• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB 2 LANDASAN PERANCANGAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB 2 LANDASAN PERANCANGAN"

Copied!
17
0
0

Teks penuh

(1)

BAB 2

LANDASAN PERANCANGAN

2.1 Tinjauan Umum

Data data dan informasi yang digunakan untuk mendukung proyek tugas akhir ini akan diambil dari berbagai sumber, yaitu :

1. Literatur : media cetak (buku)

2. Sumber lain : penelitian yang relevan, artikel dan media internet 3. Wawancara / Interview dengan narasumber dari pihak yang terkait

Semua data dan informasi didapatkan dari :

1. Website, blog dan pencarian data-data lainnya yang diperlukan. 2. Kepustakaan / buku referensi dan literatur

Dari data yang dikumpulkan, maka didapatkanlah informasi, diantaranya adalah :

2.1.1. Pengertian Taman

Laurie (1986) mengemukakan bahwa asal mula pengertian kata taman (garden) dapat ditelusuri pada bahasa Ibrani gan, yang berarti melindungi dan mempertahankan; menyatakan secara tidak langsung hal pemagaran atau lahan berpagar, dan oden atau eden, yang berarti kesenangan atau kegembiraan. Jadi dalam bahasa Inggris perkataan “garden” memiliki gabungan dari kedua kata-kata tersebut, yang berarti sebidang lahan berpagar yang digunakan untuk kesenangan dan kegembiraan. Sedangkan menurut Djamal (2005), taman adalah sebidang tanah terbuka dengan luasan tertentu di dalamnya ditanam pepohonan, perdu, semak dan rerumputan yang dapat dikombinasikan dengan kreasi dari bahan lainnya. Umumnya dipergunakan untuk olah raga, bersantai, bermain dan sebagainya

(2)

2.1.2. Tentang Hidden Park

Gambar 2.1 Logo HiddenPark

Hidden Park merupakan suatu kampanye pengaktifan taman kota sebagai ruang publik kreatif sehingga menciptakan pengalaman baru berinteraksi dengan Ruang Terbuka Hijau (RTH). Pertama kali diadakan pada tahun 2012, Hidden Park juga merupakan sebuah eksperimen sosial yang terus berjalan untuk mengidentifikasi aspirasi masyarakat urban terhadap RTH dan memfasilitasi diskusi antar berbagai pemangku kepentingan untuk membuahkan kemitraan. Pada saat yang bersamaan diharaphakan gerakan ini dapat memicu meluasnya budaya bertaman yang bertanggung jawab dan menumbuhkan sense of belonging warga kota terhadap taman-tamannya.

Hidden Park kami ingin memicu proses pembelajaran dan pengembangan konsep placemaking di ruang-ruang hijau kota. Melakukan hal ini dengan harapan dapat mendorong pendekatan kolaboratif dalam pengembangan dan pengelolaan Ruang Terbuka Hijau terutama taman-taman kota. HiddenPark memulai dengan mengangkat potensi tersembunyi dari taman-taman di Jakarta. Dengan perubahan-perubahan kecil yang dipicu oleh energi kreatif komunitas, sektor swasta, dan pemerintah ingin menunjukkan bawa visi ini bukan mustahil.

(3)

Banyak komunitas-komunitas yang tergabung dalam HiddenPark ini. Mereka melakukan beberapa kegiatan menarik yang menunjang tujuan utama HiddenPark contohnya Indonesia Berkebun, ID Tanam Pohon, Greenation Indonesia, Indonesia’s Sketchers, dan sebagainya.

2.1.3. Wawancara Narasumber

Hidden Park awalnya adalah salah satu program dari Leaf Plus, yaitu suatu lembaga yang menangani konsultasi lingkungan dengan salah satunya dengan berbasi ruang terbuka hijau. Dimulai dari tahun 2012, sampai sekarang sudah berjalan kurang lebih 3 tahun. Awalnya program ini hanya didukung oleh kementrian pekerjaan umum, namun seiring berjalannya, pihak swasta pun menjadi partner dalam penyelenggaraannya. Di tahun 2012, kementrian pekerjaan umum sebenarnya memiliki program bernama kota pusaka, dimana sekitar 60 kota harus mengembangkan ruang terbuka hijau yang salah satunya adalah taman.

Kebiasaan mengunjungi taman kota, bukan hanya milik masyarakat di negara-negara Barat, tetapi juga masyarakat Indonesia yang gemar kumpul di RTH. Banyak taman kota menyimpan segudang potensi yang belum dikembangkan secara optimal, sehingga sekilas mungkin tampak kurang menarik. Berdasarkan data Dinas Pertamanan dan Pemakaman DKI Jakarta, Jakarta memiliki lebih dari seribu taman. Bisa ditebak potensi taman di Jakarta sangatlah besar dan beragam. Jadi, budaya bertaman kita sebetulnya bukan tidak ada, namun belum tumbuh karena ketidaktahuan adanya taman kota yang bisa kita manfaatkan secara kreatif.

Road Map & Gerakan HiddenPark untuk Taman Kota: - Witness, Experience, Exposure

Menciptakan beragam pengalaman baru berinteraksi dengan taman kota melalui kegiatan dan kampanye kreatif.

- Identification of Collaborative Schemes

Tahap pelibatan berbagai sektor dalam skema kolaborasi dan kemitraan. - Co-Creation, Community Building

(4)

Dialog dan proses pembentukkan agenda bersama secara inklusif. - Collaborative Park Culture

Pengembangan budaya bertamanyang kreatif dan bertanggung jawab.

Saat ini HiddenPark terus mengembangkan konsep pengelolaan taman kota secara kolaboratif dengan pendekatan partisipatif yang terfokus pada anak muda dan komunitas yang kreatif (creative urban youth & communities) dan investasi CSR (Corporate Social Responsibility). Muncul pula ide “one community, one park” dalam rangka mendukung kawasan perkotaan sebagai creative cluster. HiddenPark juga tengah mengembangkan Parktivist dengan visi menuju aliansi taman kota (urban park alliance) di mana berbagai pemangku kepentingan dapat duduk bersama menanggapi isu dan memberikan solusi bagi persoalan taman kota di Indonesia.

2.1.4. Data Penyelenggara

(Better parks, better citizens)

Ruang Terbuka Hijau menyokong kehidupan kota. Lokasi-lokasi ini berfungsi menyaring polusi kendaraan bermotor dan menyerap kelebihan air di musim hujan menjadi air tanah. Dari Pantauan citra satelit (2009) diketahui Jakarta masih menyimpan potensi RTH sebesar 23,58%. Sementara luas RTH Publik Jakarta baru mencapai 10% masih jauh dari batas minimal tata ruang kota (UU No.26/2007 tentang Penataan Ruang) yaitu 20% untuk RTH Publik dan 10% untuk RTH Privat. Hal ini disebabkan RTH dan lahan basah, taman terbuka, dan rawa-rawa diubah menjadi perumahan, pusat perbelanjaan, dan kawasan industri. Pemerintah Provinsi DKI Jakarta telah berkomitmen untuk melakukan perluasan RTH secara fisik. Namun pada saat yang bersamaan perlu pula ditingkatkan public value ruang-ruang tersebut sehingga benar-benar menjadi ruang yang dinamis.

Selain fungsi ekologis, RTH terutama taman kota menyimpan segudang manfaat untuk warga kota yaitu sebagai ruang rekreasi, wisata, edukasi, kreasi dan bersosialisai. Warga kota Jakarta memang rindu akan ruang publik

(5)

yang dapat dijadikan ruang berkespresi dan menurut kami taman kota adalah lokasi yang tepat. Melalui Hidden Park kami mengidentifikasi bahwa taman kota merupakan ruang berbagi kebahagiaan. Kami percaya bahwa peningkatan kualitas taman kota dan RTH lain juga berarti peningkatan kualitas kehidupan warganya. (sumber dari : hiddenpark-id.com/about)

Menyebarkan pengaruh positif dan berbagi kesenangan adalah juga tujuan Hiddenpark. Ini lebih penting dari sekedar tolak ukur suatu kesuksesan kampanye publik. Hidden Park menyambut baik inisiatif kawan-kawan BCCF (Bandung Creative City Forum) yang terinspirasi untuk melangsungkan HiddenPark Bandung tak lama setelah HiddenPark Taman Langsat di Jakarta diadakan. HiddenPark Bandung dibuka pada 15 Desember 2012 di Taman Ganesha dengan mengadopsi konsep HiddenPark di Jakarta dan menjadi momentum pendirian “Culindra” komunitas pecinta taman pertama di Bandung. Hiddenpark Bandung merupakan lompatan besar bagi HiddenPark sebagai embrio yang mendorong gerakan kreatif dan inovatif terhadap aktivisme kaum muda dalam memanfaatkan taman kota di kota-kota lain di Indonesia. Culindra saat ini terus melaju bersama pemerintah kota Bandung untuk memaksimalkan potensi taman-taman kotanya. Pada kesempatan selanjutnya, Hidden Park juga banyak mendapat undangan kerja sama dari berbagai perusahaan untuk mewujudkan cita-cita terhadap taman kota yang lebih baik. Mereka adalah Panasonic yang turut menggagas kegiatan edukasi lingkungan kepada para pelajar, Indika Energy yang berpartisipasi menyediakan tempat bermain (playground), Coca Cola yang mendonasikan perlengkapan outdoor gym, Campina melalui dukungan Rumah Buku, dan lain-lain. Kemunculan HiddenPark Bandung dan partisipasi aktif berbagai perusahaan tersebut membuktikan bahwa isu taman kota menjadi persoalan yang penting untuk digalakan bersama melalui sinergi pemerintah pusat dan daerah, sektor swasta, komunitas, serta media massa dimana kita sebagai kaum muda amat berperan.

(6)

Gambar 2.2 Intalasi di HiddenPark (Taman Tanjung Barat & Taman Langsat)

Gambar 2.3 Aktivitas Olahraga di HiddenPark

(7)

Gambar 2.5 Intalasi di Hidden Park

2.1.5 Data Kasus

Dinas Pertamanan dan Pemakaman DKI Jakarta menyebutkan, jumlah taman di seluruh wilayah Jakarta mencapai 1.178 taman. Jika dilihat secara jumlah memang cukup banyak. Namun, kondisinya dianggap belum berhasil membuat Jakarta tampak lebih hijau dan lebih asri.

Dalam UU itu sebuah kota idealnya itu harus menyediakan 30 persen lahan terbuka hijau, 20 persen bagi publik, dan 10 persen bagi privat. Proporsi ruang terbuka hijau publik pada wilayah kota juga paling sedikit minimal 20 persen dari luas wilayah kota. Kemudian proporsi ruang terbuka hijau pada wilayah kota paling sedikit 30 persen dari luas wilayah kota. Sebelumnya, Dinas Pertamanan dan Pemakaman DKI Jakarta, seperti dikutip Antara, berencana menambah 40 hektare taman kota pada 2015. Tiap wilayah nantinya akan mendapat jatah perluasan 10 hektare, tersebar di Jakarta Barat, Jakarta Timur, Jakarta Utara, dan Jakarta Selatan. Adapun Jakarta Pusat tidak mendapat jatah penambahan. Sesuai data Dinas Pertamanan dan pemakaman DKI Jakarta, taman kota saat ini berjumlah delapan bidang atau bila diakumulasikan seluas 83,27 hektar. Sementara taman lingkungan memiliki luas 1.170 hektar.

(8)

2.1.6 Data Pendukung

2.1.6.1 Landasan Hukum

- UU NO 26 TAHUN 2007 TENTANG PENATAAN RUANG (PASAL 29)

30% dari wilayah kota berwujud Ruang Terbuka Hijau (RTH, 20% RTH publik dan 10% RTH privat.

- UU NO 28 TAHUN 2002 TENTANG BANGUNAN GEDUNG (PASAL 14 AYAT 4)

Persyaratan keseimbangan, keserasian, dan keselarasan bangunan gedung dengan lingkungannya harus mempertimbangkan terciptanya ruang luar bangunan gedung, ruang terbuka hijau yang seimbang, serasi, dan selaras dengan lingkungannya.

- PP NO 15 TAHUN 2010 TENTANG PENYELENGGARAAN PENATAAN RUANG (PASAL 36)

Rencana penyediaan dan pemanfaatan wilayah kota terbuka hijau publik kota min 20% dari luas wilayah kta, sedangkan privat min 10% dari luas wilayah kota. Apabila sudah lebih besar dari 30%, harus tetap dipertahankan.

2.1.7 Analisa SWOT

Strength :

- Banyaknya kegiatan-kegiatan seputar anak muda yang mulai dilakukan di taman

- Anak muda suka dengan sesuatu yang baru dan beda - Biaya gratis ke taman

(9)

Weakness :

- Akses ke taman terdekat belum terjangkau - Fasilitas di taman kadang kurang memadai - Image taman yang belum menarik

Opportunites :

- Event-event yang sering dilaksanakan di taman kota - Komunitas yang sering melakukan kegian di taman

Threats :

- Banyak pilihan destinasi lain yang menjadi pilihan untuk melakukan kegiatan

- Munculnya cafe-cafe tempat ngopi baru sebgai tempat unuk bercengkrama

2.1.8 Target Market

Demografik : Pria & Wanita, 17-27 tahun, Pendidikan Menengah s/d Perguruan Tinggi

Psikografik : Pelajar & Mahasiswa, Hobi mendengarkan musik, suka akan kegiatan oudoor

Geografik : Daerah-daerah di Jakarta Kelas Sosial : A – B

2.1.9 Kompetitor

Utama : Mall atau cafe yang memiliki fasilitas memadai

yang memungkinkan target market melakukan kegiatan & juga bersosialisasi

(10)

2.2 TINJAUAN KHUSUS

2.2.1 Landasan Teori

2.2.1.1 Teori Kampanye

Kampanye pada prinsipnya merupakan suatu proses kegiatan komunikasi individu atau kelompok yang dilakukan secara terlembaga dan bertujuan untuk menciptakan suatu efek atau dampak tertentu. Rogers dan Storey (1987) mendefinisikan kampanye sebagai “Serangkaian tindakan komunikasi yang terencana dengan tujuan untuk menciptakan efek tertentu pada sejumlah besar khalayak yang dilakukan secara berkelanjutan pada kurun waktu tertentu”

Sedangkan menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, kampanye adalah gerakan (tindakan) serentak (untuk melawan, mengadakan aksi, dsb) --promosi kampanye yg dilaksanakan dl rangka promosi untuk meningkatkan atau mempertahankan penjualan dsb: (mengampanyekan) mengadakan kegiatan untuk memperkenalkan seseorang atau sesuatu.

2.2.1.2 Teori Desain Komunikasi Visual

Menurut Drs. Sadjiman Ebdi Sanyoto (Drs. Sadjiman Ebdi Sanyoto,2006:32) bahwa Desain Komunikasi Visual adalah disiplin ilmu yang menjadi satu spesialisasi keilmuan. Beberapa kalangan membedakan antara Desain Komunikasi Visual denga Desain Grafis. Desain Komunikasi Visual lebih menekankan pada masalah komunikasi sedangkan Desain Grafis lebih menekankan pada masalah grafis. Desain Komunikasi Visual memiliki cakupan bidang ilmu yang cukup luas, meliputi semua desain atau rancangan sarana komunikasi yang bersifat kasat mata yaitu dapat dilihat dan diamati secara nyata.

(11)

2.2.1.3 Teori Website

Kriteria website yang baik adalah:

• Usability

Menurut Jakob Nielsen, usability melibatkan pertanyaan dapatkah

user menemukan cara untuk menggunakan situs web tersebut dengan efektif. Atau usability adalah sebagai suatu pengalaman pengguna dalam berinteraksi dengan aplikasi atau situs web sampai pengguna dapat mengoperasikan dengan mudah dan cepat situs web harus memenuhi lima syarat untuk mencapai tingkat usability yang ideal antara lain:

a. Mudah untuk dipelajari

Letakan isi yang paling penting pada bagian atas halamn agar pengunjung dapat menemukan dengan cepat.

b. Efisien dalam penggunaan

Jangan menggunakan link yang terlalu banyak. Sediakan seperlunya dan antarkan pengunjung untuk mencapai informasi dengan mudah dan cepat.

c. Tingkat kesalahan rendah

Hindari link yang tidak berfungsi atau halaman masih dalam proses pembuatan (under construction). Lebih baik jangan cantumkan link itu bilamana halaman yang di link belum tersedia.

d. Kepuasan pengguna

User harus dapat menemukan apa yang mereka cari, mendownload dengan cepat, mengetahui kapan mereka selesai, dan dapat dengan mudah memberitahukan site atau content yang mereka temukan pada teman mereka.

(12)

• Sistem Navigasi

Navigasi dapat ditampilkan dalam berbagai media yaitu teks, image ataupun animasi. Navigasi dari images dapat menawarkan banyak sekali variasi, misalnya dengan ikon, image, pengguna huruf dan bentuk yang lebih bebas.

• Content

Content yang baik akan menarik, relevan, dan pantas untuk target audience web tersebut. Gaya penulisan bahasa yang dipergunakan harus sesuai dengan web dan target audience. Hindari kesalahan

dalam penulisan, termasuk tata bahasa dan tanda baca, di tiap halaman header dan judul.

Cara membuat content yang baik:

a. Kenali audience, tulislah dengan gaya mereka dan sesuaikan dengan isinya.

b. Jaga content agar tetap up to date. Ini akan meningkatkan daya lekat situs web yang membuat user sering kembali.

c. Dahulukan kualitas diatas kuantitas. Usahakan kualitas content tercapai lebih dahulu dan kemudian jika memungkinkan baru mengejar kuantitas. Hal ini akan mendorong user untuk mengunjungi situs kita lagi

• Interactivity

Untuk situs web yang memungkinkan pengunjung berinteraksi dengan situs web, kita sebagai pemilik/pembuat, pengunjung lain dengan komputernya. Interaktivitas adalah apa yang melibatkan pengguna situs web sebagai user experience dengan situs web itu sendiri. Dasar dari interativitas adalah hyperlinks dan mekanisme feed back. Gunakan hyperlink untuk membawa pengunjung ke

(13)

sumber berita, topik lebih lanjut, topik terkait, atau lainnya, seperti link yang berbunyi more info about this, related links dan lain-lain.

2.2.1.4 Teori Web Page

Mengacu pada pendapat Jason Baeird dari Principles of Beautiful Web Design (2007:7) ada beberapa pembagian ada pembagian anatomi web page, antara lain :

a. Containing Block

Setiap web page membutuhkan container (wadah). Tanpa adanya container (wadah) maka tidak ada ruang untuk memasukan isi dari website.

b. Logo

Identity block menambah pengenalan brand dan memberitahu users bahwa halaman yang mereka lihat merupakan bagian dari satu website.

c. Navigation

Navigasi sistem yang mudah ditemukan dan digunakan sangatlah essensial dalam website. Users berharap menemukanan navigasi di sisi kanan atas web page.

d. Content

Konten mempunyai peranan penting dalam website. Dalam satu website, konten sangatlah essensial sebagai poin utama dalam suatu design sehingga users dapat mencari informasi yang merka butuhkan.

e. Footer

Terletak di sisi bawah halaman, footer berisikan copyright, contact number, dan informasi legal, juga links ke bagian itama website.

(14)

f. Whitespace

Istilah white space dalam graphic design adalah area yang tidak diisi dengan illustrasi maupun text. Tanpa adanya whitespace, halaman tersebut akan terlihat penuh. Whitespace menciptakan balance dan unity.

2.2.1.5 Teori Prinsip User Interface

Menurut Wilbert O’Galitz dari The Essential Guide of User Interface Design (2002:41) berpendapat bahwa prinsip design bertujuan untuk membuat user interface yang baik.

a. Aesthically Pleasing

Memberikan tampilan visual dengan mengikuti presentasi dan prinsip grafik desain:

• Memberikan perbedaaan antara elemen. • Menciptakan pengelompokkan.

• Meratakan elemen dan grup screen. • Memberikan representasi 3 dimensi.

• Menggunakan warna dan grafik yang sederhana dan efektif

Design estetika harus menarik karena menarik perhatian, menyampaikan pesan dengan cepat dan jelas. Kurangnya daya tarik visual mengakibatkan kebingungkan, mengsalah-artikan maksud atau makna, juga memperlambat dan membingungkan users.

b. Clarity

Tampilan web page secara visual, secara konsep, secara linguistik, harus mempunyai aspek tersebut:

(15)

• Fungsi • Metafora

• Teks dan kata-kata

Tampilan web page secara visual harus jelas, berkonsep, dan berstruktur kata. Elemen visual harus mudah dimengerti, berkaitan dengan konsep dan fungsi dalam dunia nyata.

c. Compabilty

Menyediakan compability atau kesuaian untuk faktor berikut:

• User

• Tugas dan pekerjaan

• Produk mengadaptasi perspektif user.

User compability. Design harus sesuai dan sesuai dengan kebutuhan klien atau user. Design yang efektif dimulai dengan pengertian kebutuhan user dang mengadaptasi sudut pandang user. Task and job compability. Sistem organisasi harus sesuai dengan tugas yang harus dikerjakan. Struktur dan alur fungsi harus memberikan transisi yang mudah.

d. Comprehensibility

Suatu sistem harus mudah dipelajari dan dimengerti. User harus mengetahui hal-hal berikut:

• What to look at • What to do • When to do it • Where to do it

(16)

• Why to do it • How to do it

Dalam suatu website alur kerja, respon, presentasi visual, dan informasi harus dalam urutan yang mudah.

Suatu sistem harus mudah dimengerti dan mengalir dalam urutan. Instruksi dalam menyelesaikan pekerjaan harus jelas agar tidak perlu banyak membaca dan mencerna instruksi yang panjang.

e. Consistency

Suatu sistem harus terlihat, berlaku, dan beroperasi secara konsisten dalam hal-hal tersebut:

• Mempunyai tampilan yang sama. • Mempunyai kegunaan yang sama. • Beroperasi serupa.

Konsistensi merupakan faktor penting karena dengan adanya konsistensi mempermudah user untuk mempelajari konfigurasi website tersebut.

f. Kontrol

User harus mengontrol interaksi.

• Tindakan website harus hasil dari permintaan user. • Tidakan website harus dapat dilakukan dengan cepat. • User seharusnya tidak mengalami gangguan ketika

menggunakan website.

Dalam merancang kontrol ada juga beberapa poin yang harus dipertimbangkan seperti fleksibilitas; ada baiknya kontrol website disesuaikan dengan pengalaman, kebiasaan, prefrensei target user, dan konteks website sebaiknya dari sudut pandang user.

(17)

Kontrol dicapai apabila seseorang dapat mengetahui sendiri apa yang harus dilakukan untuk mencapai suatu goal.

g. Directness

Menyediakan cara langsung untuk menyelesaikan sesuatu

• Menyediakan cara alternatif dengan jelas. • Pengaruh tindakan pada objek harus terlihat.

h. Efficiency

Mengurangi pergerakan mata dan tangan, juga kontrol dengan tindakan lainnya.

• Transisi antara sistem yang berbeda harus mempunyai alur yang baik.

• Navigasi lebih baik seseingkat mungkin.

i. Familiarity

• Mengaplikasikan konsep dan tata bahasa yang dikenal user. • Menciptakan tampilan yang alami, meniru pola perilaku target

Gambar

Gambar 2.1 Logo HiddenPark
Gambar 2.2 Intalasi di HiddenPark (Taman Tanjung Barat & Taman  Langsat)
Gambar 2.5 Intalasi di Hidden Park

Referensi

Dokumen terkait

Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji faktor-faktor yang mempengaruhi keputusan pembelian konsumen pada keputusan pembelian konsumen menggunakan aplikasi e-grocery

Akhir tahapan proses berpikir subjek pertama ini berada pada tahap abstrak milik Van Hiele atau berada pada tahap ikonic milik Bruner yaitu mampu mengklasifikasikan bangun

Kompetensi profesional guru adalah kemampuan penguasaan materi pembelajaran secara luas dan mendalam yang memungkinkannya membimbing peserta didik memenuhi standar

[r]

Hasil observasi kedua yang dilakukan dalam menunjukkan bahwa keberhasilan RA Miftahul Huda Ngasem dalam proses bermain matematika awal melalui beberapa tahapan, meliputi

Lapisan vaskuler ini membentuk iris yang berlubang ditengahnya, atau yang disebut pupil (manik) mata. Selaput berpigmen sebelah belakang iris memancarkan warnanya

Berdasarkan urai- an tersebut, penulis merumuskan permasalahan pe- nelitian ini sebagai berikut: “Apakah pendidikan kese- hatan dengan melibatkan partisipasi dalam mem- buat

Untuk nilai % SBR yang sama, sampel lem yang mengandung resin phenol formaldehid 40 phr selalu menghasilkan nilai loop tack dan peel strength paling tinggi,