Model Komitmen Multidimensional atas Pilihan Adopsi
Sistem dan Perilaku Pemraktikan
(Studi Empiris di Jogyakarta)
S u m i y a n aFakultas Ekonomi, Universitas Gadjah Mada Abstrak:
Penelitian ini memvalidasi konstruk komitmen pemakai dengan fokus sentral perilaku harapan pemilihan dan menguji pengaruhnya terhadap adopsi sistem dan perilaku pemakaiannya. Demikian juga, penelitian ini membuktikan secara empiris bahwa norma personal dan norma sosial memiliki peran dalam pengaruh ke pemakaian sistem. Beserta rinciannya bahwa terdapat dua kutub, yakni identifikasi dan internalisasi sebagai komitmen afeksi dan kepatuhan sebagai komitmen berkelanjutan (Kelman’s Social Influence Theory). Kedua kutub ini juga mendorong atau memotivasi pemanfaatan pilihan penggunaan sistem.
Kemanfaatan penelitian ini membuktikan bahwa sistem informasi tidak pernah mampu meningkatkan kinerja organisasi atau kinerja manajerial, tetapi mengisyaratkan bahwa kinerja organisasional hanya mampu terealisasi melalui identifikasi, internalisasi, dan kepatuhan atas perilaku yang telah terbawa (termaktub). Suksesnya sebuah sistem bergantung kepada harapan pilihan pemakai selama adopsi sistem dan kepada harapan pemraktikan sistem informasi yang lebih luas. Oleh karena itu, komitmen pemakai menjadi kunci pokok untuk terimplementasinya sebuah sistem informasi.
I. Pendahuluan
Sistem informasi akuntansi dan manajemen yang dipakai oleh perusahaan tidak lain dimaksudkan untuk memaksa manajemen melakukan aktivitas atau kerja tertentu. Pemakaian sistem informasi ditengarai dengan prinsip yang mampu memotivasi pemakai sistem untuk bertindak sesuai dengan (comply) dan sesuai (conform) keyakinannya atas pentingnya sistem informasi tersebut. Terkait dengan konsep ini, penelitian-penelitian memfokuskan ke bagaimanakah pemakai sistem memiliki keyakinan dalam pengaruhnya untuk mengadopsi dan menggunakan sistem dan teknologi (Lewis W., et.al. (2003), Vankatesh, V., & Davis, FD. (2000)).
Lain halnya yang difungsikan untuk pelaksanaan pekerjaan, perusahaan mengimplementasi sistem informasi dikaitkan dengan dasar pilihan tindakan untuk berkomunikasi, berkolaborasi dan berkoordinasi (Grover V., & Davenport, TH. (2001)). Dengan konsep ini diinferensikan bahwa pemakaian sistem paksaan manajerial untuk mencapai kepatuhannya, dalam arti bukan lagi kelayakan dan efisiensi (Alavi M., & Leidner DE., (2001), Grover V., & Davenport, TH. (2001)). Penelitian yang telah dilakukan menemukan bahwa maksud pemakaian sistem adalah untuk mendukung aktivitas pengetahuan yang telah terbentuk di dirinya (self-determined knowledge activities), seperti berbagi, kreasi, dan pembaruan. Akan tetapi, aktivitas ini banyak yang gagal, karena ada kesenjangan komitmen di antara pemakai (Alavi M., & Leidner DE., (2001), Grover V., & Davenport, TH. (2001), KPMG (2001)).
Karakteristik yang berbeda yang membuat sistem bergantung terhadap pilihan pemakaian juga membatasi efektivitas paksaan manajerial untuk menggunakan kepatuhan normatif sosial. Berbasis kepatuhan normatif ini, sistem menghendaki komitmen proaktif untuk seluruh pemakai untuk berbagi dan untuk pembaruan pengetahuan melalui aktivitas komunikasi, kolaborasi, dan koordinasi. Memahami terhadap kebutuhan kritis ini, pilihan perilaku pemraktikan sistem menjadi lebih penting untuk dipahami (Alavi M., & Leidner DE., (2001), Grover V., & Davenport, TH. (2001), Malhotra, Y. (1998), Malhotra, Y., & Galleta, DF., (2004; 2003)). Oleh karena itu, studi ini mengembangkan kerangka teoritis, psikometrik, dan empiris
yang terkait dengan sifat pilihan dari komitmen pemakai sistem dan bagaimana pengaruhnya terhadap perilaku pilihan pemraktikan sistem.
Pengembangan teori atas model ini membasiskan ke “Teori Pengaruh Sosial Kelman (Kelman’s Social Influence Theory)” yang menyatakan bahwa komitmen pemakai sistem dan bagaimana pengaruhnya terhadap pilihan perilaku pemraktikan. Validitas psikometrik dan teoritis atas model ini dilengkapi dengan penggunaan konstruk yang teliti dan mengukur secara substansi yang didukung oleh penelitian perilaku sosio-psikologis atas komitmen (Kashima Y., & Kashima ES. (1988), Kelman HC. (1958)). Di samping itu, studi ini juga meneliti, yang meliputi, pemahaman teoritis, psikometrik, dan empiris, yakni dalam hal:
1. bagaimanakah komitmen pemakai mempengaruhi perilaku pilihan pemakaian sistem,
2. bagaimanakah tipe komitmen yang berbeda berpengaruh secara berbeda terhadap perilaku pilihan pemakaian sistem, dan
3. bagaimanakah tingkat dan tipe komitmen yang berbeda berpengaruh terhadap adopsi awal dan perluasan penggunaan sistem (pemraktikan sistem)
II. Pengembangan Teori
Pertama kali, pengkaitan proaktif dan kontribusi harapan (pilihan) sangat bergantung ke norma dan nilai seseorang (DeLone WH., & McLean, ER. (2003)). Artinya bahwa keduanya membuat pemakai secara efektif untuk menggunakan sistem dan berkontribusi secara proaktif untuk mendorong keberlangsungannya (sustenance). Sustenansi ini berguna bukan hanya untuk menggunakan informasi tetapi juga untuk berbagi, bercipta, dan berpembaharuan.
Teori pengaruh sosial Kelman membasiskan ke pembedaan variasi dan tipe komitmen. Teori ini telah memotivasi banyak penelitian tentang komitmen dalam arti perilaku kerja organisasional. Hanya saja, yang berkaitan dengan keperilakuan di dalam sistem informasi masih sedikit (Davis, FD., et.al. (1989), Lewis B. Argawal & Sambamurthy (2003), Venkatesh, V., & Davis, FD. (2000)). Demikian
juga yang terkait dengan perspektif kognitif yang berfokus utama kepatuhan normatif sosial.
Studi yang telah dilakukan berfokus untuk mengetahui motivasi pemakai sistem untuk menuruti (comply) dalam menentukan bagaimanakah kepatuhan terhadap norma subyektif berpengaruh terhadap perilaku pemraktikan sistem (Lewis B. Argawal & Sambamurthy (2003), Venkatesh, V., & Davis, FD. (2000)). Tetapi, di dalam praktiknya penelitian-penelitian belum sepenuhnya terjadi konvergensi, justru terjadi divergensi di dalam hasil penelitian atas penerapan teori Kelman. Oleh karena itu, studi ini memfokuskan ke komitmen pemakai sebagai akibat dari masih banyaknya kesenjangan sistematik konstruk penelitian atas pengaruh kritis dalam perilaku pemakaian sistem informasi.
Teori Pengaruh Sosial Kelman
Interpretasi yang berbeda-beda atas komitmen merujuk ke anteseden dan konsekuen dari perilaku, yang setara terhadap proses dan pernyataan pelekatan terhadap perilaku spesifik (Buchanan, B. (1974), Mowday, RT., et.al. (1979), Sheldon, M. (1971), Weyner, Y. & Vardi, Y. (1980)). Teori Kelman mensyaratkan bahwa pelekatan psikologis (untuk perilaku tertentu) adalah konstruk dari kepentingan. Oleh karena itu, di dalam penelitian ini, komitmen pemakai digunakan sebagai pelekatan psikologis pemakai untuk penggunaan sistem.
Studi (penelitian) ini memasalahkan tentang komitmen keperilakuan untuk pemanfaatan sistem ‘melalui pandangan pemakai’ (through the eyes of the users). Sehingga, penelitian ini selanjutnya menekankan hasil tingkat pelekatan psikologis dari pilihan aktif yang dibuat oleh pemakai dalam yang berdasar keyakinan pemakai. Elemen-elemen perwujudannya berupa internalisasi (internalization), identifikasi (identification), dan kepatuhan (compliance) yang merujuk ke komitmen yang berbeda (Backer, TE. (1992), Reichers, AE. (1986)). Ketiga di dalam kondisi dan situasi:
2. identifikasi terjadi ketika sikap dan perilaku adopsi pemakai sistem mencapai kepuasan, dalam bentuk terhubung dengan definisi-diri terhadap orang atau grup lain,
3. kepatuhan terjadi ketika perilaku adopsi sistem berperilaku khusus untuk mendapatkan imbalan dan menjauhi hukuman
Identifikasi, Internalisasi, dan Kepatuhan
Kepatuhan mendenotasikan keberturutan tanpa diikuti dengan penerimaan secara pribadi di dalam keperilakuannya, sedangkan identifikasi dan internalisasi diikuti dengan peningkatan level atas penerimaan secara pribadi (Kelman, HC. (1958)). Prediksi yang bermanfaat dari perilaku pemakaian sistem bergantung ke perubahan perilaku yang direfleksikan ke dalam tindakan setelahnya. Dengan mengetahui perubahan perilaku pelekatan psikologis pemakai, maka mampu menyajikan hipotesis khusus tentang perubahan tersebut.
Norma Personal dan Norma Sosial
Kedua norma ini, norma personal dan norma sosial, dipakai secara berbarengan untuk mengetahui komitmen individu yang berkaitan dengan pengaruh sosial. Inferensi yang diperoleh atas pemakaian kedua norma tersebut adalah fokus kognitif secara murni (Davis, FD. (1989), Hufnagel, EM. & Conca, C. (1994), Lewis, W. et.al (2003), Melone, NP. (1990), Thompson, RL. et.al. (1991), Venkatesh, V. & Davis, FD. (2000)). Oleh karena itu, penelitian menggunakan kedua norma tersebut guna mempertajam komitmen berkelanjutannya.
Yang membedakan atas kedua konsep norma ini adalah bahwa norma personal merepresentasikan konsep-diri secara individu. Perwujudan dari norma personal ini terletak di identifikasi dan internalisasi. Sedangkan, norma sosial berkaitan dari pengaruh orang atau grup lain. Dengan kata lain, norma sosial berasal dari penyesuaian keyakinan individu terhadap keyakinan yang lain atau telah terjadinya proses rekonsiliasi keyakinan individu. Oleh karena itu, dimensi pelekatan psikologisnya di dalam penelitian ini, bagi norma sosial hanya berisi tentang kepatuhan karena adanya rekonsiliasi keyakinan dengan pihak lain.
Afeksi (Affective) dan Konsepsualisasi Komitmen Berkelanjutan
Perilaku pemraktikan sistem merupakan fungsi dari afeksi dan kognitif. Penelitian-penelitian juga merekomendasikan pemahaman terhadap proses afeksi (afektif). Selanjutya, afeksi ini membentuk konseptualisasi komitmen yang tercermin ke dalam sikap dan perilaku (Ajzen, I. (2001), Cooke, D. (1997), Mayer, JP. & Allen, NJ. (1997), Porter, LW., et.al. (1974)). Demikian juga, teoritis yang berpautan dengan afeksi pemakai sistem yang berproses untuk penggunaan sistem adalah komitmen (Hellman, CM. & McMillin, WL. (1994)).
Proses berikutnya dari afeksi yang berproses ke tahap berikutnya untuk menggunakan sistem, dalam arti komitmen, maka diperoleh dua dimensi pelekatan psikologis. Pertama, konsepsualsasi komitmen afeksi merujuk ke komitmen yang berbasiskan dari internaliasi dan identifikasi. Kedua, keberlanjutan konsepsualisasi komitmen afeksi berbasis ke kepatuhan. Konsep dimensi pelekatan tersebut telah dibuktikan secara empiris oleh penelitian-penelitian terdahulunya (O’Reilly, CAI., et.al. (1991), Sutton, CD. & Harrison, AW. (1993), Vandenberg, RJ., et.al. (1994)). Konsep dan penelitian-penelitian pendahulunya berakibat ke pemilahan antara internaliasi dan identifikasi yang menjadi satu basis dan kepatuhan menjadi basis tersendiri dan tidak dapat digabungkan.
Tujuan Penelitian
Penelitian ini memfokuskan untuk menguji:
1. komitmen pemakai, yang berupa internalisasi dan identifikasi serta kepatuhan, yang perlu diuji sebagai akibat dari masih banyaknya kesenjangan sistematik konstruk penelitian atas pengaruh kritis dalam perilaku pemakaian sistem informasi
2. penekanan hasil tingkat pelekatan psikologis (PAM: Psychological Attachment Models) sebagai pilihan aktif yang dibuat oleh pemakai sistem dalam hal yang berdasar keyakinan (beliefs) pemakai dan pengaruh sosial untuk mempraktikan sistem
III. Model Penelitian dan Hipotesis
Model penelitian menguji pengaruh komitmen pemakai terhadap penerimaan pilihan pemakaian dan perilaku pemraktikan sistem. Penelitian ini menekankan ke pelekatan psikologis di dalam penentuan perilaku pemraktikan sistem. Model ini dikenal dengan PAM (Psychological Attachment Model), dengan tiga unsur pokok model yakni internalisasi, identifikasi, dan kepatuhan. Masing-masing unsur pokok di dalam model ini dikaitkan dengan Kebermanfaatan Persepsian (KP), Mudah Penggunaan Persepsian (MPP), Intensi Keperilakuan (IK), dan Sikap terhadap Penggunaan (STP). Modelnya distrukturkan ke dalam gambar berikut.
Gambar 1.a.: Model Psikologis Lekatan untuk Setiap Variabel Faktor Komitmen
Kebermanfaatan Persepsian (KP) Sikap Terhadap Penggunaan (STP) Mudah Penggunaan Persepsian (MPP) Internalisasi Intensi Keperilakuan (IK) Identifikasi Kepatuhan
Gambar 1.b.: Model Psikologis Lekatan dalam Satu Sudut Pandang “Variabel Komitmen” Kebermanfaatan Persepsian (KP) Sikap Terhadap Penggunaan (STP) Mudah Penggunaan Persepsian (MPP) Komitmen untuk Menggunakan Sistem (KMS) Intensi Keperilakuan (IK)
Arah dan pengaruh sesuai dengan Teori Pengaruh Sosial Kelman, Model Psikologis Lekatan dan rerangka pengembangan teoritis di dalam penelitian ini. Arah dan pengaruhnya dihipotesiskan ke dalam tabel sebagai berikut ini.
Tabel 1: Arah dan Pengaruh Adopsi Pilihan Sistem dan Model Komitmen Pemakai Sistem Kebermanfaatan Persepsian Mudah Penggunaan Pesepsian Sikap Terhadap Penggunaan Sistem Intensi Keperilakuan Komitmen Afeksi: 1. Identifikasi 2. Internalisasi
+
+
+
+
+
+
+
+
Komitmen Keberlanjutan: 1. Kepatuhan−
−
−
−
Kebermanfaatan Persepsian+
+
Mudah Penggunaan Pesepsian+
Sikap Terhadap Penggunaan Sistem+
Hubungan yang tergambar di atas beserta arah dan pengaruh adopsi pilihan sistem dan model komitmen pemakai sistem dikonstruksikan ke dalam wujud hipotesis, sebagai berikut:
H.1.a.: Kebermanfaatan Persepsian (KP) berpengaruh secara positif (ditentukan terlebih dahulu) terhadap Sikap terhadap Penggunaan (STP)
H.1.b.: Mudah Penggunaan Persepsian (MPP) berpengaruh secara positif (ditentukan terlebih dahulu) terhadap Sikap Terhadap Penggunaan (STP)
H.1.c.: Kebermanfaatan Persepsian (KP) berpengaruh secara positif (ditentukan terlebih dahulu) terhadap Intensi Keperilakuan (IK)
H.1.d.: Sikap Terhadap Penggunaan (STP) berpengaruh secara positif (ditentukan terlebih dahulu) terhadap Intensi Keperilakuan (IK)
Hipotesis tentang Komitmen Afeksi
Hipotesis ini muncul karena adanya faktor perilaku yang terbawa atau termakub (induced) dari norma sosial, seperti manajer atasan, faktor kejawaraan sistem dan pemakai sistem lain. Untuk internalisasi, faktor yang muncul karena telah adanya integrasian terhadap nilai yang berada di individu. Sehingga, hipotesisnya:
H.02.: Internalisasi berpengaruh secara positif (ditentukan terlebih dahulu) terhadap Intensi Keperilakuan (IK) untuk menggunakan sistem H.05.: Internalisasi berpengaruh secara positif (ditentukan terlebih dahulu)
terhadap Sikap Terhadap Penggunaan (STP) sistem
H.08.: Internalisasi berpengaruh secara positif (ditentukan terlebih dahulu) terhadap Mudah penggunaan Persepsian (MPP) sistem
H.11.: Internalisasi berpengaruh secara positif (ditentukan terlebih dahulu) terhadap Kebermanfaatan Persepsian (KP) sistem
Untuk identfifikasi, faktor yang muncul juga karena telah adanya integrasian terhadap nilai hubungan harapan dengan orang atau grup lain. Hipotesisnya berupa:
H.03.: Identifikasi berpengaruh secara positif (ditentukan terlebih dahulu) terhadap Intensi Keperilakuan (IK) untuk menggunakan sistem H.06.: Identifikasi berpengaruh secara positif (ditentukan terlebih dahulu)
terhadap Sikap Terhadap Penggunaan (STP) sistem
H.09.: Identifikasi berpengaruh secara positif (ditentukan terlebih dahulu) terhadap Mudah penggunaan Persepsian (MPP) sistem
H.12.: Identifikasi berpengaruh secara positif (ditentukan terlebih dahulu) terhadap Kebermanfaatan Persepsian (KP) sistem
Sedangkan untuk kepatuhan, faktor yang muncul bukan karena telah adanya integrasian terhadap nilai individu (internalisasi), dan nilai hubungan harapan dengan orang atau grup lain (identifikasi). Melainkan, karena adanya fokus diri terhadap imbalan dan menjauhi hukuman. Hipotesisnya berupa:
H.04.: Kepatuhan berpengaruh secara negatif (ditentukan terlebih dahulu) terhadap Intensi Keperilakuan (IK) untuk menggunakan sistem H.07.: Kepatuhan berpengaruh secara negatif (ditentukan terlebih dahulu)
terhadap Sikap Terhadap Penggunaan (STP) sistem
H.10.: Kepatuhan berpengaruh secara negatif (ditentukan terlebih dahulu) terhadap Mudah penggunaan Persepsian (MPP) sistem
H.13.: Kepatuhan berpengaruh secara negatif (ditentukan terlebih dahulu) terhadap Kebermanfaatan Persepsian (KP) sistem
IV. Metoda Penelitian
Konteks organisasional yang harus dipahami di dalam penelitian ini adalah pekerjaan dalam organisasi yang telah berjalan. Yakni adanya dua jenis tahap di dalam implementasi sistem, yaitu saat inisialisasi adopsi dan penggunaan sistem dan saat pemakaian yang telah cukup lanjut (lama). Kedua jenis tahap ini harus diperhatikan secara cermat karena berpengaruh ke kepatuhan manajerial. Demikian juga berpengaruh ke validitas pengumpulan data jika terjadi konsentrasi di dalam salah satu jenis tahap.
Pengumpulan dan Sampel Data
Pengumpulan data dilakukan melalui survey. Survey disebar melalui kuesioner dan dibagi untuk berbagai level di dalam organisasi. Luasan daerah survey di seluruh provinsi Jogyakarta untuk seluruh perusahaan-perusahaan yang berorientasi laba saja. Bentuk perusahaan-perusahaan yang di-sampling hanya yang berupa bank, dalam bentuk Bank Umum dan Bank Perkreditan Rakyat di seluruh Provinsi Daerah Istimewa Jogyakarta, dengan alasan bahwa bank secara pasti telah menerapkan sistem, untuk kurun waktu yang telah cukup lama (lebih dari 1 tahun).
Skala Pengukuran
Skala pengukuran untuk Kebermanfaatan Persepsian (KP), Mudah Penggunaan Persepsian (MPP), Sikap Terhadap Penggunaan (STP), dan Intensi Keperilakuan (IK) diadapsi dari penelitian-penelitian sebagai berikut.
1. Davis, F. (1986), Technology Acceptance Model for Empirically Testing New End-User Information Systems: Theory and Results, dan 2. Davis, FD. (1989), Percieved Usefulness, Percieved Ease of Use, and
User Acceptance of Information Technology
Sedangkan untuk skala pengukuran komitmen, di dalam tiga aspek, internaliasi, identifikasi, dan kepatuhan, menggunakan skala yang telah dikembangkan oleh O’Reilly, CA., dan Chatman, JA. (1991), Organizational Commitment and Psychological Attachment: The Affective Compliance, Identification and Internalization on Pro-Social Behavior.
Skala pengukuran O’Reilly ini masih perlu divalidasi (disesuaikan) kembali dengan skala-skala pengukuran sebagai berikut.
1. Backer, TE., et.al. (1995), The Multidimensional View of Commitment and the Theory of Reasoned Action,
2. Vandenberg, RJ., et.al. (1994), A Critical-Examination of The Internalization, Identification, and Compliance Commitment Measures.
Properti Pengukuran
Properti pengukuran untuk reliabilitas konsistensi internal dan validitas konstruk dilakukan dengan metoda-metoda sebagai berikut.
1. reliabilitas konsistensi internal dengan Conbrach Alpha dengan nilai pisah-batas sebesar 0,70
2. validitas diskriminan dan konvergensi dengan korelasi “with-in construct” dan “cross construct”
3. validitas konstruk diuji dengan rotasi varimax di dalam uji EFA (exploratory factor analysis) atau CFA (confirmatory factor analysis) untuk menjadikan faktor variabelnya dengan pisah-batas 0,35 sebagai titik terrendah
Sisi selanjutnya, untuk pengujian validitas konstruk korelasiannya dan validitas nomological dilakukan dengan metoda-metoda sebagai berikut.
4. validitas nomological membasiskan ke model dalam penelitian ini fit untuk diuji dengan SEM (structural equation model), yakni:dengan kesesuaian model (model- fit) diuji dengan CFI (comparative fit
index); GFI (goodness fit index), RMSEA (root mean square error of approximation), dan CAIC (consisten akaike information criterion)
V. Data Analisis dan Temuan
Statistik DeskriptifSurvey dilakukan dengan menyebar kuesioner sebanyak 400 untuk seluruh bank umum dan bank perkreditan rakyat di Provinsi daerah istimewa Jogyakarta. Kuesioner disitribusikan untuk berbagai level jabatan di setiap banknya, baik untuk direktur, manajer, kepala bagian, dan kepala seksi. Dari seluruh kuesioner yang telah disebar diperoleh 267 kuesioner yang kembali (66,75%). Seluruh yang kembali memenuhi syarat untuk diuji dan dapat digunakan untuk dianalisis selanjutnya.
Deskripsi atas data, hasil pengumpulan dari 267 responden, menunjukkan uraian data tersaji di dalam Tabel 2. Hasil uji statistik deskriptif menunjukkan bahwa nilai bervariasi penuh dari nilai terendah (1: Sangat Tidak Setuju) dan nilai tertinggi (5: Sangat Setuju) untuk semua variabel kecuali variabel komitmen. Variabel komitmen merupakan hasil rata-rata dari ketiga variabel sebelumnya, yakni internalisasi, identifikasi, dan kepatuhan. Oleh sebab direratakan, maka berakibat bahwa variabel komitmen hanya memiliki jarak variasi sebesar tiga secara skala ordinal.
Tabel 2: Statistik Deskriptif
Internalisasi 2,37 2,33 1,00 5,00 1,02 Identi Kepatuhan fikasi 2,74 2,33 1,00 5,00 1,03 2,85 3,00 1,00 5,00 1,08 tmen 2,65 2,67 1,33 4,33 0,61 anfaatan Persepsian 2,71 2,50 1,00 5,00 0,96 en
Uji Reliabilitas dan Validitas
Skala pengukuran dikembangkan sesuai dengan konsep dan praktik yang berterima umum, yakni dengan reliabilitas konsistensi internal dengan menggunakan Conbrach’s Alpha. Reabilitas konsistensi internal berbatas 0,70 sebagai titik potong terrendah. Terbukti bahwa besaran Conbrach’s Alpha untuk masing-masing variabel pengukur di atas 0,70 sebagaimana tersaji di tabel 2 sebagai berikut.
Tabel 3: Reabilitas Conbrach’s Alpha
Komitmen untuk Menggunakan Sistem: 0,7229
Internalisasi: 0,8209 Identifikasi: 0,8728 Kepatuhan: 0,9746
Kebermanfaatan Persepsian: 0,8945
Mudah Penggunaan Persepsian: 0,9494
Intensi Keperilakuan: 0,8877
Sikap Terhadap Penggunaan: 0,8558
Di samping reliabilitas, uji validitas konstruk dilakukan guna memenuhi kriteria konvergensi dan diskriminan. Ujinya dengan melakukan pengujian
“within-Komi Keberm
Mudah P ggunaan Persepsian 3,11 3,00 1,00 5,00 1,04
Keperilakuan 3,15 3,25 1,00 5,00 0,66 enggunaan 3,67 3,75 1,00 5,00 0,82 Standar Deviasi Maksimum Minimum Median Rata-Rata Intensi Sikap terhadap P
construct” dan “cross construct,” serta beberapa metoda dilakukan untuk mengukur konstruk penelitian ini. Uji korelasi membuktikan bahwa variabel yang dalam se-konstruksi-an lebih kuat berhubungan ketimbang variabel yang dalam silang-konstruksi-an. Jelasnya adalah bahwa hasil uji korelasi untuk masing-masing item penelitian yang dalam satu variabel berkorelasi secara signifikan ketimbang dengan item-item lain yang dalam variabel lain. Demikian juga dapat disimpulkan bahwa untuk masing-masing item di dalam satu variabel pasti berkorelasi secara signifikan, dan tidak berkorelasi secara signifikan dengan item-item di variabel konstruksian yang lain.
Uji analisis faktor pengkonfirmasian (CFA: confirmatory factor analysis) juga membuktikan bahwa telah tergumpal menjadi satu konstruksi, dengan metoda varimax, yang sesuai dengan yang diproposisikan di dalam penelitian ini. Terbukti bahwa, telah sesuai dengan kriteria yang lazim, penggumpalan angka faktor di atas 0,40. Sehingga, dapat disimpulkan bahwa validitas diskriminan dan kriteria validitasnya terbukti. Pemaparan hasil pengujian didahului dengan uji korelasi dan dilanjutkan dengan uji analisis faktor yang tersaji ke dalam dua tabel berturut-turut sebagai berikut.
Tabel 4: Hasil Uji Korelasi
INT1 INT2 INT3 IDT1 IDT2 IDT3 KPTH1 KPTH2 KPTH3 KPTH4
INT1 1 ,560(**) ,637(**) ,052 -,085 -,075 ,199(**) ,226(**) ,235(**) ,233(**) . ,000 ,000 ,393 ,167 ,220 ,001 ,000 ,000 ,000 INT2 ,560(**) 1 ,616(**) ,265(**) ,166(**) ,221(**) ,093 ,090 ,074 ,089 ,000 . ,000 ,000 ,006 ,000 ,132 ,141 ,231 ,146 INT3 ,637(**) ,616(**) 1 ,166(**) ,101 ,081 ,032 ,062 ,087 ,070 ,000 ,000 . ,007 ,101 ,188 ,605 ,311 ,158 ,253 IDT1 ,052 ,265(**) ,166(**) 1 ,624(**) ,700(**) -,058 -,092 -,089 -,133(*) ,393 ,000 ,007 . ,000 ,000 ,343 ,134 ,146 ,030 IDT2 -,085 ,166(**) ,101 ,624(**) 1 ,765(**) -,175(**) -,186(**) -,178(**) -,223(**) ,167 ,006 ,101 ,000 . ,000 ,004 ,002 ,004 ,000 IDT3 -,075 ,221(**) ,081 ,700(**) ,765(**) 1 -,261(**) -,301(**) -,285(**) -,307(**) ,220 ,000 ,188 ,000 ,000 . ,000 ,000 ,000 ,000 KPTH1 ,199(**) ,093 ,032 -,058 -,175(**) -,261(**) 1 ,899(**) ,888(**) ,890(**) ,001 ,132 ,605 ,343 ,004 ,000 . ,000 ,000 ,000 KPTH2 ,226(**) ,090 ,062 -,092 -,186(**) -,301(**) ,899(**) 1 ,907(**) ,886(**) ,000 ,141 ,311 ,134 ,002 ,000 ,000 . ,000 ,000 KPTH3 ,235(**) ,074 ,087 -,089 -,178(**) -,285(**) ,888(**) ,907(**) 1 ,970(**) ,000 ,231 ,158 ,146 ,004 ,000 ,000 ,000 . ,000 KPTH4 ,233(**) ,089 ,070 -,133(*) -,223(**) -,307(**) ,890(**) ,886(**) ,970(**) 1 ,000 ,146 ,253 ,030 ,000 ,000 ,000 ,000 ,000 .
** Correlation is significant at the 0.01 level (2-tailed). * Correlation is significant at the 0.05 level (2-tailed). a Listwise N=267
Tabel 5: Hasil Uji Analisis Faktor Component 1 2 3 4 5 6 7 INT1 ,786 INT2 ,762 INT3 ,879 IDT1 ,813 IDT2 ,871 IDT3 ,885 KPTH1 ,931 KPTH2 ,938 KPTH3 ,946 KPTH4 ,935 KBMFT1 ,847 KBMFT2 ,778 KBMFT3 ,819 KBMFT4 ,735 KBMFT5 ,774 KBMFT6 ,817 MDH1 ,868 MDH2 ,909 MDH3 ,858 MDH4 ,866 MDH5 ,913 MDH6 ,861 ITS1 ,803 ITS2 ,884 ITS3 ,832 ITS4 ,856 SKP1 ,835 SKP2 ,880 SKP3 ,830 SKP4 ,704
Extraction Method: Principal Component Analysis. Rotation Method: Varimax with Kaiser Normalization.
a Rotation converged in 6 iterations.
Uji Nomological
Uji terhadap validitas nomological dilakukan untuk menguji kesesuaian struktur model. Yang artinya, model yang disajikan valid (fit) strukturnya. Sehingga, penelitian ini sah dilakukan karena modelnya telah sesuai dengan kriteria yang ditentukan dalam validitas model (SEM: structural equation model). Kriteria yang secara lazim digunakan adalah dalam ukuran-ukuran comparative fitt index (CFI), goodness-of-fit index (GFI), root mean square error of approximation (RMSEA), dan consistent Akaike information criterion (CAIC). Kriteria di dalam model
dinyatakan valid dan sah jika CFI > 0,95, GFI > 0,90, and RMSEA < 0,06 (Bearden, et. al. (1993), Hu, and Bentler (1999)).
Penelitian ini menemukan bahwa, di dalam uji pertama yang memisahkan untuk setiap faktor psikologis lekatan, CFI sebesar 0,830 (>0,95), GFI sebesar 0,968 (>0,90), RMSEA sebesar 0,149 (<0,06), dan CAIC sebesar 186.088, serta Chi-Square sebesar 34.581 (0,000). Sedangkan, uji kedua dalam kondisi struktur psikologis lekatan disatukan (menjadi satu variabel pengukur yakni “komitmen”) menghasilkan temuan CFI sebesar 0,965 (>0,95), GFI sebesar 0,994 (>0,90), RMSEA sebesar 0,063 (<0,06), dan CAIC sebesar 99.760, serta Chi-Square sebesar 4.126 (0,027).
Hasil Uji Pengaruh
Untuk selanjutnya, validitas nomological, yang berkaidah bahwa struktur model memiliki determinasi pengaruh hubungan yang secara khusus berpengaruh secara positif dan berpengaruh secara negatif, terbukti dari hasil uji koefisien regresi untuk masing-masing pengujian. Pengaruh afeksi (internalisasi dan identifikasi) berpengaruh secara positif terhadap Mudah Penggunaan Persepsian (MPP), Kebermanfaatan Persepsian (KP), Sikap terhadap Penggunaan (STP), dan Intensi Keperilakuan (IP). Sebaliknya, komitmen keberlanjutan (kepatuhan) berpengaruh secara negatif terhadap Mudah Penggunaan Persepsian (MPP), Kebermanfaatan Persepsian (KP), Sikap terhadap Penggunaan (STP), dan Intensi Keperilakuan (IP). Secara ringkas dapat disimpulkan bahwa Teori Sosial Kelman’s berpengaruh terhadap seluruh variabel yang dimodelkan di dalam penelitian ini. Hasil pengujiannya terbukti dan terringkas dalam kedua tabel berturut-turut sebagai berikut:
Tabel 6: Hasil Ringkasan Pengaruh (Uji Regresi) Variabel Pengaruh Variabel Dipengaruhi Pengaruh (Signifikansi) Hipotesis Aternatif:
Internalisasi MPP 0,318 (0,000) H.08.: Tidak dapat ditolak Identifikasi MPP 0,156 (0,010) H.09.: Tidak dapat ditolak Kepatuhan MPP -0,144 (0,013) H.10.: Tidak dapat ditolak Internalisasi KP 0,189 (0,001) H.11.: Tidak dapat ditolak Identifikasi KP 0,164 (0,003) H.12.: Tidak dapat ditolak Kepatuhan KP -0,218 (0,000) H.13.: Tidak dapat ditolak Internalisasi STP 0,123 (0,019) H.05.: Tidak dapat ditolak
Identifikasi STP 0,085 (0,091) H.06.: Tidak dapat ditolak (10,00%) Kepatuhan STP -0,103 (0,034) H.07.: Tidak dapat ditolak
Internalisasi IK 0,093 (0,018) H.02.: Tidak dapat ditolak
Identifikasi IK 0,072 (0,065) H.03.: Tidak dapat ditolak (10,00%) Kepatuhan IK -0,084 (0,028) H.04.: Tidak dapat ditolak
MPP STP 0,023 (0,646) H.1b.: Ditolak
KP STP 0,136 (0,013) H.1a.: Tidak dapat ditolak
KP IK 0,077 (0,072) H.1c.: Tidak dapat ditolak (10,00%) STP IK 0,121 (0,014) H.1d.: Tidak dapat ditolak
Hasil uji regresi menunjukkan bahwa secara keseluruhan berpengaruh antar variabel yang independen terhadap variabel dependennya, baik yang berpengaruh secara signifikan di bawah 5,00% sebanyak 12 dari 16 dan yang berpengaruh secara signifikan di bawah 10,00% sebanyak 3 dari 16. Satu-satunya yang tidak memiliki pengaruh adalah Mudah Penggunaan Persepsian (MPP) terhadap Sikap Terhadap Penggunaan (STP). Dari satu yang tidak signifikan ini dapat disimpulkan bahwa internalisasi, identifikasi dan kepatuhan berpengaruh secara tidak langsung melalui Kebermanfaatan Persepsian (KP) terhadap Sikap Terhadap Penggunan (STP).
Mengakitkan atas hasil uji regresi dan arah prediksi pengaruh disajikan ke dalam ringkasan tabel sebagai berikut:
Tabel 7: Hasil Ringkasan Pengaruh dan Arah Prediksi Kebermanfaatan Persepsian Mudah Penggunaan Pesepsian Sikap Terhadap Penggunaan Sistem Intensi Keperilakuan Komitmen Afeksi: 1. Identifikasi 2. Internalisasi
+(sig., 5,00%)
+(sig., 5,00%)
+(sig.,
5,00%)+(sig.,
5,00%)+(sig.,
10,00%)+(sig.,
5,00%)+(sig.,
10,00%)+(sig., 5,00%)
Komitmen Keberlanjutan:1. Kepatuhan
−
(sig., 5,00%) 5,00%)−(sig.,
5,00%)−(sig.,
−
(sig., 5,00%) KebermanfaatanPersepsian 5,00%)
+(sig.,
10,00%)+(sig.,
Mudah Penggunaan
Pesepsian
+(tidak sig.)
Sikap Terhadap
Penggunaan Sistem
+(sig., 5,00%)
VI. Hasil Penelitian
Sistem informasi tidak pernah mampu meningkatkan kinerja organisasi atau kinerja manajerial, tetapi hanya mampu terrealisasi melalui identifikasi, internalisasi, dan kepatuhan atas perilaku yang telah terbawa (termaktub). Hanya saja, ketiga faktor tersebut di atas dalam dua kelompok yang berbeda. Untuk identifikasi dan internalisasi berpengaruh positif terhadap Mudah Penggunaan Persepsian (MPP), Kebermanfaatan Persepsian (KP), Sikap terhadap Penggunaan (STP), dan Intensi Keperilakuan (IP). Sedangkan komitmen keberlanjutan, yang disebut kepatuhan, berpengaruh sebaliknya yakni negatif. Suksesnya sebuah sistem bergantung kepada harapan pilihan pemakai untuk pemraktikan sistem informasi. Oleh karena itu, komitmen pemakai menjadi kunci pokok untuk implementasi sistem.
Penelitian ini mampu memvalidasi konstruk komitmen pemakai dengan fokus sentral perilaku harapan pemilihan dan menguji pengaruhnya terhadap adopsi sistem dan perilaku pemakaiannya. Demikian juga, penelitian ini membuktikan secara empiris bahwa norma personal dan norma sosial memiliki peran dalam pengaruh ke pemakaian sistem. Beserta rinciannya bahwa terdapat dua kutub, yakni identifikasi
dan internalisasi sebagai komitmen afeksi (affective) dan kepatuhan sebagai komitmen berkelanjutan. Kedua kutub ini juga mendorong atau memotivasi pemanfaatan pilihan pemraktikan sistem.
Temuan penelitian ini membuktikan juga bahwa secara Teori Pengaruh Sosial Kelman’s, dan secara psikologis lekatan adalah benar adanya. Demikian juga, secara empiris terhadap pemraktikan sistem informasi bagi perilaku manusia adalah valid. Lebih rinci membuktikan bahwa kristalisasi internalisasi, identifikasi, dan kepatuhan membentuk perilaku komitmen yang selanjutnya memberhasilkan pemraktikan sistem. Dampak selanjutnya terkait dengan pengembangan sistem informasi yang menyarankan bahwa di dalam proses pengembangan sistem informasi harus memperhatikan ketiga faktor psikologis lekatan dan teori pengaruh sosial. Kesesuaian atas nilai-nilai individu dengan sistem yang dikembangkan dan yang dipraktikan (intenalisasi), dan keyakinan individu adanya imbalan atas pengembangan dan pemraktikan sistem (identifikasi) menjadi titik utama perhatian. Sebaliknya, komitmen keberlanjutan (kepatuhan) menjadi faktor kunci kedua setelah internalisasi dan identifikasi. Faktor kepatuhan ini tetap menjadi kunci karena pengaruh sekelompok orang (manajer) yang menjadikan sistem informasi dilakukan, sehingga tetap diperlukan untuk mempengaruhi aspek keperilakuan.
Kontribusi Penelitian
Penelitian ini mengkonvergensi teori pengaruh sosial dan pelekatan faktor psikologis (Teori Pengaruh Sosial Kelman’s) terhadap keberhasilan pemraktikan sistem. Dengan ketiga faktor internalisasi, identifikasi dan kepatuhan yang berkristal menjadi satu faktor yang disebut komitmen. Dari sisi individu dapat dinyatakan bahwa individu terpengaruh untuk melakukan pekerjaan dalam pemraktikan sistem karena adanya nilai-nilai individu yang sesuai dengan sistem dan harapan imbalan yang akan diterimanya (faktor psikologis diri individu), serta komitmen keberlanjutan yang berasal dari individu lain atau manajer (faktor pengaruh sosial dari luar individu) untuk memaksa mempraktikan sistem informasi yang diadopsi.
Kurang atau senjangnya faktor psikologis diri individu berpengaruh terhadap tidak efektifnya proses terimplementasinya sistem informasi. Guna
mempertajam adopsi sistem dan implemntasiannya, perlu dilengkapi dengan faktor pengaruh sosial dari individu lain yang difungsikan sebagai komplemen keberhasilan penerapan sistem informasi. Oleh karena itu, norma sosial yang mempengaruhi adopsi pemakaian sistem dan pemraktikan sistem informasi perlu dikembangkan. Ketidakberturutan individu yang berasal dari faktor diri individu terbentuk melalui norma sosial yang mempengaruhinya. Prosesnya dapat melalui berbagi sumberdaya, penciptaan yang baru, dan pembelajaran atau pendidikan pengetahuan baru.
Implikasi Praktis
Berhasil atau tidaknya pengadopsian sistem dan pemraktikan sistem bergantung kepada individu. Wujud individu dipandang dari sisi psikologis lekatan yang disebut komitmen keperilakuannya. Sifat dasar psikologis lekatan adalah secara natural proses pembentukan ke individu, sehingga sulit dipengaruhi dan memerlukan waktu yang cukup lama proses pembentukannya. Di samping itu, wujud individu dapat dipengaruhi di dalam adopsi dan implementasi pemraktikan sistem melalui katalisator dari sisi sosiologis. Wujud keperilakuannya dalam bentuk kepatuhan (komitmen keberlanjutan) yang berasal dari manajer atau orang lain. Sifat dasar kepatuhan ini adalah dapat seketika dibentuk untuk berkomitmen di dalam adopsi sistem dan pemraktikan sistem informasi. Kedua faktor, psikologis lekatan dan sosiologis, membentuk satu kesatuan konsep yang disebut komitmen.
Tidak sepenuhnya berpengaruh atas imbalan yang diberikan kepada individu apabila tidak dilengkapi dengan proses penyesuaian nilai-nilai individu dan harapan atas hasil penerapan sistem. Berbasis terhadap sifat dasar, proses perekayasaan komitmen untuk beradopsi dan berpraktik sistem informasi bagi individu terletak hanya di faktor pengaruh sosial ini. Apabila berhasil perekayasaannya, maka pengaruh sosial mempengaruhi perilaku individu untuk berkomitmen dan selanjutnya untuk mengadopsi sistem dan mempraktikan sistem. Oleh karena itu, satu-kesatuan konsep komitmen menghendaki adanya sosio-psikologis, dalam tiga faktor internalisasi, identifikasi, dan kepatuhan. Hal ini dapat dinyatakan bahwa sistem secara personal harus bermanfaat penuh dan
Sebaliknya, apabila diperhatikan secara cermat, apabila komitmen psikologis lekatan tidak mampu sepenuhnya mempengaruhi kinerja adopsi sistem dan pemraktikan sistem, maka perlu didesain sistem imbalan yang mampu mempengaruhi sepenuhnya bagi individu untuk berkinerja. Oleh karena itu, pengaruh sosial dapat disebut sebagai perlu tetapi tidak sepenuhnya konsisten dengan kinerja secara riil. Pandangan yang lain dapat disajikan bahwa psikologis lekatan memmberikan kemanfaatan atas sistem yang dapat sepenuhnya dipraktikan atau diadopsi, tetapi individu dapat menolaknya karena tidak senyatanya mereka memperoleh imbalan yang memadai baik dalam bentuk imbalan materi ataupun imbalan non materi yang memadai.
Keterbatasan Penelitian
Model komitmen yang diteliti di dalam penelitian ini memiliki keterbatasan-keterbatasan, baik keterbatsan konsepsualiasi komitmen maupun keterbatasan validasi konstruk komitmen pemakai untuk adopsi dan pemraktikan sistem. Keterbatasan penelitian ini disajikan untuk para peneliti dan penelitian-penelitian berikutnya yang memfokuskan penelitiannya di komitmen, khususnya di bidang psikologis lekatan. Keterbatasannya adalah sebagai berikut.
1. Inferensi sampel yang mendasarkan ke teritorial untuk perbankan umum dan perkreditan rakyat di daerah Jogyakarta. Seluruh bank, baik bank umum maupun perkreditan di Jogyakarta telah sadar menerapkan sistem informasi akuntansi dan lainnya yang cukup lama dan dapat dipandang telah mapan. Kondisi ini menyebabkan internalisasi dan identifikasi yang telah merasuk ke dalam individu cukup tajam dan lama.
2. Nilai-nilai individu, harapan kemanfaatan pemraktikan sistem dan kepatuhan terhadap grup atau orang lain berkembang secara dinamis dan tidak statis. Penelitian dengan model konstruk semacam ini tidak mampu perkembangan dinamis keperilakuan individu, karena individu selalu bergerak untuk penciptaan, berbagi sumberdaya dan pembaharuan sistem.
3. Tidak selalu benar bahwa komitmen berkelanjutan (kepatuhan) terhadap Mudah Penggunaan Persepsian (MPP), Kebermanfaatan Persepsian (KP),
Sikap terhadap Penggunaan (STP), dan Intensi Keperilakuan (IP) selalu dalam arah negatif. Keterbatasan penelitian ini disebabkan oleh kemungkinan adanya sistem insentif atau imbalan dalam bentuk lain yang mampu mempengaruhi seluruh variabel di atas menjadi berpengaruh secara searah positif.
VII. Simpulan
Inti dari sebuah adopsi dan pemraktikan sistem bukan terletak di teori ataupun di psikologi dan di penelitian empiris, tetapi lebih menekankan ke terrealisasinya adopsi dan pemraktikan sistem informasi secara riil. Terrealisasinya adopsi dan penerapan sistem sangat bergantung ke keperilakuan manusia di dalam organisasi. Perilakunya sangat didominasi oleh keyakinan (beliefs). Keyakinan ini tiada lain terdiri dari dua jenis keyakinan, yakni keyakinan milikan diri sendiri dan keyakinan pengaruhan orang atau grup lain. Keyakinan milikan diri sendiri terdiri dari dua jenis yaitu internalisasi dan identifikasi, sedangkan keyakinan pengaruhan orang lain berwujud komitmen berkelanjutan atau kepatuhan. Kedua keyakinan ini bersatu dalam aspek konsep psikologis kognitif dan keperilakuan yang disebut komitmen. Dengan demikian, penelitian ini mampu melengkapi konseptualisasi komitmen.
Komitmen memerankan pengaruh yang sangat vital terhadap seluruh variabel yang dikonstruksikan di dalam penelitian ini. Artinya bahwa komitmen memainkan peranan di dalam adopsi sistem dan pemraktikan sistem informasi. Terbukti bahwa komitmen, untuk ketiga faktornya yaitu internalisasi, dan identifikasi berpengaruh secara positif terhadap Mudah Penggunaan Persepsian (MPP), Kebermanfaatan Persepsian (KP), Sikap terhadap Penggunaan (STP), dan Intensi Keperilakuan (IP), dan sebaliknya kepatuhan berpengaruh secara negatif.
Model komitmen multi dimensi ini membuktikan bahwa Teori Pengaruh Sosial Kelman’s valid dan konsisten. Sehingga, konsepsualisasi teori pengaruh sosial ini memberikan solusi atas keberterimaan adopsi sistem dan penggunaan atau pemraktikan sistem informasi yang cukup mendasar. Secara sederhana dapat dinyatakan bahwa teori ini memperjelas konsep teori pengaruh sosial, dan
konsistensi tentang konsep komitmen dari dua sudut pandang, secara psikologis dan secara sosio-psikologis.
Referensi:
Ajzen, I. Nature and Operation of Attitudes. Annual Review of Psychology, 52 (2001), 27-58.
Alavi, M. and Leidner, DE. Review: Knowledge Management and Kowledge Management Systems: Conceptual Foundations and Research Issues. MIS Quarterly, 25, I (March 2001), 107-136.
Bearden, W. O., R. G. Netemeyer, M. F. Mobley. Handbook of Marketing Scales: Multi-item Measures for Marketing and Consumer Behavior Research. Sage Publications, Newbury Park, CA. Marketing 12(1), (1993), 106–119.
Becker, TE. and Foci. Bases of Commitment – Are They Distinctions worth Making. Academy of Management Journal, 35, I (March 1992), 232-244.
Becker, TE., Randall, DM., and Riegel, CD., The Multidimensional View of commitment and The Theory of Reasoned Action – A Comparative Evaluation. Journal of Management, 21, 4 (1995), 617-638.
Buchanan, B. Building Organzational Commitment: The Socialization of Managers in Work Conditiion. Administrative Science Quartely. 19 (1974)544-546. Cooke, D. Affective, Continuance, and Normative Commitment to the Organization:
An Examination of Construct Validity. Journal of Vocational Behavior. 49, 3 (December 1997), 252-276.
Davis, F. (1986), Technology Acceptance Model for Empirically Testing New End-User Information Systems: Theory and Results. Massachuset Institute of Technology, Boston, MA. (1986).
Davis, FD. (1989), Percieved Usefulness, Percieved Ease of Use, and User Acceptance of Information Technology. MIS Quartely, 13, 3 (1989), 319-340. Davis, FD., Bagozzi, RP., and Warshaw, PR. User Acceptance of Computer-Technology: A Comparison of Two Theoritical Models. Management Science. 35, 8 (1989), 982-1003.
Grover, V. and Davenport, TH. General Perspectives on Knowledge Management Fostering A Research Agenda. Journal of Management Information Systems. 18, I (2001), 5-21.
Hu, L., P. M. Bentler. (1999). Cutoff Criteria For .T Indexes In Covariance Structure Analysis: Conventional Criteria Versus New Alternatives.
Structural Equation Model 6(1), 1–55.
Hellman, CM., And McMillin, WL. Newcomer Socialization and Affective Commitment. Journal of Psychology, 134, 2 (1994), 261-262.
Hufnagel, EM. And Conca, C. User Response Data: The Potential of Errors and Biases. Information Systems Research. 5, 1 (1994), 48-73.
Kashima, Y. and Kashima, ES. Individual differences in The Prediction of Behavioral Intention. Journal of Social Psychology. 128, 6 (1988), 711-728. Kelman, HC. Compliance, Identification, and Internalization: Three Processes of
Attitude Change? Journal of Conflict Resolution, 2 (1958), 51-60.
Lewis, W., Agarwal, R., and Sambamurthy, V. Sources of Influence on Belief About Information Technology Use: An empirical Study of Knowledge Workers. MIS Quartely, 27, 4 (2003), 657-678.
Melone, NP. A Theoritical Assesment of The User Satisfaction construct in Information Systems Research. Management Science. 36, 1 (1990), 76-91.
Meyer, JP. And Allen, NJ. Commitment in The Workplace Theory Research and Application. Sage Publication, Calif. (1997).
Mowday, RT., Porter, LW., and Steers, RM. The Measurement of Organization Commitment. Journal of Vocational Behavior. 14 (1979), 224-247.
O’Reilly, CAI. Chatman, JA., And Caldwell, DF. People and Organizational Culture: A Profile Comparison Approach to Assesing Person environment-Fit. Academy of Management Journal. 34 (1991), 487-516.
Porter, LW. Steers, R., Mowday, RT., and Boulian, PV. Unit Performance, Situational Factors, and Employee Attitude in Spatially Separated Work Units. Organizational Behavior and Human Performance, 15 (1974), 87-98.
Reicher, AE. A Review and Reconceptualization of Organizational Commitment. Ournal of Applied Psychology. 71 (1986), 508-514.
Sheldon, M. Investment and Involvements as Mechanisms Producing Commitment to The Organization. Administrative Science Quartely. 16, (1971), 143-150. Sutton, CD. And Harrison, AW. Validity Assesment of Compliance , Identification,
and Internalization as Dimensions of Organizational Commitment. Educational and Psychological Measurement. 53, 1 (1993), 217-223.
Thompson, RL., Higgins, CA., and Howell, JM. Personal Computing: Toward A Conceptual Model of Utilization. MIS Quartelly. 12 (1991), 125-142.
Vandenberg, RJ., Self, RM., and Seo, JH. A Critical Examination of The Internalization, Identification, and Compliance Commitment Measures. Journal of Management, 20, 1 (1994), 123-140.
Vankatesh, V., and Davis, FD. A Theoritical Extension of The Technology Acceptance Model Four Longitudinal Field Studies. Management Science. 46, 2 (2000), 186-204.
Vankatesh, V., Morris, MG., Davis, FD., and Davis, GB. User Acceptance of Information Technology: Toward a Unified View. MIS Quartelly. 27 (2003), 425-478.
Weiner, Y., and Vardi, Y. Relationships between Job, Organization, and Career Commitments and Work Outcomes. Organizational Behavior and Human Performance. 26 (1980), 81-96.