sabah dan Sarawak, yang berurusan dengan hukum adat. Selanjutnya juga terdapat Sessions Courts (pengadilan sessi) dan Magistrates’ Courts (Pengadilan Magistrat). Pengadilan tinggi dan tingkat pengadilan di bawahnya memiliki yurisdiksi dan kewenangan yang diatur oleh hukum federal. Mereka juga tidak memiliki yurisdiksi dalam segala hal yang berkaitan dengan yurisdiksi pengadilan Syari’ah. Beberapa kewenangan negara bagian diantaranya adalah hal-hal yang berkaitan dengan praktek agama Islam dalam negara, hak kepmilikan tanah, kewajiban pengambilan tanah, izin pertambangan, pertanian dan eksploitasi hutan, pemerintahan kota, dan kerja publik demi kepentingan negara. Terdapat juga beberapa kekuasaan yang berlaku secara bersamaan diantaranya sanitasi, pengaliran dan irigasi, keselamatan dari kebakaran, kependudukan

Workers overseas, Makalah Rancangan ILO, Jakarta, 2005, hal 2

(14)

14

dan kebudayaan serta olah raga. Ketika hukum federal dan hukum negara bagian saling bertentangan maka hukum federallah yang dianggap berlaku.

Menteri yang bertanggung jawab atas undang-undang hubungan industrial dapat mengajukan perselisihan antara para penyedia lapangan kerja dengan serikat perdagangan pada pengadilan industri, dan direktur jenderal buruh dapat dipanggil untuk mengatasi perselisihan mengenai gaji karyawan. Banyak undang yang menyediakan arbitrase, selanjutnya undang-undang arbitrase tahun 1952 menyediakan peraturan untuk arbitrase domestik. Terdapat juga Pusat Regional untuk Arbitrase di Kuala Lumpur yang menyediakan fasilitas untuk dilaksanakan arbitrase atas transaksi komersial internasional.

Prinsip-prinsip yang meliputi hubungan antara majikan dengan pekerja di Malaysia diperoleh dari 3 sumber utama :

1. Common law

2. Undang-Undang Tertulis di Malaysia

3. Keputusan-Keputusan Mahkamah Perusahaan dan Mahkamah Civil

Statute (undang-undang tertulis) ketenagakerjaan Malaysia banyak meniru dari Statuta Inggris dan India, namun begitu statute ketenagakerjaan di Malaysia tidaklah benar-benar serupa (in pari material) dengan undang-undang ketenagakerjaan kedua negara tersebut. Dalam satuta Malaysia terdapat beberapa peruntukan yang khusus untuk Malaysia.

Statute-statuta buruh di Malaysia (undang-undang tertulis berkenaan dengan Ketenagakerjaan) terdiri dari Akta Pekerjaan, Akta Perhubungan Perusahaan, Akta Kesatuan Sekerja, Akta Keselamatan Sosial Pekerja, dan sebagainya. Menurut ketentuan 3 dan 5 Akta Undang-Undang Sivil, jika terdapat undang-undang tertulis di Malaysia, Common Law tidak digunakan, namun jika terdapat kekosongan dalam undang-undang tertulis tersebut prinsip common law masih dipakai untuk mengisi kekosongan itu.

Makamah di Malaysia banyak mengambil aturan-aturan common law bagi melaksanakan aspek undang-undang ketenagakerjaan di Malaysia, misalnya untuk menentukan ujian menentukan dibuat atau tidaknya “kontrak perkhidmatan” (perjanjian kesepakatan bersama), kewajiban antara majikan dan pekerja, dan sebagainya.

Statute – satatuta ketenagakerjaan di Malaysia sebagai berikut : 1. Akta pekerjaan 1955, dirubah 1989

2. Akta Kesatuan Sekerja 1959, dirubah 1989

3. Akta Perhubungan Perusahaan 1957, dirubah 1980, 1989 4. Akta Keselamatan Sosial Pekerja 1969

5. Akta pekerjaan Anak-Anak dan Orang Muda 1966

Seperti halnya undang ketenagakerjaan di negara-negara pada umumnya, undang-undang ketenagakerjaan Malaysia mengatur ketentuan-ketentuan umum berkaitan perlindungan bagi pekerja dan majikan / perusahaan seperti perjanjian kerja, hak dan kewajiban buruh/pekerja dan majikan / pengusaha, jam kerja, upah, cuti / istirahat, cuti bersalin, ketentuan tentang lembur, jaminan social, hak beribadah, penghentian pekerjaan / PHK, serta pesangaon dan ketentuan-ketentuannya dan lain-lain.

Ketenagakerjaan di Malaysia berada di bawah Kementerian Pengurusan Sumber Manusia di Bawah Perdana Meneteri, sejajar dengan Kementerian lain, seperti Keimigrasian. Sebagai negara penerima Tenaga Kerja Indonesia, Malaysia tidak mengatur secara khusus perundang-undangan berkaitan tenaga Kerja Asing, di Malaysia semua pekerja baik domestic maupun dari luar negara yang bekerja di Malaysia melalui kontrak kerja yang sah antara pekerja dengan Malaysia terikat ketentuan dalam Akta Perkerjaan (undang-undang ketenagakerjaan), kecuali tenaga kerja informal, sama dengan Indonesia, malaysia tidak mempunyai perundangundangan khusus berkaitan dengan tenaga kerja informal, Tenaga Kerja Indonesia yang bekerja di Malaysia sebagai tenaga kerja informal (buruh kasar/Pembantu Rumah Tangga) tidak tercover dalam perundang-undangan Malaysia, Tenaga kerja informan Indonesia terikat pada ketentuan aturan keimigrasian Malaysia sebagai warga negara asing yang berada di Malaysia untuk batas waktu tertentu.

(15)

15

Perjanjian antara pekerja dan majikan melalui agen berkaitan dengan masa kerja, upah, serta hak dan kewajiban pekerja dan majikan, negara Indonesia dalam membuat perjanjian dengan negara Malaysia berupa perjanjian G to G (government to government) dengan bentuk MoU. Yang selama ini ketentuannya lebih berpihak kepada Majikan. MoU antara pemerintah merupakan legalisasi TKI untuk dapat bekerja di Malaysia sebagai dasar bagi perlindungan hak-hak dan kewajiban TKI.

b. Sistem KelembagaanKetenagakerjaan Indonesia

Di Indonesia, Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi adalah lembaga pemerintah utama untuk pengaturan pekerja migran di Indonesia. Rekrutmen dan penempatan tenaga kerja dilakukan oleh agen swasta, yang diberikan izin oleh Departemen Tenaga Kerja dan Transmigrasi, Departemen juga mengawasi pelatihan keterampilan, pembekalan wajib pra-keberangkatan dan menyediakan sejumlah kecil atase tenaga kerja di kedutaan besar Indonesia di luar negeri. Departemen-departemen pemerintah yang lain juga terlibat, sejalan dengan mandat mereka yang beragam. Misalnya, Departemen Luar Negeri menangani persoalan konsuler, Direktorat Jenderal Imigrasi (di dalam struktur Departemen Hukum dan Hak Asasi Manusia) mengeluarkan paspor, dan Departemen Kesehatan bertanggungjawab atas pemeriksaan kesehatan pra-keberangkatan.

UU Penempatan dan Pelindungan Pekerja Migran mewajibkan pembentukan Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja ke Luar Negeri (BNPP-TKLN). Badan ini belum dibentuk, kendati Menteri Tenaga Kerja baru-baru ini telah meyakinkan masyarakat bahwa badan ini akan mulai beroperasi pada Oktober 2006. BNPP-TKLN akan terdiri dari departemen-departemen pemerintah yang terkait, dan akan bertanggungjawab langsung pada presiden. Badan ini akan memiliki tanggung jawab untuk “menerapkan kebijakan-kebijakan dalam bidang penempatan dan perlindungan Tenaga Kerja Indonesia di luar negeri secara terkoordinir dan terpadu” (Pasal 95 UU No. 39 tahun 2004). Hal ini akan meliputi, interalia, rekrutmen, pemeriksaan kesehatan, pelatihan, keberangkatan dan perlindungan dalam negara.

Pembagian wewenang antara Pemerintah Pusat, Pemerintah Provinsi dan Pemerintah Kota/Kabupaten dalam menerapkan UU Penempatan dan Pelindungan Pekerja Migran tidak dibuat dengan jelas. UU tersebut tidak menjelaskan hubungan antara BNPP-TKLN dan tingkat-tingkat pemerintahan yang berbeda-beda. Saat ini, kesepakatan penempatan kerja haruslah didaftarkan dengan wewenang Kota/Kabupaten, dan “Biro Pelayanan” akan dibentuk di ibukota-ibukota provinsi. Pengawasan perizinan terhadap para perekrut dan pelatihan tampaknya dibagi secara informal oleh tingkat pemerintahan yang berbeda; hubungan antara Pemerintah Pusat, Pemerintah Provinsi dan Pemerintah Kotapraja/Kabupaten tidaklah jelas. Persoalan penting lainnya juga tidak tercakup dalam UU ini. Kenyataan bahwa otonomi daerah sekarang berlaku di Indonesia, maka penting bagi UU tersebut untuk mendefinisikan secara jelas peran dan tanggung jawab tiap tingkat pemerintahan dalam mengelola proses migrasi. Pembagian wewenang terakhir haruslah berupaya untuk menyeimbangkan kebutuhan menyalurkan jasa untuk tingkat lokal di satu sisi dengan sumber daya manusia yang lebih banyak tersedia di pemerintah pusat di sisi lainnya.

Di Indonesia, rekrutmen dan penempatan warga negara untuk bekerja di luar negeri dilakukan oleh perusahaan swasta yang disebut sebagai Perusahaan Jasa Tenaga Kerja Indonesia, atau PJTKI. Peran pemerintah menurut kerangka peraturan yang ada sekarang adalah untuk mengawasi agen agen ini melalui skema perizinan yang disebut sebagai Surat Izin Pelaksana Penempatan TKI, atau SIPPTKI. Saat ini ada sekitar 400 PJTKI dengan izin beroperasi di Indonesia dan 90% di antaranya tergabung dalam APJATI. Selain dari PJTKI yang memiliki izin resmi, diperkirakan sekurangnya ada 800 perusahaan penyalur jasa tenaga kerja yang ilegal di Indonesia. Sebagian besar dari perusahaan ilegal ini sebenarnya dikontrak oleh PJTKI resmi untuk menyelenggarakan kampanye rekrutmen awal mereka.

c. Persamaan dan Perbedaan Sistem Hukum Ketenagakerjaan pada Negara Malaysia dan Indonesia

Indonesia dan Malaysia merupakan 2 negara dengan Sistim Hukum yang berbeda. Namun prinsip-prinsip umum mengenai ketenagakerjaan juga berlaku bagi negara Malaysia maupun Indonesia sebagai negara anggota International Labour Organitation.

Negara Malaysia tidak termasuk negara yang mengirimkan warga negaranya secara formal untuk bekerja di negara lain, melalui perjanjian antar negara sebagai negara pengirim tenaga kerja seperti

(16)

16

Indonesia. Warga negara Malaysia yang bekerja di negara lain bekerja sebagai Tenaga Kerja Asing yang mempunyai keahlian tertentu pada sektor formal, berbeda dengan negara Indonesia yang dengan jelas mengirimkan warganya sebagai tenaga kerja di luar negeri baik sektor formal maupun pada sektor informal, sehingga Malaysia tidak memiliki undang-undang khusus tentang penempatan tenaga kerja di luar negeri, termasuk badan / instansi pemerintah khusus yang menangani tenaga kerja yang bekerja di luar negeri.

Peraturan mengenai ketenagakerjaan di Malaysia merupakan wewenang Kementerian Pengurusan Sumber Manusia di bawah Perdana Menteri, sama dengan Kementerian Tenaga kerja dan transmigrasi di Indonesia sebagai pembantu presiden dalam menjalankan fungsi pemerintahan. Sebagai negara dengan bentuk federal, ketenagakerjaan merupakan wewenang langsung federal bukan merupakan wewenang negara bagian, sehingga apabila terjadi perselisihan ketenagakerjaan diselesaikan pada peradilan federal yang khusus menangani perburuhan atau perselisihan industrial, perbedaannya dengan negara Indonesia, di Indonesia terdapat peradilan hubungan industrial pada daerah provinsi di bawah Mahkamah Agung yang untuk beberapa perselisihan sifatnya final dan binding.

Terhadap kasus-kasus penyiksaan terhadap tenaga kerja Indonesia yang banyak terjadi di Malaysia, mereka terjerat hukum berdasarkan perbuatan mereka yaitu hukum pidana, baik kesalahan yang dilakukan oleh pekerja maupun majikan, sehingga pengadilan yang berwenang untuk meyelesaikan perkara tersebut tidak melalui peradilan hubungan industrial, kecuali berkenaan dengan hak-hak dan kewajiban pekerja dan majikan yang jelas tertera di dalam kontrak perjanjian yang telah dilanggar oleh salah satu pihak, di luar pelanggaran hukum pidana, diselesaikan melalui peradilan hubungan industrial (dalah hal ini hanya berlaku pada tenaga kerja formal yang bekerja di Malaysia) begitu juga pada peradilan Indonesia dibedakan dengan jelas setiap kompetensi masing-masing peradilan dalam menyelesaikan permasalahan hukum.

Perwakilan negara Indonesia di Malaysia membentuk satuan khusus untuk membantu penyelesaian masalah TKI (terutama yang bekerja di sektor informal) yang merupakan gabungan dari berbagai perwakilan dari departemen tenaga kerja, departemen luar negeri, dan kepolisian RI. Sementara untuk TKI yang mengalami permasalahan hukum di pengadilan diberikan pendampingan / bantuan hukum. Untuk menangani penyelesaian sengketa tenaga kerja di Malaysia digunakan ketentuan-ketentuan yang terdapat dalam The Industrial Court Ordinance of 1948 dan Industrial Relations Act 1967. Dalam ketentuan tersebut seperti halnya negara-negara maju yang menggunakan arbitrase untuk menyelesaikan sengketa, maka Malaysia pun mempunyai sistim peradilan untuk ketenagakerjaan menggunakan lembaga arbitrase dengan tata cara yang hamper serua yang dikenal dengan istilah Industrial Court.

b. Perlindungan Hukum yang diberikan Pemerintah Malaysia dan Pemerintah Indonesia bagi Buruh Migrant Indonesia di Negara Malaysia dalam Rangka Penegakan Hak Hsasi Manusia menurut UUD 1945

Kerja merupakan bentuk kegiatan yang dilakukan untuk mencapai suatu penghidupan yang layak. Pekerjaan sangat berarti dalam upaya kelangsungan hidup dan mengaktualisasi diri sehingga dapat lebih bermakna dan dihargai dalam lingkungan sekitarnya2. Hak bagi setiap orang, baik laki-laki maupun perempuan untuk memperoleh pekerjaan. Sehingga pekerjaan mempunyai makna yang sangat berarti dalam kehidupan manusia. Hal ini merupakan salah satu bentuk hak yang melekat didalam diri bangsa Indonesia, sebagaimana yang diamanatkan Undang-Undang Dasar (UUD) 1945. Perubahan IV UUD 1945 Pasal 27 ayat (1) menyatakan “setiap warga Negara berhak atas pekerjaan dan penghidupan yang layak bagi kemanusian”. Ketentuan ini diperkuat dengan pasal 28 D ayat (2) menyatakan “setiap orang berhak untuk bekerja serta mendapat imbalan dan pelakuan yang adil dan layak dalam hubungan kerja”.

Oleh karena hal ini diatur dalam Undang-Undang Dasar, pemerintah sebagai penyelenggara pembangunan berkewajiban untuk memfasilitasi setiap warga negaranya agar dapat berkerja dalam rangka meningkatkan kesejahteraan diri dan keluarganya, dan harus dilakukan seoptimal mungkin oleh Negara. Dengan demikian, hak setiap warga Negara dalam memperoleh pekerjaan dapat terpenuhi. Artinya, Indonesia dituntut untuk melakukan perencanaan terhadap hal tersebut untuk menyediakan lapangan pekerjaan agar terciptanya kesadaran atas kewajiban suatu negara3. Akan tetapi faktanya, Sampai saat ini di Indonesia lapangan pekerjaan sangat terbatas. Karena Indonesia belum mampu menyediakan pekerjaan seperti yang diamanatkan Pasal 27 ayat (2) UUD 1945, sehingga secara

2

Muslan Abdurrahman.2006.Malang.Ketidakpatuhan TKI Sebuah Efek Diskriminasi Hukum.UMM Press. 3

(17)

17

ekonomi masyarakat Indonesia banyak yang memprihatinkan. Disamping itu kesatuan dan kesatuan harus dijaga dan stabilitas syarat bagi usaha-usaha lain dalam pembangunan ekonomi4 dan mengunakan strategi-strategi dalam memecahkan persoalan bidang ekonomi yang terjadi di Indonesia.5

Dalam ketentuan Undang-Undang, penempatan tenaga kerja Indonesia dibagi atas 2 yaitu tenaga kerja dalam negeri dan tenaga kerja luar negeri. Tenaga kerja dalam Negeri telah mempunyai kekuatan dalam perlindungan ketenagakerjaan dapat dilihat dalam Undang-Undang Republik Indonesia No. 13 tahun 2003 tentang ketenagakerjaan. Selanjutnya, Undang-Undang Republik ndonesia No. 39 tahun 2004 yang mengatur tentang penempatan dan perlindungan tenaga kerja di luar negeri. Tenaga kerja dalam Negeri di awasi secara langsung oleh Negara karena buruh berkerja dalam kedaulatan Negara Republik Indonesia, sedangkan Tenaga Kerja Indonesia yang berada di luar negeri perlindungan hukum mereka adalah MoU (Memorandum of Understanding) dan kedutaan besar.

Perlindungan terhadap hak-hak dasar TKI di Malaysia telah dibentuk oleh pemerintah. Bentuk perlindungan yang sebelumnya telah disepakati Indonesia dan Malaysia adalah dengan membuat perjanjian berupa Memorandum of Understanding (MoU) TKI formal, yakni TKI yang berkerja disektor pertambangan, pertanian dan pabrik kemudian Memorandum of Understanding TKI informal, yakni TKI yang berkerja pada sektor rumah tangga. Memorandum of Understanding (MoU) perlindungan TKI formal ditandatangani pada 10 mei 2004 untuk menggantikan kedudukan nota penempatan TKI formal. Sebelum ditandatanganinya Memorandum of Understanding (MoU) penempatan TKI di Malaysia menggunakan “pertukaran nota mengenai prosedur penempatan TKI di Indonesia selain dari penata laksana rumah tangga”. Kemudian penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) tentang “The recruitment and placementof Indonesian domestic workers” dilakukan di Bali pada 13 mei 2006. Berdasarkan konvensi Wina tentang Hukum Perjanjian tahun 1969 pasal 6 menyinggung kemampuan negara untuk membuat perjanjian dimana dinyatakan : “Setiap Negara berdaulat memiliki kemampuan untuk membuat perjanjian”.6

Harus diakui bahwa memang tidak mudah untuk membuat kebijakan yang tepat dan komprehensif bagi permasalahan TKI di luar-negeri. Disamping karena penanganan TKI melibatkan banyak institusi pemerintah maupun non-pemerintah, kerjasama yang baik harus dijalin antara kedua negara (Indonesia dan Malaysia) sedangkan sistem, prosedur serta situasi dalam negeri yang harus dihadapi juga berlain-lainan. Yang perlu diperhatikan ialah bahwa banyak masalah yang sebenarnya bisa dipecahkan dengan sendirinya apabila terdapat itikad baik dari semua pihak untuk membangun kerjasama yang adil dan saling menguntungkan. Sebaliknya, perlu juga diantisipasi bahwa semua pihak yang terlibat di dalam urusan menyangkut TKI mungkin juga memiliki kepentingan-kepentingan sempit dan terkadang tidak segan-segan mengorbankan kepentingan orang lain. Kemungkinan adanya penyalahgunaan, kecurangan, atau tindak kejahatan bisa terjadi di semua titik yang menyangkut jalur pengiriman maupun pemulangan buruh migran yang bekerja di luar-negeri. Prinsipnya ialah there

always goods and bads in everyone. Pada setiap lembaga atau institusi, tentu terdapat banyak niat baik

dan mungkin ada beberapa orang yang berniat buruk. Tetapi yang harus dihindari ialah supaya kerjasama semua pihak akan dapat menghasilkan aturan main yang adil dan mencegah munculnya maksud-maksud buruk oleh pihak tertentu.

Mengingat panjangnya jalur yang harus ditempuh oleh seorang buruh migrant dalam mengurus segala hal yang menyangkut pekerjaannya di luar-negeri, hal yang paling krusial ialah informasi yang cukup dan objektif mengenai prosedur, jenis pekerjaan yang akan dilakukan, kontrak kerja yang

4

Juwon Sudarsono..Integritas,Demokrasi,dan Pembangunan.hal.147. 5

Amir Santoso dan Riza Sahbudi. 1993. Jakarta. Perspektif pembangunan Politik Indonesia. Dian Lestari Grafika.hal 148

6

(18)

18

disepakati, serta hak dan kewajiban bagi semua pihak. Kelemahan yang masih ada sejauh ini ialah bahwa lembaga atau instansi pemerintah yang bertugas menangani permasalahan di lapangan baru bergerak kalau sudah ada kasus yang disoroti oleh publik. Dari masalah yang timbul ketika amnesti dari pihak pemerintah Malaysia berakhir pada tahun 2005, misalnya, terdapat kesan bahwa pemerintah lebih sering bertindak sebagai pemadam kebakaran. Berbagai laporan dari Human Rights Watch (HRW) mengungkapkan bahwa buruh migran dari Indonesia adalah termasuk yang paling rendah dukungannya, baik dari pemerintah, LSM maupun dari public di tanah air. Ini sangat berbeda dengan kebijakan yang diterapkan oleh pemerintah Filipina, misalnya, yang memberi perhatian lebih serius dan benar-benar memperlakukan buruh migran itu sebagai ”pahlawan devisa”. Alangkah baiknya apabila pola kebijakan pemerintah Indonesia diubah sehingga bersifat lebih melindungi dan mengambil langkah - langkah preventif sebelum gejolak dan masalah di lapangan muncul dengan lebih memberdayakan pemerintahan daerah dalam membuat regulasi sendiri berkaitan buruh migrant di daerahnya sebagaimana amanat undang-undang tentang Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia di Luar Negeri.

Upaya untuk memperbaiki proses rekrutmen dan pelatihan sebenarnya sudah diprogramkan oleh pemerintah sejak awal ketika seorang calon TKI berniat untuk bekerja di luar-negeri. Tetapi sejauh ini tampaknya masih banyak lubang-lubang yang menjadi titik lemah dalam proses rekrutmen tersebut. Karena banyak calon TKI yang tidak percaya dengan sejumlah PJTKI, yang sering dilakukan ialah justru mengambil jalur illegal sehingga menimbulkan masalah di kemudian hari. Maka tindakan tegas terhadap PJTKI liar yang sekadar ingin memperoleh keuntungan cepat dari calon TKI kiranya masih perlu terus ditingkatkan. Beberapa peraturan perundangan sebenarnya sudah menggariskan pentingnya koordinasi lintas departemen untuk menangani TKI yang lingkup persoalannya sangat luas, misalnya yang tertuang di dalam Inpres No.4 tahun 2004. Tetapi tampaknya kebijakan sektoral masih terjadi apabila sejumlah TKI menghadapi masalah di dalam maupun di luar negeri. Komitmen pemerintah sekarang ini untuk melengkapi pranata yang memadai bagi perlindungan TKI di luar negeri adalah sebuah langkah terobosan.

Selanjutnya, kerjasama yang erat antara Depnakertrans dan Deplu untuk perlindungan TKI perlu terus dibangun dan semestinya menjadi program prioritas yang membutuhkan langkah-langkah harmonisasi. diperlukan komitmen lebih kuat untuk melindungi TKI yang sedang bekerja di luar-negeri. Intervensi memang tidak mungkin dilakukan secara langsung karena sebagai buruh migran mereka ada di wilayah hukum negara lain. Sebagai contoh, buruh migran di Malaysia tampaknya akan sulit untuk memperoleh hak yang sama dalam perlindungan bagi tenaga-kerja seperti yang tercantum dalam Section XII of the Employment Act of 1955 yang berlaku di negara ini. Intervensi juga tidak mungkin dilakukan menyangkut kebijakan pemerintah Malaysia yang sampai kini belum menandatangani Konvensi mengenai Pengungsi tahun 1951. Tetapi setidaknya pemerintah Indonesia melalui KJRI dan KBRI bisa terus memantau perlakuan majikan terhadap para TKI tersebut. Berbagai imbauan memang sudah dilakukan, termasuk yang disampaikan oleh LSM yang memiliki perhatian terhadap buruh migran di Malaysia seperti Tenaganita, Migran Care, dan sebagainya. Memang masih disayangkan bahwa persepsi pemerintah di Indonesia maupun di Malaysia terhadap LSM seringkali masih bersifat negatif. Sementara itu masalah-masalah yang diungkapkan oleh LSM itu sendiri terkadang kurang objektif atau kurang didukung dengan data yang lengkap.

Gambar

Gambar  1 :   Proses Pembelajaran Keterampilan Fungsional Warga Belajar Kejar Paket B
Gambar 2.1 Jenis alat peraga edukasi manual
Table 2.1 Hubungan media pembelajaran dengan Tujuan pembelajaran
Gambar 3.2  Instrumen Penelitian
+7

Referensi

Dokumen terkait

1. Keterampilan Kerja adalah pendidikan untuk meningkatkan keterampilan pengetahuan, kemampuan dan sikap warga belajar untuk memenuhi persyaratan pekerjaan tertentu

Untuk itu warga belajar yang telah mencapai kompetensi keaksaraan tingkat dasar selayaknya perlu dilanjutkan dengan program tersebut dengan harapan agar warga

Produk yang akan dikembangkan dalam penelitian ini adalah modul fisika dengan pendekatan keterampilan proses sains yang digunakan untuk meningkatkan kemampuan

Program Keluarga Harapan adalah suatu program dengan tujuan memberikan bantuan sosial secara bersyarat terhadap keluarga atau warga miskin dan rentan, yang sudah

Untuk mewujudkan hasil belajar warga belajar yang kreatif, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam pembelajaran Program Paket B antara lain (1) pembelajaran efektif dan

Dalam penelitian ini, Keterampilan tata rias pengantin Sunda Putri diperoleh warga belajar melalui suatu paket pelatihan yang dilaksanakan LPK Tisaga Caterias Kota

Apakah dengan menerapkan pendekatan kontekstual (CTL) melalui pemanfaatan media ajar simulator sistem transmisi mobil pada proses belajar mengajar dapat meningkatkan

PENGEMBANGAN MODEL PELATIHAN KEWIRAUSAHAAN BERBASIS POTENSI LOKAL DALAM MENINGKATKAN KOMPETENSI KEWIRAUSAHAAN WARGA BELAJAR KEAKSARAAN USAHA MANDIRI (KUM) DI KABUPATEN