• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENGARUH SBIS, INFLASI, KURS, BI 7 DAYS REPO RATE, DAN JII TERHADAP NET ASSET VALUE REKSA DANA SAHAM SYARIAH DI INDONESIA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "PENGARUH SBIS, INFLASI, KURS, BI 7 DAYS REPO RATE, DAN JII TERHADAP NET ASSET VALUE REKSA DANA SAHAM SYARIAH DI INDONESIA"

Copied!
135
0
0

Teks penuh

(1)

i

SKRIPSI

Diajukan sebagai Salah Satu Persyaratan untuk Memperoleh Gelar

Sarjana Terapan pada Program Studi Akuntansi

Lembaga Keuangan Syariah

Oleh :

IVANA PRATIWI

D030416013

PROGRAM STUDI AKUNTANSI LEMBAGA KEUANGAN SYARIAH JURUSAN AKUNTANSI

POLITEKNIK NEGERI BANJARMASIN 2020

(2)

ii

SKRIPSI

Diajukan sebagai Salah Satu Persyaratan untuk Memperoleh Gelar

Sarjana Terapan pada Program Studi Akuntansi

Lembaga Keuangan Syariah

Oleh :

IVANA PRATIWI

D030416013

PROGRAM STUDI AKUNTANSI LEMBAGA KEUANGAN SYARIAH JURUSAN AKUNTANSI

POLITEKNIK NEGERI BANJARMASIN 2020

(3)

iii Skripsi dengan judul:

PENGARUH SBIS, INFLASI, KURS, BI 7 DAYS REPO RATE DAN JII TERHADAP NET ASSET VALUE REKSA DANA SAHAM SYARIAH

DI INDONESIA

Yang disusun oleh:

Nama : Ivana Pratiwi

NIM : D030416013

Program Studi : Akuntansi Lembaga Keuangan Syariah

Telah dinyatakan lulus dalam sidang ujian Skripsi di Jurusan Akuntansi Politeknik Negeri Banjarmasin pada tanggal . . . dengan predikat . . . . dan diterima sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Terapan Akuntansi (S.Tr.Ak).

Ketua Jurusan Akuntansi,

Nailiya Nikmah, S.Pd, M.Pd NIP. 198012092005012002 Tim Penguji dan Pembimbing

Ketua Penguji : Mahyuni, SE, Ak, CA., MM ( . . . ) NIP. 198002012005011001

Anggota Penguji : Manik Mutiara Sadewa, SE,

Ak, CA., Mbus (Acc)., SAS (. . . ) NIP. 197312171998022002

Pembimbing : Mochammad Arif Budiman,

S.Ag, M.E.I, Ph.D ( . . . ) NIP. 197609012002121003

(4)

v

Saya yang bertanda tangan di bawah ini menyatakan dengan sesungguhnya bahwa Skripsi ini merupakan hasil karya asli saya untuk memenuhi salah satu persyaratan memperoleh gelar Sarjana Terapan dari Politeknik Negeri Banjarmasin. Skripsi ini belum pernah digunakan atau dipublikasikan untuk keperluan lain oleh siapapun juga. Semua sumber yang saya gunakan telah saya cantumkan sebagaimana mestinya sesuai ketentuan yang berlaku.

Apabila di kemudian hari terbukti bahwa pernyataan saya ini tidak benar, maka saya bersedia menerima sanksi yang ditetapkan oleh Politeknik Negeri Banjarmasin.

Banjarmasin, 29 Juli 2020 Yang membuat pernyataan,

Ivana Pratiwi NIM. D030416013

(5)

vi

“Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Maka apabila kamu

telah selesai (dari suatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain.

~ Q.S Al-Insyirah 6-7. ~

“Jangan biarkan hari kemarin merenggut banyak hal hari ini.”

(6)

vii

skripsi ini dengan baik. Karya sederhana ini penulis persembahkan untuk: 1. Ibu dan Bapak tersayang, yang senantiasa mendidik dengan penuh

kesabaran, selalu mendoakan dan memberi motivasi kepada penulis agar selalu menjadi pribadi yang kuat, tabah, dan bertanggung jawab atas segala pekerjaan yang penulis hadapi. Doa terbaik yang Ibu dan Bapak berikan setiap hari membuat penulis berhasil menyelesaikan pendidikan sarjana ini. Terima kasih atas cinta kasih yang selama ini diberikan kepada penulis, seribu kata tidak akan bisa menggambarkan kasih sayang penulis kepada Bapak dan Ibu.

2. Seluruh Dosen yang telah mengajar dan membimbing penulis selama menempuh pendidikan di Program Studi D4 Akuntansi Lembaga Keuangan Syariah. Keahlian dan kesabaran dalam mendidik membuat penulis yang awalnya tidak tahu sama sekali dunia akuntansi menjadi orang yang berkompetensi di bidang akuntansi.

3. Bapak Mochammad Arif Budiman, S.Ag, M.E.I, Ph.D yang telah membimbing penulis dalam menyelesaikan skripsi.

4. Bapak Rizki Fadillah yang senantiasa bersedia direpotkan kapanpun dan di manapun.

5. Anggota grub Hiya (Afifah, Ria, Mala dan Cintya) yang selalu memberikan semangat dan penghilang stres dalam mengerjakan skripsi.

6. Teman-teman ALKS angkatan 2016 yang selalu membantu serta saling memberi semangat dalam mengerjakan skripsi sehingga dapat selesai tepat waktu.

(7)

viii

Ivana Pratiwi (D030416013). Pengaruh SBIS, Inflasi, Kurs, BI 7 Days Repo

Rate dan JII terhadap Net Asset Value Reksa Dana Saham Syariah di

Indonesia. Skripsi, Program Studi Akuntansi Lembaga Keuangan Syariah, Jurusan Akuntansi, Politeknik Negeri Banjarmasin, 2020.

Penelitian ini bertujuan untuk menguji pengaruh yang ditimbulkan faktor makroekonomi, di antaranya: Sertifikat Bank Indonesia Syariah (SBIS), inflasi, kurs, BI 7 days repo rate, dan Jakarta Islamic Index (JII) terhadap Net Asset Value atau Nilai Aktiva Bersih reksa dana syariah jenis saham di Indonesia. Jenis penelitian ini adalah penelitian kuantitatif dengan menggunakan pendekatan pengujian hipotesis. Pengambilan sampel dengan metode purposive sampling. Data yang digunakan dalam penelitian yaitu data sekunder. Periode penelitian ini adalah dari tahun 2015 hingga 2019. Metode yang digunakan untuk mengolah data yaitu analisis regresi linier berganda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara simultan, Sertifikat Bank Indonesia Syariah (SBIS), inflasi, kurs, BI 7 days repo

rate, dan Jakarta Islamic Index (JII) berpengaruh terhadap net asset value atau nilai

aktiva bersih reksa dana saham syariah di Indonesia. Sedangkan secara parsial semua variabel berpengaruh positif kecuali variabel SBIS yang memiliki pengaruh negatif dan variabel inflasi tidak berpengaruh terhadap net asset value reksa dana saham syariah di Indonesia.

Kata Kunci: Sertifikat Bank Indonesia Syariah (SBIS), Nilai Tukar (Kurs), BI 7 Days Repo Rate, Jakarta Islamic Index (JII), Net Asset Value (Nilai Aktiva Bersih)

(8)

ix

ABSTRACT

Ivana Pratiwi (D030416013). Influence of SBIS, Inflation, Exchange Rate, BI 7

Days Repo Rate and JII against the Net Asset Value of Sharia Mutual Funds in Indonesia. Thesis, Study Program of Accounting for Islamic Financial Institutions, Accounting Department, Banjarmasin State Polytechnic, 2020.

This study aims to examine the effects of macroeconomic factors, including: Bank Indonesia Sharia Certificate (SBIS), inflation, exchange rates, BI 7 days repo rate, and Jakarta Islamic Index (JII) on Net Asset Value of sharia mutual funds types of shares in Indonesia. This type of research is quantitative research using a hypothesis testing approach. Sampling with a purposive sampling method. The data used in this research are secondary data. The period of this research is from 2015 to 2019. The method used to process data is multiple linear regression analysis. The results showed that simultaneously, Bank Indonesia Sharia Certificates (SBIS), inflation, exchange rates, BI 7 days repo rate, and Jakarta Islamic Index (JII) affect the Net Asset Value of sharia mutual fund in Indonesia. While partially all the variables have a positive effect except the SBIS variable which has a negative influence and the inflation variable does not affect the net asset value of sharia mutual fund in Indonesia.

Keywords: Bank Indonesia Sharia Certificates (SBIS), Exchange Rates, BI 7 Days

(9)

x

KATA PENGANTAR

Segala puji dan syukur ke hadirat Allah SWT atas berkah, rahmat dan hidayah-Nya yang senantiasa dilimpahkan kepada penulis, sehingga dapat menyelesaikan skripsi dengan judul “Pengaruh SBIS, Inflasi, Kurs, BI 7 Days Repo Rate, dan JII Terhadap Net Asset Value Reksa Dana Saham Syariah di Indonesia” sebagai syarat untuk menyelesaikan Program Diploma IV (D4) pada Program Studi Akuntansi Lembaga Keuangan Syariah Jurusan Akuntansi Politeknik Negeri Banjarmasin.

Dalam penyusunan skripsi ini banyak hambatan serta rintangan yang penulis hadapi namun pada akhirnya dapat dilalui berkat adanya bimbingan dan bantuan dari berbagai pihak baik secara moral maupun spiritual. Untuk itu pada kesempatan ini penulis menyampaikan ucapan terima kasih kepada:

1. Bapak Joni Riadi, S.ST, M.T selaku Direktur Politeknik Negeri Banjarmasin. 2. Ibu Nailiya Nikmah, S.Pd., M.Pd selaku Ketua Jurusan Akuntansi Politeknik

Negeri Banjarmasin.

3. Bapak H. Muhammad Yassir F, S.Pd.I., MSI selaku Ketua Program Studi Akuntansi Lembaga Keuangan Syariah Politeknik Negeri Banjarmasin.

4. Bapak Mochammad Arif Budiman, S.Ag, M.E.I, Ph.D selaku Dosen Pembimbing yang telah bersedia membimbing dengan sabar dan meluangkan waktu, tenaga serta pikiran selama proses penyusunan skripsi.

5. Ibu Andriani, SE, M.M., M.Sc selaku Dosen Wali yang terus memberikan dukungan moril dalam penyusunan skripsi.

6. Bapak Rizky Fadhillah, S.ST., M.Tr selaku mentor yang bersedia memberikan informasi yang sangat berguna dalam penyelesaian skripsi.

7. Seluruh jajaran Dosen dan Staf Jurusan Akuntansi Politeknik Negeri Banjarmasin.

8. Kedua orang tua yang telah memberikan dukungan moril dan materiil serta doa yang luar biasa.

(10)

xi

9. Teman - teman di Program Studi D4 Akuntansi Lembaga Keuangan Syariah angkatan 2016, terutama Afifah, Cintya, Mala, dan Ria yang selalu memberikan dukungan.

10. Semua pihak yang tidak dapat disebutkan satu persatu yang telah membantu memberikan dukungan.

Penulis mohon maaf atas segala kesalahan yang pernah dilakukan. Semoga skripsi ini dapat memberikan manfaat untuk mendorong penelitian - penelitian selanjutnya.

Banjarmasin, 29 Juli 2020 Penulis

Ivana Pratiwi NIM D030416013

(11)

xii

DAFTAR ISI

Halaman Sampul ... i

Halaman Judul ... ii

Halaman Persetujuan ... iii

Halaman Pengesahan ... iii

Halaman Pernyataan Keaslian... v

Halaman Motto... vi

Halaman Persembahan ... vii

Abstrak ... viii

Abstract ... ix

Kata Pengantar ... x

Daftar Isi... xii

Daftar Tabel ... xiv

Daftar Grafik ... xv

Daftar Lampiran ... xvi

BAB I : PENDAHULUAN ... 1 A. Latar Belakang ... 1 B. Permasalahan ... 5 C. Rumusan Masalah ... 6 D. Tujuan Penelitian ... 7 E. Manfaat Penelitian ... 8

BAB II : TINJAUAN PUSTAKA ... 10

A. Landasan Teori ... 10

1. Investasi ... 10

2. Pasar Modal Syariah ... 11

3. Reksa Dana Syariah... 15

a. Landasan Hukum Reksa Dana Syariah ... 17

b. Prinsip - Prinsip Reksa Dana Syariah ... 18

c. Pihak - Pihak yang Terlibat ... 21

d. Mekanisme Reksa Dana Syariah ... 23

e. Bentuk - Bentuk Reksa Dana ... 27

f. Sifat - Sifat Reksa Dana ... 28

g. Jenis - Jenis Reksa Dana ... 29

h. Keuntungan Reksa Dana ... 31

i. Risiko Reksa Dana ... 32

4. Net Asset Value (NAV) ... 34

5. Sertifikat Bank Indonesia Syariah (SBIS) ... 35

(12)

xiii

7. Nilai Tukar Rupiah (Kurs) ... 39

8. BI 7 Days Repo Rate ... 41

9. Jakarta Islamic Index (JII) ... 42

10. Keterkaitan Antar Variabel Bebas dengan Variabel Terikat ... 44

B. Hasil Penelitian Terdahulu ... 48

C. Kerangka Berpikir ... 50

D. Hipotesis Penelitian ... 51

BAB III : METODE PENELITIAN ... 53

A. Jenis Penelitian ... 53

B. Populasi dan Sampel Penelitian ... 53

C. Variabel Penelitian ... 54

D. Jenis dan Sumber Data ... 56

E. Metode Pengumpulan Data ... 57

F. Teknik Analisis Data ... 58

BAB IV : Hasil Penelitian dan Pembahasan ... 65

A. Sekilas Gambaran Umum Objek Penelitian ... 65

1. Sejarah Singkat Pasar Modal di Indonesia ... 65

2. Sejarah Singkat Reksa Dana Syariah ... 66

3. Analisis Deskriptif ... 67

B. Hasil Penelitian ... 80

1. Uji Asumsi Klasik ... 80

a. Uji Normalitas ... 81

b. Uji Multikolinearitas ... 82

c. Uji Heteroskedastisitas ... 84

d. Uji Autokorelasi ... 85

2. Uji Hipotesis ... 86

a. Uji Simultan (Uji F) ... 86

b. Uji Parsial (Uji t) ... 87

c. Koefisien Determinasi (Adjusted R-square) ... 91

d. Analisis Regresi Linier Berganda ... 91

C. Pembahasan ... 93

BAB V : Kesimpulan dan Saran ... 105

A. Simpulan ... 105

B. Saran ... 106

Daftar Pustaka ... 107

(13)

xiv

DAFTAR TABEL

Tabel 2.1 Hasil Penelitian Terdahulu ... 48

Tabel 3.1 Kriteria Sampel ... 54

Tabel 3.2 Definisi Operasional Variabel ... 55

Tabel 4.1 Data SBIS Periode 2015-2019 ... 67

Tabel 4.2 Statistik Deskriptif Sertifikat Bank Indonesia Syariah ... 69

Tabel 4.3 Data Inflasi Periode 2015 - 2019... 70

Tabel 4.4 Statistik Deskriptif Inflasi ... 71

Tabel 4.5 Data Kurs Periode 2015 -2019 ... 72

Tabel 4.6 Statistik Deskriptif Nilai Tukar Rupiah (Kurs) ... 73

Tabel 4.7 Data BI 7 Days Repo Rate Periode 2015-2019 ... 74

Tabel 4.8 Statistik Deskriptif BI 7 Days Repo Rate ... 75

Tabel 4.9 Data Jakarta Islamic Index Periode 2015-2019 ... 76

Tabel 4.10 Statistik Deskriptif Jakarta Islamic Index ... 77

Tabel 4.11 Data NAV Reksa Dana Saham Syariah Periode 2015-2019 ... 78

Tabel 4.12 Statistik Deskriptif NAV Reksa Dana Saham Syariah ... 79

Tabel 4.13 Hasil Uji Normalitas... 81

Tabel 4.14 Hasil Uji Multikolinearitas ... 83

Tabel 4.15 Hasil Uji Heterokedastisitas ... 84

Tabel 4.16 Hasil Uji Autokorelasi ... 86

Tabel 4.17 Hasil Uji Simultan (Uji F) ... 87

Tabel 4.18 Hasil Uji Parsial (Uji t)... 88

(14)

xv

DAFTAR GRAFIK

Grafik 1.1 Data Nilai Aset Bersih Reksa Dana Saham Syariah ... 2

Grafik 4.1 Data Sertifikat SBIS ... 68

Grafik 4.2 Data Inflasi... 70

Grafik 4.3 Data Kurs terhadap USD ... 73

Grafik 4.4 Data BI 7 Days Repo Rate ... 75

Grafik 4.5 Data Jakarta Islamic Index ... 77

Grafik 4.6 Data NAV Reksa Dana Saham Syariah ... 79

(15)

xvi

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1 Lembar Bimbingan Skripsi ... 112

Lampiran 2 Daftar Riwayat Hidup ... 114

Lampiran 3 Daftar Nama Reksa dana Saham Syariah ... 116

Lampiran 4 Daftar Tabel Uji Simultan (Uji F) ... 118

(16)

1

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Pasar modal (capital market) sebagai instrumen keuangan memiliki peran penting sebagai sarana investasi yang berguna bagi pembangunan ekonomi sebuah negara. Pasar modal yang tumbuh dan berkembang dengan baik dapat dijadikan sebagai tolok ukur kemajuan dari suatu negara (Purnomo, 2013: 16). Masyarakat di Indonesia yang mayoritas muslim, menggunakan pasar modal sebagai sarana kegiatan bermuamalah untuk menjadikan harta yang mereka miliki produktif dan mendatangkan kemaslahatan bagi orang lain. Oleh sebab itu, pasar modal yang dijadikan sarana berinvestasi harus bebas dari unsur - unsur yang diharamkan atau dilarang dalam ketentuan Islam. Pasar modal syariah hadir sebagai solusi bagi masyarakat (investor) yang menyadari adanya unsur - unsur yang diharamkan pada pasar modal konvensional, seperti riba,

maisir, gharar, dan lain - lain.

Salah satu produk instrumen keuangan syariah yang berkembang di pasar modal syariah yaitu reksa dana syariah atau Islamic Mutual Fund. Reksa dana syariah merupakan alternatif investasi syariah bagi masyarakat yang memiliki dana terbatas (investor kecil) dan tidak memiliki keahlian untuk menghitung risiko atas investasi mereka, hal ini karena sistem yang diterapkan reksa dana syariah bersifat dana kolektif yang dikelola oleh manajer investasi yang profesional. Sesuai Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) Nomor: 20/DSN-MUI/IV/2001 tentang pedoman pelaksanaan investasi untuk reksa dana syariah, manajer investasi reksa dana syariah harus menanamkan dana kelolaannya dalam instrumen investasi yang tidak melanggar larangan syariah baik dalam operasional maupun fundamental yang dinilai menguntungkan.

Menurut Otoritas Jasa Keuangan jenis reksa dana syariah berdasarkan portofolionya terbagi menjadi reksa dana campuran, pendapatan tetap, indeks, saham, terproteksi, ETF-saham, pasar uang, efek luar negeri, dan sukuk. Jenis

(17)

reksa dana yang memiliki tingkat risiko yang paling tinggi yaitu reksa dana jenis saham syariah, hal ini dikarenakan manajer investasi menempatkan dana kelolaannya sekurang - kurangnya 80% pada sektor saham. Sejalan dengan istilah investasi “high risk high return, low risk low return” risiko yang sangat tinggi pada reksa dana saham syariah dibarengi pula dengan tingginya keuntungan (return) yang akan didapatkan.

Salah satu alat ukur kinerja reksa dana dapat dilihat dari Net Asset Value atau Nilai Aktiva Bersih yang selanjutnya disebut NAB (Soemitra, 2009: 167). Berikut adalah grafik perkembangan NAB reksa dana jenis saham syariah di Indonesia selama lima tahun terakhir.

Grafik 1.1 Data Nilai Aset Bersih Reksa Dana Saham Syariah tahun 2015 - 2019 Sumber : www.ojk.go.id

Berdasarkan grafik 1.1 di atas perkembangan reksa dana saham syariah di Indonesia mengalami pertumbuhan yang cukup signifikan, dapat dilihat pada tahun 2015 NAB reksa dana saham syariah hanya sebesar Rp 5.677,21 miliar, meningkat menjadi Rp 7.153,99 miliar pada tahun 2016, lalu mengalami peningkatan yang sangat pesat pada tahun 2017 mencapai 10.805,75% atau Rp 780.196,56 miliar, jumlah ini terus mengalami peningkatan hingga tahun 2018

2015 2016 2017 2018 2019 5.677,21 7.153,99 780.196,56 862.884,68 350.681,20 Miliar (Rp) Periode

(18)

mencapai Rp 862.884,68 miliar. Namun, memasuki tahun 2019 NAB reksa dana saham syariah di Indonesia mengalami penurunan sebesar 59,36% menjadi Rp 350.681,20 miliar.

Penyebab naik turunnya NAB reksa dana saham syariah salah satunya yaitu faktor makroekonomi, hal ini dikarenakan pengambilan keputusan penanaman investasi oleh investor atau dalam hal ini manajer investasi mengacu pada pergerakan beberapa faktor makroekonomi tersebut. Seperti yang dijelaskan oleh Sukirno dalam bukunya Makroekonomi Tentang Teori Investasi:

Faktor yang mempengaruhi keputusan penanaman investasi pada suatu negara atau daerah adalah instrumen - instrumen dari makroekonomi yang berupa suku bunga, tingkat keuntungan yang diramalkan, tingkat pendapatan nasional dan perubahan - perubahannya, keuntungan yang diperoleh perusahaan, situasi politik, kemajuan teknologi dan kemudahan - kemudahan yang diberikan pemerintah (Sukirno, 2012: 121–134). Di Indonesia instrumen makroekonomi tersebut di antaranya adalah inflasi, nilai tukar rupiah (kurs), jumlah uang beredar, Sertifikat Bank Indonesia Syariah (SBIS), BI 7 days repo rate, surat berharga syariah negara (sukuk), Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), Jakarta Islamic Index (JII), indeks harga konsumen, tingkat return, tingkat risiko, harga minyak mentah Indonesia (Indonesian crude price), harga emas dan lain sebagainya.

Variabel makroekonomi pertama yang disinyalir ikut mempengaruhi NAB reksa dana saham syariah adalah Sertifikat Bank Indonesia Syariah yang selanjutnya disebut SBIS. Hal ini dikarenakan jika nilai SBIS mengalami peningkatan maka akan memperbesar minat manajer investasi untuk menginvestasikan dana kelolaannya ke dalam instrumen SBIS, hal ini menyebabkan kenaikan return bagi para investor, sehingga NAB reksa dana saham syariah juga mengalami peningkatan (Muslim, 2018: 82 dan Mutiara, 2017: 70). Sebaliknya, dalam penelitian Lestari (2018: 78) dan Nafisah (2017: 94) menyatakan bahwa SBIS tidak mempengaruhi NAB reksa dana syariah sebab manajer investasi tidak begitu memperhatikan SBIS dari sektor

(19)

perbankan sebagai salah satu pertimbangan dalam penanaman modal kelolaannya.

Variabel makroekonomi selanjutnya yang dapat mempengaruhi NAB reksa dana saham syariah adalah inflasi. Tingginya tingkat inflasi menyebabkan turunnya minat investor pada reksa dana saham syariah sehingga NAB juga akan mengalami penurunan (Azkiyah, 2017: 103 dan Setiaji, 2018: 124). Sedangkan Nandari (2017: 68) dan Shofia dkk. (2018: 5) menyatakan bahwa inflasi memiliki dampak positif terhadap NAB reksa dana saham syariah. Hal ini dikarenakan kondisi kenaikan inflasi di Indonesia justru meningkatkan gairah berinvestasi masyarakat.

Selanjutnya nilai tukar rupiah atau kurs merupakan harga mata uang Indonesia terhadap mata uang negara lain. Menurut hasil penelitian Citraningtiyas & Huda (2016: 12); Nandari (2017: 68), terdepresiasinya kurs terhadap dolar akan berpengaruh negatif terhadap emiten yang berorientasi pada impor sehingga akan menurunkan harga saham di bursa efek yang mengakibatkan NAB reksa dana saham syariah juga akan mengalami penurunan. Hal sebaliknya diungkapkan oleh penelitian dari Darmawan (2019: 9); Miha & Laila (2017: 11) yang menyebutkan bahwa kurs tidak berpengaruh terhadap NAB reksa dana syariah dikarenakan masih sedikitnya instrumen investasi luar negeri pada reksa dana syariah di Indonesia.

Kemudian instrumen BI 7 days repo rate juga dianggap mempengaruhi NAB reksa dana saham syariah dikarenakan, ketika BI 7 days repo rate mengalami penurunan maka semua investasi akan dialihkan ke pasar modal yang berdampak pada kenaikan NAB reksa dana saham syariah (Azkiyah, 2017: 102; Citraningtiyas & Huda, 2016: 10; Malya, 2017: 112; dan Pratiwi dkk., 2018: 32). Namun menurut Nandari (2017: 70); Rachman & Mawardi (2015: 14); Setyarini (2015: 99) BI 7 days repo rate tidak memiliki pengaruh terhadap NAB reksa dana syariah, sebab reksa dana syariah adalah reksa dana yang penempatan investasinya pada instrumen investasi non-riba (bunga). Oleh sebab itu naik turunnya bunga tidak mempengaruhi besarnya NAB reksa dana saham syariah.

(20)

Selain itu, kinerja Jakarta Islamic Index (JII) juga turut mempengaruhi NAB reksa dana syariah di Indonesia, hal ini dikarenakan sebagian besar aktiva reksa dana jenis saham syariah ditempatkan pada sektor saham yang tergabung dalam Jakarta Islamic Index (Arsani, 2015: 63; Darmawan, 2019: 71; dan Syafrudin, 2016: 99). Hasil berbeda ditunjukkan pada penelitian yang dilakukan oleh Ali (2012: 104) dikarenakan reksa dana syariah di Indonesia didominasi oleh alokasi investasi pada efek yang bersifat utang.

Bagi kebanyakan investor, NAB merupakan salah satu hal yang menjadi pertimbangan dalam melakukan investasi di reksa dana syariah. walaupun sejatinya NAB tidak secara langsung menggambarkan keuntungan yang akan didapatkan oleh investor akan tetapi NAB dapat membantu investor untuk proses kelancaran investasi guna pembelian unit reksa dana syariah. Naik turunnya NAB dapat dijadikan gambaran untuk memahami kinerja reksa dana syariah, untuk itulah perlu adanya kajian mengenai hal - hal apa saja yang dapat mempengaruhi fluktuasi NAB.

Berdasarkan uraian diatas dan beberapa hasil penelitian sebelumnya yang menjelaskan mengenai pengaruh faktor makroekonomi terhadap NAB reksa dana syariah di Indonesia, menunjukkan hasil yang tidak konsisten antara penelitian satu dengan yang lain. Oleh karena itu, maka penulis tertarik untuk melakukan penelitian lebih lanjut dengan judul “Pengaruh SBIS, Inflasi, Kurs, BI 7 Days Repo Rate, dan JII Terhadap Net Asset Value Reksa Dana Saham Syariah di Indonesia”.

B. Permasalahan

1. Identifikasi Masalah

Berdasarkan uraian latar belakang di atas, maka muncul beberapa masalah yang diidentifikasikan sebagai berikut:

a) Nilai aktiva bersih reksa dana saham syariah yang mengalami fluktuasi yang sangat signifikan pada lima tahun terakhir.

b) Reksa dana syariah jenis saham memiliki tingkat risiko paling tinggi dari jenis reksa dana syariah lainnya. Hal ini dikarenakan sekurang –

(21)

kurangnya 80% aset reksa dana saham syariah dialokasikan pada saham.

c) Terdapat research gap terkait dengan penelitian sebelumnya, yaitu terjadinya inkonsistensi hasil penelitian terdahulu tentang pengaruh variabel SBIS, inflasi, kurs, BI 7 days repo rate, dan JII terhadap nilai aktiva bersih reksa dana saham syariah di Indonesia.

2. Batasan Masalah

Terdapat banyak sekali faktor yang turut mempengaruhi NAB reksa dana saham syariah di Indonesia. Salah satunya adalah faktor makroekonomi, namun cakupan instrumen makroekonomi sangat luas. Oleh sebab itu diperlukannya batasan masalah agar tidak menimbulkan banyak persepsi. Penulis hanya memfokuskan penelitian pada lima instrumen makroekonomi, yaitu: Sertifikat Bank Indonesia Syariah (SBIS), inflasi, nilai tukar rupiah (kurs), BI 7 days repo rate, dan Jakarta

Islamic Index (JII).

Penelitian ini menggunakan data sekunder yang diperoleh dari publikasi Otoritas Jasa Keuangan (OJK), publikasi Bank Indonesia (BI), buku - buku, dan jurnal ilmiah yang membahas mengenai pengaruh variabel makroekonomi terhadap NAB reksa dana syariah. Periode penelitian ini adalah dari Januari 2015 sampai Desember 2019 dengan menggunakan data statistik reksa dana jenis saham syariah di Indonesia.

C. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang dan permasalahan yang telah dijelaskan di atas, maka dapat dirumuskan masalah dari penelitian ini adalah, sebagai berikut:

1. Apakah SBIS, inflasi, kurs, BI 7 days repo rate dan JII secara bersama - sama (simultan) berpengaruh terhadap Nilai Aktiva Bersih Reksa Dana Saham Syariah di Indonesia?

(22)

2. Apakah SBIS berpengaruh terhadap Nilai Aktiva Bersih Reksa Dana Saham Syariah di Indonesia?

3. Apakah inflasi berpengaruh terhadap Nilai Aktiva Bersih Reksa Dana Saham Syariah di Indonesia?

4. Apakah nilai tukar rupiah (kurs) berpengaruh terhadap Nilai Aktiva Bersih Reksa Dana Saham Syariah di Indonesia?

5. Apakah BI 7 days repo rate berpengaruh terhadap Nilai Aktiva Bersih Reksa Dana Saham Syariah di Indonesia?

6. Apakah Jakarta Islamic Index (JII) berpengaruh terhadap Nilai Aktiva Bersih Reksa Dana Saham Syariah di Indonesia?

D. Tujuan Penelitian

Berdasarkan rumusan masalah yang disebutkan, maka tujuan dari penelitian ini, yaitu:

1. Menganalisis secara bersama - sama (simultan) pengaruh SBIS, inflasi, kurs, BI 7 days repo rate dan JII terhadap Nilai Aktiva Bersih reksa dana saham syariah di Indonesia.

2. Menganalisis pengaruh SBIS terhadap Nilai Aktiva Bersih reksa dana saham syariah di Indonesia.

3. Menganalisis pengaruh inflasi terhadap Nilai Aktiva Bersih reksa dana saham syariah di Indonesia.

4. Menganalisis pengaruh kurs terhadap Nilai Aktiva Bersih reksa dana saham syariah di Indonesia.

5. Menganalisis pengaruh BI 7 days repo rate terhadap Nilai Aktiva Bersih reksa dana saham syariah di Indonesia.

6. Menganalisis pengaruh JII terhadap Nilai Aktiva Bersih reksa dana saham syariah di Indonesia.

(23)

E. Manfaat Penelitian

Hal penting dari sebuah penelitian adalah kemanfaatan yang dapat dirasakan atau diterapkan setelah melakukan hasil penelitian. Adapun manfaat yang diharapkan dalam penelitian ini adalah:

1. Manfaat Teoritis

a. Bagi Penulis

Penelitian ini bermanfaat dalam mengaplikasikan ilmu yang telah dipelajari selama masa studi di Program Studi D4 Akuntansi Lembaga Keuangan Syariah Politeknik Negeri Banjarmasin dan juga menambah pengetahuan penulis tentang investasi reksa dana syariah dan faktor-faktor ekonomi makro yang memengaruhinya.

b. Bagi Akademis

Penelitian ini bisa dijadikan tambahan referensi dalam pengetahuan tentang reksa dana syariah dan bisa menjadi bahan pertimbangan untuk penelitian selanjutnya dengan menganalisis variabel - variabel lainnya untuk keberlanjutan pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK).

2. Manfaat Praktis

a. Bagi Investor (Masyarakat)

Penelitian ini diharapkan menjadi bahan informasi yang akan menambah pengetahuan dan wawasan bagi investor pasar modal terutama instrumen reksa dana syariah, sehingga calon investor dapat menjadikan penelitian ini sebagai landasan dalam pertimbangan pengambilan keputusan terkait dengan penanaman dana investasi dalam bentuk reksa dana saham syariah.

b. Bagi Manajer Investasi

Penelitian ini bermanfaat bagi manajer investasi sebagai bahan pertimbangan dalam menentukan keputusan penanaman dana investasi reksa dana syariah dan sebagai bahan riset yang dapat dijadikan strategi investasi untuk memajukan reksa dana yang dipegang.

(24)

c. Bagi Perusahaan (Emiten)

Penelitian ini bermanfaat bagi perusahaan (emiten) sebagai bahan pertimbangan dalam menentukan kebijakan manajemen dan alat evaluasi terhadap kinerja emiten guna mengantisipasi penurunan saham.

(25)

10

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Landasan Teori 1. Investasi

Sebagai agama yang komprehensif Islam juga membahas mengenai ekonomi salah satunya investasi. Dalam Islam investasi adalah penanaman dana atau penyertaan modal untuk suatu bidang usaha tertentu yang kegiatan usahanya tidak bertentangan dengan prinsip - prinsip syariah, baik objeknya maupun prosesnya guna mendapatkan keuntungan di masa yang akan datang (Pardiansyah, 2017: 356). Salah satu bentuk aktif dari ekonomi syariah adalah investasi. Di mana Islam memandang setiap harta ada zakatnya. Jika harta tersebut didiamkan (tidak dikelola), maka lambat laun akan termakan oleh zakatnya. Zakat menjadi salah satu pendorong setiap muslim untuk selalu memproduktifkan atau menginvestasikan harta mereka agar bertambah (Sholihin, 2013).

Hal ini membuktikan bahwa Islam adalah agama yang pro - investasi, seperti yang diungkapkan (Billah, 2016: 12), Shaykh Yusuf Talal

DeLorenzo mentioned that Investing is one way in which Muslims can be good stewards of their money, as promoted by the teachings of Islam

(Syekh Yusuf Talal DeLorenzo mengatakan bahwa investasi adalah salah satu jalan di mana muslim dapat melakukan hal yang baik dengan uang mereka seperti yang diajarkan oleh Islam). Dalam ajaran Islam, muslim diwajibkan untuk memproduktifkan harta yang mereka punya agar perekonomian terus berjalan dan menimbulkan kemasalahatan umat. Hal ini dapat dilihat dari firman Allah SWT:

َل ْيَك ...

ْْوُِْيِ يِءَْيَِْْ ْْل ََََْْ ًََلوُ ََنوََُ

(26)

“... agar (kekayaan) tidak menumpuk di tangan orang - orang yang kaya di antara kalian...” (Q.S: Al-Hasyr [59]: 7).

Ayat tersebut menjadi pondasi dalam melakukan aktivitas ekonomi termasuk investasi. Investasi merupakan salah satu bagian dari bermuamalah (hubungan manusia dengan manusia), oleh sebab itu prinsip investasi sama dengan prinsip kaidah muamalah yaitu “Pada dasarnya, semua bentuk muamalah boleh dilakukan kecuali ada dalil yang mengharamkannya” (Fatwa DSN-MUI No. 07/DSN-MUI/IV/2000).

2. Pasar Modal Syariah

Di Indonesia kegiatan pasar modal (capital market) diatur dalam UUPM atau peraturan Undang - Undang No.8 Tahun 1995 tentang pasar modal, pada pasal 1 ayat 13 pasar modal didefinisikan sebagai kegiatan yang bersangkutan dengan penawaran umum dan perdagangan efek, perusahaan publik yang berkaitan dengan efek yang diterbitkannya, serta lembaga dan profesi yang berkaitan dengan efek. Sedangkan yang dimaksud dengan efek dijelaskan pada pasal 1 ayat 5 adalah surat berharga, yaitu surat pengakuan utang, surat berharga komersial, saham, obligasi, tanda bukti utang, unit penyertaan kontrak investasi kolektif, kontrak berjangka atas efek, dan setiap derivatif dari efek.

Dengan demikian, pasar modal secara umum dapat diartikan sebagai tempat yang mempertemukan penjual dan pembeli untuk melakukan transaksi perdagangan efek guna mendapatkan modal. Penjual di pasar modal sering disebut dengan emiten yaitu perusahaan yang menjual efek untuk mendapatkan tambahan modal. Sedangkan pembeli di pasar modal disebut investor merupakan pihak yang membeli atau memberikan modal pada perusahaan yang menurut mereka menguntungkan.

Sedangkan pasar modal syariah adalah kegiatan dalam pasar modal sebagaimana yang diatur dalam UUPM yang tidak bertentangan dengan prinsip syariah (Ali, 2009: 1). Dewan Syariah Nasional Majelis Ulama

(27)

Indonesia (DSN-MUI) telah mengatur pedoman umum penerapan prinsip - prinsip syariah di bidang pasar modal dengan mengeluarkan Fatwa No : 40/DSN-MUI/X/2003 (Bab II pasal 2) yang menjelaskan bahwa pasar modal dianggap telah memenuhi prinsip syariah apabila seluruh mekanisme kegiatannya baik fundamental maupun operasional, terutama mengenai emiten, jenis efek yang diperdagangkan dan mekanisme perdagangan telah sesuai dengan prinsip syariah. Hal inilah yang membedakan antara pasar modal konvensional dan pasar modal syariah.

Menurut Nurlita (2015: 14), ada beberapa aktivitas yang bertentangan dengan prinsip syariah berdasarkan fiqh yang dilakukan oleh pasar modal konvensional yaitu:

a. Memperdagangkan semua sekuritas tanpa memperhatikan kehalalan dan aturan syariah atas barang atau jasa yang diproduksi oleh sekuritas emiten,

b. Melakukan penjualan atas barang (efek syariah) yang belum dimiliki atau bai’al-ma’dum.

c. Memanipulasi dan menipu terutama terkait dengan transparansi atau keterbukaan informasi (full disclosure), khususnya bagi emiten yang berisiko tinggi,

d. Menyembunyikan informasi lengkap mengenai sekuritas yang diperdagangkan dalam transaksi di pasar modal konvensional, e. Melakukan transaksi atas efek syariah dengan fasilitas pinjaman

berbasis bunga (riba) atas kewajiban atau margin trading,

f. Merekayasa transaksi permintaan dan penawaran untuk mempermainkan harga (ba’i najasy),

g. Melakukan pembelian atau dan pengumpulan suatu efek untuk menyebabkan perubahan harga efek, dengan tujuan mempengaruhi pihak lain dan transaksi - transaksi lain yang mengandung unsur - unsur di atas (ikhtikar),

h. Tidak memenuhi rukun dan syarat jual beli atas transaksi perdagangan yang terjadi di pasar modal konvensional,

(28)

i. Menggabungkan dua transaksi atau lebih dalam satu perjanjian jual beli.

Oleh dasar inilah pasar modal syariah hadir menjadi solusi bagi masyarakat yang ingin melakukan transaksi di pasar modal tanpa harus melanggar prinsip syariah.

Dalam pasar modal, kinerja saham perusahaan dipengaruhi oleh dua faktor, yaitu faktor mikro dan faktor makro (Samsul, 2006: 200).

a. Faktor Mikro (Internal)

Faktor mikro atau dapat disebut faktor internal adalah instrumen yang dapat mempengaruhi kinerja saham perusahaan yang dapat dilihat baik buruknya dari rasio - rasio keuangan yang diterbitkan secara rutin oleh emiten. BAPEPAM mewajibkan seluruh perusahaan yang telah go public untuk melakukan transparansi dan akuntabilitas laporan keuangannya dengan menerbitkan laporan keuangan triwulan, semester dan tahunan secara rinci yang sudah di audit maupun belum di audit (Keputusan Ketua BAPEPAM - LK, 2011). Hal ini bertujuan untuk para investor agar mengetahui tingkat kesehatan perusahaan (emiten) dengan membandingkan antara modal sendiri (perusahaan) dengan modal pinjaman (investor). Berikut adalah variabel faktor - faktor internal yang disinyalir dapat mempengaruhi kinerja perusahaan (emiten) di pasar modal yang berasal dari dalam perusahaan itu sendiri , antara lain :

1) Laba bersih per saham, 2) Laba usaha per saham, 3) Nilai buku per saham,

4) Rasio ekuitas terhadap utang, 5) Rasio laba bersih terhadap utang, 6) Rasio laba bersih terhadap ekuitas, dan 7) Cash flow per saham.

Adapun rasio keungan lainnya, seperti inventory turnover,

(29)

turnover lebih mencerminkan kekuatan manajemen dalam

mengendalikan operasional.

b. Faktor Makro (Eksternal)

Faktor makroekonomi atau disebut juga faktor eksternal adalah variabel yang secara langsung maupun tidak langsung dapat mempengaruhi kinerja perusahaan dan menyebabkan naik turunnya harga saham di pasar modal baik sekarang ataupun di masa yang akan datang. Kinerja perusahaan saat ini dan prospek kinerja perusahaan di masa yang akan datang merupakan acuan investor dalam menilai saham. Maka jika terjadi perubahan pada salah satu variabel makroekonomi, akan menyebabkan para investor bereaksi positif atau negatif sesuai dengan pergerakan variabel makroekonomi tersebut dalam pandangan investor. Menurut Samsul (2006: 200) berikut adalah variabel faktor - faktor makroekonomi yang disinyalir dapat mempengaruhi kinerja saham perusahaan (emiten) di pasar modal, antara lain :

1) Tingkat bunga umum domestik, 2) Tingkat inflasi,

3) Peraturan perpajakan,

4) Produk Domestik Bruto (PDB),

5) Kebijakan khusus pemerintah yang terkait dengan perusahaan tertentu,

6) Kurs valuta asing,

7) Tingkat bunga pinjaman luar negeri, 8) Kondisi perekonomian internasional, 9) Siklus ekonomi,

10) Faham ekonomi,

(30)

Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Sukirno (2012: 121-134) yang menyatakan bahwa faktor makroekonomi mempengaruhi keputusan investor dalam penanaman investasi pada suatu perusahaan (emiten). Adapun instrumen - instrumen dari makroekonomi terebut, yaitu suku bunga, tingkat keuntungan yang diramalkan, tingkat pendapatan nasional dan perubahan - perubahannya, keuntungan yang diperoleh perusahaan, situasi politik, kemajuan teknologi dan kemudahan - kemudahan yang diberikan pemerintah. Di Indonesia instrumen makroekonomi tersebut digambarkan dalam bentuk:

1) Tingkat inflasi,

2) Nilai tukar rupiah (kurs), 3) Jumlah uang beredar,

4) Sertifikat Bank Indonesia Syariah (SBIS), 5) BI 7 days repo rate,

6) Surat Berharga Syariah Negara (Sukuk), 7) Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), 8) Jakarta Islamic Index (JII),

9) Indeks Harga Konsumen, 10) Tingkat return,

11) Tingkat risiko,

12) Harga Minyak Mentah Indonesia (Indonesian Crude Price/ICP), 13) Harga emas dan lain sebagainya.

3. Reksa Dana Syariah

Dalam berinvestasi, semua pihak pasti mengharapkan keuntungan di masa yang akan datang atas modal yang dikelola saat ini. Oleh sebab itu banyak pihak - pihak yang menghalalkan segala cara agar mencapai tujuan tersebut. Salah satunya dengan memproduksi barang - barang haram untuk mendapatkan keuntungan yang sebesar - besarnya. Hal ini yang mendorong terbentuknya investasi - investasi yang sesuai syariah

(31)

sebagai solusi investasi bagi masyarakat Indonesia yang mayoritas beragama Islam. Di mana mereka dapat melakukan investasi dan mendapatkan keuntungan dengan cara yang diridhoi oleh Allah SWT.

Salah satu investasi syariah yang berkembang di Indonesia adalah reksa dana syariah. Sesuai dengan peraturan perundang - undangan No 8 Tahun 1995 tentang pasar modal, reksa dana adalah wadah yang dipergunakan untuk menghimpun dana dari masyarakat pemodal untuk selanjutnya diinvestasikan dalam portofolio efek oleh manajer investasi. Reksa dana juga didefinisikan sebagai portofolio aset keuangan yang terdiversifikasi, dicatatkan sebagai perusahaan investasi yang terbuka, yang menjual saham kepada masyarakat dengan harga penawaran dan penarikannya pada harga nilai aktiva bersihnya (Manurung, 2008: 1).

Sedangkan reksa dana syariah menurut Fatwa Dewan Syariah Nasional Nomor: 20/DSN-MUI/IV/2001 tentang pedoman pelaksanaan investasi untuk reksa dana syariah, merupakan reksa dana yang beroperasi menurut ketentuan dan prinsip syariah, baik dalam bentuk akad antara pemodal sebagai pemilik harta (Rabb al-mal) dengan manajer investasi sebagai wakil (shahib al-mal), maupun antara manajer investasi sebagai wakil (shahib al-mal) dengan pengguna investasi. Manajer investasi yang dimaksud, merupakan pihak yang mengkolektifkan, mengelola dan mengambil keputusan atas alokasi penempatan dana kelolaan (portofolio investasi) yang ditujukan untuk mendapat keuntungan (return) bagi para investor.

Dapat disimpulkan bahwa reksa dana syariah merupakan alternatif investasi yang tidak melanggar prinsip syariah bagi masyarakat yang memiliki dana terbatas (investor kecil) serta tidak memiliki keahlian dan waktu untuk menghitung risiko atas investasi mereka, hal ini karena reksa dana syariah dirancang untuk mengkolektifkan dana masyarakat (pemodal) yang dikelola oleh manajer investasi yang profesional.

(32)

a. Landasan Hukum Reksa Dana Syariah

Berikut adalah beberapa landasan hukum syariah atas instrumen investasi reksa dana syariah menurut Fatwa Dewan Syariah Nasional Nomor: 20/DSN-MUI/IV/2001, antara lain :

1) Q.S Al- Maidh (5): 1

ٰىَلْتوَ ءَِ َّليإ يمءَعْنَ ْْل وًَمْيهََ ْْوََُ ْتَّل يحوأ يُنوقوعَْءيَ لنوف ْلَأ لنوَِِآ َََيذََّل ءَهََُّأ ءََ

ودَ يروَ ءَِ وْوُْحََ َ َّاللَّ ََّيإ ۗ ٌم وروح ْْوتْنَأ َل يدَّْْصَل يي ل يحوِ َرَْْْ ْْوَُْْلَع

Yang artinya : “Hai orang - orang yang beriman, penuhilah

akad - akad itu. Dihalalkan bagimu binatang ternak, kecuali yang akan dibacakan kepadamu. (yang demikian itu) dengan tidak menghalalkan berburu ketika kamu sedang mengerjakan haji. Sesungguhnya Allah menetapkan hukum - hukum menurut yang dikehendaki-Nya”.

Menurut Tafsir Ibnu Katsir ayat ini menjelaskan bahwa seorang mukmin harus benar - benar memperhatikan hukum syariah, salah satunya dalam bertransaksi (muamalah) harus memenuhi akad yang telah disepakati, tidak boleh melanggar akad dan melakukan penipuan. Ayat ini sebagai landasan mekanisme operasional reksa dana syariah dalam pemenuhan akad, yaitu antara pemodal dengan manajer investasi dilakukan dengan akad wakalah, lalu antara manajer investasi dan pengguna investasi (emiten) dilakukan dengan akad

mudharabah.

2) Q.S Al-Baqarah (2): 279

وسلوِ ور ْْوَُلَف ْْوتْبوت َْيإ َل ۖ يهيَنوس َر َل ي َّاللَّ ََيِ ٍب ْرَحيَ لنونَذْأَف لنولَعْفَت ََْْ َْيإَف

ََنومَلْظوت َل َل ََنوميلْظَت َل ْْوُيَل َنَِْأ

Yang artinya : “Maka jika kamu tidak mengerjakan

(meninggalkan sisa riba), Maka ketahuilah, bahwa Allah dan Rasul-Nya akan memerangimu. dan jika kamu bertaubat (dari

(33)

pengambilan riba), Maka bagimu pokok hartamu; kamu tidak menganiaya dan tidak (pula) dianiaya.”

Menurut Tafsir Ibnu Katsir ayat ini menegaskan bahwa Islam sangat melarang praktik riba dan teramat berat hukumannya bagi mukmin yang melakukannya. Oleh sebab itu pemilihan investasi yang bebas riba adalah hukumnya wajib. Reksa dana syariah termasuk salah satu investasi syariah yang terhindar dari praktik riba.

3) Hadist Nabi Muhammad riwayat Tirmidzi dari ‘Amr bin ‘Auf dalam fatwa Majelis Ulama Indonesia:

Yang artinya : “Perdamaian dapat dilakukan di antara

kaum muslimin kecuali perdamaian yang mengharamkan yang halal atau menghalalkan yang haram; dan kaum muslimin terikat dengan syarat - syarat mereka kecuali syarat yang mengharamkan yang halal atau menghalalkan yang haram.”

Hadist tersebut menggambarkan bahwa sebagai seorang mukmin penting untuk membedakan atau mengkatagorikan antara yang halal dan yang haram serta tidak pula mencampurkan antara yang halal dan yang haram. Hal inilah yang menjadi landasan untuk seorang mukmin agar tidak sembarangan melakukan akad (transaksi) tanpa tau hukum dari akad tersebut.

b. Prinsip - Prinsip Reksa Dana Syariah

Pada dasarnya reksa dana syariah atau islamic invesment fund sama dengan reksa dana konvensional, yaitu sebagai media pengumpulan dana dari masyarakat yang memiliki dana terbatas (investor kecil) serta tidak memiliki keahlian dan waktu untuk menghitung risiko atas investasi mereka, kemudian dana investasi tersebut dikelola oleh manajer investasi untuk dialokasikan pada

(34)

instrumen - instrumen investasi lainnya. Instrumen investasi tersebut bisa berupa saham, deposito, obligasi, valuta asing, surat utang jangka pendek (commercial paper), dan lain - lain. Hal yang membedakan antara keduanya adalah penerapan prinsip - prinsip syariah dalam reksa dana syariah. Adapun penerapan prinsip - prinsip syariah yang dimaksud adalah:

1) Karakteristik dan pengawasan yang selektif

Dibandingkan dengan reksa dana konvensional, reksa dana syariah memiliki karakteristik khusus dalam melakukan segala aktivitasnya. Karakteristik yang dapat terlihat adalah mengenai pemenuhan ketentuan dan ketaatan pada prinsip syariah baik fundamental maupun operasionalnya, seperti: kejelasan akad antara pihak - pihak yang terkait, tidak melakukan spekulasi (gharar), dan lain sebagainya. Dewan Syariah Nasional menjadi badan yang ditunjuk untuk melakukan pengaturan dan pengawasan atas prinsip - prinsip syariah yang dijalankan pada reksa dana syariah.

2) Pemilihan penempatan portofolio investasi (Screening)

Screening dapat diartikan sebagai proses identifikasi dan

penyaringan instrumen - instrumen investasi yang menerapkan prinsip syariah serta mendapatkan izin dari Dewan Syariah Nasional (Ardiansyah dkk., 2016: 197–214). Manajer investasi reksa dana syariah haruslah memilih instrumen investasi halal dalam penempatan (alokasi) dana untuk portofolio reksa dana syariah yang dikelolanya. Dapat dikatakan halal apabila instrumen investasi tersebut menjalankan usaha yang tidak bertentangan dengan prinsip - prinsip Islam, seperti tidak melakukan praktek riba, tidak menjual atau memproduksi barang - barang yang haram, dan transaksi - transaksi batil yang dilarang oleh syariah sebagaimana firman Allah SWT :

(35)

Yang artinya : “Hai orang - orang yang beriman,

janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama - suka di antara kamu ...” (Q.S An-Nisa: 29).

Hal ini menggambarkan reksa dana syariah hanya mengizinkan instrumen investasi yang terverifikasi halal (tidak melanggar prinsip syariah) untuk masuk dalam portofolio reksa dana syariah tersebut.

3) Pembersihan pendapatan non halal (Cleansing)

Dalam mekanisme operasional reksa dana syariah tidak sepenuhnya terbebas dari pendapatan - pendapatan non halal yang tidak dapat terhindarkan. Salah satu penyebab munculnya pendapatan non halal adalah karena dana kelolaan yang mengendap dalam bentuk giro beberapa waktu di bank kustodian akan menimbulkan pendapatan bunga. Menurut Peraturan OJK No.35/POJK.04/2017, penerimaan pendapatan non halal diperbolehkan jika total pendapatan bunga dan pendapatan tidak halal lainnya dibandingkan dengan total pendapatan usaha dan pendapatan lain - lain tidak lebih dari 10% (sepuluh persen).

Oleh sebab itu manajer investasi harus melakukan pemisahan atas pendapatan non halal tersebut. Setelah dilakukan pemisahan, manajer investasi juga melakukan proses cleansing (pembersihan) pada pendapatannya yang dianggap tidak halal atau tidak sesuai dengan syariah (Nasution dan Huda, 2019: 117-127). Pembersihan ini dilakukan dengan cara menjadikan pendapatan non halal tersebut sebagai dana sosial yang ditujukan untuk kegiatan amal.

(36)

c. Pihak - Pihak yang Terlibat

1) Dewan Pengawas Syariah

Dewan Pengawas Syariah atau yang lebih dikenal dengan DPS merupakan badan yang memiliki tugas untuk mengawasi pelaksanaan kegiatan usaha agar sesuai dengan fatwa yang telah diputuskan oleh Dewan Syariah Nasional di lembaga keuangan syariah. Kedudukan Dewan Pengawas Syariah adalah di bawah Rapat Umum Pengawas Syariah atau sejajar dengan Dewan Komisaris didalam struktur suatu bank syariah atau lembaga keuangan syariah termasuk reksa dana syariah.

Fungsi utama DPS pada lembaga keuangan syariah adalah sebagai penasehat dan pemberi saran kepada direksi, pimpinan unit usaha syariah dan pimpinan kantor cabang syariah mengenai hal - hal yang terkait dengan aspek syariah dan sebagai mediator antara lembaga keuangan syariah dengan Dewan Syariah Nasional dalam mengkomunikasikan usul dan saran pengembangan produk dan jasa dari lembaga keuangan syariah yang memerlukan kajian dan fatwa dari Dewan Syariah Nasional. (Islamiati, 2014: 30).

2) Otoritas Jasa Keuangan

Berdasarkan UU Nomor 21 Tahun 2011 Otoritas Jasa Keuangan adalah lembaga yang secara umum menggantikan BAPEPAM-LK sebagai lembaga negara yang dibentuk untuk menyelenggarakan sistem pengaturan dan pengawasan yang terintegrasi terhadap keseluruhan kegiatan didalam sektor jasa keuangan, seperti perbankan, pasar modal, reksa dana, perusahaan pembiayaan, dana pensiun, asuransi dan lain - lain. Otoritas Jasa Keuangan telah mengatur bahwa perusahaan yang ada hubungannya dengan saham, bursa, obligasi, reksa dana maupun produk investasi lainnya di Indonesia dan menawarkan

(37)

produknya wajib memiliki sebuah perizinan yang terdaftar pada OJK (Sari, 2018: 14).

3) Bank Kustodian

Bank kustodian adalah bagian dari kegiatan usaha suatu bank yang bertindak sebagai penyimpan kekayaan (safe keeper) serta administrator reksa dana seperti surat berharga, portofolio efek dan sebagainya. Dana yang terkumpul dari sekian banyak investor bukan merupakan bagian kekayaan manajer investasi maupun bank kustodian, tetapi milik para investor yang disimpan atas nama reksa dana dari bank kustodian. Baik manajer investasi maupun bank kustodian yang akan melakukan kegiatan ini terlebih dahulu harus mendapat izin dari OJK (Ridha dkk., 2013: 71).

4) Perantara Pedagang Efek

Perantara Pedagang Efek yang sering disebut dengan broker dealer atau underwriter (pialang) adalah pihak yang melakukan kegiatan usaha jual - beli efek untuk kepentingan sendiri atau pihak lain (Peraturan OJK No. 24/POJK.04/2016). Perantara pedagang efek memiliki peran yang sangat menentukan dalam kelancaran aktifitas di pasar modal. Hal ini disebabkan perantara pedagang efeklah yang berperan dalam mempertemukan antara investor jual dengan investor beli didalam bursa.

5) Manajer Investasi

Menurut undang - undang pasar modal, manajer investasi merupakan pihak yang telah mendapat izin dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sebagai pihak yang bertanggung jawab atas pengelolaan efek reksa dana yang meliputi analisa dan

(38)

pemilihan jenis investasi, mengambil keputusan - keputusan investasi, memonitoring pasar investasi dan melakukan tindakan - tindakan yang dibutuhkan untuk kepentingan para nasabah (investor) yang selanjutnya akan diinvestasikan ke dalam pasar modal dan pasar uang. Dalam reksa dana syariah, manajer investasi tidak hanya berorientasi pada return yang sebesar - besarnya namun juga harus memperhatikan ketentuan syariah yang dijalankan pada mekanisme pengelolaan dana kelolaannya tersebut.

Menurut Eko Priyo Pratomo & Nugraha (2009: 275), Manajer investasi harus memiliki surat pernyataan efektif dari Otoritas Jasa Keuangan untuk dapat menjual reksa dana kepada investor. Surat efektif tersebut harus melalui proses pengajuan akta Kontrak Investasi Kolektif (KIK) yang dibuat oleh manajer investasi dan bank kustodian.

6) Investor

Investor adalah pihak yang menanamkan dananya pada instrumen reksa dana syariah untuk mengharapkan keuntungan di masa yang akan datang. Kriteria investor dalam reksa dana syariah tidak jauh berbeda dengan investor pasar modal pada umumnya. Hanya saja skala dana yang ditanamkan pada reksa dana lebih sedikit dibandingkan dengan pasar modal yang memiliki batas minimum penanaman dana yang cukup besar (Mursyidin, 2010: 23).

d. Mekanisme Reksa Dana Syariah

Adapun mekanisme reksa dana syariah bentuk kontrak investasi kolektif (KIK) dijelaskan pada gambar di bawah ini.

(39)

Bagan 2.1 Mekanisme Reksa Dana Syariah (Bentuk Kontrak Investasi Kolektif)

Sumber: BAPEPAM dalam penelitian Wibowo (2016: 50)

Dari gambar di atas, berikut adalah penjelasan mekanisme reksa dana syariah di Indonesia (Wibowo, 2016: 50):

1) Manajer investasi mengajukan pendaftaran dan meminta izin sebagai agen penjual reksa dana syariah kepada Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Sebelum pengajuan pendaftaran, manajer investasi harus telah memiliki akta Kontrak Investasi Kolektif (KIK) bersama bank kustodian.

2) Reksa dana syariah harus mendapatkan izin dan pernyataan efektif dari OJK untuk melakukan penawaran umum yang isinya mencakup tentang berapa unit penyertaan yang bisa diterbitkan untuk kemudian diluncurkan ke publik. Setelah mendapat izin dan surat pernyataan efektif dari OJK, barulah manajer investasi diperbolehkan melakukan penawaran umum kepada investor. 3) Manajer investasi melakukan penawaran umum kepada investor

untuk penjualan unit penyertaan pada reksa dana syariah yang dikelolanya.

(40)

4) Investor melakukan permohonan pembelian atas unit penyertaan reksa dana syariah sebesar Nilai Aktiva Bersih (NAB) kepada manajer investasi. Transaksi yang dilakukan antara investor dan manajer investasi tersebut menggunakan akad wakalah bil

ujrah, di mana investor melimpahkan kekuasaan atas dananya

untuk dikelola oleh manajer investasi dan diperbolehkan mendapat imbalan atas transaksi tersebut (Fatwa Dewan Syariah Nasional Nomor: 20/DSN-MUI/IV/2001).

5) Investor melakukan pembayaran redemption (penebusan) atas pembelian unit penyertaan reksa dana syariah kepada bank kustodian. Sebagaimana hubungan antara investor dan manajer investasi, bank kustodian juga bertindak sebagai wakil investor untuk kepentingan investor dalam penitipan dana kolektif (OJK, 2018).

6) Setelah investor melakukan pembayaran redemption, manajer investasi memutuskan alokasi dana kelolaan lalu memberi instruksi kepada perantara pedagang efek untuk melakukan pembelian efek pada instrumen investasi syariah yang dinilai menguntungkan. Hubungan antara manajer investasi dengan perantara pedagang efek menggunakan akad bai’ atau jual beli (Harun & Al-Hakim, 2018: 97).

7) Perantara pedagang efek melaksanakan instruksi dari manajer investasi. Instruksi tersebut dapat berupa pembelian atau penjualan kembali efek di pasar modal syariah. Hubungan antara perantara pedagang efek dengan emiten yang berada dalam pasar modal syariah didasari dengan akad wakalah, di mana emiten meminta diwakilkan oleh perantara pedagang efek untuk menjual portofolio efek perusahaannya kepada manajer investasi reksa dana syariah. Sedangkan emiten dan manajer investasi menjalankan akad mudharabah dalam kerja samanya.

(41)

Emiten bertindak sebagai mudharib (pengelola) dan manajer investasi bertindak sebagai shahibul maal (pemilik modal). 8) Perantara pedagang efek mengajukan konfirmasi atas instruksi

kepada manajer investasi dan bank kustodian. Bank kustodian wajib menolak instruksi manajer investasi secara tertulis dengan tembusan kepada OJK apabila instruksi pelaksanaan pembelian efek mengandung efek yang berasal dari instrumen investasi yang tidak terdaftar dalam daftar efek syariah yang telah ditetapkan (OJK, 2018).

9) Manajer investasi memerintahkan bank kustodian untuk melakukan pembayaran dan penyelesaian (settlement) transaksi pembelian efek pada instrumen investasi syariah yang telah dipilih kepada perantara pedagang efek.

10) Bank kustodian melakukan pembayaran dan penyelesaian transaksi atas pembelian efek yang diinstruksikan oleh manajer investasi kepada perantara pedagang efek. Portofolio efek yang telah menjadi hak milik reksa dana syariah akan disimpan di bank kustodian.

11) Bank kustodian memiliki kewajiban untuk menghitung dan menyampaikan setiap hari bursa mengenai informasi Nilai Aktiva Bersih reksa dana syariah melalui media massa.

12) Menurut peraturan OJK, Bank kustodian wajib melaporkan laporan berkala kepada OJK sebagai bentuk pengawasan yang dilakukan OJK terhadap reksa dana syariah tersebut (Putra, 2017: 19)

13) Dewan Pengawas Syariah melakukan pengawasan dan memastikan atas semua transaksi yang dilakukan oleh manajer investasi tidak bertentangan dengan prinsip syariah.

(42)

e. Bentuk - Bentuk Reksa Dana

Menurut Undang - Undang Pasar Modal Nomor 8 Tahun 1995 pasal 18 ayat (1), reksa dana di Indonesia baik syariah maupun konvensional memiliki kesamaan bentuk badan hukum, yaitu : 1) Reksa Dana Berbentuk Perseroan

Sebagaimana yang dijelaskan pada undang - undang pasar modal nomor 8 tahun 1995 pasal 18 ayat 1 huruf a:

Reksa dana berbentuk perseroan adalah emiten yang kegiatan usahanya menghimpun dana dengan menjual saham, dan selanjutnya dana dari penjualan saham tersebut diinvestasikan pada berbagai jenis efek yang diperdagangkan di pasar modal dan pasar uang (UUPM, 1995).

Hal ini menunjukkan bahwa investor (pembeli saham) memiliki hak kepemilikan atas perusahaan reksa dana tersebut.

Reksa dana berbentuk perseroan ini bergerak pada pengelolaan portofolio investasi (efek) yang diperjual belikan di pasar investasi. Reksa dana akan memperoleh keuntungan dari deviden dan kenaikan harga saham (portofolio investasi) yang dimiliki oleh reksa dana tersebut (Putra, 2017: 19).

2) Reksa dana berbentuk Kontrak Investasi Kolektif (KIK)

Reksa dana berbentuk kontrak investasi kolektif adalah perusahaan yang kegiatan usahanya menghimpun dana dengan menerbitkan unit penyertaan reksa dana kepada masyarakat pemodal (investor) dan kemudian hasil dari terkumpulnya dana tersebut dialokasikan untuk investasi pada berbagai jenis efek yang diperdagangkan di pasar modal dan pasar uang (UUPM, 1995). Reksa dana jenis ini memiliki kontrak mengikat antara manajer investasi sebagai pengelola portofolio kolektif dengan bank kustodian sebagai penitipan kolektif.

Investor yang membeli unit penyertaan reksa dana jenis ini tidak mendapatkan surat kepemilikan dalam bentuk saham, melainkan pemberian surat konfirmasi dari bank kustodian

(43)

sebagai bukti partisipasi dalam pembelian unit penyertaan reksa dana. Menurut Susamto (2009: 41) ada beberapa karakteristik dari reksa dana kontrak investasi kolektif (KIK), yaitu:

a) Reksa dana akan melakukan penjualan unit penyertaan

secara terus menerus sepanjang ada investor yang ingin membeli,

b) Jumlah unit penyertaan tidak tercatat pada bursa efek, c) Investor dapat menjual kembali unit penyertaan yang

dimilikinya kepada manajer investasi yang mengelola dana kolektif reksa dana tersebut,

d) Hasil dari penjualan atau pembelian kembali unit

penyertaan akan dibebankan kepada kekayaan reksa dana,

e) Harga jual/beli unit penyertaan didasarkan atas NAB per

unit yang dihitung oleh bank kustodian secara harian.

f. Sifat - Sifat Reksa Dana

Reksa dana memiliki dua sifat dalam kegiatan operasionalnya, sifat tersebut adalah (Widoatmodjo, 2007: 110):

1) Reksa Dana Tertutup (Close end Fund)

Reksa dana tertutup adalah reksa dana yang tidak dapat dijual kembali kepada manajer investasi yang menerbitkan reksa dana tersebut. Reksa dana jenis ini hanya dapat dijual kepada investor (pemodal) lain melalui mekanisme pedagangan di bursa efek. Harga jual unit penyertaan dapat di atas atau di bawah dari NAB reksa dana saat itu.

2) Reksa Dana Terbuka (Open end Fund)

Reksa dana terbuka berbanding terbalik dengan reksa dana tertutup, yaitu di mana reksa dana dapat dijual kembali kepada manajer investasi yang menerbitkan unit penyertaan reksa dana tanpa harus melalui mekanisme perdagangan di bursa efek. harga jual reksa dana jenis ini biasanya sama dengan NAB reksa

(44)

dana dan sebagian besar reksa dana yang ada di Indonesia merupakan reksa dana terbuka.

g. Jenis - Jenis Reksa Dana

Di Indonesia ada beberapa jenis investasi untuk alokasi dana kelolaan yang diterapkan oleh manajer investasi. Pada dasarnya reksa dana konvensional dan reksa dana syariah memiliki kesamaan bentuk dalam penggolongan jenis - jenis investasi reksa dana, yang membedakannya adalah penempatan investasi pada perusahaan yang dipilih. Reksa dana syariah memperhatikan sekali unsur - unsur yang terdapat pada perusahaan yang kelak akan dibeli sahamnya oleh manajer investasi. Perusahaan tersebut harus terbebas dari larangan - larangan syariah dalam prinsip fundamental maupun operasionalnya.

Sebagian besar jenis investasi yang diterapkan oleh manajer investasi pada alokasi portofolio investasi reksa dana terbagi menjadi empat kategori (Situmorang, dkk., 2010: 97-98), yaitu:

1) Reksa Dana Pasar Uang (Money Market Fund)

Reksa dana pasar uang merupakan jenis reksa dana yang melakukan investasi pada pasar uang berupa sertifikat deposito, Sertifikat Bank Indonesia (SBI), Surat Berharga Pasar Uang (SBPU) dan efek lainnya yang bersifat utang dengan masa jatuh tempo selama kurang dari satu tahun. Reksa dana jenis ini bertujuan untuk menjaga likuiditas dan pemeliharaan modal serta menjadi pelengkap tabungan (deposito) investor. Risiko yang ditimbulkan dari reksa dana pasar uang ini relatif lebih rendah dibandingkan reksa dana jenis lainnya yang belum menentu tingkat pengembaliannya .

2) Reksa Dana Pendapatan Tetap (Fixed Income Fund)

Reksa dana pendapatan tetap merupakan reksa dana yang melakukan investasi sekurang - kurangnya 80% dari aktivitasnya (aset) dalam bentuk efek yang bersifat utang seperti

(45)

deposito, SBI, obligasi dan surat utang lainnya. sedangkan 20% dari aset yang tersisa akan dialokasikan pada instrumen investasi yang lain. Dibandingkan dengan reksa dana jenis pasar uang, reksa dana pendapatan tetap memiliki risiko yang lebih besar, namun pengembaliannya juga lebih besar. reksa dana jenis ini memiliki tujuan untuk menghasilkan tingkat pengembalian yang stabil untuk jangka menengah atau kurang dari lima tahun. 3) Reksa Dana Campuran (Discretionary Fund)

Reksa dana campuran adalah reksa dana yang mengalokasikan dana kelolaannya pada jenis investasi yang bersifat utang dan ekuitas, seperti obligasi dan saham. Dalam teorinya reksa dana jenis ini melakukan investasi sebesar 40% dari asetnya ke dalam jenis investasi hutang dan 60% lainnya ditempatkan pada instrumen investasi bersifat ekuitas. Namun, komposisi persentase ini tidak mutlak, bisa berubah - ubah tergantung kebijakan manajer investasi. Oleh sebab itu investor harus sungguh - sungguh dalam mencari informasi yang akurat pada proporsi reksa dana tersebut dengan mempelajari prospektusnya. Reksa dana jenis ini memiliki risiko yang lebih besar dibandingkan dengan reksa dana pasar uang dan reksa dana pendapatan tetap.

4) Reksa Dana Saham (Equity Fund)

Reksa dana saham merupakan jenis reksa dana yang menempatkan mayoritas dana yang mereka miliki ke dalam instrumen investasi yang bersifat ekuitas dalam hal ini adalah efek saham. Reksa dana saham ini memiliki tingkat risiko yang sangat tinggi dibandingkan jenis reksa dana lainnya karena pengembalian dari investasi yang ditanamkan tergantung dari situasi saham perusahaan yang dimiliki reksa dana tersebut. Akan tetapi, tingkat pengembalian dari saham jenis ini juga lebih tinggi dibandingkan jenis reksa dana lainnya, oleh karena itu

(46)

reksa dana ini cocok untuk investor yang sudah pandai membaca risiko investasi dan ingin memaksimalkan dana investasi agar mendapatkan return yang maksimal pula. Reksa dana saham adalah reksa dana yang ditujukan untuk investasi jangka panjang yaitu di atas dari 10 tahun.

Selain empat jenis investasi yang diterapkan pada reksa dana di atas, masih ada beberapa jenis investasi khusus yang diterapkan reksa dana lainnya yang memiliki tujuan dan kebijakan investasi dengan struktur tertentu dalam karakteristik khusus, di antaranya adalah reksa dana terproteksi, reksa dana indeks, ETF, dan lain lain. Khusus reksa dana jenis ETF atau Exchange traded fund mekanisme pembeliannya dilakukan dengan mekanisme perdagangan saham di bursa efek, sedangkan yang lainnya bisa langsung dibeli kepada manajer investasi.

h. Keuntungan Reksa Dana

Menurut Nasution dan Huda (2019: 144) pada dasarnya setiap investasi memiliki dua unsur yaitu return (keuntungan) dan Risiko. Berikut adalah beberapa keuntungan dalam berinvestasi melalui reksa dana, yaitu:

1) Likuiditas yang tinggi

Likuiditas merupakan kemampuan untuk mengelola mutasi uang masuk dan keluar dari reksa dana. Produk reksa dana yang paling sesuai dalam hal ini adalah reksa dana untuk saham - saham yang tercatat pada bursa di mana setiap hari terjadi transaksi, bukan seperti deposito berjangka yang memiliki periode tertentu. Selain itu, investor dapat mencairkan kembali unit penyertaan (efek saham) setiap diperlukan sesuai dengan ketetapan masing - masing reksa dana sehingga memudahkan investor untuk menjaga likuiditas asetnya.

(47)

2) Manajer profesional

Reksa dana dikelola langsung oleh manajer investasi yang handal. Kemampuan manajer investasi dalam membaca dan mencari peluang investasi yang dapat menghasilkan return maksimal untuk para investornya menjadi keuntungan dalam memilih jenis investasi reksa dana. Pada dasarnya, setiap investasi tidak ada hasil yang pasti, namun dengan adanya manajer investasi yang profesional maka akan mengurangi risiko dalam salah menempatkan dana investasi.

3) Diversifikasi

Dalam investasi, salah satu cara menurunkan risiko investasi dengan cara melakukan diversifikasi. Diversifikasi adalah penempatan seluruh dana tidak dalam satu peluang investasi. Cara tersebut yang digunakan oleh manajer investasi pada reksa dana sehingga satu saham tidak mempengaruhi keseluruhan kinerja reksa dana.

4) Biaya rendah

Biaya transaksi di reksa dana lebih rendah dibandingkan instrument investasi lainnya di pasar modal. Hal ini dikarenakan reksa dana merupakan dana yang dikumpulkan dari beberapa investor dan dikelola secara professional oleh manajer investasi dengan harapan dapat memberikan keuntungan di masa yang akan datang. Semakin besarnya kemampuan investor untuk melakukan investasi maka semakin efisien biaya transaksinya. Biaya transaksi akan lebih rendah dibandingkan apabila investor individu secara langsung melakukan transaksi sendiri di bursa.

i. Risiko Reksa Dana

Menurut Nasution dan Huda (2019: 144), di samping keuntungan - keuntungan yang akan investor dapatkan, terdapat juga beberapa risiko dalam melakukan investasi melalui reksa dana, yaitu:

(48)

1) Risiko ekonomi dan politik

Perubahan kondisi perekonomian dan politik didalam negeri maupun luar negeri sangat berpengaruh terhadap tingkat ketertarikan calon investor untuk menanamkan dananya di pasar modal. Indonesia merupakan salah satu negara yang menganut sistem ekonomi terbuka sehingga sangat rentan terpengaruh. Salah satu contohnya kerusuhan yang dilakukan oleh sekelompok masa yang tidak terima atas hasil pemilihan presiden pada tanggal 22 Mei 2019. Menurut CNN Indonesia kerusuhan tersebut mempengaruhi investasi di sektor keuangan, tercatat Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan nilai tukar rupiah mengalami penurunan. Sehingga dengan adanya gejolak politik tersebut tingkat ketertarikan para calon investor menurun, sebaliknya jika kondisi politik di Indonesia stabil maka ketertarikan investor akan mengalami kenaikan.

2) Risiko berkurangnya nilai unit penyertaan

Berkurangnya jumlah unit penyertaan reksa dana disebabkan oleh adanya fluktuasi dari nilai aktiva bersih reksa dana. Penurunan tersebut disebabkan juga oleh perubahan harga efek ekuitas dan efek lainnya atau juga dipengaruhi oleh biaya biaya yang dikenakan setiap kali pemodal melakukan pembelian atau penjualan.

3) Risiko wanprestasi

Risiko ini dapat terjadi apabila rekan usaha manajer investasi gagal memenuhi kewajibannya. Rekan usaha dapat termasuk tetapi tidak terbatas pada emiten, pialang, bank kustodian dan perantara pedagang efek. Biasanya untuk meminimalisir risiko ini manajer investasi menyeleksi perusahaan - perusahaan yang telah ditetapkan oleh PEFINDO (Pemeringkat Efek Indonesia). Selain itu peraturan Otoritas Jasa Keuangan untuk reksa dana terproteksi, reksa dana dengan

Gambar

Grafik 1.1 Data Nilai Aset Bersih Reksa Dana Saham Syariah tahun 2015 - 2019  Sumber : www.ojk.go.id
Tabel 2.1 Hasil Penelitian Terdahulu
Gambar 2.1 Bagan Kerangka Berpikir  Sumber: diolah oleh penulis.
Gambar 2.2 Desain Model Penelitian  Sumber: diolah oleh penulis.
+7

Referensi

Dokumen terkait

Karakteristik mesin sepeda motor scooter matic (scootic) yang memiliki putaran mesin lebih tinggi bahkan dari kendaraan truk sekalipun dimana di butuhkan minyak

[r]

Jenis penelitian yang dipilih penulis dalam penelitian ini adalah penilitian empiris. Metode yang digunakan dalam penelitian adalah yuridis sosiologis dengan teknik

Pancang (n) potongan bambu (kayu) yang pangkalnya runcing, ditancapkan atau dihunjamkan ke tanah (untuk tanda batas,.. Analisis fungsi semantis. Beberapa deskripsi

Visualisasi tergambar pada 13 foto yang memperlihatkan serangkaian kisah Sangkuriang yang terwakili oleh mimik muka berdasarkan karakter masing- masing tokoh di dalam

Data jumlah IKM bisa didapatkan jika Bidang perindustrian melakukan monitoring dari setiap kegiatan yang mereka lakukan sehingga jika Bidang Perindustrian sendiri tidak

digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id.. digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id

Sehubungan dengan hal tersebut maka dibutuhkan suatu aplikasi yang dapat melakukan pemisahan gambar obyek dengan latar belakang dan gambar obyek ini dapat harus