P
ENGARU
FUNG
PERTU
(Chloris
DEPAUH CEKA
GI MIKOR
UMBUHA
s gayana, P
ARTEMEN INAMAN KE
RIZA ARB
AN DAN P
RUMPU
Paspalum
S AKHIR P ILMU NUT FAKULTA STITUT PEEKERING
BUSKULA
PRODUKT
UT TROP
dilatatum,
SKRIPSI PEBRIANS TRISI DAN AS PETERN ERTANIANGAN DAN
A (FMA) T
TIVITAS
IKA
, danPaspa
SYAH N TEKNOLO NAKAN N BOGORPENAMB
TERHADA
BEBERA
alum nota
OGI PAKABAHAN
AP
APA
tum)
ANRINGKASAN
AKHIR PEBRIANSYAH. D24070134. 2012. Pengaruh Cekaman Kekeringan dan Penambahan Fungi Mikoriza Arbuskula (FMA) terhadap Pertumbuhan dan Produktivitas Beberapa Rumput Tropika (Chloris gayana, Paspalum
dilatatum, Paspalum notatum). Skripsi. Departemen Ilmu Nutrisi dan Teknologi Pakan, Fakultas Peternakan, Institut Pertanian Bogor.
Pembimbing Utama : Dr. Ir. Panca Dewi M.H.K., M.Si. Pembimbing Anggota : Ir. Asep Tata Permana, M.Sc.
Lebih dari 60 % pakan yang dikonsumsi ternak ruminansia adalah hijauan. Rumput merupakan tanaman pakan yang sampai saat ini ketersediaannya baik secara kuantitas maupun kualitas harus ditingkatkan. Budidaya rumput dipengaruhi oleh iklim dimana musim kemarau sering kali menjadi suatu kendala karena ketersediaan air menurun. Salah satu alternatif yang dapat diterapkan dan dikembangkan untuk beberapa jenis tanaman budidaya dalam mengatasi cekaman air tersebut adalah dengan pemanfaatan Fungi Mikoriza Arbuskula (FMA) pada tanaman.
Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari pengaruh pemberian Fungi Mikoriza Arbuskula (FMA) terhadap pertumbuhan dan produktivitas Chloris gayana, Paspalum notatum, dan Paspalum dilatatum pada kondisi cekaman kekeringan sehingga dapat diketahui jenis rumput yang adaptif.Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah tiga jenis tanaman rumput yaitu, Chloris gayana, Paspalum notatum, dan Paspalum dilatatum. Perlakuan yang digunakan pada penelitian ini antara lain: M0S0 = Tanpa mikoriza dan disiram tiap hari;M0S1 = Tanpa mikoriza dan tidak disiram;M1S0 = Dengan mikoriza dan disiram tiap hari; M1S1 = Dengan mikoriza dan tidak disiram. Desain percobaan yang digunakan dalam penelitian ini adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 4 perlakuan 5 ulangan. Setiap jenis rumput dilakukan penelitian secara terpisah. Peubah yang diamati pada penelitian ini antara lain kadar air tanah, tinggi vertikal tanaman, berat kering tajuk, berat kering akar, infeksi akar dan indeks sensitivitas kekeringan.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa Tanaman mengalami titik layu permanen pada masing-masing rumput yaitu Paspalum dilatatum 24 hari, Chloris gayana 32hari, dan Paspalum notatum 44hari. Tanaman yang diberikan perlakuan mikoriza pada kondisi cekaman kekeringan memiliki pengaruh yang berbeda nyata dan mampu meningkatkan pertumbuhan dan produktivitas untuk perlakuan berat kering akar pada tanaman Chloris gayana, sedangkan peubah lain pada tanaman penelitianbelum memberikan pengaruh yang nyata. Urutan jenis rumput yang mempunyai produktivitas yang baik dalam kondisi cekaman kekeringan, baik yang diberikan mikoriza maupun tanpa pemberian mikoriza, yaitu Paspalum notatum, Chloris gayana, danPaspalum dilatatum.Dari ketiga rumput yang diteliti yang paling adaptifadalah rumput Paspalum notatum yang memiliki pertumbuhan dan produksi yang lebih baik bila dibandingkan dengan kedua jenis lainnya.
Kata kunci : rumput, Chloris gayana, Paspalum dilatatum, Paspalum notatum, Fungi Mikoriza Arbuskula (FMA), cekaman kekeringan.
ABSTRACT
Effect of Drought Stress and Addition of Arbuscula Mycorrhizal Fungi (AMF) on Growth and Productivity of Tropical Grasses
(Chloris gayana, Paspalum dilatatum, andPaspalum notatum) Pebriansyah A., Panca Dewi M. H. K. and Asep Tata Permana
More than 60% of feed consumed by ruminants is forage. Unfortunately, the availability of both quality and quantity is still low. Grasses cultivation is affected by climatic factors such as the dry season. In the dry season, the water content of soildecrease. One of alternative that can be applied and developed for several types of plants cultivated to overcome drought stress is by using Arbuscula Mycorrhizal Fungi (AMF) in plants. The aim of this study was to observed the effect of Arbuscular Mycorrhizal Fungi (AMF) to the growth and the production of grasses in drought stress condition. We used three species of grasses for this research:Chloris gayana, Paspalum notatum, and Paspalum dilatatum. The researchused completely randomized design with 4 treatments and 5 replication. The four treatments research were as follows: M0S0 = without mycorrhizal and daily watering; M0S1 = without mycorrhizal and without watering; M1S0 = with mycorrhiza and daily watering; M1S1 = with mycorrhizal and without watering. Each type of grasses were obsereved in a separate study. The variable were the water content of soil, the height of plant, the dry weight of stem, the dry weight of canopy, the root infection in each forage species and the drought sensitivity index. The result showed that mycorrhizal and drought stress significantly increased the growth and production of dry weight of root ofChloris gayana. However, the other variable were not significantly. Paspalum notatum is the most adaptive grass in the drought condition. Chloris gayanahasthe growth and a better production than Paspalum dilatatum.
Keywords : forage, Chloris gayana, Paspalum dilatatum, Paspalum notatum, Arbuscular Mycorrhizal Fungi (AMF), drought stress
PENGARUH CEKAMAN KEKERINGANDAN PENAMBAHAN
FUNGI MIKORIZA ARBUSKULA (FMA)
TERHADAPPERTUMBUHAN DAN PRODUKTIVITAS
BEBERAPA RUMPUT TROPIKA
(Chloris gayana, Paspalum dilatatum, dan Paspalum notatum)
AKHIR PEBRIANSYAH D24070134
Skripsi ini merupakan salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Peternakan pada
Fakultas Peternakan Institut Pertanian Bogor
DEPARTEMEN ILMU NUTRISI DAN TEKNOLOGI PAKAN FAKULTAS PETERNAKAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2012
Judul : Pengaruh Cekaman Kekeringan dan Penambahan Fungi Mikoriza Arbuskula (FMA) terhadap Pertumbuhan dan ProduktivitasBeberapa Rumput Tropika (Chloris gayana, Paspalum
dilatatum, dan Paspalum notatum)
Nama : Akhir Pebriansyah NIM : D24070134
Menyetujui,
Pembimbing Utama, Pembimbing Anggota,
(Dr. Ir. Panca Dewi M. H. K., MSi) (Ir. Asep Tata Permana, MSc) NIP. 19611025 198703 2 002 NIP. 196403021991031002
Mengetahui: Ketua Departemen
Ilmu Nutrisi dan Teknologi Pakan
(Dr. Ir. Idat Galih Permana, MSc. Agr) NIP: 19670506 199103 1 001
RIWAYAT HIDUP
Penulis dilahirkan pada tanggal 26Pebruari 1989 di Tangerangdari pasangan H. Benjamin dan Hj. Ny Yatie. Tahun 1995, Penulis mengawali pendidikan dasarnya di Sekolah Dasar Negeri 06 Kota Tangerang dan diselesaikan pada tahun 2001.Pendidikan lanjutan tingkat pertama dimulai tahun 2001 dan diselesaikan pada tahun 2004 di Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama Negeri 03 Kota Tangerang. Penulis melanjutkan pendidikan di Sekolah Menengah Atas Swasta Yayasan Abdi Karya 5Jakarta pada tahun 2004 dan diselesaikan pada tahun 2007.
Penulis diterima di Institut Pertanian Bogor pada tahun 2007 melalui jalur Undangan Seleksi Masuk IPB (USMI) di Fakultas Peternakan dan pada tingkat dua masuk di Departemen Ilmu Nutrisi dan Teknologi Pakan. Selama menjalani pendidikan perguruan tinggi, Penulis aktif dalam organisasi kemahasiswaan, diantaranya pada tahun 2007/2008.Penulis menjadi Ketua Gedung Asrama TPB IPB, 2008/2011. Penulis aktif dalam organisasi di DKM (Dewan Kemakmuran Masjid) Al hurriyyah IPB dan LDK (Lembaga Dakwah Kampus) Al Hurriyyah IPB, kemudian Penulis juga menjadi Komandan Tingkat INTP angkatan 44, Anggota Himpunan Mahasiswa dan Profesi Ilmu Nutrisi Ternak tahun 2010,Tahun 2010/2012 penulis aktif di Forum Silaturrahim Lembaga Dakwah Kampus Indonesia (FSLDK Nasional) sebagai Koordinator BP PUSKOMNAS wilayah Jawa Barat.
Penulis menjadi asisten Ilmu dan Teknologi Pastura Tahun 2010, asisten Fisiologi Nutrisi tahun 2011, dan asisten Pendidikan Agama Islam tahun 2008/2011, penulis pernah melakukan kegiatan turun desa bidang peternakan selama 2 hari di desa Cijeruk, Bogor pada tahun 2010.Penulis bersama teman satu timaktif dalam PKM Kewirausahaan IPB pada tahun 2009/2010. Penulis juga pernah berpartisipasi dan menjadi finalis dalam penulisan paper mahasiswa perguruan tinggidengan judul “Environmental constraints on agricultural growth in Indonesia” EgyptCompetition Scholarshiptahun 2009 dan tahun 2010 dengan judul paper “Perspective livestock and the environment” Maldive Scholarship Alert Competition.
KATA PENGANTAR
Syukur alhamdulilah, segala puji hanya milik Allah SWT, karena atas berkat rahmat dan karunia-nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini. Shalawat dan salam selalu terlimpah kepada junjungan dan suri tauladan kita Baginda Muhammad SAW, kepada keluarga, sahabat dan insya allah kita selaku umatnya. Penyusunan skripsi yang berjudul “Pengaruh Cekaman Kekeringan dan Penambahan Fungi Mikoriza Arbuskula (FMA) Terhadap Produktivitas Beberapa Rumput Tropika (Chloris gayana, Paspalum dilatatum, dan Paspalum notatum)” ini dibuat sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar sarjana dari Fakultas Peternakan, Institut Pertanian Bogor.
Salah satu hijauan yang yang sesuai untuk penggembalaan maupun digunakan sebagai hijauan potong adalah rumput karena kemampuannya untuk tumbuh kembali setelah adanya pemotongan atau pengembalaan. Selain itu rumput yang digunakan sebagai pakan ternak ruminansia dapat mempertahankan pertumbuhan vegetatif terus menerus melalui pertumbuhan kembali setelah dipanen. Budidaya rumput dipengaruhi oleh iklim dimana musim kemarau sering kali menjadi suatu kendala karena ketersediaan air menurun, akibatnya pemenuhan kebutuhan rumput belum terpenuhi di lihat dari kuantitas dan kualitasnya. Salah satu alternatif yang dapat diterapkan dan dikembangkan untuk beberapa jenis tanaman budidaya dalam mengatasi cekaman air tersebut adalah dengan pemanfaatan Fungi Mikoriza Arbuskula (FMA) pada tanaman.
Penulis menyadari bahwa skripsi ini masih jauh dari sempurna, oleh karena itu penulis sangat mengharapkan kritik dan saran yang membangun dari pembaca. Semoga tulisan ini dapat bermanfaat bagi penulis maupun semua pihak yang membutuhkan. Amin
Bogor, Januari 2012 Penulis
DAFTAR ISI
Halaman
RINGKASAN... i
ABSTRACT... ii
LEMBAR PERNYATAAN... iii
LEMBAR PENGESAHAN... iv
RIWAYAT HIDUP... v
KATA PENGANTAR ... vi
DAFTAR ISI... vii
DAFTAR TABEL... ix DAFTAR GAMBAR... x DAFTAR LAMPIRAN... xi PENDAHULUAN... 1 Latar Belakang... 1 Tujuan... 2 TINJAUAN PUSTAKA... 3
Peranan Air pada Tanaman ... 3
Pengaruh Cekaman KekeringanPada Tanaman... 3
Rumput sebagai Hijauan Makanan Ternak ...…... 5
Rumput Chloris gayana ... 6
Rumput Paspalum notatum ... 7
Rumput Paspalum dilatatum ... 7
Mikoriza Arbuskula (FMA) ..……...…... 8
Hubungan Mikoriza dengan Tanaman ... 10
Tanah Latosol ...………... 11
MATERI DAN METODE ………. 12
Lokasi dan Waktu…………... 12
Materi……….……….... 12
Prosedur Pelaksanaan ….………. 12
Persiapan jenis rumput ... 12
Persiapan media tanam...…... 12
Penanaman ... 12
Perlakuan kekeringan ... 13
Pemeliharaan ... 13
Panen ... 13
Pengamatan ... 13
Rancangan dan Analisis Data ...14
Rancangan percobaan ... 14
Peubah yang Diamati ... 14
Tinggi Tanaman ... 14
Jumlah Anakan... 15
Kadar Air Tanah …... 15
Infeksi Akar …... 15
Berat Kering Tajuk ... 16
Berat Kering Akar ... 16
Indeks Sensitivitas Cekaman Kekeringan.. 16
Analisis Data ……...…………... 16
HASIL DAN PEMBAHASAN... 17
Pengamatan Umum Penelitian... 17
Pengaruh Perlakuan terhadap Kadar Air Tanah ...………... 18
Pengaruh Perlakuan terhadap Pertambahan Tinggi Vertikal Tanaman………... 21
Pengaruh Perlakuan terhadap Jumlah Anakan ... 24
Pengaruh Perlakuan terhadap Berat Kering Tajuk dan Akar .. 25
garuh Perlakuan terhadap Rataan Infeksi Akar ... 27
Indeks Sensitivitas terhadap Cekaman Kekeringan... 29
KESIMPULAN DAN SARAN ………... 31
Kesimpulan ………... 31
Saran ………. 31
UCAPAN TERIMA KASIH………... 32
DAFTAR PUSTAKA...………... 33
DAFTAR TABEL
Nomor Halaman
1. Respon Tanaman terhadap Cekaman Kekeringan Menurut
Waktu……….. 4 2. Kelayuan Permanen pada Setiap Jenis Rumput……….…... 17
3. Pengaruh Perlakuan terhadap Rataan Persen Kadar Air Tanah.. 18 4. Pengaruh Perlakuan terhadap Rataan Pertambahan Tinggi
Vertikal Tanaman..………... 21 5. Pengaruh Perlakuan terhadap Jumlah Anakan... 24 6. Pengaruh Perlakuan terhadap Berat Kering Tajuk dan Akar... 25 7. Pengaruh Perlakuan terhadap Rataan Persen Infeksi Akar……. 28 8. Indeks Sensitivitas terhadap Cekaman Kekeringan……… 29
DAFTAR GAMBAR
Nomor Halaman
1. Chloris gayanaKunth... 6 2. Paspalum notatum………... 7 3. Paspalum dilatatum………... 8
4. Bentuk Struktur (a) Arbuskula (b) Vesikula (c) Hifa Eksternal (d)
Spora……….... 9 5. Pengaruh Perlakuan terhadap Kadar Air tanah Tanaman Chloris
gayana... 19 6. Pengaruh Perlakuan terhadap Kadar Air tanah Tanaman
Paspalum dilatatum... 20 7. Pengaruh Perlakuan terhadap Kadar Air tanah Tanaman
Paspalum notatum... 20 8. Pengaruh Perlakuan terhadap Tinggi Tanaman Chloris
gayana... 22 9. Pengaruh Perlakuan terhadap Tinggi Tanaman Paspalum
dilatatum... 23 10. Pengaruh Perlakuan terhadap Tinggi Tanaman Paspalum
DAFTAR LAMPIRAN
Nomor Halaman
1. Data Suhu Pengamatan RumputChloris gayana, Paspalum
dilatatum dan Paspalum notatum………... 37
2. Hasil Sidik Ragam pada RumputChloris gayana untuk Semua
Peubah yang Diamati……….. 39
3. Hasil Sidik Ragam pada RumputPaspalum dilatatum untuk
Semua Peubah yang Diamati……... 40 4. Hasil Sidik Ragam pada RumputPaspalum notatum untuk
Semua Peubah yang Diamati………... 41 5. Perhitungan Indeks Sensitivitas terhadap Cekaman Kekeringan
pada RumputChloris gayana, Paspalum dilatatum, dan
Paspalum notatum...……….. 42
PENDAHULUAN Latar Belakang
Pengembangan sektor peternakan tidak lepas dari penyediaan hijauan makanan ternak yang berkualitas dan berkesinambungan. Lebih dari 60 % pakan yang dikonsumsi ternak ruminansia adalah hijauan, baik dalam bentuk segar atau dalam bentuk kering. Hijauan makanan ternak dapat berupa rumput-rumputan, leguminosa atau daun-daun jenis lainnya. Jenis-jenis hijauan ini dapat diberikan secara tunggal maupun campuran berupa leguminosa dengan rumput atau diberikan hanya berupa rumput.
Rumput merupakan salah satu sumber hijauan yang sesuai untuk penggembalaan maupun digunakan sebagai hijauan potong karena kemampuannya untuk tumbuh kembali setelah adanya pemotongan atau pengembalaan. Rumput
tropika yang terdiri atas Chloris gayana, Paspalum dilatatum, dan Paspalum
notatum merupakan rumput yang toleran terhadap cekaman kekeringan (Nahak, 2011). Selain itu rumput dapat mempertahankan pertumbuhan vegetatif terus menerus melalui pertumbuhan kembali setelah dipanen. Pada masa ini ketersediaan rumput belum dapat memenuhi kebutuhan dilihat dari kuantitas maupun kualitasnya. Ketersediaan rumput pakan yang masih kurang ini terutama dipengaruhi oleh kondisi lahan, iklim, dan ketersediaan air.
Air diperlukan bagi pertumbuhan tanaman dalam jumlah besar. Ketersedian air dalam tanah sangat ditentukan oleh frekuensi dan distribusi curah hujan yang mempengaruhi keadaan air tanah dan suplai zat-zat hara. Kekurangan air merupakan salah satu masalah utama bagi pertumbuhan dan perkembangan suatu tanaman. Kekurangan air secara internal pada tanaman berakibat langsung pada penurunan pembelahan dan perbesaran sel. Pada tahap pertumbuhan vegetatif, air digunakan oleh tanaman untuk pembelahan dan perbesaran sel yang terwujud dalam pertambahan tinggi tanaman, perbesaran diameter, perbanyakan daun, dan pertumbuhan akar (Sasli, 2004).
Pada saat ini di Indonesia tanaman pakan ternak dapat dikembangkan pada kondisi tanah yang kering. Haryadi dan Yahya (1988) menjelaskan cekaman kekeringan pada tanaman dapat disebabkan dua hal : (1) kekurangan air di daerah perakaran, (2) laju evapotranspirasi yang tinggi dibandingkan dengan laju absorbsi
air oleh akar tanaman sehingga kebutuhan air pada daun tinggi. Tanaman yang mengalami cekaman kekeringan pertumbuhannya terhambat, karena ketersediaan air dalam tanaman dan tanah mempengaruhi penyerapan hara tanah oleh akar tanaman.
Salah satu alternatif yang dapat diaplikasikan untuk beberapa jenis tanaman budidaya dalam mengatasi cekaman air tersebut adalah dengan pemanfaatan Fungi Mikoriza Arbuskula (FMA) pada tanaman. Simbiosis antara Fungi Mikoriza Arbuskula (FMA) dan tanaman inangnya merupakan simbiosis mutualisme (saling menguntungkan). Simbiosis ini meliputi penyediaan fotosintat oleh inang untuk jamur dan sebaliknya tanaman inang memperoleh unsur hara dan air yang diambil oleh tanah dari AMF.
Pada asosiasi ini infeksi pada akar tidak menyebabkan penyakit. Karti (2005) menjelaskan bahwa mikoriza selain berperan untuk memperbaiki status nutrisi tanaman, juga dapat meningkatkan ketahanan tanaman terhadap kekeringan. Rungkat (2009) menjelaskan bahwa tanaman yang bermikoriza biasanya tumbuh lebih baik dari pada tanaman yang tidak bermikoriza. Mikoriza memiliki peranan bagi pertumbuhan dan produksi tanaman, yaitu: a) meningkatkan penyerapan unsur hara, b) melindungi tanaman inang dari pengaruh yang merusak yang disebabkan oleh cekaman kekeringan, c) dapat beradaptasi dengan cepat pada tanah yang terkontaminasi, d) dapat melindungi tanaman dari patogen akar e) dapat memperbaiki produktivitas tanah dan tanah memantapkan struktur tanah. Pada tanaman rumput tropika pengaruh mikoriza terhadap pertumbuhan juga cukup baik.
Tujuan
Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari pengaruh cekaman kekeringan dan penambahan fungi mikoriza arbuskula terhadap pertumbuhan dan produktivitas
beberapa rumput tropika Chloris gayana, Paspalum dilatatum, dan Paspalum
notatum.
TINJAUAN PUSTAKA Peranan Air pada Tanaman
Air merupakan sumber kehidupan bagi seluruh makhluk hidup. Air mempunyai peranan sangat penting karena air merupakan bahan pelarut bagi kebanyakan reaksi dalam tubuh makhluk hidup. Air juga digunakan sebagai medium enzimatis. Air sangat penting bagi tumbuhan, karena 30% sampai 90% berat tumbuhan tersusun atas air. Tumbuhan menggunakan air pada proses fotosintesis. Mineral-mineral yang diserap oleh akar harus terlarut juga dalam air (Astuti dan Dewi, 2008).
Dalam siklus hidup suatu tanaman, mulai dari perkecambahan sampai tumbuh dan berkembang, tanaman selalu membutuhkan air. Fungsi air bagi tanaman diantaranya sebagai unsur esensial di dalam protoplasma, pelarut garam-garam, gas dan zat lain dalam proses translokasi, pereaksi fotosintesis dan berbagai proses hidrolisis, esensial untuk menjaga turgiditas, pembukaan stomata, serta sebagai penyangga bentuk daun muda yang berlignin sedikit. Kebutuhan air pada tanaman dapat dipenuhi melalui tanah dengan jalan penyerapan oleh akar. Besarnya air yang diserap oleh akar tergantung ketersedian atau kadar air tanah yang ada dan laju transpirasi. Pada kondisi kadar air tanah rendah atau berada di bawah kapasitas lapang, dan dalam kondisi laju evapotranspirasi melebihi laju absorbsi air, maka tanaman akan dihadapkan pada kondisi cekaman air atau kekeringan (Sasli, 2004).
Air dapat membatasi pertumbuhan dan produktivitas pertumbuhan hampir di segala tempat, baik karena periode kering tak terduga maupun curah hujan normal yang rendah sehingga diperlukan pengairan yang teratur (Salisbury dan Ross, 1995). Pengaruh ketersediaan air terhadap pertumbuhan tanaman sangat besar. Kekurangan air pada tanaman yang diikuti berkurangnya air pada daerah perakaran berakibat pada aktivitas fisiologis tanaman (Khaerana et al., 2008).
Pengaruh Cekaman Kekeringan pada Tanaman
Pengaruh ketersediaan air terhadap pertumbuhan tanaman sangat besar. Kekurangan air pada tanaman yang diikuti berkurangnya air pada daerah perakaran berakibat pada aktivitas fisiologis tanaman. Mekanisme yang terjadi pada tanaman yang mengalami cekaman kekeringan adalah dengan mengembangkan mekanisme
respon terhadap kekeringan. Pengaruh yang paling nyata adalah mengecilnya ukuran daun untuk meminimumkan kehilangan air (Khaerana, 2008). Kekurangan air akan mengganggu aktivitas fisiologis maupun morfologis, sehingga mengakibatkan terhentinya pertumbuhan. Defisiensi air yang terus menerus akan menyebabkan perubahan yang tidak dapat balik (irreversible) dan pada gilirannya dapat menyebabkan tanaman mati (Haryati, 2003).
Cekaman kekeringan mempengaruhi semua fase pertumbuhan tanaman, baik pertumbuhan vegetatif maupun pertumbuhan generatif, yang pada akhirnya akan mempengaruhi hasil tanaman. Cekaman kekeringan pada saat pertumbuhan vegetatif
akan mempengaruhi ukuran dan intensitas source (daun dan akar). Cekaman
kekeringan pada saat pertumbuhan generatif akan mempengaruhi intensitas dan durasi source serta ukuran dari sink (misalnya buah atau bagian lain yang dipanen). Ukuran, intensitas dan durasi source serta ukuran sink akan mempengaruhi asimilasi total, dan akhirnya mempengaruhi hasil tanaman (Haryati, 2003).
Pengaruh dari cekaman air terhadap tanaman menurut Munns (2002) dapat diklasifikasikan berdasarkan beberapa tingkatan waktu, yaitu mulai dari menit, jam, hari, minggu dan bulan.
Tabel 1. Respon Tanaman terhadap Cekaman Kekeringan Menurut Waktu
Waktu Pengaruh yang terlihat pada saat cekaman air
Menit Penyusutan seketika laju pemanjangan daun dan akar yang kemudian
diikuti dengan penyembuhan sebagian.
Jam Laju pemanjangan akar kembali normal tapi lebih rendah dari laju
sebelumnya
Hari Pertumbuhan daun lebih dipengaruhi daripada pertumbuhan akar.
Laju mekarnya daun berkurang
Minggu Ukuran akhir daun tanaman dan/atau jumlah pucuk lateral tanaman
terus berkurang
Bulan Mengubah saat pembungaan, sehingga terjadi penyusutan produksi
biji/ Menyusutkan produksi biji.
Cekaman kekeringan dapat disebabkan oleh dua faktor, yaitu kekurangan suplai air di daerah perakaran atau laju kehilangan air (evapotranspirasi) lebih besar dari absorbsi air meskipun kadar air tanahnya cukup (Sasli, 2004). Tanaman-tanaman yang tumbuh pada kondisi cekaman kekeringan akan mengurangi jumlah stomata sehingga menurunkan laju kehilangan air. Penutupan stomata dan serapan CO2 bersih
pada daun berkurang secara pararel (bersamaan) selama kekeringan. Proses asimilasi karbon terganggu sebagai akibat dari rendahnya ketersediaan CO2 pada kloroplas
karena cekaman air yang menyebabkan terjadinya penutupan stomata. kekeringan yang hebat akan merubah/membatasi proses asimilasi, translokasi, penyimpanan dan penggunaan karbon fotoasimilat secara terpadu (Sasli, 2004).
Rumput sebagai Hijauan Makanan Ternak
Rumput memegang peranan penting dalam penyediaan pakan hijauan bagi ternak ruminansia di Indonesia. Rumput sebagai hijauan makanan ternak telah umum digunakan oleh peternak dan dapat diberikan dalam jumlah besar. Selanjutnya dikatakan pula bahwa rumput mengandung zat-zat makanan yang bermanfaat bagi kelangsungan hidup ternak, seperti air, lemak, serat kasar, beta-N, mineral serta vitamin.
Secara umum hijauan makanan ternak dapat dibagi menjadi empat yaitu, hijauan segar asal rumput, hijauan segar asal kacangan, hijauan segar selain rumput dan kacangan, dan jerami. Untuk dapat tumbuh dengan baik, tanaman memerlukan kondisi lingkungan yang sesuai dengan sifat tanaman tersebut. Pertumbuhan tanaman dipengaruhi oleh faktor-faktor seperti : curah hujan, suhu, cahaya, tipe tanah, struktur tanah, dan ketersediaan hara tanah (Nurhayati, 2002). .
Menurut Reksohadiprodjo (1985) rumput tropika terbagi dua yaitu rumput tropika daerah basah dan rumput tropika daerah kering. Adaptasi iklim rumput daerah tropika basah antara lain rumput jenis ini responsif terhadap hari yang pendek atau bersifat netral (perubahan vegetatif ke generatif bisa terjadi pada jangka waktu kurang dari 12 jam), hidup pada temperatur hangat dengan curah hujan >1000 mm setiap tahunnya, sedangkan rumput tropika kering hidup di daerah kering dan bersifat tahan penggembalaan berat serta tahan kekeringan.
Rumput Rhodes (Chloris gayana Kunth)
Rumput menahun ini berstolon dan tumbuh tegak. Karangan bunga berbentuk malai bentuk jari, dengan 6 sampai 15 malai satu sisi yang panjangnya 6 sampai 10 cm terkumpul di ujung pada tangkai batang. Jumlah malai tergantung dan sangat sensitif terhadap pemupukan. Rumput Rhodesmerupakan rumput asli daerah Afrika Selatan dan Afrika Timur, lalu meluas sampai ke Afrika Barat. Rumput ini termasuk jenis rumput yang berumur panjang, mempunyai jaringan perakaran yang kuat, luas dan dalam sehingga dapat membentuk granula-granula tanah yang baik, rumput ini tumbuh baik di iklim sub-tropis seperti di Afrika, Australia, Jepang, Amerika Selatan, dan Timur Tengah.
Gambar 1. Chloris gayana Kunth
Sumber : Dokumentasi pribadi
Menurut Moore (2006) Secara morfologis rumput ini hidup di padang rumput
terbuka. Rumput Rhodes atau Chloris gayana tumbuh di tanah yang kondisinya
mempunyai kisaran luas sesuai jika ditanam di daerah tropika dengan curah hujan tahunan 650-1200 mm. Masih dapat tumbuh dengan baik pada setiap jenis tanah dan juga tahan kering. Pada keadaan yang sangat basah pertumbuhannya agak kerdil, dan berwarna kekuning-kuningan.
Rumput Chloris gayana Kunth adalah rumput yang baik untuk padang
rumput rotasi di daerah tropik, palatable dan tahan padang pengembalaan serta tahan injakan, mudah dikembangkan dengan biji dan menutup dengan cepat (Reksohardiprojo, 1985). Ditambahkan pula bahwa rumput Rhodes cepat membentuk pertanaman yang penuh dengan perakaran dan responsif terhadap pemupukan nitrogen. Produksi berat kering (BK) umumnya berkisar dari kira-kira
sampai 10-25 ton/ha, tergantung dari varietas, kesuburan tanah, kondisi lingkungan, dan frekuensi pemotongan.
Rumput Paspalum notatum
Rumput ini dikenal dengan nama rumput Bahia (Amerika Serikat), jengi brillo (Kosta Rika), batatais (Brasil), Paraguay paspalum (Zimbabwe), tejona (Kuba). Memiliki akar yang berserat bentuk padat, bahkan di tanah berpasir rawan-kekeringan. Daun-bilah umumnya berbulu di pinggiran dan kurang dari 1 cm lebar.
Mempunyai bibit yang subur atau mudah berkembang baik (prolifically) selama
musim panas, biji batang 30-75 cm tinggi, biasanya dengan dua (kadang-kadang tiga), masing-masing panjangnya 6 cm. Biji berbentuk oval, kekuningan-hijau, mengkilap dan berdiamter sebesar 3 mm.
Gambar 2 Paspalum notatum
Sumber: Dokumentasi pribadi
Tanaman ini tumbuh pada musim semi, panas dan gugur, dengan curah hujan minimal 750 mm pertahun. Memiliki toleransi terhadap kekeringan yang cukup baik, karena akarnya tumbuh mendalam, dapat hidup pada berbagai jenis tanah, tetapi paling cocok adalah tanah berpasir. Suhu optimum untuk pertumbuhan rata-rata 20,2 °C. Tanaman ini tumbuh baik pada pH 4,5-6,5 memiliki produksi BK berkisar 40 ton/ha tergantung iklim (Newman, 2010)
Rumput Paspalum dilatatum
Paspalum dilatatum yang dikenal dengan nama rumput australi, rumput dallies (Indonesia), berasal dari Brazil, Argentina, Uruguay (Amerika Selatan). Rumput ini memiliki kandungan protein kasar berkisar antara 13,4-18,5% , lemak kasar 1,3-2,4 %, serat kasar 24,4-34,8 % dan Beta-N 40,1-48,6 %, kecernaan BK sekitar 50-63 %. Bentuk adaptasi rumput ini cocok pada jenis tanah berstruktur
sedang sampai berat, tapi yang paling baik adalah pada tanah berat yang basah dan subur. Hidup pada ketinggian 0-2000 m (dataran rendah sampai pegunungan). Rumput ini dapat memberikan pengaruh yang cukup berbahaya pada domba karena pengaruh dari senyawa cyanogenic glikosida yang terdapat dalam rumput ini, walaupun HCN nya relatif rendah (42 ppm). Kelebihan konsumsi dapat mengakibatkan ternak mengalami diare.
Gambar 3. Paspalum dilatatum
Sumber : Dokumentasi pribadi
Rumput ini termasuk rumput berumur panjang, tumbuh tegak yang bisa mencapai tinggi 60-150 cm, tumbuh di daerah rendah dengan curah hujan sekitar 750 mm, dan meluas setidaknya ke lereng yang lebih rendah yang lebih tinggi curah hujannya (sampai sekitar 1.700 mm) dengan suhu berkisar 22,5 0C- 30 0C, berdaun
rimbun yang berwana hijau tua. Tanaman ini toleran terhadap kekeringan karena sistem perakarannnya luas dan dalam, serta tahan genangan air, rumput ini juga merupakan rumput gembala yang baik, tahan injak, dan renggut serta palatable dan memiliki kandungan gizi yang tinggi. Sebagai rumput potong, rata-rata produksinya bisa mencapai 50-70 ton per tahun/ha ( Nahak, 2011).
Mikoriza Arbuskula (FMA)
Mikoriza merupakan salah satu bentuk simbiosis mutualistik antara cendawan (mykes) dan perakaran (rhiza) tumbuhan tingkat tinggi. Adanya bentuk asosiasi antara cendawan mikoriza dan akar, sebenarnya adalah suatu bentuk “parasitism” dimana cendawan menyerang sistem perakaran tetapi tidak sebagaimana halnya parasit yang berbahaya (patogen). Dalam hal ini cendawan tidak merusak atau membunuh inangnya tetapi memberikan keuntungan kepada tanaman inangnya
dengan mensuplai mineral anorganik yang berasal dari tanah untuk tanaman inang dan sebaliknya cendawan dapat memperoleh karbohidrat dan faktor pertumbuhan lainnya dari tanaman inang (Rungkat, 2009). Secara umum mikoriza di daerah tropis tergolong dalam dua tipe berdasarkan struktur dan cara infeksinya terhadap tanaman inangnya yaitu : ektomikoriza dan endomikoriza (Rungkat, 2009).
Struktur utama dari Fungi Mikoriza Arbuskula (FMA) adalah arbuskula, vesikula, hifa eksternal dan spora antara lain yaitu (Dewi, 2007) : (1) Arbuskula adalah struktur hifa yang bercabang-cabang seperti pohon-pohon kecil yang mirip haustorium (membentuk pola dikotom), berfungsi sebagai tempat pertukaran nutrisi antara tanaman inang dengan jamur. (2) Vesikel merupakan suatu struktur berbentuk lonjong atau bulat, mengandung cairan lemak, yang berfungsi sebagai organ penyimpanan makanan atau berkembang menjadi klamidospora, yang berfungsi sebagai organ reproduksi dan struktur tahan. (3) Hifa eksternal merupakan struktur lain dari FMA yang berkembang di luar akar. Hifa ini berfungsi menyerap hara dan air di dalam tanah. (4) Spora, merupakan propagul yang bertahan hidup dibandingkan dengan hifa yang ada di dalam akar tanah. Spora terdapat pada ujung hifa eksternal dan dapat hidup selama berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun. Perkecambahan spora bergantung pada lingkungan seperti pH, temperatur dan kelembaban tanah serta kadar bahan organik.
Bentuk struktur arbuskula, vesikula, hifa eksternal dan spora dapat dilihat pada Gambar 4.
(a) (b) (c) (d) Gambar 4. Bentuk Struktur (a) Arbuskula (b) Vesikula (c) Hifa Eksternal (d) Spora
Sumber : Dokumentasi pribadi.
Fungi Mikoriza Arbuskula (FMA) yang menginfeksi sistem perakaran tanaman inang akan memproduksi hifa secara intensif sehingga tanaman bermikoriza akan mampu meningkatkan kapasitasnya dalam penyerapan unsur hara dan air serta
meningkatkan daya tahan tanaman terhadap serangan patogen tanah (Brundrett et al., 1996). Beberapa manfaat yang dapat diperoleh tanaman inang dari adanya asosiasi FMA adalah sebagai berikut : (1) meningkatkan unsur hara, (2) meningkatkan ketahanan terhadap kekeringan, (3) tahan terhadap serangan patogen akar, dan (4) FMA dapat memproduksi hormon dan zat pengatur tumbuh.
Hubungan Mikoriza dengan Tanaman
Simbiosis antara mikoriza dan tanaman inangnya (jamur, tanah, dan akar tanaman) merupakan simbiosis mutualisme (saling menguntungkan) (Brundrett, 2000). Simbiosis ini meliputi penyediaan fotosintat oleh inang untuk jamur dan sebaliknya tanaman inang memperoleh nutrien yang diambil oleh tanah dari jamur. Pada asosiasi ini infeksi pada akar tidak menyebabkan penyakit.
Mikoriza dikenal efektif dalam meningkatkan penyerapan hara, terutama akumulasi fosfor dan dan biomassa dari banyak tanaman di dalam tanah dengan
kandungan fosfor yang rendah (Rungkat, 2009). Turk et al. (2006) mengatakan
bahwa peran utama dari FMA adalah untuk menyediakan fosfor bagi akar tanaman yang terkena infeksi, karena fosfor adalah salah satu unsur yang sangat tidak mobil di dalam tanah, meskipun jika fosfor ditambahkan di tanah dalam bentuk segera larut, fosfor tersebut akan menjadi tidak mobil seperti fosfor organik dan kalsium fosfat.
Rungkat (2009) menjelaskan bahwa tanaman yang bermikoriza biasanya tumbuh lebih baik dari pada tanaman yang tidak bermikoriza. Mikoriza memiliki peranan bagi pertumbuhan dan produksi tanaman, peranan mikoriza bagi tanaman sebagai berikut : a) mikoriza meningkatkan penyerapan unsur hara, b) mikoriza melindungi tanaman inang dari pengaruh yang merusak yang disebabkan oleh stres kekeringan, c) mikoriza dapat beradaptasi dengan cepat pada tanah yang terkontaminasi, d) mikoriza dapat melindungi tanaman dari patogen akar e) mikoriza dapat memperbaiki produktivitas tanah dan memantapkan struktur tanah. Pada tanaman rumput pengaruh mikoriza terhadap pertumbuhan juga cukup baik.
Tanah Latosol
Pembentukan Latosol biasanya terdapat di daerah tropik dan subtropik dengan curah hujan dan suhu yang tinggi. Pada daerah ini gaya-gaya hancuran bekerja lebih cepat dan lebih besar pengaruhnya daripada di daerah sedang. Di daerah tropik proses hidrolisis dan oksidasi berlangsung sangat intensif dan mineral-mineral silikat cepat hancur. Sifat Latosol yang utama adalah warna merah dan kuning, terutama pada horison B tetapi bila lapisan atas tererosi biasanya akan berwarna cokelat dan kelabu. Sifat lain yang penting dari Latosol adalah terbentuknya keadaan granular, keadaan ini akan merangsang drainase dalam keadaan sangat baik (Buckman dan Brady, 1974).
Latosol Darmaga menurut taksonomi tanah (USDA, 1975), termasuk kedalam Oxic Dystropept. Tanah ini terletak pada zona fisiografi Bogor bagian barat dan berbahan induk batuan vulkanik kuarter gunung Salak yang bersusunan Andesitik dengan asosiasi Augit. Sifat kimia dan fisik dari tanah Oxic Dystropept Darmaga adalah KTK tanah lebih dari 16 me/100 g liat, retensi kation dengan NH4Cl
lebih dari 12 me/100 g liat, potensi kesuburan alaminya cukup baik yang dicirikan oleh kandungan Augit dan Plagioklas intermedier cukup banyak pada fraksi 200-20 mikro. Tingkat kesuburan NPK rendah sampai sedang, sangat responsif terhadap pemupukan P, permeabilitasnya agak lambat sampai dengan sedang (Yogaswara, 1977).
MATERI DAN METODE Lokasi dan Waktu Penelitian
Penelitian ini dilakukan di Rumah Kaca Agrostologi Fakultas Peternakan IPB, Laboratorium Agrostologi, Laboratorium Nutrisi Ternak Perah, Fakultas Peternakan, Institut Pertanian Bogor. Pelaksanaan penelitian dimulai bulan Juli 2010 sampai dengan Juli 2011.
Materi
Bahan yang digunakan dalam penelitian ini meliputi: pols Chloris gayana, Paspalum notatum, Paspalum dilatatum, tanah Latosol, pupuk KCl dan NPK, dan FMA yang diperoleh dari Labolatorium Bioteknologi Hutan dan Lingkungan Pusat Penelitian Sumberdaya Hayati LPPM IPB. Peralatan yang digunakan timbangan, pot, alat penyiram tanaman, pecahan batu, plastik, sekop tanah, amplop cokelat, gunting, solatip, penggaris dan oven.
Prosedur
Persiapan jenis rumput
Tiga jenis rumput yaitu, Chloris gayana, Paspalum notatum, Paspalum
dilatatum, masing-masing 20 pols.
Persiapan Media Tanam
Sebagai media tumbuh digunakan jenis tanah Latosol dari daerah Darmaga dengan cara mengambil lapisan tanah bagian atas pada kedalaman 0-20 cm. Tanah tersebut dicampur dengan pupuk kandang secara merata dengan perbandingan 9:1 (v/v), yaitu tanah sebanyak 4,5 kg dan pupuk kandang sebanyak 0,5 kg.
Penanaman
Rumput ditanam di dalam pot kapasitas 5 kg tanah, setiap pot ditanam 4 individu pols rumput. Sebelum penanaman diberikan perlakuan dengan penambahan FMA sebanyak 20 gram setiap pot tanaman (untuk pot yang mendapat penambahan mikoriza). Tanaman ditumbuhkan terlebih dahulu selama satu bulan sebelum mendapatkan perlakuan penyiraman. Setelah tumbuh dengan baik maka dapat dimulai perlakuan yaitu dengan disiram dan tidak disiram. Dosis pemberian pupuk
Perlakuan Kekeringan
Sebelum perlakuan kekeringan dimulai, semua pot mendapatkan perlakuan yang sama yaitu disiram satu kali sehari. Kemudian pot diberi plastik mulsa yang dibentuk bulat dengan diameter ± 35 cm untuk menutupi permukaan pot. Pada perlakuan tidak disiram (S1) plastik mulsa diselotip di sekeliling pot sedangkan pada
perlakuan disiram (S0) diberi celah yang tidak diselotip untuk memudahkan proses
penyiraman. Perlakuan dimulai pada keesokan harinya dan dihitung sebagai H0. Pada
pot perlakuan S0 dilakukan penyiraman setiap pagi sedangkan untuk perlakuan S1
tidak dilakukan penyiraman sampai tanaman mati dan ini berarti perlakuan dihentikan kemudian dilakukan pemanenan.
Pemeliharaan
Pemeliharaan tanaman meliputi penyiraman, pembersihan gulma dan pemberantasan hama dan penyakit. Penyiraman dilakukan satu kali sehari yaitu pada pagi hari. Pembersihan gulma dilakukan secara manual yaitu dengan cara mencabut gulma. Penyemprotan hama dilakukan apabila tanaman terkena hama. Penyemprotan menggunakan pestisida yang terbuat dari bahan organik, yaitu dengan sistem kerja langsung kontak terhadap hama yang menyerang rumput sehingga tidak meninggalkan residu yang dapat mempengaruhi tanaman selama penelitian.
Panen
Pemanenan dilakukan setelah semua tanaman perlakuan tidak disiram (S1) berada dalam kondisi titik layu permanen. Kemudian semua tanaman dipanen pada semua perlakuan untuk memperoleh berat kering tajuk dan akar yang selanjutnya akan dioven.
Pengamatan
Pengamatan dilakukan setiap empat hari sekali dengan mengukur pertambahan tinggi vertikal tanaman dan pengambilan sampel tanah untuk mengukur kadar air tanah.
Rancangan dan Analisis Data Rancangan percobaan
Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) yang terdiri
dengan 4 perlakuan 5 ulangan. Jenis rumput yang digunakan, yaitu Paspalum
notatum, Paspalum dilatatum, Chloris gayana. Setiap jenis rumput dilakukan penelitian secara terpisah.
Perlakuan yang digunakan dalam penelitian ini antara lain: M0S0 = Tanpa mikoriza dan disiram tiap hari
M0S1 = Tanpa mikoriza dan tidak disiram
M1S0 = Dengan mikoriza dan disiram tiap hari
M1S1 = Dengan mikoriza dan tidak disiram
Model
Model statistik yang digunakan adalah sebagai berikut : Yij = μ + ρi + εij
Keterangan: i = 1, 2, 3, 4 j = 1, 2, 3, 4
Yij = Nilai pengamatan perlakuan ke-i dan ulangan ke-j
μ = Nilai rataan umum
ρi = Pengaruh perlakuan ke-i
εij = Pengaruh galat
Peubah yang Diamati
Peubah yang diamati dalam penelitian ini adalah:
Tinggi tanaman, jumlah anakan, kadar air tanah, infeksi akar, berat kering tajuk, berat kering akar, indeks sensitivitas kekeringan.
Tinggi Tanaman : Pengukuran pertambahan tinggi vertikal tanaman dimulai dari bagian tanaman di atas permukaan tanah sampai ujung tanaman dengan menggunakan pita ukur.
Pertambahan tinggi vertikal tanaman = Tt – T0
Keterangan : T0 = tinggi vertikal awal tanaman (cm)
Pertambahan tinggi tanaman diukur dengan cara meluruskan daun, kemudian mengukur dari permukaan tanah sampai daun paling panjang.
Jumlah Anakan : Anakan dihitung bila telah ada daun yang terbuka dengan sempurna pada setiap jenis rumput.
Kadar Air tanah : Sampel tanah diambil sebanyak 5 g pada masing-masing pot tanaman kemudian dimasukkan ke dalam oven 105 ºC selama 24 jam. Setelah itu timbang berat sampel setelah dioven. Kadar air didapat dari berat sampel sebelum dimasukkan ke oven dikurangi berat sampel setelah dioven dibagi berat sampel setelah dioven kemudian dikalikan 100%.
Keterangan : W0 = berat sampel tanah sebelum dioven
Wt = berat sampel tanah setelah dioven
Infeksi Akar : Banyaknya infeksi diukur dengan melihat persentase akar yang terinfeksi oleh hifa. Untuk menghitung banyaknya akar yang terinfeksi oleh fungi mikoriza arbuskula terlebih dahulu dilakukan teknik pewarnaan akar yang dikembangkan oleh Phyllip dan Hayman (1970). Pewarnaan akar dilakukan dengan cara akar dicuci kemudian dipotong-potong dan dimasukkan ke dalam tabung, lalu ditambahkan larutan KOH 10% dan tabung ditutup. Setelah 24 jam KOH dibuang dan diganti dengan yang baru kemudian didiamkan selama 24 jam. Akar dicuci dan disaring dengan saringan kemudian dipotong-potong sepanjang 5 cm, dimasukkan ke dalam tabung dan dibiarkan selama 24 jam setelah mengalami penambahan larutan HCl 2%. Larutan diganti dengan larutan destaining dibiarkan selama 24 jam dan simpan pada tabung film.
Untuk menghitung infeksi akar, potongan akar dengan panjang 1 cm diambil sebanyak 10 buah, kemudian diletakkan di gelas preparat dan ditutup dengan cover glass. Agar tidak goyang diberikan PVLG, bila belum dapat dihitung, akar yang terinfeksi dapat disimpan di lemari pendingin. Persentase jumlah akar yang terinfeksi dapat dilihat dengan menggunakan mikroskop stereo dengan rumus sebagai berikut:
Berat Kering Tajuk dan Akar : Pengukuran berat kering tajuk dan akar dilakukan pada akhir percobaan, untuk keperluan tersebut tajuk dan akar dengan cara dioven pada suhu 70 ºC selama 48 jam, setelah itu batang ditimbang. Berat kering tajuk dan akar yang diperoleh dinyatakan dalam satuan gram/pot.
Indeks Sensitivitas Kekeringan : Toleransi tanaman rumput terhadap cekaman kekeringan dinilai dengan indeks sensitivitas terhadap kekeringan (S) dengan rumus
(Fischer dan Maurer, 1978): S = (1-Y/Yp)/(1-X/Xp), Y = nilai respon jenis rumput
pada perlakuan cekaman kekeringan (S1), Yp = nilai respon rata-rata empat jenis
rumput pada perlakuan cekaman kekeringan (S1), X = nilai respon jenis rumput pada
perlakuan disiram setiap hari (S0), Xp = nilai respon rata-rata empat jenis rumput
pada perlakuan disiram setiap hari (S0). Peubah setiap jenis rumput dikelompokkan
menjadi toleran(T) jika ISK 0,5; agak toleran (AT) jika 0,5 < ISK 1,0; dan peka (P) terhadap cekaman kekeringan jika ISK > 1,0. Setelah dilakukan penentuan tingkat toleransi, selanjutnya dilakukan skoring terhadap tingkat toleransi dengan kaidah sebagai berikut : P = skor 0, AT = skor 1 dan T = skor 2. Hasil dari perhitungan skoring kemudian dikalikan dengan skoring terhadap hari dengan kaidah : H24 = skor 1, H32 = skor 2, dan H44 = skor 3.
Analisis Data
Data yang diperoleh dari penelitian dianalisis menggunakan analisa ragam (Analysis of Variance, ANOVA) dan bila terjadi perbedaan dilanjutkan dengan uji pembanding berganda Duncan (Program SAS 9.1).
HASIL DAN PEMBAHASAN Pengamatan Umum Penelitian
Pada penelitian ini beberapa jenis tanaman rumput yang diamati adalah Paspalum notatum, Paspalum dilatatum, Chloris gayana, dan ditanam dengan menggunakan anakan/pols. Tanaman tumbuh dengan baik pada awal pertumbuhan sebelum mendapatkan perlakuan karena masih mendapatkan perlakuan yang sama yaitu disiram setiap hari, hal ini bertujuan agar tanaman tumbuh sampai pada kondisi yang siap untuk diberikan perlakuan cekaman kekeringan.
Pengamatan pada tanaman dihentikan bila tanaman yang mendapatkan perlakuan cekaman kekeringan telah mengalami titik layu permanen yang diakibatkan oleh cekaman kekeringan ditandai dengan terjadinya pelayuan pada daun (daun berwarna kuning) kemudian rontok, lalu diikuti dengan pembusukan pada batang. Kondisi titik layu permanen, yaitu kondisi kandungan air tanah dimana akar-akar tanaman mulai tidak mampu lagi menyerap air dari tanah sehingga tanaman mengalami layu permanen dalam arti sukar disembuhkan kembali meskipun telah
ditambahkan sejumlah air yang mencukupi. Pada tanaman Chloris gayana yang
mendapatkan perlakuan cekaman kekeringan mengalami kelayuan permanen pada hari ke-32 sedangkan pada tanaman Paspalum notatum, dan Paspalum dilatatum mengalami kelayuan permanen pada hari ke-44 dan ke-24. Tanaman mengalami kelayuan permanen yang berbeda-beda, dapat dilihat pada Tabel 2.
Tabel 2. Kelayuan Permanen pada Setiap Jenis Rumput
Jenis Rumput Kelayuan Permanen Hari ke-
Paspalum dilatatum 24
Chloris gayana 32
Paspalum notatum 44
Keterangan : Setiap jenis rumput dilakukan penelitian yang terpisah.
Berdasarkan hasil pengamatan kelayuan permanen menunjukkan tanaman Paspalum notatum mengalami kekeringan yang lebih lama dibandingkan rumput yang lainnya. Keadaan suhu pada rumah kaca selama penelitian berkisar antara 23°C-33°C. Pada pagi hari suhu rumah kaca berkisar antara 23°C-27°C, dengan suhu
rata-rata 25°C. Pada siang hari suhu rumah kaca berkisar antara 29°C-35°C, dengan suhu rata- rata 33°C, sedangkan pada sore hari suhu rumah kaca berkisar antara 25°C-30°C, dengan suhu rata-rata 26°C.
Pengaruh Perlakuan terhadap Kadar Air Tanah
Kadar air tanah menggambarkan besarnya air tersedia yang diserap oleh tanaman untuk melakukan pertumbuhan hingga batas dimana air menjadi tidak tersedia dan tanaman mengalami layu. Rataan persen kadar air tanah dari rumput Paspalum notatum, Paspalum dilatatum, dan Chloris gayana dapat dilihat pada Tabel 5. Data rataan kadar air tanah pada Tabel 5 merupakan data kadar air tanah pada saat panen dilakukan, artinya data kadar air tanah perlakuan tersebut merupakan data kadar air tanah kondisi titik layu permanen pada perlakuan M1S1 dan M0S1.
Berdasarkan hasil sidik ragam perlakuan memberikan pengaruh yang sangat nyata
(P<0,01) terhadap kadar air tanah pada rumput Paspalum notatum, Paspalum
dilatatum, dan Chloris gayana Pengaruh perlakuan terhadap rataan persen kadar air tanah dapat dilihat pada Tabel 5.
Tabel 5. Pengaruh Perlakuan terhadap Rataan Persen Kadar Air Tanah. Persen Kadar Air Tanah (%)
Perlakuan Chloris gayana Paspalum notatum Paspalum dilatatum
M0S0 36,0±8.0A 66.9±2.5A 38.1±15,2A
M0S1 27,9±5.0C 26.2±1.1C 10.4±4.3C
M1S0 39,9±8.1A 65.3±3.8A 42.4±8.0A
M1S1 27,2±10.5B 32.5±4.7B 27.7±6.6B
Keterangan : Huruf yang berbeda pada kolom yang sama menunjukkan pengaruh yang berbeda nyata (P0,01). M0S0 : Tanpa mikoriza dan disiram tiap hari; M0S1 : Tanpa mikoriza dan tidak
disiram; M1S0 : Dengan mikoriza dan disiram tiap hari; M1S1 : Dengan mikoriza dan
tidak disiram. Tanaman yang berbeda dilakukan penelitian yang terpisah.
Berdasarkan hasil sidik ragam perlakuan memberikan pengaruh yang sangat nyata terhadap kadar air tanah (P<0,01) pada rumput Chloris gayana, Paspalum notatum, Paspalum dilatatum. Nilai tertinggi rataan persen kadar air tanah terhadap perlakuan ditunjukkan oleh perlakuan M0S0 dan M1S0 pada Chloris gayana (36,0 %
(38,1 % dan 42,4 %), hal ini menunjukkan bahwa penyiraman air setiap hari pada tanaman rumput dapat meningkatkan kadar air dalam tanah. Selain itu, pada Tabel 5 dapat dilihat bahwa pada perlakuan yang mendapat perlakuan M1S1 dan M1S0
memiliki ketersedian air yang lebih sedikit bila dibandingkan dengan perlakuan M0S1
dan M0S0, hal ini membuktikan bahwa pemberian mikoriza pada tanaman akan
membuat tanaman rumput lebih efektif dalam penyerapan air dari dalam tanah oleh akar tanaman yang telah terinfeksi oleh mikoriza sehingga air yang tersedia lebih sedikit. Evapotranspirasi berpengaruh terhadap ketersediaan air tanah, evapotranspirasi merupakan gabungan evaporasi dari permukaan tanah dan transpirasi tanaman yang menguap melalui akar tumbuhan ke batang daun menuju
atmosfer (BMG, 2006). Menurut Djondronegoro et al., (1989), produksi tanaman
sangat dipengaruhi oleh ketersediaan air yang diantaranya berasal dari curah hujan.
Gambar 8. Pengaruh Perlakuan terhadap Kadar Air Tanah Tanaman Chloris gayana
Keterangan: M0S0=Tanpa mikoriza dan disiriam tiap hari; M0S1=Tanpa mikoriza dan
tidak disiram. M1S0=Dengan mikoriza dan disiram tiap hari; M1S1=Dengan mikoriza
dan tidak disiram
Pengaruh perlakuan terhadap kadar air tanah tanaman Chloris gayana,
perlakuan M0S0 memberikan nilai kadar air tanah tertinggi pada hari ke 12,
sedangkan perlakuan M1S0 memberikan nilai tertinggi pada hari ke 16 sampai hari ke
20 (Gambar 8), hal ini menunjukkan bahwa mikoriza memberikan pengaruh meningkatkan kadar air tanah setelah beberapa hari diinfeksi pada tanaman.
Pengaruh perlakuan pada tanaman Paspalum dilatatum terhadap kadar air tanah pada hari pengamatan menunjukkan perlakuan memberikan nilai tertinggi pada hari ke 12, sedangkan perlakuan terendah terjadi pada hari ke 24 pada M0S0, M0S1,
M1S0 , dan M1S1 (Gambar 9), hal menunjukkan bahwa respon kadar air tertinggi
tanaman Paspalum dilatatum terjadi pada hari ke 12 dan kadar air terendah
menjelang titik layu permanen.
Gambar 9. Pengaruh Perlakuan terhadap Kadar Air Tanah Tanaman Paspalum dilatatum
Keterangan: M0S0=Tanpa mikoriza dan disiriam tiap hari; M0S1=Tanpa mikoriza dan
tidak disiram. M1S0=Dengan mikoriza dan disiram tiap hari; M1S1=Dengan mikoriza
dan tidak disiram
Gambar 10. Pengaruh Perlakuan terhadap Kadar Air Tanah Tanaman Paspalum notatum
Keterangan: M0S0=Tanpa mikoriza dan disiriam tiap hari; M0S1=Tanpa mikoriza dan
tidak disiram. M1S0=Dengan mikoriza dan disiram tiap hari; M1S1=Dengan mikoriza
Pengaruh Perlakuan terhadap Pertambahan Tinggi Vertikal Tanaman Pertumbuhan adalah proses pertambahan ukuran yang tidak dapat kembali ke
asal (irreversibel) yang meliputi pertambahan volume dan massa. Salah satu
parameter pertumbuhan yang sering diamati adalah tinggi tanaman, dengan mengetahui pertambahan tinggi suatu tanaman maka dapat dilihat pertumbuhannya. Pengaruh perlakuan terhadap rataan pertambahan tinggi vertikal tanaman dapat dilihat pada Tabel 3.
Tabel 3. Pengaruh Perlakuan terhadap Rataan Pertambahan Tinggi Vertikal Tanaman Rataan Tinggi Vertikal Tanaman (cm)
Perlakuan Chloris gayana Paspalum notatum Paspalum dilatatum
M0S0 17,6 ± 1,7A 68,5 ± 6,4AB 97,63 ± 8,18AB
M0S1 16,1 ± 0,9A 69,7 ± 5,4A 94,90 ± 5,98AB
M1S0 17,6 ± 3,3A 61,0 ± 5,7B 101,40 ± 3,39A
M1S1 14,3 ± 1,2B 67,5 ± 5,8AB 88,43 ± 4,65B
Keterangan : Huruf yang berbeda pada kolom yang sama menunjukkan pengaruh yang berbeda nyata (P0,01). M0S0 : Tanpa mikoriza dan disiram tiap hari ; M0S1 : Tanpa mikoriza dan tidak
disiram; M1S0 : Dengan mikoriza dan disiram tiap hari; M1S1 : Dengan mikoriza dan
tidak disiram. Tanaman yang berbeda dilakukan penelitian yang terpisah.
Hasil pengukuran rataan tinggi tanaman pada tiap-tiap perlakuan menunjukkan hasil yang berbeda-beda pada tiap tanaman (Gambar 1, 2, dan 3). Berdasarkan hasil sidik ragam perlakuan memberikan pengaruh yang sangat nyata terhadap tinggi tanaman (P<0,01) pada rumput Chloris gayana, Paspalum dilatatum, Paspalum notatum. Nilai terbesar rataan tinggi tanaman terhadap perlakuan berturut-turut ditunjukkan oleh perlakuan M1S0 (101,40 cm) pada Paspalum dilatatum dan
perlakuan M1S0 (61,0 cm) pada Paspalum notatum dan M0S0 (17,6 cm) pada Chloris
gayana, hal ini menunjukkan bahwa pemberian mikoriza dan penyiraman air setiap hari pada rumput dapat meningkatkan tinggi tanaman.
Tabel 3 memperlihatkan bahwa Paspalum dilatatum lebih merespon
pemberian perlakuan terhadap tinggi tanaman bila dibandingkan dengan rumput Chloris gayana dan Paspalum notatum meskipun rataan tinggi rumput Chloris gayana lebih rendah dibandingkan keduanya. Chloris gayana memiliki tinggi yang
lebih besar bila dibandingkan dengan rumput yang lain (Paspalum notatum dan Paspalum dilatatum) Hal ini dikarenakan. Chloris gayana merupakan rumput yang berstolon dan tumbuh tegak.(Mcllroy, 1977).
Gambar 5. Pengaruh Perlakuan terhadap Tinggi Tanaman Chloris gayana
Keterangan: M0S0=Tanpa mikoriza dan disiriam tiap hari; M0S1=Tanpa mikoriza
dan tidak disiram. M1S0=Dengan mikoriza dan disiram tiap hari; M1S1=Dengan
mikoriza dan tidak disiram
Karti (2005) menjelaskan bahwa terjadi penurunan laju pertambahan tinggi vertikal tanaman seiring dengan penurunan kadar air tanah dan sebaliknya yakni terjadi peningkatan pertambahan tinggi verikal tanaman pada kadar air tanah 85 % dari kapasitas lapang. Maka, pertumbuhan tanaman terutama tinggi tanaman sangat dipengaruhi oleh ketersediaan air di dalam tanah.
Mapegau (2006) menyatakan bahwa pertumbuhan tanaman sangat dipengaruhi oleh kondisi cekaman air, yaitu tanaman akan mengalami penurunan pertambahan tingginya dalam kondisi cekaman air.
Selain itu, rataan tinggi tanaman yang mendapat perlakuan pemberian mikoriza (M1S0 dan M1S1) pada rumput Paspalum dilatatum memiliki rataan tinggi
tanaman yang lebih baik bila dibandingkan dengan perlakuan tanpa pemberian mikoriza (M0S0 dan M0S1), hal ini membuktikan bahwa pemberian mikoriza dapat
Gambar 6. Pengaruh Perlakuan terhadap Tinggi Tanaman Paspalum dilatatum.
Keterangan: M0S0=Tanpa mikoriza dan disiriam tiap hari; M0S1=Tanpa mikoriza dan
tidak disiram. M1S0=Dengan mikoriza dan disiram tiap hari; M1S1=Dengan mikoriza
dan tidak disiram.
Gambar 7. Pengaruh Perlakuan terhadap Tinggi Tanaman Paspalum notatum.
Keterangan: M0S0=Tanpa mikoriza dan disiriam tiap hari; M0S1=Tanpa mikoriza dan
tidak disiram. M1S0=Dengan mikoriza dan disiram tiap hari; M1S1=Dengan mikoriza dan
tidak disiram
Sasli (2004) menjelaskan bahwa mikoriza dapat membantu proses penyerapan unsur hara dari dalam tanah sehingga proses pertumbuhan tanaman terutama tinggi tanaman dapat berjalan secara optimal.
Pengaruh Perlakuan terhadap Jumlah Anakan
Pertumbuhan jumlah anakan pada rumput Paspalum notatum, Paspalum
dilatatum, dan Chloris gayana dapat dilihat pada Tabel 4.
Tabel 4. Pengaruh Perlakuan terhadap Jumlah Anakan Jumlah Anakan
Perlakuan Chloris gayana Paspalum notatum Paspalum dilatatum
M0S0 21,4±6,1A 13,8±6,4A 18,2±5,5A
M0S1 2,4±2,3B 1,6±1.7C 4,0±1,2B
M1S0 20,8±2,8A 16,0±6,8A 14,6±3,5A
M1S1 2.2±2,7B 3,6±2,3B 6,4±0,9B
Keterangan : Huruf yang berbeda pada kolom yang sama menunjukkan pengaruh yang berbeda nyata (P0,01). M1S0 : Dengan mikoriza dan disiram tiap hari; M1S1 : Dengan mikoriza dan
tidak disiram; M0S0 : Tanpa mikoriza dan disiram tiap hari; M0S1 : Tanpa mikoriza dan
tidak disiram. Tanaman yang berbeda dilakukan penelitian yang terpisah.
Jumlah anakan menggambarkan tingkat pertumbuhan tanaman pada setiap jenis rumput yang dihitung bila telah ada daun yang terbuka secara sempurna, Berdasarkan hasil sidik ragam perlakuan memberikan pengaruh yang sangat nyata terhadap kadar air tanah (P<0,01) pada rumput Chloris gayana, Paspalum notatum, Paspalum dilatatum nilai tertinggi rataan jumlah anakan terhadap perlakuan ditunjukkan oleh perlakuan M0S0 dan M1S0 pada Chloris gayana (21,4 dan 20,8),
Paspalum notatum (13,8 dan 16,0) dan Paspalum dilatatum (18,2 dan 14,6), hal ini menunjukkan bahwa penyiraman air setiap hari pada tanaman rumput dapat meningkatkan jumlah anakan pada setiap jenis rumput . Selain itu, pada Tabel 4 dapat dilihat bahwa pada perlakuan yang mendapat perlakuan M1S1 dan M1S0
memiliki rataan jumlah anakan yang lebih banyak dibandingkan dengan perlakuan M0S1 dan M0S0 terutama pada rumput Paspalum notatum. Jumlah anakan sangat
dipengaruhi oleh kemampuan tanaman tersebut untuk menyerap unsur hara dari tanah. Infeksi mikoriza dapat meningkatkan penyerapan fosfor dan pertumbuhan tanaman (Mosse, 1981).
Pengaruh Perlakuan terhadap Berat Kering Tajuk dan Akar
Produksi bahan kering merupakan peubah yang sangat penting untuk menduga produksi potensial tanaman dan dijadikan pedoman untuk mengetahui tingkat pertumbuhan dan perkembangan tanaman (Salisbury dan Ross, 1995).
Tabel 6. Pengaruh Perlakuan terhadap Rataan Berat Kering Tajuk dan Akar. Berat Kering Tajuk (gram/pot)
Perlakuan Chloris gayana Paspalum notatum Paspalum dilatatum
M0S0 34,5 ± 9,3A 34,1 ± 7,2A 24,3 ± 6,5A
M0S1 12,5 ± 3,7B 8,2 ± 12,9B 15,2 ± 0,7B
M1S0 40,1 ± 9,0A 29,4 ± 15,1A 22,5 ± 3,4A
M1S1 8,9 ± 3,5B 12,1 ±5,6B 12,4 ± 5,2B
Berat Kering Akar (gram/pot)
Perlakuan Chloris gayana Paspalum notatum Paspalum dilatatum M0S0 1,9 ± 1,0B 6,0 ± 1,2A 2,2 ± 1,1A
M0S1 1,0 ± 0,2C 2,3 ± 0,4B 2,0 ± 0,2A
M1S0 3,7 ± 0,7A 4,9 ± 2,3A 2,2 ± 1,0A
M1S1 0,9 ± 0,5C 2,9 ± 0,4B 1,9 ± 1,1A
Keterangan : Huruf yang berbeda pada kolom yang sama menunjukkan pengaruh yang berbeda nyata (P0,01). M0S0 : Tanpa mikoriza dan disiram tiap hari; M0S1 : Tanpa mikoriza dan tidak
disiram; M1S0 : Dengan mikoriza dan disiram tiap hari; M1S1 : Dengan mikoriza dan
tidak disiram. Tanaman yang berbeda dilakukan penelitian yang terpisah.
Berat Kering Tajuk
Nilai berat kering tajuk dari rumput Chloris gayana, Paspalum notatum,dan Paspalum dilatatum dapat dilihat pada Tabel 6. Berdasarkan hasil sidik ragam perlakuan memberikan pengaruh yang sangat nyata terhadap berat kering tajuk (P<0,01) pada rumput Chloris gayana, Paspalum notatum, dan Paspalum dilatatum. Nilai terbesar rataan berat kering tajuk terhadap perlakuan ditunjukkan oleh perlakuan M1S0 pada rumput Chloris gayana (40,1 gram), Paspalum notatum, (29,4
gram) dan Paspalum dilatatum (22,5 gram). Hal ini menunjukkan bahwa pemberian mikoriza dan penyiraman air setiap hari pada rumput dapat meningkatkan berat kering tajuk. Hasil penelitian (Tabel 6) menunjukkan bahwa cekaman kekeringan
dapat menurunkan berat kering tajuk sehingga pertumbuhan tanaman dapat dikatakan akan menurun dengan adanya cekaman kekeringan pada tanaman. Mapegau (2006) menjelaskan bahwa pertumbuhan tanaman sangat peka terhadap defisit air karena berhubungan dengan turgor dan hilangnya turgiditas dapat menghentikan pembelahan dan pembesaran sel yang mengakibatkan tanaman menjadi lebih kecil. Selain itu, hal ini juga akan berdampak terhadap produksi dari tanaman tersebut.
Pada Tabel 6, pemberian mikoriza pada Chloris gayana dapat meningkatkan berat kering tanaman tersebut. Hal ini menunjukkan bahwa pemberian mikoriza dapat meningkatkan berat kering tajuk. Menurut Rungkat (2009) mikoriza dapat meningkatkan penyerapan unsur hara pada tanaman yang diinfeksinya, sehingga pertumbuhan dan produksi tanaman tersebut dapat meningkat.
Berat Kering Akar
Berat kering akar dari rumput Chloris gayana, Paspalum notatum, dan
Paspalum dilatatum dapat dilihat pada Tabel 6. Berdasarkan hasil sidik ragam perlakuan memberikan pengaruh yang sangat nyata terhadap berat kering akar (P<0,01) rumput Chloris gayana, Paspalum notatum, dan Paspalum dilatatum terhadap berat kering akar. Nilai terbesar rataan berat kering akar terhadap perlakuan
ditunjukkan oleh perlakuan M1S0 pada rumput Paspalum notatum (4,9 gram),
Chloris gayana (3,7 gram) dan Paspalum dilatatum (2,2 gram). Hasil ini menunjukkan bahwa pemberian mikoriza dan penyiraman setiap hari dapat meningkatkan berat kering akar pada rumput tersebut.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan yang diberikan mikoriza akan memiliki berat kering akar yang lebih besar bila dibandingkan dengan berat kering akar yang tanpa diberikan mikoriza (Tabel 6). Hal ini didukung oleh penelitian yang dilakukan oleh Utama dan Yahya (2003), terjadi peningkatan berat kering akar pada
tanaman legum penutup tanah (Calopogonium mucunoides, Calopogonium
ceurelieum, Centrosema pubescens dan Pueraria javanica) yang diberikan mikoriza. Menurut Sasli (2004) peranan langsung dari mikoriza adalah membantu akar dalam meningkatkan penyerapan air dari dalam tanah ke dalam akar, karena mikoriza dapat memperluas permukaan akar dalam penyerapan air dari dalam tanah. Air yang diserap dari dalam tanah akan digunakan oleh tumbuhan untuk pembelahan dan
pembesaran sel yang salah satunya terwujud dalam pertumbuhan akar, yaitu meningkatnya derajat percabangan dan diameter akar.
Pada Tabel 6, dapat dilihat bahwa berat kering akar akan menurun dalam
kondisi cekaman kekeringan. Menurut Sasli (2004) kekurangan air secara internal pada tanaman berakibat langsung pada penurunan pembelahan dan pembesaran sel. Hal inilah yang menyebabkan terjadinya penurunan berat kering akar yang disebabkan oleh cekaman air.
Menurut Sasli (2004) tanaman yang tumbuh pada kondisi cekaman kekeringan akan mengurangi jumlah stomata sehingga mengurangi laju kehilangan air. Penutupan stomata akan menyebabkan serapan CO2 bersih pada daun berkurang
secara paralel (bersamaan) selama kekeringan. Dampaknya, proses asimilasi karbon terganggu sebagai akibat dari rendahnya ketersediaan CO2 pada kloroplas karena
cekaman air yang menyebabkan terjadinya penutupan stomata sehingga laju fotosintesis akan terhambat dan pembentukan karbohidrat akan menurun. Hal ini menyebabkan penurunan berat kering akar, batang dan daun pada tanaman.
Pengaruh Perlakuan terhadap Rataan Persen Infeksi Akar
Peran utama mikoriza adalah untuk menyediakan fosfor bagi akar tanaman yang terkena infeksi, karena fosfor adalah satu unsur yang tidak mobil di dalam tanah. (Turk et. al, 2006). Pada Tabel 7, nilai rataan persen infeksi akar tertinggi pada rumput Paspalum dilatatum ditunjukkan oleh perlakuan M1S1 (73,4%) dan
terendah ditunjukkan oleh perlakuan M0S0 (9,6%). Untuk rumput Chloris gayana ,
Paspalum notatum, dan Paspalum dilatatum nilai rataan persen infeksi akar tertinggi ditunjukkan oleh perlakuan M1S1 (60,2%, 68,8% dan 73,4%), sedangkan nilai rataan
persen infeksi akar terendah pada rumput Chloris gayana dan Paspalum dilatatum
ditunjukkan oleh perlakuan M0S1 (9,8% dan 10,6%) sedangkan pada rumput
Paspalum notatum ditunjukkan oleh perlakuan M0S1 (14,8%). Hasil penelitian ini
menunjukkan bahwa secara keseluruhan tanaman rumput yang mendapatkan perlakuan M1S0 dan M1S1 akan terjadi peningkatan rataan persen infeksi akar dibandingkan dengan perlakuan M0S0 dan M0S1. Hal ini menunjukkan bahwa pada kondisi air tanah tersedia maupun pada kondisi cekaman kekeringan inokulasi (pemberian) mikoriza akan meningkatkan infeksi pada akar tanaman oleh mikoriza,
dengan tingkat persen infeksi akar yang berbeda-beda pada setiap jenis tanaman rumput.
Tabel 7. Pengaruh Perlakuan terhadap Rataan Persen Infeksi Akar Persen infeksi akar (%)
Perlakuan Chloris gayana Paspalum notatum Paspalum dilatatum
M0S0 14,8 ± 6,83B 20,4 ± 8,7C 9,6 ± 2,9B
M0S1 9,8± 4,66B 14,8 ± 2,4C 10,6± 2,3B
M1S0 51 ± 13,11A 53,2± 16,3B 68,4 ± 3,6A
M1S1 60,2 ± 17,25A 68,8± 9,7A 73,4 ± 10A Keterangan : Huruf yang berbeda pada kolom yang sama menunjukkan pengaruh yang berbeda nyata (P0,01). M0S0 : Tanpa mikoriza dan disiram tiap hari; M0S1 : Tanpa mikoriza dan tidak
disiram; M1S0 : Dengan mikoriza dan disiram tiap hari; M1S1 : Dengan mikoriza dan
tidak disiram. Tanaman yang berbeda dilakukan penelitian yang terpisah.
Setiadi (1999) menjelaskan bahwa keragaman nilai infeksi akar mencerminkan perbedaan intensitas akar dari setiap simbiosis yang terjadi. Intensitas infeksi dipengaruhi oleh faktor-faktor seperti kepekaan inang terhadap infeksi, iklim, dan tanah. Perbedaan jumlah senyawa karbon yang disediakan oleh tumbuhan inang juga menjadi penyebab tingkat infeksi akar yang berbeda-beda pada masing-masing tanaman. Selain itu, Delvian (2006) menjelaskan bahwa ada beberapa faktor yang mempengaruhi pembentukan mikoriza di tanah, yaitu status fosfor tanah, kemasaman tanah (pH), kadar garam, suhu dan kelembaban.
Mikoriza mampu menyerap dan memindahkan fosfor (P) dari dalam tanah ke akar tanaman (Rungkat, 2009). Turk et al. (2006) mengatakan bahwa peran utama mikoriza adalah untuk menyediakan fosfor bagi akar tanaman yang terkena infeksi, karena fosfor adalah satu unsur yang tidak mobil di dalam tanah. Selain fosfor, mikoriza juga mampu menyerap beberapa unsur hara seperti : Nitrogen (N), Kalium (K), Magnesium (Mg), Seng (Zn), Tembaga (Cu), Kalsium (Ca), Besi (Fe), Cadmium, Nikel dan Uranium. Oleh karena itu, pengamatan terhadap banyaknya infeksi mikoriza pada akar tanaman merupakan salah satu cara untuk mengetahui kemampuan tanaman dalam menyerap unsur hara yang dibutuhkan oleh tumbuhan inangnya. Semakin tinggi tingkat infeksi mikoriza pada akar tanaman maka semakin banyak manfaat yang akan diperoleh tanaman dari infeksi mikoriza tersebut.
Indeks Sensitivitas terhadap Cekaman Kekeringan
Perhitungan indeks sensitivitas terhadap cekaman kekeringan digunakan untuk mendapatkan tingkat toleransi tanaman rumput terhadap cekaman kekeringan. Indeks sensitivitas terhadap cekaman kekeringan pada masing-masing rumput dihitung berdasarkan peubah kadar air tanah, pertambahan tinggi vertikal tanaman, berat kering tajuk, berat kering akar dan infeksi akar. Nilai indeks sensitivitas terhadap cekaman kekeringan tiap rumput dapat dilihat pada Tabel 8.
Tabel 8. Indeks Sensitivitas terhadap Cekaman Kekeringan
Jenis Rumput Peubah
Chloris gayana Paspalum notatum Paspalum dilatatum
KAT T T T PTVT P T P BKT P T AT BKA AT T T IA T AT AT Nilai ISK 5 9 6 Nilai Hari 2 3 1` Total Nilai 10 27 6
Keterangan: Indeks sensitivitas terhadap cekaman kekeringan yang dihitung berdasarkan peubah Kadar Air Tanah (KAT), Pertambahan Tinggi Vertikal Tanaman (PTVT), Berat Kering Tajuk (BKT), Berat Kering Akar (BKA) dan Infeksi Akar (IA). T = toleran jika nilai IS
0,5; AT = agak toleran jika 0,5 < IS ,0; P = peka jika IS > 1,0.
Dari Tabel 8 dapat dilihat bahwa pada rumput Chloris gayana peubah kadar air tanah, berat kering tajuk dan infeksi akar toleran dan peka terhadap cekaman kekeringan, sedangkan pada peubah berat kering akar agak toleran terhadap cekaman kekeringan, untuk peubah pertambahan tinggi vertikal tanaman peka terhadap cekaman kekeringan.
Pada rumput Paspalum notatum peubah kadar air tanah, pertambahan tinggi vertikal tanaman, berat kering tajuk, dan berat kering akar toleran terhadap cekaman kekeringan, sedangkan peubah infeksi akar agak toleran terhadap cekaman
kekeringan. Pada rumput Paspalum dilatatum peubah kadar air tanah dan berat kering akar toleran terhadap cekaman kekeringan, untuk peubah berat kering tajuk dan infeksi akar agak toleran terhadap cekaman kekeringan, sedangkan peubah pertambahan tinggi vertikal tanaman peka terhadap cekaman kekeringan.
Hasil perhitungan indeks sensitivitas menunjukkan bahwa tanaman rumput tropika, dengan total nilai tertinggi adalah rumput Paspalum notatum dengan nilai 27, diikuti oleh dengan Chloris gayana dengan nilai 10, dan Paspalum dilatatum
dengan nilai 6, hal ini menunjukkan bahwa tanaman Paspalum notatum memiliki
KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan
Tanaman yang diberikan perlakuan FMA pada kondisi cekaman kekeringan memberikan pengaruh pertumbuhan dan produktivitas yang lebih tinggi pada
tanaman Chloris gayana untuk peubah berat kering akar, sedangkan pertumbuhan
dan produktivitas pada peubah dan tanaman yang lain belum memberikan pengaruh yang nyata.
Urutan jenis rumput yang mempunyai pertumbuhan dan produktivitas yang
baik dalam kondisi cekaman kekeringan dihasilkan oleh Paspalum notatum,
Paspalum dilatatum, dan Chloris gayana.
Saran
Perlu adanya penelitian lebih lanjut untuk mempelajari tentang pengaruh cekaman kekeringan dan penambahan mikoriza terhadap kualitas dan nilai nutrisi
dan unsur hara pada rumput Paspalum notatum, Chloris gayana dan Paspalum