• Tidak ada hasil yang ditemukan

BADAN NASIONAL PENANGGULANGAN TERORISME

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BADAN NASIONAL PENANGGULANGAN TERORISME"

Copied!
10
0
0

Teks penuh

(1)

REPUBLIK INDONESIA NOTA KESEPAHAMAN

ANTARA

BADAN NASIONAL PENANGGULANGAN TERORISME

REPUBLIK INDONESIA

DAN

DEWAN ANTI TERORISME REPUBLIK FILIPINA

TENTANG

KERJASAMA MEMERANGI TERORISME INTERNASIONAL

Badan Nasional Penanggulangan Terorisme Republik Indonesia dan Dewan Anti Terorisme Republik Filipina selanjutnya disebut sebagai "Para Pihak";

MENYAOARI kebutuhan untuk membentuk suatu kerangka kerja yang memfasilitasi kerjasama antara kedua negara guna mengatasi gangguan keamanan dan kejahatan lintas negara yang terjadi di wilayah negara masing-masing;

MENEGASKAN kembali semangat dan tujuan serangkaian perjanjian yang telah terjalin antara Pemerintah Republik Indonesia dan Pemerintah Republik Filipina seperti Perjanjian Lintas Batas tanggal 11 Maret 1975 yang sudah direvisi, Perjanjian Kegiatan Kerjasama di Bidang Pertahanan dan Keamanan tanggal 27 Agustus 1997, dan Nota Kesepahaman antara Kepolisian Nasional Filipina (PNP) dan Kepolisian Republik Indonesia (Polri) mengenai Kerjasama Pencegahan dan Pemberantasan Kejahatan Lintas Negara dan Peningkatan Kapasitas yang telah diperbaharui tanggal 8 Maret 2011.

MENYADARI kebutuhan untuk memperkuat kerjasama internasional di semua tingkatan dalam memerangi terorisme secara komprehensif;

BERHASRAT untuk meningkatkan kerjasama penanggulangan terorisme antara para aparat keamanan, pertahanan, intelijen dan badan-badan penegak hukum dari kedua negara;

(2)

MENDASARKAN PADA peraturan perundang-undangan yang berlaku

di negara masing-masing;

TELAH MENCAPAI pemahaman sebagai berikut ;

Pasal1 Tujuan

Nota Kesepahaman ini akan menyediakan kerangka kerja untuk kerjasama dalam mencegah, menekan dan memerangi terorisme internasional dan kejahatan lintas negara yang terorganisir terkait dengan teror lainnya,

dalam segala bentuk dan peningkatan kapasitas atas dasar saling menghormati kedaulatan, kesetaraan dan saling menguntungkan.

Pasal2

Lingkup Kerja Sarna

Setiap Pihak menyanggupi untuk melaksanakan Nota Kesepahaman

ini, sesuai dengan hukum dan peraturan perundangan nasional masing-masing,

dalam salah satu atau semua kegiatan berikut:

1. Berbagi informasi intelijen;

ii. Lebih meningkatkan kerja sama antara lembaga penegak hukum kedua negara;

iii. Memperkuat pengembangan kapasitas dan kemampuan melalui jaringan dan program pelatihan serta pendidikan, saling kunjung antar pejabat tinggi, para analis dan para petugas pelaksana di lapangan, penyelenggaraan seminar, konferensi dan latihan bersama, jika dimungkinkan;

Pasal3 Area Kerja Sarna

Kedua Pihak akan melaksanakan Nota Kesepahaman ini terutama untuk mencegah, menekan dan memerangi teroris internasional dalam segala bentuk dan kejahatan lintas negara yang terorganisir terkait dengan teror lainnya, khususnya di bidang:

i. Pengawasan Perbatasan ii. Pertukaran lnformasi iii. Peningkatan Kapasitas

iv. Deradikalisasi dan Kontra Radikalisasi

v. Rezim Hukum dalam hal Penanggulangan Terrorisme vi. Internet I Cyber Terorisme

vii. Latihan Gabungan Aparat Penegak Hukum

viii. Bidang Terorisme lainnya Yang Dapat disetujui kedua Pihak di masa depan

(3)

Pasal4

Mekanisme Kerjasama

Sesuai dengan hukum negara masing-masing, kedua belah Pihak dapat menunjuk secara bersamaan Pusat Penghubung masing-masing (CCLC).

Untuk Badan Nasional Penanggulangan Terorisme Republik Indonesia, yang akan menjadi Pusat Penghubung (CCLC) adalah Deputi Kerjasama

lnternasional Badan Nasional Penanggulangan Terorisme Republik Indonesia.

Untuk Dewan Anti-Terorisme Republik Filipina, yang akan menjadi Pusat Penghubung (CCLC) adalah Pusat Manajemen Program, Dewan

Anti-Terorisme

.

Para Pihak akan membentuk Kelompok Kerja Bersama (JWG) yang terdiri dari perwakilan Para Pihak dengan komposisi yang akan ditentukan oleh kedua belah Pihak. JWG ini akan diketuai secara bersama oleh anggota yang paling senior dari masing-masing Pihak dan kedua belah pihak dapat membentuk sub Kelompok Kerja.

Tugas dari Kelompok Kerja Bersama (JWG) adalah:

i. Merumuskan dan menetapkan kebijakan dan prosedur dalam upaya melaksanakan Nota Kesepahaman ini;

ii. Melaksanakan program yang sudah disepakati bersama;

iii. Mengkoordinasikan dan mengawasi pelaksanaan kegiatan yang dilakukan dalam kerangka Nota Kesepahaman ini; dan

iv. Mengevaluasi kegiatan yang telah dilaksanakan, mengidentifikasi dan menyiapkan program berikutnya.

Kelompok Kerja Bersama (JWG) ini bertemu secara plena setidaknya

sekali dalam setahun secara bergantian, di Filipina dan di Indonesia pada tanggal yang disepakati bersama. Sub-Kelompok Kerja dapat bertemu kapan saja di salah satu negara jika diperlukan.

Pasal5

Pendanaan

Agar Nota Kesepahaman ini dapat diterapkan dengan tepat, salah satu Pihak dapat meminta bantuan Pihak lain untuk menggunakan berbagai upaya terbaik untuk mendanai berbagai kerjasama dan kegiatan yang sudah diatur bersama.

(4)

Pihak yang meminta menanggung semua biaya yang terkait dengan

perjalanan internasional, makanan dan akomodasi dari mereka yang

mewa kilinya.

Pasal6

Penyelesaian Sengketa

Setiap perselisihan yang timbul dari interpretasi atau pelaksanaan Nota Kesepahaman ini akan diselesaikan secara damai melalui konsultasi atau negosiasi antara kedua belah Pihak melalui saluran diplomatik.

Pasal7 Kerahasiaan

Setiap informasi rahasia yang diberikan oleh salah satu Pihak sesuai dengan Nota Kesepahaman ini tidak akan diteruskan atau diungkapkan kepada pihak ketiga tanpa persetujuan yang disampaikan oleh Pihak lainnya.

Pasal8

Penolakan Permintaan

Permohonan bantuan dapat ditolak seluruhnya atau sebagian, jika pihak yang diminta mempertimbangkan pelaksanaan permintaan akan merugikan kedaulatan negara, keamanan nasional atau kepentingan umum;

Pihak yang meminta akan diberitahu segera tentang alasan penolakan secara keseluruhan atau sebagian untuk melaksanakan permintaan tersebut, dalam hal apapun, dalam kurun waktu 30 hari sejak tanggal diterimanya permintaan permohonan tersebut diatas.

Pasal9 Perubahan

Nota Kesepahaman ini dapat diubah atau direvisi, jika diperlukan, dengan persetujuan tertulis oleh kedua Pihak. Perubahan atau revisi tersebut akan mulai berlaku pada tanggal sebagaimana yang ditentukan oleh para pihak.

Pasal 10 Jangka Waktu

Nota Kesepahaman ini mulai berlaku pada tanggal penandatanganan dan akan tetap berlaku selama tiga tahun. Selanjutnya, kecuali atau dinyatakan sebaliknya oleh salah satu Pihak, Nota Kesepahaman ini akan secara otomatis diperpanjang untuk periode selanjutnya dalam jangka waktu tiga tahun.

(5)

Salah satu Pihak dapat setiap saat menghentikan berlakunya Nota Kesepahaman ini dengan menyampaikan pemberitahuan tertulis terlebih dahulu tiga bulan sebelumnya kepada Pihak lainnya.

DENGAN DISAKSIKAN KEDUA BELAH PIHAK, yang bertandatangan di bawah ini diberi kewenangan oleh Pemerintah masing-masing telah menandatangani Nota Kesepahaman ini.

DIBUAT

dalam rangkap dua di Manila pada hari keduapuluhtiga bulan

Mei tahun 2014, dalam bahasa Indonesia dan bahasa lnggris, semua naskah tersebut memiliki keabsahan yang sama. Dalam hal terjadi perbedaan penafsiran, maka naskah dalam bahasa lnggris yang berlaku.

UNTUK BADAN NASIONAL PENANGGULANGANTEROmSME

REPUB~ INDONESIA

Signed

ANSY AAD MBA I KEPALA BNPT

UNTUK DEWAN ANTI TERORISME REPUBLIK FILIPINA

Signed

CESAR P. GARCIA, JR. PENASEHAT KEAMANAN

(6)

llltPUBLII[ INDONESIA

MEMORANDUM OF UNDERSTANDING BETWEEN

THE NATIONAL COUNTER-TERRORISM AGENCY OF THE REPUBLIC OF INDONESIA

AND

THE ANTI-TERRORISM COUNCIL OF THE REPUBLIC OF THE PHILIPPINES

ON

COMBATING INTERNATIONAL TERRORISM

The National Counter Terrorism Agency of the Republic of Indonesia (NCTA) and the Anti-Terrorism Council of the Republic of the Philippines (ATC) (hereinafter referred to as the "Parties");

REALIZING the need to establish a framework to facilitate cooperation between the two countries to address security incidents and transnational crimes occurring within the territory of either country;

REAFFIRMING the spirit and intent of existing agreements between the Government of the Republic of Indonesia and the Government of the Republic of the Philippines such as the Revised Agreement on Border Crossing between the Republic of the Philippines and the Republic of Indonesia dated 11 March 1975, Agreement between the Government of the Republic of the Philippines and the Government of the Republic of Indonesia on Cooperative Activities in the Field of Defense and Security dated 27 August 1997, and the Memorandum of Understanding between the Philippine National Police (PNP) and the Indonesian National Police (INP) on Cooperation in Preventing and Combating Transnational Crime and Capacity Building renewed on 8 March 2011;

RECOGNIZING the need to strengthen international cooperation at all

levels in combating terrorism in a comprehensive manner;

DESIRING to enhance counter-terrorism cooperation between the officials of security, defense, intelligence and law-enforcement agencies of the two countries;

(7)

PURSUANT to the prevailing laws and regulations in their respective countries;

HAVE AGREED

on the following:

Article 1 Objective

This Memorandum of Understanding (MoU) shall provide a framework for cooperation in preventing, suppressing and combating international terrorism, in all its forms, and other terror-related transnational organized criminal activities, and for capacity building on the basis of mutual respect for sovereignty, equality and mutual benefit.

Article 2

Scope of Cooperation

Each Party undertakes to implement this MoU, in accordance with its respective domestic laws, in any or all of following activities:

i.

Intelligence information sharing;

ii. Further enhancing cooperation between the two countries' law

enforcement agencies;

111. Strengthening capacity building and capabilities through

networking and programs of training and education; exchange of visits of high officials, analysts and field operators; seminars, conferences and joint exercises, as appropriate.

Article 3

Areas of Cooperation

Both Parties shall implement this MoU particularly to prevent, suppress and combat international terrorism, in all its forms, and other terror-related transnational organized criminal activities particularly in the areas of:

i. Border Control

ii. Exchange of Information

iii. Capacity Building

iv. Deradicalization and Counter Radicalization

v. Legal Regimes in Counter Terrorism

vi. Internet I Cyber Terrorism

vii. Law Enforcement Joint Exercises

(8)

Article 4

Cooperation Mechanism

In accordance with the laws of their respective countries, both Parties may designate their respective communication cum Liaison Centers (CCLC).

For the National Counter-Terrorism Agency of the Republic of Indonesia, the CCLC will be the Deputy for International Cooperation of the Indonesian National Counter Terrorism Agency.

For the Anti-Terrorism Council of the Republic of the Philippines, the CCLC will be the Anti-Terrorism Council-Program Management Center (ATC-PMC).

The Parties shall maintain a Joint Working Group (JWG) consisting of Parties' representatives with the composition to be determined by both Parties. It shall be co-chaired by the Most Senior Member from either Party, and sub-Working Group/s may be organized by both parties.

The tasks of the JWG are:

i. Formulate and determine policies and procedures in the endeavor to implement the MoU;

ii. Implement mutually-agreed-upon policies and activity programs; iii. Coordinate and oversee the implementation of activities

conducted within the framework of this MoU; and

iv. Evaluate implemented activities, identify and prepare subsequent programs.

The JWG shall meet in plenary at least once a year, alternately, in the Philippines and Indonesia, on a date mutually agreed upon. The sub-Working Group/s may meet anytime in either country as necessary.

Article 5 Funding/Cost

In order for this MoU to be appropriately implemented, either Party may request assistance from the other Party using best efforts to fund mutually-arranged activities and cooperation.

The requesting Party shall bear all costs associated with the international

(9)

Article 6

Settlement of Disputes

Any dispute arising out of the interpretation or implementation of this MoU shall be settled amicably through consultations or negotiations between the two Parties through diplomatic channels.

Article 7 Confidentiality

Any confidential information provided by one Party pursuant to this MoU shall not be passed on or disclosed to a third party without the express consent of the other Party.

Article 8 Refusal of Requests

Request for assistance may be refused completely or partially, if the requested Party considers the execution of the request to be prejudicial to its state sovereignty, national security or public interests;

The requesting Party will be notified promptly of the reason for the complete or partial refusal to execute its request, in any case, within thirty (30) days from the receipt of the abovementioned request.

Article 9 Amendment

This MoU may be amended or revised, as deemed necessary, by mutual written consent of the two Parties. Such amendment or revision will come into effect on such a date as may be determined by the Parties.

Article 10 Duration

This MoU shall come into force on the date of its signature and shall remain in effect for three (3) years. Subsequently, unless or otherwise indicated by either Party, the MoU shall be automatically renewed for further period of three (3) years at a time.

Either Party may at any time terminate this MoU by giving three (3) months advance written notice to the other Party

(10)

IN WITNESS WHEREOF, the undersigned being duly authorized by their respective Governments have signed this MoU.

DONE in duplicate in Manila on this 23rd day of May in the year 2014, in English and in Indonesian language, all texts being equally authentic. In case of any divergence of interpretation, the English text shall prevail.

NATIONAL COUNTER TERRORISM AGE~CYOF

THE REPUBLiC OF INDONESIA

Signed

ANSYAAD MBAI HEAD OF THE NCTA

FOR THE ANTI-TERRORISM COUNCIL OF THE REPUBLIC OF

THE PHILIPPINES

Signed

CESAR P. GARCIA, JR NATIONAL SECURITY ADVISER

Referensi

Dokumen terkait

Hal ini ditandai dengan rata-rata nilai yang dicapai yakni 75,3, maka penelitian ini tidak dilanjutkan lagi dan hipotesis tindakan yang diajukan dapat diterima jadi melalui

Dompet yang lain berisi uang logam 1 keping lima ratusan dan 3 keping ratusan rupiah.. Jika sebuah uang logam diambil secara acak dari salah satu dompet, peluang untuk mendapatkan

distribusi frekwensi yang didasarkan pada data-data kontinue  data yang berdiri sendiri dan merupakan suatu

Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena atas berkat dan kasih karunia-Nyalah penulis dapat menyelesaikan skripsi dengan

Hal ini diduga karena tanaman sawi dapat menyerap unsur lain seperti logam berat yang berasal dari sampah-sampah yang dibakar pada tanah tersebut yang dapat

Model baru pengesahan ini dapat diterapkan secara online sehingga dalam pelaksanaanya pihak dosen yang mengajukan proposal Hibah Dikti tidak perlu bertemu pihak

Pada tahun 2016 telah dilakukan penelitian oleh I Wayan Suartika, dkk mengenai salah satu metode machine learning yaitu Convolutional Neural Network (CNN) yang digunakan

Pada saat Peraturan Daerah ini mulai berlaku, ketentuan mengenai Retribusi Parkir di objek wisata yang tercantum dalam Pasal 8 ayat (2) huruf a angka 7,