KEANEKARAGAMAN PHYTOPLANKTON DI BEBERAPA MUARA SUNGAI
KOTA PADANG
Oleh:
Nawir Muhar *
* Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Bung Hatta
Abstrak
Hasil penelitian pada beberapa muara sungai didapati di muara sungai Batang Harau 9 jenis, jumlah individu 26.700/L, muara sungai Batang Purus 11 jenis, jumlah individu 23.700/L, muara sungai Batang Kuranji10 jenis, jumlah individu 17.600/L dan muara sungai Pasir Jambak 16 jenis, jumlah individu 22.800/L. Frekwensi Keberadaan (FK) 100% pada lokasi penelitian terdiri dari Oscilatoria, Rhyzosolema, Chaetoceros, Thallasionema, Bacteriastrum dan Nitzchya. Indeks Diversitas di lokasi penelitian seperti muara sungai Batang Kuranji 1,207, muara sungai Batang Purus 1,141, muara sungai Pasir Jambak 1,118 dan muara sungai Batang Harau 0,871.
Parameter lingkungan dan parameter kimia adalah; temperatur 29-300C, salinitas 14-16 ppm, pH air 6,7-7,1, DO 5,01-7,10 ppm, CO2 3,26-6,05 ppm, Fosfor 4,087-5,617 ppm dan Nitrogen 0,3100,868 ppm.
PENDAHULUAN
Perairan Pantai Padang adalah perairan
yang dialiri sungai-sungai besar dan kecil
contoh; muara Batang Harau, muara
Sungai Bandar Purus, muara Sungai
Batang Kuranji dan muara Sungai Pasir
Jambak. Sungai tersebut adalah terpilih
jadi kawasan penelitian.
Dari keempat muara sungai tersebut
mempunyai latar belakang hulu dan aliran
yang berbeda , hal ini disebabkan oleh
adanya
proyek
pengendalian
banjir,
penggunaan tata lahan yang tidak teratur
serta berubahnya badan prairan yang
menyebabkan substrat atau habitat dari
phytoplankton dan biota air lainnya jadi
terganggu, yang secara tidak langsung
akan
menyebabkan
berkurangnya
populasi
dan
keanekaragaman
dari
phytoplankton.Phytoplankton mempunyai
peranaan penting dari ekosistem perairan
baik perairan tawar maupun perairan laut
karena
phytoplankton
mejadi
bahan
makanan bagi beberapa jenis biota
aquatik, juga termasuk larva-larva ikan.
Selain itu hampir semua hewan laut
memulai kehidupannya dengan memakan
plankton terutama pada tahap masih larva
yang
membutuhkan
phytoplankton
sebagai
makanan.
Pertumbuhan
phytoplankton sangat dipengaruhi oleh
adanya unsur-unsur hara yang berasal
dari aliran sungai yang memasuki perairan
laut.
BAHAN DAN METODE PENELITIAN
Penelitian dilakukan bulan Oktober 2000
di 4 Muara Sungai Kota Padang dan
identifikasi phytoplankton di Laboratorium
Biologi Universitas Bung Hatta.
Bahan dan peralatan yang digunakan
adalah sebagai berikut ;
Net Plankton No. 25, Microscope Stereo,
Botol dampel 100 cc, Ember, Botol
Winkler, Objek glass dan Cover glass,
Pipet,
Isolasi
band,
Bot
(kapal),
Seperangkat alat DO dan CO
2, MnSo
4,
100% x diamati yang Plot Jumlah 1jenis ditempati yang Plot Jumlah K F =
KOH + KI, H
2SO
4pekat, Amilum 1%
N
2S
2O
3Na
2CO
3, pp (Phenol Ptalin),
Thermometer, Kertas label, Spidol,
Alat-alat tulis, Seccidesk, Refraktometer dan
pH meter.
Lokasi
penelitian
ditentukan
dengan
metoda purposive sampling yaitu dengan
menetapkan 4 stasiun penelitian, yaitu
Stasiun I muara sungai Batang Harau,
Stasiun II muara sungai Batang Purus,
Stasiun III muara sungai Batang Kuranji,
Stasiun IV muara sungai Pasir Jambak.
Pengambilan
sampel
phytoplankton
dilakukan
dengan
metoda
kuantitatif
dengan
menyaring
air
laut
dengan
kedalaman 1-3 meter dengan ulangan 3
kali
pada
setiap
lokasi
dengan
menggunakan jala plankton. Kemudian
sampel yang didapatkan dimasukkan
kedalam botol sampel tekanan 20 ml,
diberi pengawet formalin 4%dan lugols
dan diberi label.Disamping itu dilakukan
pengukuran oksigen terlarut (O
2) CO
2bebas, pH air, temperatur, kecerahan air,
salinitas, posfor, dan nitrogen.
Identifikasi
dan
penentuan
jumlah
phytoplankton dilakukan di Laboratorium
menggunakan buku acuan Edmonson
(1978), Needhen (1964), Juhanda (1980),
Sachlan(1979), LIPI (1996).
ANALISA DATA
Dalam penelitian ini untuk menganalisis
dan pengolahan data, parameter yang
diukur denga menggunakan beberapa
rumus sebagai berikut :
a. Kelimpahan (
Micheal,
1984)
n = Jumlah kelimpahan phytoplankton a = Jumlah rata-rata individu per ril sampel c = Jumalah sampel air yang diperiksa L = Jumlah air yang tersaring
b. Volume
air
yang
tersaring
(
Edmonson,
1978)
n = Jumlah kelimpahan phytoplankton a = Jumlah rata-rata individu per ril sampel c = Jumalah sampel air yang diperiksa L = Jumlah air yang tersaring
c. Frekwensi
Keberadaan
(
Michael,
1984)
d. Kerapatan Relatif (
Odum
, 1971)
% 100 x seluruhnya individu Total spesies 1 individu Jumlah KR=
e. Keanekaragaman (
Odum
, 1971)
pi 2 log i n 0 n pi ID ∑ = = − =
ID = Indeks Keanekaragaman Jenis
Pi = Proporsi spesies ke I atau perbandingan individu spesies ke I dengan total individu spesies (ni/N)
HASIL DAN PEMBAHASAN
Jenis dan Jumlah Individu
Dari hasil penelitian phytoplankton di
muara sungai Batang diperoleh 9 spesies
26300 individu/L, muara sungai Batang
Purus 11 spesies 23700 individu/L, muara
sungai Batang Kuranji 10 spesies 17600
mil/l dan muara sungai Pasir Jambak 16
spesies 22800 mil/l, seperti terlihat dalam
Tabel 1.
Perbedaan umum dari masing-masing
lokasi
tempat
pengambilan
sampel
sebagai habitat phytoplankton adalah
menyebabkan
berbedanya
jumlah
kualitatif dan kuantitatif pada perairan
muara sungai.disamping itu terjadinya
perbedaan air yang masuk ke muara
sungai dimana pada daerah muara sungai
Pasir Jambak perairan sungai sangat baik
karena tingkat pencemarna belum begiu
terpengaruh sehingga jumlah jenis lebih
banyak
dibandingkan
muara
sungai
lainnya.
L
x
c
x
a
n
=
1000
t
r
2.
π
=
V
Tabel 1. Jumlah Jenis dan Individu/L Phytoplankton Pada Masing-Masing Lokasi
Penelitian
No. Lokasi Jumlah Spesies Jumlah Individu
1 Muara Sungai Batang Harau 9 26.300 2 Muara Sungai Batang Purus 11 23.700 3 Muara Sungai Batang Kuranji 10 17.600 4 Muara Sungai Pasir Jambak 16 22.800
Pada muara sungai Batang Harau jumlah
jenisnya
sedikit
dibandingkan
muara
lainnya hal ini disebabkan karena muara
sungai Batang Harau kualitas airnya
berkurang yang disebabkan air yang
masuk sudah agak tercemar karena
masuknya limbah industri dan limbah
buangan masyarakat sepanjang aliran
sungai. Tinggi jumlah individu pada muara
sungai Batang Harau disebabkan spesies
yang hidup merupakan intoleran terhadap
perubahan kualitas air, sedangkan
jenis-jenis
yang
lain
tidak
mampu
menyesuaikan dengan kualitas air yang
jelak akan menghilang atau mati.
Menurut
Muhar
(1990) terjadinya variasi
phytoplankton sepanjang pantai Padang
ditentukan oleh berbagai faktor, baik faktor
biotik maupun faktor abiotik. Diantara
faktor abiotik yang menentukan kestabilan
phytoplankton diperairan pantai adalah
kandungan senyawa organik, kandungan
gas-gas tertentu seperti Oksigen terlarut
(DO), carbondioksida (CO
2), salinitas, pH
dan beberapa senyawa nitrogen, fosfor
akibat adanya pemasukan limbah-limbah
domestik.
Kerapatan Relatif
Kerapatan Relatif (KR) phytoplankton di
Muara Pasir Jambak berkisar antara
0,44-35,40% yang dominan diantaranya adalah
Oscillatoria (Cyanophyceae) dengan KR
35,04%.
Kemudian
diikuti
oleh
Thalosionema
(Baccillariophyceae)
dengan
KR
19,47%,
Chaetoceros
(Bacillariophyceae)
KR
15,04%,
sedangkan yang lainnya di muara Pasir
Jambak didapatkan dengan KR
0,44%-8,85%.
muara Batang Kuranji KR phytoplankton
didapatkan sekitar 2,27%-34,09% yang
dominan diantaranya adalah Chaetoceros
(Bacillariophyceae)
dengan
Kerapatan
Relatif (KR)34,09%, kemudian diikuti oleh
Oscillatoria
(Cyanophyceae)
dan
Thallasionema
(Baccillariophyceae)
dengan KR masing-masing 13,64% dan
Rhyzosolenia
(Baccillariophyceae)
KR
17,05%. Sedangkan spesies yang lainnya
hanya didapatkan dengan KR antara
2,27%-4,55%.
Di lokasi muara Batang Purus kisaran
Kerapatan Relatif (KR) phytoplankton
ditemukan antara 0,42%-30,38%. Yang
dominan
diantaranya
Chaetoceros
(Bacillariophyceae),
KR
30,38%,
kemudian
diikuti
oleh
Oscillatoria
(Cyanophyceae)
KR
17,72%,
Rhyzosolenia
(Baccillariophyceae)
KR
13,50% dan yang lainnya ditemui dengan
KR antara 0,42%-12,67%.
Di Muara Batang Kuranji Kerapatan Relatif
phytoplankton ditemui dengan kisaran
antara
0,38%-46,39%.
spesies
yang
paling dominan diantaranya Oscillatoria
(Cyanophyceae) KR 46,39%, kemudian
diikuti
oleh
Chaetoceros
(Bacillariophyceae),
KR
16,73%
dan
Thalasionema
(Baccillariophyceae)
dengan KR 12,17%. Sedangkan yang
lainnya berkisar antara 0,38%-9,13%.
Untuk jelasnya lihat Tabel 2.
Berfluktuasinya
kerapatan
relatif
phytoplankton pada beberapa muara
sungai
terutama
disebabkan
kondisi
parameter
ekologi
secara
arealisasi,
terutama
adanya
fluktuasi
beberapa
indikator parameter kualitas air yang
menyebabkan pengaruh dan distribusi
phytoplankton diperairan
(Prescot, 1961)
Tabel. 2 Kerapatan Relatif (KR) Phytoplankton Pada Masing-Masing Lokasi Penelitian
No Genus Kerapatan Relatif
Bt. Harau Bt. Purus Bt. Kuranji Bt. Ps. Jambak
I. 1 2 II 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. Cyanophyceae Oscillatoria Lyngbya Bacillaryophyceae Rhyzosolenia Skeletonema Cassinodiscuc Chaetoceros Bidulphya Synedra Thallosionema Bacteriastrum Navicula Nitzchya Surrinella 46,39 - 9,13 6,08 0,378 16,73 - - 12,17 5,32 - 2,28 - 17,72 10,13 13,50 - 1,27 30,38 0,42 - 12,67 10,13 - 1,69 - 13,64 - 17,05 2,27 - 34,09 - - 13,64 4,55 3,41 4,55 2,27 35,40 - 7,08 1,77 0,44 15,04 0,88 3,54 19,47 8,85 0,88 0,44 1,77 III 1. 2. 3. IV 1. Deniphyceae Gonyaulax Noctiluca Glenodinium Euglenophyceae Trackelemonas 1,52 - - - 1,69 - 0,42 - - 4,55 - - 2,65 1,33 0,44 0,88
Frekwensi Relatif (FR)
Nilai Frekwensi Relatif phytoplankton di
muara-muara sungai bervariasi untuk
masing-masing spesies, antara
25%-100%. Semua spesies diatas terhimpun
dalam
Devisi
Cyanophyceae,
Dinophyceae
dan
Euglenaphyceae.
spesies yang didapatkan dengan FR
100%
adalah
Oscillatoria(Cyanophyceae),Rhyzosolenia,
Chaetoceros,Thalasionema, Bacteriastrum
dan
Nitzchya.
Keseluruhannya
dari
(Baccillariophyceae).
Spesies
yang
didapatkan dengan FR 75% adalah
Skletonema,
Cocsinodiscuss
dan
Gonyaulax. Dengan FR 50% adalah
Bidullphya, Navicula, Surrinella, Noctiluca
dan Glenodinium. Sedangkan Lyngbya,
Synedra dan Trachelomonas ditemukan
dengan FR 25%. Seperti terlihat pada
Tabel 3.
Paremeter
ini
memberi
gambaran
keterangan
tentang
prosentase
keberadaan phytoplankton pada 4 lokasi
penelitan.
Berbedanya
nilai
FR
phytoplankton dibeberapa muara sungai,
terutama disebabkan perbedaan kondisi
fisik dan kimia serta tersedianya nutrien di
masing-masing tersebut.
Muhar
(1990)
mengatakan
perbedaan
populasi
phytoplankton diperairan pantai dapat
terjadi secara cepat, apabila kadar pospat
dan nitrat serta salinitas meningkat.
Selanjutnya
Michael
(1984) menyatakan
bahwa
bervariasinya
keberadaan
phytoplankton disebabkan oleh
berbeda-bedanya kemampuan adaptasi
masing-masing genus terhadap habitatnya.
Indek Diversitas
Dari hasil analisis Indek Keanekaragaman,
ternyata pada setiap muara sungai di
Kodya
Padang
Indek
Diversitas
phytoplankton sangat rendah yaitu di
muara Pasir Jambak 1,118; muara Batang
Kuranji 1,207; muara Batang Purus 1,141
dan
muara
Batang
Harau
0,871.
Rendahnya nilai ini IndekDiversitas ini
menggambarkan
variasi
kehadiran
phytoplankton diareal penelitian sangat
terbatas atau hanya bisa ditumbuhi oleh
phytoplankton tertentu seperti Tabel 4.
Tabel 3. Frekwensi Keberadaan (FK) Phytoplankton Pada Masing-Masing Lokasi
Penelitian
No Genus FR (%) I. 1. 2. II 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. III 1. 2. 3. IV 1. Cyanophyceae Oscillatoria Lyngbya Bacillaryophyceae Rhyzosolenia Skeletonema Cassinodiscuc Chaetoceros Bidulphya Synedra Thallosionema Bacteriastrum Navicula Nitzchya Surrinella Deniphyceae Gonyaulax Noctiluca Glenodinium Euglenophyceae Trackelemonas 100 25 100 75 75 100 50 25 100 100 50 100 50 75 50 50 25Tabel 4. Indek Diversitas Phytoplankton Pada Masing-Masing Lokasi Penelitian
No Lokasi Indek Diversitas
1. Muara Sungai Batang Harau 0,871
2. Muara Sungai Batang Purus 1,141
3. Muara Sungai Batang Kuranji 1,207
4. Muara Sungai Pasir Jambak 1,118
Rendahnya nilai Indek Diversitas ini
disebabkan karena di sepanjang aliran
Sungai Batang Harau sangat banyak
aktivitas kehidupan dan pembangunan
yang memberikan masuk ke dalam air,
yang memberi dampak negatif terhadap
kehidupan phytoplankton secara khusus
dan organisme lainnya (ikan) secara
umum, sehingga aktivitas tersebut telah
merusak kualitas air.
Poole
(1974)
menyatakan bahwa Indek Diversitas suatu
komunitas bukan hanya tergantung pada
banyaknya spesies dan jumlah individu,
tetapi juga dipengaruhi oleh penyebaran
(proporsi) jenis dalam komunitas.
Selanjutnya
Krebs
(1978) menyatakan
bahwa Indek Diversitas akan tinggi bila
jumlah spesiesnya banyak dan distribusi
antar spesies berimbang.
Keadaan Fisika dan Kimia Perairan
Sifat fisika kimia air pada prinsipnya
mencerminkan kualitas perairan atau
lingkungannya. Air merupakan media
kehidupan jasad perairan, oleh karena itu
air akan mempengaruhi dan menentukan
kehidupan organisme perairan.
Hasil pengukuran kualitas air pada setiap
lokasi pengambilan sampel seperti Tabel
5.
Tabel 5. Parameter Fisika Kimia Air Pada Masing-Masing Lokasi Penelitian
No Parameter Satuan
Lokasi
Bt. Harau Purus Bt. Bt. Kuranji Jambak Bt. Ps.
I. 1. 2. II 1. 2. 3. 4. 5. 6. Faktor fisika Temperatur air Warna air Faktor kimia Salinitas DO CO2 pH Pospor Nitrogen 0 C 0 /00 ppm ppm - ppm ppm 30 keruh 15 5,01 6,05 6,7 5,617 0,868 29 bening 16 6,90 6,65 7,1 4,919 0,408 29 agak keruh 14 6,90 3,26 6,9 4,087 0,310 30 bening 16 7,10 4,25 7,1 4,107 0,461