• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III PROFIL SANITASI KABUPATEN PESISIR SELATAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB III PROFIL SANITASI KABUPATEN PESISIR SELATAN"

Copied!
158
0
0

Teks penuh

(1)

BAB III

PROFIL SANITASI KABUPATEN PESISIR SELATAN

3.1. KONDISI UMUM SANITASI KABUPATEN PESISIR SELATAN

Terwujudnya pembangunan sanitasi di Kabupaten Pesisir Selatan mengacu pada perundang-undangan yang berlaku baik dari tingkat Kabupaten sampai tingkat Pusat, semua keberhasilan pembangunan tersebut tidak lepas dari peran pemerintah, instansi terkait, masyarakat dan stakeholder. Berbagai upaya pembangunan di bidang sanitasi telah dilaksanakan di Kabupaten Pesisir Selatan untuk meningkatkan kesadaran, kemauan dan kemampuan hidup pada semua kalangan masyarakat sehingga terwujud derajat kesehatan masyarakat yang optimal.

Kondisi umum sanitasi Kabupaten Pesesir Selatan pada Tahun 2010 dapat digambarkan sebagai berikut :

o Prosentase jumlah keluarga yang memiliki jamban sehat sebesar 52,87%. Sementara sebagian masyarakat masih buang tinjanya di sungai atau di kali.

o Prosentase jumlah keluarga yang memiliki saluran pembuangan air limbah dengan kondisi baik sebesar 44,78%, Sebagian besar masyarakat belum mempunyai saluran pembuangan air limbah dan membuang air limbah dari dapur ke halaman belakang rumah.

o Prosentase jumlah keluarga yang mempunyai tempat sampah sebesar 60,83%. Prosentase jumlah keluarga yang memiliki Rumah sehat sebesar 64,70%.

o Kondisi tempat umum seperti Hotel, Restoran/tempat makan, Pasar dan tempat umum lainnya yang diperiksa oleh Dinas Kesehatan dan dinyatakan sehat sebesar 71,54%

o Dengan cakupan sarana jamban keluarga yang masih rendah maka kasus diare di Kabupaten masih cukup tinggi. Sebanyak 12.695 kasus yang berobat ke puskesmas atau sebesar 16,37% disebabkan oleh kasus diare.

o Berdasarkan survey PHBS yang dilaksanakan pada beberapa puskesmas di Kabupaten Pesisir Selatan dapat dilihat indikator masyarakat yang menggunakan air sumur sebesar 79%, diikutin dengan air ledeng sebesar 9,39%, penampungan air hujan sebesar 2,94% dan menikmati air bersih dari sumber lainnya sebesar 8,48%. Masyarakat yang sudah memiliki jamban sehat sebesar 52,87%, pemanfaatan sampah sebesar 60,83% dan memiliki pengolahan air limbah sebesar 44,78%. Sementara rumah sehat yang memenuhi syarat kesehatan sebesar 64,70%.

o Kualitas air bersih di Kabupaten Pesisir Selatan umumnya sudah cukup baik karena banyak memiliki sumber air baku yang bisa di manfaatkan untuk PDAM dan air bersih lainnya .

o Pembuangan limbah industri untuk limbah padat non B3 dibuang di TPS yang dimiliki oleh pelaku usaha, dan diangkut ke TPA yang ada di Gunung Bungkuk. Sementara limbah cair yang dihasilkan oleh pelaku usaha di olah di sarana IPAL sebelum dialirkan ke sungai. Limbah padat B3 dari pelaku usaha ditampung di TPSL kemudian di daur ulang kembali. o Limbah medis infeksius diolah di incinerator, sementara limbah non infeksius di tampung di

(2)

o Potensi pencemaran udara di Kabupaten Pesisir Selatan berasal dari kendaraan bermotor. 3.1.1. KESEHATAN LINGKUNGAN

Kondisi kesehatan lingkungan Kabupaten Pesisir Selatan dapat dilihat dari beberapa data berkaitan dengan kesehatan lingkungan seperti jumlah dan kondisi jamban keluarga, pengelolaan air limbah, kondisi pencemaran, akses pada sumber air tanah, serta data rumah sehat, dan tempat-tempat umum dan sekolah sehat.

Lingkungan mempunyai peranan yang sangat besar terhadap peningkatan derajat kesehatan, oleh karena itu upaya pemberantasan penyakit harus dimulai dari lingkungan yang sehat. Pembangunan kesehatan bertujuan meningkatkan kesadaran, kemauan dan kemampuan hidup sehat bagi setiap penduduk. Salah satu faktor yang menunjukan tinggi rendahnya angka kesakitan suatu daerah disebabkan oleh sanitasi dasar terutama air bersih, pengelolaan makanan yang tidak sehat serta tingkat kesadaran masyarakat yang rendah.

Untuk mengantisipasi masalah yang sangat mendasar yaitu tidak terpenuhinya kebutuhan air bersih, jamban keluarga, limbah rumah tangga, tercemarnya udara serta kondisi fisik yang memungkinkan berkembangnya faktor pembawa penyakit oleh pemerintah kabupaten adalah:

1. Memperlancar aliran sungai agar tidak ada genangan air

2. Kegiatan WSLIC–2 yang dimulai tahun 2001 s.d 2007 dengan pembangunan sarana air bersih (sumur gali dan perpipaan) sebanyak 81 kampung dan dilanjutkan dengan program PAMSIMAS dari Tahun 2008, sampai saat ini sekarang telah terbangun sarana air bersih sebanyak 35 kampung.

3. Program CLTS (Community Lead Total Sanitation) untuk menumbuhkan kesadaran masyarakat dalam membangun sarana sanitasi dasar dengan menggambarkan akibat dari ketidakadaan sarana tersebut serta memicu malu buang air besar disembarang tempat. 4. Program Sanimas (Sanitasi Berbasis masyarakat).

JUMLAH DAN KONDISI JAMBAN KELUARGA

Berdasarkan data survey Kesehatan tahun 2010 terlihat bahwa sampai akhir tahun 2010 Jumlah Kepala keluarga yang ada sebanyak 103,328 Kepala keluarga, Kepala keluarga yang diperiksa jamban sebanyak 10,594, sebanyak 5.601 Kepala keluarga telah memiliki jamban keluarga, persentase rumah tangga yang memiliki jamban sebesar 52,87 %. Secara lengkap data tentang keluarga dengan kepemilikan sarana sanitasi dasar menurut kecamatan tahun 2010 disajikan dalam tabel berikut:

(3)

Tabel 3.1

Keluarga Dengan Kepemilikan Saranan Sanitasi Dasar Menurut Kecamatan Tahun 2010

No Kecamatan Puskesmas Jumlah Kk Jml Kk Jamban Tempat Sampah Pengolahan Limbah Persediaan Air Bersih

Dprksa Memiliki Jml Kk Memiliki % Dprksa Jml Kk Memiliki Jml Kk Memiliki % Dprksa Jml Kk Memiliki Jml Kk Memiliki % Dprksa Jml Kk Memiliki Jml Kk Memiliki % 1 Koto XI Tarusan

Barung

Balantai 5675 0 0 0 0 0 0 0 0 0 205 205 100

Tarusan 5563 268 268 100 358 358 100 358 100 3 396 396 100

2 Bayang Koto Pasar Baru 3308 270 150 56 109 109 78 180 78 61 575 575 100

Merapak 4136 54 40 74 0 0 0 42 0 74 161 161 100

3 Bayang Utara As. Kumbang 2278 285 134 47 260 115 44 138 44 41 430 430 100

4 IV Jurai Lumpo 2662 219 219 100 314 314 100 506 100 63 467 467 100

Salido 7074 1137 834 73 1269 585 46 1106 46 46 543 543 100

5 Batang Kapas IV KT.Muddik 2622 35 35 100 112 108 96 55 96 40 267 267 100

Pasar Kuok 4987 5 5 100 10 10 100 0 100 0 50 50 100

6 Sutera Surantih 10545 63 63 56 42 21 50 42 50 79 219 219 100

7 Lengayang Kambang 9415 6529 6596 40 6529 3540 54 6529 54 40 6584 6584 100

Koto Baru 4629 83 71 86 108 95 88 97 88 80 133 133 100

8 Ranah Pesisir Balai Salasa 8012 240 240 100 48 48 100 98 100 0 266 266 100

9 Linggo Sari Baganti Air Haji 10237 580 465 80 506 506 100 520 100 101 808 808 100

10 Pancung Soal Indera 8076 62 32 52 105 21 20 39 20 21 58 58 100

11 Basa IV Balai Tapan 6725 71 65 92 109 87 80 110 80 52 184 184 100

12 Lunang Silaut Tj.Beringin 4152 504 316 63 504 381 76 495 76 44 763 763 100

Tj.Makmur 3232 189 96 51 209 164 78 209 78 46 314 314 100

103,328 10594 5601 68.8 10623 6462 60,83 10524 6083 44,78 12423 12423 100

(4)

PENGELOLAAN AIR LIMBAH

Berdasarkan data survey yang dilakukan Dinas Kesehatan Kabupaten Pesisir Selatan pada tahun 2010 sebanyak 103.328 Kepala keluarga (KK), dimana KK yang diperiksa untuk pengolahan air limbah sebanyak 10.524 KK, jumlah Kepala keluarga yang memiliki pengolahan limbah sebanyak 6.083 KK atau 44,78%. Sedangkan data untuk sistim SPAL di Kabupaten Pesisir Selatan belum tersedia, pada umumnya limbah greywater yang berasal dari (air cucian, air mandi) belum ada pengolahan pada umumnya sehingga pembuangan di salurkan ke drainase limpasan air hujan.

Berdasarkan hasil survey EHRA menyebutkan bahwa sebesar 56 % masyarakat Kabupaten Pesisir Selatan sudah memiliki SPAL dan sebesar 43,6 % belum memiliki SPAL serta sebesar 0,4 % tidak ada data tentang keluarga yang memiliki SPAL.

Grafik 3.3.

Porsentase Keluarga yang memiliki SPAL di Kabupaten Pesisir Selatan Berdasarkan Survey EHRA Tahun 2011

Berdasarkan dari data survey pukesmas di Kabupaten Pesisir Selatan, jumlah KK yang diperiksa terbanyak adalah pada puskesmas Kambang yaitu sebanyak 6.259 KK dan dari pemeriksaan tersebut memiliki pengolahan limbah sebanyak 54 KK atau sebesar 40%, sedangkan jumlah KK terbanyak kedua yang di periksa adalah pada puskesmas Salido yaitu sebanyak 1.106 KK dan hanya memiliki 46 KK atau sebesar 46% memiliki pengolahan limbah. KONDISI PENCEMARAN

Berdasarkan hasil pemantauan udara di kabupaten Pesisir Selatan hasilnya menunjukkan sebagian besar di bawah baku mutu. Pencemaran udara di Kabupaten Pesisir Selatan umumnya disebabkan dari lalu lintas kendaraan bermotor pada jalan koridor.

0,0 10,0 20,0 30,0 40,0 50,0 60,0 1 2 3 56,0 43,6 0,4

(5)

Sementara kondisi sumber air tanah maupun air permukaan apabila tidak segera ditangani bisa membahayakan masyarakat karena masih banyak masyarakat yang membuang limbah cair di tanah dan kali tanpa melalui pengolahan dan mencemari sumber air baku yang ada. Kurangnya pengetahuan masyarakat menyebabkan masih banyaknya praktek pembuangan limbah cair/BAB di sembarang tempat. Selain limbah cair, limbah padat (sampah) juga turut mencemari sungai yang ada.

AKSES TERHADAP AIR BERSIH

Berdasarkan data Kesehatan Kabupaten Pesisir Selatan, Penyehatan Lingkungan tahun 2010 dapat diketahui bahwa presentase tertinggi jenis sarana air bersih yang digunakan adalah sumur gali 79,18% diikuti ledeng 9,39% penampungan air hujan 2,94% dan dari sumberdaya lainnya 8,48% rincian persentase keluarga menurut jenis sarana air bersih yang digunakan disajikan dalam tabel dibawah ini.

(6)

Sumber Air Bersih Rumah Tangga Non Pelanggan Pdam Tahun 2010

No Kecamatan Puskesmas Juml Kel Juml Kel Dprksa

% Kel Dprksa

Akses Air Bersih % Akses Air Bersih

Led Sgl Pah Lain Juml Led Sgl Pah Lain Juml 1 Koto XI Tarusan Barung Balantai Tarusan 5675 5563 210 425 3.70 7.64 60 0 396 60 0 0 110 0 205 396 17.073 0 0,00 0,00 0 0 53.66 0.00 100 100 2 Bayang Pasar Baru Koto Merapak 3308 4136 650 180 19.65 4.35 150 28 130 133 105 0 190 0 575 161 26.087 17.391 0,00 0,00 18,261 0 33.04 0.00 100 100 3 IV Nagari Bayang Utara*) As. Kumbang 2278 530 23.27 120 130 0 180 430 27.907 0,00 0 41.86 100 4 IV Jurai Lumpo Salido 2662 7074 1447 567 21.30 20,46 292 168 175 375 0 0 0 0 467 543 62.527 30.939 0,00 0,00 0 0 0.00 0.00 100 100 5 Batang Kapas Pasar Kuok IV KT.Muddik 2622 4987 367 80 14.00 1.60 34 0 109 50 0 0 124 0 267 50 30.939 12.734 0,00 0,00 0 0 46.44 0.00 100 100

6 Sutera Surantih 10545 395 3.75 0 76 0 143 219 0 0,00 0 65.30 100

7 Lengayang Kambang Koto Baru 9415 4629 6684 153 70.99 3.31 0 0 6.584 133 0 0 0 0 6,584 133 0 0 0,00 0,00 0 0 0.00 0.00 100 100 8 Ranah Pesisir Balai Salasa 8012 283 3.53 0 140 126 0 266 0 0,00 47.368 9.901 18.19 0.00 100 100 9 Linggo Sari Baganti Air Haji 10237 903 8.82 282 299 80 147 808 34.901 0,00 0 0.00 100

10 Pacung Soal Inderapura 8076 66 0.82 58 0 0 0 58 100 0,00 0 0.00 100

11 Basa IV Balai Tapan Tapan 6725 201 2.99 0 184 0 0 184 0 0,00 0 20.97 100

12 Lunang Silaut Tj.Beringin Tj.Makmur 4152 3232 896 542 21.58 16.77 0 0 259 603 55 0 160 0 763 314 0 0 0,00 0,00 17.516 0.00 100 103,328 14,579 14,11 1,167 9,836 366 1,054 12,423 93.939 0 2,9461 8.48 100 Sumber : Profil Kesehatan, 2010 Dinas Kesehatan Kab.Pesisir Selatan

(7)

Terkait dengan keamanan, hasil analisis data EHRA menunjukkan bahwa mayoritas atau sekitar 74,53 % rumah tangga di Kabupaten Pesisir Selatan memiliki sumber air minum yang relatif aman. Sekitar 26,47 % yang diidentifikasi memiliki sumber yang relatif tidak aman antara lain sumur yang tidak terlindungi, mata air yang tidak terlindungi, sungai dan waduk/danau. Selengkapnya informasi dapat dilihat pada Grafik berikut ini.

Grafik 3.6

Akses Terhadap Air Bersih pada Lokasi EHRA di Kabupaten Pesisir Selatan Tahun 2011

RUMAH SEHAT DAN TEMPAT-TEMPAT UMUM

Rumah sehat adalah bangunan rumah tinggal yang memenuhi syarat kesehatan, yaitu rumah yang memiliki jamban yang sehat, sarana air bersih, tempat pembuangan sampah, sarana pembuangan air limbah, ventilisasi rumah yang baik, kepadatan hunian yang sesuai standar dan lantai rumah tidak terbuat dari tanah. Dari data survey yang diperoleh tahun 2010 rumah yang memenuhi syarat kesehatan sebesar 64,70%.Selengkapnya data Prosentase rumah sehat berdasarkan kecamatan Kabupaten Pesisir Selatan tahun 2010 dapat dilihat pada tabel dibawah ini

0,00 20,00 40,00 60,00 80,00 1 2 74,53 25,47

(8)

Tabel 3.3

Prosentase Rumah Sehat Berdasarkan Kecamatan Kabupaten Pesisir Selatan Tahun 2010

No Kecamatan Puskesmas

Rumah Jumlah

Seluruhnya Diperiksa Jumlah Diperiksa % Jumlah Sehat % Sehat

1 Koto XI Tarusan Barung Balantai Tarusan 4,889 0 358 0 7.32 0 358 0 100.00 0 2 Bayang Pasar Baru Koto Merapak 2,977 2,931 260 133 8.73 4.54 133 83 51.15 61.65

3 Bayang Utara As. Kumbang 1.384 390 28.18 170 43.59

4 IV Jurai Lumpo Salido 2,120 6,700 1,706 509 23.8725. 46 3.9 9

217

915 42.89 53.63 5 Batang Kapas IV KT.Muddik Pasar Kuok 2,479 4,310 99 0 3.99 0 57 0 57.58 0

6 Sutera Surantih 7,422 69 0.93 23 33.33

7 Lengayang Kambang Koto Baru 8,541 4,185 6,529 103 76.44 2.46 4,099 67 62.78 65.05

8 Ranah Pesisir Balai Salasa 7,517 425 5.65 425 100.00

9 Linggo Sari Baganti Air Haji 6,575 675 10.27 671 99.41

10 Pancung Soal Indera 6,995 0 0 19 0

11 Basa IV Balai Tapan 5,701 134 2.35 84 62.69

12 Lunang Silaut Tj.Beringin Tj.Makmur 3,725 0 504 0 13.53 0 374 0 74.21 0

78,411 11,981 15,16 7,694 64,70

Sumber : Profil Kesehatan Tahun 2010, Dinas kesehatan Kabupaten Pesisir Selatan

Dari prosentase rumah sehat yang diperiksa sebanyak 11.981 rumah, didapatkan rumah yang sehat sebanyak 7.694 rumah atau sebesar 64,70%. Untuk Kecamatan yang terbanyak rumah sehat adalah Kecamatan Ranah Pesisir, jumlah rumah yang diperiksa sebanyak 425 rumah yang memenuhi syarat rumah sehat sebanyak 425 rumah atau 100% sedang Kecamatan yang paling sedikit jumlah rumah sehatnya adalah Kecamatan Bayang Utara. Jumlah rumah yang diperiksa sebanyak 390 rumah dan yang memenuhi syarat rumah sehat sebanyak 170 rumah atau 43,59 %.

Tempat Umum Pengolahan Makanan (TUPM) adalah tempat umum dan tempat pengolahan makanan dan minuman yang memenuhi syarat kesehatan, yaitu memiliki sarana air

(9)

bersih, tempat pembuangan sampah, sarana pembuangan limbah, ventilasi yang sesuai luas lantai/ruang, dan pencahayaan yang memadai. Pemeriksaan Dinas Kesehatan terhadap TUPM ditujukan untuk sarana yang dikunjungi banyak orang, dan berpotensi menjadi tempat penyebaran penyakit seperti restoran pasar dan lainya.

Cakupan TUPM Tahun 2010 dari 397 yang diperiksa, jumlah yang sehat sebesar 71,54% dan mengalami peningkatan pada tahun 2009 yaitu TPUM yang sehat sebesar 69,53%. Sarana pendidikan yang di Kabupaten Pesisir Selatan sebanyak 533 unit dan dibina kesehatan lingkungannya oleh Dinas Kesehatan sebanyak 171 tempat atau 32.08% dari sarana pendidikan yang ada. Sedangakan jumlah sarana kesehatan sebanyak 18 unit dan di bina 18 tempat atau 100%. Sedangkan sarana ibadah yang ada sebanyak 792 unit dan yang dibina sebanyak 169 tempat atau 21.34%.

Secara lebih lengkap tentang Prosentase Tempat Umum Dan Pengelolaan Makanan(TUPM) Sehat Menurut Kecamatan Kabupaten Pesisir Selatan Tahun 2010 dapat diterangkan pada tabel dibawah ini.

(10)

Tabel 3.4

Prosentase Tempat Umum Dan Pengelolaan Makanan (Tupm) Sehat Menurut Kecamatan Kabupaten Pesisir Selatan Tahun 2010

No Kecamatan Puskesmas

Rumah Restoran Pasar Tupm Lainnya Jumlah Tupm

Jml Yg A d a Jml Dpr ksa Jml S eh at % S eh at Jml Yg A d a Jml Dpr ksa Jml S eh at % S eh at Jml Yg A d a Jml Dpr ksa Jml S eh at % S eh at Jml Yg A d a Jml Dpr ksa Jml S eh at % S eh at Jml Y g A d a Jml Dpr ksa Jml S eh at % S eh at

1 Koto XI Tarusan Barung Balantai 0 0 0 0 10 6 4 66.7 4 2 1 50 15 10 5 50 29 18 10 55.60

Tarusan 0 0 0 0 8 8 8 100 1 0 0 0 15 0 0 0 24 8 8 100.00

2 Bayang Pasar Baru 0 0 0 0 7 7 6 85.7 0 0 0 0 46 30 27 90 53 37 33 89.20

Koto Merapak 0 0 0 0 2 1 0 0 5 0 0 0 20 10 8 80 27 11 8 72.70

3 Bayang Utara As. Kumbang 0 0 0 0 0 0 0 0 3 2 1 50 15 10 6 60 18 12 7 58.70

4 IV Jurai Lumpo 0 0 0 0 1 1 1 100 1 0 0 0 9 8 5 62 11 9 6 66.70

Salido 9 9 7 77.8 27 15 10 66 2 0 0 0 35 0 0 0 73 24 17 70.80

5 Batang Kapas IV KT.Muddik 0 0 0 0 0 0 0 0 2 0 0 0 23 10 7 70 25 10 7 70.00

Pasar Kuok 0 0 0 0 12 5 0 0 2 0 0 0 55 0 0 0 69 5 0 0.00

6 Sutera Surantih 0 0 0 0 18 15 9 60 3 3 3 100 275 9 4 44 296 27 16 59.30

7 Lengayang Kambang 2 2 2 100 13 13 10 77 3 3 2 66 63 50 46 92 81 68 60 88.20

Koto Baru 0 0 0 0 3 3 2 66.7 5 4 3 75 57 20 10 50 65 27 15 55.60

8 Ranah Pesisir Balai Salasa 3 3 1 33.3 11 8 5 63 4 0 0 0 69 50 40 80 87 61 46 75.40

9 Linggo Sari

Baganti Air Haji 0 0 0 0 13 4 1 25 4 2 1 50 62 5 2 40 79 11 4 36.40

10 Pancung Soal Indera 0 0 0 0 8 5 4 80 4 0 0 0 126 20 14 70 138 25 18 72.00

11 Basa IV Balai Tapan 2 2 1 0 13 2 0 0 2 0 0 0 56 0 0 0 73 4 1 25.00

12 Lunang Silaut Tj.Beringin 0 0 0 50 10 5 4 80 4 2 1 50 23 11 6 55 37 18 11 61.10

Tj.Makmur 0 0 0 0 10 2 0 0 3 0 0 0 24 20 17 85 37 22 17 77.30

16 16 11 68.8 166 100 64 64 52 18 12 66.67 988 263 197 75 1,222 397 284 71.54

(11)

3.1.2. KESEHATAN DAN POLA HIDUP MASYARAKAT

Kondisi kesehatan dan Pola kesehatan di Kabupaten Pesisir Selatan dapat dilihat berdasarkan timbulan penyakit akibat kondisi sanitasi yang buruk antara lain penyakit diare dan ISPA. Kasus diare tahun 2010 cukup banyak terjadi mencapai 12.695 kasus, Bila dilihat dari jumlah Kepala keluarga yang memiliki sarana jamban baru mencapai 52.87% maka wajar kasus diare masih sering terjadi.

Kondisi pencemaran udara di Kabupaten Pesisir Selatan menyebabkan masih banyak terjadi kasus ISPA pada Balita. Puskesmas TJ.Makmur Kecamatan Lunang Silaut merupakan puskesmas dengan ISPA terkecil yaitu 1(satu) Kasus, sedang Kasus ISPA paling banyak terjadi di Kecamatan Linggosari Baganti Puskesmas Air Haji sebanyak 461 kasus.

Cuci tangan pakai sabun (CTPS) di waktu yang tepat dapat mencegah transmisi patogen penyebab diare. Pencemaran tinja/ kotoran manusia (feces) adalah sumber utama dari virus, bakteri, dan patogen lain penyebab diare. Jalur pencemaran yang diketahui sehingga pencemaran dapat sampai ke mulut manusia, termasuk balita, melalui 4F (Wagner & Lanoix, 1958) yakni fluids (air), fields (tanah), flies (lalat), dan fingers (jari/tangan). Cuci tangan pakai sabun adalah prevensi cemaran yang sangat efektif dan efisien khususnya untuk mencegah transmisi melalui jalur fingers.

Waktu-waktu cuci tangan pakai sabun yang perlu dilakukan seorang ibu/ pengasuh untuk mengurangi risiko balita terkena penyakit-penyakit yang berhubungan dengan diare mencakup 5 (lima) waktu penting yakni,

1. Sesudah buang air besar (BAB), 2. Sebelum menyantap makanan,

3. Sebelum menyuapi/memberi makan, pada bayi/balita 4. Sebelum menyiapkan makanan bagi keluarga.

5. Sesudah memegang unggas/hewan.

Pada keluarga yang memiliki balita hendaknya melakukan praktek cuci tangan pakai sabun setidaknya di tiga waktu utama antara lain :

1. Setelah BAB

2. Sebelum menyiapkan makanan 3. Sebelum Makan

Berdasarkan survey PHBS oleh dinas kesehatan dapat dilihat indikator masyarakat yang menggunakan air sumur sebanyak 79%, diikuti dengan air ledeng 9,39%, penampungan air hujan 2,94% dan menikmati air bersih dari sumber lainnya sebesar 8,48%. Masyarakat yang sudah memiliki jamban sehat sebesar 52,87%, pemanfaatan sampah sebesar 60,83% dan memiliki pengolahan air limbah sebesar 44,78%. Sementara rumah sehat yang memenuhi syarat kesehatan sebanyak 64,70%. Survey PHBS tersebut dilaksanakan di Puskesmas Kecamatan di Kabupaten Pesisir Selatan.

Salah satu indikator promosi kesehatan adalah Rumah tangga sehat yaitu rumah tangga yang memenuhi indikator PHBS. Adapun indikator PHBS menggunakan sepuluh indikator minimal dari Kementrian Kesehatan diantaranya adalah :

(12)

2. Pemberian ASI Ekslusif

3. Melakukan Penimbangan terhadap bayi dan balita 4. Melakukan Aktifitas Fisik

5. Biasa makan sayur dan buah-buahan 6. Tidak Merokok di dalam rumah 7. Melakukan Cuci tangan

8. Rumah Bebas jentik 9. Tersedia Air Bersih 10. Tersedia Jamban

Hasil Survey PHBS yang dilakukan oleh dinas kesehatan pada tahun 2010 dapat dilihat pada tabel berikut ini.

Tabel 3.5

Hasil Survey PHBS Tatanan Rumah Tangga Di Kabupaten Pesisir Selatan Tahun 2010

No Indikator Keterangan

1 Sarana Air Bersih Persentase tertinggi adalah sumur gali 79,18%, ledeng 9,39%, penampung air hujan 2,94%, dan lainya 8,48

2 Sanitasi Dasar Seperti jamban sehat 52,87%, pemanfaatan sampah 60,83%, yang memiliki pengolahan limbah 44,78% dan akses air bersih 100% 3 Tempat Umum

Pengolahan Makanan

Cakupan TUPM tahun 2010 dari 397 yang diperiksa sebesar 71,54% dan mengalami kenaikan dari tahun 2009 sebanyak 69,53%

4 Rumah Sehat Rumah sehat yang memenihi persyaratan kesehatan sebanyak 64,70%

Sumber : Dinas Kesehatan Kabupaten Pesisir Selatan Tahun 2010

Selain kebiasaan Cuci Tangan Pakai Sabun, kebiasaan membuang sampah masyarakat di Kabupaten Pesisir Selatan juga masih menimbulkan pencemaran tanah dan air. Rata-rata masyarakat membuang sampah di halaman, kali/sungai kecil, di lubang sampah tetapi tidak melakukan pengolahan selanjutnya. Kebiasaan masyarakat membuang sampah berdasarkan survey EHRA dapat dilihat selengkapnya pada grafik berikut:

(13)

Grafik 3.10

Kebiasaan Masyarakat Membuang Sampah Berdasarkan Survey EHRA di Kabupaten Pesisir Selatan Tahun 2011

Dari hasil survey EHRA diatas sebagian besar masyarakat di Kabupaten Pesisir Selatan membuang sampah dengan cara di bakar yaitu sebanyak 66 %, kemudian yang dibuang ke sungai sebanyak 13,2 % dan yang dibuang ke lahan kosong sebanyak 9,5 %. Pembuangan sampah yang diangkut oleh tukang sampah hanya sebanyak 5,8 %, ini menunjukkan pelayanan sampah di Kabupaten Pesisir Selatan masih sangat minim. Selanjutnya yang dibuang dan dikubur dilobang sebanyak 4,3 %, sedangkan yang dibiarkan saja sebanyak 1,1 % serta lainnya sebesar 0,2 %.

Sampai saat ini penyakit diare masih merupakan masalah kesehatan masyarakat Kabupaten Pesisir Selatan, hal ini disebabkan lingkungan kurang sehat dan perilaku PHBS masih kurang sebagai penyebabnya, faktor resiko timbulnya penyakit diare disebabkan oleh kuman melalui kontaminasi makanan/minuman yang tercemar tinja atau kontak langsung dengan penderita, sedangkan faktor-faktor lainnya meliputi faktor penjamu dan faktor lingkungan.

Secara proporsional diare lebih banyak terjadi pada golongan balita (55%). Adapun kebijakan pemberantasan penyakit diare dilaksanakan untuk menurunkan angka kesakitan, angka kematian, dan penaggulangan kejadian luar biasa (KLB).

Angka kesakitan diare (insiden) di indonesia pada tahun 2000 (survey P2 Diare) adalah 301/1000 penduduk (Depkes RI, 2003). Berdasarkan Rencana Strategis (RENSTRA) Kementerian Kesehatan Tahun 2010 - 2014, ditargetkan jumlah kasus diare tahun 2010 adalah 350/1000 penduduk dan diharapkan pada tahun 2014 tahun menjadi 285/1000 penduduk.

Berdasarkan hasil pengumpulan, pengolahan dan analisisi data diare Kabupaten Pesisir Selatan tahun 2006-2010, terlihat jumlah kunjungan penderita diare yang berobat kepuskesmas cendrung turun dari tahun 1997 s/d 2006. Namun tahun 2007-2010 terjadi

0 500 1000 1500 2000

Dibuang dan dikubur dilobang Diangkut tukang sampah, di TPS Dibakar Dibuang ke suangai Dibiarkan saja Dibuang ke lahan kosong Lainnya 122 165 1891 377 31 272 6 4,3 5,8 66,0 13,2 1,1 9,5 ,2 % n

(14)

peningkatan kasus dari 11.374 menjadi 12.695. Untuk lebih lengkapnya tentang penderita Diare di Kabupaten Pesisir Selatan tahun 2010 dapat disajikan pada tabel berikut.

Tabel 3.6

Banyaknya Penderita Penyakit Diare Berdasarkan Kecamatan Tahun 2010 Di Kabupaten Pesisir Selatan

No Kecamatan Puskesmas Jumlah

Kasus

Jumlah Ditangani

% Diare

1 Koto XI Tarusan Barung Balantai

Tarusan 1,084 448 1,084 448 99,72 100.00

2 Bayang Pasar Baru

Koto Merapak 1,141 568 1,141 568 100.00 100.00

3 IV Nagari Bayang Utara*) As. Kumbang 437 437 95.19

4 IV Jurai Lumpo Salido 915 587 915 587 100.00 100.00

5 Batang Kapas IV KT.Muddik

Pasar Kuok 432 426 432 426 100.00 100.00 6 Sutera Surantih 791 791 100.00 7 Lengayang Kambang Koto Baru 1,009 921 1,009 921 100.00 100.00

8 Ranah Pesisir Balai Salasa 547 547 100.00

9 Linggo Sari Baganti Air Haji 1,753 1,753 100.00

10 Pacung Soal Indera 856 856 100.00

11 Basa IV Balai Tapan Tapan 463 463 100.00

12 Lunang Silaut Tj.Beringin

Tj.Makmur 268 339 268 339 100.00 100.00 3770 3770 1637,00

Sumber : Profil Kesehatan Tahun 2010, Dinas Kesehatan Kabupaten Pesisir Selatan. Hingga saat ini infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) masih merupakan masalah kesehatan masyarakat. Sebahagian masyarakat mengalami 4-6 episode ISPA tiap tahunnya. Pneumonia adalah penyakit infeksi penyerang paru-paru yang di tandai dengan batuk disertai nafas cepat dan atau nafas sesak pada anak usia balita. Penyakit phnomia berbahaya karena dapat mengakibatkan kematian dalam waktu 3-10 jam apabila tidak segera mendapat pertolongan yang cepat dan tepat.

Jumlah kasus phnomia ISPA yang berobat di Kabupaten Pesisir Selatan tahun 2006 s/d 2010, seperti pada tabel berikut.

(15)

Tabel 3.7

Jumlah Penderita Pneumonia Per Kecamatan Tahun 2006 - 2010 Di Kabupaten Pesisir Selatan

No Tahun Pneumonia Jumlah Penderita Jumlah Kasus 1000/Pdd Ir (Per 1 2006 420.532 2.197 5,2 2 2007 423.606 3.335 7,9 3 2008 433.181 2.879 6,6 4 2009 433.181 2.548 5,9 5 2010 433.181 2.013 4,6

Sumber : Profil Kesehatan Tahun 2010, Dinas Iesehatan Kabupaten Pesisir Selatan. Sedang untuk kasus pnominia pada Balita Kabupaten Pesisir Selatan pada tahun 2010 dapat dilihat pada tabel dibawah ini.

Tabel 3.8

Pnominia Balita Ditangani Perkecamatan Kabupaten Pesisir Selatan Tahun 2010

No Kecamatan Puskesmas

Rumah

Jumlah

Seluruhnya Penderita Jumlah Pend.Balita Jumlah Ditangani Balita Ditangani % Balita

1 Koto XI Tarusan Barung Balantai Tarusan 0 0 200 110 174 94 174 94 100.00 100.00 2 Bayang Pasar Baru Koto Merapak 0 0 57 71 54 57 54 57 100.00 100.00

3 Bayang Utara As. Kumbang 0 71 71 71 100.00

4 IV Jurai Lumpo Salido 0 0 456 22 319 21 319 21 100.00 100.00

5 Batang Kapas IV KT.Muddik Pasar Kuok 1 0 96 46 96 24 96 24 100.00 100.00

6 Sutera Surantih 0 144 144 144 100.00

7 Lengayang Kambang Koto Baru 0 0 138 76 138 67 138 67 100.00 100.00

8 Ranah Pesisir Balai Salasa 0 160 132 132 100.00

9 Linggo Sari Baganti Air Haji 0 461 404 404 100.00

10 Pancung Soal Indera 0 73 63 63 100.00

11 Basa IV Balai Tapan 0 246 141 141 100.00

12 Lunang Silaut Tj.Beringin Tj.Makmur 0 0 103 1 47 1 47 1 100.00 100.00

1 2531 2047 2047 100.00

(16)

3.1.3. KUANTITAS DAN KUALITAS AIR

Air merupakan kebutuhan pokok untuk kehidupan manusia, sehingga penggunaan air harus diperhatikan kualitas dan kuantitasnya. Kualitas air yang baik akan berimplikasi pada kesehatan yang baik untuk manusia, sedang kualitas air yang buruk menjadi penyebab buruknya kesehatan untuk manusia.

Kabupaten pesisir selatan merupakan wilayah dengan topografi berbukit, gelombang, berpasir, belum mempunyai industri yang besar, masyarakat masih mengunakan air sumur gali. Masyarakat pada daerah perbukitan menggunakan air bukit yang berasal dari mata air dan air terjun sebagai kebutuhan air bersih. Pertimbangan lain yang perlu diperhatikan dalam pengelolaan air tanah, yakni keterpihakan kepada masyarakat atau kepentingan yang lebih luas yang tercermin pada prioritas peruntukannya. Mengingat, tuntutan kebutuhan pendapatan daerah perlu diimbangi dengan peningkatan upaya konservasi atau pelestarian air tanah dan pelayanan kebutuhan masyarakat terhadap air bersih.

Sampai saat ini upaya pengelolaan air tanah untuk menjamin keberlanjutan pemanfaatan dan pelestarian air tanah terus menerus diterapkan di lapangan, baik yang mencakup aspek teknis maupun aspek hukum. Tetapi pada kenyataannya, meskipun upaya pengelolaan air tanah telah dilakukan oleh semua unsur terkait, di lapangan masih menunjukkan adanya degradasi sumberdaya air tanah, baik kuantitas maupun kualitasnya, di samping terhadap lingkungan di sekitarnya. Hal ini menunjukkan, bahwa pelaksanaan pengelolaan air tanah dalam rangka konservasi air tanah belum berhasil secara optimal. Di samping itu, dalam rangka perbantuan tugas pemerintah pusat dalam kegiatan pengelolaan air tanah, di daerah-daerah perlu ditetapkan Peraturan Daerah tentang Pengelolaan Air tanah.

Berdasarkan pada daur hidrologi, sumber utama airtanah adalah berasal dari air hujan. Kondisi dan curah hujan relatif tinggi sangat menguntungkan dalam imbuhan airtanah secara alami, di mana pada saat musim hujan terjadi pengisian dan penggantian dari defisit airtanah yang terjadi pada musim kemarau. Dengan demikian akuifer akan mendapat penambahan cadangan airtanah.

Banyaknya permasalahan dan kendala yang masih ada, baik yang bersifat teknis maupun non teknis apakah sangat berpengaruh pada hasil pelaksanaan pengelolaan air tanah dan konservasinya

Pengelolaan air tanah adalah upaya merencanakan, melaksanakan, memantau, dan mengevaluasi penyelenggaraan kegiatan konservasi, pendayagunaan air tanah dan pengendalian daya rusak air tanah. Perkembangan pemanfaatan air tanah yang berkelanjutan membutuhkan konsep pengelolaan air tanah yang efektif dan efisien serta tepat sasaran. Pada dasarnya pengelolaan air tanah bertujuan untuk menselaraskan keseimbangan pemanfaatan dalam kerangka kuantitas dan kualitas dengan pertumbuhan kebutuhan akan air yang meningkat dengan tajam. Penerapan pengelolaan air tanah sebaiknya dilakukan sebelum terjadinya penurunan kuantitas dan kualitas air tanah akibat pengambilan air tanah dan pencemaran air tanah oleh manusia. Oleh sebab itu, pengelolaan air tanah tidak hanya upaya mengelola sumber daya air tanah (managing aquifer resources) tetapi juga upaya mengelola manusia yang memanfaatkannya (managing people).

(17)

Kabupaten pesisir selatan memiliki embung sebanyak 6 buah, embung yang tersedia di Kabupaten Pesisir selatan memiliki volume air terbesar yaitu embung Taratak Timbulun dengan volume air sebanyak 166,764 m3 dengan luas 5,04 ha. Selanjutnya embung Amping Parak di kecamatan Sutera dengan luas 24 ha dengan volume air sebanyak 120 m3, lalu embung Gunung Malelo dengan volume sebanyak 110 m3, dengan luas 2,20 Ha, sedangkan yang paling sedikit volume airnya adalah embung Tanjung Durian dengan volume sebanyak 21,8 m3 dan luas 4.03 ha. Selengkapnya ditampilkan pada tabel dibawah ini

Tabel 3.9

Embung Kabupaten Pesisir Selatan

No Nama Embung Kecamatan Luas (Ha) Vol (M3)

1 Lubuk Agung Salido IV Jurai 5,00 100.00

2 Teratak Timbulun Sutera 5,04 166.764

3 Lubuk Mato Kucing Sutera 0,85 91.000

4 Gunung Malelo Sutera 2,20 110.000

5 Amping Parak Sutera 24,00 120.000

6 Tanjung Durian Ranah Pesisir 4,03 21.800

Sumber : Dinas PSDA Kabupaten Pesisir Selatan

Kualitas dan kuantitas air baku di Kabupaten Pesisir Selatan sangat baik jika di lihat dari asal sumber mata air. Berdasarkan laporan PDAM kapasitas terpasang hampir setiap tahun berdasarkan angka kenaikan langganan setiap tahun. Secara kualitas pelayanan sistem penyediaan air bersih PDAM Kabupaten Pesisir Selatan belum optimal, hal ini dikarenakan kehilangan atau kebocoran air cukup tinggi yaitu sekitar 31%, serta setiap unit pelayanan sering terganggu dan tidak aktif, yang disebabkan 20 % memakai sistem pompanisasi (berpengaruh sekali dengan daya listrik).

Jumlah air yang diproduksi oleh PDAM saat ini sekitar 209.664 m3, didistribusikan dan

terjual ke masyarakat sebanyak 144.705 m3, air yang hilang sebanyak 64.961 m3 , angka

kebocoran sekitar 31%. Untuk lebih jelasnya kondisi bangunan pengolahan air bersih PDAM dapat dilihat pada tabel berikut

Tabel 3.10

Kondisi Bangunan Pengolahan Air Bersih Pdam Kab. Pesisir Selatan Tahun 2011

No Lokasi Jenis

Kapasitas (l/detik)

Kondisi Terpasan

g Produksi

1 Barung-Barung Balantai Pengolahan Sederhana 5 2 Baik

2 Tarusan IPA Lengkap 0 0 Rusak

3 Pasar Baru Pengolahan Sederhana 20 20 Baik

4 Painan Pengolahan Sederhana 45 45 Baik

5 Tuik Pengolahan Sederhana 5 3,6 Baik

(18)

7 Surantih IPA Lengkap 20 10,1 Baik

8 Kambang Pengolahan Sederhana 5 4,8 Baik

9 Balai Salasa Pengolahan Sederhana 10 10 Baik

10 Air Haji Pengolahan Sederhana 20 9,1 Baik

11 Indrapura IPA Lengkap 20 20 Baik

12 Tapan IPA Lengkap 15 1,8 Baik

13 Lunang IPA Lengkap 0 0 Rusak

Jumlah 175 130,5

Sumber : Kantor PDAM Kabupaten Pesisir Selatan, 2011 Tabel 3.11

Kondisi Bangunan Reservoir Distribusi Pdam Kab. Pesisir Selatan

No Sumber Lokasi Pengaliran Unit Sistim

Air Yg Produksi (M3) Air Yg Distribusi (M3) Air Untuk Instalasi (M3) Air

Terjual Air Yang Hilang

1 Barung-Barung Balantai Gravitasi 1 2650 2592 58 1746 846

2 Tarusan Gravitasi 0 0 0 0 0 0

3 Pasar Baru Gravitasi 1 31320 30240 1080 21040 9200

4 Painan Gravitasi 3 106445 104328 2117 71135 33193

5 Tuik Gravitasi 1 4769 4666 104 3158 1508

6 Pasar Kuok Gravitasi 1 9406 9202 204 6266 2936

7 Surantih Gravitasi 1 13380 13090 291 8997 4093

8 Kambang Gravitasi 1 6359 6221 138 4193 2028

9 Balai Salasa Gravitasi 2 13248 12960 288 8761 4199

10 Air Haji Gravitasi 1 12056 11794 262 7855 3939

11 Indrapura Pompa 1 12960 12240 720 9997 2243

12 Tapan Gravitasi 2 2385 2333 52 1557 776

13 Lunang Pompa 0 0 0 0 0 0

Jumlah 15 214978 209664 5314 144705 64959

Sumber : Kantor PDAM Kabupaten Pesisir Selatan, Tahun 2011

Kapasitas produksi efektif pada tahun 2011 adalah 130,5 Lt/dt,persoalan sekarang ini adalah bagaimana meningkatkan kapasitas dan kemampuan pelayanan PDAM sebagai perusahan jasa pipanisasi dan penyediaan air minum kepada masyarakat serta perbaikan kapasitas kemampuan perusahaan baik dalam segi manajemen maupun secara teknis. Jumlah penduduk yang terlayani pada tahun 2011 sebesar 47070 jiwa, air yang diproduksi dari sistim pengaliran adalah 214978 m3, sedangkan air yang didistribusikan ke pelanggan sebanyak

209664 m3, dan air jumlah air yang terdapat dalam instalasi sebesar 5314 m3 sedangkan air

yang terjual pada pelanggan sebanyak 144705 m3 dan air yang hilang mencapai 649593

sedangkan kemampuan layanan PDAM masih terjadi peningkatan layanan pada pelanggan serta angka kebocoran yang cukup tinggi sampai 31%. Kapasitas terpasang 175 Lt/td dan kapasitas produksi efektif 130,5 Lt/dt.

(19)

Permasalahan yang sering dihadapi dalam penyediaan sarana air minum di Kabupaten Pesisir Selatan, antara lain :

o Kawasan permukiman belum terlayani jaringan perpipaan PDAM; o Minat masyarakat untuk berlangganan PDAM masih kurang; o Sumber mata air yang ada belum dikelola secara optimal;

o Sebagian daerah tidak tersedia sumber mata air (daerah kekeringan). Gambar 1

Sistem skema Gravitasi pada Penyaluran Air Minum

Kendala yang sering dijumpai bahwa sumber mata air cukup jauh dari permukiman warga sehingga membutuhkan jaringan perpipaan yang panjang untuk sampai ke permukiman masyarakat tersebut.

(20)

Gambar 3. Peta Air Baku Pdam

(21)

Rekomendasi yang dapat disampaikan untuk meningkatkan pelayanan air minum baik yang berada di kawasan perkotaan dan perdesaan antar lain:

a. Menambah jaringan perpipaan dalam layanan jaringan PDAM ke permukiman warga yang belum terjangkau/terlayani;

b. Memanfaatkan sumber mata air yang ada untuk peningkatan pelayanan air minum kepada masyarakat, khususnya masyarakat di kawasan rawan kekeringan dan air minum;

c. Memakai mesin pompa air pada kawasan rawan air minum yang tidak memiliki sumber mata air atau jauh dari sumber mata air sehingga lebih efektif dan efisien.

Selain pengelolaan air bersih oleh PDAM air bersih juga di lakukan dengan kegiatan berupa pembangunan sarana air minum perdesaan seperti Program WSLIC, Pamsimas, dan Program Pengembangan Kecamatan (PPK). Sumber air yang digunakan adalah mata air atau sumur dalam yang disesuaikan dengan kondisi daerah.

Kelestarian lingkungan dan kesinambungan pelayanan air minum tidak lepas dari aspek peran serta masyarakat dan swasta. Peran masyarakat sebagai pemakai jasa berperan dalam melestarikan lingkungan dan aksesibilitas kepada pelayanan air minum yang berkesinambungan. Berhemat dalam pemakaian air minum serta proaktif dalam mencegah kebocoran air merupakan beberapa kontribusi yang dapat dilakukan masyarakat guna menjamin kesinambungan akses terhadap pelayanan air minum yang sehat.

Peran serta swasta juga diharapkan dapat membantu dalam penyediaan dana untuk investasi guna mempercepat pertumbuhan dan peningkatan kualitas pelayanan air minum.

Program pemerintah Kabupaten Pesisir Selatan untuk meningkatkan kuantitas dan kualitas air bersih sudah dilaksanakan baik dari dana APBN maupun dana APBD, meskipun masih banyak masyarakat yang belum menerima program ini. Program dilaksanakan baik dalam bentuk pemberdayaan masyarakat maupun dalam bentuk kegiatan lainnya. Program Pemerintah Kabupaten Pesisir Selatan untuk meningkatkan kuantitas dan kualitas air bersih secara lengkap disajikan dalam tabel dibawah ini.

Tabel 3.13

Kegiatan Dan Lokasi Pamsimas 2008 - 2011 Di Kabupaten Pesisir Selatan

No Kampung Kecamatan Jenis Sambungan

TAHUN 2008

1. Talawi Koto XI Tarusan Perpipaan

2. Simaung Cumateh Koto XI Tarusan Perpipaan

3. Taratak Koto XI Tarusan Perpipaan

4. Limau Gadang IV Jurai Perpipaan

5. Air Beralih IV Jurai Perpipaan

6. Koto Rawang IV Jurai Perpipaan

7. Kampung Akad Lengayang Perpipaan

(22)

9. Air Batu Ranah Pesisir Perpipaan TAHUN 2009

1. Siguntur Tua Koto XI Tarusan Perpipaan

2. Duku Koto XI Tarusan Perpipaan

3. Bayang Janiah Bayang Utara Perpipaan

4. Tanjung Gadang Sutera Perpipaan

5. Bukit Kaciak Sutera Perpipaan

6. Pauh Lengayang Perpipaan

7. Lagan Gadang Hilir Linggo Sari Baganti Perpipaan

8. Bukit Putus Luar Linggo Sari Baganti Perpipaan

9. Koto Marapak Linggo Sari Baganti Perpipaan

10. Sungai Tanuak Koto XI tarusan Perpipaan

11. Sungai Salak IV Jurai Perpipaan

12. Kabun Bungo Pasang II IV Jurai Perpipaan

13. Pasar Sungai Tunu Ranah Pesisir Perpipaan

14. Lubuk Sarik Lengayang Perpipaan

TAHUN 2010

1. Sawah Karambia Koto XI Tarusan Perpipaan

2. Sungai Sangkir Koto XI Tarusan Perpipaan

3. Calau Bayang Utara Perpipaan

4. Lubuk Silau Bayang Utara Perpipaan

5. Tangkujua IV Jurai Perpipaan

6. Koto Taratak Sutera Perpipaan

7. Ampalu Sutera Perpipaan

8. Koto Kandis Lengayang Perpipaan

9. Kampung Bendang Ranah Pesisir Perpipaan

10. Kelok Koto Langang Ranah Pesisir Perpipaan

11. Kampung Akad Linggo Sari Baganti Perpipaan

12. Koto Kabun Ranah Pesisir Perpipaan

13. Kampung Akad (HID) Lengayang Perpipaan

2011

1. Koto Baru Koto XI Tarusan Perpipaan

2. Taratak Teleng Talawi Koto XI Tarusan Perpipaan

3. Tanjung Saba Bayang Perpipaan

4. Lereng Bukik Bayang Perpipaan

5. Limau-Limau Bayang Utara Perpipaan

(23)

7. Koto Lamo Lengayang Perpipaan

8. Gantiang Kubang Lengayang Perpipaan

9. Baliak Gunung Linggo Sari Baganti Perpipaan

Sumber : Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Pesisir Selatan pada kegiatan Pamsimas terdapat pembengunan 45 unit pada tahun 2008-2011.

Tabel 3.14

Kondisi Existing Pelayanan Kegiatan Dan Lokasi Wslic 2009 Di Kabupaten Pesisir Selatan

No Desa Kecamatan

Sistim Sab Cakupan Pelayanan ( Rt)

Perpipaan Perpipaan Non Jlh.Rt Terlayani Rt %

1 Silaut Lusi - V 630.00 450.00 71.43

2 Sungai Tabun Lusi - V 200.00 171.00 85.50

3 Bakir Basa IV Balai - V 183.00 183.00 100.00

4 Binjai Basa IV Balai - V 225.00 200.00 88.89

5 Malepang Basa IV Balai V - 195.00 98.00 50.26

6 Pasar Malintang Basa IV Balai V - 315.00 107.00 33.97

7 Pengantingan Basa IV Balai - V 182.00 135.00 74.18

8 Berok Pancung Soal - V 402.00 324.00 80.60

9 Palokan Hilir Pancung Soal - V 268.00 160.00 59.70

10 Sungai Gemuruh Pancung Soal V - 490.00 180.00 36.73

11 Sungai Kuyung Pancung Soal - V 298.00 179.00 60.07

12 Tanjung Batang Kapas Pancung Soal - V 182.00 102.00 56.04

13 Tanjung Medan Pancung Soal - V 150.00 87.00 58.00

14 Bukit Putus Dalam Linggo Sari Baganti V - 411.00 305.00 74.21

15 Koto Langang Linggo Sari Baganti V - 211.00 128.00 60.66

16 Koto Panjang Linggo Sari Baganti V - 238.00 118.00 49.58

17 Koto Gadang Dan Bukit Silapu Linggo Sari Baganti - V 366.00 229 62.57

18 Lagan Gadang Mudik Linggo Sari Baganti V - 298.00 278.00 93.29

19 Lagan Kecil Mudik Linggo Sari Baganti V - 150.00 105.00 70.00

20 Luar Parit Linggo Sari Baganti - V 198.00 96.00 48.48

21 Tandikat Air Jambu Linggo Sari Baganti - V 595.00 355.00 59.66

22 Koto VIII Hilir Ranah Pesisir - V 602.00 425.00 70.60

23 Palangai Timur Ranah Pesisir V - 306.00 236.00 77.12

24 Air Kalam Lengayang - V 319.00 203.00 63.64

25 Daratan Merantiah Lengayang - V 222.00 195.00 87.84

26 Gurun Panjang Lengayang - V 396.00 215.00 54.29

27 Koto Baririk Lengayang - V 597.00 413.00 69.18

(24)

29 Koto Pulai Lengayang - V 630.00 378.00 60.00

30 Koto Rawang Lengayang - V 378.00 292.00 77.25

31 Lubuk Begalung Lengayang - V 305.00 204.00 66.89

32 Medan Baik Lengayang - V 287.00 258.00 89.90

33 Padang Cupak Lengayang - V 309.00 232.00 75.08

34 Padang Limau Manih Lengayang - V 137.00 82.00 59.85

35 Padang Mandiangin Lengayang - V 350.00 211.00 60.29

36 Pulai Lengayang - V 374.00 265.00 70.86

37 Sikabu Lengayang - V 120.00 110.00 91.67

38 Sumbaru Lengayang - V 116.00 114.00 98.28

39 Talang Lengayang - V 350.00 272.00 77.71

40 Tarok Lengayang - V 205.00 192.00 93.66

41 Tebing Tinggi Lengayang - V 450.00 450.00 100.00

42 Alai Sutera - V 327.00 127.00 38.84

43 Gunung Malelo Sutera V - 387.00 220.00 56.85

44 Gunung Pauh Sutera V - 117.00 62.00 52.99

45 Kayu Aro Sutera V - 214.00 154.00 71.96

46 Kayu Gadang Sutera - V 215.00 144.00 66.98

47 Koto Marapak Sutera - V 392.00 251.00 64.03

48 Rawang Sutera - V 967.00 316.00 32.68

49 Bukit Tambun Tulang Batang Kapas - V 737.00 480.00 65.13

50 Koto Panjang & Koto Kaduduk Batang Kapas V - 249.00 174.00 69.88

51 Limau Sundai Batang Kapas - V 315.00 117.00 37.14

52 Limpaso Batang Kapas - V 215.00 105.00 48.84

53 Sapan Batang Kapas - V 348.00 256.00 73.56

54 Sungai Bungin Batang Kapas V - 84.00 18.00 21.43

55 Sungai Nyalo Batang Kapas - V 614.00 165.00 26.87

56 Taluak Kasai Batang Kapas - V 251.00 189.00 75.30

57 Tanjung Kandis Batang Kapas V - 192.00 140.00 72.92

58 Tuik Koto Gunung Kamp.Baru Batang Kapas V - 800.00 113.00 14.13

59 Ujung Batu Batang Kapas V - 276.00 186.00 67.39

60 Batu Kunik IV Jurai V - 205.00 165.00 80.49

61 Empang Teras IV Jurai V - 303.00 194.00 64.03

62 Gunung Bungkuak IV Jurai V - 178.00 178.00 100.00

63 Tambang IV Jurai V - 426.00 320.00 75.12

64 Taratak Tangah IV Jurai V - 273.00 137.00 50.18

65 Kampung Tangah Bayang - V 291.00 160.00 54.98

66 Limau Puruak Bayang V - 46.00 46.00 100.00

67 Muaro Aie Bayang V - 122.00 122.00 100.00

68 Ngalau Gadang Bayang V - 160.00 128.00 80.00

69 Taratak Baru Bayang V - 225.00 192.00 85.33

70 Air Songsang Koto Pulai Koto XI Tarusan V - 250.00 75.00 30.00

71 Batu Hampar Koto XI Tarusan V - 287.00 150.00 52.26

72 Duku Benteng Koto XI Tarusan V - 448.00 210.00 46.88

73 Dusun pasar Minggu Koto XI Tarusan V - 210.00 110.00 52.38

74 Koto Luar Simaung Koto XI Tarusan V - 229.00 124.00 54.15

75 Koto Panjang Koto XI Tarusan V - 340.00 210.00 61.76

(25)

Pulai

77 Pasar Bukit Koto XI Tarusan V - 95.00 76.00 80.00

78 Pasar Sei. Lundang Koto XI Tarusan V - 271.00 150.00 55.35

79 Sungai Lundang Koto XI Tarusan V - 192.00 155.00 80.73

80 Sungai Talang Koto XI Tarusan V - 550.00 451.00 82.00

81 Sungai Tawar Koto XI Tarusan V 343.00 110.00 32.07

JUMLAH 25,048.00 15,595.00

Sumber : Dinas Kesehatan Kabupaten Pesisir Selatan, terdapat 81 unit pembangunan WSLIC dari tahun 2002 - 2007

Tabel 3.15

Kondisi Existing Pelayanan Kegiatan Sarana Air Bersih Pedesaan 2009 Di Kabupaten Pesisir Selatan

No Desa Kecamatan Sistim Sab Cakupan Pelayanan ( Jiwa)

Perpipaan Perpipaan Non Jlh.Penduduk Terlayani Terlayani % ( % ) Fisik DAK TAHUN 2007

1 Pemb. Sarana Air Bersih Kp. Pungasan Linggo Sari Baganti V - 1,046.00 900.00 86.04 100.00 2 Pemb. Sarana Air Bersih Kp. Koto Nan Tigo Batang Kapas V - 1,046.00 850.00 81.26 100.00 3 Pemb. Sarana Air Bersih Teluk Betung Batang Kapas V - 425.00 425.00 100.00 100.00

4 Pemb. Sarana Air Bersih Lunang III Lusi V - 1,764.00 750.00 42.52 100.00

DAK TAHUN 2008 Pemb. Sistim

Penyediaan Air Minum

1 Kamp. Silaut I Desa Tj. Makmur Lusi V - 1,650.00 528.00 32.00 100.00

2 Kamp. Silaut II Desa Taman Makmur Lusi V - 1,520.00 349.60 23.00 100.00

3 Kamp. Silaut I Desa Mekar Sari Lusi V - 1,870.00 187.00 10.00 100.00

4 Kamp. Sei. Liku Palangai Ranah Pesisir V - 2,445.00 244.50 10.00 100.00

5 Kamp. Kubang Bayang V - 1,400.00 1,400.00 100.00 100.00

DAK TAHUN 2009 Pemb. Sarana Air Minum

1 TSM Sei. Sarik Linggo Sari Baganti V - 740.00 460.00 62.16 100.00

2 Kamp. Sei. Kuyung Linggo Sari Baganti V - 1,260.00 640.00 50.79 100.00

JUMLAH 15,166.00 6,734.10

Sumber : Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Pesisir Selatan, terdapat pembangunan sebesar 11 unit sarana air bersih pedesaan pada tahun 2007-2009.

(26)

3.1.4 LIMBAH CAIR RUMAH TANGGA

Pengelolaan air limbah rumah tangga Kabupaten Pesisir Selatan belum memiliki master plan pengelolaan air limbah. Pengelolaan sanitasi di Kabupaten Pesisir Selatan belum dilakukan dengan Sistem Pengolahan Air Limbah (SPAL) baru sistem setempat (on-site system) skala rumah tangga.

Sistem pengolahan air limbah setempat (on-site system) adalah sistem penanganan air limbah domestik yang dilakukan secara individual/komunal dengan fasilitas dan pelayanan dari satu atau beberapa bangunan, yang pengelolaannya diselesaikan secara setempat atau di lokasi sumber, seperti : cubluk, tangki septik (septic tank) dan paket pengolahan skala kecil. Sistem pengolahan limbah setempat ini lebih sesuai untuk Kabupaten Pesisir Selatan karena umumnya topografinya wilayah pantai yang landai serta tingkat kepadatan penduduknya relatif rendah.

Secara umum masyarakat melakukan pengelolan air limbah seperti tersebut diatas, akan tetapi beberapa rumah tangga di Kecamatan IV Jurai yang memiliki keterbatasan lahan melakukan pengelolaan air limbah khususnya ”Black water” dilayani oleh pihak pemerintah seperti jasa sedot lumpur tinja. Keterbatasan jangkauan layanan menyebabkan belum seluruh kecamatan dapat terlayani dengan optimal. sedangkan dari pihak swasta belum menyediakan layanan ini. Pembuangan lumpur tinja ini berlokasi di Bukit Penyambungan Lumpo Kecamatan IV Jurai serta sudah dilengkapi dengan sarana IPLT (Instalasi Pengolahan Lumpur Tinja).

IPLT Kabupaten Pesisir Selatan dibangun pada tahun 2007, IPLT ini berlokasi di Gunung Bungkuk Kenagarian Lumpo dengan kapasitas 30.000 m3, IPLT ini masih berfungsi dalam kondisi terawat. Sedangka sarana penunjang berupa armada truk tinja hanya ada satu unit.

Pelayanan air limbah Kabupaten Pesisir Selatan mencakup seluruh wilayah Kabupaten, namun pelayanan ini tergantung dari permintaan yang membutuhkan jasa penyedotan Kakus. Sampai TA 2009 ini dari 12 Kecamatan baru 8 Kecamatan yang pernah dilakukan penyedotan tinja, hal ini disebabkan 4 Kecamatan lokasinya jauh dari sarana IPLT dan masyarakat masih sanggup membokar tinja septic tanknya sendiri. Sedangkan kapasitas pelayanan limbah tinja adalah 8,4m³/hari tidak rutin dilakukan tergantung pada permintaan pembongkaran kakus oleh masyarakat.

Untuk industri kecil (Perusahaan Tapioka maupun Tahu/Tempe) belum dilakukan pengolahan melalui ”instalasi pengolah limbah”. Padahal dari hasil pemantauan diketahui bahwa hampir semua limbah yang dibuang dari berbagai usaha rumah tangga yang ada kualitas nya diatas ambang batas baku mutu yang ditetapkan.

(27)

Tabel 3.17

Jumlah Rumah Tangga Dan

Tempat Buangan Akhir Tinja Tidak Ada Tangki Septik

No Kecamatan Jumlah Rt 1 Koto XI Tarusan 1.905 2 Bayang 765 3 Bayang Utara 107 4 IV Jurai 560 5 Batang Kapas 50 6 Sutera 35 7 Lengayang 1.403 8 Ranah Pesisir 621

9 Linggo Sari Baganti 2.356

10 Pancung Soal 1.816

11 Basa IV Balai Tapan 652

12 Lunang Silaut 375

Jumlah 10.645

Sumber : Bappeda Kab. Pesisir Selatan Tahun 2010 diolah

Berdasarkan data survey Dinas Kesehatan tahun 2010 tentang kepemilikan jamban dengan jumlah Kepala keluarga yang diperiksa sebanyak 10.771 KK, yang memiliki jamban keluarga sebanyak 5.555 KK atau 51,57%.

Adapun yang menjadi program prasarana dan sarana pengelolaan air Limbah adalah sebagai berikut:

a. Pengembangan Kinerja Pengelolaan Persampahan dan limbah b. Pembangunan Saluran Drainase

c. Pembangunan Sanitasi Berbasis Masyarakat d. Program Percepatan Sanitasi Permukiman e. Pengelolaan Air Limbah

f. Pembangunan Infrastruktur Sanitasi

g. Pengembangan Sarana Pengelolaan Air Limbah Komunal Berbasis Masyarakat.

Penanganan sanitasi di Kabupaten Pesisir Selatan, tidak hanya faktor higienis yang harus diperhatikan tetapi juga masalah pencemaran terhadap lingkungan yang diakibatkan oleh air limbah domestik itu sendiri. Tingkat pencemaran menunjukan angka yang signifikan pada badan air yang melalui ibu kota kecamatan kabupaten dimana terdapat kepadatan penduduk yang lebih tinggi. Di kawasan ibu kota kecamatan, seperti : Ibu kota kecamatan Lengayang, Ibu kota kecamatan Koto XI Tarusan dan Kota Painan yang memiliki kepadatan penduduk cukup tinggi diperlukan penataan dan pengelolaan air limbah yang baik sehingga tidak mencemari lingkungan permukimannya.

Sistem pembuangan air limbah harus dipisahkan dengan sistem pembuangan air hujan, namun sering dijumpai limbah dari rumah tangga dibuang ke dalam sistem pembuangan air hujan yang dapat mengakibatkan polusi/ pencemaran lingkungan hidup.

(28)

Pengelolaan prasarana dan sarana air limbah pada setiap daerah mempunyai karakteristik yang berbeda, baik tingkat pelayanan, jenis dan jumlah pelayanannya. Pengelolaan sanitasi dapat dilakukan dengan 2 (dua) sistem yaitu:

a. Sistem Pengolahan Air Limbah Setempat (on-site system); b. Sistem Pengolahan Air Limbah Terpusat (off-site system).

Sistem pengelolaan air limbah di Kabupaten Pesisir Selatan masih banyak menggunakan sistem pengolahan air limbah setempat (on-site system) baik itu secara individu dan di beberapa tempat secara komunal. Pada beberapa tempat, di bangunan-bangunan tertentu diwajibkan menyediakan fasilitas instalasi pengolahan air limbah (IPAL), seperti : rumah sakit, industri, penginapan dll. Fasilitas pengolahan ini sangat dibutuhkan untuk menghindari dampak pencemaran lingkungan hidup.

Kegiatan SANIMAS tahun 2008 di Kabupaten Pesisir Selatan, dilaksanakan pembangunan Instalasi Pengolahan Limbah Rumah Tangga, yang berada di satu lokasi yaitu di Kecamatan Bayang dan Kecamatan Lengayang. Diharapkan dengan dilaksanakan kegiatan SANIMAS ini, limbah rumah tangga tidak lagi mencemari lingkungan permukiman bahkan bermanfaat untuk meningkatkan kesehatan masyarakat dan lingkungannya.

(29)

Alur Sanitasi Limbah Kabupaten Pesisir Selatan

Produk input User interface A

B Pengumpulan & Penampungan/ Pengolahan awal C Pengangkutan/ Pengaliran D Semi pengolahan Terpusat E

Daur Ulang dan Pembuangan Akhir Black water Tinja Urine Air Pembersih Air Pengelontor Kertas Pembersih Grey water Air Cucian Dapur

Air Bekas Mandi Air Cucian Pakaian

piring Pembuangan Air Cucian gelas T4 cucian Wc Rp.1000 Wc Rp.1000 ember dayun g ember dayun g Tank septic individual on site Lumpur effluent

Mobil Lumpur Tinja

Drainase Semi Pengolahan Lumpur Lumpur Penampun gan 1 Penampun gan 2 Penampun gan 2 effluent

(30)

Pokja Sanitasi Pesisir Selatan III - 30 3.1.5 LIMBAH PADAT (SAMPAH)

Pengelolaan sampah di Kabupaten Pesisir Selatan berada pada Dinas Pekerjaan Umum Bidang Kebersihan dan Pertamanan (untuk limbah padat dari rumah tangga, pasar, jalan) serta Kantor Lingkungan Hidup untuk limbah padat dari Industri, perhotelan, peternakan, pertambangan, pelabuhan dan lain-lain. Kabupaten Pesisir Selatan pada saat ini sedang menyusun Perencanaan DED dan UKL/UPL Tempat Pembuangan Akhir Gunung Bungkuk dan Tapan oleh Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Pesisir Selatan.

Pengelolaan sampah skala kabupaten dilaksanakan melalui operasi sistem pengelolaan sampah domestik dimulai dengan kegiatan pengumpulan dari sumbernya (langsung dilaksanakan oleh masyarakat untuk dikumpulkan di halaman rumah atau langsung ke Tempat Penampungan Sementara), demikian juga sampah yang berasal dari pasar tradisional dikumpulkan di Tempat Penampungan Sementara untuk kemudian diangkut ke TPA Gunung Bungkuk. Pemerintah Daerah Kabupaten Pesisir Selatan mempunyai peranan dalam operasi pengangkutan sampah domestik yang terkumpul oleh rumah tangga dan Tempat Penampungan Sementara, yang selanjutnya di angkut oleh dumptruck menuju TPA di Gunung Bungkuk. Saat ini daerah jangkauan layanan persampahan Kabupaten Pesisir Selatan baru menjangkau Kecamatan Bayang (Pasar Baru) dan Kecamatan IV Jurai (Sago-Salido-Painan). Sedangkan untuk kecamatan - kecamatan yang belum terlayani, masih di kelola sendiri oleh masyarakat seperti menimbun dan membakar di belakang rumah.

Berdasarkan data dari Dinas Pekerjan Umum Kabupaten Pesisir Selatan Tahun 2010 pengelolaan sampah rumah tangga dilakukan dengan cara komunal oleh masyarakat yaitu dengan cara ditimbun (64,6%), dibakar (19,1%) pada lahan di belakang rumah / dipekarangannya sendiri. Sebagian kecil masyarakat membuang sampah dengan cara diangkut (11,4%) dan lainnya (4,9%). Peran swasta masih terbatas pada pemanfaatan sampah yang masih dapat dijual kembali dan bernilai ekonomis bukan secara langsung mendaur ulang sampah tersebut.

Untuk pengelolaan seperti daur ulang belum ada kelompok masyarakat yang melakukan kegiatan daur ulang sampah menjadi pupuk kompos dan kerajinan tangan. Kegiatan pemberdayaan kelompok composting di Nagari Sago-Salido pada tahun 2009 oleh Kantor Lingkungan Hidup dan di Nagari Painan pada Tahun 2010 di lakukan bimbingan dan penyuluhan oleh Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Barat tetapi kegiatan tersebut tidak berjalan, hanya di lakukan pada waktu pelatihan saja dan belum terealisasi secara keseluruhan oleh masyarakat.

Kebutuhan Tempat Penampungan Sementara (TPS) ini merupakan suatu wadah sebagai penampung sampah sementara sebelum dibuang ke tempat pembuangan akhir (TPA). Dimana tempat penampungan sementara ini terdiri dari :

o Tempat Penampungan Sementara (TPS) permanen ini terbuat dari pasangan batu bata, cor beton dan ditutup dengan besi plat, penempatannya tersebar dalam kota Painan - Salido – Sago khususnya dan Pesisir Selatan pada umumnya.

(31)

Pokja Sanitasi Pesisir Selatan III - 31 o Tempat Penampungan Sementara (tong sampah) terbuat dari drom bekas yang dipotong

dua diberi kaki dan pegangan, penempatannya tersebar dilokasi-lokasi fasilitas umum. o Tempat penampungan sementara (tong sampah) terbuat dari Kayu dan penempatannya

yaitu pada lokasi-lokasi pertokoan dan fasilitas umum lainnya.

o Tempat Pemilah sampah basah dan sampah kering dalam drum bekas yang ditempatkan tersebar pada pemukiman penduduk

Kebutuhan Tempat Pembuangan Akhir (TPA) dan TPSS terpadu harus didasari oleh kesepakatan dan kerjasama antar wilayah, dan dalam pelaksanaannya berpedoman kepada Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2008 tentang persampahan. Untuk rencana TPA yang ramah lingkungan direncanakan berada di Koto XI Tarusan, IV Jurai, IV Jurai, Lengayang, Pancung Soal, Basa Ampek Balai Tapan dan Lunang Silaut dan Kebutuhan Instalasi Pengolahan Lumpur Tinja (IPLT) yang sudah representatif harus ada 3 unit pada zona utara – tengah – dan selatan mengingat kondisi wilayah Kabupaten Pesisir Selatan yang memanjang sepanjan 234 km.

Dokumentasi Existing Pengelolaan Persampahan Kabupaten Pesisir Selatan

Foto 2 : Tempat Penampungan Sampah Sementara di Kota Painan -Sago Foto 1 : Sarana Pengangkutan Sampah

(32)

Pokja Sanitasi Pesisir Selatan III - 32 Foto 4 : Tempat Penampungan Sampah Akhir Gunung Bungkuk

Foto 5 : Tempat Penampungan Sampah Sementara di Batang Kapas

Foto 6 : Tempat Penampungan Sampah Areal Terbuka di Teluk Kasai

Foto 7 : Tempat Pengolahan Sampah Terpadu Sago Foto 3 : Tempat Penampungan Sampah Sementara Sago

(33)

Pokja Sanitasi Pesisir Selatan III - 33 Foto 9 : Tempat Pengumpulan Sampah Swadaya

(34)

Pokja Sanitasi Pesisir Selatan III - 34 Alur Sanitasi Limbah Kabupaten Pesisir Selatan

Produk input User interface A Pengumpulan B Setempat C Penampungan Sementara D Pengangkutan E Pengolahan Akhir Terpusat D Daur Ulang dan

Pembuangan Akhir Residu Kompos Skala Rumah Tangga Kompos Kompos Kompos Kompos Skala Rumah Tangga Sampah Organik Sampah Non Organik Bak Sampah Bak Sampah Kompos Skala Rumah Tangga Kompos Skala Rumah Tangga Kompos Kompos Kompos Residu Residu Mobil Mobil Mobil Pengolahan Akhir Terpusat Pengolahan Akhir Terpusat Daur Ulang Residu Residu Daur Ulang Daur Ulang

(35)

3.1.6 DRAINASE LINGKUNGAN

Pengelolaan drainase di Kabupaten Pesisir Selatan ditangani oleh Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Pesisir Selatan. Jaringan drainase tersier yang digunakan terbagi menjadi drainase kota dan drainase kecamatan dimana wilayah cakupan skala kota yang terdapat di Kota Painan – Salido – Sago sepanjang 11.845 m2, dan drainase tersier skala kecamatan

sepanjang 483 m2 baru terdapat di kecamatan Bayang dan Kambang.

Drainase Skala kecamatan yaitu drainase yang terdapat pada permukiman masyarakat pada umumnya kondisi drainase yang ada kurang berfungsi dan sistim pengaliran terputus – putus menyebabkan air air limpasan hujan tidak teralirkan sesungai dan kelaut fungsi drainase tersebut hanya untuk mengalirkan air limpasan air hujan.

Sedangkan permasalahan pada saluran drainase yaitu pendangkalan sedimen tanah dan sampah sehingga air tidak mengalir sampai saluran drainase primer. Drainase tersier yang digunakan adalah drainase sistim terbuka pada permukiman masyarakat di kecamatan, sedangkan pada drainase tersier perkotaan ada yang menggunakan drainase terbuka dan tertutup dimana pada drainase perkotaan sering di tutup dengan beton untuk mengurangi bau yang ditimbulkan dari genangan air. Untuk bangunan pelengkap drainase skala kota dan skala kecamatan masih belum ada karena masih menggunakan sistim drainase yang sederhana yang sifatnya hanya untuk mengalirkan air yang tergenang pada permukiman/ perumahan yang berasal dari limpasan air hujan dan air limbah rumah tangga.

Jaringan drainase sekunder menggunakan sistim saluran terbuka dan tertutup, dimana panjang drainase sekunder sepanjang 3.626,95 m2 dengan Wilayah cakupan skala kota Painan

– Salido – Sago sepanjang 2.586,95 m2 (Sago – Salido 410 m) dan (Painan 2.176,95 m2) serta

skala kecamatan sepanjang 1.040 m2 (Pasar Baru, Koto Berapak, Kapuh). Permasalahan

saluran adalah kondisi kurang terawat baik drainase kota maupun drainase kecamatan, banyak yang telah ditanami rumput, penumpukan sedimen tanah dan sampah, serta kebanyakan drainase yang ada banyak yang terputus-putus dan tidak mengalir.

Sedangkan frekuensi pemeliharaan drainase sekunder yang dilakukan pada tahun 2006 merupakan pemeliharaan drainase kota sepanjang ± 1985 m2 dan drainase tersier sepanjang

500 m2, dan pemeliharaan drainase kota pada Tahun 2010 tersebar. jenis pemeliharaan yaitu

memperbaiki saluran drainase yang rusak (pecah) dan tertutup sedimen pasir serta sampah. Jaringan drainase primer yang menggunakan drainase terbuka dengan wilayah cakupan skala kota terdapat di Painan (belakang UHA sepanjang 20 m2) dan di Sago yaitu drainase Air

Beralih. Permasalahan pada saluran yang ada yaitu berupa penumpukan sampah dan tumbuhan enceng gondok serta rumput seperti terdapat di drainase Air Beralih Sago. Sedangkan di painan (belakang UHA) kendala berupa pendangkalan dan ditumbuhi rumput serta air yang mengalir tidak lancar. Panjang drainase primer adalah 335 m2- yang terdapat di kota painan

dan sepanjang 315 m di Sago serta di Air Beralih sepanjang 20 m.

Secara keseluruhan saluran drainase belum memiliki desain dan konstruksi jaringan drainase yang diperkeras, jaringan drainase masih sederhana dan bersifat konvensional, kecuali pada jalur jalan arteri sudah menggunakan perkerasan, tertutup dan dimanfaatkan untuk berjalan kaki. Sedangkan untuk drainase jalan lokal sudah terdapat jaringan yang

(36)

diperkeras, tetapi masih terbuka dengan kedalaman kurang lebih 50 cm. Untuk sistem drainase yang lain masih secara alami ditumbuhi semak belukar dan terputus. Hal ini belum menunjukkan jaringan drainase secara terpadu, dimana dimensinya pun hanya merupakan pendekatan perkiraan, tidak diperhitungkan dan didesain sesuai dengan standar baku. Pada kondisi tertentu masih banyak rumah yang tidak memiliki drainase, limpahan air hujan dan limbah rumah tangga di alirkan ditanah-tanah kosong yang berada di belakang rumah. Berdasarkan data dari Dinas Pekerjaan Umum luas genangan air seluas 135 ha dengan ketinggian 0,25 - 1 m dengan lama genangan 1 - 1,5 jam dengan frekuensi 3 kali / tahun.

Pengamatan sanitarian terhadap lingkungan rumah menemukan bahwa sekitar 28,6 % rumah tangga di Kabupaten Pesisir Selatan memiliki lingkungan yang terdapat genangan air kurang dari satu jam,antara satu jam sampai tiga jam mencapai 26,0 %, dan hanya sebanyak 3,5 % yang mempunyai genangan air lebih dari satu hari. Di sini, secara umum kondisi lokasi genangan air di sekitar lingkungan rumah berdasarkan survey EHRA di Kabupaten Pesisir tahun 2011 dapat dilihat pada grafik berikut.

Grafik 3.12

Lamanya Genangan di Sekitar Lingkungan Rumah Berdasarkan Survey EHRA di Kabupaten Pesisir Selatan Tahun 2011

,0 5,0 10,0 15,0 20,0 25,0 30,0 Kurang dari 1 jam Antara 1 - 3 jam Setengah hari

Satu hari Lebih dari 1 hari Tidak tahu 28,6 26,0 20,8 10,4 3,5 10,8 Series1

(37)

Dokumentasi Existing

Saluran Drainase Perkotaan di Kabupaten Pesisir Selatan

Foto 4 : Saluran Drainase Sekunder Kota Painan

Foto 3 : Saluran Sekunder Drainase Kota Painan Bukit Putus Foto 2 : Saluran Drainase Sekunder Samping PSDA

Gambar

Foto 2 : Tempat Penampungan Sampah Sementara di Kota Painan -Sago Foto 1 : Sarana Pengangkutan Sampah
Foto 6 : Tempat Penampungan Sampah Areal Terbuka di Teluk Kasai
Foto 8 : Tempat Pengolahan Sampah Terpadu Gunung Bungkuk
Foto 4 : Saluran Drainase Sekunder Kota Painan
+7

Referensi

Dokumen terkait

Upaya yang dilakukan oleh masyarakat untuk mengatasi hambatan dalam pengelolaan sarana sanitasi lingkungan pemukiman di Nagari Pulau Rajo Inderapura diantaranya

Tingkat pelayanan Dinas Kebersihan, Pemadam Kebakaran dan Pertamanan Kabupaten Melawi saat ini baru bisa melayani ± 26,90 % dari seluruh wilayah Kota Nanga

Menerangkan bahwa yang bersangkutan telah menyelesaikan penelitian denganjudul proposal" Pengelolaan Sampah Pasar Sebagai Upaya Pengendalian Pencemaran Lingkungan

Problem utama dalam pengelolaan sampah rumah tangga di lingkungan desa adalah masih minimnya peran pemerintah desa dalam mengatasi persoalan sampah yang ada di lingkungan

Tahap pertama operasional pengelolaan sampah adalah pewadahan pada tingkat sumber timbulan (masyarakat). Pewadahan dimaksudkan untuk mencegah sampah berserakan dan

Buku Putih Sanitasi (BPS) Jembrana Page 2 Berbagai upaya telah dilakukan Pemerintah Kabupaten Jembrana dalam meningkatkan sanitasi lingkungan baik dalam bentuk

Masyarakat masih menggunakan cara yang tidak sehat yaitu dengan memanfaatkan badan sungai atau saluran drainase untuk memenuhi kebutuhan sarana prasarana pengelolaan

Secara internal, faktor anggaran, SDM pengelola sampah, Perda pengelolaan sampah, keberadaan kerjasama pengelolaan sampah regional perkotaan Yogyakarta, serta