• Tidak ada hasil yang ditemukan

Jurnal Teknik Industri Volume 7 No 2 Juli 2017

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Jurnal Teknik Industri Volume 7 No 2 Juli 2017"

Copied!
7
0
0

Teks penuh

(1)

STRATEGI PERUSAHAAN BERDASARKAN ANALISIS

RETURN

SAHAM

TERHADAP EPS, DER, ROA, PER, INFLASI, DAN BI

RATE

PADA SUB

SEKTOR TELEKOMUNIKASI DI BURSA EFEK INDONESIA 2007-2015

1Dhiana Pratiwi, 2Endang Chumaidyah,, 3Rita Zulbetti

1, 2, 3Program Studi Teknik Industri, Fakultas Rekayasa Industri, Telkom University

1[email protected], 2[email protected], 3[email protected]

Abstrak

Sub sektor telekomunikasi merupakan industri yang memiliki pengaruh yang besar terhadap beberapa aspek, salah satunya aspek perekonomian. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui pengaruh EPS, PER, DER, ROA, inflasi, dan BI Rate, secara simultan dan parsial terhadap return saham pada sub sektor telekomunikasi. Selain itu penelitian ini juga bertujuan untuk merumuskan strategi sub sektor telekomunikasi dalam meningkatkan performansi return saham setiap perusahaan. Sampel yang di gunakan adalah 5 perusahaan dari sub sektor telekomunikasi yang terdaftar di BEI selama periode 2007 sampai 2015. Data ini menggunakan data sekunder, dengan time series dan cross section

dengan menggunakan regresi data panel.

EPS, PER, DER, ROA, inflasi, dan BI rate secara simultan memiliki pengaruh yang signifikan terhadap return

saham. Sedangkan varibel yang memiliki pengaruh secara parsial terhadap return saham adalah ROA, dan inflasi. alat untuk merumuskan strategi adalah dengan membuat kuesioner AHP untuk ahli dan matriks SWOT. PT Telkom Indonesia terpilih mewakili perusahaan sub sektor telekomunikasi untuk dilakukan analisa SWOT. PT Telkom Indonesia adalah perusahaan yang menunjukkan nilai pertumbuhan ROA serta rata-rata return

saham paling baik karena ROA memiliki pengaruh terhadap return saham. Strategi yang dapat dilakukan perusahaan adalah strategi progresif, diharapkan perusahaan ini menjadi contoh bagi perusahaan sub sektor telekomunikasi dalam meningkatkan strategi perusahaan.

Kata kunci: Mikro Ekonomi, Makro Ekonomi, Analytical Hierarchy Process, SWOT

Abstract—Telecommunication sub sector is an industry that has a great influence on several aspects, which one is the aspect of economy. The purpose of this study to know the influence of EPS, PER, DER, ROA,inflation, and BI Rate, simultaneously and partially to share returns on telecommunication sub sector. In addition, this research also aims to formulate a telecommunication sub sector strategy in improving the performance of stock return of each company. The sample used is 5 companies from the telecommunication sub sector listed on the BEI during the period 2007 to 2015. The data types used are secondary data, time series and cross section by using panel data regression.

EPS, PER, DER, ROA, inflation, and BI rate simultaneously have a significant effect on stock returns. While variables that have a partial influence on stock return is ROA, and inflation. A tool for formulating a strategy is to create an AHP questionnaire for experts and SWOT matrices.

PT Telkom Indonesia was chosen to represent the telecommunication sub sector for SWOT analysis. PT Telkom Indonesia is a company that shows the value of ROA growth as well as average stock return is best because ROA has an effect on stock return.strategy for this company is progressif,this company is expected to be an example for company of sub sector telecommunication to increase their strategy.

Keywords: Micro Economy, Macro Economy, Analytical Hierarchy Process, SWOT

I. PENDAHULUAN

Industri telekomunikasi merupakan salah satu industri yang memiliki pengaruh besar terhadap kelancaran kegiatan ekonomi Indonesia karena komunikasi adalah kegiatan utama dalam aktivitas bisnis dan memberikan konstribusi kepada perekonomian

Indonesia. Oleh karena itu perlunya peningkatan konsumsi terhadap industri telekomunikasi. Dengan meningkatkan konsumsi pada suatu sektor dapat meningkatkan PDB. PDB adalah cara untuk mengukur pendapatan nasional, meningkatnya PDB pada suatu sektor akan mempengaruhi peningkatan pendapatan nasional suatu negara sehingga

(2)

memungkinkan membantu Indonesia dalam meningkatkan pertumbuhan ekonomi. Industri telekomunikasi merupakan bagian dari sektor transportasi dan komunikasi.

Gambar 1 PDB Atas Dasar Harga Berlaku Menurut Lapangan Usaha (Miliar Rupiah),

2010-2014

Sumber : Data diolah dari www.bps.go.id Pada Gambar 1 dapat dilihat bahwa PDB sektor pengangkutan dan komunikasi 2010-2014 meningkat setiap tahunnya namun kontribusi PDB sektor pengangkutan dan komunikasi lebih sedikit jika dibandingkan dengan sektor lain. Upaya dalam meningkatkan PDB sektor pengangkutan dan komunikasi dapat dilakukan dengan meningkatkan jumlah penjualan maka keuntungan perusahaan juga meningkat. Meningkatnya keuntungan pada perusahaan juga meningkatkan return saham perusahaan tersebut.

Gambar 2 Rata-rata Return Saham Sub Sektor Telekomunikasi 2011-2015

Sumber : Data diolah dari www.duniainvestasi.com

Dasar Teori Pada Gambar 2 menunjukkan return

saham yang fluktuatif menurun pada sub sektor telekomunikasi. Sehingga perlu diketahui faktor apa sajakah yang mempengaruhi return saham. Kinerja perusahaan yang baik juga akan mempengaruhi terhadap meningkatnya return saham. Berdasarkan permasalahan tersebut, sehingga penulis tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul "Strategi Perusahaan Berdasarkan Analisis Return Saham

Terhadap Eps, Der, Roa, Per, Inflasi, Dan Bi Rate Pada Sub Sektor Telekomunikasi Di Bursa Efek Indonesia 2007-2015”.

II. STUDI LITERATUR

A. Return Saham

Return saham adalah pengembalian yang didapatkan dari hasil penanaman modal investor kepada suatu perusahaan. pengitungan rumusnya didapatkan dengan menghitung harga sahamnya.

Return Saham = (1)

B. Debt to Equity Ratio (DER)

Debt to Equity Ratio merupakan gambaran apakah perusahaan tersebut memiliki batas keamanan terhadap utang yang mereka miliki. perumusannya adalah

DER (2)

Keterangan :

Total Shareholders Equity = Total modal sendiri

Shareholders Equity di dapat dari total asset dikurangi total utang

C. Return On Asset (ROA)

Return On Asset (ROA), rasio yang menggambarkan keuntungan pada perusahaan, semakin besar ROA maka semakin baik perusahaan untuk di jadikan tempat berinvestasi (4). Rumus untuk ROA adaalah :

ROA = (3)

D. Earning Per Share (EPS)

Merupakan keuntungan yang akan didapat oleh investor darri setiap lembar saham yang mereka tanamkan (4). Berikut ini rumus Earning Per Share

(EPS) :

EPS = (4)

E. Price Earning Ratio (PER)

Price Earning Ratio (PER) memberi informasi bagaimana posisi perusahaan pada pasar modal, semakin tinggi nilai PER semakin baik perusahaan tersebut (4). Berikut ini rumus Price Earning Ratio :

(3)

PER = (5)

F. Inflasi

adalah kenaikan umum dalam harga, atau inflasi juga dapat terjadi penurunan pembelian kekuatan uang. Semakin tinggi kenaikan harga lebih lanjut menurunkan nilai uang. Inflasi adalah kecenderungan harga naik ingeneral (2).

G. BI Rate

BI Rate (Tingkat bunga) adalah harga yang harus dibayar jika ada adalah pertukaran antara jumlah saat ini dan jumlah kemudian (2).

H. Analisis SWOT

Analisis SWOT merupakan suatu metode dalam menganalisa strategi pada perusahaan di tinjau dari empat aspek yaitu kekuatan, kelemahan, peluang dan ancaman(5).

I. Regresi Data Panel

Data panel merupakan metode ekonometrika yang digunakan untuk mengetahui apakah model memiliki hubungan terhadap waktu, individu, waktu dan individu, atau tidak keduanya (1).

Y= β0 + β1Xit1+ β2Xit2 + β3Xit3 +….+ βnXitn+uit

(6)

III. METODOLOGI PENELITIAN

Faktor termasuk independen variabel dikodekan sebagai variabel X1 (EPS), X2 (DER), X3 (ROA),

X4 (PER), X5 (Inflasi), dan X6 (BI Rate).

Faktor-faktor ini akan mempengaruhi variabel dependen yang dikodekan sebagai variabel Y. Kemudian, kinerja return saham akan di analisis. Lalu di pilih satu perusahaan untuk di analisis lebih dalam mengenai faktor internal dan eksternal menggunakan analisis SWOT untuk mendapatkan rekomendasi strategi agar perusahaan dapat meningkatkan kinerja saham.

Faktor Internal

Faktor Eksternal

Earning Per Share (X1)

Debt to Equity Ratio (X2)

Return On Asset (X3)

Price Earning Ratio (X4)

Faktor Internal Earning Per Share (X1)

Debt to Equity Ratio (X2)

Return On Asset (X3)

Price Earning Ratio (X4)

Faktor Internal

Analisis terhadap Return

Saham Memilih Perusahaan Inflasi (X5) BI Rate (X6) Inflasi (X5) BI Rate (X6) Analisis SWOT Rekomendasi Strategi Strategi Perusahaan

Faktor Internal Faktor Eksternal

Kuisioner AHP Uji Regresi Data Panel

Kuisioner AHP

Gambar 3 Model Konseptual

IV. HASIL DAN ANALISIS

A. Deskripsi Data

Berikut ini merupakan hasil pengolahan data statistika deskripstif yang akan digunakan dalam penelitian

Gambar 4 Statistika Deskriftif

Dari tabel di atas dapat dilihat statistik deskriptif yang sudah diolah.

B. Estimasi Regresi Data Panel 1. Penentuan Metode Estimasi

Pada Tabel 1 akan di jelaskan penentuan metode berdasarkan uji penentuan metode estimasi data panel.

Tabel 1 Penentuan Metode Estimasi Hasil Kesimpulan Uji Chow (Prob > F) >

0.05 Model koefisien tetap lebih baik daripada model efek tetap Uji Breusch-Pagan (Prob > chibar) > 0.05 Model koefisien tetap lebih baik daripada model

(4)

efek acak Berdasarkan Tabel 1, diketahui bahwa model yang baik menurut uji penentuan metode estimasi data panel adalah model koefisien tetap (common effect model).

2. Pengujian Asumsi Klasik

Tabel 2 menjelaskan ringkasan dari uji asumsi klasik.

Tabel 2 Uji Asumsi Klasik N

o

Uji Asumsi

Klasik Hasil Kesimpulan

1 Uji Kenormalan Nilai signifika nsi (0.054) > 0.05 Maka data penelitian berdistribusi normal 2 Uji Heterokedastis itas p-value > 0.05 yaitu 0.9002 Tidak terjadi heterokedastis itas pada data penelitian 3 Uji Autokorelasi Nilai Durbin watson (1,927) berada diantara DU (1,8346) dan 4-DU (2,17) Tidak terjadi autokorelasi pada data penelitian 4 Uji Multikolinieari tas Nilai Mean VIF (1,66) < 10 Tidak terjadi multikolinearit as pada data penelitian Hasil dari uji asumsi klasik pada Tabel 2, menjelaskan bahwa tidak terdapat masalah pada koleksi data sehingga penelitian mengenai regresi data panel dapat dilakukan

3. Ikhtisar Pemilihan Model Akhir

Berdasarkan penentuan metode estimasi pada data panel, model yang baik adalah common effect model namun karena tidak memberikan representatif yang lebih baik dari fixed effect model, maka dilakukan perbandingan terhadap koefisien determinasinya.

Tabel 3 Perbandingan Koefisien Determinasi Model Common Effects Dengan Model Fixed

Effects

Model Common Effects Fixed Effects

R-squared 0,3189 0,3794

Adjusted R-squared 0,2114 0,2814

Prob(F-statistic) 0,0179 0,0089

Berdasarkan Tabel 3, koefisien determinasi yang lebih baik adalah fixed effect model. Keputusan ini juga di dukung oleh jurnal dengan topik perbandingan model pada data panel (3). Sehingga kesimpulannya adalah fixed effect model yang digunakan untuk penelitian ini.

4. Uji Regresi Data Panel A. Uji F

Gambar 4 di bawah ini merupakan hasil dari uji F

F test that all u_i=0: F(4, 34) = 1.15 Prob > F = 0.3520 rho .18957934 (fraction of variance due to u_i)

sigma_e .88132297 sigma_u .42626075 _cons -2.41e-16 .1313799 -0.00 1.000 -.266996 .266996 BI_RATE .1784062 .2030289 0.88 0.386 -.2341982 .5910106 INFLASI -.6002444 .2003348 -3.00 0.005 -1.007374 -.193115 PER -.0266768 .1575465 -0.17 0.867 -.3468498 .2934962 ROA .4706902 .2188448 2.15 0.039 .0259441 .9154363 DER -.0979873 .1454303 -0.67 0.505 -.3935372 .1975626 EPS .0486265 .1772938 0.27 0.786 -.3116779 .4089309 RETURN_SAHAM Coef. Std. Err. t P>|t| [95% Conf. Interval] corr(u_i, Xb) = -0.4513 Prob > F = 0.0089 F(6,34) = 3.46 overall = 0.2814 max = 9 between = 0.0108 avg = 9.0 R-sq: within = 0.3794 Obs per group: min = 9 Group variable: A Number of groups = 5 Fixed-effects (within) regression Number of obs = 45 . xtreg RETURN_SAHAM EPS DER ROA PER INFLASI BI_RATE, fe

Gambar 5 Uji F

Berdasarkan Gambar 4, hasil dari uji F adalah nilai (Prob > F) = 0,0089. Karena nilai (Prob > F) < 0.05, maka EPS, DER, ROA, PER, Inflasi, dan BI Rate secara bersamaan memiliki pengaruh terhadap return saham pada perusahaan sub sektor telekomunikasi yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia.

B. Uji T

Hasil uji T akan di jelaskan pada tabel di bawah ini

Tabel 4 Uji T

F test that all u_i=0: F(4, 34) = 1.15 Prob > F = 0.3520 rho .18957934 (fraction of variance due to u_i)

sigma_e .88132297 sigma_u .42626075 _cons -2.41e-16 .1313799 -0.00 1.000 -.266996 .266996 BI_RATE .1784062 .2030289 0.88 0.386 -.2341982 .5910106 INFLASI -.6002444 .2003348 -3.00 0.005 -1.007374 -.193115 PER -.0266768 .1575465 -0.17 0.867 -.3468498 .2934962 ROA .4706902 .2188448 2.15 0.039 .0259441 .9154363 DER -.0979873 .1454303 -0.67 0.505 -.3935372 .1975626 EPS .0486265 .1772938 0.27 0.786 -.3116779 .4089309 RETURN_SAHAM Coef. Std. Err. t P>|t| [95% Conf. Interval] corr(u_i, Xb) = -0.4513 Prob > F = 0.0089 F(6,34) = 3.46 overall = 0.2814 max = 9 between = 0.0108 avg = 9.0 R-sq: within = 0.3794 Obs per group: min = 9 Group variable: A Number of groups = 5 Fixed-effects (within) regression Number of obs = 45 . xtreg RETURN_SAHAM EPS DER ROA PER INFLASI BI_RATE, fe

(5)

Pada Tabel 4 variabel independen secara parsial memiliki pengaruh yang signifikansi terhadap

return saham perusahaan sub sektor telekomunikasi adalah ROA, dan inflasi karena nilai P>|t| kurang dari 0,05.

C. Analisis Regresi Data Panel

Dari hasil uji hipotesis yang telah dilakukan hanya variabel ROA, dan Inflasi yang secara parsial memiliki pengaruh signifikan terhadap

return saham sehingga perumusannya adalah :

Y = -2.15X10-16 + 0.47069Xit3 - 0.60024Xit5 +

uit

Persamaan regresi di atas dapat menjelaskan bahwa:

1. Dalam persamaan regresi di atas, konstanta adalah -2.15 x 10-16. Hal ini menunjukkan

bahwa jika variabel ROA, dan Inflasi adalah nol, maka return saham diprediksi di -2.15 x 10-16.

2. Inflasi memiliki koefisien negatif yaitu sebesar -0.60024. Hal ini menunjukkan bahwa setiap peningkatan satu persen inflasi

diperkirakan menurunkan 0.60024 Return

Saham dengan mengasumsikan nilai konstan dalam variabel lain.

3. ROA memiliki koefisien positif yaitu sebesar 0.47069. hal ini menunjukkan bahwa setiap peningkatan satu persen ROA diperkirakan meningkatkan 0.47069 Return

Saham dengan mengasumsikan nilai konstan dalam variabel lain.

D. Analisis SWOT

Perusahaan yang terpilih untuk dilakukan analisis SWOT adalah PT Telkom Indonesia karena perusahaan memiliki nilai rata-rata return saham dan ROA yang lebih baik daripada perusahaan lain dalam sub sektor telekomunikasi.

1. Internal Factor Analysis Summary (IFAS) Tabel 5 Dibawah ini merupakan hasil pembobotan faktor internal yang telah dilakukan oleh ahli.

Tabel 5 IFAS

No. Faktor Internal Bobot Rating Skor

Bobot Keterangan

Strength

1 Kinerja laporan

keuangan 0,159 3 0,477

Pendapatan perusahaan serta rasio keuangan mengalami peningkatan 2 Kekuatan produk

dan layanan 0,234 4 0,936

Banyaknya serta differentiaty produk dan layanan yang disediakan oleh Perusahaan 3 SDM yang

berkualitas 0,144 3 0,433

Memiliki banyak karyawan dengan pendidikan yang tinggi

4

Penerapan GCG (Good Corporate Governance) yang

baik

0,097 3 0,291 Berdasarkan pada self-assesment GCG mendapatkan nilai "Sangat Baik"

5

Pelaksaanaan program CSR yang baik

0,028 3 0,084 Biaya program CSR yang terstruktur

6

Penerapan teknologi informasi

0,072 4 0,288

Penggunaan teknologi informasi di bidang telekomunikasi sangat

berpengaruh Weakness 1 Peningkatan jumlah beban setiap tahun (2011 s/d 2015)

0,022 2 0,044 Jumlah beban mempengaruhi Laba/rugi suatu perusahaan

2

Return On Asset PT Telkom Indonesia (2012

0,105 3 0,316 Return On Asset menggambarkan tentang laba yang dihasilkan perusahaan

(6)

s/d 2015) ada kecenderungan menurun 3 Utang PT Telkom Indonesia 2015 meningkat

0,021 2 0,042 komposisi hutang berlebihan maka akan menurunkan nilai perusahaan

Total Skor 1,91

Berdasarkan perhitungan diatas, dapat dilihat hasil total skor IFAS adalah 1,93. Total skor IFAS didapatkan dengan cara total strengthes di kurangi dengan total weakness.

2. External Factor Analysis Summary (EFAS)

Tabel 6 Dibawah ini merupakan hasil pembobotan faktor eksternal yang telah dilakukan oleh ahli

Tabel 6 EFAS No. Faktor

Eksternal Bobot Rating

Skor

Bobot Keterangan

Opportunities

1 Tingkat inflasi

terkendali 0,102 1 0,102

Tingkat inflasi memiliki pengaruh negatif terhadap return saham sub sektor telekomunikasi, sehingga jika tingkat inflasi terkendali akan berdampak baik juga bagi return

saham PT Telkom Indonesia

2 Tren

Pelanggan 0,425 4 1,698

Keinginan Pelanggan yang selalu berubah dijadikan peluang sebagai jalan untuk selalu menciptakan kreativitas bagi PT Telkom Indonesia

3 Perkembangan

IT yang pesat 0,218 4 0,873

Zaman modern ini teknologi

memegang peraanan penting, terutama di bidang telekomunikasi Threats 1 Kondisi ekonomi global tidak stabil 0,058 1 0,058

kecenderungan pertumbuhan ekonomi secara makro di Indonesia yang berubah

2 Teknologi baru

pesaing 0,089 3 0,266

Teknologi pesaing lebih canggih daripada PT Telkom Indonesia

3 Cyber crime 0,109 4 0,436

Banyaknya tindak kriminal yang mulai terjadi di masa sekarang, menjadi ancaman bagi PT Telkom Indonesia yang menjadi perusahaan

telekomunikasi

(7)

Berdasarkan perhitungan diatas, dapat dilihat hasil total skor EFAS adalah 1,913. Total skor EFAS didapatkan dengan cara total opportunities

di kurangi dengan total threats.

3. Rekomendasi Strategi

Berdasarkan hasil total skor IFAS dan EFAS, maka selanjutnya hasil tersebut akan menjadi input bagi matriks SWOT. Sehingga dapat diketahui rekomendasi strateegi yang tepat bagi perusahaan.

Gambar 6 Matriks SWOT

Pada Gambar 5, hasil yang didapatkan adalah Strategi progresif (S-O). Sehingga saran terhadap strategi bagi PT Telkom Indonesia adalah :

1. Melakukan pengembangan serta inovasi produk dan layanan karena tantangan utama yang dihadapi adalah over of top (OOT) yang menjadi subtitusi layanan suara dan SMS, seiring dengan bertambahnya pengguna smartphone. Dengan memanfaatkan perkembangan IT yang pesat, tren pelanggan, mempertahankan kualitas produk dan layanan, serta perlu adanya analisis risiko terhadap bencana.

2. Memiliki kinerja laporan keuangan yang baik, serta memperhatikan faktor apa saja yang mempengaruhi return saham. Dengan begitu kepercayaan investor, dan jumlah investor akan meningkat

3. Menyeimbangkan budaya saat ini dengan sumber daya manusia yang dimiliki, seperti halnya menjaga harmonisasi antar karyawan, kepastian jenjang karir.

4. Mengupdate analisis Enterprise Risk Management serta komitmen untuk terus menerapkan praktik terbaik GCG

5. Perlunya analisis risiko terhadap teknologi informasi untuk dapat menjaga kualitas perusahaan. untuk mengantisipasi kebocoran data akibat penerapan teknologi yang semakin canggih, maka perusahaan perlu melakukan kegiatan pelatihan terhadap setiap karyawan terutama didaerah yag rawan terhadap kegiatan kriminal cyber serta meningkatkan kerjasama dengan kepolisian

6. Meningkatkan kualitas dari kegiatan CSR agar nilai Net Pomoter Score (NPS) meningkatkan.

V. KESIMPULAN

EPS, DER, ROA, PER, Inflasi, dan BI Rate

secara bersamaan memiliki pengaruh terhadap return saham pada perusahaan sub sektor telekomunikasi yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia, namun secara masing-masing hanya ROA dan inflasi yang memiliki pengaruh yang signifikansi terhadap return saham perusahaan sub sektor telekomunikasi.

PT Telkom Indonesia merupakan perusahaan terpilih yang di analisis SWOT, hal ini dikarenakan perusahaan tersebut memiliki kriteria yang baik daripada perusahaan lain sub sektor telekomunikasi sehingga diharapkan menjadi contoh bagi perusahaan sub sektor telekomunikasi lainnya.

DAFTAR PUSTAKA

[1] Arefianto, D. (2012). Ekonometrika Esensi dan Aplikasi dengan Menggunakan EVIEWS.

Jakarta: Erlangga.

[2] Boediono. (1990). Ekonomi Moneter.

Yogyakarta: BPFE.

[3] Buddelmeyer, H., Jensen, P. H., Oguzoglu, U., & Webster, E. (2008). Fixed Effects Bias in Panel Data Estimators. IZA, 3487.

[4] Fahmi, I. (2014). Pengantar Manajemen Keuangan. Penang, Malaysia: ALFABETA. [5] Rangkuti, F. (2014). Analisis SWOT : Teknik

Membedah Kasus Bisnis. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

Gambar

Gambar 3 Model Konseptual
Tabel 3 Perbandingan Koefisien Determinasi  Model Common Effects Dengan Model Fixed
Tabel 5 IFAS
Tabel 6 EFAS  No.  Faktor
+2

Referensi

Dokumen terkait

Dengan input nilai BVW sebesar 0,0842 yang diperoleh dari rata- rata nilai BVW pada semua sumur, dan peta sebaran porositas yang didapat pada proses sebelumnya,

Tema yang dipilih dalam penelitian yang dimulai sejak Juli 2011 ini adalah infeksi cacing dengan judul “Infestasi Telur Cacing Parasitik pada Tinja Kerbau Lumpur ( Bubalus

Cara mereduksi data dilakukan dengan pengumpulan semua data yang berhubungan dengan bentuk prinsip kerja sama dan pemakaian prinsip kerja sama pada partisipasi

Berdasarkan hasil analisis statistik dengan uji Fisher Exact diperoleh nilai p value 0,228 (&gt; 0,05), dengan demikian dapat disimpulkan bahwa tidak ada hubungan yang

Dari definisi di atas penulis menyimpulkan bahwa loyalitas merupakan suatu komitmen emosional dari konsumen terhadap suatu produk, baik barang maupun jasa, karena loyalitas

Aspek Lingkungan dalam

MASYARAKAT PESISIR BERBASIS MODAL SOSIAL.. Malahan semakin modernisasi teknologi penangkapan dengan menciptakan ketidaksamaan yang mencolok, label “revolusi biru”. Namun

Berdasarkan pengolahan data dan analisis selisih anomali free air data insitu dan data EGM 2008 pada titik pengukuran maka EGM 2008 cukup sesuai dengan rata-rata selisih