• Tidak ada hasil yang ditemukan

Terjemah Matan Abu Syuja'

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Terjemah Matan Abu Syuja'"

Copied!
83
0
0

Teks penuh

(1)

1

َ م

َنْتَ

َ أ

َِْبَ

َنش

َ ج

َ عا

MATAN ABU SYUJA’

(Ringkasan Fiqih Islam Menurut Madzhab Syafi’i)

Karya:

Al Qadhi Abu Syuja’ Ahmad bin Hasan bin Ahmad Al Ashfahani

rahimahullah

Penerjemah dan Pemberi Catatan Kaki: Marwan bin Musa untuk Yayasan BISA

(2)

2

MENGENAL PENULIS

Siapakah Al Qadhi Abu Syuja?

Tajuddin Abdul Wahhab bin Ali As Subki berkata dalam Thabaqat Asy Syafi’iyyah Al Kubra (8/15), “Beliau adalah penyusun kitab Al Ghayah fil Ikhtishar dan saya mengetahui Beliau melalui syarah Al Iqna’ yang disusun oleh Al Qadhi Al Mawardi. Yaqut berkata dalam Al Buldan ketika menyebut daerah Ibaadaan, “Kepadanyalah dinisbatkan Al Qadhi Abu Syuja’ Ahmad bin Hasan bin Ahmad Asy Syafi’i Al ‘Ibadaani.”

As Salafiy meriwayatkan darinya, ia berkata, “Beliau termasuk anak-anak zaman. Beliau belajar di Basrah lebih dari 40 tahun mengenai madzhab Syafi’i.”

Tajuddin melanjutkan kata-katanya, “Disampaikan demikian kepadaku pada tahun 500 H, dan ia masih hidup setelahnya, dan aku tidak mengetahui lagi setelah itu. Aku bertanya tentang kelahirannya, maka ia menjawab, “Pada tahun 434 H di Basrah, sedangkan ayahnya berasal dari Ashbahan.”

(3)

3

ميحرلاَنحمرلاَاللهَمسب

َحْلا

َْمَ د

َ

َهلل

ََحر

َه ب

ََْلا

َحعَحلا

َهم

َحْي

ََحو

َحصَ ل

َ اللَى

ََحعَحل

َحسَى

َه يَهد

َحن

َح َُ

َ مَ د

َ

َ نلا

َه هبَ

َحوَهلآ

َههَ

َ طلا

َهها

َ رَْي

َحنَ

َحوَحص

َحح

َحباَهتَهه

ََحأ

َحْج

َهع

َحْي

.

َ:لىاعتَاللَهحمرَنياهفصلأاَدحمأَنبَنسلاَنبَدحمأَعاجشَوبأَيضاقلاَلاق

َ

َلىاأأعتَاللَ أأحمرَيع اأأ لاَ اأأ عاَاللههةأأ َىأألعَهأأقفلاَهَارأأعتهَفأأمعأَرأَلىاأأعتَاللَ أأهتفاللهَماقدأأصلأاَصأأعبَبلنيأأس

لماَىألعَف هسحيوَهسردَ لعتلماَىلعَب رقحيلَزايجعاَ يانهوَراعتخلااَ ياغَهَهناوضروَهيلع

َهأي َرأ رأَرأوَهأتفاللهَ دأت

َاأ َىلعَهنإَباوعللَقي وتلاَهَلىاعتَاللَلىإَا غارَباو للَا لاطَكلذَلىإَهت جني َ.َلاعهلخاَرعاللهوَتاميسقتلاَن

.ير خَفيطلَهدا عبوَريدقَما ي

Segala puji bagi Allah Rabbul ‘alamin, semoga shalawat tercurah kepada pemimpin kita Nabi Muhammad, keluarganya yang suci, dan para sahabatnya semua.

Al Qadhi Abu Syuja’ Ahmad bin Hasan bin Ahmad Al Ashfahani rahimahullah berkata: Sebagian kawan-kawanku -semoga Allah Ta’ala menjaga mereka- memintaku untuk menyusun ringkasan tentang fiqh sesuai madzhab Imam Syafi’i -semoga Allah merahmati dan

meridhainya- yang sangat ringkas dan singkat agar mudah dipelajari oleh penuntut ilmu dan

mudah dihapal oleh pemula, sekaligus membuatkan pembagian-pembagian dan membatasi materi-materinya.

Aku pun menyanggupinya seraya mengharapkan pahala dari Allah dan taufiq-Nya agar sesuai dengan kebenaran, dan Dia Mahakuasa atas apa yang Dia kehendaki serta Mahalembut dan Mahateliti terhadap hamba-hamba-Nya.

(4)

4

KITAB THAHARAH (BERSUCI) Macam-Macam Air

Air yang boleh digunakan bersuci ada tujuh macam, yaitu: air hujan, air laut, air sungai, air sumur, air mata air, air salju (es), dan air embun.

Pembagian Air

Selanjutnya, air itu ada empat bagian:

1. Air yang suci dan tidak makruh, yaitu air mutlak (alami atau sama seperti itu keadaannya).

2. Air yang suci lagi menyucikan (bisa dipakai wudhu dan mandi), namun makruh, yaitu air yang terjemur sinar matahari1.

3. Air yang suci tetapi tidak menyucikan, yaitu air musta’mal (bekas dipakai)2 dan

air yang sudah berubah (dari kemutlakannya) karena sesuatu yang suci3.

4. Air yang najis, yakni air yang kejatuhan najis. Yaitu ketika volume airnya di bawah dua qullah, lalu berubah (oleh najis).

2 qullah berjumlah kira-kira 500 kati Baghdad4 menurut pendapat yang lebih

shahih.

Cara Menyucikan Kulit Bangkai

Pasal. Kulit bangkai menjadi suci dengan

disamak selain kulit anjing dan babi, dan binatang yang terlahir dari keduanya atau salah satunya.

Demikian pula tulang bangkai dan bulunya juga

ةراهطلاَباتك

هايلماَعاونأ

َع سَيرهطتلاَابهَزويجَتيلاَهايلما

َما وَمامسلاَما َ:هاي

َما وَجل لاَما وَيعلاَما وَرئ لاَما وَرهنلاَما وَرح لا

.دحرحأ لا

هايلماَماسقأ

: اسقأَ عبرأَىلعَهايلماَثم

.قحلط

لماَمالماَوهوَهورك َيرغَرهاط

.س م لماَمالماَوهوَهورك َره هط َرهاطو

َهأطلاخَاأخَيرأ تلماوَفحمعتأسلماَماألماَوهوَرهط َيرغَرهاطو

.تارهاطلاَن

َيت ل قلاَرودَوهوَ سانجَهي َتلاللهَ ةلاَوهوَسنجَما و

.ير ت َيتلقَرارَوأ

.حصلأاَهَا يرقتَ داد بَفطهرَ ئامسخمَراتلقلاو

ةتيلماَدولجَيرهطت

:فأأأأأأع

َاللهأأأأأألكلاَحدأأأأأألجَلاإَ حجه دأأأأأألجَرأأأأأأ هْطتَ أأأأأأحتيلماَدولجو

.اهمداللهأَن َوأَامهن َدل وتَا وَريزنلخاو

1 Hadits yang menyebutkan larangan menggunakan air musyammas (yang terjemur sinar matahari) menurut sebagian

Ahli Hadits adalah dhaif, lihat Kitab Kifayatul Akhyar ketika membahas masalah ini.

2 Menurut sebagian ulama, bahwa air musta’mal adalah thahur (suci lagi menyucikan), lihat alasannya di Kitab

Fiqhussunnah tentang Al Maa’ul Musta’mal.

3 Tetapi air ini bisa dipakai untuk membersihkan najis.

4 Dua qullah artinya dua tong besar, dikatakan qullah karena orang dewasa dapat mengangkatnya jika dipenuhi air.

Beratnya menurut para Ahli Fiqh madzhab Syafi’i adalah 500 rithl Baghdadiy. Ukuran airnya jika di suatu kolam berbentuk persegi empat, maka panjangnya, lebarnya, dan tingginya 1 ¼ hasta (1 hasta panjangnya dari ujung jari tengah sampai ke ujung siku tangan). Menurut sebagian peneliti volumenya sebanyak 46,2 cm.

(5)

5 najis5 kecuali tulang dan rambut (mayat)

manusia.

Menggunakan Bejana

Pasal. Tidak boleh menggunakan bejana emas

dan perak. Dan diperbolehkan menggunakan bejana selain dari keduanya.

Bersiwak

Pasal. Bersiwak dianjurkan dalam setiap

keadaan kecuali setelah tergelincir matahari bagi orang yang berpuasa6. Bersiwak pada tiga

keadaan lebih dianjurkan lagi, yaitu ketika mulut sudah berubah (bau) karena diam yang lama atau karena lainnya, demikian pula karena bangun dari tidur, dan ketika hendak shalat.

Fardhu-Fardhu Wudhu

Pasal. Fardhu-fardhu wudhu ada enam perkara,

yaitu: (1) niat ketika membasuh muka7, (2)

membasuh muka, (3) membasuh kedua tangan sampai kedua siku, (4) mengusap sebagian kepala8, (5) membasuh kedua kaki sampai

kedua mata kaki, dan (6) tertib seperti yang kami sebutkan. Sunah-Sunah Wudhu

َ تيلماَ تعو

.ي دلآاَلاإَسنجَاهرعشو

نياولأاَلامعتسا

:فأأأع

َزوأأأيجوَ أأأ فلاوَاللههةأأألاَنياوأَلامعتأأأساَزوأأأيجَلاو

.نياولأاَن َاهميرغَلامعتسا

كاوسلا

:فع

َلاوزلاَ دعبَ لاإَ لااللهَ فرَ هَ اللهحتس َ كاوسلاو

َير تَدنعَ:جا حتساَدشأَعضاو َ ثلاثَهَوهوَ ئاعلل

عوَ ونلاَن َ ايقلاَدنعوَهيرغوَ ْزأَن َ فلا

َ ايقلاَدن

.ةلاعلاَلىإ

ءوضولاَضورف

:فأأع

َفأأسغَدأأنعَ أأينلا:َمايأأشأَ تأأسَموأأضولاَضور و

َ يق رأأأألماَلىإَنيدأأأيلاَفأأأسغوَ هأأأأجولاَفأأأسغوَ هأأأجولا

َ يأأأ عكلاَلىإَيلجرأأألاَفأأأسغوَ لأرأأألاَصأأأعبَحأأأس و

.هنررذَا َىلعَاللهيتترلاو

5 Menurut penyusun Fiqhussunnah, pada dasarnya semua itu suci, dan tidak ada dalil yang menunjukkan najisnya,

lihat alasan Beliau dalam kitab Fiqhussunnah saat menerangkan tentang najasah (najis).

6 Sebagian ulama berpendapat, bahwa bersiwak pada saat puasa tidak makruh sama sekali secara mutlak.

7 Niat tempatnya di hati; bukan di lisan. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam Fatawanya (22/217) berkata, “Tempat

niat adalah di hati, bukan di lisan berdasarkan kesepakatan para imam kaum muslimin dalam semua ibadah.”

8 Sebagian ulama berpendapat, bahwa mengusap kepala tidak hanya separuhnya; bahkan semuanya. Imam Bukhari

membuat bab dalam Shahihnya, "Mengusap kepala semuanya." Adapun huruf ba' dalam firman Allah Ta'ala,

او ححسْ احو ك هسو م رهب

"Dan usaplah kepalamu." (QS. Al Ma’idah: 6)

Maka bukanlah lit tab'idh (menunjukkan sebagiannya), bahkan ahli bahasa tidak mengenalnya. Ibnu Burhan berkata, "Barang siapa yang menyangka bahwa ba' tersebut menunjukkan sebagian, maka ia telah datang membawa sesuatu yang tidak diketahui oleh Ahli Bahasa."

(6)

6 Sunah-sunahnya ada 10 perkara, yaitu: (1) membaca basmalah, (2) mencuci kedua telapak tangan sebelum memasukkannya ke dalam bejana9, (3) berkumur-kumur, (4) menghirup air

ke hidung, (5) mengusap seluruh kepala, (6) mengusap dua telinga bagian luar dan dalam dengan air yang baru, (7) menyela-nyela janggut yang tebal, (8) menyela-nyela jari tangan dan kaki, (9) mendahulukan yang kanan daripada yang kiri, (9) membasuhnya sebanyak tiga kali-tiga kali, (10) muwalah (tidak dipisah dengan kegiatan yang lain).

Istinja

Pasal. Beristinja wajib dilakukan dari buang air

kecil maupun buang air besar.

Yang lebih utama adalah beristinja dengan menggunakan batu, lalu diiringi air. Boleh hanya menggunakan air, atau tiga buah batu yang dapat membersihkan bagian itu. Tetapi, Jika ingin menggunakan salah satunya, maka menggunakan air lebih utama.

Dan harus dihindari menghadap kiblat dan membelakanginya ketika di tanah lapang. Demikian pula harus dihindari buang air kecil dan buang air besar di air yang diam, di bawah pohon yang berbuah, di jalanan, di tempat berteduh, dan di lubang.

Dan hendaknya ia tidak bercakap-cakap ketika buang air kecil atau buang air besar.

Demikian pula hendaknya ia tidak menghadap matahari dan bulan atau membelakangi keduanya (ketika buang air kecil atau besar)10.

Pembatal-Pembatal Wudhu

Pasal. Hal yang membatalkan wudhu ada enam

ءوضولاَننس

َف قَ يفكلاَ فسغوَ يمستلاَ :مايشأَ ةر عَ هننسو

َ املهاخدإ

َحس وَ قا نتسلااو َ م لماوَ منعا

َماخَامهنطجوَاهمرهاظَينذلأاَحس وَ لأرلاَعيج

َنيديلاَعباصأَفيلتخوَ حكلاَ يحللاَفيلتخوَ ديدج

َثالاثَةراهطلاوَ ىرسيلاَىلعَنىميلاَيمدقتو َيلجرلاو

.َةلااولماوَ ثالاث

ءاجنتسلاا

:فع

.طئا لاوَلو لاَن َاللهجاوَماجنتسلااو

لأاو

َزوأيجوَ ماألمجَاأهع تيَثمَراأجاللهلأجَيجنتأسيَرأَفأ

َنأأأبهَيأأأهقنيَراأأأجاللهأَ أأأثلاثَىأأألعَوأَماأأألماَىأأألعَرأأأعتقيَرأ

.ف أَمالما َاهمداللهأَىلعَراعتقلااَدارأَاذإ َ فلمحا

.مارحعلاَهَاهرجدتساوَ ل قلاَلا قتساَاللهنتيجو

َةرجأأأ لاَتأأأ وَ دأأأرا رلاَماأأألماَهَطئاأأأ لاوَلوأأأ لاَاللهأأأنتيجو

لاَهو َةرم لما

.اللهقُّ لاوَ فه تلاوَ قيرط

.طئا لاوَلو لاَىلعَ لكتيَلاو

.اهمربدتسيَلاوَرمقلاوَسم لاَف قتسيَلاو

9 Dalam Kifayatul Akhyar disebutkan, bahwa mencuci kedua telapak tangan ini ada beberapa keadaan: pertama, jika

yakin ada najis pada tangannya, maka makruh tahrim (haram) baginya langsung mencelupkan ke dalam air karena akan merusak air. Kedua, jika ia ragu apakah ada najis atau tidak di tangannya, seperti orang yang sebelumnya tidur dan tidak mengetahui di mana tangannya bermalam, maka makruh baginya langsung menyelupkan tangan, bahkan sebagian ulama mengatakan wajib mencuci kedua telapak tangan sebelum memasukkan ke bejana. Ketiga, jika ia yakin suci tangannya, maka tidak makruh langsung mencelupkan tangannya ke dalam bejana.

10 Dalil yang melarang menghadap atau membelakangi matahari dan bulan ketika buang air belum kami ketahui,

(7)

7 perkara, yaitu: (1) sesuatu yang keluar dari dua jalan (qubul dan dubur), (2) tidur tidak dalam keadaan duduk yang tetap, (3) hilang akal karena mabuk atau sakit, (4) menyentuh wanita ajnabi (bukan mahram) tanpa penghalang11, (5)

menyentuh kemaluan dengan telapak tangan, (6) menyentuh lubang dubur menurut pendapat Imam Syafi’i yang baru.

Hal-Hal Yang Mengharuskan Mandi

Pasal. Hal yang mengharuskan mandi ada enam

perkata; tiga perkara berlaku bagi laki-laki dan wanita, yaitu bersentuhan dua khitan, keluar mani, dan meninggal dunia. Sedangkan yang tiga lagi hanya khusus bagi wanita, yaitu: haidh, nifas, dan melahirkan.

Fardhu-Fardhu Mandi

Pasal. Fardhu mandi ada tiga perkara, yaitu: (1)

niat, (2) menghilangkan najis pada badannya jika ada, (3) menyampaikan air ke semua rambut dan kulit.

Sunnah-sunnah ketika mandi

Sunah-sunah mandi ada lima perkara, yaitu: (1) membaca basmalah, (2) berwudhu sebelumnya, (3) menjalankan tangan ke atas badannya, (4) muwalah (berurutan), (5) mendahulukan bagian yang kanan daripada yang kiri.

Mandi-Mandi Yang Sunah

Pasal. Mandi yang sunah ada tujuh belas

ءوضولاَضقاون

:فع

:مايشأَ تسَموضولاَصقنيَ ةلاو

َ نه كمتلماَ ئيهَيرغَىلعَ ونلاوَ يلي سلاَن َجرخَا

َةأرلماَ فجرلاَ سلموَ ضر َ وأَ رك سبَ فقعلاَ لاوزو

َ يرغَ ن َ ي نجلأا

َنطا بَ ي دلآاَ جر َ س وَ فئاالله

.ديدلجاَىلعَهرب دَ حقْلاللهَس وَ فكلا

لسغلاَتابجوم

:فع

:مايشأَ تسَفْس لاَاللهجويَ ةلاو

َ يناتهلخاَماقتلاَ:يهوَ ماسنلاوَلاجرلاَاهي َكتر تَ ثلاث

َ:يهوَ ماسنلاَابهَصتتخَ ثلاثوَ تولماوَ هب

ح

لماَلازنإو

.ةدلاولاوَ لافه نلاوَ صيلا

لاَضئارف

لسغ

:فع

َ ساجنلَ لازإوَ ينلاَ:مايشأَ ثلاثَفس لاَصئار و

َرع لاَ عيجَ لىإَ مالماَ لاعيإوَ هندبَ ىلعَ تنارَ رإ

.ةر لاو

لسغلاَننس

َديلاَرار إوَ هل قَموضولاو َ يمستلا:مايشأَ سخمَهننسو

.ىرسيلاَىلعَنىميلاَيمدقتوَ ةلااولماو َدسلجاَىلع

11 Dalil yang dijadikan alasan untuk mengatakan batalnya wudhu karena menyentuh wanita adalah firman Allah Ta’ala,

“Aw laamastunnisaa” yang artinya, “Atau kalian menyentuh wanita” (QS. Al Maa’idah: 6). Akan tetapi maksud “Aw

laamastunnisaa,” menurut Ibnu Abbas adalah berjima’. Di samping itu, ada beberapa hadits yang menyebutkan

bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyentuh istrinya dan tidak berwudhu. Di antaranya hadits Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata, “Aku pernah kehilangan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dari tempat tidur pada suatu malam, lalu aku menyentuh Beliau; aku letakkan tanganku pada kaki Beliau, sedangkan Beliau di masjid dan kakinya berdiri tegak.” (HR. Muslim). Meskipun demikian, tidak diperbolehkan bagi laki-laki menyentuh wanita yang bukan mahram, namun tidak membuat wudhu menjadi batal.

(8)

8 macam, yaitu: (1) mandi Jum’at, (2) mandi pada dua hari raya, (3) mandi untuk shalat istisqa (minta hujan), (4) khusuf (mandi untuk shalat gerhana bulan), (5) kusuf (mandi untuk shalat gerhana matahari)12, (6) mandi setelah

memandikan mayit, (7) mandinya orang kafir ketika masuk Islam, (8) mandinya orang gila ketika sadar (9) mandinya orang yang pingsan ketika sadar, (10) mandi ketika ihram, (11) mandi ketika masuk Mekkah, (12) mandi ketika wuquf di Arafah, (13) mandi ketika mabit di Muzdalifah13, (14) mandi untuk melempar

jumrah yang tiga, (15) mandi untuk thawaf14,

(16) mandi untuk sa’i, dan (17) mandi ketika masuk ke kota (Madinah) Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Mengusap Dua Khuff (sepatu)

Pasal. Mengusap dua khuff boleh dengan tiga

syarat, yaitu: (1) memakai dua khuf setelah dirinya suci secara sempurna, (2) khuf tersebut menutupi bagian kaki yang termasuk fardhu wudhu, (3) kedua khuf dapat dipakai berjalan.

Lama waktu mengusap

Seorang yang mukim boleh mengusap sehari-semalam, sedangkan bagi musafir boleh mengusap tiga hari tiga malam.

Awal waktu mengusap adalah ketika sejak berhadats setelah memakai kedua khuf.

Jika seseorang mengusap di saat mukim lalu bersafar, atau mengusap ketika safar lalu mukim, maka dia harus memenuhi syarat mengusap mengikuti keadaan orang yang mukim.

Hal-Hal Yang Membatalkan Mengusap

ةنونسلماَتلااستغلاا

:فع

استغلااو

:لاس غَر عَ ع سَ نونسلماَتلا

َ فوسلخاو َ ماقستسلااو َ نيديعلاو َ ع م لجاَ فسغ

َاذإَ ر اكلاوَ تيلماَ فسغَ ن َ فس لاو َ فوسكلاو

َدنعَ فس لاوَ اقا أَ اذإَ هيلعَ ىم لماوَ رونلمجاوَ لسأ

َتي مللوَ رعبَ فوقوللوَ ك َ لوخدلوَ اراللهعا

عسللو َ فاوطللوَ ثلا لاَ رامهلجاَ ي رلوَ فهلدزخ

َ ي

. لسوَهيلعَاللَىلصَاللَلوسرَ نيد َلوخدلو

ينفلخاَىلعَحسلما

:فع

:طئارشَ ثلا بَزئاجَي ف لخاَىلعَحسلماو

َنوكيَ رأوَ ةراهطلاَ لامرَ دعبَ امهس لَ ئدت يَ رأ

َاممَنوكيَرأوَ ي دقلاَن َضرفلاَفسحغَفلمحَنيرتاس

.امهيلعَي لماَعباتتَنكيم

حسلماَةدم

َا ويَ يقلماَحسيمو

.نهيلايلبَ ياأَ ثلاثَر اسلماوَ ليلو

.يفلخاَس لَدعبَثهدْ يَُياللهَن َةدلماَمادتباو

َ اقأَثمَرفسلاَهَحس َوأَر اسَثمَر لاَهَحس َرإ

.َ يق َحس َتمأ

12 Mandi pada saat-saat ini (istisqa, kusuf, dan khusuf, dsb.) dianjurkan adalah karena melihat mandi pada hari Jum’at

dan hari raya, dimana pada hari tersebut manusia berkumpul bersama, sehingga pada waktu-waktu yang manusia berkumpul pun sama dianjurkan mandi seperti pada saat istisqa, kusuf, dan khusuf, wallahu a’lam.

13 Pendapat yang rajih adalah, bahwa tidak disunahkan mandi karena bermalam di Muzdalifah.

14 Tetapi ada riwayat dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, bahwa perbuatan yang pertama dilakukan Nabi shallallahu ‘alaihi

(9)

9 Mengusap dua khuff menjadi batal karena tiga hal, yaitu: (1) ketika melepasnya, (2) habisnya waktu mengusap, dan (3) ada sesuatu yang mengharuskan mandi.

Tayammum

Pasal. Syarat-syarat tayammum ada lima, yaitu:

(1) adanya udzur berupa safar atau sakit, (2) masuknya waktu shalat, (3) sudah mencari air, (4) kesulitan menggunakan air, (5) kesusahan mencarinya.

Tanah yang suci adalah tanah yang mempunyai debu, jika tercampur kapur atau pasir, maka tidak boleh15.

Fardhu-Fardhu Tayammum

Fardhu Tayammum ada empat, yaitu: (1) niat, (2) mengusap muka, (3) mengusap kedua tangan sampai siku16, (4) tertib.

Sunah-Sunah Tayammum

Sunah-sunah tayammum ada tiga, yaitu: (1) membaca basmalah, (2) mendahulukan bagian kanan daripada yang kiri, (3) muwalah (tidak diselingi perbuatan yang lain).

Hal-Hal Yang Membatalkan Tayammum

Hal yang membatalkan tayammum ada tiga perkara, yaitu: (1) hal-hal yang membatalkan wudhu, (2) masih melihat air ketika belum shalat, (3) murtad.

حسلماَتلاطبم

َ ةدلماَ ما قناوَ امهعلبخَ :مايشأَ ثلا بَ حسلماَ فط يو

.فس لاَاللهجويَا و

مميتلا

:فع

سخمَ ميتلاَطئارشو

:مايشأَ

َتأأأأأأأأأأقوَلوأأأأأأأأأأخدوَ ضرأأأأأأأأأأ َوأَرفأأأأأأأأأأسبَرةأأأأأأأأأأ علاَدوأأأأأأأأأأجو

َدأأأأأأعبَه زاوأأأأأعإوَ هلامعتأأأأأساَرةأأأأأأعتوَماأأأأألماَاللهلطو ةلاأأأأأعلا

ةلاَرهاطلاَباترلاو اللهلطلا

.هز يجَلمَف رَوأَ صجَهطلاخَرإ َرا غَهل

مميتلاَضئارف

َع َنيديلاوَ هجولاَحس وَ ينلا:َمايشأَ عبرأَه ئار و

.اللهيتترلاوَ يق رلما

مميتلاَننس

َىلعَ نىميلاَ يمدقتوَ يمستلا:َ مايشأَ ثلاثَ هننسو

.ةلااولماوَ ىرسيلا

مميتلاَتلاطبم

15 Madzhab yang dipegang oleh Imam Syafi'i, jumhur para ahli fiqh, dan menjadi pendapat Imam Ahmad, Ibnul

Mundzir, dan Dawud, adalah bahwa tidak boleh bertayammum kecuali dengan tanah yang suci yang memiliki debu yang bisa menempel di wajah dan di tangan. Menurut Malik dan Abu Hanifah, boleh menggunakan semua macam permukaan bumi meskipun dengan batu yang telah tercuci. Menurut Auza’iy dan Sufyan Ats Tsauri, boleh menggunakan semua permukaan bumi meskipun dengan salju.

16 Pendapat yang rajih (kuat) adalah sampai pergelangan tangan. Hal ini berdasarkan hadits Ammar, bahwa Nabi

shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepadanya, “Sesungguhnya cukup bagimu melakukan begini dengan kedua

tanganmu.” Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memukulkan kedua tangannya ke tanah sekali saja, kemudian

mengusapkan telapak tangan kiri ke telapak tangan kanannya, dan bagian atas telapak tangannya serta mengusap wajahnya.

(10)

10

Mengusap Jabirah (Balutan)

Pemakai jabirah boleh mengusap ke atas jabirah tanpa perlu mengulangi shalatnya jika ia meletakkan balutan itu dalam keadaan suci. Ia juga hendaknya bertayammum untuk setiap kali shalat fardhu17, dan boleh shalat sunah sesuai

keinginannya dengan satu tayammum.

Macam-Macam Najis

Pasal. Semua yang cair yang keluar dari dua

jalan (qubul dan dubur) adalah najis selain mani.

Mencuci semua yang terkena air kencing dan kotoran adalah wajib kecuali kencing anak bayi yang belum makan makanan, maka untuk menyucikannya cukup dipercikkan dengan air saja. Dan tidak dimaafkan satu najis pun kecuali darah dan muntah yang sedikit.

Hewan yang tidak mengalir darahnya apabila jatuh ke dalam bejana dan mati di sana, maka hewan itu tidak membuatnya najis. Semua hewan adalah suci selain anjing dan babi, dan yang lahir dari keduanya atau salah satunya. Semua bangkai adalah najis kecuali bangkai ikan, belalang, dan manusia.

Bejana harus dibasuh ketika terkena jilatan anjing dan babi18 sebanyak tujuh kali; salah

satunya dengan tanah. Sedangkan najis-najis yang lain cukup sekali saja, dan tiga kali lebih utama. Jika khamr (arak) menjadi cuka dengan sendirinya, maka khamr itu menjadi suci, tetapi jika menjadi cuka karena diberikan sesuatu di dalamnya, maka tidak suci.

Haid, Nifas, dan Istihadhah

َ موضولاَ فطبأَ ا َ :مايشأَ ثلاثَ ميتلاَ فط يَ ةلاو

.ةده رلاو َةلاعلاَتقوَيرغَهَمالماَ يؤرو

ةيربلجاَىلعَحسلما

َراأأأرَرإَهأأأيلعَةداأأأعإَلاوَاأأأهيلعَحأأأسيمَرئاأأأ لجاَاللهاللهاأأأصو

.ره طَىلعَاهعضو

ميتيو

َ

َن َ ماشَ ا َ داللهاوَ ميتبَ يلعيو ير َ فكل

.ف اونلا

تاساجنلاَعاونأ

:فع

.بلماَلاإَسنجَيلي سلاَن َجرخَعئا َفرو

َبأأأأعلاَ حلوأأأبَلاإَاللهأأأجاوَثاورلأاوَلاوأأأأبلأاَعأأأيجَفأأأسغو

.هيلعَمالماَشربَرهطيَهنإ َ اعطلاَفريأَلمَ ةلا

َ دأألاَنأ َيرأأسيلاَلاإَتاأساجنلاَنأ َميأأشَنأعَىأفع يَلاو

.حيقلاو

َهأأنإ َهأأي َتاأ وَمنعاَهَعأأقوَاذإَ لئاأأسَهألَسأأفنَلاَاأ و

َاأأ وَرأأيزنلخاوَاللهأألكلاَلاإَرهاأأطَهأألرَراوأأيلاوَ.هأأسجنيَلا

.اهمداللهأَن َوأَامهن َدلوت

.ي دلآاوَدارلجاوَكمسلاَلاإَ سنجَاهلرَ تيلماو

َتار َ ع سَ ريزنلخاوَ اللهلكلاَ ولوَ ن َ منعاَ فس يو

َتاساجنلاَرئاسَن َفس يو باترلجَنهاداللهإ

َتيتأَةر

َترهطَاهسفنبَةرملخاَتللتخَاذإوَف اَ ثلا لاوَهيلع

.رهطتَلمَاهي َميشَحرطبَتله ل خَرإو

17 Sebagian ulama berpendapat, bahwa seseorang boleh shalat sekehendaknya baik shalat fardhu maupun sunah

dengan satu tayammum, lihat Fiqhussunnah karya S. Sabiq pada pembahasan tayammum.

18 Pendapat yang rajih (kuat) adalah bahwa babi tidak harus dibasuh tujuh kali, bahkan cukup sekali tanpa tanah

(11)

11

Pasal. Cairan yang keluar dari farji wanita ada

tiga, yaitu: darah haid, nifas, dan istihadhah. Haid adalah darah yang keluar dari farji wanita ketika sehat bukan karena melahirkan. Warnanya sangat hitam lagi terasa panas dan perih.

Nifas adalah darah yang keluar setelah melahirkan.

Istihadhah adalah darah yang keluar bukan pada hari-hari haid dan nifas. Masa minimal haid adalah sehari-semalam, sedangkan maksimalnya 15 hari, dan umumnya enam atau tujuh hari.

Masa minimal nifas adalah sekejap (sekali pancaran), sedangkan maksimal 60 hari, dan umumnya 40 hari. Masa minmal suci antara dua hai adalah 15 hari, dan tidak ada batas maksimalnya.

Usia wanita tertimpa haid adalah 9 tahun. Usia minimal kehamilan adalah 6 bulan, maksimalnya 4 tahun, dan umumnya 9 bulan.

Perkara Yang Diharamkan Ketika Haid dan Nifas

Ketika haid dan nifas diharamkan delapan perkara, yaitu: (1) shalat, (2) puasa, (3) membaca al Qur’an, (4) menyentuh mushaf dan membawanya, (5) masuk masjid, (6) thawaf, (7) berjima’, (8) bersenang-senang antara pusar dan lutut.

Perkara Yang Diharamkan Bagi Orang Yang Junub

Diharamkan bagi orang yang junub lima perkara, yaitu: (1) shalat, (2) membaca Al Qur’an, (3) menyentuh mushaf dan membawanya, (4) berthawaf, (5) berdiam di masjid.

Perkara Yang Diharamkan Bagi Orang Yang

ةضاحتسلإاوَسافنلاوَضيلحا

:فأأع

َلاأأفه نلاوَصيأألاَ دَ:ماأأ دَ أأثلاثَجرأأفلاَنأأ َجريخو

. ضاحتسعاو

َفي أأأأسَىأأأألعَةأرأأأألماَجرأأأأ َنأأأأ َجراأأأألخاَ دأأأألاَوأأأأهَصيلاأأأأ

َ ةدلاولاَالله سَيرغَن َ حعلا

.عا ةلَ هدت َُدوسأَهنولو

.ةدلاولاَاللههقعَجرالخاَ دلاَوهَلافه نلاو

َصيأأأأأألاَ ياأَيرأأأأأأغَهَجراأأأأأألخاَ دأأأأأألاَوأأأأأأهَ أأأأأأضاحتسعاو

َاأ ويَر عَ سخمَهر رأوَ ليلوَ ويَصيلاَفقأوَ.لافنلاو

.ع سَوأَتسَه لاغو

َروأأأعبرأَهأأأ لاغوَاأأأ ويَروتأأأسَهرأأأ رأوَ أأأتلَلاأأأفنلاَفأأأقأو

يتأأ يلاَيأأبَرأأأهطلاَفأأقأوَ.اأأ وي

َ

َلاوَاأأأ ويَرأأ عَ أأأسخم

.هر رلأَدالله

.ينسَعستَةأرلماَهي َصي َن زَفقأو

َ عستَه لاغوَ ينسَعبرأَهر رأوَ رهشاَ تسَفملاَفقأو

.رهشا

سافنلاوَضيلحباَمريحَام

َ وعلاو ةلاعلاَ :مايشأَ يناثمَ لافنلاوَ صيلجَ ر حيُو

َ دجسلماَلوخدوَ هلحموَفحعلماَس و َرآرقلاَةمارقو

اوَ فاوطلاو

. ررلاوَةرسلاَيبَاخَعاتمتسلااوَ مطحول

بنلجاَىلعَمنر يحَام

َ رآرقلاَةمارقو َةلاعلا:َمايشأَ سخمَاللهن لجاَىلعَ ريُو

.دجسلماَهَث لُّلاوَ فاوطلاو َهلحموَفحعلماَس و

(12)

12

Berhadats

Diharamkan bagi orang yang berhadats, tiga perkara, yaitu: (1) shalat, (2) thawaf, (3) menyentuh mushaf dan membawanya.

ثِدْحنلماَىلعَمريحَام

َ فاوطلاوَ ةلاعلاَ :مايشأَ ثلاثَ ثدلمحاَ ىلعَ ريُو

.هلحموَفحعلماَس و

(13)

13

KITAB SHALAT

Shalat Fardhu ada lima, yaitu:

1. Zhuhur, awal waktunya ketika bergeser matahari, dan diakhiri ketika bayangan sesuatu sama panjang dengan sesuatu itu setelah berlalu bayangan rembang. 2. Ashar, awal waktunya adalah ketika

bayangan sesuatu melebihi sesuatu itu, dan waktu terakhirnya –Di saat menjadi pilihan terakhir- adalah panjang bayangan dua kali lipat dari benda itu sendiri, dan waktu yang masih diperbolehkan adalah sampai terbenam matahari.

3. Maghrib, waktunya satu, yaitu ketika matahari terbenam. Ukuran lamanya adalah total waktu azan, wudhu, menutup aurat, mendirikan shalat, dan shalat lima rakaat (yaitu tiga rakaat shalat Maghrib, dan ditambah dua rakaat shalat sunah setelah Maghrib). 4. Isya, awal waktunya adalah ketika

syafaq (cahaya di ufuq) berwarna merah telah hilang. Sedangkan waktu akhirnya –ketika menjadi pilihan terakhir- adalah sampai sepertiga malam19, sedangkan

waktu yang masih diperbolehkan adalah sampai terbit fajar kedua (fajar shadiq)20.

5. Subuh, awal waktunya adalah dengan terbit fajar kedua, dan diakhiri –saat menjadi pilihan terakhir- sampai suasana semakin terang, dan waktu yang masih diperbolehkan adalah sampai terbit fajar.

Syarat Wajib Shalat

Pasal. Syarat-syarat wajib shalat ada tiga

perkara, yaitu: (1) Islam, (2) baligh, dan (3)

ةلاصلاَباتك

:سخمَ ضورفلماَةلاعلا

ََفأأظَراأأصَاذإَهرأأخآوَ سمأأ لاَلاوزَاأأهتقوَلوأوَ:رأأهتلا

َميأأشَفأأر

.لاوزأألاَفأأظَدأأأعبَهأأل

َ

َاأأأهتقوَلوأوَ:رأأععلاو

َفأأأأأظَلىإَراأأأأأيتخلااَهَهرأأأأأخآوَ فأأأأأ هلماَفأأأأأظَىأأأأألعَةديازأأأأألا

.سم لاَبورغَلىإَزاولجاَهو يل لما

َرادأأقخوَ سمأأ لاَبورأأغَوأأهوَ دأأاللهاوَاأأهتقووَ:برأأ لماو

َيلأعيوَ ةلاأعلاَ يأقيوَ ةروأعلاَترأسيوَ نيأضوتيوَره ذذأيَا

أأأغَاذإَاأأأهتقوَلوأوَ:ماأأأ علاوَ.تاأأأعررَسأأأخم

َقفأأأ لاَبا

َزاوأأألجاَهوَ فأأأيللاَثأأألثَلىإَراأأأيتخلااَهَهرأأأخآوَ رأأأحملأا

.نيا لاَرجفلاَعولطَلىإ

َهَ هرخآوَ نيا لاَ رجفلاَ عولطَ اهتقوَ لوأوَ :ح علاو

.سم لاَعولطَلىإَزاولجاَهوَ رافسعاَلىإَرايتخلاا

ةلاصلاَبوجوَطورش

:فع

َ لاسعاَ :مايشأَ ثلاثَ ةلاعلاَ بوجوَ طئارشو

19 Pendapat yang rajih Insya Allah adalah sampai pertengahan malam sebagaimana dalam Shahih Muslim. Dan untuk

mengetahui pertengahan malam adalah dengan membagi dua antara terbenam matahari dengan terbit fajar, wallahu a’lam.

(14)

14 berakal, inilah batasan mukallaf.

Shalat-Shalat Sunah

Shalat-shalat sunah ada lima, yaitu: shalat dua hari raya, shalat dua gerhana (matahari dan bulan), dan shalat istisqa’ (meminta diturunkan hujan).

Shalat-Shalat Yang Mengiringi Shalat Fardhu

Shalat-shalat yang mengiringi shalat fardhu ada tujuh belas rakaat, yaitu: dua rakaat fajar, empat rakaat sebelum Zhuhur dan dua rakaat setelahnya, dua rakaat setelah Zhuhur, empat rakaat sebelum Ashar, dua rakaat setelah Maghrib, dan tiga rakaat setelah Isya, yaitu ketika (shalat sunah dua rakaat setelah Isya) ditambah shalat witir satu rakaat.

Shalat-Shalat Sunah Yang Ditekankan

Ada tiga shalat sunah yang ditekankan, yaitu: shalat malam, shalat Dhuha, dan shalat Tarawih.

Syarat-Syarat Shalat

Pasal. Syarat-syarat shalat, yakni sebelum

mendirikannya ada lima, yaitu: (1) suci anggota badan dari hadats dan najis, (2) menutup aurat dengan pakaian yang suci, (3) berdiri di tempat yang suci, (4) mengetahui masuknya waktu shalat, (5) menghadap kiblat.

Boleh tidak menghadap kiblat dalam dua keadaan, yaitu: ketika suasana sangat menakutkan, dan ketika shalat sunah pada saat bersafar di atas kendaraan.

Rukun-Rukun Shalat

Pasal. Rukun shalat ada delapan belas, yaitu: (1)

niat, (2) berdiri ketika mampu, (3) takbiratul

لاو

.َفيلكتلاَداللهَوهوَ فقعلاو َ ول

ةنونسلماَتاولصلا

َ را وسكلاوَ راديعلاَ :سخمَ تنونسلماَ تاولعلاو

.ماقستسعاو

ضئارفللَةعباتلاَننسلا

َ رجفلاَاتعررَ: عررَر عَ ع سَصئارفللَ عباتلاَننسلاو

َ رععلاَ ف قَ عبرأوَ هدعبَ راتعرروَ رهتلاَ ف قَ عبرأو

َدعبَثلاثوَ بر لماَدعبَراتعررو

َةداللهاوبَرتويَما علا

.نهن

تادكؤلماَلفاونلا

َىح لاَةلاصوَ فيللاَةلاصَ:تادرذ َف اونَثلاثو

.حيواترلاَةلاصو

ةلاصلاَطورش

فع

َ:مايشأَ سخمَاهي َلوخدلاَف قَةلاعلاَطئارشو:

َةروعلاَ ترحسو َ سحجنلاوَ ثحدحلاَ ن َ ما علأاَ ةراهط

َ لعلاوَ رهاطَ راك َ ىلعَ فوقولاوَ رهاطَ لا لب

َوخدب

. ل قلاَلا قتساوَ تقولاَل

َ

َهوَ فولخاَ ةدشَ هَ :يتلااللهَ هَ ل قلاَ كرتَ زويجو

. لاللهارلاَىلعَرفسلاَهَ ل انلا

ةلاصلاَناكرأ

فع

َع َ ايقلاوَ ينلاَ:انررَر عَ يناثمَةلاعلاَراررأو:

(15)

15 ihram, (4) membaca Al Fatihah –dan ucapan

Bismillahirrahmanirrahim adalah salah satu

ayatnya21, (5) ruku, (6) thuma’ninah22 ketika

ruku, (7) i’tidal setelah ruku’, (8) thuma’ninah ketika i’tidal, (9) sujud, (10) thuma’ninah ketika sujud, (11) duduk antara dua sujud, (12) thuma’ninah ketika duduk antara dua sujud, (13) duduk terakhir, (14) bertasyahhud pada saat duduk terakhir, (15) bershalawat kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa saallam, (16) mengucapkan salam pertama, (17) niat keluar dari shalat, (18) Tertib rukun sesuai yang kami sebutkan.

Sunah-Sunah Shalat

Sunah-sunah sebelum masuk ke dalam ibadah shalat ada dua, yaitu: azan dan iqamat.

Setelah masuk ke dalam shalat ada dua perkara, yaitu: bertasyahhud awal, dan membaca qunut di waktu Subuh23 dan di waktu shalat witir pada

pertengahan kedua bulan Ramadhan24.

Haiat (Rupa) Shalat

Haiat shalat (sunah yang jika ditinggalkan tidak perlu sujud sahwi) ada lima belas, yaitu: (1) mengangkat kedua tangan ketika takbiratul ihram, ketika ruku, dan bangun dari ruku (2) meletakkan tangan kanan di atas tangan kiri, (3) membaca doa tawajjjuh (iftitah), (4) membaca ta’awwudz, (5) membaca jahar (keras) pada shalat yang dijaharkan dan membaca sir (pelan)

افلاَ ةمارقوَ اراللهعاَ ةير كتوَ ةردقلا

َاللَ سب(و

اهن َ يآَ) ياللهرلاَنحمرلا

َوَعوررلاو

َع رلاوَ هي َ نيننيمطلا

َ هي َ نيننيمطلاوَ دوجسلاوَ هي َ نيننيمطلاوَ لادتعلااو

َلوللجاوَ هي َ نيننيمطلاوَ يتدجسلاَ يبَ لوللجاو

َهيلعَاللَىلصَبنلاَىلعَةلاعلاوَ هي َده تلاوَيرخلأا

َ ةلاعلاَن َجورلخاَ ينوَ لىولأاَ ميلستلاوَ هي َ لسو

.هنررذَا َىلعَراررلأاَاللهيترتو

اَننس

ةلاصل

. اقعاوَ راذلأاَ:رائيشَاهي َلوخدلاَف قَاهننسو

َهَتونقلاوَ لولأاَده تلاَ:رائيشَاهي َلوخدلاَدعبو

.را رَرهشَن َنيا لاَفعنلاَهَرتولاَهوَ ح علا

ةلاصلاَتآيه

َةير كتَ دنعَ نيديلاَ ع رَ : لعحخَ ر عَ سخمَ اتهآيهو

َىلعَ يميلاَ عضووَ هن َ ع رلاوَ عوررلاَ دنعوَ اراللهعا

َهعضو َ هَ رهلجاو َ ةذاعتسلااوَ هُّجوحتلاوَ لام لا

َ افلاَدعبَةروسلاَةمارقوَ ي نيتلاوَ هعضو َهَرارسعاو

21 Oleh karena itu, tetap dibaca meskipun pada shalat yang dijahar(keras)kan boleh disir(pelan)kan bacaan

basmalahnya.

22 Yakni tenang atau diam sejenak seukuran satu kali tasbih.

23 Hadits yang mensyariatkan qunut Subuh, yaitu “Maa zaala Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam yaqnutu fil fajri

hattaa faaraqadd dunyaa” (Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam senantiasa qunut di waktu Subuh hingga meninggal

dunia) di dalam sanadnya ada Abu Ja’far Ar Raaziy dia laisa bil qawiy (tidak kuat haditsnya), sehingga hadits tersebut tidak bisa dipakai hujjah.

24 Hal ini berdasarkan riwayat Muhammad bin Nashr bahwa ia bertanya kepada Sa’id bin Jubair tentang awal mula

dilakukan qunut pada shalat witir, ia menjawab, “Umar bin Al Khaththab mengirim pasukan, lalu pasukan itu terjebak di suatu tempat, ia (Umar) mengkhawatirkan keadaan mereka, maka ketika pertengahan terakhir bulan Ramadhan, ia melakukan qunut mendoakan mereka.”

Ini adalah qunut yang ditambahkan nazilah, adapun qunut tanpa nazilah maka tetap disunahkan pada shalat witir baik di dalam bulan Ramadhan atau di luar Ramadhan berdasarkan keumuman hadits Al Hasan bin Ali radhiyallahu’anhuma.

(16)

16 pada shalat yang disirkan bacaannya, (6) mengucapkan amin, (7) membaca surah lain setelah Al Fatihah, (8) membaca takbir ketika bangun dan ketika turun, (9) mengucapkan “Sami’allahu liman hamidah-Rabbanaa lakal

hamdu-, (10) membaca tasbih ketika ruku, (11)

membaca tasbih ketika sujud, (12) meletakkan kedua tangan di atas kedua paha ketika duduk sambil membuka telapak tangan kirinya dan menggenggam jari-jari tangan kanannya kecuali jari telunjuk sambil bertasyahhud, (13) duduk iftirasy pada setiap duduk, (14) duduk tawarruk pada saat duduk terakhir, (15) salam yang kedua.

Beberapa Perbedaan Shalat Wanita Dengan Laki-Laki

Pasal. Seorang wanita berbeda dengan laki-laki

dalam lima perkara, yaitu: (1) laki-laki menjauhkan sikutnya dari lambungnya, (2) laki-laki menjauhkan perutnya dari kedua pahanya ketika ruku dan sujud, (3) laki-laki menjahar(keras)kan suaranya pada shalat yang dijaharkan, (4) ketika terjadi kekeliruan dalam shalat, maka laki-laki bertasbih, dan (5) aurat laki-laki adalah antara pusar dan lututnya. Adapun wanita, maka perbedaannya adalah (1) perempuan mendekatkan sikunya25, (2)

perempuan memelankan suaranya di hadapan laki-laki asing, (3) jika terjadi sesuatu dalam shalat, maka ia menepuk tangannya, dan (4) semua badan wanita merdeka adalah aurat selain muka dan telapak tangannya.

Adapun budak wanita, maka seperti laki-laki.

Hal-Hal Yang Membatalkan Shalat

Pasal. Hal-hal yang membatalkan shalat ada

sebelas perkara, yaitu: (1) berbicara dengan sengaja, (2) melakukan banyak perbuatan (di

َنلمَ اللَ عسمَ لوقوَ صفلخاوَ ع رلاَ دنعَ تاير كتلاو

لَانبرَهدحم

َ دوجسلاوَعوررلاَهَحي ستلاوَ دملاَك

َطس يَ لوللجاَ هَ نيةخفلاَ ىلعَ نيديلاَ عضوو

َابهَ ير يَ هنإ َ حه حس لماَ لاإَ نىميلاَ ص قيوَ ىرسيلا

َهَ كروتلاوَ تاسللجاَ عيجَ هَ شاتر لااو َ اده ت

. ينا لاَ ميلستلاو َةيرخلأاَ سللجا

لجرلاَهيفَةأرلماَفلاتخَام

فأأأأع

اَفلاأأأأتخَةأرلماو:

َفأأأأأجرلا َ:مايأأأأشأَ أأأأسخمَهَفأأأأجرل

َهَهأأأأيةخ َنأأأأعَهأأأأنطبَفأأأأه ق أيو َهأأأأيح نجَنأأأأعَهأأأأيق ره َهاأأأأ يج

َهأأأأأبنَاذإوَ رأأأأهلجاَعأأأأأضو َهَرأأأأهيجوَ دوجأأأأأسلاوَعوأأأأررلا

َهترأأأأسَيأأأأبَاأأأأ َفأأأأجرلاَةروأأأأعوَ ح أأأأسَةلاأأأأعلاَهَميأأأأش

.هت ررو

َةر بحَاتهوصَصف حتخوَ صعبَلىإَاه عبَ تَةأرلماو

َ ميشَ ابهنَ اذإوَ اللهناجلأاَ لاجرلا

َةلاعلاَ ه

َ.اهيفروَ اههجوَ لاإَ ةروعَ ةرلاَ ردبَ عيجو تقفص

.َفجرلارَ ح لأاو

ةلاصلاَتلاطبم

فع

َ لاكلاَ :ائيشَ ر عَ داللهأَ ةلاعلاَ فط ي َ ةلاو:

25 Menurut Syaikh Al Albani, bahwa praktek shalat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berlaku sama bagi laki-laki

maupun wanita, dan tidak ada dalam As Sunnah dalil yang menunjukkan pengecualian bagi wanita, bahkan sabda Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam “Shaallu kamaa ra’aytumuni ushalli,” (artinya: Shalatlah kalian sebagaimana kalian lihat aku shalat) berlaku pula bagi wanita. Ini juga adalah pendapat Ibrahim An Nakha’i, ia berkata, “Wanita melakukan hal yang sama dengan laki-laki dalam shalat.” (Lihat Shifat Shalatin Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam karya Syaikh Al Albani).

(17)

17 luar gerakan shalat), (3) berhadats, (4) adanya najis (5) terbuka aurat, (6) merubah niat, (7) membelakangi kiblat, (8) makan, (9) minum, (10) tertawa terbahak-bahak, (11) murtad.

Rakaat Shalat Fardhu

Pasal. Rakaat shalat fardhu ada tujuh belas

rakaat. Di sana terdapat 34 kali sujud, 94 kali takbir, 9 kali tasyahhud, 10 kali salam, dan 153 tasbih.

Jumlah rukun dalam shalat totalnya ada 126 rukun. Pada shalat Subuh ada 30 rukun, pada shalat Maghrib ada 42 rukun, sedangkan pada shalat yang jumlahnya empat rakaat ada 54 rukun.

Barang siapa yang tidak sanggup berdiri dalam shalat fardhu, maka ia boleh shalat sambil duduk. Dan barang siapa yang tidak bisa shalat sambil duduk, maka ia bisa shalat sambil berbaring.

Pasal. Perkara yang ditinggalkan dalam shalat

ada tiga perkara, yaitu yang fardhu, yang sunah, dan yang hai’at.

Yang fardhu tidak bisa digantikan oleh sujud sahwi, bahkan kalau seseorang ingat dan waktu ingatnya dekat, maka ia lakukan yang fardhu itu, mendasari shalat di atasnya, lalu sujud sahwi.

Yang sunah tidak perlu kembali lagi apabila telah melakukan yang fardhu, akan tetapi hendaknya ia melakukan sujud sahwi.

Adapun sunah haiat, maka tidak perlu mengulangi kembali ketika ditinggalkan dan tidak perlu sujud sahwi.

Jika seseorang ragu jumlat rakaat yang telah dikerjakannya, maka ia lakukan berdasarkan rakaat yang yakin, yaitu jumlah paling sedikit,

َ ساجنلاَ ثوداللهوَ ثدلاوَ ير كلاَ فمعلاو َ دمعلا

َفرلأاوَ ل قلاَرجدتساوَ ينلاَيري توَ ةروعلاَفا كناو

َ هقهقلاو َبر لاو

.ةده رلاو

ضئارفلاَتاعكر

فأأأأأع

َعأأأأأبرأَاهي أأأأأعررَرأأأأأ عَ ع أأأأأسَصئارأأأأأفلاَتاعررو

َعأأأأأأأأستوَ ةيرأأأأأأأأ كتَروعأأأأأأأأستوَعأأأأأأأأبرأوَ ةدجأأأأأأأأسَروأأأأأأأأثلاثو

َروأأأسخموَثلاأأأثوَ أأأئا و َتاميلأأأستَرأأأ عوَ تادهأأأ ت

. حي ست

َه:َاأأنررَرورأ عوَ تأأسوَ أئا َ:ةلاأأعلاَهَراأررلأاَ ألجو

اأنررَروأعبرأوَراأنثاَبرأ لماَهو َانررَروثلاثَح علا

َ

َهو

.انررَروسخموَ عبرأَ يعجرلا

َنأأأ وَ اأأأسلاجَىلأأأصَ أأأ يرفلاَهَ اأأأيقلاَنأأأعَزأأأحجعَنأأأ و

.اع هجحط َىلصَلوللجاَنعَزجع

فأأع

َ نأأأسوَ ضرأأ َ:مايأأشأَ أأثلاثَةلاأأعلاَنأأ َكوترلماو:

. ئيهو

َهرأأأأأرذَرإَفأأأأأبَوهأأأأأسلاَدوجأأأأأسَهأأأأأنعَبوأأأأأنيَلاَضرفلاأأأأأ

.وهسللَدجسوَ هيلعَنىبوَ هبَىتأَاللهيرقَرا زلاو

َ نسلاو

َدجأسيَهأنكلَ ضرأفلجَسُّ أحلتلاَدأعبَاأهيلإَدوعيَلا

.اهنعَوهسلل

َ.َاهنعَوهسللَدجسيَلاوَاهررتَدعبَاهيلإَدوعيَلاَ ئيلهاو

َىأأألعَنىأأأبَتاأأأعررلاَنأأأ َهأأأبَىأأأتأَاأأأ َددأأأعَهَكأأأشَاذإو

.وهسللَدجسوَفقلأاَوهوَيقيلا

(18)

18 kemudian melakukan sujud sahwi.

Sujud sahwi adalah sunah, dan dilakukan sebelum salam26.

Pasal. Ada lima waktu yang tidak boleh

dilakukan shalat kecuali shalat yang mempunyai sebab, yaitu: (1) setelah shalat Subuh sampai terbit matahari, (2) ketika terbit matahari sampai sempurna dan naik setinggi satu tombak27, (3) ketika matahari berada di

tengah-tengah sampai bergeser28, (4) setelah shalat

Ashar sampai tenggelam matahari, (5) ketika matahari tenggelam sampai sempurna tenggelamnya.

Shalat Berjamaah

Pasal. Shalat berjamaah sunnah muakkadah

(yang sangat ditekankan)29. Bagi makmum harus

memasang niat untuk mengikuti; bukan bagi imam.

Diperbolehkan orang merdeka bermakmum kepada budak, dan orang yang baligh bermakmum kepada orang yang hampir baligh. Dan tidak sah laki-laki bermakmum kepada wanita, demikian pula orang yang bisa membaca kepada orang yang tidak bisa membaca30.

Makmum yang shalat di tempat mana pun dalam masjid mengikuti shalatnya imam, sedangkan imam tahu shalatnya itu, maka sah hukumnya selama tidak maju melebihinya. Jika imam shalat di dalam masjid, lalu makmum shalat di luarnya namun dekat dengannya, dan

. لاسلاَف قَهُّلحُوَ نسَوهسلاَدوجسو

فع

اهي َى لعيَلاَتاقوأَ سخمو:

َ

َ:الله سَالهَةلاصَلاإ

َاهعولطَدنعوَ سم لاَعلطتَتىاللهَح علاَةلاصَدعب

َ لوزتَتىاللهَتوتساَاذإو َح رَردقَعفترتوَف اكتتَتىالله

َبور لاَدنعوَ سم لاَب ر تَتىاللهَرععلاَةلاصَدعبو

.ابهورغَف اكتيَتىالله

ةعاملجاَةلاص

فع

َرأَ و نيأأأألماَىأأأألعوَ ةدأأأأرذ َ نأأأأسَ أأأأعاملجاَةلاأأأأصو:

عاَرودَ امتئلااَ وني

.َ ا

.قههارلمجَغلا لاوَ د علجَرلاَتميأَرأَزويجو

.يه بأَئراقَلاوَ ةأر جَفجرَةودقَحعتَلاو

َوأأأهوَ هأأأي َ اأأأ عاَةلاأأعبَدجأأأسلماَهَىلأأأصَعأأضو َ أو

.هيلعَ دقتيَلمَا َهأزجأَهتلاعبَلماع

َهن َا يرقَدجسلماَجراخَ و نيلماوَدجسلماَهَىلصَرإو

جَكانهَفئااللهَلاوَ هتلاعبَلماعَوهو

.زا

26 Bisa juga setelah salam. Al Hafizh Abu Bakar Al Baihaqi, “Yang dekat dengan kebenaran adalah boleh kedua-duanya

(sebelum atau setelah salam), dan inilah yang dipegang oleh sahabat-sahabat kami (dari kalangan ulama yang semadzhab).”

27 Jarak antara syuruq (terbit matahari akhir waktu shalat Subuh) dengan naiknya matahari setinggi satu tombak

kira-kira 15 sampai 20 menit, wallahu a’lam.

28 Jarak antara istiwa (matahari di tengah-tengah) dengan bergeser ke barat (tanda waktu Zhuhur) kira-kira 5 menit,

wallahu a’lam.

29 Sebagian ulama berpendapat wajib. Dan pendapat ini yang kami rajihkan.

30 Seperti bermakmumnya seorang yang baik dalam membaca surat Al Fatihah kepada orang yang tidak hapal surah

(19)

19 imam mengetahui shalatnya serta tidak ada penghalang antara keduanya di sana, maka boleh.

Shalat Musafir

Pasal. Dibolehkan bagi musafir mengqashar

(mengurangi menjadi 2 rakaat) shalat yang empat rakaat dengan lima syarat: (1) safarnya bukan untuk maksiat, (2) jarak safarnya adalah 16 farsakh31, (3) melakukan shalat yang empat

rakaat, (4) berniat qashar ketika takbiratul ihram, (5) tidak bermakmum kepada yang mukim.

Bagi musafir boleh menggabung antara Zhuhur dengan Ashar di salah satu waktunya, dan anatar Maghrib dengan Isya di salah satu waktunya.

Dan bagi orang yang tidak safar juga boleh menjamak antara kedua shalat itu di waktu yang pertama ketika hujan.

Shalat Jum’at

Pasal. Syarat wajib shalat Jum’at ada tujuh

perkara, yaitu: (1) muslim, (2) baligh, (3) berakal, (4) merdeka, (5) laki-laki, (6) sehat, (7) sebagai tempat tinggalnya.

Syarat melaksanakan shalat Jum’at ada tiga, yaitu: (1) tempatnya berupa kota atau desa, (2) 40 jamaah Jum’at harus terdiri dari Ahli Jum’at (orang yang berkewajban shalat Jum’at)32, (3)

waktunya cukup untuk melakukan shalat. Jika waktunya sudah lewat atau syarat-syaratnya tidak terpenuhi, maka diganti dengan

رفاسلماَةلاص

فأأأأأع

َسأأأأأمبخَ أأأأأيعجرلاَةلاأأأأأعلاَ رأأأأأعحقَر اأأأأأسمللَزويجو:

. يعع َيرغَهَهرفسَروكيَرأَ:طئارش

.اخحسر َر عَ تسَهت اس َروكتَرأو

.َ يعجرلاَةلاعللَيادذ َروكيَرأو

.َ اراللهعاَع َرعقلاَ ونيَرأو

. يق خَتميأَلاَرأو

َرأأأععلاوَرأأأهتلاَيأأأبَعأأأميجَرأَر اأأأسمللَزوأأأيجو

َتأأأقوَه

.ماشَامهيأَتقوَهَما علاوَبر لماَيبوَ ماشَامهيأ

َلىولأاَتأقوَهَاأمهنيبَعأميجَرأَرطلماَهَرضاحللَزويجو

َامهن

ةعنمنلجاَةلاص

فع

َ لاأأأأأأسعا:مايشأَ ع أأأأأسَ أأأأأأعملجاَبوأأأأأجوَطئارأأأأأشو:

َ حأأأأأأأأعلاوَ أأأأأأأأيرورةلاوَ أأأأأأأأيرلاوَ فأأأأأأأأقعلاو َ وأأأأأأأأل لاو

.راطيتسلااو

روأكيَرأَ: أثلاثَاهلع َطئارشو

َ

َرأوَ أيرقَوأَارأعه َدأل لا

َتأأقولاَروأكيَرأوَ أعملجاَفأهأَنأ َيأعبرأَددأعلاَروأكي

.ايقج

31 1 farsakh = 4800 m, 16 farsakh = 76800 m/76,8 km (atau digenapkan menjadi 80 km).

32 Namun ada riwayat dari Jabir radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkhutbah dalam

keadaan berdiri, lalu datang rombongan dari Syam (membawa barang dagangan), kemudian orang-orang pergi mendatanginya sehingga tidak tersisa di masjid selain 12 orang (HR. Muslim). Hadits ini menunjukkan tidak disyaratkan jumlah tertentu untuk shalat Jum’at.

(20)

20 shalat Zhuhur.

Fardhu-fardhunya ada tiga, yaitu: (1) ada dua khutbah sambil berdiri (2) disela-selahi duduk, (3) dilakukan sebanyak dua rakaat secara berjamaah.

Perilaku yang disunahkan ada empat, yaitu: (1) mandi dan membersihkan badan, (2) memakai pakaian putih, (3) menggunting kuku, (4) memakai wewangian.

Dianjurkan33 diam ketika khutbah berlangsung.

Barang siapa yang masuk masjid sedangkan imam berkhutbah, maka ia tetap melakukan shalat dua rakaat (tahiyatul masjid) secara ringan lalu duduk.

Shalat Iedain

Pasal. Shalat Iedain hukumnya sunnah mu’akkad (yang sangat ditekankan). Jumlahnya ada dua rakaat. Pada rakaat pertama bertakbir sebanyak tujuh kali selain takbiratul ihram, sedangkan pada rakaat kedua sebanyak lima kali takbir selain takbir ketika berdiri.

Demikian pula hendaknya imam berkhutbah sebanyak dua kali, dimana pada khutbah pertama ia bertakbir sebanyak sembilan kali, dan pada khutbah kedua ia bertakbir sebanyak tujuh kali34.

Takbiran dilakukan sejak matahari tenggelam pada malam Iedul Fitri hingga imam memulai shalat.

Sedangkan pada Idul Adh-ha takbiran dibaca setelah shalat fardhu dari Subuh hari Arafah sampai Ashar akhir hari tasyriq.

.ارهظَتيه ل صَطور لاَت هد عَوأَتقولاَجرخَرإ

َرأوَ اأمهنيبَسأليجوَامهي َ وقيَرات طخ: ثلاثَاه ئار و

.َ عاجَهَيتعررَى لعت

َس أأألوَ دأأأسلجاَفأأأيتنتوَفأأأس لاَ:لاأأأعخَعأأأبرأَاأأأتهآيهو

َباي لا

.اللهيه طلاوَ رفتلاَةخأوَ صي لا

. طلخاَتقوَهَتاعنعاَاللهحتسيو

َثمَيأأأأتفيفخَيأأأأتعررَىلأأأأصَاللهأأأأطيخَ اأأأأ عاوَفأأأأخدَنأأأأ و

.سليج

نيديعلاَةلاص

:فع

َهَ ه رأحكيَراأتعررَيهو َةدرذ َ نسَنيديعلاَةلاصو

َاأأأأسخمَ أأأأينا لاَهوَ ارأأأأاللهعاَةيرأأأأ كتَىوأأأأسَاع أأأأسَلىولأا

. ايقلاَةير كتَىوس

َاهدعبَاللهطيخو

َ أينا لاَهوَاعأستَلىولأاَهَرأكيَيأت طخ

َرأَلىإَدأيعلاَ أليلَنأ َسمأ لاَبورأغَن َركيوَ.َاع س

.َةلاعلاَهَ ا عاَفخدي

َ وأيَح أصَن َتاضورفلماَتاولعلاَفلخَىحضلأاَهو

.قير تلاَ ياأَرخآَن َرععلاَلىإَ رع

33 Bahkan wajib.

34 Imam Syafi’i (Al Umm 1/211) meriwayatkan dari Ubaidullah bin Abdullah bin Utbah, ia berkata, “Sunnahnya, imam

berkhutbah pada dua hari raya sebanyak dua kali, dimana ia sela-selahi antara keduanya dengan duduk.”

Imam Baihaqi (3/299) meriwayatkan dari Ubaidullah bin Abdullah bin Utbah, ia berkata, “Sunnahnya khutbah (Ied) diawali dengan takbir sebanyak sembilan kali berturut-turut, dan pada khutbah kedua (diawali) takbir sebanyak tujuh kali secara berturut-turut.”

Namun menurut penyusun Fiqhussunnah, bahwa semua riwayat yang menyebutkan bahwa khutbah ied itu dua kali yang imam melakukan duduk di sela-selanya adalah dhaif. Imam Nawawi berkata, “Tidak ada riwayat yang shahih tentang melakukan khutbah beberapa kali.”

(21)

21

Shalat Kusuf (Gerhana Matahari) dan Khusuf (Gerhana Bulan)

Pasal. Shalat kusuf hukumnya sunnah mu’akkad. Jika terlewatkan tidak perlu diqadha’.

Shalat Kusuf dan khusuf dilakukan dua rakaat. Setiap rakaatnya dua kali berdiri dengan memanjangkan bacaan di sana, demikian pula dua kali ruku dengan memanjangkan tasbih di sana; tidak pada saat sujud.

Setelah itu berkhutbah dua kali.

Untuk shalat gerhana matahari bacaan disir(pelan)kan, sedangkan untuk shalat gerhana bulan bacaan dijahar(keras)kan35.

Shalat Istisqa’ (Meminta Turunnya Hujan) Pasal. Shalat istisqa’ hukumnya sunah.

Sebelumnya imam memerintahkan manusia untuk bertobat, bersedekah, melepaskan diri dari kezaliman, berdamai dengan musuh36, dan

berpuasa tiga hari.

Selanjutnya imam keluar bersama mereka pada hari keempat mengenakan pakaian sederhana dan apa adanya sambil merendahkan diri. Lalu ia shalat bersama mereka seperti shalat dua hari raya, kemudian berkhutbah setelahnya dan memindahkan selendangnya, serta memperbanyak doa dan istighfar, serta berdoa dengan doa yang diajarkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, yaitu:

Ya Allah, jadikanlah hujan itu sebagai siraman rahmat, bukan siraman azab, tidak yang memusnahkan harta benda, bala musibah, merusak atau menenggelamkan37. Ya Allah,

turunkanlah hujan ke bukit-bukit, gundukan tanah, tempat-tempat tumbuhnya pepohonan,

فوسلخاوَفوسكلاَةلاص

فع

َلمَتأأأأأأتا َرإأأأأأ َ ةدأأأأأرذ َ نأأأأأسَفوأأأأأسكلاَةلاأأأأأصو:

َ ت

.حصق

ََهَ يأأتعررَرأأمقلاَفوأأسخوَسمأأ لاَفوأأسكلَىلأأعيو

َفأأأيطيَراأأأعوررو َاأأأمهي َةمارأأأقلاَفأأأيطيَراأأأ ايقَ أأأعررَفأأأر

.دوجسلاَرودَامهي َحي ستلا

.يت طخَاهدعبَاللهطيخو

.رمقلاَفوسخَهَرهيجوَسم لاَفوسرَهَرسيو

ءاقستسلااَةلاص

فع

َ أأبوتلجَ اأأ عاَ هر نيي نونأأس َماقأأستسلااَةلاأأصو:

َ قدأأأعلاو

َ ايأأأصوَمادأأأعلأاَ لاأأأع وَلماأأأتلماَنأأأ َجورأأألخاو

. ياأَ ثلاث

َ ناكتأأأأأساوَ أأأأحلْةهبَباأأأأيثَهَعأأأأبارلاَ وأأأأيلاَهَ أأأأبهَجرأأأأيخَثم

َاللهأأطيخَثمَ نيدأيعلاَةلاأعرَيأأتعررَ أبهَيلأعيوَ عرأ تو

َ راف تأأأسلااوَماعدأأألاَنأأأ َرأأأ كيوَ همادرَله وأأأيُوَ اهمدأأأعب

:وهوَ لسوَهيلعَاللَىلصَاللَلوسرَماعدبَوعديو

َ الَ ل

َنهَ م

َ

َْجا

َ عَْل

َ ه

َْقنسَا

َ ي

َ رَا

َ ْحم

َ ةَ

َ وَ لا

ََْ ت

َ عَْل

َ ه

َْقَنسَا

َ ي

َ عَا

َ ذ

َ با

َ وَ،

َ لاَ

َ َََََْ مَ

ََ و

َ لاَ

ََََََ ب

َ لا

َ ء

َ وَ،

َ لاَ

َََََ ه

َ مْد

ََ و

َ لاَ

ََََََ غ

َْرَ ق

َ

َ اَ،

َ لل

َََََنه

َ مَ

َ ع

ََََََ ل

َى

َ رِ ظلا

َِبا

ََ و

َْلا

َ ك

َِما

َ وَ،

َ مَ ن

َِبا

َ شلاَ ِت

َ ج

َِرَ

َ و

َنطنب

َْوَِن

َ

َ ْلأا

َْوَِدَ

يَِة

.

35 Dalam Fiqhussunnah diterangkan, bahwa boleh dijahar(keras)kan bacaannya dan disir(pelankan)kan (pada shalat

gerhana matahari maupun bulan). Namun Imam Bukhari berkata, “Dijaharkan lebih shahih.”

36 Yakni hendaknya orang yang bermusuhan karena urusan duniawi antara kaum muslimin berdamai. 37 Riwayat ini mursal, disebutkan Imam Syafi’i dalam Al Umm 1/222.

Referensi

Dokumen terkait

Selanjutnya Pasal 1 Angka (2) menyebutkan bahwa usaha kecil adalah usaha ekonomi produktif yang berdiri sendiri, yang dilakukan oleh orang perorangan atau badan

Selanjutnya Cash dan Pruzinsky (2002) juga menyebutkan bahwa terdapat beberapa faktor yang dapat mempengaruhi body dissatisfaction, yaitu : 1) Jenis Kelamin, Cash

Syarat yang harus terpenuhi selanjutnya yaitu barang yang dijadikan objek jual beli adalah milik orang yang melakukan akad, Dalam praktik jual beli buah-buahan dengan

1) Setelah berdiskusi, siswa dapat menyebutkan dua jenis musim yang ada di Indonesia dengan tepat. 2) Setelah mengamati gambar, siswa mampu menuliskan kosa kata yang

1) Importir menyampaikan kepada Kantor Surveyor di Jakarta, RIB (Rencana Impor Barang) dengan menyebutkan nama Bank Devisa (dimana bea masuk/pajak akan dibayar),

36 Tahun 1990 tentang Pengesahan Convention On The Right Of The Child dalam pasal 1 menyebutkan bahwa anak yaitu setiap orang dibawah usia 18 (delapan belas) tahun,

1) Barang yang dititipkan (wadi’ah), syarat barang yang dititipkan adalah barang atau benda itu merupakan sesuatu yang dapat dimiliki menurut syara’. 2) Orang yang

Menurut pasal 19 ayat (1) huruf (k) tersebut salah satu syarat untuk lulus dalam evaluasi kualifikasi peserta/calon peserta pengadaan barang/jasa pemerintah disamping