• Tidak ada hasil yang ditemukan

Journal of Control and Network Systems

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Journal of Control and Network Systems"

Copied!
8
0
0

Teks penuh

(1)

Alat Pembuat Pakan Ternak Ayam Jenis Pellet

Jimmy Rosandy1)Fandi Surya Permana2) Harianto3) Pauladie Susanto4)

S1 Sistem Komputer STIMIK STIKOM Surabaya Jl. Raya Kedung Baruk 93 Surabaya, 60298

Email : 1)[email protected], 2)[email protected],3)[email protected], 4)[email protected]

Abstrack : In today's world, people make animal feed pellet types still require human labor as the basis of power and take a long time to completely process the raw materials of the start phase of the process until the process is complete. The development of pellet making machine at present is still Keith terbantunya as a substitute for human labor. Another thing that is still a lack of the tools that today is still using a diesel engine as propulsion. Diesel engines are now used for animal feed making machine pellet type current, the authors saw many shortcomings. The problem is the noise of the diesel engine. This interferes with another man at the time of processing. Besides the sound that caused the poor, pollution or contamination of air from the engine. Contamination of the smoke that caused the engine will be mixed with animal feed itself.

In the formulation of the writer tries to design and build sebuat enameled animal feed pellet types with automatic PLC-based system as the central control of existing devices. Here the authors use a motor 1 phase and 3 phase motors as a device for the manufacture of animal feed. In the mixer, the authors use a dose of dough capacity of 5-10 kg. Motor 1 phase as a driving force that will be triggered by the voltage 220v rilley as breakers and voltage connector. While here the author uses two 3-phase motors and 2 inverters as a driver for driving the material through to the cutting process and also as a dough cutter to get the results in line with expectations. So sound that caused the tool is mengurasi tinggat existing noise and easy treat humans to make poultry feed pellet types.

It is expected that this study can help both employers and job alleviate poultry feed pellet types of small-scale and home industries to be more efficient. So it does not require much effort and time to the process of making, and replace with a quick way to manufacture animal feed that has been made in accordance with this.

At the conclusion of the authors that the PLC can all activity tool of input, output, and input from a computer have to be controlled and the entire hardware of 1 phasa motors, DC motors, 3 phasa, and supporting a series of things that others have been able to run as expected as did with computer applications have to be input in the PLC and can monitor how many items that have been cut by the cutting blade but at doses of mixing materials, to the place of cutting material has mixed with good, but not perfect the manufacture of granular pellets.

Penentuan jenis bahan untuk memproduksi suatu makanan untuk ternak memiliki beberapa unsur yang di padukan dalam bahan pembuatan makanan tersebut.Agar kita mempunyai takaran yang pas untuk mengolah makanan ternak tersebut,kita mempunyai takaran berapa bahan yang kita campurkan agar memperoleh hasil yang baik. Hampir semua peternak memiliki pengolahan sendiri-sendiri dalam membuat pakan ternak. Pengadaan bahan makanan ternak jenis unggas pada umumnya dalam bentuk tepung yang daya awetnya hanya bertahan 10 – 15 hari, selanjutnya akan tumbuh jamur.

Disini penulis ingin mencoba terobosan terbaru yaitu membuat alat untuk pembuatan pakan ternak jenis pellet mulai dengan pengadukan bahan baku sampai dengan pemotongan menjadi butiran – butiran pellet secara tuntas menggunakan sistem PLC ( Programmable Logic Control ) sebagai otak dari sistem tersebut yang akan dikonfigurasikan ke perangkat keras lain yang menunjang kinerja alat yang penulis buat nantinya.

Disini sebagai penunjang kinerja alat yang akan penulis buat, penulis menggunakan motor 3 fasa sebagai pengaduk bahan baku sampai dengan pemotongan menjadi butiran pellet. Dalam hal ini pengaturan kinerja motor sangat diperhitungkan nantinya pada saat setiap pemrosesan. Jika penulis lihat, alat penulis nantinya sangat membantu peternak hewan untuk membuat pakan ternak tersebut agar mempunyai hasil yang baik dan pengolahan yang sehat.

Dalam pembuatan pakan ternak jenis pellet ini, ada beberapa hal yang harus di perhatikan dalam pembuatannya yaitu :

1. Pellet harus mudah di cerna oleh hewan ternak

2. Mempunyai kandungan gizi yang cukup, terutama kandungan protein harus di atas 25%, selain itu juga mengandung lemak dan karbohidrat yang cukup.

3. Pellet harus mempunyai kualitas yang baik dan tidak mudah cepat hancur jika terkena air.

JCONES Vol. 3, No. 2 (2014) 51-58

Journal of Control and Network Systems

Situs Jurnal : http://jurnal.stikom.edu/index.php/jcone

(2)

4. Pellet harus dapat disimpan dalam jangka waktu yang lama.

Menurut R. anggorodi, 1985 bahwa umumnya jenis makanan ternak jenis unggas tau yang biasa disebut pellet terdiri dari :

1. Butiran – butiran, merupakan sumber energi utama yang dalam ransum unggas. Bahan makanan yang temasuk jenis ini adalah: jagung, gandum, shorgum, pagi, kedele, kacang hijau dan lain- lain.

2. Bungkil – bungkilan, merupakan hasil/sisa ikutan pabrik yang terdiri dari : bungkil kacang tanah,bungkil kedele,dan bungkil kelapa yang mempunyai kadar protein tinggi.

3. Tepung ikan, merupakan sumber protein utama pula bagi unggas, karena bahan makanan tersebut mengandung semua asam-asam amino yang dibutuhkan ayam. Penggunaan tepung ikan dalam ransum tidak boleh lebih dari 20%. 4. Hasil/sisa ikutan petanian, terdiri dari dedak

gandum dan dedak padi.

Dedak padi adalah sisa penggilingan atau penumbukkan padi yang banyak digunakan dalam ransum ayam.Komposisi ransum dan zat-zat makanan dari bahan baku makanan ternak dalam penelitian ini dapat dilihat pada tabel.

Dengan kekurangan ini penulis mencoba menjawab permasalahan diatas dengan ide yang penulis kembangkan dengan judul Tugas Akhir yang berjudul “Alat Pembuat Pakan Ternak Ayam Jenis Pellet”.

Beberapa kelebihan dari alat penulis tersebut apabila digunakan oleh para peternak antara lain:

1. Dimensi alat besar sehingga kemampuan untuk menampung bahan semakin banyak.

2. Penggunaan PLC ( Programmable Logic Control ) yang dapat mempermudah kinerja alat.

3. Menggunakan motor 3 fasa sebagai penunjang

kinerja alat, sehingga tidak menimbulkan asap dan juga tinggat kebisingan yang rendah. 4. Bagaimana mengolah dari bahan dasar sampai

dengan pemotongan adonan menjadi butiran - butiran pellet.

METODE PENELITIAN

Metode penelitian yang digunakan dalam perancangan sistem ini adalah studi kepustakaan dimana dengan cara ini penulis berusaha untuk mendapatkan dan mengumpulkan sumber informasi berupa data-data literatur dari masing-masing komponen, informasi dari internet dan konsep-konsep teoritis dari buku-buku penunjang yang berkaitan dengan penelitian.

Dari data-data yang diperoleh, selanjutnya dilakukan perancangan sistem yang terdiri dari perancangan dan pembuatan perangkat keras (hardware), selain desain hardware juga dilakukan perancangan dan pembuatan perangkat lunak (software) yang digunakan sebagai percobaan langsung baik pada hardware maupun pada komputer, dimana akan dibuat program untuk menguji dari sistem hardware yang telah didesain serta program untuk

hardware secara keseluruhan.

Pada bagian perancangan perangkat keras dijelaskan tentang komponen-komponen apa saja yang digunakan dalam membangun interface alat ini khususnya modul FESTO FC440, Modul relay, inverter VF-S11, motor tiga fasa, dan motor satu fasa. Sedangkan dalam perancangan perangkat lunak yaitu perancangan software FESTO dan Visual Basic untuk menunjang semua komponen elektronika yang digunakan. Dan terakhir perancangan bentuk mekanik yang akan dibahas tentang bagaimana mekanisme pembuatan pellet dari awal sampai dengan selesai berdasarkan urutan yang akan dipergunakan.

Dalam perancangan dan pembuatan Alat Pembuat Pakan Ternak Ayam Jenis Pelle Berbasis Programmable Logic Control Untuk pembuatan pakan ternak ayam jenis pellet ini digunakan blok diagram secara keseluruhan seperti pada gambar berikut.

Tombol Pellet Kecil Tombol Pellet Sedang Tombol Pellet Besar PLC RILLEY Motor 1 phase MIXER Tombol Start Tombol Emergency Inverter VF-S11 Motor 3 phase Pendorong Inverter VF-S11 Motor 3 phase Pemotong

Gambar Diagram Keseluruhan Sistem

Pada blok diagram Gambar 3.1 adalah blok diagram sistem secara keseluruhan. Sistem ini terdiri dari sebuah PLC FESTO FC440 yang memiliki 16 digital input dan 8 digital output. Pada penelitian ini digunakan tiga buah tombol sebagai inputan dan 2

Tabel Komposisi Ransum Dan Zat - Zat Makanan Dari Bahan Baku

No Bahan Baku Jumlah Prot ein Lemak Serat Kasar Makana n Ternak ( kg ) (%) (%) (%) 1 Jagung 45 8,7 3,9 2 2 Dedak Halus 23 13,5 13,0 12 3 Bungkil Kopra 8 21,0 1,8 15 4 Kedele 7,5 43,8 0,9 6 5 Tepung Ikan 15 60,0 8,0 1 6 Kapur 1 - - - 7 Top Mix 0,5 - - - 8 Tapioka 10 1,8 1,3 1,8 Sumber = R. Anggoridi ( 1985 )

(3)

tombol yang memiliki fungsi sebagai start dan emergency, dimana masing-masing tombol berfungsi sebagai tombol pellet kecil untuk membuat pellet ayam ukuran kecil, tombol pellet sedanguntuk membuat pellet ukuran sedang, tombol pellet besar untuk membuat pellet ukuran besar, tombol startuntuk menjalankan alat, dan tombol emergency untuk keadaan darurat. Sedangkan outputnya terdiri dari 2 buah inverter untuk mengatur kecepatan pada motor tiga fasa untuk menggerakkan pendorong bahan dan pemotong bahan. Sedangkan output untuk pengaduk bahan (mixer) menggunakan rangkaian rilley sebagai memutus daya motor 1 fasa, dan sebuah motor Dc yang digunakan untuk membuka dan menutup sliding pada tempat pengadukan bahan supaya bahan-bahan tersebut dapat jatuh ke tempat pemotongansecara otomatis, sehingga user hanya menyiapkan bahan-bahan pembuatan pellet tersebut diawal proses atau sebelum proses pengadukkan diaktifkan.

Sistem kerja pada alat ini jika tombol jenis ukuran pellet di tekan makan sistem menunggu untuk tahap ke 2 yaitu penekanan tombol start, sehinnga proses pembuatan pellet dapat mulai dilakukan dengan benar sesuai yang kita ingin sampai dijalankan hingga tahap akhir siklus. Tetapi jika pada saat proses pembuatan pellet terdeteksi tombol emergency, maka proses berhenti secara langsung. Pada saat terdeteksi emergency, alat mengambil tindakan tidak memulai proses kembali melainkan menunggu tombol start ditekan kembali. Sehinnga dalam proses ini dinamakan proses reset atau pengulangan kembali dari awal proses. Tindakan ini di ambil dikarenakan jika terdapat emergency pada alat, terdapat hal-hal yang tidak di inginkan dalam perjalanan proses tersebut, sehingga mengurangi resiko terkendala apapun maka alat mereset ulang sistem kerjanya.

Pada dasarnya alat ini menerapkan 2 mode cara kerja yaitu, mode pertama adalah mode manual yang dikerjakan dengan menekan tombol yang terdapat pada kotak control pada mekanik dan mode kedua dengan menggunakan mode otomatis yang dapat dikontrol dengan menggunakan media komputer sebagai penunjang yang sudah deprogram sehingga dapat melakukan perintah terharap PLC. Sehingga pengguna dapat melakukan secara langsung berhadapan dengan mesin, atau dapat di kerjakan dengan tempat yang jauh. Dalam kerjanya dapat dilihat dalam blok diagram sebagai berikut.

Tombol Manual : - start

- Emergency - tombol pellet kecil - tombol pellet sedang - ombol pellet besar

Tombol Pengendali dari Komputer : - start

- Emergency - tombol pellet kecil - tombol pellet sedang - ombol pellet besar

PLC

Perangkat keras ( Hardware )

Gambar Sistem Kerja Mekanik

Modul FEC-FC440 Fst

Pada tugas akhir ini, penulis menggunakan Festo seri FC440 sebagai CPU (central processing unit) dan I/O. Jumlah I/O pada masing-masing FC440 terdapat 16 digital input dan 8 digital output. Festo FC 440 merupakan salah satu dari tipe FEC Compact yang mempunyai spesifikasi Procesor AMD 186 ( 20MHz, 2 Mips ) dengan 16 memori akses RAM 64 kbyte dengan dimensi ukuran yang cukup kecil dan compact.

Pada FC440 ini mempunyai FST programming dimana terdapat dua pemograman yang dapat digunakan yaitu Ladder Diagram (LD) dan Statement List (STL). Dengan dua pemrograman tersebut dapat menginstruksikan semua I/O pada FC440. Perangkat keras dapat dilihat pada gambar 3.4. Modul FC440 sendiri memiliki fungsi sebagai downloader atau sebuah sarana untuk memasukkan instruksi atau program pada PLC.

Gambar Modul FEC-FC440.

Agar PLC ini dapat berjalan sesuai dengan yang diinginkan, maka diperlukan pengaksesan untuk input maupun output. Hal ini bertujuan agar PLC dapat memberi perintah pada komponen elektronika yang tepat dan dapat mengenali inputan berupa digital serta mampu memberikan output untuk menjalankan komponen pendukung seperti inverter VF-S11 dan relay.

Untuk penghitungan jumlah putaran pada saat pemotongan terdapat program yang mengatur berapa putaran yang sudah terjadi dalam kurun waktu satu proses kerja. Adanya sensor optocoupler yang dapat mengetahui putaran poros pemotong yang sudah terhubung dengan program yang terdapat pada perangkat PLC tersebut. Adanya program counter terdapat pada program dibawah ini.

(4)

Mulai Step Counter Input Optocoupler Counter Inc C0 y y N Selesai y

Gambar Diagram Program Counter

Dari pembuatan program terdiri dari tiga faktor pendorong terciptanya mekanik tersebut terdiri dari :

1. Program Pellet Kecil 2. Program Pellet Sedang 3. Program Pellet Besar

Dari ketiga program diatas terdapat sususan program sebagai berikut besarta program untuk menjalankan mekanik tersebut sesuai dengan fungsinya.

a. Program pellet kecil

FVBSTART On FVBKECIL On Y Set Inverter = 3 Hz load V6000 To TP1 Y Y Set O0.1 =1 O0.2 = 0 Reset FSD & FBS Y Set T1 Y Selesai Y N N N Program Pellet Kecil

Gambar Diagram Block Program Pellet Kecil

b. Program pellet sedang

FVBSTART On FVBSEDANG On Y Set Inverter = 3,6 Hz Y Y SET T1 Y SELESAI Y N SET O0.1 = 0 O0.2 = 1 RESET FKC & FBS To TP1 Program Pellet Sedang N N Y

Gambar Diagram Block Pellet Sedang c. Program pellet besar

Mulai FVBSTART On FVBBESAR On Y Set Inverter = 4 Hz Y Y SET T1 Y SELESAI Y N SET O0.1 = 1 O0.2 = 1 RESET FKC & FBS To TP1 N N Y

(5)

PENGUJIAN SISTEM

Tujuan pengujiansistem ini adalah untuk mengetahui sistem apakah sudah dapat berjalan sesuai dengan yang diharapkan. Apakah sistem dapat dari orang yang dicari, sesuai menjalankan mekanik tersebeut sesuai dengan inputan dari user.

Pengujian PLC Festo FC440

Pada pengujian Festo FC 440 bertujuan untuk mengetahui apakah PLC telah berjalan sesuai dengan keinginan penulis, yaitu program dapat di download ke dalam PLC berjalan dengan baik atau tidak.Adapun jika program dapat terdownload, maka tampilan sebagai berikut.

Gambar proses download program

Pengujian

Inverter

Toshiba VF-S11

Pada pengujian inverter VF-S11 bertujuan untuk mengakses motor 3 Fasa menggunakan inverterVF-S11 apakah bisa berjalan dengan baik atau tidak dengan menggunakan program yang di download ke PLC, yang diaplikasikan di motor pendorong dan motor pemotong pada alat. Dengan pengujian menggunakan 1 kecepatan dan menggunakan frekuensi 4,5Hz pada motor 3Fasa, Adapun alat yang digunakan, maupun hasil dapat dilihat pada gambar dibawah ini.

Hasil pengujian :

Pada hasil pengujian inverter telah berfungsi dengan baik dan berjalan dengan sesuai yang diharapkan penulis.

Gambar InverterVF-S11 dan Motor3 Fasa.

Gambar PengaturaninverterToshibaVF-S11.

Pengujian Rangkaian RelayMotor 1 Fasa

pengujian ini dilakukan yang bertujuan untuk mengetahui apakah relay yang input nya di hubungkan ke tegangan 220V dan output ke motor 1 Fasa dapat dikendalikan melalui PLC dan dapat berjalan dengan baik yang sesuai dengan yang diharapkan atau tidak. Adapun alat yang digunakan, maupun hasil dapat dilihat pada gambar dibawah ini.

Hasil pengujian :

pada hasil pengujian diatas PLC Festo FC440 telah dapat mengakses relay yang menjalankan motor 1 Fasa. Adapun bentuk rangkaian relay untuk menggerakan motor 1 Fasa menggunakan relay adalah sebagai berikut:

Gambar Rangkaian relay Motor 1 Fasa. .

Pengujian Relay Motor DC

Pada pengujian ini bertujuan untuk mengetahui apakah 1 relay dapat menjalankan motor dengan inputan DCI I membuka sleding dan O I menutup

(6)

sleding motor DC yang di control menggunakan PLC Festo FC440. Adapun alat yang digunakan,maupun hasil dapat dilihat pada gambar dibawah ini.

Hasil pengujian :

Pada pengujian yang telah dilakukan diatas, 1 relay dapat menggerakan motor DC maju dan mundur yang dicontrol oleh PLC, dan hasilnya sesuai dengan yang diharapkan oleh penulis. Adapun gambar rangkaian relay motor DC dapat dilihat dibawah ini.

Gambar .Rangkaian Relay Motor DC.

Pengujian Aplikasi Komputer Pengujian Koneksi

Pada pengujian inibertujuan untuk mengetahui apakah aplikasi komputer yang penulis menggunakan visual basic/vb dapat untuk menjadi inputan PLC. Sebagai percobaan penulis melakukan koneksi dari komputer/laptop yabg telah di instal VB ke PLC Festo FC440 menggunakan kabel LAN TCP/IP. Adapun Alat yang digunakan, Prosedur pengujian dan Hasil

pengujian adalah sebagai berikut. Alat yang digunakan :

1. Komputer/laptop yang telah terinstal visual bassic/VB.

2. kabelcross. 3. PLC FC440. 4. Power Suplay 24V. Prosedur pengujian :

1. Sambungkan komputer/laptop yang telah terinstal visual bassic/VB ke PLC dengan kabel LAN.

2. Sambungkan power suplay 24V ke PLC. 3. Pada VB membutuhkan winsock untuk

pengoneksian.

4. Cara untuk mengeluarkan winsock yaitu klik kanan dan centang microsoft winsock control 6.0.

5. Jalankan program koneksi yang ada di VB. Adapun program sederhana untuk

pengkoneksian adalah sebagai berikut.

Dim data As String

Private Sub Command1_Click() Winsock1.Connect End Sub Private Sub Winsock1_DataArrival(ByVal bytesTotal As Long) Winsock1.GetData data Text1.Text = data

Cara menjalankan yaitu dengan cara klick start pada VB yang telah terisi program, setelah itu klik CONEX, stelah pada text1 berisi balasan seperti gambar dibawah berarti VB telah terkoneksi dengan PLC.

GambarForm pada VB. Hasil pengujian :

Pada pengujian yang dilakukan oleh penulis diatas dapat dibuktikan bahwa VB dapat terkoneksi dengan PLC.

Pengujian Pengiriman Data

Pada pengujian ini bertujuan untuk pengiriman data dari VB ke PLC dan PLC bisa menjalankan perintah user melalui data yang dikirim oleh VB. Sebagai pengujian yang dilakuka n adalah user menjalankan rilay dan menjalankan motor 1fasa Adapun Alat yang digunakan, Prosedur pengujian dan Hasil pengujian adalah sebagai berikut.

Alat yang digunakan :

1. Komputer/laptop yang telah terinstal visual bassic/VB dan Festo FC440.

2. kabelcross. 3. PLC FC440. 4. Power Suplay 24V.

5. Relay dan motor 1fasa 1 buah. 6. Push button 2 buah

Prosedur pengujian :

1. Sambungkan komputer/laptop yang telah terinstal visual bassic / VB dan FC440 ke PLC dengan kabel LAN.

2. Sambungkan power suplay 24V ke PLC. 3. Pada VB membutuhkan winsock untuk

pengoneksian.

4. Cara untuk mengeluarkan winsock yaitu klik kanan dan centang microsoft winsock control 6.0.

5. Jalankan program koneksi yang ada di VB dan PLC. Adapun program sederhana untuk menjalankan relay adalah sebagai berikut.

(7)

Pada VB

Dim data As String

Private Sub Command1_Click() Winsock1.Connect End Sub Private Sub Winsock1_DataArrival(ByVal bytesTotal As Long) Winsock1.GetData data Text1.Text = data

Private Sub Command5_Click() data = "mmw0=256" + Chr(13) Winsock1.SendData data End Sub

Pada PLC

STEP BERR

THEN RESET FVBSTART STEP START IF START OR FVBSTART THEN JMP TO START2 STEP START2 IF N START THEN SET RELAY STEP START3

IF STOP OR VBSTOP THEN RESET RELAY JMP TO BERR

Hasil pengujian :

Pada pengujian diatas bahwa motor 1 fasa dapat dijalankan oleh user melalui VB.

Pengujian Seluruh Sistem

Pada pengujian ini bertujuan untuk mengetahui selurh jalannya alat secara keseluruhan. Adapun Bahan Yang dibutuhkan, Prosedur Pengujian, dan Hasil Pengujian sebagai berikut.

Bahan Yang dibutuhkan :

1. Komputer/laptop yang telah terinstal visual bassic/VB dan Festo FC440.

2. kabelcross. 3. PLC FC440. 4. Push button 5 buah

5. Power Suplay 24V serta Power Suplay 5V. 6. Rangkaian relaydan motor 1fasa 1 buah. 7. 1 buah inverter Toshiba VF-S11. 8. Motor 3 fasa 2 buah.

9. Masukan bahan ( penulis menggunakan 1K kanji, 1K dedek, dan 1K kedelai bubuk ) dan air secukupnya ( Penulis memberikan air 1,5L air ).

Prosedur Pengujian :

1. Sambungkan komputer/laptop yang terinstal VB dan Festo ke PLC secara bergantian. 2. Masukan bahan kedalam wadah pengadukan. 3. Tekan tobolStart.

4. Lalu pilih ukuran pelet yang di inginkan user. 5. Tekan tombol start.

6. Jika terjadi sesuatu yang mengakibatkan alat harus berhenti berjalan, tekan tombol emergency. ( semua tombol pada pengendali dapat dikendalikan lewat VB )

Saat proses pengujian semua bahan dimasukan kedalam wadah, selanjutnya user menekan tombol start (melalui tombol pengendali) dan memilih pelet yang akan di olah. setelah pemilihan pelet user diminta untuk menekan tombol start untuk memulai proses yang telah dipilih oleh user. Proses yang pertama dilakukan adalah pengadukan, pengadukan dilakukan untuk mencampur semua bahan yang dimasukan oleh user, setelah itu sleding terbuka dan bahan yang telah tercampur turun ke wadah pemotongan yang setelah itu akan dipotong oleh motor 3Fasa dan kecepatannya telah diatur oleh penulis tergantung dari pemilihan jenis pelet. saat motor 3Fasa di pemotongan berputar dasaat yang bersamaan optokopler jugan aktif dan memerikan isyarat pada PLC setiap putaran motor penuh.

Pada penujian aplikasi komputer, setelah program dijalankan langkah selanjutnya yaitu mengkonekan antara komputer dengan PLC, selanjutnya user harus memilih pelet dan clickStart .

Hasil Pengujian.

Pada pengujian yang dilakukan oleh penulis seluruh sistem telah dapat berfungsi dengan yang diinginkan oleh penulis, baik dari VB maupun dari papan pengendali.Akan tetapi terjadi kegagalan yang diakibatkan penulis tidak mengetahui bahan dan takaran yang pasti serta pada bagian pisau pemotong kurang berdempet dan kurang ramping, yang mengakibatkan hasil akhir terlalu lembek dan hasil akhir tidak dapat menjadi butiran - butiran kecil yang diharapkan oleh penulis.

(8)

Kesimpulan

Setelah melakukan pengujian sistem yang di sampaikan pada BAB sebelumnya, penulis dapat mengambil kesimpulan sebagai berikut :

1. Pada pencampuran bahan takaran, sampai ketempat pemotongan bahan telah tercampur dengan baik, akan tetapi pembuatan butiran pelet belum sempurna.

2. Seluruh hardware dari motor 1Fasa, motor DC, motor 3Fasa, dan rankaian pendukung yang lain telah dapat berjalan sesuai dengan yang diinginkan.

3. Dengan PLC seluruh aktifitas alat dari input, output, dan input dari komputer telah dapat dikendalikan.

4. Aplikasi komputer telah dapat menjadi input di PLC dan bisa memonitoring berapa jumlah butir yang telah di potong oleh pisau pemotong.

Kelebihan Dan Kekurangan

Pada pembuatan alat terjadi sebuah kendala yang penulis masih belum mengetahui kesalahan atau kekurangan yang penulis lakukan, diharapkan untuk yang ingin meneruskan alat ini mempunyai ide atau gagasan yang lebih dari penulis yang mungkin penulis melakukan kesalahan atau kurangan yang dituangkan pada alat ini, dalam pembuatan alat terdapat kelebihan dan kekurangan pada alat yang tertera dibawah ini.

Kelebihan

1. bahan telah tercampur dengan baik pada wadah pengadukan.

2. Program VB dari komputer / laptop telah dapat menjalankan alat (menggantikan papan tombol) dan dapat menghidupkan dan mematikan flag sehingga PLC dapat mengelola sebagai input.

3. Motor DC telah dapat menutup dan membuka lempengan besi sehingga bahan yang awalnya dari wadah pengaduk dapat jatuh ke wadah pemotongan.

4. Optocoupler telah dapat memberikan input ke PLC sehingga data tersebut dapat diolah. 5. Motor 1Fasa telah dapat menggerakan besi

pengaduk agar bahan dapat teraduk.

6. Inverter telah dapat menjalankan motor 3Fasa sesuai dengan yang diinginkan.

Kekurangan

1. Pada bagian pemotongan masih belum dapat memotong pelet sesuai dengan yang dinginkan. Hasil keluaran bahan dapat berjalan dengan baik, akan tetapi pada saat pemotongan bahan yang keluar belum bisa terpotong sesuai yang di harapkan.

DAFTAR PUSTAKA

Achmad, Balza. 2007. Pemrograman PLC Menggunakan Simulator. Andi : Yogyakarta.

Ardiono, Rachman, dkk. 2004. Laporan Kerja Praktek Di PT. FESTO Surabaya.

Bolton, William. 2004. Programmable Logic Controller (PLC) Edisi 3. Erlangga : Jakarta.

Toshiba Schneider Inverter Corporation. 2003. Instruction Manual TOSVERT TM VF-S11. Toshiba Corporation : Japan.

Arrizqi, C. I., & Charisatul , I. A. 2011. Rancang Bangun Mesin Pengaduk Pakan Ternak Berbentuk Butiran-Butiran Kecil. Universitas Diponegoro: Semarang.

Anonimous. 1982. Pengembangan Bahan Baku Makanan Ternak. Balai Penelitian Dan Pengembangan Industi: Medan.

Bambang , A. M. 1987. Pedoman Meramu Pakan Unggas. Jogyakarta.

(Indonesia, 2011)

Harlianto, T. 2006. Jurnal Teknik Elektro. Perancangan Model Sistem Pembelian Tiket Kereta Api Berbasis Komputer, 13-19.

Kementrian Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia. (2011, 03 24). Pembuatan Pakan Pellet. Retrieved Februari 14, 2013, from Kementerian Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia:

http://www.kkp.go.id/index.php/arsip/c/5599/P

EMBUATAN-PAKAN-PELLET/?category_id=104.

Tenggara, B. S. (2009, Juni 03). Teknologi Pembuatan Pakan Ayam Berbahan Baku Lokal. Retrieved Februari 20, 2013, from http://sultra.litbang.deptan.go.id/ind/index.php ?=com_content&view=article&id=120:teknolo gi-pembuatan-pakan-ayam-bermutu-berbahan- baku-lokal-di-sulawesi-tenggara-&catid=34:paket-teknologi.

Gambar

Gambar Diagram Keseluruhan Sistem
Gambar Modul FEC-FC440.
Gambar Diagram Block Pellet Sedang  c.  Program pellet besar
Gambar  PengaturaninverterToshibaVF-S11.
+3

Referensi

Dokumen terkait

Beberapa patogen pada umumnya berasal dari kelompok bakteri Gram negatif, akan tetapi perlu uji lanjut untuk menetapkan bakteri yang diperoleh merupakan bakteri bersifat

a.. Disaudia adalah satu jenis gangguan bicara yang disebabkan gangguan pendengaran. Gangguan pendengaran tersebut menyebabkan kesulitan dalam menerima

Kata Kunci: Hasil Belajar Siswa, Mengubah Pecahan, Matematika, Model Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD. Latar belakang penelitian ini adalah rendahnya hasil belajar

Dari hasil surveillans dan monitoring Brucellosis pada tahun 2013 yang direncanakan pada 17 kabupaten/kota yang ada di 4 (empat) Propinsi wilayah kerja Balai Veteriner

niaga, dan aspek kehidupan lainnya untuk membantu meningkatkan penge- tahuan dan memperluas kesempatan dalam meraih kualitas kehidupan yang lebih baik.” Sambutan Menteri

Penelitian menunjukkan 4 faktor yang berhubungan erat dengan terjadinya sepsis berdasarkan analisis bivariat dengan p<0,05, yaitu ketuban pecah lebih dari 24 jam, demam dengan suhu

Berdasarkan pasal 84 ayat (1) Undang-undang Nomor 7 tahun 1989, bahwa “ Panitera berkewajiban selambat-lambatnya 30 (tiga puluh) hari mengirimkan satu helai salinan